Anda di halaman 1dari 29

Nama Kelompok

Jumayyah
Nissa Febriani Ariesta
Nindya Octaviany
Shinta Dumaris
Dwita Cahyaningsih
Putri Ayu Kilau Erawati
Grace Dwipa Yanti
Dyah Hanifah

1424090128
1424090212
1424090237
1424090360
1424090209
1424090231
1424090233
1424090245

Perspektif teoritis mengenai Agresi : pencarian terhadap akar dari


kekerasan
Mengapa manusia melakukan kekerasan kepada orang lain ? Apa yang
menyebabkan mereka menyerang, secara brutal, sesama manusia lainnya ?

Peran faktor biologis : dari insting hingga prespektif psikologi


evolusioner
Agresi manusia adalah pandangan bahwa manusia diprogram
sedemikian rupa untuk melakukan kekerasan oleh sifat alamiah mereka.
-Sigmund freud berpendapat bahwa agresi terutama timbul dari keinginan
untuk mati (death wish/thanatos) yang kuat yang dimiliki oleh semua orang.
Insting ini awalnya memiliki tujuan self destruction tetapi segera arahnya
diubah keluar, kepada orang lain.

-Konrad Lorenz berpendapat bahwa agresi muncul terutama dari


insting berkelahi (fighting instinct) bawaan yang dimiliki oleh
manusia dan spesies lainnya.
Remaja pria lebih cenderung terlibat dalam agresi terhadap
pria lain dari pada terhadap wanita lain, untuk wanita, perbedaan
seperti ini tidak terjadi. Penemuan seperti ini menggambarkan
bahwa faktor genetis atau biologis mungkin memang memainkan
peran tertentu dalam agresi manusia, meskipun dalam cara yang jauh
lebih kompleks dari pada yang diungkapkan oleh freud, Lorenz dan
ahli-ahli terdahulu lainnya.

Teori Dorongan : motif untuk menyakiti orang lain


Freud dan Lorenz berpandangan bahwa agresi muncul dari suatu
dorongan (drive) yang ditimbulkan oleh faktur-faktor eksternal
untuk menyakiti orang lain.
Hipotesis frustasi-agresi (frustration-aggression hypothesis)
menurut pandangan ini, frustasi mengakibatkan terangsangnya suatu
dorongan yang tujuan utamanya adalah menyakiti beberapa orang
atau objek-terutama yang dipersepsikan sebagai penyebab frustasi.

Teori modern atas agresi : memperhitungkan proses


belajar, kognisi,suasana hati, dan keterangsangan
model umum afektif agresi (general affective aggression model) atau
GAAM diajukan oleh Anderson
menurut teori ini agresi dipicu oleh banyak sekali variabel input-aspekaspek dari situasi saat ini atau kecenderungan yang dibawa individu
ketika menghadapi situasi tertentu.
Menurut GAAM, variabel situasional dan individual yang beragam ini
kemudian dapat menimbulkan agresi terbuka melalui pengaruh masingmasing terhadap tiga proses dasar :
- keterangan (arousal)
- keadaan afektif (affective states)
- kognisi (cognitions)

Determinan dari Agresi Manusia : Sosial, Pribadi,


Situasional
Para peneliti telah mengungkapkan nahwa perilaku seperti itu
muncul dari banyak variable sosial,pribadi dan situasional.

Teknik mempelajari Agresi manusia:


Menyakiti tanpa Risiko?
Psikolog sosial yang tertarik mempelajari agresi manusia
menganggap alat buss mesin agresi (aggressiom machine),sebagai
sebuah alat penelitian yang berharga.

Determinan Sosial: dari Agresi: Frustasi,Provokasi,Agresi


yang dipindahkan,Kekerasan Media dan Keterangsangan
yang meningkat
1.

Frustasi

Teori dorongan atas agresi (Dollard dkk., 1939)


Revisi dari hipotesis frustasi-agresi Berkowtz (1989,1993)
Fungsi frustasi (Floger&Baron 1996)

2. PROVOKASI LANGSUNG : KETIKA AGRESI


MENGHASILKAN AGRESI.
Agresi adalah hasil provokasi fisik atau verbal dari orang lain. Ketika kita
sedang menerima suatu bentuk agresi dari orang lain kritik yang menurut
kita tidak adil, ungkapan sakartis, atau kekerasan fisik- kita jarang
mengalah. Sebaliknya kita cenderung untuk membalas, memberikan agresi
sebanyak yang kita terima atau mungkin sedikit lebih, terutama jika kita
merasa bahwa orang lain tersebut bermaksud menyakiti kita.

