Anda di halaman 1dari 16

Osteoporosis Primer Tipe I yang Disebabkan Oleh Menopause

Elsa Noviranty
102014091
F2
Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara no.6 Jakarta Barat 11470
Email : elsanoviranty@gmail.com

Abstrak
Osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang ditandai dengan menurunnya massa atau densitas
tulang sehingga membuat tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Osteoporosis dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu osteoporosis primer (involusional) dan osteoporosis sekunder. Setelah menopause,
maka resorpsi tulang akan meningkat, terutama pada decade awal setelah menopause, sehingga
insidens fraktur, terutama fraktur vertebra dan radius distal meningkat. Anamnesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang dapat membantu diagnosis osteoporosis secara pasti dan benar. Pada
anamnesis biasanya di dapati keluhan utama pasien merupakan nyeri pada daerah tertentu; pada
pemeriksaan fisik banyak ditemukan gambaran klinis osteoporosis antara lain kifosis dan penurunan
tinggi badan sedangkan pada pemeriksaan x-ray ditemukan penurunan densitas tulang. Selain itu
dapat juga dilakukan pemeriksaan penanda tulang seperti pemeriksaan Bone Mineral Density
(BMD). Penanganan dengan terapi farmakologi bisa dilakukan dengan pemberian kalsium, vitamin
D serta raloksifen sedangkan terapi nonfarmakologis bisa berupa olahraga yang dapat membantu
proses penyembuhan.
Kata Kunci : Osteoporosis, osteoporosis primer, penanganan osteoporosis
Abstract
Osteoporosis is a systemic skeletal disease characterized by decrease in bone mass or density that
makes bones become fragile and break easily. Osteoporosis is divided into two groups, namely
primary osteoporosis (involutional) and secondary osteoporosis. After menopause, the bone
resorption will be increased, especially in the early decades after menopause, so the incidence of
fractures, especially fractures of the vertebrae and distal radius increases. Anamnesis, physical
examination and investigations can help the diagnosis of osteoporosis exactly and correctly. In
1 | Page

anamnesis usually find the patient's main complaint is pain in a particular area; on physical
examination found many clinical features of osteoporosis include kyphosis and decrease in height
while the x-ray examination found decreased bone density. Moreover, it can also do a bone marker
tests like checking Bone Mineral Density (BMD). Treatment with pharmacological therapy can be
done with the administration of calcium, vitamin D and raloxifene while non-pharmacological
therapy can be a sport that can help the healing process.
Key Words : Osteoporosis, primary osteoporosis, osteoporosis treatment
Pendahuluan
Menjadi tua adalah bagian dari proses kehidupan yang tidak dapat dihindari oleh siapapun.
Beberapa perubahan akan terjadi pada seseorang yang sedang atau akan mengalami proses menua
baik secara penampilan fisik maupun kondisi psikososial. Perubahan fisik yang akan terjadi pada
usia lanjut antara lain adalah akan terjadi penurunan massa tulang. Penurunan massa tulang tersebut
dapat menghasilkan fraktur, bahkan dalam beberapa kasus dapat menyebabkan kecacatan. Pada
wanita yang sudah memasuki usia lanjut akan mengalami masa menopause. Menopause merupakan
penghentia permanen menstruasi (haid).1 Saat menopause terjadi, konsentrasi estrogen menurun dan
secara langsung dapat mempengaruhi kesehatan tulang, dan dapat menyebabkan osteoporosis.
Dengan adanya ilmu kedokteran yang berkembang dapat diketahui apakah osteoporosis menyerang
tubuh kita ataukah tidak. Dan berbagai pencegahan juga pengobatan tentang osteoporosis bisa kita
ketahui dalam pembahasan kali ini.
Kasus
Seorang perempuan usia 57 tahum datang ke RS UKRIDA dengan keluhan nyeri pada
pinggul kanan sejak 2 hari yang lalu setelah jatuh terduduk dikamar mandi karena terpeleset.
Anamnesis
Anamnesis merupakan suatu bentuk wawancara antara dokter dan pasien dengan memperhatikan
petunjuk-petunjuk verbal dan non verbal mengenai riwayat penyakit pasien. Riwayat pasien
merupakan suatu komunikasi yang harus dijaga kerahasiaannya, yaitu segala hal yang diceritakan
oleh penderita. Anamnesis atau medical history adalah informasi yang dikumpulkan oleh seorang
dokter dengan cara melakukan wawancara dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan spesifik baik
itu

terhadap pasien itu sendiri (auto-anamnesis) maupun dari orang yang dianggap

dapat

memberikan keterangan yang berhubungan dengan keadaan pasien (allo-anamnesis/heteroanamnesis). Berdasarkan anamnesis yang baik, seorang dokter biasanya akan menanyakan identitas
dan keadaan pasien meliputi:2
2 | Page

