Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN TUMOR OTAK DENGAN


MENINGIOMA TUBERKULUM SELLA
DI RUANG CENDANA 3 RSUP DR SARDJITO YOGYAKARTA

Disusun oleh:
Anisa Nuri Kurniasari
15/390621/KU/18342

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016
KONSEP DASAR MEDIS TUMOR OTAK

A. DEFINISI
Tumor otak adalah lesi intra kranial yang menempati ruang dalam tulang
tengkorak. Tumor otak adalah suatu lesi ekspansif yang bersifat jinak
(benigna) ataupun ganas (maligna) membentuk massa dalam ruang
tengkorak kepala (intra cranial) atau di sumsum tulang belakang (medulla
spinalis). Neoplasma pada jaringan otak dan selaputnya dapat berupa tumor
primer maupun metastase. Apabila sel-sel tumor berasal dari jaringan otak
itu sendiri disebut tumor otak primer dan bila berasal dari organ-organ lain
(metastase) seperti kanker paru, payudara, prostate, ginjal, dan lain-lain
disebut tumor otak sekunder.

B. KLASIFIKASI TUMOR OTAK


Berdasarkan jenis tumor
a. Jinak
1. Acoustic neuroma
2. Meningioma
Sebagian besar tumor

bersifat

jinak,

berkapsul,

dan

tidak

menginfiltrasi jaringan sekitarnya tetapi menekan struktur yang berada di


bawahnya. Pasien usia tua sering terkena dan perempuan lebih sering
terkena dari pada laki-laki. Tumor ini sering kali memiliki banyak
pembuluh darah sehingga mampu menyerap isotop radioaktif saat
dilakukan pemeriksaan CT scan otak.
3. Pituitary adenoma
4. Astrocytoma (grade I)
b. Malignant
1. Astrocytoma (grade 2,3,4)
2. Oligodendroglioma
Tumor ini dapat timbul sebagai gangguan kejang parsial yang dapat
muncul hingga 10 tahun. Secara klinis bersifat agresif dan menyebabkan
simptomatologi bermakna akibat peningkatan tekanan intrakranial dan
merupakan keganasan pada manusia yang paling bersifat kemosensitif.
3. Apendymoma
Tumor ganas yang jarang terjadi dan berasal dari hubungan erat pada
ependim yang menutup ventrikel. Pada fosa posterior paling sering terjadi
tetapi dapat terjadi di setiap bagian fosa ventrikularis. Tumor ini lebih
sering terjadi pada anak-anak daripada dewasa. Dua faktor utama yang
mempengaruhi keberhasilan reseksi tumor dan kemampuan bertahan hidup
jangka panjang adalah usia dan letak anatomi tumor. Makin muda usia
pasien maka makin buruk progmosisnya.
Berdasarkan lokasi
1. Tumor supratentorial
Hemisfer otak, terbagi lagi :

a. Glioma :
Glioblastoma multiforme
Tumor ini dapat timbul dimana saja tetapi paling sering terjadi di hemisfer

otak dan sering menyebar kesisi kontra lateral melalui korpus kolosum.
Astroscytoma
Oligodendroglioma
Merupakan lesi yang tumbuh lambat menyerupai astrositoma tetapi terdiri
dari sel-sel oligodendroglia. Tumor relative avaskuler dan cenderung
mengalami klasifikasi biasanya dijumpai pada hemisfer otak orang dewasa

