Anda di halaman 1dari 12

HASIL PRAKTIKUM KIMIA REAKSI

REDOKS DAN SEL VOLTA

Kelompok 2 :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Arsy rosyadi
Yessy Maya Sari
Dwi Martadinata
Endah kirana
Rahmat Hidayat
Vera firilianti
Amin fedeil akbar

Kelas : XII.IPA.5

TAHUN AJARAN 2014 2015


SMA NEGERI 8 PALEMBANG

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas
karunia-Nyalah sehingga Laporan Kimia mengenai reaksi redoks dan sel
volta ini dapat terselesaikan untuk memenuhi tugas yang harus
terselesaikan dan sebagai pelengkap pembelajaran yang akan kami
laksanakan.
Dalam laporan ini termuat berbagai percobaan kimia kelas X
semester II. Semoga hasil laporan yang kami buat mengenai beberapa
percobaan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Pada kesempatan ini juga, tak lupa kami mengucapkan banyak
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami sehingga
laporan ini dapat terselesaikan. Terutama kepada Tuhan, Orang Tua kami,
Guru pembimbing kami, dan kakak-kakak pembina percobaan yang kami
lakukan.
Akhir kata, kami harapkan agar hasil kerja kami ini dapat memberikan
manfaat dan kemajuan pendidikan yang ada di Indonesia ini. Saran dan kritik
sangat kami harapkan untuk kemajuan laporan ini kedepannya.

Palembang, oktober 2014

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Proses penggunaan arus listrik untuk menghasilkan reaksi kimia
disebut dengan sel eektrolisis. Dalam sel volta, reaksi redoks spontan
digunakan sebagai sumber listrik. Sel elektrolisis merupakan kebalikan dari
sel volta. Dalam sel elektrolisis, listrik digunakan untuk melangsungkan
reaksi redoks tak spontan. Arus listrik ini bisa berasal dari sel Volta. Dalam
setiap ketentuan reaksi elektrolisis terjadi persaingan antarspesi (ion atau
molekul) untuk mengalami reaksi reduksi atau reaksi oksidasi. Setiap zat
yang mempunyai kemampuan reduksi besar akan mengalami reaksi reduksi
dan setiap zat yang mempunyai kemampuan oksidasi besar akan mengalami
oksidasi. Untuk lebih memahami sel elektrolisis, perlu dilakukan suatu
percobaan. Percobaan ini dilatarbelakangi oleh standar kompetensi siswa,
dimana siswa mampu menyelidiki bagaimana terjadinya proses elektrolisis
pada berbagai zat, serta dengan adanya percobaan ini siswa menjadi
mengetahui pengaruh dari elektrode terhadap hasil reaksi.
b. Tujuan
1. Mengamati reaksi redoks spontan
2. Menentukan beda potensial sel volta

BAB II
PEMBAHASAN

Reaksi kimia yang disertai perubahan bilangan oksidasi disebut reaksi


redoks. Setiap reaksi redoks terdiri atas setengah reaksi reduksi dan setengah
reaksi oksidasi. Reduksi adalah penurunan bilangan oksidasi atau penyerapan
electron, sedangkan oksidasi adalah kenaikan bilangan oksidasi atau pelepasan
electron. Reaksi redoks ada yang berlangsung spontan, ada juga yang tidak
spontan.
Reaksi redoks merupakan gabungan dari dua reaksi, yaitu reaksi reduksi dan
reaksi oksidasi. Dalam reaksi redoks, proses oksidasi dan reduksi terjadi bersamaan.
Artinya, pada suatu reaktan mengalami oksidasi, maka reaktan lainnya akan
mengalami reduksi. Ada tiga konsep yang digunakan, yaitu pengikatan pelepasan
oksigen, perpindahan elektron, dan perubahan bilangan oksidasi. Pengikatan dan
pelepasan oksigen didasarkan pada kemampuan gas oksigen untuk bereaksi
dengan berbagai unsur membentuk suatu oksida. Berdasarkan konsep perubahan
bilangan oksidasi, oksidasi terjadi jika dalam reaksinyazat mengalami penurunan
bilangan oksidasi.
Konsep reduksi dan oksidasi (redoks) berdasarkan pengikatan dan pelepasan
oksigen, penyerahan dan penerimaan elektron, serta peningkatan dan penurunan
bilangan oksidasi. Reaksi reduksi-oksidasi merupakan reaksi yang berlangsung pada
proses-proses elektrokimia, yaitu proses kimia yang menghasilkan arus listrik dan
proses kimia yang menggunakan arus listrik.
Reaksi redoks adalah gabungan dari reaksi reduksi dan reaksi oksidasi yang
berlangsung bersamaan. Tidak ada peristiwa pelepasan elektron (reaksi oksidasi)
tanpa disertai peristiwa penangkapan elektron (reaksi reduksi). Reaksi redoks dapat
berlangsung spontan maupun tidak spontan.
Reaksi redoks antara logam dan asam berlangsung spontan bergantung pada
mudah atau sukarnya logam itu mengalami oksidasi (kuat atau lemahnya sifat
reduktor).Alessandro Volta melakukan eksperimen dan berhasil menyusun
deretkeaktifan logam atau deret potensial logam yang dikenal dengan deret Volta.
Li K Ba Ca Na Mg Al Nu Zn Cr Fe Cd Co Ni Sn (H) Cu Ag Hg Pt Au
Semakin ke kiri suatu unsur dalam deret Volta, sifat reduktornya semakin kuat.
Artinya, suatu unsur akan mampu mereduksi ion-ion unsur di sebelah kanannya,
tetapi tidak mampu mereduksi ion-ion dari unsur di sebelah kirinya.