1. Nama lengkap
2. Jenis kelamin
3. Umur
4. Tempat tanggal lahir
5. Alamat tempat tinggal
6. Status perkawinan
7. Pekerjaan
8. Suku bangsa
9. Agama
10. Pendidikan
Hal pertama yang ditanyakan kepada pasien adalah mengenai riwayat pribadi pasien. Riwayat
pribadi adalah segala hal yang menyangkut pribadi pasien; mengenai peristiwa penting pasien
dimulai dari keterangan kelahiran, serta sikap pasien terhadap keluarga dekat. Termasuk dalam
riwayat pribadi adalah riwayat kelahiran, riwayat imunisasi, riwayat makan, riwayat pendidikan dan
masalah keluarga.2
Setelah mendapatkan data pribadi pasien, anamnesis selanjutnya adalah menanyakan keluhan
utama pasien, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat keluarga dan riwayat
sosial.2
Keluhan utama adalah gangguan atau keluhan yang terpenting yang dirasakan penderita
sehingga mendorong ia untuk datang berobat dan memerlukan pertolongan serta menjelaskan tentang
lamanya keluhan tersebut. Keluhan utama merupakan dasar untuk memulai evaluasi pasien. 2
Keluhan utama pasien dengan gangguan muskuloskeletal pada umumnya meliputi:3
1. Nyeri
Sebagai seorang dokter, diperlukan identifikasi lokasi nyeri yang ditanyakan kepada pasien.
Nyeri biasanya berkaitan dengan pembuluh darah, sendi, fascia, atau periosteum. Perlu
ditentukan kualitas nyeri apakah sakit yang menusuk atau berdenyut. Nyeri berdenyut biasanya
berkaitan dengan tulang dan sakit berkaitan dengan otot, sedangkan nyeri yang menusuk
berkaitan dengan fraktur atau infeksi tulang. Perlu juga diidentifikasi apakah nyeri timbul setelah
diberi aktivitas/gerakan. Pada kasus kali ini keluhan nyeri merupakan keluhan utama yang
dialami oleh pasien.3
2. Kekuatan Sendi
Perlu ditanyakan sendi mana yang mengalami kekakuan, lamanya kekakuan tersebut, dan apakah
selalu terjadi kekakuan.3
3. Bengkak
Perlu ditanyakan berapa lama terjadi pembengkakan, apakah juga disertai dengan nyeri, karena
bengkak dan nyeri sering menyertai cedera pada otot dan tulang. Identifikasi apakah ada panas
atau kemerahan karena tanda tersebut menunjukkan adanya inflamasi, infeksi, atau cedera.3
4. Deformitas dan Imobilitas
3 | Page

Tanyakan kapan terjadinya, apakah tiba-tiba atau bertahap, apakah menimbulkan keterbatasan
gerak. Apakah semakin memburuk dengan aktivitas, apakah dengan posisi tertentu semakin
memburuk.3
5. Perubahan Sensori
Tanyakan apakah ada penurunan rasa pada bagian tubuh tertentu. Apakah menurunnya rasa atau
sensasi tersebut berkaitan dengan nyeri. Penekanan pada saraf dan pembuluh darah akibat
bengkak, tumor atau fraktur dapat menyebabkan menurunnya sensasi.3
Keluhan utama dalam kasus ini adalah seorang perempuan berusia 57 tahun mengeluh nyeri
pada pinggul kanan setelah jatuh terduduk dikamar mandi. Riwayat penyakit sekarang adalah
penyakit yang bermula pada saat pertama kali penderita merasakan keluhan itu. Tentang sifat
keluhan itu yang harus diketahui adalah:2
1. Tempat
2. Kualitas penyakit
3. Kuantitas penyakit
4. Urutan waktu
5. Situasi
6. Faktor yang memperberat atau yang mengurangi
7. Gejala-gejala yang berhubungan
Pada kasus ini pasien mengatakan bahwa keluhan nyeri pinggul kanannya sudah ia
derita sejak 2 hari yang lalu karena jatuh terduduk akibat terpeleset dikamar mandi.
Riwayat penyakit dahulu adalah riwayat penyakit yang pernah diderita di masa lampau yang
mungkin berhubungan dengan penyakit yang dialaminya sekarang. Riwayat keluarga merupakan
segala hal yang berhubungan dengan peranan herediter dan kontak antar anggota keluarga mengenai
penyakit yang dialami pasien. Dalam hal ini faktor-faktor sosial keluarga turut mempengaruhi
kesehatan penderita.2 Pada kasus ini pasien bercerita bahwa pasien memiliki resiko menopause
sejak 5 tahun yang lalu serta memiliki kepadatan tulang kurang dari normal.
Riwayat sosial mencakup keterangan mengenai pendidikan, pekerjaan dan segala aktivitas di
luar pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, perkawinan, tanggungan keluarga, dan lain-lain. Perlu
ditanyakan pula tentang kesulitan yang dihadapi pasien.2 Pada kasus ini pasien mengatakan bahwa
Ia jarang berolahraga serta tidak suka minum susu.
Untuk pasien yang datang dengan kasus muskuloskeletal, seorang dokter harus melakukan
anamnesis sistem organ yang meringkas semua gejala dalam sistem-sistem tubuh. Anamnesis organ
tubuh untuk muskuloskeletal antara lain meliputi: kelemahan otot, kelemahan gerak,
kekakuan otot, keterbatasan gerakan, nyeri sendi, kekakuan sendi, masalah punggung, kram
otot, dan juga deformitas.2
Pemeriksaan Fisik

