Anda di halaman 1dari 13

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Hepatitis

Hepatitis adalah kelainan hati berupa peradangan (sel) hati. Peradangan ini ditandai
dengan meningakatan kadar enzim hati. Peningkatan ini disebabkan adanya gangguan
atau kerusakan membran hati. Ada dua faktor penyebabnya yaitu faktor infeksi dan faktor
non infeksi. Faktor penyebab infeksi antara lain virus hepatitis dan bakteri. Selain karena
virus Hepatitis A, B, C, D, E dan G masih banyak virus lain yang berpotensi
menyebabkan hepatitis misalnya adenoviruses , CMV , Herpes simplex , HIV , rubella
,varicella dan lain-lain. Sedangkan bakteri yang menyebabkan hepatitis antara lain
misalnya bakteri Salmonella typhi, Salmonella paratyphi , tuberkulosis , leptosvera.
Faktor noninfeksi misalnya karena obat. Obet tertentu dapat mengganggu fungsi hati dan
menyebabkan hepatitis (Dalimartha,2008).
Hepatitis adalah suatu proses peradangan difus pada jaringan yang dapat disebabkan
oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan serta bahanbahan kimia
(Hadi, 2003). Hepatitis merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan klinis,
biokimia serta seluler yang khas (Mansjoer, 2000).
Hepatitis adalah merupakan inflamasi hati dapat terjadi karena invasi bakteri, cedera
oleh agen fisik atau kimia (non-viral), atau infeksi virus (hepatitis A, B, C, D, E) (Nettina,
2002).

B. Jenis-jenis Hepatitis
1. Pengertian hepatitis A

Hepatitis A, yang dahulu dinamakan hepatitis infeksiosa disebabkan oleh virus


RNA dari fdamili Emtereo virus. Cara penularan penyakit ini adalah melalui jalur
fekal oral, terutama lewat konsumsi makanan, atau minuman yang tercemar virus
tersebut. Virus hepatitis A ditemukan dalam tinja pasien yang terinfeksi sebelum
gejalanya muncul dan selama beberapahari pertama menderita sakit secara has,
seorang pasien dewasa muda akan terjangkit infeksi disekolah dan membawanya ke
rumah dimana kebiasaan sanitasi yang kurang sehat menyebarkannya keseluruh
anggota keluarga. Hepatitis Alebih repalen di negara-negara berkembang atau pada
populasi yang tinggalnya berdesakan dengang sanitasi yang buruk. Menjaja makanan
yang terinfeksi menyebarkan penyakit tersebut,dan masnyarakat dapat terjangkit
melalui komsumsi air atau ikan dari sungai yang tercemar limbah. Wabah hepatitia A
terjadi pada pusat-pusat kesehatan dan panti akibat kurangnya kebersihan perorangan.
Kadang-kadang penyakit ini menularkan melaui taranpusi darah.
Masa inkubasi hepatitis A diperkirakan berkisar dari 1 hingga 7 minggu dengan
rata-rata 30 hari.Perjalasan penyakit dapat berlangsung lama, dari 4 hingga 8 minggu.
Umumnya hepatitis A berlangsung lebih lama dan lebih berat pada penderita yang
berusia di atas 40 tahun Virus hepatitis A hanya terdapat dalam waktu singkat di
dalam serum; pada saat timbul ikterus, kemungkinan pasien sudah tidak infeksius
lagi. Gejala hepatitis A pada orang dewasa diwilayah nonendemis biasanya ditandai
dengan demam, malaise, anoreksia, nausea, gangguan abdomial diikuti dengan
gagngguan ikterus dalam beberapa hari. Disebagian negara berkembang virus
Hepatitis A terjadi pada amasa anak-anak umumnya asimtomastis atau gejala sakit
ringan. Infeksi yang terjadi pada usia selanjutnya hanya dapat diperiksa melalui
pemeriksaan laboratorium terhadap fungsi hati.
2. Hepatitis B
Hepatitis B adalah suatu penyakit yang menyerang hati disebabkan oleh virus
hepatitis B, bersifat akut dan kronik serta dapat mengakibatkan sirosi (pengerasan
hati) dan kanker hati. Pada penderita yang menunjukan gejala klinis, timbulnya gejala
biasanya insidious, dan anorexia, gangguan abdominal yang samar-samar,mual dan
muntah, kadangkadang disertai arthralgia dan trash dan sering berembang menjadi
jaundice. Demam ringan atau mungkin tidak sama sekali.
Sebagian besar infeksi tidak akan dapat dicegah dengan program imunisasi
hepatitis B perinatal oleh karena infeksi terjadi pada anakanak yang ibunya
mempunyai HbsAg negatif. Hepatitis B didiagnosis dengan tes darah yang mencari

