Anda di halaman 1dari 8

Hemoglobin (Hb)

Nilai normal : Pria : 13 - 18 g/dL SI unit : 8,1 - 11,2 mmol/L


Wanita: 12 - 16 g/dL SI unit : 7,4 9,9 mmol/L
Hemoglobin adalah komponen yang berfungsi sebagai alat transportasi oksigen (O2) dan karbon
dioksida (CO2). Hb tersusun dari globin (empat rantai protein yang terdiri dari dua unit alfa dan
dua unit beta) dan heme (mengandung atom besi dan porphyrin: suatu pigmen merah). Pigmen
besi hemoglobin bergabung dengan oksigen. Hemoglobin yang mengangkut oksigen darah
(dalam arteri) berwarna merah terang sedangkan hemoglobin yang kehilangan oksigen (dalam
vena) berwarna merah tua. Satu gram hemoglobin mengangkut 1,34 mL oksigen. Kapasitas
angkut ini berhubungan dengan kadar Hb bukan jumlah sel darah merah.
Penurunan protein Hb normal tipe A1, A2, F (fetal) dan S berhubungan dengan anemia sel sabit.
Hb juga berfungsi sebagai dapar melalui perpindahan klorida kedalam dan keluar sel darah
merah berdasarkan kadar O2 dalam plasma (untuk tiap klorida yang masuk kedalam sel darah
merah, dikeluarkan satu anion HCO3).
Penetapan anemia didasarkan pada nilai hemoglobin yang berbeda secara individual karena
berbagai adaptasi tubuh (misalnya ketinggian, penyakit paru-paru, olahraga). Secara umum,
jumlah hemoglobin kurang dari 12 gm/dL menunjukkan anemia. Pada penentuan status anemia,
jumlah total hemoglobin lebih penting daripada jumlah eritrosit.

Hasil:

Penurunan nilai Hb dapat terjadi pada anemia (terutama anemia karena

kekurangan zat besi), sirosis, hipertiroidisme, perdarahan, peningkatan


asupan cairan dan kehamilan.

Peningkatan nilai Hb dapat terjadi pada hemokonsentrasi (polisitemia,

luka bakar), penyakit paru-paru kronik, gagal jantung kongestif dan pada
orang yang hidup di daerah dataran tinggi.

cara pemeriksaan
Metode Pemeriksaan Kadar Hemoglobin (Hb) Diantara metode yang paling sering digunakan di
laboratorium dan yang paling sederhana adalah metode sahli, dan yang lebih canggih adalah
metode cyanmethemoglobin. Pada metode Sahli, hemoglobin dihidrolisi dengan HCl menjadi
globin ferroheme. Ferroheme oleh oksigen yang ada di udara dioksidasi menjadi ferriheme yang
akan segera bereaksi dengan ion Cl membentuk ferrihemechlorid yang juga disebut hematin atau
hemin yang berwarna cokelat. Warna yang terbentuk ini dibandingkan dengan warna standar
(hanya dengan mata telanjang). Untuk memudahkan perbandingan, warna standar dibuat
konstan, yang diubah adalah warna hemin yang terbentuk. Perubahan warna hemin dibuat
dengan cara pengenceran sedemikian rupa sehingga warnanya sama dengan warna standar.
Karena yang membandingkan adalah dengan mata telanjang, maka subjektivitas sangat
berpengaruh. Di samping faktor mata, faktor lain, misalnya ketajaman, penyinaran dan
sebagainya dapat mempengaruhi hasil pembacaan. Meskipun demikian untuk pemeriksaan di
daerah yang belum mempunyai peralatan canggih atau pemeriksaan di lapangan, metode sahli ini
masih memadai dan bila pemeriksaannya telat terlatih hasilnya dapat diandalkan.
Metode yang lebih canggih adalah metode cyanmethemoglobin. Pada metode ini hemoglobin
dioksidasi oleh kalium ferrosianida menjadi methemoglobin yang kemudian bereaksi dengan ion
sianida membentuk sian-methemoglobin yang berwarna merah. Intensitas warna dibaca dengan
fotometer dan dibandingkan dengan standar. Karena yang membandingkan alat elektronik, maka
hasilnya lebih objektif. Namun, fotometer saat ini masih cukup mahal, sehingga belum semua
laboratorium memilikinya.

