Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

A. Dasar Pemikiran
Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh seluruh
komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat
yang setinggi-tingginya Salah satu upaya pokok pembangunan kesehatan yaitu
menjamin tersedianya upaya kesehatan, baik upaya kesehatan primer dan sekunder
maupun upaya kesehatan tersier yang bermutu, merata, dan terjangkau oleh masyarakat.
Upaya

kesehatan

diselenggarakan

dengan

pengutamaan

pada

upaya

pencegahan/preventif, dan peningkatan kesehatan/promotif bagi segenap warga negara


Indonesia, tanpa mengabaikan upaya penyembuhan penyakit/kuratif, dan pemulihan
kesehatan /rehabilitatif (Depkes RI, 2009).
Penyelenggaraan pembangunan kesehatan didukung dengan ketersediaan
berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, tersedianya fasilitas pelayanan kesehatan dan
fasilitas pelayanan umum yang layak merupakan tanggung jawab negara dan setiap
orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan sebagaimana tercantum dalam Undangundang Dasar 1945 pasal 28 H dan Pasal 34 ayat 3 (Depkes RI, 2009). Salah satu sarana
atau fasilitas pelayanan kesehatan adalah rumah sakit, dalam undang-undang Nomor 44
tahun 2009 tentang rumah sakit tercantum bahwa rumah sakit adalah institusi pelayanan
kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna
yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat.
RSUD R SYAMSUDIN SH merupakan rumah sakit pusat rujukan terbesar di
Sukabumi. Memiliki segala fasilitas pelayanan kesehatan yang meliputi pelayanan gawat
1

darurat, bedah, rawat jalan, dan rawat inap. Salah satu unit yang menampung paling
banyak pasien adalah unit rawat inap, dengan berbagai jenis bangsal perawatan.
Diantaranya bangsal perawatan maternitas untuk ibu nifas, yaitu ruang Mawar Merah.
Ruang Mawar Merah adalah suatu unit perawatan yang merawat klien untuk masa
pemulihan masa post partum dan klien yang mengalami gangguan reproduksi.
Di ruangan ini, mayoritas pasien post partum baik fisiologis maupun sectio
caesarea. Pasien post partum dan post op sectio caesarea harus di observasi sedini
mungkin mengenai berbagai komplikasi sebagai akibat dari post partum normal ataupun
tidak karena ibu dengan status post partum sangat beresiko sekali mengalami nyeri dan
terkena infeksi terlebih ibu dengan luka post op sc. Ibu yang mengalami post op sectio
caesarea pada dasarnya merasakan nyeri setelah dilakukan insisi bedah. Nyeri
merupakan masalah utama dalam perawatan pasca operasi yang berupa pengalaman
sensori dan emosinal yang tidak menenangkan akibat dari kerusakan jaringan.
Strategi penatalaksanaan nyeri mencakup pendekatan farmakologi dan
nonfarmakologi. Salah satu strategi pendekatan nonfarmakologi adalah dengan manajem
en nyeri seperti reelaksasi dan distraksi yang biasa diterapkan oleh perawat ruangan.
Adapun bagian dari manajmen nyeri adalah dengan imaginasi terbimbing. Imaginasi
terbimbing adalah penciptaan khayalan dengan tuntutan yang merupakan suatu bentuk
pengalihan fasilitator yang mendorong pasien untuk memvisualisasikan atau memikirkan
pemandangan atau sensasi yang menyenangkan untuk mengalihkan perhatian menjauhi
nyeri. Dalam imajinasi terbimbing, pasien menciptakan pesan dalam pikiran,
berkonsentrasi pada kesan tersebut, sehingga secara bertahap, pasien kurang merasakan
nyeri. Tujuan dari tehknik imajinasi terbimbing adalah untuk mencapai relaksasi dan
kontrol. Imajinasi seseorang yang dirancang secara khusus untuk mencapai efek positif
tertentu untuk relaksasi dan meredakan nyeri yang dapat dilakukan dengan
2

menggabungkan nafas berirama lambat dengan suatu bayangan mental relaksasi dan
kenyamanan. Dengan mata terpejam, pasien diinstruksikan untuk membayangkan bahwa
dengan setiap nafas yang di ekshalasi secara lambat, ketegangan otot dan ketidaknyaman
dikeluarkan. Banyak pasien mulai mengalami efek rileks dari imajinasi terbimbing
setelah mencobanya. Biasanya setelah nyeri berkurang, ibu bisa melakukan ambulasi
dini dengan efektif tanpa ada nyeri yang mengganggu.
Selain manajemen nyeri pada ibu post op SC, patien safety juga harus
diperhatikan untuk meminimalkan resiko terjadinya infeksi nasokomial. Salah satu
patien safety yang dapat dilakukan adalah dengan memasang kolap infuse menggunakan
identitas pemasangan infuse seperti tanggal pemasangan, labu ke berapa dan harus habis
dalam berapa jam serta harus dilakukan perawatan infuse untuk meminimalkan resiko
infeksi atau phlebitis.
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 11 Januari 2016, terdapat beberapa
masalah yang ada di ruang Mawar Merah, yaitu kurangnya penerapan patien safety dan
Belum optimalnya pengelolaan rasa nyeri pada pasien post SC.
Berdasarkan paparan diatas maka kelompok akan melakukan rencana tindak
lanjut dari masalah manajemen yang ditemukan, serta melengkapi dan menjalankan
intervensi yang telah disusun oleh kelompok bersama dengan preseptor dan perawat
ruangan.

