Anda di halaman 1dari 7

PENGANTAR ILMU PERIKANAN (PIPK)

BUDIDAYA TAMBAK AIR PAYAU

Nama
NIM
Jurusan
Prodi

: Annisa Galuh Damayanti


: 13/353748/PN/13494
: Perikanan
: Teknologi Hasil Perikanan

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013

BUDIDAYA TAMBAK AIR PAYAU


Latar Belakang
Pemanfaatan dan pengembangan potensi sumber daya perairan pantai dan
laut menjadi paradigma baru pembangunan di masa sekarang yang harus
dilaksanakan secara rasional dan berkelanjutan. Kebijakan ini sangat realistis
karena didukung oleh fakta adanya potensi sumberdaya laut dan pantai yang masih
cukup besar peluang untuk pengembangan eksploitasi dibidang perikanan baik
penangkapan maupuan usaha budidaya ikan.Usaha perikanan secara umum dapat
dinyatakan sebagai kegiatan untuk mengelola dan memanfaatkan sumberdaya ikan
serta lingkungan dengan menambahkan masukan energi, materi dan teknologi dan
atau unsur lainnya, yang bertujuan untuk memanen biomasa hidup dan kehidupan
manusia.

Kegiatan usaha budidaya udang, bandeng dan ikan lainnya di tambak


merupakan kegiatan yang terencana yang memerlukan nilai masukan (input
factor) seperti tenaga kerja, luas lahan, bibit, pupuk dan obat-obatan, dan
faktor pendukung seperti kondisi lingkungan baik secara fisika, kimia dan
biologi kesemuanya memberikan kontribusi terhadap produksi yang
dihasilkan
Pembahasan
Potensi perikanan budidaya payau (tambak) Indonesia mencapai 2,96 juta
hektar.Namun dari jumlah ini, baru dimanfaatkan masyarakat seluas 682.857
hektar. Potensi perikanan budidaya ini akan semakin besar apabila Indonesia
memasukan potensi budidaya air tawar seperti kolam. Yang mencapai 541.100
hektar, budidaya di perairan umum mencapai 158.125 hektar dan mina-padi seluas
1,54 juta hektar. Pada tahun 2011, sumberdaya perikanan tangkap sekitar 6,5 juta
ton, dengan tingkat pemanfaatan mencapai 5,71 juta ton. Beberapa wilayah
terutama pulau Jawa, pengelolaan perikanan (WPP) tertentu telah terjadi lebih
tangkap atau over fishing. Sementara di perairan lainnya seperti laut Cina Selatan,
Arafura dan lain sebagainya potensi ikannya belum dimanfaatkan secara optimal
laporan food and agricultural organization (FAO) pada 2012 menunjukan bahwa
produksi ikan dunia dari kegiatan penangkapan di laut maupun perairan umum
cenderung stagnan dalam 5 tahun terakhir.

Perairan payau atau brackish water merupakan perairan campuran


antara air asin (laut) dan air tawar. Salinitas pada perairan payau sangat
berfluktuatif tergantung dari pemasukan air asin dan air tawar sehingga
salinitas terkadang bisa lebih rendah atau lebih tinggi. Sehingga perairan
payau (brackish water) dapat dikatakan lingkungan perairan yang memiliki
karakteristik unik, karena air yang terdapat di dalamnya merupakan hasil
percampuran antara air asin dengan air tawar. Salinitas air payau pada
umumnya relatif rendah (10-20 ppt) dan kadang-kadang bisa lebih rendah
atau bahkan lebih tinggi.
Usaha akuakultur payau, baik ikan maupun udang merupakan salah
satu alternatif peningkatan produktivitas komoditi perikanan sebagai solusi