A. Prosedur pemeriksaan dengan metode sahli


Reagensia :
1. HCl 0,1 N
2. Aquadest
Alat/sarana :
1. Pipet hemoglobin
2. Alat sahli
3. Pipet pastur
4. Pengaduk
Prosedur kerja :
1. Masukkan HCl 0,1 N ke dalam tabung Sahli sampai angka 2
2. Bersihkan ujung jari yang akan diambil darahnya dengan larutan desinfektan (alcohol 70%,
betadin dan sebagainya), kemudian tusuk dengan lancet atau alat lain
3. Isap dengan pipet hemoglobin sampai melewati batas, bersihkan ujung pipet, kemudian
teteskan darah sampai ke tanda batas dengan cara menggeserkan ujung pipet ke kertas
saring/kertas tisu.
4. Masukkan pipet yang berisi darah ke dalam tabung hemoglobin, sampai ujung pipet menempel
pada dasar tabung, kemudian tiup pelan-pelan. Usahakan agar tidak timbul gelembung udara.
Bilas sisa darah yang menempel pada dinding pipet dengan cara menghisap HCl dan meniupnya
lagi sebanyak 3-4 kali.
5. Campur sampai rata dan diamkan selama kurang lebih 10 menit.
6. Masukkan ke dalam alat pembanding, encerkan dengan aquadest tetes demi tetes sampai
warna larutan (setelah diaduk sampai homogen) sama dengan warna gelas dari alat pembanding.
Bila sudah sama, baca kadar hemoglobin pada skala tabung.

B. Prosedur pemeriksaan dengan metode sian-methemoglobin


Reagnesia :
1. Larutan kalium ferrosianida (K3Fe(CN)6 0.6 mmol/l
2. Larutan kalium sianida (KCN) 1.0 mmol/l
Alat/sarana : 1. Pipet darah
2. Tabung cuvet
3. Kolorimeter
Prosedur kerja :
1. Masukkan campuran reagen sebanyak 5 ml ke dalam cuvet
2. Ambil darah kapiler seperti pada metode sahli sebanyak 0,02 ml dan masukkan ke dalam cuvet
diatas, kocok dan diamkan selama 3 menit
3. Baca dengan kolorimeter pada lambda 546
Perhitungan : 1. Kadar Hb = absorbs x 36,8 gr/dl/100 ml
2. Kadar Hb = absorbs x 22,8 mmol/l

Eritrosit (sel darah merah)

Nilai normal: Pria: 4,4 - 5,6 x 106 sel/mm3 SI unit: 4,4 - 5,6 x 1012 sel/L
Wanita: 3,8-5,0 x 106 sel/mm3 SI unit: 3,5 - 5,0 x 1012 sel/L
Fungsi utama eritrosit adalah untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh dan
mengangkut CO2 dari jaringan tubuh ke paru-paru oleh Hb. Eritrosit yang berbentuk cakram
bikonkaf mempunyai area permukaan yang luas sehingga jumlah oksigen yang terikat dengan Hb
dapat lebih banyak. Bentuk bikonkaf juga memungkinkan sel berubah bentuk agar lebih mudah
melewati kapiler yang kecil. Jika kadar oksigen menurun hormon eritropoetin akan menstimulasi
produksi eritrosit. Eritrosit, dengan umur 120 hari, adalah sel utama yang dilepaskan dalam
sirkulasi. Bila kebutuhan eritrosit tinggi, sel yang belum dewasa akan dilepaskan kedalam
sirkulasi. Pada akhir masa hidupnya, eritrosit yang lebih tua keluar dari sirkulasi melalui
fagositosis di limfa, hati dan sumsum tulang (sistem retikuloendotelial).
Hasil:

Jumlah sel darah merah menurun pada pasien anemia leukemia,

penurunan fungsi ginjal, talasemin, hemolisis dan lupus eritematosus


sistemik. Dapat juga terjadi karena obat (drug induced anemia). Misalnya:
sitostatika, antiretroviral.

