Anda di halaman 1dari 18

Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyah

A. Awal Mula Dinasti Abbasiyah


Dinasti Abbasiyah merupakan keturunan Abbas, yakni paman Nabi Muhammad
SAW., yang memerintah pada tahun 750-1258, dari Baghdad, tempat yang dipilih
oleh khalifah Abbasiyah kedua pada tahun 762, dan dari Samara pada abad ke-9.
Nama Dinasti Abbasiyah diambil dari nama salah seorang paman Nabi
Muhammad SAW., yakni Al-Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Maka dari itu,
Bani Abbasiyah merasa lebih berhak daripada Bani Umayyah atas kekhalifahan
Islam, karena mereka adalah cabang dari Bani Hasyim yang secara nasab merupakan
keturunan yang lebih dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Adapun khalifah
pertama dari pemerintahan ini adalah Abdullah ash-Shaffah bin Muhammad bin Ali
bin Abdullah bin Abbass bin Abdul Muthalib.
Sebelum berdirinya Dinasti Abbassiyah, terdapat tiga poros utama yang
merupakan pusat kegiatan; satu dengan yang lain memiliki kedudukan tersendiri
dalam memainkan peran untuk menegakkan kekuasaan keluarga besar paman Nabi
Muhammad SAW., Abbas bin Abdul Muthalib. Dari nama Al-Abbas inilah, nama itu
disandarkan pada tiga tempat pusat kegiatan, yaitu Humaimah, Kufah, dan
Khurasan.
Di kota Mumaimah, bermukim keluarga Abbasiyah. Salah seorang pimpinannya
bernama Al-Imam Muhammad bin Ali, yang merupakan peletak dasar-dasar bagi
berdirinya Dinasti Abbasiyah. Para pengikut Abbasiyah berjumlah 12 orang,
sedangkan puncak pimpinannya ialah Muhammad bin Ali.
Propaganda Abbasiyah dilaksanakan dengan strategi yang cukup matang
sebagai gerakan rahasia. Akan tetapi, Ibrahim, pemimpin Abbasiyah yang
berkeinginan mendirikan kekuasaan Abbasiyah, gerakannya diketahui oleh khalifah
Umayyah terakhir, Marwan bin Muhammad. Ibrahim akhirnya tertangkap oleh
pasukan Dinasti Umayyah, lantas dipenjarakan di Haran, sebelum dieksekusi. Ia
mewasiatkan kepada adiknya, Abul Abbas, untuk menggantikan kedudukannya
ketika mengetahui bahwa ia akan terbunuh, dan memerintahkan untuk pindah ke
Kufah. Sedangkan, pemimpin propaganda dibebankan kepada Abu Salamah. Maka,
segeralah Abul Abbas pindah dari Humaimah ke Kufah, diiringi oleh para pembesar
Abbasiyah yang lain, seperti Abu Jafar, Isa bin Musa, dan Abdullah bin Ali.
Penguasa Umayyah di Kufah, Yazid bin Umar bin Hubairah, ditaklukan oleh
Abbasiyah dan diusir ke Wasit. Lantas, Abu Salamah pergi ke Kufah, yang telah
ditaklukan pada tahun 132 H. Sedangkan, Abdullah bin Ali, salah seorang paman
Abdul Abbas, diperintahkan mengejar khalifah Umayyah terakhir, Marwan bin
Muhammad, bersama pasukannya yang melarikan diri; akhirnya dapat ditangkap di
dataran rendah Sungai Zab.
Khalifah iyu melarikan diri hingga Fustat di Mesir, dan akhirnya terbunuh di
Busir, wilayah Al-Fayyum, pada tahun 132 H/750 M. Dan, berdirilah Dinasti

Abbasiyah yang dipimpin oleh khalifah pertamanya, yakni Abul Abbas ash-Shaffah,
dengan pusat kekuasaan awal di Kufah.
Secara resmi, Abul Abbas ash-Shaffah mendirikan Dinasti Abbasiyah pada
tahun 132 H/750 M. Kekuasaan Dinasti Abbasiyah berlangsung lama, yakni 5 abad,
pada tahun 132-656 H (750-1258 M). Berdirinya pemerintahan ini dianggap sebagai
kemenangan pemikiran yang pernah dinyatakan oleh Bani Hasyim (Alawiyun),
setelah meninggalkan Nabi Muhammad SAW. Bagi mereka, yang berhak berkuasa
adalah keturunan Nabi Muhammad SAW dan anak-anak beliau.
Proses berdirinya Dinasti Abbasiyah diawali dari tahap persiapan dan
perrencanaan yang dilakukan oleh Ali bin Abdullah bin Abbas, zahid yang hidup
pada masa Umar bin Abdul Aziz (717-720 M). Persiapan yang dilakukan oleh Ali
adalah melakukan propaganda terhadap umat Islam (khususnya Bani Hasyim).
Propaganda Muhammad bin Ali mendapat sambutan yang luar biasa dari
masyarakat karena beberapa faktor :
- Meningkatnya kekecewaan kelompok mawali terhadap Dinasti Umayyah.
Sebab, selama ini, Dinasti Umayyah berkuasa dan ditempatkan di posisi kelas
dua dalam sistem sosial, sedangkan orang-orang Arab menduduki kelas
bangsawan.
- Pecahnya persatuan antarsuku bangsa Arab dengan lahirnya fanatisme kesukuan
antara Arab Utara dengan Arab Selatan.
- Timbulnya kekecewaan kelompok agama terhadap pemerintahan yang sekuler,
karena mereka menginginkn pemimpin negara yang memiliki pengetahuan dan
integritas keagamaan yang mumpuni.
- Perlawanan dari kelompok Syiah yang menuntut hak mereka atas kekuasaan
yang pernah dirampas oleh Bani Umayyah, karena mereka tidak mudah
melupakan peristiwa tersebut.
Masa pemerintahan Abbasiyah merupakan masa keemasan Islam, atau yang
sering kali disebut the golden age. Pada masa itu, umat Islam telah mencapai puncak
kemuliaan, baik dalam bidang ekonomi, peradaban, maupun kekuasaan. Selain itu,
berkembang pula berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah lagi dengan
banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Fenomena
ini selanjutnya melahirkan cendekiawan-cendekiawan besar yang menghasilkan
beragam inovasi baru dalam aneka disiplin ilmu pengetahuan.
Bani Abbas mewarisi imperium besar Bani Umayyah. Hal ini memungkinkan
mereka dapat mencapai lebih banyak hasil, karena landasannya telah dipersiapkan
oleh pemerintahan Bani Umayyah yang besar.
Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, wilayah Islam sangat luas, meliputi
wilayah yang dikuasai oleh Bani Umayyah, seperti Saudi Arabia, Yaman Utara,
Yaman Selatan, Oman, Uni Emirat, Arab, Kuwait, Irak, Iran, Yordania, Palestina
(Israel), Lebanon, Mesir, Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko, Spanyol, Afganistan, dan
Pakistan.
Sikap politik pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah berbeda dengan Bani
Umayyah. Sebab, dalam pemerintahan Bani Abbasiyah, pemegang kekuasaan lebih
merata, bukan hanya dipegang oleh bangsa Arab, tetapi lebih demokratis. Dalam hal

