Anda di halaman 1dari 22

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN

LAPORAN KASUS
APRIL 2016

OD KATARAK IMATUR & OS KATARAK MATUR

Disusun oleh:
Karmila Missy

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA RSUD DR. M HAULUSSY
FAKULTAS KEDOKTERAN
2016

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
atas rahmat da hidayah-Nya, maka saat ini penulis dapat menyelesaikan pembuatan
laporan kasus dengan judul OD KATARAK IMATUR DAN OS KATARAK SENILIS
MATUR ini dengan baik. Laporan kasus ini dibuat dalam rangka tugas kepaniteraan
klinik pada bagian ilmu kesehatan mata fakultas kedokteran universitas pattimura
ambon tahun 2016.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih banyak kekurangan, oleh
karena itu kritik dan saran yang membangun selalu penulis harapkan, dan semoga
laporan kasus ini dapat bermanfaat untuk kita semua.
Akhir kata penulis mengucapkan terima aksih atas segala pihak yang telah
membantu penulis dalam penyelesaian pembuatan laporan kasus ini.

Ambon, April 2016

Penulis

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI LENSA MATA


Lensa mata merupakan struktur globular yang transparan, terletak dibelakang
iris, di depan badan kaca. Lensa adalah suatu struktur bikonveks, tidak mempunyai
asupan darah (avaskular) atau inervasi saraf dan bergantung sepenuhnya pada akuos
humor untuk metabolisme dan pembuangan. Bagian depan ditutupi oleh kapsus
anterior dan belakang ditutupi kapsul posterior. Di bagian dalam kapsul terdapat
korteks dan nukleus. Posisi lensa bergantung pada Zonula zinn yang melekat pada
prosesus siliaris. Diameter lensa adalah 9-10 mm dan tebalnya bervariasi sesuai
dengan umur, mulai dari 3,5 mm (saat lahir) dan 5 mm (dewasa).1,2

Gambar 1. Anatomi Mata


Lensa mata memiliki fungsi refraksi yakni sebagai bagian optic bola mata untuk
memfokuskan sinar ke bintik kuning, lensa menyumbang +18.0 Dioptri. Selain itu
fungsi fungsi akomodasi juga diatur oleh lensa. Kontraksi otot-otot siliaris dan
ketegangan zonulla zinn berkurang sehingga lensa lebih cembung untuk melihat objek
dekat.1
B. KATARAK
1. Definisi

Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan lensa yang dapat terjadi akibat
hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa yang terjadi akibat
kedua-duanya. Katarak berasal dari bahasa Yunani Katarrhakies, Inggris
Cataract dan Latin Cataracta yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia
disebut bular dimana penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang
keruh.3
Katarak umumya merupakan penyakit usia lanjut, akan tetapi dapat juga
akibat kelainan kongenital, atau penyulit mata local menahun. Katarak memiliki
derajat kepadatan yang sangat bervariasi dan dapat disebabkan oleh berbagai hal,
biasanya akibat proses degenatif.3,4

2. Epidemiologi
Katarak merupakan penyebab utama terjadinya kebutaan. Menurut penelitian
WHO (2012) menyatakan 17 juta (47.8%) dari 37 juta orang di dunia, buta
akibat katarak. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat hingga 40 juta pada
tahun 2020. Indonesia merupakan Negara urutan ketiga terbanyak di dunia dan
urutan pertama di Asia Tenggara.5
Lebih dari 90% kejadian katarak merupakan katarak senilis. 20-40% usia 60
tahun ke atas mengalami kekeruhan lensa, sedangkan pada usia 80 tahun ke atas
insiden mencapai 60-80%. Prevalensi katarak kongenital pada Negara maju
berkisar 2-4 setiap 10.000 kelahiran. Frekuensi katarak laki-laki dan perempuan
sama besar.6

