Anda di halaman 1dari 11

Stanley Rambitan: On Religion and Society

MONDAY, MARCH 2, 2009


TEOLOGI LINGKUNGAN HIDUP: Gereja dan Lingkungan Hidup
GEREJA DAN LINGKUNGAN HIDUP[1]
Beberapa Catatan tentang Tanggungjawab Gereja terhadap Lingkungan Hidup

Oleh : Stanley R. Rambitan[2]

Pendahuluan

Lingkungan hidup dan permasalahannya sudah menjadi pusat perhatian dan


keprihatinan dunia. Ada hari lingkungan hidup se dunia yang diperingati setiap
tanggal 5 Juni, yang biasanya ditandai dengan perayaan dan program perawatan
dan pemeliharaan alam, antara lain reboisasi dan pembersihan dan penataan
lingkungan. Berbagai bencana alam yang terjadi beberapa tahun belakangan ini,
seperti gempa bumi, tsinami, banjir, tanah longsong, angin topan, dsb, membuat
masyarakat internasional memberikan perhatian kepada lingkungan hidup secara
lebih khusus lagi. Perjuangan untuk mencegah pengrusakan dan penghancuran
bumi atau lingkungan hidup, yaitu darat, laut dan udara dilakukan terus-menerus
oleh masyarakat atau lembaga-lembaga, baik nasional maupun internasional;
pemerintah maupun non-pemerintah. Green Peace adalah lembaga internasional
dan non-pemerintah yang terkenal dalam perjuangannya di bidang ini. Di Indonesia,
ada lembaga non-pemerintah, yaitu Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi)
yang melakukan perjuangan ini. Bumi, alam atau lingkungan hidup dan
permasalahannya menjadi perhatian utama manusia karena manusia hidup di
dalamnya, mengalami dan menikmati segala sesuatu yang ada dan dihasilkan
olehnya. Jika apa yang ada dan dihasilkan bumi itu baik dan berkualitas, tentu baik
pula kehidupan manusia, seperti kesejukan, kesegaran, kesehatan, keindahan dan
kenikmatan. Kebaikan itu dapat dialami dan dirasakan tentu jika bumi atau alam
dimanfaatkan dan dirawat atau dipelihara dengan baik pula. Namun demikian,
kenyataanya, keadaan alam saat ini menunjukan keadaan yang memprihatinkan.
Alam dan lingkungan hidup menunjukan permasalahannya yang mengganggu
kehidupan bumi dan manusia.
Apalagi sudah nyata sekali gangguan ini pada tahun-tahun terakhir ini. Banyak
bencana alam yang dahsyat melanda bumi ini, khususnya di beberapa daerah di

Indonesia. Gempa dan tsunami di Aceh pada hari Minggu, 26 Desember 2004,
memakan korban seratus lima puluh ribu lebih manusia meninggal dan puluhan ribu
menderita kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal, pekerjaan dan hidup dalam
keadaan sulit merupakan bencana terdahyat. Pada hari Sabtu, 27 Mei 2004 gempa
bumi tektonik terjadi di Jogjakarta dan Jawa Tengah yang menelan korban jiwa
sebanyak kurang lebih lima ribu jiwa dan belasan ribu orang menderita dan
kehilangan tempat tinggal. Berapa waktu setelah itu, terjadi bencana banjir
Bandang di Sulawesi selatan dan beberapa daerah di Kalimantan. Selanjutnya, pada
hari Senin, 17 Juli 2006 terjadi lagi bencana tsunami di pesisir pantai selatan Jawa
yang sebagian besar di daerah Jawa Barat, khususnya di Pangandaran dan
sekitarnya dengan korban jiwa sebanyak kurang lebih lima ratus orang dan ribuan
orang menderita atau kehilangan tempat tinggal. Belakangan ini di banyak daerah
di Indonesia, terjadi bencana banjir. Terakhir di tahun 2008 ini, di banyak daerah di
bumi ini terjadi berbagai bencana alam, seperti gempa bumi, tanahk lonsor, banjir
dan angin taufan. Issue belakangan ini yang menjadi pusat perhatian masyarakat
internasional adalah global warming atau pemanasan global. Gejala alam ii
dianggap sebagai penyebab terjadinya berbagai becana alam belakangan ini.
Dalam kondisi dunia dan lingkungan hidup dengan berbagai permasalahannya,
orang Kristen atau gereja hadir dan menjalankan tugas panggilannya. Apa dan
bagaimana seharusnya gereja memandang dan menyikapi alam atau lingkungan
hidupnya? Apa tangung jawab kita (sebagai gereja) yang hidup di dalamnya dan
yang memanfaatkan hasil-hasilnya? Juga, bagaimana kita memahami dan
menyikapi berbagai bencana dahsyat yang terjadi?
Di bawah ini akan dibahas dasar-dasar pemikiran untuk gereja (orang Kristen)
memandang, menyikapi, memanfaatkan dan memelihara alam ciptaan Tuhan.