4 | Page

Tujuan pemeriksaan fisik umum adalah untuk mengidentifikasi keadaan umum pasien saat
pemeriksaan dengan penekanan pada tanda-tanda vital, keadaan sakit, gizi dan aktivitasnya baik
dalam keadaan berbaring atau berjalan.2
Setelah anamnesis selesai dilakukan, maka pemeriksaan fisik biasanya dimulai dengan
pemeriksaan objektif yaitu tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, suhu dan tingkat kesadaran, serta
pemeriksaan tanda-tanda vital dengan inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.2
Dalam pemeriksaan fisik untuk muskuloskeletal khususnya pada kasus ini, biasanya yang
dilakukan adalah inspeksi dan palpasi saja. Selain itu, dalam pemeriksaan muskuloskeletal juga
diperiksa bagaimana cara berjalan dan mobilitas tubuh dari pasien. Pasien yang masih bisa
memiringkan badannya tanpa kesulitan dikatakan sikap badannya aktif, sebaliknya yang lemah sikap
badannya pasif. Pada beberapa penyakit tulang, sendi atau saraf, cara berjalan dapat memberi
petunjuk yang berarti.2 Pemeriksaan fisik harus dilakukan secara sistematis untuk menghindari
kesalahan. Jika mungkin, gunakan ruangan yang cukup luas sehingga pasien dapat bergerak bebas
saat pemeriksaan gerakan atau berjalan. Teknik inspeksi dan palpasi dilakukan untuk mengevaluasi
integritas tulang, postur tubuh, fungsi sendi, kekuatan otot, cara berjalan dan kemampuan pasien
melakukan aktivitas sehari-hari selain itu tinggi badan dan berat badan juga harus diukur. Kedalaman
pengkajian bergantung pada keluhan fisik pasien dan riwayat kesehatan dan semua petunjuk fisik
yang ditemukan. Pemeriksa harus melakukan eksplorasi lebih jauh. Pada pemeriksaan fisik, terlihat
tanda-tanda fraktur yang klasik antara lain:3
1.Look
Deformitas

: Penonjolan yang abnormal, angulasi, rotasi, pemendekan.

Fungsiolaesa : Hilangnya fungsi gerak pada bagian yang mengalami fraktur.


2. Feel
Terdapat nyeri tekan dan nyeri sumbu
3.Move
Krepitasi

: Terasa krepitasi saat bagian tersebut digerakkan.

Nyeri bila digerakkan, baik pada gerakan aktif maupun pasif.


Memeriksa seberapa jauh gangguan-gangguan fungsi, gerakan-gerakan yang

tidak mampu

dilakukan, range of motion dan kekuatan.


Pada kasus ini di beritahukan bahwa keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran
compos menstis, punggung pasien terlihat bungkuk, berat badan 45 kg, dan mengalami
penurunan tinggi badan dari 165 cm menjadi 158cm.
Pemeriksaan Penunjang
5 | Page

Pemeriksaan penunjang atau pemeriksaan laboratorium dalam arti luas adalah setiap
pemeriksaan yang dilakukan di luar pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang dalam garis besarnya
dimaksudkan sebagai alat diagnostik, petunjuk tatalaksana, dan petunjuk prognosis.1
Pemeriksaan penunjang untuk kasus yang berhubungan dengan muskuloskeletal antara lain
bisa berupa: film polos, isotop, CT scan, maupun MRI.
Film polos merupakan pemeriksaan penunjang radiologis yang utama pada sistem skeletal
dimana penatalaksanaannya harus dilakukan dengan dua proyeksi. Untuk daerah vertebra sebaiknya
digunakan proyeksi yaitu pada posisi anteroposterior dan lateral.3
Isotop adalah pemeriksaan

dimana

kandungan senyawa

technetium-99m

fosfonat

terakumulasi pada tulang beberapa jam setelah penyuntikan isotop secara intravena; pada prinsipnya
pemeriksaan

ini

dilakukan

untuk

mendeteksi

proses

peradangan

pada

jaringan

lunak

muskuloskeletal, lesi-lesi metastatik pada tulang, dan kelainan fungsional tulang.3