ini, kekuasaan dibagi-bagi sesuai dengan kekuatan masyarakat. Bangsa Persia diberi
kekuasaan, demikian pula bangsa Turki dan lainnya.
Pergantian masa pemerintahan Bani Umayyah oleh Abbasiyah dalam
kepemimpinan masyarakat Islam lebih dari sekedar penggantian dinasti. Ini
merupakan revolusi dalam sejarah Islam, layaknya Revolusi Prancis dan Revolusi
Rusia dalam sejarah Barat.
Seluruh anggota keluarga Abbas dan pimpinan umat Islam bersumpah setia
kepada Abul Abbas ash-Shaffah pun berpindah ke Ambar, sebelah barat Sungai
Eufrat, dekat Baghdad.
Kekhalifaan Abul Abbas ash-Shaffah hanya bertahan selama 4 tahun, 9 bulan. Ia
wafat pada tahun 136 H di Ambar, satu kota yang telah dijadikannya sebagai tempat
kedudukan pemerintahan. Ia berumur tidak lebih dari 33 tahun. Bahkan, ada orang
yang mengatakan umurnya ketika meninggal dunia adalah 29 tahun.
Selama Bani Abbasiyah berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbedabeda, sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan perubahan
pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan membagi masa pemerintahan Bani
Abbasiyah dalam empat periode berikut :
1. Masa Abbasiyah 1, yaitu semenjak lahirnya masa pemerintahan Abbasiyah
tahun 132 H (750 M) sampai meninggalnya Khalifah Al-Wasiq pada tahun 232
H (847 M).
2. Masa Abbasiyah II, yakni sejak Khalifah Al-Mutawakkil pada tahun 232 H (847
M) sampai masa pemerintahan Buwaihiyah di Baghdad pada tahun 334 H (946
M).
3. Masa Abbasiyah III, yaitu sejak berdirinya pemerintahan Buwaihiyah pada
tahun 334 H (946 M) hingga masuknya kaum Saljuk ke Baghdad pada tahun
447 H (1055 M).
4. Masa Abbasiyah IV, yakni sejak masuknya orang-orang Saljuk ke Baghdad pada
tahun 447 H (1055 M) sampai jatuhnya Baghdad ke tangan bangsa Mongol di
bawah pimpinan Hulagu Khan pada tahun 656 H (1258 M).
Namun, pendapat lain menerangkan bahwa berdasarkan perubahan pola
pemerintahan dan politik itu, para sejarawan membagi masa pemerintaan Bani
Abbasiyah menjadi 5 periode berikut :
1. Periode pertama (132-232 H atau 750-847 M) yang disebut periode pengaruh
Arab dan Persia pertama.
2. Periode kedua (232-334 H atau 847-945 M) yang dinamakan periode pengaruh
Turki pertama.
3. Periode ketiga (334-447 H atau 945-1055 M) yang disebut periode pengaruh
Persia kedua.
4. Periode keempat (447-590 H atau 1055-1194 M) yang dinamakan periode
pengaruhTurki kedua.
5. Periode kelima (590-656 H atau 1194-1258 M), yakni masa khalifah bebas dari
pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota
Baghdad.

B. Para Khalifah Dinasti Abbasiyah


Menurut asal usul penguasa selama masa 508 tahun, pemerintahan Abbasiyah
mengalami tiga kali pergantian penguasa, yaitu Bani Abbasiyah, Bani Buwaihiyah.
Dan Bani Saljuk.
1. Khalifah-Khalifah pada Masa Dinasti Abbasiyah
Berikut khalifah-khalifah Dinasti Abbasiyah yang terbagi ke dalam tiga
kelompok tersebut, yang berjumlah 37 khalifah :
o Khalifah Abul Abbas ash-Shaffah (750-754 M).
o Khalifah Abu Jafar al-Manshur (754-775 M).
o Khalifah Al-Mahdi (775-785 M).
o Khalifah Al-Hadi (785-786 M).
o Khalifah Harun ar-Rasyid (786-809 M).
o Khalifah Al-Amin (809-813 M).
o Khalifah Al-Makmun (813-833 M).
o Khalifah Al-Wasiq (842-847 M).
o Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M).
o Khalifah Al-Muntasir (861-862 M).
o Khalifah Al-Munstain (862-866 M).
o Khalifah Al-Muktazz (866-869 M).
o Khalifah Al-Muhtadi (869-870 M).
o Khalifah Al-Muktamid (870-892 M).
o Khalifah Al-Muktadid (892-902 M).
o Khalifah Al-Muktafi (902-908 M).
o Khalifah Al-Muktadir (908-932 M).
o Khalifah Al-Kahir (932-934 M).
o Khalifah Al-Radi (934-940 M).
o Khalifah Al-Mustagi (940-944 M).
o Khalifah Al-Muktakfi (944-946 M).
o Khalifah Al-Mufi (946-974 M).
o Khalifah Al-Tai (974-991 M).
o Khalifah Al-Kadir (991-1031 M).
o Khalifah Al-Kasim (1031-1075 M).
o Khalifah Al-Muqtadi (1075-1084 M).
o Khalifah Al-Mustazhir (1074-1118 M).
o Khalifah Al-Mustasid (1118-1135 M).
o Khalifah Ar-Rasyid (1135-1136 M).
o Khalifah Al-Mustafi (1136-1160 M).
o Khalifah Al-Mustanjid (1160-1170 M).
o Khalifah Al-Mustadi (1170-1180 M).
o Khalifah An-Nasir (1180-1224 M).
o Khalifah Az-Zahir (1124-1226 M).
o Khalifah Al-Mustansir (1226-1242 M).
o Khalifah Al-Muktasim (1242-1258 M).

