Anda di halaman 1dari 26

Nama : Rizka Rifiandini

NPM : 1102014231
SASARAN BELAJAR
1.
Memahami dan menjelaskan anatomi saluran kemih bawah
1.1.

Makroskopis

VESICA URINARIA
Vesica urinaria (VU) atau Kandung kemih merupakan kantong musculomembranosa yang
berfungsi untuk menampung air kemih (urin).

Disebut juga bladder / kandung kemih, retriperitoneal karena hanya dilapisi


peritoneum pada bagian superiornya.
Terletak di regio hypogastrica ( supra pubis ).
Vsico urinaria merupakan kantung berongga yang dapat diregangkan oleh karena
volumnya dan dapat disesuaikan dengan mengubah status kontraktil otot polos di
dindingnya. Bila kosong, apex nya hanya sampai pada tepi cranial symphisis.
Secara berkala urin dikosongkan dari kandung kemih ke luar tubuh melalui ureter.
Organ ini mempunyai fungsi sebagai reservoir urine (200 500 cc).
Dindingnya mmpunyai lapisan otot yang kuat. Letaknya di belakang os. Pubis.
Bentuk bila penuh seperti telur (ovoid).
Apabila kosong seperti lima. Apex (puncak) vesica urinaria terletak di belakang
symphisis pubis.

Vesica urinaria ketika tidak sedang terisi oleh urin (kosong) memiliki bagian :
a. Fundus vesicae ( basis ) : sesuai dengan basis
b. Apex vesicae ( vesicalis ) : Dihubungkan ke cranial oleh urachus ( sisa kantong
allantois ) sampai ke umbilicus membentuk lig. Vesico Umbilicale mediale. Bagian
ini tertutup peritoneum dan berbatasan dengan ileum & colon sigmoideum, sesuai
dengan puncak pyramidum.
c. Corpus vesicae, antara apex dan fundus.
d. Cervix vesicae, sudut caudal mulai urethrae dengan ostium urethra internum.

Lapisan dalam vesica urinaria pada muara


masuknya ureter terdapat plica yang disebut plica
ureterica yang menonjol. Pada waktu VU kosong
plica ini terbuka sehingga urin dapat masuk dari
ginjal melalui ureter, sedangkan pada waktu VU
penuh plica ureterica ini akan menutup karena
dorongan urin, sehingga cairan urin di VU
walaupun penuh tidak akan naik ke atas ureter.
Pada keadaan tertentu plica ini rusak sehingga
urin akan naik keatas masuk ke ginjal dan
menumpuk disebut hydronephrosis.
Membran mukosa VU pada waktu kosong
membentuk lipatan yang sebagian menghubungkan kedua ureter membentuk plica disebut
plica interureterica. Lipatan ini bila dihubungkan dengan ostium urethrae internum akan
mmebentuk segitiga yang disebut Trigonum Vesicae ( Litaudi ), yang pada angulus superior
trigonum menandai pintu untuk ostium ureteris, sedangkan angulus inferor trigonum
berbatasan dengan ostium urethrae internum. Trigonum Lieutaudi ini dibentuk oleh
sepasang ostium ureteris dan ostium urethra internum. Pada pria trigonum lieutaudi ini akan
terfiksasi pada prostat. Sedangkan pada wanita akan terfiksasi pada dinding anterior vagina.
Lapisan otot VU terdiri dari tiga otot polos membetuk trabekula yang disebut m. Detrusor
vesicae yang akan menebal di leher VU membentuk sfingter vesicae.
Fiksasi VU
Ligamentum pada fundus, cervix dan apex vesicae yang merupakan pemadatan jaringan ikat
yang men-jadi fascia endopelvina. Terdiri dari lig. Pubopros-taticum medial (wanita : lig.
pubovesicalis) yang didalamnya terdapat m. pubovesicalis, lig. Puboprostaticum lateral,
lig.lateralyang didalamnya terdapat m. Rectovesicalis.Selain itu juga terdapat ligamentum
yang merupakan sisa embrional yakni lig. Umbilicale mediana (sisa dari urachus) dan lig.
Umbilicale medialis (obliterasi dari a.umbilicalis).
URETHRA
Urethra merupakan saluran yang menyalurkan urin dari Vesica Urinaria sampai ostium
urethrae externum agar bisa keluar dari tubuh.
1.2.

Mikroskopis

VESICA URINARIA

Secara histologis, kandung kemih merupakan ureter


yang meluas, sebab lapisan yang terdapat pada kantung
kemih terdapat juga pada ureter. Perbedaan utama
terletak pada tebal relatif lapisan dindingnya, terutama
pada tunika muskularis dan adanya muskularis mukosa
yang tipis pada beberapa hewan (Dellmann & Brown,
1992).
Dari penjelasan di atas, maka dapat diketahui bahwa
secara histologis lapisan penyusun dinding kantong
kemih terdapat 3 lapis. Lapisan dari dalam ke luar yaitu
tunika mukosa, tunika muskularis, dan tunika
adventisia.

1. Tunika Mukosa
Lapisan ini merupakan lapisan paling dalam yang berbatasan secara langsung dengan
lumen. Penyusun lapisan ini berupa sel epitel berlapis banyak yang lebih tebal dari
ureter dan lamina propia yang terdiri atas jaringan ikat arveolar dan mengandung
banyak serabut elastin. Menurut Yatim (1991), waktu kantung kemih kosong, sel
epitel penyusun tunika mukosa ini berbentuk batang atau kubus.Waktu terisi penuh,
bentuknya menggepeng dan lumennya meluas. Melihat kondisi seperti ini maka sel
epitelnya disebut dengan epitel transisional.(Dellmann & Brown, 1992).

2. Tunika Muskularis
Merupakan lapisan yang berupa berkas otot polos yang terdiri atas 3 lapis. Lapisan
ter-dalam tersusun secara longitudinal, kemudian sirkuler, dan yang paling luar
sirkuler. Tunika muskularis merupakan lapisan yang paling tebal dari lapisan yang
lainnya. Di antara ketiga lapisan otot polos tersebut yang paling tebal adalah lapisan
otot sirkuler.
Bentuk atau pola susunan dari 3 lapisan muskularis ini merupakan susunan yang
penting. Pola dari lapisan ini saling menjalin membentuk jalinan yang cukup kuat
sehingga otot pada daerah kantong kemih ini disebut dengan otot Detrusor. Pada
daerah hubungan ureter dengan kantung kemih, lapisan longitudinal otot ureter
membentuk jalinan dengan lapisan yang sama pada kantung kemih. Keadaan ini
membentuk sfingter yang fungsional, yaitu mencegah aliran kembali dari kemih.Pada
leher kandung kemih, otot detrusor mengarah ke uretra dan memusat ke arah lubang
uretra. Kontraksi otot longitudinal akan memper-besar lumen uretra dan
memperpendeknya. Mekanisme ini mengawali pembuangan kemih. Susunan
melingkar serabut elastik pada leher kantung kemih dan bagian proksimal uretra
membantu menutup uretra setelah pembuangan kemih.

