Anda di halaman 1dari 13

PERANCANGAN LUBE OIL COOLER TIPE SHELL & TUBE UNTUK

SYNTHESIS GAS COMPRESSOR (103-J) PADA PABRIK AMMONIA


PUSRI-III
Kadir, MZ.1, Ibrahim, S.A.U.S.2
1
Dosen Tetap Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya
Email : zahrikadir@yahoo.com
2
Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya
Email : aulia_ibrahim.mesin11@yahoo.com
Jl. Raya Palembang - Prabumulih Km 32, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Indonesia
Abstrak
Di era globalisasi ini, alat-alat produksi sangatlah penting untuk kemajuan suatu pabrik khususnya
pabrik petrokimia yang memproduksi urea baik subsidi maupun non-subsidi seperti PT. Pupuk Sriwidjaja
Palembang. Pabrik Ammonia PUSRI-III mempunyai dua unit alat penukar kalo berupa pendingin (Cooler) yang
bertugas untuk mendingkan pelumas pada bantalan didalam poros antara kompresor Gas Synthesis dan turbin.
Akan tetapi, performa kedua unit Cooler menurun karena kurun waktu operasi yang telah lama sehingga harus
ada penambahan satu unit Cooler tambahan.
Untuk mengurangi biaya produksi, perancangan alat penukar kalor sangatlah efektif daripada membeli
alat penukar kalor yang sudah jadi. Alat penukar kalor tipe shell dan tube merupakan jenis penukar kalor yang
banyak digunakan dalam pabrik. Perancangan dilakukan dengan pendekatan LMTD atau pendekatan beda
temperatur logaritma. Hasil rancangan berupa dimensi alat penukar kalor, koefisien perpindahan kalor
keseluruhan dan penurunan tekanan yang terjadi baik di shell maupun di tube serta faktor pengotoran yang
berpengaruh penting dalam kualitas rancangan penukar kalor.
Kata Kunci : alat penukar kalor, dimensi, penurunan tekanan
Abstract
In this globalization era, the production tools are very important to achieve a plant especially
petrochemicals plant that produces urea either subsidized or non-subsidized like fertilizier plant at PT. Pupuk
Sriwidjaja Palembang. Ammonia plant PUSRI-III has two units heat excahnger in the form of the cooler
whose function is to lubricating the bearings in the shaft between the compressor and turbine Gas Synthesis.
However, the performance both of units Cooler decreased because the period of operation that has long so
there should be adding one additional Cooler unit.
To reduce production costs, the design of heat exchanger is more effective than buy a heat exchanger
that is already done. A heat exchanger shell and tube type is the type of heat exchanger which is widely used in
the plant. The design using LMTD approach or logarithmic temperature different approach. The design results
are a heat exchanger dimension, the overall heat transfer coefficient and pressure drop that occurs either in the
shell or on the tube and the important fouling factor influence in heat exchanger design quality.
Keywords: heat exchanger, dimensions, pressure drop
1.

Pendahuluan
Dalam industri petrokimia, khususnya
industri pembuatan pupuk, selain peralatan utama
seperti Syntesis Gas Compressor (103-J)
diperlukan juga peralatan pendukung yang
menunjang beroperasinya peralatan utama. Salah
satu peralatan pendukung yang diperlukan adalah
Lube Oil Cooler. Lube Oil Cooler yang banyak

digunakan di industri adalah tipe Shell and Tube


Heat Exchanger dikarenakan sangat mudah dalam
proses pemeliharaan dan pembersihannya. Pada
peralatan Syntesis Gas Compressor (103-J) yang
beroperasi di Pabrik Pusri III, terdapat 2 unit Lube
Oil Cooler, satu untuk beroperasi mendinginkan
temperatur Lube Oil, sedangkan satu unit lagi
dikondisikan dalam keadaan standby.

