Anda di halaman 1dari 26

Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh pola konsumsinya.

Makanan yang sehat akan


memberikan efek positif terhadap tumbuh kembangnya. Pola konsumsi di sini tidak hanya
sekedar makanan dan minuman utamanya saja, melainkan jajanan anak juga turut
diperhitungkan. Orang tua terkadang cukup intens memperhatikan menu makanan dan
minuman utama anak, tetapi acap kali melalaikan kualitas jajanan anak. Padahal tidak sedikit
jajanan yang mengandung zat adiktif atau bahan tambahan yang tidak aman bagi anak.
Zat adiktif adalah bahan yang ditambahkan dalam bahan pangan. Penambahan bahan
tersebut bertujuan untuk memperpanjang umur simpan bahan, membuat makanan semakin
menarik lewat warna dan teksturnya, atau membuat rasanya semakin diminati, serta fungsi
lainnya yang betujuan untuk meningkatkan nilai dari produk pangan.

zat adiktif
Tidak semua zat adiktif membahayakan kesehatan. Ada beberapa zat adiktif alami maupun
sintetis yang masih aman dan direkomendasikan untuk produk pangan. Untuk zat adiktif
sintetis, ada batasan kadar yang diizinkan berada dalam produk pangan.
Penambahan bahan sintetis melebihi ambang batas yang ditetapkan juga menjadikan bahan
tersebut bersifat toksik. Namun demikian, harga bahan tambahan alami dan sintetis tersebut
relatif mahal. Sehingga produsen pangan, meski tida seluruhnya, tetapi sebagian besar melirik
penggunaan bahan lain, bahkan yang tidak food grade. Ini dilakukan untuk mendapat
keuntungan sebesar-besarnya.
Oleh karena maraknya peredaran produk pangan yang mengandung zat adiktif berbahaya,
orang tua harus memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi anak-anaknya. Efek
yang ditimbulkan akibat konsumsi zat berbahaya tersebut sering kali tidak muncul segera
setelah konsumsi. Efek tersebut berakumulasi di dalam tubuh anak, yang baru tampak
hasilnya setelah beberapa tahun kemudian.
Tetapi ada juga anak yang memiliki sensitifitas tinggi terhadap bahan kimia yang terkandung
dalam bahan pangan. Pada anak-anak seperti ini, konsumsi bahan-bahan tersebut akan
langsung mempengaruhi kerja saluran pencernaannya. Dengan demikian, efek yang
ditimbulkan oleh zat aditif berbahaya berbeda antara satu anak dengan yang lainnya. Efek
yang ditimbulkan juga bergantung pada dosis konsumsi.

Memberikan anak makanan yang mengandung zat adiktif berbahaya sama dengan meracuni
anak. Efek yang muncul dalam jangka pendek misalnya gangguan pada saluran pencernaan,
sakit kepala, gejala alergi dan badan tiba-tiba menjadi lemas. Sedangkan efek jangka panjang
yang merupakan efek akumulasi, misalnya penurunan konsentrasi anak, perubahan sikap
ataupun menurunnya sistem imun tubuh, hingga resiko kanker, kardiovaskuler serta penyakit
degeneratif lainnya. Konsumsi bahan tambahan pangan ini juga dapat menghambat
perkembangan otak.
Penggunaan zat adiktif berupa pewarna sintetis bertujuan untuk memperbaiki warna produk
pangan. Warna makanan yang bagus akan membuat anak lebih tertarik. Tanpa disadari,
akumulasi zat pewarna ini dapat menyebabkan anak menjadi hiperaktif.
Zak adiktif lain yang diaplikasikan pada produk pangan adalah penggunaan perasa.
Penggunaannya bertujuan untuk memperkuat rasa pada produk ataupun memperbaiki rasa
dari produk pangan. Contohnya adalah MSG. Konsumsi MSG dalam waktu lama dapat
menyebabkan kerusakan sel-sel otak anak dan berpengaruh terhadap tingkat kesuburan.
Beberapa anak menunjukkan respon langsung setelah mengkonsumsi makanan yang
mengandung MSG. Responnya berupa sakit kepala, sakit di bagian dada, dan mati rasa. Efek
jangka panjangnya adalah penyakit kanker.
Zat adiktif berupa bahan pengawet juga sering ditemui. Bahan pengawet digunakan untuk
mencegah kerusakan bahan pangan akibat aktifitas mikroorganisme. Bahan pengawet sintetis
dapat memicu reaksi alergi dan mengganggu fungsi ginjal dan hati. Penggunaan nitrit dan
nitrat sebagai pengawet menyebabkan kaker.
Selanjutnya adalah zat adiktif yang berupa pemanis. Anak-anak menyukai makanan yang
manis seperti permen dan es krim. Penggunaan pemanis sintetis berpotensi menyebabkan
anak mengalami obesitas, hiperaktif, memicu kerusakan sel otak, lupus dan kelainan sistem
syaraf pusat lainnya. Selain itu, konsumsi pemanis yang berlebihan juga dapat menyebabkan
karies gigi.
Demikian besar efek yang ditimbulkan dari konsumsi zat adiktif. Sebagian efek tersebut
bersifat permanen. Dari sini, orang tua perlu lebih berhati-hati dalam memantau konsumsi
buah hatinya, untuk menunjang pengoptimalan tumbuh kembang anak.
pengunjung datang dgn kata kunci :
zat adiktif,efek otak jika berlebihan mengkonsumsi zat pewarna,aditif gif,pengaruh bahan
pengawet sintetik pada produk pangan,penambahan MSG pada bahan makanan,penambahan
zat berbahaya,pengaruh makanan terhadap tumbuh kembang janin,pengaruh makanan yang
mengandung bahan kimia terhadap anak,pengaruh penambahan zat adiktif pada
makanan,pengaruh zat adiktif terhadap makanan
http://www.perkembanganbayi.net/588/zat-adiktif-dan-pengaruhnya-terhadapanak.html

DAMPAK MENGKONSUMSI SAUS PADA JAJANAN ANAK SEKOLAH YANG


MENGANDUNG ZAT PEWARNA SINTETIS RHODAMIN-B DAN METANIL
YELLOW DI SD NEGERI 1 X PURWOKERTO
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pembangunan berwawasan kesehatan diupayakan sebagai salah satu strategi pembangunan
nasional yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia sehat tahun 2010 dengan
pengupayaan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) cerdas, produktif, sehat, dan
mandiri sehingga dapat berdampak bagi perbaikan kearah kualitas hidup masyarakat yang
baik.
Keamanan pangan merupakan persyaratan utama yang harus dimiliki oleh setiap produksi
yang beredar dipasaran. Untuk menjamin keamanan pangan olahan, maka dibutuhkan
kerjasama antara pemerintah, produsen industri makanan menjadi tanggung jawab
sepenuhnya dari produsen, dengan pengaturan dan pembinaan dari pemerintah.
Akibat kemajuan ilmu teknologi pangan di dunia dewasa ini, maka semakin banyak jenis
bahan makanan yang diproduksi, dijual dan dikonsumsi dalam bentuk yang lebih awet dan
lebih praktis dibanding dengan bentuk segarnya. Semua jenis makanan siap santap dan
minuman awet tersebut dapat menjadi busuk dan masih layak untuk dikonsumsi. Kemudahan
tersebut dapat terwujud diantaranya berkat perkembangan teknologi produksi dan
penggunaan Bahan Tambahan Makanan (BTM).
Penggunaan Bahan Tambahan makanan yang tidak memenuhi syarat termasuk bahan
tambahan memang jelas-jelas dilarang, seperti pewarna, pemanis dan bahan pengawet.
Pelarangan juga menyangkut dosis penggunaan bahan tambahan makanan yang melampaui
ambang batas maksimum yang telah ditentukan (Effendi, 2004). Batas maksimum
penggunaan siklamat adalah 500 mg - 3 g/kg bahan, sedangkan untuk sakarin adalah 50-300
mg/kg bahan (Depkes, 1997). Batas Maksimun Penggunaan pewarna sintetik yang dizinkan
seperti Pancrew 4 R : 300mg/Kg bahan makanan, tatrazin, brilliant blue dan sunset yellow :
100mg/Kg bahan makanan (Depkes, 1998).
Hal ini juga didukung dengan hasil penelitian BPOM terhadap 163 sampel dari 10 propinsi
dan sebanyak 80 sampel (80%) tidak memenuhi persyaratan mutu dan keamanan produk.
Dari produk makanan jajanan itu banyak ditemukan penggunaan bahan pengawet dan
pewarna yang dapat mengganggu kesehatan anak sekolah seperti penyakit kanker dan ginjal.
Sebuah penelitian yang pernah dilakukan oleh Ravianto ( 2000 ) di kota Makassar
menunjukkan bahwa semua sampel (100%) makanan dan minuman jajanan yang dijual di
lapangan Karebosi mengandung siklamat.
Selain itu Bahan Tamabahan Makanan (BTM) banyak digunakan pada makanan jajanan anak
sekolah. Salah satunya pewarna untuk memperbaiki dan memberi warna agar lebih menarik.
Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan zat pewarna sintetis (uji kualitatif
kromatografi kertas saring menggunakan benang wol)pada makanan jajanan yang dijual di
lingkungan SD Al Azhar (favorit) dan SDN Tembalang (bukan favorit) di Kota Semarang.
Penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan Cross Sectional.Lokasi penelitian yaitu SD
Al Azhar dan SDN Tembalang. Sampel makanan jajanan diambil secara purposive sample,
yaitu 9 sampel dari masing - masing SD sehingga jumlah semua 18 sampel, yaitu jenis
makanan utama, snacks dan minuman yang berwarna mencolok, baik dalam kemasan
maupun tidak. Analisis data secara deskriptif dengan menyajikan data dalam bentuk tabel dan