muda.
b. Meningioma
Tumor ini umumnya berbentuk bulat atau oval dengan perlekatan
duramater yang lebar (broad base) berbatas tegas karena adanya
psedokapsul dari membran araknoid. Pada kompartemen supratentorium
tumbuh sekitar 90%, terletak dekat dengan tulang dan kadang disertai
reaksi tulang berupa hiperostosis. Karena merupakan massa ekstraaksial
lokasi meningioma disebut sesuai dengan tempat perlekatannya pada
duramater, seperti Falk (25%), Sphenoid ridge (20%), Konveksitas (20%),
Olfactory groove (10%), Tuberculum sellae (10%), Konveksitas
serebellum (5%), dan Cerebello-Pontine angle. Karena tumbuh lambat
defisit neurologik yang terjadi juga berkembang lambat (disebabkan oleh
pendesakan struktur otak di sekitar tumor atau letak timbulnya tumor).
Pada meningioma konveksitas 70% ada di regio frontalis dan
asimptomatik sampai berukuran besar sekali. Sedangkan di basis kranii
sekitar sella turcika (tuberkulum sellae, planum sphenoidalis, sisi medial
sphenoid ridge) tumor akan segera mendesak saraf optik dan menyebabkan
gangguan visus yang progresif.
2. Tumor infratentorial
a. Schwanoma akustikus
b. Tumor metastasisc
Lesi-lesi metastasis menyebabkan sekitar 5 % 10 % dari seluruh tumor
otak dan dapat berasal dari setiap tempat primer. Tumor primer paling
sering berasal dari paru-paru dan payudara. Namun neoplasma dari saluran
kemih kelamin, saluran cerna, tulang dan tiroid dapat juga bermetastasis ke
otak.

Meningioma
Meningioma merupakan tumor terpenting yang berasal dari meningen,

sel-sel mesotel, dan sel-sel jaringan penyambung araknoid dan dura.


Hemangioblastoma
Neoplasma yang terdiri dari unsur-unsur vaskuler embriologis yang
paling sering dijumpai dalam serebelum.

KONSEP DASAR MEDIS MENINGIOMA TUBERKULUM SELLA


A. KARAKTERISTIK MENINGIOMA TUBERKULUM SELLA
Meningioma tuberkulum sella merupakan tumor supratentorial yang
bersifat jinak (benigna) yang terletak pada bagian durameter, melekat
pada tuberkulum sella. Meningioma tuberculum sellae ditunjukkan dengan
kehilangan penglihatan. Biasanya terjadi unilateral. Dengan gejala
progress yaitu kehilangan ketajaman dan gangguan lapangan pandang
bilateral, yang diakitkan dengan atropi nervus opticus.

Gambar 1. Letak meningioma tuberkulum sella pre-op dan post-op.

B. ETIOLOGI
Adapun faktor-faktor yang perlu ditinjau, yaitu:
a) Herediter
Pada meningioma, astrocytoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-anggota
sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat dianggap sebagai
manifestasi pertumbuhan baru memperlihatkan faktor familial yang jelas. Selain jenisjenis neoplasma tersebut tidak ada bukti-bukti yang kuat untuk memikirkan adanya
faktor-faktor hereditas yang kuat pada neoplasma.
b) Radiasi

Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami perubahan
degenerasi namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinya suatu glioma.
Meningioma pernah dilaporkan terjadi setelah timbulnya suatu radiasi.
c) Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar yang dilakukan
dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam proses terjadinya neoplasma
tetapi hingga saat ini belum ditemukan hubungan antara infeksi virus dengan
perkembangan tumor pada sistem saraf pusat.
d) Substansi-substansi karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan. Kini telah
diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik seperti methylcholanthrone, nitroso-ethylurea. Ini berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan.
e) Trauma Kepala
C. PATOFISIOLOGI
Seperti banyak kasus neoplasma lainnya, masih banyak hal yang belum
diketahui dari meningioma. Tumor otak yang tergolong jinak ini secara
histopatologis berasal dari sel pembungkus arakhnoid (arakhnoid cap cells) yang
mengalami granulasi dan perubahan bentuk. Patofisiologi terjadinya meningioma
sampai saat ini masih belum jelas. Kaskade eikosanoid diduga memainkan
peranan dalam tumorogenesis dan perkembangan edema peritumoral.

D. TANDA DAN GEJALA


Umum :
- Sakit kepala, dapat berat atau bertambah buruk saat beraktifitas atau pada pagi hari.
- Perubahan mental
- Kejang
- Mual muntah
- Perubahan visus, misalnya pandangan kabur.
Spesifik:

Pembengkakan diskus optikus


Masalah visus atau kehilangan ketajaman dan gangguan lapangan pandang bilateral.

