Anda di halaman 1dari 12

Pendahuluan

Menjadi tua adalah bagian dari proses kehidupan yang tidak dapat dihindari oleh
siapapun. Beberapa perubahan akan terjadi pada seseorang yang sedang mengalami proses
menua baik secara penampilan fisik maupun kondisi psikososial, kognitif dan emosional.
Sebagai contohmya, lansia akan mengalami penurunan kekuatan otot dan keseimbangan,
kemampuan memori menurun, perubahan pada warna rambut ataupun tekstur kulit. Sesuai
dengan skenario yang penulis dapatkan yaitu, perempuan 70 tahun diantar berobat ke
poliklinik dengan keluhan tidak dapat menahan kencing sehingga sering ngompol sebelum
sampai ke WC sejak 3 minggu yang lalu. Dalam proses menua, seorang lansia umumnya
dihadapkan dengan masalah kesehatan baik yang mempengaruhi fungsi fisiologis ataupun
penyakit krooni seperti pada skenaro yang penulis dapatkan. Dalam makalah ini penulis akan
menjelaskan menganai proses menua, gangguan dan masalah yang terjadi pada pasien lansia,
tata laksana dan asuhannya serta pedoman pemberian obat.
Proses Menua
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam kehidupan
manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai pada suatu
waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. WHO dan UU Nomor 13/Tahun
1998 menyebutkan bahwa 60 tahun merupakan usia permulaan tua. Menua bukanlah suatu
penyakit, tetapi merupakan proses yang berangsur angsur mengakibatkan perubahan yang
kumulatif, yaitu merupakan proses penurunan daya tahan tubuh dalam menghadapi
rangsangan dari dalam dan luar tubuh. Proses menua merupakan kombinasi berbagai macam
faktor yang saling berkaitan. Sampai saat ini banyak definisi dan teori yang menjelaskan
tentang proses menua yang tidak seragam. Secara umum, proses menua didefinisikan sebagai
perubahan yang terkait waktum bersifat universal, intrinsik, profresif dan detriminal.
Keadaan tersebut dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan beradaptasi terhadap
lingkungan untuk dapat bertahan hidup.1
Dengan mendasarkan diri pada anggapan bahwa menjadi tua merupakan proses
biologis, psikologis dan social, ada beberapa hal yang mengundang perhatian kita mengenai
usia tua dan proses menua. Seorang menjadi tua secara menyeluruh. Artinya, yang menjadi
tua bukan sebagian dari dirinya, melainkan orang secara utuh sebagai makhluk hidup yang
mempunyai keinginan, kebiasaan, aspirasi, harapan, dan sisetem nilai. Sementara bagaimana
ia menghayati proses menuanya tergantung dari lingkungan social dimana ia berada ataupun
1