Computed Tomography Scan atau CT-Scan adalah pemeriksaan yang bertujuan untuk
mengevaluasi fraktur tertentu yang terjadi pada seseorang.3
Magnetic Resonance Imaging atau MRI adalah pemeriksaan yang membantu untuk melihat
adanya massa jaringan lunak, tumor tulang, maupun sendi. MRI sangat sensitif pada trauma
kartilago, otot, ligamen, dan tendon.3
Tes Bone Mineral Density (BMD) adalah tes yang digunakan untuk mengestimasi kekuatan
tulang dengan menghitung kepadatan tulang. 4 Bila dari hasil tes diperoleh nilai T = -1 atau lebih
tinggi, atinya adalah BMD Anda masih normal. Bila nilai T = -2.5 atau kurang, artinya Anda
menderita osteoporosis. Namun bila nilai T Anda berada di antara -2.5 sampai -1, artinya Anda telah
mengalami osteopenia.4

Pada kasus ini diketahui pemeriksaan yang dilakukan pada pasien ini adalah film polos
atau x-ray region lumbo sacral AP/Lateral. Hasil pemeriksaan x-ray yang dilakukan diketahui
bahwa tidak ada fraktur dan kelainan pada pasien tersebut. Serta hasil tes BMD diketahui
bahwa -2,5 yang menandakan adanya osteoporosis.
Working Diagnosis : Osteoporosis Primer Tipe 1
Osteoporosis adalah kelainan skeletal sistemik yang ditandai oleh compromised bone
strength sehingga tulang mudah fraktur. Osteoporosis dibagi menjadi dua kelompok, yaitu
6 | Page

osteoporosis primer (involusional) dan osteoporosis sekunder. Osteoporosis primer adalah


osteoporosis yang tidak diketahui penyebabnya, sedangkan osteoporosis sekunder adalah
osteoporosis yang diketahui penyebabnya. Pada tahun 1983, Riggs dan Melton, membagi
osteoporosis primer menjadi osteoporosis tipe I dan tipe II. Osteoporosis tipe I disebut juga
osteoporosis pasca menopause.5
Patogenesis Osteoporosis Primer Tipe 1
Setelah menopause, maka resorpsi tulang akan meningkat, terutama pada decade awal setelah
menopause, sehingga insidens fraktur, terutama fraktur vertebra dan radius distal meningkat.
Penurunan densitas tulang terutama pada tulang trabecular, karena memiliki permukaan yang luas
dan hal ini dapat dicegah dengan terapi sulih estrogen. Petanda resorpsi tulang dan formasi tulang,
keduanya meningkat menunjukkan adanya peningkatan bone turnover. Estrogen juga berperan
menurunkan produksi berbagai sitokin oleh bone marrow stroma cellsl dan sel sel mononuclear,
seperti IL-1, IL6 dan TNF alfa yang berperan meningkatkan kerja osteoklas. Dengan demikian
penurunan kadar estrogen akibat menopause akan meningkatkan produksi berbagai sitokin
tersebut sehingga aktivitas osteoklas meningkat.5
Selain peningkatan aktivitas osteoklas, menopause juga menurunkan absropsi kalsium diusus
dan meningkatkan ekskresi kalsium di ginjal. Selain itu menopause juga menurunkan sintesis
berbagai protein yang membawa 1,25 (OH)2D, sehingga pemberian estrogen akan meningkatkan
konsentrasi 1,25(OH)2D di dalam plasma. Tetapi pemberian estrogen transdermal akan meningkatkan
sintesis protein tersebut, karena estrogen transdermal tida diangkut melewati hati. Walaupun
demikian, estrogen transdermal tetap dapat meningkatkan absorpsi kalsium diusus secara langsung
tanpa dipengaruhi vitamin D. Untuk mengatasi keseimbangan negative kalsium akibat menopause,
maka kadar PTH akan meningkat pada wanita menopause, sehingga osteoporosis akan semakin
berat. Pada menopause, kadang kala didapatkan peningkatan kadar kalsium serum, dan hal ini
disebabkan oleh menurunnya kadar volume plasma, meningkatnya kadar kalsium yang terikat
albumin dan juga kadar kalsium dalam bentuk garam kompleks. Peningkatan bikarbonat pada
menopause terjadi akibat penurunan rangsang respirasi, sehingga terjadi relative asidosis respiratorik.
Walaupun terjadi peningkatan kadar kalsium yang terikat albumin dan kalsium dalam garam
kompleks, kadar ion kalsium tetap sama dengan keadaan premenopausal.5
Differential Diagnosis
1. Osteoporosis Primer Tipe II
7 | Page