E. PATHWAY

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIC
a. Foto polos

Hiperostosis adalah salahsatu gambaran mayor dari meningioma pada foto polos.
Diindikasikan untuk tumor pada mening. Tampak erosi tulang dan dekstruksi sinus
sphenoidales, kalsifikasi dan lesi litik pada tulang tengkorak. Pembesaran pembuluh
darah mening menggambarkan dilatasi arteri mening yang mensuplai darah ke tumor.
Kalsifikasi terdapat pada 20-25% kasus dapat bersifat fokal maupun difus.
b. CT-Scan
CT-scan kontras dan CT-scan tanpa kontras memperlihatkan paling banyak
meningioma. Tampak gambran isodense hingga hiperdense pada foto sebelum
kontras, dan gambaran peningkatan densitas yang homogeny pada foto kontras.
Tumor juga memberikan gambaran komponen cystic dan kalsifikasi pada beberapa
kasus. Udem peritumoral dapat terlihat dengan jelas. Perdarahan dan cairan
intratumoral sampai akumulasi cairan dapat terlihat. MRI merupakan pencitraan yang
sangat baik digunakan untuk mengevaluasi meningioma. MRI memperlihatkan lesi
berupa massa, dengan gejala tergantung pada lokasi tumor berada.
c. Angiografi
Umumnya meningioma merupakan tumor vascular. Dan dapat menimbulkan
gambaran spoke wheel appearance. Selanjutnya arteri dan kapiler memperlihatkan
gambaran vascular yang homogen dan prominen yang disebut dengan mother and law
phenomenon.
G. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan meningioma tergantung darilokasi dan ukuran tumor itu sendiri.
1. Operasi
Terapi meningioma masih menempatkan reseksi operatif sebagai pilihan pertama.
Beberapa faktor yang mempengaruhi operasi removal massa tumor ini antara lain
lokasi tumor, ukuran dan konsistensi, vaskularisasi dan pengaruh terhadap sel saraf,
dan pada kasus rekurensi, riwayat operasi sebelumnya dan atau radioterapi. Lebih
jauh lagi, rencana operasi dan tujuannya berubah berdasarkan faktor resiko, pola,
dan rekurensi tumor. Tindakan operasi tidak hanya mengangkat seluruh tumor tetapi
juga termasuk dura, jaringan lunak, dan tulang untuk menurunkan kejadian
rekurensi.
2. Rencana preoperatif
Pada pasien dengan meningioma supratentorial, pemberian antikonvulsan dapat
segera diberikan, deksametason diberikan dan dilindungi pemberian H2 antagonis
beberapa hari sebelum operasi dilaksanakan. Pemberian antibiotik perioperatif
digunakan sebagai profilaksis pada semua pasien untuk organisme stafilokokkus,
dan pemberian cephalosporin generasi III yang memiliki aktifitas terhadap

organisem pseudomonas, serta pemberian metronidazol (untuk organisme anaerob)


