Anda di halaman 1dari 37

SKENARIO 2

ANYANG ANYANGAN

Seorang wanita usia 32 tahun, menikah, datang ke dokter puskesmas dengan keluhan
nyeri saat buang air kecil dan anyang anyangan berulang. Keluhan ini dirasakan sejak dua
hari yang lalu. Dalam pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan kecuali nyeri tekan
suprapubik. Pada pemeriksaan urinalisa dijumpai urin keruh dan didapatkan peningkatan
leukosit. Kemudian pasien disarankan untuk melakukan pemeriksaan kultur urin.

KATA SULIT

Anyang - anyangan

Supra pubik
Kultur urin

:
:

Indikasi dari infeksi saluran kemih dimana urin yang harus keluar
banyak tetapi pada saat terjadi anyang anyangan urin keluarnya
sedikit atau tidak sama sekali.
Diatas arcus pubis.
Pertumbuhan di media kultur untuk melihat mikroorganisme.

PERTANYAAN
2

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Mengapa ada rasa nyeri saat buang air kecil?


Apakah hasil yang diharapkan dari kultur urin?
Mengapa bisa terjadi anyang anyangan?
Mengapa leukosit naik dan urin keruh?
Mengapa pada pemeriksaan fisik hanya terdapat nyeri tekan pada suprapubik saja?
Apakah ada hubungan pasien yang sudah menikah dengan penyakit diatas?
Kapan pengambilan urin yang tepat untuk pemeriksaan dan bagaimana cara
pengambilannya?
Apa pemeriksaan lain selain kultur urin?
Bagaimana tatalaksananya?
Apa perkiraan diagnosisnya?
Bagaimana pencegahan untuk tidak terjadinya anyang anyangan?
Bagaimana pandangan islam terhadap penyakit diatas?

JAWABAN
3

1.
2.

3.

4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Karena adanya infeksi pada saluran kemih yang menyebabkan peradangan pada
vesika urinaria.
Hasil yang diharapkan bila terdapat kuman per-ml urin :
Jumlah kuman < 104 / ml urin hanya kontaminasi
Jumlah kuman 104 - 105 / ml urin mungkin infeksi
Jumlah kuman > 105 / ml urin infeksi tractus urinarius
Karena terinfeksi bakteri E. Coli, bakteri ini memiliki pili-P yang menempel pada
vesica urinaria, lalu terjadi mekanisme pertahan tubuh untuk mengeluarkan bakteri
melalui urin namun bakteri ini tidak bisa di wash away, sehingga terjadi anyang
anyangan.
Karena leukosit yang terdapat dalam urin mengindikasikan terjadinya infeksi pada
saluran kemih dan urin keruh menandakan adanya bakteri.
Karena terjadinya infeksi yang menyebabkan peradangan pada vesika urinaria.
Ada, karena terkontaminasi dari luar, penularan dari suami, dan pasien sudah menikah
lebih beresiko terkena infeksi daripada yang belum menikah.
Urin pagi dan pengambilan melalui MSU ( mid-stream urin).
Urinalisis, foto polos abdomen, USG, dan pemeriksaan darah lengkap.
Antibiotik.
Infeksi saluran kemih bawah / cytitis
Dengan cara membersihkan kemaluan dengan benar dan tidak memakai pakaian yang
ketat.
Selama shalat tetap harus berish dari najis dengan cara shalat sambil berbaring.

HIPOTESIS
4

Anyang anyangan merupakan suatu gejala dari infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh
infeksi mikroorganisme, penyakit ini dapat di diagnosa melalui pemeriksaan urinalisis, foto
polos abdomen, kultur urin, USG, dan pemeriksaan darah lengkap, hal ini dapat ditangani
dengan pemberian antibiotik, infeksi saluran kemih dapat dicegah dengan cara menjaga
kebersihan saluran kemih. Selama beribadah harus menjaga kebersihan dan terhindar dari
najis.

SASARAN BELAJAR

1.

Memahami dan menjelaskan Anatomi Saluran Kemih Bawah


1.1.
Makroskopik
1.2.
Mikroskopik
1.3.
Vaskularisasi & Inervasi
1.4.
Perbedaan saluran kemih laki-laki dan perempuan.

2.

Memahami dan menjelaskan Fisiologi Berkemih


2.1
Proses berkemih dan pengaturannya

3.

Memahami dan menjelaskan Infeksi Saluran Kemih


3.1.
Definisi Infeksi Saluran Kemih
3.2.
Klasifikasi Infeksi Saluran Kemih
3.3.
Etiologi Infeksi Saluran Kemih
3.4
Epidemiologi Infeksi Saluran Kemih
3.5.
Patogenesis dan patofisiologi Infeksi Saluran Kemih
3.6.
Manifestasi Klinik Infeksi Saluran Kemih
3.7.
Diagnosis dan diagnosis banding Infeksi Saluran Kemih
3.8.
Tatalaksana Infeksi Saluran Kemih
3.9.
Komplikasi Infeksi Saluran Kemih
3.10. Prognosis Infeksi Saluran Kemih
3.11. Pencegahan Infeksi Saluran Kemih

4.

Memahami dan menjelaskan pandangan islam terhadap rukhsah dalam beribadah

PEMBAHASAN

1.

Memahami dan menjelaskan anatomi saluran kemih bawah


1.1.

Makroskopis

Vesika Urinaria

Terletak di regio hypogastrica (supra pubis)

VU merupakan kantong berongga yang dapat diregangkan oleh karena volumenya

Disebut juga bladder / kandung kemih, terletak retroperitoneal

dan dapat disesuaikan dengan mengubah status kontraktil otot polos di dindingnya.
Bila kosong, apexnya hanya sampai pada tepi cranial symphisis.

VU mempunyai fungsi sebagai reservoir urin (200-500 cc).

Dindingnya mempunyai lapisan otot yang kuat. Letaknya di belakang os pubis. Bila
penuh bentuknya seperti telur (ovoid).

Apabila kosong seperti limas. Apex VU terletak di belakang symphisis pubis.

VU mempunyai 4 bagian :
1. Apex vesicae (vesicalis) dihubungkan ke cranial oleh urachus (sisa kantong
allantois) sampai ke umbilicus membentuk ligamentum vesico umbilicale
mediale. Bagian ini tertutup peritoneum dan berbatasan dengan ileum dan colon
sigmoideum, sesuai dengan puncak pyramidum
2. Corpus vesicae, antara apex dan fundus
3. Fundus (basis) vesicae, sesuai dengan basis
4. Cervix vesicae, sudut caudal mulai uretra dengan ostium uretra internum

Lapisan dalam VU pada muara masuknya ureter terdapat plica yang disebut plica
ureterica. Pada waktu VU kosong, plica ini terbuka sehingga urin dapat masuk dari
ginjal melalui ureter, sedangkan pada waktu VU penuh, plica ureterica akan menutup
karena dorongan urin, sehingga cairan urin di VU walaupun penuh tidak akan naik ke

atas ureter. Pada keadaan tertentu plica ini rusak sehingga urin akan naik ke atas
masuk ke ginjal dan menumpuk disebut hydronephrosis.

Pada pria, vesicula seminalis di permukaan posterior VU dan dipisahkan oleh ductus
defferens. Pada wanita di antara VU dengan rectum ada uterus.

Fascia pelvis menebal membentuk lig. puboprostaticum pada pria dan lig.
pubovesicale untuk menahan leher VU pada tempatnya.

Membrane mukosa VU pada waktu kosong membentuk lipatan yang sebagian


menghubungkan kedua ureter membentuk plica disebut plica interureterica. Lipatan
ini bila dihubungkan dengan ostium uretra internum akan membentuk segitiga yang
disebut trigonum vesicae (Litaudi), yang pada angulus superior trigonum menandai
pintu untuk ostium ureteris, sedangkan angulus inferior trigonum berbatasan dengan
ostium uretra internum.

Lapisan otot VU terdiri dari tiga otot polos membentuk trabekula yang disebut m.
detrusor vesicae yang akan menebal di leher VU membentuk sfingter vesicae.

Perdarahan VU berasal dari A. vesicalis superior dan A. vesicalis inferior cabang dari
A. iliaca interna. Sedangkan pembuluh darah baliknya melalui V. vesicalis menyatu di
sekeliling VU membentuk plexus dan akan bermuara ke V. iliaca interna.

VU dipersarafi oleh cabang-cabang plexus hypogastricus inferior, yaitu :


1. Serabut-serabut post ganglioner simpatis glandula para vertebralis L1-2
2. Serabut-serabut preganglioner parasimpatis N. S2, 3, 4 melalui N. splancnicus dan
plexus hypogastricus inferior mencapai dinding VU
Disini terjadi sinapsis dengan serabut-serabut post ganglioner :
a. Serabut-serabut sensoris visceral afferent : N. splancnicus menuju SSP
b. Serabut-serabut afferent mengikuti serabut simpatis pada plexus hypogastricus
menuju medulla spinalis L1-2

Uretra

Merupakan saluran keluar dari urin yang diekskresikan oleh tubuh melalui ginjal,
ureter, VU, mulai dari ujung bawah VU sampai ostium uretra externum.

