Anda di halaman 1dari 64

ISSN.

1907-0640

JURNAL
EKONO INSENTIF
Volume 7, Nomor 2, Oktober 2013
Jurnal Ekono-Insentif adalah wadah informasi bidang ilmu Ekonomi berupa hasil penelitian, studi kepustakaan
maupun tulisan ilmiah yang terkait. Terbit pertama kali tahun 2006 dengan frekuensi terbit dua kali setahun.

Penanggung Jawab
Koordinator Kopertis Wilayah IV

Redaktur
Entin Hartini, S.Sos., M.Si.

Redaktur Pelaksana:
Atin Afiatin, S. Sos., M. Si.
Ade Ruhiyat, S. Ip.
Ir. Nefli Yusuf, M.Eng.
Dra. Maimunah
Aminatun, S.Sos, M.Si.
Suroso, SH

Penyunting Ahli:
Dr. Hj. Ida Rosnidah, S.E., MM.,Ak.
Prof. Dr. Umi Nurimawati, S.E., M.Si.
Dr. Deddy Supardi, S.E., Ak., M. Si.

Alamat Redaksi
Kopertis Wilayah IV
Jl. Penghulu Hasan Mustafa No. 38
Telepon: (022) 7275630
e-mail: Kepegawaian_kopwil4@yahoo.co.id

ISSN. 1907-0640
Jurnal
EKONO-INSENTIF
Volume 7, Nomor 2, Oktober 2013

DAFTAR ISI
1

PENGARUH KURS MATA UANG RUPIAH ATAS DOLLAR AS,


TINGKAT SUKU BUNGA SERTIFIKAT BANK INDONESIA DAN
TINGKAT INFLASI TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN
(IHSG) PADA BURSA EFEK INDONESIA (BEI)

Oleh: Linna Ismawati, Beni Hermawan, Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) Bandung

EVALUASI EFEKTIFITAS PENERAPAN BALANCE SCORECARD


PT.TELKOM DIVISI REGIONAL V JAWA TIMUR DALAM MENGHADAPI
KOMPETISI .

14

Oleh: Rini Yuli Prihatin, Sekolah Tinggi Pariwisata Bogor

KONTRIBUSI KEUNTUNGAN PDAM TIRTAWENING TERHADAP


PENDAPATAN ASLI DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2011-2012 .

23

Oleh: Jatnika Dwi Asri, Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Bandung

PENGARUH FEE BASED INCOME TERHADAP PROFITABILITAS


(RETURN ON ASSET) PADA PT. BANK JABAR-BANTEN TBK.
SUB BRANCH CIPANAS-CIANJUR ..

36

Oleh: Wenny Djuarni dan Rizki Awaludin, Fakultas Ekonomi Universitas Putra Indonesia
(UNPI), Cianjur

PENGARUH KEMAMPUAN PENGGUNA TERHADAP SISTEM INFORMASI


AKUNTANSI DAN IMPLIKASINYA PADA KUALITAS INFORMASI . 45
Oleh: Lilis Puspitawati, Siska Amelia, Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM), Bandung

URGENSI ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR PEGAWAI


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK RI DALAM RANGKA OPTIMALISASI
PENERIMAAN PAJAK .............................................................................................
Oleh: Arifin Sukmana, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pelita Bangsa

56

Jurnal Ekono Insentif Kopwil4, Volume 7 No. 2, Oktober 2013


ISSN: 1907 - 0640, halaman 1 s.d 13

PENGARUH KURS MATA UANG RUPIAH ATAS DOLLAR AS,


TINGKAT SUKU BUNGA SERTIFIKAT BANK INDONESIA DAN
TINGKAT INFLASI TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG)
PADA BURSA EFEK INDONESIA (BEI)
Oleh:
Linna Ismawati, Beni Hermawan
Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) Bandung

Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kurs mata uang rupiah atas dollar AS, tingkat suku bunga
SBI, tingkat inflasi dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), juga untuk mengetahui pengaruh kurs mata
uang rupiah atas dollar AS, tingkat suku bunga SBI dan tingkat inflasi terhadap IHSG baik secara simultan
maupun parsial pada Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2007-2012. Metode penelitian yang digunakan adalah
metode deskriptif dan verifikatif. Sedangkan data yang digunakan adalah data sekunder yang meliputi data nilai
tukar rupiah terhadap dollar AS, prosentase tingkat suku bunga SBI dan prosentase tingkat inflasi di BEI pada
setiap akhir bulan pengamatan yaitu periode 2007-2012. Pengujian statistik yang digunakan adalah analisis
regresi linier berganda, uji asumsi klasik, analisis korelasi pearson, koefisien determinasi dan uji hipotesis yang
dihitung menggunakan aplikasi SPSS 18.0 for windows. Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel kurs mata
uang rupiah atas dollar AS secara parsial terdapat pengaruh yang tidak signifikan terhadap IHSG, tingkat suku
bunga SBI secara parsial berpengaruh negatif terhadap IHSG dan tingkat inflasi secara parsial tidak terdapat
pengaruh signifikan terhadap IHSG.
Kata Kunci: Kurs, SBI, Inflasi dan IHSG
The Influence of Exchange Rate of IDR on the US Dollar, The Interest Rate of SBI, and The Rate of
Inflation Toward The Composite Share Price Index (CSPI) in Indonesia Stock Exchange (IDX)

Abstract - The study aimed to find out a rate of exchange of Rupiah against US Dollar, rate of interest of SBI,
Inflation, and Composite Stock Index (called IHSG), as well as to know an influence a rate of exchange of
Rupiah against US Dollar, rate SBI, Inflation toward IHSG whether in partial or simultaneously at Indonesian
Stock Exchange in 2007-2012 periods. The method used in this research is descriptive and verificative, with
secondary data on rate of exchange of Rupiah against US Dollar, percentage of rate of interest of SBI, and
inflation in Indonesian Stock Exchange on each the end of the month of monitoring in 2007-2012 periods. The
statistical test used is Multiple regression analysis, classical assumption test, correlation analysis of Pearson,
determination coefficient, and hypothetical test accounted uses an application of SPSS 18.0 for windows. The
result shows that variable the rate of exchange of Rupiah against US Dollar partially has found that there is an
insignificant influence toward IHSG, while rate of interest of SBI had a significant influence to IHSG, but
inflation partially not influence to the IHSG.
Keywords: Rate of exchange, SBI, inflation and IHSG
1. Pendahuluan
Indonesia sebagai negara berkembang
mendapat pengaruh yang cukup besar dari krisis
global. Berbagai kebijakan diambil pemerintah
untuk meredam pengaruh buruk dari krisis global
ini, mulai dari menaikkan tingkat suku bunga,
menaikkan harga bahan bakar minyak, maupun
memperketat lalu lintas mata uang asing.
Pasar modal memegang peranan sangat
penting dalam perekonomian Indonesia, dimana
nilai Indeks Harga Saham Gabungan dapat menjadi
leading indicator economic pada suatu negara.

Pergerakan indeks sangat dipengaruhi oleh


ekspektasi investor atas kondisi fundamental
negara maupun global. Adanya informasi baru
akan berpengaruh pada ekspektasi investor yang
akhirnya akan berpengaruh pada IHSG.
Perkembangan harga saham dapat dilihat
pada indeks harga saham gabungan (IHSG). Indeks
harga saham yang mengalami peningkatan bisa
mengindikasikan
adanya
perbaikan
kinerja
perekonomian sedangkan indeks harga saham yang
mengalami penurunan dapat disebabkan oleh
kondisi perekonomian di negara tersebut yang
sedang mengalami permasalahan.Berdasarkan

pandangan tersebut, maka diperlukan kajian yang


mendalam tentang faktor-faktor yang berkaitan
dengan perubahan harga saham tersebut.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau
Composite Stock Price Index merupakan indeks
yang menggunakan seluruh saham yang tercatat
sebagai komponen perhitungan. Masing-masing
pasar modal memiliki indeks yang dibentuk
berdasarkan saham-saham yang dipakai sebagai
dasar dalam perhitungan indeks harga (Ridwan,
2009:444)
Nilai tukar mata uang (exchange rate) atau
sering disebut kurs merupakan harga mata uang
terhadap mata uang lainnya. Kurs merupakan salah
satu harga yang terpenting dalam perekonomian
terbuka mengingat pengaruh yang demikian besar
bagi neraca transaksi berjalan maupun variabelvariabel makro ekonomi yang lainnya.
Nilai tukar mata uang asing mempunyai
pengaruh yang cukup besar dalam aktivitas bisnis
yang dilakukan individu, perusahaan maupun suatu
negara. Para ekonom dan akademisi telah
mengeluarkan berbagai teori yang menjelaskan
pergerakan nilai tukar mata uang karena
melemahnya kurs rupiah terhadap mata uang asing
khususnya dollar AS, akan memiliki pengaruh
negatif terhadap perekonomian dan pasar modal
(Sri Handaru.2005:179)
Faktor yang diduga sangat mempengaruhi
kurs valuta asing adalah faktor dari variabel
ekonomi makro seperti tingkat suku bunga dan
inflasi. Dalam penelitian ini kurs valuta asing yang
digunakan adalah kurs mata uang rupiah atas dollar
AS, ini disebabkan karena pergerakan nilai tukar
dollar sangat berpengaruh terhadap IHSG.
Agus
Budi
Santosa
(2008:39-53)
menjelaskan bahwa inflasi merupakan suatu kondisi
dimana harga-harga barang secara keseluruhan
meningkat secara umum dan berlangsung terus
menerus. Inflasi disebabkan karena kenaikan
jumlah uang beredar dalam negeri, hal ini akan
menyebabkan kelebihan penawaran uang, sehingga
permintaan uang asing (dollar AS) meningkat.
Menurut Desmond Wira (2011:17), angka
inflasi yang tinggi yang ditunjukan dengan naiknya
harga-harga barang, biasanya akan mendorong BI
(Bank Indonesia) untuk menaikan suku bunga.
Biasanya lalu diikuti oleh perbankan dengan
menaikan suku bunga pinjaman. Hal ini menjadikan
beban biaya tambahan bagi perusahaan, terutama
yang menggunakan pinjaman dari bank untuk biaya
operasi atau ekspansi. Beban biaya tambahan
tersebut akan mengurangi tingkat keuntungan
perusahaan. Efeknya harga saham menjadi turun.
Oleh karena itu, angka inflasi yang terlalu besar
menjadi momok bagi investor, karena bila BI
berusaha meredam inflasi dengan menaikan suku
bunga, ujung-ujungnya harga saham cenderung
turun.

Fenomena kenaikan maupun penurunan


IHSG tentunya disebabkan oleh banyak faktor atau
variabel yang dapat mempengaruhi perubahan
IHSG tersebut, di dalam tulisan ini akan berfokus
kepada tiga variabel independent yang lebih
spesifik yaitu "Berapa besar pengaruh kurs mata
uang rupiah atas dollar AS, tingkat suku bunga SBI
dan tingkat inflasi terhadap pergerakan IHSG".
Pada tahun 2007, kurs mata uang rupiah
berada pada posisi Rp. 9419/USD, dengan tingkat
suku bunga SBI yaitu pada posisi 8.00%,
sedangkan laju inflasi yaitu sebesar 6.59% dan nilai
IHSG pada tahun tersebut berada pada posisi yaitu
2745.83. Perubahan terjadi pada tahun berikutnya,
yaitu pada tahun 2008, IHSG turun tajam hingga
jatuh ke level 1355.41. Pada saat itu para investor,
terutama investor asing berlomba-lomba menjual
saham yang dimilikinya, sehingga pihak Bursa Efek
Indonesia (BEI) melakukan penutupan sementara
atau suspension terhadap perdagangan saham di
bursa. Sementara SBI dan laju inflasi mengalami
peningkatan yang sangat tajam yaitu berada pada
level 9.25% dan 11.06%, sehingga nilai tukar
rupiah/USD mengalami penurunan harga sampai ke
level Rp. 10950/USD. Hal ini disebabkan karena
dampak krisis keuangan gobal yang terjadi di
Negara Amerika Serikat. Krisis keuangan globalnya
yaitu berupa krisis sub-prime mortgage yaitu
kegagalan para debitur individu dalam membayar
cicilan utang rumah/mortgage-nya kepada pihak
perbankan, yang kemudian berdampak kepada
pihak perbankan, dimana pihak perbankanpun gagal
juga dalam membayar kewajibannya. Situasi ini
membuat multiplayers effect keseluruh sistem
perbankan AS pada khususnya serta sistem
perbankan dunia pada umumnya. Kemudian
menciptakan
krisis
global
dan
telah
mengguncangkan perekonomian dunia, sehingga
nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS
turun nilainya (devaluasi).
Pada tahun berikutnya perkembangan IHSG
menunjukan
sikap
yang
positif,
dimana
perkembangan dari tahun ke tahun selalu
mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal
ini di pengaruhi oleh kurs rupiah/dollar AS dan
suku bunga SBI dengan perkembangan yang cukup
stabil serta laju inflasi yang menunjukan
perkembangan yang sangat signifikan mengalami
peningkatan dan penurunan setiap tahunnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
Pengaruh Kurs Mata Uang Rupiah atas Dollar AS,
Tingkat Suku Bunga SBI dan Tingkat Inflasi
Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Pada Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 20072011

2. Kajian Pustaka & Hipotesis


2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Kurs Mata Uang Rupiah atas Dollar AS


terhadap IHSG
Bayuandika (2008) menjelaskan bahwa
kurs mata uang asing atau valas. Valas adalah harga
mata uang asing dalam satuan mata uang domestik.
Kurs mata uang akan mendorong investor untuk
tidak menginvestasikan dananya dipasar modal
melainkan pada transaksi di pasar valuta asing
tersebut. Hal ini akan mengakibatkan transaksi
keuangan para investor di BEJ akan berkurang
karena dianggap lebih menguntungkan berspekulasi
pada gejolak kurs mata uang asing tersebut
sehingga akan mengakibatkan IHSG BEJ akan
melemah. Sebaliknya juga apabila kurs valuta asing
stabil maka spekulasi yang mereka lakukan pada
kurs yang stabil kurang menguntungkan, sehingga
mereka tetap melakukan perdagangan di pasar
modal dan IHSG akan menguat.
Menurut Sri Handaru (2005:181), penurunan
nilai kurs rupiah (depresiasi) terhadap mata uang
asingn dipengaruhi oleh berbagai faktor berbagai
diantaranya yaitu kondisi perekonomian Indonesia,
regional maupun internasional. Bursa saham pun
tidak terlepas dari pengaruh faktor-faktor ekonomi
maupun non-ekonomi yang ada. Suad Husnan
(2005:149) menjelaskan bahwa bagi investor asing
perubahan kurs valuta asing merupakan risiko
tersendiri yang harus diperhatikan karena
diperkirakan deviasi standar tingkat keuntungan
yang diperoleh pemodal asing akan cenderung lebih
tinggi apabila dibandingkan dengan pemodal
domestik.
Jadi nilai tukar atau harga mata uang asing
adalah nilai tukar mata uang suatu negara terhadap
suatu mata uang negara lainnya.Suatu mata uang
dikatakan semakin mahal jika nilai tukarnya
semakin
menguat,
dan
begitu
juga
sebaliknya.Untuk mengetahui perkembangan nilai
tukar Rupiah (per satu Dollar Amerika) digunakan
analisis kurs harian nilai tukar Rupiah.
Menurut Etty Murwaningsari (2008:178195) Studi mengenai hubungan antara nilai tukar
rupiah dan reaksi pasar saham telah banyak
dilakukan penelitian yang berhubungan dengan
masalah nilai tukar dan return saham telah
dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya.
Dalam kondisi normal dimana fluktuasi kurs tidak
terlalu tinggi, hubungan kurs dengan pasar modal
adalah positif, tetapi jika terjadi depresiasi/
apresiasi kurs, maka hubungan kurs dengan pasar
modal akan berkorelasi negatif. Risiko dari
fluktuasi nilai tukar Rupiah beserta hal-hal yang
mempengaruhinya tentunya akan berpengaruh
terhadap perilaku pasar modal (mempengaruhi
harga saham perusahaan-perusahaan yang menjual
sekuritas di pasar modal). Perkembangan nilai tukar
Rupiah (per satu Dollar Amerika Serikat)
mempengaruhi pergerakan nilai saham di Bursa
Efek Indonesia karena jika nilai tukar Rupiah
menguat maka akan mendorong para investor (lokal

maupun asing) untuk menambah pembeli atau


menjual suatu sekuritas, serta akan mempengaruhi
kinerja suatu perusahaan yang pada akhirnya akan
mempengaruhi harga saham perusahaan.
H1.1: Tingkat kurs mata uang rupiah atas dollar
AS berpengaruh secara parsial terhadap Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Bursa
Efek Indonesia (BEI).
2.1.2 Tingkat Suku Bunga Terhadap IHSG
Menurut Dahlan Siamat (2005:455-456)
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) pada prinsipnya
adalah surat berharga atas unjuk dalam rupiah yang
diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan
utang berjangka waktu pendek dan diperjualbelikan
dengan diskonto. SBI yang ditawarkan dan
diterbitkan dengan system lelang, pada dasarnya
penggunaannya sama dengan penggunaan Treasury
Bills (T-Bills) di pasar uang Amerika Serikat.
Melalui penggunaan SBI tersebut, BI dapat secara
tidak langsung mempengaruhi tingkat bunga di
pasar uang dengan cara mengumumkan Stop Out
Rate (SOR). SOR adalah tingkat suku bunga yang
diterima oleh BI atas penawaran tingkat bunga dari
peserta lelang. Selanjutnya, SOR tersebut akan
dapat dipakai sebagai indicator bagi tingkat suku
bunga transaksi di pasar uang pada umumnya.
Menurut Desmond Wira (2011:25) Sertifikat
bank Indonesia (SBI) adalah surat pengakuan utang
berjangka watu pendek (1-3 bulan). Sertifikat Bank
Indonesia (SBI) adalah surat berharga atas tunjuk
yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai
pengakuan utang jangka pendek dengan sistem
diskonto. SBI adalah salah satu instrumen BI untuk
mengendalikan jumlah uang yang beredar. Tingkat
bunga SBI yang tinggi dilakukan untuk menyedot
dana dari masyarakat supaya investasi dan
konsumsi menurun, dan tersimpan di perbankan.
Hal tersebut biasanya dilakukan pada saat kondisi
inflasi yang tinggi dan nilai uang rendah sedangkan
tingkat bunga SBI yang rendah dilakukan agar
investasi dan konsumsi menjadi bergairah dengan
demikian dana akan berputar dan dunia usaha
berjalan.
Setiap investor selalu mengharapkan agar
uang atau dana yang ditanam menjadi berkembang
oleh karena memperoleh suku bunga. Akan tetapi
kalau terjadi inflasi (akibat tingkat harga naik),
jumlah uang yang diterima daya belinya akan
berkurang. Jadi bunga yang diterima harus sudah
memperhitungkan tingkat inflasi (premi inflasi).
Seorang investor harus mengorbankan konsumsinya
sekarang karena uangnya untuk di investasikan,
maka untuk itu wajar jika investor menuntut agar
dalam menentukan tingkat bunga dipertimbangkan
adanya preferensi waktu (premi preferensi waktu).
Investor harus membayar pajak atas bunga yang
diterimanya, maka investor juga menghendaki agar

pajak (premi pajak) juga dipertimbangkan dalam


menentukan besarnya tingkat bunga.
Darmawi (2006:182) menyatakan beberapa
faktor yang dapat mempengaruhi tingkat suku
bunga yaitu harapan akan inflasi, jatuh tempo
sekuritas atau kredit, keberadaan risiko pada
peminjaman, risiko tentang penarikan sekuritas
sebelum jatuh tempo, kemampuan pemasaran dan
pajak. Yang dimaksud dengan tingkat suku bunga
adalah persentase dari pokok pinjaman yang harus
dibayar oleh peminjam kepada pemberi pinjaman
sebagai imbal jasa yang dilakukan dalam suatu
periode tertentu yang telah disepakati kedua belah
pihak. Suku bunga yang digunakan adalah tingkat
suku bunga SBI.
H1.2: Tingkat suku bunga SBI berpengaruh
negative secara parsial terhadap Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG) pada
Bursa Efek Indonesia (BEI).
2.1.3 Tingkat Inflasi Terhadap IHSG
Inflasi selalu identik dengan kenaikan harga
tetapi tidak berarti bahwa berbagai harga berbagai
macam tersebut mengalami kenaikan dengan
persentasi yang sama. Kenaikan harga barang
umum tersebut terjadi secara terus menerus dalam
periode waktu tertentu dan diukur dengan
menggunakan indeks harga terutama Indeks Harga
Konsumen (IHK).
Ni Nyoman Aryaningsih (2008:56-67)
Inflasi merupakan perubahan harga yang cenderung
meningkat, tanpa diimbangi perubahan daya beli
masyarakat yang meningkat. Dalam kenyataan
jarang terjadi suatu kondisi, dimana inflasi yang
tinggi menyebabkan hasil output tertentu, sehingga
tingkat output berubah dari waktu ke waktu
mengikuti perubahan laju inflasi yang diperkirakan.
Bisa saja terjadi kondisi, bahwa kenaikan inflasi
yang tinggi bahkan menurunkan tingkat output
tertentu.
Tandelililin (2010: 342) menjelaskan
pengertian inflasi merupakan kecenderungan
terjadinya peningkatan harga produk-produk secara
keseluruhan.
Berdasarkan penyebab terjadinya, Inflasi
dapat dibedakan menjadi dua yaitu; (1) demand pull
inflation dan; (2) cost push inflation. Demand pull
inflation adalah inflasi yang bermula dari kenaikan
permintaan total (aggregate demand) sedangkan
cosh push inlation adalah inflasi yang diakibatkan
oleh kenaikan biaya produksi yang ditandai dengan
turunnya produksi. Dilihat dari konsep lain, inflasi
dapat pula disebabkan karena perbedaan suku
bunga nominal dengan suku bunga riil. Penyesuaian
suku bunga nominal terhadap tingkat inflasi inilah
yang biasa disebut sebagai efek Fisher (Fisher
effect) yaitu dengan suku bunga riil yang tetap,
suku bunga nominal akan naik dengan

meningkatnya inflasi (Dornbush dan Fisher


dalam Sadono Sukirno, 2010).
Tingginya tingkat inflasi menunjukkan
bahwa resiko untuk melakukan investasi cukup
besar sebab inflasi yang tinggi akan mengurangi
tingkat pengembalian dari investor. Pada kondisi
inflasi yang tinggi maka harga barang-barang atau
bahan baku memiliki kecenderungan untuk
meningkat. Peningkatan harga barang-barang dan
bahan baku akan membuat biaya produksi menjadi
tinggi sehingga akan berpengaruh pada penurunan
jumlah permintaan yang berakibatnya pada
penurunan penjualan sehingga akan mengurangi
pendapatan
perusahaan.
Selanjutnya
akan
berdampak buruk pada kinerja perusahaan yang
tercermin pula oleh turunnya return saham.
Beberapa bukti empiris tentang pengaruh tingkat
inflasi dengan IHSG menunjukkan bahwa laju
inflasi secara terpisah tidak berpengaruh signifikan
terhadap IHSG (Sri Martini, 2009:15-26)
Dari beberapa penelitian tersebut menunjukkan
bahwa pengaruh tingkat inflasi terhadap IHSG
memiliki pengaruh yang negative.
H1.3: Tingkat inflasi berpengaruh negative
secara parsial terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) pada Bursa Efek Indonesia
(BEI).
Studi Empiris Penelitian Terdahulu
1. Penelitian Usman Abdulatif (2010)
Hasil penelitian menunjukkan secara
simultan bahwa perubahan eksternal cadangan telah
memiliki pengaruh positif terhadap pertumbuhan
PMA dan apresiasi nilai tukar di dalam negeri tetapi
tidak berpengaruh seperti yang diamati pada
investasi domestik dan inflasi tingkat dalam negeri
dalam periode tersebut.
2. Penelitian I Wayan Wardita (2008)
Hasil penelitian menunjukkan secara
simultan bahwa Selisih Suku Bunga Bank
Indonesia dengan Suku Bunga Internasional, Inflasi
dan Cadangan Emas mempengaruhi Kurs dollar AS
secara signifikan. Sedangkan secara parsial terbukti
bahwa Selisih Suku Bunga Bank Indonesia dengan
Suku Bunga Internasional dan tingkat inflasi
mempunyai hubungan yang tidak signifikan
terhadap Kurs dollar AS sedangkan cadangan emas
berpengaruh secara signifikan terhadap kurs dollar
AS.
3. Penelitian Makaryanawati (2009)
Hasil penelitian menunjukkan secara
simultan bahwa tingkat suku bunga dan tingkat
likuiditas perusahaan memperngaruhi risiko
investasi saham secara signifikan. Sedangkan
secara parsial terbukti bahwa tingkat suku bunga
mempunyai hubungan yang tidak signifikan
terhadap risiko investasi sedangkan tingkat
likuiditas berpengaruh secara signifikan terhadap
risiko investasi.

4.

Penelitian Mudji Utami (2003)


Hasil penelitian menunjukkan secara
simultan bahwa profitabilitas, suku bunga, inflasi
dan nilai tukar mempengaruhi harga saham badan
usaha secara signifikan selama krisis ekonomi
terjadi di Indonesia.Sedangkan secara parsial
terbukti bahwa suku bunga dan nilai tukar rupiah
terhadap dollar AS mempunyai pengaruh secara
signifikan terhadap harga saham badan usaha
selama krisis ekonomi di Indonesia.

5.

Penelitian Poltak Manurung (2008)


Hasil penelitian menunjukan secara simultan
bahwa kurs mata uang rupiah atas dollar AS dan
kepemilikan
saham
oleh
investor
asing
mempengaruhi IHSG secara signifikan.Sedangkan
secara parsial terbukti bahwa kurs mata uang rupiah
atas dollar AS mempunyai pengaruh secara
signifikan terhadap IHSG sedangkan kepemiikan
saham oleh investor asing berpengaruh secara
signifikan terhadap IHSG.

3. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode deskriptif dan verifikatif dengan
pendekatan kuantitatif.
Sedangkan menurut Umi Narimawati
(2007:21) metode penelitian verifikatif adalah
pengujian hipotesis melalui alat analisis statistik.
Menurut Sugiyono (2010:8) metode penelitian
kuantitatif adalah metode penelitian yang
berlandaskan pada sample filsafat positivism,
digunakan untuk meneliti pada populasi atau
sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan
instrument penelitan, analisis data bersifat
kuantitatif/statistic, dengan tujuan untuk menguji
hipotesis yang telah ditentukan.
Metode verifikatif dengan pendekatan
kuantitatif digunakan untuk mengetahui besarnya
pengaruh kurs mata uang rupiah atas dollar AS,
tingkat suku bunga SBI dan tingkat inflasi terhadap
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara
parsial dan simultan pada Bursa Efek Indonesia
(BEI).
Sumber data yang dipakai dalam penelitian ini
yaitu data sekunder, karena peneliti mengumpulkan
informasi dari data yang telah diolah lebih lanjut
dan data yang disajikan oleh pihak lain. Data yang
digunakan meliputi data nilai tukar rupiah terhadap
dollar Amerika Serikat, prosentase tingkat suku
bungaSBIdan prosentase tingkat inflasi di Bursa
Efek Indonesia (BEI) pada setiap akhir bulan
pengamatan selama periode 6 tahun yaitu tahun
2007-2012.
Teknik Penentuan Data
Populasi yang digunakan
penulis pada
penelitian ini yaitu seluruh laporan nilai tukar<
tingkat suku bunga, laju inflasi, dan IHSG

sedangkan sampel penelitian adalah data


perkembangan nilai kurs rupiah/dollar AS, tingkat
suku bunga SBI dan laju inflasi pada setiap bulan
pengamatan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) dan
nilai IHSG pada setiap akhir bulan pengamatan
periode 2007-2012 pada Bursa Efek Indonesia
(BEI).
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan penulis
untuk melengkapi data yang dibutuhkan dalam
penelitian. Adapun teknik pengumpulan data yang
digunakan dalam penelitian yang dilakukan adalah
Studi Kepustakaan (Library Research).
Studi kepustakaan berupa Journal, data Bank
Indonesia, textbook, penelitian terdahulu, akses
website Bank Indonesia: http//www.bi.go.id dan
Bursa Efek Indonesia: http//www.idx.co.id. Melalui
studi pustaka ini penulis mengumpulkan data dan
mempelajari serta membaca pendapat para ahli
yang berhubungan dengan permasalahan yang
diteliti untuk memperoleh landasan teori yang dapat
menunjang penelitian.Sehingga penelitian yang
dilaksanakan mempunyai landasan teori yang kuat
dan menunjang.
Rancangan Analisis
a. Analisis Deskriptif (Kualitatif)
Metode deskriptif adalah metode yang
digunakan
untuk
menggambarkan
atau
menganalisis masing-masing variabel penelitian
dengan mengetahui perkembangan masing-masing
variable.
b. Analisis Kuantitatif (Verifikatif)
Analisis verifikatif dengan pendekatan
kuantitatif digunakan untuk menguji besarnya
pengaruh kurs mata uang rupiah atas dollar AS,
tingkat suku bunga SBI dan tingkat inflasi terhadap
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara
parsial dan simultan pada Bursa Efek Indonesia
(BEI).
1.

Analisis Regresi Linear Berganda


Analisis regresi berganda digunakan peneliti
dengan maksud untuk mengetahui sejauh mana
hubungan kurs mata uang rupiah atas dollar AS,
tingkat suku bunga SBI dan tingkat inflasiterhadap
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Bursa
Efek Indonesia (BEI) periode 2007-2012.
Persamaan yang menyatakan bentuk hubungan
antara variable independent (kurs mata uang rupiah
atas dollar AS, tingkat suku bunga SBI dan tingkat
inflasi) dan variable dependent (IHSG) disebut
dengan persamaan regresi.
Bentuk persamaan dari regresi linier
berganda ini yaitu:

Keterangan:
Y =Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
X1 = Kurs Mata Uang Rupiah atas Dollar AS
X2 = Tingkat Suku Bunga SBI
X3 = Tingkat Inflasi
a
=Konstanta Intersep
1 =Koefisien Regresi Variabel Kurs Mata
Uang Rupiah atas Dollar AS
2 =Koefisien Regresi Variabel Tingkat Suku
Bunga SBI
3 =Koefisien Regresi Variabel Tingkat
Inflasi

= Faktor-faktor lain yang mempengaruhi


variabel Y.

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui


apakah semua variable bebas secara bersama-sama
dapat berperan atas variable terikat. Pengujian ini
dilakukan menggunakan distribusi F dengan
membandingkan antara nilai F Kritis dengan nilai
F-test yang terdapat pada Tabel Analisis of
Variance (ANOVA) dari hasil perhitungan dengan
Microsoft. Jika nilai Fhitung> Fkritis, Maka Ho yang
menyatakan bahwa variasi perubahan variable
bebas (kurs mata uang rupiah atas dollar AS,
tingkat suku bunga SBI dan tingkat inflasi) tidak
dapat menjelaskan perubahan nilai variabel terikat
(Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)) ditolak
dan sebaliknya.

Regresi linier berganda dengan tiga variabel


bebas yaitu kurs mata uang rupiah atas dollar AS,
tingkat suku bunga SBI dan tingkat inflasi metode
kuadrat kecil memberikan hasil bahwa koefisienkoefisien a, b1, b2 dan b3. Nilai-nilai tersebut
dapat dicari dengan rumus pearson product
moment.

1.

2.

Uji Asumsi Klasik


Untuk memperoleh hasil yang lebih akurat
pada analisis regresi berganda maka dilakukan
pengujian asumsi klasik agar hasil yang diperoleh
merupakan persamaan regresi yang memiliki sifat
Best Linier Unbiased Estimator (BLUE). Pengujian
mengenai ada tidaknya pelanggaran asumsi-asumsi
klasik merupakan dasar dalam model regresi linier
berganda yang dilakukan sebelum dilakukan
pengujian terhadap hipotesis. Pengujian meliputi uji
normalitas,
uji
multikolinearitas,
uji
heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi
3.

Analisis Koefisien Korelasi


Koefisien korelasi simultan antara kurs mata
uang rupiah atas dollar AS (X1), tingkat suku bunga
SBI (X2) dan tingkat inflasi (X3) dengan IHSG (Y).
4.

Koefisien Determinasi
Untuk mengetahui besarnya pengaruh Kurs
mata uang rupiah atas dollar AS(variabel X1),
Tingkat Suku Bunga SBI(variabel X2) dan Tingkat
Inflasi (variabel X3) terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan (variabel Y) maka menggunakan analisis
Koefisien Determinasi yang diperoleh dengan
mengkuadratkan koefisien korelasinya.
Pengujian Hipotesis
1. Pengujian Hipotesis Secara Simultan/Total
(Uji F)
Melakukan uji F untuk mengetahui pengaruh
seluruh variable bebas secara simultan terhadap
variable terikat:
a. Rumus uji F yang digunakan adalah
F=

Pengujian Hipotesis Secara Parsial (Uji t)


Pengujian secara parsial, dilakukan uji-t untuk
menguji pengaruh masing-masing variabel bebas
terhadap variabel terikat hipotesis sebagai berikut.
Rumus uji t yang digunakan adalah:

thitung =

b
Se(b)

Dimana:
b
= Koefisien Regresi ganda
Se (b)= Standar eror
Hasilnya dibandingakn dengan tabel t untuk
derajat bebas n-k-1 dengan taraf 5%.

