Anda di halaman 1dari 12

Kaidah Dasar Bioetik

Jennifer
Mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA, Jakarta
Pendahuluan
Perkembangan yang begitu pesat di bidang biologi dan ilmu kedokteran membuat
etika kedokteran tidak mampu lagi menampung seluruh masalahan yang berkaitan dengan
kehidupan. Etika kedokteran berbicara tentang bidang medis dan profesi saja, terutama
hubungan dokter dengan pasien, keluarga, masyarakat dan teman sejawat. Oleh karena itu,
sejak 3 dekade terakhir ini telah dikembangkan bioetika atau disebut juga etika biomedis.1
Bioetika berasal dari kata bios yang berarti kehidupan dan ethos yang berarti normanorma atau nilai-nilai moral. Bioetika atau etika medis merupakan studi indisipliner tentang
masalah yang ditimbulkan oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu kedokteran baik
skala mikro maupun makro, masa kini dan masa mendatang. Bioetika mencakup isu-isu
sosial, agama, ekonomi, dan hukum bahkan politik. Bioetika selain membicarakan bidang
medis, seperti abortus, euthanasia, transplantasi organ, teknologi reproduksi buatan, dan
rekayasa genetik, membahas pula masalah kesehatan, faktor budaya yang berperan dalam
lingkup kesehatan masyarakat, hak pasien, moralitas penyembuhan tradisional, lingkungan
kerja, demografi, dan sebagainya. Bioetika memberi perhatian yang besar pula terhadap
penelitian kesehatan pada manusia dan hewan percobaan.1,3,5
Beberapa contoh pertanyaan didalam Bioetika adalah : Apakah seorang dokter
berkewajiban secara moral untuk memberitahukan kepada seseorang yang berada dalam
stadium terminal bahwa ia sedang sekarat? Apakah membuka rahasia kedokteran dapat

dibenarkan secara moral? Apakah aborsi ataupun euthanasia dapat dibenarkan secara moral?
1,4

Beauchamp dan Childress (1994) menguraikan untuk mencapai ke suatu keputusan


etik diperlukan 4 kaidah dasar moral (moral principle) dan beberapa rules dibawahnya. Ke-4
kaidah dasar moral tersebut adalah : 1. Prinsip Otonomy/autonomy, 2. Prinsip beneficence, 3.
Prinsip non-maleficence, 4. Prinsip Justice. 1,4
Tujuan Bioetik sendiri ialah untuk membantu dokter dalam berhadapan dengan
pasien, untuk mencegah dokter berbuat seenaknya pada pasien, untuk melindungi hak
pasien.1
Dalam makalah ini, diharapkan penulis maupun pembaca dapat memahami empat
prinsip dasar bioetika yaitu: Beneficence, Non Maleficence, Autonomy, Justice. Selain itu,
makalah ini akan menggunakan contoh kasus untuk semakin menjelaskan tentang keempat
prinsip itu.
Alamat Korespondensi:
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510
Telephone: (021) 5694-2061 (hunting),
Fax: (021) 563-1731
Email: jennifer@civitas.ukrida.ac.id

Beneficence
Beneficence adalah bahwa seorang dokter berbuat baik, menghormati martabat
manusia, dokter tersebut harus berusaha maksimal agar pasiennya tetap dalam kondisi sehat.
Perlakuan terbaik kepada pasien merupakan poin utama dalam kaidah ini. Kaidah
beneficence menegaskan peran dokter untuk menyediakan kemudahan dan kesenangan
kepada pasien dan mengambil langkah positif untuk memaksimalisasi akibat baik daripada
hal yang buruk.2 Ciri-ciri Beneficence :
1.

Mengutamakan alturisme

2.

Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia

3.

Memandang pasien atau keluarga bukanlah suatu tindakan tidak hanya


menguntungkan seorang dokter

4.

Mengusahakan agar kebaikan atau manfaatnya lebih banyak dibandingkan


dengan suatu keburukannya

5.

Paternalisme bertanggung jawab/kasih sayang

6.

Menjamin kehidupan baik-minimal manusia

7.

Pembatasan goal based

8.

Memaksimalisasi pemuasan kebahagiaan/preferensi pasien

9.

Minimalisasi akibat buruk

10.

Kewajiban menolong pasien gawat darurat

11.

Menghargai hak-hak pasien secara keseluruhan

12.

Tidak menarik honorarium di luar kepantasan

13.

Maksimalisasi kepuasaan tertinggi secara keseluruhan

14.