Panjang uretra pada pria sekitar 20 cm (20-25 cm) dan pada wanita kurang lebih 4 cm
(3-4 cm).

Uretra pada pria dibagi atas :


1. Pars prostatica

Uretra melalui prostat, di bagian dorsal ostium uretra internum ada tonjolan
disebut uvula vesicae, yang akan melanjutkan diri ke dinding dorsal pars
prostatica sebagai crista urethralis, kemudian sebagai colliculus seminalis
yang di sebelah kanan kirinya terdapat sinus prostaticus
Panjangnya sekitar 3 cm
Pada colliculus seminalis di linea mediana bermuara utriculus prostaticus,
yaitu daluran pendek, pada ujung lain buntu
Paramedian agak ke proximal muara utriculus prostaticus bermuara ductus
ejaculatorius
2. Pars membranaceae
Melalui trigonum urogenitalis, panjangnya sekitar 2 cm
Bagian yang penting karena uretra sangat menyempit dibandingkan dengan
keduanya dan pada pria berkelok-kelok
Di depan VU ada rongga yang dibentuk oleh symphisis pubis (depan), lateral
ramus inferior os pubis disebut spatium pra vesicale = spatium retropubicum
(Retzii)
3. Pars cavernosa (pars spongiosa)
Berjalan di dalam corpus cavernosum uretra (corpus spongiosum penis),
dimulai dari fossa intrabulbaris sampai dengan pelebaran uretra disebut fossa
terminalis (fossa navicularis uretra). Karena melebar jika terjadi penurunan
batu VU maka akan tersangkut disini dan dapat diambil dengan pinset dari
ostium uretra externa
Ikut membentuk penis, di pangkal bagian uretra ada yang melebar disebut
bulbus uretra, lanjut membentuk bagian penis yang merupakan bagian erectile
dibagi kiri dan kanan
Kelenjar yang terletak paraurethral ada yang bermuara langsung di samping
ostium uretra externum. Dikenal lacuna magna terletak di dinding dorsal fossa
terminallis. Ada juga lacuna yang tidak bersifat kelenjar. Pada waktu
memasukkan kateter logam ke dalam uretra pria ada kemungkinan ujung
kateter masuk ke dalam fossa intrabulbaris.

1.2.

Mikroskopis

Vesica Urinaria
9

Secara histologis, kandung kemih merupakan ureter


yang meluas, sebab lapisan yang terdapat pada kantung
kemih terdapat juga pada ureter. Perbedaan utama
terletak pada tebal relatif lapisan dindingnya, terutama
pada tunika muskularis dan adanya muskularis mukosa
yang tipis pada beberapa hewan (Dellmann & Brown,
1992).
Dari penjelasan di atas, maka dapat diketahui bahwa
secara histologis lapisan penyusun dinding kantong
kemih terdapat 3 lapis. Lapisan dari dalam ke luar yaitu
tunika mukosa, tunika muskularis, dan tunika
adventisia.

1. Tunika Mukosa
Lapisan ini merupakan lapisan paling dalam yang berbatasan secara langsung dengan
lumen. Penyusun lapisan ini berupa sel epitel berlapis banyak yang lebih tebal dari
ureter dan lamina propia yang terdiri atas jaringan ikat arveolar dan mengandung
banyak serabut elastin. Menurut Yatim (1991), waktu kantung kemih kosong, sel
epitel penyusun tunika mukosa ini berbentuk batang atau kubus.Waktu terisi penuh,
bentuknya menggepeng dan lumennya meluas. Melihat kondisi seperti ini maka sel
epitelnya disebut dengan epitel transisional.(Dellmann & Brown, 1992).

10

2. Tunika Muskularis
Merupakan lapisan yang berupa berkas otot polos yang terdiri atas 3 lapis. Lapisan
ter-dalam tersusun secara longitudinal, kemudian sirkuler, dan yang paling luar
sirkuler. Tunika muskularis merupakan lapisan yang paling tebal dari lapisan yang
lainnya. Di antara ketiga lapisan otot polos tersebut yang paling tebal adalah lapisan
otot sirkuler.
Bentuk atau pola susunan dari 3 lapisan muskularis ini merupakan susunan yang
penting. Pola dari lapisan ini saling menjalin membentuk jalinan yang cukup kuat
sehingga otot pada daerah kantong kemih ini disebut dengan otot Detrusor. Pada
daerah hubungan ureter dengan kantung kemih, lapisan longitudinal otot ureter
membentuk jalinan dengan lapisan yang sama pada kantung kemih. Keadaan ini
membentuk sfingter yang fungsional, yaitu mencegah aliran kembali dari kemih.Pada
leher kandung kemih, otot detrusor mengarah ke uretra dan memusat ke arah lubang
uretra. Kontraksi otot longitudinal akan memper-besar lumen uretra dan
memperpendeknya. Mekanisme ini mengawali pembuangan kemih. Susunan
melingkar serabut elastik pada leher kantung kemih dan bagian proksimal uretra
membantu menutup uretra setelah pembuangan kemih.

11

3. Tunika Adventisia
Merupakan lapisan paling luar dari lapisan penyusun kantung kemih. Bagian ini
berupa jaringan ikat yang bagian luarnya diselaputi oleh mesotel. Di sebelah luar dari
tunika adventisia merupakan tunika serosa dan peritoneal yang diselubungi oleh
jaringat ikat longgar. Di bagian terluar lagi ada simpul saraf simpatik yang
disebut plexus vesicalis. Simpul saraf ini yang berperanan untuk mengontrol proses
kencing.

Uretra

Urethra pada perempuan:

Pendek, 4-5 cm

Dilapisi epitel berlapis gepeng, dibeberapa tempat terdapat epitel bertingkat torak

Dipertengahan urethra terdapat sphinter eksterna (muskular bercorak)

Urethra pada laki laki :


12

1. Pars prostatika

Paling dekat ke vesica urinaria

Ductus ejaculatorius bermuara dekat verumontanum, (tonjolan kedalam lumen),


dimana cairan seminal msk dlm uretra

Dilapisi epitel transitional

2. Pars membranacea
Dilapisi epitel bertingkat torak
Dibungkus oleh sphincter urethra externa (voluntary)
3. Pars spongiosa
Terletak didalam corpus spongiosum penis
Umumnya dilapisi epitel bertingkat torak
berlapis gepeng.

dibeberapa tempat terdapat epitel

4. Pars pendulosa
Ujung distal lumen urethra melebar: fossa navicularis

Kelenjar Littre, kelenjar mukosa yang terdapat disepanjang urethra, terutama


pada pars pendulosa

13

1.3.

Vaskularisasi & Inervasi

VU bagian cranial divaskularisasi oleh 2 atau 3 Aa. vesicalis superior (cabang dari a.
Umbilicalis). Sedangkan VU bagian caudal dan cervix divaskularisasi oleh A. vesicalis
inferior (cabang dari A. Iliaca interna). Pada wanita mendapatkan tambahan vaskularisasi dari
a. vaginalis. Pada bagian fundus vesicae pada pria divaskularisasi oleh a. deferentialis dan
pada wanita oleh a. vaginalis dan a. vesicalis inferior.Sedangkan aliran vena nya akan
bermuara pada plexus venosus prostaticus & vesicalis yang akan bermuara
pada v.hypogastrica.
VU mendapatkan persarafan simpatik (segmen Thoracal XI Lumbal II) dari Plexus
prostaticus & plexus vesicalis yang berasal dari plexus hipogastricus inferior. Persarafan ini
memberikan fungsi untuk menggiatkan m. spinchter interna dan menginhibisi m. detrussor
serta menghantarkan rasa nyeri dari VU. Selain itu VU juga mendapatkan
persarafan parasimpatik dari n. splanchnicus pelvicus Segmen Sacral II-IV. Persarafan ini
memberikan fungsi untuk merelaksasi sfingter interna, menggiatkan m.detrussor,
menghantarkan peregangan dinding dan mengosongkan VU. Cabang cabang plexus
hypogastricus inferior yaitu:
1. Serabut-serabut post ganglioner simpatis glandula para vertebralis L 1-2.
2. Serabut serabut preganglioner parasimpatis N. S 2, 3, 4 melalui N. Splanicus dan
plexus hypogastricus inferior mencapai dinding vesica urinaria.
Disini terjadi sinapsis dengan serabut serabut post ganglioner :
a) Serabut serabut sensoris visceral afferent: N. Splanicus menuju SSP.
b) Serabut serabut afferen mengikuti serabut simpatis pada plexus hypogastricus
menuju medulla spinalis L1-2.
1.4.

Perbedaan saluran kemih laki-laki dan perempuan.