Osteoporosis tipe II disebut juga osteoporosis senilis, disebabkan oleh gangguan


absorpsi

kalsium

diusus

sehingga

menyebabkan

hipertiroidisme

sekunder

yang

mengakibatkan timbulnya osteoporosis. Belakangan konsep itu berubah, karena ternyata


peran estrogen juga menonjol pada osteoporosis tipe I dan tipe II. Selain itu pemberian
kalsium dan vitamin D pada osteoporosis tipe II juga tidak memberikan hasil yang adekuat.
Akhirnya pada tahun 1990-an, Riggs dan Melton memperbaiki hipotesisnya dan
mengemukakan bahwa estrogen menjadi factor yang sangat berperan pada timbulnya
osteoporosis primer, baik pasca menopause maupun senilis.5
Selama hidupnya, wanita akan kehilangan 42% tulang spinalnya, dan 58% tulang
femurnya. Pada umur 80-90an, terjadi ketidakseimbangan remodelling tulang, dimana
resorpsi tulang meningkat sedangakan formasi tulang tetap atau menurun. Hal ini
menyebabkan penurunan masa tulang, perubahan mikroarsitektur tulang dan peningkatan
resiko fraktur. Sampai saat ini tidak diketahui penyebab menurunanya osteoblas pada orang
tua, diduga karena penurunan estrogen dan IGF-1. Defisiensi vit D dan kalsium juga
sering dialami orang tua karena berbagai faktor, seperti asupan yang kurang,
malabsorbsi, anorexia dan kurangnya paparan sinar matahari. Hal ini semakin
meningkatkan resorpsi tulang dan menurunkan massa tulang, terutama pada orang-orang
yang tinggal di daerah dengan 4 musim. Defisiensi protein, aspek lingkungan dan genetik
juga berpengaruh. 6
Beda halnya dengan pria yang tidak mengalami menopause sehingga tidak terjadi
penurunan kadar estrogen secara mendadak, maka kehilangan massa tulang dalam jumlah
besar seperti pada wanita tidak terjadi. Kehilangan massa tulang terjadi secara linier, dan
menipis secara sedikit demi sedikit.5,6
Dengan bertambahnya umur, remodelling endokortikal dan intrakortikal akan
meningkat sehingga kehilangan tulang terutama terjadi pada tulang kortikal dan
meningkatkan resiko fraktur tulang kortikal, misal pada femur proksimal. Total permukaan
tulang untuk remodelling tidak berubah dengan bertambahnya umur. Pada laki-laki tua,
peningkatkan resorpsi endokortikal tulang panjang akan diikuti peningkatakan formasi
periosteal, sehingga diameter tulang panjang akan meningkat dan menurunkan resiko fraktur
pada laki-laki tua. 6
Resiko fraktur yang juga harus diperhatikan adalah resiko terjatuh yang lebih tinggi
pada orang tua. Hal ini berhubungan dengan penurunan kekuatan otot, gangguan
keseimbangan dan stabilitas postural, gangguan pengelihatan, lantai yang licin atau tidak rata
dsb. Pada umumnya resiko terjatuh pada orang tua tidak disebabkan oleh penyebab tunggal. 6
8 | Page

2. Osteoporosis Sekunder
Osteoporosis sekunder ini disebabkan oleh penyakit atau kelainan tertentu, atau bisa
pula akibat tindakan pembedahan atau pemberian obat yang mempercepat pengeroposan
tulang. Contohnya adalah penyakit cushing (kelainan hormone adrenal), penyakit hipertiroid
(hormone gondok yang berlebihan), penyakit hiperparatiroid (hormone paratiroid yang
meningkat), kekurangan hormone seks (hipogonadism), gangguan hati kronis, gagal ginjal
kronis, pemakaian hormone steroid jangka lama, kurang gerak badan, kebiasaan minum
alcohol, merokok, atau kelebihan kafein.7
Osteoporosis sekunder bisa ditemukan pada hamper dua pertiga pria, dan lebih dari
separuh wanira sebelum menopause, dengan penyebab yang bermacam maam, yang
mengakibatkan penurunan densitas tulang dan peningkatan kemungkinan patah tulang.
Keadaan ini perlu diwaspadai dan secepatnya dilakukan upaya pencegahan dan pengobatan
yang lebih baik. 7
Penatalaksanaan
Dalam menangin suatu penyakit dibutuhkan terapi obat-obatan atau farmakologis dan edukasi
pencegahan penyakit tersebut. Berikut merupakan terapi farmakologis dan edukasi