3. Tunika Adventisia

Merupakan lapisan paling luar dari lapisan penyusun kantung kemih. Bagian ini
berupa jaringan ikat yang bagian luarnya diselaputi oleh mesotel. Di sebelah luar dari
tunika adventisia merupakan tunika serosa dan peritoneal yang diselubungi oleh
jaringat ikat longgar. Di bagian terluar lagi ada simpul saraf simpatik yang
disebut plexus vesicalis. Simpul saraf ini yang berperanan untuk mengontrol proses
kencing.
URETHRA

Urethra pada perempuan:

Pendek, 4-5 cm

Dilapisi epitel berlapis gepeng, dibeberapa tempat terdapat epitel bertingkat torak

Dipertengahan urethra terdapat sphinter eksterna (muskular bercorak)

Urethra pada laki laki :


1. Pars prostatika
Paling dekat ke vesica urinaria
Ductus ejaculatorius bermuara dekat verumontanum, (tonjolan kedalam lumen),
dimana cairan seminal msk dlm uretra
Dilapisi epitel transitional
2. Pars membranacea
Dilapisi epitel bertingkat torak
Dibungkus oleh sphincter urethra externa (voluntary)
3. Pars spongiosa
Terletak didalam corpus spongiosum penis
Umumnya dilapisi epitel bertingkat torak dibeberapa tempat terdapat epitel
berlapis gepeng.
4. Pars pendulosa
Ujung distal lumen urethra melebar: fossa navicularis
Kelenjar Littre, kelenjar mukosa yang terdapat disepanjang urethra, terutama
pada pars pendulosa

1.3.

Vaskularisasi & Inervasi VU

VU bagian cranial divaskularisasi oleh 2 atau 3 Aa. vesicalis superior (cabang dari
a. Umbilicalis). Sedangkan VU bagian caudal dan cervix divaskularisasi oleh A. vesicalis
inferior (cabang dari A. Iliaca interna). Pada wanita mendapatkan tambahan vaskularisasi
dari a. vaginalis. Pada bagian
fundus vesicae pada pria divaskularisasi oleh a.
deferentialis dan pada wanita oleh a. vaginalis dan a. vesicalis inferior.Sedangkan aliran vena
nya akan bermuara pada plexus venosus prostaticus & vesicalis yang akan bermuara
pada v.hypogastrica.
VU mendapatkan persarafan simpatik (segmen Thoracal XI Lumbal II) dari Plexus
prostaticus & plexus vesicalis yang berasal dari plexus hipogastricus inferior. Persarafan
ini memberikan fungsi untuk menggiatkan m. spinchter interna dan menginhibisi m. detrussor
serta menghantarkan rasa nyeri dari VU. Selain itu VU juga mendapatkan
persarafan parasimpatik dari n. splanchnicus pelvicus Segmen Sacral II-IV. Persarafan ini
memberikan fungsi untuk merelaksasi sfingter interna, menggiatkan m.detrussor,
menghantarkan peregangan dinding dan mengosongkan VU. Cabang cabang plexus
hypogastricus inferior yaitu:
1. Serabut-serabut post ganglioner simpatis glandula para vertebralis L 1-2.
2. Serabut serabut preganglioner parasimpatis N. S 2, 3, 4 melalui N. Splanicus dan
plexus hypogastricus inferior mencapai dinding vesica urinaria.
Disini terjadi sinapsis dengan serabut serabut post ganglioner :

a) Serabut serabut sensoris visceral afferent: N. Splanicus menuju SSP.


b) Serabut serabut afferen mengikuti serabut simpatis pada plexus hypogastricus
menuju medulla spinalis L1-2.
1.4.

Perbedaan saluran kemih laki-laki dan perempuan.

Fascia pelvis menebal membentuk lig. Puboprostaticum pada pria dan lig.
Pubovesicale pada wanita untuk menahan leher VU pada tempatnya.
URETHRA MASCULINA
Urethra pada pria memiliki panjang sekitar 20 cm (20-25cm). Selain berfungsi untuk
mengeluarkan urin, urethra masculine juga berfungsi untuk mengeluarkan cairan
semen. Urethra masculine terbagi atas 3 bagian , yakni :
1. Urethra pars prostatica
Urethrae melalui prostat, di bagian dorsal ostium urethrae internum ada
tonjolan disebtu uvula vesicae yang akan melanjutkab diri ke dinding dorsal
pars prostatica sebagai crista urethralis. Kemudian sebagai colliculus
seminalis yang disebelah kan kirinya terdapat sinus prostaticus.
Panjang sekitar 3 cm.
Pada colliculus seminalis di linea mediana bermuara utriculus prostaticus,
yaitu suatu saluran pendek, pada ujung lain buntu.
Paramedian agak ke proximal muara utriculus prostaticus bermuara ductus
ejaculatorius.
2. Urethra pars membranacea
Urethra pars membranosa merupakan bagian urethra yang paling pendek (1-2cm) dan
juga paling sempit dan melalui trigonum urogenitalis.
Didepan VU ada rongga yang dibentuk oleh symphisis pubis (depan), lateral ramus
inferior os pubis disebut spatium prae vesicale = spatium retopubicum ( Retzii )
3. Urethra pars spongiosa
Berjalan di dalam corpus cavernosum urethrae ( corpus spongiosum penis ), dimulai
dari fossa intrabulbaris sampai dengan pelebaran urethrae disebut fossa terminalis (
fossa navicularis urethrae ).
Ikut membentuk penis, dipangkal bagiam urethrae ada yang melebar disebut bulbus
urethrae.
Kelenjar yang terlentak paraurethral ada yang bermuara langsung di samping ostium
urethrae externem, dinekal lacuna magna (besar) terletak di dinding dorsal fossa
terminalis
Urethra masculine divaskularisasi oleh cabang dari a. vesicalis inferior, a. rectalis media, dan
a. urethralis. Urethra masculine mendapatkan persarafan dari n.pudendus dan plexus
prostaticus.
URETHRA FEMININA

Urethra pada wanita hanya berukuran 3,75 - 5cm, berbentuk lurus dan mudah diregangkan.
Karena alasan ini pulalah yang menyebabkan wanita sering mengalami Infeksi Saluran
Kemih (ISK). Urethra akan berakhir pada Ostium Urethra Externum pada vestibulum vagina.

GLANDULA PROSTATA

Def

:
bag
sistem
reproduksi
mengelilingi

pria
yg
urethra.
Mengeluarkan semen yg membawa sperma.
Ukuran : sebesar buah kenari.
Bentuk : ovoid, ujung caudal dis : Apex prostata, bersandar pd serabut-2 medial
M.Levator ani M.Levator Prostata
Permukaan cranialnya Basis prostat, dinding prostatnya merupakan lanjutan dari
dinding Collum vesicae tanpa batas yang jelas.
Bagian ventral prostat, difiksasi oleh Lig.pubo prostatica mediale.
Permukaan dorsal disentuh oleh Vasa deferentia dan vesiculae seminalis dan terpisah
dari membrana prostaticoperitoneale (DENONVILLLIER) dan fascia rectalis.
Pada prostat dewasa, masih dapat dibedakan lobus lateralis kanan dan kiri yang
menonjol yang saling dihub.oleh jar.musculo fibrous Ismus.
Biasanya pada prostat, di daerah uvula pada bibir posterior collum vesicae terjadi
pembesaran prostat yg oleh para klinisi dianggap sbg : Hipertrofi median lobe.
Vaskularisasi : Aa. Vesicales inferior.
LOBUS PROSTAT

Lobus anterior :
- terletak didepan Urethra pars prostatica
- unsur kelenjar tidak berkembang
- embryologi : berasal dari dinding depan
- urethra pars prostatica.
Lobus lateral :
- paling berkembang Benign prostat Hyperplasia
- terletak sebelah lateral dari Urethra pars prostatica
Lobus medius :
- sinonim : Lobus medianus
- berkembang dari dinding posterior Urethra pars prostatica

- terletak diatas Ductus ejakulatorius


- sering menjadi BPH
Lobus posterior :
- berkembang dari dinding dorsal urethra
- lobus posterior ini yang teraba pada rectal toucher Ca.prostata.
- bagian prostat yg berhadapan dgn rectum
- terletak dibawah muara Ductus ejakulatorius.
2.

