Anda di halaman 1dari 6

Dampak Penggunaan Bibit Unggul

Penggunaan bibit unggul untuk mendongkrak produksi pertanian di Indonesia dimulai


sejak 1968 melalui revolusi hijau dengan mulainya dikirim bibit unggul padi dari IRRI
(International Rice Research Institute) Filipina ke Indonesia tahun 1966 dan kerja sama
pengadaan pupuk kimia dengan CIBA (perusahaan kimia Swiss) tahun 1967 (Baiquni &
Susilawardani, 2002). Paket program revolusi hijau meliputi subsidi pupuk, penyeragaman
penggunaan bibit unggul, pestisida, insektisida, kredit pertanian, penetapan harga dasar gabah
lewat Instruksi presiden, pembangunan irigasi dari dana pinjaman luar negeri, paket penyuluhan
sampai diperkenalkannya buffer stock semacam badan penyangga, yaitu Badan Urusan Logistik
(Bulog).
Dalam pelaksanaan program ini muncul masalah hama wereng dan terus berkembang dengan
cepat menyerang praktis semua varietas padi. Sejak awal para ahli sudah menduga jika
digunakan bibit unggul secara seragam, akan mempersempit genetic spectrum menghadapi
serangan hama dan penyakit.
Apalagi, bila benih unggul ditanam terus-menerus tanpa jeda sehingga tidak ada kesempatan
memutus rantai makanan hama dan penyakit (seperti yang dilakukan terhadap varietas Supertoy).
Kemudian, yang meledak bukan hama atau penyakit konvensional, melainkan jenis hama dan
penyakit baru yang semula tak diperhitungkan.
Maka varietas unggul yang diciptakan yang berdaya tanggap besar terhadap masukan.

Revolusi hijau padi dapat meningkatkan produksi gabah secara dramatis di daerah yang dapat
dikendalikan atau diirigasi, laju adopsi varietas unggul tinggi, pupuk yang bertindak cepat
digunakan secara banyak, hama dan penyakit utama dikendalikan secara Kimiawi, dan atau
ketahanan varietas dan insentif yang menarik berupa subsidi atau dukungan harga. Dengan
menanam padi varietas unggul berumur pendek dapat dilakukan monokultur ganda (Chang, 1991
cit Notohadiprawiro, 1995).

Menurut Shiva (1993) cit Notohadiprawiro (1995) revolusi hijau tidak didasarkan atas
kemandirian, ketergantungan tidak berdasarkan keanekaragaman, tetapi keseragaman. Pertanian
dikembangkan dari sudut peningkatan dukungan sektor publik, yaitu kredit, subsidi, dukungan
harga dan penyediaan prasarana dan peningkatan masukan belian (Notohadiprawiro, 1995).

Dalam gegap gempita pencapaian program pemerintah, petani tampaknya hanya sebagai objek
dan seakan harus tunduk pada penguasa. Ini berulang dengan program Intensifikasi Paket D
(Supra Insus) tahun 1988-an yang mengharuskan menggunakan bibit unggul tahan wereng
(VUTW) dan sitosim yang disebut sebagai pupuk pelengkap cair (PPC) sehingga dapat
melipatgandakan hasil produksi padi. Ujung-ujungnya jualan sitosim yang hasilnya tidak manjur.

Kearifan petani berupa indigenous knowledge yang berkembang sesuai budaya setempat mulai
terdesak, bahkan mulai dilupakan dan seakan mati akibat penyeragaman teknologi (Sutanto,
2002). Kemandirian petani digantikan dengan ketergantungannya pada paket kredit dan
teknologi.

Data beberapa sumber menyebutkan di Indonesia mulai terdapat 8.000 jenis bibit lokal yang
kemudian beralih ke korporasi bibit transnasional dan semua sudah diboyong ke Filipina.
Sekarang tinggal kurang lebih 25 jenis yang masih ditanam di pedalaman.

Penamaan varietas pun sekarang sudah melupakan kaidah yang diikuti selama ini, misalnya
nama sungai untuk varietas padi (Cisadane, Ciliwung, Ciherang, Porong, Bengawan Solo, Way
Seputih, Kapuas), nama gunung untuk varietas kedelai (Wilis, Bromo, Mahameru), nama
wayang untuk varietas jagung (Arjuna), dan sebagainya. Yang muncul sekarang nama yang aneh
dan tidak mencerminkan keindonesiaan. Bahkan, nama orang digunakan menamai varietas baru
(HL-Super Toy, Sintanur, dan lain-lain). Jangan-jangan ketua-ketua partai yang jumlahnya
puluhan itu tertarik mengabadikan namanya pada varietas padi.

Varietas unggul dan kelestarian

Varietas unggul dicirikan dengan kemampuannya yang tinggi menguras hara (rakus) sehingga
produktivitasnya lebih tinggi apabila faktor tanah dan lingkungan tumbuhnya mendukung.
Varietas unggul, misalnya padi hibrida yang diklaim bisa menghasilkan gabah lebih dari 14
ton/hektare dalam pelaksanaan di lapangan diiringi dengan pemakaian pupuk kimia dan pestisida
dalam jumlah besar.

Kondisi demikian menyebabkan berbagai masalah berkaitan dengan degradasi kesuburan tanah
dan pencemaran residu dari bahan kimia. Varietas Supertoy, misalnya, dikatakan dapat dipanen
tiga kali dalam setahun tanpa menanam ulang bibit dengan kapasitas panen 15,5 ton gabah/ha.