Sel darah merah meningkat pada polisitemia vera, polisitemia sekunder,

diare/dehidrasi, olahraga berat, luka bakar, orang yang tinggal di dataran


tinggi.

cara pemeriksaan:
darah diencerkan dalam pipet eritrosit, kemudian dimasukkan ke dalam kamar hitung. jumlah
eritrosit dihitung dalam voluma tertentu dengan menggunakan faktor konversi jumlah eritrosit
per ul darah dapat diperhitungkan.
sebagai larutan pengenccer dipakai larutan hayem; natrium sulfat 5g; natriumclorida
1g;merkuriclorida 0,5g;aquadest 200ml.
cara:

mengisi pipet eritrosit


o Isaplah darah (kapiler, EDTA atau oxalat) sampai kepada garis tanda 0,5 tepat.
o Hapuslah kelebihan darah yang melekat pada ujung pipet.
o Masukkan ujung pipet dalam larutan Turk sambil menahan darah pada garis tanda
tadi. Pipet dipegang dengan sudut 45 derajat dan larutan Turk diisap perlahanlahan sampai garis tanda 11.
o Angkatlah pipet dari cairan, tutup ujung pipet dengan ujung jari lalu lepaskan
karet pengisap.
o Kocoklah pipet itu selama 15-30 detik. Jika tidak segera dihitung, letakkan dalam

sikap horizontal.
Mengisi kamar hitung
o Letakkan kamar hitung yang bersih dengan kaca penutupnya terpasang mendatar
di atas meja.
o Kocoklah pipet yang diisi tadi selama 3 menit terus menerus.
o Buanglah semua cairan yang ada di dalam batang kapiler pipet (3 atau 4 tetes) dan
segeralah sentuhkan ujung pipet itu dengan sudut 30 derajat pada permukaan

kamar hitung dengan menyinggung pinggir kaca penutup.


o Biarkan kamar hitung itu selama 2 atau 3 menit supaya eritrosit dapat mengendap.
Menghitung jumlah sel
o Pakai lensa objektif dengan pembesaran 10x.
o Kamar hitung dengan bidang bergaris diletakkan di bawah objektif dan fokus
mikroskop diarahkan ke garis-garis bagi itu. Dengan sendirinya eritrosit jelas
terlihat.
o Hitung semua eritrosit yang terdapat dalam 5 bidang yang tersusun dari 16 bidang

kecil
Perhitungan

pengenceran dalam pipet eritrosit ialah 200 kali. Luas tiap bidang kecil 1/400
mm2, tinggi kamar hitung 1/10 mm, sedangkan eritrosit dihitun dalam 5x16
bidang kecil=80 bidang kecil,yang jumlah luasnya 1/5 mm2.
faktor untuk mendapat jumlah eritrosit per ul darah menjadi 5x10x200=10.000
]

Daftar pustaka

Stein SM. BOHS Pharmacy practice manual: a guide to the clinical experience. 3rd ed.
2010. Lippincott Williams & Wilkins.
Hughes J. Use of laboratory test data: process guide and reference for pharmacists.
7

2004. Pharmaceutical Society of Australia.


Kailis SG, Jellet LB, Chisnal W, Hancox DA. A rational approach to the interpretation of
blood and urine pathology tests. Aust J Pharm 1980 (April): 221-30
Guyton AC. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Terjemahan dari: Textbook of Medical Physiology.
Hoffbrand, AV. 2005. Kapita Selekta Hematologi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
Junqueira LC, Caneiro J. 2005. Basic Histology Text & Atlas. USA: The Mc Graw-Hill
Companies