Anda di halaman 1dari 10

1

TUGAS
ILMU KEPERAWATAN DASAR IV
HUBUNGAN KETERPAPARAN MEDIA MASSA DAN PENGARUH
TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU SEKSUAL
PADA REMAJA DI SMA PERTIWI 2 PADANG
TAHUN 2016

Disusun oleh :
Rahmatul Fajrah
1511316013

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS ANDALAS

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penduduk remaja adalah bagian dari penduduk dunia yang mempunyai
sumbangan yang teramat besar bagi perkembangan dunia. Satu dari lima orang di
dunia merupakan penduduk remaja. Jumlah penduduk Indonesia tahun (2010)
237,6 juta jiwa, 63,4 juta diantaranya adalah remaja yang terdiri dari laki-laki
sebanyak 32.164.436 (50,70 %) dan perempuan sebanyak 31.279.012 jiwa (49,30
%).1
Tiga dari 10 remaja perempuan dan 18 % pria mengaku mengetahui
seseorang yang mereka kenal secara pribadi yang mengalami kehamilan yang
tidak diinginkan serta kebanyakan remaja mengakui berpegangan tangan sebagai
pengalaman berpacaran yang paling banyak dilakukan ( 72 % wanita dan 80 %
laki-laki) dan 53 % responden perempuan membicarakan menstruasi (sebelum
mendapatkan menstruasi untuk pertama kali)dengan teman dan 41 % dengan
ibunya.2
Menurut Survei Kesehatan Remaja Indonesia (SKRRI,2012)Beberapa
perilaku berpacaran remaja yang belum menikah sangat mengkhawatirkan.
Sebanyak 29,5 % remaja pria dan 6,2 % remaja wanita pernah meraba atau
merangsang pasangannya. Sebanyak 48,1 % remaja laki-laki dan 29,3 % remaja
wanita pernah berciuman bibir. Sebanyak 79,6 % remaja pria dan 71,6 % remaja
wanita pernah berpegangan tangan dengan pasangannya. Bahkan dalam survei
tersebut juga terungkap, umur berpacaran untuk pertama kali paling banyak
adalah 15-17 tahun, yakni pada 45,3 % remaja pria dan 47,0 % remaja wanita.

Dari seluruh usia yang disurvei yakni 10-24 tahun, cuma 14,8 % yang mengaku
belum pernah pacaran sama sekali.3
Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia.
Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke
masa dewasa yang meliputi perubahan biologis, perubahan psikologis, dan
perubahan sosial. WHO menetapkan batas remaja dalam 2 bagian yaitu remaja
awal 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun. Pedoman umum remaja
Indonesia menggunakan batasan usia11-24 tahun dan belum menikah.4
Pada masa remaja banyak terjadi perubahan fisik sebagai akibat mulai
berfungsinya kelenjer endokrin yang menghasilkan
berbagai hormone yang akan
1
mempengaruhi perumbuhan secara keseluruhan dan pertumbuhan organ seks pada
khususnya. Masa remaja sering disebut juga masa pancaroba, masa krisis, dan
masa pencarian identitas. Kenakalan remaja terjadi pada umumnya karena tidak
terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan mereka seperti kebutuhan akan prestasi,
kebutuhan akan popularitas dan kebutuhan seksual. Dalam usahanya mencari
identitas para remaja membantah perintah orang tuanya karena ia sudah mulai
mempunyai pendapat-pendapat sendiri tapi sebenarnya mereka belum bisa berdiri
sendiri karena mereka sering terjerumus ke dalam kegiatan-kegiatan yang
menyimpang atau kenakalan remaja dimana salah satu bentuknya yaitu perilaku
seksual pranikah.5
Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang di dorong oleh hasrat
seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun dengan sesama jenis. Bentuk-bentuk
tingkah laku ini beraneka ragam mulai dari perasaaan tertarik sampai tingkah laku
berkencan, bercumbu dan bersenggama. Sebagian perilaku ini memang tidak