antigen (pecahan antivirus Hepatitis B) tertentu dan antibodi (yang dibuat oleh anti
sistem kekebalan tubuh sebagai reaksi terhadap antibodi). Tes darah awal untuk
diagnosis infeksi HBV mencari suatu antigen-HbsAg (antigen permukaan atau surface
HBV) dan dua antibodi yaitu anti-HBs (antibodi terhadap antigen permukaan HBV)
dan anti-HBc (antibodi terhadap antigen bagian inti atau core HBV). Ada dua type
antibodi anti-HBc yang dibuat yaitu antibodi IgM (HBcIgM) dan antibodi IgG
(HBcIgG). Tes darah yang dipakai untuk diagnosis HBV dapat membingungkan,
karena ada beberapa kombinasi antigen dan antibodi yang berbeda, dan masingmasing kombinasi mempunyai artinya sendiri.
Bila tidak pernah terinfeksi atau pernah difaksinasi terhadap HBV, kita tidak
membutuhkan tes tambahan. Bila kita baru-baru ini terinfeksi HBV atau Hepatitis B
akut, sebaiknya kita tes ulang setelah 6 bulan untuk meyakinkan sudah didapatkan
kekebalan yang dibutuhkan. Bila terkena hepatitis B kronis,maka dibutuhkan tes
tambahan. Tes ini diminta oleh dokter untuk mengetahui apakah infeksinya aktif dan
seberapa luar kerusakannya pada hati. Pada umumnya terapi dan pengobatan Hepatitis
B adalah untuk menghilangkan keluhan dan gejala klinis yang ada, mempersingkat
lamanya sakit, dan mencegah komplikasi seperti hepatitis fluminan yang dapat
menyebabkan kematian.
3. Hepatitis C
Perbandingan kasus hepatitis virus yang signifikan bukan berupa hepatitis A,
hepatitis B atau pun hepatitis D; sebagai akibatnya, kasus-kasus itu diklarifikasikan
sebagai hepaitis C(yang dahulunya disebut hepatitis non A,non B atau hepatitis
NANB), agens lain yang berbeda dan tidak berhubungan dengan virus hepatitis C,
diperkirakan sebagai penyebab sebagian kasus hepatitis non A,non B yang berkaitan
dengan transfusi darah. Di amerika serikat lebih dari 90% kasus terjadi akibat tranfusi
darah dan hepatitis C merupakan bentuk primer hepatitis yang berkaitan dengan
transfusi.
Orang-orang denga risiko khusus untuk terkena hepatitis C mencakup anakanak yang sering mendapatkan transfusi atau individu yang memerlukan darah dalam
jumlah besar. Hepatitis lebih besar kemungkinanya untuk ditularkan dari donor
komersial atau donor bayarnya ketimbang donor reawan. Hepatitis C bukan hanya
terjadi pada pasien-pasien pasca transfusi dan di antara para pemakai obat-obat IV,
tetapi juga pada petugas kesehatan yang berkerja dalam unit-unit dialisis renal.
Masa inkubasi hepatitis C bervariasi dan dapat berkisar dari 15 hingga 160 hari.
Perjalanan klinis hepatitis C yang akut serupa denga hepatitis B; gejala hepatitis

