Anda di halaman 1dari 35

Sumber sumber Ajaran Islam

Agama Islam memiliki aturanaturan sebagai tuntunan hidup kita baik dalam
berhubungan sosial dengan manusia (hablu minannas) dan hubungan dengan sang khaliq
Allah SWT (hablu minawallah) dan tuntunan itu kita kenal dengan hukum islam atau syariat
islam atau hukum Allah SWT. Sebelum kita lebih jauh membahas mengenai sumber-sumber
syariat islam, terlebih dahulu kita harus mengetahui definisi dari hukum dan hukum islam
atau syariat islam. Hukum artinya menetapkan sesuatu atas sesuatu atau meniadakannya.
Menurut ulama usul fikih, hukum adalah tuntunan Allah SWT (Alquran dan hadist) yang
berkaitan dengan perbuatan mukallaf (orang yang sudah balig dan berakal sehat), baik berupa
tuntutan, pemilihan, atau menjadikan sesuatu sebagai syarat, penghalang, sah, batal,
rukhsah( kemudahan ) atau azimah.
Sedangkan menurut ulama fikih, hukum adalah akibat yang ditimbulkan oleh syariat
(Alquran dan hadist) berupa al-wujub, al-almandub, al-hurmah, al- karahah, dan al-ibahah.
Perbuatan yang dituntut tersebut disebut wajib, sunah (mandub), haram, makruh, dan mubah.
Ulama usul fikih membagi hukum islam menjadi dua bagian, yaitu hukum taklifiy dan hukum
wadhiy dan penjelasannya sebagai berikut :
1.

Hukum Taklifiy, adalah tuntunan Allah yang berkaitan dengan perintah untuk melakukan
suatu perbuatan atau meninggalkannya. Hukum taklifiy dibagi menjadi lima macam,
yaitu:
a. Al-ijab, yaitu tuntutan secara pasti dari syariat untuk dilaksanakan dan dilarang
ditinggalkan, karena orang yang meninggalkannya dikenai hukuman
b. An-nadh, yaitu tuntutan dari syariat untuk melaksanakan suatu perbuatan, tetapi
tuntutan itu tidak secara pasti. Jika tuntutan itu dikerjakan maka pelakunya
mendapatkan pahala, tetapi jika tidak dikerjakan tidak hukuman (dosa)
c. Al-ibahah, yaitu firman Allah yang mengandung pilihan untuk melakukan suatu
perbuatan atau meninggalkannya
d. Al-karahah, yaitu tuntutan untuk meninggalkan suatu perbuatan, tetapi tuntutan itu
diungkapkan melalui untaian kata yang tidak pasti sehingga kalau dikerjakan
pelakunya tidak dikenai hukuman
e. Al-tahrim, yaitu tuntutan untuk tidak mengerjakan suatu perbuatan dengan tuntutan
yang pasti sehingga tuntutan untuk meninggalkan perbuatan itu wajib, dan jika
dikerjakan pelakunya mendapatkan hukuman (berdosa).

Menurut ulama fikih pebuatan mukallaf itu jika ditinjau dari syariat islam dibagi menjadi
lima macam, yaitu :

a. Fardu (wajib), yaitu perbuatan yang apabila dikerjakan pelakunya mendapatkan


pahala, tetapi apabila ditinggalkan pelakunya mendapatkan hukuman (berdosa).
Perbuatan wajib ditinjau dari segi orang melakukannya dibagi menjadi dua, yaitu:
Fardu ain, yaitu perbuatan wajib yang harus dikerjakan oleh setiap mukallaf,
seperti shalat lima waktu
Fardu kifayah, yaitu perbuatan wajib yang harus dikerjakan oleh salah seorang
anggota masyarakat, dan jika telah dikerjakan oleh salah seorang anggota
masyarakat, maka gugur kewajiban anggota masyarakat lainnya, seperti
memandikan, mengafani, menshalatkan, dan menguburkan jenazah muslim
b. Sunnah (mandub), yaitu perbuatan yang apabila dikerjakan pelakunya mendapatkan
pahala, tetapi apabila ditinggalkan pelakunya tidak mendapatkan hukuman (dosa)
Perbuatan sunnah dibagi menjadi dua, yaitu:
Sunnah ain, yaitu perbuatan sunnah yang dianjurkan untuk dikerjakan oleh
setiap individu, seperti shalat sunnah rawatib.
Sunnah kifayah, yaitu perbuatan sunnah yang dianjurkan dikerjakan oleh salah
seorang atau beberapa orang dari golongan masyarakat, seperti memberi salam,
mendoakan muslim atau muslimat.
c. Haram, yaitu perbuatan yang apabila dikerjakan pelakunya berdosa dan akan dihukum,
tetapi apabila ditinggalkan pelakunya mendapatkan pahala, seperti: bezina, mencuri,
membunuh
d. Makruh, yaitu perbuatan yang apabila dikerjakan pelakunya tidak berdosa, tetapi
apabila ditinggalkan pelakunya mendapat pahala, seperti: meninggalkan shalat Dhuha
e. Mubah, yaitu perbuatan yang boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan, seperti:
memilih warna pakaian penutup auratnya.
2.

Hukum Waiy, adalah perintah Allah SWT, yang mengandung pengertian, bahwa
terjadinya sesuatu merupakan sebab, syarat atau penghalang bagi adanya sesuatu
(hukum).
Ulama usul fikih berpendapat bahwa hukum waidiy itu terdiri dari tiga macam, yaitu:
a. Sebab, yaitu sifat yang nyata dan dapat diukur yang dijelaskan dalam nas (Alquran dan
hadist), bahwa keberadaannya menjadi sebab tidak adanya hukum. Seperti:
tergelincirnya matahari menjadi sebab wajibnya shalat zhuhur, jika matahari belum
tergelincir maka shalat zhuhur belum wajib dilakukan

b. Syarat, yaitu sesuatu yang berada diluar hukum syara, tetapi keberadaan hukum
syara tergantung padanya, jika syarat tidak ada maka hukum pun tidak ada. Seperti:
genap satu tahun (haul) adalah syarat wajibnya harta perniagaan, jika tidak haul maka
tidak wajib zakat perniagaan
c. Penghalang (mani), yaitu sesuatu yang keberadaannya menyebabkan tidak adanya
hukum atau tidak adanya sebab hukum. Seperti: najis yang ada di badan atau pakaian
orang yang sedang melaksanakan shalat menyebabkan shalatnya tidak sah atau
menghalangi sahnya shalat.
Melalui penjelasan singkat mengenai pengertian hukum islam atau syariat islam tadi
barulah kita mengerti pengertian hukum islam. Yang dimaksud sebagai sumber hukum islam
adalah segala sesuatu yang melahirkan atau menimbulkan aturan yang mempunyai kekuatan
yang bersifat mengikat yang apabila dilanggar akan menimbulkan sanksi yang tegas dan
nyata (Sudarsono, 1992:1). Dengan demikian sumber hukum islam ialah segala sesuatu yang
dijadikan dasar, acuan, atau pedoman syariat islam. Pada umumnya para ulama fikih
sependapat bahwa sumber utama hukum islam adalah Alquran dan hadist. Dalam sabdanya
Rasulullah SAW bersabda, Aku tinggalkan bagi kalian dua hal yang karenanya kalian tidak
akan tersesat selamanya, selama kalian berpegang pada keduanya, yaitu Kitab Allah dan
sunnahku. Dan disamping itu pula para ulama fikih menjadikan ijtihad sebagai salah satu
dasar hukum islam, setelah Alquran dan hadist.
Seluruh hukum produk manusia adalah bersifat subjektif, hal ini karena keterbatasan
manusia dalam ilmu pengetahuan yang diberikan Allah SWT mengenai kehidupan dunia dan
kecenderungan untuk menyimpang, serta menguntungkan penguasa pada saat pembuatan
hukum tersebut, sedangkan hukum Allah SWT adalah peraturan yang lengkap dan sempurna
serta sejalan dengan fitrah manusia.
Sumber ajaran islam dirumuskan dengan jelas oleh Rasulullah SAW, yakni terdiri dari
tiga sumber, yaitu kitabullah (Alquran), as- sunnah (hadist), dan rayu atau akal pikiran
manusia yang memenuhi syarat untuk berijtihad. Ketiga sumber ajaran ini merupakan satu
rangkaian kesatuan dengan urutan yang tidak boleh dibalik. Sumber-sumber ajaran islam ini
dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu sumber ajaran islam yang primer (Alquran dan
hadist) dan sumber ajaran islam sekunder (ijtihad). Pembahasan mengenai karakteristik
masing-masing sumber ajaran islam tersebut adalah sebagai berikut:
1. Sumber-Sumber Ajaran Islam Primer
1.1. Alquran
Secara etimologi Alquran berasal dari kata qaraa, yaqrau, qiraaatan, atau
quranan yang berarti mengumpulkan (al-jamu) dan menghimpun (al-dlammu).
Sedangkan secara terminologi (syariat), Alquran adalah Kalam Allah taala yang
diturunkan kepada Rasul dan penutup para Nabi-Nya, Muhammad shallallaahu alaihi