grafik. Hasil penelitian yaitu, 9 sampel dari SD Al Azhar, 5(55,57%) berlabel dan 4 (44,44%)
tidak berlabel sedangkan 9 sampel dari SDN Tembalang, 3 (33,33%) berlabel dan 6 (66,67%)
berlabel. Semua (100%) menggunakan zat pewarna sintetis yang diijinkan menurut
Permenkes RI No 722/Menkes/Per/IX/1988, yaitu sunset yellow,carmoisin,tartrazin,biru
berlin dan P4R. Kesesuaian jenis zat pewarna sintetis pada label dengan hasil laboratorium, 9
sampel dari SD Al Azhar, 5 (55,57%) sampel berlabel, 1 (20,00%) tidak mencantumkan jenis
zat pewarna sintetis pada label, 4 (80,00%) mencantumkan dan sesuai dengan hasil
laboratorium, 4 (44,44%) sampel tidak berlabel, tidak mencantumkan jenis zat pewarna
sintetis yang digunakan sedangakan 9 sampel dari SDN Tembalang, 3 (33,33%) berlabel, 1
(33,33%) mencantumkan jenis zat pewarna sintetis pada label dan sesuai dengan hasil
laboratorium, 2 (66,67%) tidak mencantumkan, 6 (66,67%) sampel tidak berlabel, tidak
mencantumkan jenis zat pewarna sintetis. Tidak ditemukan perbedaan zat pewarna sintetis
pada makanan jajanan yang dijual di lingkungan SD Al Azhar dan SDN Tembalang. Saran
untuk pihak sekolah, agar melakukan pembinaan dan pegawasan dengan menyeleksi
makanan jajanan yang akan dijual sedangkan untuk peneliti lain, penelitian ini dapat
dilanjutkan dengan mengidentifikasi BTM selain pewarna dengan uji kuantitatif dan sampel
yang lebih besar.
B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan Latar Belakang tersebut diatas, maka muncul permasalahan apakah dampak
mengkonsumsi saus pada beberapa merek dagang yang digunakan pada makanan jajanan
anak sekolah dasar (SD Negeri 1 X) yang mengandung zat pewarna sintetis Rhodamin-B dan
Metanil Yellow berbahaya bagi kesehatan?
C. TUJUAN
1. Tujuan umum
Mengetahui zat pewarna dalam saus yang digunakan sebagai pelengkap pada makanan.
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui merek / jenis saus yang digunakan sebagai pelengkap.
b. Mengetahui zat pewarna yang digunakan termasuk jenis alami atau sintetis.
c. Mengetahui ada tidaknya zat pewarna Rhodamin-B dan metanil Yellow pada saus yang
digunakan sebagai pelengkap pada makanan.
D. MANFAAT
1. Prodesen makanan jajanan
Mengetahui informasi tentang keamanan pangan yang bersifat kimiawi terutama zat pewarna
sintetis pada saus yang ada dalam makanan jajanan anak SD.
2. Masyarakat
Mendapatkan informasi mengenai semua bentuk dan jenis makanan jajanan yang ada dan
dapat mengetahui dampaknya bagi tubuh atau kesehatan.
3. Instansi terkait
Sebagai acuan untuk melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap pengelola atau
produsen makanan tehadap aspek keamanan pangan.
4. Jurusan Kesehatan Masyarakat
Menambah pustaka atau bahan bacaan dalam bidang ilmu kesehatan masyarakat khususnya
yang menyangkut tantang kandungan pewarna tambahan pada makanan.
5. Penulis lain
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan untuk penelitian bagi calon peneliti
selanjutnya, baik yang bersifat teoritis maupun bersifat aplikatif.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. MAKANAN JAJANAN
Makanan jajanan adalah semua makanan yang dijajakan pada waktu istirahat dan dikonsumsi
sebagai pengganjal dan penunda waktu makan. Sipfat dan jenis makanan ini sangat beraneka
ragam, dari mulai makanan tradisional sampai dengan makanan yang sudah modern. Dengan
adanya sifat melimpahnya jenis inilah maka penjual dan produsen berlomba-lomba untuk
mempercantik penampilan demi memperoleh daya jual yang tinggi.
Makanan akan sangat menarik jika mempunyai warna yang menggugah selera. Anggapan ini
memang sepenuhnya benar tetapi menjadi bencana jika kita menambahkan pewarna makanan
tanpa kendali pada semua jenis makanan agar tampilannya menarik. Dalam beberapa kasus
yang sering ditayangkan di televisi bahkan ada juga yang menambahkan pewarna pakaian
pada beberapa makanan yang diproduksi untuk mempercantik tampilannya.
B. SAUS
Saus merupakan bahan pelengkap yang digunakan sebagai tambahan atau untuk
mempersedap makanan.(ade,2009). Berbicara tentang saos, Mulai dari anak kecil sampai
orang dewasa kerap menggunakannya sebagai bahan pelengkap makanan. Rasanya yang
pedas menjadikan saos akrab dengan semua kalangan. Mulai dari makan bakso, mie ayam,
sampai makan fastfood atau seafood rasanya kurang lengkap tanpa saos. Saos yang beredar di
pasaran saat ini beragam jenisnya. Berbagai perusahaan industri makanan biasanya
mengeluarkan produk saos tomat buatan mereka masing-masing. Banyaknya merek yang ada
di pasaran kadang membuat orang bingung untuk memilih mana yang terbaik. Meski secara
umum saos yang ada sudah didaftarkan di Departemen Kesehatan tetapi diperkirakan ada
beberapa jenis saos yang patut diwaspadai komposisi bahan pembuatannya. Seperti saos yang
biasa digunakan oleh para pedagang makanan kaki lima. Biasanya, saos yang mereka
gunakan adalah saos yang merupakan hasil olahan industri rumah tangga yang tidak terdaftar
di Depkes. Harganya memang murah karena bahan pembuatannya bukan dari buah cabai asli
melainkan sudah dicampur dengan bahan-bahan lain seperti ubi. Penambahan berbagai bahan
sebagai campuran dalam membuat saos sendiri sebenarnya sudah mengurangi mutu saos
tersebut. Apalagi bila salah satu bahannya mengandung zat berbahaya. Sesuatu yang paling
harus diwaspadai adalah penambahan zat aditif seperti pewarna. Penambahan zat pewarna
dikarenakan ada tambahan bahan lain seperti ubi, sehingga tidak mudah untuk mendapat
warna merah alami. Untuk itu, dibutuhkan zat pewarna merah. Kalau tidak, warnanya akan
berubah menjadi lebih pucat bahkan hampir tidak bisa di sebut berwarna lagi.
Selama ini, ada kecurigaan saus awetan tidak menggunakan zat pewarna semestinya. Sebab,
warna merah untuk pewarna makanan sangat jarang ditemukan di pasaran. Kalaupun ada,
harganya cukup mahal, tidak sebanding dengan sebotol saus yang dihargai paling mahal
Rp2.000,00 (untuk produk pasaran). Jika pewarna yang digunakan adalah pewarna kain
maka hanya membutuhkan sedikit warna saja. Bila yang digunakan adalah pewarna kain
biasanya hanya dicampurkan sedikit karena warna untuk pewarna kain lebih cerah dari
pewarna makanan. Hal ini berbahaya untuk kesehatan karena sifat racunnya akan mengendap
di dalam tubuh.
Khusus saus botolan, saos yang baik berwarna merah cabai segar, tidak pucat atau bahkan
cenderung berwarna orange. Bila pucat dan berwarna merah kekuning-kuningan itu berarti
bukan berasal dari cabai asli melainkan sudah di tambah dengan bahan-bahan lain serta
menggunakan zat pewarna. Sedangkan saos yang terbuat dari cabai asli sebenarnya sama
sekali tidak memerlukan zat pewarna. Biasanya, saos yang bagus adalah yang bila dituang di