untuk mengantisipasi langkanya produksi perikanan (ikan atau udang) di


pasaran atau masyarakat. Komoditas perikanan air payau yang hingga saat
ini masih bertahan dan berkembang di Indonesia antara lain udang windu
(Panaeus monodon) dan udang putih, seperti udang vanamei (P. vannamei
atau L. vannamei) maupun jenis udang putih lain seperti P. indicus dan P.
merguensis.
Proses mengolah air asin/payau menjadi air tawar atau sering dikenal
dengan istilah desalinasi dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) macam yaitu
1. Proses destilasi (suling). 2. Proses penukar ion dan 3. Proses filtrasi. Proses
destilasi memanfaatkan energi panas untuk menguapkan air asin. Uap air
tersebut selanjutnya didinginkan menjadi titik-titik air dan hasil ditampung
sebagai air bersih yang tawar. Proses desalinasi menggunakan teknik
penukar ion memanfaatkan proses kimiawi untuk memisahkan garam dalam
air. Pada proses ini ion garam (Na Cl) ditukar dengan ion seperti Ca+2 dan
SO4-2 . Materi penukar ion berasal dari bahan alam atau sintetis. Materi
penukar ion alam misalnya zeolit sedangkan yang sintetis resin (resin kation
dan resin anion). Proses desalinasi yang ke tiga menggunakan filter
semipermeabel untuk memisahkan molekul garam dalam air. Proses ketiga
ini lebih dikenal dengan sistem osmose balik (Reverse Osmosis).
Keistimewaan dari proses ini adalah mampu nyaring molekul yang lebih
besar dari molekul air.
Bandeng merupakan salah satu jenis ikan budidaya air payau (tambak)
yang sekaligus juga merupakan bahan konsumsi masyarakat luas, sehingga
mempunyai prospek yang cukup cerah untuk dikembangkan di Indonesia.
Bandeng mempunyai toleransi salinitas yang tinggi (euryhalien) sehingga
dapat dibudidayakan ditambak yang berair payau. Sifat euryhalien ini
memungkinkan daerah pemeliharaannya tidak terbatas pada tambak pantai
(tambak yang berjarak 0,5-1 km dari garis pantai), tetapi juga dapat
dibudidayakan di tambak darat (tambak yang berjarak lebih dari 1,5 km dari
garis pantai yang mana salinitasnya lebih rendah dari tambak pantai. Selain
bersifat euryhalien, ikan bandeng juga tahan terhadap temperatur yang
tinggi sehingga coook di budidayakan di Indonesia. Keadaan lain yang
menguntungkan adalah tidak adanya musim dingin di Indonesia, sehingga
pengusahaannya dapat berlangsung sepanjang tahun.
Penyebaran ikan bandeng begitu luas, bahkan hampir setiap pantai di
Indonesia terdapat benih bandeng (nener). Penyebaran bandeng di Indonesia
meliputi daerah-daerah pantai di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara,
Bali serta Pulau Buru. Di pulau Jawa, nener sering ditangkap di pantai
Banten, Jakarta, Cirebon, Semarang, Gresik dan Surabaya
Dalam usaha budidaya bandeng, pengetahuan yang mendalam para petani
tambak terhadap faktor produksi yang berpengaruh terhadap hasil produksi
sangat penting. Jenis-jenis faktor produksi dan seberapa besar pengaruh

faktor-faktor produksi tersebut terhadap hasil produksi, mutlak harus


diketahui agar kegiatan budidaya memperoleh hasil yang menguntungkan.
Berdasarkan kondisi tersebut, maka diperlukan suatu perhitungan biaya
produksi dan perkiraan pendapatan yang akan diperoleh dari budidaya
bandeng sehingga dapat diketahui apakah budidaya bandeng tersebut
menguntungkan atau tidak dan berapa lama biaya investasi dapat di
kembalikan.
Berdasarkan kebiasaan hidup, tingkah laku dan sifat udang, bandeng
atau ikan lainnya. maka syarat syarat dalam memilih lokasi tambak baik
dalam rangka membuat tambak baru maupun dalam perbaikan tambak yang
sudah ada, sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut

Memiliki sumber air yang cukup, baik air laut maupun air tawar dan
tersedia sepanjang tahun atau setidaknya 10 bulan dalam setahun,
tetapi bukan daerah banjir
Memiliki saluran saluran air yang lancar, baik untuk pengisian waktu
pasang maupun membuang air waktu surut dan sumber air serta
lingkungan bebas dari pencemaran.
Kadar garam air berkisar 10-25 ppm dan derajat keasaman (pH)
berkisar 7 - 8.5
Tanah dasar tambak terdiri dari Lumpur berpasir dengan ketentuan
kandungan pasirnya tidak lebih dari 20%.