B. Tujuan Pelaporan
1. Tujuan Umum
Menerapkan proses tahap manajemen operasional pelayanan keperawatan di ruang
Mawar Merah RSUD R SYAMSUDIN SH Kota Sukabumi
2. Tujuan Khusus
Setelah melakukan praktek selama 12 hari calon praktisi keperawatan mampu:
3

a. Melakukan kajian situasi di Ruang Mawar Merah sebagai dasar untuk menyusun
rencana strategi dan operasional unit.
b. Merumuskan masalah berdasarkan hasil kajian bersama-sama penanggung jawab
ruangan
c. Merumuskan Planning of Action sesuai dengan masalah yang didapat
d. Melakukan implementasi manajemen sesuai dengan POA (Planning of Action)
yang telah disusun
e. Melakukan evaluasi manajemen operasional pelayanan keperawatan.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Perawatan Pascapartum
1. Konsep-konsep Esensial
a. Perawatan pascapartum mengacu pada pelayanan medis dan keperawatan yang
diberikan kepada wanita selama nifas, yakni periode 6 minggu setelah kelahiran,
dimulai dari akhir persalinan dan berakhir dengan kembalinya organ-organ
reproduktif ke keadaan sebelum hamil.
b. Periode ini merupakan penyesuaian fisik dan psikologis terhadap proses kelahiran
dan kadang-kadang disebu sebagai trimester ke empat kehamilan.
c. Selama periode ini, uterus mengalami involusi-perubahan progresif uterus setelah
kelahiran, mengantar kembali uterus ke ukuran dan kondisi yang mendekati
sebelum kehamilan.
d. Satu aspek perawatan pascapartum yang biasanya mengalami kerugian karena tren
pemulangan cepat adalah dukungan dalam menyusui ASI.
2. Tujuan Perawatan Pascapartum
a. Meningkatkan involusi uterus normal dan kembali ke keadaan sebelum hamil.
b. Mencegah atau meminimalkan komplikasi pascapartum.
4

c. Meningkatkan kenyamanan dan penyembuhan pelvik, jaringan perianal, dan


perineal.
d. Membantu pemulihan fungsi tubuh normal.
e. Meningkatkan pemahaman terhadap perubahan-perubahan
f.
g.
h.
i.

fisiologis

dan

psikologis.
Memfasilitasi perawatan bayi baru lahir dan perawatan mandiri oleh ibu baru.
Meningkatkan keberhasilan integrasi bayi baru lahir ke dalam unit keluarga.
Menyokong keterampilan peran orang tua dan pelekatan orang tua bayi.
Menyiapkan perencanaan pulang yang efektif, termasuk rujukan yang tepat
perawatan lanjutan di rumah. (Penyuluhan Klien dan Keluarga 10-1 menjelaskan
tanda dan gejala peringatan pascapartum yang harus diperhatikan untuk dilaporkan

pada dokter).
3. Penyuluhan Klien Dan Keluarga 10-1
Tanda Dan Gejala Bahaya Pascapartum Untuk Dilaporkan Ke Dokter
a. Peningkatan perdarahan, bekuan darah, atau keluaran jaringan
b. Perdarahan pervaginam merah terang setiap waktu setelah kelahiran
c. Nyeri lebih berat dari yang seharusnya
d. Merasa kandung kemih penuh disertai ketidakmampuan untuk berkemih
e. Pembesaran hematoma
f. Perasaan gelisah disertai dengan kulit yang pucat, dingin dan lembab; denyut
jantung cepat; pusing, dan gangguan penglihatan
g. Nyeri, kemerahan dan hangat disertai area yang keras pada betis
h. Sulit bernapas, denyut jantung cepat, nyeri dada, batuk, perawaan gelisah, pucat,
dingin atau warna kulit biru.
4. Faktor-faktor yang Memengaruhi Pengalaman Pascapartum
a. Sifat persalinan dan kelahiran, serta tujuan kelahiran
b. Persiapan persalinan, kelahiran, dan peran menjadi orang tua
c. Transisi menjadi orang tua yang mendadak
d. Pengalaman keluarga secara individual atau bersama terhadap kelahiran anak dan
membesarkan anak
e. Harapan peran anggota keluarga
f. Kepekaan dan efekivitas asuhan keperawatan dan perawatan professional lainnya.
g. Faktor-faktor risiko pada komplikasi pascapartum; factor-faktor risiko tersebut
meliputi:
1) Preeklamsia atau eklamsia
2) Diabetes
3) Masalah jantung
4) Distensi uterus yang berlebihan (sebagai akibat kelahiran multiple atau
hidramnion)
5) Solusio plasenta atau plasenta previa
5

6) Persalinan presipitatus atau persalinan lama, kesulitan melahirkan, atau


lamanya waktu yang digunakan pada penyangga kaki.
B. NYERI
1. Pengertian nyeri
Nyeri adalah suatu perasaan menderita secara fisik dan mental atau perasaan
yang bisa menimbulkan ketegangan (Alimul, 2009).
Nyeri adalah suatu keadaan yang tidak menyenangkan akibat terjadinya
rangsangan fisik maupun dari serabut saraf dalam tubuh ke otak dan diikuti oleh
reaksi fisik, fisiologis, dan emosional (Alimul, 2009).
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan dimana
berhubungan dengan ketidak nyamanan akibat dari kerusakan jaringan atau potensial
terjadi kerusakan jaringan. Sebagai mana diketahui bahwa nyeri tidaklah selalu
berhubungan dengan derajat kerusakan jaringan yang dijumpai. Namun nyeri bersifat
individual yang dipengaruhi oleh genetik, latar belakang kultural, umur dan jenis
kelamin.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nyeri
a. Usia
Usia merupakan variabel yang penting yang mempengaruhi nyeri khususnya
anak-anak dan lansia. Pada kognitif tidak mampu mengingat penjelasan tentang
nyeri atau mengasosiasikan nyeri sebagai pengalaman yang dapat terjadi di
berbagai situasi. Nyeri bukan merupakan bagian dari proses penuaan yang tidak
dapat dihindari, karena lansia telah hidup lebih lama mereka kemungkinan lebih
tinggi untuk mengalami kondisi patologis yang menyertai nyeri. Kemampuan klien
lansia untuk menginterpretasikan nyeri dapat mengalami komplikasi dengan
keadaan berbagai penyakit disertai gejala samar-samar yang mungkin mengenai
bagian tubuh yang sama.
b. Jenis Kelamin

Secara umum pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna dalam berespon
terhadap nyeri. Toleransi nyeri sejak lama telah menjaadi subjek penelitian yang
melibatkan pria dan wanita. Akan tetapi toleransi terhadap nyeri dipengaruhi oleh
faktor-faktor biokimia dan merupakan hal yang unik pada setiap individu, tanpa
memperhatikan jenis kelamin.

