Anda di halaman 1dari 15

Nama: Debi Anggun Sari

Alih Jenjang 2015


Tugas I

CHEMICAL ENGINEERING TOOLS


Konsep-konsep dasar yang selalu dipakai dalam penyusunan persamaan matematis
dan penyelasaian masalah di bidang teknik kimia termasuk teknokimia nuklir tercakup dalam
chemical engineering tools, yang meliputi:
1. Neraca massa (material balance);
2. Neraca Energi (energy balance)
3. Kesetimbangan (equilibrium)
4. Proses-proses kecepatan (rate processes)
5. Ekonomi ; dan
6. Humanitas.
Dalam praktek penyusunan persamaan-persamaan matematis, tools nomor 1 sampai dengan
nomor 4 adalah yang sering digunakan.
1. Neraca massa (material balance);
Penyusunan neraca massa didasarkan pada hukum kekekalan massa yang berbunyi: Massa
tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan atau massa itu kekal.
Bentuk yang lebih operasional dalam bidang teknik adalah:
Input Output = Accumulation

(2-1)

Bentuk tersebut juga dapat dinyatakan dalam tiap satuan waktu (rate), yaitu:
Rate of Input Rate of Output = Rate of Accumulation

(2-2)

Persamaan (2.1) dan (2.2) berlaku untuk massa total.


Jika massa terdiri atas banyak komponen, kimia, fasa, ukuran, dan sebagainya, dan
tidak ada perubahan dari komponen satu menjadi komponen lain (misalnya ada reaksi
kimia), maka massa masing-masing komponen juga tetap, sehinga neraca massa komponen

dapat disusun dalam bentuk seperti Persamaan (2.1) dan (2.2). Untuk sistem dengan n
komponen massa, dapat disusun n persamaan neraca massa (1 neraca massa total dan n-1
neraca massa komponen atau (neraca komponen). Misalnya ada 4 komponen massa yaitu A,
B, C, dan D, maka dapat disusun misalnya neraca massa total, neraca massa A, neraca massa
B, dan neraca massa C. Neraca massa D tidak perlu disusun karena tidak bermanfaat.
Jika massa terdiri atas banyak komponen dan ada perubahan suatu komponen menjadi
komponen lain, maka bentuk persamaan neraca massa total tetap seperti Persamaan (2.1) atau
(2.2), tetapi persamaan neraca massa komponen perlu dikoreksi menjadi sebagai berikut
(misalnya neraca massa untuk komponen A):
Rate of A Input Rate of A Output +Rate of A Formation - Rate of A disappearance = Rate
of Accumulation

(2-3)

Pada keadaan steady (tunak), atau keadaan sudah tidak berubah terhadap waktu lagi,
akumulasi = 0.
2. Neraca energi (energy balance);
Hukum dasar penysusunan neraca energi adalah hukum kekekalan energi yaitu energi itu
kekal, tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan, hanya dapat berubah bentuk. Salah satu
bentuk operasional adalah seperti pada neraca massa serupa dengan Persamaan (2.1) dan
(2.2).
Rate of energy into system rate of energy out of system = Rate of energy accumulation (2-4)
Untuk sistem terbuka:
(Flow of internal, kinetics and potensial energy into system) (Flow of internal, kinetics and
potensial energy out of system + heat added to system by conduction, convection, radiation,
and rection) (work done by system on suroundin (shaft work + PV work) = (rate of change
internal, kinetic, and potensial energy inside system)

(2-5)

Bentuk-bentuk lain juga banyak, seperti Persamaan Bernoulli dalam Mekanika Fluida.
3. Kesetimbangan
Dalam bidang teknik kimia termasuk teknokimia nuklir, jenis kesetimbangan yang penting
adalah kesetimbangan fasa dan kesetimbangan kimia.

a. Kesetimbangan fasa

Fasa I
Pada sistem kesetimbangan, ada persamaan matematis yang menghubungkan komposisi su
y

Fasa II
x

Gambar 2.1. Kesetimbangan fasa


Sebagai contoh, pada kesetimbangan fasa uap-cair untuk sistem biner dapat didekati
dengan persamaan Raoult-Dalton:
y

x
1 ( 1) x
(2-6)

Pendekatan Henry yang serupa dengan koefisien distribusi pada ekstraksi, leaching, kelarutan
gas dalam cairan, dan sebagainya secara umum dapat ditulis dengan:
y = Hx

(2-7)

b. Kesetimbangan Kimia
Jika ada suatu reaksi kimia yang setimbang, misalnya:
aA

bB

+.

rR

sS

(2-8)

Tetapan kesetimbangan konsentrasi dapat ditulis dengan:


Kc

k
k'

R r S s ...
A a B b ...