4. Pembahasan
4.1. Analisis Deskriptif
4.1.1

Kurs mata uang rupiah atas dollar


Berdasarkan analisis deskriptif Kurs mata
uang dollar AS yang tertinggi adalah Rp 12,151.00
terjadi pada bulan November tahun 2008 dan kurs
mata uang Kurs mata uang dollar AS terendah
terjadi pada bulan Juli tahun 2011 sebesar Rp
8,508.00. Pada tahun 2011 dan 2012, kurs rupiah
relatif stabil dengan mengarah penguatan.Tahun
2011 nilai rupiah menguat terhadap dolar dibanding
tahun-tahun sebelumnya selama periode yang
diamati. Kurs rupiah terlihat melemah terhadap
dollar Amerika pada akhir 2008 (mulai bulan
oktober 2008 hingga tahun 2009 akhir). Hal ini
disebabkan karena dampak krisis global yang
terjadi pada saat itu. Sejak memasuki tahun 2010
penguatan kurs rupiah hingga kurang dari Rp 9000.
Rata-rata Kurs mata uang dollar melemah terjadi
pada tahun 2009 dan kurs mata uang dollar
menguat terjadi padatahun 2011.
4.1.2

Tingkat Suku Bunga SBI


Berdasarkan analisis deskriptif Data yang
diperoleh menunjukkan di tahun 2007 terlihat
kecenderungan suku bunga SBI menurun dimana
terlihat di awal tahun 2007 terlihat suku bunga
Sertifikat Bank Indonesia mencapai 9,5% namun

diakhir tahun turun menjadi 8%. Pada tahun 2008


berbeda dari tahun 2008 terlihat ada
kecenderungan meningkatnya nilai suku bunga
Sertifikat Bank Indonesia. Di awal tahun nilai
suku bunga Sertifikat Bank Indonesia sebesar
8,0% dan pada akhir tahun mencapai 9,25%. Di
tahun 2009 suku bunga SBI terlihat memiliki
kecenderungan menurun dimana terlihat di awal
tahun 2008 terlihat suku bunga Sertifikat Bank
Indonesia mencapat 8,75% namun diakhir tahun
turun menjadi 6,50%. Ditahun 2010 nilai suku
bunga Sertifikat Bank Indonesia stabil pada nilai
sebesar 6,5%. tahun 2008 berbeda dari tahun
2008 terlihat ada kecenderungan meningkatnya
nilai suku bunga Sertifikat Bank Indonesia. Di
awal tahun nilai suku bunga Sertifikat Bank
Indonesia sebesar 8,0% dan pada akhir tahun
mencapai 9,25%.Perkembangan suku bunga
Sertifikat Bank Indonesia ini akan menyebabkan
terjadinya peningkatan dan penurunan harga
saham. Apabila suku bunga Sertifikat Bank
Indonesia cenderung mengalami penurunan maka
investor akan melakukan investasi dalam bentuk
saham, sehingga IHSG akan mengalami
peningkatan. Apabila suku bunga Sertifikat Bank
Indonesia cenderung mengalami peningkatan
maka para investor akan melakukan investasi
dalam Sertifikat Bank Indonesia, sehingga dalam
hal ini IHSG akan mengalami penurunan.
4.1.3

Tingkat Inflasi terhadap IHSG


Berdasarkan analisis deskriptif Inflasi
periode tahun 2007 terendah terjadi pada bulan Juni
sebesar 5,77 %, sedangkan inflasi tertinggi adalah
6,95% terjadi pada bulan September. Terlihat
kecenderungan Inflasi periode tahun 2007 stabil
dinilai rata-rata 6%. Pada tahun 2008 terlihat
kecenderungan inflasi meningkat. Pada awal tahun
di bulan januari inflasi tercatat sebesar 7.36%dan
mencapai 12,14% pada bulan september 2008, dan
kembali turun diakhir tahun menjadi sebesar
11,06%. Di tahun 2009 ini terlihat kecenderungan
inflasi menurun. Pada awal tahun 2009 di bulan
Januari inflasi tercatat sebesar 9.17% dan akhir
tahun menjadi sebesar 2.78%. Pada tahun 2010
terlihat kecenderungan inflasi meningkat. Pada
awal tahun dibulan januari inflasi tercatat sebesar
3.72%dan mencapaisebesar 6.96% pada akhir
tahun. Di tahun 2011 terlihat kecenderungan inflasi
menurun, dimana pada awal tahun inflasi tercatat
sebesar 7.02% an turun hingga nilai 3.79% pada
akhir tahun 2012. Hal ini disebabkan karena
sepanjang tahun 2008 terjadi krisis yang sangat
mengganggu sekali perekonomian di indonesia
yang dipengaruhi oleh krisis global di dunia
sehingga nilai inflasi sangat tinggi pada waktu itu,
kemudian IHSG secara tidak langsung terpengaruh
oleh tingginya nilai inflasi karena buruknya
perekonomian indonesia pada saat ini sehingga

terlihat nilai IHSG menunjukan penurunan yang


sangat drastis.
4.2. Analisis Verifikatif
Uji Asumsi Klasik Regresi
a. Uji Normalitas
Hasil perhitungan nilai Kolmogorov untuk
model regresi yang diperoleh adalah sebesar 0,122
dengan probabiliti (p-value) sebesar 0,336. Karena
nilai probability uji Kolmogorov model lebih besar
dari tingkat kekeliruan 0,05, maka dapat
disimpulkan bahwa nilai residual dari model
regressi berdistribusi normal.
b.

Uji Multikolinearitas
Hasil perhitungan Tolerance menunjukkan
tidak ada nilai variabel independen yang memiliki
nilai Tolerance kurang dari 0,10 yang berarti tidak
ada korelasi antara variabel independen yang
nilainya sangat kuat (mendekati satu). Hasil
perhitungan nilai Variance Inflation Faktor (VIF)
juga menunjukkan hal yang sama tidak ada satu
variabel independen yang memiliki VIF lebih dari
10. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada
multikolinieritas antara variabel independen dalam
model regresi.
c.

Uji Heterokedastisitas
Hasil uji heteroskedastisitas menggunakan
pendekatan uji Gletser menunjukkan bahwa varians
dari
residual
tidak
homogen
(terdapat
heteroskedastisitas). Hal ini ditunjukkan oleh hasil
variabel X2 (Sertifikat Bank Indonesia) SBI dengan
nilai signifikansi kurang dari 0,05 sedangkan untuk
variabel X1 kurs mata uang rupiah atas dollar AS
danX3 tingkat inflasi memiliki nilai signifikansi
lebih dari 0,05, sehingga absolut dari residual
(error) signifikan pada level 5%.
d.

UjiAutokorelasi
Hasil perhitungan statistik Durbin-Watson
(D-W) untuk model regresi diperoleh sebesar
1,801.. Nilai D-W yang diperoleh dari model
dibandingkan terhadap nilai tabel Durbin-Watson.
Untuk variabel X dalam model regresi sebanyak 4
dan jumlah unit analisis 60 diperoleh dari tabel
Durbin-Watson (D-W) nilai batas bawah DL sebesar
1,444 dan nilai batas atas DU sebesar 1,727. Dengan
melihat angka DW berada dalam rentang du dan 4du yaitu di daerah tidak ada autokorelasi. Maka hasil
yang diperoleh dapat dikatakan bahwapada model
regresi tidak terjadi autokorelasi
4.2.1 Hasil Analisi Regresi Linear Berganda
Hasil perhitungan hubungan antara variable
independent (kurs mata uang rupiah atas dollar AS,
tingkat suku bunga SBI dan tingkat inflasi dan
IHSG periode sebelumnya ) terhadap IHSG
diperoleh dari hasil koefisien regresi, persamaan
regresi kurs mata uang rupiah atas dollar AS,

tingkat suku bunga SBI dan tingkat inflasi dan


IHSG periode sebelumnya ) terhadap IHSG sebagai
berikut:
Y = 1854,523 0,064 X1 99,982 X2 5,568
X3 + 0,834X4
Koefisien regresi untuk X1 (kurs mata uang
rupiah atas dollar AS) diperoleh negatif sebesar 0,064. Hal diatas menunjukkan bahwa setiap
melemahnya kurs mata uang rupiah atas dollar AS
akan menyebabkan penurunan IHSG sebesar nilai
koefisien regresinya. Dengan kata lain, setiap 1%
kenaikan kurs mata uang rupiah atas dollar AS an
mengakibatkan IHSG mengalami penurunan
sebesar 0,064.
Koefisien regresi untuk X2 (SBI) diperoleh
negatif sebesar -99,982. Hal diatas menunjukkan
bahwa setiap kenaikan suku bunga SBI akan
menyebabkan penurunan IHSG sebesar nilai
koefisien regresinya. Dengan kata lain, setiap 1%
kenaikan suku bunga SBI akan mengakibatkan
IHSG mengalami penurunan sebesar 99,982.
Koefisien regresi untuk X3 (Inflasi)
diperoleh negatif sebesar -5,568. Hal diatas
menunjukkan bahwa setiap kenaikan Inflasiakan
menyebabkan penurunan IHSG sebesar nilai
koefisien regresinya. Dengan kata lain, setiap 1%
kenaikan Inflasiakan mengakibatkan IHSG
mengalami penurunan sebesar 5,568.
Koefisien regresi untuk X4 (IHSG periode
sebelumnya) diperoleh positif sebesar 0,834. Hal
diatas menunjukkan bahwa setiap kenaikan IHSG
periode sebelumnya menyebabkan peningkatan
IHSG sebesar nilai koefisien regresinya. Dengan
kata lain, setiap kenaikan IHSG periode
sebelumnya akan mengakibatkan IHSG mengalami
peningkatan sebesar 0,834.
4.2.2 Koefisien Korelasi dan Determinasi
Dari hasil pengujian menggunakan Program
SPSS diperoleh besarnya korelasi ganda antara
Kurs mata uang rupiah atas dollar AS, Tingkat
Suku Bunga SBI, Tingkat Inflasiserta IHSG periode
sebelumnya terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan pada Bursa Efek Indonesia (BEI)sebesar
980.Nilai korelasi yang diperoleh masuk dalam
kategori sangat kuat. Artinya Kurs mata uang
rupiah atas dollar AS, Tingkat Suku Bunga SBI,
Tingkat Inflasi serta IHSG periode sebelumnya
sangat erat kaitannya dengan perubahan Indeks
Harga Saham Gabunga pada Bursa Efek Indonesia
(BEI).
Nilai R-square (R2) atau koefisien
determinasi sebesar 0,960 menunjukkan besarnya
pengaruh Kurs mata uang rupiah atas dollar AS,
Tingkat Suku Bunga SBI, Tingkat Inflasi serta
IHSG periode sebelumnya terhadap Indeks Harga
Saham Gabunga pada Bursa Efek Indonesia (BEI).
Artinya 96% perubahan Indeks Harga Saham

Gabungan dipengaruhi oleh perubahan Kurs mata


uang rupiah atas dollar AS, Tingkat Suku Bunga
SBI, Tingkat Inflasi serta IHSG periode
sebelumnya sedangkan pengaruhi faktor lain yang
tidak termasuk dalam variabel yang diteliti dalam
penelitian ini adalah 4,0% lainnya.
4..3 Pengujian Hipotesis
4.3.1 Pengujian
Hipotesis
Secara
Simultan/Total (Uji F)
Hasil uji hipotesis diperoleh Fhitung (333,694)
lebih besar dari Ftabel (2,540).Hasil ini juga
ditunjukkan oleh nilai signifikansi uji statistik (pvalue)sebesar 0,000. Artinya kesalahan untuk
mengatakan ada pengaruh terhadap Harga Saham
sangat kecil atau berarti lebih kecil dari tingkat
kesalahan yang dapat diterima sebesar 5%. Dari
hasil uji F ini berarti H0 ditolak dan dengan
demikian kurs mata uang rupiah atas dollar AS,
tingkat suku bunga SBI dan tingkat inflasi
berpengaruh terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG).
4.3.2 Pengujian Hipotesis Secara Parsial (Uji t)
1. Pengaruhkurs mata uang rupiah atas dollar
AS terhadap Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG)
Hasil penghitungan nilai statistik uji t yang
diperoleh menunjukkan t-hitung berada diantara
nilai negatif dan nilai positf ttabel (- 2,004< t = 1,360< 2,004), maka diperoleh hasil pengujian Ho
tidak ditolak (H0 diterima).
Apabila tingkat signifikansi hasil uji sebesar
0,179 dibandingkan dengan derajat kesalahan yang
telah ditentukan yaitu sebesar 0,05, variabel ini
termasuk tidak signifikan. Nilai signifikansi
variabel nilai tukar lebih besar dari derajat
kesalahan artinya bahwa hipotesis nol tidak ditolak
dan H1tidak dapat diterima.Dari hasil uji t
disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang tidak
signifikan kurs mata uang rupiah atas dollar AS
terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
pada Bursa Efek Indonesia (BEI).
2. Pengaruh tingkat suku bunga SBI terhadap
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Hasil penghitungan nilai statistik uji t yang
diperoleh menunjukkan t-hitung lebih kecil dari
nilai negatif ttabel (t = -2,047>-2,004), maka
diperoleh hasil pengujian Ho ditolak .
Apabila tingkat signifikansi hasil uji sebesar
0,045 dibandingkan dengan derajat kesalahan yang
telah ditentukan yaitu sebesar 0,05, variabel ini
termasuk signifikan. Nilai signifikansi variabel
tingkat suku bunga SBI lebih kecil dari derajat
kesalahan artinya bahwa hipotesis nol ditolak dan
H1 dapat diterima. Dari hasil uji t disimpulkan
bahwa terdapat pengaruh negatif tingkat suku

bunga SBI terhadap Indeks Harga Saham Gabungan


(IHSG) pada Bursa Efek Indonesia (BEI).
Ditemukan adanya pengaruh SBI terhadap
Indeks
Harga
Saham Gabungan (IHSG)
menandakan bahwa meningkatnya suku bunga yang
diberlakukan oleh Bank Indonesia berdampak bagi
pemegang saham secara keseluruhan. Adanya suku
bunga yang meningkat berpengaruh pada tinggi
rendahnya minat investor untuk menanamkan
modalnya. Suku bunga yang rendah dapat menarik
minat investor menentukan harga saham.
Hal itu terjadi karena bila suku bunga SBI
mengalami peningkatan, maka para investor lebih
memilih berinvestasi pada Sertifikat Bank
Indonesia dari pada
berinvestasi
kepada
perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia, hal ini menyebabkan Indeks Harga
Saham Gabungan mengalami penurunan.
3. Pengaruh tingkat inflasi terhadap Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG)
Hasil penghitungan nilai statistik uji t yang
diperoleh menunjukkan t-hitunglebih besar dari
nilai negatif ttabel (t = -0,370 <-2,004), maka
diperoleh hasil pengujian Ho tidak ditolak .
Apabila tingkat signifikansi hasil ujisebesar
0,713 dibandingkan dengan derajat kesalahan yang
telah ditentukan yaitu sebesar 0,05, variabel ini
termasuk tidak signifikan. Nilai signifikansi
variabel tingkat inflasi lebih besar dari derajat
kesalahan artinya bahwa hipotesis nol tidak ditolak
dan H1 tidak dapat diterima.Dari hasil uji t
disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh
negative tingkat inflasi terhadap Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) pada Bursa Efek
Indonesia (BEI).
Tidak terdapatnya pengaruh yang signifikan
tingkat inflasi terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG), menunjukan bahwa tingkat
inflasi yang mengalami peningkatan tidak
berpengaruh bagi pemegang saham secara
keseluruhan.
.

5. Kesimpulan Dan Saran


5.1 Kesimpulan
Berdasarkan
hasil
penelitian
dan
pembahasan mengenai analisis pengaruh kurs
rupiah, tingkat suku bunga Sertifikat Bank
Indonesia (SBI) dan tingkat inflasi terhadap Indeks
Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia
menggunakan data priode tahun 2007 sampai
dengan 2011 dapat diambil beberapa kesimpulan
sebagai berikut:
1. Perkembangan kurs mata uang rupiah atas
dollar AS menunjukkan fluktuasi dari Januai
2007 hingga Desember 2011. Pada tahun 2011
kurs rupiah relatif stabil dengan mengarah
penguatan. Tetapi pada Oktober 2008 hingga
tahun 2009 akhir, kurs rupiah terlihat melemah

2.

3.

4.

5.

terhadap dollar Amerika. Hal ini disebabkan


karena faktor negatif dari krisis global dunia
pada saat itu.
Perkembangan tingkat suku bunga Sertifikat
Bank Indonesia (SBI) selama periode Januari
2007 sampai dengan Desember 2011 mengalami
fluktuasi. Dimana terlihat ada kecenderungan
yang turun pada akhir periode penelitian. Suku
bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang
tertinggi terjadi pada bulan Januari 2007,
Oktober dan November 2008 dan suku bunga
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) terendah terjadi
pada bulan November dan Desember 2011.
Akibatnya para investor mengalihkan dananya
untuk berivestasi dalam bentuk saham.
Tingkat inflasi selama periode penelitian secara
keseluruhan turun. Kecenderungan inflasi
periode tahun 2007 stabil, di tahun 2008 terlihat
kecenderungan inflasi meningkat, di tahun 2009
terlihat kecenderungan inflasi menurun, pada
tahun 2010 terlihat kecenderungan inflasi
meningkat dan pada tahun 2011 dan 2012
terlihat kecenderungan inflasi menurun.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) periode Januari 2007 sampai dengan
Desember 2011 dan 2012 mengalami fluktuasi
dengan kecenderungan secara keseluruhan
meningkat, meskipun di tahun 2008 terjadi
penurunan IHSG yang tajam. Hal ini disebabkan
dampak dari krisis global yang terjadi di pada
saat itu.
Berdasarkan hasil analisis regresi diperoleh kurs
mata uang rupiah atas dollar AS, tingkat suku
bunga SBI dan tingkat inflasi serta IHSG
periode sebelumnya berpengaruh terhadap
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Nilai
koefisien determinasi menghasilkan 0,960 yang
berarti dampak kurs mata uang rupiah atas
dollar AS, tingkat suku bunga SBI dan tingkat
inflasi serta IHSG periode sebelumnya terhadap
IHSG sebesar 96,0%. Dari hasil uji F dapat
disimpulkan secara bersama-sama kurs mata
uang rupiah atas dollar AS, tingkat suku bunga
SBI dan tingkat inflasi serta IHSG periode
sebelumnya berpengaruh terhadap indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG). Diperoleh Fhitung
lebih besar dari Ftabel dan juga ditunjukkan oleh
nilai signifikansi uji statistik lebih kecil dari
tingkat kesalahan yang dapat diterima. Secara
parsial kurs mata uang rupiah atas dollar AS
tidak berpengaruh negatif signifikan terhadap
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada
Bursa Efek Indonesia (BEI), tingkat suku bunga
SBI berpengaruh negatif dan signifikan terhadap
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada
Bursa Efek Indonesia (BEI). Ditemukan adanya
pengaruh SBI terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan
(IHSG)
menandakan
bahwa
meningkatnya suku bunga yang diberlakukan
oleh Bank Indonesia berdampak bagi pemegang

10

saham secara keseluruhan. Suku bunga yang


rendah dapat menarik minat investor
menentukan tingkat saham. Terdapat pengaruh
negative tidak signifikan tingkat inflasi terhadap
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada
Bursa Efek Indonesia (BEI). Ini menunjukkan
bahwa meningkatnya tingkat inflasi tidak
berdampak bagi pemegang saham secara
keseluruhan.
5.2 Saran
Berdasarkan
hasil
penelitian
dan
pembahasan, maka peneliti ingin memberikan saran
yang dapat dijadikan masukan kepada yaitu:
1. Bank Indonesia harus intervensi di pasar valuta
asing dengan menambah fasilitas Bank
Indonesia yaitu menaikkan BI Rate. Perbankan
Indonesia khususnya bank umum membuka
fasilitas deposito valas 1 hari sampai 12 bulan
untuk menarik dollar dari peredaran.
2. Pemerintah dalam mengatasi inflasi harus
mampu menahan gejolak harga dengan
meningkatkan produksi barang dalam negeri
yang harganya lebih murah dibanding barang
impor.
3. Bursa Efek Indonesia sebaiknya mampu
menahan investor asing untuk tidak menjual
portfolio saham saat ini sehingga tidak ada
pengeluaran rupiah dalam jumlah yang besar.
4. Sebaiknya Perusahaan-perusahaan yang go
public dapat meningkatkan return saham
dengan cara meningkatkan kinerja perusahaan,
sehingga
dapat
meningkatkan
tingkat
pengembalian modal dari investor dan dapat
mengatasi permasalahan jika terjadi inflasi.

Daftar Pustaka
Abdullateef, Usman, Waheed, Ibrahim. (2010).
Internal Reserve Holding In Nigeria:
Implication for Invesment, Inflation and
Exchange Rate. Journal of Economics and
International Finance, Vol. 2, No. 9, PP.
183-189, September 2010
Agus Budi Santosa. 2008. Kemampuan Inflasi pada
Model Purchasing Power Parity dalam
Menjelaskan Nilai Tukar Rupiah terhadap
Dollar AS. Jurnal Bisnis dan Ekonomi.hal
39-53
Dahlan Siamat. (2005). Manajemen Lembaga
Keuangan;
kebijakan
moneter
dan
perbankan. Jakarta: Lembaga Penerbit
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Darmawi. 2006. Analisis Faktor-faktor yang
mempengaruhi Tingkat Suku Bunga. Jurnal
Ekonomi dan Bisnis
Desmon, Wira. (2011). Analisis Fundamental
Saham. Exceed
Eduardus Tandelilin. (2010).Portofolio dan
Investasi. Penerbit Kanisius

Etty Murwaningsari. (2008). Pengaruh Volume


PerdaganganSaham,
DepositodanKursTerhadap
IHSG
besertaPrediksi IHSG (Model GARCH dan
ARIMA).JurnalEkonomidanBisnis Indonesia,
Vol.23, No.2, TAHUN 2008, Hal. 178-195
I Wayan Wardita. (2008). Pengaruh Selisih Suku
Bunga Bank Indonesia dengan Suku Bunga
Internasional, Inflasi dan Cadangan Emas
Terhadap Kurs US Dollar. Forum
manajemen, vol. 6, No. 2, tahun 2008
M. Bayuandika. (2008). Pengaruh Laba/Rugi
Selisih Kurs Terhadap Laba Bersih
Perusahaan yang Tergabung Dalam LQ45
(2006-2008). Jurnal Ekonomi. 3(2), 1-8.
Makaryanawati,
Misbachul
Ulum.Pengaruh
Tingkat Suku Bunga dan Tingkat Likuiditas
Perusahaan terhadap Risiko Investasi
Saham yang Terdaftar pada Jakarta Islamic
Index. Jurnal Ekonomi Bisnis. Vol. 14 No.1,
Maret 2009
Mudji Utami; Mudjilah, Rahayu. (2003). Peranan
Profitabilitas, Suku Bunga, Inflasi dan Nilai
Tukar Dalam Mempengaruhi Pasar Modal
Indonesia Selama Krisis Ekonomi. Jurnal
Manajemen & Kewirausahaan Vol. 5, No. 2,
September 2003: 123 131
Ni Nyoman Aryaningsih (2009). Pengaruh Suku
Bunga di PT. BPD Cabang Pembantu
Kredit. Jurnal Penelitian dan Pengembangan
Sain dan Humaniora Vol. 2 No. 1, April
2008 hal 56-67.
Poltak Manulang. (2008). Pengaruh Kurs Mata
Uang Rupiah atas Dollar AS dan
Kepemilikan Saham oleh Investor Asing
Terhadap IHSG. Jurnal Ekonomi dan Bisnis,
Vol. 2, No. 2, Oktober 2008
Ridwan S. Sundjadja. (2009). Manajemen
Keuangan. Penerbit Literata Lintas Media
Sadono Sukirno. (2010). Makro Ekonomi. Jakarta:
Rajawali Pers
Sri Utami, Setyaningsih. (2008). Investasi di Pasar
Modal Berdasarkan Laporan
Keuangan
dan Harga Saham. Jurnal Akuntansi dan
Sistem teknologi Informasi Vol. 6, No. 1,
April 2008: 79 91
Sri Handaru Yuliati, Handoyo Prasetyo. (2005).
Manajemen
Keuangan
Internasional,
Penerbit Andi: Yogyakarta.
Sri Martini. (2009). Pengaruh Tingkat Inflasi, Nilai
Tukar, Suku Bunga, dan Produk Donestik
Bruto Terhadap IHSG. Jurnal Administrasi
dan Bisnis, Vol.3 No. 1, Juli 2009 Hal. 1526
Suad Husnan. (2005). Dasar-dasar Teori Portofolio
dan Analisis Sekuritas. UPP AMP YKPN,
Yogyakarta.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan.
ALFABETA, Bandung.

11

Umi Narimawati; Sri Dewi Anggadini; Linna


Ismawati. (2010).Penulisan Karya Ilmiah.
Bekasi: Ganesis

Umi, Narimawati. (2007). Riset Sumber Daya


Manusia:
Aplikasi
contoh
dan
Perhitungannya. Jakarta: Penerbit Agung
Media.

Lampiran
Tabel 4.1 Hasil Uji Normalitas Taksiran Model Regresi X Y
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
N
Normal Parametersa,b
Most Extreme Differences

Mean
Std. Deviation
Absolute
Positive
Negative

Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)

Unstandardized Residual
60
.0000000
160.68610819
.122
.085
-.122
.943
.336

Sumber: Lampiran Output SPPS 18

a. Test distribution is Normal.


b. Calculated from data.
Tabel 4.2 Hasil Uji Asumsi Multikolinearitas
Coefficientsa
Model
1

KursRupiah/USD(Rp)
SBI
TingkatInflasi
IHSGT1

Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
.312
3.203
.169
5.920
.312
3.204
.169
5.903

Sumber: Lampiran Output SPPS 18

a. Dependent Variable: IHSG


Tabel 4.3 Uji Heteroskedastisitas
Coefficientsa
Model
1

(Constant)
KursRupiah/USD(Rp)
SBI
TingkatInflasi
IHSGT1

Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
-63.406 556.260
.001
.032
5.906
33.597
5.303
10.355
.033
.045

Sumber: Lampiran Output SPPS 18

a. Dependent Variable: absr2

Standardized
Coefficients
Beta
.009
.056
.121
.236

t
-.114
.039
.176
.512
.735

Sig.
.910
.969
.861
.611
.465

12

H0 ditolak
autokorelasi
(+)

Raguragu

dL =
1,444

Ragu
-ragu

H0 diterima
( tidak ada
autokorelasi)

dU =
1,727

4- dU =
2,273

H0 ditolak
autokorelasi
(-)
4- dL =
2,556

1,801
Gambar 4.1 Diagram Daerah Pengujian Autokorelasi dengan Uji Durbin Watson

Tabel 4.4 Hasil Koefisien Regresi


Coefficientsa
Model

(Constant)
KursRupiah/USD(Rp)
SBI
TingkatInflasi
IHSGT1
a. Dependent Variable: IHSG

Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
1854.523 808.592
-.064
.047
-99.982
48.837
-5.568
15.052
.834
.066

Standardized
Coefficients
Beta
-.065
-.134
-.018
.826

t
2.294
-1.360
-2.047
-.370
12.671

Sig.
.026
.179
.045
.713
.000

Tabel 4.5 Tabel Hasil Korelasi dan Koefisien Determinasi


Model Summaryb
Adjusted R
Std. Error of the
Model R
R Square
Durbin-Watson
Square
Estimate
1

.980a

.960

.958

166.42670

1.801

Sumber: Lampiran Output SPSS

a. Predictors: (Constant), IHSGT1, TingkatInflasi, KursRupiah/USD(Rp), SBI


b. Dependent Variable: IHSG

Tabel 4.6 Hasil Uji Statistik F


ANOVAb
Model
Sum of Squares
df
Mean Square
F
1
Regression
3.697E7
4
9242611.362
333.694
Residual
1523381.496
55
27697.845
Total
3.849E7
59
a. Predictors: (Constant), IHSGT1, Tingkat Inflasi, Kurs Rupiah/USD(Rp), SBI
b. Dependent Variable: IHSG

Sig.
.000a

13

Daerah Penolakan H0
Daerah Penerimaan H0

Ftabel = 2,540

(a= 0,05 ; df1 = 4; df2 = 55)

Fhitung = 333,694

Gambar 4.2 Daerah Penerimaan Dan Penolakan Ho Pada Pengujian Simultan

14

Jurnal Ekono Insentif Kopwil4, Volume 7 No. 2, Oktober 2013


ISSN: 1907 - 0640, halaman 14 s.d 22

EVALUASI EFEKTIFITAS PENERAPAN BALANCE SCORECARD PT.TELKOM


DIVISI REGIONAL V JAWA TIMUR DALAM MENGHADAPI KOMPETISI
Oleh:
Rini Yuli Prihatin
Sekolah Tinggi Pariwisata Bogor

Abstrak - Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi efektifitas penerapan Balanced Scorecard yang
didasarkan pada pengukuran kinerja pada PT.TELKOM DIVRE V Jawa Timur. Langkah pertama dalam
mengembangkan Strategy Map yang diterjemahkan dalam visi, misi, nilai dasar, tujuan, dan strategi perusahaan
kedalam strategi issue. Beberapa strategi issue termasuk orientasi, komitmen, dan instrument yang diperlukan
untuk menggerakkan sumber daya dan kekuatan bisnis dengan meletakkan tujuan yang dimaksud sebelumnya
dalam kenyataan. Tujuan organisasi diwujudkan dalam target dasar di tahun yang akan datang yang sangat
menentukan perputaran arah perusahaaan dan mempertahankannya.Tujuan-tujuan itu harus dirumuskan secara
tepat untuk menyediakan arah atau pengendalian tentang bagaimana organisasi mencapai impian di masa yang
akan datang. Isu-isu strategis di PT. TELKOM DIVRE V Jawa Timur dipandang dari sudut hasil penelitian yang
diperlihatkan di bawah.Pertama, mengenai aspek keuangan, isu-isu strategis dihubungkan dengan pertumbuhan
pendapatan dan peningkatan produktifitas. Kedua, isu-isu strategis yang berhubungan dengan konsumen adalah
meningkatkan pangsa pasar dan meningkatkan kepuasan konsumen. Ketiga, Isu-isu strategis yang berhubungan
dengan factor keuangan terdiri dari peningkatan kualitas proses pengembangan bisnis, peningkatan pemeliharaan
proses kualitas dan peningkatan proses layanan konsumen yang terbaik. Terakhir, perspektif pertumbuhan dan
pembelajaran mempunyai isu-isu strategis di departemen sumber daya manusia yang bersaing dan bertindak,
menciptakan target dengan cara budaya TELKOM, menggunakan tehnologi informasi dan manajemen
berdasarkan pengetahuan. Mengembangkan Balanced Scorecard secara menyeluruh di PT.TELKOM DIVRE V
Jawa Timur membutuhkan isu-isu strategis, pengukuran strategi, target dan inisiatif perlu untuk pengukuran
kinerja yang berdasarkan Balanced Scorecard.

Kata kunci: Balanced Scorecard, isu-isu strategis, pengukuran strategi, target, inisiatif, pengukuran kinerja.
Abstract - The objective of the research was to evaluate efectivity implementation the Balanced Scorecard as
based the performance measurement for PT. TELKOM DIVRE V Jawa Timur. The first step in developing the
Strategy Map was translating the companys vision, mission, basic values, goals, and strategy in to the strategic
issues. Some strategic issues included a orientation, commitment and instrument necessary to mobilize the
resources and business energy with the view of putting the predetermined goals into reality. The organizations
goals represented principal targets in the coming years which in turn highly determined companys direction
and its survival. Such goals should be formulated appropriately to provide a direction or guidance about how
the organization would pursue its dreams in the future. The strategic issues in PT. TELKOM DIVRE V Jawa
Timur in the light of the research results were revealed below. First, as for the financial aspect, the strategic
issues were related to the revenue growth and the increased productivity. Second, the strategic issues in
associated with customer were an increased market share and the increased satisfaction customers. Third, the
financial factor related strategic issues consisted of the increased in quality of processes developed in businness,
the increased care quality process and increased customer service process in excelent. Finally, the growth and
learning perspective had strategic issues in the HRD was competen and commited , increased target TELKOM
Way Culture, and Using IT and knowledge management . The comprehensive Balanced Scorecard development
for PT. TELKOM DIVRE V Jawa Timur required strategic issues, strategy measures, targets, and initiatives
necessary for Performance measurement based Balanced Scorecard.

Key-words: Balanced Scorecard, strategic issues, strategy measures, targets, initiatives, Performance
measurement

1. Pendahuluan
Dalam dunia bisnis tidak lepas dari
persaingan maka perusahaan yang ingin memiliki

daya saing yang strategis harus mampu


merumuskan serta menerapkan suatu strategi
pencipta nilai. Strateginya harus terbaca dan
terkomunikasikan dengan baik oleh semua

15

organisasi yang ada dalam perusahaan. Manajemen


kinerja sangat berperan dalam menghadapi kondisi
tersebut. Manajemen kinerja merupakan sebuah
proses komunikasi yang berkesinambungan dan
dilakukan dalam kemitraan antara seorang
karyawan dan supervisor langsungnya. Proses
sistematis ini yang menyangkut karyawan sebagai
individu dan anggota dari kelompok didalam
memperbaiki keefektifan keorganisasian dalam
pencapaian misi dan tujuan perusahaan. Dalam
mengkomunikasikan dan pengelolaan strategi dapat
dilakukan dengan
menggunakan pendekatan
Balanced Scorecard.
Banyak kasus yang terjadi tidak sedikit
kegagalan perusahaan bukan karena strategi yang
buruk tetapi pelaksanaan strategi yang buruk. Maka
diperlukan alat untuk mengukur strategi, sehingga
penciptaan nilai tidak hanya dihasilkan dari
tangible asset saja tetapi juga dari intangible asset
seperti hubungan dengan karyawan, produk dan
jasa yang inovatif, tehnologi informasi dan
database, kapabilitas karyawan, keahlian dan
motivasi. Dalam mengkuantitatifkan intangible
asset menjadi tangible asset akan tergambarkan
pada strategy map. Balanced Scorecard merupakan
alat komunikasi antara manajemen organisasi
dengan karyawan,. Rencana-rencana bisnis strategis
dinyatakan dalam bentuk pengukuran dan target.
Balanced Scorecard juga memberikan kerangka
dalam melihat visi dan strategi organisasi melalui
empat perspektif yaitu: (1) perspektif finansial
(shareholders), (2) perspektif pelanggan, (3)
perspektif proses bisnis internal, (4) perspektif
pembelajaran
dan
pertumbuhan
karyawan,
manajemen, dan organisasi. Balanced Scorecard
dengan menetapkan visi, misi, sasaran dan tema
strategis. Visi dan strategi diterjemahkan ke dalam
empat perspektif yang mana masing-masing
perspektif terdiri dari empat komponen utama,
yaitu: (1) penetapan tujuan-tujuan strategis, (2)
pemilihan ukuran-ukuran kinerja yang berkaitan
langsung dengan tujuan-tujuan strategis, (3)
penetapan target-target kinerja, dan (4) penetapan
program-program peningkatan kinerja beserta
rencana-rencana
tindakan
setiap
program
peningkatan kinerja. Bila tercapai maka perusahaan
yang sebelumnya dikendalikan oleh anggaran
menjadi perusahaan yang dikendalikan oleh
peningkatan
kinerja.
Tingkat
keberhasilan
perusahaan dalam peningkatan kinerja dapat
diketahui melalui pengukuran kinerja yang
dijalankan
perusahaan
melalui
pendekatan
Balanced Scorecard. Sehingga diketahui sejauh
mana tingkat keberhasilan peningkatan kinerja yang
mampu dicapai perusahaan terhadap strategic
planningnya.

2. Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif


dengan pendekatan studi kasus yang dikembangkan
oleh Yin (2000). Penelitian ini menggunakan studi
kasus dan peneliti hanya mengamati dan meneliti
peristiwa tersebut dimana nantinya akan diambil
suatu kesimpulan dikarenakan tidak dapat
mengontrol peristiwa yang ada.
Peneliti dalam melakukan penelitian ini
menggunakan single case study dengan single unit
analysis. Data yang terkumpul berwujud data
kualitatif. Data dianalisis dengan melakukan
serangkaian kegiatan, yakni: reduksi data,
penyajian data, menafsirkan data dan menarik
kesimpulan
2.1 Rumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian di atas dapat dilihat
pentingnya penerapan Balanced Scorecard dalam
pengukuran kinerja bagi perusahaan dalam
menghadapi persaingan yang semakin ketat.
Dengan adanya kenyataan tersebut terdapat
permasalahan penelitian yang menarik untuk dikaji.
Hal ini dapat dirumuskan dalam pertanyaan
penelitian sebagai berikut:
Bagaimana efektifitas penerapan Balanced
Scorecard yang dijalankan perusahaan berperan
penting dalam menghadapi kompetisi?
2.2. Tujuan Penelitian
Berdasar dari latar belakang masalah dan
perumusan masalah penelitian, maka dapat
dirumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam
penelitian ini, antara lain:
Untuk mengetahui efektifitas penerapan Balanced
Scorecard yang dijalankan perusahaan berperan
penting dalam menghadapi kompetisi.

3. Pembahasan
PT. TELKOM DIVRE V Jawa Timur dalam
menjalankan strategi menggunakan pengukuran
kinerja yang berbasis Balanced Scorecard.. Strategi
menjelaskan bagaimana perusahaan berusaha untuk
menciptakan nilai bagi shareholders. Strategi yang
dipilih PT.TELKOM DIVRE V adalah penyedia
layanan informasi dan komunikasi yang bermutu
tinggi dan harga yang kompetitif. Maka untuk
mencapai strategi tersebut, PT.TELKOM DIVRE V
melakukan penjabaran strategi ke dalam Strategy
Map dengan merumuskan berbagai macam isu-isu
strategi sehingga memudahkan dalam menjalankan
strategi tersebut..
PT.TELKOM DIVRE V menggunakan
strategi penyedia layanan informasi dan komunikasi
yang bermutu tinggi dan harga yang kompetitif
untuk mewujudkan visi, misi, dan tujuannya.
Strategi ini dipilih karena sesuai dengan visi
organisasi Menjadi Dominan Infocom Player di

16

kawasan regional. Strategi tersebut diterjemahkan


melalui perspektif keuangan dalam dua isu strategis
yaitu pertumbuhan pendapatan dan meningkatkan
produktivitas, yang pada akhirnya menghasilkan
profit yang maksimal yang berakibat meningkatnya
kapitalisasi pasar menjadi tiga kali lipat. Hipotesis
yang terdapat dalam isu strategis ini adalah apabila
kepuasan pelanggan meningkat, maka pelanggan
akan bertahan terhadap produk atau jasa yang
ditawarkan PT TELKOM DIVRE V dan
mempengaruhi peningkatan profitabilitas customer
serta kemungkinan akan berdatangan pelanggan
baru.
Pada perspektif proses bisnis internal,
perumusan isu-isu strategis yang diterapkan
perusahaan adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan
efektifitas
proses
pengembangan bisnis.
2. Meningkatkan kualitas proses pemasangan dan
pemeliharaan
3. Mencapai proses layanan customer yang
unggul
4. Proses penunjang yang handal dan inovatif
Isu strategis meningkatnya produktifitas
pada perspektif keuangan dicapai melalui
pencapaian isu strategis struktur biaya dan
meningkatnya utilisasi asset, dan kedua isu strategis
ini merupakan hasil pencapaian dari isu strategis
proses penunjang yang handal dan inovatif dari
perspektif proses bisnis internal. Hipotesis yang
digunakan dalam merumuskan isu strategis proses
penunjang yang handal dan inovatif adalah jika
sasaran tersebut dapat dicapai, maka jasa/produk
yang dihasilkan oleh PT.TELKOM DIVRE V
memiliki kualitas yang handal dan berbeda dengan
produk pesaing, sehingga struktur biaya menjadi
lebih baik dan utilisasi asset jadi meningkat.
Pada
perspektif
pertumbuhan
dan
pembelajaran, PT. TELKOM DIVRE V
mengembangkan tiga isu strategis yaitu:
1. SDM yang kompeten dan commited
2. Mencapai target budaya Telkom Way
3. Pemanfaatan IT dan Knowledge Management.
Hipotesis yang terdapat dalam isu strategis
tercapainya target budaya TELKOM Way adalah
isu strategis yang ditujukan untuk mengembangkan
budaya perusahaan yang merupakan bagian
terpenting
dari
upaya
perusahaan
untuk
meneguhkan
hati,
merajut
pikiran,
dan
menyerasikan langkah semua insan TELKOM
dalam menghadapi persaingan bisnis Infocom.
Untuk mencapai target budaya dibutuhkan SDM

yang kompeten dan commited dan ditunjang dengan


pemanfaatan IT dan Knowledge Management yang
sinergistik untuk mewujudkan visi, misi dan tujuan
organisasi.
Bangunan cause and effect yang kompleks
akan nampak pada strategy map yang didesain oleh
PT. TELKOM DIVRE V. Dari desain strategy map
yang dibuat oleh PT. TELKOM DIVRE V dapat
dijelaskan bahwa dengan tercapainya target budaya
Telkom Way yang ditunjang dengan SDM yang
kompeten dan commited serta pemanfaatan IT dan
Knowledge
Management
pada
perspektif
pertumbuhan dan pembelajaran diharapkan dapat
memicu
peningkatan
efektifitas
proses
pengembangan bisnis, peningkatan kualitas proses
pemasangan dan pemeliharaan, pencapaian proses
layanan customer yang unggul, dan proses
penunjang yang handal dan inovatif pada perspektif
proses bisnis internal.
Peningkatan efektifitas
proses pengembangan bisnis pada perspektif proses
bisnis internal diharapkan akan memicu perbaikan
produk/layanan yang dibutuhkan, waktu yang
sesuai, harga yang kompetitif produk/layanan,
kualitas yang terbaik yang mendorong pada
peningkatan kepuasan pelanggan pada perspektif
pelanggan. Begitu juga dengan meningkatnya
kualitas proses pemasangan dan pemeliharaan
diharapkan akan memicu peningkatan kualitas yang
terbaik yang juga mendorong pada peningkatan
kepuasan pelanggan pada perspektif pelanggan
Sedangkan pada peningkatan market share
dan peningkatan customer baru diharapkan bisa
memicu peningkatan penjualan yang akhirnya
mendorong
pertumbuhan
pendapatan
pada
perspektif keuangan. Sementara meningkatnya
profitabilitas customer diharapkan mendorong
meningkatnya utilisasi asset yang akhirnya memicu
peningkatan
produktifitas
pada
perspektif
keuangan. Dengan meningkatnya pertumbuhan
pendapatan dan meningkatnya produktifitas
diharapkan tujuan PT.TELKOM DIVRE V yaitu
memaksimalkan
profit
dan
meningkatkan
kapitalisasi pasar menjadi tiga kali lipat tercapai.
Maka pihak manajemen juga telah
merumuskan Key Peformance Indicator yang
sesuai dengan isu-isu strategi yang dibuat dan
mudah
dipahami
juga
mudah
untuk
dikomunikasikan keseluruh organisasi dalam
perusahaan.
Keberhasilan dari program yang dijalankan
tampak pada realisasi yang diperoleh dari program
tersebut. Ini bisa dicermati pada desain Balanced
Scorecard PT. TELKOM DIVRE V seperti pada
tabel tabel berikut:

17

Tabel 1. Balanced Scorecard PT. TELKOM DIVRE V Jawa Timur


Perspektif

Tujuan
Strategis

Pertumbuhan
pendapatan

Pengukuran Strategis
Lag Indikator
Tingkat
Pendapatan
operasional
Pertambahan
pertumbuhan
pendapatan
tahun
sebelumnya

Tahun
IV

Pendapatan
operasional
per customer

99%

75%

60%

50%

44%

Pertambahan
pertumbuhan
pendapatan
per customer

20%

15%

11%

8%

5%

35%

25%

18%

12%

8%

25%

18%

13%

10%

60%

50%

44%

41%

39%

Pengurangan
sampai 20%

10%

6%

3%

2%

79.35%

60%

46%

36%

29%

Lead Indikator

1. Operating
Ratio
2. Revenue per
employee
1. Penjualan per
hari
2. Net Additional
LIS

Meningkatkan
produktifitas

Tingkat
Produktifitas

Meningkatkan
penjualan

Tingkat
penjualan

Meningkatkan
usage

Tingkat usage

ARPU

Memperbaiki
struktur biaya

Struktur biaya

Rasio BUA &


BODP
terhadap revenue

Meningkatkan
utilisasi asset

Tingkat utilisasi
asset

Utilization rate

Keuangan

Realisasi
Tahun Tahun
III
II

Target

Penjualan
diharapkan
35%

Tahun
I

Inisiatif

Sumber: Hasil Penelitian diolah kembali

Dari Tabel 1. tercermin perkembangan


pencapaian target dari strategi yang dijalankan. Hal
ini ditinjau dari perspektif keuangan. Selama kurun
waktu 4 tahun perusahaan dalam merealisasikan
penerapan
Balanced
scorecard
mengalami
pertumbuhan yang sangat bagus, hal ini tercermin
pada
tujuan
strategis
perusahaan
dalam
memaksimalkan profit perusahaan. Perusahaan
untuk
mencapai
tujuan
tersebut
melalui
pertumbuhan pendapatan dan meningkatkan
produktifitas.
Dalam perjalanan penerapan Balanced
Scorecard yang sudah teroganisir selama 4 tahun
berjalan, perusahaan mencapai tujuan strategisnya
ditinjau dari pertumbuhan pendapatan mengalami
peningkatan dalam tiap tahunnya, hal ini bisa
dilihat dari hasil yang telah dicapai pada tiap
tahunnya
Sementara ditinjau dari meningkatkan
produktifitas,
perusahaan
telah
mencapai
pertumbuhan 7% pada tahun keempat, hal ini
pemicunya adalah:
1. Memperbaiki struktur biaya.
Pada sasaran strategis ini perusahaan telah
mengalami peningkatan sebesar 1% tahun
kedua, 3% tahun ketiga, dan 4% tahun
keempat.
2. Meningkatkan utilisasi asset

1. Meningkatkan market share. Dan tercapainya


isue ini melalui program analisa pasar dan
perhatian terhadap kebutuhan pelanggan serta
didukung oleh isue yang lain yaitu:
meningkatkan customer baru, dimana dalam
pencapaiannya
mengalami
perkembangan
selama 4 tahun berjalan, Pemicu lain yang
mendukung isue ini yaitu meningkatkan
kepuasan pelanggan. Untuk keberhasilan
menjalankan isue meningkatkan kepuasan
pelanggan, didukung oleh isue-isue yang lain
yaitu:
a. Produk/layanan yang dibutuhkan. Isue ini
mengalami peningkatan melalui program
memperbanyak jaringan dan melengkapi
fasilitas layanan.
b. Waktu yang sesuai. Isue ini dijalankan
melalui
program
memperbanyak
outlet/plaza.
c. Harga yang kompetitif. Pencapaian isue ini
dilakukan melalui program menekan biaya
dengan mutu yang sama atau lebih baik.
d. Kualitas yang terbaik. Isue ini dilaksanakan
melalui program memilah jenis komplain
dan penanganan yang lebih cepat.
e. Meningkatkan
customer
relationship.
Dengan melakukan program workshop dan
media kontak dengan customer.

Tabel 2. mencerminkan pencapaian tujuan


strategis perusahaan yang ditinjau dari perspektif
pelanggan. Untuk mencapai sasaran strategis
perusahaan yang utama, perusahaan menentukan
isue-isue strategis yang antara lain:

2. Meningkatkan retensi customer. Pencapaian


sasaran tujuan isue ini dengan melakukan
program peningkatan mutu layanan dengan
memperbanyak program sesuai kebutuhan
customer.

18

3. Meningkatkan profitabilitas customer. Isue ini


diharapkan perusahaan mencapai target sesuai
dengan yang telah ditentukan untuk periode
lima tahunan. Untuk mencapai target tersebut

isue ini dengan melakukan program peningkatan


kegiatan promosi, didukung oleh isue
meningkatkan kepuasan pelanggan.

Tabel 2. Balanced Scorecard PT TELKOM Divisi Regional V Jawa Timur Ditinjau dari Perspektif Pelanggan

Pelanggan

Perspektif

Tujuan
Strategis

Pengukuran Strategis
Lead
Lag Indikator
Indikator

Target

Tahun
IV

Realisasi
Tahun Tahun
III
II

Tahun
I

Meningkatkan
kepuasan
pelanggan

Tingkat
kepuasan
pelanggan

CSI

75%

50%

38%

30%

25%

Meningkatkan
market share

Tingkat market
share

Prosentase
market share

80%

70%

63%

59%

57%

Meningkatkan
customer
yang baru

Tingkat
customer yang
baru

30%

25%

22%

20%

19%

Produk/layanan
yang
dibutuhkan

Keunggulan
produk
terhadap
produk pesaing

Waktu yang
sesuai

Ketepatan
waktu

Jumlah
pelanggan
yang
baru
Pemenuhan
jarak akses
& support
untuk akuisisi
CC
Time to market
(hari)

60%

44%

34%

29%

26%

70%

50%

36%

28%

24%

30%
dibawah
harga
pesaing

20%

14%

11%

9%

Harga yang
kompetitif

Tingkat harga

Harga jual

Kualitas yang
terbaik

Komplain

1. Jumlah
komplain
2. Waktu
penanganan

20%

31%

39%

46%

51%

Meningkatkan
retensi
customer

Tingkat retensi
customer

Rasio cabutan

14%

17%

22%

30%

43%

Meningkatkan
customer
relationship

Tingkat
customer
relationship

1. Jumlah
kunjungan
2. Jumlah FGD

65%

55%

48%

43%

40%

Meningkatkan
profitabilitas
customer

Tingkat
profitabilitas
customer

Revenue per
customer

80%

67%

55%

44%

38%

Inisiatif
Melakukan
perbaikan
dalam
pelayanan
Melakukan
analisa pasar
dan
memperhatikan
kebutuhan
pelanggan
Peningkatan
kegiatan
promosi
Memperbanyak
jaringan dan
melengkapi
fasilitas
layanan
Memperbanyak
outlet/plaza
Menekan biaya
dengan mutu
yang sama atau
lebih baik
Memilah jenis
komplain dan
penanganan
yang lebih
cepat
Meningkatkan
mutu layanan
dengan
memperbanyak
program sesuai
kebutuhan
customer
Melakukan
workshop dan
media kontak
dengan
customer
Melakukan
inovasi kualitas
dengan harga
yang
kompetitif

Sumber: Hasil penelitian diolah kembali

Tabel 3. mencerminkan pencapaian tujuan


strategis perusahaan yang ditinjau dari perspektif
proses bisnis internal. Perusahaan untuk mencapai
target yang diharapkan untuk periode lima tahunan
menerapkan empat isue-isue strategis sebagai
berikut:
1.
Meningkatkan
efektifitas
proses
pengembangan bisnis. Isue meningkatkan
efektifitas proses pengembangan bisnis
direalisasikan dengan melalui program
pembangunan jaringan bersama.

2.

3.

Meningkatkan kualitas proses pemasangan


dan pemeliharaan. Program penggunaan
tehnologi yang handal dilaksanakan untuk
pencapaian isue peningkatan kualitas proses
pemasangan dan pemeliharaan.
Mencapai proses layanan customer yang
unggul. Untuk mencapai target yang telah
ditetapkan isue ini dijalankan melalui program
pengembangan service center dan account
management.

19

4.

Proses penunjang yang handal dan inovatif.


Isue proses penunjang yang handal dan
inovatif dijalankan melalui program sistem

perbaikan kinerja untuk pencapaian target


yang telah ditentukan.

Tabel 3 Balanced Scorecard PT. TELKOM Divisi Regional V Jawa Timur Ditinjau dari Perspektif Bisnis
Internal
Perspektif

Tujuan
Strategis

Proses
Bisnis
Internal

Meningkatkan
efektifitas proses
pengembangan
bisnis
Meningkatkatkan
kualitas
proses
pemasangan dan
pemeliharaan
Mencapai proses
layanan
customer yang
unggul

Pengukuran Strategis
Lag Indikator
Tingkat
efektifitas
proses
pengembangan
bisnis
Tingkat
kualitas proses
pemasangan
dan
pemeliharaan
Proses layanan
customer yang
unggul

Proses
Penunjang
penunjang yang
yang handal
handal dan
dan inovatif
inovatif
Sumber : Hasil Penelitian diolah kembali

Realisasi
Tahun Tahun
III
II

Target

Tahun
IV

Jumlah
pembangunan
jaringan per
produk

65%

40%

27%

21%

18%

Program
pembangunan
jaringan
bersama

CIQS

70%

60%

53%

48%

45%

Penggunaan
tehnologi yang
handal

Lead Indikator

Inisiatif

Tahun
I

C2SE

75%

60%

52%

48%

46%

1. ISO
2. COSO
3. SOA
4. MBCFPE

80%

60%

47%

39%

34%

Program
pengembangan
service center,
account
management
Program
sistem
perbaikan
kinerja

Tabel 4. Balanced Scorecard PT.TELKOM Divisi Regional V Jawa Timur Ditinjau dari Perspektif
Pertumbuhan dan Pembelajaran

Pertumbuhan
dan
pembelajaran

Perspektif

Tujuan
Strategis

Pengukuran Strategis
Lead
Indikator

Lag Indikator

Target

Tahun
IV

Realisasi
Tahun Tahun
III
II

Tahun
I

SDM yang
kompeten
dan commited

Pegawai yang
kompeten dan
commited

1. Kompetensi
mix
2. ESI

75%

65

59%

56%

54%

Mencapai
target budaya
Telkom Way

Target budaya
Telkom way

1.Prosentase
pemahaman
2. Survey
Perilaku

70%

70%

55%

45%

39%

Tingkat
pemanfaatan
IT dan
knowledge
manajemen
Sumber: Hasil Penelitian diolah kembali
Pemanfaatan
IT dan
Knowledge
Management

1. % Info
Availability
2. %
Penerapan
KM

Tabel 4. mencerminkan pencapaian target


perusahaan yang ditinjau dari perspektif
pertumbuhan dan pembelajaran. Dalam pencapaian
target perusahaan perumusan isue-isue sebagai
berikut:
a. SDM yang kompeten dan commited. Isue ini
dijalankan dengan melalui program pelatihan
dan program pertukaran pegawai dengan anak
perusahaan.
b. Mencapai target budaya TELKOM Way. Isue
ini dilaksanakan dengan menjalankan program
pelaksanaan budaya dan pertemuan evaluasi.

80%

70%

c.

65%

62%

61%

Inisiatif
Program
pelatihan dan
pertukaran
pegawai dengan
anak perusahaan
Program
pelaksanaan
budaya dan
pertemuan
evaluasi
Penggalaan
penggunaan
IT dan
pengelolaannya

Pemanfaatan IT dan Knowledge Management.


Isue ini dijalankan melalui program penggalaan
penggunaan IT dan pengelolaannya.

Penerapan Balanced Scorecard pada


PT.TELKOM DIVRE V JATIM yang teroganisir
telah berjalan selama empat tahun. Dari setiap
tahunnya yang telah terealisasi memberikan
gambaran bahwa tujuan strategi yang diharapkan
perusahaan tercapai mendekati target yang
ditetapkan perusahaan. Hal ini bisa dilihat dari
pencapaian masing-masing perspektif seperti yang

20

tergambar dalam Tabel 1., Tabel 2., Tabel 3., dan


Tabel 4..
Strategi yang dipilih PT.TELKOM DIVRE
V JATIM adalah penyedia layanan informasi dan
komunikasi yang bermutu tinggi dan harga yang
kompetitif untuk mewujudkan visi, misi, dan
tujuannya. Strategi ini dipilih karena sesuai dengan
visi organisasi Menjadi Dominan Infocom Player
di
kawasan
regional.
Strategi
tersebut
diterjemahkan melalui perspektif keuangan dalam
dua isue strategis yaitu pertumbuhan pendapatan
dan meningkatkan produktifitas, yang
pada
akhirnya menghasilkan profit yang maksimal yang
berakibat meningkatnya kapitalisasi pasar menjadi
tiga kali lipat. Penjabaran isue-isue tersebut untuk
mencapai profit yang maksimal adalah sebagai
berikut:
1. Isue strategi pertumbuhan pendapatan
Peningkatan ini dicapai melalui isue-isue
strategis yang masih dalam ruang lingkup
perspektif keuangan yaitu:
a. Meningkatkan penjualan
Peningkatan ini dicapai melalui isue-isue
strategis dari perspektif pelanggan. Yaitu:
Meningkatkan market share
Meningkatkan customer baru
b. Meningkatkan usage
Peningkatan ini dicapai melalui isue-isue
strategis pada perspektif pelanggan juga
yang antara lain:
Meningkatkan customer baru
Meningkatkan retensi customer
Meningkatnya isue strategis ini dipicu
oleh isue strategis meningkatkan
kepuasan pelanggan
Meningkatkan profitabilitas customer
Meningkatnya isue strategis ini dipicu
oleh isue strategi meningkatkan
kepuasan pelanggan.
Isue Strategis meningkatkan kepuasan
pelanggan merupakan pemicu dari isu
strategis meningkatkan customer baru,
meningkatkan retensi customer, dan
meningkatkan profitabilitas customer.
Peningkatan ini juga dipicu oleh isueisue strategi yang antara lain:
1. Produk
atau
layanan
yang
dibutuhkan
melalui
program
memperbanyak
jaringan
dan
melengkapi fasilitas layanan.
2. Waktu yang sesuai melalui program
memperbanyak outlet/ plaza.
3. Harga yang kompetitif melalui
program menekan biaya dengan
mutu yang sama atau lebih baik.

4. Kualitas yang terbaik melalui


program memilah jenis komplain
dan penanganan yang lebih cepat.
Peningkatan keempat isue strategis
diatas dipicu oleh isue strategis pada
perspektif proses bisnis internal yaitu
meningkatkan
efektifitas
proses
pengembangan
bisnis.
Sementara
meningkatnya isue strategi kualitas
yang terbaik dipicu juga oleh isue
strategi pada perspektif proses bisnis
internal yang lain yaitu: Meningkatkan
kualitas proses pemasangan dan
pemeliharaan dan mencapai proses
layanan customer yang unggul
2. Meningkatkan customer relationship melalui
program melakukan workshop dan media kontak
dengan customer.
d. Kepuasan pelanggan meningkat karena dipicu
oleh terpenuhinya semua keinginan customer
seperti produk/layanan yang dibutuhkan, waktu
yang sesuai, harga yang kompetitif, kualitas
yang terbaik, dan meningkatnya customer
relationship.
Perspektif keuangan dicapai melalui pencapaian
isue-isue strategis berikut:
1. Memperbaiki struktur biaya.
2. Meningkatkan utilisasi asset
Peningkatan ini dipicu oleh isue strategi
meningkatkan profitabilitas customer pada
perspektif pelanggan
Kedua isue strategis ini merupakan hasil
pencapaian dari isue strategis proses penunjang
yang handal dan inovatif dari perspektif proses
bisnis internal. Dengan mendekati tercapainya
sasaran maka produk/ jasa yang dihasilkan oleh PT.
TELKOM DIVRE V JATIM memiliki kualitas
yang handal dan berbeda dengan produk pesaing.
Sehingga struktur biaya menjadi lebih baik dan
utilisasi asset menjadi meningkat, akibatnya isue
strategis meningkatkan produktifitas hampir
tercapai.
Sementara meningkatnya pencapaian dari
isue-isue strategis pada perspektif proses bisnis
internal dipicu oleh isue-isue strategis pada
perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. Dimana
isue-isue strategis pada perspektif proses bisnis
internal adalah:
1. Meningkatkan efektifitas proses pengembangan
bisnis
Meningkatnya isue strategis ini sebesar 3% pada
tahun kedua, 6% pada tahun ketiga, dan 13%
pada tahun keempat dilakukan melalui program
pembangunan jaringan bersama.

21

2. Meningkatkan kualitas proses pemasangan dan


pemeliharaan
Isue strategis ini meningkat sebesar 2% pada
tahun kedua, 4% pada tahun ketiga, dan 8%
pada tahun keempat melalui program
penggunaan tehnologi yang handal.
3. Mencapai proses layanan customer yang unggul.
Meningkatnya isue strategis ini sebesar 2% pada
tahun kedua, 4% pada tahun ketiga, dan 8%
pada tahun keempat dijalankan dengan program
pengembangan service center, account
management
4. Proses penunjang yang handal dan inovatif
Isue strategis ini meningkat sebesar 5% pada
tahun kedua, 8% di tahun ketiga, dan 13% pada
tahun keempat melalui program sistem
perbaikan kinerja. Dengan demikian tercapainya
peningkatan pada isue-isue strategis perspektif
proses
bisnis
internal
mengakibatkan
tercapainya isue-isue strategis pada perspektif
pelanggan, sehingga isue-isue strategis pada
perspektif keuangan tercapai pula
Isue-isue
strategis
pada
perspektif
pertumbuhan dan pembelajaran, PT TELKOM
DIVRE V JATIM mengembangkan tiga isue
strategis yang berperan sebagai pemicu isue-isue
strategis pada perspektif proses pengembangan
bisnis inernal yaitu:
1. SDM yang kompeten dan commited.
Isue ini dilakukan melalui program pelatihan
dan pertukaran pegawai dengan anak
perusahaan
2. Mencapai target budaya Telkom Way
Isue strategis ini dijalankan program
pelaksanaan budaya dan pertemuan evaluasi.
3. Pemanfaatan IT dan Knowledge Management
Isue strategis ini melalui program penggalaan
penggunaan IT dan pengelolaannya.
Tercapainya isue-isue strategis pada
perspektif pertumbuhan dan pembelajaran karena
dipicu melalui pengembangan budaya perusahaan
yang merupakan bagian terpenting dari upaya
perusahaan untuk meneguhkan hati, merajut
pikiran, dan menyerasikan langkah semua insan
TELKOM dalam menghadapi persaingan bisnis
Infocom, diadakan pelatihan untuk seluruh
karyawan sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan
pertukaran pegawai dengan anak perusahaan, dan
karyawan dibiasakan lebih familiar dengan IT dan
knowledge management.

4. Kesimpulan
Beberapa kesimpulan diperoleh dari hasil
penelitian penerapan Balanced Scorecard pada
perusahaan antara lain:

1. PT. TELKOM DIVRE V Jawa Timur sudah


menerapkan Balanced Scorecard dalam
menjalankan strateginya. Semua aktifitas sudah
terintegrasi dengan baik, perkembangan setiap
tahunnya dalam mencapai target lima tahunan
yang dijalankan menunjukkan hasil yang cukup
bagus. Walaupun Strategy Mapnya yang dibuat
masih agak rumit tapi perusahaan sudah mampu
mengkomunikasikannya dengan baik. Keempat
perspektif
Balanced
Scorecard
mampu
memberikan gambaran kemampuan perusahaan
dalam menghadapi pesaing, yang tercermin dari
nilai yang diperoleh dalam mencapai target
sasaran.
2. Penerapan Balanced Scorecard pada PT.
TELKOM DIVRE V dalam menjalankan
strateginya, telah memberikan hasil yang cukup
menggembirakan.
Pasalnya
Balanced
Scorecard yang diterapkan dalam menjalankan
strategi perusahaan mampu memberikan
keuntungan perusahaan dalam menilai kondisi
perusahaan didunia persaingan bisnis. Hal ini
tercermin dari prosentase yang dihasilkan pada
masing-masing perspektif. Selama kurun waktu
14 tahun perusahaan mampu mencapai hasil
yang
mendekati
target
yang
mengimplementasikan strategi perusahaan yang
berbasis Balanced Scorecard, pihak manajemen
maupun
karyawan
saling
kerjasama
mengkomunikasikan
sasaran,
strategi,
perencanaan dan kinerja. Isu-isu strategis yang
telah dirumuskan dijabarkan dalam Strategy
Map. Masing-masing unit yang ada dalam
perusahaan mengkomunikasikannya
untuk
menjalankan strateginya. Untuk mengukur
keberhasilan dalam mengkomunikasikannya.
digunakan indikator kinerja kunci, target, dan
inisiatif .Dengan berpedoman itu, PT.
TELKOM DIVRE V dikatakan cukup berhasil
mengimplementasikan strategi yang berbasis
Balanced Scorecard. Hal ini bisa diketahui dari
realisasi pencapaian strategi.

5. Daftar Pustaka
Antony, Robert N dan Govindarajan, Vijay, 2006,
Management Control System, 12th Edition,
Richard D Irwin.
Bacal, Robert, 2005, Performance Management,
Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama,
Cetakan ke tiga, Jakarta.
Berquist, Paul, 2002. Dialog Software: A Balanced
Scorecard Solution, Focus Your Corporate
Energy,
Dialog
Software,
hhtp://www,dialog software com.
Best, Roger, 2009,Market Based-Management:
Startegies for Growing Customer Value
and Profitability, 5th Edition, New Jersey,
Prentice Hall.

22

Bodgan, Robert and Tailor, J. Steven, 1993,


Kualitatif : Dasar-dasar Penelitian,
(Penerjemah: Khozin Affandy), penerbit
Usaha Nasional, Surabaya.
Byars, Lloyd L., 1991, Strtategic Management
Formulation and Implementation Concept
rd

and Case. 3
Dharma, Surya, 2005, Manajemen Kinerja ,
Falsafah Teori dan Penerapannya,
Cetakan ke pertama, Penerbit Pustaka
Pelajar, Yogyakarta.
Gascho, Marlys, and Steven E, 2000, The Balanced
Scorecard : Judgmental Effect of Common
and Unique Performance Measure, The
Accounting Revie,. Vol.75, No.3, July.
Gaspersz, Vincent, 2005, Sistem Manajemen
Kinerja, Balanced Scorecard Dengan Six
Sigma Untuk Organisasi Bisnis dan
Pemerintah, Penerbit PT Gramedia
Pustaka Utama, Cetakan Ketiga, Bogor.
Gibson, Rowan, 1998, Rethingking The Future,
Nicholas Brealey Publishing, LondonBoston.
Gunawan, Barbara, 2000, Menilai Kinerja dengan
Balanced Scorecard , Usahawan, No.6,
September.
Hansen, Don Harrington, H. James, 1995, Total
Improvement Management: The Next
Generation in Performance Improvement,
New York: McGraw-Hill.
R dan Mowen, M. Maryane M., 2006, Management
Accounting, ITP Thompson.
Hill, Charles W.L. and Jones, Gareth, 2011,
Essential of Strategic Management: An
rd

Integrated Approach. 3 Edition, Boston


Houghton: Misslin Company.
Hirsch, Jr. Maurice L., 1994, Advanced
nd

Management Accounting, 2
Edition,
Cincinatti Ohio, College Division: South
Western Publishing, Co.
John K. Shank and Govindarajan, Vijay, 1994,
Strategic Cost Management: The New
Tool
for
Competitive
Advantage,
Macaillan, New York: The Free Press.
Kaplan, Robert S. dan Norton, P. David, 1996, The
Balanced scorecards: Translating Startegy
Into Action, Boston, Massachusetts:
Harvard Business Scholl Press, Hal 74.
Kertajaya, Hermawan, 2000, Siasat Memenangkan
Persaingan Global, Jakarta, PT Gramedia
Pustaka Utama.
Laela, Fatma, 1999, Balanced Scorecard sebagai
Alternatif Pengukuran Kinerja Manajemen
Telaah,AMP YKPN.