Reaksi kimia adalah suatu reaksi antara senyawa kimia atau unsur
kimia yang melibatkan perubahan struktur dari molekul, yang umumnya
berkaitan dengan pembentukan dan pemutusanikatan kimia.
Ciri ciri reaksi kimia :
- Terbentuknya endapan
- Terbentuknya gas
- Terjadinya perubahan warna
- Terjadinya perubahan suhu atau temperatur
(www.wikipedia.com)
Redoks adalah reaksi kimia yang disertai perubahan bilangan oksidasi. Setiap
reaksi redoks terdiri atas reaksi-reaksi reduksi dan reaksi oksidasi. Reaksi oksidasi
adalah reaksi kimia yang ditandai kenaikan bilangan oksidasi. Sedangkan reaksi
reduksi adalah reaksi kimia yang ditandai penurunan bilangan bilangan oksidasi.

Bilangan oksidasi didefinisikan sebagai muatan yang dimiliki suatu atom jika
seandainya elektron diberikan kepada atom yang lain yang keelektronegatifannya
lebih besar. Jika kedua atom diberikan maka atom yang keelektronegatifannya lebih
kecil lebih positif sedangkan atom yang keelektronegatifannya lebih besar memiliki
bilangan oksidasi negatif.
Redoks sering dihubungkan dengan terjadinya perubahan warna lebih sering
dari pada yang diamati dalam reaksi asam-basa. Reaksi redoks melibatkan
pertukaran elektron dan selalu terjadi perubahan bilangan oksidasi dari dua atau
lebih unsur dari reaksi kimia. Persamaan reaksi redoks agak lebih sulit ditulis dan
dikembangkan dari persamaan reaksi biasa yang lainnya karena jumlah zat yang
dipertukarkan dalam reaksi redoks sering kali lebih dari satu. Sama halnya dengan
persamaan reaksi lain, persamaan reaksi redoks harus disetimbangkan dari segi
muatan dan materi, penyeimbangan materi biasanya dapat dilakukan dengan
mudah sedangkan penyeimbangan muatan agak sulit. Karena itu perhatian harus
dicurahkan pada penyeimbangan muatan. Muatan berguna untuk menentukan
faktor stoikiometri. Menurut batasan umum reaksi redoks adalah suatu proses serah
terima elektron antara duasystem redoks.
Oksidator dan Reduktor
Senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan untuk mengoksidasi senyawa
lain dikatakan sebagai oksidatif dan dikenal sebagai oksidator atau agen oksidasi.
Oksidator melepaskan elektron dari senyawa lain, sehingga dirinya sendiri
tereduksi. Oleh karena ia "menerima" elektron, ia juga disebut sebagai penerima
elektron. Oksidator bisanya adalah senyawa-senyawa yang memiliki unsur-unsur
dengan bilangan oksidasi yang tinggi (seperti H2O2, MnO4, CrO3, Cr2O72, OsO4) atau
senyawa-senyawa yang sangat elektronegatif, sehingga dapat mendapatkan satu
atau dua elektron yang lebih dengan mengoksidasi sebuah senyawa
(misalnya oksigen, fluorin, klorin, dan bromin).
Senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan untuk mereduksi senyawa lain
dikatakan sebagai reduktif dan dikenal sebagai reduktoratau agen reduksi. Reduktor
melepaskan elektronnya ke senyawa lain, sehingga ia sendiri teroksidasi. Oleh
karena ia "mendonorkan" elektronnya, ia juga disebut sebagai penderma elektron.
Senyawa-senyawa
yang
berupa
reduktor
sangat
bervariasi.
Unsurunsur logamseperti Li, Na, Mg, Fe, Zn, dan Al dapat digunakan sebagai reduktor.
Logam-logam ini akan memberikan elektronnya dengan mudah. Reduktor jenus
lainnya adalah reagen transfer hidrida, misalnya NaBH4 dan LiAlH4), reagen-reagen
ini digunakan dengan luas dalamkimia organik,terutama dalam reduksi senyawasenyawa karbonil menjadi alkohol. Metode reduksi lainnya yang juga berguna
melibatkan
gas
hidrogen
(H2)
dengan katalis paladium, platinum,
atau nikel, Reduksi katalitik ini utamanya digunakan pada reduksi ikatan rangkap
dua ata tiga karbon-karbon.
Cara yang mudah untuk melihat proses redoks adalah, reduktor mentransfer
elektronnya ke oksidator. Sehingga dalam reaksi, reduktor melepaskan elektron dan
teroksidasi, dan oksidator mendapatkan elektron dan tereduksi. Pasangan oksidator
dan reduktor yang terlibat dalam sebuah reaksi disebut sebagai pasangan
redoks (http://id.wikipedia.org/wiki/Redoks).
Formaldehid
Formaldehid termasuk aldehida yang dibuat dengan mereaksikan uap alkohol dan
udara dengan katalis tembaga yang dipanaskan. Aldehida merupakan senyawa
turunan alkana yang mengandung gugus aldehida dengan rumus umum

