Anda di halaman 1dari 9

MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI (RI1217)

Dosen : Ir. R. Adi Wardoyo, M.MT

TUGAS RESUME PMBOK


KELOMPOK 3
Fajar Nuur Alfie R3813100030
Timotius Disa3813100035
Annisa Enggar A.3813100036
Emilia Fajarsari3813100039

FTSP - Desain Interior


Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
2016
CHAPTER 5: PROJECT SCOPE MANAGEMENT (MANAJEMEN
LINGKUP PROYEK)

Di dalam manajemen lingkup proyek ini meliputi proses yang dibutuhkan


untuk memastikan bahwa proyek telah mencakup semua pekerjaan yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek dengan sukses. Berikut adalah
gambaran mengenai proses Project Scope Management, diantaranya:

5.1

Plan Scope Management (Inisiasi) - Proses membuat


manajemen lingkup dengan mendokumentasikan bagaimana project scope akan
didefinisikan, divalidasi, dan dikontrol. Kunci keberhasilan proses ini adalah
menyediakan petunjuk dan arahan bagaimana scope akan diatur selama proyek.
Masukan :

Project Management Plan


Project Charter - menyediakan informasi tentang deskripsi proyek dan
karakteristik produk.
Enterprise Environmental Factors meliputi kultur organisasi, infrastruktur,
tenaga administrasi personalia, dan kondisi pasar.
Organizational Process Assets meliputi kebijakan, prosedur, informasi
historis, lesson learned.

Keluaran :

Scope Management Plan


Proses untuk mempersiapkan pernyataan project scope yang rinci
Proses pembuatan WBS dari pernyataan project scope; Proses yang
menentukan bagaimana WBS akan dijaga
Proses yang menentukan bagaimana penerimaan dari deliverables proyek
yang telah selesai akan diperoleh

Proses yang mengatur bagaimana pemrosesan permintaan perubahan


pekerjaan.
Requirements Management Plan Bagian dari project management plan
yang mendeskripsikan bagaimana requirements dianalisis, didokumentasi,
dan dikelola.

5.2 Collect Requirements

- Proses menentukan, mendokumentasikan,


dan mengelola kebutuhan stakeholders dan persyaratan-persyaratan agar
mencapai objektif dari proyek. Kunci keberhasilan proses ini adalah mampu
menyediakan dasar untuk mendeskripsikan dan mengelola project scope.
Persyaratan Klasifikasi :

Business requirements = menggambarkan kebutuhan-tingkat yang lebih


tinggi dari organisasi secara keseluruhan, seperti masalah bisnis atau
peluang, dan alasan mengapa proyek telah dilakukan
Stakeholder requirements = kebutuhan stakeholders (pemegang saham ,
pemangku kepentingan
Solution requirements = functional requirements (proses, data, interaksi
dengan produk) dan nonfucntional requirements (ketahanan, keamanan,
performance, dll)
Transition requirements = menggambarkan kemampuan sementara,
seperti persyaratan konversi data dan pelatihan
Project requirements = tindakan, proses, atau kondisi lainnya dari proyek
yang diperlukan.
Quality requirements = kondisi atau kriteria yang dibutuhkan untuk
penyelesaian proyek yang sukses atau deliverable proyek atau
pemenuhan requirements lainnya.

Masukan :

Scope Management Plan


Requirements Management Plan - menyediakan proses yang akan
digunakan dalam proses collect requirements untuk mendefinisikan dan
mendokumentasikan kebutuhan stakeholder
Stakeholder Management Plan
Project Charter - menyediakan deskripsi proyek sehingga dapat
mengembangkan requirements
Stakeholder Register - mengidentifikasi stakeholders yang dapat
menyediakan informasi pada requirements.

Teknik dan Alat :

Interviews = wawancara untuk mendapatkan informasi dari


stakeholders
Focus Groups = focus groups discussion berisikan para stakeholders
untuk mempelajari ekpekstasi dan sikap mereka terhadap sebuah
produk
Facilitated Workshops = diskusi bersama stakeholders untuk
menentukan product requirements.

Group Creativity Techniques = meliputi brainstorming, nominal group


technique, idea/mind mapping, affinity diagram, multicriteria decision
analysis
Group Decision-Making Techniques - meliputi unanimity, majority,
plurarity, dan dicatorship.
Questionnaire & Surveys
Observations
Prototypes - mendapatkan informasi/umpan balik dari suatu model dari
produk sebelum produk tersebut benar-benar dibuat.
Benchmarking - membandingkan proses yang dilakukan dengan
organisasi lain untuk mendapatkan ide untuk perbaikan, dsb.
Context Diagrams - menggambarkan product scope dengan
menunjukkan sistem (proses, peralatan, dsb.) dan bagaimana orang
dan sistem lainnya berinteraksi dengan sistem tersebut.
Document Analysis - menganalisis dokumen-dokumen proyek seperti
business plans, agreements, dsb. untuk mendapatkan requirements.