terhadap

osteoporosis.
1. Farmakologis
a. Raloksifen
Raloksifen merupakan anti estrogen yang mempunyai efek seperti estrogen ditulang
dan lipid, tetapi tidak menyebabkan perangsangan endometrium dan payudara. Golongan
preparat ini disebut juga selective estrogen receptor modulators (SERM). Obat ini dibuat
untuk pengobatan osteoporosis dan FDA juga telah menyetujui penggunaan untuk
pencegahan osteoporosis. Aksi raloksifen diperantai oleh ikatan raloksifen pada resptor
estrogen, tetapi mengakibatkan ekspresi gen yang diatur estrogen yang berbeda pada
jaringan yang berbeda. Dosis yang direkomendasikan untuk pengobatan osteoporosis
adalah 60 mg/hari. Pemberian raloksifen peroral akan diabsorpsi dengan baik dan
mengalami metabolisne di hati. Raloksifen akan menyebabkan kecacatan janin, sehingga
tidak boleh diberikan pada wanita yang hamil atau wanita yang berencana untuk hamil.8
b. Kalsitonin
Kalsitonin dapat menurunkan risiko fraktur vertebra sampai 21%. Sedangkan bukti
klinis terhadap pencegahan fraktur non vertebra belum banyak di teliti. Dosis yang
dianjurkan untuk pemberian inta nasal adalah 200 U perhari. Kadar puncak di dalam
plasma akan tercapai dalam waktu 20-30 menit, dan akan dimetabolisme dengan cepat di
ginjal.
9 | Page

c. Strontium Ranelat
Strontium Ranelat merupakan obat osteoporosis yang memiliki efek ganda, yaitu
meningkatkan kerja osteoblast dan menghambat kerja osteoklas. Dosisnya adalah 2
gram/hari yang dilarutkan di dalam air dan di berikan pada malam hari sebelum tidur atau
2 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan. Sama dengan obat osteoporosis lainnya,
pemberian strontium renalat harus dikombinasikan dengan Cad an vitamin D, tetapi
pemberiannya tidak boleh bersamaan dengan pemberian strontirum renalat.
d. Vitamin D
Vitamin D digunakan untuk penyerepan kalsium diusus. Lebih dari 90% vitamin D
disintesis dibawah kulit oleh paparan sinar ultraviolet. Pada orang tua kemampuan untuk
aktifasi vitamin D dibawah kulit menjadi sangat berkurang, sehingga pada orang tua
sering terjadi defisiensi vitamin D. kadar vitamin D dalam darah dapat diukur dengan
mengukur kadar 25-OH vitamin D.8 Pada penelitian didapatkan suplementasi 500 IU
kalsiferol dan 500mg kalsium peroral selama 18 bulan ternyata dapat menurunkan risiko
fraktur non spina sampai 50%. Vitamin D diindikasikan untuk paraorang tua yang jarang
terkena paparan sinar matahari tetapi tidak diindikasikan kepada populasi anak-anak asia
yang banyak terpapar sinar matahari.8,9
e. Kalsium
Asupan kalsium pada penduduk asia pada umumnya lebih rendah dari kebutuhan
kalsium yang direkomendasikan Institute of Medicine, National Academy of Science
(1997), yaitu sebesar 1200mg. Kalsium sebagai monoterapi ternyata tidak dapat
mencegah fraktur pada pasien osteoporosis. Preparat kalsium terbaik adalah calcium
karbonat, karena mengandung kalsium element 400 g /gram, disusul oleh kalsium
fosfat, kalsium sitrat, kalsium laktat dan kalsium glukonat,8,9
f. Fitoestrogen
Fitoestrogen adalah fitokimia yang memiliki aktivitas estrogenic. Ada banyak
senyawa fitoestrogen, tetapi yang telah diteliti adalah isoflavon dan ligans. Isoflavon yang
berefek estrogenic antara lain gesitin, daidzein dan glukosidanya yang banyak ditemukan
pada golongan kacang kacangan (leguiminosae) seperti soy bean dan red clover.
Sampai saat ini belum ada bukti dari clinical trial bahwa fitorstrogen dapat mencegah
maupun mengobati osteoporosis.9
2. Non Farmakologis
Secara teoritis, osteoporosis dapatdiobati dengan cara menghambat kerja osteoclas dan/atau
meningkatkan kerja osteoblas. Walaupun demikian saat ini obat yang beredar umumnya menekan
kerja osteoklas, contohnya esterogen, bifosfonat dan kalsitonin. Sedangkan yang meningkatkan
10 | P a g e