3. AGRESI YANG DIPINDAHKAN: DAMPAK DARI


PROVOKASI PEMICU YANG SEPELE
Hal ini mengacu kepada apa yang disebut oleh pencipta agresi sebagai
agresi yang dipindahkan (displaced agression)agresi terhadap seseorang
yang bukan sumber dari provokasi yang kuat. Psikologi sosial menyebut
reaksi tersebut sebagai contoh dari agresi dipindahkan yang dipicu
(triggered displaced aggression): suatu peristiwa pemicu ringan yang
ditimbulkan oleh seseorang mengakibatkan orang tersebut menjadi target
dari agresi dipindahkan yang kuat agresi yang kuat datang sebagai
kejutan pada orang tersebut.

PEMAPARAN TERHADAP KEKERASAN DI MEDIA: DAMPAK


DARI MELIHAT AGRESI
Sebuah hasil penelitian menyatakan Pemaparan terhadap
kekerasan di media mungkin memang merupakan salah satu faktor yang
berkontribusi pada tingginya tingkat kekerasan di negara-negara
dimana materi-materi tersebut dilihat oleh sejumlah besar orang

Dampak Pemaparan terhadap kekerasan di media:

Individu mungkin belajar cara baru untuk melakukan agresi dari


Copycat crimes, dimana suatu kejahatan yang dilaporkan media
kemudian ditiru oleh orang lain.
Dampak lainnya dari menonton kekerasan di media meliputi apa yang
dikenal sebagai efek desensitisasi. Setelah menonton banyak adegan
kekerasan, individu akan menjadi bebal pada kesakitan dan penderitaan
orang lain.
Dampak ketiga juga dapat terjadi karena menonton adegan kekerasan
dapat menghidupkan pikiran hostile utama, sehingga pikiran itu masuk
ke ingatan dengan lebih segera pemikiran hostile tersebut menjadi
lebih mudah diakses oleh pikiran yang sadar.

Keterangsangan yang meningkat : EMOSI, KOGNISI,


dan AGRESI.
Dalam berbagai kondisi, keterangsangan yang meningkat apapun
sumbernya dapat meningkatkan agresi sebagai respons terhadap
provokasi, frustasi, dan faktor-faktor lain.Bahkan dalam berbagai
eksperimen, keterangsangan yang berasal dari sumber yang bervariasi
dapat meningkatkan agresi.

Mengapa hal ini terjadi? teori transfer eksitasi (excitation transfer


theory)
Keterangsangan yang dihasilkan dalam satu situasi dapat tersisa dan
memperkuat reaksi emosional yang timbul dalam situasi berikutnya.

Keterangsangan seksual dan agresi :


Hubungan emosional dan kognitif.
Selain adanya hubungan afektif atau emosional di
antara keterangsangan seksual dengan agresi, penelitian yang
lebih baru menyatakan bahwa kemungkinan terjadi hubungan
kognitif juga.

Apakah keterangsangan seksual dan agresi berhubungan?


Keterangsangan seksual dan agresi bersifat
curvilinear. Keterangsangan seksual ringan mengurangi agresi
hingga tingkat yang kebih rendh daripada yang ditunjukkan
oleh tidak adanya keterangsangan, sedangkan keterangsangan
seksual yang lebih tinggi malah meningkatkan agresi diatas
tingkat ketiadaan keterangsangan

Penyebab Pribadi dari Agresi


Apakah beberapa orang dipicu untuk melakukan agresi oleh karakteristik
pribadi mereka?
Observasi informal menunjukkan bahwa hal ini terjadi. Ada beberapa
individu yang terlihat jarang kehilangan kendali atau jarang terlibat dalam
tindakan agresif, sementara ada orang-orang lain yang tampak selalu kehilangan
kendali, yang berpotensi memiliki konsekuensi serius.
Beberapa trait atau karakteristik yang tampak memainkan peran penting dalam
agresi :
Pola perilaku Tipe A
Sebuah pola yang terutama meliputi tingkat kompetitif, urgensi waktu, dan
hostility yang tinggi.

Pola perilaku Tipe B


Suatu pola yang tidak meliputi karakteristik-karakteristik yang berhubungan
dengan pola perilaku tipe A.

Kesimpulannya dari karakteristik yang dimiliki oleh pola


perilaku tipe A dan pola perilaku tipe B
Tipe A adalah individu yang benar-benar agresi hostile
(hostile aggression)agresi dimana tujuan utamanya adalah
untuk melakukan suatu kekerasan pada korban, sedangkan
Tipe B adalah individu yang agresi instrumental (instrumental
aggression)agresi yang tujuan utamanya bukan untuk
menyakiti korban tetapi untuk mencapai tujuan lain.