Jurnal Teknik Mesin |1

Selama bersirkulasi untuk melakukan proses


pelumasan
pada
peralatan
Syntesis Gas
Compressor (103-J), Lube Oil yang keluar dari
peralatan Syntesis Gas Compressor (103-J) akan
mengalami kenaikan temperatur menjadi sekitar
150 oF (65.6 oC). Sebelum didinginkan di Lube Oil
Cooler, Lube Oil akan ditampung sementara di
dalam tangki reservoir. Selanjutnya Lube Oil akan
dialirkan ke Lube Oil Cooler untuk didinginkan
dengan media pendingin Cooling Water yang
mengalir di dalam tube. Lube Oil akan mengalami
penurunan temperatur menjadi sekitar 120 oF (48.9
o
C), sedangkan Cooling Water akan mengalami
kenaikan temperatur dari 90 oF (32.2 oC) menjadi
100 oF (37.8 oC).
Dikarenakan
sudah
cukup
lama
beroperasi, satu unit Lube Oil Cooler yang
beroperasi pada peralatan Syntesis Gas Compressor
(103-J) mengalami penurunan kinerja. Untuk
mendinginkan Lube Oil yang akan bersirkulasi
pada peralatan Syntesis Gas Compressor (103-J)
sesuai dengan temperatur operasi, mengharuskan
satu unit Oil Cooler yang di-standby-kan untuk
dioperasikan. Kondisi ini mengakibatkan tidak
adanya unit Oil Cooler yang berada dalam keadaan
standby. Apabila kedua unit Oil Cooler ini
bermasalah dan tidak mampu mendinginkan Lube
Oil yang bersirkulasi pada peralatan Syntesis Gas
Compressor (103-J) sedangkan tidak ada unit yang
di-standby-kan, maka akan dapat mengakibatkan
shutdown-nya Pabrik. Untuk menghindari hal
tersebut, maka dilakukan penambahan satu unit Oil
Cooler yang baru dengan kapasitas dan cara
pengoperasian yang sama dengan Oil Cooler
terpasang, sehingga nantinya terdapat satu unit Oil
Cooler yang dapat di-standby-kan.

suatu sistem (temperatur) dengan menambahkan


atau menghilangkan energi termal dari suatu fluida
ke fluida lainnya. Walaupun ada banyak perbedaan
ukuran, tingkat kesempurnaan, dan perbedaan jenis
alat penukar kalor, semua alat penukar kalor
menggunakan elemenelemen konduksi termal
yang pada umumnya berupa tabung tube atau
plat untuk memisahkan dua fluida. Salah satu dari
elemen terebut, memindahkan energi kalor ke
elemen yang lainnya

Gambar 2.1 Bentuk Shell and Tube Heat


Exchanger (Incropera, 2007)

Persamaan umum untuk menyatakan


jumlah kalor yang dipindahkan dari fluida pada alat
penukar kalor dinyatakan dengan persamaan:

Q=U A T m
Dimana:
Q = Laju perpindahan kalor (btu/hr)
U = Koefisien perpindahan kalor menyeluruh
A = Luas perpindahan kalor menyeluruh (ft2)

T m = Beda suhu rata-rata (0F)


2.
2.1

Tinjauan Pustaka
Shell and Tube Heat Exchanger

Alat penukar kalor tipe shell and tube


merupakan salah satu jenis alat penukar panas
berdasarkan konstruksinya. Tipe shell and tube
sering digunakan dalam industri karena memiliki
kelebihan bila dibandingkan dengan tipe lainnya,
antara lain mempunyai lay-out mekanik yang baik
dan bentuknya cukup baik untuk operasi
bertekanan, menggunakan teknik fabrikasi yang
sudah mapan, dapat dibuat dari berbagai material
dan mudah dibersihkan dan konstruksinya
sederhana.
2.1.1. Prinsip Kerja Shell and Tube Heat
Exchanger
Menurut Dean A Barlet (1996) bahwa alat
penukar kalor memiliki tujuan untuk mengontrol

2.1.2. Komponen-Komponen Shell and Tube


Heat Exchanger

Gambar 2.2 Tube Layout Patterns.


(a)Triangular Pitch (b) Rotated Triangular
Pitch (c) Square Pitch (d) Diamond Square
Pitch (Mukherjee, 1997.)
1. Tube
Tube atau pipa merupakan bidang pemisah

Jurnal Teknik Mesin |2

antara kedua jenis fluida yang mengalir di


dalamnya
dan sekaligus sebagai
bidang
perpindahan panas.
Tube Pitch merupakan jarak antara dari
center ke center antar lubang. Lubang yang tidak
dapat dibor dengan jarak yang sangat dekat, karena
jarak tube yang terlalu dekat akan melemahkan
struktur penyangga tube.

temperatur
tinggi.
Untuk
mencegah
tercampurnya fluida di dalam penukar kalor,
pada bagian saluran pipa dipasang tutup
tubesheet.
Komponen lainnya dari Shell and Tube
Heat Exchanger yaitu tie rod, shell cover, channel,
channel cover, nozzles, pass partition plate, gasket,
flange, impingement plate, dan saddle.