sikap hidup, system nilai, dan pengalaman probadinya.2 Ditinjau dari segi psikologis dan dari
tahap perkembangan kehidupan seseorang, transisi dari usia dewasa madya (40-60 tahun) ke
dalam usia dewasa lanjut (60-80 tahun) sering kali di persepsikan sebagai terjadinya
kehilangan. Kehilangan hal hal yang fisiologis biologis, misalnya berkurangnya
pengelihatan atau pendengaran ataupun kehilangan hal hal yang sifatnya psikologis, seperti
berkurangnya status social, makin menciutnya lingkungan kegiatan, dan lain sebagainya.1
Di Indonesia, jumlah warga usia lanjut yang semakin banyak angkanya tidak akan
terbendung lagi seiring meningkatnya usia harapan hidup. Diproyeksikan populasi orang
lanjut usia di Indonesia antara tahun 1990 2-25 akan naik 414%. Berbagai masakah fisik
biologic, psikologik dan social akan muncul pada usia lanjut sebagai akibat dari proses
menua dan atau penyakit generated yang muncul seiring dengan menuanya seseorang.3
Perubahan Sistem Organ Tubuh Akibat Proses Menua
Perubahan organ akibat proses menua dijelaskan sesuai system organ tubuh. Kata
fungsi mengarah pada kemampuan lansia untuk melakukan aktivitas sehari hari (ADL)
dan aktivitas sehari hari independen (IADL) yang berpengaruh terhadapa kualitas
kehidupan individu lansia atau lanjut usia. Ketika lansia mengalami perubahan akibat proses
menua, fungsi independen lansia akan mengalami gangguan. 1 Selain itu, proses tumbuh
kembang (growth and development) dalam fase kehidupan setiap individu dapat dibagi
kedalam 3 fase menurut tingkat kecepatan perlangsungannya, yaitu : 1. Fase progresif
(tumbuh kembang cepat, 2. Fase stabil (tumbuh kembang stasioner), dan 3 fase regresif
(kemunduran tumbuh kembang).
Dalam fase tiga (fase kemunduran), secara mikro berlangsung kemunduran biologis
dan fungsiolnal, dengan akibat terjadinya perubahan perubahan secara makro, yang
meliputi perubahan kulit, system indra, system kardiovaskular, system respirasi, system
gastrointestinal, system perkemihan dan system reproduksi, serta system neurologis.
Perubahan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut1 :
Sistem Kardiovaskular
Sistem kardiovaskular mengalami penurunan efisiensi sejalan dengan proses menua.
Namun karena kebutuhan oksigen lansia saat beristrirahat maupun sedang beraktivitas lebih
sedikit, banyak lansia yang mampu mengkompensasi perubahan pada sisten sirkulasi ini.
Namun, tingginya insiden penyakit kardiovaskular pada populasi lansia membuatnya sulit
2

dibedakan antara proses menua ataupun penyakit. Saat ini penyakit jantung tidak lagi menjadi
penyebab kematian nomor satu sejak empat decade silam. Saat ini para lansia umumnya telah
memahami cara merawat kesehatannya sehingga kondisi kardiovaskularnya pun membaik.
Perubahan yang terjadi akibat proses menua :1
1. Jantung
Kekuatan otot jantung
Katub jantung mengalami penebalan dan menjadi lebih kaku
Nodus sinotrial yang bertanggung jawab sebagai kelistrikan jantung menjadi
kurang efektif dalam menjalankan tugasnya dan impuls yang dihasilkan
melemah
2. Pembuluh darah
Dinding arteri menjadi kurang elastis
Dinding kapiler menebal sehingga menyebabkan melambatnya pertukaran

antara nutrisi dan zat sisa metabolism antara sel dan darah
Dinding pembuluh darah yang semakin kaku akan meningkatkan tekanan

darah sistolik maupun diastolic


3. Darah
Volume darah menurun sejalan penurunan volume cairan tubuh akibat proses

menua
Aktivitas penuruna sumsum tulang mengalami penurunan sehingga terjadi

penurunan produksi sel darah merah, kadar hematrokrit dan hemoglobin


Kontraksi jantung melemah, volume darah yang dipompa menurun, dan
cardiac output mengalami penurunan sekitar 1% pertahun dari volume dari
volume cardiac output orang dewasa normal sebesar 5 liter

Sistem Pernafasan
Proses menua memberikan pengaruh minimal terhadap fungsi respirasi. Perubahan
fungsi respirasi akibat proses menua terjadi secara bertahap sehingga umunya lansia sudah
dapat mengkompensasi perubahan yang terjadi.5
Perubahan yang terjadi akibat proses menua :1
1. Cavum thorax
Cavum thorax menjadi kaku seiring dengan proses klasifikasi kartilago
Vertebrae thorakalis mengalami pemendekan, dan osteoporosis menyebabkan
postur bungkuk yang akan menurunkan ekspansi paru dan membatasi
pergerakan thorak
2. Otot bantu pernafasan
3

Otot abdomen melemah sehingga menurunkan usaha nafas baik inspirasi

maupun ekspirasi
3. Perubahan intrapulmonal
Daya recoil paru semakin menurun seiring pertambahan usia
Alveoli melar dan menjadi lebih tipis, dan walaupun jumlahnya konstan,

jumlah alveoli yang berfungsi menurun secara keseluruhan


Peningkatan ketebalan membrane alveoli kapiler, menurunkan area
permukaan fungsional untuk terjadinya pertukaran gas.