3. Etiologi Dan Faktor Risiko


Penyebab utama katarak adalah proses penuaan. Faktor-faktor yang dapat
memicu timbulnya penyakit katarak, diantaranya adalah sebagai berikut: 7

a. Penyakit peradangan dan metabolik, misalnya diabetes mellitus


b. Kekurangan vitamin A, B1, B2 dan C
c. Riwayat keluarga dengan katarak
d. Penyakit infeksi atau cedera mata terdahulu
e. Pembedahan mata
f. Pemakaian obat-obat tertentu (kortikosteroid) dalam jangka panjang
g. Faktor lingkungan, trauma, penyinaran, sinar ultraviolet
h. Efek racun dari merokok dan alkohol

4. Patogenesis
4.1. Konsep Penuaan
Konsep penuaan lensa mata mempunyai bagian yang disebut pembungkus
lensa atau kapsul lensa, korteks lensa yang terletak antara nukleus lensa atau inti
lensa dengan kapsul lensa. Pada anak dan remaja nukleus lembek sedang pada
orang tua nucleus ini menjadi keras. Dengan menjadi tuanya sesorang, maka
lensa mata akan kekurangan air dan menjadi lebih padat. Lensa akan menjadi
keras pada bagian tengahnya, sehingga kemampuannya memfokuskan benda
dekat

kurang.

Dengan

bertambahnya

usia,

lensa

mulai

berkurang

kebeningannya, keadaan ini akan berkembang dengan bertambah beratnya


katarak.8
4.2. Teori Radikal Bebas
Mekanisme

terjadinya

katarakkarena

penuaan

memang

masih

diperdebatkan, tetapi telah semakin nyata bahwa oksidasi dari protein lensa
adalah salah satu faktor penting. Serat-serat protein yang halus membentuk lensa
internal itu sendiri bersifat bening. Kebeningan lensa secara keseluruhan

bergantung pada keseragaman penampang dari serat-serat ini serta keteraturan


dan kesejajaran letaknya di dalam lensa. Ketika protein rusak, keseragaman
struktur ini menghilang dan serat-serat bukannya meneruskan cahaya secara
merata, tetapi menyebabkan cahaya terpancar dan bahkan terpantul. Hasilnya
adalah kerusakan penglihatan yang parah. Kerusakan protein akibat elektronnya
diambil oleh radikal bebas dapat menghilangkan sel-sel jaringan diamana protein
tersebut berada menjadi rusak yang banyak terjadi pada lensa mata sehingga
menyebabkan katarak.8 Pandangan yang mengatakan bahwa karena usia
mungkin disebabkan oleh kerusakan radikal bebas memang tidak langsung,
tetapi sangat kuat dan terutama didasarkan pada perbedaan antara kadar
antioksidan di dalam tubuh penderita katarak diabndingkan dengan mereka yang
memiliki lensa bening.8
4.3. Sinar Ultraviolet
Banyak ilmuan yang sekarang ini mencurigai bahwa salah-satu sumber
radikal bebas penyebab katarak adalah sinar ultraviolet yang terdapat dalam
jumlah besar di dalam sinar matahari. Memeang sudah diketahui bahwa radiasi
ultraviolet menghasilkan radikal bebas di dalam jaringan. Jaringan di permukaan
mata yang transparan sangat peka terhadap sinar ultraviolet. Pada mereka yang
mempunyai riwayat terpajan sinar matahari untuk waktu lama dapat
mempercepat terjadinya katarak. 8
4.4. Merokok
Merokok pada kerusakan lensa katarak adalah kerusakan akibat oksidasi
pada protein lensa. Rokok kaya akan radikal bebas dan substansi oksidatif lain
seperti aldehid. Kita tahu bahwa radikal bebas dari asap rokok dapat merusak
protein. Dilihat dari semua ini, tidaklah mengherankan bahwa perokok lebih
rentan terhadap katarak disbanding dengan yang bukan perokok. 8