biasanya ringan. Meskipun demikian, status karier yang kronissering terjadi dan
terdapat peningkatan risiko untuk menderita penyakitnya hati yang kronis sesudah
hepatitis C termasuk sirosis atau kanker hati. Terapi interferon dosis rendah untuk
jangka waktu yang lama terbukti efektif dalam sejumlah uji coba pendahuluan pada
beberapa penderita hepatitis C: walaupun begitu, respons tersebut hanya bersifat
sementara. Kombinasi preparat interferon dengan ribvarin, suat analog nukleosida
kini tengah diuji untuk menentukan apakah terdapat manfaat yang lebih lama (fried &
hoonfnagle, 1995)
Tes antibodi HCV mendiagnosis inveksi HCV mulai dari tes antibodi. Antibodi
terhadap HCV biasanya terdeteksi setelah 6-7 minggu setelah virus tersebut masuk
kedalam tubuh, walaupun kadang kala untuk beberapa orang dibutuhkan tiga bulan
aatu lebih. Bila tes antibodi HCV positif, tes ulang biasanya untuk konfirmasi. Tes
konfirmasi ini dapat tes antibodi lain atau tes PCR.
Bila tes positif untuk antibodi HCV, ini berarti pernah terkena virus tersebut pada
suatu waktu. Karena kurang lebih 20% orang yang terinfeksi HCV sembuh tanpa
memakai obat biasanya setelah 6 bulan setelah terinfeksi. Untuk mencari HCV dokter
akan menerima tes PCR kualitatif untuk menentukan adanya virus hepatitis C di
dalam tubuh seseorang.
Pengobatan Hepatitis C sedini mungkin sangatlah penting. Meskipun tubuh anda
telah melakukan perlawanan terhadap infeksi, tetapi hanya 15% yang berhasil,
pengobatan tetap diperlukan untuk mencegah Hepatitis C kronis dan STIKOM
membantu mengurangi kemungkinan hati menjadi rusak
Kadangkala, pengobatan Hepatitis C memerlukan waktu yang lama, dan tidak
dapat membantu. Tetapi karena penyakit ini dapat menjadi parah sepanjang waktu,
sangatlah penting untuk mencari pengobatan yang tepat dari dokter anda. Diagnosis
dan pengobatan awal sangatlah mendesak dan penting. Persentase yang signifikan
dari orang yang melakukannya dapat sembuh dari Hepatitis C dan menunjukan
perbaikan hatinya. Tujuan pengobatan dari Hepatitis C adalah menghilangkan virus
dari tubuh anda sedini mungkin untuk mencegah perkembangan yang memburuk dan
stadium akhir penyakit hati. Kebanyakan bentuk interferon alfa hanya dapat bertahan
satu hari tetapi dapat dimodifikasi melalui proses pegilasi untuk membuatnya
bertahan lebih lama. Meskipun interferon alfa dapat digunakan sebagai obat Hepatitis
C tunggal termasuk pegylated interferon, penelitian menunjukkan lebih efektif bila
dikombinasi dengan anti virus ribavirin.
4. Hepatitis D

Hepatitis D (agnes atau virus Delta) terdapat pada kasus hepatitis B. Karena virus
ini memrlukan antigen permukaan hepatitis B untuk replikasinya, makanya hanya
penderita hepatitis B yang beresiko terkena hepatitis D. Antibody anti-delta dengan
adanya HBAg pada pemeriksaan laboratorium memastikan diagnosis tersebut.
Hepatitis D juga sering sering dijumpai diantara pemakai obat-obat IV, pasien-pasien
hemodialisis dan penerima transfuse darah dengan donor multiple. Hubungan seksual
dengan hepatitis B dianggap sebagai suatu cara penularan hepatitis D dan B yang
penting. Masa inkubasi hepatitis D bervariasi antara 21 dan 140 hari.
Gejala hepatitis D serupa dengan gejala hepatitis B, kecuali pasiennya lebih
cenderung untuk menderita hepatitis fulminant dan berlanjut menjadi hepatitis aktif
yang kronis serta sirosis hati. Tetapi hepatitis D serupa dengan terapi pada bentuk
hepatitis yang lain, meskipun penggunaan interferon yang merupakan obat khusus
bagi hepatitis D masih diselidiki.
5. Hepatitis E
Virus hepatitis