Lingle J.H. dan Scheiman W.A., 1996, From


Balanced scorecards to Strategic Gauges:
Is Measurement Worth It ? Management
Review.
Macintosh, Norman B., 1995, Management
Accounting and Control an Organizational
and Behavioral Approach, John Willey
and Sons, Hal.
Mattson, Beth, 1999, Excecutives Learn How to
Keep Score : Balanced Scorecard Gets All
Employees Focusing on Vision. The
Business Journal.
Moleong, Lexy J, 2010, Metodologi Penelitian
Kualitatif,
Penerbit
PT.
Remaja
Rosdakarya, Bandung.
Mulyadi, dan Setyawan, Johny, 1999, Sistem
Perencanaan
dan
Pengendalian
Manajemen, Edisi I, Yogyakarta, Aditya
Medika.
Mustofa, Bachrudin, 2002, Menaksir Kualitas
Penelitian Kualitatif, Beberapa Kriteria
dasar, Dalam A Chedar Alwasilah,
Pokoknya Kualitatif, Penerbit Pustaka
Jaya, Jakarta.
Porter, E.Michael, 2008, Keunggulan Bersaing:
Menciptakan
dan
Mempertahankan
Kinerja Unggul, Karisma Publishing,
Tangerang
Secakusuma, Thomas, 1997, Perspektif Proses
Internal
Bisnis
Dalam
Balanced
scorecards, Usahawan, No. 06. TH XXVI,
Hal. 11.
Tjiptono, Fandy, 1996, Strategi Bisnis dan
Manajemen, Yogyakarta: Penerbit Andi,
Hal. 8.
Walker, Orville C., Harper W. Boyd, Jr and JeanClaude Larreche, 1996, Marketing
Strategy: Planning and Implementation,
Richard D. Irwin, Inc.
Yin, Robert K, 2003, Case Study Research Design
and Methods, 3rd Edition, Sage Publication

6. Otobiografi
Rini Yuli Prihatin, penulis dilahirkan di
Mojokerto 2 Juli 1971. Alamat: Jl. Curug Mekar
Gg. Al-Hikmah IX/17,Kel. Curug Mekar, Kec.
Bogor Barat, Kodya Bogor. Tlp. 081 331743887.
Menyelesaikan program S1 Manajemen dari
Fakultas Ekonomi Universitas Jember, pada tahun
1998 dan S2 Akuntansi dari Fakultas Ekonomi
UNAIR Surabaya pada tahun 2008. Menjadi dosen
tetap di Sekolah Tinggi Pariwisata Bogor mulai
2010 hingga sekarang dan mengajar di beberapa
perguruan tinggi swasta di Bogor, Jawa Barat

23

Jurnal Ekono Insentif Kopwil4, Volume 7 No. 2, Oktober 2013


ISSN: 1907 - 0640, halaman 23 s.d 31

KONTRIBUSI KEUNTUNGAN PDAM TIRTAWENING TERHADAP


PENDAPATAN ASLI DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2011-2012
Oleh:
Jatnika Dwi Asri
Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Bandung

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menilai kinerja keuangan PDAM Tirtawening Kota Bandung dan
mengetahui kontribusi keuntungan PDAM Tirtawening terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Bandung. Data
yang digunakan adalah data sekunder yang dikumpulkan berdasarkan data time series selama dua tahun, yaitu
tahun 2011 dan 2012. Penelitian ini menggunakan analisis perbandingan laporan keuangan untuk melihat
kinerja keuangan dan kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Hasil penelitian menunjukkan
bahwa selama periode 2011-2012: aset, ekuitas, laba kotor, dan laba setelah pajak (earning after tax/EAT)
perusahaan mengalami penurunan, disisi lain kewajiban perusahaan mengalami kenaikan. Kontribusi
keuntungan PDAM Tirtawening Bandung terhadap PAD Kota Bandung tahun 2011 sebesar 0,57%, sedangkan
tahun 2012 sebesar 0,15%.
Kata Kunci: Kinerja keuangan, kontribusi keuntungan, laporan keuangan, dan pendapatan asli daerah
Abstract The objectives of the research are to assess financial performance of PDAM Tirtawening of
Bandung City, and to know how far the profit contribution of PDAM Tirtawening toward local revenue of
Bandung City. Secondary data is used and collected based on time series from 2011 up to 2012. This study uses
comparison of financial statement analysis and the profit contribution analyis to assess financial performance
toward local revenue. The results show that from 2011 to 2012 companys asset, equity, gross profit and
earning after tax (EAT) are decrease, while the companys liability is increase. The profit contribution of
PDAM Tirtawening of Bandung City toward local revenue of Bandung City in 2011 was 0,57%, while in 2012
was 0,15%.

Keywords: financial performance, profit contribution, financial statement, and local revenue
1. Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintah Daerah lahir setelah UndangUndang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan
Daerah dinilai tidak sesuai lagi dengan
perkembangan keadaan dan tuntutan akan
penyelenggaraan otonomi daerah. Sejalan dengan
Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 pemerintah
menerbitkan pula Undang-Undang Nomor 33 tahun
2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Hal
tersebut menunjukkan komitmen pemerintah
terhadap pelaksanaan otonomi daerah dan
desentralisasi fiskal. Tertuang dalam pasal 6 undangundang tersebut menjelaskan bahwa PAD bersumber
dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan
kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain PAD
yang sah.
Kota Bandung sebagai ibukota Provinsi Jawa
Barat, merupakan salah satu pemerintah daerah yang
diberikan kewenangan sebagai daerah otonom sesuai

dengan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 2


Tahun 2001 yang saat ini diubah menjadi Peraturan
Daerah Kota Bandung Nomor 8 tahun 2007 tentang
Urusan Pemerintahan Daerah Kota Bandung.
Berkaitan hal tersebut, dalam rangka memberikan
pelayanan publik akan air minum dan air limbah
yang berkualitas, maka Pemerintah Daerah Kota
Bandung menunjuk Perusahaan Daerah Air Minum
(PDAM) Tirtawening sebagai pelaksana pemerintah
daerah di bidang air minum dan air limbah dengan
menerapkan prinsip-prinsip perusahaan.
Sesuai prinsip perusahaan, maka dalam
pengelolaannya PDAM Tirtawening Kota Bandung
memupuk keuntungan dari hasil pengelolaan
kekayaan daerah yang dipisahkan, yang pada
akhirnya diharapkan akan memberikan kontribusi
pada PAD. Seperti pendapat Mahmudi (2010:26)
yang menyatakan bahwa perusahaan daerah
merupakan salah satu sumber PAD yang diharapkan
mampu memberikan kontribusi yang signifikan
sehingga kemandirian pemerintah daerah meningkat
dan pada akhirnya mampu memberikan pelayanan
publik yang berkualitas.

24

Berdasarkan data yang diperoleh dari Pusat


Data dan Analisa Pembangunan Jawa Barat, jumlah
PAD Murni yang diperoleh Kota Bandung selama 4
(empat) tahun terakhir seperti digambarkan dalam
grafik berikut ini:
Grafik 1
Perkembangan PAD Kota Bandung
Periode Tahun 2008-2011

Sumber: pusdalisbang.jabarprov.go.id, data diolah kembali

Dari grafik tersebut diketahui bahwa PAD


Kota Bandung cenderung mengalami kenaikan
dimana kenaikan tertinggi PAD Kota Bandung terjadi
pada tahun 2011 dengan tingkat kenaikan sebesar
46,4%. Di sisi lain 4 (empat) Badan Usaha Milik
Daerah (BUMD) Kota Bandung yang telah
mendapatkan penyertaan modal sejak didirikan
sampai 2009 masih belum memberikan kontribusi
keuntungan
pada
PAD
Kota
Bandung
(www.tempo.co). Keempat BUMD tersebut adalah
PD Kebersihan, PD Pasar Bermartabat, BPR Kota
Bandung, dan PDAM.
Berdasarkan Keputusan Menteri Dalam
Negeri Nomor 47 tahun 1999 tentang Pedoman
Penilaian Kinerja PDAM, penilaian kinerja PDAM
dapat dilihat dari 3 (tiga) aspek kinerja, yaitu aspek
keuangan, aspek operasional, dan aspek administrasi.
Dari ke-3 aspek tersebut, aspek kinerja keuangan
memiliki bobot terbesar.
Pembatasan dan Rumusan Masalah
Penulis membatasi masalah pada penilaian
kinerja PDAM Tirtawening Kota Bandung pada
aspek keuangannya. Penilaian kinerja keuangan
diperoleh dengan melakukan analisis laporan
keuangan PDAM Tirtawening Kota Bandung.
Sedangkan permasalahan yang akan diteliti
dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah kinerja keuangan PDAM
Tirtawening Kota Bandung.
2. Bagaimanakah kontribusi keuntungan PDAM
Tirtawening terhadap PAD Kota Bandung.
Maksud dan Tujuan Penelitian
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui
kinerja keuangan PDAM Tirtawening Kota Bandung
dan kontribusinya terhadap PAD Kota Bandung.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1.
2.

Untuk menilai kinerja keuangan PDAM


Tirtawening Kota Bandung.
Untuk
mengetahui kontribusi keuntungan
PDAM Tirtawening terhadap PAD Kota
Bandung.

2. Kajian Pustaka
Pengukuran Kinerja Keuangan
Brimson & Antos menjelaskan bahwa
pengukuran kinerja dapat diukur dalam aspek kinerja
keuangan dan kinerja non-keuangan. Seperti yang
dikemukakan Brimson & Antos (1999:59) yang
menyatakan bahwa:
Activities can be measured in terms of financial
and
non-financial
performance.
Some
organization have created an approach to
performance measures that balance a variety of
measures. One approach, the balanced
scorecard, suggest that an organization might
device its performance measurement system into
following categories: financial, customer
satisfaction, operational, and growth and
learning.
Selanjutnya
Mardiasmo
(2002:121)
menyatakan bahwa sistem pengukuran kinerja sektor
publik adalah suatu sistem yang bertujuan untuk
membantu manajer publik menilai pencapaian suatu
strategi melalui alat ukur financial dan non-financial.
Sri Sulistyanto dan Haris (2003) seperti yang
dikutip Irham Fahmi (2006:62) menyatakan bahwa
kinerja keuangan merefleksikan fundamental
perusahaan dan akan diukur dengan menggunakan
data fundamental perusahaan, yaitu data yang berasal
dari laporan keuangan perusahaan. Dengan demikian,
dalam analisis fundamental, analisis laporan
keuangan perlu dilakukan untuk mendapatkan
informasi lebih rinci tentang kinerja yang dicapai
perusahaan dan keadaan keuangan suatu perusahaan.
Berkaitan dengan pengukuran kinerja keuangan
pemerintah
daerah,
Winarso
(2010:32)
mengemukakan bahwa, secara umum pengukuran
kinerja keuangan pemerintah daerah berguna untuk
mengetahui tingkat kesehatan struktur keuangan
pemerintah daerah, tingkat kemandirian daerah
dengan melihat kemampuan daerah dalam menggali
sumber pendapatan daerah dibandingkan dengan
kewajiban pemerintah dalam membiayai belanja
daerah.
Laporan Keuangan
Laporan
keuangan
suatu
perusahaan
merupakan gambaran yang menjelaskan tentang
kinerja keuangan perusahaan pada saat tertentu atau
jangka waktu tertentu. Laporan keuangan seperti
yang dikemukakan Bernstein dan Wild (1998:3),
Financial statement analysis applies analytical
tools and techniques to general purpose financial

25

statements and related data to derives estimates and


inferences useful in business decisions.
Jenis laporan keuangan yang lazim digunakan
adalah Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Arus
Kas, dan Laporan Sumber dan Penggunaan Dana.
Menurut Gitman (2006:46) bahwa, The four key
financial statements are (1) the income statement, (2)
the balance sheet, (3) the statement of stockholders
equity, and (4) the statement of cash flows.
Analisis Laporan Keuangan
Tugas rutin perusahaan setiap akhir tahun
adalah menyusun dan menganalisis laporan
keuangan. Definisi analisis laporan keuangan
menurut Bernstein (1998) adalah, Financial
statement analysis is the judgemental process that
aims to evaluate the current and past financial
positions and results of operation of an enterprise,
with primary objective of determining the best
possible estimates and predictions about future
conditions and performance.
Dwi Prastowo (2011:59) mengklasifikasikan
metode analisis laporan keuangan menjadi 2 (dua)
jenis, yaitu metode analisis horizontal (dinamis) dan
metode analisis vertikal (statis). Metode analisis
horizontal (dinamis) adalah metode analisis yang
dilakukan dengan cara membandingkan laporan
keuangan untuk beberapa tahun, sehingga dapat
diketahui perkembangan dan kecenderungannya.
Sedangkan metode analisis vertikal (statis) adalah
metode analisis yang dilakukan dengan cara
menganalisis laporan keuangan pada tahun tertentu,
yaitu dengan membandingkan pos yang satu dengan
pos lainnya pada laporan keuangan yang sama untuk
tahun yang sama.
Analisis Perbandingan Laporan Keuangan
Analisis perbandingan laporan keuangan
(komparatif) merupakan salah satu metode analisis
horizontal (dinamis). Metode ini memanfaatkan
angka-angka yang tertera dalam keuangan kemudian
membandingkannya dengan angka-angka laporan
keuangan lainnya. Dengan menyajikan laporan
keuangan komparatif akan diperoleh gambaran
mengenai pergerakan dan kecenderungan di masa
datang. Dwi Prastowo (2011:66) mengatakan bahwa
perubahan dalam rupiah dilakukan untuk mengetahui
perspektif yang tepat dan kesimpulan yang valid.
Sedangkan perubahan dalam persentase dapat
membantu menentukan berarti tidaknya atau
signifikansi perubahan tersebut. Sofyan Syafri
Harahap
(2008:217)
memberikan
petunjuk
perbandingan apa saja yang dapat dilakukan dalam
metode komparatif ini, antara lain:
Perbandingan laporan keuangan dalam beberapa
tahun
Perbandingan dengan perusahaan yang terbaik

Perbandingan dengan
industri yang berlaku

angka-angka

standar

Pendapatan Asli Daerah (PAD)


Berdasarkan
Undang-Undang Nomor 33
Tahun 2004, sumber pendapatan daerah berasal dari:
Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan,
dan Lain-lain Pendapatan. Sedangkan Pendapatan
Asli Daerah (PAD) bersumber dari: Pajak Daerah,
Retribusi Daerah, Hasil Pengelolaan Kekayaan
Daerah yang Dipisahkan, dan Lain-lain PAD yang
Sah. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang
dipisahkan merupakan salah satu sumber yang
memberi andil bagi PAD. Hal ini sejalan dengan
pendapat Chobib Soleh (2010:78) yaitu:
Pemerintah daerah dapat melakukan upaya
peningkatan PAD melalui optimalisasi peran
BUMD dan BUMN. Peranan investasi swasta
dan perusahaan milik negara/daerah diharapkan
dapat berfungsi sebagai pemacu utama
pertumbuhan dan pengembangan ekonomi
daerah (engine of growth dan sebagai center of
economic activity).
Berkaitan dengan kontribusi bagian laba
perusahaan daerah pada PAD, maka analisis ini
dimaksudkan untuk mengukur seberapa besar
kontribusi bagian laba perusahaan daerah terhadap
PAD. Rasio kontribusi dihitung dengan cara:
Laba Perusahaan Daerah

X 100%

Total PAD

3. Metode Penelitian
Desain Penelitian
Jonathan Sarwono (2006:27) menyatakan
bahwa desain penelitian bagaikan alat penuntun bagi
peneliti dalam melakukan proses penentuan
instrument pengambilan data, penentuan sampel,
koleksi data dan analisisnya. Penelitian ini dilakukan
dengan tujuan untuk memperoleh gambaran tentang
kinerja keuangan Perusahaan Daerah Air Minum
(PDAM) Tirtawening dan kontribusinya terhadap
Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bandung.
Berdasarkan desain penelitian yaitu penelitian
deskriptif dengan pendekatan induktif, maka tahaptahap yang akan dilakukan oleh penulis dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi masalah yang terjadi pada
PDAM Tirtawening khususnya mengenai
kinerja keuangan perusahaan melalui analisis
perbandingan laporan keuangan.
2. Mengumpulkan data-data mengenai laporan
keuangan perusahaan.

26

3.

4.

Melakukan studi literatur untuk memperoleh


referensi teori-teori mengenai analisis laporan
keuangan perusahaan.
Menyusun desain penelitian dan melakukan
analisis untuk menganalisis data-data yang
telah diperoleh.

5.
6.

Membuat kesimpulan.
Menyusun laporan hasil penelitian.

Operasionalisasi dan pengukuran variabel


penelitian seperti tertera pada Tabel 1. berikut ini:

Tabel 1. Operasionalisasi Variabel


Variabel
Kontribusi
keuntungan
terhadap PAD

Konsep
Mengukur
seberapa
besar kontribusi bagian
laba perusahaan daerah
terhadap PAD.

Indikator
Laba Perusahaan Daerah
Total PAD

Sumber Data Penelitian


Data yang hendak dikumpulkan dalam
penelitian ini adalah data sekunder yang bersifat
kuantitatif. Dalam penelitian ini, sumber data
diperoleh dari Perusahaan Daerah Air Minum
(PDAM) Tirtawening Kota Bandung berupa laporan
keuangan yang meliputi Neraca, Laporan Laba Rugi,
dan Laporan Perubahan Modal. Selain itu peneliti
juga mengakses website Pusat Data dan Analisa
Pembangunan Jawa Barat melalui internet dengan
alamat pusdalisbang.jabarprov.go.id.
Populasi dan Sampel Penelitian
Dalam penelitian ini, pengambilan sampel
dilakukan dengan pendekatan nonprobability
sampling yaitu purposive sampling. Menurut
Sekaran (2006:277), purposive sampling terkadang
sangat penting digunakan dalam mencari informasi
sasaran yang spesifik, karena tipe-tipe khusus dari
obyek penelitian dapat memberikan informasi yang
diperlukan dan mereka merupakan kelompok yang
bisa memberikan informasi yang dibutuhkan. Dalam
penelitian ini, untuk menentukan sampel digunakan
kriteria-kriteria sebagai berikut:
1. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Kota
Bandung.
2. Perusahaan harus tetap beroperasi selama
periode penelitian tahun 2011-2012, menerbitkan
laporan keuangan tahun 2011-2012.
3. Perusahaan menghasilkan laba atau rugi secara
kontinue selama periode tahun 2011-2012.
4. Perusahaan yang memiliki data lengkap tentang
variabel-variabel penelitian.
Penelitian dilakukan di Perusahaan Daerah Air
Minum (PDAM) Tirtawening Kota Bandung dengan
periode laporan keuangan selama dua tahun.
Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen
Penelitian
Data yang hendak dikumpulkan dalam
penelitian ini adalah data sekunder yang bersifat
kuantitatif, yang dinyatakan dalam angka-angka.
Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk

Ukuran
X 100%

Skala
Rasio

mendapatkan data yang diperlukan adalah metode


dokumentasi. Sumber-sumber data tersebut diperoleh
dari PDAM Tirtawening Kota Bandung berupa
laporan keuangan tahunan perusahaan yang dijadikan
sebagai objek penelitian. Data yang dikumpulkan
berupa data runtun waktu (time series) yang diwakili
oleh waktu pengamatan dari tahun 2011 sampai
2012.
Untuk mengumpulkan data sekunder
digunakan teknik pengumpulan data melalui studi
kepustakaan berupa journal, textbooks, dan karya
tulis yang berhubungan dengan penelitian ini serta
mengakses website melalui internet dengan alamat
pusdalisbang.jabarprov.go.id.
Teknik Analisis Data
Penelitian
ini
menggunakan
analisis
perbandingan laporan keuangan untuk melihat kinerja
keuangan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Setelah data dikumpulkan dan diolah, maka
selanjutnya dilakukan analisis perbandingan laporan
keuangan dengan cara menyajikan laporan keuangan
secara horizontal dan membandingkan antara pos
yang satu dengan pos lainnya dalam laporan
keuangan dari periode yang berlainan. Dari hasil
perbandingan ini akan diketahui kenaikan atau
penurunan dalam rupiah, unit, atau pun dalam
persentase. Selanjutnya dilakukan analisis kontribusi
keuntungan perusahaan daerah terhadap Pendapatan
Asli Daerah (PAD). Analisis ini digunakan untuk
mengukur kontribusi keuntungan perusahaan daerah
terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Rumus
untuk menghitungnya adalah:
Laba Perusahaan Daerah
Total PAD

X 100%

4. Hasil Penelitian Dan Pembahasan


Analisis Perbandingan Laporan Keuangan
(1) Analisis Neraca Perbandingan

27

Berdasarkan hasil perhitungan Tabel 2. pada


halaman berikut, dapat dilihat bahwa terdapat
penurunan total aset sebesar 2,97% yang disebabkan
oleh penurunan jumlah aset lancar (3,41%) dan
jumlah aset tetap (2,52%) PDAM Tirtawening Kota
Bandung. Penurunan jumlah aset lancar ini sebagian
besar dipengaruhi oleh turunnya pembayaran dimuka
sebesar 34,4% dan naiknya jumlah penyisihan
piutang usaha perusahaan meskipun piutang usaha
perusahaan mengalami kenaikan sebesar 16,58%.
Jumlah penyisihan piutang usaha mengalami
kenaikan
sebesar
112,5%
yang
signifikan
mempengaruhi penurunan aset lancar perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan tahun
2012, penyisihan piutang tertinggi antara lain
ditempati oleh golongan pelanggan:
1) Rumah tangga A2 (2A2), yaitu golongan
pelanggan yang mempunyai rumah yang
terletak di jalan kecil/gang dengan lebar jalan
kurang dari 2 meter
2) Rumah tangga A3 (2A3), yaitu golongan
pelanggan yang mempunyai rumah yang
terletak di besar bukan protokol dengan lebar
jalan tidak kurang dari 2 meter dan tidak lebih
dari 4 meter
3) Rumah tangga A4 (2A4), yaitu golongan
pelanggan yang mempunyai rumah dengan
lebar jalan di atas 4 meter bukan jalan
protokol, dan
4) Usaha menengah/besar (3B), seperti: toko,
rumah makan, salon, apotik, super market,
bank, serta perusahaan menengah lainnya.
Begitu pula dengan aset tetap, penurunan nilai
aset tetap sebagian besar dipengaruhi oleh naiknya
jumlah akumulasi penyusutan aset tetap sebesar
5,61%. Akumulasi penyusutan aset tetap perusahaan
sebagian besar berasal dari akumulasi aset tetap
transmisi dan distribusi serta aktiva air kotor
(limbah).
Dari sisi kewajiban dan ekuitas, terdapat
kenaikan jumlah kewajiban lancar sebesar 124,24%
dan kewajiban lain-lain sebesar 7,58%. Kenaikan
jumlah
kewajiban
lancar
disebabkan
oleh
meningkatnya jumlah hutang pajak dan pinjaman
jatuh tempo yang masih harus dibayar oleh
perusahaan, masing-masing sebesar 1.754,44% dan
253,8%. Hutang pajak didominasi oleh hutang PPh
Pasal 25/29 yang merupakan pajak bagi wajib
pajak badan, sedangkan pinjaman jatuh tempo yang

masih harus dibayar didominasi oleh tunggakan


pokok pada Asian Development Bank (ADB).
Di sisi lain, hutang jangka panjang perusahaan
ke Asian Development Bank mengalami penurunan
sebesar kurang lebih 18%. Penurunan ini ditunjukkan
dengan meningkatnya tunggakan pokok pada ADB
pada sisi hutang lancar.
Dapat dilihat pula bahwa jumlah ekuitas
perusahaan banyak dipengaruhi oleh rugi tahun
sebelumnya yang jumlahnya meningkat sebesar
29,21%, serta turunnya laba tahun berjalan sebesar
68,67%, sehingga memberi kontribusi terhadap
turunnya jumlah ekuitas sebesar 39, 49%. Hal ini
menyebabkan turunnya total kewajiban dan ekuitas
perusahaan sebesar 2,97%.
Berdasarkan Neraca Perbandingan di atas
dapat diketahui bahwa terdapat penurunan jumlah
aset perusahaan yang berasal dari penurunan nilai
aset lancar dan tetap perusahaan. Penurunan jumlah
aset lancar lebih besar bila dibandingkan dengan
penurunan jumlah aset tetap. Dari tabel diketahui
bahwa jumlah nilai bersih piutang usaha perusahaan
mengalami kenaikan, sedangkan nilai bersih
persediaan mengalami penurunan. Hal ini
menunjukkan adanya kenaikan tagihan di luar
perusahaan akibat kegiatan operasional perusahaan.
Di sisi lain, kenaikan jumlah piutang usaha sebesar
16,58% tidak seimbang dengan kenaikan penyisihan
piutang usaha sebesar 112,53%, hal ini
mengindikasikan terdapat kenaikan jumlah kredit
bermasalah/kredit macet perusahaan. Kenaikan aset
lancar berupa kas dan setara kas sebesar 6,75% dapat
disebabkan oleh kenaikan dalam jumlah hutang
lancar sebesar 41,3%. Bila dihubungkan dengan
modal kerja, yang diperoleh dengan cara mengurangi
jumlah aset lancar dengan hutang lancar perusahaan,
maka terdapat penurunan modal kerja perusahaan.
Modal kerja perusahaan tahun 2011 sebesar Rp.
70.484.843.500, sedangkan tahun 2012 sebesar Rp.
25.651.207.363, sehingga terjadi penurunan modal
kerja sebesar 63,61%. Modal kerja merupakan
ukuran tentang keamanan dari kepentingan kreditur
jangka pendek. Modal kerja juga dapat dianggap
sebagai modal bagi perusahaan untuk aktivitas
operasional
perusahaan
sehari-hari.
Dengan
demikian,
turunnya
modal
kerja
dapat
mengindikasikan bahwa perusahaan mengalami
kesulitan dalam pengadaan dana jangka pendeknya
untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan.
Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya utang
pajak perusahaan yang akan segera jatuh tempo.

28

29

(2) Analisis Laporan Laba Rugi Perbandingan


Tabel 3. di atas merupakan Laporan Laba
Rugi Perbandingan PDAM Tirtawening Kota
Bandung per tanggal 31 Desember 2011 dan 2012.
Berdasarkan Tabel 3., terdapat kenaikan jumlah
pendapatan usaha perusahaan sebesar 0,9%. Bagi
PDAM Tirtawening Kota Bandung, pendapatan
usaha merupakan pendapatan utama perusahaan yang
berasal dari pendapatan air dan pendapatan
operasional nonair. Pendapatan air berasal dari
pendapatan air bersih maupun air limbah. Pendapatan
air bersih berasal dari penjualan air bersih yang
merupakan core business PDAM Tirtawening Kota
Bandung. Sedangkan pendapatan nonair berasal dari
pendapatan selain pendapatan air. Termasuk kedalam
pendapatan ini adalah pendapatan dari sambungan
baru, denda keterlambatan, dan pendapatan LPKL.
Pendapatan LPKL adalah pendapatan atas jasa
uji laboratorium yang diberikan oleh Unit Bisnis
Laboratorium Pengendalian Kualitas Lingkungan

kepada konsumen. Pada tahun 2012, pendapatan


LPKL memberikan porsi terbesar bagi pendapatan
nonair (34,76%) dibandingkan pada tahun 2011
sebesar 27,62%.
Sejalan dengan kenaikan pendapatan usaha,
jumlah beban langsung usaha pun mengalami
kenaikan sebesar 3%. Hal ini ditandai dengan
naiknya seluruh pos beban langsung usaha kecuali
beban operasional AMDK dan LPKL. Kenaikan
jumlah beban langsung usaha yang lebih besar
daripada jumlah pendapatan usaha ini menyebabkan
turunnya laba kotor perusahaan sebesar 1%.
Kenaikan tertinggi beban langsung usaha berasal dari
beban pengolahan air (10,69%) dan beban transmisi
distribusi (9,99%). Selain itu, turunnya pendapatan
operasional
nonair
sebesar
6,61%
turut
mempengaruhi turunnya jumlah laba kotor
perusahaan. Dari keterangan di atas, diketahui bahwa
turunnya laba kotor PDAM Tirtawening Kota
Bandung setidaknya disebabkan oleh: (1) naiknya
beban pengolahan air, (2) naiknya beban transmisi

30

distribusi, dan (3) turunnya pendapatan operasional


non air.
Begitu pula dengan beban umum dan
administrasi perusahaan yang meningkat sebesar
5,77% sehingga menyebabkan turunnya laba usaha
perusahaan sebesar 85,25%. Besarnya penurunan
jumlah laba usaha ini juga disebabkan oleh
meningkatnya jumlah beban umum dan administrasi
perusahaan yang nilainya hampir 93% (92,57%) dari
laba kotor pada tahun 2011 dan bahkan hampir 99%
(98,89%) dari laba kotor pada tahun 2012. Beban
umum dan administrasi terbesar antara lain berasal
dari biaya pegawai, rupa-rupa beban umum,
penyisihan piutang, dan biaya lainnya. Biaya
penelitian dan pengembangan (litbang) merupakan
biaya terkecil dari beban umum dan administrasi
perusahaan. Dari laporan laba rugi secara parsial,
PDAM Tirtawening Kota Bandung masih
membukukan laba usaha tiap tahunnya, tetapi bila
diperbandingkan, maka terdapat penurunan laba
usaha sebesar 85,25%. Hal ini dapat mengindikasikan
terganggunya kesehatan perusahaan.
Bila
dilihat
dari sisi laba ( rugi)
sebelum pajak, terdapat kenaikan laba sebelum

pajak perusahaan sebesar 1,18%, sedangkan


perhitungan sebelumnya menunjukkan bahwa
terdapat penurunan laba usaha perusahaan sebesar
85,25%. Selisih prosentase ini disebabkan oleh
naiknya jumlah pendapatan lain-lain di luar usaha
perusahaan sebesar 80,47% yang dibarengi oleh
turunnya biaya lain-lain di luar usaha perusahaan
sebesar 96,65%. Selanjutnya bila dilihat dari laporan
laba rugi secara parsial, PDAM Tirtawening Kota
Bandung masih membukukan laba setelah pajak tiap
tahunnya, tetapi bila diperbandingkan, maka terdapat
penurunan laba setelah pajak sebesar 68,67%.
Penurunan laba setelah pajak ini menunjukkan
ketidakmampuan perusahaan dalam memperoleh laba
dan tentunya memberikan sinyal negatif kepada
pemerintah daerah sebagai investor.
Analisis Kontribusi Keuntungan Perusahaan
Daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Hasil perhitungan kontribusi keuntungan
terhadap pendapatan asli daerah dapat dilihat pada
Tabel 4. berikut:

Tabel 4. Hasil Perhitungan Rasio Kontribusi Keuntungan PDAM Tirtawening Terhadap PAD Kota
Bandung Tahun 2011 dan 2012
TAHUN
No
URAIAN
2011
2012
1
Laba Setelah Pajak
Rp. 4.739.515.622,98
Rp.
1.485.020.575,61
2
Pendapatan Asli Daerah
Rp. 834.595.864.970,00
Rp. 1.005.836.878.460,00
3
Rasio kontribusi laba setelah
0,57%
0,15%
pajak terhadap PAD
{ (1) / (2) * 100% }
Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Bandung, data diolah kembali

(P
Dari Tabel 4. diketahui bahwa rasio A
kontribusi laba setelah pajak PDAM Tirtawening
terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Bandung
sebesar 0,57% pada tahun 2011, dan menurun
menjadi 0,15% pada tahun 2012. Hal ini
menunjukkan bahwa pada tahun 2011 hanya 0,57
bagian laba PDAM Tirtawening yang memberi
kontribusi terhadap 100 bagian PAD Kota Bandung.
Selanjutnya menurun pada tahun 2012, dimana laba
PDAM Tirtawening hanya memberikan kontribusi
sebesar 0,15 dari 100 bagian PAD Kota Bandung.
Kecilnya rasio ini menggambarkan masih kecilnya
kontribusi PDAM Tirtawening Kota Bandung
sebagai salah satu perusahaan daerah terhadap
perolehan Pendapatan Asli Daerah Kota Bandung.
Hal ini ditandai dengan menurunnya laba setelah
pajak (earning after tax) perusahaan, dari Rp.
4.739.515.622,98 pada tahun 2011 menjadi Rp.
1.485.020.575,61 pada
tahun
2012, dengan
kata
lain
terjadi penurunan profitabilitas
perusahaan. Di sisi lain, semakin tinggi kemampuan
daerah dalam menghasilkan Pendapatan Asli Daerah

(PAD) maka semakin tinggi pula kemandirian suatu


daerah dan semakin berkurang ketergantungan fiskal
daerah terhadap pemerintah pusat. Dengan adanya
kemandirian daerah, maka diharapkan daerah akan
mampu memberikan pelayanan publik yang
berkualitas.

5. Simpulan Dan Saran


Simpulan
Dari analisis data pada bagian sebelumnya,
untuk PDAM Tirtawening Kota Bandung dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Selama periode 2011-2012, aset perusahaan
mengalami penurunan yang disebabkan kenaikan
yang signifikan pada penyisihan piutang sebesar
112,5%. Kewajiban perusahaan mengalami
kenaikan yang disebabkan oleh hutang pajak
(1.754,44%) dan pinjaman jatuh tempo yang
masih harus dibayar (253,8%) yang didominasi
oleh tunggakan pada Asian Development Bank
(ADB). Ekuitas perusahaan menurun sebesar

31

2.

39,49% disebabkan oleh akumulasi rugi


perusahaan tahun sebelumnya.
Laba kotor perusahaan mengalami penurunan
sebesar 1%. Laba setelah pajak (earning after
tax/EAT) perusahaan turun sebesar 68,67%.
EAT perusahaan tahun 2011 sebesar Rp.
4.739.515.622,98 dan Rp.1.485.020.575,61 pada
tahun 2012. Kontribusi keuntungan PDAM
Tirtawening Bandung terhadap PAD Kota
Bandung tahun 2011 sebesar 0,57%, sedangkan
tahun 2012 sebesar 0,15%.

Saran
Adapun saran yang disampaikan antara lain:
1. Analisis perbandingan laporan keuangan dapat
digunakan dalam mengukur kinerja keuangan
perusahaan.
Bagi manajemen perusahaan, analisis ini dapat
dijadikan
perhatian
dalam
mengambil
kebijakan, misalnya kebijakan tunggakan
pelanggan yang akan berdampak pada
akumulasi penyisihan piutang dan keuntungan
perusahaan di masa yang akan datang.
Bagi Pemerintah Daerah Kota Bandung
analisis ini dapat dijadikan pertimbangan
dalam mengambil kebijakan, misalnya
kebijakan pemberian hutang yang akan
berdampak pada peroleh Pendapatan Asli
Daerah (PAD) dimasa yang akan datang.
Diharapkan pemberian pinjaman baik dari
lembaga dalam negeri maupun luar negeri
tidak akan membebani perusahaan.
2. PDAM Tirtawening Kota Bandung dapat
meningkatkan laba perusahaannya dengan cara
meningkatkan
profesionalisme
dalam
pengelolaan
perusahaan
daerah
serta
meningkatkan efisiensi dalam pengeluaran
terutama pada pengeluaran beban umum dan
administrasi. Meningkatnya laba perusahaan
tentunya diharapkan mampu memberikan
kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah
(PAD) Kota Bandung.