Dalam usaha budidaya bandeng, para petani tambak akan mengalami


beberapa tahapan kegiatan sejak dari persiapan tambak sampai dengan
pemanenan hasil. Adapun tahapan-tahapan dalam budidaya bandeng pada
umumnya adalah:
1. Perbaikan Pematang dan Saluran
Perbaikan pematang dan saluran lazimnya dilakukan bersamaan
atau beruntun saling susul-menyusul. Parit keliling dan saluran pembagi
air yang mendangkal karena timbunan lumpur dari tempat lain, dikeduk
agar normal kembali sedalam ukuran yang telah ditetapkan
sebelumnya.Tanah hasil kedukan ini diteplokkan pada sisi pematang yang
sementara itu mungkin juga sudah longsor karena terkikis tanahnya
sebagian dan memperdangkal parit keliling atau saluran pembagi air di
dekatnya.
2. Perdalaman dan Perataan Dasar Pelataran Tengah
Perdalaman dan perataan dasar pelataran tengah perlu dilakukan
karena selama periode masa pemeliharaan sebelumnya, petakan tambak
sudah menerima endapan lumpur yang terbawa oleh air masuk. Agar
kedalaman air selama masa pemeliharaan berikutnya tetap normal

sebagaimana yang dikehendaki, endapan lumpur dipelataran tengah ini


perlu dikeruk juga. Kalau dilakukan setiap musim kemarau, petakan
tambak yang bersangkutan pasti tidak begitu banyak tertimbun lumpur,
sehingga penyiapannya tidak akan terasa begitu berat seperti pada
pengerukan parit keliling. Perataan tanah bertujuan untuk menciptakan
pelataran atau ladang pertamanan dibawah permukaan air bagi klekap
yang hanya mau tumbuh subur bila berada dalam air yang rata-rata
kedalamannya 40 centimeter.
3. Pengeringan Dasar Tambak
Pengeringan dasar tambak bertujuan untuk memperbaiki kondisi
tanah, seperti yang dilakukan di kalangan pertanian mutlak diperlukan
agar kemampuan tanah untuk menghasilkan ganggang biru yang
membentuk klekap dapat senantiasa dipertahankan. Tanah tambak yang
terus-menerus terendam air, semakin lama semakin anaerob, sehingga
proses mineralisasi bahan organik yang memerlukan suasana anaerob
terhambat jalannya, padahal hasil mineralisasi berupa mineral ini
diperlukan oleh ganggang-ganggang biru klekap.
4. Pemupukan dan Pemberantasan Hama
Pemupukan tambak sebenarnya sudah lama dikenal serta dilakukan
oleh para petani tambak. Para petani produsen memupuk tambak dengan
tujuan menyuburkan pertumbuhan klekap. Klekap tumbuh pada dasar
tambak, sehingga pemupukan juga pada tanah ini. Pada umumnya para
petani tambak menggunakan jenis pupuk yang biasanya dipergunakan
dikalangan pertanian seperti pupuk kandang, kompos, guano. Di daerah
tambak yang banyak ditumbuhi pohon bakau, orang memanfaatkan daun
bakau, rumput-rumputan dari pematang sebagai pupuk hijau. Daundaunan itu digundukkan di beberapa tempat, dengan puncaknya tetap di
atas permukaan air agar pelan-pelan mengalami proses pembusukkan.
Jumlah pupuk yang diperlukan bagi tiap hektar tambak sekitar 2000 kg,
sehingga pengadaannya akan merepotkan para petani produsen dan
akhirnya sering tidak dipergunakan, Pemupukan, tambak lebih sering
menggunakan pupuk anorganik, yaitu campuran pupuk urea dan triple
super phosphat (TSP) dengan perbandingan 2:1.
Agar petani produsen budidaya tambak berhasil dalam usahanya,
penanggulangan hama harus dilakukan. Hama yang diprioritaskan
penanggulangannya dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yakni:
1) Hama pengganggu, hama jenis ini merusak lingkungan tambak,
seperti membuat pematang bocor dan merusak pintu air. Hama yang