2. Para Khalifah pada Masa Dinasti Abbasiyah yang Mencapai Masa Keemasan
Pada periode pertama pemerintahan, Bani Abbasiyah mencapai masa keemasan.
Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat, sekaligus sebagai pusat
kekuasaan, politik, dan agama. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai
tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan
filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam.
Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai masa keemasan
dibawah pimpinan Al-Mahdi, Al-Hadi, Harun ar-Rasyid, Al-Makmun, Al-Muktasim,
Al-Wasiq, dan Al-Mutawakkil.
a. Al-Mahdi (775-785 M)
Al-Mahdi dilahirkan di Hamimah pada tahun 126 H. Sewaktu ayahnya, AlManshur, menjadi khalifah, Al-Mahdi berusia 10 tahun. Sementara itu, Isa bin
Musa sebagai putra mahkota calon pengganti Al-Manshur menurut perjanjian
yang dibuat oleh Abul Abbas ash-Shaffah.
Meskipun begitu, Al-Manshur berniat mencalonkan anaknya menjadi
penggantinya kelak. Oleh karena itu, ia mengambil langkah-langkah untuk
mengasuh dan mengajari anaknya tentang kepahlawanan dan cara-cara
memimpin tentara.
Ketika Al-mahdi menajdi khalifah, negara telah dalam keadaan stabil dan
mantap, dapat mengedalikan musuh-musuh, dan kondisi keuangan pun telah
terjamin. Maka dari itu, masa pemerintahan Al-Mahdi terkenal sebagai masa
yang makmur dan hidup dalam kedamaian.
Al-Mahdi memberi perintah supaya dibangun beberapa buah bangunan besar
disepanjang jalan menuju Makkah sebagai tempat persinggahan para musafir.
Selain itu, ia juga memerintahkan agar dibuat kolam-kolam air demi
kepentingan kelompok-kelompok kafilah dan hewan-hewan mereka, sekaligus
mengadakan hubungan pos diantara kota Baghdad dan wilayah-wilayah Islam
yang terkemuka.
b. Al-Hadi (775-786 M)
Al-Hadi adalah khalifah pengganti Al-Mahdi, yang merupakan anaknya
sendiri. Pada tahun 166 H, Al-Mahdi melantik pula anak yang lainnya, yaitu
Harun ar-Rasyid sebagai putra mahkota calon pengganti Al-Hadi. Jikalau AlMahdi wafat, Al-Hadi dilantik menjadi khalifah yang menggantikannya secara
resmi.
Khalifah Al-Hadi adalah khalifah yang tegas, walaupun ia gemar bersenda
gurau, tetapi ini tidak melalaikannya dari memikul tanggung jawab. Seperti
yang telah diketahui, ia berhati lembut, berjiwa bersih, berakhlak baik, baik
tutur katanya, senantiasa berwajah manis, dan jarang menyakiti orang.
c.

Harun ar-Rasyid

Harun ar-Rasyid dilahirkan di Raiyi pada tahun 145 H. Ibunya adalah


khoizuran, mantan seorang hamba yang juga ibunda Al-Hadi. Ia telah diasuh
dengan baik agar berkepribadian kuat dan berjiwa toleransi. Ayahnya, Al-Mahdi,
telah memikulkan beban yang berat, bertanggung jawab dalam memerintah
negeri dengan melantiknya sebagai amir di Saifah pada tahun 163 H.
Selanjutnya, pada tahun 164 H, Harun ar-Rasyid dilantik dan memerintah
seluruh wilayah Ambar serta negeri-negeri di Afrika Utara. Harun ar-Rasyid
telah melantik pula beberapa orang pegawai tinggi, yang bertugas mewakilinya
di kawasan-kawasan tersebut.
Kepribadian dan akhlak Harun ar-Rasyid dinilai baik dan mulia, yang
menyebabkan sangat dihormati dan disegani. Ia termasuk salah satu khalifah
yang suka bercengkrama, alim, dan dimuliakan. Selain itu, ia juga terkenal
sebagai pemimpin yang pemurah dan suka berderma. Ia pun menyukai musik
dan ilmu pengetahuan, serta dekat dengan para ulama dan para penyair.
Pada zaman pemerintahan Harun ar-Rasyid, baitul mal menanggung
narapidana dengan memberikan makanan yang cukup serta pakaian. Sebelum
itu, Al-Mahdi juga berbuat demikian, tetapi atas nama pemberian, sedangkan
Harun ar-Rasyid menjadikannya sebagai tanggung jawab baitul mal.
Khalifah Harun ar-Rasyid mampu membawa negeri yang dipimpinnya ke
masa kejayaan, kemakmuran, dan kesejahteraan. Bahkan, bisa dikatakan bahwa
masa keemasan Dinasti Abbasiyah pada masa kepemimpinan Harun ar-Rasyid.
Wilayah Irak pada masa kekuasaanya menjadi pusat ilmu pengetahuan dan
kebudayaan di dunia Timur. Kota Baghdad menjadi ibu kota pemerintahan
sekaligus kota terpenting di Irak. Hingga masa kekuasaan Al-Muktasim, ibu
kota Dinasti Abbasiyah masih berada di Baghdad.
Berikut usaha-usaha Harun ar-Rasyid selama masa pemerintahannya :
1.
2.
3.
4.

Mengembangkan bidang ilmu pengetahuan dan seni,


Membangun gedung-gedung dan sarana sosial,
Memajukan bidang ekonomi dan industri, serta
Memajukan bidang politik pertahanan dan perluasan wilayah kekuasaan
Dinasti Abbasiyah.

d. Al-Makmun (813-833 M)
Nama lengkap Al-Makmun adalah Abdullah Abdul Abbas al-Makmun. Ia
ialah anak dari Khalifah Harun ar-Rasyid yang dilahirkan pada 14 Rabiul Awal
tahun 170 H atau 786 M. Kelahirannya bertepatan dengan wafatnya sang akek,
yaitu Musa al-Hadi, juga bersamaan dengan msa ayahnya diangkat menjadi
khalifah. Sedangkan, ibunda Al-Makmun adalah seorang mantan hamba sahaya
yang bernama marajil.

Selain sebagai seorang pejuang yang pemberani, Al-Makmun juga sebagai


seorang pengusaha yang bijaksana. Semangat berkarya, bijaksana, pengampun,
adil, dan cerdas merupakan sifat-sifat yang menonjol dalam kepribadiannya.
Selama menjabat sebagai pemimpin Bani Abbasiyah, Al-Makmun telah
berusaha melakukan perbaikan-perbaikan berikut :
1. Menghentikan berbagai gerakan pemberontakan demi menciptakan stabilitas
di dalam negeri.
2. Penertiban administrasi negara untuk penataan kembali sistem
pemerintahan.
3. Pembentukan badan negara.
4. Pembentukan baitul hikmah dan majelis munazarah. Baitul hikmah
berfungsi sebagai perpustakaan (daur al-kutub), yang di dalamnya turun
aktif para guru dan ilmuwan, yang aktivitasnya berupa penerjemah,
penulisan dan penjilidan.
e. Al-Muktasim (833-842 M)
Abu Ishak Muhammad al-Muktasim lahir pada tahun 187 H. Ibunya bernama
Maridah. Ia dibesarkan dalam suasana ketentaraan, karena sifat berani dan
minatnya menjadi pahlawan. Pada masa pemerintahan Al-Makmun, AlMuktasim merupakan tangan kanannya dalam menyelesaikan kesulitan dan
memimpin peperangan. Selain itu, Al-Makmun juga melantik Al-Muktasim
sebagai pemerintah di negeri Syam dan di Mesir, kemudian melantiknya pula
sebagai putra mahkota.
Al-Muktasim menyandang jabatan khalifah sesudah wafatnya Al-Makmun.
Ia berpindah ke Samara bersama angkatan tentaranya. Disana, ia mendirikan
istana, masjid, dan sekolah-sekolah. Tidak lama kemudian, Samara semakin
megah seperti Baghdad, tetapi ia tidak pernah menggantikan Baghdad sebagai
pusat intlektual yang besar. Hal ini juga didukung oleh kondisi perkembangan
ilmu pengetahuan pada masa itu, yang turut berkembang dengan pesat; bukan
hanya ilmu pengetahuan umum, melainkan juga ilmu pengetahuan agama.