Alam Semesta dan Manusia dalam Pandangan Alkitab

Dasar pemahaman Alkitabiah mengenai alam semesta adalah cerita penciptaan


yang tertulis dalam kitab Kejadian (pasal 1 dan 2). Jelas sekali ditunjukan di sini
bahwa alam semesta atau dunia dengan segala isinya adalah ciptaan Allah dan
karena itu segala ciptaan adalah milik Allah. Penciptaan dilakukan atau dunia ini
diciptakan dalam rangka menunjukan atau menjadi bukti bahwa Allah itu Ada dan
Berkuasa. Dalam Keluaran 3, Allah memperkenalkan diriNya sebagai YHWH (TUHAN,
artinya AKU ADALAH AKU DAN YANG AKU ADA). Dia berada dengan kepenuhan
kuasa mencipta (sebagai Khalik) yang tidak dimiliki oleh siapa pun, termasuk
manusia yang diciptakanNya (sebagai mahluk). Jadi keberadaan dunia menunjukkan
kemaha-kuasaan Allah. (Karena itu, alam semesta dapat memperlihatkan gerakgerik yang menunjukkan kemaha-kuasaan Tuhan itu dan yang tidak dapat dikontrol
atau dikuasai oleh manusia, seperti gempa bumi dan gunung meletus). Maksud lain

dari penciptaan itu tentu adalah bagi kepentingan ciptaan itu sendiri, yaitu alam
lingkungan, tumbuhan, mahluk dan manusia.
Alam semesta yang diciptakan Tuhan terdiri dari berbagai unsur, seperti bumi atau
tanah, air, udara/angin, tumbuhan, hewan dan manusia. Menurut Alkitab, manusia
merupakan ciptaan yang istimewa. Ia diciptakan segambar dengan Allah (Imago
Dei) yang berarti dia diberi atau memiliki sifat-sifat atau karakter seperti Allah dan
yang memiliki kemampuan yang hampir sama dengan kemampuan Allah.
Manusia diberi dan memiliki hikmat, akal budi, rasa keberagamaan atau kedekatan
dengan Tuhan, kebebasan, kuasa dan kemampuan untuk mencipta dan membentuk
(bersama-sama dengan Allah). Ciri Imago Dei secara khusus ditunjukan oleh nafas
atau roh yang Tuhan berikan (tiupkan) kepada manusia ketika Tuhan selesai
menciptakan atau membentuknya dari tanah.
Namun manusia diciptakan tidak menjadi oknum yang berdiri sendiri atau terpisah
dari ciptaan lainnya. Secara material atau bentuk fisiknya, manusia menjadi bagian
dari atau adalah satu dengan ciptaan lainnya. Ini ditunjukan dengan penciptaan
manusia atau Adam yang diambil atau berasal dari tanah. Kata manusia (atau
adam) dan tanah (atau adama) berasal dari akar kata Ibrani yang sama, yaitu dua
konsonan dm. Begitu juga, Firman Tuhan mengatakan bahwa manusia berasal dari
tanah dan akan kembali kepada tanah. Manusia dan kebutuhan hidup materialnya
berasal dari tanah itu, sama dengan tumbuhan dan mahluk lain ciptaan Tuhan.
Tidak hanya menyangkut kebutuhan itu manusia tergantung pada ciptaan lain,
tetapi juga dalam hal pengembangan intelektual. Ayub 12:7-8, menyatakan bahwa
manusia perlu bertanya kepada binatang, burung, ikan di laut dan bumi untuk
mendapatkan pengajaran. Jadi manusia dan alam sesungguhnya adalah satu dan
saling bergantung dan membutuhkan dalam berbagai hal.
Keberadaan manusia di tengah-tengah ciptaan lain memiliki peran dan tugas
khusus. Ketika menempatkan manusia di dunia, Allah memberi keleleluasaan atau
kuasa kepadanya untuk mengelola dan memanfaatkan alam ini (Kej. 1:26-31).
Bukan itu saja, manusia ditugaskan juga untuk mengusahakan dan memeliharanya
(Kej. 2:15). Di sinilah letak tugas utama manusia dalam alam ini yaitu untuk
merawat dan memelihara atau menjaga keberlangsungan hidupnya yang tentunya
diharapkan selalu baik adanya sebagaimana pada awal ia diciptakan. Dalam status
dan fungsinya seperti ini, manusia lalu tidak hanya menjadi citra Allah tetapi juga
mitra Allah. Sebagai mitra, manusia dipercaya atau menjadi perpanjangan tangan
Allah dalam melakukan tugas menjaga keberlangsungan hidup alam semesta ini.
Kepercayaan yang diberikan ini tentu menjadi kebanggaan bagi manusia itu sendiri.
Tuhan yang menciptakan manusia, Tuhan pula yang menyediakan kebutuhan
hidupnya. Sebagai ciptaan dan citraNya, manusia diberi hak untuk mengelola dan
memanfaatkan alam yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Manusia diberi Tuhan dan memiliki hak guna alam. Ini merupakan hak ekonomis
manusia. Namun sebagai ciptaan dan mitraNya, manusia juga diwajibkan untuk
memelihara dan menjaga keberlangsungan alam supaya tetap baik adanya. Ini
merupakan kewajiban ekologisnya. Jadi Tuhan menghendaki agar manusia, di
samping mengusahakan pemenuhan hak hidupnya yaitu dengan mengelola dan