E,

yang

merupakanjenis

virus

hepatitis

terbaru

yang

teridentifikasi, dianggap ditularkan melalui jalur fekal-oral. Masa inkubasi hepatitis E


bervariasi dan diperkirakan berkisar dari 15 hingga 65 hari. Awitan dan gejalanya
serupa dengan yang terdapat pada tipe hepatitis virus yang lain.
Menghindari kontak dengan virus melalui hygiene perorangan yang baik,
termasuk kebiasaan mencuci tangan, merupakan cara utama untuk mencegah hepatitis
E. Efektifitas preparat imun globulin dalam memberikan perlindungan terhadap virus
hepatitis E belum diketahui.
6. Hepatitis F
Baru ada sedikit kasus yang dilaporkan. Saat ini para pakar belum sepakat hepatitis F
merupakan penyakit hepatitis yang terpisah.

7.

Hepatitis G
Hepatitis G adalah penyakit inflamasi hati yang baru ditemukan. Disebabkan oleh
hepatitis G virus (HGV), yang mirip dengan virus hepatitis C. Kontak dengan darah
yang terinfeksi HGV. Kebanyakan orang tidak memiliki gejala akut. Sebanyak 20 %
dari penderita hepatitis C juga menderita hepatitis ini. Metode yang digunakan untuk
mendeteksi HGV sangat komplek untuk mengetahui adanya antibodi HGV. Namun
ketika antibodi telah ditemukan, virus itu sendiri telah menghilang. Tidak ada
perawatan spesifik untuk penyakit hepatitis akut ini. Penderita harus banyak istirahat,
menghindari alkohol dan makan makanan bergizi. Hepatitis G ditularkan melalui

infeksi melalui darah. Pencegahannya dengan menghindari kontak dengan darah yang
terkontaminasi. Jangan gunakan jarum suntik atau peralatan lain secara bersamaan.
C. Etiologi
Penyebab hepatitis adalah virus hepatitis yang dibagi menjadi:
1. Hepatitis A, disebabkan oleh virus hepatitis A (HAV) yang merupakan virus RNA dari
famili enterovirus yang berdiameter 27 nm.
2. Hepatitis B, disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV) yang merupakan virus DNA
yang berkulit ganda yang berukuran 42 nm.
3. Hepatitis C, disebabkan oleh virus hepatitis C (HCV) yang merupakan virus RNA
kecil terbungkus lemak yang berdiameter sekitar 30 sampai 60 nm.
4. Hepatitis D, disebabkan oleh virus hepatitis D (HDV) yang merupakan virus RNA
detektif yang membutuhkan kehadiran hepatitis B yang berdiameter 35 nm.
5. Hepatitis E, disebabkan oleh virus hepatitis E (HEV) yang merupakan virus RNA
rantai tunggal yang tidak berselubung dan berdiameter kurang lebih 32 sampai 34 nm.
6. Hepatitis F, baru ada sedikit kasus yang dilaporkan. Saat ini para pakar belum sepakat
hepatitis F merupakan penyakit hepatitis yang terpisah.
7. Hepatitis G adalah Gejala serupa hepatitis C, seringkali infeksi bersamaan dengan
hepatitis B dan/atau C. Tidak menyebabkan hepatitis fulminan ataupun hepatitis
kronik.
8. Penularan melalui transfusi darah jarum suntik (Mansjoer, 2000).