Fascia pelvis menebal membentuk lig. Puboprostaticum pada pria dan lig.
Pubovesicale pada wanita untuk menahan leher VU pada tempatnya.
URETHRA MASCULINA
Urethra pada pria memiliki panjang sekitar 20 cm (20-25cm). Selain berfungsi untuk
mengeluarkan urin, urethra masculine juga berfungsi untuk mengeluarkan cairan
semen. Urethra masculine terbagi atas 3 bagian , yakni :
1. Urethra pars prostatica

Urethrae melalui prostat, di bagian dorsal ostium urethrae internum ada


tonjolan disebtu uvula vesicae yang akan melanjutkab diri ke dinding dorsal
pars prostatica sebagai crista urethralis. Kemudian sebagai colliculus seminalis
yang disebelah kan kirinya terdapat sinus prostaticus.

Panjang sekitar 3 cm.


14

Pada colliculus seminalis di linea mediana bermuara utriculus prostaticus,


yaitu suatu saluran pendek, pada ujung lain buntu.

Paramedian agak ke proximal muara utriculus prostaticus bermuara ductus


ejaculatorius.

2. Urethra pars membranacea


Urethra pars membranosa merupakan bagian urethra yang paling pendek (1-2cm) dan
juga paling sempit dan melalui trigonum urogenitalis.
Didepan VU ada rongga yang dibentuk oleh symphisis pubis (depan), lateral ramus
inferior os pubis disebut spatium prae vesicale = spatium retopubicum ( Retzii )
3. Urethra pars spongiosa

Berjalan di dalam corpus cavernosum urethrae ( corpus spongiosum penis ), dimulai


dari fossa intrabulbaris sampai dengan pelebaran urethrae disebut fossa terminalis
( fossa navicularis urethrae ).
Ikut membentuk penis, dipangkal bagiam urethrae ada yang melebar disebut bulbus
urethrae.
Kelenjar yang terlentak paraurethral ada yang bermuara langsung di samping ostium
urethrae externem, dinekal lacuna magna (besar) terletak di dinding dorsal fossa
terminalis

Urethra masculine divaskularisasi oleh cabang dari a. vesicalis inferior, a. rectalis media, dan
a. urethralis. Urethra masculine mendapatkan persarafan dari n.pudendus dan plexus
prostaticus.
URETHRA FEMININA
Urethra pada wanita hanya berukuran 3,75 - 5cm, berbentuk lurus dan mudah diregangkan.
Karena alasan ini pulalah yang menyebabkan wanita sering mengalami Infeksi Saluran
Kemih (ISK). Urethra akan berakhir pada Ostium Urethra Externum pada vestibulum vagina.
2.

Memahami dan menjelaskan Fisiologi berkemih

REFLEKS BERKEMIH
Miksi atau berkemih, proses pengosongan kandung kemih, diatur oleh dua
mekanisme: refleks berkemih dan kontrol volunter. Refleks berkemih terpicu ketika reseptor
regang di dalam dinding kandung kemih terangsang. Kandung kemih pada orang dewasa
dapat menampung hingga 250 400 ml urin sebelum tegangan di dindingnya mulai cukup
meningkat untuk mengaktifkan reseptor regang. Semakin besar tegangan melebihi ukuran ini,
semakin besar tingkat pengaktifan reseptor, Serat serat aferen dari reseptor regang
membawa impuls ke medula spinalis dan akhirnya, melalui antarneuron, merangsang saraf
parasimpatis untuk kandung kemih dan menghambat neuron motorik ke sfingter eksternus.
Stimulasi saraf parasimpatis kandung kemih menyebabkan organ ini berkontraksi. Perubahan
bentuk kandung kemih selama kontraski akan secara mekanis menarik terbuka sfingter
internus. Secara bersamaan, sfingter eksternus melemas karena neuron neuron motoriknya
15

dihambat. Kini kedua sfingter terbuka dan neuron-neuron terbuka dan urin terdorong melalui
uretra oleh gaya yang ditimbulkan oleh kontraksi kandung kemih.
KONTROL VOLUNTER BERKEMIH
Selain memicu refleks berkemih, pengisian kandung kemih juga mengakibatkan
keinginan untuk berkemih. Jika waktu refleks miksi tersebut dimulai kurang sesuai untuk
berkemih, maka yang bersangkutan dapat dengan sengaja mencegah pengosongan kandung
kemih dengan mengencangkan sfingter eksternus dan diafragma pelvis. Impuls eksiratorik
volunter dari korteks serebri mengalahkan sinyal inhibitorik refleks dari reseptor regang ke
neuron neuron motorik yang terlibat ( keseimbangan relatif PPE dan PPI ) sehingga otot
otot ini tetap berkontraksi dan tidak ada urin yang keluar.
Berkemih tidak dapat ditahan selamanya. Karena kandung kemih terus terisi maka
sinyal refleks dari reseptor regang meningkat seiring waktu. Akhirnya, sinyal inhibitorik
refleks neuron motorik sfingter eksternus menjadi sedemikian kuat sehingga tidak lagi dapat
diatasi oleh sinyal eksiratorik volunter sehingga sfingter melemas dan kandung kemih secara
tak terkontrol mengosongkan isinya.
Berkemih juga dapat dengan sengaja dimulai, meskipun kandung kemih tidak
teregang, dengan secara sengaja melemaskan sfingter eksternus dan diafragma pelvis.
Turunnya dasar panggul memnungkinkan kandung kemih turun, yang secara simultan
menarik terbuka sfingter uretra internus dan meregangkan dinding kandung kemih.
Pengaktifan reseptor regang yang kemudian terjadi akan menyebabkan kontraksi kandung
kemih melalui refleks berkemih. Pengosongan kandung kemih secara sengaja dapat dibantu
oleh kontraksi dinding abdomen dan diafragma pernapasan. Peningkatan tekana
intraabdomen yang ditimbulkan menekan kandung kemih ke bawah untuk mempermudah
pengosongan.

3.

Memahami dan menjelaskan Infeksi Saluran Kemih


3.1.

Definisi Infeksi Saluran Kemih

Infeksi saluran kemih adalah suatu infeksi yang melibatkan ginjal, ureter, buli-buli,
ataupun uretra. Infeksi saluran kemih (ISK) adalah istilah umum yang menunjukkan
16

keberadaan mikroorganisme (MO) dalam urin (Sukandar, E., 2004). Bakteriuria bermakna
(significant bacteriuria): bakteriuria bermakna menunjukkan pertumbuhan mikroorganisme
murni lebih dari 105 colony forming unit (cfu/ml) pada biakan urin. Bakteriuria bermakna
mungkin tanpa disertai presentasi klinis ISK dinamakan bakteriuria asimtomatik (convert
bacteriuria). Sebaliknya bakteriuria bermakna disertai persentasi klinis ISK dinamakan
bakteriuria bermakna asimtomatik. Pada beberapa keadaan pasien dengan persentasi klinis
tanpa bekteriuria bermakna. Piuria bermakna (significant pyuria), bila ditemukan netrofil >10
per lapangan pandang. (Sukandar, E., 2004)
3.2.

Klasifikasi Infeksi Saluran Kemih

Infeksi dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi infeksi di dalam saluran kemih.


Akan tetapi karena adanya hubungan satu lokasi dengan lokasi lain sering didapatkan bakteri
di dua lokasi yang berbeda. Klasifikasi diagnosis Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria
yang dimodifikasikan dari panduan EAU (European Association of Urology) dan IDSA
(Infectious Disease Society of America) terbagi kepada ISK non komplikata akut pada wanita,
pielonefritis non komplikata akut, ISK komplikata, bakteriuri asimtomatik, ISK rekurens,
uretritis dan urosepsis (Naber KG et al). Pielonefritis akut (PNA) adalah proses inflamasi
parenkim ginjal yang disebabkan infeksi bakteri. Pielonefritis kronis (PNK) mungkin akibat
lanjut dari infeksi bakteri berkepanjangan atau infeksi sejak masa kecil. Obstruksi saluran
kemih dan refluks vesikoureter dengan atau tanpa bakteriuria kronik sering diikuti
pembentukan jaringan ikat parenkim ginjal yang ditandai pielonifritis kronik yang spesifik.
(Sukandar, E., 2004)
Selain itu, ISK juga dinyatakan sebagai ISK uncomplicated (simple) dan ISK
complicated. ISK simple adalah infeksi yang terjadi pada insan sehat dan tidak menyebar ke
tempat tubuh yang lain. ISK simple ini biasanya sembuh sempurna sesuai dengan pemberian
obat. Sementara ISK complicated adalah infeksi yang disebabkan oleh kelainan anatomis
pada seluran kemih, menyebar ke bagian tubuh yang lain, bertambah berat dengan underlying
disease, ataupun bersifat resisten terhadap pengobatan. Berbanding dengan yang simple, ISK
complicated lebih sukar diobati.
Tipe Infeksi Saluran Kemih, antara lain:
1. Infeksi Saluran Kemih Bawah (sistitis, uretritis dan prostatitis)
2. Infeksi saluran kemih atas (Ureteritis, Pyelonefritis)
Uretritis: Merupakan suatu inflamasi pada uretra, kuman penyebab tersering adalah kuman
gonorrhoe atau kuman lainnya yang biasanya terjadi karena infeksi asending.
Sistitis dan prostatitis: Cystitis adalah inflamasi kandung kemih yang paling sering
disebabkan oleh infeksi asenden dari uretra. Penyebab lainnya mungkin aliran balik urine dari
uretra kedalam kandung kemih. Konta-minasi fekal atau penggunaan kateter atau sistoskop.
Prostatitis adalah infeksi bagian prostat dan vesika urinaria pada pria.
Ureteritis: Suatu peradangan pada ureter. Penyebab Adanya infeksi pada ginjal maupun
kandung kemih.
Pyelonefritis: Inflamasi pada pelvis ginjal dan parenkim ginjal yang disebabkan karena
adanya infeksi oleh bakteri. Infeksi bakteri pada jaringan ginjal yang dimulai dari saluran
17

kemih bagian bawah terus naik ke ginjal. Infeksi ini dapat mengenai parenkim maupun renal
pelvis (pyelum = piala ginjal) dan bakteri menyebar melalui limfatik. Pielonefritis dapat
bersifat akut atau kronik.