osteoblas adalah Na-Flourida dan PTH. Sedangkan kalsium dan vitamin D tidak member dampak
pada osteoklas maupun osteoblas, tetapi diperlukan untuk optimalisasi mineralisasi tulang.
Kekurangan kalsium darah akan meningkatkan PTH sehingga pengobatan menjadi tidak efektif.
Maka dari itu harus dilakukan edukasi terhadap pasien-pasien osteoporosis antara lain :
1. Dianjurkan untuk melakukan aktifitas fisik secara teratur untuk memelihara kekuatan,
kelenturan dan koordinasi system neuro muscular serta kebugaran.
2. Hindari rokok, alcohol, mengangkat barang-barang yang berat dan berbagai hal yang
menyebabkan pasien terjatuh serta berbagai obat-obatan atau penyakit yang menyebabkan
osteoporosis.
3. Diagnosis dini dan terapi yang tepat terhadap defisiensi testosterone dan menopause awal
pada wanita dan perbanyaklah vitamin D didalam tubuh dengan memberikan suplementasi
400 IU/ hari atau 800 IU/hari pada orang tua.
4. Hindari pengeksresian berlebihan kalsium di ginjal dengan memberikan natrium sampai
3gr/hari untuk meningkatkan resopsi kalsium urin>300mg/hari, berikan diuretic tiazid dosis
rendah (HCT 25mg/hari).
Terdapat pula latihan yang sangat penting bagi penderita osteoporosis karena dengan latihan
pasien osteoporosis akan lebih tangkas dan lebih kuat ototnya sehingga tidak mudah terjatuh,
selain itu latihan juga akan mencegah perburukan osteoporosis karena tulang akan mendapatkan
rangsangan biofisikoelektrokemikal yang akan meningkatkan remodeling tulang. Pada pasien
osteoporosis latihan pertama-tama dilakukan tanpa beban lalu akan ditingkatkan perlahan-lahan
dengan beban hingga mencapai beban yang adekuat. Selain latihan dapat dipakaikan alat bantu
pada pasien osteoporosis misalkan korset lumbal, korset ini akan mencegah pasien mengalami
fraktur korpus vertebra, dapat juga dibantu dengan tongkat attau alat bantu lainnya, terutama
pada orang tua yang terganggu keseimbanganya.8

Prognosis
Densitas tulang dapat dijadikan tolak ukur terapi berhasil atau tidak. Bila dalam waktu 1
tahun tidak terjadi peningkatan atau penurunan densitas tulang artinya terapi yang dijalankan berhasil
karena activitas osteoclas sudah dapat ditekan. Selain pemeriksaan densitas tulang pemeriksaan
labolatorium seperti alkali fosfatase dan osteocalcin dapat juga menilai hasil terapi.
Prognosis pada osteoporosis sebenarnya baik jika ditangani dengan baik dan diketahui sejak dini.
Dengan pemberian obat-obatan dan latihan fisik yang cukup akan memperlambat kerja osteoclas
11 | P a g e

sehingga tidak akan terjadi penurunan densitas tulang lagi. Namun penurunan densitas tulang yang
terjadi sebelum terapi harus diperbaiki juga dengan pemberian kalsium serta vitamin D. Dengan
penanganan yang tepat dan jika diketahui sejak dini osteoporosis dapat dihidari dari komplikasikomplikasinya. Salah satu cara mengetaui densitas tulang dini adalah dengan pemeriksaan Bone
Density.8
Komplikasi
Pada penyakit osteoporosis yang terjadi adalah penurunan densitas tulang sehingga pasienpasien yang menderita osteoporosis mempunyai kemungkinan besar untuk terjadi komplikasi yaitu
fraktur osteoporotic. Insidens fraktur pergelangan tangan meningkat secara bermakna setelah umur
50an, fraktur vertebra 60an, dan fraktur panggul 70an. Pada perempuan resiko fraktur 2kali
dibandingkan dengan laki-laki pada umur yang sama dan karena angka harapan hidup perempuan
lebih tinggi dari pada laki-laki maka prevalensi fraktur osteoporotic pada perempuan menjadi jauh
lebih tinggi di bandingkan dengan laki-laki.8
Epidemiologi dan Faktor Resiko Osteoporosis
Osteoporosis dapat menyerang pria maupun wanita. Kondisi ini berkaitan dengan usia dan
khusus pada wanita umumnya karena menopause. Satu dari tiga wanita dan satu dari 12 pria berusia
di atas 50 tahun akan menderita retak osteoporosis hal ini dikarenakan penurunan densitas tulang
sehingga pada pasien yang menderita osteoporosis sangat memungkinkan untuk terjadi fraktur.8
Selain itu dari penelitian yang luas tampak jelas bahwa fraktur yang berkaitan dengan
osteoporosis sering ditemukan pada laki-laki maupun perempuan. Analisis catatan pasien
memperlihatkan 150.000 kasus fraktur yang berkaitan dengan osteoporosis setiap tahunnya di Inggris
dan diantara jumlah tersebut 60.000nya adalah fraktur pada pinggul. Sedangkan di AS dilaporkan
lebih dari 1,2 juta kasus fraktur yang berkaitan dengan osteoporosis setiap tahunnya.9
Gambaran Klinis Osteoporosis
Pada umumnya pasien dengan osteoporosis datang ke dokter dengan keluhan nyeri pada
tulangnya. Nyeri ini bisa dikarenakan penurunan densitas tulang, sehingga tulang tidak mampu
menumpu berat badat lagi atau dapat juga nyeri dikarenakan fraktur pada tulang yang terjadi
osteoporosis. Fraktur vertebra (baji) paling sering terjadi pada pertengahan dorsal tulang belakang
dan sambungan torakolumbalis. Kejadiannya bisa asimtomatik, atau menyebabkan nyeri punggung
12 | P a g e