Perubahan struktural pada system respirasi berpengaruh terhadapt jumlah aliran udara
yang mengalir dari dan kedalam paru, demikian pula pertukaran gas di tingkat alveolar.
Dengan adanya penurunan daya elastisits recoil, maka volume residu meningkat. Artinya
pada basis paru terjadi respirasi minimal yang mengakibatkan peninkatan sisa udara dan
sekresi yang tertinggal di paru. 2 Pola nafas lansia yang dalam, sekunder akibat perubahan
postur, berkonstribusi terhadap menurunnya kemampuan batuk efektif sehingga lansia
semakin beresiko mengalami pneumonia. Pola nafas dalam juga berpengaruh terhadap
pertukaran gas. Saturasi oksigen menurun. Sebagai contoh, tekanan parsial oksigen di alveoli
(PaO2) sekita 90 mmhg untuk dewasa normal, namun PaO2 sebesar 75mmhg untuk lansia
berusia 70 tahun masih bias diterima. Penuruna fungsi ini menyebabkan penurunan toleransi
saat beraktivitas dan menyebabkan lansia membutuhkan istirahat sejenak di tengah tengah
aktivitas yang dilakukannya.5
Sistem Muskuloskeletal
Sebagian besar lansia mengalami perubahan perubahan postur, penurunan rentang
gerak, dan gerakan yang lambat. Perubahan ini merupakan contoh dari banyaknya
karakteristik normal lansia yang berhubungan dengan proses menua.1
1. Struktur tulang
Penuruna masa tulang menyebabkan tulang menjadi rapuh dan lemah
Columna vertebralis mengalami kompresi sehingga menyebabkan penuruna
tinggi badan
2. Kekuatan Otot
Regenerasi jaringan otot berjalan lambat dan massa otot berkurang
Otot lengan dan betis mengecil dan bergelambir
Seiring dengan inaktivitas otot kehilangan fleksibilitas dan ketahanannya
3. Sendi
Keterbatasan rentang gerak
Kartilago menipis sehingga menjadi kaku, nyeri dan mengalami inflamasi
4

Penuruna massa otot merupakan proses gradual, dan mayoritas lansia dapat
beradaptasi dengan keadaan ini. Aktivitas olahraga telah terbukti mampu menurunkan laju
pengeroposan tulang, meningkatkan kekuatan otot, menigkatkan fleksibilitas dan koordinasi
otot. Sebaliknya, inaktivitas dan gaya hidup sedentaria dapat menurunkan ukuran dan
kekuatan otot.2
Penuruna massa otot dan densitas tulang menyebabkan osteoporosis, tulang keropos
dan rapuh sehingga beresiko mengalami fraktur. Hal ini terjadi karena defesiensi estrogen dan
penurunan kalsium dalam darah. Perubahan yang disebabkan oleh osteoporosis, menurunnya
pergerakan sendi, serta menurunnya kekuatan dan ketahanan otot dapat berpengaruh terhadap
kemampuan fungsional lansia. Program latihan efektif dibarengi dengan intake nutrisi
adekuat dan pandangan hidup sehat mandiri dan aktif dapat memperlambat proses penuaan
pada lansia.2
Sistem Kulit dan Integumen
Pada kulit, terutama kulit wajah yang mengeriput, hal pertama yang dialami adalah
kulit sekitar mata dan mulut, sehingga berakibat wajah dengan ekspresi sedih (lebih jelas
pada wanita) serta terbentuknya age spot, rambut beruban dan kebotakan (alopesia). Gigi
tanggal, sehingga berpengaruh pada proses mengunyah makanan.6
Perubahan akibat proses menua :1,2
1. Kulit
Elastisitas kulit menurun, sehingga kulit kulit menurun, sehingga kulit

berkerut dan kering


Kulit menipis sehingga fungsi kulit sebagai pelindung bagi pembuluh darah

yang terletak dibawahnya berkurang


Lemak subkutan menipis
Penumpukan melanosit, menyebabkan terbentuknya pigmentasi yang dikenal

sebagai aged spot


2. Rambut
Aktivitas folikel rambut menurun sehingga rambut menipis
Penurunan melanin sehingga terjadi perubahan warna rambut
3. Kuku
Penurunan aliran darah ke kuku menyebabkan bantalan kuku menjadi tebal,
keras dan rapuh dengan garis longitudinal
4. Kelenjar keringat
Terjadi penurunan ukuran dan jumlah

