Anda di halaman 1dari 6

Journal of Biomedical Optics 15(3), 036011 (May/June 2010)

GAMBARAN
NEAR-INFRARED
TECHNOLOGI
BARU
UNTUK
MAKSILARIS

DARI
SINUS:
MENDIAGNOSA

EVALUASI
SINUSITIS

Usama Mahmood, Albert Cerussi, Reza Dehdari, Quoc Nguyen, Timothy Kelley, Bruce
Tromberg, Brian Wong.
University of California at Irvine Department of Biomedical Engineering and Department of
Otolaryngology-Head and Neck Surgery
Beckman Laser Institute 1002 Health Sciences Road Irvine, California 92612

Abstrak. Diagnosa sinusitis tetap menjadi tantangan untuk dokter umum. Untuk membantu
dalam mendiagnosa sinusitis, hanya butuh tehnik sederhana dan tanpa efek radiologi. Kami
merancang near-infrared NIR yang merupakan alat untuk transilluminasi sinusitis
maksimillaris. Penggunaan cahaya NIR menunjukkan gambaran yang lebih luar dari struktur
dalam jaringan jika dibandingkan dengan cahaya tampak. Gambaran NIR dari 21 pasien yang
dilakukan dan kemudian dibandingkan dalam tomografi komputer (CT) scan. Setiap pasien
sinusitis maksilaris, diberikan skor perindividu yaitu dari skala 0 sampai 2 berdasarkan
tingkat adanya aerasi pada CT dan kesamaan berdasarkan sinyal tekanan dari NIR pada
maxilla dalam gambaran NIR. Dari hasil menunjukan bahwa masuknya udara dan cairan
pada jaringan dapat dibedakan dengan menggunakan pola penetrasi sinyal NIR, dengan ratarata skor gambaran NIR untuk cairan pada sinus maksila adalah (0.930.78, n=29) secara
signifikan lebih rendah dari mereka yang mengalami sinusis maxillary normal
(1.620.57,n=13) (p=0.003). Gambaran NIR dari sinusis ini sangat sederhana, aman dan
efektif secara biaya yang berpotensi membantu proses diagnosa sinusitis. Membutuhkan
waktu yang panjang, pembuatan alat yang akurat dan percobaan klinis yang lebih besar
sehingga dapat menentukan akurasi dari tehnik ini.
2010 Society of Photo-Optical Instrumentation Engineers. [DOI: 10.1117/1.3431718]
Keywords: infrared imaging; sinusitis; otolaryngology.
Paper 09385PR received Aug. 31, 2009; revised manuscript received Mar. 31, 2010;
accepted for publication Apr. 4, 2010; published online May 26, 2010.