5. Klasifikasi
Tiga jenis umum katarak adalah nuleus, cortical, dan posterior subcapsular.
Klasifikasi katarak dapat dilihat pada table 1.
Katarak di dapat (lebih dari 90%

Katarak senilis

katarak)

Katarak dengan penyakit sistemik


- Diabetes mellitus
- Galaktosemia
- Isufisiensi ginjal
- Wilson disease
Katark skunder dan komplikasi :
- Katarak dengan retinitis pigmentosa
- Katarak dengan heterokromia .Dll
Katarak post operasi
Katarak traumatic :
- Kontusio atau perforasi
- Injury elektrik
- Dll
Katarak toxic:
- Corticosteroid induce cataract

Katarak congenital

- Dll
Herediter katarak
- Autosomal-dominan
- Autosomal resesif
- Sporadic
- X-linked

Katarak Akibat kerusakan pada


masa embrional (transplasenta) :
- Rubella (40%-60%)
- Mumps (10%-22%)
- Hepatitis (16%)
- Toxoplasma (5%)

6. Stadium
Katarak ini dibagai ke dalam 4 stadium, yaitu: 1,3,4,7
a. Katarak insipien, kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeruji menuju
korteks anterior dan posterior (katarak kortikal)

Katarak subkapsular posterior, kekeruhan mulai terlihat di anterior


subkapsular posterior, celah terbentuk, antara serat lensa dan korteks berisi
jaringan degeneratif (beda morgagni) pada katarak insipien

Katarak intumesen. Kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat


lensa yang degeneratif menyerap air. Pada keadaan ini dapat terjadi hidrasi
korteks hingga lensa akan mencembung dan daya biasnya bertambah, yang
akan memberikan miopisasi

b. Katarak imatur, sebagian lensa keruh atau katarak. Merupakan katarak yang
belum mengenai seluruh lapis lensa. Volume lensa bertambah akibat
meningkatnya tekanan osmotik bahan degeneratif lensa. Pada keadaan lensa
mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil, sehingga terjadi
glaukoma sekunder.
c. Katarak matur, pada katarak matur, kekeruhan telah mengenai seluruh lensa.
Kekeruhan ini bisa terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh. Bila
katarak imatur tidak dikeluarkan, maka cairan lensa akan keluar sehingga

lensa kembali pada ukuran normal dan terjadi kekeruhan lensa yang lama
kelamaan akan mengakibatkan kalsifikasi lensa pada katarak matur. Bilik
mata depan berukuran dengan kedalaman normal kembali, tidak terdapat
bayangan iris pada shadow test, atau disebut negatif.
d. Katarak hipermatur, merupakan katarak yang telah mengalami proses
degenerasi lanjut, dapat menjadi keras, lembek dan mencair. Massa lensa
yang berdegenerasi keluar dari kapsul lensa, sehingga lensa menjadi kecil,
berwarna kuning dan kering. Pada pemeriksaan terlihat bilik mata dalam dan
terlihat lipatan kapsul lensa. Kadang pengkerutan berjalan terus sehingga
hubungan dengan zonula zinn menjadi kendur. Bila proses katarak berlajut
disertai dengan penebalan kapsul, maka korteks yang berdegenerasi dan cair
tidak dapat keluar, maka korteks akan memperlihatkan bentuk sebagai
sekantong susu disertai dengan nukleus yang terbenam didalam korteks lensa
karena lebih berat, keadaan tersebut dinamakan katarak morgagni.
7. Gejala klinis
Seorang pasien dengan katarak senilis biasanya datang dengan riwayat
kemunduran secara progesif dan gangguan dari penglihatan. Penyimpangan
penglihatan bervariasi, tergantung pada jenis dari katarak ketika pasien datang :
3,4,7,9