f. Al-Wasiq (842-847 M)
Al-Wasiq dilahirkan pada tahun 196 H. Ibunya adalah keturunan Roma
bernama Qaratis. Al-Wasiq berkepribadian luhur, berpikiran cerdas, dan
perpandangan jauh dalam mengurus segala perkara. Ayahnya telah memberinya
kekuasaan di Baghdad, ketika Al-Muktasim berpindah ke Samara bersama-sama
dengan angkatan tentaranya, kemudian melantiknya sebagai putra mahkota
calon khalifah.
Al-Wasiq telah menyandang jabatan khalifah setelah wafatnya Al-Muktasim,
ayahnya. Al-Wasiq adalah penguasa yang sangat cakap, pemerintahannya
mantap, dan penuh perhatian. Ia banyak memberikan uang dan mengembangkan

ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahannya, industri maju dan perdagangan


lancar.
g. Al-Mutawakkil (847-861 M)
Al-Mutawakkil atau Jafar al-Mutawakkil adalah putra dari Al-Muktasim
Billah (833-842 M) dari seorang wanita Persia. Ia menggantikan saudaranya AlWasiq. Selama masa pemerintahannya, Al-Mutawakkil menunjukan rasa toleran
terhadap sesama. Ia mengandalkan negarawan Turki dan pasukannya untuk
merendam pemberontakan dan memimpin pasukan menghadapi pasukan asing.
Ia wafat pada 11 Desember 861 M.

C. Sistem Politik dan Sosial pada Masa Dinasti Abbasiyah


1. Sistem Politik
Ada beberapa politik yang dijalankan pada msa pemerintahan Abbasiyah,
diantaranya ialah sebagai berikut :
a. Para Khalifah tetap berasal dari keturunan Arab murni, sedangkan para pejabat
lainnya diambil dari kaum mawali.
b. Kota Baghdad dijadikan sebagai ibu kota negara, yang menjadi pusat kegiatan
politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan. Serta terbuka bagi siapa pun,
termasuk bangsa dan penganut agama lainnya.
c. Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang mulia, penting dan harus
dikembangkan.
d. Kebebasan berpikir sebagai hak asasi manusia.
2. Sistem Sosial
Pada masa pemerintahan Abbasiyah, sistem sosial merupakan sambungan dari
masa sebelumnya (Dinasti Umayyah). Akan tetapi, pada masa ini, terjadi beberapa
perubahan yang sangat mencolok, di antaranya adalah sebagai berikut :
a. Tampilnya kelompok mawali dalam pemerintahan serta mendapatkan tempat
yang sama dalam kedudukan sosial
b. Dinasti Abbasiyah terdiri atas beberapa bangsa yang berbeda-beda (bangsa
Mesir, Syam, Jazirah Arab, dan lain-lain).
c. Perkawinan campur yang melahirkan darah campuran.
d. Terjadinya pertukaran pendapat, sehingga muncul kebudayaan baru.
D. Masa kejayaan Dinasti Abbasiyah
Pada Dinasti Abbasiyah merupakan masa kejayaan. Hal tersebut dikarenakan
Dinasti Abbasiyah lebih menekankan peradaban dan kebudayaan Islam daripada
perluasan wilayah.
Abad X Masehi disebut abad pembangunan daulah islamiyah, ketika dunia islam,
mulai Kordoba di Spanyol sampai di Multan di Pakistan, mengalami pembangunan

dalam segala bidang, terutama ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Dunia Islam
sewaktu itu dalam keadaan maju, jaya, makmur; sebaliknya dunia Barat masih
dalam keadaan tertinggal dan primitif. Dunia Islam telah sibuk mengadakan
penyelidikan di laboratorium dan osbservatorium; dunia Barat masih asyik dengan
jampi-jampi dan dewa-dewa. Hal ini dikarenakan agama Islam yang dibawa oleh
Nabi Muhammad SAW. Telah menimbulkan dorongan untuk menumbuhkan suatu
kebudayaan baru, yaitu kebudayaan Islam.
Berikut berbagai kemajuan yang dicapai oleh Dinasti Abbasiyah dalam berbagai
bidang:
1. Gerakan Penerjemahan
Peletak dasar gerakan penerjemahan adalah Bani Umayyah. Namun, upaya
menerjemahkan berbahasa asing, terutama bahasa Yunani dan Persia ke dalam
bahasa Arab, mengalami masa keemasan pada masa pemerintahan Abbasiyah. Para
ilmuwan diutus ke daerah Byzantium untuk mencari naskah-naskah Yunani dalam
berbagai ilmu, khususnya filsafat dan kedokteran.
Pelopor gerakan penerjemahan pada awal pemerintahan Abbasiyah adalah
Khalifah Al-Manshur yang juga membangun ibu kota Baghdad. Pada awal
penerjemahan, naskah yang diterjemahkan terkait bidang astrologi, kimia, dan
kedokteran. Selanjutnya, yang diterjemahkan ialah naskah-naskah filsafat karya
Aristoteles dan Plato.
Pada masa keemasan, karya yang banyak diterjemahkan tentang ilmu-ilmu
pragmatis, seperti kedokteran. Sebenarnya, naskah astronomi dan matematika juga
diterjemahkan. Sedangkan, karya-karya berupa puisi, drama, cerpen, dan sejarah
jarang diterjemahkan karena dianggap kurang bermanfaat. Sementara itu, dalam
bidang bahasa Arab, perkembangan ilmu-ilmu di bidang tersebut sudah sangat maju.
Pada masa ini, ada baitul hikmah, yaitu perpustakan yang befungsi sebagai pusat
pengembangan ilmu pengetahuan. Pada masa Harun ar-Rasyid, diganti namanya
menjadi khizanah al-hikmah (khazanah kebijaksanaan) yang berfungsi sebagai
perpustakaan dan penelitian. Sedangkan, pada masa Al-Makmun, khizanah alhikmah dikembangan dan diubah namanya menjadi baitul hikmah, yang
dipergunakan secara lebih maju, yaitu sebagai tempat penyimpanan buku-buku kuno
yang diperoleh dari Persia, Byzantium, bahkan Etiopia dan India.
Sementara itu, direktur perpustakannya seorang nasionalis Persia, yakni Shal bin
Harun. Dibawah kekuasaan Al-Makmun, lembaga tersebut difungsikan sebagai
perpustakaan sekaligus pusat kegiatan studi serta riset astronomi dan matematika.
2. Bidang Ilmu Pengetahuan; Kebangkitan Intelektual
Gerakan pengembangan ilmu secara besar-besaran dirintis oleh Khalifah Jafar
Al-Manshur, setelah ia mendirikan kota Baghdad (144 H atau 762 M), dan
menjadikannya sebagai ibu kota negara. Ia menarik banyak ulama dan ahli dari
berbagai daerah untuk datang dan tinggal di Baghdad. Ia merintis usaha pembukuan

