Anda di halaman 1dari 10

PEMANFAATAN EKSTRAK TANAMAN BUNGA MENTEGA (Nerium oleander)

SEBAGAI PESTISIDA NABATI


IKHTIAR BANGKIT WULANDARI 4411414014
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Semarang
Email : ikhtiarbangkit@gmail.com
ABSTRAK
Penggunaan pestisida kimiawi sudah memberikan dampak yang sangat berbahaya
bagi manusia dan lingkungan. Oleh karena itu mulai dikembangkan pengendalian hama
dengan pembuatan pestisida nabati. Beberapa mafaat dari pestisida alami atau pestisida
nabati adalah Mudah terurai (biodegradable) di alam, Relatif aman bagi manusia dan
ternak, Dapat membunuh hama/penyakit, Dapat sebagai pengumpul atau perangkap hama
tanaman, Bahan yang digunakan nilainya murah serta tidak sulit dijumpai dari sumber daya
yang ada di sekitar dan bisa dibuat sendiri dan Tidak menimbulkan kekebalan pada
serangga. Oleh karena itu mulai dikembangkan pengendalian hama yang aman bagi
lingkungan, salah satunya adalah pemanfaatan insektisida botani ekstrak bunga Nerium
oleander. Berdasarkan penelitian tanaman bunga mentega mengandung banyak senyawa
kimia yang dapat digunakan sebagai antikanker, diuretika, antiskabies, mengobati herpes,
antibakteri, antijamur, ekspektoran, insektisida, bengkak, panguat jantung. Senyawa yang
terkandung dalam bunga mentega antara lain neriodorin, karabin, dan asam tanat, kanerin
dan asam 12, 13-dihidroursolat, glikosida jantung (oleandrin), 16-dehidroadinerigenin,
neritalosid, dan odorosid, asam kanerat, asam nerikumarat, asam isonerikumarat,
oleanderol, kanerodian, asam oleanderolat, kanerin, dan neriuminin, serta neridiginoside.
Tanaman bunga mentega ( Nerium oleander) merupakan salah satu jenis tanaman yang
banyak tumbuh di Indonesia dan dikenal dapat digunakan sebagai pestisida alami atau
nabati.
Kata kunci : Nerium oleander, pestisida nabati, ekstrak tanaman bunga mentega
PENDAHULUAN

Penemuan insektisida menimbulkan masalah baru dalam dunia pertanian. Ketidak


tepatan penggunaan tidak hanya membunuh serangga hama tetapi juga serangga musuh
alami. Insektisida menimbulkan resurgensi dan resistensi hama, kemungkinan ledakan hama
sekunder dapat terjadi apabila kelimpahan serangga musuh alami menurun. Penyebaran
insektisida melalui aliran air dan udara menimbulkan pencemaran lingkungan. Akumulasi
bahan kimia insektisida meningkat sesuai dengan meningkatnya tingkatan trofik. Konsentrasi