Memahami dan menjelaskan Fisiologi berkemih

REFLEKS BERKEMIH
Miksi atau berkemih, proses pengosongan kandung kemih, diatur oleh dua
mekanisme: refleks berkemih dan kontrol volunter. Refleks berkemih terpicu ketika
reseptor regang di dalam dinding kandung kemih terangsang. Kandung kemih pada
orang dewasa dapat menampung hingga 250 400 ml urin sebelum tegangan di dindingnya
mulai cukup meningkat untuk mengaktifkan reseptor regang. Semakin besar tegangan
melebihi ukuran ini, semakin besar tingkat pengaktifan reseptor, Serat serat aferen dari
reseptor regang membawa impuls ke medula spinalis dan akhirnya, melalui antarneuron,
merangsang saraf parasimpatis untuk kandung kemih dan menghambat neuron
motorik ke sfingter eksternus. Stimulasi saraf parasimpatis kandung kemih
menyebabkan organ ini berkontraksi. Perubahan bentuk kandung kemih selama kontraski
akan secara mekanis menarik terbuka sfingter internus. Secara bersamaan, sfingter
eksternus melemas karena neuron neuron motoriknya dihambat. Kini kedua sfingter
terbuka dan neuron-neuron terbuka dan urin terdorong melalui uretra oleh gaya yang
ditimbulkan oleh kontraksi kandung kemih.
KONTROL VOLUNTER BERKEMIH
Selain memicu refleks berkemih, pengisian kandung kemih juga mengakibatkan
keinginan untuk berkemih. Jika waktu refleks miksi tersebut dimulai kurang sesuai untuk
berkemih, maka yang bersangkutan dapat dengan sengaja mencegah pengosongan
kandung kemih dengan mengencangkan sfingter eksternus dan diafragma pelvis.
Impuls eksiratorik volunter dari korteks serebri mengalahkan sinyal inhibitorik refleks
dari reseptor regang ke neuron neuron motorik yang terlibat ( keseimbangan relatif PPE dan
PPI ) sehingga otot otot ini tetap berkontraksi dan tidak ada urin yang keluar.
Berkemih tidak dapat ditahan selamanya. Karena kandung kemih terus terisi maka
sinyal refleks dari reseptor regang meningkat seiring waktu. Akhirnya, sinyal inhibitorik
refleks neuron motorik sfingter eksternus menjadi sedemikian kuat sehingga tidak lagi
dapat diatasi oleh sinyal eksiratorik volunter sehingga sfingter melemas dan kandung
kemih secara tak terkontrol mengosongkan isinya.
Berkemih juga dapat dengan sengaja dimulai, meskipun kandung kemih tidak
teregang, dengan secara sengaja melemaskan sfingter eksternus dan diafragma pelvis.
Turunnya dasar panggul memnungkinkan kandung kemih turun, yang secara simultan
menarik terbuka sfingter uretra internus dan meregangkan dinding kandung kemih.
Pengaktifan reseptor regang yang kemudian terjadi akan menyebabkan kontraksi
kandung kemih melalui refleks berkemih. Pengosongan kandung kemih secara sengaja
dapat dibantu oleh kontraksi dinding abdomen dan diafragma pernapasan. Peningkatan
tekana intraabdomen yang ditimbulkan menekan kandung kemih ke bawah untuk
mempermudah pengosongan.

3.

Memahami dan menjelaskan Infeksi Saluran Kemih Bawah ( Cytitis )


3.1.

Definisi

Infeksi saluran kemih adalah suatu infeksi yang melibatkan ginjal, ureter, buli-buli,
ataupun uretra. Infeksi saluran kemih (ISK) adalah istilah umum yang menunjukkan
keberadaan mikroorganisme (MO) dalam urin (Sukandar, E., 2004). Bakteriuria bermakna
(significant bacteriuria): bakteriuria bermakna menunjukkan pertumbuhan mikroorganisme
murni lebih dari 105 colony forming unit (cfu/ml) pada biakan urin. Bakteriuria bermakna
mungkin tanpa disertai presentasi klinis ISK dinamakan bakteriuria asimtomatik (convert
bacteriuria). Sebaliknya bakteriuria bermakna disertai persentasi klinis ISK dinamakan
bakteriuria bermakna asimtomatik. Pada beberapa keadaan pasien dengan persentasi klinis
tanpa bekteriuria bermakna. Piuria bermakna (significant pyuria), bila ditemukan netrofil >10
per lapangan pandang. (Sukandar, E., 2004)
3.2.

Klasifikasi

Infeksi dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi infeksi di dalam saluran kemih.


Akan tetapi karena adanya hubungan satu lokasi dengan lokasi lain sering didapatkan bakteri
di dua lokasi yang berbeda. Klasifikasi diagnosis Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria
yang dimodifikasikan dari panduan EAU (European Association of Urology) dan IDSA
(Infectious Disease Society of America) terbagi kepada ISK non komplikata akut pada wanita,
pielonefritis non komplikata akut, ISK komplikata, bakteriuri asimtomatik, ISK rekurens,
uretritis dan urosepsis (Naber KG et al). Pielonefritis akut (PNA) adalah proses inflamasi
parenkim ginjal yang disebabkan infeksi bakteri. Pielonefritis kronis (PNK) mungkin akibat
lanjut dari infeksi bakteri berkepanjangan atau infeksi sejak masa kecil. Obstruksi saluran