wasallam, diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas. Dan
menurut para ulama klasik, Alquran adalah Kalamulllah yang diturunkan pada
rasulullah dengan bahasa arab, merupakan mukjizat dan diriwayatkan secara
mutawatir serta membacanya adalah ibadah
Pokok-pokok kandungan dalam Alquran antara lain:
Tauhid, yaitu kepercayaan ke-esaann Allah SWT dan semua kepercayaan yang
berhubungan dengan-Nya
Ibadah, yaitu semua bentuk perbuatan sebagai manifestasi dari kepercayaan ajaran
tauhid
Janji dan ancaman, yaitu janji pahala bagi orang yang percaya dan mau
mengamalkan isi Alquran dan ancaman siksa bagi orang yang mengingkari
Kisah umat terdahulu, seperti para Nabi dan Rasul dalam menyiaran syariat Allah
SWT maupun kisah orang-orang saleh ataupun kisah orang yang mengingkari
kebenaran Alquran agar dapat dijadikan pembelajaran.
Al-Quran mengandung tiga komponen dasar hukum, sebagai berikut:
Hukum Itiqadiah, yakni hukum yang mengatur hubungan rohaniah manusia dengan
Allah SWT dan hal-hal yang berkaitan dengan akidah/keimanan. Hukum ini
tercermin dalam Rukun Iman. Ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Tauhid, Ilmu
Ushuluddin, atau Ilmu Kalam.
Hukum Amaliah, yakni hukum yang mengatur secara lahiriah hubungan manusia
dengan Allah SWT, antara manusia dengan sesama manusia, serta manusia dengan
lingkungan sekitar. Hukum amaliah ini tercermin dalam Rukun Islam dan disebut
hukum syara/syariat. Adapun ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Fikih.
Hukum Khuluqiah, yakni hukum yang berkaitan dengan perilaku normal manusia
dalam kehidupan, baik sebagai makhluk individual atau makhluk sosial. Hukum ini
tercermin dalam konsep Ihsan. Adapun ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu
Akhlaq atau Tasawuf.
Sedangkan khusus hukum syara dapat dibagi menjadi dua kelompok, yakni:
Hukum ibadah, yaitu hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT,
misalnya salat, puasa, zakat, dan haji
Hukum muamalat, yaitu hukum yang mengatur manusia dengan sesama manusia dan
alam sekitarnya. Termasuk ke dalam hukum muamalat adalah sebagai berikut:

Hukum munakahat (pernikahan).


Hukum faraid (waris).
Hukum jinayat (pidana)
Hukum hudud (hukuman).
Hukum jual-beli dan perjanjian.
Hukum tata Negara/kepemerintahan
Hukum makanan dan penyembelihan.
Hukum aqdiyah (pengadilan).
Hukum jihad (peperangan).
Hukum dauliyah (antarbangsa).

1.2. Hadist
Sunnah menurut syari adalah segala sesuatu yang berasal dari Rasulullah
SAW baik perbuatan, perkataan, dan penetapan pengakuan. Sunnah berfungsi sebagai
penjelas ayat-ayat Alquran yang kurang jelas atau sebagai penentu hukum yang tidak
terdapat dalam Alquran.
Sunnah dibagi menjadi empat macam, yaitu:
Sunnah qauliyah, yaitu semua perkataan Rasulullah
Sunnah filiyah, yaitu semua perbuatan Rasulullah
Sunnah taqririyah, yaitu penetapan dan pengakuan Rasulullah terhadap pernyataan
ataupun perbuatan orang lain
Sunnah hammiyah, yaitu sesuatu yang telah direncanakan akan dikerjakan tapi tidak
sampai dikerjakan
2. Sumber-Sumber Ajaran Islam Sekunder
2.1. Ijtihad
Ijtihad berasal dari kata ijtihada yang berarti mencurahkan tenaga dan pikiran
atau bekerja semaksimal mungkin. Sedangkan ijtihad sendiri berarti mencurahkan
segala kemampuan berfikir untuk mengeluarkan hukum syari dari dalil-dalil syara,
yaitu Alquran dan hadist. Hasil dari ijtihad merupakan sumber hukum ketiga setelah
Alquran dan hadist. Ijtihad dapat dilakukan apabila ada suatu masalah yang hukumnya
tidak terdapat di dalam Alquran maupun hadist, maka dapat dilakukan ijtihad dengan
menggunakan akal pikiran dengan tetap mengacu pada Alquran dan hadist.
Macam-macam ijtidah yang dikenal dalam syariat islam, yaitu

Ijma, yaitu menurut bahasa artinya sepakat, setuju, atau sependapat. Sedangkan
menurut istilah adalah kebulatan pendapat ahli ijtihad umat Nabi Muhammad SAW
sesudah beliau wafat pada suatu masa, tentang hukum suatu perkara dengan cara
musyawarah. Hasil dari Ijma adalah fatwa, yaitu keputusan bersama para ulama dan
ahli agama yang berwenang untuk diikuti seluruh umat.
Qiyas, yaitu berarti mengukur sesuatu dengan yang lain dan menyamakannya.
Dengan kata lain Qiyas dapat diartikan pula sebagai suatu upaya untuk
membandingkan suatu perkara dengan perkara lain yang mempunyai pokok masalah
atau sebab akibat yang sama. Contohnya adalah pada surat Al isra ayat 23 dikatakan
bahwa perkataan ah, cis, atau hus kepada orang tua tidak diperbolehkan karena
dianggap meremehkan atau menghina, apalagi sampai memukul karena sama-sama
menyakiti hati orang tua.
Istihsan, yaitu suatu proses perpindahan dari suatu Qiyas kepada Qiyas lainnya yang
lebih kuat atau mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima untuk
mencegah kemudharatan atau dapat diartikan pula menetapkan hukum suatu perkara
yang menurut logika dapat dibenarkan. Contohnya, menurut aturan syarak, kita
dilarang mengadakan jual beli yang barangnya belum ada saat terjadi akad. Akan
tetapi menurut Istihsan, syarak memberikan rukhsah (kemudahan atau keringanan)
bahwa jual beli diperbolehkan dengan system pembayaran di awal, sedangkan
barangnya dikirim kemudian.
Mushalat Murshalah, yaitu menurut bahasa berarti kesejahteraan umum. Adapun
menurut istilah adalah perkara-perkara yang perlu dilakukan demi kemaslahatan
manusia. Contohnya, dalam Al Quran maupun Hadist tidak terdapat dalil yang
memerintahkan untuk membukukan ayat-ayat Al Quran. Akan tetapi, hal ini
dilakukan oleh umat Islam demi kemaslahatan umat.
Sududz Dzariah, yaitu menurut bahasa berarti menutup jalan, sedangkan menurut
istilah adalah tindakan memutuskan suatu yang mubah menjadi makruh atau haram
demi kepentingan umat. Contohnya adalah adanya larangan meminum minuman
keras walaupun hanya seteguk, padahal minum seteguk tidak memabukan. Larangan
seperti ini untuk menjaga agar jangan sampai orang tersebut minum banyak hingga
mabuk bahkan menjadi kebiasaan.
Istishab, yaitu melanjutkan berlakunya hukum yang telah ada dan telah ditetapkan di
masa lalu hingga ada dalil yang mengubah kedudukan hukum tersebut. Contohnya,
seseorang yang ragu-ragu apakah ia sudah berwudhu atau belum. Di saat seperti ini,
ia harus berpegang atau yakin kepada keadaan sebelum berwudhu sehingga ia harus
berwudhu kembali karena shalat tidak sah bila tidak berwudhu.
Urf, yaitu berupa perbuatan yang dilakukan terus-menerus (adat), baik berupa
perkataan maupun perbuatan. Contohnya adalah dalam hal jual beli. Si pembeli

menyerahkan uang sebagai pembayaran atas barang yang telah diambilnya tanpa
mengadakan ijab kabul karena harga telah dimaklumi bersama antara penjual dan
pembeli.
Referensi :
1. Ijtihad, www.wikipedia.com. 26 September 2008
2. http\\www.hikmatun.wordpress.com\pengertian al-quran
3. Alquran dan Terjemahannya, 1971: Saudi Arabia
4. M.Quraish Shihab, Membumikan Alquran
5. Syuhudi Ismail, Ilmu Hadist

Akhlak Islam
1.

Pengertian Akhlak
Kata Akhlak berasal dari bahasa arab, jamak dari khuluqun yang menurut
bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kata tersebut mengandung
segi-segi persesuaian dengan perkataan khalqun yang berarti kejadian, yang juga erat
hubungannya dengan khaliq yang berarti pencipta; demikian pula dengan akhluqun
yang berarti yang diciptakan.
Allah SWT berfirman
"Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur."
(QS. Al-Qalam: 4).
Akhlak berkaitan erat dengan iman, karena iman terdiri dari beberapa unsur :

2.

berkeyakinan bahwa Allah adalah Sang Pencipta satu-satunya, Pemberi rezeki dan
Penguasa seluruh kerajaan.

mengenal Allah dan menyakini bahwa Dia yang patut disembah.

Cinta kepada Allah melebihi segala cinta terhadap semua makhluk-Nya.

cinta hamba kepada Tuhannya akan mengantarkannya pada tujuan yang satu, yaitu
demi mencapai ridha Allah SWT.

Akhlak islami
Akhlak islami adalah perilaku yang dilakukan untuk meraih kehidupan terbaik dan
metode utama untuk berinteraksi dengn orang lain. Dengan akhlak islami, perilaku manusia
didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan. Perilaku ini ditujukan untuk kehidupan yang lebih
baik. Sebagian ulama berpendapat bahwa akhlak dalam perspektif Islam adalah sekumpulan
asas dan dasar yang diajarkan oleh wahyu Ilahi untuk menata perilaku manusia. Hal ini
dalam rangka mengatur kehidupan seseorang serta mengatur interaksinya dengan orang lain.
Tujuan akhir dari semua itu adalah untuk merealisasikan tujuan diutusnya manusia di atas
muka bumi ini.
a. Sumber Akhlak Islam
Akhlak yang benar akan terbentuk bila sumbernya benar. Sumber akhlak bagi seorang
muslim adalah al-Quran dan as-Sunnah. Sehingga ukuran baik atau buruk, patut atau
tidak secara utuh diukur dengan al-Quran dan as-Sunnah. Sedangkan tradisi
merupakan pelengkap selama hal itu tidak bertentangan dengan apa yang telah
digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Menjadikan al-Quran dan as-Sunnah sebagai
sumber akhlak merupakan suatu kewajaran bahkan keharusan. Sebab keduanya
berasal dari Allah dan oleh-Nya manusia diciptakan. Pasti ada kesesuaian antara
manusia sebagai makhluk dengan sistem norma yang datang dari Allah SWT.

b. Faktor-faktor Pembentuk Akhlak


1. Al-Wiratsiyyah (Genetik)
Misalnya: seseorang yang berasal dari daerah Sumatera Utara cenderung berbicara
keras, tetapi hal ini bukan melegitimasi seorang muslim untuk berbicara keras
atau kasar karena Islam dapat memperhalus dan memperbaikinya.
2. An-Nafsiyyah (Psikologis)

Faktor ini berasal dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga (misalnya
ibu dan ayah) tempat seseorang tumbuh dan berkembang sejak lahir. Semua
anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, orangtuanyalah yang menjadikannya
Yahudi, Nasrani atau Majusi (Hadits).