bahan kimia yang tinggi pada organisme akan bersifat racun yang mematikan (Winarno, 1987
dalam Gunawan, 2007).
Keberadaan musuh alami dapat menjadi alternatif untuk mengontrol populasi
serangga hama tanpa risiko yang berarti dibanding dengan insektisida. Serangga musuh alami
dapat berupa serangga entomofagus yaitu predator dan parasitoid. Keunggulan dari parasitoid
adalah dapat memotong daur hidup serangga hama dengan memarasiti telur, larva atau pupa
dari serangga hama tersebut (Mudjiono, 1994 dalam Gunawan, 2007).
Kinerja dan efektivitas musuh alami dapat ditingkatkan dengan cara memanipulasi
habitat. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa beberapa tanaman liar seperti
Stachytarpheta indica L., Bidens pilosa, Mimosa pudica, Vernonia cinera sangat menarik
beberapa serangga musuh alami dari famili Syrpidae yang berperan sebagai polinator dan
predator pada tanaman padi, antara lain: Pocota personata L. dan Eristalis tenak (Yanuwiadi
et al.,2000 dalam Gunawan, 2007).
Peluang pengembangan insektisida botanis terutama di Indonesia (Soehardjan, 1994;
Ginting et al, 1995 ; Natawigena, 1988 dalam Adria et al, 2011) dinilai sangat strategis
mengingat 1). Tanaman sumber bahan insektisida banyak tersedia dengan berbagai macam
kandungan kimia yang bersifat racun (toksik), anti hormonal ataupun anti feedan, 2). Sasaran
pemakaian relatif beragam mulai dari tanaman hortikultura, pangan dan tanaman perkebunan,
3). Menghindari diskriminasi pasar akibat pencemaran residu pestisida sintetik.
Nerium Oleander merupakan suatu semak belukar pohon yang selalu hijau atau pohon
kecil dalam keluaga Aphocynaceae. Bunga ini merupakan bunga asli dari Afrika Utara, Asia
bagian Utara dan Mediterania Timur. Tumbuhan jenis ini biasanya ditanam sebagai pokok
hiasan. Biasa disebut sebagai Oleander atau dengan nama yang umum dikenal sebagai Pink
Dwarf (Kurcaci merah muda ). Oleander adalah salah satu tanaman kebun yang paling
beracun (Daware,2012). Oleander adalah salah satu jenis tanaman yang beracun dan dapat
menyebabkan kematian terutama pada anak kecil. Yang toksin adalah oleandrin dan neriine,
berhubungan dengan jantung glycosides (Goetz 1998). Keseluruhan yang mencakup getah
putih seperti susu adalah beracun.
Tingginya mencapai 2-7 meter mempunyai batang yang tegak dan dan merenggang
keluar sebagi pertumbuhan dewasa-nya serta batang yang berwarna keabu-abuan. Diseluruh
bagiannya beracun atau mengandung racun.
Daunnya berjumlah dua atau tiga berbegelung-gelung, tebal dan keras. Daun keras
dan tajam selebar + 2 cm. Daun pokok ini tersusun dalam lingkaran (vertisilaster) yang setiap

lingkarannya berjumlah 3 daun. Bentuk daun ini panjangnya berkisar antara 4-10 cm,
tergantung pada variasi dan berwarna hijau terang. Filotaksis Daunnya dalam lingkaran, jenis
daunnya daun majemuk menyirip, garis tepi taun rata, bentuk daun merupakan pita, daun
venation adalah berdaun muda pada tangkai. Sari daun oleander dapat digunakan untuk
mengobati penyakit jantung dan kerusakan kulit pada dosis yang tepat karena apabila getah
dari daun oleander termakan dapat menyebabkan kematian.

Daun Nerium oleander


Cabang secara rutin tumbuh dengan tegak lurus dan tidak ada layu, tidak terlalu
terlihat pohon tumbuh dengan batang tunggal, tidak berduri. Kebutuhan pembabatan
membutuhkan pembabatan agar struktur dapat berkembang. Peka terhadap kerusakan bagian
manapun di cabang pohon dalam kaitan dengan formasi kayu, atau kemungkinan kayu itu
sendiri telah lemah dan rusak. Warna ranting hijau dan ketebalan ranting tebal.

Batang tanaman Nerium oleander

Bunga oleander tumbuh dengan baik di daerah subtropis, yang digunakan sebagai
tanaman hias. Nerium oleander dapat tumbuh pada suhu -10C dan juga pada iklim dingin.
Bunga berwarna putih atau kelabu, merah ke ungu atau kuning kemerahan. Mempunyai
diameter 2,5-5 cm. Bunga oleander memiliki 3 bagian yang disebut limbus yang terbagi
menjadi 5 bagian (atas), faux yang membentuk suatu tonjolan, dan tubus yang membentuk
pipa yang berhubungan langsung dengan dasar bunga. Kuncup bunga oleander memutar
(kontortus). Getah Bunga oleander dapat menyebabkan iritasi kulit, iritasi pada mata, dan
reaksi alergi yang ditandai oleh infeksi kulit ( Goetz 1998).