sering menggangu antara lain bangsa ketam, remis penggerek dan


udang tanah. 2) Hama penyaing, jenis hama penyaing (competitor) ini
dapat menyaingi bandeng dalam berebut makan maupun kandungan
oksigen dalam tambak, Yang termasuk hama ini adalah siput, ikan liar
dan ketam-ketaman. 3) Hama pemangsa, hama pemangsa sangat
merugikan, karena hama ini langsung memangsa bandeng di dalam
tambak. Yang termasuk hama pemangsa adalah ikan buas (payus) dan
kakap.
Cara penanggulangan dan pemberantasan hama tambak dapat
dilakukan dengan menggunakan dua cara, yaitu: 1) Pemberantasan
secara mekanis, yaitu pemberantasan dilakukan bersamaan dengan
pengeringan, Setelah tambak kering, hama kemudian dibunuh. 2)
Pemberantasan
secara
kimiawi,
yaitu
pemberantasan
dengan
menggunakan racun nabati atau pestisida.
5. Penyiapan dan Penebaran Benih Bandeng (nener)
Sukses tidaknya pengusahaan tambak tergantung juga pada
penyediaan nener waktu musim tanam yaitu musim labuhan bulan
Oktober-November, dan kemudian disusul dengan penebaran susulan
dalam musim mareng bulan Mei tahun berikutnya. Penangkapan nener
dilakukan didaerah pantai yang berpasir, landai dan berair jernih.
Penebaran nener dilakukan pada petak peneneran yang airnya jelas
payau, tidak terlalu tinggi salinitasnya. Salinitas antara 15% - 20% adalah
kondisi salinitas yang optimum. Penebaran dilakukan pagi-pagi benar
atau kalau tidak dilakukan sore hari, setelah suhu udara sejuk kembali.
Hal ini dimaksudkan untuk mencegah agar perbedaan suhu air
pengangkutan dan air tambak tidak terlalu besar, karena nener tidak
mampu menyesuaikan diri jika perbedaan suhu keduanya terlalu
mencolok.
6. Pemungutan Hasil
Ikan bandeng biasa membentuk suatu kelompok dengan dipimpin
oleh seekor bandeng di depan. Salah satu sifat bandeng yang telah
dewasa adalah keinginannya yang kuat untuk meloloskan diri dari
tambak. Hal ini bukan terjadi karena perbedaan kadar garam atau
oksigen, akan tetapi karena naluri berupaya kembali ke laut setelah
dewasa untuk berkembang biak. Setelah bandeng menampakkan tandatanda ingin kembali ke laut, segera dimasukkan ke petakan tambak pada
waktu air pasang. Hal ini menjadikan bandeng-bandeng tersebut untuk
berenang mendekati pintu air. Bandeng-bandeng akan berjam-jam
berenang berhenti dalam arus air laut ini. Sifat bandeng yang demikian

dimanfaatkan para petani produsen untuk memungut hasil, Pemungutan


hasil dengan cara demikian dinamakan cara nyerang.
Kecenderungan yang terjadi dalam budidaya udang, bandeng dan ikan
lainnya , khususnya yang mengaplikasikan teknologi semi intensif dan
intensif adalah memburuknya keadaan lingkungan tambak sejalan dengan
berlangsungnya masa pemeliharaan atau dengan kata lain cenderung
mencemari lingkungannya sendiri. Dampaknya adalah stress yang akan
memperlemah kondisi ikan, sehingga mudah terserang penyakit. Selain dari
itu, lingkungan tambak dapat pula dicemari oleh polutan yang berasal dari
lingkungan sekitar seperti pemukiman, industri, persawahan, dan lain-lain.
Masalah lingkungan dalam tambak, banyak terkait dengan proses pemilihan
lokasi yang tidak dilaksanakan dengan cermat dan manajemen usaha
budidaya yang tidak tepat, misalnya pengelolaan kualitas air, pemberian
pakan, kuantitas dan kualitas kultivan dan kurangnya koordinasi antar
petambak.
Masalah lain yang sering terjadi dalam usaha budidaya adalah masalah
permodalan yang menyangkut biaya besar untuk biaya pembangunan
tambak baru yang lengkap dengan saluran sekunder dan tersier. Selain itu,
modal kerja untuk pembelian benur dan nener untuk petani bermodal kecil
dapat menjadi masalah yang serius. Petani sering terbentur masalah
persyaratan perkreditan dari bank, seperti agunan dan kelayakan usaha.
Masalah sarana produksi yang menyangkut benih, pakan, pupuk, dan
pestisida, pengadaannya sering tidak tepat waktu. Kualitas, jumlah,dan
harga sarana produksi bersifat fluktuatif, sehingga menghambat
kesinambungan produksi. Masih kentalnya kandungan impor pada sarana
produksi menyebabkan harganya melambung tinggi setelah krisis moneter.
Sedangkan ketersediaan benih yang menjadi masalah saat ini adalah dari
segi kualitasnya dan jaminan mutu untuk memperoleh benih bermutu
Pendekatan teoritis yang akan dilakukan adalah mengkaji profil potensi
perikanan budidaya tambak berupa volume dan nilai produksi serta luas
lahan tambak udang dan bandeng, pendekatan berdasarkan aspek teknis
dan ekologis melalui pengukuran kualitas air, kualitas tanah tambak,
teknologi budidaya, dan kelayakan penggunaan jenis komoditas baru sesuai
dengan daya dukung lingkungan pertambakan.