Pielonefritis akut biasanya terjadi akibat infeksi kandung kemih asendens.


Pielonefritis akut juga dapat terjadi melalui infeksi hematogen.

Pielonefritis kronik dapat terjadi akibat infeksi berulang, dan biasanya dijumpai pada
individu yang mengidap batu, obstruksi lain, atau refluks vesikoureter. Pada
pielonefritis kronik, terjadi pembentukan jaringan parut dan obstruksi tubulus yang
luas. Kemampuan ginjal untuk memekat-kan urin menurun karena rusaknya tubulustubulus. Glomerulus biasanya tidak terkena, hal ini dapat menimbulkan gagal ginjal
kronik.

Klasifikasi pada lansia:


1. ISK uncomplicated (simple)
ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing tak baik, anatomic
maupun fungsional normal. ISK ini pada usia lanjut terutama mengenai penderita
wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih.
2. ISK complicated
Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit
diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotika,
sering terjadi bakterimia, sepsis dan shock. ISK complicated terjadi bila terdapat
kondisi-kondisi sebagi berikut:

Kelainan abnormal saluran kencing,

Kelainan faal ginjal: GGA maupun GGK.

Gangguan daya tahan tubuh

Infeksi akibat organisme virulen sperti prosteus spp yang memproduksi urease.
3.3.

Etiologi Infeksi Saluran Kemih

Bakteri infeksi saluran kemih dapat disebabkan oleh bakteri-bakteri di bawah ini :
A. Kelompok anterobacteriaceae seperti : Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae,
Enterobacter aerogenes, Proteus Providencia, Citrobacter
B. Pseudomonas aeruginosa
C. Acinetobacter
D. Enterokokus faecalis

18

E. Stafilokokus sarophyticus
Pada keadaan normal urin adalah steril. Umumnya ISK disebabkan oleh kuman gram
negatif. Escherichia coli merupakan penyebab terbanyak baik pada yang simtomatik
maupun yang asimtomatik yaitu 70 - 90%. Enterobakteria seperti Proteus mirabilis (30
% dari infeksi saluran kemih pada anak laki-laki tetapi kurang dari 5 % pada anak
perempuan ), Klebsiella pneumonia dan Pseudomonas aeruginosa dapat juga sebagai
penyebab. Organisme gram positif seperti Streptococcus faecalis (enterokokus),
Staphylococcus epidermidis dan Streptococcus viridans jarang ditemukan. Pada uropati
obstruktif dan kelainan struktur saluran kemih pada anak laki-laki sering ditemukan
Proteus species. Pada ISK nosokomial atau ISK kompleks lebih sering ditemukan kuman
Proteus dan Pseudomonas (Lumbanbatu, S.M., 2003).
Tabel 2.2: Famili, Genus dan Spesies mikroorganisme (MO) yang Paling Sering
Sebagai Penyebeb ISK (Sukandar, E., 2004)

Faktor virulensi E. coli :


Penentu Virulensi
Fimbriae

Alur
Adhesi

Kapsul antigen K

Lipopolysaccharide side chains (O antigen)


Lipid A (endotoksin)

Perlengketan (attachment)
Resistensi terhadap fagositosis
Inhibisi peristaltis ureter

Membrane protein lainnya

Pro-inflammatory
Kelasi besi

Antibiotika resisten

Kemungkinan perlengketan

Pembentuk jaringan ikat (scarring)


Resistensi terhadap pertahanan tubuh

19

Hemolysin

Inhibisi fungsi fagosit

Sekuestrasi besi

Faktor resiko yang berpengaruh terhadap infeksi saluran kemih:

Panjang urethra. Wanita mempunyai urethra yang lebih pendek dibandingkan pria sehingga lebih mudah.
Faktor usia. Orang tua lebih mudah terkena dibanndingkan dengan usia yang lebih
muda.
Wanita hamil lebih mudah terkena oenyakit ini karena penaruh hormonal ketika
kehamilan yang menyebabkan perubahan pada fungsi ginjal dibandingkan sebelum
kehamilan.
Faktor hormonal seperti menopause. Wanitamenopause lebih rentan terkena karena
se-laput mukosa yang tergantung pada esterogen yang dapat berfungsi sebagai
pelindung.
Gangguan pada anatomi dan fisiologis urin. Sifat urin yang asam dapat menjadi
antibakteri alami tetapi apabila terjadi gangguan dapat menyebabkan menurunnya
pertahanan terhadap kontaminasi bakteri.
Penderita diabetes, orang yang menderita cedera korda spinalis, atau menggunakan
kateter dapat mengalami peningkatan resiko infeksi.
3.4.

Epidemiologi Infeksi Saluran Kemih

ISK tergantung banyak faktor; seperti usia, gender, prevalensi bakteriuria, dan faktor
predisposisi yang menyebabkan perubahan struktur saluran kemih termasuk ginjal. Selama
periode usia beberapa bulan dan lebih dari 65 tahun perempuan cenderung menderita ISK
dibandingkan laki-laki. ISK berulang pada laki-laki jarang dilaporkan, kecuali disertai faktor
predisposisi (pencetus). Prevalensi bakteriuria asimtomatik lebih sering ditemukan pada
perempuan. Prevalensi selama periode sekolah (school girls) 1 % meningkat menjadi 5%
selama periode aktif secara seksual. Prevalensi infeksi asimtomatik meningkat mencapai
30%, baik laki-laki maupun perempuan bila disertai faktor predisposisi seperti berikut litiasis,
obstruksi saluran kemih, penyakit ginjal polikistik, nekrosis papilar, diabetes mellitus pasca
transplantasi ginjal, nefropati analgesik, penyakit sickle-cell, senggama, kehamilan dan
peserta KB dengan table progesterone, serta kateterisasi. (Sukandar, E., 2004)

20

3.5.

Patofisiologi dan patogenesis Infeksi Saluran Kemih

Pathogenesis bakteriuria asimtomatik dengan presentasi klinis ISK tergantung dari


patogenitas dan status pasien sendiri (host).

A. Peran patogenisitas bakteri. Sejumlah flora saluran cerna termasuk Escherichia coli
diduga terkait dengan etiologi ISK. Patogenisitaas E.coli terkait dengan bagian
permukaan sel polisakarida dari lipopolisakarin (LPS). Hanya IG serotype dari 170
serotipe O/ E.coli yang berhasil diisolasi rutin dari pasien ISK klinis, diduga strain E.coli
ini mempunyai patogenisitas khusus (Sukandar, E., 2004).
B. Peran bacterial attachment of mucosa. Penelitian membuktikan bahwa fimbriae
merupakan satu pelengkap patogenesis yang mempunyai kemampuan untuk melekat pada
permukaan mukosa saluran kemih. Pada umumnya P fimbriae akan terikat pada P blood
group antigen yang terdpat pada sel epitel saluran kemih atas dan bawah (Sukandar, E.,
2004).