Bunga Nerium oleander


Buah berbentuk kapsul sempit dengan panjang 5-23 cm yang merobek pada saat
dewasa untuk melepaskan banyak benih halus. Bentuk buah memanjang, panjang buah 3-6
inci, kulit buah keras atau kering, karakteristik buah kasat mata tidak ada tanda khusus.

Buah Nerium oleander


Klasifikasi Nerium oleander dalam dunia botani sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Division : Magnoliophyta

Class

: Magnoliopsida

Order

: Gentianales

Family

: Apocynaceae

Genus

: Nerium L

Species

: Nerium oleander

Bagian tanaman yang dapat digunakan untuk pengendalian hama antara lain adalah
akar, batang, kulit batang, daun, dan bunga, tetapi yang paling sering digunakan adalah pada
bagian daunnya, karena memiliki kandungan oleandrin paling tinggi (Dalimartha, 2008).
Senyawa oleandrin merupakan senyawa golongan kardenolida yang diisolasi dari
fraksi aktif daun Nerium oleander. Oleandrin mempunyai rumus molekul C 32H48O9 dan berat
molekul

576.7.

Sedangkan

berdasarkan

IUPAC

Acetic

acid

[(3S,5R,10S,13R,14S,16S,17'R)-14-hydroxy-3[[(2R,4S,5S,6S)-5-hydroxy-4methoxy-6-methyl-2-tetrahydropyranyl]oxy]-10,13-dimethyl-17-(5-oxo-2H-furan3-yl)1,2,3,4,5,6,7,8,9,11,12,15,16,17-tetradecahydrocyclopenta[a]phenanthren16-yl] ester. Mempunyai inti steroid dengan cincin lakton di atom C17 dan Dideoksi-

arabinosa

di ataom C3. Cincin steroid diganti

dengan

grup asetil oksi pada atom C16.

Rumus kimia oleandrin


Pada manusia Oleandrin dapat menyebabkan mual, muntah, nyeri abdominal dan
diare. Kemudian, efek juga dapat terjadi pada sistem kardiovaskular serta sistem saraf. Pada
sistem kardiovaskular terjadi sinus bradikardia dan dibeberapa kasus terjadi denyut ektopik
yang muncul diperkirakan diikuti dengan takikardia ventrikel dan fibrilasi. Sedangkan, pada
sistem saraf dapat terjadi tremor, rasa mengantuk dan ataksia.Hipotensi dan kehilangan
kesadaran juga dapat tejadi. Kadang dapat terjadi gejala yang muncul secara tiba-tiba.
Digunakan dalam berbagai macam produk farmasi serta preparasi terapeutik lainnya.
Nerium oleander secara tradisional telah diapakai para Herbalis sebagai obat berbagai
penyakit contohnya seperti penyakit kulit (dermatitis), scabies, herpes, kanker kulit, asma,