atas piring tidak langsung jatuh ke dalam piringnya melainkan agak lambat karena sedikit
kental.
C. PEWARNA DALAM SAUS
Pewarna makanan merupakan bahan tambahan pangan yang dapat memperbaiki penampakan
makanan. Penambahan bahan pewarna makanan mempunyai beberapa tujuan, di antaranya
adalah
memberi kesan menarik bagi konsumen,
menyeragamkan dan menstabilkan warna,
serta menutupi perubahan warna akibat proses pengolahan dan penyimpanan.
Secara garis besar pewarna dibedakan menjadi dua, yaitu pewarna alami dan sintetik.
Pewarna alami yang dikenal di antaranya adalah daun suji (warna hijau), daun jambu/daun
jati (warna merah), dan kunyit untuk pewarna kuning.
Kelemahan pewarna alami ini adalah warnanya yang tidak homogen dan ketersediaannya
yang terbatas, sedangkan kelebihannya adalah pewarna ini aman untuk dikonsumsi.
Jenis yang lain adalah pewarna sintetik. Pewarna jenis ini mempunyai kelebihan, yaitu
warnanya homogen dan penggunaannya sangat efisien karena hanya memerlukan jumlah
yang sangat sedikit. Akan tetapi, kekurangannya adalah jika pada saat proses terkontaminasi
logam berat, pewarna jenis ini akan berbahaya.
Selain itu, khusus untuk makanan dikenal pewarna khusus makanan (food grade). Padahal, di
Indonesia, terutama industri kecil dan industri rumah tangga, makanan masih sangat banyak
menggunakan pewarna nonmakanan (pewarna untuk pembuatan cat dan tekstil).
Rhodamin-B dan metahnyl yellow merupakan bahan tambahan pangan (BTP) yang dilarang
penggunaannya dalam makanan menurut peraturan Menteri Kesehatan (Menkes) Nomor
1168/Menkes/PER/X/1999.
Efek negatifnya yaitu dapat menyebabkan iritasi lambung, alergi, bersifat karsinogenik
(menyebabkan kanker) dan bersifat mutagen (menyebabkan perubahan fungsi sel/jaringan),
serta orang yang mengonsumsinya akan muntah, diare bercampur darah, kencing bercampur
darah, dan kematian yang disebabkan adanya kegagalan peredaran darah. Bila menguap di
udara, berupa gas yang tidak berwarna, dengan bau yang tajam menyesakkan, sehingga
merangsang hidung, tenggorokan, dan mata. (Depkes RI,2007)
Rhodamin B
Rhodamin B adalah pewarna sintetis yang digunakan pada industri tekstil dan kertas.
Rhodamin B berbentuk serbuk kristal merah keunguan dan dalam larutan akan berwarna
merah terang berpendar.
Zat itu sangat berbahaya jika terhirup, mengenai kulit, mengenai mata dan tertelan. Dampak
yang terjadi dapat berupa iritasi pada saluran pernafasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata,
iritasi saluran pencernaan dan bahaya kanker hati.
Apabila tertelan dapat menimbulkan iritasi pada saluran pencernaan dan air seni akan
berwarna merah atau merah muda. Penyebarannya dapat menyebabkan gangguan fungsi hati
dan kanker hati.
Penyalahgunaan rhodamin B untuk pewarna makanan telah ditemukan untuk beberapa jenis
pangan, seperti kerupuk, terasi, dan jajanan yang berwarna merah terang.
Ciri-ciri makanan yang mengandung pewarna rhodamin B antara lain makanan berwarna
merah mencolok dan cenderung berpendar serta banyak memberikan titik-titik warna karena
tidak homogen. Segera hindari makanan dengan ciri tersebut.
Pewarna kuning Metanil
Zat pewarna kuning metanil adalah pewarna sintetis yang digunakan pada industri tekstil dan
cat berbentuk serbuk atau padat yang berwarna kuning kecoklatan.
Pewarna kuning metanil sangat berbahaya jika terhirup, mengenai kulit, mengenai mata dan

tertelan. Dampak yang terjadi dapat berupa iritasi pada saluran pernafasan, iritasi pada kulit,
iritasi pada mata, dan bahaya kanker pada kandung dan saluran kemih.
Apabila tertelan dapat menyebabkan mual, muntah, sakit perut, diare, panas, rasa tidak enak
dan tekanan darah rendah. Bahaya lebih lanjutnya yakni menyebabkan kanker pada kandung
dan saluran kemih.
Penyalahgunaan pewarna kuning metanil untuk pewarna makanan telah ditemukan antara lain
pada mie, kerupuk dan jajanan lain yang berwarna kuning mencolok dan berpandar.
Ciri-ciri makanan yang mengandung pewarna kuning metanil antara lain makanan berwarna
kuning mencolok dan cenderung berpendar serta banyak memberikan titik-titik warna karena
tidak homogen.(onpria,2008)
D. KEAMANAN MAKANAN
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 menyatakan bahwa kualitas pangan yang dikonsumsi
harus memenuhi beberapa kriteria, di antaranya adalah aman, bergizi, bermutu, dan dapat
terjangkau oleh daya beli masyarakat.
Aman yang dimaksud di sini mencakup bebas dari cemaran biologis, mikrobiologis, kimia,
logam berat, dan cemaran lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan
kesehatan manusia. Salah satu makanan yang sering dikonsumsi dalam hal ini yaitu
makanana jajanan yang sering dijajakan di sekolah-sekolah dasar.
BAB III
METODE PENELITIAN

B. JENIS DAN METODE PENELITIAN


Jenis penalitian ini adalah dengan menggunakan deskriptif kualitatif, karena peneliti
bertujuan untuk membuat gambaran secara sistematis, factual,dan akurat.
Menurut Moleong (2004), penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk
memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku,
persepsi, motivasi dan tindakan, secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk katakata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan
berbagai metode alamiah. Tujuan dari penelitian ini, adalah memahami fenomena sosial
melalui gambaran holistik dan memperbanyak pemahaman mendalam.
Penelitian ini, peneliti secara aktif berinteraksi secara pribadi. Proses pengumpulan data dapat
diubah dan hal itu bergantung pada situasi. Peneliti bebas menggunakan intuisi dan dapat
memutuskan bagaimana merumuskan pertanyaan atau bagaimana melakukan pengamatan.
Individu yang diteliti dapat diberi kesempatan agar secara sukarela mengajukan gagasan dan

persepsinya dan malah berpartisipasi dalam analisis data.


Pertimbangan menggunakan metode ini adalah:
1. Lebih mudah menyesuaikan apabila berhadapan dengan kenyataan
2. Menyajikan secara langsung hubungan antara peneliti dengan subjek
3. Lebih sensitif dan adaptif terhadap peran dan berbagai pengaruh yang timbul (Moleong,
2000)
Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan observasi dan
pendekatan cross sectional.
C. SUBJEK PENELITIAN
Subjek penelitian yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah anak-anak sekolah dasar di
SD Negeri 1 X di Kelurahan X Kecamatan Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas Jawa
Tengah.
D. LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini akan dilaksanakan di SD Negeri 1 X, yang bertempat di Jalan Kampus No. 342
Kelurahan X Kecamatan Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas.
E. SUMBER DATA
Sumber data yang akan dimanfaatkan dalam penelitian ini adalah:
1. Data primer yaitu data yang diperoleh dari hasil wawancara mendalam peneliti dengan
subjek penelitian (Informan). Sumber data primer dalam penelitian ini adalah hasil
wawancara mendalam peneliti dengan subjek penelitian, dalam hal ini adalah anak-anak
sekolah dasar di SD Negeri 1 X.
2. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dengan menelaah dokumen-dokumen atau catatan
yang ada. Berupa data pendukung penelitian yang bersumber dari literature, jurnal ilmiah,
dan catatan yang menunjang pada masalah kesehatan
F. CARA PENGUMPULAN DATA
Berdasarkan pada bentuk penelitian kualitatif dan jenis sumber data yang akan digunakan,
maka cara pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Wawancara Mendalam (in depth interview)
Wawancara adalah suatu cara pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh
informasi langsung dari sumbernya. Wawancara ini digunakan bila ingin mengetahui dari
informan secara lebih mendalam serta jumlah informan sedikit (Riduwan, 2002). Dalam
penelitian ini, peneliti memperoleh data melalui wawancara secara langsung dan mendalam
dengan informan. Dalam wawancara tersebut, diajukan beberapa pertanyaan yang dapat
dipakai sebagai pedoman dalam mengidentifikasi apa dan bagaimana gejala yang timbul pada
anak sekolah dasar tersebut setelah mengkonsumsi makanan jajanan yang mengandung bahan
pewarna sintetik. Alat yang digunakan untuk mempermudah proses wawancara adalah buku
catatan, alat perekam dan panduan wawancara.
2. Observasi (participant observation as observer)
Observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat
dari dekat kegiatan yang dilakukan. Observasi dilakukan terhadap tindakan baik verbal, non
verbal dan aktivitas individual. Teknik observasi akan menghasilkan gambaran yang lebih
lengkap dan menyeluruh mengenai objek yang sedang diteliti. Alat yang digunakan untuk
mempermudah proses observasi adalah panduan observasi dan kamera digital untuk
mepermudah proses pendokumentasian obesrvasi.
Pendokumentasian ditujukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian,
meliputi buku-buku yang relevan, peraturan-peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, film

dokumenter, dan data yang relevan dengan penelitian (Riduwan, 2002).