Seseorang yang lahir dalam keluarga yang orangtuanya bercerai akan berbeda
dengan keluarga yang orangtuanya lengkap.
3. Syariah Ijtimaiyyah (Sosial)
Faktor lingkungan tempat seseorang mengaktualisasikan nilai-nilai yang ada pada
dirinya berpengaruh pula dalam pembentukan akhlak seseorang.
4. Al-Qiyam (Nilai Islami)
Nilai Islami akan membentuk akhlak Islami.Akhlak Islami ialah seperangkat
tindakan/gaya hidup yang terpuji yang merupakan refleksi nilai-nilai Islam yang
diyakini dengan motivasi semata-mata mencari keridhaan Allah.
c. Pentingnya Akhlak Islami
Akhlak ialah salah satu faktor yang menentukan derajat keislaman dan
keimanan seseorang .
Akhlak merupakan lambang kualitas seorang manusia, masyarakat, umat
karena itulah akhlak pulalah yang menentukan eksistensi seorang muslim
sebagai makhluk Allah SWT
d. Cara mencapai akhlak mulia
Menjadikan iman sebagai pondasi dan sumber
Pendekatan secara langsung
Pendekatan tidak secara langsung
e. Contoh akhlak islam

Berlaku jujur apa adanya


Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Hendaklah kamu
berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan
akan membawa seseorang ke surga, dan jika seseorang selalu berlaku jujur
serta memilih kejujuran sehingga akan dicatat di sisi Allah sebagai orang
yang sangat jujur. (HR. Bukhari-Muslim)

Menunaikan amanah

Allah Subhaanahu wa Taaala berfirman: Sesungguhnya Allah


menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya
dst. (QS. An Nisaa: 58)
Amanat artinya setiap yang dibebankan kepada manusia dan mereka
diperintahkan memenuhinya. Allah Subhaanahu wa Taaala memerintahkan
hamba-hamba-Nya menunaikan amanat secara sempurna tanpa mengurangi.
Termasuk ke dalam amanat adalah amanat beribadah (seperti shalat, zakat,
puasa dsb.), amanat harta, amanat untuk dirahasiakan dsb. Contoh menunaikan
amanat dalam hal harta adalah dengan menjaganya dan mengembalikan
kepada pemiliknya secara utuh, sedangkan amanat dalam rahasia adalah
dengan menyembunyikannya; tidak membukanya.

Menepati janji.
Allah Azza wa Jalla berfirman: Dan penuhilah janji; sesungguhnya
janji itu pasti diminta pertanggung jawabannya. (QS. Al Israa: 34)
Menyalahi janji adalah salah satu ciri orang munafik. Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam bersabda: Tanda orang munafik itu tiga; jika berbicara
berdusta, jika berjanji menyalahi dan jika dipercaya khianat. (HR. BukhariMuslim, dan dalam riwayat keduanya dari hadits Abdullah bin Amr ada
tambahan Dan jika bertengkar berbuat jahat.)

Tawadhu (berendah diri).


Allah Azza wa Jalla berfirman: Dan berendah dirilah kamu terhadap
orang-orang yang beriman. (QS. Al Hijr: 88)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya
Allah telah mewahyukan kepadaku untuk bertawadhu, sehingga tidak ada
lagi orang yang bersikap sombong dan angkuh terhadap yang lain. (HR.
Muslim)

Berbakti kepada orang tua.


Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua
orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah
yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah
kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah
kembalimu.Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan
aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu
mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baikdst.
(QS. Luqman: 14-15)

Menyambung tali silaturrahim (hubungan kekeluargaan).


Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa yang
ingin dilapangkan rezkinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah
tali silaturrahim. (HR. Bukhari)

Berlaku baik kepada tetangga


Memuliakan tamu.
Dalil berbuat baik kepada tetangga dan memuliakan tamu disebutkan
dalam hadits berikut: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari
akhir, maka hendaklah berkata yang baik atau diam. Barang siapa yang
beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia muliakan
tetangganya, dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir
maka hendaknya ia memuliakan tamunya. (HR. Bukhari-Muslim)

Dermawan.
Rasulullah shallallahu alaihi
Taalah Maha Pemurah, Dia
mencintai akhlak yang tinggi
Baihaqi dalam Syuabul Iman,
Jaami no. 1744)
Santun dan pemaaf.

wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah


mencintai sifat pemurah (dermawan), Dia
dan membenci akhlak yang rendah. (HR.
dan Abu Nuaim dalam Al Hilyah, Shahihul

Allah Azza wa Jalla berfirman: Dan hendaklah mereka memaafkan


dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?
(QS.
An
Nuur:
22)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sedekah tidaklah
mengurangi harta. Allah tidaklah menambahkan hamba-Nya yang selalu
memaafkan kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang bertawadhu karena
Allah kecuali Allah akan meninggikannya. (HR. Muslim)

Mendamaikan
manusia.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Maukah kamu aku
beritahukan hal yang lebih utama dari derajat puasa, shalat dan sedekah
(sunat)? Yaitu mendamaikan orang yang bermusuhan, karena merusak
hubungan adalah yang memangkas (agama). (HR. Ahmad, Abu Dawud dan
Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani no. 2595)
Malu.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Malu termasuk bagian
dari iman. (HR. Bukhari-Muslim). Malu tidaklah mendatangkan selain
kebaikan. (HR. Bukhari-Muslim)
Berkasih sayang

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sayangilah


makhluk yang ada di bumi, niscaya yang ada di atas langit (Allah) akan
menyayangimu. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Hakim, Shahihul
Jami no. 3522)

Berlaku adil.
Allah Taala berfirman: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu)
berlaku adil dan berbuat ihsan, memberi kepada kaum kerabat, dan melarang
dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran
kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. An Nahl: 90)

Menjaga kesucian diri (iffah).


Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Berjanjilah
untukku untuk melakukan enam perkara, niscaya aku akan menjanjikan kamu
surga; berkatalah yang benar ketika kamu berbicara, penuhilah janji ketika
kamu berjanji, tunaikanlah amanat ketika kamu diamanati, jagalah
kehormatanmu, tundukkanlah pandanganmu dan tahanlah tanganmu (dari
melakukan yang tidak dibolehkan secara syara). (HR. Ahmad, Ibnu Hibban,
Hakim dan Baihaqi dalam Asy Syuab, dan dihasankan oleh Al Albani dalam
Shahihul Jaami no. 1018).

f. Akhlak islami dalam kaitannya dengan status pribadi


Dibagian ini kami akan menjelaskan Akhlak islami yang mengatur
dan membatasi kedudukan (satus) pribadi sebagai:
1. Hamba Allah
2. Anak
3. Ayah/ibu
4. Anggota masyarakat
5. Jamaah
6. Dai/Muballigh
7. Pemimpin
Dengan demikian akhlak islami mengarah kepada status pribadi yang berada pada
kelompok social yang beraneka ragam. Fungsi, peran dan bagaimana semestinya
berperilaku pada posisi(kedudukan) dalam kelompok sosial tersebut, dengan adanya
akhlak Islami dapat dihindari (pola hubungan manusia dengan manusia, dan
hubungan manusia dengan kholiqnya) keliruan bertindak.

1. Pribadi sebagai Hamba Allah


Kenyataan di jagad raya (dunia) membuktikan bahwa ada kekuatan yang tidak
Nampak. Dia mengatur dan memelihara alam semesta ini.Juga Dialah yang menjadi
sebab adanya semua ini. Dalam pengaturan alam semesta ini terlihat ketertiban, dan
ada suatu peraturan yang berganti-ganti dan gejala dating dengan keteraturan-Nya.
Semua kenikmatan tersebut, bukan berarti Sang Pencipta mempunyai maksud
kepada manusia supaya membalas dengan sesuatu, itu tidak, tetapi Allah
SWT.memerintahkan manusia agar senantiasa beribadah kepada-Nya.
Hubungan manusia dengan Allah adalah hubungan makhluk dengan kholiknya.
Dalam masalah ketergantungan , hidup manusia selalu mempunyai ketergantungan
kepada yang lain. Dan tumpuan serta pokok ketergantungan adalah ketergantungan
kepada yang Maha Kuasa, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha
Sempurna, ialah Allah Rabul alamin, Allah Tuhan Maha Esa.