epilepsy, malaria dan tumor. Di Mediterania dan Asia bagian Tengah dan Selatan digunakan
untuk tujuan medis, tapi tidak terdokumentasikan secara ilmiah. Daun Nerium oleander yang
dimaserasi dapat dijadikan obat topical untuk perawatan kulit, rambut yang rontok,
superficial tumor dan sifilis. Sebagai glikosida jantung Oleandrin digunakan untuk
meningkatkan kontraktilitas jantung dan secara tradisional di China telah digunakan sebagai
kongestif untuk gagal jantung. Pada dosis yang tepat Oleandrin juga digunakan sebagai antiaritmia sebagai pengontrol fibrilisasi atrial.
GAMBARAN KHUSUS
Kondisi Kekinian
Pengendalian serangga hama masih banyak yang menggunakan pestisida kimia.
Penggunaan pestisida kimia dapat menimbulkan dampak meledaknya populasi hama.
Ledakan populasi hama dapat terjadi karena hama dapat menjadi toleran terhadap insektisida
sehingga populasinya tidak terkendali. Dengan semakin toleran hama terhadap pestisida akan
meningkatkan penggunaan dosis pestisida yang digunakan. Dampak lain yang ditimbulkan
dari penggunaan pestisida kimia adalah menyebabkan keracunan pada manusia dan
menimbulkan kerusakan lingkungan. Dengan berbagai berbagai dampak negatif yang
ditimbulkan pestisida kimia maka membuka peluang untuk berkembanganya penggunaan
pestisida botani. Penggunaan ekstrak tanaman untuk bahan pestisida untuk mengendalikan
hama bukan merupakan penemuan baru. Penggunaan ekstrak tanaman untuk bahan pestisida
sudah banyak digunakan petani walaupun masih dalam skala kecil.
Salah satu tumbuhan yang berkembang dengan baik di Indonesia dan berpotensi
sebagai pestisida alami adalah bunga mentega.
Penggunaan tanaman N. oleander banyak menggunakan bagian daun dibandingkan
bagian tanaman lainnya. Penggunaan ekstrak daun N. oleander dapat menyebabkan kematian
Sitophilus oryzae, Selenothrips rubrocinctus, dan Spodoptera litura . Pembuatan ekstrak
tanaman sangat mudah, murah dan ketersediaan bahan di alam sangat mudah ditemui dalam
jumlah banyak.
Metode
Berbagai metode yang digunakan untuk memperoleh ekstrak bunga dan daun bunga mentega
untuk pestisida nabati.

Dalam penelitian Prabowo 2010 pengambilan ekstrak bunga N. Oleander dengan melarutkan
bahan nabati dan air serta aplikasinya dilakukan dengan cara sebagai berikut:
-

Pembuatan bahan nabati dengan air. Bahan nabati segar yang masih segar dihaluskan
dengan menggunakan blender ditambah air sedikit demi sedikit, sampai betul-betul
merata. Cairan bahan tersebut kemudian disaring dengan kain kasa halus dan cairan
siap digunakan sebagai bahan pestisida botani. Konsentrasi ekstrak bunga N. oleander
yang digunakan adalah 0;5,5x104; 6,5x104; 7,5x104; dan 8,5x104 ppm. Perlakuan

dilakukan dengan metode penyemprotan di dalam spray chamber.


Bunga N. oleander merupakan pestisida botani yang berkerja sebagai racun perut dan
penghambat daya makan larva. Racun perut akan mempengaruhi metabolisme larva
setelah memakan racun, kemudian racun akan masuk ke dalam tubuh dicerna dalam
saluran tengah yang kemudian diedarkan bersama darah. Racun yang terbawa darah
akan mempengaruhi sistem saraf larva dan kemudian akan menimbulkan kematian.
Upaya Promotif Pestisida Nabati dari Ekstrak Bunga Mentega

Nerium oleander merupakan tanaman hias, berasal dari Asia dan memiliki sifat tahan
panas dan kekeringan. Tanaman ini dapat ditemukan di berbagai negara seperti India, China,
Indonesia, dan beberapa negara Asia lainya. Tanaman ini merupakan perdu, tumbuh tegak,
tinggi 2-5m, berdaun tebal, bertangkai sekitar 1 cm yang agak membengkok, 3 daun sering
tumbuh melingkar, bergetah dan dapat tumbuh pada ketinggian antara 1-700 mdpl.
Pemanfaatan tanaman N. oleander sebagai pengendalian hama belum banyak
dilakukan. Padahal telah banyak diketahui bahwa tanaman ini mengandung oleandrin yang
memiliki sifat insektisida dan antifeedant. Bagian tanaman yang dapat digunakan untuk
pengendalian hama antara lain adalah akar, batang, kulit batang, daun, dan bunga, tetapi yang
paling sering digunakan adalahpada bagian daunnya, karena memiliki kandungan oleandrin
paling tinggi (Dalimartha, 2008).
Mengingat seringnya pengendalian hama dengan pestisida kimiawi menyebabkan
kerusakan lingkungan yaitu tercemarnya lingkungan udara, air dan tanah. Oleh karena itu
diperlukan upaya untuk mencari dan menciptakan teknik aplikasi pestisida yang aman bagi
lingkungan dan aman terhadap hasil produksinya yaitu dengan membuat pestisida dari bahan
nabati. Pemanfataan tanaman bunga mentega yaitu ekstrak bunga diharapkan