Mengembangkan profesi secara terus menerus

15.

Memberi suatu obat berkhasiat namun murah

16.

Menerapkan Golden Rule Principle

Beneficence memiliki dua prinsip yaitu:


1. Positive Beneficence
Mencegah hal yang jahat dan membahayakan serta berbuat baik pada pasien.
Dalam

hal

ini,

seorang

dokter

memaksimalisasi

akibat

baik

dan

meminimalisasi akibat buruk.


2. Balancing of Utility / Proportionality
Mempertimbangkan dengan bijaksana manfaat dan kerugian dalam hal biaya,
efektivitas, dan besarnya resiko.
Beneficence memiliki dua jenis yaitu :
1.

General beneficence : 2

2.

melindungi & mempertahankan hak yang lain

mencegah terjadi kerugian pada yang lain,

menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain,

Specific beneficence : 2
O

menolong orang cacat,

menyelamatkan orang dari bahaya

Kaidah Benefince dalam kasus dr. Bagus :


1. Dr. Bagus telah lama bertugas di suatu desa terpencil yang sangat jauh dari kota.
Sehari-harinya ia bertugas di sebuah puskesmas yang hanya ditemani oleh seorang
mantri, hal ini merupakan pekerjaan yang cukup melelahkan karena setiap harinya
banyak warga desa yang datang berobat karena puskesmas tersebut merupakan
satu-satunya sarana kesehatan yang ada. Dr. Bagus bertugas dari pagi hari sampai
sore hari tetapi tidak menutup kemungkinan ia harus mengobati pasien dimalam
hari bila ada warga desa yang membutuhkan pertolongannya. (Paragraf 1).
Disini dr. Bagus menunjukan bahwa ia melayani pasien tanpa mengenal batas
waktu, walaupun sebenarnya ia merasakan kelelahan, tetapi hal tersebut tidak
meruntuhkan niatnnya untuk menolong pasien dokter bagus juga rela berkorban
demi

orang

lain.

Dalam kasus ini, dr. Bagus telah menjalankan prinsip altruisme dan maksimalisasi
pemuasaan kebahagiaan/preferensi pasien dalam kaidah Beneficence.
2. Dr. Bagus memberikan beberapa macam obat dan vitamin serta nasehat agar
istirahat

yang

cukup.

(Paragraf

2).

Disini dr. Bagus memberi perhatian penuh kepada pasien, dalam mengusahakan
agar kebaikan serta manfaatnya lebih besar dibandingkan dengan kerugian yang
akan diterima pasien dan minimalisasi akibat buruk.
3. baiklah kalau begitu saya akan member ibu obat dan ORALIT untuk anak ibu,
nanti ibu berikan obat tersebut sesuai dengan aturan dan usahakan anak ibu
minum oralit sesering mungkin, nanti sore setelah selesai tugas saya akan
mampir ke rumah ibu untuk melihat kondisi anak ibu kata dr. Bagus. (Paragraf
3)

Disini dr. Bagus menjalankan prinsip alturisme dengan akan mengontrol anak ibu
tersebut setelah Ia selesai bekerja, meminimalisasi akibat buruk dengan
memberikan Oralit sebagai cairan pengganti tubuh agar anak tersebut tidak
dehidrasi serta memberikan obat yang berkhasiat namun murah.
4. Pak, yang hanya saya dapat lakukan adalah memberi obat obatan penunjang
agar anak bapak tidak terlalu menderita kata dr.Bagus sambil menyerahkan obat
kepada orang tua pasien ( Paragraf 4).
Disini dr.Bagus berusaha meminimalisasi akibat buruk dari anak bapak tersebut
sehingga dr.Bagus telah menerapkan prinsip beneficence.

5. Dokter Bagus curiga pasien tersebut menderita penyakit jantung sehingga ia


membuat surat rujukan kerumah sakit yang berada dikota. (Paragraf 6)
Disini dokter Bagus menunjukkan mengusahakan agar kebaikan lebih banyak dari
keburukannya dan minimalisasi akibat buruk dengan memberikan surat rujukan.
Pelanggaran Beneficence dalam kasus dr.Bagus yaitu :
1. Pasien kelima adalah seorang ibu muda yang sangat cerewet, karena begitu masuk
si ibu tadi sudah mengeluh berbagai macam keluhan. Dokter Bagus tidak
menanggapi keluhan si ibu muda tadi dan segera membuat surat rujukan untuk ibu
tersebut ke LAB KLINIK Cepat tepat langganannya di kota. Dari Lab Klinik ini
dr.Bagus mendapat sejumlah uang ternyata sejajar dengan pasien yang ia kirim ke
situ. Pernah 2 bulan yang lalu dengan 20 pasien yang ia kirim, ia memperoleh
Rp.300.000. (Paragraf 7).
Disini

dr.Bagus

melanggar

kaidah

beneficence

yaitu

dimana

dr.Bagus

mengutamakan keuntungannya sebagai dokter dan menarik honorarium di luar


batas harga yang wajar.