3. Analisis dokumen
Merupakan cara yang dilakukan peneliti dengan meneliti dan menganalisis dokumendokumen yang ada maupun arsip-arsip yang dapat mendukung penelitiannya. Analisis
dokumen tersebut kemudian dibandingkan dengan hasil wawancara maupun observasi.
Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa
catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, agenda, dan sebagainya (Arikunto, 1997 : 236).
Sedangkan menurut Arikunto metode dokumentasi yaitu cara pengambilan data
menggunakan barang-barang tertulis, buku-buku, majalah, dokumen peraturan, notulen rapat,
catatan harian yang harian yang berhubungan dengan masalah penilitian.
Dalam alat dan teknik pengumpulan data, peneliti menggunakan tiga metode yaitu observasi,
wawancara dan dokumentasi. Peneliti menggunakanketiga metode ini karena cukup relevan
dalam pengumpulan data.
G. ANALISIS DATA
Menurut Moleong (2004), analisis data merupakan proses mengolah data, mengorganisasikan
dalam bentuk suatu pola dan menyusunnya sesuai kategori tujuan penelitian dan satuan
uraian dasar. Terdapat tiga komponen analisis dalam penelitian ini seperti terlihat dalam
gambar dibawah ini, terdiri dari reduksi data, sajian data dan penarikkan kesimpulan yang
dilakukan dalam bentuk interaktif atau interactive of analysis model.
Reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, abstraksi
dan transformasi data kasar yang muncul dicatatan-catatan tertulis di lapangan. Penyajian
data diartikan sebagai pemaparan informasi yang tersusun untuk memberikan peluang
terjadinya sebuah kesimpulan. Sedangkan penarikan kesimpulan atau verifikasi merupakan
suatu proses yang telah mencakup tahap final. Proses analisis ini berjalan terus menerus
seperti sebuah siklus (Moleong, 2004).

H. VALIDITAS DATA
Hal yang terpenting dalam penelitian kualitatif adalah validitas data. Dalam hal ini, peneliti
menggunakan model triangulasi untuk validasi data. Menurut Moleong (2004), triangulasi
adalah tekhnik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain diluar
data ini untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Dibedakan
atas empat macam teknik triangulasi, yaitu:
1. Triangulasi sumber
Triangulasi sumber, yaitu membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu
informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif.
2. Triangulasi metode
Triangulasi metode, yaitu dengan menggunakan dua strategi yaitu pengecekan terhadap
derajat kepercayaan penemuan hasil beberapa teknik pengumpulan data dan pengecekan
kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama.
3. Triangulasi penyelidik

Triangulasi penyelidik, yaitu dengan memanfaatkan peneliti atau pengamat lainnya untuk
keperluan pengecekkan kembali derajat kepercayaan data. Cara lainnya adalah dengan
membandingkan hasil pekerjaan seorang analis dengan analis lain.
4. Triangulasi teori
Triangulasi teori, yaitu melakukan penelitian tentang tema yang sama dan datanya dianalisa
dengan menggunakan beberapa perspektif teori yang berbeda.
Peneliti memilih mengunakan triangulasi sumber, dari keempat teknik triangulasi diatas.
Triangulasi sumber dapat tercapai dengan jalan :
1. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
2. Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatakan
secara pribadi.
3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa
yang dikatakannya sepanjang waktu.
4. Membandingkan keadaan dan prespektif seseorang dengan berbagai pendapat dan
pandangan orang, seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah atau tinggi,
orang berada, dan orang pemerintahan.
5. Membandingkan antara data hasil pengamatan (observasi) dengan data hasil
Triangulasi sumber yang akan digunakan peneliti dalam penelitian ini dari kelima cara
triangulasi sumber diatas, adalah :
1. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan
pandangan orang. Peneliti mencari informan yang mempunyai kontras umur, jenis kelamin
yang pernah mengalami kejadian serupa dengan masalah yang timbul akibat makan jajanan
anak sekolah tersebut. Selain itu peneliti juga melakukan triangulasi dengan pihak-pihak
terkait.
2. Membandingkan antara data hasil pengamatan (observasi) dengan data hasil wawancara.

http://informasi-budidaya.blogspot.com/2011/01/dampak-mengkonsumsi-sauspada-jajanan.html

Jajanan Ringan Kemasan yang menyimpan BOM Waktu


>
>
>
>
>
> Adalah fenomena yang mendunia jika saat ini anak-anak kita lebih mengenal
> jajanan ringan kemasan ketimbang kue tradisional. Hal ini terjadi karena
> jajanan tersebut dapat dengan mudah kita temui baik dari warung di sudut
> kampung sampai mall mewah, harganyapun relatif terjangkau oleh uang saku
> anak sekolah, yang tidak kalah menarik adalah kemasannya dan iming-iming
> hadiah yang diberikan. Jajanan ringan kemasan ini ternyata tidak hanya
> menjadi kegemaran anak-anak tapi juga orang dewasa. Tapi ada hal yang
> barangkali sering dilupakan oleh kita adalah kandungan yang terdapat dalam
> jajanan tersebut dan efek samping yang ditimbulkannya. Dapat dikatakan
bahwa
> jajanan ringan kemasan itu sama sekali tidak memiliki kandungan gizi, dan
> biasanya jajanan tersebut tidak terlepas dari adanya bahan tambahan pangan
> (BTP). Padahal penggunaan BTP untuk produksi pangan perlu diwaspadai
> penggunaan-nya oleh pemerintah, produsen maupun oleh konsumen. Masih
banyak
> BTP yang dapat membahayakan konsumen, terutama anak-anak. Mengapa
BTP
> berbahaya bagi anak-anak, karena sistem pencernaan pada anak belum
berfungsi
> secara sempurna. Jajanan ringan kemasan dapat menjadi masalah yang serius
> selain karena tidak bergizi dan juga jika mengandung zat-zat kimia.
Zat-Zat
> kima tambahan ini merugikan kesehatan pahkan proses tumbuh kembang
anak.
> Yayasan KAKAK-sebuah organisasi nirlaba yang memfokuskan kegiatannya
pada
> konsumen anak- telah melakukan analisa label terhadap beberapa jenis
jajanan
> ringan kemasan ini. Hasil dari analisa label ini ditemukan dari 73 mereka
> yang dianalisa terdapat 11 produk yang memakai pewarna tartazine, 7 produk
> menggunakan pewarna sunset yellow, 1 produk memakai pewarna erythrosin,
2
> produk menggunakan pewarna FD & C yellow 5, 2 produk menggunakan FD &
Blue
1
> serta 1 produk memakai pewarna carmoisine. Suatu hasil penelitian yang
> mengharuskan kita untuk mewaspadai jajanan ringan kemasan, mengapa
demikian?
> Beberapa pewarna tambahan itu telah diuji di laboratorium kepada

hewan-hewan
> percobaan dan menimbulkan efek yang mengerikan. Dimana bisa diasumsikan
> dapat juga memberikan dampak yang serupa pada manusia terutama anakanak
> (lihat tabel). Tabel1. Bahan Pewarna Makanan Pewarna Efek pada binatang
> percobaan (dan atau manusia, jika diketahui) Allura Red Kanker limfa pada
> tikus Amaranth Produksi tumor, reaksi alergi pada pernafasa, efek
> teratogenik, menyebabkan hiperaktifitas pada anak Erythrosin Reaksi alergi
> pada pernafasan, hiperaktifitas pada anak-anak, efek kurang baik pada otak
> dan perilaku Indigotine Meningkatkan sensitifitas pada penyakit akibat
viru,
> hiperaktifitas pada anak-anak Sunset Yellow (SF) Reaksi alergi,
> hiperaktifitas pada anak-anak Tartrazine Reaksi alergi (khususnya pada
orang
> yang sensitif terhadap asem asetilsiklik dan asam benzoat, menyebabkan
asma,
> hiperaktifitas pada anak-anak Brilliant Blue FCF*** Produksi tumor, reaksi
> alergi, hiperaktifitas pada anak-anak Fast Green FCF Reaksi alergi,
produksi
> tumor Citrus Red no 2 ** Bersifat karsinogenik, tetapi lemah Ponceau SX***
> Kerusakan sistem urin Karbon hitam Produksi tumor Chocincal Efek
teratogenik
> Karamel Efek pada sistem syarat, menyebabkan penyakit sistem imunitas **
> FAO/WHO merekomendasikan untuk tidak digunakan. Sumber: Sebaiknya Anda
Tahu,
> Bahan Tamnbahan Makanan, YLKI Selain meneliti mengenai zat pewarna,
Yayasan
> KAKAK juga menemukan bahwa dari 118 produk merk yang dianalisa masih
> terdapat 9 produk yang tidak mencantumkan komposisi, 31 produk
mencantumkan
> penggunaan penyedap rasa dan aroma, 9 produk mencantumkan
menggunakan MSG,
> Sedangkan sisanya yaitu 69 produk tidak mencantumkan. Dr. Elizabeth Cagan
> dari Amerika sudah melakukan penelitian mengenai toksisitas BTP di akhir
> tahun 1970an di sekolah New York City State. Beliau meneliti mengenai menu
> katering sekolah, dimana makanan itu banyak mengandung BTP yang (diduga)
> menyebabkan kemunduran prestasi akademik siswanya. Lalu mereka merubah
> menunya dengan cara menghilangkan secara bertahap pewarna sintetik
pemberi
> rasa dan aroma sintentik BHA dan BHT. Pada saat yang sama makanan dengan
> kadar gula tinggi ditiadakan atau dikurangi kadarnya sampai maksimum 11%.
> Hasilnya, cukup mengejutkan. Terjadi 15,7% prestasi akademik rata-rata
pada
> sekolah yang mengalami perbaikan menu dibandingkan dengan rata-rata
> nasional. Sebelum mengalami perubahan menu, murid yang paling banyak
makan
> makanan katering mempunyai nilai terjelek. Tetapi setelah diubah menunya,