kemih dan refluks vesikoureter dengan atau tanpa bakteriuria kronik sering diikuti
pembentukan jaringan ikat parenkim ginjal yang ditandai pielonifritis kronik yang spesifik.
(Sukandar, E., 2004)
Selain itu, ISK juga dinyatakan sebagai ISK uncomplicated (simple) dan ISK
complicated. ISK simple adalah infeksi yang terjadi pada insan sehat dan tidak menyebar ke
tempat tubuh yang lain. ISK simple ini biasanya sembuh sempurna sesuai dengan pemberian
obat. Sementara ISK complicated adalah infeksi yang disebabkan oleh kelainan anatomis
pada seluran kemih, menyebar ke bagian tubuh yang lain, bertambah berat dengan underlying
disease, ataupun bersifat resisten terhadap pengobatan. Berbanding dengan yang simple, ISK
complicated lebih sukar diobati.
Tipe Infeksi Saluran Kemih, antara lain:
1. Infeksi Saluran Kemih Bawah (sistitis, uretritis dan prostatitis)
2. Infeksi saluran kemih atas (Ureteritis, Pyelonefritis)
Uretritis:
Merupakan suatu inflamasi pada uretra, kuman penyebab tersering adalah kuman gonorrhoe
atau kuman lainnya yang biasanya terjadi karena infeksi asending.
Sistitis dan prostatitis
Cystitis adalah inflamasi kandung kemih yang paling sering disebabkan oleh infeksi asenden
dari uretra. Penyebab lainnya mungkin aliran balik urine dari uretra kedalam kandung kemih.
Konta-minasi fekal atau penggunaan kateter atau sistoskop. Prostatitis adalah infeksi bagian
prostat dan vesika urinaria pada pria.
Ureteritis
Suatu peradangan pada ureter. Penyebab Adanya infeksi pada ginjal maupun kandung kemih.
Pyelonefritis
Inflamasi pada pelvis ginjal dan parenkim ginjal yang disebabkan karena adanya infeksi oleh
bakteri. Infeksi bakteri pada jaringan ginjal yang dimulai dari saluran kemih bagian bawah
terus naik ke ginjal. Infeksi ini dapat mengenai parenkim maupun renal pelvis (pyelum =
piala ginjal) dan bakteri menyebar melalui limfatik.
Pielonefritis dapat bersifat akut atau kronik. Pielonefritis akut biasanya terjadi akibat infeksi
kandung kemih asendens. Pielonefritis akut juga dapat terjadi melalui infeksi hematogen.
Pielonefritis kronik dapat terjadi akibat infeksi berulang, dan biasanya dijumpai pada individu
yang mengidap batu, obstruksi lain, atau refluks vesikoureter. Pada pielonefritis kronik,
terjadi pembentukan jaringan parut dan obstruksi tubulus yang luas. Kemampuan ginjal untuk
memekat-kan urin menurun karena rusaknya tubulus-tubulus. Glomerulus biasanya tidak
terkena, hal ini dapat menimbulkan gagal ginjal kronik.
Klasifikasi pada lansia:

1. ISK uncomplicated (simple)


ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing tak baik, anatomic
maupun fungsional normal. ISK ini pada usia lanjut terutama mengenai penderita
wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih.
2. ISK complicated
Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit
diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotika,
sering terjadi bakterimia, sepsis dan shock. ISK complicated terjadi bila terdapat
kondisi-kondisi sebagi berikut:

Kelainan abnormal saluran kencing,

Kelainan faal ginjal: GGA maupun GGK.

Gangguan daya tahan tubuh

Infeksi akibat organisme virulen sperti prosteus spp yang memproduksi urease.
3.3.

Etiologi

Bakteri infeksi saluran kemih dapat disebabkan oleh bakteri-bakteri di bawah ini :
A. Kelompok anterobacteriaceae seperti : Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae,
Enterobacter aerogenes, Proteus Providencia, Citrobacter
B. Pseudomonas aeruginosa
C. Acinetobacter
D. Enterokokus faecalis
E. Stafilokokus sarophyticus
Pada keadaan normal urin adalah steril. Umumnya ISK disebabkan oleh kuman gram
negatif. Escherichia coli merupakan penyebab terbanyak baik pada yang simtomatik
maupun yang asimtomatik yaitu 70 - 90%. Enterobakteria seperti Proteus mirabilis (30
% dari infeksi saluran kemih pada anak laki-laki tetapi kurang dari 5 % pada anak
perempuan ), Klebsiella pneumonia dan Pseudomonas aeruginosa dapat juga sebagai
penyebab. Organisme gram positif seperti Streptococcus faecalis (enterokokus),
Staphylococcus epidermidis dan Streptococcus viridans jarang ditemukan. Pada uropati
obstruktif dan kelainan struktur saluran kemih pada anak laki-laki sering ditemukan
Proteus species. Pada ISK nosokomial atau ISK kompleks lebih sering ditemukan kuman
Proteus dan Pseudomonas (Lumbanbatu, S.M., 2003).
Tabel 2.2: Famili, Genus dan Spesies mikroorganisme (MO) yang Paling Sering
Sebagai Penyebeb ISK (Sukandar, E., 2004)

Faktor resiko yang berpengaruh terhadap infeksi saluran kemih:

Panjang urethra. Wanita mempunyai urethra yang lebih pendek dibandingkan pria sehingga lebih mudah.
Faktor usia. Orang tua lebih mudah terkena dibanndingkan dengan usia yang lebih
muda.
Wanita hamil lebih mudah terkena oenyakit ini karena penaruh hormonal ketika
kehamilan yang menyebabkan perubahan pada fungsi ginjal dibandingkan sebelum
kehamilan.
Faktor hormonal seperti menopause. Wanitamenopause lebih rentan terkena karena
se-laput mukosa yang tergantung pada esterogen yang dapat berfungsi sebagai
pelindung.
Gangguan pada anatomi dan fisiologis urin. Sifat urin yang asam dapat menjadi
antibakteri alami tetapi apabila terjadi gangguan dapat menyebabkan menurunnya
pertahanan terhadap kontaminasi bakteri.
Penderita diabetes, orang yang menderita cedera korda spinalis, atau menggunakan
kateter dapat mengalami peningkatan resiko infeksi.
3.4.

Epidemiologi

ISK tergantung banyak faktor; seperti usia, gender, prevalensi bakteriuria, dan faktor
predisposisi yang menyebabkan perubahan struktur saluran kemih termasuk ginjal. Selama
periode usia beberapa bulan dan lebih dari 65 tahun perempuan cenderung menderita ISK
dibandingkan laki-laki. ISK berulang pada laki-laki jarang dilaporkan, kecuali disertai faktor
predisposisi (pencetus). Prevalensi bakteriuria asimtomatik lebih sering ditemukan pada
perempuan. Prevalensi selama periode sekolah (school girls) 1 % meningkat menjadi 5%
selama periode aktif secara seksual. Prevalensi infeksi asimtomatik meningkat mencapai
30%, baik laki-laki maupun perempuan bila disertai faktor predisposisi seperti berikut litiasis,
obstruksi saluran kemih, penyakit ginjal polikistik, nekrosis papilar, diabetes mellitus pasca

transplantasi ginjal, nefropati analgesik, penyakit sickle-cell, senggama, kehamilan dan


peserta KB dengan table progesterone, serta kateterisasi. (Sukandar, E., 2004)

Pada anak yang baru lahir hingga umur 1 tahun, dijumpai bakteriuria di 2,7% lelaki dan 0,7%
di perempuan (Wettergren, Jodal, and Jonasson, 1985). Insidens ISK pada lelaki yang tidak
disunat adalah lebih banyak berbanding dengan lelaki yang disunat (1,12% berbanding
0,11%) pada usia hidup 6 bulan pertama ( Wiswell and Roscelli, 1986). Pada anak berusia 1-5
tahun, insidens bakteriuria di perempuan bertambah menjadi 4.5%, sementara berkurang di
lelaki menjadi 0,5%. Kebanyakan ISK pada anak kurang dari 5 tahun adalah berasosiasi
dengan kelainan congenital pada saluran kemih, seperti vesicoureteral reflux atau
obstruction. Insidens bakteriuria menjadi relatif constant pada anak usia 6-15 tahun. Namun
infeksi pada anak golongan ini biasanya berasosiasi dengan kelainan fungsional pada saluran
kemih seperti dysfunction voiding. Menjelang remaja, insidens ISK bertambah secara
signifikan pada wanita muda mencapai 20%, sementara konstan pada lelaki muda. Sebanyak
sekitar 7 juta kasus cystitis akut yang didiagnosis pada wanita muda tiap tahun. Faktor risiko
yang utama yang berusia 16-35 tahun adalah berkaitan dengan hubungan seksual. Pada usia
lanjut, insidens ISK bertambah secara signifikan di wanita dan lelaki. Morbiditas dan
mortalitas ISK paling tinggi pada kumpulan usia yang <1 tahun dan >65 tahun. (Nguyen,
H.T., 2004).
3.5.