a. Penurunan visus, merupakan keluhan yang paling sering dikeluhkan pasien


dengan katarak senilis.
b. Silau, Keluhan ini termasuk seluruh spectrum dari penurunan sensitivitas
kontras terhadap cahaya terang lingkungan atau silau pada siang hari hingga
silau ketika endekat ke lampu pada malam hari.
c. Perubahan miopik, Progesifitas katarak sering meningkatkan kekuatan
dioptrik lensa yang menimbulkan myopia derajat sedang hingga berat.
Sebagai akibatnya, pasien presbiop melaporkan peningkatan penglihatan

dekat mereka dan kurang membutuhkan kaca mata baca, keadaan ini disebut
dengan second sight. Secara khas, perubahan miopik dan second sight tidak
terlihat pada katarak subkortikal posterior atau anterior.
d. Diplopia monocular. Kadang-kadang, perubahan nuclear yang terkonsentrasi
pada bagian dalam lapisan lensa, menghasilkan area refraktil pada bagian
tengah dari lensa, yang sering memberikan gambaran terbaik pada reflek
merah dengan retinoskopi atau ophtalmoskopi langsung. Fenomena seperti ini
menimbulkan diplopia monocular yang tidak dapat dikoreksi dengan
kacamata, prisma, atau lensa kontak.
e. Noda, berkabut pada lapangan pandang.
f. Ukuran kaca mata sering berubah.
8. Diagnosis 3,9,10
Katarak biasanya didiagnosis melalui pemeriksaan rutin mata. Sebagian
besar katarak tidak dapat dilihat oleh pengamat awam sampai menjadi cukup
padat (matur atau hipermatur) dan menimbulkan kebutaan. Namun, katarak,
pada stadium perkembangannya yang paling dini, dapat diketahui melalui pupil
yang didilatasi maksimum dengan ophtalmoskop, kaca pembesar, atau slitlamp.
Fundus okuli menjadi semakin sulit dilihat seiring dengan semakin
padatnya kekeruhan lensa, sampai reaksi fundus sama sekali hilang. Pada
stadium ini katarak biasanya telah matang dan pupil mungkin tampak putih.
Pemeriksaan yang dilakukan pada pasien katarak adalah pemeriksaan sinar
celah (slit-lamp), funduskopi pada kedua mata bila mungkin, tonometer selain
daripada pemeriksaan prabedah yang diperlukan lainnya seperti adanya infeksi
pada kelopak mata, konjungtiva, karena dapat penyulit yang berat berupa
panoftalmitis pasca bedah dan fisik umum.

9. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan definitif untuk katarak senilis adalah ekstraksi lensa.
Lebih dari bertahun-tahun, tehnik bedah yang bervariasi sudah berkembang dari
metode yang kuno hingga tehnik hari ini phacoemulsifikasi. Hampir bersamaan
dengan evolusi IOL yang digunakan, yang bervariasi dengan lokasi, material,
dan bahan implantasi. Bergantung pada integritas kapsul lensa posterior, ada 2
tipe bedah lensa yaitu intra capsuler cataract ekstraksi (ICCE) dan ekstra
capsuler cataract ekstraksi (ECCE). Berikut ini akan dideskripsikan secara
umum tentang tiga prosedur operasi pada ekstraksi katarak yang sering
digunakan yaitu ICCE, ECCE, dan phacoemulsifikasi.3,9,11
1. Intra Capsular Cataract Extraction (ICCE)
Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsul.
Seluruh lensa dibekukan di dalam kapsulnya

dengan cryophake dan

depindahkan dari mata melalui incisi korneal superior yang lebar. Sekarang
metode ini hanya dilakukan hanya pada keadaan lensa subluksatio dan dislokasi.
Pada ICCE tidak akan terjadi katarak sekunder dan merupakan tindakan
pembedahan yang sangat lama populer.ICCE tidak boleh dilakukan atau
kontraindikasi pada pasien berusia kurang dari 40 tahun yang masih mempunyai
ligamen hialoidea kapsular. Penyulit yang dapat terjadi pada pembedahan ini
astigmatisme, glukoma, uveitis, endoftalmitis, dan perdarahan.
2. Extra Capsular Cataract Extraction ( ECCE )
Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran isi
lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga massa lensa
dan kortek lensa dapat keluar melalui robekan. Pembedahan ini dilakukan pada
pasien katarak muda, pasien dengan kelainan endotel, implantasi lensa intra