Ketergantungan manusia kepada Allah ini, difirmankan Allah:


{2::}

Artinya:
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.(QS.Al-Ikhlas:2)
Kalau di dalam sesuatu hal dalam hidup sehari-hari untuk mencapai suatu tujuan
tergantung kepada Sesuatu, maka kita harus memperhatikan ketentuan dari
Sesuatu itu agar tujuan kita tercapai. Memenuhi ketentuan Sesuatu itu adalah
sesuatu keharusan bagi kita.
Kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat, tergantung kepada izin dan ridha Allah.
Dan untuk itu Allah memberikan ketentuan-ketentuan agar manusia dapat
mencapainya. Maka untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat itu dengan
sendirinya kita harus mengikuti ketentuan-ketentuan dari Allah SWT.
Dari segi kemanusiaan, sebagai manusia yang normal yang mempunyai sifat
kemanusiaan, harus tahu berterima kasih kepada segala pihak yang telah memberikan
jasa. Kita akan disebut orang yang tak tahu diri, kalau kita ditolong oleh seseorang,
kemudian orang itu tidak kita terima kasih apalagi malah orang itu kita marahi.
Kalau kita ditolong oleh orang lain dalam hidup kita ini, maka sewajarnyalah kalau
kita berterima kasih kepada orang yang telah member pertolongan itu.
Maka akan timbul di dalam hati bagaimana dapat membalas jasa atau membalas budi
kepada orang yang telah member pertolongan itu. Maka akan timbul di dalam hati
bagaimana dapat membalas jasa atau membalas budi kepada oaring yang telah

member tolong itu tadi. Kalau tidak dapat dapat memberikan balasan budi yang
sepadan, sekurang-kurangnya akan mengatakan terima kasih dengan perbuatan yang
hormat, menunjukkan betapa berterima kasihnya dan keinginan membalas budi
walaupun tidak terbalas oleh dirinya, dia mengharapkan mudah-mudahan dibalas
kebaikannya itu dengan pahala yang berlipat ganda oleh Allah.
Kalau kita diberi sesuatu sebagai hadiah oleh seseorang, yang hadiah itu sangat
bermanfaat bagi kita,tentu kita akan senang dan berterima kasih kepada orang yang
member it. Malah timbul kehendak ingin membalas kebaikannya orang itu dengan
sesuatu yang berharga baginya.
Sifat berterima kasih kepada orang yang telah berjasa kepada dirinya adalah sifat
kemanusiaan, yang sesuai dengan bisikan hati nurani setiap orang.Dari tindakan moral
inilah kemudian timbul adat-istiadat, sopan-santun dan tata susila.
Karena itulah kiranya sangat wajar dan seharusnya, apabila setiap anak harus hormat
dan berbudi baik kepada orang tuanya, seseorang harus berbudi baik kepada
temannya. Seorang atasan harus berterima kasih dan berbudi kepada bawahannya,
karena bawahannya telah memberikan bantuan kelancaran programnya. Bawahan
harus berterima kasih dan berbudi baik kepada atasannya karena bimbingan dan
kebijaksanaannya. Apa yang telah kita terima dari Allah SWT. Sungguh tak dapat
dihitung dan tak dapat dinilai dengan materi banyaknya. Dan kalau kita mau
menghitungnya, karena terlalu amat sangat banyaknya. Firman Allah:
{18: }

Artinya:
Dan jaika kamu menghitung-hitung nikamat Allah, niscaya kamu tidak dapat
menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi maha
Penyayang.
(QS.An-Nahl:18)
Secara moral manusiawi, manusia mempunyai kewajiban kepada Allah sebagai
kholiknya, yang telah member kenikmatan yang tak terhitung jumlahnya.
Pada garis besarnya kewajiban manusia kepada Allah menurut hadits Nabi, yang
diriwayatkan dari sahabat Muadz bin Jabal bahwa Nabi Saw. Bersabda kepada Mu
:

: :
: ! : ,
Artinya:
Adalah aku duduk di belakang Nabi di atas sebuah keledai yang dinamai Ufair, maka
bersabda Nabi: Hai Muadz apakah engkau mengetahui hak Allah atas hamba-Nya

dan apa hak engkau mengetahui hak hamba terhadap Allah? Menjawab aku, Allah dan
Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Bersabda Nabi: maka bahwasanya hak Allah atas
para hamba, ialah : Mereka menyembah-Nya dan tidak memperserikatkan Dia dengan
sesuatu dan hak para hamba terhadap Allah, Tiada Allah mengadzabkan orang yang
tidak memperserikatkan Dia dengan sesuatu. Mka berkata aku, ya Rasullah, apa tidak
lebih baik saya menggembirakan para manusia dengan dia? Bersabda Nabi, jangan
kamu menggembirakan mereka yang menyebabkan mereka akan berpegang kepada
untung saja.
(Al-Lula uwal Marjan I:8)
Jadi berdasarkan hadits ini kewajiban manusia kepada Allah pada garis besarnya ada
2( dua):
1. Mentauhidkan-Nya yakni tidak memusyrikkan-Nya kepada sesuatupun.
2. Beribadah kepada-Nya.
Orang yang demikian ini mempunyai hak untuk tidak disiksa oleh Allah, bahkan akan
diberi pahala dengan pahala yang berlipat ganda, dengan sepuluh kali lipat sampai
tujuh ratus kali lipat bahkan dengan lipat ganda yang tak terduga banyaknya oleh
manusia.
2.

Pribadi sebagai Anak


Ketika nabi Ibrahim masih kecil, berdialog kepada ayahnya tentang Tuhan. Dan
kesimpulannya bahwa Tuhan telah member petunjuk kepada manusia bahwa
memperTuhan benda adalah sangat keliru.
Dengan demikian, dunia anak sangat penting diperhatikan. Apabila keliru dalam
mendidik akhlak anak, bias jadi dunia anak akan tidak mengenal akhlak yang lebih
lanjut anak akan melakukan perbuatan yang abnormal kriminalitas dan lain
sebagainya. Contoh dalam pendidikan akhlak, apabila anaka-anak sekolah berdusta di
dalam segala apa yang mereka bicarakan, didukung para gurunya berdusta juga di
dalam mengajar dan segala pembicaraannya, maka masyarakat (anak-anak) tidak
dapat berujud. Dan apabila dunia anak terancam demikian, masyarakat yang akan
dating tidak dapat berwujud karena adanya tiap-tiap yang dibicarakan menjurus dusta.
Dan yang membekas dan berwujud pada masyarakat yang merusak dan rendah
martabatnya.
Maka model mendidik akhlak anak, tidak langsung berkata itu baik, atau itu buruk,
apabila seorang anak baru saja belajar membaca, menurut kita itu jelek/buruk namun
kita tidak seharusnya berkata demikian. Sebab dapat menyakiti hati dan patah
semangat. Tetapi kita beri semangat dan dorongan yang dapat memacu dan bergiatnya
si anak.

Selain daripada itu, kisah luqman yang diberi hikmah oleh Allah. Hal ini dijelaskan di
dalam surat Luqman: 12:
{12: }
Artinya:
Dan sesungguhnya telah kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu bersyukurlah
kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya ia
bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka
sesungguhnya Allah Maha Kaya Lagi Maha Terpuji.
(QS.Luqman: 12)
Kelanjutan kisah Luqman yang termuat dalam ayat di atas, bahwa beliau menasehati
dan member pesan kepada generasi selanjutnya (anak-anak) untuk mewarisi nilai-nilai
akhlak sebagai berikut:
a. Dilarang berbuat syirik (Menyekutukan) Allah (Luqman: 13)
b. Kewajiban berbakti kepada kedua oaring tua (Luqman: 14)
c. Keharusan tetap berbakti kedua orang tua di dunia(Luqman: 15)
d. Perintah menegakkan sholat, amar maruf, nahi munkar dan sabar (Luqman: 17)
e. Tidak bersikap sombong, angkuh dan membanggakan diri sendiri (Luqman: 18)
f. Perintah bersikap sopan, santun dalam berjalan atau berbicara (Luqman: 19)
3.

Akhlak Pada Ayah dan Ibu


Betapa berat tangguangan seorang ibu dikala mengandung dan demikian pula
kalau sudah dating waktunya melahirkan. Dengan mengerahkan seluruh perhatian,
jiwa raga dan tenaga si ibu melahirkan jabang bayinya dengan harap-harap cemas.
Berharap agar si bayi yang dilahirkannya sehat dan sempurna keadaannya sebagai
manusia sempurna anggota badannya, seperti susunan jasmaninya dan tumbuh dalam
keadaan yang wajar baik jasmani maupun rohaninya. Cemas kalau-kalau jabang
bayinya tidak normal baik jasmani dan rohaninya atau ada gangguan-ganguan yang
tidak diinginkannya. Di samping itu derita jasmani si ibu menahan dikala melahirkan
jabang bayinya tersebut.
Setelah jabang bayinya lahir, betapa kasih saying si ibu kepada anaknya, seakan-akan
segala yang ada pada si ibu adalah untuk anaknya. Jiwa, raga perhatian, kasih saying
semuanya ditumpahkan untuk si jabang bayi itu, agar si bayi selamat sentosa dalam
pertumbuhannya menjadi manusia yang baik. Kata sanjung dan manjaan, kata timang
yang mengandung doa dan harapan meluncur dicurahkan untuk si bayi, semoga kelak
menjadi manusia yang ideal.

Mengapa demikian besar kasih sayang ibu kepada anaknya. Padahal sewaktu belum
mengandung seakan belum mau mempunyai anak. Atau karena anaknya sudah dua
tiga ingin tidak ada yang keempat. Tetapi karena dikarunia Tuhan anak yang
selanjutnya kasih saying ibu tidak ada bedanya antar kepada yang pertama yang kedua
dan seterusnya.
Dari mana datangnya cinta kasih saying kepada putranya, padahal tiada pamrih. Lain
dengan cinta seorang kekasih kepada pacarnya, yang kalau kasihnya tiada terbalas
bias berbalik menjadi benci. Tetapi kasih ibu bagaimanapun tiada akan berubah dan
hilang, walaupun si anak tiada membalas kasih dan cinta ibu.
Memang itu kareana Hidayah, anugerah dari pada Allah Yang Maha Pengasih dan
Penyayang. Hidayah itu tersebut insting atau naluri, dalam ilmu agama disebut
Hidayah-ghariziyyah.
Beberapa perkara yang harus di perhatikan dan dilaksanakan oleh seorang anak
kepada Orang tua yakni:
a.

Berbuat Baik kepada Ibu dan Ayah, Walaupun keduanya Lalim


Seorang anak menurut ajaran islam diwajibkan berbuat baik kepada ibu dan
ayahnya, dalam keadaan bagaimanapun. Artinya jangan sampai seorang anak samapai
menyinggung perasaan orang tuanya, walaupun seandainya orang tuanya berbuat
lalim kepada anaknya, dengan melakukan yang tidak semestinya, maka jangan sekalikali si anak berbuat tidak baik, atau membalas atau mengimbangi ketidakbaikan orang
tua kepada anaknya. Allah tidak meridhoinya sehingga orang tua itu meridhoinya.

b.