c. Kebudayaan
Keyakinan dan nilai-nilai budaya mempengaruhi cara individu mengatasi
nyeri. Ada perbedaan makna dan sikap yang dikaitkan dengan nyeri dikaitkan
dengan nyeri diberbagai kelompok budaya. Suatu pemahaman tentang nyeri dari
segi makna budaya akan membantu perawat dalam merancang asuhan keperawatan
yang relevan untuk klien yang mengalami nyeri.
d. Makna nyeri
Makna seseorang yang dikaitkan dengan nyeri mempengaruhi pengalaman
nyeri dan

cara seseorang beradaptasi terhadap nyeri. Individu akan

mempersepsikan nyeri dengan cara berbeda-beda, apabila nyeri tersebut


memberikan kesan ancaman, suatu kehilangan dan tantangan. Misalnya seorang
wanita yang bersalin akan mempersepsikan nyeri berbeda dengan seorang wanita
yang mengalami nyeri akibat cedera karena pukulan pasangannya.
e. Perhatian
Perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat
sedangkan upaya pengalihan atau distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang
menurun. Konsep ini merupakan salah satu konsep yang perawat terapkan di
7

berbagai terapi untuk menghilangkan nyeri seperti relaksasi, teknik imajinasi


terbimbing dan massage. Dengan memfokuskan perhatian dan konsentrasi klien
pada stimulus yang lain, maka perawaat menempatkan nyeri pada kesadaran yang
perifer.

f. Ansietas
Ansietas sering kali meningkatkan persepsi nyeri, tetapi nyeri juga dapat
menimbulkan perasaaan ansietas. Individu yang sehat secara emosional biasanya
lebih mampu mentoleransi nyeri sedang hingga berat daripada individu yang
memiliki status emosional yang kurang stabil. Klien yang mengalami cedera atau
menderita penyakit kritis, sering kali mengalami kesulitan mengontrol lingkungan
dan perawatan diri dapat menimbulkan tingkat ansietas yang tinggi. Nyeri yang
tidak kunjung hilang sering kali menyebabkan psikosis dan gangguan kepribadian.
g. Keletihan
Keletihan meningkatkan persepsi nyeri rasa kelelahan menyebabkan sensasi
nyeri semakin intensif dan menurunkan kemampuan koping. Apabila keletihan
disertai kesulitan tidur, maka persepsi nyeri bahkan dapat terasa lebh berat. Nyeri
seringkali lebih berkurang setelah individu mengalami suatu periode tiddur yang
lelap dibanding pada akhir hari yang melelahkan
h. Pengalaman Sebelumnya
Pengalaman nyeri sebelumnya tidak selalu berarti bahwa individu tersebut
akan menerima nyeri dengan lebih mudah pada masa yang akan datang. Apabila
8

seorang klien tidak pernah mengalami nyeri maka persepsi pertama nyeri dapat
mengganggu koping terhadap nyeri.
i. Gaya koping
Pengalaman nyeri dapat menjadi suatu pengalaman yang membuat merasa
kesepian. Apabila klien mengalami nyeri di keadaan perawatan kesehatan, seperti
di rumah sakit klien merasa tidak berdaya dengan rasa sepi itu. Hal yang sering
terjadi adalah klien merasa kehilangan kontrol terhadap lingkungan atau
kehilangan kontrol terhadap hasil akhir dari peristiwa-peristiwa yang terjadi. Nyeri
dapat menyebabkan ketidakmampuan, baik sebagian maupun keseluruhan/total.
j. Dukungan keluarga dan sosial
Faktor lain yang bermakna mempengaruhi respon nyeri adalah kehadiran orangorang terdekat klien dan bagaimana sikap mereka terhadap klien. Individuu dari
kelompok sosial budaya yang berbeda memiliki harapan yang berbeda tentang
orang tempat mereka menumpahkan keluhan tentang nyeri.
3. Mengkaji Persepsi Nyeri
Alat alat pengkajian nyeri dapat digunakan untuk mengkaji persepsi nyeri
seseorang. Agar alat alat pengkajian nyeri dapat bermanfaat, alat tersebut harus
memenuhi kriteria berikut :
a. Mudah dimengerti dan digunakan
b. Memerlukan sedikit upaya pada pihak pasien
c. Mudah dinilai
d. Sensitif terhadap perubahan kecil terhadap intensitas nyeri
Deskripsi verbal tentang nyeri
Individu merupakan penilai terbaik dari nyerinya yang dialaminya dan karenannya
harus diminta untuk menggambarkan dan membuat tingkatnya. Informasi yang
diperlukan harus menggambarkan nyeri individual dalam beberapa cara antara lain :

a. Intensitas nyeri
9

Individu dapat diminta untuk membuat tingkatan nyeri pada skala verbal
( misalnya tidak nyeri, sedikit nyeri, nyeri hebat atau sangat hebat ; atau 0-10 : 0 =
tidak ada nyeri, 10 = nyeri sangat hebat )
b. Karakteristik nyeri, termasuk letak (untuk area dimana nyeri pada berbagai organ),
durasi (menit,jam,hari,bulan), irama (terus menerus, hilang timbul,periode
bertambah dan berkurangnya intensitas atau keberadaan dari nyeri), dan kualitas
(nyeri seperti ditusuk, seperti terbakar, sakit, nyeri seperti digencet)
c. Faktor-faktor yang meredakan nyeri (misalnya gerakan, kurang bergerak,
pengerahan tenaga, istirahat, obat-obat bebas) dan apa yang dipercaya pasien
dapat membantu mengatasi nyerinya.
d. Efek nyeri terhadap aktifitas kehidupan sehari- hari (misalnya tidur, nafsu makan,
konsentrasi, interaksi dengan orang lain, gerakan fisik, bekerja, dan aktivitasaktivitas santai). Nyeri akut sering berkaitan dengan ansietas dan nyeri kronis
dengan depresi.
e. Skala analogi visual (VAS). Skala analogi visual sangat berguna dalam mengkaji
intensitas nyeri. Skala tersebut adalah berbentuk garis horizontal sepanjang 10 cm,
dan ujungnya mengindikasikan nyeri yang berat. Pasien diminta untuk menunjuk
titik pada garis yang menunjukan letak nyeri terjadi disepanjang rentang tersebut.
Ujung kiri biasanya menandakan tidak ada atau tidak nyeri sedangkan ujung
kanan biasa menandakan berat atau nyeri yang paling buruk untuk menilai
hasil,sebuah penggaris diletakkan disepanjang garisdan jarak yang dibuat pasien
pada garis dari tidak ada nyeri diukur dan ditulis dalam centimeter.

Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2007) adalah sebagai berikut :

10

Skala Intensitas Nyeri Deskritif

Keterangan :
0

: Tidak nyeri

1-3

: Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi


dengan baik.

4-6

: Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat


menunjukkan

lokasi

nyeri,

dapat

mendeskripsikannya,

dapat

mengikuti perintah dengan baik.


7-9

: Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat


mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat
menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak
dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi

10

: Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi,


memukul.
11

C. POST OP SC
1. Definisi Post Op SC
Tak semua persalinan dapat berlangsung mulus, kadang terdapat indikasi medis
yang mengharuskan seorang ibu melewati proses persalinan dengan operasi. Operasi
ini disebut dengan Sectio Caesarea.
Sectio Caesarea berasal dari bahasa Latin, Caedere, artinya memotong. Sectio
Caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding
rahim. Pada pasien yang dilakukan operasi pembedahan untuk tindakan sectio cesarea
ini memerlukan beberapa perhatian karena ibu nifas yang melahirkan dengan operasi
caesarea agar dapat melewati fase penyembuhan pasca operasi tanpa komplikasi.
Proses persalinan operasi caesar umumnya berlangsung sekitar satu jam. Pada
pasien dengan pembiusan total, kesadaran akan berlangsung pulih secara bertahap
seusai penjahitan luka operasi. Sedangkan pada pembiusan regional, dengan anasthesi
epidural atau spinal (memasukkan obat bius melalui suntikan pada punggung), ibu
bersalin akan tetap sadar hingga operasi selesai dan hanya bagian perut ke bawah
akan hilang sensasi rasa sementara
2. Tujuan Perawatan Post Op SC
Tujuan perawatan pasca operasi adalah pemulihan kesehatan fisiologi dan
psikologi wanita kembali normal. Periode postoperatif meliputi waktu dari akhir
prosedur pada ruang operasi sampai pasien melanjutkan rutinitas normal dan gaya
hidupnya.
Secara klasik, kelanjutan ini dibagi dalam tiga fase yang tumpang tindih pada
status fungsional pasien. Aturan dan perhatian para ginekolog secara gradual
berkembang sejalan dengan pergerakan pasien dari satu fase ke fase lainnya. Fase
pertama, stabilisasi perioperatif, menggambarkan perhatian para ahli bedah terhadap
permulaan fungsi fisiologi normal, utamanya sistem respirasi, kardiovaskuler, dan
saraf. Pada pasien yang berumur lanjut, akan memiliki komplikasi yang lebih banyak,
dan prosedur pembedahan yang lebih kompleks, serta periode waktu pemulihan yang
12

lebih panjang.
Periode ini meliputi pemulihan dari anesthesia dan stabilisasi homeostasis,
dengan permulaan intake oral. Biasanya periode pemulihan 24-28 jam. Fase kedua,
pemulihan postoperatif, biasanya berakhir 1-4 hari. fase ini dapat terjadi di rumah
sakit dan di rumah. Selama masa ini, pasien akan mendapatkan diet teratur, ambulasi,
dan perpindahan pengobatan nyeri dari parenteral ke oral. Sebagian besar komplikasi
tradisional postoperasi bersifat sementara pada masa ini. Fase terakhir dikenal dengan
istilah kembali ke normal, yang berlangsung pada 1-6 minggu terakhir. Perawatan
selama masa ini muncul secara primer dalam keadaan rawat jalan. Selama fase ini,
pasien secara gradual meningkatkan kekuatan dan beralih dari masa sakit ke aktivitas
normal.
3. Cara-cara Mengatasi Nyeri pada Luka Post Operasi
a. Mengurangi faktor yang dapat menambah nyeri
1) Ketidakpercayaan
Pengakuan perawat akan rasa nyeri yang diderita pasien dapat mengurangi
nyeri. Hal ini dapat dilakukan melalui pernyataan verbal, mendengarkan
dengan penuh perhatian mengenai keluhan nyeri pasien, dan mengatakan
kepada pasien bahwa perawat mengkaji rasa nyeri pasien agar dapat lebih
memahami tentang nyeri.
2) Kesalahpahaman
Mengurangi kesalahpahaman pasien tentang nyerinya akan mengurangi nyeri.
Hal ini dilakukan dengan memberitahu pasien bahwa nyeri yang dialami
bersifat individual dan hanya pasien yang tahu secara pasti tentang nyerinya.
3) Ketakutan
Memberikan informasi yang tepat dapat mengurangi ketakutan pasien dengan
menganjurkan pasien untuk mengekspresikan bagaimana mereka menangani
nyeri.
4) Kelelahan

13

Kelelahan dapat memperberat nyeri. Untuk mengatasinya, kembangkan pola


aktivitas yang dapat memberikan istirahat yang cukup.
5) Kebosanan
Kebosanan dapat meningkatkan rasa nyeri. Untuk mengurangi nyeri dapat
digunakan pengalih perhatian yang bersifat terapeutik. Beberapa teknik
pengalih perhatian adalah bernapas pelan dan berirama, memijat secara
perlahan, menyanyi berirama, aktif mendengarkan musik, membayangkan halhal yang menyenangkan, dan sebagainya.
b. Memodifikasi stimulus nyeri dengan menggunakan teknik-teknik seperti:
2 Teknik latihan pengalihan
a) Menonton TV
b) Berbincang-bincang dengan orang lain
c) Mendengarkan musik
3 Teknik relaksasi
a) Menganjurkan pasien untuk menarik napas
b) Mengisi paru-paru dengan udara, menghembuskannya secara perlahan,
melemaskan otot-otot tangan, kaki, perut, dan punggung, serta
mengulangi hal yang sama sambil berkonsentrasi hingga didapat rasa
nyaman, tenang, dan rileks.
4 Stimulasi kulit
a) Menggosok secara halus pada daerah nyeri
b) Menggosok punggung
c) Menggunakan air hangat dan dingin
d) Memijat dengan air mengalir
c. Terapi Relaksasi yang bisa diterapkan
1) Terapi atau tekhnik nafas dalam guna mengurangi atau mengontrol rasa nyeri
yang di rasa datang tiba-tiba.
2) Terapi pengalihan nyeri dengan cara mengalihkan focus bukan pada rasa
nyeri, melainkan pada fokus yang lain seperti berbincang-bincang, menonton
televise, mendengarkan musik, atau hal lain sehingga dapat mengalihkan
perhatian dari nyeri.
3) Tekhnik pemijitan atau pengurutan secara halus pada bagian yang dirasa
nyeri, dengan cara mengurut secara melingkar di sekitar area luka yang di
rasa nyeri dengan sentuhan lembut.