> murid yang semula paling banyak makan makanan katering mempunyai nilai
> terbaik. Masih ada contoh lain hasil penelitian Dr. Ben Feingold yang
sejak
> 1965 sudah mengamati hubungan antara BTP dengan perilaku dan
kemampuan
> belajar individu. Ia menyimpulkan adanya hubungan antara konsumsi BTP
dengan
> hiperaktifitas anak-anak. Iapun menyarankan suatu diet yang tidak
> menggunakan atau membatasi penggunaan beberapa BTP. Penelitian sudah
> dilakukan sejak dahulu hingga saat ini, dan semua menunjukkan betapa tidak
> bermanfaatnya mengkonsumsi jajanan ringan kemasan atau makanan yang
> mengandung BTP ini. Apakah kita akan terus memberikannya kepada anak
kita?
> Akankah kita menjerumuskan anak kita pada kondisi yang tidak sehat?
Maukah
> kita memiliki anak yang tidak tumbuh dan berkembang secara optimal?
(Telaah
> "Menakar Bahaya Bahan Tambahan Pangan", Warta Konsumen, Februari
1999/02,
> hal. 22-25)

http://health.groups.yahoo.com/group/anakku/message/4762

Pengertian makanan jajanan (Street Foods) adalah jenis makanan yang dijual
dikaki lima, pinggiran jalan, di stasiun, di pasar, di tempat pemukiman serta lokasi
yang sejenis (Winarno, 1997).
Menurut

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

942/Menkes/SK/VII/2003, makanan jajanan adalah makanan dan minuman yang


diolah oleh pengrajin makanan di tempat penjualan dan atau disajikan sebagai
makanan siap santap untuk dijual bagi umum selain yang disajikan jasa boga, rumah
makan/restoran, dan hotel.
Kebiasaan makan di Indonesia adalah makanan utama dua kali atau tiga kali
dengan disajikan jajanan di antaranya. Makan pagi biasanya pada jam 07.00, makan
selingan jam 10.00 sampai 11.00, makan siang jam 12.00, makan selingan jam
16.00 sampai 17.00 dan makan malam jam 19.00. Makanan selingan diantara

makan utama dianjurkan pada anak karena 2 sampai 3 jam setelah makan, zat gizi
didalam makanan akan berkurang dengan akibat pengurangan aktifitas tubuh.
Sehingga makanan jajanan berfungsi mengganti zat gizi yang berkurang, maka
makanan jajanan yang dikonsumsi harus bergizi baik dan paling sedikit berkalori
150-200 kalori dan cukup protein dan kebersihannya harus dijaga (Tarwotjo, 1998).
Jenis Makanan Jajanan
Menurut Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (2004), jenis makanan
jajanan dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) golongam, yaitu makanan jajanan yang
berbentuk panganan, misalnya kue-kue kecil, pisang goreng, kue putu, kue bugis
dan sebagainya. Makanan jajanan yang diporsikan (menu utama), seperti pecal, mie
bakso, nasi goreng, mie goreng, mie rebus dan sebagainya. Dan makanan jajanan
yang berbentuk minuman, seperti es krem, es campur, jus buah dan sebagainya.
Selain itu penjualan dan penjaja makanan jajanan dapat digolongkan menjadi 3
(tiga) golongan, antara lain penjaja diam, yaitu makanan yang di jual sepanjang hari
pada warung-warung yang lokasinya tetap di satu tempat. Penjaja setengah diam,
yaitu mereka yang berjualan dengan menetap di satu tempat pada waktu-waktu
tertentu. Dan penjaja keliling, yaitu mereka yang berjualan keliling dan tidak
mempunyai tempat mangkal tertentu.
Pada umumnya makanan jajanan dapat dibagi menjadi empat kelompok yaitu
(Winarno, 1997):
1. Makanan utama atau main dish yaitu nasi rames, nasi rawon, nasi pecel, dan
sebagainya.
2. Panganan atau snak yaitu kue, onde-onde, pisang goreng, dan lain
sebagainya.
3. Golongan minuman yaitu es teler, es buah, the, kopi, dewet, jenang, dan
sebagainya.
4. Buah-buahan segar yaitu mangga, durian, dan sebagainya
Menurut

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

942/MENKES/SK/VII/2003, pada pasal 2 disebutkan penjamah makanan jajanan

adalah orang yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan
makanan dan peralatannya sejak dari tahap persiapan, pembersihan, pengolahan,
pengangkutan sampai dengan penyajian. Penjamah makanan jajanan dalam
melakukan kegiatan pelayanan penanganan makanan jajanan harus memenuhi
persyaratan antara lain: tidak menderita penyakit mudah menular misalnya batuk,
pilek, influenza, diare, penyakit perut sejenisnya; menutup luka (pada luka terbuka/
bisul atau luka lainnya); menjaga kebersihan tangan, rambut, kuku, dan pakaian;
memakai celemek, dan tutup kepala; mencuci tangan setiap kali hendak menangani
makanan; menjamah makanan harus memakai alat/ perlengkapan, atau dengan alas
tangan; tidak sambil merokok, menggaruk anggota badan (telinga, hidung, mulut
atau bagian lainnya); tidak batuk atau bersin di hadapan makanan jajanan yang
disajikan dan atau tanpa menutup mulut atau hidung.
Pada pasal 9 juga disebutkan bahwa makanan jajanan yang dijajakan harus
dalam keadaan terbungkus dan atau tertutup. Pembungkus yang digunakan dan
atau tutup makanan jajanan harus dalam keadaan bersih dan tidak mencemari
makanan.
Manfaat Makanan Jajanan
Peranan makanan jajanan mulai mendapat perhatian secara internasional
yang banyak menaru perhatian terhadap studi dan perkembangan makanan jajanan.
Peranan makanan jajanan sebagai penyumbang gizi dalam menu sehari- hari yang
tidak dapat disampingkan.
Makanan jajanan mempunyai fungsi sosisal ekonomi yang cukup penting,
dalam arti pengembangan makanan jajanan dapat meningkatkan sosial ekonomi
pedagang. Di samping itu, makanan jajanan memberikan kontribusi gizi yang nyata
terhadap konsumen tertentu (Persagi, 1992).
Kebiasaan jajan di sekolah sangat bermanfaat jika makanan yang dibeli itu
sudah memenuhi syarat-syarat kesehatan, sehingga dapat melengkapi atau
menambah kebutuhan gizi anak. Disamping itu juga untuk mengisi kekosongan
lambung, karena setiap 3-4 jam sesudah makan, lambung mulai kosong. Akhirnya
apabila tidak beri jajan, si anak tidak dapat memusatkan kembali pikirannya kepada

pelajaran yang diberikan oleh guru dikelasnya. Jajan juga dapat dipergunakan untuk
mendidik anak dalam memilih jajan menurut 4 sehat 5 sempurna (Yusuf, dkk, 2008).
Namun, terlalu sering mengkonsumsi makanan jajanan akan berakibat
negatif, antara lain nafsu makan menurun, makanan yang tidak higienis akan
menimbulkan berbagai penyakit, dapat menyebabkan obesitas pada anak, kurang
gizi karena kandungan gizi pada jajanan belum tentu terjamin dan pemborosan.
Permen yang menjadi kesukaan anak-anak bukanlah sumber energi yang baik
sebab hanya mengandung karbohidrat. Terlalu sering makan permen dapat
menyebabkan gangguan pada kesehatan gigi (Irianto, 2007).
http://www.psychologymania.com/2012/08/pengertian-makanan-jajanan.html

Pengertian Jajanan
Menurut FAO, jajanan (street food) didefisinisikan sebagai makanan dan minuman yang
dipersiapkan dan/atau dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan di tempat-tempat
keramaian umum yang langsung dimakan atau dikonsumsi tanpa pengolahan atau persiapan
lebih lanjut. Makanan jajanan adalah makanan dan minuman yang di olah oleh pengrajin
makanan di tempat penjualan dan atau di sajikan sebagai makanan siap santap untukdujual
bagi umum selain yang disajikan jasa boga, rumah makan/restoran, dan hotel (KEPMENKES
942 Th 2003). Jajanan sehat adalah jajanan yang bergizi dan tidak mengandung zat-zat
berbahaya. Jajanan yang sehat dapat membuat tubuh terhindar dari penyakit. Cara memilih
jajanan sehat:

Bersih

Jauh dari tempat sampah, got, debu dan asap kendaraan bermotor

Tertutup

Tidak bekas dipegang-pegang orang

Tidak terlalu manis dan berwarna mencolok

Masih segar

Tidak digoreng dengan minyak goreng yang sudah keruh

Tidak mengandung zat pemanis, zat pengawet, zat penyedap, dan zat pewarna buatan

Bau tidak apek atau tengik

Tidak dibungkus dengan kertas bekas atau Koran

Dikemas dengan plastik atau kemasan lain yang bersih dan aman

Lihat tanggal kadaluwarsa Contoh jajanan tidak sehat:

Es mambo berwarna mencolok dan terlalu manis pemanis buatan dan pewarna
pakaian

Permen pemanis buatan dan pewarna pakaian

Bakso bahan pengenyal

Chiki/ makanan ringan menggunakan MSG sebagai penambah rasa, zat pewarna
dan pemanis buatan

Gorengan pakai minyak goreng bekas dipakai berkali-kali sehingga minyak sudah
berwarna sangat keruh

Cakwe, cilok dan bakso goreng pakai saus/ sambal berwarna merah cerah dan
terbuat dari bahan-bahan yang telah busuk

Kue berwarna mencolok pewarna pakaian

Es sirup/ minuman berwarna mencolok tidak higienis, memakai air mentah, dan
terdapat zat pewarna pakaian Dampak sering memakan jajanan yang tidak sehat bagi
tubuh:

Pemanis buatan: sakarin kanker kandung kemih

Pewarna tekstil: Rhodamine B pertumbuhan lambat, gelisah

Bahan pengenyal (boraks) demam, kerusakan ginjal, diare, mual, muntah, pingsan,
kematian

Penambah rasa: Mono Sodium Glutamat (MSG) pusing, selera makan terganggu,
mual, kematian

Bahan pengawet: formalin sakit perut, kejang-kejang, muntah, kencing darah, tidak
bisa kencing, muntah darah, hingga akhirnya menyebabkan kematian.