Keluaran :

Requirements Documentation
business requirements
stakeholders requirements
solution requirements
project requirements
transition requirements
requirements assumption, dependencies, and constraints
Requirements Traceability Matrix
business needs, opportunities, goals, and objectives
project objectives
project scope / WBS deliverables
product design
product development
test strategy and test scenarios
high level requirements

5.3 Penentuan Ruang lingkup

Penentuan Ruang lingkup adalah proses pengembangan penjelasan yang rinci


tentang proyek dan produk. Manfaat utama dari proses ini adalah hal ini
menggambarkan proyek, layanan, atau batas-batas hasil dengan mendefinisikan
mana dari persyaratan yang dikumpulkan yang akan dimasukkan dan
dikecualikan dari ruang lingkup proyek.
Karena tidak semua persyaratan yang diidentifikasi dalam Pengumpulan
Persyaratan dapat termasuk dalam proyek, proses Penentuan Ruang Lingkup
memilih persyaratan proyek final dari dokumentasi persyaratan yang
disampaikan selama proses Pengumpulan Persyaratan. Hal ini kemudian
mengembangkan sebuah penjelasan rinci tentang proyek dan produk, layanan,
atau hasil.
Penyusunan pernyataan ruang lingkup proyek yang rinci bersifat penting untuk
keberhasilan proyek dan dibangun berdasarkan besar kiriman, asumsi, dan
kendala yang didokumentasikan selama inisiasi proyek. Selama perencanaan
proyek, ruang lingkup proyek didefinisikan dan dijelaskan dengan spesifikasi
yang lebih besar seiring informasi lebih lanjut tentang proyek ini dikenal. Risiko,
asumsi, dan kendala dianalisis untuk kelengkapan dan ditambahkan atau
diperbarui sesuai kebutuhan. Proses Penentuan Ruang Lingkup dapat sangat
berulang. Dalam proyek-proyek dengan siklus berulang, visi-tingkat tinggi akan
dikembangkan untuk keseluruhan proyel, tetapi ruang lingkup yang rinci
ditentukan satu iterasi dalam satu waktu dan perencanaan yang rinci untuk
iterasi berikutnya dilakukan sebagai pekerjaan berlangsung pada ruang lingkup
proyek saat ini dan pengiriman.

5.4 Pembuatan WBS

Pembuatan WBS adalah proses membagi deliverable proyek dan pekerjaan


proyek menjadi lebih kecil, dengan komponen lebih mudah dikelola. Manfaat
utama dari proses ini adalah bahwa ia menyediakan visi terstruktur dari apa
yang akan disampaikan.
WBS adalah dekomposisi hirarki dari total ruang lingkup pekerjaan yang harus
dilakukan oleh tim proyek untuk mencapai tujuan proyek dan menciptakan
kiriman yang diperlukan. WBS mengatur dan mendefinisikan ruang lingkup total
proyek, dan merepresentasikan pekerjaan yang ditentukan dalam pernyataan
lingkup proyek yang telah disetujui saat ini.
Pekerjaan yang sudah direncanakan terkandung dalam tingkat terendah dari
komponen WBS, yang disebut paket pekerjaan. Sebuah paket pekerjaan dapat
digunakan untuk mengelompokkan kegiatan di mana pekerjaan dijadwalkan dan
diperkirakan, dipantau, dan dikendalikan. Dalam konteks WBS, kerja mengacu
pada produk kerja atau kiriman yang merupakan hasil dari kegiatan dan bukan
aktivitas itu sendiri.

5.5 Validate Scope

- Mengesahkan Lingkup adalah proses formalisasi


penerimaan penyampaian proyek yang telah selesai. Manfaat utama dari proses
ini adalah bahwa ia membawa objektivitas ke proses penerimaan dan
meningkatkan kemungkinan produk akhir, layanan, atau hasil penerimaan oleh

memvalidasi setiap deliverable.


Masukan

Project Management Plan scope management plan (menentukan berapa


penerimaan formal dari deliverable proyek selesai akan diperoleh ) & scope
baseline (termasuk versi menyetujui pernyataan ruang lingkup, rincian kerja
struktur (WBS), dan kamus WBS yang terkait, yang dapat diubah hanya

melalui prosedur perubahan kontrol formal dan digunakan sebagai dasar


untuk perbandingan).
Requirements Documentation Persyaratan dokumentasi daftar semua
proyek, produk, dan jenis lain dari persyaratan untuk proyek dan produk,
bersama dengan kriteria penerimaan mereka.
Requirements Traceability Matrix link persyaratan traceability matrix untuk
asal mereka dan melacak mereka sepanjang siklus hidup proyek.
Verified Deliverables deliverables proyek yang telah selesai dan diperiksa
dalam proses kontrol kualitas.
Work Performance Data Data kinerja kerja dapat mencakup tingkat
kepatuhan terhadap persyaratan, jumlah ketidaksesuaian, keparahan dari
ketidaksesuaian, atau jumlah siklus validasi yang dilakukan dalam jangka
waktu tertentu.