14

d. Imajinasi Terbimbing
1.

Definisi

Imajinasi terbimbing adalah sebuah teknik relaksasi yang bertujuan untuk


mengurangi stress dan meningkatkan perasaan tenang dan damai. Imajinasi
terbimbing atau imajinasi mental merupakan suatu teknik untuk mengkaji
kekuatan pikiran saat sadar maupun tidak sadar untuk menciptakan bayangan
gambar yang membawa ketenangan dan keheningan (National Safety Council,
2004).
2. Manfaat Imajinasi Terbimbing
Imajinasi terbimbing merupakan salah satu jenis dari teknik relaksasi sehingga
manfaat dari teknik ini pada umumnya sama dengan manfaat dari teknik relaksasi
yang lain. Teknik ini dapat mengurangi nyeri, mempercepat penyembuhan dan
membantu tubuh mengurangi berbagai macam penyakit seperti depresi, alergi dan
asma (Holistic-online, 2006).
Dalam imajinasi terbimbing klien menciptakan kesan dalam pikiran,
berkonsentrasi pada kesan tersebut, sehingga secara bertahap mampu mengurangi
ketegangan dan nyeri (Potter dan Perry, 2006).
3. Dasar Imajinasi Terbimbing
Imajinasi merupakan bahasa yang digunakan oleh otak untuk berkomunikasi
dengan tubuh. Segala sesuatu yang kita lakukan akan diproses oleh tubuh melalui
bayangan. Imajinasi terbentuk melalui rangasangan yang diterima oleh berbagai
indera seperti gambar, aroma, rasa, suara dan sentuhan (Holistic-online, 2006).
15

Respon tersebut timbul karena otak tidak mengetahui perbedaan antara bayangan
dan aktifitas nyata (Tusek, 2000 yang dikutip dalam anonim, 2008).
4. Proses Asosiasi Imajinasi
Imajinasi terbimbing merupakan suatu teknik yang menuntut seseorang untuk
membentuk sebuah bayangan/imajinasi tentang hal-hal yang disukai. Imajinasi
yang terbentuk tersebut akan diterima sebagai rangsang oleh berbagai indra,
kemudian rangsangan tersebut akan dijalankan ke batang otak menuju sensor
thalamus. Ditalamus rangsang diformat sesuai dengan bahasa otak, sebagian kecil
rangsangan itu ditransmisikan ke amigdala dan hipotalamus

sekitarnya dan

sebagian besar lagi dikirim ke korteks serebri, dikorteks serebri terjadi proses
asosiasi pengindraan dimana rangsangan dianalisis, dipahami dan disusun menjadi
sesuatu yang nyata sehingga otak mengenali objek dan arti kehadiran tersebut.
Hipokampus berperan sebagai penentu sinyal sensorik dianggap penting atau tidak
sehingga jika hipokampus memutuskan sinyal yang masuk adalah penting maka
sinyal tersebut akan disimpan sebagai ingatan. Hal-hal yang disukai dianggap
sebagai sinyal penting oleh hipokampus sehingga diproses menjadi memori.
Ketika terdapat rangsangan berupa bayangan tentang hal-hal yang disukai
tersebut, memori yang telah tersimpan akan muncul kembali dan menimbulkan
suatu persepsi dari pengalaman 17 sensasi yang sebenarnya, walaupun
pengaruh/akibat yang timbul hanyalah suatu memori dari suatu sensasi (Guyton
dan Hall, 2008).

D.

Patient Safety ( Universal / Isolated Precation )


16

1. Pengertian Patient Safety


Patient Safety atau keselamatan pasien adalah suatu system yang membuat
asuhan pasien di rumah sakit menjadi lebih aman. Sistem ini mencegah terjadinya
cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak
mengambil tindakan yang seharusnya diambil.
2. Tujuan Patient Safety
Tujuan Patient safety adalah
a. Terciptanya budaya keselamatan pasien di RS
b. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit thdp pasien dan masyarakat;
c. Menurunnya KTD di RS
d. Terlaksananya program-program pencegahan shg tidak terjadi pengulangan KTD.
3. Langkah-Langkah Pelaksanaan Patient Safety
Pelaksanaan Patient safety meliputi Sembilan solusi keselamatan Pasien di
RS (WHO Collaborating Centre for Patient Safety, 2 May 2007), yaitu:
a. Perhatikan nama obat, rupa dan ucapan mirip (look-alike, sound-alike
medication names)
b. Pastikan identifikasi pasien
c. Komunikasi secara benar saat serah terima pasien
d. Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar
e. Kendalikan cairan elektrolit pekat
f. Pastikan akurasi pemberian obat pada pengalihan pelayanan
g. Hindari salah kateter dan salah sambung slang
h. Gunakan alat injeksi sekali pakai
i. Tingkatkan kebersihan tangan untuk pencegahan infeksi nosokomial.
17

Pelaksanaan pasien safety Keselamatan Pasien (mengacu pada Hospital


Patient Safety Standards yang dikeluarkan oleh Joint Commision on Accreditation
of Health Organizations, Illinois, USA, tahun 2005),yaitu:
a.