Non-maleficence
Non-maleficence adalah suatu prinsip dimana seorang dokter tidak melakukan
perbuatan yang memperburuk pasien dan memilih pengobatan yang paling kecil resikonya
bagi pasien yang dirawat atau diobati olehnya. Pernyataan kuno First do no harm, tetap
berlaku dan harus diikuti. Non-maleficence mempunyai ciri-ciri:

1.

Menolong pasien emergensi

2.

Kondisi untuk menggambarkan criteria ini adalah :

Pasien dalam keadaan amat berbahaya (darurat)

Dokter sanggup mencegah bahaya/kehilangan tersebut

Tindakan kedokteran tadi terbukti efektif

Manfaat bagi pasien lebih banyak daripada kerugian

3.

Mengobati pasien yang luka

4.

Tidak membunuh pasien

5.

Tidak menghina/mencaci maki/memanfaatkan pasien

6.

Tidak memandang pasien sebagai objek

7.

Mengobati pasien secara tidak proporsional

8.

Mencegah pasien dari bahaya

9.

Menghindari misrepresentasi dari pasien

10.

Tidak membahayakan pasien karena kelalaian

11.

Memberikan semangat hidup

12.

Melindungi pasien dari serangan

13.

Tidak melakukan white collar crime dalam bidang kesehatan

Kaidah Non - Maleficence dalam kasus dr. Bagus:


1. Ketika yang lain sibuk membaringkan pemuda yang tidak sadarkan diri tersebut,
salah satu orang mengatakan bahwa pemuda tersebut telapak tangan sebelah
kanannya masuk kedalam mesin penggilingan padi dan setelah 15 menit kemudian
telapak tangan pemuda tersebut baru dapat dikeluarkan dari mesin penggilingan
padi. Pada pemeriksaan, dokter Bagus mendapatkan telapak tangan pemuda
tersebut hancur. Dokter Bagus bertanya kepada orang-orang yang mengantar

pemuda tadi apakah diantara mereka ada keluarga dari pemuda tersebut. Dari
serombongan orang tadi keluar seorang perempuan, ia mengatakan bahwa ia
adalah istri dari pemuda tersebut. Dokter Bagus menjelaskan keadaan telapak
tangan kanan suaminya dan tindakan yang harus dilakukan adalah amputasi.
(Paragraf 5).
Disini dr.Bagus berusaha untuk menyelamatkan pasiennya yang berada dalam
keadaan gawat darurat yaitu dengan melakukan amputasi dalam hal untuk
meminimalisasi akibat buruk yang akan merugikan pasien, seperti kehilangan
nyawa akibat pendarahan.
Pelanggaran non-maleficence dalam kasus dr.Bagus yaitu :
1. Pasien kelima adalah seorang ibu muda yang sangat cerewet, karena begitu masuk
si ibu tadi sudah mengeluh berbagai macam keluhan. Dokter Bagus tidak
menanggapi keluhan si ibu muda tadi dan segera membuat surat rujukan untuk ibu
tersebut ke LAB KLINIK Cepat tepat langganannya di kota. Dari Lab Klinik ini
dr.Bagus mendapat sejumlah uang ternyata sejajar dengan pasien yang ia kirim ke
situ. Pernah 2 bulan yang lalu dengan 20 pasien yang ia kirim, ia memperoleh
Rp.300.000. (Paragraf 7).
Disini dr.Bagus telah melanggar kaidah non-maleficence karena dr.Bagus telah
memanfaatkan pasien , memandang pasien sebagai obyek, serta melakukan white
collar crime dalam bidang yang digelugutinya.

Autonomi
Dalam kaidah ini, seorang dokter wajib menghormati martabat dan hak manusia.
Setiap individu harus diperlakukan sebagai manusia yang mempunyai hak menentukan nasib
sendiri. Dalam hal ini pasien diberi hak untuk berfikir secara logis dan membuat keputusan
sendiri. Autonomi bermaksud menghendaki, menyetujui, membenarkan, membela, dan
membiarkan pasien demi dirinya sendiri. Kaidah Autonomi mempunyai cirri-ciri sebagai
berikut:
1.