memanfaatkan alam, juga sekaligus ia mengusahakan perawatan alam itu agar ia


terus dan tetap memberi manfaat. Jadi hak ekonomis dan kewajiban ekologis harus
berjalan bersama-sama atau seimbang. Apalagi ini bukan demi kepentingan alam
atau lingkungan hidup saja tetapi juga untuk kepentingan manusia, yaitu agar
kebutuhannya dapat selalu terpenuhi dengan baik. Dalam melaksanakan tugas
sebagai mitra, yang diberi kepercayaan oleh Allah untuk mengelola dan memelihara
ciptaan milikNya, manusia bertanggung jawab paling utama kepada Allah, kepada
alam atau lingkungan hidup beserta sesama ciptaan dan kepada manusia itu
sendiri.

Lingkungan Hidup, Manusia dan Permasalahannya

Allah menciptakan alam semesta dan segala isinya sebagai sesuatu yang baik.
Taman (lingkungan hidup) yang diciptakan di Eden adalah indah. Namun demikian,
kenyatannya alam di banyak tempat telah menjadi tidak baik adanya; taman di
Eden ini telah menjadi buruk rupa, menjadi tempat yang menakutkan untuk
dihidupi. Alam semesta mengalami berbagai gangguan dan permasalahan.
Misalnya, lobang pada lapisan ozon yang makin besar dan panas bumi yang
meningkat, peningkatan percepatan mencairnya gunung es di daerah kutub,
kekeringan di banyak tempat, berkurangnya dataran hijau atau menyempitnya
hutan karena membesarnya daerah hunian manusia, tanah longsong dan banjir
akibat pembabatan hutan (dan bahkan ancaman gempa dan tsunami), padatnya
penduduk yang karena kegiatannya mengakibatkan polusi laut, darat dan udara,
semakin banyaknya hunian kumuh dan liar, dan persediaan air bersih yang makin
berkurang. Indonesia di Ambang Bencana Ekologi, demikian judul tulisan di harian
Sinar Harapan (Selasa, 6 Juni 2006, hl. 16). R. P. Borrong, dalam bukunya Etika Bumi
Baru (hl. 16) mengatakan: Planet bumi ini sedang menderita sakit, kurus dan
terancam kematian! Itulah masalah besar dan bersifat global yang dihadapi umat
manusia dewasa ini dan di masa depan. Itulah pula yang disebut krisis ekologis.

Masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh bumi dan manusia ini sudah
merupakan masalah yang berat dan serius. Ia mengancam kehidupan dan
keberlangsungan hidup alam semesta atau bumi dengan segala isinya, dan juga
manusia. Banyak gangguan dalam hidup yang telah disebabkan oleh permasalahanpermasalahan di atas. Tidak hanya itu! Kebanyakan manusia (karena dosanya;
karena perbuatan-perbuatannya yang buruk) telah menjadi sosok yang tidak indah
dan menyejukan. Alam lingkungan dan manusianya kebanyakan sudah menjadi
tempat dan keadaan yang tidak memberikan kenyamanan dan ketentraman untuk
hidup.

Apa yang menyebabkan masalah-masalah itu?

Masalah-masalah alam atau lingkungan hidup di atas terjadi karena persoalan


dalam pengelolaan, pemanfaatan dan pemeliharaan, dan yang berperan dalam hal
ini tentu adalah manusia. Manusia memiliki peran paling utama dalam hal ini karena
ialah yang melakukan usaha-usaha pengelolaan dan pemanfaatan alam. Di dalam
praktek, kebanyakan manusia lebih mengutamakan kepentingan pemanfaatan atau
aspek ekonomis, dan tidak memperhatikan pemeliharaan atau aspek ekologis. Ini
disebabkan oleh ketidak-tahuan, ketidak-pedulian dan/atau ketamakan dan
kerakusan yang betul-betul hanya mengutamakan keuntungan. Demi ekonomi,
alam hanya dilihat pada fungsinya sebagai pemenuh kebutuhan manusia dan yang
harus dieksploitasi dan dimanfaatkan semaksimal mungkin tanpa disertai
pemeliharaan; dan bahkan sekali pun usahanya itu merusak alam.

Apa yang dilakukan manusia itu bertentangan dengan status dan tugasnya sebagai
citra dan mitra Allah. Itu menyalahi kepercayaan yang Tuhan berikan kepadanya.
Seharusnya, sebagai mitra Allah menusia melakukan tugas konservasif dan kreatif
atau pemeliharaan dan penciptaan kembali alam ini secara terus menerus. Manusia
seharusnya memelihara dan menjaga keberlangsungan alam itu, seperti
memanfaatkan hutan tapi dengan menanamnya kembali; memanfaatkan hasil alam
tapi tidak membuang sampah-limbahnya sembarangan; menata lingkungan agar di
samping tampak indah dan menyejukan tapi juga yang dapat mencegah berbagai
kerusakan dan bencana. Manusia sebagai citra Allah tampaknya di sini hanya
mengusahakan hak ekonomis dan tidak melakukan kewajiban ekologisnya. Dengan
berbuat seperti itu, manusia lalu menjadi pihak yang destruktif, yang membuat
taman di Eden ini menjadi buruk, rusak dan hancur. Ini adalah karena kejatuhan dan
doa manusia.

Pemahaman terhadap Bencana Alam yang Dahsyat

Terhadap bencana banjir, kekeringan atau kelaparan atau masalah-masalah


lingkungan hidup seperti disebut di atas, manusia sering ditunjuk sebagai
penyebabnya, yaitu karena kesalahannya mengelola alam; demikian juga, manusia
ditunjuk sebagai penyebab kematian dan penderitaan akibat peperangan yang
diciptakannya. Namun dalam kasus gempa dan terutama tsunami, orang tidak
dapat secara langsung menunjuk kepada manusia sebagai penyebanya. Hal ini
karena bencana itu adalah alamiah tapi begitu dahyat dan itu tidak dapat dikuasai,
dicegah atau dikendalikan oleh manusia. Mungkin bisa dikatakan bahwa manusia
dalam kasus bencana-bencana itu hanya dapat mengurangi akbibat-akibat
buruknya.

