Anda di halaman 1dari 8

Kementerian Dalam Negeri

Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa

PANDUAN PELATIH/FASILITATOR
PELATIHAN PENINGKATAN KAPASITAS
APARATUR PEMERINTAHAN DESA
I.

PENDAHULUAN
1.

Latar Belakang
Penetapan Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa dan peraturan
pelaksanaannya, menuntut penyiapan dan penguatan kapasitas, baik aparatur
pemerintah desa maupun masyarakat. Peningkatan kapasitas aparat
pemerintahan desa dan unsur-unsur masyarakat yang terlibat secara langsung
dalam tata kelola desa menjadi syarat agar pelaksanaan UU Desa dapat berjalan
secara optimal. Kapasitas dimaksud dapat ditilik dari: 1) Pengetahuan terhadap
isi UU Desa. 2)
Keterampilan mengerjakan tugas-tugas teknis dalam
pengelolaan kegiatan pemerintahan dan pembangunan desa, dan 3) Sikap kerja
yang sesuai dan konsisten dengan tuntutan UU Desa. Dalam sikap kerja itu
tercermin komitmen dan kebertanggungjawaban untuk mewujudkan tata kelola
desa yang memampukan pemerintah dan masyarakat desa memandirikan dirinya
melalui pendekatan pembangunan partisipatif yang bertumpu pada keberdayaan
masyarakat.
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 2015 tentang Kementerian
Dalam Negeri, pada pasal 22 huruf (f) disebutkan bahwa salah satu fungsi
Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa Kementerian Dalam Negeri adalah
pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang fasilitasi penataan desa,
penyelenggaraan administrasi pemerintahan desa, pengelolaan keuangan dan
aset desa, produk hukum desa, pemilihan kepala desa, perangkat desa,
pelaksanaan penugasan urusan pemerintahan, kelembagaan desa, kerja sama
pemerintahan, serta evaluasi perkembangan desa;
Pelatihan sebagai sarana untuk meningkatkan kompetensi pelaku dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa, baik dari unsur aparat
pemerintah desa maupun masyarakat, ditentukan oleh berbagai faktor, baik yang
terkait langsung dengan pengelolaan proses pembelajaran (pendekatan, metode,
dan media fasilitasi/pembelajaran) maupun pengelolaan kegiatan (manajemen)
dalam penyelenggaraan pelatihan.
Dukungan manajemen itu seringkali menjadi faktor krusial yang potensial
menghambat bahkan menggagalkan pencapaian tujuan latihan.
Dengan
demikian, faktor manajemen harus diperhatikan secara seksama dalam setiap
pelaksanaan kegiatan latihan, khususnya bagi pelaksana kegiatan pelatihan.
Manajemen pelatihan dimaksud mencakup kegiatan perencanaan (kapan,
dimana, dan logistik yang dibutuhkan), pengorganisasian (bagaimana
mengoordinasikan dan menggerakkan sumberdaya manusia dan pihak-pihak

Panduan Pelatih/Fasilitator
Pelatihan Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintahan Desa

Kementerian Dalam Negeri


Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa

terkait), pelaksanaan (bagaimana sumberdaya itu didayagunakan secara efektif


dan efisien untuk merealisasikan rencana), dan pengendalian (bagaimana
pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan) untuk
menjamin keberhasilan pelaksanan kegiatan pelatihan. Penyelenggara kegiatan
pelatihan dituntut terampil/dapat melakukan kegiatan sesuai unsur-unsur
manajemen tersebut secara efektif.
Sejalan dengan hal tersebut, dalam rangka mendukung pelaksanaan UU Desa
dan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi, Direktorat Jenderal Bina
Pemerintahan Desa
antara lain telah merancang pelatihan aparatur
pemerintahan desa yang dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan,
keterampilan dan sikap aparatur desa dalam penyelenggaraan tata kelola
pemerintahan desa. Dalam pelatihan ini akan dibahas dan dilatihkan berbagai
hal yang terkait dengan kompetensi peningkatan tata kelola desa, seperti :
manajemen pemerintahan desa, perencanaan pembangunan desa, pengelolaan
keuangan desa dan penyusunan produk hukum desa.
Melalui penyelenggaraan pelatihan ini, diharapkan dapat diwujudkan
penyelenggaraan pemerintahan desa yang sesuai dengan harapan dan semangat
UU Desa, yakni pemerintahan desa yang profesional, efisien dan efektif, terbuka
serta bertanggungjawab.
2.