ocular posterior, perencanaan implantasi sekunder lensa intra ocular,


kemungkinan akan dilakukan bedah glukoma, mata dengan prediposisi untuk
terjadinya prolaps badan kaca, mata sebelahnya telah mengalami prolap badan
kaca, ada riwayat mengalami ablasi retina, mata dengan sitoid macular edema,
pasca bedah ablasi, untuk mencegah penyulit pada saat melakukan pembedahan
katarak seperti prolaps badan kaca. Penyulit yang dapat timbul pada
pembedahan ini yaitu dapat terjadinya katarak sekunder.
3. Phacoemulsification
Phakoemulsifikasi

(phaco)

adalah

teknik

untuk

membongkar

dan

memindahkan kristal lensa. Pada teknik ini diperlukan irisan yang sangat kecil
(sekitar 2-3mm) di kornea. Getaran ultrasonic akan digunakan untuk
menghancurkan katarak, selanjutnya mesin PHACO akan menyedot massa
katarak yang telah hancur sampai bersih. Sebuah lensa Intra Okular yang dapat
dilipat dimasukkan melalui irisan tersebut. Karena incisi yang kecil maka tidak
diperlukan jahitan, akan pulih dengan sendirinya, yang memungkinkan pasien
dapat dengan cepat kembali melakukan aktivitas sehari-hari.Tehnik ini
bermanfaat pada katarak kongenital, traumatik, dan kebanyakan katarak senilis

10. Komplikasi 12
a. Komplikasi Intra Operatif
Laserasi m.rectus superior saat penjahitan, perdarahan, cedera pada
kornea, iris dan lensa, prolaps korpus vitreus, iridodialisis.
b. Komplikasi Dini Pasca Operatif
Hifema, prolaps iris, endoftalmitis bacterial, glaucoma, uveitis, keratopati
striata.
c. Komplikasi Lambat Pasca Operatif
Ablasio retina, CME (cystoids macular edema), endoftalmitis kronik,
pseudophaki bullos keratopathy, post kapsul kapasiti.

11. Prognosis
Tindakan pembedahan secara defenitif pada katarak senilis memperbaiki
ketajaman penglihatan pada lebih dari 90% kasus. Pada katarak kongenital,
prognosisnya kurang memuaskan karena bergantung pada bentuk katarak dan
mungkin sekali pada mata tersebut terjadi amblyopia.13

BAB II
LAPORAN KASUS
A. IDENTITAS
Nama

: Tn. E. N

Umur

: 39 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-Laki

Alamat

: Benteng

Agama

: Kristen protestan

Pekerjaan

: Supir angkot

Nomor Register

: 08 09 01

Waktu Pemeriksaan : 16 Desember 2015


Ruang Pemeriksaan : Ruang Poliklinik Mata RSUD Dr. M. Haulussy Ambon
B. ANAMNESIS (tanggal 16 Desember 2015)
1. Keluhan utama :
Penglihatan Kabur
2. Anamnesis terpimpin :
Pasien datang dengan keluhan penglihatan kabur pada kedua mata. Keluhan ini
dialami kurang lebih 2 tahun yang lalu dan semakin memberat. Keluhan
disertai dengan penglihatan seperti ada bayangan berawan. Pasien juga
mengeluh silau (+), sakit kepala (+). Mata merah (-), gatal (-), nyeri (-), mual
(-), muntah (-).
3. Riwayat penyakit dahulu : Tidak diketahui
4. Riwayat kebiasaan: Merokok (+) alkohol (+)
5. Riwayat keluarga : Tidak ada
6. Riwayat penyakit sistemik : HT (-), DM (-)