Pendahuluan
Di Amerika Serikat, sekitar 31 juta orang menderita sinusitis dan berakibat pada jumlah biaya
pengeluaran sekitar 5.8 miliran untuk perawatan klinis langsung dan tidak langsung pertahun.
Ada data yang menunjukkan bahwa sinusitis umumnya dilaporkan sebagai penyakit kronis.
Meskipun banyak spesialis yang berperan dalam penanganan sinusitis, ada sekitar lebih dari
87% kasus yang ditangani dokter umum untuk mengdiagnosa dan merawat penderita sinusitis
ini.
Meskipun itu wajar, tapi sinusitis berakibat pada sulitnya diagnosa untuk dilakukan oleh
dokter umum. Dalam usaha untuk mempermudah diagnosa klinis, pada tahun 1997, American
Academy of OtolaryngologyHead and Neck Surgery memiliki tugas untuk melawan
Rhinosinusitis, yang menetapkan kriteria major dan minor yang mencirikan penyakit ini.
Namun, tidak adanya bukti yang kuat mendukung tugas pada gejala rhinosinusitis
berdasarkan definisi sinusitis, faktanya, penelitian menemukan bahwa gejala berdasarkan
pengertian penyakit itu akan mengesampingkan penyakit. Sinusitis kronis susah untuk
didiagnosa, karena gejalanya samar-samar dan atau mungkin dibagi oleh penyakit lain seperti
alergi rhinitis, vasomotor rhinitis, migrain, sakit syndrome myofacial, temporomandibular dll.
Selain itu, diagnosa klinis tergantung dari kemampuan pasien dalam menyampaikan sejarah
penyakit yang ia alami, yang mana bisa sulit ketika pasien itu masih anak-anak atau tidak bisa
berbicara bahasa inggris dengan lancar dan kecerdasan dokter dapat hilang karena kurangnya
waktu konsultasi. Namun, kegagalan dalam mengdiagnosa sinusitis dapat membuat
morbiditas penyakit pada pasien, menyebabkan serius komplikasi pada pasien, dan
pengeluaran tidak penting ketika perawatan ditunda tunda atau terlewatkan. Tantangan dalam
mengdiagnosa pasien sinusitis telah menyebabkan penggunaan kertas film x rays dan CT
scan tomografi. Jelas, CT scan meningkatkan akurasi diagnosa, tapi tidak efektif secara harga
karena ada uji screening, bahkan ketika menggunakan protocol screening.
Adanya kebutuhan akan teknik diagnosa sederhana untuk membantu mendiagnosa sinusitis
tanpa biaya dan resiko radiasi yang pernah disebabkan oleh radiologi konvensional. Secara
sejarah, studi objective terbiasa membantu diagnosa sinusitis, studi itu adalah
transillmuminasi. Teknik ini terdiri dari peletakan langsung akan cahaya pijar yang menyinari
maxillary atau dinding sinus depan untuk mendeteksi cairan yang ada pada pengisian udara
normal. Kumpulan cairan menghasilkan penyerapan cahaya yang mengerut dan mengurangi
transmisi cahaya. Model traditional dari transilluminasi membuktikan ketidakakuratan,
namun, telah disingkirkan pada awal abad 20an dengan adanya radiografi.
Kemajuan baru-baru ini dibidang optik telah menunjukkan sebuah alat yang menarik dan
efektif secara biaya. Dalam penelitian ini, kami membangun sebuah alat bernama nearinfrared (NIR sistem pencitraan) untuk sinusitis. Cahaya NIR (750 hingga 1100 nm) kurang
diserap oleh air dan hemoglobin, organ penting pada jaringan biologi. Hal ini dapat
meningkatkan illuminasi struktur jaringan dalam karena penetrasi optik yang lebih dalam.
Karena mata tidak dapat mendeteksi cahaya NIR, alat pencitraan infrared ini dibutuhkan
untuk mendeteksi sinyal. Kami menggunakan sepasang alat charge (CCD) sensitif kamera
untuk gelombang panjang NIR dan untuk menangkap dan merekan pencitraannya.

Objectivitias dari penelitian ini untuk menentukan apakah pencitraan NIR memiliki potensi
sebagai teknologi yang dapat membantu mengdiagnosa sinusitis maxillary dengan cara
membandingkan gambaran NIR dengan gambaran CT. Tujuan jangka panjang dari penelitian
kami ini adalah untuk mengembangkan pencitraan NIR yang berbiaya murah yang dapat
membantu diagnosa penyakit sinus terutama di perawatan umum.