6. Daftar Pustaka
Bernstein, Leopold A. & Wild, John J. 1998.
Financial
Statement
Analysis:
Theory,
Application and Interpretation. Sixth edition.
Irwin McGraw Hill. International Edition.
Brimsons, James A, and John Antos. 1999. Driving
Value Using Activity-Based Budgeting. John
Wiley & Sons, Inc. New York.
Chobib Soleh dan Heru Rochmansyah. 2010.
Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah. Edisi
ke-2. Bandung: Fokusmedia.
Dwi Praswoto. 2011.
Analisis
Laporan
Keuangan (Konsep dan Aplikasi). Edisi 3.
Yogyarta: UPP STIM YKPN.
Gitman, Lawrence J. 2006. Principles of Managerial
Finance. Elevent edition. Addison Wesley.
Irham Fahmi. 2006. Analisis Investasi dalam
Prespektif Ekonomi dan Politik. Bandung:
Refika Aditama.
Jonathan Sarwono. 2006. Metode Penelitian
Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta: Penerbit
Graha Ilmu.
Mahmudi. 2010. Manajemen Keuangan Daerah.
Jakarta: Erlangga.
Mardiasmo. 2002. Akuntansi Sektor Publik. Edisi 1.
Yogyakarta: Penerbit Andi.
pusdalisbang.jabarprov.go.id
Sekaran, Uma. 2006. Metodologi Penelitian untuk
Bisnis. Terjemahan. Jakarta: Salemba Empat.
Sofyan Syafri Harahap. 2008. Analisis Kritis atas
Laporan Keuangan. Edisi 1. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.
Winarso. 2010. Pengukuran Kinerja Keuangan
Pemerintah Daerah. Makassar: Kopel Indonesia.
www.tempo.co

7. Riwayat Singkat Penulis


Jatnika Dwi Asri, SE, M. Si, mengajar di Institut
Pemerintahan
Dalam
Negeri
Jatinangor.
Menyelesaikan S-1 di Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia Jakarta dan S-2 di Universitas Padjajaran
Bandung. Email: jatnika_da@yahoo.com. Telepon
081 2211 2133.

32

Jurnal Ekono Insentif Kopwil4, Volume 7 No. 2, Oktober 2013


ISSN: 1907 - 0640, halaman 32 s.d. 44

PENGARUH FEE BASED INCOME TERHADAP PROFITABILITAS


(RETURN ON ASSET) PADA PT. BANK JABAR-BANTEN TBK. SUB BRANCH
CIPANAS-CIANJUR
Oleh:
Wenny Djuarni dan Rizki Awaludin
Fakultas Ekonomi Universitas Putra Indonesia (UNPI), Cianjur

Abstrak - Fee based income adalah pendapatan yang diperoleh dari transaksi yang diberikan dalam jasajasa
bank lainnya di luar dari keuntungan dari kegiatan pokok, sedangkan profitabilitas (return on asset) adalah
kemampuan suatu bank untuk memperoleh laba. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan
pengolahan data meliputi Analisis Korelasi, Koefisien Determinasi, dan Pengujian Hipotesis. Dari hasil
penelitian bahwa terdapat pengaruh positif antara Fee Based Income terhadap Profitabilitas (Return On Asset)
pada PT Bank Jabar-Banten Tbk. Sub Branch Cipanas-Cianjur sebesar 0, 142 yang berarti bahwa kontribusi atau
pengaruh yang diberikan oleh fee based income terhadap profitabilitas (ROA) sebesar 14,2% dan sisanya
sebesar 85,8% merupakan kontribusi faktor lain di luar fee based income yang turut mempengaruhi besarnya
Return On Asset. Adapun uji t menunjukkan bahwa t hitung = 0,575 dan t tabel = 4,303 dengan menggunakan
tingkat signifikasi 5% (a = 0,05) dan degree of freedom (n-2). Dasar pengambilan keputusan yaitu tolak H0 jika
t hitung > t tabel dan terima H0 jika t hitung < t table, , karena t hitung < t table ( 0,574 <4,303) , maka H0 diterima artinya
bahwa tidak ada hubungan secara signifikan antara Fee based income dengan Return On Asset (ROA)
Kata Kunci: Fee Based Income dan Return On Asset
Abstract- Fee based income is the income earned from the transactions given in the other bank services
outside of the profits from core activities , while profitability ( return on assets ) is the ability of a bank to make a
profit . This study uses a quantitative approach , by processing the data include correlation analysis , the
coefficient of determination , and Hypothesis Testing. From the research that there is a positive effect between
Fee Based Income on Profitability ( Return on Assets ) at PT Bank Jabar - Banten Tbk . Sub - Cianjur Cipanas
Branch of 0, 142 which means that the contribution or influence exerted by the fee- based income to profitability
( ROA ) of 14.2 % and the remaining 85.8 % is contributed by other factors outside the fee-based income also
influence Return on asset size . The t test showed that t = 0.575 and t table = 4.303 using 5% significance level
( a = 0.05 ) and degree of freedom ( n - 2 ) . Basis for decision making ie reject H0 if t count > t table and accept
H0 if t < t table , , because t < t table ( 0.574 < 4.303 ) , then H0 is accepted it means that there is no significant
relationship between the Fee -based income return on Assets ( ROA )

Keywords: Fee Based Income and Return on Asset


I. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang Penelitian
Bank merupakan lembaga yang memegang
peranan penting dalam perekonomian suatu negara.
Kemajuan bank di suatu negara dapat dijadikan
tolak ukur kemajuan negara tersebut, khususnya
peran perbankan sebagai penyedia pembiayaan
industri dalam negeri. Bukti konkret peran serta
perbankan dalam kegiatan perekonomian dapat
dilihat dari definisi bank itu sendiri dalam Undang
Undang Nomor 10 tahun 1998 pengertian bank
adalah sebagai berikut: Bank adalah badan usaha
yang menghimpun dana dari masyarakat dalam
bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada

masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentukbentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf
hidup rakyat banyak
Undang-undang pokok perbankan di atas,
menunjukkan bahwa usaha pokok perbankan adalah
menghimpun dana dan menyalurkannya kembali
pada masyarakat. Hal tersebut dilakukan karena
fungsi bank adalah sebagai lembaga perantara
antara pihak-pihak yang kelebihan dana dengan
yang membutuhkan dana. Dalam situasi yang cepat
berubah, lembaga perbankan dituntut untuk lebih
peka terhadap perubahan lingkungan, karena untuk
meningkatkan
fungsi
intermediasi
bank
sebagaimana yang dicanangkan Bank Indonesia.
Untuk meningkatkan jumlah laba yang
diperoleh, bank harus meningkatkan pendapatan

33

dengan syarat biaya-biaya digunakan secara efisien.


Pendapatan yang diperoleh bank akan berpeluang
meningkatkan
perolehan
laba
dan
akan
mempengaruhi besarnya profitabilitas yang dicapai
suatu bank. Jenis pendapatan yang diperoleh bank
atas produk dan jasa yang diberikan kepada
masyarakat dapat dibagi menjadi dua golongan
yaitu Interest Income dan Fee Based Income.
Interest Income adalah pendapatan yang
diperoleh dalam bentuk bunga atas pemberian
kredit sebagai penyalur dana kepada masyarakat,
baik perorangan atau badan usaha dan juga
penempatan dana kepada bank lain. Sedangkan Fee
Based Income adalah pendapatan provisi, fee atau
yang diperoleh bank yang bukan merupakan
pendapatan bunga. Pendapatan ini juga bergantung
pada proses marketing mix management (product,
price, place, promotion). Fee Based Income
merupakan pendapatan yang diambil dari marketing
mix pada produk-produk bank, maka semakin
banyak peluang untuk mendapatkan keuntungan
dari Fee Based Income.
Untuk meningkatkan profitabilitas maka,
perbankan jeli dengan mencari sumbersumber
atau produk-produk
diluar
dari kegiatan

perkreditan, seperti dari jasajasa perbankan yang


diberikan atau yang lebih dikenal dengan Fee
Based Income. Dengan adanya fee based income
maka pendapatan akan naik sehingga laba pun ikut
naik.
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat
dan Banten Tbk yang dikenal dengan nama bank
BJB, adalah bank umum yang sahamnya dimiliki
oleh Provinsi Jawa Barat, dan Provinsi Banten.
Bank Jabar-Banten adalah salah satu bank besar di
Indonesia. Tingkat Fee Based Income dari tahun
2009 s.d. 2012 (Tabel. 1) mengalami fluktuasi, yaitu
mengalami penurunan di tahun 2010 tetapi pada
tahun selanjutnya tahun 2011 dan 2012 mengalami
kenaikan kembali. Kondisi ini cukup baik bagi
Bank, karena Fee Based Income mulai menjadi
salah satu penambah pendapatan selain dari
pendapatan pokok Bank yang masih dominan
berasal dari Interest Income. Kenaikan tingkat Fee
Based Income secara otomatis mempengaruhi
kenaikan profitabilitas Bank Jabar-Banten.
Kondisi Ini dapat dilihat dari tingkat
profitabilitas yang dihitung dari rasio Return On
Asset (ROA) empat tahun di bawah ini:

Tabel 1. Perhitungan ROA PT Bank Jabar-Banten Tbk. Sub Branch Cipanas Cianjur Periode
tahun 2009-2012 (dalam ribuan rupiah)
2012
2011
2010
Ket
(Rp.)
(Rp.)
(Rp.)

2009
(Rp.)

Laba Sebelum Pajak

12.467.204

7.555.039

6.783.470

7.583.639

Total Asset

106.745.134

91.252.346

84.416.522

80.992.562

Return On Asset

11,68%

8,28 %

8,03 %

9,36 %

Sumber: Data Perusahaan tahun 2009 sampai dengan tahun 2012 yang telah diolah kembali

Kemampuan bank untuk memperoleh laba


tergantung
pada
efisiensi
dan efektifitas
pelaksanaan operasi, serta sumber daya yang
tersedia untuk melakukannya. Karena itu, analisis
profitabilitas secara umum memfokuskan pada
hubungan antara hasil operasi, seperti yang
dilaporkan dalam laporan laba/rugi, dan sumber
daya yang tersedia bagi bank,
1.2.Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahn
yang dikemukakan di atas, maka perumusan
masalah adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana tingkat Fee Based Income pada PT
Bank Jabar-Banten Tbk. Sub Branch Cipanas Cianjur?
2. Bagaimana tingkat profitabilitas (ROA) pada PT
Bank Jabar-Banten Tbk. Sub Branch Cipanas Cianjur?
3. Bagaimana pengaruh Fee Based Income
terhadap tingkat profitabilitas (ROA) pada PT
Bank Jabar-Banten Tbk. Sub Branch Cipanas
Cianjur.

1.2. Tujuan Penelitian


Sesuai dengan perumusan permasalahan
diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui tingkat Fee Based Income
pada PT Bank Jabar-Banten Tbk. Sub Branch
Cipanas - Cianjur.
2. Untuk mengetahui tingkat profitabilitas (ROA)
pada PT Bank Jabar-Banten Tbk. Sub Branch
Cipanas - Cianjur.
3. Untuk mengetahui pengaruh Fee Based Income
terhadap tingkat profitabilitas (ROA) pada PT
Bank Jabar-Banten Tbk. Sub Branch Cipanas Cianjur.

2.

Kajian Pustaka

2.1. Bank
UndangUndang Nomor 10 tahun 1998
pengertian Bank adalah badan usaha yang
menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat
dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya

34

dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat


banyak
Menurut Kasmir (2008:11) mendefinisikan
bank adalah: Lembaga keuangan yang kegiatan
utamanya adalah menghimpun dana dari
masyarakat dan menyalurkannya kembali dana
tersebut ke masyarakat serta memberikan jasa bank
lain.
Berdasarkan Undang-Undang No. 10 Tahun
1998, fungsi bank di Indonesia adala:
a. Sebagai tempat menghimpun dana dari
masyarakat Bank bertugas mengamankan uang
tabungan dan deposito berjangka seta simpanan
dalam rekening koran atau giro
b. Sebagai penyalur dana atau pemberi kredit
Bank memberikan kredit bagi masyarakat yang
membutuhkan terutama untuk usaha-usaha
produktif.
Sedangkan fungsi bank menurut Thomas
Suyatno (1999:3) dapat diartikan sebagai berikut:
Bahwa perbankan khususnya bank komersial
(Bank Umum) mempunyai beberapa fungsi
diantaranya adalah penyaluran jasa-jasa yang
semakin luas meliputi pelayanan dalam mekanisme
pembayaran, menerima tabungan, penyaluran
kredit, pelayanan dalam fasilitas pembiayaan luar
negeri, penyimpanan barang-barang berharga dan
trust service (jasa-jasa yang diberikan dalam bentuk
pengamanan-pengawasan harta milik).
Selanjutnya fungsi lain bank dalam masyarakat
menurut Rimsky Judisseno (2005:95) adalah
sebagai berikut:
a.
Agent Of Trust
b. Agent Of Development
c.
Agent Of Service
Peranan bank menurut Susilo, Sigit dan Santoso
(2000:11) bank sebagai lembaga keuangan
mempunyai peran yang penting dalam sistem
keuangan, yaitu:
a. Pengalihan Asset
b. Transaksi (Transaction)
c. Likuiditas (Likuidity)
d. Efisiensi (efficiency)
2.2. Pendapatan
Pendapatan menurut IAI (2007:13) yang
dijelaskan dalam PSAK No. 23 paragraf ke-25
adalah :Kenaikan manfaat ekonomi selama suatu
periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau
penambahan aset atau penurunan kewajiban yang
mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal
dari kontribusi penanam modal
Pendapatan operasional bank dapat dibagi
menjadi empat kelompok, yaitu:
1) Pendapatan bunga, yang dimasukan ke dalam
rekening ini adalah pendapatan hasil bunga dari
pinjaman yang diberikan dan penanaman dana
yang dilakukan oleh dalam bentuk giro,
simpanan berjangka, obligasi dan surat
pengakuan hutang lainnya

2) Pendapatan Provisi dan Komisi, yang


dimasukan kedalam rekening ini adalah
pendapatan yang dipungut atau diterima oleh
bank dari berbagai kegiatan yang dilakukan
seperti provisi kredit, provisi transfer, komisi
pembelian atau penjualan efek-efek dan lain
sebagainya.
3) Pendapatan karena transaksi valuta asing, yang
dimasukan kedalam rekening ini adalah
keuntungan yang diperoleh bank dari berbagai
transaksi devisa atau valuta asing, misalnya
selisih kurs pembelian atau penjualan valuta
asing, selisih kurs karena konversi provisi,
kondisi dan bunga yang diterima dari bank-bank
diluar negeri.
4) Pendapatan operasional lainnya, adalah hasil
langsung dari kegiatan usaha bank yang tidak
termasuk kedalam rekening pendapatan pada
buku pertama sampai dengan ketiga diatas,
misalnya dividen yang diperoleh bank dari
berbagai saham yang dimilikinya.
2.3. Pengertian Fee Based Income
Fee Based Income menurut Lapoliwa
(2000:195) adalah Tujuan dari pemberian jasa
jasa ini selain untuk mengembangkan pangsa pasar
bank juga untuk meningkatkan pendapatan bank
dalam bentuk komisi .
Sedangkan Fee Based Income menurut Kasmir
(2008:146) adalah Keuntungan yang diperoleh
dari transaksi yang diberikan dalam jasajasa bank
lainnya di luar dari keuntungan dari kegiatan
pokok.
Perolehan keuntungan jari jasa-jasa bank ini
walaupun relatif kecil, namun mengandung suatu
kepasatian, hal ini disebabkan risiko terhadap jasajasa bank ini lebih kecil jika dibandingkan dengan
kredit.
2.4. Produk Jasa Perbankan yang Menghasilkan
Fee Based Income
Berikut ini akan dibahas beberapa produk
jasa perbankan yang menghasilkan fee based
income dan pengrtiannya berdasarkan literatur yang
diperoleh, yaitu:
a. Transfer,menurut Lapoliwa/Kusnadi (2000;196)
adalah: Suatu kegiatan jasa bank untuk
memindahkan sejumlah dana tertentu sesuai
dengan perintah si pemberi amanat yang
ditujukan untuk keuntungan seseorang yang
ditunjuk sebagai penerima transfer (beneficiery).
.
b. Kliring (Clearing ) merupakan jasa penyelesaian
utang piutang antar bank dengan cara saling
menyerahkan
warkat-warkat
yang
akan
dikliringkan di lembaga kliring (penagihan
warkat seperti cek atau bilyet giro yang berasal
dari dalam kota).
c. Inkaso (Collection) merupakan jasa bank untuk
menagihkan warkat-warkat yang berasal dari luar
kota atau luar negeri. Adapun warkat-warkat

35

yang dapat diinkasokan atau ditagihkan adalah


warkat-warkat yang berasal dari luar kota ata luar
negeri seperti: Cek, Bilyet Giro, Wesel, Kuitansi,
Surat Aksep, Deviden, Kupon, Money Order, dan
surat berharga lainnya.
d. Safe Defosit Box merupakan jasa-jasa bank yang
diberikan kepada para nasabahnya. Jasa ini
dikenal juga dengan nama safe locket.
e. Bank card adalah alat pembayaran pengganti
uang tunai atau cek.
f. Bank Notes merupakan uang kartal asing yang
dikeluarkan dan diterbitkan oleh bank di luar
negeri.
g. Travellers Cheque dikenal dengan nama cek
wisata atau cek perjalanan
h. Letter of credit (L/C) adalah suatu fasilitas atau
jasa yang diberikan kepada nasabah dalam
rangka mempermudah dan memperlancar
transaksi jual beli barang terutama yang berkaitan
dengan transaksi internasional.
i. Garansi Bank adalah semua bentuk garansi yang
atau jaminan yang diterima atau diberikan oleh
bank yang mengakibatkan pembayaran kepada
pihak yang menerima jaminan apabila pihak yang
dijamin wanprestasi atau cidera janji.
j. Memberikan Jasa-jasa di Pasar Modal
k. Dana Pembayaran Rekening Titipan (payment
point) adalah pembayaran dari masyarakat yang
ditujukan untuk keuntungan pajak tertentu,
biasanya
giro
milik
perusahaan
yang
pembayarannya dilakukan melalui bank.
l. Jual Beli atau Perdagangan Valuta Asing
m. Commercial Paper adalah promes yang tidak
disertai dengan jaminan (unsecured promissory)
yang diterbitkan oleh perusahaan untuk
memperoleh dana jangka pendek dan dijual
kepada investor yang melakukan investasi dalam
instrumen pasar uang.
2.5. Unsur-unsur Fee Based Income dalam
Laporan Rugi Bank
Fee based income merupakan pendapatan
operasionalnya non bunga maka unsur-unsur
pendapatan operasional yang masuk kedalamnya
adalah:
1. Pendapatan dari hasil transaksi valuta
asing/devisa
2. Pendapatan operasional lainnya.
Jika merujuk kepada format laporan laba rugi
standar terbaru menurut IAI (2007:17) dijelaskan
dalam PSAK No. 31 tentang Akuntansi Perbankan
yang menyatakan bahwa fee based income disusun
sebagai bagian dari pendapatan dan beban lainnya
dengan pos-pos:
a. Provisi dan komisi yang diterima selain dari
pemberian kredit
b. Pendapatan bunga, beban bunga

c. Keuntungan atau kerugian penjualan efek,


investasi efek dan kegiatan valuta asing
d. Pendapatan dividen
e. Beban penyisihan kerugian kredit dan aktiva
produkif lainnya
f. Administrasi umum dan operasional lain.
2.6. Beberapa
Keuntungan
Meningkatkan
Aktivitas Fee Based Income
Keuntungan meningkatkan aktivitas fee
based menurut Kasmir (2008:146) adalah sebagai
berikut : Perolehan keuntungan dari jasa-jasa bank
ini walaupun relatif kecil, namun mengandung
suatu kepastian, hal ini disebabkan resiko terhadap
jasa-jasa bank ini lebih kecil jika dibandingkan
dengan kredit.
2.7 Pengertian Profitabilitas dan analisis
Profitabilitas
Profitabilitas menurut Brigham & Houston
(2010:107) adalah Hasil akhir dari sejumlah
kebijakan dan keputusan yang dilakukan oleh
perusahaan.
Sedangkan menurut Hasibuan (2008:100)
profitabilitas bank adalah: Profitabiltas Bank
adalah kemampuan suatu bank untuk memperoleh
laba
yang
dinyatakan
dalam presentase.
Profitabilitas pada dasarnya adalah laba (rupiah)
yang dinyatakan dalam persentase profit
2.8. Analisis Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas menurut Brigham &
Houston (2010:146)
adalah:
Sekelompok
rasio yang menunjukkan kombinasi dari pengaruh
likuiditas, manajemen asset, dan utang pada hasil
operasi.
Berikut
rasio
profitabilitas
yang
mencerminkan hasil akhir dari seluruh kebijakan
keuangan dan keputusan operasional:
a. Margin Laba Atas Penjualan (profit margin on
sales), yang di hitung dengan membagi laba
bersih dengan penjualan, memberikan angka laba
per dolar penjualan seperti di nyatakan berikut
ini:
Laba Bersih
Margin atas laba penjualan = -------------- x 100%
Penjualan

b. Return On Asset (ROA) Rasio laba bersih


terhadap total aset mengukur pengembalian atas
total aset ( return of total aset - ROA) setelah
bunga dan pajak:

ROA =

Laba Besih
----------------------- x 100%
Total Asset

c. Rasio Kemampuan Dasar Untuk Menghasilkan


Laba

36

Rasio
kemampuan
dasar
untuk
menghasilkan laba (basic earning power-BEP) di
hitung dengan membagi jumlah laba sebelum
bunga dan pajak
(EBIT) dengan total aset, seperti di nyatakan
berikut ini:
EBIT
Basic Earning Power (BEP) = ------------Total Asset

x 100%

d. Return On Equty (ROE) Merupakan indikator


yang mengukur kemampuan bank dalam
memperoleh laba bersih.
Laba Bersih
ROE = --------------------X 100%
Ekuitas Biaya
e. Rasio
Biaya
Operasional/Pendapatan
Operasional (BOPO) Rasio yang digunakan
untuk mengukur tingkat efisiensi dan
kemampuan bank dalam melakukan kegiatan
operasinya.
Biaya Operasional
BOPO = ------------------------------Pendapatan Operasional

X 100%

Rasio profitabilitas dapat digunakan untuk


mengukur tingkat kesehatan bank. Dalam analisis
ini, dicari hubungan timbal balik antara pos-pos
yang terdapat pada laporan rugi laba dengan pospos pada saat neraca bank guna memperoleh
berbagai indikasi yang bermanfaat dalammengukur
tingkat efisiensi dan perolehan laba bank yang
bersangkutan.
2.9. Kerangka Pemikiran
Salah satu strategi usaha yang menjadi
sasaran perbankan dan menjadi usaha yang cukup
trend saat ini adalah strategi meningkatkan aktivitas
fee based income. Karena bank akan mengusut jasa
pelayanan yang dinikmati nasabah sebagai fee
based income. Maka dituntutnya kesiapan bank
dalam hal pemanfaatan teknologi dan faktor
profesionalisme sumber daya manusianya. Dari
gambaran beberapa keuntungan diatas, kiranya
cukup bahwa strategi peningkatan pendapatan dari
fee based income harus segera dilaksanakan
terutama dalam kondisi persaingan industri
perbankan yang semakin ketat.
Dalam menilai kinerja suatu bank biasanya
menggunakan berbagai macam indikator, salah
satunya dengan menggunakan analisis laporan
keuangan melalui analisis rasio. Analisis rasio
merupakan salah satu cara pemprosesan dan
penginterprestasian informasi akuntansi yang
terdapat dalam laporan keuangan sehingga dengan
analisis rasio ini dapat diketahui kekuatan dan
kelemahan perusahaan di bidang keuangan.

Analisis profitabilitas berperan penting


dalam menganalisis laporan keuangan, karena hasil
penilaian ini memungkinkan untuk mengestimasi
pengembalian dan karakteristik risiko perusahaan
dengan lebih baik. Analisis profitabilitas juga
memungkinkan untuk membedakan antara kinerja
yang terkait dengan keputusan operasi dan
keputusan pendapatan maupun investasi, rasio ini
juga
mengukur
kemampuan
perusahaan
menghasilkan keuntungan (profitabilitas) pada
tingkat penjualan, asset, dan modal saham yang
tertentu.
Oleh karena itu aktivitas fee based yang
ditingkatkan secara optimal, diharapkan akan
menghasilkan pendapatan maksimal sehingga
pendapatan operasional perbankan semakin
meningkat, dan kemampuan perbankan dalam
menghasilkan laba yang diukur dengan tingkat
Profitabilitas ( return on asset) semakin baik.
2.10.Hipotesis Penelitian
Berdasarkan uraian
di atas hipotesis
penelitian adalah Fee Based Income berpengaruh
terhadap Profitabilitas (ROA) pada PT Bank JabarBanten Tbk. Sub Branch Cipanas Cianjur .

3. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah deskriptif kuantitatif, yaitu metode yang
menggambarkan masalah yang ada di dalamnya,
objek dalam penelitian ini adalah Fee Based Income
dan tingkat Profitabilitas (Return On Asset). PT
Bank Jabar-Banten Sub Branch atau Kantor Cabang
Pembantu (KCP) Cipanas yang beralamat di Jalan
Raya Cipanas No. 12 Cipanas Cianjur.
3.1. Variabel Penelitian dan Pengukurannya
1. Variabel independen dalam penelitian ini
ditandai dengan simbol (X) adalah Fee Based
Income. Sebagai indikator yang digunakan
untuk Fee Based Income dapat dilihat dengan
menggunakan rumus sebagai berikut.
FBI Periode X
TINGKAT FBI = ---------------------------------- X 100%
Jumlah FBI Selama 4 Periode

2. Variabel dependen dalam penelitian ini ditandai


dengan simbol (Y) adalah Profitabilitas. Dan
indikator yang digunakan untuk menghitung
Profitabilitas dapat dilihat dengan menggunakan
rumus sebagai berikut:
Laba Sebelum Pajak
ROA = --------------------------------- X 100%
Total Aktiva

Secara lebih jelas mengenai kedua variabel tersebut


dapat dilihat pada tabel berikut ini

37

Tabel 2. Operasionalisasi Variabel


Variabel
Konsep
Variabel (X)
Tujuan dari pemberian jasajasa ini
Fee Based
selain untuk mengembangkan pangsa
Income
pasar bank juga untuk meningkatkan
pendapatan bank dalam bentuk komisi
.
(Lapoliwa: 2000:195)
Variabel (Y)
Profitabiltas Bank adalah kemampuan
Profitabilitas
suatu bank untuk memperoleh laba
(ROA)
yang dinyatakan dalam presentase.
Profitabilitas pada dasarnya adalah laba
(rupiah) yang dinyatakan dalam
persentase profit ( Hasibuan ,
2008:100)

3.2.Populasi dan Sampling


3.2.1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah
keseluruhan laporan keuangan PT Bank JabarBanten Tbk Sub Bracnh Cipanas - Cianjur.
3.2.2. Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini
meliput Laporan Keuangan PT Bank Jabar-Banten
Tbk. Sub Bracnh Cipanas - Cianjur selama empat
tahun yaitu dari tahun 2009 sampai tahun 2012.

Indikator
Pendapatan Operasional Lainnya yaitu :
Keuntungan Selisih Kurs, Provisi dan Komisi
atas transaksi ekspor-impor, Rugi/Laba Surat
Berharga, Provisi pengelolaan rekening
nasabah dan lain-lain.
(Kasmir:2008:138)

Skala

RASIO

Laba Sebelum Pajak


ROA =

X 100%
Total Aktiva

RASIO

(Brigham dan Houston:2010:146)

3.4. Teknik Analisis Data


Menurut Sugiyono (2008:31) Dalam
penelitian kuantitatif analisis data menggunakan
statistik. Statistik yang digunakan dapat berupa
statistik deskriptif dan inferensial/induktif.
Adapun langkah-langkah analisis kuantitatif
diuraikan sebagai berikut:
a. Analisis Regresi Linier, digunakan untuk
membuktikan sejauhmana pengaruh antara Fee
Based Income (X) terhadap Profitabilitas PT
Bank Jabar-Banten Tbk (Y), dan digunakan
untuk meramalkan bagaimana keadaan (naik
turunnya) Bentuk umum regresi linear
sederhana, yaitu:

3.3. Sumber dan Teknik Pengumpulan Data


Y = a + bX
3.3.1.Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah data kuantitatif menurut Sugiyono
(2008:137) , yaitu dalam bentuk angka-angka
yang menunjukkan nilai dari besaran atau
variabel yang mewakilinya. Jenis data dalam
penelitian dibagi dalam dua jenis, yaitu sebagai
berikut:
1). Data Primer, adalah sumber data yang langsung
memberikan data kepada pengumpul data.
2). Data Sekunder, merupakan sumber data yang
tidak langsung memberikan data kepada
pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau
lewat dokumen

Keterangan:
a
: Koefisien Intercept
b
: Koefisien Korelasi
: Jumlah pengamatan variabel X
: Jumlah pengamatan variabel Y
: Jumlah hasil perkalian X dan Y
(

3.3.2. Teknik Pengumpulan Data


Dalam penelitian ini, mengumpulkan data
dengan menggunakan pendekatan sebagai berikut :
1. Studi Pustaka, dengan cara mempelajari berbagai
literatur, buku, hasil penelitian yang sejenis
dan media lain yang mempunyai kaitan dengan
masalah yang akan di teliti.
2. Studi Lapangan, Teknik pengumpulan data yang
digunakan yaitu menggunakan
teknik
dokumentasi dengan cara mencatat data yang
berhubungan dengan masalah yang akan
diteliti dari dokumen-dokumen yang dimiliki
perusahaan.

X
n

:Jumlah kuadrat dari jumla pengamatan


variabel
: Jumlah kuadrat dari jumlah pengamatan
variabel X
: Jumlah pengamatan X dan Y

b. Analisis Korelasi, bertujuan untuk mengukur


kekuatan asosiasi (hubungan) linier antara dua
variabel, dan juga menunjukkan arah hubungan
antara variabel dependen dengan variabel
independen .Rumus korelasi sederhana menurut
Sugiyono (2002:210) sebagai berikut:
r

n( XY) - ( X)( Y)

{n( X

}{

) - ( X) 2 n Y 2 - ( Y) 2

38

Keterangan :
r
: Nilai koefisien korelasi
: Jumlah pengamatan variabel X

Kriteria pengujian :
H0 diterima jika t (1-1/2 ) < t < (1-1/2 )
H0 ditolak jika t < t (1-1/2 ) atau t > t (1-1/2 )

: Jumlah pengamatan variabel Y


: Jumlah hasil perkalian X dan Y
(

: Jumlah kuadrat dari jumlah pengamatan variabel X


: Jumlah kuadrat dari jumlah pengamatan variabel X

: Jumlah kuadrat dari jumlah pengamatan variabel Y


: Jumlah kuadrat dari jumlah pengamatan variabel Y

: Jumlah pengamatan X dan Y

Menurut Sugiyono (2008:183) interpretasi


tingkat keeratan hubungan antara variabel X dengan
variabel Y (variabel bebas dengan variabel terkait),
digunakan tabel interpretasi koefisien korelasi.

3.5. Hipotesis Statistik


Hipotesis dari penelitian ini adalah:
H0 : p = 0 maka Fee Based Income tidak
berpengaruh terhadap profitabilitas
(ROA) pada PT Bank Jabar-Banten
Tbk. Sub Bracnh Cipanas Cianjur.
Ha : p 0 maka Fee Based Income berpengaruh
terhadap profitabilitas (ROA) pada PT
Bank Jabar-Banten Tbk. Sub Bracnh
Cipanas Cianjur.

4. Hasil Penelitian dan Pembahasan


Tabel 3. Pedoman untuk Memberikan Interpretasi
Koefisien Korelasi
INTERVAL KOEFISIEN

TINGKAT HUBUGAN

0,00 0,199
0,20 0,399
0,40 0,599
0,60 0,799
0,80 1,000

Sangat rendah
Rendah
Sedang
Kuat
Sangat Kuat

a.

Analisis
Koefisien
Determinasi
(KD),
digunakan untuk melihat seberapa besar
pengaruh/kontribusi
antara
variabel
independen (X) terhadap variabel dependen
(Y)
yang dinyatakan dalam persentase.
Besarnya koefisien determinasi dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:

Kd = r2 x 100%
Dimana Kd : Koefisien Determinasi
r2 : Nilai Koefisien Korelasi

b. Uji Signifikasi Koefisien Korelasi, dilakukan


untuk menguji apakah benar atau kuatnya
hubungan antara variabel yang diuji sama
dengan nol. Uji siginifikansi dengan taraf nyata
= 5% (0,05) dan sederajat bebas (df= n-2).
Rumusnya adalah:

FBI Periode X
TINGKAT FBI = -------------------------------- X 100%
Jumlah FBI Selama 4 Periode

Dimana:
t
r
r2
n

: Nilai thitung
: Nilia Koefisien Korelasi
: Jumlah Kuadrat dari Nilai
Korelasi
: Jumlah Data Pengamatan

4.1. Kondisi Tingkat Fee Based Income PT Bank


Jabar-Banten Tbk. Sub Branch CipanasCianjur.
Tingkat fee based income di PT Bank JabarBanten Tbk. Sub Branch Cipanas-Cianjur
mengalami fluktuasi. Terjadi naik-turunnya tingkat
fee based income yang belum menentu ini
disebabkan oleh beberapa fakor, diantaranya belum
maksimalnya produk-produk jasa lainnya (fee
based income). Penyumbang terbesar fee based
income berasal dari provisi dan komisi, selain itu
produk fee based income yang intensitasnya lebih
banyak adalah jasa pengirimian uang dari luar
negeri. Kondisi ini diakibatkan, karena banyaknya
penduduk sekitar yang bekerja diluar negeri dan
menggunakan jasa kiriman uang luar negeri untuk
dikirimkan kepada keluarganya yang berada di
Indonesia. Walaupun bukan sebagai penyumbang
pengahasilan fee based income terbesar, jasa
kiriman uang merupakan potensi yang cukup
menguntungkan.
Untuk lebih jelas dapat dilihat dari Laporan
Keuangan Neraca dan Laporan Rugi/Laba
Perbandingan PT Bank Jabar-Banten Tbk. Sub
Branch periode 2009 sampai dengan2012 yang
telah diolah kembali di bawah ini : Dalam
menghitung
besarnya
tingkat
fee
based
income,menggunakan perbandingan antara jumlah
fee based income dan tingkat penurunan atau
kenaikan fee based income. Berikut ini adalah
perhitungannya:

Koefisien

Kondisi fee based income PT Bank JabarBanten Tbk. Sub Branch Cipanas-Cianjur untuk
periode 2009 sampai dengan 2012, posisi tingkat
fee based income terendah terjadi tahun 2011.