(2-9)

Selain tetapan kesetimbangan konsentrasi masih ada bentuk lain, misalnya aktivitas dan
tekanan parsial.
4. Proses-proses Kecepatan
Proses-proses kecepatan meliputi kecepatan perpindahan panas, momentum, dan massa,
banyak dipelajari dalam operasi teknik kimia, perpindahan panas, proses transfer, dan
kinetika kimia.

a.

Kecepatan perpindahan panas


Dalam kuliah ini hanya dibahas 2 cara perpindahan panas, yaitu konduksi dan antar fasa.
Daya dorong terjadinya perpindahan panas adalah adanya beda suhu.
Kecepatan perpindahan panas konduksi
Perpindahan panas konduksi adalah perpindahan panas secara merambat dalam bahan.
Dengan kata lain, perpindahan panas konduksi adalah perpindahan panas yang tidak
disebabkan oleh gerak makroskopis medianya melainkan oleh gerak mikroskopis atau
molekuler atau atomis medianya. Hukum yang banyak dipakai untuk perpindahan panas
konduksi adalah hukum Fourier, yang dapat ditulis dengan persamaan:
dT
dx
Q=-kA

(2-10)

Atau

dT
dx
q = -k

(2-11)

Dengan :
Q = perpindahan panas tiap satuan waktu; (Fluks panas)
q = perpindahan panas tiap satuan waktu tiap satuan luas;
A=luas permukaan transfer
T= suhu
x=jarak (posisi)
k=koefisien perpindahan panas konduksi
Nilai k tergantung pada jenis bahan, dapat tetap, dipengaruhi suhu, arah, dan lain-lain.
Perpindahan panas antar fasa
Perpindahan panas antar fasa misalnya terjadi dari benda padat yang suhunya tinggi
berada di lingkungan fluida yang suhunya lebih rendah.

pad
ata
n
Q

Fluida, T2

Gambar 2.2. Perpindahan panas antar fasa


Hukum yang berlaku adalah hukum Newton:
Q = -hA(T2-T1) = hA(T1-T2)

(2-12)

Dengan Q = perpindahan panas tiap satuan waktu, A = luas permukaan, h = koefisien


perpindahan panas.
Dalam kasus ini dibayangkan ada suatu lapisan film fluida pada permukaan padatan yang
mengontrol perpindahan panas dari permukaan ke fluida. Jika luas permukaan sulit
dievaluasi, persamaan (2-12) dapat diubah menjadi:
Q = -volume.h.a.(T2-T1) = hA(T1-T2)

(2-13)

Dengan a adalah luas persatuan volume. Dengan demikian, h.a. dapat dianggap sebagai
satu kesatuan yang dapat disebut dengan koefisien perpindahan panas volumetris.
b.

Perpindahan massa
Disini hanya dibahas perpindahan massa secara difusi dalam satu fasa, antar fasa satu
film, dan antar fasa dua film.
Persamaan kecepatan untuk perpindahan massa A dalam medium B (difusi) didekati
dengan hukum Fick:
NA = (NA+NB).xA c.DAB. dxA/dz

(2-14)

dengan
NA = perpindahan massa A tiap satuan waktu tiap satuan luas.
NB = perpindahan massa B tiap satuan waktu tiap satuan luas.
C = konsentrasi total (A+B)
XA = fraksi mol A
DAB = difusivitas A melalui B
Z = jarak (posisi)
Untuk difusi ekimolar arus berlawanan, NB = -NA sehingga persamaan (2-14) menjadi:
NA = c.DAB. dxA/dz

(2-15)

Untuk difusi A melalui media B yang diam, NB = 0, persamaan (2-14) menjadi:


dx A
dz

1 x A
c.D AB.

NA =

(2-16)

Untuk konsentrasi A yang kecil, maka xA 0 dan c praktis tetap, sehingga persamaan (2-16)
menjadi:

c.D AB .
NA =

D AB .
NA =

dx A
d (c.x A )
D AB .
dz
dz

(2-17)

dC A
dz

(2-18)

Perpindahan massa antar fasa satu film misalnya antara padatan dengan cairan atau
padatan dengan gas.