Berkata Halus dan mulia kepada Ibu dan Ayah


Kewajiban anak kepada orang tuanya berbicara menurut ajaran islam harus
berbicara sopan, lemah lembut dan mempergunakan kata-kata mulia hal ini dituturkan
dalam Firman Allah:




.
: }

{24-23
Artinya:
Dan Tuhan telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain kepadaNya dan hendaknya kamu berbuat baik kepada ibu bapak kamu dengan seabaikbaiknya. Jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya samapi berumur lanjut
dalam pemeliharaan kamu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada
keduanya perkataan ah dan janganlah membentak mereka dan ucapkanlah kepada
mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka dengan
penuh kesayangan dan ucapakan doa:Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka kedua,
sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil. (QS.Al-Isra: 23-24)

Dari ayat-ayat tersebut, dapat di tarik kesimpulan bahwa sewajarnya seorang anak
untuk berbuat baik kepada orang tua baik berbicara dan yang lain- lain. Dengan cara
tidak menyinggung perasaan orang tua dan tidak berkata kasar kepada mereka.
c.

Berbuat baik kepada Ibu dan atau Ayah yang sudah meninggal dunia
Apabila ibu dan ayah masih hidup, si anak berkewajiban berbuat baik, dan itu mudah
dilakukan dengan berbagai macam cara, baik yang bersifat moaral, maupun yang
bersifat material.
Bagaimana berbuat baik seorang anak kepada ayah dan atau ibunya yang sudah tiada.
Hal ini agama islam mengajarkan supaya seorang anak:

a.

Mendoakan ayah ibu yang telah tiada itu dan memintakan ampun kepada Allah dari
segala dosa orang tua kita. Doa yang sering di amalkan yakni:

b.

Menepati janji kedua ibu bapak, Kalau sewaktu hidup orang tua mempunyai janji
kepada seseorang, maka anaknya harus berusaha menunaikan menepati janji tersebut.
Umpamanya beliau akan naik haji, yang belum sampai melaksanakannya. Maka
kewajiban anaknya untuk menunaikan haji untuk orang tuanya tersebut. Dan hal ini
diperbolehkan menurut hadits riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Abbas:
:



, :
{}
Artinya:
Bahwa seorang perempuan dari Juhainah dating kepada Nabi Saw, ia bertanya
kepada Rasullah: Bahwasannya ibu saya telah bernazar untuk berhaji, tapi ia tidak
haji sampai meninggal dunia. Apakah boleh saya menghajikannya? Jawab
Rasullah:ya, hajikanlah! Apakah kau tahu, kalau seandainya ibu mempunyai hutang,
apakah engkau membayarkannya? Bayarkan (tepatilah) kepada Allah, sesungguhnya
Allah lebih berhak untuk ditepati!

c.

Memuliakan teman-teman kedua orang tua. Di waktu hidupnya ibu dan ayah,
beliau-beliau mempunyai teman-teman akrab, yang segulung-segalang orang tua kita
dengan temannya.

d.

Bersilaturrahmi kepada orang-orang yang mempunyai hubungan dengan kedua


orang tua.

4.

Akhlak kepada Anggota Masyarakat/ Jamaah


Pokok utama kerasulan nabi Muhammad Saw adalah menyempurnakan akhlak yang
mulia. Mencakup semua bentuk sikap dan perbuatan yang terpuji dikalangan orang-

orang (masyarakat) yang bertaqwa. Di samping terpuji berdasarkan norma-norma


yang ditetapkan Allah SWT.
Akhlak mulia merupakan akhlak yang berlaku dan berlangsung di atas jalur AlQuran dan perbuatan nabi Muhammad Saw. Dalam sikap dan perbuatan. Seperti di
dalam Al-Quran surat l-Qalam ayat 4.Dan sesungguhnya engkau Muhammad
mempunyai akhlak yang mulia.
Dengan demikian setiap muslim diwajibkan untuk memlihara norma-norma (agama)
di masyarakat terutama di dalam pergaulan sehari-hari baik keluarga rumah tangga,
kerabat, tetangga dan lingkungan kemasyarakatan.
Tolong-menolong untuk kebaikan dan takwa kepada Allah adalah perintah Allah,
yang dapat ditarik hokum wajib kepada setiap kaum muslimin dengan cara yang
sesuai dengan keadaan objek orang bersangkutan, Allah berfirman dalam Al-Quran
surat Al-Maidah, ayat 2:
{2: }
Artinya:
dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa,
dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran/permusuhan.
Dalam pergaulan yang sesuai dengan norma-norma agama, ada beberapa yang harus
di perhatikan yakni bagaimana cara berbahasa, cara salam, cara makan dan minum,
cara di majles pertemuan, cara minta ijin masuk, cara member ucapan selamat, cara
berkelakar atau becanda, cara menjenguk orang sakit, dan cara taziah. Dan
kesemnilan tata cara diatas akan diterangkan secara terperinci di bawah ini:
a.

Tata cara berbahasa


Setiap muslim (umat islam) dan semua orang diperintah untuk selalu berbahasa
dengan bahasa yang jelas dan baik, bahasa yang mudah dimengerti oleh lawan bicara,
sesuai tingkat usia, masyarakat dan tingkat kedudukannya. Di dalam islam ada
peribahasa yang menyatakan bahwa bahasa menunjukkan taqwa.

b.

Tata cara salam


Setiap masyarakat, agama atau bangsa memiliki tata cara member salam, sebagaimana
juga dengan islam. Salam telah menempati kedudukan sendiri dalam Islam. Lebih
istimewa disbanding dengan agama di luar Islam.
Sebagaimana landasan salamdi dalam firman Allah surat An-Nur ayat 27:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang buka
rumahmu sebelum meminta ijin dan member salam kepada penghuninya. Yang
demikian itu lebih baik bagimu agar kamu(selalu) ingat.

(QS.An-Nur: 27)
c.

Tata cara makan dan minum


Cara memegang sesuatu makanan dan minuman dengan tangan kanan. Dimulai
membasuh sebelum makan, membaca basmallah dan diakhiri mengucapkan
Alhamdulillah. Sikap yang dimiliki oleh orang yang sedang makan dan minum
adalah dengan duduk yang baik. Tanpa bersuara, tanpa bersandar sambil makan dan
minum. Apabila sifatnya undangan bagi yang mengundang mempersilahkan dengan
bahasa yang sopan. Dan bagi yang diundang dengan menyambut yang baik,
mendoakan si pengundang, mendahulukan orang yang lebih tua, jangan mencaci
hidangan yang ada di depannya, walaupun tak berselera.
Dalam adab minum, tidak boleh menggunakan peralatan dari emas dan perak, jangan
menarik nafas dan menghembuskan kembali ke dalam cangkir. Apabila menggunakan
kendi (dan sejenisnya) tidak boleh melekat pada mulut di bibir kendi.

d.

Tata cara di majelis pertemuan


Bagaimana adab kita berada di majles pertemuan? Jawabannya adalah pertama kali
baru masuk member salam, kemudian baru dapat duduk yang telah disediakan,
menyalami teman yang mendahului duduk, jangan sekali-kali menggeser tempat
duduk milik orang lain. Di samping itu juga jangan menggunakan bahasa yang dapat
menyinggung perasaan teman duduk. Ketika ingin meninggalkan tempat minta ijin,
juga bila ke luar membaca doa kifaratul majelis.

e.

Tata cara minta ijin masuk


Di dalam masyarakat dan Negara ada aturan-atauran tertentu baik ijin masuknya,
waktu maupun prosedurnya bagi setiap orang yang ingin memasuki kamar, rumah
orang lain atau Negara.
Aturan Islam bagi seseorang yang ingin masuk rumah orang lain, maka paling awal
yang dilakukan adalah member salam. Apabila tidak baik kembali. Di dalam
mengetuk pintu dilakukan secara wajar, menyatakan nama diri. Tidak boleh berdiri
tepat di tengah-tengah pintu ketika dibukakan. Apabila ditolak tidak boleh sedih hati
namun harus dikendalikan dengan hati yang bersih.

f.

Tata cara member ucapan selamat


7(tujuh) rangkaian(munasabah) yang ada dalam islam ketika mengucapkan salam
ucapan salam. Ketujuh rangkaian tersebut antara lain:

a.

Dalam rangka acara pernikahan

b.

Dalam rangka kelahiran seorang bayi kepada ibunya

c.

Kembalinya seorang musafir (yang berpergaian)

d.

Pulangnya seorang dari jihad

e.

Sekembalinya dari haji

f.

Pada hari raya idul fitri dan idul adha

g.

Ketika seseorang mendapat kenikmatan tertentu seperti kenaikan pangkat, mendapat


hadiah apa saja yang membuat seseorang merasakan kebahagiaan.
Ketujuh peristiwa pada waktu dan suasana pemberian ucapan selamat
tersebut telah ditentukan cara bagaimana member ucapan selamat (sebagaimana
keterangan b).

g.

Tata cara bekelar


Di dalam ajaran Islam, berkelar atau becanda diperbolehkan. Namun hal itu bukan
berarti bebas, sesuka hati, sehingga tak ingat norma social. Ada tiga syarat
diperbolehkan bercanda yaitu:

a.
b.

Tidak boleh berlebih-lebihan sehingga menjadikan lupa kepada Allah


Tidak boleh berkelar sehingga menyakiti baik yang bersifat jasmaniah dan rohaniah
seperti ucapan hinaan.

c.

Tidak bersifat dusta atau penipuan dan kata-kata kotor.

h.

Tata cara menjenguk orang sakit


Seseorang yang hidup di masyarakat, mau mengunjungi orang sakit tetangganya
(jamaah) adalah suatu tindakan terpuji. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan,
dalam kunjungan orang sakit yaitu:

a.
b.

Segera mungkin setelah ada orang sakit


Mengungkapkan dengan kata-kata yang meringankan beban batinnya orang yang
sakit.

c.