Dasar Pemikiran
Pengaturan tentang Desa sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 6
Tahun 2014 tentang Desa, antara lain mengubah beberapa sistem yang sangat
prinsipil dalam sistem pemerintahan di desa. Perubahan tersebut meliputi
Kedudukan dan jenis desa, kewenangan desa, keuangan dan aset desa, dan
pembangunan desa.
Dalam rangka mendukung penerapan UU Desa, Pemerintah telah menerbitkan
Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 yang selanjutnya disempurnakan
melalui Peraturan Pemerintah nomor 47 tahun 2015 tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa serta Peraturan
Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 yang selanjutnya disempurnakan melalui
Peraturan Pemerintah nomor 22 tahun 2015 tentang Dana Desa.
Sejalan dengan hal itu, Menteri Dalam Negeri menerbitkan Peraturan Menteri
terkait dengan Pedoman Teknis Pelaksanaan Peraturan Pemerintah turunan dari
UU Desa. Peraturan tersebut terdiri dari Permendagri Nomor 111 Tahun 2014
tentang Pedoman Teknis Peraturan di Desa, Permendagri Nomor 112 Tahun
2014 tentang Pemilihan Kepala desa, Permendagri Nomor 113 tahun 2014
tentang Pengelolaan Keuangan desa, dan Permendagri 114 Tahun 2014 tentang
Pedoman Pembangunan Desa.
Mengacu pada peraturan perundang-undangan terbaru diatas yang semestinya
mutlak dipahami dan dipedomani, pada kenyataannya aparatur pemerintah desa
yang merupakan ujung tombak penyelenggaraan pelayanan pemerintahan di

Panduan Pelatih/Fasilitator
Pelatihan Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintahan Desa

Kementerian Dalam Negeri


Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa

tingkat desa belum sepenuhnya memahami substansi, apalagi disebut siap


dengan sistem dan ketentuan yang berlaku dalam regulasi tersebut.
Kondisi yang demikian jelas akan sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan
pelaksanaan UU Desa yang sudah akan direalisasikan mulai Tahun 2015 ini.
Untuk itu penyediaan aparatur pemerintah desa yang memahami peraturan
perundang-undangan terbaru dan terampil dalam pengelolaan pemerintahan desa
mutlak diperlukan.
Oleh karena itu diperlukan adanya suatu pelatihan bagi aparatur pemerintah desa
(Kepala desa, Sekretaris desa dan Bendahara) guna meningkatkan keterampilan,
menambah pengetahuan, dan merubah sikap yang dibutuhkan dalam
penyelenggaraan pemerintahan desa.
Sehubungan dengan itu, maka mulai Tahun Anggaran 2015 ini dan direncanakan
juga pada tahun-tahun yang akan datang, Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan
Desa akan menyelenggarakan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Aparatur
Pemerintahan Desa.
3.

Pengertian
Pelatihan Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintahan Desa, adalah pelatihan
yang ditujukan kepada unsur pemerintah desa yang meliputi Kepala Desa,
Sekretaris Desa dan Bendahara Desa serta unsur pemerintah kecamatan, yang
bertujuan untuk lebih meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap
aparatur pemerintahan desa, pengelola program/kegiatan, dan aparatur
pemerintah kecamatan yang berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas
pelayanan dan penyelenggaraan pemerintahan desa.

4.

Paket Pelatihan
Dalam rangka mempersiapkan dan melaksanakan Pelatihan Peningkatan
Kapasitas Aparatur Pemerintahan Desa, disusun paket pelatihan yang terdiri
dari:
a. Petunjuk Penyelenggaraan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Aparatur
Pemerintahan Desa.
b. Matriks Kurikulum Pelatihan Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintahan
Desa.
c. Panduan Pelatih/Fasilitator Pelatihan Peningkatan Kapasitas Aparatur
Pemerintahan Desa.

Panduan Pelatih/Fasilitator
Pelatihan Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintahan Desa

Kementerian Dalam Negeri


Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa

II.

TUJUAN PELATIHAN
Tujuan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintahan Desa, adalah:
1.

Tujuan Umum

2.

Untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan aparatur pemerintah


desa agar dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya dapat lebih berdayaguna dan
berhasilguna.
Tujuan Khusus
Setelah mengikuti pelatihan, diharapkan peserta memiliki kemampuan sebagai
berikut:
1)
2)
3)
4)
5)

III.

Memahami manajemen pemerintahan desa.


Terampil dalam penyusunan perencanaan pembangunan desa
Terampil dalam pengelolaan keuangan desa.
Terampil dalam penyusunan produk hukum desa.
Terampil menyusun Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL) suatu kegiatan.

PENDEKATAN, PROSES, METODE DAN MEDIA BELAJAR


1.

Pendekatan Pelatihan
Pelatihan menggunakan pendekatan andragogi partisipatori atau pelatihan
partisipatif bagi orang dewasa, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Menghargai, mendayagunakan, dan memperhatikan pengetahuan dan
pengalaman yang dimiliki peserta.
b. Memusatkan perhatian pada penemuan dan pemecahan masalah yang
dihadapi peserta.
c. Keikutsertaan peserta secara aktif dan merata dalam seluruh proses
pelatihan.
d. Pelatih bertindak sebagai Fasilitator atau narasumber dan menerapkan
bagian dari proses belajar.
e. Peran boleh berbeda, namun tetap dalam kebersamaan antara pelatih, panitia
dan peserta dalam proses untuk mencapai tujuan pelatihan.
f. Proses belajar-mengajar mengutamakan peningkatan pemahaman, dan
kemampuan aplikatif pelatih/fasilitator dari pada pengalihan pengetahuan.

2.

Proses Pelatihan
Pelatihan ini mengarah pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan calon
Pelatih. Oleh karena itu, proses pelatihan ini dilakukan secara partisipatif. Halhal yang perlu diperhatikan dalam pelatihan ini meliputi :

Panduan Pelatih/Fasilitator
Pelatihan Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintahan Desa

Kementerian Dalam Negeri


Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa

a. Kesempatan peserta berpartisipasi dalam setiap proses belajar mengajar.


b. Materi pelatihan agar sesuai dengan kurikulum yang telah ditentukan.
c. Dukungan sarana dan media belajar yang memadai, seperti metaplan, papan
tancap, paku tancap/ lem, kertas dinding/ kertas koran, papan tulis
putih/hitam, dan penyediaan ruangan yang cukup.
d. Pada setiap penyajian SPB, pelatih berkewajiban mengkaitkan materi yang
akan dibahas dengan materi sebelumnya, kemudian pada akhir pembahasan
perlu ada rangkuman serta saran-saran penerapan dalam pelaksanaan tugas
peserta sebagai fasiltator desa.
e. Hubungan antar PB digambarkan sebagai berikut :
1)
PB 2 Manajemen Pemerintahan Desa merupakan materi inti yang
melingkupi PB 3, PB 4 dan PB 5 (PB 3,4 dan 5 merupakan bagian dari
manajemen pemerintahan desa).
2)
Penempatan PB 3, PB 4 dan PB 5 sebagai PB tersendiri
merupakan bagian dari desain pelatihan untuk menghasilkan output riil
bagi peserta yakni aspek keterampilan dalam penyusunan perancanaan
pembangunan desa, pengelolaan keuangan desa dan penyusunan
peraturan di desa.
3)
PB 2 Manajemen Pemerintahan Desa yang meliputi SPB 1
Kebijakan pemerintah tentang desa, SPB 2 Kewenangan dan
Kelembagaan Desa dan SPB 3 Administrasi dan pelaporan
pertanggungjawaban penyelenggaraan pemerintahan desa, merupakan
materi dasar dan pengantar untuk memasuki materi terapan yaitu PB 3,
PB 4 dan PB 5.
f. Fasilitator melakukan evaluasi reaksi dan evaluasi belajar yang dibahas pada
akhir PB/SPB dan refleksi hasilnya pada setiap pagi sebelum pembahasan
PB/SPB dimulai.
g. Agar dapat diketahui keberhasilan pelatihan, maka dilakukan evaluasi yang
berupa pre test pada saat awal kegiatan pelatihan, kemudian post test pada
akhir kegiatan pelatihan.
3.