D. Patofisiologi
Hati yang terletak di belakang tulang-tulang iga dalam rongga abdomen daerah kanan
atas. Hati terdiri atas 4 lobus yang setiap lobus dilapisi oleh jaringan ikat yang
membentang ke dalam lobus. Fungsi hati diantaranya untuk metabolisme glukosa,
protein, dan lemak serta sebagai konversi ammonia dan sebagai penyimpan vitamin dan
zat besi.
Proses perjalanan penyakit yang berkembang menjadi disfungsi hepatoseluler dapat
disebabkan oleh penyebab yang menular (infection agent) seperti bakteri serat virus dan
oleh keadaan anoksia, kelainan metabolic, toksin serta obatobatan, defisiensi nutrisi dan
keadaan hipersensitivitas. Penyebab kerusakan parenkim yang paling sering ditemukan
adalah malnutrisi khususnya pada alkoholisme.

Sel-sel parenkim hati akan bereaksi terhadap unsure-unsur yang paling toksik melalui
penggantian glikogen dengan lipid sehingga terjadi infiltrasi lemak dengan atau tanpa
nekrosis atau kematian sel. Keadaan ini sering disertai infiltrasi sel radang dan
pertumbuhan jaringan fibrosis. Regenerasi sel dapat terjadi jika proses perjalanan
penyakit parenkim hati yang kronis adalah pengecilan dan fibrosis hati yang tampak pada
serosis. Arsitektur vaskuler hati dapat terganggu sehingga terjadi peningkatan tekanan
darah vena porta yang menyebabkan perembesan cairan kedalam rongga peritoneum
(asites).
Mekanisme terjadinya hepatitis biasanya secara :

1. Mekanik dari kejadian hepatitis virus akut, timbul peradangan luas, nekrosis luas dan
pembentukan nodul, regenerasi oleh sel parenkim hati yang masih baik. Jadi fibrosis
paska nekrotin adalah dasar timbulnya sirosis hati.
2. Imunologis, dimulai dengan kejadian hepatitis virus akut yang menimbulkan
peradangan sel hati, nekrosis dengan melalui hepatitis kronik agresif diikuti timbulnya
sirosis hati. Perkembangan sirosis hati dengan cara ini memerlukan waktu sekitar
empat tahun, sel yang mengandung virus ini memerlukan sumber rangsangan
terjadinya proses imunologis yang berlangsung terus sampai terjadi kerusakan sel
hati.
3. Campuran infeksi hepatitis virus tipe B dan C menimbulkan peradangan sel hati,
peradangan ini menyebabkan nekrosis hati dan akan menimbulkan kolap lobulus hati
(Brunner & Suddarth, 2001).

E. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis hepatitis menurut FKUI (2006) terdiri dari:
1. Masa tunas
Virus A
:15-45 hari (rata-rata 25 hari)
Virus B
:40-180 hari (rata-rata 75 hari)
Virus non A dan non B
: 15-150 hari (rata-rata 50 hari)

2. Fase Pre Ikterik


Keluhan umumnya tidak khas. Keluhan yang disebabkan infeksi virus berlangsung
sekitar 2-7 hari. Nafsu makan menurun (pertama kali timbul), nausea, vomitus, perut
kanan atas (ulu hati) dirasakan sakit. Seluruh badan pegal-pegal terutama di pinggang,
bahu dan malaise, lekas capek terutama sore hari, suhu badan meningkat sekitar 39oC
berlangsung selama 2-5 hari, pusing, nyeri persendian. Keluhan gatal-gatal mencolok
pada hepatitis virus B.
3. Fase Ikterik
Urine berwarna seperti teh pekat, tinja berwarna pucat, penurunan suhu badan disertai
dengan bradikardi. Ikterus pada kulit dan sklera yang terus meningkat pada minggu I,
kemudian menetap dan baru berkurang setelah 10-14 hari. Kadang-kadang disertai
gatal-gatal pasa seluruh badan, rasa lesu dan lekas capai dirasakan selama 1-2
minggu.
4. Fase penyembuhan
Dimulai saat menghilangnya tanda-tanda ikterus, rasa mual, rasa sakit di ulu hati,
disusul bertambahnya nafsu makan, rata-rata 14-15 hari setelah timbulnya masa
ikterik. Warna urine tampak normal, penderita mulai merasa segar kembali, namun
lemas dan lekas capai.
Gambaran klinis yang sering ditemukan adalah :
1.
2.
3.
4.
5.