Ajarkan doa peringan perih pada bagian tubuh

d.

Mendoakan secara khusus bagi si sakit ketika masuk

e.

Duduk agak dekat dengan kepala si sakit

f.

Mintalah ia mendoakan kita

g.

Bila sudah gawat ajari si sakit dengan kalimat tauhid dan bacaan surat yasin.

i.

Tata cara taziah

Taziah dilakukan jamaah (masyarakat) dalam rangka meringankan beban lahir batin
bagi keluarga yang ditimpa musibah. Mka sikap dan tindakan tersebut bermaksud
untuk menentramkan hati mereka. Menurut ajaran islam, tata cara taziah atara lain:
a.

Mengucapkan perkataan yang pernah diucapkan oleh nabi Saw. Dan para
sahabatnya.

b.

Member makan keluarga yang terkena musibah

c.

Menunjukkan rasa belasungkawa

d.

Member nasehat yang baik.

5.

Akhlak DaI/ Mubaligh


Telah jelas ujian bagi penyebar agama islam yang paling hebat adalah para nabi.
Kemudian orang-orang saleh, para Dai/ mubaligh yang menyeri atau mengangguk
manusia untuk mentauhidkan Allah dan ikhlas dalam beribadah.
Dalam mempersiapkan diri yang telah mengikrarkan untuk berjalan mengikuti manhaj
para nabi dalam dakwah, maka para nabi harus membekali diri dengan akhlakul
karimah. Sebab Dai/mubaligh di masyarakat menjadi suri tauladan secara langsung.
Baik perilaku, sikap perbuatan maupun perkataannya.
Jalan yang harus ditempuh selanjutnya, daI harus berusaha terus membersihkan jiwa.
Segala apa yang mengganjal, menutup dan tersembunyi di hati nurani, DaI harus
berusaha juga menerangi segala rahasia dirinya. Dan senantiasa mohon petunujuk dan
pertolongan dari Allah. Dengan demikian dirinya menjadi baik atas kuasa Allah SWT.
Para Dai memiliki ilham yang man merupakan martabat yang tinggi dalam dirinya
yang selalu menghubungkan dengan Allah. Di dalam hati DaI ada bisikan-bisikan
yang benar yang berada pada lisannya karena tergisik dari hati yang bersih.

Menurut Jamludin Kafie, sebagai DaI, pelaksana dakwah harus


memperhatikan prinsip-prinsip kemimpinan yang baik yaitu:
a.

Sifat terbuka

b.

Berani berkorban

c.

Aktif berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat

d.

Sanggup menjadi pelopor dan perintis dalam kebajikan

e.
f.

Mengembangkan sifat-sifat kooperatif, kemusiaan dan sikap-sikap toleransi,


kebijaksanaan dan keadilan social
Tidak menjadi parasit atau membebani masyarakat

g.

Percaya diri dan yakin akan kebenaran yang dibawanya

h.

Optimis dan tidak putus asa[2]


Dengan demikian sikap DaI harus memahami kondisi dan situasi masyarakat
yang menjadi sasarannya. Juga perlu terus menambah wawasannya. Kerena beraneka
ragam budaya , kompleksitas permasalahan di masyarakat.

6.

Akhlak Pemimpin
Tugas pemimpin tidak ringan. Tanggung jawab yang ia pikul senantiasa
bernafaskan amanat. Baik amanat dari masyarakat/ warga atau Negara. Bahkan
agama. Agama islam sangat memperhatikan masalah kepemimpinan. Menurut Islam.
Semua pemimpin akan dimintai pertanggung jawabnya. Pemimpin keluarga
bertanggung jawab atas kebahagiaan, kesejahteraan keluarganya, pemimpin
Negara/bangasa akan dimintai pertanggung jawabnya oleh masyarakat dan lain
sebagainya.
Sebagai contoh seorang pemimpin sejati adalah Rasullah Saw dan para
sahabatnya seperti Abu bakar sebagai orang yang berwibawa dan tenang. Oerangnya
penuh ramah tamah, cinta sesama dan selalu membenarkan dan menepati pada rasul
yang agung. Umar bin khotob sebagai pemimpin yang mempunyai pendapat yang
berbobot. Dia adalah orang yang terpercaya terhadap rahasia-rahasianya. Utsman
sebagai pengumpul firman Kitab Allah. Dia adalah seorang pemimpin yang
meluruskan akida. Sedangkan Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin yang pandai
menyusun pasukan perang untuk mengalahkan orang-orang jahat. Dan Ali adalah
seorang pemimpin yang mampu sebagai pewaris ilmu rasullah dan pemelihara
janjinya.
Demikianlah akhlak pemimpin yang dicontohkan kepada kita untuk menjadi
pemimpin sejati. Akhlak pemimpin baik, sebab sifat, perilaku dan sikapnya dapat
membahagiakan orang lain (umat manusia) dan menampakkan karismatiknya pada
yang dipimpin, jadi dapat dikemukakan di sini, bahwa pemimpin berakhlak baik
apabila memiliki kepribadian yang sesuai dengan tata aturan (ketentuan) agama,
masyarakat, keluarga dan Negara/bangsa.

7.

Akhlak Mahmudah dan Mazmumah

Ada 2 (dua) penggolongan akhlak secara garis besar yaitu: akhlak


mahmudah(fadilah) dan akhlak mazmumah(qabihah). Di samping istilah tersebut
Imam Al-Ghazali menggunakan juga istilah munjiyat untuk akhlak mahmudah dan
muhlihat untuk yang mazmumah.

Di kalangan ahli tasawuf, kita mengenal system pembinaan mental, dengan istilah:
Takhalli, tahalli dan tajalli.
Takhalli adalah mengosongkan atau membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela, karena
sifat-sifat tercela itulah yang dapat mengotori jiwa manusia.
Dan tahalli adalah mengisi jiwa ( yang telah kosong dari sifat-sifat tercela)
dengan sifat-sifat yang terpuji (mahmudah).
Jadi dalam rangka pembinaan mental, pensucian jiwa hingga dapat berada
dekat dengan Tuhan, maka pertama kali yang dilakukan adalah pengosongan atau
pembersihan jiwa dari sifat-sifat tercela, hingga akhirnya sampailah pada tingkat
berikutnya dengan apa yang disebut tajalli, yakni tersikapnya tabir sehingga
diperoleh pancaran Nur Ilahi.
Sedangkan yang dimaksud dengan akhlak mahmudah adalah segala macam sikap dan
tingkah laku yang baik (yang terpuji). Sebaliknya segala macam sikap dan tingkah
laku yang tercela disebut dengan akhlak mazmumah. Akhlak mahmudah tentunya
dilahirkan oleh sifat-sifat mahmudah yang terpendam dalam jiwa manusia, demikian
pula akhlak mazmumah dilahirkan oleh sifat-sifat mazmumah. Oleh karena itu
sebagaimana telah disebutkan terdahulu bahwa sikap dan tingkah laku yang lahir
adalah merupakan cermin/ gambaran daripada sifat/kelakuan batin.

Beberapa akhlak mahmudah seperti bersikap setia, jujur, adil, pemaaf,


disenangi, menepati janji, memelihara diri, malu, berani, kuat, sabar, kasih sayang,
murah hati, tolong menolong, damai, persaudaraan, menyambung tali persaudaraan,
menghoranati tamu, merendahkan diri, berbuat baik, menundukkan diri, berbudi
tinggi, memlihara kebersihan badan, cenderung kepada kebaikan, merasa cukup
dengan apa yang ada, tenang, lemah lembut, bermuka manis, kebaikan, menahan diri
dari berlaku maksiat, merendahkan diri kepada Allah, berjiwa kuat dan lain
sebagainya.
Sedangkan yang termasuk dalam akhlak mazmumah, antara lain; egoistis,
lacur, kikir, dusta, peminum khamr, khianat, aniaya, pengecut, aniaya, dosa besar,
pemarah, curang, culas, mengumpat, adu domba, menipu, memperdaya, dengki,
sombong, mengingkari nikmat, homosex, ingin dipuji, ingin didengar kelebihannya,
makan riba, berolok-olok, mencuri, mengikuti hawa nafsu, boros, tergopoh-gopoh,
membunuh, penipuan, dusta, berlebih-lebihan, berbuat kerusakan, dendam, merasa
tidak perlu pada yang lain dan lain sebagainya yang menunjukkan sifat-sifat yang
tercela[3].

Manusia dengan Agama


A.

Pengertian Agama
Agama adalah ajaran turun temurun dari allah yang diwariskan oleh generasi
kegenerasi dengan tujuan untuk memberi tuntunan dan pedoman hidup bagi manusia
agar mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, yang didalamnya mencakup unsur
emosional dan kenyataan bahwa kebahagiaan hidup tersebut bergantung pada adanya
hubungan baikdengan kekuatan ghaib tersebut.

B.

Latar Belakang Perlunya Manusia terhadap Agama


Ada 3 alasan yang melatar belakangi perlunya manusia terhadap agama. Ketiga alasan
tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Fitrah Manusia
Manusia secara fitri merupakan makhluk yang memiliki kemampuan untuk
beragama. Hal demikian sejalan dengan petunjuk nabi dalam saah satu haditsnya
yang mengatakan bahwa setiap anak yang dilahirkan mewmiliki fitrah, maka kedua
orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut menjadi mukmin, yahudi atau
nasrani.
2. Kelemahan dan Kekurangan Manusia
Faktor kedua yang melatar belakangi perlunya manusia terhadap agama karena
selain manusia sebagai makhluk yang sempurna manusia juga memiliki
kekurangan dan kelemahan. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang
paling sempurna diantara makhluk ciptaannya tetapi manusia juga diberikan
kekurangan dan kelemahan.
3. Tantangan Manusia
Faktor ketiga yang melatar belakangi perlunya manusia terhadap agama karena
manusia dalam kehidupannya senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik
yang datang dari dalam maupun dari luar diri manusia. maka dari itu manusia
memerlukan agama untuk menjadikan pedoman bagi dirinya agar manusia dapat
menyelesaikan tantangan dan masalahnya dengan hati yang tenang dan tanpa
tergoda oleh setan yang memdekatinya untuk berbuat jahat.