Pencarian penyebab atau sumber bencana bencana itu dalam perenungan teologis
membawa banyak orang pada kesimpulan bahwa itu adalah kehendak Tuhan;
atau bahwa Tuhan sedang murka; Tuhan sedang menghukum umatnya; atau
Tuhan sedang menguji umatNya. Terhadap korban bencana di Aceh, tidak sedikit
orang lalu membuat kesimpulan bahwa karena Aceh adalah Serabi Mekah dan
bahwa masyarakat Aceh adalah masyarakat yang sangat taat beribadah maka
Tuhan menjatuhkan ujianNya itu kepada mereka. Dengan kata lain bahwa Tuhan
menjatuhkan ujianNya yang begitu berat kepada masyarakat yang secara nyata
taat beragama. Hal ini mengingat bahwa Aceh adalah provinsi di Indonesia yang
secara resmi telah menerapkan Syariah Islam. Dengan kata lain, Aceh telah
menunjukan ketaatan beragama secara kolektif, sebagai suatu masyarakat. Oleh
karena itu, Tuhan memberikan ujian kepada mereka secaras kolektif juga, yaitu
terhadap masyarakat. Pertimbangan-pertimbangan yang mirip juga berlaku bagi
Jogja dan Pangandaran. Namun dengan maksud yang berbeda. Terhadap Jogja dan
Pangandaran dikatakan bahwa Tuhan menghukum daerah itu karena ada dosa yang
dilakukan oleh masyarakat itu. Umumnya dosa itu ditunjuk kepada sikap
masyarakat yang membiarkan terjadinya kemaksiatan karena mengijinkan
terjadinya praktek prostitusi di tempat-tempat atau hotel-hotel yang berdiri di
sekitar pantai. Bahkan untuk Yogyakarta dan Jawa Tengah, ada pandangan (dari
pihak Islam) yang menghubungkannya dengan murtadnya sebagain penduduk di
situ karena telah berdiri begitu banyak gereja.

Pemahaman tentang bencana alam dahyat sebagai disebabkan oleh kekuatan yang
adikodrati atau Tuhan juga yang dipahami oleh manusia yang mengalami bencana
Air Bah seperti dicatat oleh kitab Kejadian pasal 6. Bahwa Bencana dahyat atau Air
Bah itu merupakan bentuk hukuman Tuhan kepada manusia yang telah melakukan
dosa. Di sini diperlihatkan pemahaman bahwa bencana terjadi karena kekuatan
besar yang bukan dari manusia tetapi dari Allah; Allah yang sedang menghukum
manusia.

Namun terhadap pandangan seperti itu, bahwa Allah pasti menghukum orang
berdosa, perlu dipertanyakan: apakah semua manusia yang terkena hukuman itu
adalah orang berdosa? Atau apakah selalu terjadi bahwa bencana atau penderitaan
yang dialami oleh manusia adalah hukuman terhadap dirinya? Bagaimana dengan
anak-anak atau bayi yang baru lahir atau orang yang yang bersih dari dosa, apakah
mereka terkena hukuman juga? Pertanyaan pertanyaan ini dapat dijawab juga
dengan menggunakan dasar Alkitab (kasus Ayub) bahwa bencana atau penderitaan
manusia tidak selalu merupakan hukuman Allah akibat dari dosa manusia. Ini
berarti bahwa kita tidak dapat semata-mata atau selalu melihat bahwa bencana
alam itu adalah penghukuman Tuhan. Dalam kasus Ayub, bencana yang melanda
dirinya atau penderitaanya terjadi bukan karena hukuman Tuhan tetapi pengalaman
Ayub hendak memperlihatkan kuasa dan kebebasan Tuahn dalam melakukan segala
sesuatu. Dengan demikian, sebagai manusia tentu kita hanya dapat mengatakan
bahwa di balik semua bencana atau pnderitaan itu, ada maksud Tuhan yang indah

bagi manusia. Yang penting bagi manusia adalah belajar dari berbagai bencana
atau penderitaan itu. Di sini manusia dapat mempelajari dan menjadi sadar atas
tindakan-tindakannya yang tidak berkenan kepada Tuhan, misalnya atau khususnya
terhadap dunia atau lingkungan hidup ciptaan Tuhan.

Manusia-Gereja dan Tanggung Jawab terhadap Lingkungan Hidup

Berbicara tentang peran manusia dalam lingkungan hidup, gereja tentu termasuk di
dalamnya. Gereja sebagai kumpulan orang-orang beriman kepada Kristus yang
hadir dan beraktifitas di dunia ini tentu sedikit banyak mempunyai andil baik di
dalam menjaga keberlangsungan atau pelestarian alam mapun di dalam
perusakannya. Gereja, sebagaimana manusia pada umumnya, diberi kekuasaan dan
kemampuan untuk mengelola, mengusahakan dan memanfaatkan dunia ciptaan
Allah ini. Di samping itu, gereja juga sebagai mitra Allah, diberi tugas dan tanggung
jawab untuk mengusahakan pemeliharaannya.