ilmu agama, seperti fiqh, tafsir, tauhid, hadits, maupun ilmu lainnya, seperti ilmu
bahasa dan sejarah.
Pada masa itu, hidup para filsuf, pujangga, ahli baca al-quran, dan ulama
dibidang ilmu agama. Didirikan pula perpustakaan atau baitul hikmah, yang
didalamnya orang-orang dapat membaca, menulis, dan berdiskusi. Berkembang juga
ilmu pengetahuan agama, seperti ilmu al-quran, qiraat, hadits, fiqih, ilmu kalam,
bahasa, dan sastra.
Empat madzhab fiqh tumbuh dan berkembang pada masa Dinasti Abbasiyah.
Imam Abu Hanifah (meninggal dunia di Baghdad pada tahun 150 H atau 667 M)
adalah pendiri madzhab hanafi. Sedangkan Imam Malik bin Anas banyak menulis
hadits sekaligus pendiri madzhab maliki (wafat di Madinah pada tahun 179 H atu
795 M). Adapun Muhammad bin Idris asy-Syafii (wafat di Mesir pada tahun 204 H
atau 819 M) adalah pendiri madzhab syafii. Sedangkan Ahmad bin Hanbal ialah
pendiri madzab hanbali (wafat pada tahun 241 H atau 855 M). Selain itu
berkembang pula ilmu filsafat, logika, metafisika, matematika, ilmu alam, geografi,
aljabar, aritmatika, astronomi, musik, kedokteran, serta kimia. Dinasti Abbasiyah,
dengan pusatnya di Baghdad sangat maju sebagai pusat kota peradaban dan ilmu
pengetahuan. Beberapa kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dapat dibedakan
menjadi dua, yakni perkembangan ilmu naqli dan aqli.
a. Perkembangan Bidang Ilmu Naqli
Ilmu naqli adalah ilmu yang bersumber dari naqli (al-Quran dan hadits), atau
ilmu ini mulai disusun perumusannya sekitar 200 tahun setelah hijrah Nabi
Muhammad Saw. Sehingga menjadi ilmu yang kita kenal sekarang, seperti ulumul
quran, ilmu tafsir, hadits, ilmu kalam, bahasa, dan fiqh.
Berikut berbagai kemajuan dan perkembangan yang dicapai dalam bidang ilmu
naqli:
1) Ilmu Fiqh
Pada masa Dinasti Abbasiyah , lahirlah para tokoh fuqaha (ahli fiqh) pendiri
madzhab, yakni:
a) Imam Abu Hanifah (700-767 M),
b) Imam Malik (719-795 M),
c) Imam Syafii (767-820 M), dan
d) Imam Ahmad bin Hanbal (780-855 M).
2) Ilmu Tafsir
Dari tafsir-tafsir yang ada, cara penafsirannya dibedakan menjadi dua, yakni:
a) Tafsir bi al-matsur, yaitu menafsirkan al-Quran dengan hadits Nabi
Muhammad SAW. Mufasir masyhur golongan ini pada masa Abbasiyah
antara lain Ibnu Jarir ath-Thabari (dengan tafsirnya sebanyak 30 juz), Ibnu
Athiyah al-Andalusy (Abu Muhammad bin Athiyah), serta Al-Suda yang

mendasarkan penafsirannya pada Ibnu Abbas, Ibnu Masud, dan para


sahabat lainnya.
b) Tafsir bial-rayi, yaitu menafsirkan al-Quran menggunakan akal, dengan
memperluaskan pemahaman yang terkandung di dalamnya. Musafir
masyhur golongan ini pada masa Abbasiyah antara lain Abu Bakar Asma
(Mutazilah) dan Abu Muslim Muhammad bin Nashr al-Isfahany
(Mutazilah), dengan kitab tafsirnya 14 jilid.
3) Ilmu Hadits
Hadits adalah sumber hukum Islam kedua setelah AL-Quran. Di antara ahli
hadits pada masa Dinasti Abbasiyah adalah sebagai berikut :
a) Imam Bukhari (194-256 M), dengan karyanya Shahih Bukhari.
b) Imam Muslim (wafat pada tahun 261 H), dengan karyanya Shahih
Muslim.
c) Ibnu Majah, dengan karyanya Sunan Ibnu Majah.
d) Abu Dawud, dengan karyanya Sunan Abu Dawud.
e) Imam Nasai, dengan karyanya Sunan Nasai.
f) Imam Baihaqi.
4) Ilmu Kalam
Kajian para ahli ilmu kalam (teologi) mengenai dosa, pahala, surga, neraka,
serta perdebatan tentang ketuhanan atau tauhid bisa menghasilkan suatu ilmu,
yaitu ilmu kalam atau teologi. Di antara tokoh ilmu kalam adalah sebagai
berikut:
a) Imam Abu Hasan al-Asyari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi (tokoh
Asyariyah).
b) Wasil bin Atha dan Abu Huzail al-Allaf (tokoh Mutazilah).
c) Al-Jubai.
5) Ilmu Bahasa
Ilmu-ilmu bahasa yang berkembang pada masa Dinasti Abbasiyah adalah
ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu bayan, ilmu badi, dan arudl. Dalam hal ini,
bahasa Arab dijadikan sebagai bahasa ilmu pengetahuan sekaligus alat
komunikasi antar bangsa. Di antara ahli ilmu bahasa ialah sebagai berikut :
a) Imam Sibawaih (wafat pada tahun 183 H), dengan karyanya yang terdiri
atas 2 jilid setebal 1.000 halaman.
b) Al-Kisai.
c) Abu Zakaria al-Farra (wafat pada tahun 208 H). Kitab Nahwu-nya terdiri
atas 6.000 halaman lebih.
b. Perkembangan Bidang Ilmu Aqli
Ilmu-ilmu umum masuk ke dalam Islam melalui terjemahan dari bahasa
Yunani dan Persia ke dalam bahasa Arab, selain bahasa India. Pada tahun 856
M, Khalifah Al-Mutawakkil mendirikan Sekolah Tinggi Terjemah di Baghdad,
yang dilengkapi dengan museum buku.
1) Fase-Fase dalam Gerakan Penerjemahan
Gerakan penerjemahan berlangsung dalam tiga fase berikut :
a) Fase pertama pada masa Khalifah Al-Manshur hingga Harun ar-Rasyid.
Pada fase ini, banyak diterjemahkan karya dalam bidang astronomi dan
mantik.