Metode Belajar
Berdasarkan proses pembelajaran yang partisipatif, maka setiap Sub Pokok
Bahasan selalu menggunakan lebih dari satu metode, seperti yang tertera dalam
matriks kurikulum dan panduan fasilitator.
Berikut ini adalah metode-metode yang dipergunakan:
Ceramah
Peragaan
Tanya Jawab
Simulasi
Curah Pendapat
Kerja Perorangan
Diskusi Kelompok
Kerja Kelompok
Diskusi Pleno
Sumbang Saran
Diskusi Panel
Bagi Pengalaman
Praktek
Panduan Pelatih/Fasilitator
Pelatihan Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintahan Desa

Kementerian Dalam Negeri


Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa

Kombinasi penggunaan metode sangat tergantung pada tujuan, materi,


waktu, latar belakang peserta dan menghindari kejenuhan di kelas.
4.

Media Belajar
Pelatihan ini memerlukan sarana yang mendukung pelatihan yang partisipatif ,
berupa sarana kelas maupun media belajar ruangan kelas, disamping cukup luas
dan memadai untuk pelatihan juga dapat menampung berbagai kegiatan
pelatihan, seperti diskusi, simulasi, peragaan, dan praktek fasilitasi.
Media belajar dimaksud, disamping harus cukup jumlah dan kualitasnya, perlu
juga disesuaikan dengan kondisi setempat dan latar belakang peserta sehingga
tidak terkesan hanya teoritis saja. Media ini dapat berupa lembar-lembar tugas,
lembar simulasi, poster lembar kasus, atau hal lainnya yang dapat disesuaiakn
dengan kebutuhan setempat.
Media/sarana yang dipergunakan dalam pelatihan, antara lain:
1)

Sarana Kelas, meliputi:


Ruang kelas dan ruang diskusi
Papan tulis/ white board
LCD/TV Monitor
Komputer/ Laptop
Overhead proyektor (OHP)/ transparan dan spidolnya
Meja dan kursi
Pine board (papan tancap)
Sound system, mikrofon dan loudspeaker.

2)

Sarana Belajar, antara lain:


Kertas dinding/ kertas peraga
Bahan praktek
Papan tancap, metaplan, paku tancap, dan lem/ perekat
Buku pegangan peserta

3)

IV.

Media Belajar, meliputi:


Lembar simulasi
Lembar bacaan
Lembar peragaan
Bagan-bagan
Lembar penyajian
Formulir-formulir
Lembar tugas

SITUASI RUANG BELAJAR


Suasana ruang belajar, suasana duduk peserta dan fasilitator, serta penempatan alat
kelengkapan belajar/pelatihan, harus diatur sedemikian rupa agar menunjang proses

Panduan Pelatih/Fasilitator
Pelatihan Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintahan Desa

Kementerian Dalam Negeri


Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa

penyajian SPB dengan metode partisipatori andragogi. Ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan berkaitan dengan situasi ruang belajar, sebagai berikut:
1. Tata ruang atau posisi duduk peserta pelatihan pada saat kegiatan pleno dan
kelompok, dapat menggunakan pilihan bentuk penataannya, apakah berbentuk
lingkaran, elips, atau huruf U. Hal ini dimaksudkan agar diantara peserta
pelatihan mudah tercipta komunikasi atau interaksi dalam proses belajar
mengajar. Tentunya alternatif bentuk yang dipilih itu disesuaikan dengan fasilitas
ruangan dan perlengkapan yang tersedia.
2. Usahakan agar para peserta pelatihan tidak hanya duduk terus menerus pada satu
tempat yang sama, atau dengan teman yang sama untuk lebih dari satu penyajian
SPB. Dengan demikian akan terjadi pembaharuan dan ih komunikasi yang lebih
intensif diantara mereka.
3. Usahakan agar papan tulis, kertas dinding, dan OHP atau LCD dengan layarnya,
diletakkan pada tempat yang mudah dilihat oleh setiap peserta pelatihan.
Demikian pula ukuran tulisan pada papan tulis, kertas dinding, atau transparan
harus cukup besar dan jelas, serta mudah dibaca oleh setiap peserta pelatihan.

Panduan Pelatih/Fasilitator
Pelatihan Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintahan Desa

Kementerian Dalam Negeri


Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa

Panduan Pelatih/Fasilitator
Pelatihan Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintahan Desa