CAs
Padatan A
(dapat larut)

CA
solven
NA

Gambar 2.3. Perpindahan massa antar fasa satu film


Persamaan pendekatan makroskopis untuk peristiwa ini adalah:
NA = kc(CAs CA)

(2-19)

dengan:
NA = perpindahan massa A tiap satuan waktu tiap satuan luas.
CAs = konsentrasi jenuh A di larutan
CA = konsentrasi A di larutan
kc = koefisien perpindahan massa.
Persamaan (2-19) kadang-kadang dinyatakan dalam bentuk:
NA = kx(xAs xA)

(2-20)

NA = ky(yAs yA)

(2-21)

NA = kG(pAs pA)

(2-22)

dengan:
yA = fraksi mol A
pA = tekanan parsial A

Bila luas permukan sulit dievaluasi, dapat digunakan persamaan:

massa

k c a (C As C A )
waktu volum

N Av

(2-23)

dengan
a

= luas per satuan volum

kca

=koefisien perpindahan massa volumetris

Perpindahan massa antar fasa dua film terjadi pada batas fasa cir-gas, atau cair-cair,
dengan gradien konsentrasi seperti Gambar 2-4.

Fasa 1

Fasa 2

CA1

(CA2)i
(CA1)i
CA2

Gambar 2.4. Perpindahan massa antar fasa dua film


Dengan menganggap bahwa tidak ada akumulasi A pada film-film, (C A1)i setimbang
dengan (CA2)i dan hubungan kesetimbangan mengikuti hukum Henry:
(CA1)i = H.(CA2)i

(2-24)

Dengan demikian kecepatan perpindahan massa A dari fasa 1 ke fasa 2 dapat didekati
dengan persamaan:
NA = kc1(CA1 (CA1)i)

kc2((CA2)i CA2)

(2-25)

Persamaan (2-24) sukar dipakai karena konsentrasi pada interface (CA1)i dan ((CA2)i
Sukar dievaluasi/diukur. Hal ini diatasi dengan membayangkan bahwa dua film itu dapat
diwakili oleh satu film yang merupakan gabungan 2 film. Film gabungan ini dapat
dianggap terjadi di fasa 1 atau fasa 2.

Jika film gabungan dianggap terjadi di fasa 1, gradien konsentrasi A dapat didekati
dengan Gambar 2.5.
Fasa 1

CA1

Fasa 2

CA1*

CA2
Gambar 2.5. Film gabungan di fasa 1
Dalam hal ini CA1* setimbang dengan CA2 sehingga:
CA2 = H.CA1*

(2-26)

Dengan pendekatan itu, persamaan (2-24) dapat ditulis dengan:


NA = Kc1(CA1 CA1*)

(2-27)

Dengan Kc1 adalah koefisien perpindahan massa gabungan di fasa 1.


Nilai Kc1 dapat dievaluasi dengan manipulasi matematis sebagai berikut:
CA1 CA1* = (CA1 (CA1)i)

+ ((CA1)i- CA1*)

(2-28)

CA1 CA1* = (CA1 (CA1)i)

+ (1/H)((CA2)i- CA2)

(2-29)

NA NA 1 NA

K c1 k c1 H k c 2
(2-30)
1
1
1

K c1 k c1 Hk c 2

(2-31)

Jika film gabungan dianggap terjadi di fasa 2, maka gradien konsentrasi A dapat dilihat
pada Gambar 2.6.

Fasa 1

CA1

fasa 2

CA2*
CA2

Gambar 2.6. Film gabungan di fasa 2


Dengan cara yang sama, diperoleh:
NA = Kc2.( CA2* - CA2)

(2-32)

CA2* = H. CA1

(2-33)

1
H
1

K c k 2 c1 Hk c 2

(2-34)
Jika luas perpindahan sulit dievaluasi, dapat digunakan kecepatan perpindahan massa
volumetris.

massa

*
K c1 a (C A1 C A1 )
waktu

volum

N Av

= Kc2.(CA2* - C2)

(2-35)

c. Perpindahan momentum
Perpindahan momentum biasanya menggunakan hukum Newton
=- dv/dx

(2-36)

d. Kinetika Kimia/kecepatan reaksi


Untuk reaksi elementer
aA

bB

(2-37)

Kecepatan berkuranganya A
-rA = kCAa.CBb

(2-38)

Kecepatan reaksi juga dapat dilihat sebagai kecepatan pembentukan produk, sehingga
nilainya positif.
Dengan k adalah konstante kecepatan reaksi = f(T) = Ae-E/RT

(2-39)

Disamping chemical engineering tools di atas, seringkali masih diperlukan persamaan


lain yang berkaitan dengan fenomena yang ditinjau, misalnya persamaan keadaan.
Persamaan keadaan yang sering digunakan:
Entalpi cairan = h = Cp.T

(2-40)

Entalpi gas/uap = H = Cp.T + .W


= f (T)

(2-41)

(2-42)

Cp = f (T) = a + bT + cT2

(2-43)

PV = nRT; n/V = P/RT; = MP/RT

(2-44)

Pengembangan model dari fenomena fisis dapat digambarkan dalam bagan Gambar 2.7
berikut.