Kulit yang intak merupakan pertahanan pertama terhadap invasi mikrobakteri.


Kekeringan dan penurunan elastisitas kulit meningkatkan resiko gangguan integritas kulit
yang berpotensi menimbulkan cedera dan infeksi. Regulasi suhu tubuh terganggu karena
penurunan produksi keringat. Sehingga meskipun suhu lingkungan tinggi, lansia bias saja
tidak berkeringat. Sebaliknya penurunan insulasi akibat penurunan ketebalan lemak subkutan
membuat lansia mudah merasa dingin sehingga mereka membutuhkan pakaian yang lebih
tebal. 1,6
Perubahan system intagumen akibat proses menua mempengaruhi mekanisme
pertahanan tubuh, regulasi suhu, dan juga mempengaruhi presepsi seseorang tentang proses
menua.1
Sistem Gastrointestinal
Perubahan yang terjadi pada system gastrointestinal, meskipun bukan kondisi yang
mengancam nyawa, namun tetap menjadi perhatian utama bagi para lansia.
Perubahan akibat proses menua :1,3
1. Cavum oris
Rearbsorbsi tulang bagian rahang dapat menyebabkan tanggalnya gigi
sehingga menurunkan kemampuan mengunyah
Lansia yang mengenakan gigi palsu harus mengecek ketepatan posisinya
2. Esofagus
Reflek telan melemah sehingga meningkatkan resiko aspirasi
Melemahnya otot halus sehingga memperlambat proses pengosongan
3. Lambung
Penurunan sekresi asam lambung menyebabkan gangguan absrobsi besi,
vitamin B12, dan protein
4. Intestinum
Peristaltik menurun
Melemahnya peristaltik usus menyebabkan inkompetensi pengosongan bowel
Menurunnya peristaltic usus disertai hilangnya tonus otot lambung menyebabkan
pengososngan

lambung

menurun

sehingga

lansia

akan

merasa

penuh

setelah

mengkonsumsi makanan meskipun dalam jumlah yang sedikit. Pengosongan lambung yang
lambat dan penurunan sekresi asama lambung dapat menyebabkan indigesti, ketidak
nyamanna dan penurunan nafsu makan. Penurunan peristaltic usus juga memperlambat waktu
transit kolon , sehingga absorbs air meningkat dan feses mengeras.2
Perubahan Sistem Persarafan
6