Menghargai hak menentukan nasib sendiri

2.

Tidak mengintervensi pasien dalam membuat keputusan

3.

Berterus terang

4.

Menghargai privasi

5.

Menjaga rahasia pasien

6.

Menghargai rasionalitas pasien

7.

Melaksanakan Informed Consent

8.

Membiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil keputusan sendiri

9.

Tidak mengintervensi atau menghalangi autonomi pasien

10.

Mencegah pihak lain mengintervensi pasien dalam membuat keputusan,


termasuk keluarga pasien sendiri

11.

Sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus non
emergensi

12.

Tidak berbohong kepada pasien meskipun demi kebaikann pasien

13.

Menjaga hubungan atau kontrak

Kaidah Autonomi dalam kasus dr. Bagus :


1. Pasien kedua adalah seorang anak balita tampak lemah karena sudah 2 hari buangbuang air besar. Ibunya memeriksakan anak tersebut pada dr.Bagus dan dr.Bagus
menyarankan agar anak tersebut dirawar di rumah sakit yang berada dikota.
Namun ibu tersebut menolak karena tidak mempunyai uang untuk berobat. Dan
dr.Bagus juga berjanji akan mampor kerumah ibu itu untuk melihat kondisi
keadaan anak ibu itu lagi setelah selesai tugas. ( Paragraf 3)
Disini dokter Bagus menunjukkan bahwa setiap keputusan itu berada di tangan
pasien, dan dokter bagus tidak mengintervensi keputusan dari ibu tersebut. Dia
juga tetap menjaga hubungan atau kontrak dengan pasien, dengan berjanji akan
mengunjungi anak dari ibu tersebut.
2

Pasien ketiga adalah seorang anak laki-laki. Pasien tersebut menderita keganasan
stadium lanjut. Sebelumnya pasien tersebut pernah dilakukan pembedahan di
rumah sakit. Namun keluarga pasien menghentikan pengobatannya lebih lanjut.

Orangtua pasien bukanlah orang kaya sehingga mereka tak mampu membeli obatobatan kemoterapeutik yang mahal. Tetapi orangtua pasien ingin anaknya
mendapat pengobatan lebih lanjut. Dokter bagus menjelaskan kepada orangtuanya
bahwa kondisi anaknya tidak dapat ditingkatkan dan sangat sulit bagi mereka
untuk membeli obat-obatan mahal tersebut. Dan juga fakta bahwa kemungkinan
anak tersebut untuk sembuh sangat kecil walau sudah diberikan obat sekalipun.
Sehingga dokter Bagus hanya dapat memberi obat-obatan penunjang agar anak
bapak tersebut tidak terlalu menderita. (Paragraf 4)
Disini terlihat bahwa dr.Bagus telah menerapkan prinsip otonomi dari berbagai
aspek yaitu aspek nomor menghargai hak menentukan nasib sendiri, berterus
terang, tidak berbohong kepada pasien meskipun demi kebaikan pasien serta tidak
menginetvensi/menghalangi otonomi pasien.
3.

Dokter Bagus menjelaskan keadaan telapak tangan kanan suaminya dan tindakan
yang harus dilakukan adalah amputasi. Walau dengan berat hati, istri pemuda
tersebut menyetujui tindakan yang akan dilakukan dokter. (Paragraf 5).
Disini dr. Bagus berterus terang dan tidak berbohong demi kebaikan pasien itu
sendiri serta menjalankan informed consent dengan meminta persetujuan istri si
pemuda tersebut.

4. Melihat kondisi pasien yang baik dan stabil, akhirnya pasien diperbolehkan pulang
dengan diberi beberapa macam obat dan anjuran agar besok datang kembali untuk
kontrol. (Paragraf 5).
Dapat dilihat bahwa dokter Bagus sepenuhnya memberikan keputusan kepada
pasien, apakah dia mau dirawat atau tidak, dan dokter Bagus pun tetap menjaga
hubungannya dengan pasien melalui kontrol rutin yang dilakukannya.
Justice
Keadilan atau Justice adalah suatu prinsip dimana seorang dokter wajib memberikan
perlakuan sama rata serta adil untuk kebahagiaan dan kenyamanan pasien tersebut. Perbedaan
tingkat ekonomi, pandangan politik, agama, kebangsaan, perbedaan kedudukan sosial, , dan
kewarganegaraan tidak boleh mengubah sikap dan pelayanan dokter terhadap pasiennya.
Justice mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

1.