Mempersepsikan Maksud Jahat dalam Diri Orang


Lain: Bias Atribusional Hostile
Bias atribusional hostile: kecenderungan untuk mempersepsikan
maksud atau motif hostile dalam tindakan orang lain ketika
tindakan ini dirasa ambigu.
Dengan kata lain orang yang memiliki bias atribusional
hostile yang tinggi jarang mempresepsikan perilaku hostile sebagai
ketidaksengajaan, namun segera mengasumsikan bahwa tindakan
tersebut disengaja, dan mereka segera beraksi untuk
melawan/membalas
Hasil dari banyak penelitian menegaskan dampak potensial dari
faktor ini , jadi tampak bahwa bias atribusional hostile merupakan
salah satu faktor pribadi (perbedaan individual) yang penting dalam
terjadinya agresi.

Narsisme, Ancaman Ego, dan Agresi : Bahaya


dari Keinginan untuk Menjadi Superior
Penelitian yang dilakukan Bushman dan Baumeister (1998),
menyatakan bahwa orang dengan narsisme yang tinggi, bereaksi
dengan tingkat agresi yang sangat tinggi dengan penghinaan orang
lain.
Mengapa?
Karena orang-orang tsb memiliki keraguan yang mengganggu
mengenai kebenaran ego mereka yang besar, sehingga bereaksi
marah pada siapapun yang mengancam untuk menjatuhkan mereka.

Perbedaan Gender dalam Agresi: Apakah


Memang Ada?
Dalam beberapa penelitian sejumlah perilaku agresif, pria
cenderung lebih banyak melakukan dibandingkan wanita (Harris, 1994,
1996).
Namun di sisi lain, kadar perbedaan ini tampak bervariasi pada
berbagai situasi:
Pertama, perbedaan gender dalam agresi menjadi lebih besar dengan
tidak adanya provokasi daripada ketika ada provokasi.
Kedua, ukuran dan bahkan arah dari perbedaan gender dalam agresi
tampaknya sangat bervariasi sesuai dengan tipe agresi yang terkait.
Agresi langsung
Agresi tidak langsung
Pria dan wanita juga sangat berbeda dalam satu jenis lain dari agresi,
yaitu pemaksaan seksual

Determinan Situasional dari Agresi:


Dampak Suhu Udara Tinggi dan Konsumsi Alkohol
Selain sering dipengaruhi oleh faktor sosial, dan karakteristik
pribadi, agresi juga dipengaruhi oleh faktor situasi/konteks
Suhu udara yang tinggi mengurangi agresi baik pada orang yang
diprovokasi maupun tidak. Agresi memang meningkat selagi suhu udara
meningkat sampai pertengahan 80 f, tetapi hanya pada sampai titik
tertentu. (Baron&Bell, 1975; Bell&Baron, 1976)
Dipercaya bahwa beberapa orang setidaknya menjadi lebih agresif
ketika mengonsumsi alkohol. Namun ternyata, orang yang memiliki
agresor tinggi menjadi sedikit kurang agresif dalam pengaruh alkohol,
sedangkan agresor rendah lebih signifikan menjadi lebih agresif.
a.

b.

INTIMIDASI
Intimidasi (bullying) adalah suatu pola perilaku dimana satu individu di
pilih sebagai target dari agresi berulang oleh satu orang atau lebih
orang-orang yang menjadi target(korban) biasanya memiliki kekuatan
yang lebih lemah di bandingkan mereka orang-orang yang melakukan
agresi (pelaku)

Karakteristik dari pengintimidasi dan korban


Ada dua fakta mendasar pertama,penelitian pada intimidasi
mengindikasikan bahwa relative sedikit anak-anak yang murni menjadi
korban atau murni menjadi pelaku dari intimidasi melainkan, sejumlah
besar anak memainkan kedua peran tersebut mereka mengintimidasi
beberapa orang dan sebaliknya, intimidasi oleh orang-orang lain
Pelaku cendrung untuk mempersepsikan orang lain berlaku sesuatu
karna mereka merupakan orang seperti itu atau karna mereka
bermaksud bertindak dalam cara itu (Smorti&Ciucci,2000) sebaliknya
korban cendrung untuk mempersepsikan orang lain berlaku sesuatu
setidaknya sebagian dari mereka sedang merespons pada kondisi
dimana mereka sedang merespons pada kondisi dari suatu peristiwa
eksternal,termasuk bagaimana orang lain telah memperlakukan
mereka

Mengurangi terjadinya intimidasi


Intimidasi memiliki akibat yang merusak pada korbankorbannya. Bahkan,terdapat beberapa kasus di mana anak-anak yang
menjadi korban intimidasi secara brutal dan berulang kali oleh temanteman kelasnya benar benar melakukan bunuh diri. Terlihat bahwa
murid-murid sendiri dapat menjadi alat yang efektif dalam
mengurangi intimidasi ketika anak-anak di latih untuk tidak
mengintervensi dari pada hanya berdiam diri saat intimidasi
terjadi ,Guru juga dapat memainkan peran yang sangat menolong
dalam mengurangi intimidasi namun guru-guru seringkali tidak
menangkap arti penting dari rendahnya self esteem dalam intimidasi,
sehingga program yang di rancang untuk menarik perhatian guru pada
hal ini dapat sangat berguna.