menimbulkan dampak fisik bagi orang yang bersangkutan atau lingkungan sosial,
akan tetapi apabila perilaku seksual seharusnya belum boleh dilakukan seperti
hubungan seks sebelum menikah, maka perilaku seksual tersebut akan memiliki
dampak psikologis dan lingkungan sosial.4
Adapun dampak negatif bagi remaja akibat berprilaku seksual yang
beresiko, anatar lain; ( 1 ) Hamil yang tidak dikehendaki (unwanted pregnancy).
Merupakan salah satu akibat dari prilaku seksual remaja. Anggapan-anggapan
yang keliru seperti melakukan hubungan seks pertama kali atau hubungan seks
pada perempuan yang masih muda usianya atau bila hubungan seks dilakukan
sebelum atau sesudah menstruasi atau bila menggunakan teknik coitus interuptus
(senggama terputus) kehamilan tidak akan terjadi tidak akan terjadi merupakan
pencetus semakin banyaknya kasus unwanted pregnancy. ( 2 ) dampak lain dari
perilaku seksual remaja terhadap kesehatan reproduksi adalah tertular PMS
termasuk HIV/AIDS. Dari data yang ada bahwa menunjukkan diantara penderita
atau kasus HIV/AIDS, 53,0 % berusia antara 15-29 tahun..5
Di Sumatera Barat tahun 2012 terdapat 4.957.719 jiwa, tercatat berumur
10-24 tahun sebesar 1.391.481 jiwa (28,06 %).1 Tercatat 51 % remaja sudah tidak
perawan lagi, di Surabaya tercatat 54 %, di Bandung 47 %, di Medan 52 % dan
Yogyakarta 37 % dan estimasi jumlah aborsi diindonesia pertahun mencapai 2,4
juta jiwa dan 800 ribu diantaranya terjadi dikalangan remaja.6
Perilaku seksual yang beresiko paling banyak mereka lakukan adalah
berciuman bibir dan mempermainkan lidah 15 % sedangkan meraba organ sensitif
pasangan 6,3 % dan menempelkan alat kelamin 0,8 %.7

Pengaruh teman sebaya menunjukan 57,9 % siswa termotivasi melakukan


hubungan seksual karena ajakan teman sebaya serta terdapat hubungan yang
bermakna antara keterpaparan media massa dengan tindakan seksual siswa-siswi.
Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa tindakan seksual lebih besar pada siswasiswi dengan keterpaparan media massa ( 81,3%) dibandingkan dengan siswasiswi yang tidak terpapar (61,2%)

dan diperkuat oleh penelitian Fajrin tahun

2013 bahwa kurang dari separoh (48,9 %) responden memiliki teman sebaya yang
berperan negatif terhadap seksual.7
Siswa SMA yang merupakan remaja tidak akan terlepas dari masalah
tersebut. Remaja memiliki banyak waktu bersama teman sebayanya

dan

menjamurnya media massa perlu dipertimbangkan sebagai faktor yang


mempengaruhi perilaku seksual siswa. Kota padang adalah ibu kota Sumatera
Barat yang juga dijamah oleh kecanggihan teknologi khususnya di bidang media
massa seperti internet yang tersebar di posisi strategis terutama dekat dengan
sekolah. dan kota padang mempunyai penduduk remaja yang berumur 10-24
tahun 854.336 jiwa ,tercatat remaja berumur 10-24 tahun sebesar 270.996 jiwa
(31,72%).9
Siswa SMA Pertiwi 2 Padang merupakan komunitas remaja yang beresiko
terhadap permasalahan-permasalahan yang dipaparkan diatas, menggingat terletak
di Pusat Kota Padang. SMA Pertiwi 2 Padang ini belum pernah dilakukan
penelitian tentang perilaku seksual remaja.
Berdasarkan data yang didapat dari guru Bimbingan Konseling (BK) SMA
Pertiwi 2 Padang dari tahun 2010-2013 ada 12 orang siswa yang berhenti sekolah.
Setelah diteliti penyebabnya ada yang berhubungan dengan perilaku seksual