2. Shell
Kontruksi shell sangat ditentukan oleh
keadaan tubes yang akan ditempatkan didalamnya.
Shell ini dapat dibuat dari pipa yang berukuran
besar atau pelat logam yang dirol. Shell merupakan
badan dari heat exchanger, dimana didapat tube
bundle.
3. Sekat (Baffle)
Adapun fungsi dari pemasangan sekat
(baffle) pada heat exchanger ini antara lain adalah
untuk : Sebagai penahan dari tube bundle, untuk
mengurangi atau menambah terjadinya getaran dan
sebagai alat untuk mengarahkan aliran fluida yang
berada di dalam tube.

Gambar 2.3 Jenis-jenis baffle (Mukherjee,


1997)
4. Tubesheet
Terdapat dua jenis tube sheet (Mukherjee,
1997), yaitu:
1.

2.

Fixed
tube
sheet,
dimana tubesheet dipasang kokoh pada shell.
Biasanya tubesheet ini dipasang dengan cara
compression fitting (dengan baut-mur). Untuk
keperluan khusus dapat dilakukan sambungan
las.
Floating tube sheet : tubesheet ini tidak
dikatkan pada shell, tetapi terpasang dengan
baik pada tube bundle (berkas pipa). Pemakaian
floating tube sheet biasanya dimaksudkan untuk
mengatasi ekspansi termal pada operasi

2.2. Perhitungan termal


2.2.1. Pendekatan Beda Temperatur Rata-rata
Logaritma (LMTD)
Pada dasarnya penurunan pendekatan
ditentukan oleh jenis aliran pada penukar kalor
tersebut. Pada aliran sejajar, dua fluida masuk
bersama-sama dalam alat penukar kalor, bergerak
dalam arah yang sama dan keluar bersama-sama
pula. Sedangkan pada aliran berlawanan dua fluida
bergerak dengan arah yang berlawanan dan pada
aliran menyilang, dua fluida bergerak saling
menyilang atau bergerak saling tegak lurus.
Gambar 2.9 menunjukkan bahwa beda suhu antara
fluida panas dan fluida dingin pada waktu masuk
dan pada waktu keluar tidak sama dan perlu
menentukan nilai rata-rata untuk menunjukkan
jumlah kalor yang dipindahkan dar fluida pada alat
penukar kalor.

Gambar 2.4 Profil temperatur pada alat penukar


kalor (a) aliran sejajar (b) aliran berlawanan

Sehingga:
Untuk aliran sejajar:

untuk aliran berlawanan:

2.2.2. Koefisien Perpindahan Panas Total

Jurnal Teknik Mesin |3

Perhitungan lain dalam shell dan tube heat


exchanger, salah satunya adalah koefisien
perpindahan kalor total (overall heat transfer
coefficient) pada bagian shell dan tube.
1. Koefisien perpindahan panas dan Penurunan
tekanan pada Shell
Dalam shell umumnya terdapat baffle
(sekat)
selain
berfungsi
sebagai
penyangga/penunjang pipa-pipa dalam selubung
dan pengaruh aliran fluida dalam tabung tetapi juga
berfungsi sebagai permukaan perpindahan kalor,
karena koefisien perpindahan kalor dapat lebih
besar apabila terdapat baffle dibanding tanpa
menggunakan baffle.
Secara umum dapat ditulis:

ho =Nu

k
De

As=

D e .' C . B
PT

Dimana:
De

= Diameter dalam shell (ft)

= Clearance (ft)

= Jarak antara baffle (ft)

PT

= Jarak antara tube (ft)


Pressure drop shell (

Pshell ) dan

Pressure drop tube ( PTube ) untuk masingmasing aliran tidak boleh melebihi batas yang
ditetapkan atau tergantung dari sistem atau alat
penggerak media yang digunakan. Batasan
pressure drop tersebut adalah: maksimal 10 psi
untuk aliran liquid, maksimal 1,5 - 2 psi untuk
aliran gas atau uap.

