Anda di halaman 1dari 23

SKLERITIS

REZA MUHAMMAD
1310211021

DEFINISI

Skleritis adalah peradangan pada lapisan sklera yang ditandai dengan adanya infiltrasi

seluler, kerusakan kolagen, dan perubahan vaskuler.

ETIOLOGI

Skleritis dapat merupakan insiden tersendiri (43%) atau berkaitan dengan penyakit

sistemik lainnya (57%). Adapun beberapa etiologi dari skleritis ialah:


1. Autoimun (48%)
2. Infeksi dan Granulomatosa (7%)1
3. Lain-lain (2%)
4. Idiopatik

ETIOLOGI

EPIDEMIOLOGI

Di Amerika Serikat insidensi kejadian diperkirakan 6 kasus per 10.000 populasi.


Didapatkan 94% adalah skleritis anterior, sedangkan 6% nya adalah skleritis posterior.
Di Indonesia belum ada penelitiannya
Peningkatan insiden skleritis tidak bergantung pada geografi maupun ras.
Wanita lebih banyak terkena daripada pria dengan perbandingan 1,6 : 1.
Insiden skleritis terutama terjadi antara 11-87 tahun, dengan usia rata-rata 52 tahun.

KLASIFIKASI
Skleritis dapat diklasifikasikan menjadi anterior atau posterior. Empat tipe dari skleritis anterior adalah
1. Diffuse anterior scleritis. Ditandai dengan peradangan yang meluas pada seluruh permukaan sklera.

Merupakan skleritis yang paling umum terjadi.


2. Nodular anterior scleritis. Ditandai dengan adanya satu atau lebih nodul radang yang eritem, tidak

dapat digerakkan, dan nyeri pada sklera anterior. Sekitar 20% kasus berkembang menjadi skleritis nekrosis.
3. Necrotizing anterior scleritis with inflammation. Biasa mengikuti penyakit sistemik seperti rheumatoid

arthtitis. Nyeri sangat berat dan kerusakan pada sklera terlihat jelas. Apabila disertai dengan inflamasi
kornea, dikenal sebagai sklerokeratitis.
4. Necrotizing anterior scleritis without inflammation. Biasa terjadi pada pasien yang sudah lama

menderita rheumatoid arthritis. Diakibatkan oleh pembentukan nodul rematoid dan absennya gejala. Juga
dikenal sebagai skleromalasia perforans.

KLASIFIKASI

Sebanyak 43% kasus skleritis posterior didiagnosis bersama dengan skleritis anterior.
Skleritis posterior ini jarang terjadi dan ditandai dengan adanya nyeri tekan bulbus okuli

dan proptosis.
Terdapat perataan dari bagian posterior bola mata, penebalan lapisan posterior mata

(koroid dan sklera), dan edema retrobulbar.


Pada skleritis posterior dapat dijumpai penglepasan retina eksudatif, edema makular, dan

papiledema.

DIAGNOSIS : ANAMNESIS
Keluhan pasien akan bervariasi, tergantung dari tipe skleritis yang dialami pasien. Tanda primernya

adalah mata merah


Pasien dengan necrotizing anterior scleritis with inflammation akan mengeluhkan rasa nyeri yang

hebat disertai tajam penglihatan yang menurun, bahkan dapat terjadi kebutaan.
Tajam penglihatan pasien dengan non-necrotizing scleritis biasanya tidak akan terganggu, kecuali bila

terjadi komplikasi seperti uveitis.


Rasa nyeri yang dirasakan pasien akan memburuk dengan pergerakan bola mata dan dapat menyebar

ke arah alis mata, dahi, dan dagu.


Rasa nyeri juga dapat memburuk pada malam hari, bahkan dapat membangunkan pasien dari tidurnya.

DIAGNOSIS : PX.FISIK
Pemeriksaan tajam penglihatan.
Visus dapat berada dalam keadaan normal atau menurun.
Gangguan visus lebih jelas pada skleritis posterior.

Pemeriksaan umum pada kulit, sendi, jantung dan paru paru dapat dilakukan apabila

dicurigai adanya penyakit sistemik.


Pemeriksaan Sklera
Sklera tampak difus, merah kebiru biruan dan setelah beberapa peradangan, akan terlihat daerah

penipisan sklera dan menimbulkan uvea gelap.