Memberlakukan segala sesuatu secara universal

2.

Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan

3.

Memberikan kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama

4.

Menghargai hak sehat pasien

5.

Menghargai hak hukum pasien

6.

Menghargai hak orang lain

7.

Menjaga kelompok rentan

8.

Tidak membedakan pelayanan terhadap pasien atas dasar SARA, status social,
dan sebagainya

9.

Tidak melakukan penyalahgunaan

10.

Memberikan kontribusi yang relatif sama dengan kebutuhan pasien

11.

Meminta partisipasi pasien sesuai dengan kemampuannya

12.

Kewajiban mendistribusikan keuntungan dan kerugian secara adil

13.

Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten

14.

Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alasan sah atau tepat

15.

Menghormati hak populasi yang sama sama rentan penyakit atau gangguan
kesehatan

16.

Bijak dalam makroalokasi

Kaidah Justice dalam kasus dr. Bagus :


1. Pada suatu pagi hari, ketika ia datang ke puskesmas sudah ada 4 orang pasien
yang sedang mengantri. Dokter bagus memeriksa pasien sesuai nomor urut
pendaftaran, hal ini dilakukannya agar pemeriksaan pasien berjalan tertib teratur.
(Paragraf 2).

Disini dokter Bagus menunjukkan keadilannya dalam menangani pasien, ia


memeriksa pasiennya secara teratur menurut nomor urut agar pemeriksaan
berjalan dengan tertib, lancar dan tidak membeda-bedakan pasien.
2. Pak mantri tolong bikinkan puyer untuk anak ibu ini dan setelah itu tolong
jelaskan cara membuat air oralit pada ibu ini kata dokter Bagus kepada pak
mantri. (Paragraf 3)
Dari percakapan dokter bagus diatas, dapat dilihat jika dokter Bagus menjalankan
prinsip Justice yang ke sepuluh, yaitu memberikan kontribusi yang relatif sama
dengan kebutuhan pasien
3. Dokter Bagus meminta kesediaan pasien keempat untuk menunggu diluar karena
ia akan terlebih dahulu memberi pertolongan pada pemuda tersebut. (Paragraf 5).
Di sini dokter bagus menjalankan prinsip Justice yang ketiga, yaitu memberi
kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama.
Pelanggaran justice dalam kasus dr.Bagus yaitu :
1. Setelah pasien kelima, dokter Bagus melihat keluar ruangan, tampak antrian
pasien yang masih banyak. pak mantri tolong umumkan kepasien, saya akan
istirahat makan sejenak kata dr.Bagus. ( Paragraf 8 )
Disini dr.Bagus tidak mengamalkan justice dalam pelayanannya karena ia tidak
bijak dalam makroalokasi dengan mementingkan kepentingan pribadinya untuk
beristirahat sejenak padahal pasiennya masih banyak yang mengantri.
Penutup
Bioetika merupakan pedoman bagi dokter untuk bertindak pada pasiennya yang
bertujuan untuk kenyamanan pasien dan dokter itu sendiri. Bioetika ini terdiri dari empat
bagian yaitu beneficence, non-maleficence, justice dan autonomy, dimana pada tiap-tiap
bagian itu mengandung sebuah arti dimana suatu tindakan harus diambil. Pada kasus
dr.Bagus ini ditemui ke empat aspek tersebut. Walaupun terdapat adanya pelanggaranpelanggaran yang terjadi pada 2 paragraf terakhir. Namun dr.Bagus telah menerapkan prinsip
bioetika dalam tindakan medisnya tersebut.

Daftar Pustaka
1. Hanafiah MJ, Amir A. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. Edisi ke-4.
Jakarta: EGC; 2008. h. 3-4.
2. Budiman H, Darmino S. Bioetika, Humaniora dan Profesionalisme dalam profesi
dokter. Jakarta. 2011
3. Budi S, Zulhasmar S, Tjetjep DS. Bioetik dan Hukum kedokteran. Ed 1. Jakarta :
Pustaka Dwipar; 2005.h.29-31
4. Guwandi J. Hukum dan Dokter. Jakarta: Sagung Seto; 2008. h. 61
5. William Chang, Bioetika Sebuah Pengantar. Jakarta. 2009.h. 8