2. MATERI DAN METODE


Sistem pencitraan NIR kami ini terdiri dari 2 komponen dasar: sebuah lampu NIR dan
detector pencitraan. Elemen dasar dari sistem ini telah digambarkan sebelumnya, dan
penjelasan jelas ada disini.
Sumber cahaya GAMBAR 1 di rancang untuk menyediakan illuminasi transpalatal dari
sinusis maxillary. Secara struktur, sumber cahaya ini berbentuk seperti sendok yang
gagangnya satu dan terbuat dari acrylic dan polystyrene. Dua susunan dari empat diodes
emmiting (LED; Roithner Lasertechnik, Vienna, Austria) yang ditutup oleh polystyrene. Satu
susunan memancarkan cahaya pada gelombang 810 nm (1 Mw), dan pancaran yang lain 850
nm (1mw). Lampu led spesific ini dipilih berdasarkan kombinasi harga dan experimen
sebelumnya yang menguji penetrasi mendalam kedalam jaringan. Gambaran telah diketahui
menggunakan silicon berdasarkan kamera video CCD yang penyaring inframerahnya
dihilangkan untuk mendeteksi sinyal NR (Marlin P. Jones dan kawan-kawan, Lake Park,
Florida). Hasil dari kamera dengan lubang USB dengan RCA to USB adaptor, membuat
gambaran NIR dapat diambil oleh laptop menggunakan sofware video (Pinnacle Systems,
Inc., Mountain View, California). Total biaya dari sistem ini mulai dari sumber cahaya dan
detektor tapi tidak termasuk laptopnya, itu kutang dari 100 dollar.
Subject yang mengikuti penelitian ini telah didasari oleh UC Irvine Institutional Review
Board. Badan tersebut telah mendapatkan persetujuan dari semua pastisipan yang direkrut
berasal dari pasien yang menjalani perawatan sinusitis atau penyakit sinus paranasal yang lain
pada Klinik Otolaryngology
Head dan Neck Surgery di University of California
Yang ada di Irvine Medical Center. Kriteria pasien adalah 15 tahun keatas dan pasien yang
menjalani atau diantisipasi akan menjalai pencitraan CT; jika tidak maka subject akan
didiskriminasi berdasarkan penemuan klinis.
Alat NIR digunakan diruang pemeriksaan di UC Irvine Medical Center. Subject duduk
kurang lebih 10 inci didepan kamera CCD yang diperkuat dengan tripod. Untuk tujuan
higienis, sumber lampu NIR disterilkan, dengan cara tuutp dengan tas plastik yang dibuang
setelah digunakan. Pasien diletakkan sumber cahaya yang berlawanan dengan langit-langit
keras mereka dan mereka diminta untuk menutup mulut mereka dengan tangan untuk
mengurangi cahayanya memantul keluar dari ringga muut dan langsung menghadap kamera.
Ruangannya gelap, mengurangi cahaya yang dapar mempertajam detektor. Video tiap-tiap
pola pencitraan NR dari pasien direka menggunakan laptop dan kemudian dianalisa. Selama

itu direkam, subject diminta untuk memutar, lentur, dan melebarkan kepala mereka untuk
mengambil cambar dari sudut yang berbeda. Total durasi pencintraan dati tiap tiap pasien
adalah 60 detik. Ketika mungkin, gambar berurut didapat dair pasien karena mereka telah
menjalani treament medis maupun bedah (contoh seperti bedah sinus endoscopic).
Perbandingan dibuat antara gambaran NIR pasien dan data yang didapat dari CT scan. Untuk
perbandingan kuantitatif, tiap-tiap pasien sinus maxillary diberika 2 skor, satu ditentukan oleh
data yang didapat dari CT satu ;agi dari analisis NIR. Pemberian scor CT berdasarkan
modifikasi Lund MacKay
scoring system, yang sering digunakan pada penelitian sinusitis. Pada CT, maxillary sinus
diberikan skor antara 0 hingga 2 berdasarkan level aerasi yang dihadirkan: tiap-tiap sinus
maxillary diberikan 2 jika ia benar-benar ber aerasi (mengindikasikan normal sinus),
diberikan 1 jika menebalnua peripheral mucosal, atau diberikan ) jika adanya opacification
100%. Maxillary sinuses diskor sama berdasarkan pola dan level penetrasi sinyal NIR
(gambar 2): tiap tiap maxillary sinus diberikan 2 jika cahaya berpenetrasi melalui keseluruhan
maxilla menuju batas infraorbital rim, diberikan 1 jika ada pengurangan intensitas sinyal
disekitaran maxilla, atau diberikan nilai 0 jika tidak ada persepsi cahaya pada maxilla. Untuk
skor lebih jauh NIR, poin dikurangin dari skor maxillary sinuses yang menunjukkan secara
signifikan signal yang lebih lemah dibandingkan dengan sinus contralateral.
3. HASIL
Diantara may 2003 dan juni 2005, total ada 35 pasien dilibatkan dalam penelitian kami dan
menjalani pencitraan NIR. 40 pasien tidak menjalani CT scan seperti rencana awal. 55%
adalah pria dan 45% adalah wanita. 62% adalah orang kulit putih, 24 asia, dan 14% adalah
hispanic. 21 pasien ini menunjukkan total 42 sinus maxillary berdasarlam pola NIR dengan
korespondeing CT data. Dari 42 tersebut, 5 diantaranya buram.
Beberapa kecenderungan telah diamati dalam membandingkan NIR dengan CT, subject tanpa
bukti CT mengalami maxillary sinus secara kusus menunjukkan pola sinyal NIR melalui
maxilla. Sinyal NIR sering kuat di daerah bawah mata karena cahaya NIR berpenetrasi
melalui lantai orbit, yang menyebar dengan lemak periorbital, dan keluar melalui kelopak
mata bawah.
Pasien dengan extensive bilateral maxillary sinusitis dalam sisi lain menunjukkan pola sinyal
NIR redup. Penetrasi cahaya NIR melalui sinus maxillary pasien biasanya hilang secara
signifikan. Sinyal NIR yang kuat yang ada dibawah kelopak mata tidak ada, itu yang
mencirikan pasien yang terbebas penyakit. Partisipan yang mengalamipenyakit unilateral
maxillary sinus, pola sinyal NIR asymmetris, dengan intensitas sinyal yang ditolak pada sisi
terdampak sebagai perbandingan terhadap sisi yang tidak terdampak. Terakhir, pencitraan
NIR digunakan untuk mengikuti dua pasien yang menjalani bedah sinus endoscopic. Post
operasi dari pencitraan NIR jelas menunjukkan bahwa penetrasi chaya yang meningkat
melalui maxilla merupakan perbandingan dari gambaran pre operasi.