Timah pikiran kacau, pingsan, lemah, tidak ingin bermain, sulit bicara, mual,
muntah

Makanan tidak bergizi Gangguan berfikir

Makanan mengandung mikroba, basi atau beracun sakit perut, diare

Macam-Macam Bahan Kimia Berbahaya yang Beredar di Masyarakat .


Pada dasarnya baik masyarakat desa maupun kota, pasti telah menggunakan zat adiktif atau
bahan tambahan makanan dalam kehidupannya sehari-hari. Secara ilmiah, zat adiktif
makanan didefinisikan sebagai bahan yang ditambahkan dan dicampurkan sewaktu
pengolahan makanan untuk meningkatkan mutu. Zat adiktif makanan yang dimaksud dalam
hal ini adalah pengawet, penyedap, pewarna, pemantap, antioksidan, pengemulsi, pengumpal,
pemucat, pengental, dan anti gumpal. Dilihat dari sumbernya, zat adiktif dapat berasal dari
sumber alamiah seperti lesitin, asam sitrat, dan lain-lain. Selain itu dapat juga disintesis dari
bahan kimia yang mempunyai sifat serupa dengan bahan alamiah yang sejenis, baik susunan
kimia, maupun sifat metabolismenya seperti karoten, asam askorbat, dan lain-lain. Pada
umumnya bahan sintetis mempunyai kelebihan, yaitu lebih pekat, lebih stabil, dan lebih
murah, akan tetapi walaupun demikian ada kelemahannya yaitu sering terjadi
ketidaksempurnaan proses sehingga mengandung zat-zat berbahaya bagi kesehatan, dan
kadang-kadang bersifat karsinogen yang dapat merangsang terjadinya kanker pada hewan dan
manusia. Zat adiktif atau bahan tambahan makanan telah dimanfaatkan dalam berbagai
proses pengolahan makanan, berikut adalah beberapa contoh zat aditif yang sering dijumpai
dalam masyarakat adalah :
1. BAHAN PENGAWET
Bahan pengawet umumnya digunakan untuk mengawetkan makanan yang mempunyai sifat
rusak, akan tetapi tidak jarang produsen menggunakannya pada makanan yang relatif awet
dengan tujuan untuk memperpanjang masa simpan atau memperbaiki tekstur. Pengawet yang
banyak dijual dipasaran dan banyak digunakan adalah benzoat, yang umumnya dalam bentuk
natrium benzoat atau kalium benzoat yang bersifat lebih mudah larut. Pengggunaan pengawet
dalam makanan harus tepat, baik jenis maupun dosisnya. Suatu bahan pengawet mungkin
efektif untuk mengawetkan makanan tertentu, tetapi tidak efektif untuk mengawetkan pangan
yang lain karena pangan mempunyai sifat berbeda-beda sehingga mikroba perusak yang akan
dihambat pertumbuhannya juga berbeda. Pemakaian bahan pengawet dari satu sisi
menguntungkan karena dengan bahan pengawet bahan pangan dapat dibebaskan dari
kehidupan mikroba, baik yang bersifat pathogen yang dapat menyebabkan keracunan atau
gangguan kesehatan lainnya maupun mikroba yang nonpatogen yang dapat menyebabkan
kerusakan bahan makanan, misalnya pembusukkan. Namun dari sisi lain, bahan pengawet
pada dasarnya adalah senyawa kimia yang merupakan bahan asing yang masuk bersama
pangan yang dikonsumsi. Apabila pemakaian bahan makanan dan dosisnya tidak diatur dan
diawasi kemungkinan besar akan menimbulkan kerugian besar bagi pemakainya, baik yang
bersifat langsung misalnya keracunan, maupun yang bersifat tidak langsung atau kumulatif
misalnya apabila pengawet yang digunakan bersifat karsinogenik. Penggunaan bahan
pengawet yang dapat membahayakan kesehatan adalah penggunaan boraks dan formalin.
a. Boraks
Boraks adalah bahan pengawet kayu dan antiseptik pengontrol kecoa. Fungsinya hampir
sama dengan pestisida. Boraks berbentuk serbuk kristal putih tanpa bau dan mudah larut
dalam air. Boraks digunakan secara illegal dalam industri makanan bakso dan kerupuk,
karena mampu memberi efek bagus pada tekstur makanan. Bakso dengan boraks menjadi
kenyal, renyah, dan tahan lama. Kerupuk dengan boraks pun lebih renyah dan empuk. Di

Jawa Barat boraks dikenal dengan nama pijer, di Jawa Tengan dan Jawa Timur dikenal
dengan nama bleng dan digunakan sebagai tambahan makanan untuk pengenyal ataupun
pengawet. b. Formalin
Formalin merupakan bahan kimia dalam industri kayu lapis, dan digunakan sebagai bahan
disinfektan pada rumah sakit. Formalin digunakan secara illegal untuk bahan pengawet.
Deteksi formalin kualitatif maupun kuantitatif secara akurat hanya dapat dilakukan di
laboratorium dengan menggunakan pereaksi kimia. Namun, ada beberapa ciri pangan
berformalin yang dapat membantu membedakan dari makanan tanpa formalin:
1. Mie basah berformalin Tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar (25 derajat
celcius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (10 derajat celcius). Tidak
lengket dan mie lebih mengkilap dibandingkan mie yang lain.
2. Tahu berformalin Tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar (25 derajat celcius)
dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (10 derajat celcius). Tahu
terlampau keras, kenyal namun tidak padat.
3. Ikan Segar atau Hasil Laut Berformalin Tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar
(25 derajat celcius). Warna insang merah tua dan tidak cemerlang dan warna daging
putih bersih.
Ada beberapa jenis bahan pengawet yang banyak digunakan dalam masyarakat, yaitu : a. Zat
Pengawet Anorganik
Zat pengawet anorganik yang masih sering dipakai adalah sulfit, hydrogen peroksida, nitrat,
dan nitrit. Molekul sulfit lebih mudah menembus dinding sel mikroba membentuk senyawa
yang tidak dapat difermentasi oleh enzim membentuk hidroksisulfonat yang dapat
menghambat mekanisme pernafasan. Penggunaan garam nitrat dan nitrit yaitu umumnya pada
proses curing daging untuk memperoleh warna yang baik dan mencegah pertumbuhan
mikroba seperti Clostridium botulinum, yaitu suatu bakteri yang dapat memproduksi racun
yang mematikan. Akan tetapi sekarang ini nitrit dan nitrat tidak hanya digunakan pada daging
tetapi pada ikan dan keju. Penggunaannya pun semakin luas dikarenakan selain sebagai
pembentuk warna dan bahan pengawet antimikroba, juga berfungsi sebagai pembentuk factor
sensori lain, yaitu aroma dan cita rasa (flavour).
b. Zat Pengawet Organik
Zat pengawet lebih banyak dipakai daripada yang anorganik karena bahan ini lebih mudah
dibuat. Bahan organik digunakan baik dalam bentuk asam maupun bentuk garamnya. Zat
kimia yang sering dipakai sebagai bahan pengawet ialah asam sorbat, asam propionat, asam
benzoat, asam asetat, dan epoksida.
Secara umum penambahan bahan pengawet tersebut pada pangan bertujuan sebagai berikut :
a. Menghambat pertumbuhan mikroba pembusuk pada pangan baik yang bersifat pathogen
maupun yang tidak pathogen. b. Memperpanjang umur simpan pangan. c. Tidak menurunkan
kualitas gizi, warna, cita rasa, dan bau bahan pangan yang diawetkan. d. Tidak untuk
menyembunyikan keadaan pangan yang berkualitas rendah. e. Tidak digunakan untuk
menyembunyikan penggunaan bahan yang salah atau tidak memenuhi persyaratan. f. Tidak
digunakan untuk menyembunyikan kerusakan bahan pangan. Penggunaan bahan pengawet