(hamil diluar nikah) dan ada yang berhenti karena faktor ekonomi, pindah, dan
keluar tanpa keterangan. Serta survey awal yang dilakukan dari 5 responden
mengaku ada yang berpegangan tangan dengan pacar, berciuman bibir dengan
pacar, berciuman pipi, berpelukan dengan pacar, menonton ke bioskop dengan
pacar, berpandangan mesra dengan pacar serta meraba daerah tertentu dengan
pacar. Dari hasil pengamatan yang peneliti lakukan di lingkungan SMA Pertiwi 2
Padang juga memiliki wifi gratis yang mudah digunakan siswa-siswinya browsing
ke internet, ini dapat digunakan oleh pelajar untuk membuka situs-situs yang
berdampak negatif dan menyimpan atau mengambil foto-foto porno.
Berdasarkan permasalahan diatas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui
tentang Hubungan Keterpaparan Media Massa dan Pengaruh Teman Sebaya
dengan Perilaku Seksual Remaja di SMA Pertiwi 2 Padang tahun 2016.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas,rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah Apakah Ada Hubungan Keterpaparan Media Massa dan Pengaruh
Teman Sebaya dengan Perilaku Seksual Remaja di SMA Pertiwi 2 Padang
tahun 2016 ?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Diketahuinya ada hubungan keterpaparan media massa dan teman
sebaya dengan perilaku seksual pada remaja di SMA Pertiwi 2 Padang
tahun 2016.

2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya distribusi frekuensi perilaku seksual pada remaja di
SMA Pertiwi 2 Padang tahun 2016.

b. Diketahuinya distribusi frekuensi keterpaparan media massa pada


remaja di SMA Pertiwi 2 Padang tahun 2016.
c. Diketahuinya distribusi frekuensi pengaruh teman sebaya pada
remaja di SMA Pertiwi 2 Padang tahun 2016.
d. Diketahuinya hubungan keterpaparan media massa dengan perilaku
seksual pada remaja di SMA Pertiwi 2 Padang tahun 2016.
e. Diketahuinya hubungan pengaruh teman sebaya dengan perilaku
seksual pada remaja di SMA Pertiwi 2 Padang tahun 2016.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan dan keterampilan peneliti dalam pembuatan karya
tulis ilmiah tentang hubungan keterpaparan media massa dengan perilaku
seksual remaja di SMA Pertiwi 2 Padang tahun 2016.
2. Bagi Institusi Pendidikan SMA Sederajat
Sebagai masukan bagi Institusi Pendidikan SMA dan Sekolah Sederajat
untuk mengetahui perilaku seksual yang ada di lingkungan siswanya.
3. Bagi Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Padang
Data dan hasil yang diperoleh dapat digunakan sebagai bahan referensi
penelitian selanjutnya dibidang kesehatan reproduksi.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup ini dibatasi untuk mengetahui hubungan keterpaparan
media massa dan pengaruh teman sebaya dengan perilaku seksual pada remaja di
SMA Pertiwi 2 Padang tahun 2016. Pengumpulan data direncanakan akan
dilaksanakan pada tanggal 24-28 Mei 2016 di SMA Pertiwi 2 Padang. Data
dikumpulkan dengan cara pengisian angket dengan format kuesioner yang
langsung diisi oleh responden dan berupa absen-absen siswa-siswi kelas X dan XI
SMA Pertiwi 2 Padang. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X dan XI
di SMA Pertiwi 2 Padang yang berjumlah 320 orang dengan sampel 76 orang.

Jenis penelitian adalah deskriptif analitik dengan metode desain cross sectional
dan teknik pengambilan sampel menggunakan Proportional random sampling
dan Simple Random Sampling.

BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Teori
Terdapat 3 faktor yang dapat mempengaruhi perilaku itu sendiri yaitu
faktor predisposisi, faktor pendukung dan faktor pendorong.5
Faktor Predisposisi:
o Pendidikan
o Pengetahuan
o Sikap
o Persepsi
Faktor Pendukung:
Media Massa
o Ketersediaan
Waktu

Perilaku Kesehatan

Faktor Pendorong:
o Peran Orang tua
Pengaruh Teman
Sebaya

Gambar 1 Kerangka Teori


Kerangka Teori Menurut Lawrence Green dalam Notoatmodjo tahun 2011
Keterangan :
Variabel yang diteliti
o Variabel yang tidak diteliti

B. Kerangka Konsep
Variabel Indpendent

Variabel Dependent

Keterpaparan Media
Massa

Terpengaruh teman
sebaya

Perilaku Seksual pada


remaja

Gambar 2 Kerangka Konsep


Hubungan Keterpaparan Media Massa dan Pengaruh Teman Sebaya dengan
Perilaku Seksual pada Remaja di SMA Pertiwi 2 Padang Tahun 2016

C. Hipotesis

10

1. Terdapat hubungan antara keterpaparan media massa dengan perilaku


seksual pada remaja.
2. Terdapat hubungan antara pengaruh teman sebaya dengan perilaku seksual
pada remaja.