b) Fase kedua berlangsung sejak masa Khalifah Al-Makmun hingga tahun


300 H. Buku-buku yang diterjemahkan terkait bidang filsafat dan
kedokteran.
c) Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H, terutama sesuai pembuatan
kertas. Selanjutnya, bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.
2) Penjelasan Ringkas Terkait Perkembangan Ilmu Aqli
Dengan kegiatan penerjemahan itu, sebagai karangan Aristoteles, Plato,
Galen, serta karangan dalam ilmu kedokteran lainnya sekaligus karangan
mengenai ilmu pengetahuan Yunani lainnya dapat dibaca oleh alim ulama
Islam. Nah, bertolak buku dari buku yang diterjemahkan itu, para ahli di
kalangan kaum muslimin mengembangkan penelitian dan pemikiran mereka,
menguasai semua ilmu dan pemikiran filsafat yang pernah berkembang pada
masa itu, serta melakukan penelitian secara empiris, dengan mengadakan
eksperimen sekaligus mengembangkan pemikiran spekulatif dalam batasbatas yang tidak bertentangan dengan kebenaran wahyu. Semenjak itu,
dimulailah pembentukan ilmu-ilmu Islam di bidang aqli, yang sering disebut
Abad Keemasan yang berlangsung pada tahun 900-1100 Masehi.
Dalam bidang ilmu aqli, berkembang berbagai kajian dalam bidang
filsafat, logika, metafisika, ilmu alam, geometri, aljabar, aritmatika,
astronomi, musik, kedokteran, kimia, sejarah, dan sastra.
Berikut penjelasan ringkas mengenai perkembangan ilmu aqli tersebut :
a) Filsafat
Kajian filsafatr di kalangan umat Islam mencapai puncaknya pada masa
Dinasti Abbasiyah, di antaranya dengan penerjemahan filsafat Yunani ke
dalam bahasa Arab. Para filsuf Islam dalam bidang ini ialah sebagai
berikut :
Al-Khindi (811-874 M)
Abu Yusuf Ishak al-Khindi, atau yang lebih dikenal dengan nama
Al-Khindi, masyhur sebagai filsuf muslim pertama. Ia mengarang
sekitar 236 kitab tentang ilmu mantik, filsafat, handasah, hisab,
musik, nujum, dan lain-lain. Di antara karyanya adalah Kimiyatul Itri,
Risalahfi Faslain, Risalah fi Illat an-Nafs ad-Damm, dan lain-lain.
Al-Farabi (870-950 M)
Abu Nashr Muhammad bin Muhammad Tarkhan al-Farabi, dengan
nama filsuf Al-Farabi, menjadi terkenal setelah masa Al-Khindi. Ia
lahir di Farab, pada tahun 870 M, dan wafat di Damaskus, pada tahun
95 M. Di antara karyanya ialah Tahsilus Saadah, Assiyatul
Madaniyah, Tanbih ala Sabilis Saadah, dan lain-lain.
Ibnu Sina (980-1037 M)
Ar-Rais Abu Ali Husain bin Abdullah, atau yang lebih terkenal
dengan Ibnu Sina, lahir di Afsyanah Bukhara, pada tahun 980 M, dan
wafat di Hamdan, pada tahun 1037 M. Ia adalah seorang dokter dan
filsuf pertama. Ibnu Sina meninggalkan karyanya sebanyak 200 buah.

Di antara karya filsafatnya adalah Al-Isyarat wa at-Tanbihat, Mantiq


al-Masyriqiyyin, dan lain-lain.
Ibnu Bajjah (453-523 H)
Abu Bakar Muhammad bin Yahya dikenal pula dengan sebutan
Ibnu Bajjah. Beberapa karyanya terkait filsafat antara lain Tadbirul
Muttawahhid, Fi an-Nafs, dan Risalatul Ittisal.
Ibnu Rusyd (529-595 H)
Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd, atau
yang dikenal pula dengan Ibnu Rusyd, lahir pada tahun 520 H di
Kordoba. Di antara karyanya dalam bidang filsafat adalah Mabadiul
Falasifah, Tahafutut Tahafut, Kulliyan, dan lain-lain.
Ibnu Thufail (225-287 H)
Abu Bakar bin Abdul Malik bin Thufail, atau yang sering disebut
Ibnu Thufail, ter,asuk salah satu murid Ibnu Bajjah. Di antara
karyanya adalah Hayy bin Yaqzan.
Al-Ghazali (1058-1111 M)
Al-Ghazali bernama lengkap Abu Hamid bin Muhammad at-Tusi
al-Ghazali. Ia lahir pada tahun 1058 M, dan wafat pada tahun 1111 M.
Di antara karyanya adalah Tahafutul Falasifah, Ar-Risalatul
Qudsiyah, dan Ihya Ulumuddin.
b) Ilmu Kedokteran
Pada masa Dinasti Abbasiyah, ilmu kedokteran berkembang pesat. Selain
itu, rumah sakit dan sekolah kedokteran pun banyak didirikan. Di antara
ahli kedokteran ternama pada masa ini adalah sebagai berikut :
Abu Zakariya Yahya bin Mesuwaih (wafat pada tahu 242 H). Ia
adalah seorang ahli farmasi di Rumah Sakit Jundishapur, Iran.
Abu Bakar ar-Razi atau Rhazez (864-932 M), yang dikenal sebagai
Ghalien Arab.
Ibnu Sina (Avicenna). Karyanya yang terkenal adalah Al-Qanun fi
ath-Thib tentang dan praktik ilmu kedokteran, serta pengaruh obatobatan, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa, yakni Canon of
Medicine.
Ar-Razi. Ia adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit
cacar dengan measles, sekaligus penulis buku tentang kedokteran
anak.
c) Matematika
Terjemahan dari buku-buku asing ke dalam bahasa Arab menghasilkan
karya dalam karya dalam bidang matematika. Di antara ahli matematika
islam yang terkenal adalah Al-Khawarizmi. Ia ialah pengarang kitab AlJabar wal Muqabalah (ilmu hitung) dan penemu angka nol. Sedangkan,
angka latin, yakni 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 0, disebut angka Arab,