Hak pasien
Pasien & keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi tentang
rencana & hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya KTD (Kejadian
Tidak Diharapkan).
Kriterianya adalah
1)
Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan
2)
Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan
3) Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan yang
jelas dan benar kepada pasien dan keluarga tentang rencana dan hasil
pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan

terjadinya KTD
b. Mendidik pasien dan keluarga
RS harus mendidik pasien & keluarganya tentang kewajiban & tanggung
jawab
pasien dalam asuhan pasien.
Kriterianya adalah:
Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dgn keterlibatan
pasien adalah partner dalam proses pelayanan. Karena itu, di RS harus ada
system dan mekanisme mendidik pasien & keluarganya tentang kewajiban &
tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.Dengan pendidikan tersebut
diharapkan pasien & keluarga dapat:
1)
Memberikan info yg benar, jelas, lengkap dan jujur
2)
Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab
3)
Mengajukan pertanyaan untuk hal yg tdk dimengerti
4)
Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan
5)
Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan RS
6)
Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa
7)
Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati
c. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
RS menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar
tenaga dan antar unit pelayanan.
Kriterianya adalah:
1) koordinasi pelayanan secara menyeluruh
18

2) koordinasi pelayanan disesuaikan kebutuhan pasien dan kelayakan sumber


daya
3) koordinasi pelayanan mencakup peningkatan komunikasi
4) komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan

BAB III
PROSES MANAJEMEN KEPERAWATAN

A. Profil Area Kajian


Ruang Mawar Merah adalah salah satu ruang perawatan nifas di RSUD R Syamsudin
SH di Kota Sukabumi yaitu ruang perawatan post partum (nifas) dan wanita dengan
gangguan reproduksi dengan staf petugas kesehatan yang ditujukan untuk perawatan dan
terapi pasien.
Tujuannya adalah untuk memberikan pelayanan perawatan yang optimal untuk ibu post
partum dan wanita dengan gangguan reproduksi. Ruangan ini menyediakan kemampuan dan
sarana, prasarana serta peralatan untuk menunjang proses keperawatan dengan menggunakan
keterampilan staff medik, seperti bidan, perawat dan staff lain yang berpengalaman.
Ruangan Mawar Merah ini terletak dekat dengan Ruangan VK (bersalin). Di ruangan
ini terdapat 3 kamar perawatan yaitu kelas 1 utama, 3 kamar perawatan kelas 1, 2 ruang
perawatan kelas 2, dan 2 kamar perawatan kelas 3 dengan jumlah 25 Bed. Di Ruang Mawar

19

Merah terdapat 21 orang bidan dengan jenjang lulusan pendidikan D3 Kebidanan 17 orang,
D4 Kebidanan 2 orang, D3 Keperawatan 1 orang dan Ners 1 orang.
Peran dan tanggung jawab perawat ruangan:
1. Merencanakan perawat fisik secara komprehensif
2. Memberikan dukungan emosional pada klien dengan bersifat empati pada keluarga
3. Bertindak sebagai pembela klien dalam mempertahankan hak asasinya
4.
Memberikan pelayanan yang bersifat konsultasi bila akan dilakukan tindakan
keperawatan khusus ketika ia dirawat di ruang nifas
5. Memberikan pelayanan sebagai bagian dari rumah sakit secara keseluruhan.
6. Memberikan pengajaran tentang prinsip-prinsip ruang nifas sesuai dengan usia klien.
B. Hasil Kajian Situasi Terfokus
Berdasarkan hasil orientasi dan observasi, ditemukan data yang menurut kelompok
harus segera diperbaiki dan ditindak lanjuti:
Tabel 2.1 Pemetaan Data
Sumber
No
1

Jenis Informasi

Sudah Terjadi

Kolap infus tidak diberikan

identitas
pemasangan,

labu

Divalidasi Dilengkapi

Informasi
Observasi,

(tanggal

wawancara

harus

pasien dan

habis berapa jam, berapa

Perawat

tetes per menit).

ruangan

Hasil observasi pengaturan


tetesan infus tidak sesuai,
misalnya

sesudah

melakukan

pasien

mobilisasi,

tetesan infus tidak diatur


kembali sesuai dosis (asal
menetes).
Berdasarkan

hasil
20

wawancara, ada 2 pasien


yang

mengeluh

karena

adanya bercak darah yang


telah kering pada tangan
yang di infuse, dan ada 1
orang ibu yang tangannya
bengkak pada pemasangan
2

infuse hari ketiga.


Belum
optimalnya

Observasi,

pengelolaan rasa nyeri pada

wawancara,

pasien post SC, berdasarkan

dan

pengakuan salah satu pasien

Perawat

post SC yang mengatakan

Ruangan

belum

mengetahui

cara

pengelolaan rasa nyeri.


Perawat

ruangan

mengatakan penkes tentang


cara pengelolaan rasa nyeri
sudah

dilakukan

namun

belum optimal karena tanpa


menggunakan media seperti
leaflet atau poster. Perawat
ruangan juga terlihat hanya
mengajarkan relaksasi nafas
dalam

dan

distraksi

(berbincang - bincang).
21

Berdasarkan

hasil

wawancara kepada 3 orang


pasien yang mengalami post
operasi SC dengan skala
nyeri yang berbeda-beda,
dua ibu mengatakan bahwa
mereka belum mendapatkan
penkes tentang pengelolaan
nyeri setelah post operasi,
mereka hanya tahu untuk
mengurangi nyeri mereka
mendapatkan

pengobatan

dengan terapi farmakologi.


Sedangkan

satu

mengatakan

ibu
sudah

mengetahui cara
mengurangi nyeri dengan
melakukan nafas dalam dan
berbincang bincang.
Setelah ditemukan masalah masalah pada tabel 2.1 maka data tersebut dikelompokan
menjadi 1 kategori dan dibuat kesimpulan / masalah yang berkaitan dengan data yang ada,
maka dibuatlah rumusan masalah yaitu sebagai berikut:

22

Kelompok Data

Kesimpulan / Masalah

1. Kolap infus tidak diberikan identitas (tanggal


pemasangan, labu ke berapa, harus habis
dalam berapa jam, dan berapa tetes per menit).
2. Pengaturan tetesan infus tidak sesuai, misalnya
sesudah pasien melakukan mobilisasi, tetesan
infus tidak diatur kembali sesuai dosis (asal
menetes).
3. Hasil wawancara terdapat 2 pasien yang