Perubahan pada system saraf mempengaruhi semua system tubuh termasuk system
vaskuler, mobilitas, koordinasi, aktivitas visual, dan kemampuan kognitif.
Perubahan akibat proses penuaan : 1
1. Neuron
Terjadi penurunan jumlah neuron diotak dan batang otak
Sintesa dan metabolism neuro berkurang
Masa otak berkurang secara progresif
2. Pergerakan
Sensasi kinestik berkurang
Gangguan keseimbangan
Penurunan reaction time
3. Tidur
Dapat terjadi insomnia dan dapat terbangun dimalam hari
Tidur dalam tahap (tahap IV) dan tahap REM berkurang
Sejalan dengan penurunan efesiensi kerja neuron, reaction time akan melambat dan
kemampuan untuk berespon terhadap stimulus menjadi lambat. Penelitian menunjukkan
bahwa meskipun reaction time melambat, keakuratan dan presisi respon pada lansia semakin
meningkat. Lansia umumnya terorientasi dengan baik terhadap waktu, tempat dan orang
dengan perubahan memori yang minimal kecuali jika terdapat penurunan sintesa neuron dan
penurunan massa otak. Lansia beresiko mengalami jatuh karena reaction time dalam
mempertahankan keseimbangan menurun dan mengalami reaksi hipotensi sekunder akibat
penurunan volume darah. Keluhan berupa gejala pusing, kepala berputar, dan vertigo juga
turut mempengaruhi keseimbangan lansia. Pada umumnya lansia mudah terbangun di malam
hari namun mereka tidur cukup pada siang hari sehingga jam tidur mereka tetap adekuat.
Kejadian sering terbangun pada malam hari menyebabkan kebanyakan lansia tidak dapat
tidur nyenyak dan mudah lelah pada siang hari. 2 Perubahan pada system pernafasan yang
berupa reaction time yang melambat, perubahan keseimbangan, perubahan istirahat tidur dan
koginisi merupakan fungsi vital yang mempengaruhi kemampuan dalam pemenuhan ADL.4
Sistem Sensori
System sensori seperti pengelihatan, pendengaran, peraba, penciuman, dan perasa
memfasilitasi komunikasi manusia dengan lingkungan sekitarnya. Penurunan fungsi organ
sensori mempengaruhi kemampuan dan kualitas hidup lansia.
Perubahan akibat penuaan :1

1. Pengelihatan
Penurunan kemampuan memfokuskan objek dekat
Terjadi peningkatan densitas lensa, dan akumulasi lemak disekitar iris,

menimbulkan adanya cincin kuning keabu-abuan


Produksi air mata menurun
Penuruan ukuran pupil dan penurunan sensitivitas terhadap cahaya
Kemampuan melihat dimalam hari menurun, iris kehilangan pigmen sehingga

bola mata berwarna biru muda atau keabu abuan


2. Pendengaran
Penurunan kemampuan untuk mendengarkan suara berfrekuensi tinggi
Serumen mengandung banyak keratin sehingga mengeras
3. Perasa
Penurunan kemampuan untuk merasakan rasa pahit, asin dan asam
4. Peraba
Penurunan kemampuan untuk merasakan nyeri ringan dan perubahan suhu
Perubahan pada indera pengelihatan lansia, mempengaruhi pemenuhan kebutuhan
ADL. Lansia membutuhkan kacamata untuk membantuk mereka melaksanakan ADL. Pada
lansia, adaptasi terhadap gelap dan terang membutuhkan waktu lebih lama sehingga aktivitas
ringan seperti keluar masuk kamar mandi pada malam hari mengakibatkan resiko jatuh pada
lansia. Lensa mata mengalami perubahan warna menjadi kuning menyebabkan pengelihatan
beberapa warna seperti biru, hijau dan ungu menjadi sulit. Sehingga gunakan warna warna
mencolok seperti kuning, orange, atau merah sebagai penanda atau pewarna dinding kamar
mandi agar lebih mudah teridentifikasi oleh lansia. Penurunan produksi air mata
menyebabkan mata rentan mengalami infeksi dan iritasi.4
Kemampuan mendengar juga berkurang, terutama pada suara bernada tinggi. Kita
harus berbicara dengan menggunakan nada normal tanpa berteriak atau tanpa meninggikan
suara. Indera perasa juga mengalami penurunan fungsi, sehingga lansia tidak peka terhadap
perubahan rasa. Lansia membutuhkan lebih banyak garam pada makanannya.4
Sistem Genitourinaria
Perubahan system genitourinaria mempengaruhi fungsi dasar dala tubuh dalam BAK
dan penampilan seksual. Kepercayaan yang dipegang masyarakat bahwa masalah pada
system genitourinaria merupakan hal yang wajar seiring pertambahan usia. Akibatnya ketika
terjadi masalah pada system ini lansia terlambat mencari pertolongan.3
Perubahan akibat proses menua : 1

1. Fungsi ginjal
Aliran darah ke ginjal menurun karena penurunan cardian output dan laju

2.

3.

4.