Patofisiologi dan patogenesis

Pathogenesis bakteriuria asimtomatik dengan presentasi klinis ISK tergantung dari


patogenitas dan status pasien sendiri (host).

A. Peran patogenisitas bakteri. Sejumlah flora saluran cerna termasuk Escherichia coli
diduga terkait dengan etiologi ISK. Patogenisitaas E.coli terkait dengan bagian
permukaan sel polisakarida dari lipopolisakarin (LPS). Hanya IG serotype dari 170
serotipe O/ E.coli yang berhasil diisolasi rutin dari pasien ISK klinis, diduga strain E.coli
ini mempunyai patogenisitas khusus (Sukandar, E., 2004).
B. Peran bacterial attachment of mucosa. Penelitian membuktikan bahwa fimbriae
merupakan satu pelengkap patogenesis yang mempunyai kemampuan untuk melekat pada
permukaan mukosa saluran kemih. Pada umumnya P fimbriae akan terikat pada P blood
group antigen yang terdpat pada sel epitel saluran kemih atas dan bawah (Sukandar, E.,
2004).
C. Peranan faktor virulensi lainnya. Sifat patogenisitas lain dari E.coli berhubungan
dengan toksin. Dikenal beberapa toksin seperti -hemolisin, cytotoxic necrotizing factor1(CNF-1), dan iron reuptake system (aerobactin dan enterobactin). Hampir 95% hemolisin terikat pada kromosom dan
berhubungan degan pathogenicity island (PAIS) dan hanya 5% terikat pada gen plasmio.
(Sukandar, E., 2004)
Virulensi bakteri ditandai dengan kemampuan untuk mengalami perubahan
bergantung pada dari respon faktor luar. Konsep variasi fase MO ini menunjukan ini
menunjukkan peranan beberapa penentu virulensi bervariasi di antara individu dan lokasi
saluran kemih. Oleh karena itu, ketahanan hidup bakteri berbeda dalam kandung kemih dan
ginjal. (Sukandar, E., 2004)
D. Peranan Faktor Tuan Rumah (host)
i. Faktor Predisposisi Pencetus ISK. Penelitian epidemiologi klinik mendukung
hipotensi peranan status saluran kemih merupakan faktor risiko atau pencetus ISK.
Jadi faktor bakteri dan status saluran kemih pasien mempunyai peranan penting
untuk kolonisasi bakteri pada saluran kemih. Kolonisasi bacteria sering mengalami

kambuh (eksasebasi) bila sudah terdapat kelainan struktur anatomi saluran kemih.
Dilatasi saluran kemih termasuk pelvis ginjal tanpa obstruksi saluran kemih dapat
menyebabkan gangguan proses klirens normal dan sangat peka terhadap infeksi.
Endotoksin (lipid A) dapat menghambat peristaltik ureter. Refluks vesikoureter ini
sifatnya sementara dan hilang sendiri bila mendapat terapi antibiotika. Proses
pembentukan jaringan parenkim ginjal sangat berat bila refluks visikoureter terjadi
sejak anak-anak. Pada usia dewasa muda tidak jarang dijumpai di klinik gagal ginjal
terminal (GGT) tipe kering, artinya tanpa edema dengan/tanpa hipertensi. (Sukandar,
E., 2004)
ii. Status Imunologi Pasien (host). Penelitian laboratorium mengungkapkan bahwa
golongan darah dan status sekretor mempunyai konstribusi untuk kepekaan terhadap
ISK. Pada tabel di bawah dapat dilihat beberapa faktor yang dapat meningkatkan
hubungan antara berbagai ISK (ISK rekuren) dan status secretor (sekresi antigen
darah yang larut dalam air dan beberapa kelas immunoglobulin) sudah lama
diketahui. Prevalensi ISK juga meningkat terkait dengan golongan darah AB, B dan
PI (antigen terhadap tipe fimbriae bakteri) dan dengan fenotipe golongan darah
Lewis. (Sukandar, E., 2004).
Table 2.3 Faktor-faktor yang meningkatkan kepekaan terhadap infeksi saluran kemih (UTI)
(Sukandar, E., 2004).

Kepekaan terhadap ISK rekuren dari kelompok pasien dengan saluran kemih normal (ISK
tipe sederhana) lebih besar pada kelompok antigen darah non-sekretorik dibandingkan
kelompok sekretorik. Penelitian lain melaporkan sekresi IgA urin meningkat dan diduga
mempunyai peranan penting untuk kepekaan terhadap ISK rekuren. (Sukandar, E., 2004)
Patofisiologi ISK
Pada individu normal, biasanya laki-laki maupun perempuan urin selalu steril karena
dipertahankan jumlah dan frekuensi kencing. Utero distal merupakan tempat kolonisasi
mikroorganisme nonpathogenic fastidious Gram-positive dan gram negative. (Sukandar, E.,
2004)
Hampir semua ISK disebabkan invasi mikroorganisme asending dari uretra ke dalam
kandung kemih. Pada beberapa pasien tertentu invasi mikroorganisme dapat mencapai ginjal.
Proses ini, dipermudah refluks vesikoureter. Proses invasi mikroorganisme hematogen sangat
jarang ditemukan di klinik, mungkit akibat lanjut dari bakteriema. Ginjal diduga merupakan

lokasi infeksi sebagai akibat lanjut septikemi atau endokarditis akibat Stafilokokus aureus.
Kelainan ginjal yang terkait dengan endokarditis (Stafilokkokus aureus) dikenal Nephritis
Lohein. Beberapa penelitian melaporkan pielonefritis akut (PNA) sebagai akibat lanjut invasi
hematogen. (Sukandar, E., 2004).
3.6.

Manifestasi klinis

a. ISK bawah (sistitis).


Presentasi klinis sistitis seperti sakit suprapubik, polakisuria (sering kencing),
nokturia, disuria, dan stranguria (keadaan dimana pasien merasakan nyeri sangat
hebat seperti ditusuk-tusuk pada akhir miksi dan kadang disertai hematuria).
b. ISK rekuren.
ISK rekuren terdiri 2 kelompok; yaitu:
1. Re-infeksi. Pada umumnya episode
mikroorganisme (MO) yang berlainan.

infeksi

dengan

interval

>6

minggu

2. Relapsing infection. Setiap kali infeksi disebabkan MO yang sama, disebabkan


sumber infeksi tidak mendapat terapi yang adekuat.
3.7.