ditambahkan apabila operasi direncanakan dengan pendekatan melalui mulut, sinus
paranasal, telinga, atau mastoid.
Klasifikasi Simptom dari ukuran reseksi pada meningioma intracranial.
Grade I Reseksi total tumor, perlekatan dural dan tulang abnormal
Grade II Reseksi total tumor, koagulasi dari perlekatan dura
Grade III Reseksi total tumor, tanpa reseksi atau koagulasi dari perlekatan dura, atau
mungkin perluasan ekstradural ( misalnya sinus yang terserang atau tulang yang
hiperostotik)
Grade IV Reseksi parsial tumor
Grade V Dekompresi sederhana (biopsy)
3. Radioterapi
Penggunaan external beam irradiation pada meningioma semakin banyak dipakai
untuk terapi. External beam irradiation dengan 4500-6000 cGy dilaporkan efektif
untuk melanjutkan terapi operasi meningioma reseksi subtotal, kasus-kasus
rekurensi baik yang didahului dengan operasi sebelumnya ataupun tidak. Pada kasus
meningioma yang tidak dapat dioperasi karena lokasi yang sulit, keadaan pasien
yang buruk, atau pada pasien yang menolak dilakukan operasi, external beam
irradiation masih belum menunjukkan keefektifitasannya. Teori terakhir menyatakan
terapi external beam irradiation tampaknya akan efektif pada kasus meningioma
yang agresif (atyppical, malignan), tetapi informasi yang mendukung teori ini belum
banyak dikemukakan. Efektifitas dosis yang lebih tinggi dari radioterapi harus
dengan pertimbangan komplikasi yang ditimbulkan terutama pada meningioma.
Saraf optikus sangat rentan mengalami kerusakan akibat radioterapi. Komplikasi lain
yang dapat ditimbulkan berupa insufisiensi pituitari ataupun nekrosis akibat
radioterapi.
4. Radiasi Stereotaktik
Terapi radiasi tumor menggunakan stereotaktik pertama kali diperkenalkan pada
tahun 1960an menggunakan alat Harvard proton beam. Setelah itu penggunaan
stereotaktik radioterapi ini semakin banyak dilakukan untuk meningioma. Sumber
energi yang digunakan didapat melalui teknik yang bervariasi, yang paling sering
digunakan adalah sinar foton yang berasal dari Co gamma (gamma knife) atau linear
accelerators (LINAC) dan partikel berat (proton, ion helium) dari cyclotrons. Semua
teknik radioterapi dengan stereotaktik ini dapat mengurangi komplikasi, terutama
pada lesi dengan diameter kurang dari 2,5 cm.
5. Kemoterapi
Modalitas kemoterapi dengan regimen antineoplasma masih belum banyak diketahui
efikasinya untuk terapi meningioma jinak maupun maligna. Kemoterapi sebagai

terapi ajuvan untuk rekuren meningioma atipikal atau jinak baru sedikit sekali
diaplikasikan pada pasien, tetapi terapi menggunakan regimen kemoterapi (baik
intravena atau intraarterial cis-platinum, decarbazine (DTIC) dan adriamycin)
menunjukkan hasil yang kurang memuaskan (DeMonte dan Yung), walaupun
regimen tersebut efektifitasnya sangat baik pada tumor jaringan lunak.
H. ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MENINGIOMA
Pengkajian :
1. Data klien : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, status perkawinan,
pendidikan, pekerjaan, golongan darah, penghasilan, alamat, penanggung jawab, dll
2. Riwayat kesehatan :
-

keluhan utama

Riwayat kesehatan sekarang

Riwayat Kesehatan lalu

Riwayat Kesehatan Keluarga

3. Pemeriksaan fisik :

Saraf : kejang, tingkah laku aneh, disorientasi, afasia, penurunan/kehilangan


memori, afek tidak sesuai, berdesis

Penglihatan : penurunan lapang pandang, penglihatan kabur

Pendnegaran : tinitus, penurunan pendengaran, halusinasi

Jantung : bradikardi, hipertensi

Sistem pernafasan : irama nafas meningkat, dispnea, potensial obstruksi jalan


nafas, disfungsi neuromuskuler

Sistem hormonal : amenorea, rambut rontok, diabetes melitus

Motorik : hiperekstensi, kelemahan sendi

Diagnosa Keperawatan :
1. Gangguan pertukaran gas b.d disfungsi neuromuskuler (hilangnya kontrol terhadap
otot pernafasan ), ditandai dengan : perubahan kedalamam nafasn, dispnea, obstruksi
jalan nafas, aspirasi.
Tujuan : Gangguan pertukaran gas dapat teratasi