Area berwarna hitam, abu abu, atau coklat yang dikelilingi oleh peradangan aktif menandakan proses

nekrosis. Apabila proses berlanjut, maka area tersebut akan menjadi avaskular dan menghasilkan
sequestrum berwarna putih di tengah dan di kelilingi oleh lingkaran berwarna hitam atau coklat gelap.

DIAGNOSIS : PX.FISIK
Pemeriksaan slit lamp
Untuk menentukan adanya keterlibatan secara menyeluruh atau segmental. Injeksi yang meluas

adalah ciri khas dari diffuse anterior scleritis.


Pada skleritis, kongesti maksimum terdapat dalam jaringan episkleral bagian dalam dan beberapa

pada jaringan episkleral superfisial. Sudut posterior dan anterior dari sinar slit lamp terdorong maju
karena adanya edema pada sklera dan episklera.
Pemberian topikal 2.5% atau 10% phenylephrine hanya akan menandai jaringan episklera

superfisial, tidak sampai bagian dalam dari jaringan episklera.


Penggunaan lampu hijau dapat membantu mengidentifikasi area avaskular pada sklera. Perubahan

kornea juga terjadi pada 50% kasus.


Pemeriksaan kelopak mata untuk kemungkinan blefaritis atau konjungtivitis juga dapat dilakukan.

DIAGNOSIS : PX.FISIK

Pemeriksaan skleritis posterior


Dapat ditemukan tahanan gerakan mata, sensitivitas pada palpasi dan proptosis.
Dilatasi fundus dapat berguna dalam mengenali skleritis posterior. Skleritis posterior dapat

menimbulkan amelanotik koroidal.


Pemeriksaan funduskopi dapat menunjukan papiledema, lipatan koroid, dan perdarahan atau

ablasio retina.

DIAGNOSIS : PX.PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk mencari etiologi dari skleritis. Beberapa
pemeriksaan laboratorium dan radiologi yang dapat dilakukan yaitu:
Pemeriksaan darah lengkap dan laju endap darah
Faktor rheumatoid dalam serum
Antibodi antinuklear serum (ANA)
Serum antineutrophil cytoplasmic antibodies (ANCA)
PPD (Purified protein derivative/mantoux test), rontgen toraks
Serum FTA-ABS, VDRL
Serum asam urat
B-Scan Ultrasonography dapat membantu mendeteksi adanya skleritis posterior.

B-Scan Ultrasonography pada skleritis posterior menunjukkan adanya akumulasi cairan

pada kapsul tenon

DIAGNOSA BANDING

Konjunctivitis alergika
Episkleritis
Gout
Herpes zoster
Rosasea okular
Karsinoma sel skuamosa pada konjunctiva
Karsinoma sel skuamosa pada palpebra
Uveitis anterior nongranulomatosa

TATALAKSANA
1. Pengobatan

pada

skleritis

yang

tidak

infeksius.

NSAIDs,

kortikosteroid,

atau

obat

imunomodulator dapat digunakan. Pengobatan secara topikal saja tidak mencukupi. Pengobatan
tergantung pada keparahan skleritis, respon pengobatan, efek samping, dan penyakit penyerta
lainnya.
2. Pengobatan untuk skleritis yang infeksius. Pengobatan sistemik dengan atau tanpa antimikrobial

topikal dapat digunakan. Sementara kortikosteroid dan imunosupresif tidak boleh


digunakan.
3. Konsultasi. Dapat dilakukan kepada ahli penyakit dalam untuk penyakit penyerta, dan konsultasi

dengan spesialis hematologi atau onkologi untuk pengawasan terapi imunosupresif.

TATALAKSANA
Diffuse scleritis atau nodular scleritis
Pengobatan awal menggunakan NSAIDs. Jika gagal dapat menggunakan 2

jenis NSAIDs yang berbeda. Untuk pasien resiko tinggi, berikan juga
misoprostol atau omeprazole untuk perlindungan gastrointestinal.
Jika NSAIDs tidak efektif, gunakan kortikosteroid oral. Jika terjadi remisi,
dipertahankan menggunakan NSAIDs.
Jika oral kortikosteroid gagal, obat obatan imunosupresif dapat digunakan.
Methotrexate adalah obat pilihan pertama, tapi dapat juga digunakan
azathioprine, mycophenolate, mofetil, cyclophosphamide, atau cyclosporine.
Untuk pasien dengan Wegeners granulomatosis atau polyarteritis nodosa,
cyclophosphamide adalah pilihan utama.
Jika masih gagal, dapat diberikan obat obatan imunomodulator seperti

infliximab atau adalimumab yang diharapkan dapat efektif.