5.

filtrasi glomerulus menurun


Terjadi penuruna kemampuan dalam mengkonsentrasikan urin
Kandung kemih
Tonus otot menghilang dan terjadi gangguan pengosongan kandung kemih
Penurunan kapasitas kandung kemih
Miksi
Pada pria, dapat terjadi peningkatan frekuensi miksi akibat pembesaran prostat
Pada wanita, peningkatan miksi dapat terjadi akibat melemahnya otot perineal
Reproduksi wanita
Terjadi atropi vulva
Penuruna jumah rambut pubis
Sekresi vaginal menurun, dinding vagina menjadi tipis dan kurang elsatik
Reproduksi pria
Ukuran testis mengecil
Ukuran prostat membesar
Meski tejadi penurunan aliran darah ke ginjal dan terjadi penurunan masa ginjal,

selama tidak terjadi sesuatu penyakit makan system genitourinaria masih dapat berfungsi
dengan baik. Perubahan fungsional terjadi akibat penurunan fungsi kandung kemih termasuk
peningkatan frekuensi miksi, nokturia, dan retensi urine. Perubahan ini dapat menyebabkan
difungsi yang dapat menimbulkan infeksi, urgensi dan inkontinesia. Melemahnya otot
parineal wanita berkembangnya inkontinesia stress pada wanita. Pada kondisi ini urine akan
keluar jika lansia mengalami batuk, tertawa, bersin atau mengangkat benda berat. Perubahan
pada vagina dapat menyebabkan nyeri pada koitus, infeksi pada vagina dan rasa gatal yang
berkepanjangan.1,6
Pembesaran prostat dapat menyebabkan retensi urine, gangguan frekuensi miksi dan
inkontinesia overflow bahkan kerusakan ginjal. Sehingga seorang pria yang telah memasuki
usia lanjut harus melakukan pemeriksaan prostat secara rutin. Perubahan dalam berkemih dan
fungsi seksual dapat mempengaruhi konsep diri pada lansia. Inkontinensia overflow yaitu
keluarnya urine secara involunter ketika tekanan intravesikal melebihi tekanan maksimal
maksimal uretra akibat dari distensi kandung kemih tanpa adanya aktifitas detrusor. Terjadi
pada keadaan kandung kemih yang lumpuh akut atau kronik yang terisi terlalu penuh,
sehingga tekanan kandung kemih dapat naik tinggi sekali tanpa disertai kontraksi sehingga
akhirnya urine menetes lewat uretra secara intermitten atau keluar tetes demi tetes.5

Sesuai dengan scenario yang penulis dapatkan bahwa sang pasien yang berumur 70
tahun mengeluh tidak dapat menahan kencing sehingga sering mengompol sebelum sampai
ke WC, pasien tersebut di duga mengalami inkontinensia urin yang merupakan salah satu dari
masalah yang dialami oleh pasien lanjut usia.1
Penatalaksanaannya dapat dilakukan sebagai berikut :1
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Latihan otot-otot dasar panggul


Latihan penyesuaian berkemih
Obat-obatan untuk merelaksasi kandung kemih dan estrogen
Tindakan pembedahan memperkuat muara kandung kemih
Penyesuaian sikap berkemih antara lain dengan jadwal dan kebiasaan berkemih
Pekaian dalam dan kain penyerap khusus lainnya
Penyesuaian/modifikasi lingkungan tempat berkemih