39

Sedangkan, posisi tertinggi fee based income terjadi


pada tahun tahun 2009, kondisi ini dapat dilihat
pada perhitungan tingkat fee based income dibawah
ini:
Tahun 2009:
=33,17%

produk tabungan, giro, dan deposito baik produk


yang sudah tersedia maupun produk yang baru,
sehingga pendapatan dari provisi/fee administrasi
tabungan, giro, dan deposito mengalami kenaikan
yang cukup tinggi.
Grafik 1. Grafik Fee Based Income PT Bank JabarBanten Tbk Sub Branch Cipanas-Cianjur
Periode 2009-2012 Dalam rupiah

Fee Based Income

Tahun 2010:
= 23,98%

2000000

Tahun 2011:
1500000

= 16,77%
1000000

Tahun 2012 :

500000

=26,07%
0

Pada Tabel 4. berikut ini terdapat data-data


mengenai perkembangan tingkat fee based income
pada PT Bank Jabar-Banten Tbk. Sub Branch
Cipanas-Cianjur
Tabel 4. Tingkat Fee Based Income PT Bank
Jabar-Banten Tbk. Sub Branch CipanasCianjur (dalam ribuan rupiah)
TAHUN

JUMLAH
FEE BASED INCOME

PERSENTASE

2009

1.747.083

33,17%

2010

1.263.084

23,98%

2011
2012
Jumlah

883.326
1.373.111
5.266.604

16,77%
26,07%

Sumber: Data Perusahaan tahun 2009 sampai dengan 2012


yang telah diolah kembali.

Dari Tabel 4. dan Grafik 1. di atas dapat


diperoleh informasi bahwa perkembangan tingkat
fee based income untuk periode 2009 sampai
dengan tahun 2012 berkisar antara 16,77% hingga
33,17% dengan rata-rata 25%. Terjadi fluktuasi
tingkat fee based income, ketika mengalami
kenaikan pada tahun 2009 sebesar 33,17%, pada
tahun selanjutnya yaitu tahun 2010 dan 2011 terjadi
penurunan sebesar 23,98% dan 16,77%, hal ini
disebabkan terjadi penurunan dalam pendapatan
provisi dan komisi administrasi pelunasan kredit
yang cukup besar.
Pendapatan tersebut salah satu penyumbang
yang cukup besar pada fee based income. Pada akhir
tahun 2012 terjadi kenaikan tingkat fee based income
sebesar 26,77%, ini dihasilkan dari upaya
peningkatan fee based income dengan melakukan
promosi-promosi kepada para nasabah baru untuk
membuka rekening baru dengan menggunakan

2009

2010

2011

2012

Disisi lain juga bank mempromosikan


kepada para nasabah untuk menggunakan jasa
perbankan lainnya untuk memudahkan dalam
segala jenis transaksi dan pelayanan jasa lainnya
yang akan meningkatkan penghasilan bank bukan
hanya dari segi spread based melainkan dari segi
fee based income juga turut berperan penting.
4.2. Kondisi Tingkat Profitabilitas (ROA) PT
Bank Jabar-Banten Tbk. Sub Branch
Cipanas-Cianjur.
Setiap bank tentunya berusaha untuk terus
meningkatkan keuntungan secara maksimal, namun
di lain pihak persaingan dalam dunia usaha
perbankan berjalan dengan ketat dan kompetitif.
Tingkat kemampuan bank dalam meningkatkan
keuntungan disebut dengan tingkat profitabilitas.
Penilaian tingkat profitabilitas yang paling
umum digunakan oleh pihak bank adalah
menggunakan metode Return On Asset (ROA),
karena di dalamnya turut memperhitungkan
bagaimana kemampuan manajemen bank dalam
mengelola asetnya untuk menghasilkan laba. Rasio
ini digunakan untuk mengukur kemampuan
manajemen bank memperoleh laba secara
keseluruhan. Semakin besar pertumbuhan Return
On Asset suatu bank maka akan semakin besar pula
tingkat keuntungan yang akan diperoleh bank yang
bersangkutan serta akan semakin baik pula posisi
bank tersebut dari segi penggunaan aset.
Tingkat profitabilitas PT Bank Jabar-Banten
Tbk. Sub Branch Cipanas-Cianjur adalah rasio
Return On Asset yang diperoleh dari perbandingan
laba sebelum pajak terhadap total aktiva.

40

Untuk menghitung tingkat profitabilitas,


berikut ini perhitungan Return On Asset (ROA)
untuk periode tahun 2009 sampai dengan 2012

Grafik 2. Grafik Tingkat Profitabilitas PT Bank JabarBanten Tbk Sub Branch Cipanas-Cianjur
Periode 2009-2012Dalam persen (%)

Tahun 2009:
= 9,36 %
Tahun 2010:
= 8,03 %
Tahun 2011:
= 8,28 %
Tahun 2012:
= 11,68 %

Pada tabel berikut terdapat data-data


mengenai perkembangan profitabilitas serta tingkat
pertumbuhannya pada PT Bank Jabar-Banten Tbk.
Sub Branch Cipanas-Cianjur:
Tabel 5. Tingkat Profitabilitas PT Bank Jabar-Banten
Tbk. Sub Branch Cipanas-Cianjur (dalam
ribuan rupiah)
LABA
TOTAL
ROA
TAHUN
SEBELUM
AKTIVA
(%)
PAJAK
80.992.562
7.583.639
9,36
2009
2010

84.416.522

6.783.470

8,03

2011

91.252.346

7.555.039

8,28

2012

106.745.134

12.467.204

11,68

Sumber: Data Perusahaan tahun 2009 sampai dengan 2012


yang telah diolah kembali.

Dalam Tabel 5. dan Grafik 3. dapat


diperoleh data bahwa perkembangan tingkat
profitabilitas untuk poriode 2009 sampai dengan
2012 mengalami fluktuasi, yaitu tahun 2010 terjadi
penurunan sebesar 1,33%, ini disebabkan
kurangnya tingkat promosi bank kepada para
nasabah untuk lebih banyak penggunaan jasa-jasa
bank lainnya untuk memudahkan segala jenis
transaksi. Dari hasil evaluasi pihak bank untuk
meningkatkan tingkat profitabilitas (ROA) berhasil
pada tahun selanjutnya karena mengalami kenaikan
kembali pada tahun 2011 dan 2012 masing-masing
tingkat kenaikannya adalah 0,25% dan 3,4%.

Berdasarkan pembahasan sebelumnya, adanya


beberapa indikasi hubungan antara fee based
income dengan tingkat profitabilitas (ROA). Salah
satu indikasinya antara lain, pada tahun 2010 dan
2011 terjadi penurunan tingkat fee based income
dengan masing-masing rasio penurunannya adalah
23,98% dan 16,77%. Penurunan fee based income
menyebabkan turunnya tingkat profitabiltas pada
tahun yang sama yaitu tahun 2010, tingkat
profitabilitasnya menjadi 8,03%. Namun ketika
tahun 2011 ketika fee based income turun, tingkat
profitabilitas naik sebesar 0,25% dari tahun 2010,
ini diakibatkan oleh kenaikan pendapatan dari segi
spread based. Pada tahun selanjutnya yaitu tahun
2012, fee based income mengalami kenaikan
menjadi 26,77%. sehingga tingkat profitabilias pun
ikut naik menjadi 11,68 %.
4.3. Pengaruh Fee Based Income terhadap
Profitabilitas (ROA) pada PT Bank JabarBanten Tbk. Sub Branch Cipanas-Cianjur.
Pengaruh antara fee based income yang
dijadikan
variabel
(X)
terhadap
tingkat
profitabilitas Return On Asset (ROA) yang
dijadikan variabel (Y),
Tabel 6. Hubungan Antara Fee Based Income dan
Profitabiitas (ROA) Pada PT Bank JabarBanten Tbk. Sub Branch Cipanas-Cianjur
Periode 2009-2012
TAHUN
X
Y
X2
Y2
XY
2009
33,17 9,36
1100,25
87,61
310,47
2010
23,98 8,03
575,04
64,48
192,56
2011
16,77 8,28
281,23
68,56
138,86
2012
26,07 11,68
679,64
136,41 304,50
99,99 37,35 2636,17 357,07 946,38

Dari Tabel 6. Hubungan Fee Based Income


dan Profitabilitas Return On Asset (ROA) dapat
dibuat tabel Pengaruh Fee Based Income terhadap
Profitabilitas Return On Asset (ROA), yang

41

selanjutnya akan diterapkan ke dalam metode


perhitungan statistik berikut ini:
Untuk mengetahui hubungan antara Fee
Based Income terhadap Profitabilitas Return On
Asset (ROA) pada PT Bank Jabar-Banten Tbk. Sub
Branch Cipanas-Cianjur, menggunakan analisis
statistik.
4.4. Analisis Data dan Interpretasi
4.4.1.

Analisis Regresi Linier


Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian
ini menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif
Fee Based Income atau X terhadap Profitabilitas
Return On Asset (ROA) atau Y. Langkah pertama
yang harus dilakukan untuk menguji hipotesis
tersebut adalah menghitung persamaan regresi
sederhana pasangan variabel ini. Untuk mengetahui
signifikansi regresi tersebut digunakan persamaan
sebagai berikut:
Y = a + bX

Dimana:
Y = Tingkat Return On Asset
X = Tingkat Fee Based Income
a = Nilai konstanta= harga Y jika X = 0
b = Koefisien nilai arah
Berdasarkan perhitungan pada tabel 6 maka
dapat diperoleh hitungan sebagai berikut:

Dari perhitungan di atas, menghasilkan


koefisien intercept a = 7,01 sedangkan koefisien
arah regresi b = 0,09. Dalam hal ini terlihat bahwa
bentuk hubungan pasangan variabel ini dapat
digambarkan melalui persamaan regresi sebagai
berikut :
Y = 7,01 + 0,09X
Dimana:
Y = Tingkat Return On Asset
X = Tingkat Fee Based Income
Persamaan regresi di atas menunjukkan
bahwa setiap kenaikan fee based income sebesar X
satuan akan mempengaruhi kenaikan tingkat
profitabilitas (ROA) sebesar Y satuan. Sebagai
contoh, pada saat tingkat fee based income sebesar
0% maka tingkat profitabilitas (ROA) bank adalah
7,01%. Kemudian setiap terjadi perubahan fee
based income sebesar 1% maka akan menyebabkan
kenaikan tingkat profitabilitas (ROA) bank sebesar
0,09%.
4.4.2. Analisis Korelasi Fee Based Income
Terhadap Profitabiltas (ROA) pada PT
Bank Jabar-Banten Tbk. Sub Branch
Cipanas-Cianjur.

Sedangkan koefisien regresi (b)

Analisis korelasi ini dilakukan untuk


mengukur kuat atau lemahnya hubungan antara
variabel bebas (fee based income) dengan variabel
terikat (return on asset) pada PT Bank JabarBanten Tbk. Sub Branch Cipanas-Cianjur. Hasil
analisis korelasi menghasilkan angka r yang
merupakan nilai konstanta bernilai -1 r = 1.
Angka ini
menunjukkan arah dan kuatnya
hubungan antara dua variabel atau lebih secara
bersama-sama dengan variabel yang lain.
Dengan analisis korelasi ini hubungan antara
Fee Based Income dan Profitabilitas Return On
Asset (ROA) ditentukan dengan menggunakan
persamaan yang disajikan dalam perhitungan
berikut ini:
r=

n( XY) - ( X )( Y )

{n( X

}{

) - ( X) 2 n Y 2 - ( Y) 2

42

r=

4(946,38) - (99,99)(37,35)

{4(2636,17) - (99,99) }{4(357,07)


2

r=

- (37,35) 2

3785,52 - 3734,63

{10544,68 - 9998}{1428,28 - 1395,02}


r=
r=

50,89

{546,68}{33,26}
50,89
18182,58

50,89
134
,84 r = 0,377
r=

Berdasarkan hasil perhitungan diatas,


diperoleh nilai korelasi (r) sebesar 0,377. Nilai
tersebut menunjukan adanya hubungan korelasi
positif antra fee based income dengan tingkat
profitabilitas (ROA) di mana kenaikan tingkat fee
based income akan bersamaan dengan kenaikan
tingkat profitabilitas (ROA), demikian pula
sebaliknya.
Nilai korelasi menunjukkan nilai (r) terletak
diantara 0,20 0,399, maka dapat diinterpretasikan
bahwa hubungan antara nilai fee based income dan
Return On Asset (ROA) adalah rendah searah.
Nilai (r) hasil dari analisis korelasi masih
perlu
diuji
signifikansinya,
dengan
cara
mengkonsultasikan dengan nilai t hitung dengan t tabel.
Dari hasil perhitungan yang dilakukan penulis
diperoleh t hitung sebagai berikut:

Dengan menggunakan tingkat signifikansi


5% (a = 0,05) dan degree of freedom (n-2)
diperoleh t tabel 4,303. Dasar pengambilan keputusan
yaitu, tolah H0 jika - t hitung atau t hitung > t tabel.
Karena t hitung < t tabel (0,575 < 4,303), maka H0
diterima artinya bahwa tidak ada hubungan secara
siginifikan antara Fee Based Income dengan Return
On Asset (ROA).
4.4.3. Koefiesien Determinasi Fee Based Income
Terhadap Profitabiltas (ROA) pada PT

Bank Jabar-Banten Tbk. Sub Branch


Cipanas-Cianjur.
Koefisien determinasi digunakan untuk
mengetahui persentase pengaruh varibel X (fee
based income) sebagai variabel bebas terhadap
variabel Y (return on asset) sebagai variabel
terikat. Untuk mengetahui besarnya kontribusi
variabel X terhadap variabel Y dapat diperoleh
dengan menggunakan perhitungan sebagai berikut:
Kd = r2 x 100%
Kd = (0,377)2 x 100%
Kd = 0,142 x 100%
Kd = 14,2%
Koefisien determinasi yang diperoleh adalah
14,2%. Hal ini menunjukan bahwa kontribusi
pengaruh fee based income terhadap profitabilitas
(ROA) yang dicapai selama periode 2009 - 2012
pada PT Bank Jabar-Banten Tbk. Sub Branch
Cipanas-Cianjur adalah sebesar 14,2%, sedangkan
sisanya sebesar 85,8% merupakan kontribusi faktor
lain di luar fee based income yang turut
mempengaruhi besarnya Retrun On Asset
.
4.4.4. Interpretasi
Berdasarkan hasil analisis data yang telah
diuraikan sebelumnya, maka temuan penelitian ini
dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut :
1). Fee Based Income dengan Profitabilita (ROA)
merupakan dua variabel yang bersifat linear
yang ditunjukan melalui persamaan regresi Y =
7,01 + 0,09X. Hal ini mereflesikan bahwa tanpa
interpretasi terhadap faktor fee based income,
posisi tingkat profitabilitas (ROA) berada pada
titik konstan 7,01. Setiap penambahan satu
persen pada faktor fee based income, maka akan
diikuti oleh peningkatan profitabilitas (ROA)
bank sebesar 0,09%.
2). Hubungan positif tetapi tidak signifikan antara
fee based income terhadap profitabilitas (ROA)
yang ditunjukan melalui nilai korelasi sederhana
pasangan variabel ini (r) = 0,377 dengan harga t
hitung lebih kecil daripada < t tabel (0,377 < 4,303).
Temuan ini mengisyaratkan bahwa semakin
tinggi fee based income, semakin tinggi pula
tingkat profitabilitas (ROA).
3). Merujuk pada koefisien korelasi diatas,
koefisien korelasi determinasinya adalah 0,142
yang berarti bahwa kontribusi atau pengaruh
yang diberikan oleh fee based income tehadap
profitabilitas (ROA) sebesar 14,2%.
Sesuai dengan temuan di atas maka hipotesis
yang telah diajukan dalam penelitian ini dapat
diterima kebenarannya secara empiris. Temuan ini
menegaskan bahwa Profitabilitas (Return On Asset)
pada dasarnya tidak terlepas dari faktor fee based
income. Semakin tinggi tingkat fee based income

43

maka akan menyebabkan semakin tinggi pula


tingkat profitabilitas (Return On Asset). Dengan
demikian, jika faktor fee based income dapat
dioptimalkan dan ditingkatkan oleh pihak PT Bank
Jabar-Banten Tbk. Sub Branch Cipanas-Cianjur,
maka secara langsung akan berpengaruh terhadap
upaya peningkatan Profitabilitas (Return On Asset).

Sesuai dengan uraian di atas, maka hipotesis


yang dilakukan dalam penelitian ini dapat diterima
kebenarannya secara empiris. Temuan ini
menegaskan bahwa profitabilitas (return on asset)
pada dasarnya tidak terlepas dari faktor fee based
income. Semakin tinggi fee based income suatu
bank,
maka
akan
meningkatkan
tingkat
profitabilitas (return on asset).

5. Kesimpulan Dan Saran


Saran
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil
penelitian
dan
pembahasan yang telah dilakukan dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. Perkembangan tingkat fee based income untuk
periode 2009 sampai dengan tahun 2012
berkisar antara 16,77% hingga 33,17% dengan
rata-rata sebesar 25%. Dari hasil penelitian
tersebut dapat dilihat bahwa perkembangan
tingkat Fee based income
mengalami
fluktuasi. hal ini disebabkan terjadi penurunan
dalam pendapatan provisi dan komisi
administrasi pelunasan kredit yang cukup
besar. Pendapatan tersebut salah satu
penyumbang yang cukup besar pada fee based
income. Namun pada akhir tahun 2012 terjadi
kenaikan tingkat fee based income sebesar
26,77%, ini dihasilkan dari upaya peningkatan
fee based income dengan melakukan promosipromosi
2. Tingkat profitabilitas (ROA) yang ditunjukkan
selama periode 2009 sampai dengan 2012 PT
Bank-Jabar-Banten Tbk. Sub Branch CipanasCianjur berkisar antara 8,03% hingga 11,68
dengan rata-rata sebesar 9,34%. Dari hasil
penelitian tersebut dapat dilihat bahwa tingkat
profitabilitas (ROA) mengalami fluktuasi
sehingga pendapatan bank pun mengalami
fluktuasi. Namun fluktuasi selama empat
tahun ini hanya terjadi penurunan sekali yaitu
pada tahun 2010 dan pada tahun selanjutnya
mengalami kenaikan kembali.
3. Hasil penelitian bahwa uji korelasi yang
menghasilkan r sebesar 0,377 menunjukkan
bahwa terdapat hubungan positif antara fee
based income dengan tingkat profitabilitas
(ROA) pada PT Bank Jabar-Banten Tbk. Sub
Branch Cipanas-Cianjur. Persamaan regresi
yang dihasilkan yaiut Y = 7,01 + 0,09X,
persamaan regresi ini menunjukan bahwa
setiap kenaikan fee based income sebesar X
satuan akan mempengaruhi kenaikan tingkat
profitabilitas (ROA) sebesar Y satuan.
Sebagai contoh, pada saat tingkat fee based
income sebesar 0% maka tingkat profitabilitas
(ROA) bank adalah 7,01%. Kemudian setiap
terjadi perubahan fee based income sebesar
1% maka akan menyebabkan kenaikan tingkat
profitabilitas (ROA) bank sebesar 0,09%.

Berikut saran-saran kepada pihak PT Bank


Jabar-Banten Tbk. Sub Branch Cipanas-Cianjur.
1. Menambah produk-produk jasa bank lainnya
untuk memudahkan para nasabah untuk
bertransaksi misalnya Internet Banking.
Nasabah dapat lebih cepat dalam bertransaksi
selain menggunakan Mobile Banking sehingga
fee based income akan meningkat karena
pendapatan dari transaksi-transaksi nasabah
yang akan semakin bertambah intensitasnya.
2. Meningkatkan promosi-promosi produk jasa
bank lainnya baik yang baru dikeluarkan atau
yang sudah lama menjadi produk unggulan
sehingga para nasabah lebih memahami dan
tertarik untuk menggunakan produk-produk
jasa bank lainnya dalam berbagai aktivitas
bertransaksi.
3. Berani bersaing dengan bank-bank lainnya
dalam berbagai aspek salah satunya dalam hal
harga. Bank harus berani menaruh harga yang
kompetitif dengan bank lainnya sehingga fee
based income akan meningkat seiring dengan
bertambahnya nasabah yang menggunakan
produk dan pelayanan jasa bank lainnya.

Daftar Pustaka
Brigham, Eugene F dan Joel F. Houston. DasarDasar Manajemen Keuangan. Jakarta:
Salemba Empat. 2010
Garrison, Ray H, Eric W Noreen, dan Peter C
Brewer. Akuntansi Manajerial. Jakarta:
Salemba Empat. 2008
Hasibuan, Malayau S.P. Dasar-Dasar Perbankan.
Jakarta: PT Bumi Aksara. 2008
IAI. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta:
Salemba Empat. 2000
Judisseno, Rimsky K. Sistem Moneter dan
Perbankan di Indonesia. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Umum. 2005
Kasmir. Bank dan Lembaga Keuangan. Jakarta:
Rajawali Pers. 2008
N.Lapoliwa, dan Daniel S. Kuswandi, Akuntansi
Bank, Lembaga Pengembangan Perbankan
Indonesia Jakarta, 2000
Sarwono, Jonathan. Pintar Menulis Karangan
Ilmiah. Jakarta: CV Andi Offset. 2010
Semiawan, Conny R. Metode Penelitian Kualitatif.
Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

44

Sugiyono.Prof.Dr Statistika Untuk Penelitian.


Bandung: CV Alfabeta. 2008
Susilo Sri., Sigit, Totok Budi Santoso A. Bank dan
Lembaga Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
2000
Suyatno, Thomas., dkk. Kelembagaan Perbankan.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum. 1999
Van Horne, James C dan John M. Wachowicz.
Fundamentals Of Financial Management.
Jakarta: Salemba Empat. 2001
www.bankbjb.co.id
Undang-undang Nomor 10 Tahun1998 Undangundang Nomor 23 Tahun1999

Riwayat Penulis
Wenny Djuarni, SE., MS.i, mengajar di
Universitas Putra Indonesia (UNPI) Cianjur,
Pendidikan SI dari Institut Manajemen Koperasi
Indonesia (IKOPIN) dan S2 dari Universitas
Padjajaran Bandung, Alamat rumah Margahayu
Raya Barat Blok P II No. 16 Bandung 40286. Tlp
022- 7560917. HP 08122084035.
Email: wenny_dj@yahoo.com

45

Jurnal Ekono Insentif Kopwil4, Volume 7 No. 2, Oktober 2013


ISSN: 1907 - 0640, halaman 45 s.d 55

PENGARUH KEMAMPUAN PENGGUNA TERHADAP


SISTEM INFORMASI AKUNTANSI DAN IMPLIKASINYA
PADA KUALITAS INFORMASI
Oleh:
Lilis Puspitawati, Siska Amelia
Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM), Bandung

Abstrak - Kemampuan pengguna penting dalam pengembangan sistem sebagai komposisi bagi keberhasilan
sebuah sistem. Secanggih apapun struktur, sistem, teknologi informasi, semua itu tidak akan dapat berjalan
dengan optimal tanpa di dukung SDM yang berkemampuan dan berintegritas. Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui pengaruh kemampuan teknis terhadap sistem informasi akuntansi dan implikasinya pada kualitas
informasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan verifikatif. Unit observasi
dalam penelitian ini adalah lima Kantor Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat 1 dengan unit analisis pegawai
pada seksi Pengolahan Data dan Informasi yang berjumlah 40 orang. Pengujian statistik yang digunakan adalah
perhitungan korelasi Pearson Product Moment, analisis jalur, koefisien determinasi, dan uji hipotesis dengan
menggunakan bantuan aplikasi SPSS 13 untuk Microsoft Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara
keseluruhan KPP di Kanwil Jawa Barat 1 memiliki kemampuan pengguna yang baik. Sistem informasi akuntansi
sudah diterapkan dengan baik dan informasi yang dihasilkan juga sudah berkualitas. Kemampuan pengguna
memiliki pengaruh yang erat dan berpengaruh positif terhadap penerapan sistem informasi akuntansi. Sistem
informasi akuntansi memiliki berpengaruh positif terhadap kualitas informasi.

Kata Kunci: Kemampuan Pengguna, Sistem Informasi Akuntansi, dan Kualitas Informasi
The Influence of User Capability To Accounting Information System and Their impact to Information
Quality

Abstract - It is importance of user capability in developing the system as a system successful composition.
Any sophisticated structures, systems, technology information, method sand work flow of the organization; it will
not be running optimally without the support of capable human resources and integrity. The purpose of this
study is to determine the effect of the user capability to accounting information systems their implications on the
quality of information. The method that been used in this research are descriptive and verifycative methods. The
unit of observation five Small Taxpayer Office Jawa Barat 1 Region with the unit of analysis were employees in
Data and Information Processing section totaled 40 peoples. Statistical test used was the calculation of Pearson
Product Moment correlation, path analysis, the coefficient of determination and hypothesis test using SPSS 13
application assistance for Microsoft Windows. The result showed that in overall Small Taxpayer Office Jawa
Barat 1 Region has a good user capability. Accounting information system are implemented as well and the
resulting information has also been qualified. User capability has tight influence positively for the accounting
information system implementation. Accountin information system implementation influence positively for the
information quality.

Keywords: User Capability, Accounting Information System, and Information Quality


1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Penelitian
Ketergantungan manusia akan informasi
semakin bertambah maka kualitas informasi harus
selalu ditingkatkan. Informasi yang baik memiliki
beberapa faktor antara lain data yang akurat,
relevan, tepat waktu, dan lengkap (Mc. Leod,
2007:46). Untuk memenuhi faktor faktor tersebut,
maka tidak cukup kalau pengelolaan data laporan

keuangan hanya mengandalkan fisik ditambah


dengan peralatan bantu sekedarnya, tetapi
dibutuhkan alat bantu yang berkecepatan tinggi dan
sangat akurat dalam memproses data-data laporan
keuangan tersebut (Romney, 2005:5).
Informasi adalah data yang diolah menjadi
bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi
yang menerimanya. Informasi sebagai data yang
telah diproses sedemikian rupa sehingga
meningkatkan pengetahuan seseorang yang

46

menggunakan data tersebut (Jogiyanto, H.M,


2005:53). Menurut Kieso (2010:50) kualitas
informasi terdiri dari relevansi dan realibilitas yang
merupakan dua kualitas primer yang membuat
informasi akuntansi berguna untuk pengambilan
keputusan.
Kualitas informasi memiliki peran penting
dalam proses pengadopsian sistem informasi
akuntansi, bukti ini menunjukkan bahwa suatu
organisasi harus memperoleh pengetahuan tentang
ukuran kualitas informasi yang tepat. Agar sistem
pengadopsian ini meningkatkan kinerja dan
membuat keuntungan bagi suatu organisasi
(Wongsim & Jing Gao, 2011).
Sistem Informasi Akuntansi merupakan
kumpulan dari subsistem-subsistem yang saling
berhubungan satu sama lain dan bekerja sama
secara harmonis untuk mengolah data keuangan
menjadi informasi keuangan yang diperlukan oleh
pengambil keputusan dalam proses pengambilan
keputusan (Azhar Susanto, 2009:18).
John Bruch dan Gery Grudnitski (1986:196)
menggambarkan pilar kualitas informasi data yang
merupakan bahan mentah yang harus diolah untuk
menghasilkan informasi melalui suatu model.
Model yang digunakan untuk mengolah data
tersebut disebut model pengolahan data atau
dikenal dengan siklus pengolahan data (siklus
informasi). Data diolah melalui suatu model
menjadi informasi, penerima kemudian menerima
informasi tersebut, sehingga bisa melakukan
pengembilan keputusan, dengan keputusan tersebut
bisa melakukan tindakan sehingga menghasilkan
hasil sebuah tindakan, hasil tadi dijadikan data dan
selanjutnya dijadikan sebagai masukan untuk diolah
kembali menjadi sebuah informasi.
Fungsi dari sistem informasi adalah untuk
menyajikan
informasi
sebagai
pendukung
pengambilan
keputusan,
perencanaan,
pengendalian, dan perbaikan selanjutnya; untuk
menyajikan informasi sebagai pendukung kegiatan
operasional
sehari-hari;
untuk
menyajikan
informasi yang berkenaan dengan kepengurusan
atau struktur manajemen (Mardi, 2011:5).
Komponen sistem informasi merupakan
bagian atau partial sistem informasi yang
membentuk sistem informasi (Mardi, 2011:20),
terdiri dari
hardware, software, brainware,
prosedure, database, teknologi jaringan komunikasi
(Azhar Susanto, 2009: 139-245).
Sistem informasi akuntansi adalah kesatuan
struktur organisasi, yang menyediakan sumber daya
fisik, dan komponen-komponen lainnya untuk
mengubah data ekonomi menjadi informasi
akuntansi, dengan tujuan menciptakan kepuasan
terhadap kebutuhan informasi untuk berbagai
macam penggunanya (Wilkinson, 2000).
Salah satu faktor yang menentukan
keberhasilan implementasi Sistem Informasi
Akuntansi guna menghasilkan informasi yang

berkualitas adalah penggunanya (user). Informasi


dalam suatu perusahaan sebagai alat bantu
mencapai tujuan melalui penyediaan informasi.
Tetapi peranan yang penting dalam organisasi
tetaplah manusia sebagai penentu keputusan. Jadi,
peranan manusia dalam sistem informasi sangat
vital, karena perencanaan dan perancangan sistem
harus lebih jauh memperhatikan faktor manusia
(John Burch dan Grudnitski, 1986:97). Selanjutnya
Bodnar dan Hopwood (2006:107), juga menyatakan
bahwa keberhasilan pembangunan sistem informasi
sangat tergantung pada kesesuaian harapan antara
system analys,
pemakai (user), sponsor dan
customer.
Rosemary Cafasaro dalam OBrien dan
Marakas (2009:138) menyatakan terdapat beberapa
alasan yang menyebabkan sukses atau tidaknya
suatu organisasi/perusahaan dalam menerapkan
sistem
informasi.
Faktor-faktor
yang
mempengaruhi kesuksesan penerapan sistem
informasi, antara lain adanya dukungan dari
manajemen eksekutif, kemampuan pengguna,
keterlibatan end user (pemakai akhir), penggunaan
kebutuhan perusahaan yang jelas, perencanaan yang
matang, dan harapan perusahaan yang nyata.
Sementara alasan kegagalan penerapan system
informasi antara lain karena kurangnya dukungan
manajemen eksekutif dan input dari end-user,
pernyataan kebutuhan dan spesifikasi yang tidak
lengkap
dan
selalu
berubah-ubah,
serta
inkompetensi secara teknologi.
Pendapat Keith Davis dalam Mangkunegara
(2000:67) yang menyatakan bahwa, Kemampuan
(ability)
sama
dengan
pengetahuan
dan
keterampilan (knowledge dan skill).
Amorso
(1989)
mengatakan
bahwa
pengguna yang berkualitas adalah faktor yang
memegang peranan penting dalam keberhasilan
implementasi sistem informasi akuntansi dan
penggunaan teknologi informasi yang canggih
dalam organisasi, oleh karena itu kualitas pengguna
sangat memegang peranan penting dalam
implementasi dan pengembangan suatu sistem
informasi dan pemilihan orang atau tim yang tepat
yang mempunyai kompetensi dan berpengalaman
dibidangnya
merupakan
prasyarat
dalam
membangun sebuah sistem informasi dalam
perusahaan (Sunarti Setianingsih:1998).
Pengguna tersebut adalah pegawai yang
kompeten dan dapat diandalkan merupakan
sumberdaya yang berharga bagi sebuah bisnis,
tujuan fungsi pengguna adalah dengan efektif
mengatur sumber daya ini, fungsi personel yang
dikembangkan dengan baik meliputi perekrutan,
pelatihan,
pendidikan
yang
berkelanjutan,
konseling, evaluasi, relasi tenaga kerja, dan
administrasi kompensasi ( James A. Hall:2007).
Masalah kualitas informasi menjadi salah
satu perhatian khusus bagi Direktorat Jenderal
Pajak. Direktorat Jenderal Pajak dapat memonitor

47

dan mengawasi penerimaan pajak secara on-line


melalui sistem Modul Penerimaan Negara, dimana
masih ada kelemahan dalam sistem tersebut
(Darmin Nasution, 2007). Hal tersebut ditujukkan
dengan pernyataan Boediono bahwa lebih dari 20
laporan keuangan kementerian dan lembaga negara
belum mendapatkan penilaian wajar dari Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK). Artinya, relevansi dan
reabilitas
dalam
pengelolaan
keuangan
pemerintahpun dinilai masih jauh dari memuaskan
(Boediono, 2011). Selain itu Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) menemukan hasil pemeriksaan
BPK atas penerimaan pajak dan kegiatan
operasional tahun anggaran 2008 dan 2009,
ditemukan kerugian negara di Kantor Pelayanan
Pajak Wajib Pajak Besar Satu hingga Rp 96 triliun,
dan KPP yang bersangkutan belum melakukan
tindak lanjut secara optimal atas potensi
penerimaan pajak tersebut. Ini mengakibatkan
peredaran usaha yang dilaporkan tidak dapat
diyakini kebenarannya.
Selanjutnya Taufiequrachman Ruki, (2011).
mengemukakan
bahwa
Masalah
tidak
terintegrasinya software menjadi salah satu temuan
BPK dalam pemeriksaan Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat (LKPP) pada tahun 2010
dikarenakan pencatatan penerimaan menurut kas
negara dan DJP menunjukkan jumlah yang berbeda.
Dalam Rapat Kerja Nasional Akuntansi dan
Pelaporan Keuangan Pemerintah, sistem pencatatan
penerimaan perpajakan masih memiliki kelemahan
sehingga pencatatan menurut Kas Negara sebesar
Rp 965,33 miliar di antaranya tidak ditemukan di
catatan DJP, pencatatan penerimaan menurut DJP
sebesar Rp 645,2 miliar tidak ditemukan di catatan
menurut Kas negara. BPK juga menemukan adanya
pembatalan penerimaan pajak oleh Bank sebesar Rp
3,39
triliun.
Kelemahan
lainnya,
sistem
pengendalian atas pencatatan piutang pajak oleh
instansi tersebut masih belum memadai.
Pendapat yang sama dikemukakan pula oleh
Luki Alfirman (2010) yang dikemukakanya dalam
Seminar Perpajakan intinya adalah sekitar 20% atau
sekitar 5.000 hingga 6.000 pegawai Direktorat
Jenderal Pajak masih gagap teknologi alias gaptek
sehingga tidak maksimal dalam memanfaatkan
teknologi modern untuk bekerja.
Sementara itu, Ketua Komwas Perpajakan
Anwar Suprijadi (2010) juga mengatakan,
permasalahan SDM di lingkungan kantor pajak ini
harus ditekankan kepada kualitas tenaga kerja.
Mengenai kualitas pekerja yang belum modern, dia
mengungkapkan, hal itu bisa ditutupi dengan
teknologi informatika.