Kekerasan di Tempat Kerja: Agresi pada Lingkup


Pekerjaan
Tempat kerja telah menjadi lokasi yang berbahaya di mana
pegawai yang marah seringkali menyerang atau bahkan menembak
satu sama lain, ada dua fakta lain yang harus dipertimbangkan
secara hati-hati:
Mayoritas kekerasan yang terjadi dalam setting pekerjaan dilakukan
oleh orang luar-orang yang tidak bekerja di sana tetapi memasuki
tempat kerja untuk merampok atau melakukan kejahatan lainnya.

Survei mengindikasikan bahwa ancaman kekerasan fisik atau


kekerasan yang sebenarnya dalam setting pekerjaan sebenarnya
agak jarang-bahkan, kemungkinan untuk terbunuh di tempat kerja
(oleh orang luar atau teman sejawat digabungkan) adalah sekitar 1
dalam 450.000 (walaupun angka ini cenderung lebih besar dalam
pekerjaan yang beresiko tinggi, misalnya supir taksi atau pekerjaan
polisi.

Analisis
yang
hati-hati
terhadap
respons
mereka
mengindikasikan bahwa kebanyakan agresi yang terjadi di tempat kerja
jatuh pada tiga kategori utama :
Ekspresi Hostility
Sabotase

: Tingkah laku yang simbolik


: Tingkah laku yang dirancang untuk menghambat atau
menyabotase kinerja target.
Agresi Terbuka : Tingkah laku yang biasa kita kenal sebagai
kekerasan di tempat kerja.

1.

2.

3.

Apa penyebab dari agresi di tempat kerja?


Satu hal yang muncul lagi dan lagi dalam penelitian mengenai topik ini
adalah ketidakadilan yang dipersepsikan. Ketika individu merasa bahwa mereka
telah diperlakukan secara tidak adil oleh orang lain dalam organisasi-atau oleh
organisasi itu sendiri-mereka mengalami perasaan marah yang intens dan sering
berusaha membalas dengan cara menyakiti orang lain yang menuntut mereka
bertanggung jawab.

Faktor lain yang tampak berperan dalam agresi di tempat


kerja berhubungan dengan perubahan yang terjadi baru-baru ini di
banyak tempat kerja, diantaranya adalah: pengurangan tenaga kerja,
pemecatan, dan peningkatan penggunaan pegawai paruh waktu.
Temuan-temuan seperti ini hanya bersifat korelasional, tetapi
karena pengurangan tenaga kerja, pemecatan, dan perubahanperubahan lain secara nyata menimbulkan perasaan negatif diantara
pegawai, tampaklah memungkinkan bahwa perubahan-perubahan ini
memang berkontribusi, melalui reaksi-reaksi tadi, untuk
meningkatkan agresi. Kekerasan di tempat kerja bukanlah bentuk
perilaku yang baru tau unik, melainkan hanyalah satu jenis agresi
yang terjadi dalam suatu setting tertentu.

Hukuman: Apakah Hukuman Merupakan Pencegahan


yang Efektif terhadap Kekerasan?
Hukuman mati merupakan isu yang kompleks, dan bukti-bukti
yang berhubungan dengannya campur aduk. Namun, apa yang bisa
kita lakukan adalah menunjukkan beberapa fakta relevan mengenai
penggunaan hukuman (punishment)-yaitu pemberian konsekuensi
yang menyakitkan yntuk mengurangi perilaku tertentu-sebagai suatu
teknik untuk mengurangi agresi.
Pertama-tama kita harus perhatikan bahwa, dilihat secara
keseluruhan, bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa hukuman
dapat berhasil dalam mencegah individu untuk terlihat dibanyak
bentuk perilaku.

Kondisi kondisi apa yang harus dipenuhi sehingga hukuman


dapat berhasil? Empat hal yang penting:
Harus segera-harus mengikuti tindakan agresif secepat mungkin.
Harus pasti-probabilitas bahwa hukuman akan menyertai agresi
haruslah sangat tinggi.
Harus kuat-cukup kuat untuk dirasa sangat tidak menyenangkan bagi
penerimanya.
Harus dipersepsikan oleh penerimanya sebagai justifikasi atau layak
diterima.
1.