Tindakan :
-

Bebaskan jalan nafas

Pantau vital sign

Monitor pola nafas, bunyi nafas

Pantau AGD

Monitor penururnan gas darah

Kolaborasi O2

2. Gangguan rasa nyaman, nyer kepla b.d peningkatan TIK, ditndai dengan : nyeri
kepala terutama pagi hari, klien merintih kesakitan, nyeri bertambah bila klien batuk,
mengejan, membungkuk
Tujuan : rasa nyeri berkurang
Tindakan :
-

pantau skala nyeri

Berikan kompres dimana pada area yang sakit

Monitor tanda vital

Beri posisi yang nyaman

Lakukan Massage

Observasi tanda nyeri non verbal

Kaji faktor defisid, emosi dari keadaan seseorang

Catat adanya pengaruh nyeri

Kompres dingin pada daerah kepala

Gunakan teknik sentuham yang terapeutik

Observasi mual, muntah

Kolaborasi pemberian obat : analgetik, relaksan, prednison, antiemetik

3. Resiko tinggi cidera b.d disfungsi otot sekunder terhadap depresi SSP, ditandai
dengan : kejang, disorientasi, gangguan penglihatan, pendengaran
Tujuan : tidak terjadi cidera
Tindakan :
-

Identifikasi bahaya potensial pada lingkungan klien

Pantau tingkat kesadaran

Orientasikan klien pada tempat, orang, waktu, kejadian

Observasi saat kejang, lama kejang, antikonvulsi,

Anjurkan klien untuk tidak beraktifitas

4. Perubahan proses pikir b.d perubahan fisiologi, ditandai dengan disorientasi,


penurunan kesadaran, sulit konsentrasi
Tujuan : mempertahankan orientasi mental dan realitas budaya
Tindakan :
-

kaji rentang perhatian

Pastikan keluarga untuk membandingkan kepribadian sebelum mengalami


trauma dengan respon klien sekarang

Pertahankan bantuan yang konsisten oleh staf, keberadaan staf sebanyak


mungkin

Jelaskan pentingnya pemeriksaan neurologis

Kurangi stimulus yang merangsang, kritik yang negatif

Dengarkan klieen dengan penuh perhatian semua hal yang diungkapkan


klien/keluarga

Instruksikan untuk melakukan rileksasi

Hindari meninggalkan klien sendiri

5. Gangguan perfusi serebral b.d hipoksia jaringan, ditandai dengan peningkatan TIK,
nekrosis jaringan, pembengkakakan jaringan otak, depresi SSP dan oedema
Tujuan : gangguan perfusi jaringan berkurang/hilang
Tindakan :
-

Tentukan faktor yang berhubungan dengan keadaan tertentu, yang dapat


menyebabkan penurunan perfusi dan potensial peningkatan TIK

Catat status neurologi secara teratur, badingkan dengan nilai standart

Kaji respon motorik terhadap perintah sederhana

Pantau tekanan darah

Evaluasi : pupil, keadaan pupil, catat ukuran pupil, ketajaman pnglihatan dan
penglihatan kabur

Pantau suhu lingkungan

Pantau intake, output, turgor

Beritahu klien untuk menghindari/ membatasi batuk, untah

Perhatikan adanya gelisah meningkat, tingkah laku yang tidak sesuai

Tinggikan kepala 15-45 derajat

6. Cemas b.d kurang informasi tentang prosedur

Tujuan : rasa cemas berkuang


Tindakan :
-

kaji status mental dan tingkat cemas

Beri penjelasan hubungan antara proses penyakit dan gejala

Jawab setiap pertanyaan dengan penuh perhatian

Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan piiran dan perasaan takut

Libatkan keluarga dalam perawatan


DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8 volume 2, EGC,
Jakarta.
Johnson, M., Maas, M., Moorhead, S. 2008. Nursing Outcomes Classification Fifth Edition.
Mosby, Inc : Missouri.
McCloskey, J.C., Bulechek, G.M. 2008. Nursing Intervention Classification Fifth Edition.
Mosby, Inc : Missouri
North American Nursing Diagnosis Association. 2012. Nursing Diagnoses : Definition &
Classification 2012-2014. Philadelphia
Reeves C, J. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika.
Suddart, Brunner. 2000. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.