2. Kajian Pustaka Dan Hipotesis


2.1.1. Kemampuan Pengguna terhadap Sistem
Informasi Akuntansi

Raid Mohd Al-adaileh (2009) menyatakan


Kemampuan pengguna merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi Sistem Informasi Akuntansi
dan berpengaruh terhadap Sistem Informasi
Akuntansi
Dalam penerapan sistem akuntansi berbasis
komputer, kualitas pengguna harus diselaraskan
dengan sistem yang akan diterapkan. Dengan
demikian, sistem tersebut dapat berjalan secara
efektif sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai
oleh perusahaan (Lilis Puspitawati, 2010:251).
Secanggih apapun struktur, sistem, teknologi
informasi, metode dan alur kerja suatu organisasi,
semua itu tidak akan berjalan dengan optimal tanpa
didukung kemampuan pengguna yang capable dan
berintegritas (Siti Kurnia, 2010:114).
Sistem informasi akuntansi yang dapat
diandalkan adalah sistem yang mempunyai
pengendalian memadai sehingga informasi yang
dihasilkan oleh sistem tersebut dapat diandalkan
untuk digunakan dalam pengambilan keputusan,
dalam hal ini pengendalian merupakan elemen yang
tidak dapat dipisahkan dari sistem informasi
akuntansi yang ada (Romney:2003:123).
Menurut
Stephen
Robbins
yang
diterjemahkan oleh Diana Angelica, Ria Cahyani
dan Abdul Risyid (2008:52) sebagai berikut:
Kemampuan pengguna merupakan suatu
kapasitas individu untuk mengerjakan
berbagai tugas dalam suatu pekerjaan
tertentu.
Selanjutnya Mardi menjelaskan kriteria dari
kemampuan pengguna menurut Mardi (2011:60)
adalah: pendidikan dan Pengalaman
Sistem Informasi Akuntansi Menurut Wijayanto
(2001), sebagai berikut: Sistem Informasi
Akuntansi adalah susunan sebagian dokumen, alat
komunikasi, tenaga pelaksana, dan berbagai laporan
yang didesain untuk mentransforasikan data
keuangan menjadi informasi keuangan.
Menurut Bodnar & Hapwood dalam Lilis
Puspitawati & Sri Dewi Anggadini (2011:58),
menjelaskan bahwa:
Sistem Informasia kuntansi merupakan sistem
berbasis komputer yang dirancang untuk
mentransformasi data akuntansi menjadi data
informasi, yang mencangkup siklus pemrosesan
transaksi, penggunaan teknologi informasi, dan
pengembangan sistem informasi.
Selanjutnya menurut Azhar Susanto (2004),
mengemukakan sebagai berikut:
Sistem Informasi akuntansi dapat di definisikan
sebagai kumpulan dari subsistem-subsistem yang
saling berhubungan satu sama lain dan bekerja
sama secara harmonis untuk mengolah data
keuangan menjadi informasi keuangan yang
diperlukan oleh pengambil keputusan dalam proses
pengambilan keputusan.

48

Adapun
indikator
Sistem
Informasi
Akuntansi menurut Azhar Susanto (2009:139-245),
adalah:
Hardware,
Software,
Brainware,
Prosedure, database, dan jaringan komunikasi.
Bruwer (1984) Hirschheim (1985), Nelson
dan Cheney (1987), dalam Acep Komara (2005)
mengemukakan bahwa Kapabilitas personal
berpengaruh terhadap Sistem Informasi Akuntansi
(CBIS)
Selanjutnya Montazemi (1988) dalam acep
komara (2005) mengemukakan bahwa tingkat
pengetahuan komputer pengguna akhir (end user)
akan mempengaruhi kepuasan dan apresiasi
terhadap Sistem Informasi Akuntansi.
Berdasarkan kajian pustka dan penelitian tersebut
maka dapat dinyatakan hipotesis sebagai berikut:
H1.1: Terdapat Pengaruh Positif Signifikan
antara Kemampuan Pengguna terhadap
Sistem Informasi Akuntansi.
2.1.2. Pengaruh Sistem Informasi Akuntansi
terhadap Kualitas Informasi
.
Pengertian kualitas informasi menurut
Suwardjono (2001:58) menyatakan bahwa:
Karakteristik yang melekat pada informasi
sehingga informasi bermakna bagi pemekai dan
memberikan keyakinan kepada pemakai
sehingga bermanfaat dalam keputusan.
Menurut Mc. Leod dalam Azhar Susanto
(2004:46) mengatakan bahwa suatu informasi yang
berkualitas harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Akurat, Tepat waktu, Relevan dan Lengkap.
Menurut Ivana Mamic, Katarina ager, and
Boris Tuek (2006) menyatakan bahwa Penerapan
Sistem Informasi Akuntansi berpengaruh Terhadap
Kualitas Informasi adalah Informasi akuntansi yang
berkualitas dihasilkan oleh Sistem Informasi
Akuntansi (SIA) yang mengoptimalkan operasi
sistem akuntansinya, karena sistem informasi
akuntansi yang berkualitas akan dijadikan manajer
untuk pengambilan keputusan, perencanaan, dan
pengendalian. Dan juga sistem informasi akuntansi
yang berkualitas akan menghasilkan manajemen
bisnis yang berkualitas.
Sistem informasi akuntansi bervariasi antara
satu perusahaan dengan perusahaan lainnya
walaupun satu jenis. Sistem informasi akuntansi
mengolah data dalam jumlah besar karena
didalamnya meliputi berbagai aktivitas pengolahan
transaksi seperti aktivitas pengumpulan data,
pengolahan, penyimpanan, dan dokumentasi
diberbagai fungsi operasi atau bagian suatu
organisasi. Jadi walaupun sistem informasi
akuntansi mengadopsi konsep informasi yang
berkualitas akan tetapi bobot aktivitasnya lebih
banyak berorientasi kepada pengolahan data (Azhar
Susanto, 2010:200).

H1.2: Sistem Informasi Akuntansi berpengaruh


terhadap Kualitas

3. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Deskriptif dan Verifikatif Jenis data yang
digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah data
primer Data primer dalam penelitian ini melalui
cara menyebarkan kuesioner dan melakukan
wawancara secara langsung dengan pihak-pihak
yang berhubungan dengan penelitian yang
dilakukan, dalam hal ini petugas pajak pada seksi
Pengolahan Data dan Informasi (PDI) pada Kantor
Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat 1.
Teknik penentuan data dalam penelitian ini
mengunakan populasi untuk menentukan obyek
yang memiliki karateristik tertentu. Unit analisis
dalam penelitian ini adalah Pegawai Kantor
Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat 1 khusunya
pada bagian PDI (Pengolahan Data dan Informasi).
Karena jumlah pegawai Kantor Pelayanan Pajak
pada seksi PDI yang ada di wilayah Kanwil Jabar I
keseluruhan berjumlah 40 orang, maka dapat
disimpulkan bahwa populasi dalam penelitian ini
adalah 40 orang. Adapun jumlah pegawai seksi PDI
pada masing-masing Kantor Pelayanan Pajak
Kanwil Jabar I.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian
ini dilakukan dengan beberapa cara, yaitu
observasi, wawancara, kuesioner, dan studi
kepustakaan.
Rancangan Analisis
Sebelum data di analisis, terlebih dahulu
dilakukan pengolahan data. Setelah data terkumpul
melalui kuesioner maka langkah selanjutnya adalah
melakukan tabulasi, yaitu memberikan nilai
(scoring) sesuai dengan sistem yang ditetapkan.
Scoring dilakukan dengan menggunakan skala
likert 5 4 3 2 1.
Pada penelitian ini, penulis menggunakan
jenis analisis kualitatif dan menggunakan
pendekatan analisis data kuantitatif, dengan
menggunakan alat bantu analisis data statistik, baik
yang bersifat deskriptif maupun verifikatif yang
digunakan dalam penelitian ini.
Metode Deskriptif
Penelitian Deskriptif adalah jenis penelitian
yang menggambarkan bagaimana masing masing
variable penelitian.
Kriteria Penilaian
Skor Aktual
Skor Total =

X 100 %
Skor Ideal

49

Skor aktual adalah jawaban seluruh responden atas


kuesioner yang telah diajukan. Skor ideal adalah
skor atau bobot tertinggi atau semua responden
diasumsikan memilih jawaban dengan skor
tertinggi.
Metode Verifikatif
a. Analisis Jalur (Path Analysis)
Analisis jalur mengkaji hubungan sebab
akibat yang bersifat struktural dari variabel
independen terhadap variabel dependen
dengan mempertimbangkan keterkaitan
antar variabel independen.
b. Analisis Korelasi
Menurut Sujana dalam Umi Narimawati
(2010 : 49), pengujian korelasi digunakan
untuk mengetahui kuat tidaknya hubungan
antara variabel x dan y, dengan
menggunakan
pendekatan
koefisien
korelasi Pearson dengan rumus:

Umi Narimawati (2010:50)


dimana : -1 r +1
r = koefisien korelasi
x = Kemampuan Pengguna, Penerapan SIA
z = kualitas Informasi
n = jumlah responden
Koefisien Determinasi
Persentase peranan semua variable bebas
atas nilai variable bebas ditunjukkan oleh besarnya
koefisien determinasi (R2). Semakin besar nilainya
maka menunjukkan bahwa persamaan regresi yang
dihasilkan baik untuk mengestimasi variable terikat.
Hasil koefisien determinasi ini dapat dilihat dari
perhitungan dengan Microsoft/SPSS atau secara
manual didapat dari R2 = SSreg/Sstot

Kd = r2x100%
Pengujian Hipotesis
Terdapat dua hipotesis dalam penelitian ini.
Kedua hipotesis ini diuji dengan statistik uji t
dengan ketentuan H0 ditolak jika thitung lebih besar
dari nilai kritis t untuk = 0,05 sebesar 1,96.

4.

Hasil Penelitian Dan Pembahasan.

a. Analisis kemampuan pengguna terhadap


sistem informasi akuntansi.

Berdasarkan analisis deskriptif kemampuan


pengguna berada pada katagori baik dengan
persentase sebesar 69,7%, sedangkan sistem
informasi akuntansi berada pada kategori cukup
baik dengan persentase sebesar 63,0%. Namun
masih perlu ditingkatkan menjadi katagori baik
ideal. Dalam peningkatan kemampuan pengguna
pada KPP di Kanwil Jawa Barat 1 perlu
mempertimbangkan indikator variabel kemampuan
pengguna.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti
mendukung terhadap fenomena yang ada, karena
fenomena ini menyatakan sekitar 20% atau sekitar
5.000 hingga 6.000 pegawai Direktorat Jenderal
Pajak masih gagap teknologi alias gaptek sehingga
tidak maksimal dalam memanfaatkan teknologi
modern untuk bekerja (Luki Alfirman, 2010).
Fenomena ini didukung oleh hasil analisis pada
indikator pengalaman yang memiliki persentase
sebesar 63,2% yang artinya berada pada kategori
cukup baik sehingga pengalaman pengguna harus
terus di tingkatkan agar mengurangi pegawai yang
gagap teknologi.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan
penulis yang menggunakan software SPSS
didapatkan hasil verifikatif yaitu koefisien
standardized
antara
pengaruh
kemampuan
pengguna terhadap sistem informasi akuntansi
adalah sebesar 0,825 artinya terdapat hubungan
kuat antara variabel kemampuan pengguna terhadap
sistem informasi akuntansi . Kemudian untuk nilai
koefisien determinasi adalah sebesar 68,1% yang
artinya terdapat pengaruh yang cukup kuat antara
kemampuan pengguna terhadap sistem informasi
akuntansi, dan sisanya sebesar 31,9% dipengaruhi
oleh faktor-faktor lain diluar kemampuan pengguna
seperti ukuran organisasi, dukungan manajemen
puncak,
formalisasi
pengembangan
sistem
informasi, keberadaan dewan pengarah sistem
informasi.
b.

Pengaruh sistem informasi akuntansi


terhadap kualitas informasi
Berdasarkan analisis deskriptif sistem
informasi akuntansi berada pada katagori cukup
baik dengan persentase sebesar 63,0%, sedangkan
kualitas informasi berada pada kategori cukup baik
dengan persentase sebesar 66,6%. Namun masih
perlu ditingkatkan menjadi katagori baik ideal.
Dalam peningkatan sistem informasi akuntansi
pada KPP di Kanwil Jawa Barat 1 perlu
mempertimbangkan indikator variabel sistem
informasi akuntansi supaya semua sistem dapat
berjalan dengan baik.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti
pada variabel sistem informasi akuntansi
mendukung terhadap fenomena yang ada, fenomena
yang disebutkan pada latar belakang bahwa
software atau aplikasi MPN belum terintegrasi hal
itu menyebabkan pencatatan penerimaan menurut

50

kas negara dan DJP menunjukkan jumlah yang


berbeda (Taufiequrachman Ruki, 2011). Fenomena
ini didukung oleh oleh hasil analisis pada indikator
software yang memiliki persentase sebesar 62,3%
yang artinya berada pada kategori cukup baik
sehingga masih harus terus ditingkatkan
pengembangan software tersebut. Sedangkan ketika
beban kerja tinggi maka tingkat koneksi MPN
lamban atau hang(Dimas Besmaputra,2009).
Fenomena ini didukung oleh hasil analisis pada
indikator jaringan teknologi komunikasi yang
memiliki persentase sebesar 65,5% yang artinya
berada pada kategori cukup baik sehingga masih
harus terus ditingkatkan perawatan dari router yang
menghubungkan koneksi dari internet ke semua
jaringan komputer.
Sementara hasil penelitian yang dilakukan
peneliti pada variabel kualitas informasi
mendukung terhadap fenomena yang ada, fenomena
yang disebutkan pada latar belakang bahwa hasil
pemeriksaan BPK atas penerimaan pajak dan
kegiatan operasional tahun anggaran 2008 dan
2009, ditemukan potensi kerugian negara di Kantor
Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar Satu hingga Rp
96 triliun. Ini mengakibatkan peredaran usaha yang
dilaporkan tidak dapat diyakini kebenarannya
(Herdaru Purnomo, 2010). Fenomena ini didukung
oleh oleh hasil analisis pada indikator akurat
dengan persentase sebesar 66,3% yang artinya
tingkat keakuratan informasi yang dihasilkan
berada pada kategori cukup baik sehingga
diperlukan ketelitian dalam melakukan input data
agar menghasilkan data yang dapat di yakini
keakuratanya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan
penulis yang menggunakan software SPSS
didapatkan hasil verifikatif yaitu koefisien
standardized
antara
pengaruh
kemampuan
pengguna terhadap sistem informasi akuntansi
adalah sebesar 0,865 artinya terdapat hubungan
kuat antara variabel sistem informasi akuntansi
terhadap kualitas informasi. Kemudian untuk nilai
koefisien determinasi adalah sebesar 78,4% yang
artinya terdapat pengaruh yang cukup kuat antara
sistem informasi akuntansi terhadap kualitas
informasi, dan sisanya sebesar 25,2% dipengaruhi
oleh factor-faktor lain diluar sistem informasi
akuntansi seperti data quality (Xu & Lu:2003),
process orientation and proper managerial and
business knowledge of information specialists (Turk
et al; 2006).
c. Pengaruh Kemampuan Pengguna terhadap
Sistem Informasi Akuntansi dan
Implikasinya pada Kualitas Informasi
Kemampuan pengguna dan sistem informasi
akuntansi memberikan pengaruh
yang besar
terhadap kualitas informasi pada Kantor Pelayanan
Pajak di Kanwil Jawa Barat I. Pada dasarnya
kualitas informasi yang ada pada Kantor Pelayanan

Pajak di Kanwil Jabar I dapat dikatakan cukup baik


terutama dalam penentuan risiko, namun masih
belum mencapai nilai ideal.
Hasil hipotesis diperoleh koefisien jalur
kemampuan pengguna dan sistem informasi
akuntansi terhadap kualitas informasi sebesar
84,2%. Karena koefisien jalur sistem informasi
akuntansi (84,2%) lebih besar dari nol, maka H0
ditolak dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan
bahwa kemampuan pengguna dan sistem informasi
akuntansi berpengaruh secara bersama-sama
terhadap kualitas informasi pada KPP Kanwil Jawa
Barat I.
Berdasarkan uraian di atas, menunjukkan
bahwa apabila kemampuan pengguna diterapkan
dengan baik, maka kualitas sistem informasi
akuntansi akan lebih baik, dengan berkualitas
sistem informasi akuntansi, maka dapan
menghasilkan informasi yang berkualitas.

5. Kesimpulan dan Saran


5.1 Kesimpulan
Berdasarkan
rumusan
masalah,
pengembangan hipotesis atas dasar teori-teori yang
berhubungan, serta hasil analisis yang telah dibahas
sebagaimana telah disajikan pada bab-bab
sebelumnya, maka kesimpulan penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Kemampuan pengguna berpengaruh terhadap
sistem informasi akuntansi sebesar 68,1%
Fenomena yang terjadi pada sistem informasi
akuntansi yaitu aplikasi software MPN belum
sepenuhnya terintegrasi, hal itu menyebabkan
sering terjadinya perbedaan pencatatan antara
Ditjen Pajak dan Ditjen Perbendaharaan
Negara serta jaringan teknologi komunikasi
atau network pada aplikasi MPN masih sering
gagal, terjadi karena kapasitas jaringan atau
server yang tersedia belum optimal, dan
sekitar 20% pegawai Direktorat Jenderal Pajak
masih gagap teknologi alias gaptek. Hal ini
menunjukkan bahwa kualitas sistem informasi
akuntansi dipengaruhi cukup tinggi oleh
kemampuan pengguna.
2. Sistem informasi akuntansi berpemgaruh
terhadap kualitas informasi sebesar 78,4%
Kualitas informasi yang dihasilkan oleh sistem
informasi akuntansi di Kantor Pelayanan
Pajak di Kanwil Jawa Barat I dikategorikan
cukup baik. Namun terkadang masih kurang
akurat sehingga relevansi informasi yang
dihasilkan menjadi berkurang dan penyajian
informasi terkadang menjadi tidak tepat
waktu. Sebaiknya penerapan sistem informasi
akuntansi pada KPP di Kanwil Jawa Barat 1
perlu diperbaiki agar informasi yang
dihasilkan tersedia pada saat dibutuhkan .
3. Kemampuan pengguna dan sistem informasi
akuntansi memberi pengaruh yang besar

51

terhadap kualitas informasi pada Kantor


Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat 1
sebesar 84,2% Sistem informasi yang
teritegritas akan mengahasilkan informasi
yang berkualitas karena informasi yang
berkualitas akan meningkatkan kinerja dan
membuat keuntungan bagi suatu orgaisasi.
5.2 Saran
Berdasarkan
kesimpulan
yang
telah
dikemukakan bahwa kemampuan pengguna dan
Sistem Informasi Akuntansi telah terbukti
memberikan pengaruh yang positif terhadap
Kualitas Informasi yang dihasilkan pada KPP di
Kanwil Jawa barat 1 untuk itu peneliti mencoba
memberikan saran yang mungkin dapat dijadikan
masukkan kepada KPP di Kanwil Jawa barat 1
antara lain sebagai berikut:
1. Bahwa gap yang terjadi antara nilai ideal dan
hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan
bahwa sistem informasi akuntansi perlu
ditingkatkan kualitasnya melalui peningkatan
pada kemampuan pengguna terutama yang
berkaitan
dengan
pengalaman
yang
kategorinya cukup baik, artinya masih jauh
dari nilai ideal. Untuk itu perlu dibuat suatu
kebijakan misalnya dengan mengadakan
pelatihan Sistem Informasi DJP yang
berkelanjutan kepada seluruh pegawai di
Kantor Palayanan Pajak.
2. Gap yang terjadi antara nilai ideal dan hasil
penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa
informasi perlu ditingkatkan kualitasnya
melalui perbaikan pada sistem informasi
akuntansi, terutama yang berkaitan dengan
aplikasi software dan teknologi jaringan
komunikasi.
Sebaiknya
diadakan
pembaharuan sistem informasi akuntansi,
misalnya memperbaiki sistem atau jaringan
komunikasi dengan menggarti server lama
dengan server baru yang kapasitasnya lebih
besar.
3. Pada dasarnya kualitas informasi yang
dihasilkan oleh sistem informasi akuntansi
yang ada pada Kantor Pelayanan Pajak di
Kanwil Jabar I terutama dalam hal Modul
Penerimaan Negara bisa dibilang sudah baik
atau berkualitas. Namun informasi yang
dihasilkan terkadang masih kurang tepat
waktu. Jadi sebaiknya Kantor Pelayanan Pajak
mulai memperbaiki sistem atau jaringan
komunikasinya agar informasi dapat diakses
dengan cepat dan tidak menghambat proses
pengambilan.

Daftar Pustaka
Acep Komara. 2005. Analisis Faktor-faktor yang
mempengaruhi Kinerja Sistem Informasi

Akuntansi. Seminar Nasional Akuntansi


VIII-Solo, 15-16 September 2005.
Amoroso, D.L; And Chenney, P.H. (1991). Testing
A Causal Model of End-User Application
Effectiveness. Journal Of Management
Information System. 8 (1).Pp. 63-89
Azhar, Susanto. 2009. Sistem Informasi Manajemen
(Pendekatan Terstruktur Resiko Pengembangan). Bandung: Lingga Jaya.
Azhar Susanto. 2004. Sistem Informasi Akuntansi.
Bandung: Lingga Jaya
Azhar, Susanto. 2010. Teknologi Informasi untuk
Bisnis & Akuntansi Bandung: Lingga Jaya.
Bodnar, George H dan William S. Hoopwood (amir
Abadi Jusuf dan Rudi M. Tambunan,
Penerjemah). 2006. Sistem Informasi
Akuntansi. Jakarta:Salemba Empat.
Boediono. 2011. dalam Rapat Kerja Nasional
Akuntansi dan Pelaporan Keuangan
Pemerintah
di
kantor
Kementerian
Keuangan. Diakses pada 19 September,
2011.
Darmin, Nasution. (2007). Artikel Pajak. Diakses
Rabu 11 April 2007 dari World Wide Web :
http://www.pajakonline.com
Hall, James A. 2007. Accounting Information
System. Jakarta: Salemba 4
Ivana Mamic Sacer, Katarina Zager, Boris Tusek.
2006. Accounting Information Systems
Quality as The Ground for Quality Business
Reporting. IADIS International Conference
e-Commerce 2006
Jogiyanto. 2005. Sistem Teknologi Informasi (Edisi
2). Yogyakarta: Andi
John Burch dan Gary Grudnitski. 1986. Information
Systems Theory and Practice, John Wiley
and Sons, New York.
Kieso, D. E., Weygandt, J. J., & Warfield, T. D.
2010. Intermediate Accounting: IFRS
Edition Volume 1. USA: John Wiley &
Sons.
Lilis Puspitawati, Sri Dewi Anggadini, 2011.
Sistem Informasi Akuntansi. Yogyakarta:
Graha Ilmu
Luki Alfirman dan Anwar Suprijadi. 2010, 20%
Pegawai Pajak Masih Gaptek. Diakses 29
Juni 2010 dari World Wide Web:
http://finance.detik.com
Mangkunegara. 2000. Manajemen Sumber Daya
Manusia
Perusahaan.
Bandung:PT.
Remaja Rosdakarya
Mardi. 2011. Sistem Informasi Akuntansi. Ghalia
Indonesia,
Mc. Leod, R., & Schell, G. P. 2007. Management
Information Systems (10th ed). New Jersey:
Pearson Education.
OBrien, JA and George Marakas. 2009.
Management Information Sistem. Ninth
Edition.McGraw-Hill.Inc. Boston.

52

Raid Mohd Al-adaileh. 2009. An Evaluation of


Information Systems Success: A User
Perspective - the Case of Jordan Telecom
Group . European Journal of Scientific
Research ISSN 1450-216X Vol.37 No.2
(2009), pp.226-239 Euro Journals
Publishing,
Inc.
2009
http://www.eurojournals.com/ejsr.htm
Robbins, P. Stephen & Judge, A. Timothy. 2008.
Organizational Behavior. Jakarta: Salemba
4
Romney, Marshal B & Paul John Steinbart. 2006.
Sistem Informasi Akuntansi. Jakarta:
Salemba Empat
Suwardjono. 2001. Teori akuntansi, Perekayasaan
Pelaporan Keuangan. Yogyakarta: BPFE .

Taufiqurachman, Ruki. (2011). Sistem Pajak Masih


Lemah. Diakses pada 20
September
2011
dari
World
Wide
Web:
http://www.bisniskeuangan.kompas.com
Umi, Narimawati., Sri, Dewi. Anggadini., Linna,
Ismawati. (2010). Penulisan Karya Ilmiah.
Bekasi: Genesis.
Wongsim, M., & Gao, J. 2011. Exploring
Information
Quality
in
Accounting
Information System Adoption. IBIMA
Publishing, 2011(2011), 1-12.
Wilkinson, Joseph W. Cerullo, Michael J. Raval,
Vasant. Wong-on-wing,
Bernard. 2000.
Accounting
Information
Systems:
Essential Concepts and
Applications, 4th
edition. John Wiley and Sons. The U.S.A.

Sunarti Setianingsih.(1998). Faktor-Faktor yang


Mempengaruhi Kinerja Sistem Informasi
Akuntansi. Diakses pada 19 maret 2011 dari
World
Wide
Web:
http://eprints.upnjatim.ac.id/745
Siti Kurnia Rahayu. 2010. Perpajakan Indonesia
Yogyakarta :Graha Ilmu
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Curiculum Vitae
Lilis Puspitawati, SE.M.Si.,Ak.,CA adalah dosen
tetap Program Studi Akuntansi Unikom Bandung,
lahir di Subang tanggal 11 Maret 1975, dapat
menghubungi melalui tel. 022-7306031, Hp.:
081322844701, e-mail: Ipu nevi@yahoo.com

53

Lampiran
Hasil analisis statistik dengan software spss
Tabel 1. Hasil Koefisien Jalur X terhadap Y Coefficientsa
Unstandardized
Coefficients
Model

1 (Constant)

15.463

2.720

5.684 .000

1.015

.113

.825 8.999 .000

Std. Error

Standardized
Coefficients
Beta

Sig.

a. Dependent Variable: Y
Tabel 2. Hasil Koefisien Determinasi (pengaruh) X terhadap Y Model Summary

Model
1

R
.825

R Square

Adjusted R
Square

Std. Error of the Estimate

.681

.672

2,49448

a. Predictors: (Constant), X

Gambar 4.2. Grafik Penolakan dan Penerimaan Ho Pada Uji t Kemampuan Pengguna Terhadap Sistem
Informasi Akuntansi
Tabel 3. Hasil Koefisien Jalur Y terhadap Z Coefficientsa
Unstandardized
Coefficients
Model
1 (Constant)
Y

Std. Error

Standardized
Coefficients
Beta

Sig.

-9.524

3.571

-2.667 .011

.949

.089

.865 10.609 .000

a. Dependent Variable: Z

54

1.

Menghitung Koefisien Determinasi


.
Tabel 5. Hasil Koefisien Determinasi (pengaruh) Y terhadap Z Model Summary
Model

.865

R Square
a

Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

.748

.741

2,43418

a. Predictors: (Constant), Y

Gambar 4.4 Grafik Penolakan dan Penerimaan Ho Pada Uji t Sistem Informasi Akuntansi Terhadap
Tabel 4.32 Hasil Koefisien Jalur X, Y terhadap Z Coefficientsa
Unstandardized
Coefficients

Model

B
1

(Constant)

Standardized
Coefficients

Std. Error

-5.645

2.416

.274

.119

1.006

.130

a. Dependent Variable: Z

Sig.

Beta
-2.336

.025

. 842

2.298

.027

.856

7.730

.000

56

Jurnal Ekono Insentif Kopwil4, Volume 7 No. 2, Oktober 2013


ISSN: 1907 - 0640, halaman 56 s.d. 63

URGENSI ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR PEGAWAI


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK RI DALAM RANGKA
OPTIMALISASI PENERIMAAN PAJAK
Oleh:
Arifin Sukmana
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pelita Bangsa, Bekasi

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi organizational
citizenship behavior (OCB) pegawai Direktorat Jenderal Pajak RI dalam rangka optimalisasi penerimaan pajak.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif melalui studi kepustakaan dan dianalisis
secara kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa OCB pegawai dipengaruhi oleh kepuasan kerja, keadilan
organisasi, komitmen organisasi dan pengembangan karir. Dengan demikian, untuk meningkatkan OCB
pegawai, kepuasan kerja, keadilan organisasi, komitmen organisasi dan pengembangan karir pegawai perlu
diperbaiki.
Kata Kunci: organizational citizenhip behavior, kepuasan kerja, keadilan organisasi, komitmen organisasi,
pengembangan karir.

Abstract The objective of this research is to identifications the factors of employees organizational
citizenship behavior on Directorate General of Tax of Republic of Indonesia toward optimality of tax income.
This research used qualitative approach with descriptive method trough literature study and analyzed with
critical analysis. The results of the research are job satisfaction, organization justice, organizational
commitment and career development influence of employees organizational citizenship behavior. Therefore to
improve employees organizational citizenship behavior, the job satisfaction, organization justice,
organizational commitment and career development should be improved.

Key words: organizational citizenship behavior, job satisfaction, organization justice, organizational
commitment, career development.

1. Pendahuluan
Kehadiran organisasi bagi kehidupan
manusia sangat vital terutama terkait dengan kodrat
manusia sebagai mahluk sosial yang memerlukan
interaksi sosial dengan orang lain. Dalam tataran
ini, organisasi bukan hanya dapat dijadikan wahana
untuk memenuhi keperluan interaksi sosial tersebut,
melainkan lebih dari itu dapat dimanfaatkan untuk
mencapai tujuan yan ditetapkan bersama. Praksis
ini antara lain tampak dalam pandangan Shafritz,
Rissell & Borick (2007: 227) yang menyatakan
bahwa organisasi merupakan kumpulan orang yang
bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan
bersama. Dengan kondisi demikian, maka
muncullah beraneka ragam organiasi, baik
organisasi profit maupun organisasi nonprofit.
Salah satu organisasi nonprofit yang sangat besar
dan memiliki dampak besar terhadap kehidupan
masyarakat adalah organisasi pemerintah, karena
peran dan fungsi dalam menentukan organisasiorganisasi lain. Posisi strategis organisasi
pemerintah itu terkait dengan kedudukan dan fungsi
pemerintah sebagai penyelenggara negara yang

bertanggung
jawab
atas
keberlangsungan
pembangunan nasional dalam berbagai bidang,
seperti sosial, budaya,
politik, ekonomi,
pendidikan, kesehatan, keamanan dan pertahanan
negara, yang kesemuanya itu memiliki relasi secara
langsung atau tidak langsung dengan organisasiorganisasi yang lain.
Pembangunan nasional tersebut tidak akan
dapat berjalan tanpa adanya dukungan dana atau
anggaran anggaran yang memadai. Oleh karena itu,
dalam rangka memenuhi kebutuhan anggaran
tersebut, penerimaan negara dari berbagai sektor
terus dioptimalkan, salah satu di antaranya adalah
dari sektor pajak. Dalam hal ini, pajak berfungsi
sebagai sumber penerimaan negara (budgeter) yang
menghimpun dana untuk membiayai kegiatankegiatan negara terutama yang bersifat rutin.
Menurut Zain (2008: 12), fungsi budgeter terkait
dengan fungsi mengisi kas negara/anggaran negara
yang diperlukan untuk menutup
pembiayaan
penyelenggaraan pemerintahan. Selain itu, pajak
juga berfungsi mengatur dan mengawasi kegiatan
ekonomi masyarakat (regulerend), mendorong
redistribusi pendapatan serta menjaga stabilitas
perekonomian guna menuju pertumbuhan ekonomi

57

yang lebih cepat. Oleh karena itu, sebagai fungsi


anggaran, pajak
menjadi sumber pendapatan
/penerimaan negara dan membiayai pengeluaranpengeluaran negara.
Dengan kondisi pendapatan dari sektor pajak
sebagai tulang punggung penerimaan negara, maka
Direktorat Jenderal Pajak (DJP sebagai institusi
pemerintah yang memiliki tugas mengumpulkan
pajak dari masyarakat senantiasa dituntut bekerja
keras agar dapat merealisasikan target-target yang
telah ditetapkan. Dalam rangka merespon itu, DJP
berusaha
memperbaiki
kinerjanya
melalui
memodernisasi pajak dengan memperbaiki sistem
perpajakan, antara lain melakukan empat langkah
pembaruan yang bersifat administratif, yaitu:
pembentukan kantor wilayah dan Kantor Pelayanan
Pajak (KPP) wajib pajak besar; pengembangan
sistem pembayaran on-line dan pelaporan pajak
menggunakan media komputer; pembaruan
manajemen pemeriksaan pajak; dan pembaruan
manajemen penagihan tunggakan pajak.
Namun demikian hingga kini kinerja DJP
belum menunjukkan hasil yang optimal.
Indikasinya antara lain tampak dalam beberapa hal.
Pertama, target penerimaan pajak yang ditetapkan
oleh pemerintah tidak terrealisasi sepenuhnya,
setidaknya untuk sektor pajak tertentu. Kedua,
pertumbuhan penerimaan pajak masih relatif
terbatas dibandingkan potensi pajak yang sangat
besar. Ketiga, adanya penyimpangan atau
pengelapan pajak yang dilakukan oleh wajib pajak
dengan bekerja sama dengan oknum-oknum
pegawai DJP. Hinga sekarang terdapat 4.000
perusahaaan asing yang terindikasi melakukan
penggelapan pajak tidak tergarap (Kompas, 25/11
2013).
Fenomena
ini
menunjukkan
kurang
maksimalnya upaya pegawai DJP dalam
menggalang penerimaan pajak. Kondisi ini jika
berlanjut terus menerus dapat mengganggu APBN
yang kemudian dapat
berimplikasi pada
ketidaklancaran pelaksanaan pembangunan.
Apabila dicermati, kinerja DJP yang belum
optimal tersebut dapat disebabkan oleh kinerja
pegawai (aparatur pajak) yang belum maksimal.
Sebagaimana dinyatakan oleh Gibson, Ivancevich
& Donnelly (1997: 13), kinerja individu merupakan
dasar kinerja organisasi; sehingga apabila kinerja
individu rendah, maka kinerja organisasi juga akan
rendah. Kondisi seperti inilah yang tampaknya
terjadi pada DJP, sehingga para pegawainya tidak
mampu merealisasikan target-target penerimaan
yang telah ditetapkan. Hal tersebut, apabila dilihat
dalam konteks organisasi, salah satunya disebabkan
oleh faktor perilaku para pegawai yang tidak
mendukung organisasi. Perilaku yang tidak
mendukung tersebut antagonis dengan perilaku
ekstra peran yang seharusnya justru ditunjukkan
para pegawai pajak. Perilaku ekstra peran ini lazim
disebut sebagai organizational citizenship behavior

(OCB). Sebagaimana dikemukakan Alotaibi (2001:


1) bahwa OCB adalah extra-role behavior. OCB
merupakan kesediaan pegawai untuk bertindak di
luar peran yang dimilikinya demi kemajuan
organisasinya. Menurut Katz dan Kahn (dalam
Myfield & Taber, 2010: 742), OCB merupakan
komponen vital untuk keberlangsungan hidup dan
efektivitas organisasi, karena perilaku yang
ditunjukkan antara lain berusaha melindungi
organisasi, melakukan perbaikan, melatih diri
sendiri sebagai tanggung jawab tambahan terhadap
organisasi, dan
menciptakan iklim yang
mendukung organisasi. Perilaku-perilaku pegawai
seperti itu jelas sangat dibutuhkan agar organisasi
dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
Keberadaan OCB dalam organisasi bersifat
dinamis dan fluktuatif. Dalam waktu tertentu
kondisinya dapat meningkat dan pada waktu yang
lain kondisinya dapat menurun. Hal itu dapat terjadi
karena OCB kondisinya tergantung pada faktorfaktor lain yang memengaruhinya.
Berdasarkan uraian di atas, maka yang
menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini
adalah: Faktor-faktor apakah yang memengaruhi
OCB pegawai DJP?