Gejala gastrointestinal seperti: anoreksia, mual, muntah dan diare.


Demam, berat badan menurun, lekas lelah.
Asites, hidrotorak, dan edema.
Ikterus, kadang-kadang urin menjadi lebih tua warnanya atau kecokelatan.
Hepatomegali, bila telah lanjut, hati dapat mengecil karena fibrosis, bila secara klinis
didapati adanya demam, ikterus, dan asites dikatakan serosis dalam keadaan aktif,

kemungkinan akan timbulnya prekoma dan koma hepatikum.


6. Kelainan pembuluh darah seperti kolateral-kolateral di dinding abdomen dan thorak,
kapur nodus wasir dan varises esophagus.
7. Kelainan endokrin:
a. Impotensi, atrofi, ginekomastia, hilangnya rambut aksila dan pubis.
b. Amenore, hiperpigmentasi areola mammae,
c. Spidernevi dan eritema.
d. Hiperpigmentasi (Brunner & Suddarth, 2001).
F. Penatalaksanaan
1. Tirah baring (bedrest) yaitu istirahat total ditempat tidur diawal fase penyakit.
2. Pengaturan pola makan. Makanan yang diberikan harus mudah dicerna dan
mengurangi keluhan yang ada. Sebaiknya makan makanan yang tinggi protein dan

karbohidrat tetapi rendah serat. Misalnya dengan membagi dan disantap 5-6 kali
sehai. Usahakan mengkonsumsi makanan yang lebih lembut seperti sup, bubur, nasi
tim, yoghurt, dan jus buah-buahan.
3. Penderita hepatitis A harus mendapat asupan kalori dengan ukuran 35-45 kalori per
kilogram berat atau sekitar 2100 kalori perhari. Makanan yang kaya hidrat arang
kompleks yaitu 350-400 gram per hari agar dapat melindungi protein tubuh. Protein
atau asam amino diberikan sebanyak 0,75 gram dan lemak sedang tidak lebih dari 55
gram per hari. Bentuk makanan tergantung kesanggupan penderita. Apakah dapat
menerima jenis makanan biasa atau lunak.
4. Pada penderita hepatitis B, membutuhkan asupan kalori dengan ukuran 30-35 kalori
per kilogram berat badan atau sekitar 150-175% dari kebutuhan kalori basal atau
sekitar 1800-1900 kalori perhari. Dengan rincian makanan yang kaya hidrat arang
kompleks yaitu 300 gram per hari agar dapat melindungi protein tubuh. Protein atau
asam amino diberikan sebanyak 60 gram dan lemak rendah tak lebih dari 40 gram
perhari. Bentuk makanan lunak bila ada keluhan mual dan muntah, atau makanan
biasa sesuai dengan kemampuan saluran cerna.
5. Sedangkan penderita hepatitis C, penderita harus mendapat asupan kalori dengan
ukuran 25-30 kalori per kilogram berat badan atau sekitar 1500-1600 kalori perhari.
Dengan rincian makanan yang kaya hidrat arang kompleks yaitu 286 gram per hari.
Protein atau asam amino diberikan sebanyak 53 gram dan lemak rendah tak lebih dari
38 gram perhari. Makanan diberikan sebaiknya dalam bentuk cincang atau lunak.
Pada tahap kronis malakukan pengobatan dengan IFN (interferon), yang merupakan
salah satu unsur penting dalam sistem kekebalan alamiah disamping ikut mengatur
sistem kekebalan yang didapat.
6. Simptomatik yaitu memberi pengobatan berdasarkan keluhan yang ada. Memberikan
paracetamol diberikan pada penderita demam dan sakit kepala, antasida diberikan bila
mual dan muntah, dan obat tradisional lainnya yang mempercepat penyembuhan dan
turunnya transaminase (SGPT,SGOT).
7. Perawatan di rumah sakit bila penderita muntah terus menerus sehingga memerlukan
cairan infus atau penyakitnya bertambah berat (fulminan).
8. Obat-obatan. Kortikosteroid, mengurangi proses peradangan hati, sehingga edema sel
berkurang dan statis (sumbatan) aliran empedu menghilang sehingga terjadi
penurunan bilirubin. Imunomodulator, golongan obat ini dapat memodulasi sistem
kekebalan tubuh. Simptomatik yaitu memberi pengobatan berdasarkan keluhan yang
ada. Memberikan paracetamol diberikan pada penderita demam dan sakit kepala,
antasida diberikan bila mual dan muntah, dan obat tradisional lainnya yang