Keluarga Sakinah, Mawadah, dan Warohmah


A. Pengertian
Kata sakinah berasal dari bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, kata sakinah mengandung
makna tenang, tenteram, damai, terhormat, aman, nyaman, merasa dilindungi, penuh
kasih sayang, dan memperoleh pembelaan. Dengan demikian keluarga sakinah berarti
keluarga yang semua anggotanya merasakan ketenangan, kedamaian, keamanan,
ketenteraman, perlindungan, kebahagiaan, keberkahan, dan penghargaan.
Kata mawaddah juga berasal dari bahasa Arab. Mawaddah adalah jenis cinta
membara, perasaan cinta dan kasih sayang yang menggebu kepada pasangan jenisnya.
Mawaddah adalah perasaan cinta yang muncul dengan dorongan nafsu kepada pasangan
jenisnya, atau muncul karena adanya sebab-sebab yang bercorak fisik. Seperti cinta yang
muncul karena kecantikan, ketampanan, kemolekan dan kemulusan fisik, tubuh yang
seksi; atau muncul karena harta benda, kedudukan,pangkat, dan lain sebagainya.
Rahmah berasal dari bahasa Arab. yang berarti ampunan, anugerah, karunia, rahmat,
belas kasih, juga rejeki. Rahmah merupakan jenis cinta dan kasih sayang yang lembut,
terpancar dari kedalaman hati yang tulus, siap berkorban, siap melindungi yang dicintai,
tanpa pamrih sebab. Bisa dikatakan rahmah adalah perasaan cinta dan kasih sayang
yang sudah berada di luar batas-batas sebab yang bercorak fisik.Implementasi
Mawaddah Wa rahmahMawaddah wa rahmah adalah sikap saling menjaga,melindungi,
saling membantu memahami hak dan kewajiban masing-masing antara lain memberikan
nafkah bagi laki-laki.Sangat indah perumpamaan yang disebutkan dalam al quran
mengenai interaksi suami-istri.
Allah berfirman:

Artinya: Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.
(QS. Al-baqarah [2]: 187)
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri
(pasangan) dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
(sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih (mawadah) dan sayang
(rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi
kaum yang berfikir (Ar-Rum : 21).
B. Ciri-ciri keluarga Sakinah Mawadah dan Warahmah
1. Rumah Tangga Didirikan Berdasarkan Al Quran dan Sunnah

Asas yang paling penting dalam pembentukan sebuah keluarga sakinah ialah rumah
tangga yang dibina atas landasan taqwa, berpandukan Al-Quran dan Sunnah dan
bukannya atas dasar cinta semata-mata. Ia menjadi panduan kepada suami istri sekiranya
menghadapi perbagai masalah yang akan timbul dalam kehidupan berumahtangga.
2. Rumah Tangga Berasaskan Kasih Sayang (Mawaddah Warahmah)
Tanpa al-mawaddah dan al-Rahmah, masyarakat tidak akan dapat hidup dengan
tenang dan aman terutamanya dalam institusi kekeluargaan
3.

Mengetahui Peraturan Berumahtangga

Setiap keluarga seharusnya mempunyai peraturan yang patut dipatuhi oleh setiap
ahlinya yang mana seorang istri wajib taat kepada suami dengan tidak keluar rumah
melainkan setelah mendapat izin, tidak menyanggah pendapat suami walaupun si istri
merasakan dirinya betul selama suami tidak melanggar syariat, dan tidak menceritakan
hal rumahtangga kepada orang lain. Anak pula wajib taat kepada kedua orangtuanya
selama perintah keduanya tidak bertentangan dengan larangan Allah.
4. Menghormati dan Mengasihi Kedua Ibu Bapak
Perkawinan bukanlah semata-mata menghubungkan antara kehidupan kedua
pasangan tetapi ia juga melibatkan seluruh kehidupan keluarga kedua belah pihak,
terutamanya hubungan terhadap ibu bapak kedua pasangan. Oleh itu, pasangan yang
ingin membina sebuah keluarga sakinah seharusnya tidak menepikan ibu bapak dalam
urusan pemilihan jodoh, terutamanya anak lelaki. Anak lelaki perlu mendapat restu
kedua ibu bapaknya karena perkawinan tidak akan memutuskan tanggungjawabnya
terhadap kedua ibu bapaknya.
5. Menjaga Hubungan Kerabat dan Ipar
Antara tujuan ikatan perkawinan ialah untuk menyambung hubungan keluarga kedua
belah pihak termasuk saudara ipar kedua belah pihak dan kerabat-kerabatnya. Karena
biasanya masalah seperti perceraian timbul disebabkan kerenggangan hubungan dengan
kerabat dan ipar.
C.

CARA MEMBANGUN KELUARGA SAKINAH MAWADAH dan WARAHMAH


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Memilih Kriteria Calon Suami atau Istri dengan Tepat


Dalam keluarga Harus Ada Mawaddah dan Rahmah
Saling Mengerti Antara Suami-Istri
Saling Menerima
Saling Menghargai
Saling Mempercayai
Suami-Istri Harus Menjalankan Kewajibanya Masing-Masing
Suami Istri Harus Menghindari Pertikaian
Hubungan Antara Suami Istri Harus Atas Dasar Saling Membutuhkan

10. Suami Istri Harus Senantiasa Menjaga Makanan yang Halal


11. Suami Istri Harus Menjaga Aqidah yang Benar

ISLAM DAN KERANGKA DASAR AJARANNYA


A. Aqidah, Syariah dan Akhlak
Secara garis besar, ajaran Agama Islam mengandung tiga hal pokok, yaitu :
a. aspek keyakinan (credial, credo) disebut juga aqidah
b. aspek ritual, norma atau hukum disebut juga syariah
c. aspek perilaku (behavioral) disebut akhlak.
Aqidah
Aspek keyakinan disebut aqidah, yaitu suatu ikatan seseorang dengan Tuhan
yang diyakininya. Aqidah berasal dari bahasa Arab yang berarti ikatan atau sesuatu
yang mengikat.
Aqidah Islam adalah tauhid, yakni meyakini keesaan Tuhan baik dalam Dzat
maupun Sifat-Nya. Keesaan Allah dalam Islam didasarkan kepada firman Allah
sendiri, bukan hasil pikiran manusia, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Ikhlas
1-3

Katakanlah (Muhammad): Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan
yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula
diperanakkan.
Syariah
Syariah adalah aturan atau hukum yang mengatur hubungan manusia dengan
Allah, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Hukum Islam terdiri dari
wajib, sunnat, mubah, makruh, dan haram.
Wajib adalah sesuatu yang apabila dilakukan diberi pahala dan apabila
ditinggalkan berdosa.

Sunnat adalah sesuatu yang apabila dilakukan diberi pahala dan apabila
ditinggalkan tidak berdosa,namun rugi tidak mendapat pahala sunnat.
Haram, yaitu apabila dilakukan berdosa, apabila ditinggalkan diberi pahala.
Makruh, Suatu perbuatan yang apabila ditinggalkan mendapat pahala, dan
apabila dikerjakan tidak mendapat berdosa.
Mubah adalah apabila dilakukan atau ditinggalkan tidak diberi pahala maupun
dosa.
Akhlak
Adapun akhlak adalah aspek perilaku yang tampak pada diri seseorang dalam
hubungan dengan dirinya, sesama manusia, dan alam sekitarnya.
Aqidah, syariah dan akhlak merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahpisahkan. Seseorang dikatakan beraqidah atau berimana manakala hidupnya telah
melaksanakan syariah. Apabila syariah telah dilaksanakannya, ia akan tampil
dengan perilaku yang baik disebut akhlak. Oleh karena itu, hubungan aqidah, syariah
dan akhlak adalah hubungan yang saling terkait satu dengan yang lain. Aqidah adalah
keyakinan yang mendorong seseorang melaksanakan syariah, apabila syariah telah
dilaksanakan berdasarkan aqidah, maka akan tampil perilaku yang disebut akhlak.
B. Agama Islam dan Ilmu keislamannya

Setiap aspek ajaran Islam berkembang membentuk ilmu - ilmu tersendiri antara lain:
1.

Aspek aqidah melahirkan ilmu kalam (teologi) yang mempelajarai sifat-sifat


Allah dan hubungan antara wahyu dan akal. Dalam kajian ini terdapat aliaranaliran
(madzhab) antara lain Khawarij, Murjiah, Mutazilah, Asyariyah, dan Maturidiyah.
Khawarij adalah aliran dalam teologi Islam yang pertamakali muncul. Dan juga
merupakan aliran teologi kaum yang terdiri para pengikut Ali bin Abi Thalibyang
meninggalkan barisannya, karena tidak setuju terhadap sikap Ali bin Abi Thalib yang
menerima Arbitrase sebagai jalan untuk menyelesaikan persengketaan khalifah
dengan Muawiyah ibn Abu Sufyan.
Murjiah adalah aliran yang muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau
terlibat dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar,
sebagaimana hal itu dilakukan oleh aliran Khawarij. Mereka menangguhkan penilaian
terhadap orang-orang yang terlibat dalam pristiwa tahkim itu dihadapan Tuhan, karena
hanya Tuhan lah yang mengetahui keadaan iman seseorang.
Qodariyah adalah sebagai aliran dalam ilmu kalam, adalah merupakakn nama yang
dipakai untuk suatu aliran yang memberikan penekanan terhadap kebebasan dan
kekuatan manusia dalam menghasilkan perbuatan perbuatannya.