Sifat-sifat aldehid : senyawa-senyawa aldehid dengan C atom rendah (1-5) larut


dalam air, sedangkan yang memiliki jumlah atom C lebih besar dari 5 sukar larut
dalam air.

Deret volta

Merupakan urutan unsur-unsur yang di susun berdasarkan data potensial reduksi.


Berikut ini unsur yang dapat di hapal berdasarkan urutan potensial reuksinya.
LI K Ba Ca Na Mg Al Mn Zn Fe Ni Sn Pb(H)
Cu Hg Ag Pt Au

Esel

Esel = E+ - EE+ = potensial sel yang lebih positif


E- = potensial sel yang lebih negative
SEL VOLTA : Reaksi kimia -> listrik. Katoda (+), Anoda (-).
Aliran elektrolit dari Anoda ke Katoda
Katoda nya (+) mempunyai harga Ered lebih positif. Biasanya reaksi reduksi.
Anoda (-) mempunyai harga Ered lebih negatif. Biasanya reaksi reduksi.
Ada 3 cara untuk menghitung Esel, yaitu :
1. Reaksi sel lengkap
Contoh :
Ni2+ + 2e Ni

Cu2+ + 2e Cu E

= -0,25 volt (Anoda)


= +0,34 volt (Katoda)

K(+) red : Cu2+ + 2e Cu E


A(-) oks : Ni Ni2+ + 2e

= +0,34 volt
E

= +0,25 volt

___________________________________________
Redoks : Cu2+ + Ni Cu + Ni2+ Esel = 0,59 volt
2. Harga Esel dihitung langsung berdasarkan E

Esel = E

Katoda - E

red

Anoda

3. Diagram / Notasi Sel


B l B2+ ll A2+ l A

Esel = . Volt

Deret volta merupakan urutan yg disusun berdasarkan data potensial reduksi.


Li,K,Ba,Ca,Na,Mg,Al,Mn,(H2O),Zn,Cr,Fe,Ni,Sn,Pb,(H),Cu,Hg,Ag,Pt,Au.