Nilai bilangan reynold pada fluida shell


dapat dicari dengan menggunakan rumus:

G D
s= s e

Penurunan Tekanan pada shell dapat dihitung


dengan :

f G2s ID s (N +1)
Ps =
5,22 1010 De s s

Dimana:
Gs

= kecepatan aliran massa dalam shell


(lb/hr-ft2)

Dimana :

De

= diameter ekivalen (ft)

= viskositas fluida dalam shell (lb/hr-ft)

= Faktor gesekan pada sisi shell atau


selubung (ft2/in2)

IDs

= Diameter dalam shell (ft)

= Jumlah baffles atau sekat

= Spesific gravities fluida dalam shell

Diameter ekivalen (De dapat ditentukan


apabila susunan pipa diketahui, seperti ditunjukkan
pada gambar 2.5). Untuk masing-masing tipe
susunan tube pada shell memiliki nilai yang
berbeda, yang dapat kita tentukan pada kurva heat
transfer shell. Nilai laju aliran massa per satuan
luas dapat dicari dengan rumus :

G s=

w
As

= rasio viskositas fluida dalam shell

2. Koefisien perpindahan panas dan Penurunan


Tekanan pada tube/pipa

Keterangan:
Gs
ft2)

w
As

= Laju aliran massa per satuan luas (lb/hr-

hio =h i

ID t
ODt

= Laju aliran massa (lb/hr)

Dimana :

= Luas aliran dari shell

hi
= koefisien perpindahan panas bagian
dalam tube (btu/hr-ft20F)
IDt

= diameter dalam tube (ft)

Jurnal Teknik Mesin |4

ODt

= diameter luar tube (ft)

Bilangan Reynold dalam tube :

ID G
s= i t

Penurunan tekanan pada tube dapat dihitung


dengan persamaan :

Pt =

f Gt Ln
5,22 1010 IDt s t

dalam sistem aliran, atau permukaan itu mungkin


mengalami korosi sebagai akibat interaksi antara
fluida dengan bahan yang digunakan dalam
konstruksi penukar kalor.
Pada akhirnya, lapisan itu memberikan
tahanan tambahan terhadap aliran kalor, dan hal ini
menyebabkan menurunnya kemampuan kerja alat.
Pengaruh menyeluruh ini dinyatakan dengan faktor
pengotoran (fouling factor).
Faktor pengotoran harus didapatkan dari
lapangan atau percobaan, yaitu dengan menentukan
U untuk kondisi bersih dan kondisi kotor pada
penukar kalor itu. Faktor pengotoran dirumuskan
sebagai berikut :

Keterangan:
L

= panjang tube (ft)

= jumlah pass/laluan tube

= friction factor pada tube (ft2/in2)

IDt

= diameter dalam tube (ft)

Gt
= Laju aliran massa persatuan luas dalam
tube (lb/hr-ft2)
s

Rd =

U c U d
U cUd

Dimana :
Uc

= Koefisien perpindahan panas


keseluruhan bersih.

Ud

= Koefisien perpindahan panas


keseluruhan operasi.

= Spesifik gravity fluida dalam tube

= rasio viskositas fluida dalam tube

Pada saat fluida dalam tube berubah arah


ketika melakukan pass/laluan (bila pass tube N t >
1), maka akan terjadi penurunan tekanan tambahan
yang disebabkan oleh kontraksi dan ekspansi pipa.
Penurunan tekanan tambahan ini dapat dihitung :

Pr =

3.

Metodologi

Metodologi perancangan disajikan dalam


diagram alir seperti ditunjukkan pada gambar di
bawah ini:

4V2
s 2 g'

Dimana :
V

= Velocity of Fluid (ft/s)

Sg

= Spesific Gravity fluid adalam tube

= Konstanta Gravitasi (32,1 ft/s2)

maka pressure drop total (PT) sisi Tube yaitu :


PT

= Pt + Pr

2.2.3. Faktor Pengotoran


Pengotoran perpindahan kalor akan
dilapisi oleh berbagai endapan yang biasa terdapat

Jurnal Teknik Mesin |5

Gambar 3.1 Diagram alir perancangan Lube Oil


Cooler
4. Analisa Perhitungan Terma dan Dimensi
Penukar Kalor
Berikut adalah perhitungan termal dengan
data yang telah diketahui sebagai berikut:

4.1 Perhitungan Pada Sisi Shell


4.1.1 Luas Laluan Shell
Luas daerah aliran dari shell dapat diperoleh
sebagai berikut:

a s=

ID s ' C B
144 P T

Dimana:
IDs = diameter dalam dari shell =17,25 in
C = Jarak antara diameter luar dengan pitch
(Pt-ODt) = 0,15 in
B = Jarak antara baffle = 12,89 in
Pt = Jarak antara titik pusat tube = 0,78 in
Sehingga:

Jurnal Teknik Mesin |6

144 0,78
17,25 0,1512,89
a s=
a s=0,31 ft

at =0,21 ft

4.2.2 Kecepatan Aliran Massa Pada Tube

Kecepatan aliran massa air pendingin didalam tube


dapat diperoleh sebagai berikut:

4.1.2 Kecepatan Aliran Massa pada Shell


Kecepatan aliran massa Lube oil didalam shell
dapat diperoleh sebagai berikut:

G s=

w
as

Gt =

w = Laju aliran air pendingin = 44092,45 lb/hr


Sehingga:

Gt =

w = Laju aliran lube oil = 108908,35 lb/h


Sehingga:

108908,35 lb /h
2
0,31 ft

4.2.3 Velocity Aliran Air Pendingin


2

Velocity aliran Air Pendingin dapat diperoleh


sebagai berikut:

4.2 Perhitungan Pada Sisi Tube

v=

4.2.1 Luas Laluan Tube


Luas aliran daerah dari tube dapat diperoleh
seabagai berikut:

N tubes a ' t
at =
(144.n)

Ntube = Jumlah tube = 266


= Luas aliran per tube
berdasarkan tabel yang terdapat pada
Charasteristics of Tubing dalam buku
TEMA dengan diameter 0,625 in pada
BWG (ketebalan dinding tube) 18
maka dapat diperoleh at sebesar
0,2181 in2
= Jumlah pas pada tube = 2

Sehingga:

at =

Gt
3600

Dimana:

= densitas air pendingin (

62,16

lb
3
ft

= 104,3 0F)

Sehingga :

Dimana:

44092,45lb/hr
0,21 ft 2

Gt =209964,1lb /hr ft 2

Gs=351317,1 lb/ hrft

at

w
at

Dimana:

Dimana:

G s=

266 0,2181 2
(144 2)

v=

209964,1 lb/hrft 2
lb
(3600 62,16 3 )
ft

v =0,93

ft
s

4.3 Menentukan Bilangan Reynold


4.3.1 Bilangan Reynold Pada Shell
Bilangan reynold pada shell dapat diperoleh
sebagai berikut:

D e Gs
s
Jurnal Teknik Mesin |7

Dimana:
De = Diameter Eqivalen (susunan tube: triangular)

1
(OD t )2
1
2
4 PT 0,86 PT
2
4
De=
1
(OD t )
2

3,14 ( 0,625 )

3,14

0,625
1

= Viskositas fluida air pendingin pada


temperatur kalorik 104,4 0F = 1,573 lb/ft hr
Sehingga:

0,043 ft 209964,1lb /hr ft


lb
1,573 hr
ft

=5739,6

1
( 4)
1
2
(0,78) 0,86 ( 0,78 )
2
4
De=

4.4.Faktor Perpindahan Panas


4.4.1 Faktor Perpindahan Panas Pada Shell
Faktor perpindahan panas pada shell dapat
diperoleh dengan menggunakan grafik Shell Side
Heat Transfer Curve for Segmental Baffle, untuk
Re = 343,8 dengan pemotongan baffle sebesar 25%
dapat diperoleh harga faktor perpindahan panas
pada shell, JHs = 9

D e =0,44 0,037 ft

4.4.2 Faktor Perpindahan Panas Pada Tube

Faktor perpindahan panas pada tube dapat


diperoleh dengan menggunakan grafik Tube Side
Heat Transfer, untuk Re = 5739,6 dan

= Viskositas fluida lube oil pada


temperatur
kalorik 124,8 0F = = 37,8 lb/ft hr
Sehingga:

0,037 ft 351317,1lb/hr ft 2
=
lb
37,8 hr
ft
=343,8

4.3.2 Bilangan Reynold Pada Tube


Bilangan reynold pada tube dapat diperoleh sebagai
berikut:

ID t Gt
t

Dimana:
IDt

= Diameter dalam tube

berdasarkan tabel yang terdapat pada


Charasteristics of Tubing dalam
buku
TEMA
dengan diameter 0,625 in pada BWG (ketebalan
dinding tube) 18 maka dapat diperoleh diameter
dalam tube sebesar 0,527 in =0,043 ft.