21

C. Peranan faktor virulensi lainnya. Sifat patogenisitas lain dari E.coli berhubungan dengan
toksin. Dikenal beberapa toksin seperti -hemolisin, cytotoxic necrotizing factor-1(CNF1), dan iron reuptake system (aerobactin dan enterobactin). Hampir 95% -hemolisin
terikat pada kromosom dan
berhubungan degan pathogenicity island (PAIS) dan hanya 5% terikat pada gen plasmio.
(Sukandar, E., 2004)
Virulensi bakteri ditandai dengan kemampuan untuk mengalami perubahan
bergantung pada dari respon faktor luar. Konsep variasi fase MO ini menunjukan ini
menunjukkan peranan beberapa penentu virulensi bervariasi di antara individu dan lokasi
saluran kemih. Oleh karena itu, ketahanan hidup bakteri berbeda dalam kandung kemih dan
ginjal. (Sukandar, E., 2004)
D. Peranan Faktor Tuan Rumah (host)
i. Faktor Predisposisi Pencetus ISK. Penelitian epidemiologi klinik mendukung
hipotensi peranan status saluran kemih merupakan faktor risiko atau pencetus ISK.
Jadi faktor bakteri dan status saluran kemih pasien mempunyai peranan penting
untuk kolonisasi bakteri pada saluran kemih. Kolonisasi bacteria sering mengalami
kambuh (eksasebasi) bila sudah terdapat kelainan struktur anatomi saluran kemih.
Dilatasi saluran kemih termasuk pelvis ginjal tanpa obstruksi saluran kemih dapat
menyebabkan gangguan proses klirens normal dan sangat peka terhadap infeksi.
Endotoksin (lipid A) dapat menghambat peristaltik ureter. Refluks vesikoureter ini
sifatnya sementara dan hilang sendiri bila mendapat terapi antibiotika. Proses
pembentukan jaringan parenkim ginjal sangat berat bila refluks visikoureter terjadi
sejak anak-anak. Pada usia dewasa muda tidak jarang dijumpai di klinik gagal ginjal
terminal (GGT) tipe kering, artinya tanpa edema dengan/tanpa hipertensi. (Sukandar,
E., 2004)
ii. Status Imunologi Pasien (host). Penelitian laboratorium mengungkapkan bahwa
golongan darah dan status sekretor mempunyai konstribusi untuk kepekaan terhadap
ISK. Pada tabel di bawah dapat dilihat beberapa faktor yang dapat meningkatkan
hubungan antara berbagai ISK (ISK rekuren) dan status secretor (sekresi antigen
darah yang larut dalam air dan beberapa kelas immunoglobulin) sudah lama
diketahui. Prevalensi ISK juga meningkat terkait dengan golongan darah AB, B dan
PI (antigen terhadap tipe fimbriae bakteri) dan dengan fenotipe golongan darah
Lewis. (Sukandar, E., 2004).
Table 2.3 Faktor-faktor yang meningkatkan kepekaan terhadap infeksi saluran kemih (UTI)
(Sukandar, E., 2004).

22

Kepekaan terhadap ISK rekuren dari kelompok pasien dengan saluran kemih normal (ISK
tipe sederhana) lebih besar pada kelompok antigen darah non-sekretorik dibandingkan
kelompok sekretorik. Penelitian lain melaporkan sekresi IgA urin meningkat dan diduga
mempunyai peranan penting untuk kepekaan terhadap ISK rekuren. (Sukandar, E., 2004)
Patofisiologi ISK
Pada individu normal, biasanya laki-laki maupun perempuan urin selalu steril karena
dipertahankan jumlah dan frekuensi kencing. Utero distal merupakan tempat kolonisasi
mikroorganisme nonpathogenic fastidious Gram-positive dan gram negative. (Sukandar, E.,
2004)
Hampir semua ISK disebabkan invasi mikroorganisme asending dari uretra ke dalam
kandung kemih. Pada beberapa pasien tertentu invasi mikroorganisme dapat mencapai ginjal.
Proses ini, dipermudah refluks vesikoureter. Proses invasi mikroorganisme hematogen sangat
jarang ditemukan di klinik, mungkit akibat lanjut dari bakteriema. Ginjal diduga merupakan
lokasi infeksi sebagai akibat lanjut septikemi atau endokarditis akibat Stafilokokus aureus.
Kelainan ginjal yang terkait dengan endokarditis (Stafilokkokus aureus) dikenal Nephritis
Lohein. Beberapa penelitian melaporkan pielonefritis akut (PNA) sebagai akibat lanjut invasi
hematogen. (Sukandar, E., 2004).
3.6.

Manifestasi klinis Infeksi Saluran Kemih

a. Pielonefritis Akut (PNA). Presentasi klinis PNA seperti panas tinggi (39,5-40,5 C),
disertai mengigil dan sekit pinggang. Presentasi klinis PNA ini sering didahului gejala
ISK bawah (sistitis).
b. ISK bawah (sistitis). Presentasi klinis sistitis seperti sakit suprapubik, polakiuria,
nokturia, disuria, dan stanguria.
c. Sindroma Uretra Akut (SUA). Presentasi klinis SUA sulit dibedakan dengan sistitis.
SUA sering ditemukan pada perempuan usia antara 20-50 thun. Presentasi klinis SUA
sangat miskin (hanya disuri dan sering kencing) disertai cfu/ml urin <105; sering
disebut sistitis abakterialis. Sindrom uretra akut (SUA) dibagi 3 kelompok pasien,
yaitu: i. Kelompok pertama pasien dengan piuria, biakan uria dapat diisolasi E-coli
dengan cfu/ml urin 103-105. Sumber infeksi berasal dari kelenjar peri-uretral atau
23

uretra sendiri. Kelompok pasien ini memberikan respon baik terhadap antibiotik
standar seperti ampsilin.
ii. Kelompok kedua pasien leukosituri 10-50/lapangan pangdang tinggi dan kultur
urin steril. Kultur khusus ditemukan clamydia trachomalis atau bakteri
anaerobic.
iii. Kelompok ketiga pasien tanpa piuri dan biakan urin steril.
d. ISK rekuren. ISK rekuren terdiri 2 kelompok; yaitu: a). Re-infeksi (re-infections).
Pada umumnya episode infeksi dengan interval >6 minggu mikroorganisme (MO)
yang berlainan. b). Relapsing infection. Setiap kali infeksi disebabkan MO yang sama,
disebabkan sumber infeksi tidak mendapat terapi yang adekuat. (Sukandar, E., 2004)
3.7.

Diagnosis dan diagnosis banding Infeksi Saluran Kemih

1. Anamnesis

ISK bawah: frekuensi, disuria terminal, polakisuria, nyeri suprapubik.

2. Pemeriksaan fisis: febris, nyeri tekan suprapubik, nyeri ketok sudut kostovertebra.
3. Pemeriksaan penunjang:
Untuk pemeriksaan infeksi saluran kemih, digunakan urin segar (urin pagi). Urin pagi
adalah urin yang pertama diambil pada pagi hari setelah bangun tidur. Digunakan urin
pagi karena yang diperlukan adalah pemeriksaan pada sedimen dan protein dalam
urin. Sampel urin yang sudah diambil, harus segera diperiksa dalam waktu maksimal
2 jam. Apabila tidak segera diperiksa, maka sampel harus disimpan dalam lemari es
atau diberi pengawet seperti asam format.
Bahan untuk sampel urin dapat diambil dari:

Urin porsi tengah, sebelumnya genitalia eksterna dicuci dengan air sabun dan NaCl
0,9%.

Urin yang diambil dengan kateterisasi 1 kali.

Urin hasil aspirasi supra pubik.

Bahan yang dianjurkan adalah dari urin porsi tengah dan aspirasi supra pubik.

Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya adalah sebagai berikut:


1. Urinalisis
Leukosuria
Leukosuria atau piuria merupakan salah satu petunjuk penting terhadap dugaan ISK.
Di-nyatakan positif bila terdapat > 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sedimen air
24

kemih. Adanya leukosit silinder pada sediment urin menunjukkan adanya keterlibatan
ginjal. Namun adanya leukosuria tidak selalu menyatakan adanya ISK karena dapat
pula dijumpai pada inflamasi tanpa infeksi. Apabila didapat leukosituri yang
bermakna, perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan kultur.

Hematuria
Dipakai oleh beberapa peneliti sebagai petunjuk adanya ISK, yaitu bila dijumpai 5-10
eritrosit/LPB sedimen urin. Dapat juga disebabkan oleh berbagai keadaan patologis
baik berupa kerusakan glomerulus ataupun oleh sebab lain misalnya urolitiasis, tumor
ginjal, atau nekrosis papilaris.
2. Bakteriologis

Mikroskopis: Dapat digunakan urin segar tanpa diputar atau tanpa pewarnaan gram.
Di-nyatakan positif bila dijumpai 1 bakteri /lapangan pandang minyak emersi.

Biakan bakteri: Dimaksudkan untuk memastikan diagnosis ISK yaitu bila ditemukan
bakteri dalam jumlah bermakna sesuai dengan criteria Cattell, 1996:
Wanita, simtomatik: >102 organisme koliform/ml urin plus
piuria, atau 105 organisme pathogen apapun/ml urin, atau
adanya pertumbuhan organisme pathogen apapun pada urin
yang diambil dengan cara aspirasi suprapubik.
Laki-laki, simtomatik : >103 organisme patogen/ml urin
Pasien asimtomatik: 105 organisme patogen/ml urin pada 2
contoh urin berurutan.

Pemeriksaan mikrobiologi
Cara Pengambilan Sampel
Bahan urin untuk pemeriksaaan harus segar dan sebaiknya diambil pagi hari. Bahan urin
dapat diambil dengan cara punksi suprapubic, dari kateter dan urin porsi tengah (midstream
urine). Bahan urin yang paling mudah diperoleh adalah urin porsi tengah yang ditampung
dalam wadah bermulut lebar dan steril.

Punksi Suprapubik
25

Pengambilan urin dengan punksi suprapubik dilakukan pengambilan urin langsung dari
kandung kemih melalui kulit dan dinding perut dengan semprit dan jarum steril. Yang penting
pada punksi suprapubik ini adalah tindakan antisepsis yang baik pada daerah yang akan
ditusuk, anestesi lokal pada daerah yang akan ditusuk dan keadaan asepsis harus selalu
dijaga.