Diagnosis dan diagnosis banding

1. Anamnesis

ISK bawah: frekuensi, disuria terminal, polakisuria, nyeri suprapubik.

2. Pemeriksaan fisis: febris, nyeri tekan suprapubik, nyeri ketok sudut kostovertebra.
3. Pemeriksaan penunjang:
Untuk pemeriksaan infeksi saluran kemih, digunakan urin segar (urin pagi). Urin pagi
adalah urin yang pertama diambil pada pagi hari setelah bangun tidur. Digunakan urin
pagi karena yang diperlukan adalah pemeriksaan pada sedimen dan protein dalam
urin. Sampel urin yang sudah diambil, harus segera diperiksa dalam waktu maksimal
2 jam. Apabila tidak segera diperiksa, maka sampel harus disimpan dalam lemari es
atau diberi pengawet seperti asam format.
Bahan untuk sampel urin dapat diambil dari:

Urin porsi tengah, sebelumnya genitalia eksterna dicuci dengan air sabun dan NaCl
0,9%.

Urin yang diambil dengan kateterisasi 1 kali.

Urin hasil aspirasi supra pubik.

Bahan yang dianjurkan adalah dari urin porsi tengah dan aspirasi supra pubik.

Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya adalah sebagai berikut:


1. Urinalisis
Leukosuria
Leukosuria atau piuria merupakan salah satu petunjuk penting terhadap dugaan ISK.
Di-nyatakan positif bila terdapat > 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sedimen air
kemih. Adanya leukosit silinder pada sediment urin menunjukkan adanya keterlibatan
ginjal. Namun adanya leukosuria tidak selalu menyatakan adanya ISK karena dapat
pula dijumpai pada inflamasi tanpa infeksi. Apabila didapat leukosituri yang
bermakna, perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan kultur.

Hematuria
Dipakai oleh beberapa peneliti sebagai petunjuk adanya ISK, yaitu bila dijumpai 5-10
eritrosit/LPB sedimen urin. Dapat juga disebabkan oleh berbagai keadaan patologis
baik berupa kerusakan glomerulus ataupun oleh sebab lain misalnya urolitiasis, tumor
ginjal, atau nekrosis papilaris.

2. Bakteriologis

Mikroskopis: Dapat digunakan urin segar tanpa diputar atau tanpa pewarnaan gram.
Di-nyatakan positif bila dijumpai 1 bakteri /lapangan pandang minyak emersi.

Biakan bakteri: Dimaksudkan untuk memastikan diagnosis ISK yaitu bila ditemukan
bakteri dalam jumlah bermakna sesuai dengan criteria Cattell, 1996:
Wanita, simtomatik: >102 organisme koliform/ml urin plus
piuria, atau 105 organisme pathogen apapun/ml urin, atau
adanya pertumbuhan organisme pathogen apapun pada urin
yang diambil dengan cara aspirasi suprapubik.
Laki-laki, simtomatik : >103 organisme patogen/ml urin

Pasien asimtomatik: 105 organisme patogen/ml urin pada 2 contoh urin berurutan.

Pemeriksaan mikrobiologi
Cara Pengambilan Sampel
Bahan urin untuk pemeriksaaan harus segar dan sebaiknya diambil pagi hari. Bahan urin
dapat diambil dengan cara punksi suprapubic, dari kateter dan urin porsi tengah (midstream
urine). Bahan urin yang paling mudah diperoleh adalah urin porsi tengah yang ditampung
dalam wadah bermulut lebar dan steril.

Punksi Suprapubik

Pengambilan urin dengan punksi suprapubik dilakukan pengambilan urin langsung dari
kandung kemih melalui kulit dan dinding perut dengan semprit dan jarum steril. Yang penting
pada punksi suprapubik ini adalah tindakan antisepsis yang baik pada daerah yang akan
ditusuk, anestesi lokal pada daerah yang akan ditusuk dan keadaan asepsis harus selalu
dijaga.

Kateter

Bahan urin dapat diambil dari kateter dengan jarum dan semprit yang steril. Pada cara ini
juga penting tindakan antisepsis pada daerah kateter yang akan ditusuk dan keadaan asepsis
harus elalu dijaga. Tempat penusukan kateter sebaiknya sedekat mungkin dengan ujung
kateter yang berada di dalam kandung kemih (ujung distal). Penilaian urin yang diperoleh
dari kateter sama dengan hasil biakan urin yang diperoleh dari punksi suprapubic.

Urin Porsi Tengah

Resiko kontaminasi akibat kesalahan pengambilan cukup besar. Tidak boleh menggunakan
anti-septik untuk persiapan pasien karena dapat mengkontaminasi sampel dan menyebabkan
kultur false-negative.
Setelah diperoleh biakan urin, maka dilakukan interpretasi. Pada biakan urin dinilai jenis
mikro-organisme, kuantitas koloni (dalam satuan CFU), serta tes sensitivitas terhadap
antimikroba (dalam satuan millimeter luas zona hambatan). Pada uretra bagian distal, daerah
perianal, rambut ke-maluan, dan sekitar vagina adalah habitat flora normal seperti
laktobasilus, dan streptokokus epidermis. Untuk membedakan infeksi saluran kemih yang
sebenarnya dengan mikroorganisme kontaminan tersebut, maka hal yang sangat penting
adalah jumlah CFU. Sering terdapat kesulitan dalam mengumpulkan sampel urin yang murni
tanpa kontaminasi dan kerap kali terdapat bakteriuria bermakna tanpa gejala, yang menyulitkan penegakkan diagnosis infeksi saluran kemih. Berdasarkan jumlah CFU, maka interpretasi
dari biakan urin adalah sebagai berikut:
a. Pada hitung koloni dari bahan porsi tengah urin dan dari urin kateterisasi.

Bila terdapat > 105 CFU/ml urin porsi tengah disebut dengan bakteriuria bermakna.

Bila terdapat > 105 CFU/ml urin porsi tengah tanpa gejala klinis disebut bakteriuria asimtomatik.

Bila terdapat mikroba 102 103 CFU/ml urin kateter pada wanita muda
asimtomatik yang disertai dengan piuria disebut infeksi saluran kemih.

b. Hitung koloni dari bahan aspirasi supra pubik.


Berapapun jumlah CFU pada pembiakan urin hasil aspirasi supra pubik adalah infeksi
saluran kemih. Interpretasi praktis biakan urin oleh Marsh tahun 1976, ialah sebagai
berikut:
Kriteria praktis diagnosis bakteriuria. Hitung bakteri positif bila didapatkan:

>100.000 CFU/ml urin dari 2 biakan urin porsi tengah yang dilakukan seara berturut
turut.

>100.000 CFU/ml urin dari 1 biakan urin porsi tengah dengan leukosit > 10/ml urin
segar.

> 100.000 CFU/ml urin dari 1 biakan urin porsi tengah disertai gejala klinis infeksi
saluran kemih.

> 10.000 CFU/ml urin kateter.