7. Riwayat sosial : Tidak ada orang di lingkungan sekitar pasien yang mengalami
keluhan yang sama
8. Riwayat pemakaian kacamata : Tidak ada
C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Generalis
Kesadaran
Nadi
Respirasi
Suhu

: Compos Mentis (GCS: E4V5M6)


: 72 x/menit
: 20 x/menit
: 36,7 oC

2. Status Oftalmologi
a. Visus ODS : Visus OD : 1/60 ph 6/50 ,Visus OS : 1/300, Ph. Tetap
b. Segmen anterior ODS : dengan pen light
Segmen Anterior
OD

OS
Bola Mata

Edema (-), blefarospasme (-),

Edema (-), blefarospasme (-),

eritema (-), ektropion (-),


entropion (-), sekret (-),

Palpebra

hematom (-)

eritema (-), ektropion (-),


entropion (-), sekret (-),
hematom (-)

Kemosis (-), subconjunctival

Kemosis (-), Subconjunctival

bleeding (-), hiperemis (-),

bleeding (-), hiperemis(-),

anemis(-), pterigium (-), injeksi

Konjungtiva

anemis(-), pterigium (-),

konjungtiva

injeksi konjungtiva (-)

Jernih, infiltrat (-), arcus senilis

Jernih, Infiltrat (-), arcus

(-), edema (-), ulkus (-)


Dalam, hipopion (-), hifema(-)

Kornea

sinilis (-), edema (-), ulkus (-)

Bilik Mata

Dalam, hipopion (-), hifema(-)

Depan
Warna coklat tua, radier, sinekia
(-)
Bulat, 3 mm
Katarak Imatur

Iris
Pupil
Lensa

Warna coklat tua, radier,


sinekia(-)
Bulat, 3 mm
Katarak Matur

Gambar Skematik

c. Tekanan Intra Okuli


1.

Digital Palpasi : teraba normal

2.

Tonometer

: TIOD: 6/5,5= 14,6 mmhg, TIOS: 6/5,5= 14,6 mmhg

d. Pergerakan Bola Mata: Pergerakan ODS normal (bisa ke segala arah).

e. Funduskopi ODS : Tidak dilakukan


D. Pemeriksaan Penunjang : -

Foto Pasien :

E. Diagnosis Kerja
OD Katarak Imatur , OS Katarak Matur
F. Diagnosis Banding
Glaukoma kronik
Kelainan Refraksi
Ablasio Retina
G. Perencanaan
1. Terapi (tatalaksana) :

Cendo lyteers eye drops 4 dd gtt 1 ODS

2. Monitoring

Keluhan,Visus, dan segmen anterior mata

3. Edukasi

Penjelasan mengenai kondisi mata pasien saat ini

Tindakan yang harus dilakukan terhadap pasien

Komplikasi yang mungkin terjadi

Prognosis

H. PROGNOSIS
Quo ad Vitam (ODS)

: Bonam

Quo ad Visam (ODS)

: Dubia ed Bonam

Quo ad Sanasionam (ODS) : Dubia ed bonam

BAB III
DISKUSI
Pasien laki-laki, usia 39 tahun, datang ke Poliklinik Mata RSUD Dr. M.
Haulussy dengan keluhan penglihatan kabur pada kedua mata. Keluhan ini dialami
kurang lebih 2 tahun yang lalu dan semakin memberat. Keluhan juga disertai dengan
penglihatan seperti ada bayangan berawan. Pasien juga mengeluh silau dan sakit
kepala (+).
Sesuai kepustakaan, gejala-gejala yang di alami pasien ini mengarah kepada
diagnosis katarak. Katarak menyebabkan penurunan penglihatan progresif tanpa rasa
nyeri. Umumnya pasien katarak menceritakan riwayat klinisnya langsung tepat
sasaran, dan pasien menceritakan kepada dokter mata, aktivitas apa saja yang
terganggu. Selain itu, pasien katarak sering mengeluh silau.
Pada pemeriksaan fisik visus OD 1/60 ph 6/50 ,Visus OS : 1/300, Ph Tetap dan
dengan menggunakan pen light dan slit lamp didapatkan OD dengan lensa sebagian
keruh yang mengindikasikan suatu katarak Imatur dan OS