Kateter

Bahan urin dapat diambil dari kateter dengan jarum dan semprit yang steril. Pada cara ini
juga penting tindakan antisepsis pada daerah kateter yang akan ditusuk dan keadaan asepsis
harus elalu dijaga. Tempat penusukan kateter sebaiknya sedekat mungkin dengan ujung
kateter yang berada di dalam kandung kemih (ujung distal). Penilaian urin yang diperoleh
dari kateter sama dengan hasil biakan urin yang diperoleh dari punksi suprapubic.

Urin Porsi Tengah

Resiko kontaminasi akibat kesalahan pengambilan cukup besar. Tidak boleh menggunakan
anti-septik untuk persiapan pasien karena dapat mengkontaminasi sampel dan menyebabkan
kultur false-negative.
Setelah diperoleh biakan urin, maka dilakukan interpretasi. Pada biakan urin dinilai jenis
mikro-organisme, kuantitas koloni (dalam satuan CFU), serta tes sensitivitas terhadap
antimikroba (dalam satuan millimeter luas zona hambatan). Pada uretra bagian distal, daerah
perianal, rambut ke-maluan, dan sekitar vagina adalah habitat flora normal seperti
laktobasilus, dan streptokokus epidermis. Untuk membedakan infeksi saluran kemih yang
sebenarnya dengan mikroorganisme kontaminan tersebut, maka hal yang sangat penting
adalah jumlah CFU. Sering terdapat kesulitan dalam mengumpulkan sampel urin yang murni
tanpa kontaminasi dan kerap kali terdapat bakteriuria bermakna tanpa gejala, yang menyulitkan penegakkan diagnosis infeksi saluran kemih. Berdasarkan jumlah CFU, maka interpretasi
dari biakan urin adalah sebagai berikut:
a. Pada hitung koloni dari bahan porsi tengah urin dan dari urin kateterisasi.

Bila terdapat > 105 CFU/ml urin porsi tengah disebut dengan bakteriuria bermakna.

Bila terdapat > 105 CFU/ml urin porsi tengah tanpa gejala klinis disebut bakteriuria asimtomatik.

Bila terdapat mikroba 102 103 CFU/ml urin kateter pada wanita muda
asimtomatik yang disertai dengan piuria disebut infeksi saluran kemih.

b. Hitung koloni dari bahan aspirasi supra pubik.


Berapapun jumlah CFU pada pembiakan urin hasil aspirasi supra pubik adalah infeksi
saluran kemih. Interpretasi praktis biakan urin oleh Marsh tahun 1976, ialah sebagai
berikut:
Kriteria praktis diagnosis bakteriuria. Hitung bakteri positif bila didapatkan:
26

>100.000 CFU/ml urin dari 2 biakan urin porsi tengah yang dilakukan seara berturut
turut.

>100.000 CFU/ml urin dari 1 biakan urin porsi tengah dengan leukosit > 10/ml urin
segar.

> 100.000 CFU/ml urin dari 1 biakan urin porsi tengah disertai gejala klinis infeksi
saluran kemih.

> 10.000 CFU/ml urin kateter.

Berapapun CFU dari urin aspirasi suprapubik.

Cara biakan yang tidak tepat:

Media tertentu yang bersifat selektif dan menginhibisi.

Infeksi E. coli (tergantung strain), baketri anaerob, bentuk K, dan basil tahan asam.

Jumlah koloni mikroba berkurang karena bertumpuk.


3. Tes kimiawi
Tes ini dimaksudkan sebagai penyaring adanya bakteri dalam urin. Contoh, tes
reduksi griess nitrate, untuk mendeteksi bakteri gram negatif. Batasan: ditemukan
lebih 100.000 bakteri. Tingkat kepekaannya mencapai 90 % dengan spesifisitas 99%.

4. Tes Dip slide (tes plat-celup)


Lempeng plastik bertangkai dimana kedua sisi permukaannya dilapisi perbenihan
padat khusus dicelupkan ke dalam urin pasien. Setelah itu lempeng dimasukkan
kembali ke dalam tabung plastik tempat penyimpanan semula, lalu dilakukan
pengeraman semalaman pada suhu 37 C. Penentuan jumlah kuman/ml dilakukan
27

dengan membandingkan pola pertumbuhan pada lempeng perbenihan dengan


serangkaian gambar yang memperlihatkan keadaan kepadatan koloni yang sesuai
dengan jumlah kuman antara 1000 dan 10.000.000 dalam tiap ml urin. Cara ini mudah
dilakukan, murah dan cukup akurat. Tetapi jenis kuman dan kepekaannya tidak dapat
diketahui.
5. Pemeriksaan penunjang lain
Meliputi: radiologis (rontgen), IVP (pielografi intra vena), USG dan Scanning.
Pemeriksa-an penunjang ini dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya batu atau
kelainan lainnya.
Diagnosis banding:
Infeksi atau iritasi pada periuretra atau vagina, sistitis non bakterial, obstruksi saluran kemih.
3.8.

Tatalaksana Infeksi Saluran Kemih

Antibotik adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi, yang dapat
menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain. Antibiotik dapat dibuat secara
semisintetik atau sintetik penuh.
Berdasarkan spektrum kerja antibiotik dapat digolongkan menjadi:
1. Spektrum luas (aktivitas luas): antibiotik yang aktif bekerja terhadap banyak mikroba
yaitu gram positif dan gram negatif.
2. Spektrum sempit: antibiotik yang bersifat aktif bekerja hanya terhadap beberapa jenis
mikroba saja, bakteri gram positif atau gram negatif saja.
Mekanisme Kerja:
1. Antimikroba yang menghambat metabolisme sel mikroba.
Antimikroba yang termasuk dalam kelompok yaitu sulfonamid, trimetoprim, asam paminosalisilat (PAS) dan sulfon. Mekanisme yang efek bakteriostatik.
2. Antimikroba yang menghambat sintesis dinding sel mikroba
Obat yang termasuk kelompok ini ialah penisilin, sefalosporin, basitrasin, vankomisin,
dan sikloserin.
3. Antimikroba yang mengganggu keutuhan membran sel mikroba.
Obat yang termasuk kelompok ini ialah polimiksin dan golongan polien.
4. Antimikroba yang menghambat sintesis protein sel mikroba.
Obat yang termasuk kelompok ini adalah golongan aminoglikosida, makrolida,
linkomisin, tetrasiklin dan kloramfenikol.
5. Antimikroba yang menghambat sintesis asam nukleat sel mikroba.
Obat yang termasuk kelompok ini ialah rimfapisin dan golongan kuinolon.
1. Golongan Makrolida
Mekanisme kerja : menghambat sintesis protein dengan cara mengikat 23 sRNA pada
ribosom sub unit 50 s.
a Eritromisin
Tidak stabil dalam suasana asam
Kadar puncak dalam darah 4 jam
T eliminasi 1,6 jam
Ekskresi : 2-5 % urin
Pemekatan dalam jaringan hati (100x kadar dalam plasma)
28

Berdifusi ke berbagai jaringan kecuali otak dan serebrospinal


KI : ibu hamil (meningkatkan kadar SGOT/SGPT temporary) dan anak-anak
ES :
Oral : nyeri perut (iritasi sal.cerna),mual,muntah
IM : menimbulkan sakit bila dosis > 100 mg
IV : infus 1 g menyebabkan tromboflebitis
Interaksi obat :
Meningkatkan toksisitas : karbamazepin, kortikosteroid, siklosporin, digoksin,
warfarin.
Menghambat metabolism methyl xanthine (teofilin dan cafein) : CNS stimulant
meningkat
Aritmia : astemizole,terfenadin,cisaprid
b Klaritromisin
Efektivitas antimikrobanya lebih kuat dari eritromisin
ES hampir sama dengan eritromisin terapi iritasi lambung lebih jarang
Interaksi obat = eritromisin
KI : ibu hamil (embriotoksik)
Absorbsi baik dan tidak dipengaruhi makanan
Metabolisme : hati
Ekskresi : urin
Waktu paruh 2-5 jam
c Azitromisin
Aktivitas antimikroba paling rendah
Absorbsi obat dipengaruhi makanan
Waktu paruh 2-4 hari (slowly eliminated)
Kadar obat dalam plasma rendah,tapi dalam jaringan lebih tinggi
Single dose : efektif urethritis & cervicitis (C.trachomatis)
d Roksitromisin
Diserap baik secara oral dan jarang menimbulkan iritasi lambung
Bioavibilitas dipengaruhi oleh makanan
Kadar obat lebih tinggi di plasma dibandingkan eritromisin
Waktu paruh eliminasi 10 jam
e Spiramisin
Akivitas antimikroba lebih rendah dari eritromisin
Absorbsi dalam saluran cerna tidak begitu baik,tetapi tidak dipengaruhi oleh
makanan
Kadar obat dalam berbagai jaringan lebih tinggi daripada makrolida lain dan
bertahan lama walaupun dalam plasma sudah turun rendah
2. Golongan Aminoglikosida
Mekanisme kerja : menghambat sintesis protein bakteri
Spektrum luas dan bersifat bakteriosid
Agen spesifiknya :
Streptomycin
Gentamycin
Amikacin
Neomycin
Kanamycin
ES : ototoxicity,nephrotoxicity,neurotoxicity