Elektrokimia adalah ilmu yang mempelajari aspek elektronik dari reaksi kimia. Elemen
yang digunakan dalam reaksi elektrokimia dikarakterisasikan dengan banyaknya elektron yang
dimiliki. Elektrokimia secara umum terbagi dalam dua kelompok, yaitu sel galvani dan sel
elektrolisis.Suatu sel elektrokimia terdiri dari dua elektroda, yang disebut katoda dan anoda,

dalam larutan elektrolit. Pada elektroda katoda terjadi reaksi reduksi. Sedangkan reaksi oksidasi
terjadi pada anoda. Sel elektrokimia dapat dibagi menjadi
1. Sel Volta / Sel Galvani merubah energi kimia menjadi listrik
Contoh : batere (sel kering) dan accu
2. Sel Elektrolisis merubah energi listrik menjadi energi kimia
Contoh : penyepuhan, pemurnian logam
Dalam sel volta, reasi redoks spontan digunakan sebagai sumber arus listrik. Sel
elektrolisis merupakan kebalikan dari sel volta. Dalam sel elektrolisis, listrik digunakan untuk
melangsungkan reaksi redoks yang tidak spontan.
Sel elektrolisis terdiri dari sebuah wadah, elektroda, elektrolit, dan sumber arus searah.
Elektron memasuki kutub negatif (katoda). Spesi tertentu dalam larutan menyerap elektron dari
katoda dan mengalami reduksi. Sementara itu, spesi lain akan melepas elektron di anoda dan
mengalami oksidasi. Jadi sama seperti pada sel volta, reaksi di katoda adalah reduksi, dan reaksi
di anoda adalah oksidasi. Akan tetapi muatan elektrodanya berbeda. Pada sel volta, katoda
bermuatan positif, dan anoda bermuatan negatif. Pada sel elektrolisis, katoda bermuatan negatif
dan anoda bermuatan positif. Deret volta diurutkan berdasarkan urutan potensial reduksi semakin
ke kiri, semakin kecil sehingga sifat pereduksi semakin kuat (logam semakin reaktif atau
semakin mudah meengalami oksidasi).
Potensial elektroda standar suatu elektroda adalah daya gerak listrik yang timbul karena
pelepasan elektron dari reaksi reduksi. Karena itu, potensial elektroda standar sering juga disebut
potensial reduksi standar. Potensial ini relatif karena dibandingkan dengan elektroda hidrogen
sebagai standar. Nilai potensial elektroda standar dinyatakan dalam satuan Volt (V). Untuk
elektroda hidrogen, E0 nya adalah 0,00V.
- Bila Eo > 0 cenderung mengalami reduksi (bersifat oksidator)
- Bila Eo < 0 cenderung mengalami oksidasi (bersifat reduktor)
Potensial standar sel adalah nilai daya gerak listrik sel yang besarnya sama dengan selisih
potensial reduksi standar elektroda yang mengalami reduksi dengan potensial reduksi standar
elektroda yang mengalami oksidasi.
Eosel = Eoreduksi - Eooksidasi

BAB III
HASIL PRAKTIKUM

REAKSI REDOKS
Alat dan Bahan :
1. Larutan C4SO4 0,1 M
2. Larutan ZnSO4

0,1 M

3. Logam Zn
4. Logam Cu
5. Gelas Kimia
Cara Kerja :
Siapkan 2 gelas kimia ukuran 500 ml
a.

Masukkan kurang lebih 50 ml larutan 0,1 M kedalam gelas kimia 1, kemudian


masukkan lempeng logam zink. Ukur suhu awal & suhu selama reaksi berlangsung

b. Masukkan kurang lebih 50 ml larutanZnSO4 0,1 M kedalam gelas kimia 2, kemudian


masukkan sepotong lempeng logam tembaga. Perhatikan & catat perubahan yg
terjadi.
Hasil Pengamatan :
1. Logam zink dengan larutan CuSO4
a. Warna lempeng logam zink : putih
b. Warna logam zink setelah dimasukkan kedalam larutan tembaga (II) sulfat :
Cokelat
c. Suhu larutan : suhu awalnya 28C dan suhu akhirnya : 27C
d. Bagaimana warna larutan tembaga (II) sulfat : awalnya berwarna biru setelah
dimasukkan logam zink lama kelamaan menjadi bening atau kandungan
larutannya hilang
e. Pengamatan lainnya : Larutan ini terjadi reaksi dengan ditandai munculnya
gelembung-gelembung kecil

