Anda di halaman 1dari 2

FUROSEMIDE + PHENYTOIN

Efek diuretik furosemide dapat berkurang sebanyak 50% oleh fenitoin.


Furosemide adalah diuretika kuat yang membuang kelebihan cairan dari tubuh, digunakan
untuk mengobati tekanan darah tinggi dan kegagalan jantung kongestif. Furosemide
meningkatkan pengeluaran air, natrium, klorida, kalium dan tidak mempengaruhi tekanan
darah yang normal.
Fenitoin merupakan obat golongan antiepilepsi. Mekanisme kerja utamanya pada korteks
motoris yaitu menghambat penyebaran aktivitas kejang. Kemungkinan hal ini disebabkan
peningkatan pengeluaran natrium dari neuron dan fenitoin cenderung menstabilkan ambang
rangsang terhadap hipereksitabilitas yang disebabkan perangsangan berlebihan atau
kemampuan perubahan lingkungan di mana terjadi penurunan bertahap ion natrium melalui
membran. Ini termasuk penurunan potensiasi paska tetanik pada sinaps.

Clinical Evidence
Pada 30 pasien yang diberikan fenitoin dengan dosis 200 mg hingga 400 mg setiap hari
dengan fenobarbital 60 mg sampai 180 mg sehari, diuresis maksimal dalam respon untuk
furosemide 20 atau 40 mg terjadi setelah 3 sampai 4 jam bukannya biasa 2 jam. Total diuresis
berkurang 32% untuk dosis 20 mg, 49% untuk dosis 40 mg dan 50% untuk intravena
furosemide 20 mg. Beberapa pasien juga diberikan carbamazepine, pheneturide,
ethosuximide, diazepam atau chlordiazepoxide. 1 Studi lain di 5 subyek sehat yang diberikan
fenitoin 100 mg tiga kali sehari selama 10 hari menemukan bahwa kadar serum maksimum
furosemide 20 mg, diberikan secara oral atau intravena, berkurang 50%.

Mechanism
Tidak diketahui. Salah satu pendapat mengatakan bahwa fenitoin menyebabkan perubahan
aktivitas natrium pompa jejunum, yang mengurangi penyerapan furosemide, tapi interaksi
juga terjadi ketika furosemide diberikan secara intravena. Pendapat lain, berdasarkan in vitro
atau hewan uji , adalah bahwa fenitoin menghasilkan sebuah 'cairan membran' yang
menghambat pengangkutan furosemide ke situs aktif, atau fenitoin antagonises terhadap efek
diuretik pada furosemide dengan mengganggu mekanisme natrium pompa tubulus ginjal.

Importance and Management


Informasi terbatas tetapi interaksi ditegakkan. Sebuah respon diuretik berkurang diharapkan
dengan adanya fenitoin. Peningkatan dosis mungkin diperlukan.

Reference
1.Ahmad S. Renal insensitivity to frusemide caused by chronic anticonvulsant therapy. BMJ
(1974) 3, 6579.
2.Fine A, Henderson IS, Morgan DR, Tilstone WJ. Malabsorption of frusemide caused by
phenytoin. BMJ (1977) 2, 10612.
3.Harkness, R. Interaksi Obat. ITB (1989). Hlm: 125.
4.Srivastava RC, Bhise SB, Sood R, Rao MNA. On the reduced furosemide response in the
presence of diphenylhydantoin. Colloids and Surfaces (1986) 19, 838.
5.Tongia SK. Antagonism of frusemide diuresis by diphenylhydantoin sodium. Indian J Med
Res (1981) 74, 5724.