Jawaban

Chemical Engineering Tools:


Neraca
Neraca Energi
Kesetimbangan
Proses Kecepatan
Persamaan Matematik
Ekonomi
Humanitas
Penyelesaian:
Analitis
Numeris

Jawaban kuantitatif

Gambar 2.7. Pengembangan model dari fenomena fisis


Contoh 2.1.
Tangki luas permukaan A cm2 mula-mula kosong diisi cairan dengan kecepatan Q cm 3/detik
dibagian bawah tangki terdapat lubang kecil dengan luas a cm 2 tentukan: (a) permukaan
cairan setelah t detik (b) Tinggi maksimum permukaan cairan.
Penyelesaian:
Agar secara cepat dapat difahami, masalah tersebut kita tuangkan dalam bentuk Gambar 2.8.

Ingin dicari:
hubungan x dengan t
x maksimum

Q, cm3/s

A cm2
x

a. cm2

Gambar 2.8. Visualisasi contoh 2.1


Neraca massa air dalam tangki:
Pada interval waktu tertentu
Massa air masuk massa air ke luar = bertambahnya massa air dalam tangki
Input Output = Accumulation
Berdasarkan rate (peninjauan sesaat):
Kecepatan massa air masuk kecepatan massa air keluar = kecepatan bertambahnya
massa air dalam tangki
Rate of input rate of output = rate of accumulation.
a. Interval waktu t
Input Output = Accumulation
Q.. t

- a.. .. t = A. x.

x/ t = Q/A - a/A.
t 0

=U
x Q a
U
t A A

Lim
t 0

dx Q a
U
dt A A

dx Q a

2 gx
dt A A

Keadaan batas: t=0; x=0


dx a
Q

2g [
x]
dt A
a 2g
x x

x 0

dx
Q
2 2g

a
2 g dt
A
t 0

x = ..
Latihan/PR:
Suatu tangki mula-mula berisi air murni sebanyak Mo kg air murni. Mulai suatu saat air
garam dengan kecepatan F kg/jam dengan kadar garam C o kg garam/kg larutan dimasukkan
ke dalam tangki dan L kg/jam dikeluarkan dari tangki. Carilah hubungan kadar garam dalam
tangki dengan waktu. Jika F=200, L=100, Co = 0,1, dan Mo= 1000, hitunglah kadar garam
dalam tangki tepat setelah 1 jam.
Dik :
m air = 1000 kg
t= 0 , konsentrasi input (Ci) = massa garam : massa larutan : 0.1 kg garam : 1 kg larutan =
1 : 10 = 10 %
Q in = 200 kg/jam out
Q out = 100 kg/jam
Dit :
Konsentrasi keluaran per jam (Co/jam) ?
Neraca massa air dalam tangki:
Pada interval waktu tertentu
Massa air masuk massa air ke luar = bertambahnya massa air dalam tangki
Input Output = Accumulation
Berdasarkan rate (peninjauan sesaat):

Kecepatan massa air masuk kecepatan massa air keluar = kecepatan bertambahnya
massa air dalam tangki
Rate of input rate of output = rate of accumulation.
Rate of Accumulation = Qin Q out = (200 100) kg/jam = 100 kg/jam
Interval waktu t
Input Output = Accumulation
t = 0 , air :
90% Qin - Co . Qout = 100% m air
90% . 200 - Co . 100 = 100% 1000
180 100 Co = 1000
100 Co = 180 1000
10% Qin . t - Co . Qout . t = 100% m air

x/ t = Q/A - a/A.
Q.. t

- a.. .. t = A. x.

x/ t = Q/A - a/A.
t 0

=U
x Q a
U
t A A

Lim
t 0

dx Q a
U
dt A A
dx Q a

2 gx
dt A A

Ingin dicari:
hubungan x dengan t
x maksimum

Q, cm3/s

A cm2
x

a. cm2

diketahui:
V0 = 100liter
Fi = 20ml/detik
Ci=10gram/ml
Fo= 5 ml/detik
persamaan =
V=100+15 t
1/15 ln [(100+15t)/100] = -1/20 ln [(200-20C)/200]
C itu konsentrasi..dan t itu waktu.....
V itu volume