29

Sediaan obat,IV,IM,topical
KI : preexisting hearing loss,parkinsonism,selama kehamilan dan
menyusui,pasien gagal ginjal
3. Golongan Betalaktam
a Penisilin
Mekanisme kerja : menghambat pembentukan mukopeptida yang diperlukan untuk
sintesis dinding sel mikroba (mikroba yang sensitif,penisilin berefek bakterisid)
Absorbsi
o Penisilin G : mudah rusak dalam suasana asam sehingga di anjurkan
penggunaan IM
o Penisilin V : relatif tahan asam (oral)
o Ampisilin & senyawa sejenisnya : oral,dipengaruhi oleh besar dosis dan
makanan,absorbsi ampisilin > baik dari Penisilin V atau fenetisilin
o Amoksisilin : absorbsi di GIT > dari ampisilin,makanan tidak menghambat
absorbsi amoksisilin
o Metilsilin : cepat dirusak oleh asam lambung dan absorbsinya buruk (tidak
boleh oral)
o Karbenisilin : tidak diabsorbsi di GIT (IM)
o Tikarsilin : tidak stabil dalam pH asam (parenteral)
o Sulbenesilin,azlosilin,mezlosilin & piperasilin : parenteral
Distribusi
o Penisilin G : luas; kadar obat yang adekuat dapat tercapai dalam
hati,empedu,ginjal,usus,limfe, & semen; CSS sukar dicapai kecuali jika ada
radang
o Fenoksimetil penisilin,penisilin isoksazolil, & metisilin : distribusi = penisilin
G,tetapi berbeda dalam ikatan protein plasma
o Ampisilin : luas; ikatan protein plasma 20%; ampisilin yang masuk ke dalam
empedu (sirkulasi enterohepatik);penetrasi ke CSS (cukup efektif pada keadaan
peradangan meningen),sputum (10% kadar serum pada bronchitis atau
pneumonia)
o Amoksisilin : ampisilin
o Karbenisilin : penisilin, distribusi ke dalam empedu, dan dapat mencapai CSS
pada meningitis
Biotransformasi dan ekskresi
o Penisilin isoksazil & metisilin : tahan terhadap pengaruh penisilinase (enzim
pemecah cincin beta laktam pada penisilin)
o Semua penisilin dapat dipengaruhi oleh amidase (enzim yang memecah rantai
samping penisilin) tetapi tidak banyak mikroba yang menghasilkan enzim
amidase
o Umumnya diekskresi melalui proses sekresi di tubuli ginjal yang dapat
dihambat oleh probenesid : T meningkat 2-3 kalinya
o Penurunan fungsi ginjal akan memperlambat ekskresi penisilin
ES
o Reaksi alergi : tersering,terutama penisilin G
o Reaksi toksik dan iritasi local
o Perubahan biologic
b Sefalosporin
Mekanisme kerja : menghambat sintesis dinding sel mikroba

30

Generasi pada sefalosporin :


a Generasi pertama: sefolotin, sefazolin, sefaleksin, sefradin, sefadroksil.
Sefalosporin generasi
pertama ini terutama aktif terhadap kuman
Gram-positif.
b Generasi kedua: sefaklor, sefamandol, sefmentazol dan sefuroksim. Golongan
ini kurang aktif
terhadap bakteri Gram-postif tetapi lebih aktif
terhadap kuman Gramnegatif.
c Generasi ketiga: sefoperazon, sefotaksim, seftizoksim, seftriakson, sefotiam,
sefiksim,
sefpodoksim dan sefprozil. Aktivitasnya
terhadap kuman Gram-negatif lebih
kuat dan luas lagi dan meliputi
pseudomonas dan bacterodes. Resistensinya
terhadap laktamase juga
lebih kuat.
d Generasi keempat: sefepim dan sefpirom. Mempunyai spektrum lebih luas dari
generasi ketiga
dan lebih stabil terhadap hidrolisis oleh
betalaktamase.
Dapat pemberian oral karena diabsorbsi melalui GIT,pemberian parenteral (IV)
karena pemberian secara IM menyebabkan iritasi & nyeri
Beberapa SG III mencapai kadar yang tinggi di cairan serebrospinal
(CSS),bermanfaat untuk pengobatan meningitis purulenta
Sefalosporin : melewati sawar darah uri ; mencapai kadar tinggi di cairan synovial
dan cairan pericardium; pada pemberian sistemik,kadar SG II dapat mencapai kadar
tinggi di cairan mata (tetapi tidak mencapai vitreus); kadar sefalosporin dalam
empedu umumnya tinggi
Ekskresi : dalam bentuk utuh melalui ginjal,dengan proses sekresi tubulus (kecuali
sefoperazon melalui empedu)
Metabolisme : sefalotin,sefapirin,dan sefotaksim mengalami deasetilasi,metabolit
(aktivitas AM > rendah) juga diekskresi melalui ginjal
ES : reaksi hipersensitivitas,nephrotoxicity,intolerance pada alcohol.
4. Fluorokuinolon
Yang termasuk dalam golongan ini adalah siprofloksason, pefloksasin, ofloksasin,
norfloksasin, enoksasin, levofloksasin, fleroksasin,dll
Mekanisme kerja : menghambat kerja enzim DNA ginase pada kuman dan bersifat
bakterisidal
Diserap lebih baik melalui saluran cerna,hanya sedikit terikat dengan protein
Didistribusi dengan baik pada berbagai organ tubuh
Dalam urin semua fluorokuinolon mencapai kadar yang melampaui kadar hambat
minimal untuk kebanyakan kuman pathogen selama minimal 12 jam
Mampu mencapai kadar tinggi dalam jaringan prostat
Masa paruh eliminasinya panjang
Metabolisme di hati dan diekskresikan melalui ginjal
ES :
o Saluran cerna : mual,muntah,dan rasa tidak enak di perut
o Susunan saraf pusat : sakit kepala dan pusing
o Hepatoksisitas
o Kardiotoksisitas
o Disglikemia
o Fototoksisitas
KI : anak-anak dan wanita hamil

31

5. Tetrasiklin
Tetrasiklin bersifat bakteriostatis, mekanisme kerjanya berdasarkan diganggunya sintesa
protein kuman. Pada umumnya antibiotika golongan tetrasiklin merupakan obat yang aman,
walaupun dapat memperburuk kondisi gagal ginjal yang sudah ada. Pada penggunaan oral
seringkali terjadi gangguan lambung-usus. Efek samping lebih serius adalah sifat
penyerapannya pada jaringan tulang dan gigi yang sedang tumbuh pada janin dan anak-anak.
6. Nitrofurantion
Obat ini efektif untuk infeksi saluran kemih seperti E.Coli, Proteus sp, Klebsiella,
Enterobacter, Enterococcus, Streptococcus, Clostridia dan B.Subtilis. pada bakteri Proteus
Mirabilis dan Pseudomonas ini kurang efektif. Resistensi dapat berkembang melalui
pemindahan plasmid.
Masa paruh dalam serum 20 menit an kira-kira 40% di ekskresi dalam bentuk asalnya. Efek
samping penggunaan obat ini yaitu muntah dan diare. Kontraindikasi pada penderita gagal
ginjal dengan klirens kurang dari 40 mL/menit , ibu hamil dan bayi berumur kurang dari 3
bulan. Penggunaannya terbatas untuk tujuan profilaksis atau pengobatan supresif infeksi
saluran kemih menahun.
Khusus untuk infeksi saluran kemih pada kehamilan diberikan antibiotik penisilin dan
sefalosporin selama 3 hari.
TATA LAKSANA pada anak
Bakteriuria Asimptomatik
Tidak diperlukan terapi bila traktus urinarius normal, singkirkan kelainan berkemih
fungsional
ISK Akut Tanpa Pielonefritis
Trimethoprim-sulfametoksazole, trimethoprim (mono), cephalosporin atau amoxycillin
selama 3 5 hari.
Pielonefritis
Terapi antibiotik intravenus dengan antibiotik spektrum luas, penisillin atau cephalosporin.
Pda neonatus, terapi berlangsung 14 21 hari. Dilanjutkan dengan terapi oral selama 7 14
hari. Pada gangguan fungsi ginjal, dosis disesuaikan menurut serum kreatinin. Tetapi dapat
dihentikan bila urin telah steril dan gejala klinis hilang. Kultur urin dikerjakan tiap minggu
selama terapi. DMSA scintigraphy dapat dilakukan 3 bulan setelah terapi. Pada pielonefritis
obstruktif, drainase adalah tindakan darurat.
ISK Kompleks
Terapi yang efisien melibatkan penangan pada kelainan yang mendasari (gangguan drainase
urin). Pada anak umur dibawah 1 tahun, pemeriksaan dan terapi dilakukan lebih agresif sebab
tingginya keterlibatan faktor faktor predisposisi mengakibatkan ISK.
3.9.