Berapapun CFU dari urin aspirasi suprapubik.

Cara biakan yang tidak tepat:

Media tertentu yang bersifat selektif dan menginhibisi.

Infeksi E. coli (tergantung strain), baketri anaerob, bentuk K, dan basil tahan asam.

Jumlah koloni mikroba berkurang karena bertumpuk.


3. Tes kimiawi
Tes ini dimaksudkan sebagai penyaring adanya bakteri dalam urin. Contoh, tes
reduksi griess nitrate, untuk mendeteksi bakteri gram negatif. Batasan: ditemukan
lebih 100.000 bakteri. Tingkat kepekaannya mencapai 90 % dengan spesifisitas 99%.

4. Tes Dip slide (tes plat-celup)


Lempeng plastik bertangkai dimana kedua sisi permukaannya dilapisi perbenihan
padat khusus dicelupkan ke dalam urin pasien. Setelah itu lempeng dimasukkan
kembali ke dalam tabung plastik tempat penyimpanan semula, lalu dilakukan
pengeraman semalaman pada suhu 37 C. Penentuan jumlah kuman/ml dilakukan
dengan membandingkan pola pertumbuhan pada lempeng perbenihan dengan
serangkaian gambar yang memperlihatkan keadaan kepadatan koloni yang sesuai
dengan jumlah kuman antara 1000 dan 10.000.000 dalam tiap ml urin. Cara ini mudah
dilakukan, murah dan cukup akurat. Tetapi jenis kuman dan kepekaannya tidak dapat
diketahui.
5. Pemeriksaan penunjang lain
Meliputi: radiologis (rontgen), IVP (pielografi intra vena), USG dan Scanning.
Pemeriksa-an penunjang ini dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya batu atau
kelainan lainnya.
Diagnosis banding:
Infeksi atau iritasi pada periuretra atau vagina, sistitis non bakterial, obstruksi saluran kemih.
3.8.

Tatalaksana

Antibiotika yang digunakan untuk pengobatan infeksi saluran kemih terbagi dua, yaitu
antibiotika oral dan parenteral.
1. Antibiotika Oral
a. Sulfonamida
Antibiotika ini digunakan untuk mengobati infeksi pertama kali. Sulfonamida umumnya
diganti dengan antibiotika yang lebih aktif karena sifat resistensinya. Keuntungan dari

sulfonamide adalah obat ini harganya murah.Sulfonamid dapat berinteraksi dengan antikoagulan oral, antidiabetik sulfonylurea dan fenitoin.
b. Trimetoprim-sulfametoksazol
Kombinasi dari obat ini memiliki efektivitas tinggi dalam melawan bakteri aerob, kecuali
Pseudomonas aeruginosa. Obat ini penting untuk mengobati infeksi dengan komplikasi,
juga efektif sebagai profilaksis pada infeksi berulang. Dosis obat ini adalah 160 mg dan
interval pemberiannya tiap 12 jam.Waktu protrombin memanjang pada pasien yang
menerima warfarin pernah dilaporkan. Waktu paruh plasma fenitoin dapat meningkat
akibat hambatan terhadap metabolismenya. Kadar metotreksat mungkin meningkat
karena pemindahan dari tempat ikatan albumin oleh sulfametoksazol.
c. Penicillin

Ampicillin adalah penicillin standar yang memiliki aktivitas spektrum luas, termasuk
terhadap bakteri penyebab infeksi saluran urin. Dosis ampicillin 1000 mg dan interval
pemberiannya tiap 6 jam.

Amoxsicillin terabsorbsi lebih baik, tetapi memiliki sedikit efek samping.


Amoxsicillin dikombinasikan dengan clavulanat lebih disukai untuk mengatasi
masalah resistensi bakteri. Dosis amoxsicillin 500 mg dan interval pemberiannya tiap
8 jam.

d. Cephaloporin
Cephalosporin tidak memiliki keuntungan utama dibanding dengan antibiotika lain yang
digunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih, selain itu obat ini juga lebih mahal.
Cephalosporin umumnya digunakan pada kasus resisten terhadap amoxsicillin dan
trimetoprim-sulfametoksazol.
SefalosporinKolistin menaikkan kerusakan ginjal.
Sefalosporinantikoagulan oral Sefalosporin menunjukkan waktu protrombin dengan
demikian mempotensiasi kerja obat anti koagulan oral.

SefalosporinprobenesidProbenesid mengurangi bersihan ginjal dari sefalosidin dan


sefalotin, menyebabkan kenaikan tingkat plasma dari antibiotik tersebut; kombinasi
dengan sefalosporin akan menaikkan ekskresi antibiotik melalui empedu.
e. Tetrasiklin
Antibiotika ini efektif untuk mengobati infeksi saluran kemih tahap awal. Sifat resistensi
tetap ada dan penggunannya perlu dipantau dengan tes sensitivitas. Antibotika ini
umumnya di-gunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh
chlamydial.Tetrasiklin membentuk kompleks khelat dengan ion-ion kalsium, magnesium,
besi dan aluminium. Pengobatan dengan tetrasiklin jangan dikombinasikan dengan
penisilin atau sefalosporin. Karbamazepin dan fenitoin: menurunkan efektifitas tetrasiklin
secara oral.
f. Quinolon
Asam nalidixic, asam oxalinic, dan cinoxacin efektif digunakan untuk mengobati infeksi
tahap awal yang disebabkan oleh bakteri E. coli dan Enterobacteriaceae lain, tetapi tidak
terhadap Pseudomonas aeruginosa. Ciprofloxacin dan ofloxacin diindikasikan untuk
terapi sistemik. Dosis untuk ciprofloxacin sebesar 50 mg dan interval pemberiannya tiap
12 jam. Dosis ofloxacin sebesar 200-300 mg dan interval pemberiannya tiap 12
jam.Enoksasin menghambat metabolisme Teofilin dan dapat menyebabkan peningkatan
kadar Teofilin.
g. Nitrofurantoin
Antibiotika ini efektif sebagai agen terapi dan profilaksis pada pasien infeksi saluran
kemih berulang. Keuntungan utamanya adalah hilangnya resistensi walaupun dalam
terapi jangka panjang.
h. Azithromycin
Berguna pada terapi dosis tunggal yang disebabkan oleh infeksi chlamydial.
i. Methanamin Hippurat dan Methanamin Mandalat
Antibiotika ini digunakan untuk terapi profilaksis dan supresif diantara tahap infeksi.
2. Antibiotika Parenteral.
a. Amynoglycosida
Gentamicin dan Tobramicin mempunyai efektivitas yang sama, tetapi gentamicin sedikit
lebih mahal. Tobramicin mempunyai aktivitas lebih besar terhadap pseudomonas memilki
peranan penting dalam pengobatan onfeksi sistemik yang serius. Amikasin umumnya
digunakan untuk bakteri yang multiresisten. Dosis gentamicin sebesar 3-5 mg/kg berat
badan dengan interval pemberian tiap 24 jam dan 1 mg/kg berat badan dengan interval
pemberian tiap 8 jam.
b. Penicillin