mampumemberikan banyak manfaat bagi lingkungan dengan terciptanya lingkungan yang


sehat tanpa bahan kimia.
Upaya promotif dapat dilakukan dengan berbagai cara,salah satunya dengan
sosialisasi kepada masyarakat, seperti diadakanya seminar yang dilakukan oleh Herri
Prabowo dengan tema Pengaruh Ekstrak Bunga Oleander yang di selenggarakan di Balai
Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang pada tahun 2010.
Kegiatan tersebut dapat membuat masyarakat mengetahui bahwa tanaman oleander
tidak hanya di gunakan sebagai tanaman hias tetapi juga dapat mengetahui manfaat dari
tanaman oleander yang berpotensi sebagai pestisida nabati. Dan dapat membuat masyarak
beralih menggunakan tanaman oleander sebagai pestisa nabati menggantikan pestisida
berbahan kimia.
Selain itu juga dapat dilakukan upaya promosi. Bauran promosi terdiri dari lima cara
utama berdasarkan Kotler (2000), yaitu:

Periklanan, yaitu semua bentuk presentasi non personal dan promosi


ide, barang atau jasa oleh sponsor yang ditunjuk dengan mendapat

pembayaran.
Promosi penjualan, yaitu insentif jangka panjang untuk mendorong

keinginan dalam mencoba atau membeli produk atau jasa.


Pemasaran langsung melalui penggunaan surat, telepon, dan alat
penghubung non personal lainnya untuk berkomunikasi dengan atau

mendapatkan respon dari pelanggan atau calon pelanggan tertentu.


Penjualan personal, yaitu interaksi langsung antar satu atau lebih calon

pembeli dengan tujuan melakukan pembelian.


Hubungan masyarakat dan publisitas melalui berbagai program yang
dirancang untuk mempromosikan dan atau melindungi citra
perusahaan atau produk individualnya (Andina, 2013).

Upaya Preventif Pestisida Nabati dari Tanaman Nerium Oleander

Suatu pestisida alami dapat bekerja lebih efektif ketika diberi tambahan bahan atau zat
lain yang mendukung daya racun pestisida alami dalam mengatasi serangan hama. Pestisida
nabati adalah pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tumbuhan-tumbuhan dan berkhasiat

mengendalikan serangan hama pada tanaman. Pestisida nabati tidak meninggalkan residu
berbahaya bagi tanaman maupun lingkungan serta dapat dibuat dengan mudah menggunakan
bahan yang murah dan peralatan sederhana.

Daftar pustaka

Adria, Jamalius, Herman dan Hasnawati.2011. PENGUJIAN PRODUK FORMULASI BIO


PESTISIDA TERHADAP HAMA PENGGULUNG DAUN NILAM (Pachyzancla
stultalis). 291-298
Gunawan.2007. POTENSI TANAMAN Nerium oleander UNTUK TINDAKAN
AUGMENTASISTEPHANIDAE (HYMENOPTERA) SEBAGAI MUSUH ALAMI
LEPIDOPTERA. 21-22
Prabowo Heri.2010. PENGARUH EKSTRAK BUNGA OLEANDER (Nerium oleander L.)
TERHADAP MORTALITAS HAMA TANAMAN JARAK PAGAR
Selenothrips rubrocinctus Giard.Vol 10 : 1063-1068