dengan lensa yang

seluruhnya keruh mengindikasikan suatu katarak matur kemudian mengingat usia


pasien yang baru usia 39 tahun maka digolongkan dalam katarak senilis.
Diagnosa banding seperti glukoma dan ablasio retina dapat dieliminasi karena
pasien menyangkal mengalami muntah dan serta TIO dalam batas normal, sehingga

glaucoma dapat disingkirkan. Disamping itu pasien juga tidak mengeluhkan


penglihatan seperti tertutup tirai yang dapat ditemukan pada pasien ablasio retina.
Penatalaksanaan pada katarak senilis yang telah mengganggu aktivitas haruslah
dengan pembedahan (tindakan operatif). Pembedahan berupa ektraksi lensa dapat
dilakukan secara intrakapsuler, atau fakoemulsifikasi. Pada pasien ini pembedahan
sementara ditolak oleh pasien karena akan didiskusikan dengan keluarga terlebih
dahulu. Sementara, pasien diberikan terapi dengan obat tetes Cendo lyteers dan
dianjurkan untuk kontrol kembali 2 minggu kemudian.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas S, Mailangkay HB, Taim Hilman, dkk. Ilmu Penyakit Mata Untuk Dokter
Umum dan Mahasiswa Kedokteran. Jakarta: Sangung Seto. 2012.
2. Snell SR. Neuroanatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi 5.
Jakarta: EGC. 2006.
3. Ilyas S, Yulianti SR.Ilmu penyakit mata. Edisi IV. Jakarta: BPFKUI. 2013.
4. Putra M. Penyakit katarak. senilis [serial online December 2011] [cited
Desember 2015]:[ 15 screens]. Available from: URL:
http://respiratory.usu.ac.id/bitstream/123456789/24653/3/Chapter%20II.pdf
5. S Retniadi, Dicky H. Pengaruh jenis insisi pada operasi katarak terhadap
terjadinya sindroma mata kering. [serial online 2012] [cited Desember 2015]:[
15 screens]. Available from: URL:
http://jkb.ub.ac.id/index.php/jkb/article/viewFile/327/311.
6. American Academy of ophthalmology staff. Fundamental and Principles of
Ophthalmology.

United

State

of

America:

America

Academy

of

Ophthalmology. 2011-2012.p.273-318
7. Ilyas S. Dasar teknik pemeriksaan dalam ilmu penyakit mata. Edisi 4. Jakarta:
BPFKUI. 2012.

8. Murril A.C, Stanfield L.D, Vanbrocklin D.M, Bailey L.I, Denbeste P.B, Dilomo
C.R, et all. (2004). Optometric clinical practice guideline. American
optometric association: U.S.A
9. Said AK. Patologi dan Penatalaksanaan pada Katarak senilis [serial online
December 2010] [cited 2015 mei ]:[ 15 screens]. Available from: URL:
https://alfinzone.files.wordpress.com/2010/12/patologi-pada-katarak1.pdf
10. Ilyas S.Ikhtisar Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: BPFKUI. 2009.
11. Edison SK. Diagnosa dan Penatalaksanaan Katarak. [serial online December
2010] [cited 2015 mei ]:[ 15 screens]. Available from: URL:
http://respiratory.unand.ac.id/278/1/Diagnosa_dan_Penatalaksanaan_Katarak.p
df
12. Randleman BJ. Ctaract. [serial online 2014] [cited December 2015 ]:[ 5
screens]. Available from: URL:
http://www.emedicinehealth.com/cataracts/page3_em.htm
13. Vaughan, Daniel G, dkk. Oftalmologi Umum. Edisi 14. Jakarta: Widya
Medika. 2010.