Pedoman Pemberian Obat pada Lansia


Pemberian obat atau terapi untuk kaum lansia, memang banyak masalahnya, karena
beberapa obat sering beinteraksi. Kondisi patologi pada golongan usia lanjut, cenderung
membuat lansia mengkonsumsi lebih banyak obat dibandingkan dengan pasien yang lebih
muda sehingga memiliki risiko lebih besar untuk mengalami efek samping dan interaksi obat
yang merugikan. Penyakit pada usia lanjut sering terjadi pada banyak organ sehingga
pemberian obat sering terjadi polifarmasi. Polifarmasi berarti pemakaian banyak obat
sekaligus pada seorang pasien, lebih dari yang dibutuhkan secara logis-rasional dihubungkan
dengan diagnosis yang diperkirakan. Diantara demikian banyak obat yang ditelan pasti terjadi
interaksi obat yang sebagian dapat bersifat serius dan sering menyebabkan hospitalisasi atau
kematian. Kejadian ini lebih sering terjadi pada pasien yang sudah berusia lanjut yang
biasanya menderita lebih dari satu penyakit. Penyakit utama yang menyerang lansia ialah
hipertensi, gagal jantung dan infark serta gangguan ritme jantung, diabetes mellitus,
gangguan fungsi ginjal dan hati. Selain itu, juga terjadi keadaan yang sering mengganggu
lansia seperti gangguan fungsi kognitif, keseimbangan badan, penglihatan dan pendengaran.
Semua keadaan ini menyebabkan lansia memperoleh pengobatan yang banyak jenisnya.8
Ada tiga faktor yang menjadi acuan pemberian obat,yaitu :8
Diagnosis dan patofisiologi penyakit
Kondisi organ tubuh
Farmakologi klinik obat

10

Setelah dokter mendiagnosis penyakit pasien, maka sebelum penentuan obat yang
dibeikan perlu dipertimbangkan kondisi organ tubuh serta farmakologi dari obat yang akan
diresepkan. Pada usia lanjut banyak hal-hal yang lainnya yang perlu dipertimbangkan dalam
pemilihan obat, karena pada golongan lansia berbagai perubahan fisiologik pada organ dan
sistema tubuh akan mempengaruhi tanggapan tubuh terhadap obat. Adapun prinsip umum
penggunaan obat pada usia lanjut :8
1. Berikan obat hanya yang betul-betul diperlukan artinya hanya bila ada indikasi
yang tepat. Bila diperlukan efek plasebo berikan plasebo yang sesungguhnya
2. Pilihlah obat yang memberikan rasio manfaat yang paling menguntungkandan tidak
berinteraksi dengan obat yang lain atau penyakit lainnya
3. Mulai pengobatan dengan dosis separuh lebih sedikit dari dosis yang biasa
diberikan pada orang dewasa yang masih muda.
4. Sesuaikan dosis obat berdasarkan dosis klinik pasien, dan bila perlu dengan
memonitor kadar plasma pasien. Dosis penunjang yang tepat umumnya lebih rendah.
5. Berikan regimen dosis yang sederhana dan sediaan obat yang mudah ditelan untuk
memelihara kepatuhan pasien
6. Periksa secara berkala semua obat yang dimakan pasien, dan hentikan obat yang
tidak diperlukan lagi

Kesimpulan
Proses menua merupakan proses bertahap yang akan dialami oleh setiap makhluk
hidup tak terkecuali manusia. Pada proses menua akan terjadi kemunduran serta penurunan
kerja fisik dan organ tubuh. Pada skenario yang penulis dapatkan, diduga menderita
inkontinensia urin yang merupakan salah satu dari masalah yang dialami oleh pasien lanjut
usia.

Daftar Pustaka
1. Dewi RS. Buku ajar keperawatan gerontik. Yogyakarta: Deepublish; 2014.h.9-10

11

2. Sadli Saparinah. Berbeda tetapi sehat. Jakarta: Penerbit Buku Kompas; 2010.h.120121
3. Czeresna HS, Setiati Siti, Martina WS. Pedoman kesehatan pasien geriatric untuk
dokter dan perawat edisi pertama. Jakarta : Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian
Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 201.h.50-62
4. Tamher S, Noorkasiani. Kesehatan usia lanjut dengan pendekatan asuhan
keperawatan. Jakarta: Ariyanto; 2009.h.20-21
5. Hardywinoto. Panduan gerontologi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama; 2011.h.4952
6. Setiabudhi Toni. Menjaga keseimbangan kualitas hidup para lansia. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama; 2010.h. 133-141
7. Santjojo Padmo, Masalah kesehatan dihari tua. Jakarta: FKUI; 2009.h.21-25
8. Darmojo Boedi, Martono Hadi. Buku ajar geriatri. Jakarta:Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran UI; 2010.h.88-90

12