L 14,76 ft
=
=343,2
ID t 0,043 ft

dapat

diperoleh

harga faktor perpindahan panas tube, JHt = 17.

4.5 Menentukan Bilangan Prandtl


4.5.1 Bilangan Prandtl Pada Shell
Bilangan Prandtl pada shell dapat diperoleh sebagai
beikut:

c ps s
ks

( )

Prs =

Dimana:
Cps
= Panas spesifik dari lube oil pada
temperatur kalorik 124,7 0F = 0,482 Btu/lb 0F
ks
= Konduktivitas termal dari lube oil pada
temperatur kalorik 124,7 0F = 0,0787 btu/hrft2
Sehingga:

Jurnal Teknik Mesin |8

Btu
lb
37,8 hr
lb
ft
0,0787 Btu /h rft 2

0,482

Prs =

Prs =231,5

Koefisien Perpindahan Panas Pada Shell dapat


diperoleh sebagai berikut:

Prt

hi
k
=JH s t
t
IDt

( )

4.5.2 Bilangan Prandtl Pada Tube


Bilangan Prandtl pada tube dapat diperoleh sebagai
beikut:

2
hi
0,358 Btu/ h rft
=17
1,62
t
0,043 ft

hi
=229,2 Btu /h rft 2
t

c
Prt = pt t
kt

( )

Dimana:
Cpt
= Panas spesifik dari air pendingin pada
temperatur kalorik 104,4 0F
=1
Btu/lb 0F
kt
= Konduktivitas termal air pendingin pada
temperatur kalorik 104,4 0F
= 0,358
Btu/hrft2
Sehingga:

Prt =

Btu
lb
1,573 hr
lb
ft
0,358 Btu/h rft 2

Untuk menentukan harga temperaur pada dindng


tube (), maka sebelumnya perlu ditentukan dahulu
harga

hio
, dimana harga
t

hio
, dapat
t

diperoleh sebagai berikut:

hio hi IDt
=
t t OD t
0,625
0,527

hio
=229,2 btu/h rft 2
t

Prt =4,39

4.6. Menentukan Koefisien Perpindahan Panas


4.6.1 Koefisien Perpindahan Panas Pada Shell
Koefisien Perpindahan Panas Pada Shell dapat
diperoleh sebagai berikut:
1
ho
ks
=JH s
( P )3
s
De rs

( )

hio
=193,2 btu/h rft 2
t
Maka besarnya harga temperatur pada dinding tube
adalah:

t w =T cc +

ho
0,0787 Btu/h rft 2
=9
6,03
s
0,037 ft

4.7 Menentukan Temperatur pada Dinding Tube

ho
=115,2 Btu /h rft 2
s

ho
s

( )
h io ho
+
t s

( T ch T cc)

115,2
( 193,2+115,2
) Btu/ h rft (124,8 104, 4 )

t w =104,4 +

t w =111,9

4.6.2. Koefisien Perpindahan Panas Pada Tube

Jurnal Teknik Mesin |9

4.8 Menentukan Rasio Viskositas dan Koefisien


Dinding Tube

ho =110,5 btu /hr ft

4.8.1 Rasio Viskositas Pada Shell


Rasio viskositas pada shell dapat diperoleh sebagai
berikut:

Lapisan film pada dinding bagian dalam tube dapat


diperoleh sebagai berikut:

0,14

s s
w

( )

Dimana:

Dimana:

w = viskositas dari lube oil pada temperarur


dinding tube tw = 111,9 0F = 50,74 lb/hr ft
37,8 lb/hr ft
s =
50,74 lb/hr ft

0,14

s =0,95
4.8.2 Rasio Viskositas PadaTube
Rasio viskositas pada Tube dapat diperoleh sebagai
berikut:

t
w

0,14

( )

w = viskositas dari air pendingin pada


temperarur dinding tube tw = 111,9 0F = 1,454 lb/hr
ft

hi
=229,2 btu/h rft 2
t
hi=229,2

btu
0,97
2
h rft
2

hi=222,3 btu/h rft

4.8.5 Koefisien Lapisan Film Pada Keseluruhan


Dinding Tube
Lapisan film pada keseluruhan dinding tube dapat
diperolweh sebagai berikut:
Dimana:

Dimana:

s =

4.8.4 Koefisien Lapisan Film Pada Dinding


Bagian Dalam Tube

1,273 lb/hr ft
1,454 lb/hr ft

hio
=193,2 btu/h rft 2
t
hio =193,2

btu
0,97
2
hrft

0,14

hio =187,4 Btu /h rft

t =0,97
4.9 Menentukan Koefisien Perpindahan Kalor
Keseluruhan (U)
4.8.3 Koefisien Lapisan Film Pada Dinding
Bagian Luar Tube

4.9.1. Koefisien Perpindahan Kalor


Keseluruhan Bersih (Uc)

Lapisan film pada dinding bagian luar tube dapat


diperoleh sebagai berikut:

Koefisien perpindahan kalo keseluruhan


bersih (Uc) adalah koefisien perpindahan panas
pada alat penukar kalor pada saat bersih dan belum
terdapat endapan atau kotoran, dapat diperoleh
sebagai berikut:

Dimana :

ho
=115,2 btu/h rft 2
s
ho =115,2

btu
0,95
2
h rft

U c=

hio h o (187,4 110,5)Btu /h rft 2


btu
=
=69,7

2
hio +ho (187,4+110,5 ) Btu/h rft
hr ft 2

Jurnal Teknik Mesin |10

4.10.2. Koefisien Perpindahan Kalor


Keseluruhan Operasi (Ud)

4 Penurunan Tekanan Sisi Shell


Penurunan tekanan pada sisi shell dapat diperoleh
sebagai berikut:

Koefisien perpindahan kalor keseluruhan operasi


(Ud) adalah hantaran perpindahan panas pada alat
penukar kalor setelah dioperasikan dan sudah
terdapat endapan atau kotoran, dapat diperoleh
sebagai berikut:

Dimana:

Q
A LMTD

Ud=

f G2s ID s (N +1)
5,22 1010 De s s

Ps =

Ps

= Beda tekanan antara fluida pada saat


masuk dengan tekanan fluida pada saat
keluar dari penukar kalor (Psi)

Dimana:
Q
= Panas yang diserap oleh air pendingin =
661422,1 Btu/hr

= Friction factor (ft2/in2), dari grafik


shell side friction for bundles with 25%
cut segmental baffles untuk harga Re =
diperoleh harga f = 0,0039 ft2/in2

= Spesifik gravity dari fluida lube oil


pada temperatur kalorik 124,8 0F =
0,484

LMTD = beda temperatur rata-rata logaritma =


18,8 0F
A

= luas permukaan pada bagian luar tube

A=N t ( OD t ) L
IDs

Nt = jumlah tube = 266 buah

(dikurangi 4 untuk pemasangan


tie rod = 262 tube)
L = panjang tube = 14,76 ft

= Diameter ekivalen = 0,037 ft

Gs

= Kecepatan aliran massa fluida panas


(lube oil) = 351317,1 lb/hrft2

(N+1)

= Jumlah laluan dari baffle = 12 L/B =


12(14,76 ft)/12,89in = 13,47 14

Maka koefisien perpindahan kalor keseluruhan


operasi (Ud) adalah:

Ud=

661422,1 Btu/hr
631,4 ft 2 18,8

BTU
U d =55,7

hr ft 2

= Rasio viskositas pada shell = 0,95

De

ODt = 0,052 ft

A=2623,14 ( 0.052 ft ) 14,76 ft=631,4 ft

= Diameter bagian dalam shell = 1,43 ft

Sehingga:
2

Ps =

0,003 9 ( 351317,1 ) 1,43 14


5,22 1010 0,037 0,848 0,95

Ps =6,04 Psi

4.2 Penurunan Tekanan Sisi Tube


Penurunan tekanan pada sisi shell dapat diperoleh
sebagai berikut:
4.11 Faktor Pengotoran (Rd)
Faktor Pengotoran (Rd) adalah hambatan
perpindahan panas akibat adanya endapat atau
kotoran pada dinding perpindahan panas dan dapat
diperoleh sebagai berikut:

Rd =

U c U d 69,755,7
=
=0,0036 hr ft 2 / btu
U c U d 69,7 55,7

Pt =

f G t Ln
5,22 1010 IDt s t

Dimana:

Pt

= Beda tekanan antara fluida pada saat


masuk dengan tekanan fluida pada saat
keluar dari penukar kalor (Psi)

Jurnal Teknik Mesin |11

= Friction factor (ft2/in2), dari grafik


tube side friction factor untuk harga Re
= 4618,6 diperoleh harga f = 0,00038
ft2/in2