Of these 42, 5 were completely opacified CTscore=0, 24 had peripheral mucosal thickening
CTscore=1 and 13were completely aerated CTscore=2. Dari 42 oarng, 5 mengalami
opasifikasi total, 24 mukosa terlihat buram dan 13 terlihat adanya aerasi (normal).
Our analysis revealed a lower average NIR score for those maxillary sinuses that were totally
(1.07-0.15) n=5 , or partially opacified (0.90-0.85) n=24 as compared to those maxillary
sinuses that were totally aerated (1.62-0.57) n=13 per CT imaging.
Ada persetujuan yang bagus antara 3 otolaryngologists dalam menentukan score NIR. Dari
33 dari 42 (79%) sinus maxillary, otolaryngologists menetapkan score NIR. Sisa kasus,
perbedaan antara otolaryngologist dalam menetapkan score NIR dalam satu. Tidak ada kasus
yang menentukan subject dengan sinus maxillary pada skor 0 atau 2. Analisa kami
menunjukkan bahwa rata-rata yang lebih rendah pada score NIR bagi mereka yang
mengalami sinus maxillary yang dengan total (1.07_0.15, n=5) atau sebagian diburamkan
(0.90_0.85, n=24) sesuai dengan perbandingan dengan mereka yang maxillary sinusnya
diaerasi (1.62_0.57, n=13).

Alat mendiagnosa sinus menggunakan teknologi, pada awal abad 20, transilluminasi
digunakan, namun gambarannya sangat jelek, tekniknya pun tidak reliable baik dari insentive
maupun dari segi non spesifik. Dengan kemajuan radiografi, x ray menjadi standar diagnosa
selanjutnya. Sekrang CT menggantikan xray; namun penggunaanya dalam penanganan sinus
terbatas dalam membantu perencaaan terapi bedah atau dalam mengevaluasi kemungkinan
butuk. Selain itu penggunaan CT juga biayanya mahal dan adanya resiko radiasi, dan juga
tidak bisa digunakan secara serial untuk merespon terapo. Sederhana, murah dan aman dalam
menentukan adanya penyakit sinus.
Today, CT has supplanted x rays; however, its use in
the management of sinusitis has been limited mainly to assisting
in planning surgical therapy or to evaluating for possible
malignancy. Moreover, these studies are costly and involve
ionizing radiation, and thus cannot be used serially to gauge
the response to therapy. There is no simple, inexpensive, and
safe method to accurately confirm the presence of sinus disease. Otolaryngologists mudah
melakukan diagnosa klinis, untuk dokter lain seperti dokter umum dan perawat, sangat susah
untuk melakukan diagnosa.
Solusi yang mungkin adalah penggunaan NIR yang secara logis merupakan keturunan dari
trasnilluminasi yang hadis akhir abad 19. Hasil sebelumnya dari penggunaan alat ini adalah
sinus yang terisi udara dan cairan dapat dibedakan dengan menggunakan pola sinyal NIR,
sinus yang diburamkan menunjukkan score NIR lebih rendah dari sinus aerasi. disisi lain, alat
NIR socre sama pada pasien dengan penebalan mucosal (0.90) dan total opacifikasi (1.07)
dari sinus maxillary mereka. Hasil ini dengan sederhana merupakan konsekuensi dari
terbatasnya jumlah subject yang mengalami sinus maxillaryang teropafikasi. Sebagai
tambahan, 3 dari 5 maxillary sinus yang teropafikasi mengalami sinus contralateral teraerasi