Untuk hak ekonomis, gereja hidup, memanfaatkan dan menikmati apa saja yang
ada di dalam alam ini. Sebenarnya, bagi gereja, pengusahaan pemenuhan hak
ekonomis mengandung di dalamnya dan dengan sendirinya berakibat pada
tanggung jawab ekologis. Ini karena hak ekonomis, yaitu untuk pencapaian
kemakmuran mengandung dua makna dan kepentingan, yaitu baik untuk
kesejahteraan dan kenikmatannya sendiri maupun untuk kemuliaan Tuhan. Jadi di
dalam mengusahakan pemenuhan kebutuhannya itu, gereja juga mengusahakan
kemuliaan Tuhan. Ini dilakukan dengan memberi kesaksian bahwa usaha atau
perbuatannya adalah baik dan yang mencerminkan bahwa gereja dipimpin oleh
Tuhan. Dengan begitu, tentu Tuhan dimuliakan. Di sini ada tanggung jawab moralspiritual ekstra bagi gereja sebagai umat atau anak-anak Tuhan yang telah ditebus
dari dosa dan telah diselamatkan. Ini adalah tugas kesaksian; dan di sini
mengandung ucapan syukur dan pujian kepada Tuhan.

Tanggung jawab ekstra dari gereja di atas perlu dibedakan dari tanggung jawab
ekologis. Kewajiban ekologis dilakukan sebagai tugas yang diberikan untuk menjaga
dan melestarikan lingkungan hidup. Ini adalah tugas yang dilakukan gereja sebagai
mitra Allah. Di sini gereja melakukan tugas karena kepercayaan dan tanggung
jawab yang diberikan oleh Allah. Ini diberikan karena Tuhan mengakui dan
menghargai kemampuan manusia untuk mengelola dan memelihara dunia.
Pengakuan dan kepercayaan Tuhan ini tentunya adalah hal yang membanggakan
gereja; bahwa gereja dihargai Tuhan dan dapat berbuat sesuatu yang berguna bagi
alam ciptaan Tuhan. Mazmur 8:4-9 memperlihatkan pengakuan dan perlakuan Allah

yang membanggakan manusia; bahwa Allah mengindahkannya dan bahkan


membuatnya hampir sama dengan Allah.

Penutup

Gereja memiliki dasar dan dorongan untuk melakukan usaha pemeliharaan dan
pelestarian alam. Pertama, kelestarian alam adalah kebutuhan manusia atau gereja
(hak ekonomis), yang tentu secara terus menerus membutuhan hasil yang baik dan
indah dari alam ini. Kedua, adanya tugas karena kepercayaan yang diberikan Tuhan
kepada manusia atau gereja sebagai mitraNya. Ketiga, menjaga kelestarian dan
keindahan alam adalah bagian dari iman, yaitu sebagai kesaksian dari orang-orang
yang telah diselamatkan, yang juga bertanggung jawab untuk membuat lingkungan
hidup menjadi tempat orang merasakan keselamatan itu.

Dengan dasar dan dorongan di atas, gereja pertama-tama perlu betul-betul


menyadari bahwa ia memerlukan alamlingkungan hidup yang baik; dan bahwa saat
ini lingkungan hidup sedang terancam bahaya kerusakan dan kehancuran.
Selanjutnya, gereja mengusahakan pengobatan atau perawatan, pemeliharaan dan
pelestarian alam dengan membuat program-program yang berwawasan atau
berorientasi ekologis. Sehubungan dengan ini, gereja perlu menyadarkan umat atau
masyarakat untuk mengetahui dan menyadari kepentingan pemeliharaan
lingkungan hidup. (Hal-hal praktis dapat dilakukan adalah seperti pembersihan dan
penataan lingkungan hidup sekitar, kesadaran untuk membuang sampah pada
tempatnya, pemanfaatan air secara efektif, pengurangan polusi udara dengan
merawat kendaraan atau dengan mengurangi penggunaan kendaraan-jadi
menghemat bahan bakar, dsb.)

Demikianlah pokok-pokok pemikiran sehubungan dengan tanggung jawab manusia


atau gereja terhadap lingkungan hidup.

Sumber-sumber bacaan:
Alkitab dengan Ayat-Ayat Referensi. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1974.
Barth, C., Theologia Perjanjian Lama 1. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988.