karena diambil dari Arab. Sebelumnya, dikenal angka Romawi I, II, III,
IV, V, dan seterusnya. Tokoh lainnya adalah Abu al-Wafa Muhammad bin
Ismail bin al-Abbas (940-998), yang terkenal sebagai ahli ilmu
matematika.
d) Farmasi
Di antara ahli farmasi pada masa Dinasti Abbasiyah adalah Ibnu Baithar.
Karyanya yang terkenal adalah Al-Mughni (mengupas tentang obatobatan) serta Jami al-Mufradat al-Adawiyah (mengkaji tentang obatobatan dan makanan bergizi).
e) Ilmu Atronomi
Kaum muslimin mengkaji dan menganalisi berbagai aliran ilmu astronomi
dari berbagai bangsa, seperti Yunani, India, Persia, dan Kaldan. Di antara
ahli astronomi Islam adalah sebagai berikut :
Abu Manshur al-Falaki (wafat pada tahun 272 H). Karyanya yang
terkenal adalag Isbat al-Ulum dan Hayat al-Falak.
Jabir al-Batani (wafat pada tahun 319 H). Ia adalah pencipta teropong
bintang pertama. Karyanya yang terkenal ialah kitab Marifat Mathil
Buruj Baina Arbai al-Falak.
Raihan al-Bairuni (wafat pada tahun 440 H). Karyanya adalah AtTafhim li Awal as-Sina at-Tanjim.
f) Geografi
Dalam bidang geografi, umat Islam tergolong sangat maju. Sebab, sejak
awal, bangsa Arab merupakan bangsa pedagang yang biasa menempuh
jarak jauh untuk berniaga. Di antara wilayah pengembaraan adalah
Tiongkok dan Indonesia pada masa awal-awal kemunculan Islam.
Sedangkan, tokoh-tokoh ahli geografi yang terkenal ialah sebagai berikut :
Abul Hasan al-Masudi (wafat pada tahun 345 H atau 956 M). Ia
adalah seorang penjelajah yang mengadakan perjalanan ke Persia,
India, Sri Lanka, dan Tiongkok, sekaligus penulis buku berjudul
Muruj az-Zahab wa Maadin al-Jawahir.
Ibnu Khurdazabah (820-913 M). Ia berasal dari Persia, yang dianggap
sebagai ahli geografi Islam tertua. Di antara karyanya adalah Masalik
wa al-Mamalik, yang membahas tentang data-data penting terkait
sistem pemerintagan dan peraturan keuangan.
Ahmad el-Yakubi. Ia ialah penjelajah yang pernah mengadakan
perjalanan ke Armenia, Iran, India, Mesir, dan Maghribi, sekaligus
menulis buku berjudul Al-Buldan.
Abu Muhammad al-Hasan al-Hamdani (wafat pada tahun 334 H atau
946 M). Karyanya yang berjudul Sifatu Jazirah al-Arab.
g) Sejarah

Pada masa Dinasti Abbasiyah, muncul tokoh-tokoh sejarah, di antaranya


ialah Ahmad bin Yakubi (wafat pada tahun 895 M), dengan karyanya
berjudul Al-Buldan (negeri-negeri) dan At-Tarikh (sejarah).
h) Sastra
Dalam bidang sastra, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Baghdad
merupakan kota pusat seniman dan sastrawan. Adapun tokoh-tokoh sastra
ialah sebagai berikut :
Abu Nuwas. Ia termasuk salah satu penyair terkenal, dengan cerita
humornya.
An-Nasyasi. Ia adalah penulis buku berjudul Alfu Lailah wa Lailah
(The Arabian Night). Buku ini merupakan buku ceritaseribu satu
malam yang sangat terkenal dan diterjemahkan ke dalam hampir
seluruh bahasa dunia.
3. Bidang Ekonomi
Ekonomi imperium Abbasiyah digerakkan oleh perdagangan. Ada berbagai
industri yang berkembang saat itu, seperti kain linen dari Mesir, sutra dari Syria dan
Irak, serta kertas dari Samarkand, sekaligus beragam produk pertanian, seperti
gandum dari Mesir dan kurma dari Irak. Hasil-hasil industri dan pertanian ini
diperdagangkan ke berbagai wilayahn kekuasaan Abbasiyah dan negara lain.
Karena industrialisasi yang muncul di perkotaan inilah, urbanisasi tak dapat
dibendung lagi. Selain itu, perdagangan barang tambang juga semarak. Emas yang
ditambang dari Nubia dan Sudan Barat melambungkan perekonomia Abbasiyah.
Perdagangan dengan wilayah-wilayah lain merupakan hal yang sangat penting.
Secara bersamaan dengan kemajuan pemerintahan Abbasiyah, Dinasti Tang di
Tiongkok juga mengalami masa puncak kejayaan, sehingga hubungan perdagangan
di antara keduanya menambah semaraknya perdagangan dunia.
4. Bidang Keagamaan
Di bawah kekuasaan Bani Abbasiyah, ilmu-ilmu kegamaan mulai dikembangkan.
Pada masa inilah, ilmu metode tafsir juga mulai berkembang, terutama dua metode
penafsiran, yaitu tafsir bi al-rayi dan tafsir bi al-matsur.
Dalam bidang hadits, masa ini hanya merupakan penyempurnaan, atau
pembukuan dari catatan dan hafalan para sahabat. Pada masa ini pula, dimulai
pengklasifikasian hadits, sehingga muncul hadits dhaif maudlu, shahih, dan lainlain.
Sedangkan, dalam hukum Islam, karya pertama yang diketahui adalah Majmu alFiqh karya Zaid bin Ali (wafat pada tahun 122 H atau 740 M), yang berisi tentang
fiqh Syiah Zaidiyah.
Sementara itu, hakim agung yang pertama adalah Abu Hanifah (wafat pada tahun
150 H atau 767 M). Meskipun dianggap sebagai pendiri madzhab Hanafi, karyakaryanya sendiri tidak ada yang terselamatkan. Dua bukunya yang berjudul Fiqh al-

Akbar (terutama berisi artikel tentang keyakinan) dan Waisyah Abi Hanifah berisi
pemikiran-pemikirannya terselamatkan karena ditulis oleh para muridnya.
Berbagai kemajuan dicapai oleh Dinasti Abbasiyah tersebut tentu didukung oleh
berbagai faktor. Berikut ini merupakan beberapa faktor yang mendukung
keberhasilan Bani Abbasiyah dalam berbagai bidang :
Islam semakin meluas, tidak hanya di Damaskus, melainkan juga di Baghdad.
Adanya perkembangan ilmu pengetahuan.
Dalam hal penyelenggaraan negara, pada masa Bani Abbasiyah, ada jabatan
wazir.
Ilmu pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang sangat mulia dan berharga.
Para khalifah membuka kesempatan pengembangan pengetahuan seluas-luasnya.
Rakyat bebas berpikir serta memperoleh hak asasi dalam segala bidang.
Pemerintahan Abbasiyah bersungguh-sungguh membangun dna meningkatkan
perekonomian mereka. Mereka memiliki pembendaharaan yang berlimpah
dikarenakan penghematan dalam pengeluaran.
Para khalifah mendukung perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga banyak
ilmu pengetahuan, serta buku-buku pengtahuan berbahasa asing diterjemahkan ke
dalam bahasa Arab.
Adanya asimilasi antara banga Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu
mengalami perkembangan ilmu pengetahuan. Asimilasi itu berlangsung efektif,
dan bangsa-bangsa tersebut memberi saham pengetahuan yang sangat
bermanfaat.
E. Masa Kehancuran Dinasti Abbasiyah
Meskipun masa Dinasti Abbasiyah adalah masa keemasan Islam, namun masa
keemasan itu tidak kekal atau abadi. Ada waktu-waktu saat masa keemasan itu
mengalami kemunduran. Masa kemunduran dalam sebuah peradaban merupakan suatu
keniscayaan, karena ini termasuk salah satu mata rantai dalam siklus kehidupan,yakni
lahir, tumbuh, berkembang, dan mati (hancur).
Sebagaimana yang tanpak dalam periodisasi kepemimpinan Abbasiyah, masa
kemunduran dimulai sejak periode kedua. Meskipun demikian, faktor-faktor penyebab
kemunduran itu tidak datang secara tiba-tiba. Benih-benihnya sudah terlihat pada masa
pertama. Hanya saja, karena kepemimpinan pada periode ini sangat kuat, maka benihbenih itu tidak sempat berkembang.
Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbasiyah, terlihat bahwa para khalifah kuat dan
para menteri cenderung berperan sebagai kepala pegawai sipil. Namun, jika para kalifah
lemah, maka roda pemerintahan tidak berlangsung baik.
Ada berbagai pendapat yang menerangkan tentang faktor-faktor yang
mengakibatkan terjadinya kemunduran dan kehancuran Dinasti Abbasiyah. Di antaranta
ialah sebagai berikut :
1. Menurut W. Montgomery Watt
Menurut W.Montgomery Watt, berbagai faktor yang menyebabkan kemunduran pada
masa Dinasti Abbasiyah adalah sebagai berikut :