berat mendadak. Nyeri akan berkurang pada saat istirahat di tempat tidur. Nyeri ringan akan muncul
pada saat bangun tidur dan akan bertambah jika melakukan aktivitas atau karena suatu pergerakan
yang salah. Sedangkan Fraktur multipel menyebabkan penurunan tinggi badan dan deformitas tulang
belakang. Pada kasus ini pasien datang dikarenakan nyeri pada pinggulnya sejak 2 hari yang
lalu pada pemeriksaan x ray tidak ditemukan adanya fraktur atau kelainan pada pinggulnya
tetapi terlihat penampakan tulang belakang yang bungkuk.
Fraktur osteoporitik dapat pula terjadi pada pasien dan selain dapat menyebabkan nyeri, dapat
terjadi pula penurunan tinggi badan, kifosis pada tulang punggung sehingga mendapatkan gambaran
seperti punuk kuda.3

Gambar 1. Kifosis yang disebabkan

Gambar 2. Fraktur tulang yang bisa

osteoporosis10

disebabkan osteoporosis11

Kesimpulan
Sakit nyeri panggul kanan yang di derita oleh perempuan berumur 57 tahun tersebut adalah
osteoporosis primer tiper I sesuai dengan working diagnosis yang penulis tegakkan. Karena, pada
anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien diketahui memiliki riwayat menopause serta terjadinya
penurunan tinggi badan yang merupakan salah satu ciri dari terjadinya osteoporosis. Serta, pada tes
BMD pasien tersebut mendapatkan hasil score -2,5 yang menandakan bahwa nilai BMD pasien
tersebut kurang dari normal.
13 | P a g e

Daftar Pustaka
1. Purwoastuti E. Menopause, siapa takut?. Yogyakarta: Kanisius; 2008. h.11.
2. Santoso M. Pemeriksaan fisik diagnosis. Jakarta: Bidang Penerbitan Yayasan Diabetes
Indonesia; 2004.h.1-4,6,13-5,20,98.
3. Suratun, Heryati, M Santa, Raenah E. Klien gangguan sistem muskuloskeletal. Jakarta: EGC;
2008.h.17-8, 150-2.
4. Kumar V, Abbas AK, Fausto N. Robbins & cotran dasara patologis penyakit, Ed7. Jakarta:
EGC; 2005.h.1308.
14 | P a g e

5. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, penyunting. Buku ajar ilmu
penyakit dalam. Jakarta: Interna Publishing; 2009. h.2650-76.
6. Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW,Simadibrata M, Setiyohadi B, penyunting. Buku ajar ilmu
penyakit dalam. Jakarta: Interna Publishing; 2015.h.3442-63.
7. Tandra H. Segala sesuatu yang harus anda ketahui tentang osteoporosis. Jakarta: Penerbit PT
Gramedia Pustaka Utama; 2009.h.64.
8. Perhimpunan Osteoporosis Indonesia. Osteoporosis. Jakarta: Perosi; 2006. h.24-7.
9. Michael JG, Barri MM, John MK, Lonere A. Gizi kesehatan masyarakat. Jakarta: EGC;
2005.h.458-460.
10. Osteoporosis

pada

tulang

belakang,

diunduh

dari:

http://marcusbrillius.hubpages.com/hub/Osteoporosis-the-brittle-truth, 26 Febuari 2016.


11. Fraktur

osteoporosis

pada

tulang

belakang,

diunduh

http://uvahealth.com/services/neurosciences/conditions-and-treatments/11541,26
2016.

15 | P a g e

dari:
Febuari

16 | P a g e