Kurang penerapan patien safety

mengeluh karena adanya bercak darah yang


telah kering pada tangan yang di infuse dan
ada seorang ibu yang mengalami bengkak
pada tangan yang dipasang infuse pada hari
ketiga.
3. 3 orang ibu pasien post SC, mengatakan
belum mengetahui cara pengelolaan rasa
nyeri.
4. Perawat ruangan mengatakan penkes tentang
cara pengelolaan rasa nyeri sudah dilakukan
namun

belum

optimal

karena

tanpa

menggunakan media seperti leaflet atau

Belum optimalnya pengelolaan rasa


nyeri pada pasien post SC

poster.
5. Perawat ruangan terlihat memberikan penkes
tentang cara pengelolaan rasa nyeri hanya
dengan salah satu tehnik, yaitu tehnik
relaksasi nafas dalam.
Tabel 2.3 Rumusan Pemecahan Masalah
23

No

Daftar Masalah

Strategi Penyelesaian Masalah

Indikator Hasil

1. Anjurkan agar perawat


memberikan identitas pada
kolap infus (tanggal dan jam
pemasangan infus, labu

1. Terdapat identitas pada kolap


infus

keberapa, tanggal dan jam


penggantian cairan infus, serta
harus habis dalam berapa jam).
2. Petugas
Kurang Penerapan

kesehatan

2. Anjurkan perawat untuk selalu


memberitahu

Patien safety

pasien

agar

memberitahukan agar pasien


meminta

bantuan

perawat

meminta tolong kepada


untuk mengatur tetesan infus
perawat untuk mengatur
tetesan infuse
3. Anjurkan untuk melakukan
perawatan pada area

3. Petugas

kesehatan

melakukan perawatan pada


area pemasangan infus

pemasangan infus dan


2 Belum optimalnya

mengganti plaster setiap hari


1. Anjurkan dan bersama-sama

1. Petugas kesehatan di ruangan

pengelolaan rasa nyeri

mengaplikasikan perlunya

dapat

melakuan

penkes

pada pasien post SC

penkes pengelolaan rasa nyeri

tentang

pada pasien post-op SC

nyeri pada pasien post-op SC

pengelolaan

rasa

2. Komunikasikan dengan ruangan 2. Media berupa poster tersedia


tentang pembuatan media
berupa poster tentang cara
pengelolaan rasa nyeri
24

C. Prioritas Masalah Menurut Metode Skoring CARL


Tabel 2.4 Prioritas Masalah
No

Daftar Masalah
Kurang Penerapan Patien

Total Nilai

Urutan

18

15

Safety
Belum optimalnya
2

pengelolaan rasa nyeri


pada pasien post-op SC

Keterangan :
C

= Capability (ketersediaan sumber daya seperti dana, sarana, dan peralatan)

= Accessibility (kemudahan, masalah yang ada mudah diatasi atau tidak.


Kemudahan dapat didasarkan pada ketersediaan metode / cara / teknologi
serta penunjang pelaksana seperti peraturan)

= Readiness (kesiapan dari tenaga pelaksana maupun kesiapan sasaran, seperti


keahlian atau kemampuan motivasi)

= Leverage (seberapa besar pengaruh kriteria yang satu dengan yang lain dalam
pemecahan masalah yang dibahas)

Penentuan Skor:
0 = Masalah tidak mungkin diatasi
1 = Masalah tidak bisa diatasi
2 = Masalah sulit diatasi
25

3 = Masalah bisa diatasi


4 = Masalah bisa diatasi segera
5 = Masalah mudah diatasi

Tabel 2.5 Planning of Action


Masalah: Kurangnya penerapan patien safety
Waktu &

Cara

Penanggung

Evaluasi

Jawab

Kegiatan

Kegiatan

Sumber
No

Jenis Kegiatan

Sasaran

Tempat
Dana
Kegiatan

Anjurkan

untuk

memberikan identitas pada


kolap infus (tanggal dan jam

Perawat,

Ka
Jumat , 15

pemasangan

infus,

labu

Bidan, dan

Ruangan,

keberapa, tanggal dan jam

Mahasiswa

penggantian cairan infus,

praktek

Mahasiswa

Perawat,

Ka

Januari 2016,

observasi
Preseptor,

Mawar Merah
serta harus habis dalam
2

berapa jam).
Anjurkan perawat untuk
selalu memberitahukan agar

Jumat, 15
Bidan, dan

pasien meminta tolong

Ruangan,
Januari 2016,

Observasi

Mahasiswa
kepada perawat untuk

Preseptor,
Mawar Merah

praktek
3

mengatur tetesan infuse


Anjurkan untuk melakukan

Perawat,

Mahasiswa
Jumat , 15

Observasi

Ka
26

perawatan

pada

area
Bidan, dan

pemasangan

infus

dan

Ruangan,
Januari 2016,

Mahasiswa
mengganti

plaster

setiap

Preseptor,
Mawar Merah

praktek

Mahasiswa

hari
Masalah : Belum optimalnya pengelolaan rasa nyeri pada pasien post-op SC
Waktu &

Cara

Penanggung

Evaluasi

Jawab

Kegiatan

Kegiatan

Sumber
No

Jenis Kegiatan

Sasaran

Tempat
Dana
Kegiatan

Anjurkan dan bersama-sama


mengaplikasikan perlunya
penkes pengelolaan rasa
nyeri pada pasien post-op

Perawat,

Ka
Senin, 18

SC, dan optimalkan

Bidan, dan

manajemen nyeri dengan

Mahasiswa

terapi non farmakologis

praktek

Ruangan,
Januari 2016,

Observasi
Preseptor,

Mawar Merah
Mahasiswa

(relaksasi dan distraksi


dengan cara imajinasi
2

terbimbing).
Komunikasikan dengan
ruangan tentang pembuatan
media berupa poster tentang
cara pengelolaan rasa nyeri

Perawat,

Ka
Senin, 18

Bidan, dan

Ruangan,
Januari 2016,

Mahasiswa

Observasi
Preseptor,

Mawar Merah
praktek

Mahasiswa

27

D. Implementasi POA
Implementasi manajemen keperawatan dilakukan 2 tahap yaitu tahap awal yang
dimulai dari kajian situasi sampai menentukan masalah dan tahap kedua yaitu
penatalaksanaan dari Planning Of Action (POA). Implementasi tahap Planning Of
Action dimulai pada tanggal 15 Januari 2016 sampai dengan tanggal 18 Januari 2016
yang terdeskripsikan pada pemaparan di bawah ini :
Tabel 2.6 Implementasi
No