Komplikasi Infeksi Saluran Kemih

Gagal ginjal akut


edema yang terjadi akibat inflamasi akut pada ginjal akan mendesak sistem pelvikalises
sehingga menimbulkan gangguan aliran urin.

Nekrosis papila ganjil dan nefritis interstisial


Infeksi ginjal pada pasien diabetes sering menimbulkan pengelupasan papila ginjal dan
nefritis interstisial.
32

Batu saluran kemih


Adanya papila yang terkelupas akibat infeksi serta debris dari bakteri merupakan awal
pembentukan batu saluran kemih. Selain itu kuman yang dapat memecah urea mampu
merubah pH urin menjadi basa. Suasana basa dapat memungkinkan unsur-unsur
pembentukan batu di dalam urin

Supurasi
Infeksi pada ginjal yang dapat menimbulkan abses pada ginjal yang meluas ke rongga
perirenal dan pararenal.
3.10.

Prognosis Infeksi Saluran Kemih

ISK bawah akut (sistitis akut): Prognosis pada ISK bawah akut dapat sembuh
sempurna, kecuali bila terdapat faktor-faktor predisposisi yang lolos dari pengamatan.

ISK bawah kronis (sistitis kronis): Prognosis pada ISK bawah kronis baik bila
diberikan antibiotik yang intensif dan tepat, faktor predisposisi mudah dikenal dan
diberantas.

ISK atas akut (pielonefritis akut): Prognosis pielonefritis baik bila memperlihatkan
penyebuhan klinis maupun bakteriologis terhadap antibiotik.

ISK atas kronis (pielonefritis kronis): Bila diagnosis pielonefritis kronis terlambat dan
kedua ginjal telah menyusut pengobatan konserfatif semata-mata untuk mempertahankan faal jaringan ginjal yang masih utuh
3.11.

Pencegahan Infeksi Saluran Kemih

1. Menjaga dengan baik kebersihan sekitar organ intim dan saluran kemih.
2. Bagi perempuan, membersihkan organ intim dengan sabun khusus yang memiliki pH
balanced (seimbang) sebab membersihkan dengan air saja tidak cukup bersih.
3. Pilih toilet umum dengan toilet jongkok. Sebab toilet jongkok tidak menyentuh
langsung permukaan toilet dan lebih higienis. Jika terpaksa menggunakan toilet
duduk, sebelum menggunakannya sebaiknya bersihkan dahulu pinggiran atau
dudukan toilet. Toilet-toilet umum yang baik biasanya sudah menyediakan tisu dan
cairan pembersih dudukan toilet.
4. Jangan membersihkan organ intim di toilet umum dari air yang ditampung di bak
mandi atau ember. Pakailah shower atau keran.
5. Gunakan pakaian dalam dari bahan katun yang menyerap keringat agar tidak lembab.
4.

Memahami dan menjelaskan pandangan islam terhadap rukhsah dalam


beribadah
33

Menurut mazhab Syafi'i, salisul-baul adalah sesuatu yang keluar secara kontinyu yang
diwajibkan kepada orang yang mengalaminya untuk menjaga dan memakaikan kain atau
sesuatu yang lain seperti pembalut pada tempat keluarnya yang bisa menjaga agar air kencing
tersebut tidak jatuh ke tempat shalat.
"Ubad bin Basyar menderita penyakit mencret dan dia tetap melanjutkan shalatnya (dalam
keadaan mencret tersebut)."
Dari hadis tersebut bisa disimpulkan bahwa seseorang yang mempunyai penyakit mencret,
keluar kentut/air kencing secara kontinyu tidak memiliki kewajiban untuk mengulang-ulang
wudhunya, namun tetap meneruskan shalat dalam keadaan tersebut. Ada beberapa syarat
yang harus dipenuhi agar ibadah tertentu diperbolehkan dalam keadaan salisul-baul:
1. Sebelum melakukan wudhu harus didahului dengan istinja'
2. Ada kontinyuitas antara istinja' dengan memakaikan kain atau pembalut dan
semacamnya, dan adanya kontinyuitas antara memakaikan kain pada tempat keluar
hadas tersebut dengan wudhu.
3. Ada kontinyuitas antara amalan-amalan dalam wudhu (rukun dan sunnahnya).
4. Ada kontinyuitas antara wudhu dan shalat, yaitu segera melaksanakan shalat seusai
wudhu dan tidak melakukan pekerjaan lain selain shalat. Adapun jika seseorang
berwudhu di rumah dan pergi ke mesjid tidak menjadi masalah dan tidak
menggugurkan syarat keempat.
5. Keempat syarat diatas dipenuhi ketika memasuki waktu shalat. Maka, jika
melakukannya sebelum masuk waktu shalat maka batal, dan harus mengulang lagi
diwaktu shalat.
6. Apabila telah terpenuhi kelima syarat ini maka jika seseorang berwudhu
kemudiankeluar air kencing atau kentut dan lainnya aka dia tidak mempunyai
kewajiban untukmelakukan istinja' dan berwudhu lagi. Namun cukup dengan wudhu
yang telah ia lakukan di awal.
Seseorang yang memiliki penyakit seperti salisul-baul tersebut hanya diperbolehkan
melakukan ibadah shalat fardhu sekali saja, adapun shalat sunnah bisa dikerjakan seberapa
kali pun.
Pembagian Jenis Thaharah
Kita bisa membagi thaharah secara umum menjadi dua macam pembagian yang besar :

34

1. Thaharah Hakiki
Thaharah secara hakiki maksudnya adalah hal-hal yang terkait dengan kebersihan badan,
pakain dan tempat shalat dari najis. Boleh dikatakan bahwa thaharah secara hakiki adalah
terbebasnya seseorang dari najis.Seorang yang shalat dengan memakai pakaian yang ada
noda darah atau air kencing, tidak sah shalatnya. Karena dia tidak terbebas dari ketidaksucian
secara hakiki.Thaharah secara hakiki bisa didapat dengan menghilangkan najis yang
menempel, baik pada badan, pakaian atau tempat untuk melakukan ibadah ritual. Caranya
bermacam-macam tergantung level kenajisannya. Bila najis itu ringan, cukup dengan
memercikkan air saja, maka najis itu dianggap telah lenyap. Bila najis itu berat, harus dicuci
dengan air 7 kali dan salah satunya dengan tanah. Bila najis itu pertengahan, disucikan
dengan cara mencucinya dengan air biasa, hingga hilang warna najisnya. Dan juga hilang bau
najisnya. Dan juga hilang rasa najisnya.

2. Thaharah Hukmi
Thaharah secara hukmi maksudnya adalah sucinya kita dari hadats, baik hadats kecil
maupun hadats besar (kondisi janabah). Thaharah secara hukmi tidak terlihat kotornya secara
pisik. Bahkan boleh jadi secara pisik tidak ada kotoran pada diri kita. Namun tidak adanya
kotoran yang menempel pada diri kita, belum tentu dipandang bersih secara hukum. Bersih
secara hukum adalah kesucian secara ritual.Seorang yang tertidur batal wudhu-nya, boleh
jadi secara pisik tidak ada kotoran yang menimpanya. Namun dia wajib berthaharah ulang
dengan cara berwudhu bila ingin melakukan ibadah ritual tertentu seperti shalat, thawaf dan
lainnya.
Demikian pula dengan orang yang keluar mani. Meski dia telah mencuci maninya dengan
bersih, lalu mengganti bajunya dengan yang baru, dia tetap belum dikatakan suci dari hadats
besar hingga selesai dari mandi janabah.Jadi secara thaharah secara hukmi adalah kesucian
secara ritual, dimana secara pisik memang tidak ada kotoran yang menempel, namun seolaholah

dirinya

tidak

suci

untuk

melakukan

ritual

ibadah.

Thaharah secara hukmi dilakukan dengan berwudhu atau mandi janabah.

35

DAFTAR PUSTAKA

Gandasoebrata, R. 2010. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta : Dian Rakyat


Gunawan, S,G. 2011. Farmakologi dan Terapi Ed 5. Jakarta : Departemen Farmakologi dan
Terapeutik Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia.

http://journal.unair.ac.id/filerPDF/IJCPML-12-3-02.pdf
http://www.docstoc.com/docs/56061982/INFEKSI-SALURAN-KEMIH
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25633/4/Chapter%20II.pdf
L., Sherwood. 2014. Fisiologi Manusia: Dari Sel ke Sistem, Edisi 2. Jakarta: EGC.
Purnomo, B,B. 2012. Dasar-Dasar Urologi Ed 3. Jakarta : Sagung Seto.
36

Sofwan, A. 2016. Systema Urogenitale. Jakarta : Bagian Anatomi FK Universitas Yarsi.


Sukandar, E. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Infeksi Saluran Kemih Pasien
Dewasa. Jakarta : Interna

Publishing.

Wahab, A,S. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Ed 15. Jakarta : EGC.

37