TATALAKSANA

Necrotizing scleritis
Obat obatan imunosupresif ditambahkan dengan kortikosteroid pada bulan

pertama, kemudian jika mungkin dikurangi perlahan lahan.


Jika gagal, pengobatan imunomodulator dapat digunakan.
Injeksi steroid periokular tidak boleh dilakukan karena dapat memperparah
proses nekrosis yang terjadi.

TATALAKSANA
NSAIDs

Indometasin (Indocin) Dosis: 75-150 mg PO/hari or dibagi 2 kali sehari; tidak melampaui
150 mg/hari
Agen Imunosupresan

Methotrexate (Folex, Rheumatex)


Dapat mempengaruhi fungsi imun dan biasanya menghilangkan gejala peradangan

(nyeri, bengkak, kaku).


Dosis tunggal PO sebanyak 7.5 mg setiap minggu.
Dosis dibagi PO sebanyak 2.5 mg setiap 12 jam untuk 3 dosis, sebagai pengganti sekali

seminggu
Peningkatan sampai respon optimum; tidak melebihi dosis tunggal dari 20 mg

(meningkatkan resiko supresi sum sum tulang). Kurangi sampai serendah mungkin.
Kurangi sampai dosis efektif terendah dengan waktu istirahat terpanjang

TATALAKSANA
Cyclophosphamide (Cytoxan, Neosar)

Pemberian:
Secara struktur kimia berhubungan dengan
Berikan dosis pertama sepagi mungkin
mustards nitrogen. Sebagai alkylating agent,
mekanisme kerjanya sebagai metabolit aktif
Minum banyak cairan bersamaan dengan dosis per
mungkin melibatkan penyambungan silang DNA, oral
yang dapat mengganggu pertumbuhan sel
Pasien harus buang air untuk mencegah sistitis
normal dan neoplastik.
hemoragik.
Pemberian IV:
Awasi: Hitung sel darah (Sel darah putih dapat
Dosis tunggal: 40-50 mg/kg dibagi selama 2-5
menurun sampai 2000-3000/cu.mm tanpa resiko
hari; dapat diulangi dalam interval 2-4 minggu
serius terkena infeksi)
Dosis setiap hari: 1-2.5 mg/kg/hari
Pemberian oral:
Dosis : 400-1000 mg/sq.meter dibagi selama 4-5
hari sebagai terapi intermiten
Terapi berulang: 50-100 mg/sq.meter/hari

TATALAKSANA
Glukokortikoid

Memiliki sifat anti peradangan dan


mengakibatkan bermacam efek metabolik.
Kortikosteroid mempengaruhi respon imun
tubuh dan berguna dalam pengobatan skleritis
yang berulang.

Jika diberikan sebagai pengganti sementara


untuk pemberian oral, berikan dosis IM
setiap harinya sama dengan dosis oral.

Methylprednisolone (Depo-Medrol, SoluMedrol, Medrol)

Untuk efek jangka panjang, berikan dosis


oral 7 kali setiap harinya IM setiap minggu.

Pemberian IM atau IV. Biasanya digunakan


sebagai tambahan agen imunosupresif lainnya.

Hanya metilprednisolon sodium sukinat


dapat diberikan secara IV

Dosis: 2-60 mg/hari dibagi sekali sehari atau 2


kali sehari PO

Dosis: 1 g IV selama 1 jam selama 3 hari

Metilprednisolon asetat: 10-80 mg IM setiap 12 minggu

KOMPLIKASI

Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit skleritis yaitu


1. Edema makular
2. Perforasi sklera
3. Glaukoma
4. Uveitis
5. Katarak
6. Keratitis

PROGNOSIS

Individu dengan skleritis ringan biasanya tidak akan mengalami kerusakan penglihatan

yang permanen.
Hasil akhir cenderung tergantung pada penyakit penyerta yang mengakibatkan skleritis.
Necrotizing scleritis umumnya mengakibatkan hilangnya penglihatan dan memiliki 21%

kemungkinan meninggal dalam 8 tahun