Gt

= Kecepatan aliran massa fluida dingin =


165431,2 lb/hrft2

= Spesifik gravity dari fluida dingin (air


pendingin) = 1

Tube Side

ISO VG 32
OIL

Air
Pendingin

(q) (btu/hr)

661422,1

(Tc) (oF)

124,8

104,4

(a) (ft2)

0,31

0,21

351317,1

209964,1

= Diameter bagian dalam tube = 0,043 ft

(G) (lb/hr-ft2)

= Rasio viskositas pada tube = 1,01

Re

343,8

5739,6

Pr

231,5

4,39

(P) (psi)

6,04

0,26

IDt

Keterangan

Shell Side

= panjang tube = 14,76 ft

= jumlah pas = 2

IDt = diameter bagian dalam tube pada BWG 18


(0,049in) = 0,043ft
Sehingga:

Rancangan dimensi alat penukar kalor:


2

Pt =

0,00037(209964,1) 14,76 f 2
5,22 1010 0,043 1 0,97

Pt =0,22 Psi
Penurunan tekanan tube akibat perubahan arah:
2

Pr =

4V
s 2 g'

Dimana:
v
= velocity aliran fluida dingin (air
pendingin) = 0,73 ft/s
g

= percepatan gravitasi = 32,1 ft/s

Pr =

Dimensi
(ODt) (ft)

0,052

(IDt) (ft)

0,043

(PT) (ft)

0,065

(C) (ft)

0,013

(L) (ft)

14,76

(Nt)

262

(IDs) (ft)

1,43

(N+1)

4 (0,93 ft /s)2
1 2 (32,1 ft / s 2)

Pr =0,05 psi
Sehingga penurunan tekanan total pada sisi tube
adalah:

PT = Pt + Pr=0,22 Psi+0,05 Psi


PT =0,26 Psi

Hasil Perhitungan:

Keterangan

Parameter

14

Keterangan

LMTD (0F)

18,8

(Tw)

111,9

(A) (ft2)

631,4

(ho) (btu/hr-ft20F)

110,5

(hio) (btu/hr-ft20F)

187,4

(Uc) (btu/hr-ft20F)

69,7

(Ud) (btu/hr-ft20F)

55,7

(Rd) (hr-ft20F/btu)

0,0036

Jurnal Teknik Mesin |12

5. Kesimpulan
1.

2.

Dimensi dari Lube Oil Cooler tipe shell and


tube heat exchanger didapatkan panjang
tube 14,76 ft, susunan tube triangular 600
dengan jumlah tube sebanyak 262 buah.
Diameter dalam shell sebesar 1,43 ft dan
jarak baffle 12,89 in.
Penurunan tekanan (P) baik sisi shell dan
tube memenuhi syarat yaitu kurang dari 10
psi (<10 psi) fluida liquid, untuk shell 6,04
psi dan untuk tube 0,26 psi.
DAFTAR PUSTAKA

Kern, D.Q., 1983. Process Heat Transfer


International Student Edition. Auckland,
Bogota, Guatamala, Hamburg, Johannesburg,
Lisbon, London, Madrid, Mexico, New Delhi,
Panama, Paris, San Juan, Sau Paulo,
Singapore, Sydney, Tokyo, McGraw-Hill
International Book Company

Paulin, T.,2007. Standards of the Turbular


Echanger Manufactures Association 9th ed.
New York : Turbular Exchanger Manufacture
Association, Inc.
Incropera, F.P., 2006. Fundamentals of Heat and
Mass Transfer. Sixth Edition, John Wiley &
Sons, Inc.
Mukherjee, R. 1997, Effectively Design Shell And
Tube Heat Exchanger. India : Engineers
India Ltd.
Sugiyanto. 2012. Analisis Alat Penukar Kalor
Tipe Shell and Tube dan Aplikasi Perhitungan
dengan Microsoft Visual Basic 6.0. Jakarta:
Jurnal Teknik Mesin Universitas Gunadarma.
Bizzy, I., Setiadi R. 2013. Studi Perhitungan Alat
Penukar Kalor Tipe Shell and Tube dengan
Program Heat Transfer Rsearch Inc (HTRI).
Palembang: Jurnal Teknik Mesin Universitas
Sriwijaya.
Holman, J.P. 2010. Heat Transfer. New York:
The McGraw Hil Companies, Inc.

Jurnal Teknik Mesin |13