2. Logam tembaga dengan larutan zink sulfat / ZnSO 4 adakah perubahan yang
dapat diamati : ada yaitu perubahan lempeng yang awalnya kekuningan
menjadi kecoklatan
3. Pertanyaan
1. Reaksi manakah yang berlangsung spontan : Seng direaksikan dengan
tembaga sulfat (CuSO4) : warna seng berubah menjadi hitam, maka reaksi
positif / spontan
2. Apakah reaksi yang spontan tersebut reaksi eksoterm atau
endoterm : Seng bersifat endoterm karena seng bersifat oksidasi

3. Tuliskan persamaan reaksi spontan:


Cu + ZnSO4
Cu Cu2+ + 2e

= -0,34 volt

Zn2+ + 2e Zn

= -0,763 volt

Esel = -1,103 (tidak spontan)


Zn + CuSO4
Zn Zn2+ + 2e

= +0,763 volt

Cu2+ + 2e Cu

= +0,34 volt

Esel = +1,103 (spontan)


4 . Kesimpulan :
Warna logam zink awalnya berwarna putih setelah dilarutkan dalam CuSO 4 berubah
menjadi kecoklatan. Dan larutan tersebutpun awalnya berwarna biru berubah
menjadi bening atau kandungan dalam larutan tersebut lama-kelamaan menjadi
pudar. Seng direaksikan dengan tembaga sulfat (CuSO4) : warna seng berubah
menjadi hitam, maka reaksi positif / spontan. Mereduksi Tembaga ditambahkan
dengan seng sulfat (ZnSO4). Tidak spontan/tidak terjadi reaksi. Seng bersifat
endoterm karena seng bersifat oksidasi. Pada logam Zn mengalami
REAKSI REDOKS SPONTAN bila dimasukan pada larutan CuSO 4 di karenakan pada
logam Zn mengandung sel elektrokimia Positif (+) dan terjadi proses oksidasi dan
reduksi (REDOKS).
-

Pada logam Cu (tembaga) mengalami REAKSI REDOKS TIDAK SPONTAN bila


dimasukan pada larutan ZnSO4 di karenakan logam Cu mengandung sel
elektokimia negative (-).

SEL VOLTA
Alat dan Bahan

1. Gelas Kimia 100ml 2 buah


2. Lempeng Cu
3. Lempeng Zn
4. Larutan CuSO4
5. Larutan ZnSO4
6. Batu batrai/kabel
7. Penjepit buaya
8. Jembatan Garam dengan agar-agar

Cara Kerja
1.

Memasukkan larutan CuSO4 dan ZnSO4 kedalam gelas kimia 100 ml lalu
memasang jembatan garam diantara kedua larutan dan memastikan bahwa ujung
jembatang garam tercelup kedalam larutan.

2.

Menjepitkan jepitan buaya pada lempeng Cu dan lempengan Zn, lalu diberi aliran
listrik dari batu batrai dan mengamati pergerakan jarum.

3.

Melakukan percobaan yang sama pada larutan yang lain dengan cara yang sama.

4.

Mencatat hasil pengamatan pada tabel

Hasil pengamatan
Dari hasil percobaan yang dilakukan
kelompok kami, yaitu reaksi antara :
ZnSO4 dan CuSO4, berdasarkan
pengamatan , hasil yang ditunjukkan pada
voltmeter pada reaksi ini yaitu 1,1 Volt. Dan
hasil tersebut sesuai dengan teori EOSel =
E0Katode - E0Anode.
Sel volta : Reaksi kimia
Cu2+(ag) + 2eZn + 2e-

Cu
Zn2+

Reaksi listrik
E = +0,34
E = -0,76
Zn : Anode

2+

Cu + Zn
= +1,10volt

Cu + Zn

2+

Esel

Cu : Katode

Esel = E reduksi - Eoksidasi


Esel = Ecu2+| cu - E

zn2+

| zn

= (+0,34V)-(-0,76V) = +110 V
Zn + CuSO4 --> bereaksi karena Zn lebih ke kiri dibanding Cu
Cu + ZnSO4-->tidak dapat bereaksi karena Cu lebih ke kanan dibanding Zn
Hasilnya positif berarti reaksinya spontan
Kesimpulan :
ZnSO4 dan CuSO4, berdasarkan pengamatan , hasil yang ditunjukkan pada
voltmeter pada reaksi ini yaitu 1,1 Volt. Dan hasil tersebut sesuai dengan
teori EOSel = E0Katode - E0Anode.. dan reaksinya spontan.