Penicillin memilki spectrum luas dan lebih efektif untuk menobati infeksi akibat
Pseudomonas aeruginosa dan enterococci. Penicillin sering digunakan pada pasien yang
ginjalnya tidak sepasang atau ketika penggunaan amynoglycosida harus dihindari.
c. Cephalosporin
Cephalosporin generasi kedua dan ketiga memiliki aktivitas melawan bakteri gram
negative, tetapi tidak efektif melawan Pseudomonas aeruginosa. Cephalosporin
digunakan untuk mengobati infeksi nosokomial dan uropsesis karena infeksi pathogen.
d. Imipenem/silastatin
Obat ini memiliki spectrum yang sangat luas terhadap bakteri gram positif, negative, dan
bakteri anaerob. Obat ini aktif melawan infeksi yang disebabkan enterococci dan
Pseudomonas aeruginosa, tetapi banyak dihubungkan dengan infeksi lanjutan kandida.
Dosis obat ini sebesar 250-500 mg ddengan interval pemberian tiap 6-8 jam.
e. Aztreonam
Obat ini aktif melawan bakteri gram negative, termasuk Pseudomonas aeruginosa.
Umumnya digunakan pada infeksi nosokomial, ketika aminoglikosida dihindari, serta
pada pasien yang sensitive terhadap penicillin. Dosis aztreonam sebesar 1000 mg dengan
interval pemberian tiap 8-12 jam.
3.9.

Komplikasi

Komplikasi ISK tergantung dari tipe yaitu ISK tipe sederhana dan tipe berkomplikasi.
1. ISK sederhana. ISK akut tipe sederhana (sistitis) yaitu non-obstruksi dan bukan
perempuan hamil merupakan penyakit ringan dan tidak menyebabkan akibat lanjut
jangka lama.
2. ISK tipe berkomplikasi

ISK selama kehamilan. ISK selama kehamilan dari umur kehamilan.

ISK pada diebetes melitus. Penelitian epidemiologi klinik melaporkan bakteriuria dan
ISK lebih sering ditemukan pada DM dibandingkan dengan perempuan tanpa DM.
Basiluria asimtomatik (BAS) merupakan resiko untuk pielonefritis diikuti penurunan
laju filtrasi glomerulus. Komplikasi emphysematous cystitis, pielonefritis yang terkait
spesies kandida dan infeksi gram-negatif lainnya dapat dijumpai pada DM.
Pielonefritis emfisematosa disebabkan MO pembentuk gas seperti E. coli, Candida sp,
dan Klostridium tidak jarang dijumpai pada DM. pembentukan gas sangat intensif
pada parenkim ginjal dan jaringan nekrosis disertai hematom yang luas. Pielonefritis
emfisematosa sering disertai syok septik dan nefropati akut vasomotor (AVH).

Abses perinefrik merupakan komplikasi ISK pada pasien dengan DM (47%),


nefrotiliasis (41%) dan obstruksi ureter (20%).
3.10.

Prognosis

ISK bawah akut (sistitis akut): Prognosis pada ISK bawah akut dapat sembuh
sempurna, kecuali bila terdapat faktor-faktor predisposisi yang lolos dari pengamatan.

ISK bawah kronis (sistitis kronis): Prognosis pada ISK bawah kronis baik bila
diberikan antibiotik yang intensif dan tepat, faktor predisposisi mudah dikenal dan
diberantas.

ISK atas akut (pielonefritis akut): Prognosis pielonefritis baik bila memperlihatkan
penyebuhan klinis maupun bakteriologis terhadap antibiotik.

ISK atas kronis (pielonefritis kronis): Bila diagnosis pielonefritis kronis terlambat dan
kedua ginjal telah menyusut pengobatan konserfatif semata-mata untuk mempertahankan faal jaringan ginjal yang masih utuh
3.11.

Pencegahan

1. Menjaga dengan baik kebersihan sekitar organ intim dan saluran kemih.
2. Bagi perempuan, membersihkan organ intim dengan sabun khusus yang memiliki pH
balanced (seimbang) sebab membersihkan dengan air saja tidak cukup bersih.
3. Pilih toilet umum dengan toilet jongkok. Sebab toilet jongkok tidak menyentuh
langsung permukaan toilet dan lebih higienis. Jika terpaksa menggunakan toilet
duduk, sebelum menggunakannya sebaiknya bersihkan dahulu pinggiran atau
dudukan toilet. Toilet-toilet umum yang baik biasanya sudah menyediakan tisu dan
cairan pembersih dudukan toilet.
4. Jangan membersihkan organ intim di toilet umum dari air yang ditampung di bak
mandi atau ember. Pakailah shower atau keran.
5. Gunakan pakaian dalam dari bahan katun yang menyerap keringat agar tidak lembab.
4.

Memahami dan menjelaskan pandangan islam terhadap rukhsah dalam


beribadah

Menurut mazhab Syafi'i, salisul-baul adalah sesuatu yang keluar secara kontinyu yang
diwajibkan kepada orang yang mengalaminya untuk menjaga dan memakaikan kain atau
sesuatu yang lain seperti pembalut pada tempat keluarnya yang bisa menjaga agar air kencing
tersebut tidak jatuh ke tempat shalat.
"Ubad bin Basyar menderita penyakit mencret dan dia tetap melanjutkan shalatnya (dalam
keadaan mencret tersebut)."

Dari hadis tersebut bisa disimpulkan bahwa seseorang yang mempunyai penyakit mencret,
keluar kentut/air kencing secara kontinyu tidak memiliki kewajiban untuk mengulang-ulang
wudhunya, namun tetap meneruskan shalat dalam keadaan tersebut. Ada beberapa syarat
yang harus dipenuhi agar ibadah tertentu diperbolehkan dalam keadaan salisul-baul:
1. Sebelum melakukan wudhu harus didahului dengan istinja'
2. Ada kontinyuitas antara istinja' dengan memakaikan kain atau pembalut dan
semacamnya, dan adanya kontinyuitas antara memakaikan kain pada tempat keluar
hadas tersebut dengan wudhu.
3. Ada kontinyuitas antara amalan-amalan dalam wudhu (rukun dan sunnahnya).
4. Ada kontinyuitas antara wudhu dan shalat, yaitu segera melaksanakan shalat seusai
wudhu dan tidak melakukan pekerjaan lain selain shalat. Adapun jika seseorang
berwudhu di rumah dan pergi ke mesjid tidak menjadi masalah dan tidak
menggugurkan syarat keempat.
5. Keempat syarat diatas dipenuhi ketika memasuki waktu shalat. Maka, jika
melakukannya sebelum masuk waktu shalat maka batal, dan harus mengulang lagi
diwaktu shalat.
6. Apabila telah terpenuhi kelima syarat ini maka jika seseorang berwudhu
kemudiankeluar air kencing atau kentut dan lainnya aka dia tidak mempunyai
kewajiban untukmelakukan istinja' dan berwudhu lagi. Namun cukup dengan wudhu
yang telah ia lakukan di awal.
Seseorang yang memiliki penyakit seperti salisul-baul tersebut hanya diperbolehkan
melakukan ibadah shalat fardhu sekali saja, adapun shalat sunnah bisa dikerjakan seberapa
kali pun.
http://mutafaqqih.blogspot.com/2010/02/keluar-air-kencing-secara-kontinyu.html