untuk mengawetkan bahan pangan ini juga diharapkan tidak akan menambah biaya produksi,
dan tidak akan mempengaruhi harga bahan pangan yang diawetkan, tetapi produsen
mendapatkan keuntungan yang cukup besar dari lamanya umur simpan sehingga bahan
pangan yang diawetkan tersebut dapat terjual cukup banyak dibandingkan tanpa pengawetan.
2. PEWARNA BAHAN PANGAN
Penampilan makanan termasuk bentuk dan warnanya dapat menambah daya tarik dan
menggugah selera, oleh karenanya, sejak lama penggunaan pewarna makanan telah dikenal
luas di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Masyarakat tradisional Indonesia biasa
menggunakan bahan-bahan alami sebagai pewarna makanan, misalanya kunyit untuk warna
kuning, daun suji untuk warna hijau. Namun seiring perkembangan teknologi dan tuntutan
zaman, penggunaan pewarna makanan alami mulai diganti dengan pewarna makanan sintesis
karena penggunaannya lebih praktis dan harganya lebih murah.
Berdasarkan sumbernya, secara garis besar dikenal dua jenis zat pewarna yang termasuk
kedalam golongan bahan tambahan pangan, yaitu : a. Pewarna Alami Banyak warna bagus
yang dimiliki oleh tanaman dan hewan dapat digunakan sebagai perwarna untuk makanan.
Beberapa pewarna alami yang banyak mengandung nilai nutrisi (karotenoid, riboflavin, dan
kobalamin), merupakan bumbu (kunir dan paprika) atau pemberi rasa (karamel) ke bahan
olahannya. Kelompok tanaman atau hewan yang memiliki warna alami dan dapat digunakan
dalam tambahan makanan, diantaranya :
1. Karamel, berasal dari gula yang dipanaskan dengan air dan dapat menghasilkan warna
coklat;
2. Anthosianin, berasal dari tanaman yang dilarutkan kedalam air dan dapat
menghasilkan warna jingga, merah, dan biru;
3. Tannin, berasal dari tanaman yang dilarutkan kedalam air dan menghasilkan warna
bening atau tidak berwarna;
4. Batalain, berasal dari tanaman yang dilarutkan kedalam air dan menghasilkan warna
kuning dan merah;
5. Xanthon, berasal dari tanaman yang dilarutkan kedalam air dan menghasilkan warna
kuning;
6. Klorofil, berasal dari tanaman yang dilarutkan kedalam lipida dan air dan
menghasilkan warna hijau dan coklat;
7. Heme, berasal dari hewan dan menghasilkan warna merah dan coklat.
b. Pewarna Sintesis
Zat pewarna buatan yang diizinkan penggunaannya dalam pangan disebut sebagai permitted
color atau certified color. Zat warna yang akan digunakan harus menjalani pengujian dan
prosedur penggunaanya, yang disebut proses sertifikasi. Proses sertifikasi ini meliputi
pengujian kimia, biokimia, toksikologi, dan analisis media terhadap zat warna tersebut. Di
Indonesia peraturan mengenai penggunaan zat pewarna yang diizinkan dan dilarang untuk

pangan diatur melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
722/Menkes/Per/IX/88 mengenai bahan tambahan pangan. Penyalahgunaan pemakaian zat
pewarna untuk sembarang bahan pangan walaupun sudah ada peraturan yang mengaturnya
masih seringkali terjadi, misalnya zat pewarna untuk tekstil dan kulit dipakai untuk mewarnai
bahan pangan. Pewarna tekstil tersebut yang banyak digunakan adalah :
1. Rhodamin B
Rhodamin B merupakan bahan pewarna sintetis dalam industri tekstil dan kertas, yang secara
illegal digunakan untuk pewarna makanan. Makanan yang menggunakan bahan ini bisa
dikenali dari warna merah mencolok yang tidak wajar, banyak terdapat titik-titik warna
karena tidak homogen dan tidak pudar apabila terkena panas (digoreng atau direbus).
Rhodamin B berupa serbuk kristal berwarna merah keunguan, dan ketika dilarutkan dalam air
akan berubah merah berpendar yang membangkitkan selera. Biasanya digunakan pada
industri kerupuk, terasi, dan makanan kecil untuk anak-anak.
2. Methanyl Yellow (pewarna kuning) Metanil Yellow adalah pemberi warna kuning, yang
digunakan untuk industri tekstil dan cat. Bentuknya bisa berupa serbuk, bisa pula berupa
padatan. Biasanya digunakan secara illegal pada industri mie, kerupuk dan jajanan berwarna
kuning mencolok. Ciri-ciri makanan yang mengandung pewarna kuning metanil antara lain
makanan berwarna kuning mencolok dan cenderung berpendar serta banyak memberikan
titik-titik warna karena tidak homogen. Hal ini jelas sangat berbahaya bagi kesehatan karena
adanya residu logam berat pada zat pewarna tersebut. Timbulnya penyalahgunaan tersebut
antara lain disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat mengenai zat pewarna untuk pangan,
dan disamping itu harga zat pewarna untuk industri jauh lebih murah dibandingkan dengan
harga zat pewarna untuk pangan. Hal ini disebabkan bea masuk zat pewarna untuk pangan
jauh lebih tinggi daripada zat pewarna bahan nonpangan, selain itu warna dari zat pewarna
tekstil atau kulit biasanya lebih menarik.
Ada beberapa bahan pewarna sintesis yang boleh digunakan dalam makanan di Indonesia
dengan penggunaan yang tidak berlebihan, yaitu :
1. Amaran (Amaranth : Cl Food Red 9)
2. Biru berlian (Brilliant blue FCF : Cl)
3. Eritrosin (Food red 2 Erithrosin : Cl)
4. Hijau FCF (Food red 14 Fast green FCF : Cl)
5. Hijau S (Food green 3 Green S : Cl.Food)
6. Indigotin (Green 4 Indigotin : Cl.Food)
7. Ponceau 4R (Blue I Ponceau 4R : Cl)
8. Kuning (Food red 7)
9. Kuinelin (Quineline yellow Cl. Food yellow 13)

10. Kuning FCF (Sunset yellow FCF Cl. Food yellow 3)


11. Riboflavina (Riboflavina)
12. Tartrazine (Tartrazine)
Pemakaian bahan pewarna pangan sintesis dalam makanan walaupun mempunyai dampak
positif bagi produsen dan konsumen, yaitu diantaranya dapat membuat suatu makanan lebih
menarik, meratakan warna makanan, dan mengembalikan warna dari bahan dasar yang hilang
atau berubah selama pengolahan, ternyata dapat pula menimbulkan hal-hal yang tidak
diinginkan bahkan mungkin memberi dampak negatif bagi kesehatan manusia
DAMPAK BAHAN KIMIA BERBAHAYA DALAM MAKANAN BAGI KESEHATAN
Banyaknya kasus keracunan makanan, food safety perlu ditingkatkan secara terus menerus,
sehingga kejadian keracunan makanan dapat ditekan seminimal mungkin. Dikarenakan hal
tersebutlah maka perlu diadakan pengujian terlebih dahulu sebelum makanan tersebut
diedarkan ke masyarakat luas atau dikonsumsi. Pengujian bahan kimia berbahaya atau
toksisitas pada suatu bahan makanan biasanya dilakukan melalui tiga macam percobaan yang
dilakukan pada hewan. Pertama, penentuan dosis suatu bahan. Kedua, penentuan dosis
maksimum yang dapat ditolerir yaitu dosis harian maksimum saat hewan dapat bertahan
hidup untuk periode 21 hari, dengan tujuan pengujian ini adalah untuk menunjukkan bahan
organ yang diperiksa memperlihatkan adanya efek keracunan. Ketiga, pengujian pemberian
makanan selama 90 hari, dimana setelah 90 hari percobaan dapat diketahui gejala tidak
normal pada hewan percobaan sehubungan dengan makanan yang diberikan. Hasil dari ketiga
percobaan tersebut dapat menunjukkan atau menetapkan dosis atau ambang batas wajar
penggunaan bahan tambahan makanan untuk dikonsumsi manusia.
Penggunaan bahan kimia berbahaya atau bahan tambahan makanan tersebut apabila melebihi
ambang batas maka akan menimbulkan efek negatif bagi kesehatan, diantaranya :
1. Penggunaan Bahan Pengawet
Penggunaan zat pengawet yang berlebihan dapat mengurangi daya tahan tubuh terhadap
penyakit, penggunaan bahan pengawet di satu sisi menguntungkan karena bahan makanan
dapat terbebas dari kehidupan mikroba, baik yang bersifat pantogen yaitu yang dapat
menyebabkan keracunan atau gangguan kesehatan lainnya maupun mikroba yang bersifat
nonpatogen yang dapat menyebabkan kerusakan bahan makanan. 6 Bahan pengawet yang
sangat luas pemakaiannya yaitu belerang yang dioksidasi yang dapat menyebabkan luka pada
usus, selain itu penggunaan nitrit dan nitrat pada daging kalengan dan keju dapat
menyebabkan kanker, hal ini dikarenakan nitrit merupakan senyawa yang tergolong sebagai
racun, apabila terserap oleh darah akan mengubah hemoglobin menjadi nitrose haemoglobin
atau methaemoglobin yang tidak mampu lagi untuk mengangkut oksigen. Penderita penyakit
ini terlihat dari tanda-tanda perubahan pada kulit yang berubah menjadi biru, sesak nafas,
muntah dan shock bahkan dapat menyebabkan kematian apabila kandungan methaemoglobin
lebih tinggi dari 70%.
2. Penggunaan Bahan Pewarna pada Makanan

