Anda di halaman 1dari 12

Altruisme dan Agresi

Altruisme dan Perilaku Prososial


Altruisme adalah tindakan sukarela untuk membantu
orang lain tanpa pamrih, atau ingin sekedar beramal
baik (Schroeder, Penner, Dovidio & Piliavin, 1995).
Suatu tindakan dapat dikatakan sebagai altruisme
tergantung niat si penolong.
Perilaku prososial adalah kategori yang lebih luas
(Batson, 1998). Mencakup setiap tindakan yang
membantu atau dirancang untuk membantu orang lain,
terlepas dari motif si penolong. Banyak tindakan
prososial bukan tindakan altruistik. Tindakan prososial
bisa dimulai dari altruisme tanpa pamrih sampai
tindakan yang dimotivasi oleh pamrih dan kepentingan
pribadi.

Perspektif Teori
Perspektif Evolusi
Perspektif biologi, yang menyatakan bahwa mahluk hidup
menolong mahluk hidup lainnya (keturunannya) untuk
kelangsungan genetiknya
Perspektif Sosiokultural
Norm of Social Responsibility: Aturan sosial yang
menyatakan bahwa kita harus membantu orang yang
bergantung pada kita
Norm of Reciprocity: Aturan sosial yang menyatakan bahwa
kita berkewajiban untuk membantu orang yang pernah
membantu kita
Norm of social justice: Aturan sosial tentang keadilan dan
distribusi sumber daya secara merata

Kemiripan Kultural
Terdapat tiga norma sosial dasar yang lazim dalam
masyarakat manusia (1) norma tanggung jawab sosial
(2) resiprositas (3) keadilan
Ketiga norma tersebut memberikan basis kultural untuk
perilaku prososial. Melalui proses sosialisasi, individu
mempelajari aturan ini dan berperilaku sesuai dengan
pedoman perilaku prososial. Riset menunjukkan bahwa
orang cenderung membantu saudaranya atau orang
yang ia kenal dibandingkan orang asing.
Terdapat variasi kultural dalam tanggung jawab
menolong berdasarkan kultur individualistik dan
kolektivistik

Perspektif Teori Belajar


Menekankan proses belajar dalam membantu orang
lain, melalui penguatan (imbalan dan hukuman karena
membantu) dan modeling (mengamati orang lain yang
memberi pertolongan).
Penguatan: beberapa penguatan lebih efektif
dibandingkan penguatan lainnya. Pujian disposisional
(menekankan personalitas) lebih efektif dibandingkan
pujian global.
Belajar observasional: melihat model prososial dari
berbagai situasi, media dan orang lain.
Orang mengembangkan kebiasaan membantu dan
mempelajari aturan tentang siapa yang mesti ditolong
dan kapan harus menolong.

Bagi anak-anak perilaku prososial


bergantung pada imbalan eksternal
dan persetujuan sosial, semakin
dewasa tindakan membantu sudah
menjadi nilai yang diinternalisasi
tanpa diperlukan intensif eksternal
lagi. Orang akan puas telah
merealisasikan standar mereka
sendiri dan merasakan kebahagiaan
saat melakukan amal yang baik.

Perspektif Teori Pengambilan


Keputusan
Melihat Kebutuhan: apakah seseorang perlu
bantuan?---YA/TIDAK (tidak ada masalah)
Melaksanakan tanggung jawab personal: apakah
saya bertanggung jawab?--- YA/TIDAK (bukan
tanggung jawab saya)
Mempertimbangkan untung rugi: Apakah membantu
akan menguntungkan? (resiko)---- YA/TIDAK (terlalu
berbahaya, tidak menyenangkan dsb.)
Memutuskan bagaimana cara membantu: Apa yang
harus saya lakukan?---- YA/TIDAK (saya tidak tahu
cara membantu)
Bantuan diberikan

Teori Atribusi
Seseorang akan mendapat pertolongan atau tidak sebagian
tergantung pada manfaat kasusnya. Keyakinan pada
legitimasi atau manfaat problem akan sangat menentukan.
Kita cenderung bersimpati kepada orang yang menderita
lantaran bukan kesalahannya sendiri dan cenderung tidak
memberikan bantuan kepada orang yang bertanggung
jawab sendiri atas penderitaannya (Darren George, 1992).
Mengatribusikan kesulitan seseorang dengan sebab-sebab
yang dapat dikontrol mungkin akan menimbulkan
kejengkelan, penghindaran atau pengabaikan, sebaliknya
mengatribusikan kesulitan seseorang dengan sebab yang
tak dapat dikontrol akan menimbulkan simpati dan
membuat kita bersedia menolong (Schmidt & Weiner,
1988).

Agresi
Definisi: Setiap tindakan yang diniatkan untuk
menyakiti orang lain.
Antisocial Aggression: Tindakan agresif yang
melanggar norma sosial yang diterima umum.
Prosocial Aggression: Tindakan agresif yang
mendukung norma sosial yang diterima umum. Mis.
Memuji polisi yang telah menembak penjahat
berbahaya.
Sanctioned Aggression: (agresi yang disetujui) Agresi
yang dimaklumi sesuai dengan norma kelompok
sosial individual. Mis. Pelatih menghukum muridnya,
wanita menyerang pemerkosa dsb.

Akar Agresi
Freud (1930) naluri bertindak agresif (insting
kematian atau thanatos), dimana agresi adalah
sifat alamiah manusia.
Ahli sosiobiologi berpendapat bahwa banyak
aspek dari perilaku sosial, termasuk agresi
dapat dipahami dalam term evolusi (Buss,
1996; Buss & Kenrick, 1998); membantu jantan
memperoleh betina pasangannya, betina
melindungi anak-anaknya, maka prinsip seleksi
alam beroperasi mendukung beberapa bentuk
agresi tertentu.

Perilaku Agresif
Belajar Agresif
Imitasi: bentuk pembelajaran yang berkaitan dengan pemikiran, perasaan
dan perilaku yang meniru pemikiran, perasaan dan perilaku orang lain.
Penguatan: Jika perilaku agresif diberi penghargaan cenderung diulangi,
jika diberik hukuman cenderung tidak mengulangi. Orang tua (sumber
penguatan dan imitasi utama) memiliki peran penting dalam membentuk
perilaku agresif anak.
Atribusi: serangan atau frustasi dapat melahirkan amarah (perasaan
agresif) dan perilaku agresif harus dianggap sebagai sesuatu yang
diniatkan untuk membahayakan (diniatkan orang lain atau berada dalam
kontrol internal seseorang). Jika korban mengatribusikan serangan atau
frustasi pada situasi di luar kontrol seseorang cenderung tidak akan
menimbulkan amarah.
Permintaan maaf cenderung mengurangi perilaku agresif apabila
gangguannya tidak berat, jika gangguan berat cenderung tidak digubris.

Model Umum Agresivitas


Input

Rute

Personal

Situasi

Kondisi Internal
Saat Ini
Afeksi

Pengalama
n Sosial

Kognisi
Penggerak

Hasil

Proses
penilaian &
keputusan

Tindakan
Berdasarkn
Pikiran
Tindakan
Impulsif