Borrong, R. P., Etika Bumi Baru. Akses Etika dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1999.
Drummond-Celia Deanne, Teologi dan Ekologi: Buku Pegangan. Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2000.
Hadiwijono, H., Iman Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986.
Riyanto, E. S., Penegakan Hukum Lingkungan dalam Perspektif Etika Bisnis di
Indonesia.
Jakarta: Gramedia, 1999.
Seaton, Chr., Whose Earth? Cambridge: Crossway Books, 1992.
Stuekelberger, Chr., Lingkungan dan Pembangunan. Suatu Orientasi Etika Sosial.
Yogyakarta: Duta Wacana University Press, 1998.
Tafsiran Alkitab Masa Kini 1 Kejadian-Ester. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina
Kasih/OMF, 1995 (cet. 6).
Verkuyl, J., Etika Kristen, Bagian Umum. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986 (cet.10).
/srr
[1] Tulisan ini adalah hasil revisi dari makalah yang disampaikan pada acara
Pembinaan Majelis GKPO Halim Perdana Kusuma, Maret 2006, dan sudah pernah
diterbitkan dalam majalah Gema Wacana, Th. V, Juli-Agustus 2006 dan dilanjutkan
pada edisi November-Desember 2006, di Jakarta, dan di Majalah Media Kawanua,
Juni 2008, di Jakarta.
[2] Penulis adalah Pendeta dan Dosen Ilmu Agama-Agama dan Filsafat Timur.
Posted by Stanley R. Rambitan at 9:15 AM
2 comments:

AnonymousNovember 16, 2010 at 12:59 AM


great.. gbu.

Reply

AnonymousNovember 5, 2012 at 4:09 AM

Apakah tidak ada usulan teologi lain selain teologi penciptaan dalam Alkitab pak?
Dan apakah tidak bisa kita melihat bahwa gerakan teologi ramah lingkungan ini
justru berkaitan dengan agama yang beranekaragam di Indonesia? Dialog seringkali
berhenti dalam tahap ajaran tapi sama sekali tidak menyinggung tanggapan kritis
terhadap alam dalam ajaran tiap agama...

Reply

Newer Post Home


Subscribe to: Post Comments (Atom)
About Me
My Photo
Stanley R. Rambitan
Jakarta, Indonesia
Born in Tondano, Minahasa, North Sulawesi, INDONESIA. Studied theologyphilosophy and religions at: 1) A School of Theology-Philosophy in Jakarta,
Indonesia, 1992; 2)Center for Study Islam and Christian-Muslim Relation, Selly Oak
Colleges, Department of Theology and Religion, University of Birmingham, United
Kingdom, 1995; 3) As Mustami' at Program Pasca Sarjana, Institute Agama Islam
Negeri (IAIN)-State Institute of Islamic Studies) Syarif Hidayatullah, Jakarta, 20002001; and The Centre for Intercultural Theology, Inter-religious Dialogue, Mission
and Ecumenism (Centre IIMO),Department of Religious Studies and Theology,
Universiteit Utrecht, Nederland 2005. Now, teaching Science of Religion, and
Eastern Philosophy. Lives in Jakarta.
View my complete profile
Followers

Blog Archive
2011 (19)
2009 (17)
March (17)
AGAMA ISLAM
JESUS IN THE QUR'AN
JESUS IN QUR'AN COMMENTARIES IN INDONESIA

LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM ALKITAB


LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM ISLAM
GEREJA DAN PELAYANAN
FORUM KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA
ISLAM AND TOLERANCE IN INDONESIA
ISLAM: Kenegaraan dan Pembaruan Politik di Indones...
ISLAM-KRISTEN DI INDONESIA: Analisis tentang relas...
DISKUSI ISLAM-KRISTEN: ROH KUDUS ATAU NABI MUHAMMA...
Orang Kristen dan Pluralitas Agama
JESUS IN THE ISLAMIC CONTEXT OF INDONESIA
PERAN NILAI-NILAI SENI DAN BUDAYA-KEAGAMAAN
CHRISTIAN-MUSLIM RELATIONS IN INDONESIA
Membangun Kesepahaman Lintas SARA
TEOLOGI LINGKUNGAN HIDUP: Gereja dan Lingkungan Hi...