secara normal. Karena persebaran cahaya pada media turbid. Ini mungkin score rata-rata dari
total group opacifikasi terangkat karena penyebaran cahaya melalui sptum nasal kedalam
maxilla. Mucosal yang tebal dan total opacifikasi berpotensi dipisah menggunakan panjang
gelombang NIR, karena penyebaran dan penyerapan dalam jaringan adalah panjang
gelombang dependant. Terlepas dari itu, mucosal tebal dan opacifikasi keduanya terindikasi
abnormal fungsi sinus, dan membedakan sinus dalam penemuan ini dengan sinus teraerasi,
dan itu pentin secara klinis.
Ini bukanlah penelitian pertama penggunaan NIR untuk sinus. Mansfield dkk mencoba untuk
mengindetifikasi abnormalitas pada pasien dengan maxillary sinus menggunakan NIR
hyperspectral imaging.sayangnya, penulis tidak bisa mengindetifikasi perbedaan perfusi
antara pasien sehat dan mereka yang mengalami maxillary sinusitis. Dalam penelitian ini
cahaya NIR digunakan untuk mengukur sinus maxillary bukan untuk transilluminate mereka,
Wittek dan Beuthan, dalam sisi lain awalnya menggambarkan teknik dari IR
transillumination beberapa tahun yang lalu. Kemudian, penemuan selanjutnya dengan CT dan
didiskusikan potensi CT dalam menangani sinus. Penelitian ini melibatkan hanya beberapa
pasien, dan perbandingan dibuat antara IR dan CT secara kualitatif dan sifat subjectif.
Kemudian, penulis dalam penelitian penelitian tersebut menggunakan sumber panjang
gelombang berlipat-lipat dan detektor, sedangkan sistem kami terbatas untuk menerangi
gelombnag tertentu yang diseleksi untuk penetrasi jaringan secara optimal.
Keuntungan NIR, 1. Aman untuk pasien, tanpa radiasi ion, 2. Invasi yang minimal, 3.
Membuat akuisisi hasil yang jelas yang bisa direkam dan dijadikan rujukan dimasa depan, 4.
Murah, compatible degan sumber tenaga portable yang ada di rumah sakit, seperto otoscope,
5. Bisa digunakan dalam cahaya yang normal jika digunakan saringan optik yang pas.

Kekurangannya adalah terbatas dalam menginterogasi sinus maxillary dan sinus frontal;
sinyal dari sphenoid dan ethmoid sinus yang tinggal lebih dalam didalam tengkorak, yang
mana tidak bisa diatasi dengan teknik ini. Namun, referensi mengatakan bahwa sinus
maxillary adalah sinus umum, ini karena sinus maxillary rongga terbesar sinus dan cenderung
merupakan kelainan sinus karena perannya pada sistem pernapasan menyebabkan infeksi
pada subject.
Ada beberapa penggunaan potensial alat ini, untuk dokter non spesialis teknologi ini dapat
dengan mudah mendiagnosa sinus paranasal maxillary atau frontal sinuses tanpa biaya dan
resiko radiografi. Teknologi ini berguna untuk dokter anak, yang mana adanya keraguan
disana untuk menggunakan radiografi untuk anak anak. Teknologi ini sederhana dan aman
untuk memonitor respon klinis terhadap terapi bedah atau medis.