mempercepat penyembuhan (untuk hepatitis B). Pada tahap kronis malakukan


pengobatan dengan IFN (interferon), yang merupakan salah satu unsur penting dalam
sistem kekebalan alamiah disamping ikut mengatur sistem kekebalan yang didapat.
9. Imunisasi Hepatitis B
a Imunisasi aktif: vaksin hepatitis B. imunisasi aktif dianjurkan bagi individu yang
bresiko tinggi untuk terkena hepatitis B (misalnya, petugas kesehatan, pasien
hemodialisis) vaksin hepatitis B rekombinan-ragi (recombivav HB)digunakan
untuk menghasilkan imunitas aktif, proteksi yang dihasilkan oleh vaksin hepatitis
B dapat berlangusung selama 5 hingga 7 tahun; pemeriksaan kadar anti-HBs
dianjurkan dilakukan setiap tahun untuk menentukan apakah diperlukan imunisasi
ulang atau booster.
Vaksin hepatitis B yang dibuat dari plasma manusia yang menderita infeksi kronis
HBV hanya kadang-kadang digunakan pada pasien yang menderita defisiensi
b

kekebalan atau yang alergi terhadap vaksin rekombinan-ragi.


Kedua bentuk vaksin hepatitis B tersebut diberikan tiga kali; pemberian kedua dan
ketiga dilakukan 1 dan 6 bulan setelah pemberian pertama. Pemberian pertama.
Pemberian ketiga sangat penting untuk menghasilkan imunitas yang lama. Untuk
orang dewasa, vaksinasi hepatitis B harus diberikan pada otot deltoideus karena

pemebrian pada daerah gluteus dapat menghasilkan respons suboptimal.


Individu yang beresiko tinggi, termasuk para perawat dan petugas kesehatan yang
dapat terkena darah atau produk darah, harus mendapatkan imunisasi aktif.
Petugas kesehatan ya ng sering terkena darah harus menjalani pemeriksaan
skrining anti HBs untuk menentukan apakah sudah terdapat imunitas dari kontak
sebelumnya dengan HBV, beberapa penelitian memperlihatkan bahwa vaksin
tersebut menghasilkan imunitas aktif terhadap HBV pada 90% orang sehat. Vaksin
hepatitis B tidak memberikan perlindungan pada mereka yang pernah terkena
HBV dan juga tidak menghasilkan proteksi terhadap hepatitis A atau C. Efek
samping imnisasi jarang dijumapi. Rasa sakit dan kemerahan pada tempat
suntikan merupakan keluhan yang paling sering muncul sesudah penyuntikan.
1) Imunisasi pasif : imun globulin hepatitis B, preparat imunoglubulin hepatitis
B (HBIG; hepatitis B imunne glubulin) memberikan imunitas pasif terhadap
hepatitis B, dan indikasi pemberian preparat ini adalah orang-orang yang telah
terpajan HBV tetapi belum pernah menderita hepatitis B dan belum pernah
mendaptkan vaksin hepatitis B.
Indikasi khusus untuk vaksinasi pasca panjanan dengan HBIG mencakup:

a) Panjanan atau kontak yang tidak disengaja dengan darah HBsAg positif
melalui jalur transmukosa (terkena darah di membran mukosa) atau
perkutan (tertusuk jarum suntik yang tercemar darah).
b) Hubungan seksual dengan individu yang positif HBsAg.
c) Panjanan perinatal.
HBIG, yang memberikan imunisasi pasif, dibuat dari plasma yang diseleksi
dengan titer anti-HBs yang tinggi. Sekali lagi, tidak terdapat bukti yang
menunjukan bahwa infeksi HIV dapat ditularkan melalui HBIG. Imunisasi segera
dengan HBIG, yaitu dalam waktu beberapa jam sehingga beberapa hari setelah
terpajan hepatitis B, akan meningkatkan kemungkinan proteksi. Imunisasi aktif
maupun pasif direkomendasikan untuk individu yang terpajan hepatitis B lewat
hubungan seksual atau lewat jalur transmukosa atau perkutan. Jika HBIG dan
vaksinasi hepatitis B diberikan secara bersamaan, lokasi penyuntikan dan spuit
unmtuk pemberianya harus terpisah.

G. Pemeriksaan Diagnostik/penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan pigmen
b. urobilirubin direk
c. bilirubun serum total
d. bilirubin urine
e. urobilinogen urine
f. urobilinogen feses
2. Pemeriksaan protein
a. protein totel serum
b. albumin serum
c. globulin serum
d. HbsAG
3. Waktu protombin
a. respon waktu protombin terhadap vitamin K
4. Pemeriksaan serum transferase dan transaminase
a. AST atau SGOT
b. ALT atau SGPT
c. LDH
d. Amonia serum
5. Radiologi
a. foto rontgen abdomen

b. pemindahan hati denagn preparat technetium, emas, atau rose bengal yang
berlabel radioaktif
c. kolestogram dan kalangiogram
d. arteriografi pembuluh darah seliaka
Dan lain-lain
Salah satu pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk diagnosishepatitis adalah
pemeriksaan dengan USG (ultrasonografi). USG adalah alat yang digunakan untuk
mengetahui adanya kelainan pada organ dalam. USG hati (liver) dilakukan jika
pemeriksaan fisik kurang mendukung diagnosis, sedangkan keluhan klinis pasien dan
pemeriksaan laboratorium menunjukkan hal sebaliknya. Jadi pemeriksan USG
dilakukan untuk memastikan diagnosis kelainan hati (liver).
Melalui pemeriksaan USG hati, dapat dilihat adanya pembesaran hati serta ada
tidaknya sumbatan saluran empedu. Pembesaran hati (liver) dilihat dengan mengamati
bagian tepi hati. Tepi hati (liver) yang tumpul menunjukkan adanya pembesaran hati
(liver). Selain untuk melihat ada tidaknya fibrosis (jaringan ikat), USG juga dapat
digunakan untuk melihat peradangan hati (liver) dengan mengamati densitas
(kepadatan) hati (liver) yang lebih gelap.
USG

hanya

dapat

melihat

kelainan

pada

hepatitis

kronis

atau

sirosis.

Pada hepatitis akut atau pada proses awal penyakit yang belum mengakibatkan
kerusakan jaringan, pemeriksaan USG tidak akurat. Pemeriksan USG juga dapat
digunakan untuk mengungkap diagnosis lain yang terkait kelainan hati (liver), seperti
tumor hati (liver), abses hati (liver), radang empedu, dan lain-lain.