Jenis Kegiatan

Evaluasi

Kegiatan
Masalah: Kurangnya penerapan patien safety
sosialisasi
Jumat, 15 Januari
a. Pemberian

Melakukan
kepada

Waktu & Tempat

perawat

ruangan

tentang:
a. Pemberian

identitas

2016 di Ruang

pada

identitas

kolap

sudah berjalan oleh

R Syamsudin SH

perawat ruangan , dan


sudah

dan

kepada pasien

infus,

pemasangan

labu

tanggal

Terlampir

infuse

Mawar Merah RSUD

pada kolap infus (tanggal


jam

Dokumentasi

diterapkan

keberapa,

dan

jam

penggantian cairan infus,


serta harus habis dalam
berapa jam).
b. Menginformasikan
kepada

pasien

untuk
b. Informasi pengaturan

selalu

memberitahukan
28

agar

pasien

meminta

tetesan infuse sudah

tolong kepada perawat

berjalan oleh perawat

untuk mengatur tetesan

ruangan.

infuse

ruangan

Perawat

memberitahukan agar
pasien

meminta

tolong

kepada

perawat
c. Melakukan

perawatan

mengatur

pada area pemasangan


infus

dan

untuk
tetesan

infuse
c. Perawatan pada area

mengganti
pemasangan

infuse

plaster setiap hari


sudah berjalan oleh

perawat ruangan.
Masalah : Belum optimalnya pengelolaan rasa nyeri pada pasien post-op SC
Bersama-sama
dengan
15 s.d. 18 Januari
a. Mahasiswa bersama
perawat ruangan memberikan
pendidikan

kesehatan

dan

mengaplikasikan tentang :
a. Pengelolaan

rasa

nyeri

2016 di Ruang
Mawar Merah RSUD
R Syamsudin SH

perawat ruangan
meningkatkan
pengelolaan
management nyeri,

pada pasien post-op SC,

dan pasien yang

dan

mengalami nyeri

mengoptimalkan

manajemen nyeri dengan

mampu melakukan

terapi non farmakologis

tehnik relaksasi

(relaksasi dan distraksi


dengan

cara

imajinasi

terbimbing).
29

b. Pemasangan

poster

b. Poster sudah tersedia,

diruangan mawar merah

namun belum

tentang cara pengelolaan

dipasang diruang

rasa nyeri.

perawatan

E. Evaluasi
Evaluasi terhadap proses manajemen di Ruang Mawar Merah RSUD R Syamsudin SH
yang dilakukan pada tanggal 11 Januari 2016 s/d tanggal 18 Januari 2016, didapatkan hasil
sebagai berikut :
1. Kurang Patient Safety
a. Sosialisasi tentang pentingnya tanda pada kolap infus tentang tanggal pemasangan
infus, berapa tetes permenit, sudah terlaksana. Sedangkan untuk pemberian label pada
flabot akan disesuaikan dengan kondisi pasien.
b. Mahasiswa dan perawat ruangan bersama-sama mengaplikasikan pemberian label
pada infus.
2. Kurangnya pengelolaan nyeri
a. Telah tersedianya poster tentang pengelolaan nyeri yang terdiri dari tehnik distraksi,
relaksasi dan imaginasi, namun belum terpasang di ruangan.
b. Perawat ruangan bersama mahasiswa bersama-sama menerapkan management
pengelolaan nyeri diruangan.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada tanggal 11-22 Januari 2016, kelompok melakukan kajian situasi di ruang
mawar merah RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi dan ditemukan beberapa data
yang menurut kelompok merupakan suatu masalah yang kemudian dilakukan cek validasi
30

kepada perawat ruangan dan pasien setelah itu dilakukan perumusan masalah dan dibuat
kesimpulan masalah yang selanjutnya dikonsultasikan kepada tim pembimbing yang ada
di ruangan dan pembimbing akademik sehingga dibuatlah strategi pemecahan dari setiap
masalah yang ada di ruangan, setelah dibuat rumusan pemecahan masalah, kelompok
dengan tim pembimbing yang ada di ruangan mengenai perumusan POA (Planning of
Action). Lalu pada tanggal 15-18 Januari 2016 dilakukan implementasi dan evaluasi dari
setiap rencana kegiatan yang disusun berdasarkan POA yang telah dibuat dan disepakati
bersama di ruang mawar merah RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi .
Dari data hasil evaluasi yang didapatkan, maka dapat disimpulkan masalah sudah
teratasi diruang perawatan Mawar Merah RSUD Syamsudin SH Kota Sukabumi hanya
belum semua ruangan yang dapat mengaplikasikannya maka dari ruangan sebelumnya
bekerja sama untuk menerapkan hal tersebut untuk menuntaskan penyelesaian masalah

manajemen keperawatan maka dari itu perlu adanya rancana tindak lanjut.

B. Rencana Tindak Lanjut


Lanjutkan implementasi manajemen dan dapat dilakukan revisi-revisi POA untuk
menyelesaikan masalah manajemen serta dapat melibatkan pihak-pihak yang terkait
dalam penyelesaian masalah manajemen keperawatan dengan pihak yang berwenang
memberikan keputusan dan kebijakan, dari

permasalahan diatas ada yang belum

terlaksana secara optimal yaitu tentang Kurangnya Patient Safety. Sehubungan dengan di
ruang Mawar Merah sudah ditetapkan tentang pelabelan infus, karena pasien merupakan

31

kiriman dari VK atau EK (Emergensi Kebidanan) maka diharapkan dari ruangan


sebelumnya bekerja sama untuk menerapkan hal tersebut.
C. Saran
Dengan adanya beberapa hasil temuan dari mahasiswa Program Profesi Ners
STIKES Kota Sukabumi khususnya kelompok 4 semoga dapat dijadikan suatu masukan
bagi ruangan Mawar Merah RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi untuk
meningkatkan management keperawatan dibidang pelayanan perawatan antenatal dan
post partum khususnya dalam pendidikan kesehatan (Health Education).
Sedangkan untuk kelompok selanjutnya, laporan ini dapat dijadikan acuan bahwa
kelompok kami sudah mengangkat beberapa temuan tetapi belum sepenuhnya
terrealisasi. Maka, diharapkan bagi kelompok selanjutnya agar dapat mengaplikasikan
kembali hal-hal yang belum terrealisasi tersebut.

32