a. Luasnya wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah, padahal komunikasi pusat dengan


daerah sulit dilakukan. Bersamaan dengan itu, tingkat saling percaya di kalangan
para penguasa dan pelaksana pemerintah sangat rendah.
b. Dengan profesionalisasi angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah pada merek
sangat tinggi.
c. Keuangan negara dalam kondisi sangat sulit, karena biaya yang dikeluarkan untuk
tentara bayaran yang sangat besar. Saat kekuatan militer menurun, khalifah tidak
sanggup memaksa pengiriman pajak ke Baghdad.
2. Menurut Dr. Badri Yatim, M.A.
Menurut Dr. Badri Yatim, M.A., di antara hal yang menyebabkan kemunduran
Dinasti Abbasiyah adalah sebagai berikut :
a. Persaingan Antarbangsa
Dinasti Abbasiyah yang didirikan oleh Bani Abbasiyah bersekutu dengan orangorang Persia. Persekutuan dilatar belakangi oleh persamaan nasib semasa kekuasaan
Bani Umayyah. Keduanya tertindas.
Nah, setelah Dinasti Abbasiyah berdiri, persekutuan tetap dipertahankan. Pada
masa ini, persaingan antarbangsa memicu untuk saling berkuasa. Kecenderungan
masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal
pemerintahan Abbasiyah.
b. Kemerosotan Ekonomi
Dinasti Abbasiyah mengalami kemunduran ekonomi bersamaan dengan
kemunduran di bidang politik. Pada periode pertama, pemerintahan Abbasiyah
merupakan pemerintahan yang kaya. Bahkan, pemasukan lebih besar daripada
pengeluaran, sehingga Baitul Mal penuh dengan harta. Namun, setelah pemerintahan
mengalami periode kemunduran, negara mengalami defisit anggaran. Dengan
demikian, terjadi kemerosotan ekonomi.
c. Konflik Keagamaan
Konflik keagamaan yang muncul menjadi isu sentra pada masa pemerintahan
Abbasiyah, sehingga mengakibatkan perpecahan. Berbagai aliran kegamaan, seperti
Mutazilah, Syiah, Ahlus Sunnah, dan kelompok-kelompok lainnya menjadikan
pemerintahan Abbasiyah mengalami kesulitan dalam mempersatukan berbagai
paham keagamaan yang ada.
d. Ancaman dari Luar
Selain yang telah disebutkan itu, ada pula faktor-faktor eksternal yang
menyebabkan kemunduran Dinasti Abbasiyah, di antaranya ialah sebagai berikut :
1) Perang salib yang berlangsung beberapa gelombang menelan banyak korban.
Konsetrasi dan perhatian pemerintah Abbasiyah terpecah nelah untuk menghadapi
tentara salib, sehingga memunculkan kelemahan-kelemahan.
2) Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam menyebabkan kekuataan
Islam menjadi lemah, apalagi serangan Hulagu Khan dengan pasukan Mongol

menyebabkan kekuataan Abbasiyah menjadi lemah, dan akhirnya menyerah


kepada kekuatan Mongol.
3. Menurut Sumber Lainnya
Sumber lain menyimpulkan bahwa kemunduran Dinasti Abbasiyah secara umum
dikarenakan dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal.
a. Faktor-Faktor Internal
Beragam faktor internal yang menyebabkan kemunduran Dinasti Abbasiyah
adalah sebagai berikut :
1) Tampilnya penguasa lemah yang sulit mengendalikan wilayah yang sangat luas
ditambah sistem komunikasi yang masih sangat lemah dan belum maju
menyebabkan daerah satu persatu.
2) Kecenderungan para penguasa untuk hidup mewah, mencolok, dan berfoya-foya,
yang diikuti oleh para hartawan dan anak-anak pejabat yang turut menyebabkan
roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin.
3) Dualisme pemerintahan; secara de jure dipegang oleh Abbasiyah, tetapi secara de
facto digerakkan oleh tentara profesional asal Turki yang semula diangkat oleh
Al-Muktasim untuk mengambil kendali pemerintahan.
4) Praktik korupsi oleh penguasa diiringi munculnya nepotisme yang tidak
profesional di berbagai provinsi.
5) Perang saudara antara Al-Amin dan Al-Makmun secara jelas membagi Abbasiyah
menjadi dua kubu, yaitu kubu Arab dan Persia, menyebabkan pertentanga antara
Arab dan non Arab, perselisihan antara muslim dengan nonmuslim, serta
perpecahan di kalangan umat islam sendiri.
b. Faktor-Faktor Eksternal
Beragam faktor eksternal yang menyebabkan kemunduran Dinasti Abbasiyah
adalah sebagai berikut :
1) Abbasiyah mendapat serangan secara tidak langsung dari pasukan Salib di dunia
Barat.
2) Abbasiyah memperoleh serangan secara langsung dari orang-orang Mongol yang
berasal dari Timur ke wilayah kekuasaan Islam.
Itulah faktor-faktor penyebab kemunduran Dinasti Abbasiyah. Fakta politiknya,
pasca runtuhnya Dinasti Abbasiyah, umat Islam terpolarisasi dalam madzhab dan
bangsa-bangsa kecil, sehingga mereka mempunyai kecenderungan politik dan sosial
kegamaan tersendiri. Hal ini menyebabkan kemunculan kesulitan dalam menentukan
orang yang mempunyai otoritas penuh atas Makkah. Realitas tersebut tidak bisa
menghindarkan munculnya sejummlah persengketaan dan konflik di antara kelompok.
Ironisnya, sejak runtuhnya Dinasti Abbasiyah, secara praktis, peradaban emas itu
belum muncul kembali. Artinya, setelah Dinasti Abbasiyah, hampir tidak ada satu
dinastipun yang berhasil mengembalikan masa keemasan Islam, sebagaimana yang telah
dicapai oleh Dinasti Abbasiyah.