Jabariah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa. Posisi manusia
dalam paham ini tidak memiliki kebebsan dan inisiatif sendiri, tetapi terikat pada
kehendak mutlak Tuhan.
Mutazilah adalah aliran yang mempunyai pandangan bahwa orang mukmin yang
melakukan dosa besar, tidak mengatakan sebagai orang kafir dan mukmin, tetapi
berada di antara keduanya, tidak mukmin dan tidak kafir.
Asyariyah berpendapat bahwa kemauan dan daya untuk berbuat adalah kemauan dan
daya Tuhan dan perbuatan itu sendiri, ditegaskan oleh Asyari, adalah perbuatan
Tuhan bukan perbuatan manusia.
2. Aspek ibadah melahirkan ilmu fiqih dan ushul fiqih. Dalam bidang ini terdapat aliranaliran Malikiyah, Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hanbaliyah.
3. Aspek muamalah atau hubungan manusia dengan manusia lahir ilmu-ilmu fiqh
muamalah. Dalam bidang ini terdapat aliran-aliran Malikiyah, Hanafiyah, Syafiiyah,
dan Hanbaliyah.
4. Aspek akhlak, etika, dan tata cara mendekatkan diri kepada Allah lahir ilmu tasawuf.
Dalam bidang ini terdapat aliran Sunni dan syiah.
5. Aspek filsafat yang membahas hakekat manusia, alam dan Tuhan melahirkan filsafat
Islam. Dalam bidang ini terdapat aliran tradisional dan liberal.
C. Filsafat, tasawuf dan Pembaharuan dalam Islam
1. Filsafat
Filsafat atau falsafah (bahasa Arab) berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata
Philosophia yang artinya cinta kebijaksanaan. Orang yang cinta kepada kebijaksanaan
atau pengetahuan disebut philosophos atau dalam bahasa Arab failasuf.
Definisi filasafat menurutHarun Nasution, yaitu berpikir menurut tata tertib (logika)
dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma dan agama) dan dengan sedalam
dalanya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan.
2. Tasawuf
Tasawuf berasal adari kata suf yang berarti kain yang dibuat dari bulu binatang atau
wool kasar, karena para pengamal tasauf (sufi) pada waktu lalu hanya mau
menggunakan kain wool yang menggambarkan kesederhanaan.
Tasawuf dalam arti mistisisme ternyata tidak hanya terdapat dalam agama Islam, tetapi
juga dalam berbagai agama.
3. Pembaharuan dalam Islam

Pembaharuan dalam bahasa Arab disebut tajdid atau ishalah, dalam bahasa Inggris
modernization atau reformation, secara etimologis berarti al-Iadah wal alihya (kembali
dan hidup). Dengan demikian, pembaharuan atau tajdid atau islah berarti
mengembalikan atau menghidupkan.
Pembaharuan terjadi ketika kontak antara Islam dan dunia Barat pada penghujung akhir
abad ke-18, Barat memperkenalkan modernisasi disertai ide-ide barunya, timbullah di
dunia Islam, pikiran dan gerakan untuk berupaya mengimbangi kemajuan dan
perkembangan baru yang ditimbulkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern
tersebut.
Esensi pembaharuan di dunia Islam adalah mengembalikan ajaran pokok agama Islam
kepada sumber aslinya yang bersifat qathiyyah dan sekaligus mengembangkan
pemahaman baru terhadap ayat-ayat Alquran dan sunah yang dzanniyah al-dilalah
secara rasional, sehingga sesuai dengan perkembangan zaman.

Syariah dan Aplikasinya


A. PENGERTIAN SYARIAH
Pengertian kata syariah terdiri dari pengertian secara bahasa maupun pengertian menurut
istilah.

Pengertian Secara Bahasa


Syariah berasal dari kata syara yang berarti menjelaskan dan menyatakan sesuatu
Pengertian secara Istilah
syariah berarti aturan atau undang-undang yang diturunkan Allah untuk mengatur
hubungan manusia dengan Tuhannya, mengatur hubungan sesama manusia, dan
hubungan manusia dengan alam semesta.

B. PENGERTIAN SYARIAT ISLAM


Syariat Islam adalah hukum dan aturan Islam yang mengatur seluruh sendi
kehidupan umat Muslim. Selain berisi hukum dan aturan, syariat Islam juga berisi
penyelesaian masalah seluruh kehidupan ini. Maka oleh sebagian penganut Islam, syariat
Islam merupakan panduan menyeluruh dan sempurna seluruh permasalahan hidup
manusia dan kehidupan dunia ini. Sumber syariat adalah Al-Qur'an, As-Sunnah.
Terkait dengan susunan tertib syariat, Al Qur'an dalam surat Al Ahzab ayat 36
mengajarkan bahwa sekiranya Allah dan Rasul-Nya sudah memutuskan suatu perkara,
maka umat Islam tidak diperkenankan mengambil ketentuan lain. Oleh sebab itu, secara
implisit dapat dipahami bahwa jika terdapat suatu perkara yang Allah dan Rasul-Nya
belum menetapkan ketentuannya, maka umat Islam dapat menentukan sendiri
ketetapannya itu.

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin,
apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka
pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan
rasul-Nya maka sungguh dia telah berbuat sesat, dengan kesesatan yang nyata."
(Q.S Al-Ahzab [33]: 36)

Pemahaman makna ini didukung oleh ayat Al Qur'an dalam Surat Al Maidah (QS
5:101) yang menyatakan bahwa hal-hal yang tidak dijelaskan ketentuannya sudah
dimaafkan Allah.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal
yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu
menanyakannya di waktu Al quran itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan
kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyantun. (QS. Al Maidah: 101)
C. Hubungan Antara Syariah, Tarekat, Hakikat dan Makrifat
Munculnya istilah Tarekat, Hakikat, dan Makrifat dalam akademisi kajian Islam jauh
setelah wafatnya Rasulullah Saw , yaitu sekitar abad 5 Hijriyah.
Tarekat (Bahasa Arab: , transliterasi: Tariqah) berarti "jalan" atau "metode", dan
mengacu pada aliran kegamaan tasawuf atau sufisme/ mistisme Islam. Di zaman
sekarang ini, tarekat merupakan jalan (pengajian) yang mengajak ke jalan Ilahiyah
dengan cara suluk (taqarrub) yang biasanya dilakukan oleh salik.
Hakikat (Haqiqat) adalah kata benda yang berarti kebenaran atau yang benar-benar ada.
Yang berasal dari kata hak (al-Haq), yang berarti milik (kepunyaan) atau benar
(kebenaran). kata Haq, secara khusus oleh orang-orang sufi sering digunakan sebagai
istilah untuk Allah, sebagai pokok (sumber) dari segala kebenaran, sedangkan yang
berlawanan dengan itu semuanya disebut batil (yang tidak benar)
Makrifat berarti pengetahuan yang hakiki tentang Ilahiyah. Dengan orang menjalankan
Syari'at, masuk Tarekat, kemudian ber-Hakikat untuk mendapatkan Makrifatullah
sehingga menjadi hamba yang selalu mendekatkan diri kepada
Perkara yang dihadapi umat Islam dalam menjalani hidup beribadahnya kepada Allah
SWT itu dapat disederhanakan dalam dua kategori, yaitu apa yang disebut sebagai
perkara yang termasuk dalam kategori Asas Syara' dan perkara yang masuk dalam
kategori Furu' Syara'.
Asas Syara
Yaitu perkara yang sudah ada dan jelas ketentuannya dalam Al Qur'an atau Al Hadits.
Kedudukannya sebagai Pokok Syari'at Islam dimana Al Qur'an itu asas pertama Syara'
dan Al Hadits itu asas kedua Syara'. Sifatnya, pada dasarnya mengikat umat Islam

seluruh dunia dimanapun berada, sejak kerasulan Nabi Muhammad SAW hingga akhir
zaman, kecuali dalam keadaan darurat.
Keadaan darurat dalam istilah agama Islam diartikan sebagai suatu keadaan yang
memungkinkan umat Islam tidak mentaati Syariat Islam, ialah keadaan yang terpaksa
atau dalam keadaan yang membahayakan diri secara lahir dan batin, dan keadaan
tersebut tidak diduga sebelumnya atau tidak diinginkan sebelumnya, demikian pula
dalam memanfaatkan keadaan tersebut tidak berlebihan. Jika keadaan darurat itu
berakhir maka segera kembali kepada ketentuan syariat yang berlaku.
Furu' Syara
Yaitu perkara yang tidak ada atau tidak jelas ketentuannya dalam Al'quran dan Al Hadist.
Kedudukannya sebagai cabang Syariat Islam. Sifatnya pada dasarnya tidak mengikat
seluruh umat Islam di dunia kecuali diterima Ulil Amri setempat sebagai peraturan /
perundangan yang berlaku dalam wilayah kekuasaanya. Perkara atau masalah yang
masuk dalam furu' syara' ini juga disebut sebagai perkara ijtihadiyah.
D. PEMBAGIAN SYARIAH ISLAM

Ilmu Tauhid, yaitu hukum atau peraturan- peraturan yang berhubungan dengan
dasar-dasar keyakinan agama Islam, yang tidak boleh diragukan dan harus benarbenar menjadi keimanan kita.

Ilmu Akhlak, yaitu peraturan-peraturan yang berhubungan dengan pendidikan dan


penyempurnaan jiwa.

Ilmu Fiqh, yaitu peraturan-peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan


Tuhannya dan hubungan manusia dengan sesamanya.

E. TUJUAN SYARIAH ISLAM

Memelihara kemaslahatan agama (Hifzh al- din)

Memelihara jiwa (Hifzh al-nafsi)

Memelihara akal (Hifzh al-aqli)

Memelihara keturunan dan kehormatan (Hifzh al-nashli)

Memelihara harta benda (Hifzh al-mal)

F. KEISTIMEWAAN SYARIAH ISLAM


Ada 4 keistimewaan syariah Islam, yaitu :
1. Dalam Islam, kekuasaan mutlak hanyalah milik Allah swt.
2. Syariat Islam bersifat komperhensif, yakni mengatur semua aspek kehidupan.

3. Sempurna dan sesuai fitrah manusia.


4. Fleksibel