2. Kajian Teori
Organizational Citizenship Behavior (OCB)
Organ (dalam Foote & Tang, 2008: 934)
mengartikan OCB sebagai perilaku yang
berdasarkan kesukarelaan yang tidak dapat
dipaksakan pada batas-batas pekerjaan dan tidak
secara resmi menerima penghargaan tetapi mampu
memberikan kontribusi bagi perkembangan
produktivitas dan keefektifan organisasi.
Bolino dan Turnely (dalam Schultz &
Schultz, 2006: 249) memberikan batasan tentang
OCB sebagai melakukan usaha terus menerus dan
bekerja lebih dari standar minimum yang
dipersyaratkan. Perilaku OCB antara lain
ditunjukkan dalam bentuk mengambil tugas
tambahan, secara sukarela membantu pekerjaan
orang lain, mengembangkan profesi, mematuhi
aturan organisasi bahkan ketika tidak ada
seorangpun yang melihat, memajukan dan
melindungi organisasi, dan menjaga sikap positif
dan memiliki toleransi atas ketidaknyamanan di
tempat kerja. Aamodt (2007: 366) juga
mengemukakan bahwa orang yang terikat dalam
OCB termotivasi untuk membantu organisasi dan
rekan kerjanya dengan melakukan hal-hal kecil
yang sebenarnya tidak diminta untuk mengerjakan.
Contoh perilakunya seperti membantu rekan kerja
dan membimbing karyawan baru.
Menurut Organ (dalam Tschannen-Moran,
2003: 1), OCB diimplementasikan dalam bentuk:
altruism,
conscientiousness,
sportsmanship,
courtesy, dan civic virtue. Altruism merupakan sifat
mementingkan kepentingan orang lain, seperti

58

memberikan pertolongan pada kawan sekerja yang


baru, dan menyediakan waktu untuk orang lain
adalah ditunjukkan secara langsung pada individuindividu lainnya, akan tetapi kontribusi terhadap
efisiensi didasarkan pada peningkatan kinerja
secara individual. Conscientiousness adalah sifat
kehati-hatian, seperti efisiensi menggunakan waktu,
tingkat kehadiran tinggi adalah kontribusi terhadap
efisiensi baik berdasarkan individu maupun
kelompok. Sportsmanship adalah sifat sportif dan
positif, seperti menghindari komplain dan keluhan
yang picik adalah dengan memaksimalkan total
jumlah waktu yang dipergunakan pada usaha-usaha
yang konstruktif dalam organisasi. Courtesy
merupakan sifat sopan dan taat, seperti melalui
surat peringatan, atau pemberitahuan sebelumnya,
dan meneruskan informasi dengan tepat adalah
dengan membantu mencegah timbulnya masalah
dan memaksimalkan penggunaan waktu. Civic
virtue ialah sifat bijaksana atau keanggotaan yang
baik, seperti melayani komite atau panitia,
melakukan
fungsi-fungsi
sekalipun
tidak
diwajibkan untuk membantu memberikan kesan
baik bagi organisasi, dan memberikan pelayanan
yang diperlukan bagi kepentingan organisasi.
Dalam realitasnya, OCB mempunyjai
banyak manfaat. Hasil penelitian yang dilakukan
Podsakoff dan MacKenzie (dalam Elfina, 2003: 56) menunjukkan bahwa OCB dapat meningkatkan
produktivitas rekan kerja, produktivitas pimpinan,
menghemat sumber daya yang dimiliki manajemen
dan organisasi secara keseluruhan, membantu
menghemat energi sumber daya yang langka untuk
memelihara fungsi kelompok, dapat menjadi sarana
efektif untuk mengkoordinasi kegiatan kelompok
kerja, meningkatkan kemampuan organisasi untuk
menarik dan mempertahankan karyawan terbaik,
meningkatkan stabilitas kinerja organisasi, dan
meningkatkan kemampuan organisasi untuk
beradaptasi dengan perubahan lingkungan
Anteseden OCB
OCB tidak terjadi atau terbangun begitu
saja, melainkan dipengaruhi (diantesedeni) oleh
sejumlah faktor, antara lain:
1.

Kepuasan Kerja
Penelitian Foote dan Tang (2008:
933) menunjukkan bahwa terdapat hubungan
signifikan kepuasan kerja degan OCB.
Penelitian Gonzalez dan Garazo (2005: 112)
juga menunjukkan bahwa kepuasan kerja
memiliki hubungan signifikan dengan OCB.
Schultz dan Schultz (2006: 232) memberikan
definisi kepuasan kerja sebagai perasaan dan
sikap positif dan negatif tentang pekerjaan.
Sedangkan bagi Nelson dan Quick (2006: 87),
kepuasan kerja merupakan kondisi emosi
positif atau menyenangkan yang muncul dari
penilaian kerja atau pengalaman kerja. Spector

(1997: 2) menjelaskan bahwa kepuasan kerja


adalah bagaimana orang merasakan tentang
pekerjaannya dan berbagai aspek pekerjaannya.
Sedangkan Wanous, Reiches dan Hudy (dalam
Baron, Byrne & Branscombe, 2006: 540)
memberikan batasan kepuasan kerja sebagai
sikap mengenai pekerjaan atau kerja seseorang.
Sementara itu menurut Noe et. al. (2006: 436),
kepuasan kerja merupakan perasaan yang
muncul dari persepsi bahwa pekerjaan
seseorang akan memenuhi atau memungkinkan
dipenuhinya nilai-nilai kerja penting. Di pihak
lain Bhuian dan Menguc (dalam Boles, et al.,
2007: 311) menjelaskan bahwa kepuasan kerja
adalah sikap yang dimiliki individu terkait
dengan pekerjaannya.
Menurut Luthans (2008: 142), ada
tiga aspek yang pada umumnya diterima bagi
kepuasan kerja. Pertama, kepuasan kerja
merupakan reaksi emosi terhadap situasi kerja.
Kedua, kepuasan kerja sering ditentukan oleh
bagaimana hasil-hasil bisa memenuhi atau
melebihi harapan. Ketiga, kepuasan kerja
mewakili beberapa sikap terkait. Ketiga aspek
tersebut dapat dirinci dalam lima aspek
kepuasan kerja sebagai berikut: (1) Kerja itu
sendiri: sejauh mana pekerjaan memberi
individu tugas yang menarik, kesempatan
untuk belajar dan peluang menerima tanggung
jawab; (2) Upah: jumlah ganti rugi keuangan
yang diterima dan sampai di mana ini dianggap
sepadan dibandingkan upah orang lain dalam
organisasi; (3) Peluang promosi. Peluang bagi
kemajuan dalam organisasi; (4) Pengawasan.
Kemampuan pengawas memberikan bantuan
teknik dan dukungan perilaku; (5) Mitra kerja:
sejauh mana sesama pekerja secara teknik
memadai dan secara sosial saling membantu.
2.

Keadilan Organisasi
Penelitian Cohen-Charash dan Spector
(2001: 278) hasilnya menunjukkan bahwa
salah satu bentuk keadilan organisasi, yaitu
keadilan interaksional, memiliki hubungan
positif dengan OCB. Temuan tersebut juga
didukung oleh penelitian Yilmaz dan Tasdan
(2009: 108) bahwa keadilan organisasi terkait
dengan sikap dan perilaku penting, yang di
antaranya adalah perilaku ekstra peran (OCB).
Menurut Greenberg dan Baron (2008: 193),
keadilan organisasi adalah persepsi seseorang
atas keadilan di dalam organisasi, yang
meliputi persepsi atas bagaimana keputusan
dibuat terkait dengan distribusi hasil dan
persepsi keadilan atas keluaran itu sendiri.
Sedangkan Schultz dan Schultz (2006: 232)
mendefinisikan keadilan organisasi sebagai
seberapa adil karyawan merasakan dirinya
diperlakukan oleh perusahaan. Sementara itu
Muchinsky (2000: 275) secara sederhana

59

memberikan batasan keadilan organisasi


sebagai perlakuan adil seseorang di dalam
organisasi. Hal serupa dinyatakan oleh
Ivancevic, Konopaske & Matteson (2010: 153)
bahwa keadilan organisasi adalah sejauhmana
individu merasa diperlakukan secara adil di
tempat kerja. Bagi Gordon (1993: 135) juga
menyatakan bahwa keadilan organisasi adalah
perlakuan organisasi atau pimpinan terhadap
karyawan, baik dalam bentuk peraturan untuk
penetapan balas jasa (procedural justice)
maupun dalam realisasi pendistribusian balas
jasa menurut persepsi karyawan. Artinya,
organizational justice direfleksikan oleh sikap
pimpinan menurut persepsi bawahannya untuk
berlaku adil dan objektif dalam membuat
keputusan terutama menyangkut seleksi dan
promosi karyawan, dalam memberikan
penugasan dan pembagian tugas, dalam
melakukan penilaian kinerja, dan dalam
menetapkan kenaikan gaji, jabatan, dan imbal
jasa. Sementara itu Cropanzano, Bowen &
Gilliland (2007: 22) menjelaskan bahwa
keadilan organisasi merupakan perekat yang
mendorong seseorang untuk bekerjasama
secara efektif, sebaliknya ketidakadilan dalam
organisasi seperti karat yang dapat merapuhkan
komunitas dan menyakitkan individu dan
membahayakan organisasi.
Keadilan organisasi oleh Wat &
Shaffer (2005: 406) dikonseptualkan dalam
istilah
keadilan
yang
dirasakan
dan
dioperasionalkan dalam tiga konstruk dimensi,
yaitu keadilan distributif (distributif justice),
kadilan prosedural (procedural justice) dan
keadilan interaksional (interactional justice).
Aamodt (2007: 344) juga menyebutkan hal
yang sama bahwa keadilan organisasi memiliki
tiga bentuk. Pertama, keadilan distributif
(distributive justice), yaitu perceived fairness
of the actual decision made in a organization.
Maknanya bahwa keadilan distributif adalah
keadilan yang dirasakan atas keputusan aktual
yang dibuat organisasi. Kedua, keadilan
prosedural
(procedural
justice),
yaitu
perceived fairness of the method used to
arrive at the decision. Artinya bahwa
keadilan prosedural adalah keadilan yang
dirasakan atas metode yang digunakan untuk
sampai pada keputusan. Ketiga, keadilan
interaksional (interactional justice), yakni
perceived fairness of the interpersonal
treatment receive. Artinya bahwa keadilan
interaksional adalah keadilan yang dirasakan
atas perlakukan interpersonal yang diterima.
3.

Komitmen Organisasi
Penelitian Jahangir, Akbar dan
Begum (2006: 21) membuktikan bahwa
komitmen organisasi
secara signifikan

memengaruhi OCB. Hasil penelitian Feather


dan Rauter (2004: 81) juga menunjukkan
bahwa
komitmen
organisasi
memiliki
hubungan dengan OCB. Newstrom (2007: 207)
menyatakan bahwa komitmen organisasi
adalah suatu tingkat atau derajat identifikasi
diri pegawai dengan organisasi dan keinginankeinginannya untuk meneruskan partisipasi
aktifnya dalam organisasi. Bagi Mowdey,
Porter dan Steers (dalam Slocum & Don
Hellriegel, 2007: 328), komitmen organisasi
adalah
kekuatan
pegawai
dalam
mengidentifikasikan keterlibatan dirinya ke
dalam bagian organisasi. Sedangkan Luthans
(2008: 147) menyatakan bahwa komitmen
organisasi adalah suatu hasrat yang kuat untuk
tetap menjadi anggota organisasi; suatu
keinginan untuk menunjukkan usaha tingkat
tinggi atas nama organisasi; dan keyakinan
yang kuat dalam menerima nilai-nilai dan
tujuan-tujuan organisasi. Di samping itu, Hunt
et al (dalam Tsai dan Huang, 2008: 567)
memaknai komitmen organisasi sebagai
ketertarikan dan hubungan pegawai terhadap
organisasi. Kemudian Mathieu dan Zajac
(dalam Silverthorne, 2004: 594) menyatakan
bahwa komitmen organisasi adalah sebuah
sikap kerja yang secara langsung berhubungan
dengan partisipasi karyawan dan keinginan
untuk bertahan di dalam organisasi dan secara
jelas berhubungan dengan kinerja. Blau dan
Boal (dalam Robbins dan Judge, 2007: 74)
juga mengemukakan bahwa komitmen
organisasi adalah suatu keadaan dimana
karyawan mengidentifikasi dengan organisasi
tertentu
dan
tujuan-tujuannya
serta
berkeinginan
untuk
mempertahankan
keanggotaannya dalam organisasi. Sementara
itu, Meyer dan Allen (dalam Colquitt, LePine
dan Wesson, 2011: 69) mendefinisikan
komitmen organisasi sebagai kehendak
karyawan untuk mempertahankan keanggotaan
dalam organisasi.
Meyer dan Allen (dalam Luthans,
2008: 148) mengidentifikasi tiga
aspek
komitmen organisasi. Pertama,
komitmen
afektif, yaitu berasal dari kelekatan emosional
pegawai terhadap organisasi. Kedua, komitmen
normatif, yakni berkaitan dengan perasaan
pegawai terhadap keharusan untuk tetap
bertahan dalam organisasi. Ketiga, komitmen
rasional, yaitu berkaitan dengan komitmen
yang didasarkan pada persepsi pegawai atas
kerugian yang akan diperolehnya jika ia tidak
melanjutkan perkerjaannya dalam organisasi.
4.

Pengembangan Karir
Penelitian yang yang dilakukan oleh
Singh dan Singh (2010: 268) dengan
mengambil subjek penelitian para manajer di

60

India hasilnya menunjukkan bahwa tahapan


karir seseorang berpengaruh signifikan
terhadap OCB. Hasil penelitiannya juga
menunjukkan bahwa semakin lama seseorang
menjabat sebagai eksekutif atau manajer maka
semakin tinggi tingkat OCB yang dimiliki.
Kemudian penelitian yang dilakukan oleh
Sutton (2005: 49) menunjukkan bahwa karir
seseorang memiliki pengaruh signifikan
terhadap OCB. Menurut Byars dan Rue (2008:
197), pengembangan karir adalah upaya formal
yang dilakukan secara terus menerus oleh
organisasi yang fokus pada pengembangan dan
pengayaan sumber daya manusia organisasi
guna memenuhi kebutuhan pekerja dan
organisasi. Sedangkan bagi Dessler (2009:
326), pengembangan karir adalah rangkaian
aktivitas yang dilakukan oleh seseorang
sepanjang hidupnya yang memberikan
kontribusi terhadap eksplorasi, pemantapan,
kesuksesan, dan terpenuhinya karir seseorang.
Sementara
itu
Mondy
(2010:
228)
mendefinisikan pengembangan karir sebagai
upaya-upaya sistematis dan formal yang
dilaksanakan
oleh
organisasi
untuk
memastikan bahwa orang-orang
dengan
kualifikasi dan pengalaman kerja yang sesuai
dan tersedia di dalam organisasi.
Studi yang dilakukan Werther dan
Davis (1996: 90) terhadap sekelompok
pegawai mengungkapkan lima faktor yang
terkait dengan pengembangan karir, yaitu: (1)
Keadilan dalam karir, para pegawai
menghendaki keadilan dalam sistem promosi
dengan kesempatan sama untuk peningkatan
karir; (2) Perhatian terhadap penyeliaan, para
pegawai menginginkan para penyelia mereka
memainkan perannya secara aktif dalam
pengembangan karir dan menyediakan umpan
balik dengan teratur tentang kinerja; (3)
Kesadaran tentang kesempatan berkarir, para
pegawai menghendaki pengetahuan tentang
kesempatan untuk peningkatan karir; (4)
Pemenuhan terhadap minat, para pegawai
memiliki derajat minat yang berbeda dalam
peningkatan karir yang tergantung pada
beragam faktor, oleh karena itu mereka
membutuhkan sejumlah informasi yang dapat
mendorong minat mereka; dan (5) Kepuasan
dalam berkarir, para pegawai tergantung pada
usia dan kedudukan mereka, memiliki
kepuasan berbeda. Program karir yang efektif
harus mempertimbangkan perbedaan persepsi
keinginan para pegawai. harapan pegawai
terhadap program karir yang dikembangkan
oleh departemen SDM yang disesuaikan
dengan ragam faktor usia, jenis kelamin,
kedudukan, pendidikan, dan faktor-faktor
lainnya.

3. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif dengan metode deskriptif melalui studi
kepustakaan. Data diambil dari literatur yang
relevan, baik dari internet maupun perpustakaan.
Dengan kondisi demikian, maka analisis data dalam
penelitian ini dilakukan secara analisis kritis.

4. Hasil Penelitian Dan Pembahasan


4.1 Pengaruh Kepuasan Kerja terhadap OCB
Hasil penelitian Foote dan Tang (2008:
933) serta Gonzalez dan Garazo (2005: 112)
menunjukkan hubungan signifikan kepuasan kerja
degan OCB. Ini berarti bahwa kepuasan kerja yang
tinggi akan diikuti oleh OCB yang tinggi. Dalam
organisasi, kepuasan kerja senantiasa dibutuhkan
oleh setiap pegawai. Kepuasan kerja merujuk pada
kondisi perasaan menyenangkan yang dirasakan
individu yang muncul sebagai akibat dari penilaian
kerja atau pengalaman kerja yang dialaminya di
tempat kerja, khususnya terkait dengan aspek-aspek
kerja yang dapat memuaskan pegawai, seperti
pekerjaan itu sendiri, upah/gaji, promosi,
pengawasan dan mitra kerja (Luthans, 2008: 142).
Jika aspek-aspek kerja ini terpenuhi dengan baik,
maka pegawai akan merasa senang dan puas. Hal
ini pada gilirannya dapat mendorong pegawai untuk
melakukan tindakan di luar perannya yang nyatanyata memberikan kontribusi positif bagi organisasi
atau yang lazim disebut OCB. Dengan kata lain,
kepuasan kerja akan mendorong individu untuk
memiliki kesediaan yang tinggi untuk berkorban
bagi organisasinya dan melakukan kegiatankegiatan positif bagi organisasi meskipun yang
dilakukan di luar tugas pokok dan fungsinya, yang
menurut Organ (dalam Tschannen-Moran, 2003: 1),
dapat
berupa:
altruism,
conscientiousness,
sportsmanship, courtesy, dan civic virtue. Kondisi
ini menegaskan makna bahwa OCB pegawai akan
meningkat apabila kepuasan kerja diperbaiki. Ini
berarti pula bahwa apabila DJP menginginkan
pegawainnya ber-OCB tinggi, maka perlu
memperbaiki berbagai aspek pekerjaan yang
dipersepsi dan dirasakan dapat memuaskan
pegawai, seperti pekerjaan itu sendiri, upah/gaji,
promosi, pengawasan, dan mitra kerja.
4.2 Pengaruh Keadilan Organisasi terhadap
OCB
Hasil penelitian Cohen-Charash dan
Spector (2001: 278) serta Yilmaz dan Tasdan
(2009: 108) menunjukkan bahwa keadilan
organisasi memiliki hubungan positif dengan OCB.
Keadilan organisasi penting untuk meningkatkan
OCB karena pegawai yang menilai dirinya
diperlakukan secara adil oleh organisasi (pimpinan
atau pihak manajemen), maka akan merasa dirinya
dihargai dan diperhatikan hak-haknya. Keadilan

61

dimaksud, menurut Aamodt (2007: 344), meliputi:


keadilan distributive, yaitu keadilan yang dirasakan
atas keputusan aktual yang dibuat organisasi;
keadilan procedural, yakni keadilan yang dirasakan
atas metode yang digunakan untuk sampai pada
keputusan; dan keadilan interaksional, yaitu
keadilan yang dirasakan atas perlakukan
interpersonal yang diterima. Perasaan ini akan
memunculkan umpan balik berupa kewajiban moral
untuk ikut serta memajukan organisasi. Perasaan
demikian akan mendorong pegawai untuk
menunjukkan kontribusi lebih besar bagi
organisasinya. Pegawai yang merasa diperlakukan
secara adil cenderung memperkuat perilaku ekstra
perannya sebagai manifestasi OCB. Praksis ini
terkait dengan eksistensi keadilan organisasi yang
menjadi harapan setiap pegawai. Organisasi yang
mampu memberikan dan menjamin keadilan bagi
pegawainya, baik secara distributif, prosedural
maupun interaksional, akan dapat menciptakan rasa
nyaman dalam diri pegawai. Salah satu bentuk dari
keadilan organisasi adalah keadilan distributif, yang
merujuk pada pengalokasian hasil seperti gaji.
Apabila pegawai mempersepsikan bahwa gaji yang
diterimanya diberikan secara adil, maka dapat
memunculkan perasaan menyenangkan, yang pada
akhirnya menimbulkan kepuasan dalam bekerja.
Sebagai faktor yang menjadi harapan bagi setiap
pegawai, maka keadilan organisasi dapat
memengaruhi sikap dan perilaku karyawan, salah
satunya dalam bentuk perilaku ekstra peran atau
OCB, yang menurut Organ (dalam TschannenMoran, 2003: 1), dapat berupa: altruism,
conscientiousness, sportsma nship, courtesy, dan
civic virtue. Dengan demikian, apabila DJP
menginginkan pegawainnya ber-OCB tinggi, maka
DJP perlu memperhatikan, memelihara dan
mewujudkan aspek-aspek keadilan organisasi, baik
keadilan
distributif,
prosedural
maupun
interaksional.
4.3 Pengaruh Komitmen Organisasi terhadap
OCB
Hasil penelitian Jahangir, Akbar dan
Begum (2006: 21) serta Feather dan Rauter (2004:
81) menunjukkan bahwa komitmen organisasi
memiliki hubungan signifikan dengan OCB.
Pegawai yang memiliki komitmen kuat terhadap
organisasinya, baik secara afektif, normaif,
masupun rasional (Meyer & Allen, dalam Luthans,
2008: 148) pada umumnya akan berupaya
menunjukkan usaha-usaha lebih untuk keberhasilan
organisasinya sebagai manifestasi dari OCB.
Menurut Organ (dalam Tschannen-Moran, 2003:
1), OCB dapat berupa: altruism, conscientiousness,
sportsmanship, courtesy, dan civic virtue. Pegawai
yang demikian tidak hanya berpandangan sempit
untuk hanya memikirkan pekerjaannya sendiri,
tetapi juga mau memikirkan hal-hal lain di luar
bidang tugas/pekerjannya. Pegawai yang memiliki

komitmen tinggi juga memandang bahwa


permasalahan yang dihadapi organisasi adalah
masalahnya juga, sehingga yang bersangkutan
bersedia untuk ikut memikirkan masalah-masalah
tersebut. Ini berarti bahwa apabila DJP
menginginkan pegawainnya ber-OCB tinggi, maka
DJP perlu mendorong komitmen organisasi leih
tinggi lagi, baik komitmen afektif yang
merefleksikan kelekatan emosional pegawai
terhadap organisasi, komitmen normative yang
berkaitan dengan perasaan pegawai terhadap
keharusan untuk tetap bertahan dalam organisasi,
maupun komitmen rasional yang berkaitan persepsi
pegawai atas kerugian yang akan diperolehnya jika
tidak melanjutkan perkerjaannya dalam organisasi.
4.4 Pengaruh Pengembangan Karir terhadap
OCB
Hasil penelitian Singh dan Singh (2010:
268) serta Sutton (2005: 49) menunjukkan bahwa
karir seseorang memiliki pengaruh signifikan
terhadap OCB. OCB merupakan tindakan sukarela
dan di luar peran karyawan yang dapat memberikan
kontribusi positif bagi perkembangan dan
efektivitas organisasi. OCB menurut Organ (dalam
Tschannen-Moran,
2003:
1),
antara
lain
ditunjukkan dalam: altruism, conscientiousness,
sportsmanship, courtesy, dan civic virtue. Perilakuperilaku tersebut antara lain didorong oleh faktor
pengembangan karir yang berlangsung di dalam
sebuah organisasi. Pengembangan karir yang baik,
yang menurut Werther dan Davis (1996: 90),
ditandai: keadilan dalam karir, perhatian terhadap
penyeliaan, kesadaran tentang kesempatan berkarir,
pemenuhan terhadap minat, dan kepuasan dalam
berkarir, dapat memicu tumbuhnya OCB karena
dengan adanya sistem pengembangan karir yang
baik dapat memberikan motivasi dan semangat
yang besar dalam bekerja. Selain itu, dengan
adanya pengembangan karir yang baik, maka akan
timbul perasaan positif bagi pegawai terhadap
organisasinya. Perasaan positif tersebut akan
mendorong sikap dan perilaku positif, seperti aktif
melaukkan aktivitas tambahan di luar perennya
sebagai pegawai yang merupakan cerminan dari
OCB. Ini berarti bahwa apabila DJP menghendaki
pegawainnya ber-OCB tinggi, maka DJP perlu
lebih memperhatikan pengembangan karir pegawai.
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan
adalah: keadilan dalam karir, perhatian terhadap
penyeliaan, kesadaran tentang kesempatan berkarir,
pemenuhan terhadap minat pegawai, dan kepuasan
dalam berkarir.

5. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat
disimpulkan
bahwa
faktor-faktor
yang
memengaruhi OCB pegawai adalah kepuasan kerja,
keadilan organisasi, komitmen organisasi dan

62

pengembangan karir. Oleh karena itu, untuk


meningkatkan OCB pegawai DJP supaya dapat
diandalkan untuk mengoptimalkan penerimaan
pajak, keempat faktor tersebut perlu diperbaiki dan
ditingkatkan. Dalam hal kepuasan kerja, aspakaspek pekerjaan yang perlu diperhatikan adalah
pekerjaan itu sendiri, upah/gaji, promosi,
pengawasan dan mitra kerja. Berkaitan dengan
keadilan organisasi, yang mendesak untuk
dipelihara dan diperjuangkan adalah realisasi
keadilan distributif, prosedural dan interaksional.
Berkenaan dengan komitmen organisasi, yang
layak memperoleh perhatian adalah komitmen
afektif, normatif dan rasional. Sedangkan mengenai
pengembangan karir yang perlu mendapat atensi
adalah realisasi keadilan dalam karir, perhatian
terhadap penyeliaan, kesadaran tentang kesempatan
berkarir, pemenuhan terhadap minat pegawai, dan
kepuasan dalam berkarir.

6. Daftar Pustaka
Aamodt, M. G. 2007. Industrial/organizational
psychology: an applied approach.
Belmont, CA: Thomson Learning, Inc.
Alotaibi, A. G. 2001. Antecendents of OCB: A
study of public personnel in Kuwait.
Public Personnel Management. Vol. 30,
No. 3.
Baron, R.A., Byrne, D., and Branscombe, N.R.
2006. Social psychology. Boston:
Pearson.
Boles, J., Madupalli, R., Rutherford, B., and Wood,
J.A. 2007. The relationship of facets of
salesperson job satisfaction with
affective organizational commitment.
Journal of Business & Industrial
Marketing, 22/5.
Byars, L.L & Leslie W. Rue. 2008. Human
resource management, New York:
McGraw-Hill Company.
Cohen, C.Y. and Spector, P. E. 2001. The role of
justice in organizations: a meta-analysis.
Organizational Behavior and Human
Decision Processes, Vol. 86, 278-321.
Colquitt, J.A., J.A. LePine, & M.J. Wesson. 2011.
Organizational
behavior:
improving
performance and commitment in the
workplace, Second Edition, New York:
McGraw-Hill.
Cropanzano, R., Bowen, D.E., & Gilliland, S.W.
2007. The management of Organizational
Justice. Academy of Management
Perspectives. November: 34-48.
Dessler, G. 2009. Fundamental of human resource
management: content, competencies, and
applications, New Jersey: Pearson
Education, Inc.
Elfina, P. Debors. 2003. Pengaruh kepribadian dan
komitmen organisasi terhadap perilaku

citizenship
karyawan,
tidak
dipublikasikan.
Feather, N. T. and Rauter, K. A. 2004.
Organizational citizenship behaviours in
relation to job status, job insecurity,
organizational
commitment
dan
identification, job satisfaction and work
values. Journal of Occupational and
Organizational
Psychology.
77,
ABI/INFORM Global.
Foote, D. A. and Tang, T. L. 2008. Job
satisfaction and organizational citizenship
behavior (OCB) Does team commitment
make a difference in self-directed teams?
Management Decision, Vol. 46 No. 6,
933-947.
Gibson, J. L., J. M. Ivancevich & J. H. Donelly, Jr.
1997. Organisasi: Perilaku, Struktur,
Proses, Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Gordon, J. R. 1993. A Diagnostic approach to
organizational behavior, Forth Edition
(New York: Allyn & Bacon.
Greenberg, J., and Baron, R. A. 2008. Behavior in
organization. 7th Edition. Upper Saddle
River. New Jersey: Prentice Hall, Inc.
Ivancevic, J. M., Konopaske, R. & Matteson,
M.T. 2010. Organizational behavior and
management. New York: McGraw-Hill
Company.
Jahangir, N., Akbar, M., and Begum, N. 2006.
The role of social power, procedural
justice, organizational commitment, and
job satisfaction to engender organizational
citizenship behavior. ABAC Journal. Vol.
26, No. 3 September, 21- 36.
Luthans, F. 2008. Orgnazational behavior. Boston:
McGraw-Hill.
Myfield, Clifton O. and Taber, T. D. 2010. A
prosocial self-concept approach to
understanding organizational citizenship
behavior. Journal of Managerial
Psychology, Vol. 25 No. 7, 741-763.
Mondy, R. W. 2010. Human resource management,
Nerw Jersey: Pearson Education.
Muchinsky, P. M. 2000. Psychology applied to
work. Belmont CA: Wadsworth Thomson
Learning.
Nelson, D. L. and Quick, J. C. 2006.
Organizational behavior: foundations,
realities & challenges. Ohio: SouthWestern.
Newstrom, J. W. 2007. Organization behavior:
human behavior at work. Boston: McGraw
Hill.
Noe, R. A., et. al. 2006. Human resource
management. Boston: McGraw-Hill
Irwin.

63

Penggelapan Pajak Tak Tergarap: Sekitar 4,000


Perusahaan Asing Terindikasi Terlibat,
Kompas, 25 November 2013.
Robbins, Stephen P. and Timothy A. Judge. 2007.
Organizational behavior. New Jersey:
Prentice Hall.
Schultz, D. and Schultz, S. E. 2006. Psychology &
work today. New Jersey: Pearson
Education Inc.
Shafritz, J. M., E.W. Rissell & C. P. Borick. 2007.
Introducing public administration, New
York: Pearson Edu.
Silverthorne, Colin. 2004. The impact of
organizational culture and personorganization
fit
on
organizational
commitment and job satisfaction in
Taiwan. Leadership & Organization
Development
Journal25.
7/8;
ABI/INFORM Global.
Singh, A. K., & A. P. Singh. 2010. Career stage
and organizational citizenship behaviour
among indian managers, Journal of the
Indian Academy of Applied Psychology,
Vol.36, No.2, 268-275.
Slocum, J. W. and Hellriegel, D. 2007.
Fundamental of organizational behavior.
Australia: Thomson-South Western.
Spector, P. E. 1997. Job satisfaction. California:
SAGE Publishing.
Sutton, M. J. 2005. Organizational citizenship
behavior: a career development strategy,
Dissertation, University of South Florida,
2005.

Tsai, Ming-Tien and Chun-Chen Huang. 2008. The


relationship among ethical climate types,
facets of job satisfaction, and the three
components
of
organizational
commitment: a study of nurses in Taiwan.
Journal of Business Ethics. 565581.
Tschannen-Moran,
M.
2003,
Fostering
organizational citizenship in schools:
transformational leadership and trust.
Journal of Educational Administration.
Chapter 6, 1-36.
Wat, D. and Shaffer, M.A. 2005. Equity and
relationship
quality
influences
on
organizational
citizenship
behavior.
Personnel Review. 34(4):406-422.
Werther, W. B. & K. Davis. 1996. Human
resources and personnel management,
New York: McGraw-Hill, Inc..
Ylmaz, K. and Tasdan, M. 2009. Organizational
citizenship and organizational justice in
Turkish primary schools. Journal of
Educational Administration, Vol. 47 No.
1, 108-126.
Zain, Mohammad. 2008. Manajemen perpajakan.
Jakarta: Salemba Empat.

7. Riwayat Penulis
Ariefin Sukmana, SE, M.Si adalah dosen DPK
Kopertis Wilayah IV pada STIE Pelita Bangsa,
Bekasi, pernah menjabat sebagai Kepala Suku
Dinas Pendapatan Daerah di DKI Jakarta sejak
tahun 2002 s/d tahun 2007.
No HP.: 0818 0845 0965