Dari 190 varietas padi unggul yang telah dilepas sejak 19432007 (data dari IRRI Knowledge
bank dikompilasi oleh Diah WB dan M Syam, Juni 2007), produktivitas padi tertinggi 10 ton/ha
untuk padi hibrida dan delapan ton/ha GKG untuk padi nonhibrida dan tiap kali menanam harus
dengan benih baru.

Karena benih Supertoy belum diuji sesuai UU Budidaya Tanaman No 12/1992 (antara lain telah
dibudidayakan secara luas selama lima tahun), kita belum bisa menyimpulkan klaim tersebut
benar atau tidak. Tetapi, sebagai akademisi saya tidak sepaham dengan penanaman terusmenerus sepanjang tahun varietas yang sama tanpa jeda dengan varietas yang berpotensi
menguras hara dari dalam tanah dalam jumlah besar.

Sering kali varietas unggul hanya dikonotasikan sebagai tanaman yang menghasilkan produksi
tinggi untuk banyak luasan wilayah. Padahal, varietas unggul bisa juga berarti unggul dalam

adaptasi terhadap cekaman kekeringan, pH yang rendah, tahan terhadap serangan hama dan
penyakit. Bahkan, untuk lingkungan gambut, misalnya, varietas unggul

bersifat location

specific, varietas unggul diskriminatif yang cocok untuk lingkungan gambut walaupun di
lingkungan lain tidak cocok. Varietas unggul juga dapat berasal dari varietas lokal.

Pemahaman adaptasi varietas unggul terhadap lingkungan dan musim tanam merupakan
komponen teknologi yang penting. Penerapan teknologi revolusi hijau 1970-2005 satu varietas
unggul nasional menjadi anjuran hampir semua wilayah sentra produksi padi. Pada masa depan
perlu disediakan dan dipilih varietas unggul spesifik lokasi dan musim tanam agar memperoleh
produktivitas maksimal. Teknologi varietas hibrida yang sangat berhasil pada tanaman jagung
diperkirakan tidak akan banyak berkembang pada padi. Ini karena tingkat heterosis pada
tanaman padi rendah. (Sumarno, 2006).

Intensifikasi dan kemerosotan

Usaha pertanian modern sering kali mengakibatkan pengurasan hara. Pengelolaan kesuburan
tanah pada sistem ini hanya ditekankan pada penggantian hara melalui penambahan pupuk
anorganik, tanpa adanya usaha untuk mempertahankan kesuburan tanah secara menyeluruh.

Tidak berimbangnya jumlah panen yang diangkut dari dalam tanah dengan jumlah yang
dikembalikan sering diikuti oleh menurunnya produksi tanaman dan kualitas lingkungan. (SR
Utami dkk, 2004). Salah satu sasaran utama dari setiap usaha pertanian adalah produksi
pertanian yang berkelanjutan yang dicirikan oleh stabilitas produksi dalam jangka panjang.

Beberapa indikator terselenggaranya pertanian yang berkelanjutan antara lain dapat


dipertahankannya sumber daya alam sebagai penunjang produksi tanaman dalam jangka panjang,

dengan penggunaan tenaga kerja yang cukup rendah, tidak adanya kelaparan tanah, tetap
terjaganya kondisi lingkungan tanah dan air dan rendahnya emisi gas rumah kaca, serta
terjaganya keanekaragaman hayati (Van der Heide et al.,1992; Tomich et al., 1998). Tidak
adanya kelaparan tanah dapat diartikan sebagai cukupnya kandungan bahan organik tanah,
terpeliharanya kesetimbangan unsur hara, terpeliharanya struktur dan kondisi biologi tanah serta
adanya perlindungan tanaman terhadap gulma, hama, dan penyakit.

Pada sistem monokultur masukan bahan organik hanya satu macam, mineralisasi hara terjadi
hampir bersamaan sehingga kemungkinan besar hara akan hilang dari jangkauan akar. Penyebab
utama kehilangan hara lewat pencucian karena rendahnya tingkat sinkronisasi antara saat
ketersediaan hara dan saat tanaman membutuhkannya.

Bila hara telah bergerak di luar batas jangkauan akar maka tidak ada sinlokasi lagi antara hara
dan akar tanaman. Hara hilang. Beberapa hara terutama dalam bentuk anion sangat lemah diikat
oleh partikel liat dan memiliki tingkat mobilitas tinggi.

Hara dalam bentuk kation (misalnya K) gerakannya sangat ditentukan oleh kapasitas pertukaran
tanah. Lingkungan beririgasi bergandengan dengan pemupukan nitrogen berat dan penanaman
secara monokultur sinambung varietas padi yang sama atau yang secara genetik sekeluarga mirip
telah menimbulkan epidemi hama dan penyakit.

Penggunaan air irigasi yang telah diadakan dengan biaya tinggi tidak mencapai efektivitas dan
efisiensi karena pengelolaan buruk. Irigasi intensif mengubah sifat-sifat tanah yang menurunkan
produktivitas.

Pemupukan padi sawah (N dan P) akan mempercepat pengurasan hara lain (K, S, Ca, Mg, Zn,
dan Cu) sehingga terjadi ketidakseimbangan serapan hara, timbul gejala kekurangan hara tertentu
dan efisiensi pemupukan menurun (Adiningsih dkk, 1989). Pemiskinan hara yang terus-menerus
memberi efek langsung terhadap produktivitas yang menurun.

Pemakaian benih unggul dibarengi dengan pemupukan dosis tinggi dan penggunaan pestisida
juga akan memicu penggunaan pupuk mineral yang bertambah banyak. Akibatnya, terjadi
kelangkaan pupuk dan petani yang disalahkan. Kita mendorong varietas unggul baru berpotensi
produksi tinggi, tetapi keberlanjutan tanah pertanian perlu diwarisk