Pemakaian bahan pewarna sintesis dalam makanan walaupun memiliki dampak positif bagi
produsen dan konsumen, yaitu dapat membuat suatu makanan lebih menarik, meratakan
warna makanan dan mengembalikan warna dari bahan dasar yang hilang atau berubah selama
pengolahan, ternyata dapat pula menumbulkan hal-hal yang tidak diinginkan dan bahkan
memberi efek negatif bagi kesehatan manusia. Beberapa hal yang dapat menimbulkan
dampak negatif tersebut apabila terjadi : a. Bahan pewarna sintesis yang terdapat dalam
makanan ini dikonsumsi dalam jumlah kecil, namun berulang. b. Bahan pewarna sintesis
yang terdapat dalam makanan ini dikonsumsi dalam jangka waktu lama. c. Kelompok
masyarakat luas dengan daya tahan yang berbeda-beda, yaitu tergantung pada umur, jenis
kelamin, berat badan, mutu pangan sehari-hari, dan keadaan fisik. d. Berbagai lapisan
masyarakat yang mungkin menggunakan bahan pewarna sintesis secara berlebih. e.
Penyimpanan bahan pewarna sintesis oleh pedagang bahan kimia yang tidak memenuhi
persyaratan. Efek kronis yang dapat ditimbulkan dari pewarna sintesis ini adalah apabila
dikonsumsi dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan kanker hati.

http://www.scribd.com/doc/89809847/jajan

Sering sekali lihat liputan di media informasi tentang jajanan anak-anak


yang mengandung bahan - bahan kimia berbahaya seperti Formalin,
Siklamat, MSG dan lainnya. Miris dan ngeri banget mendengar dampak dampak yang ditimbulkan pada tubuh apabila mengkonsumsi bahanbahan tersebut. Sebagai ibu tentu saja tidak mau anak-anak kita tercinta
mengkonsumsi
jajanan
yang
mengandung
bahan-bahan
yang
membahayakan tersebut.
Setelah googling kesana kemari, saya coba mengumpulkan berbagai
informasi tentang bahan - bahan kimia berbahaya yang biasa digunakan
pada jajanan anak, sebagai referensi bagi para ibu untuk mengenali dan
menghindarinya.

Jenis - Jenis Bahan Kimia Berbahaya Yang Biasa Terdapat Dalam


Jajanan
Jenis zat kimia
Siklamat

Fungsinya
Pemanis buatan

Sakarin

Pemanis buatan

Nitrosamin

Dipakai sebagai
aroma khas

Efek terhadap tubuh


Terjadinya gangguan pada sistem
pencernaan terutama pada
pembentukan zat dalam sel serta
bersifat Karsinogenik (pemicu Kanker)
Sakarin yang berlebih pada makanan
atau minuman akan menimbulkan
efek rasa pahit, migran dan sakit
kepala. Tidak hanya itu Sakarin juga
merangsang terjadinya tumor pada
bagian kandung kemih.
Zat ini bersifat Kasinogenik yang
mampu memicu kanker

Monosodium
Glutamat (MSG)
Rhodamin B
Metanil Yellow

Formalin

Borak nama
lainnya natrium
biborat, natrium
piroborat,
natrium
tetraborat)

sosis, keju,
kornet, ham dan
dendeng
Penyedap Rasa

Pewarna tekstil
dan kertas
Digunakan
sebagai pewarna
makanan.
Fungsi
sebenarnya
untuk pewarna
tekstil dan cat.
Pengawet
Makanan.
Fungsi
sebenarnya
untuk bahan
pembuatan
yang digunakan
untuk kepetingan
industri, fotografi
dan yang paling
mengerikan
pengawet mayat.
Pengawet
makanan.
Fungsi
sebenarnya
untuk bahan
solder, bahan
pembersih,
pengawet kayu,
antiseptik kayu,
dan pengontrol
kecoak

Kerusakan beberapa sel syaraf


didalam bagian otak (Hypothalamus)
pada bayi. MSG juga berisiko kanker,
ginjal, dan merusak jaringan lemak
Meningkatkan risiko kanker hati dan
gangguan pencernaan
Meningkatkan Risiko Kanker

Kerusakan hati, jantung, otak, limpa


dan sistem saraf pusat

Sering mengonsumsi makanan


mengandung borak bisa menyebabkan
gangguan otak, hati, lemak, dan
ginjal. Dalam jumlah banyak, borak
menyebabkan demam, anuria (tidak
terbentuknya urin), koma,
merangsang sistem saraf pusat,
menimbulkan depresi, apatis, sianosis,
tekanan darah turun, kerusakan ginjal,
pingsan, bahkan kematian.

Ciri Ciri Makanan Yang Mengandung Bahan Kima Berbahaya


Berdasarkan beberapa sumber, ada beberapa ciri yang bisa kita kenali
dari makanan yang mengandung bahan-bahan berbahaya.
Ciri makanan berformalin
1. Mi basah berformalin: Tidak lengket, lebih mengilap, tidak rusak sampai dua hari
pada suhu kamar, dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (10 derajat
celsius).
2. Tahu berformalin: Teksturnya terlampau keras, kenyal tetapi tidak padat. Tidak rusak
sampai 3 hari dalam suhu kamar dan bisa tahan 15 hari dalam kulkas.

3. Ikan berformalin: Warna insang merah tua tidak cemerlang, bukan merah segar, dan
warna daging ikan putih bersih. Tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar.
4. Ikan asin berformalin: Bersih cerah dan tidak berbau khas ikan asin. Tidak dihinggapi
lalat di area berlalat, tidak rusak sampai lebih dari 1 bulan pada suhu 25 derajat
celsius.
5. Bakso berformalin: Teksturnya sangat kenyal, tidak rusak sampai 2 hari pada suhu
kamar.
6. Ayam berformalin: Teksturnya kencang, tidak disukai lalat, tidak rusak sampai 2 hari
pada suhu kamar.
Ciri makanan mengandung boraks:
1. Mie basah: Teksturnya kental, lebih mengilat, tidak lengket, dan tidak cepat putus.
2. Bakso: Teksturnya sangat kental, warna tidak kecoklatan seperti penggunaan daging,
tetapi lebih cenderung keputihan.
3. Snack: Misalnya lontong, teksturnya sangat kenyal, berasa tajam, sangat gurih, dan
memberikan rasa getir.
4. Kerupuk: Teksturnya renyah dan bisa menimbulkan rasa getir.

Ciri makanan menggunakan pewarna rhodamin B dan methanyl


yellow:
1. Warnanya mencolok
2. Cerah mengilap
3. Warnanya tidak homogen (ada yang menggumpal)
4. Ada sedikit rasa pahit
5. Muncul rasa gatal di tenggorokan setelah mengonsumsinya
6. Warnanya nempel di kulit
Antisipasi Kebiasaan Jajan Pada Anak Sejak Dini
Sebenarnya berdasarkan pengalaman saya kebiasaan jajan pada anak
bisa diantisipasi sejak dini. Dari kecil saya tidak membiarkan Amay jajan
sendiri semua kebutuhannya makanan kecilnya disediakan di rumah,
terbukti kalo ada yang ngasih uang jajan dia malah kasih ke saya (jadi
ibunya yang ketiban rezeki nomplok he..he), serta membiasakan dia untuk

selalu makan teratur karena kondisi perut kenyang mengurangi


keinginannya untuk ngemil.
Saya mulai mengenalkan dan mengajari nilai mata uang pada Amay
dimulai pada saat dia berumur 4 tahun, dan kalaupun ada yang ngasih
uang jajan kita minta dia untuk simpan di celengan miliknya. Menjelang
sekolah seperti sekarang, saya juga membekali makanan buatan sendiri
yang terjamin kualitas kesehatannya, untungnya juga sekolahnya
menyediakan makan siang jadi tak perlu jajan. Sesekali memang dia
minta jajan ke warung namun jenis makanannya juga kita batasi yang
sehat dan tidak sembarangan.
Saya sampai tercengang mendengar cerita adik sepupu saya yang punya
anak berumur 4 tahun biaya jajannya Rp.10.000 sd 15.000 perhari, dan
itu terbukti pada saat berkunjung ke rumah dia merengek terus minta
jajan dan bolak balik ke warung, padahal sebenarnya uang jajan
Rp.10.000 s.d Rp.15.000 cukup untuk beli lauk makan sehari sekeluarga.
Jadi sebenarnya menurut saya jajan merupakan masalah kebiasaan saja,
bagaimana kita membiasakan anak untuk makan di rumah, karena jika
perutnya kenyang maka keinginan untuk ngemilpun akan berkurang.
Untuk antisipasi semua isu menyeramkan tentang berbagai jajanan yang
tidak sehat diluar sana, menurut saya salah satu upaya yang bisa kita
lakukan sebagai orang tua adalah melakukan kontrol yang ketat supaya
anak kita tidak menjadi korban dari penyalahgunaan zat-zat kimia
berbahaya pada makanan.

http://inayatul-metamorphosis.blogspot.com/2012/07/waspadai-zat-berbahayapada-jajanan-anak.html