2.

3.

4.

Katarsis: Apakah Mengekspresikan Perasaan Anda Secara


Tebuka Benar-Benar Bermanfaat?
Katarsis adalah pandangan bahwa menyediakan suatu kesempatan pada
orang yang sedang marah untuk mengekspresikan impuls-impuls agresif mereka
dalam cara yang relatif aman akan mengurangi tendensi mereka untuk terlibat dalam
bentuk agresi yang lebih berbahaya.
bagaimana dengan ide bahwa melakukan tindakan agresi yang aman
mengurangi kecenderungan terjadinya bentuk agresi yang lebih berbahaya? Hasil
dari penelitian pada isu ini bahkan lebih mematahkan semangat. Agresi terbuka
tampaknya tidak berkurang dengan:
Melihat adegan kekerasan di media.
Menyerang objek mati atau
Melakukan agresi verbal terhadap orang lain.
1.

2.

3.

temuan seperti ini semuanya menyatakan bahwa, berlawanan


dengan belief populer, katarsis bukan merupakan suatu alat yang sangat efektif
untuk mengurangi agresi. Dan perasaan-perasaan seperti ini dapat benar-benar
ditingkatkan jika individu berpikir mengenai orang tersebut ketika sedang terlibat
dalam aktivitas katarsis.

Intervensi Kognitif: Permintaan Maaf dan


Mengatasi Defisit Kognitif
Permintaan Maaf pengakuan kesalahan-kesalahan yang
meliputi permintaan ampun/maaf sering kali sangat
bermanfaat untuk mengurangi agresi. Sama halnya, alasanalasan yang baik (good excuses) yang merujuk pada faktorfaktor di luar kontrol pemberian alasan juga dapat efektif
dalam mengurangi amarah dan agresi terbuka dari orang-orang
yang telah di provokasi dalam kadar tertentu
Berikut adalah pribahasa tua : ketika emosi meningkat, akal
sehat menghilang. sebagaimana yang ditekankan oleh
Lieberman dan Greenberg (1999), ketika emosi sedang
terangsang, bisa jadi kita mengadopsi cara berfikir dimana kita
memproses informasi secara cepat dan gegabah. Hal ini
kemudian, dapat meningkatkan kemungkinan bahwa kita akan
kehilangan kendali pada orang lain.

Berdasarkan fakta-fakta ini, maka prosedur apapun yang dapat


menolong kita menghindari atau mengatasi defisit kognitif ialah
menggunakan teknik:
Preattribution mengatribusikan tindakan mengganggu yang
dilakukan orang lain pada penyebab yang tidak sengaja sebelum
provokasi benar-benar terjadi. Misalnya, sebelum bertemu
seseorang yang menurut anda mengesalkan, anda dapat
mengingatnya diri sendiri bahwa dia tidak bermaksud membuat
anda marah tingkah lakunya hanya merupakan hasil dari gaya
pribadi yang tidak sepantasnya.
Mencegah diri anda sendiri (orang lain) dari terhanyut pada
kesalahan sebelumnya baik yang nyata atau di imajinasikan. Dapat
melakukan ini dengan mengalihkan perhatian anda dalam cara
tertentu.

Teknik-teknik lain untuk Mengurangi Agresi

Pemaparan terhadap Model Nonagresif : Pertahanan yang


Menular. Jika pemaparan terhadap tindakan agresif yang dilakukan
oleh orang lain di media atau secara langsung dapat meningkatkan
agresi, tampaklah memungkinkan bahwa pemaparan terhadap
perilaku nonagresif menghasilkan dampak yang sebaliknya.
Pelatihan dalam Keterampilan Sosial : Belajar untuk memiliki
Hubungan Baik dengan Orang Lain. Banyak orang yang memberi
tanggapan agresif pada orang lain karena mereka tidak memiliki
keterampilan sosial misalnya, mereka tidak mengetahui bagaimana
caranya menengkan orang lain ketika orang lain tersebut marah,
dan mereka tidak tau bagaimana caranya menolak permintaan dalam
cara yang tidak membuat org lain marah.
Respons yang Tidak Tepat : Sulit untuk Tetap Marah Jika Anda
Tersenyum. Teknik respons yang tidak tepat adalah suatu teknik
untuk mengurangi agresi dimana individu dipaparkan pada kejadian
atau stimulus yang menyebabkan mereka mengalami keadaan afeksi
yang tidak tepat dengan kemarahan atau agresi