Keluaran

Accepted Deliverables deliverables yang telah memenuhi kriteria


ditandatangani dan disetujui oleh customer/sponsor. Persetujuan ini
didokumentasikan lalu dokumennya dilanjutkan untuk digunakan dalam tahap
penutupan proyek
Change Requests deliverables yang belum disetujui mungkin perlu
dilakukan beberapa perubahan untuk memperbaiki kekurangan.
Work Performance Information perkembangan proyek seperti deliverables
mana yang telah dimulai, perkembangannya, yang telah selesai, atau yang
telah disetujui.
Project Documents Updates dokumen yang melaporkan perkembangan
penyelesaian pekerjaan.

5.6 Control Scope - Proses pemantauan status proyek dan lingkup produk
dan mengelola perubahan lingkup dasar. Kunci keberhasilan proses ini adalah
dapat memelihara lingkup dasar sepanjang proyek. Proses ini menjamin semua
perubahan yang diminta dan tindakan preventif/korektif yang direkomendasikan
terlaksana melalui proses perform integrated change control.

Masukan

Project Management Plan lingkup dasar, rencana pengelolaan ruang


lingkup, rencana manajemen perubahan, rencana manajemen konfigurasi,
rencana pengelolaan persyaratan.
Requirements Documentation persyaratan yang terdokumentasi dengan
baik membuat lebih mudah untuk mendeteksi adanya penyimpangan dari
lingkup proyek yang telah disetujui.
Requirements Traceability Matrix membantu untuk mendeteksi akibat dari
perubahan scope baseline pada objektif proyek.
Work Performance Data dapat berupa jumlah permintaan perubahan yang
diterima, jumlah deliverables yang telah selesai, dll.
Organizational Process Assets scope (jangkauan), kebijakan, prosedur,
petunjuk, metode pemantauan dan pelaporan, dll.

Teknik dan Alat


Variance Analysis Teknik untuk menentukan penyebab dan derajat perbedaan
antara baseline dan performance aktual. Hal penting lainnya dari proses scope
control (selain menentukan penyebab dan derajat perbedaan) adalah
menentukan tindakan preventif atau korektif yang dibutuhkan.
Keluaran

Work Performance Information - informasi bagaimana project scope


dilaksanakan dibandingkan dengan scope baseline.
Change Requests - dapat berupa tindakan preventif/korektif, perbaikan
kerusakan, atau permintaan perbaikan.
Project Management Plan Updates - scope baseline updates, other baseline
updates.
Project Document Updates - requirements documentation, requirements
traceablity matrix.
Organizational Process Assets Updates - penyebab perbedaan yang terjadi,
tindakan korektif yang dipilih beserta alasannya, lesson learned lainnya (dari
project scope control).

KESIMPULAN CHAPTER 5
Project scope management adalah suatu kegiatan untuk meyakinkan bahwa
semua kegiatan yang dilakukan telah mencakupi semua requirement yang telah
didefinisikan, dan tidak terdapat kegiatan tambahan yang tidak berhubungan
dengan requirement.
Scope pada dasarnya dapat mengacu pada dua pengertian : Product
Scope dan Project Scope. Product Scope adalah fitur dan fungsi yang merupakan
karakteristik dari produk atau layanan yang dihasilkan, Sedangkan Project Scope
adalah Kegiatan yang dilakukan untuk menghasulkan produk atau layanan
Hal-hal yang harus dilakukan dalam kegiatan Project Scope Management,
yaitu :

Plan Scope Management (Management perencanaan ruang lingkup),


adalah kegiatan untuk mendokumentasikan pendefinisian, proses validasi,
dan pengontrolan Proyek. Tujuannya adalah untuk memberikan arahan
tentang cara scope pengelolaan dalam proyek.
Mengumpulkan Requirement, adalah kegiatan untuk mengumpulkan
kebutuhan dari Stakeholder. Pada tahap ini, input yang diperlukan
diantaranya : Scope management plan, requirement management plan,
stakeholder management plan, Project Charter, dan Stakeholder Register.
Input ini kemudian diproses dengan beberapa cara seperti interview,
analisis dokumen, dan membuat prototype. Output yang diperoleh pada
tahap ini adalah requirement documentation dan requirement traceability
matrix.
Mendefinisikan Scope (ruang lingkup). Pada tahap ini, dilakukan pemilihan
requirement berdasarkan requirement yang telah dikumpulkan pada tahap
sebelumnya. Pada tahap ini, dibuat deskripsi lengkap tentang proyek dan
produk, atau layanan
Membuat WBS (Work Breakdown Structure). Pada tahap ini, dilakukan
pemecahan pekerjaan agar lebih mudah dilakukan.
Memvalidasi Scope. Proses validasi ini dilakukan berdasarkan Control
Quality yang ditinjau oleh Customer atau Sponsor.
Mengontrol Scope, adalah proses untuk memantau status dari suatu
proyek dan scope produk serta mengelola perubahan pada scope