Anda di halaman 1dari 7

Ekstrimitas Bawah

Ekstrimitas bawah diamati untuk mendeteksi tanda-tanda tromboflebitis pascapartum, yang


merupakan suatu komplikasi yang serius. Wanita mempunyai faktor predisposisi tromboflebitis pada
ekstrimitas bawah selama kehamilan dari masa pascapartum awal karena penurunan aliran darah balik
vena dari tungkai dan meningkatnya kecenderungan pembekuan. Tekanan yang lama pada pembuluh
darah besar yang menyuplai tungkai yang disebabkan oleh mengejan pada tahap ekpulsi dapat juga
menjadi penyebab pembentukan trombosis.
Pengkajian pascapartum pada ekstrimitas bawah meliputi inspeksi ukuran, bentuk,
kesimetrisan, warna, edema, dan varises. Suhu dan pembengkakan dirasakan denganpalpasi. Tandatanda tromboflebitis adalah bengkak unilateral, kemerahan, panas, dan nyeri tekan, biasanya terjadi
pada betis. Trombosis pada vena femoralis menyebabkan nyeri dan nyeri tekan pada bagian distal
paha dan daerah popliteal. Tanda Homan, munculnya nyeri betis saat gerakan dorsofleksi
Pemeriksaan Laboratorium
Untuk mengkaji apakah ada anemia, pemeriksaan hitung darah lengkap, hematokrit, atau hemoglobin
dilakukan dalam 2 sampai 48 jam setelah persalinan. Karena banyaknya adaptasi fisiologis saat
wanita kembali kekeadaan sebelum hamil, nilai darah berubah setelah melahirkan (lihat bab.25).
dengan rata-rata kehilangan darah 400-500 Ml, penurunan 1 gram kadar hemoglobin atau 30% nilai
hematokrit masih dalam kisaran yang diharapkan. Penurunan nilai yang lebih besar disebabkan oleh
pendarahan hebat saat melahirkan, hemoragi, atau anemia pranatal (lihat tabel 27-3).
Selama 10 hari pertama pascapartum, jumlah sel darah putih dapat meningkat sampai
20.000/mm3 sebelum akhirnya kembali ke nilai normal (Bond,1993). Karena komponen selular lekosit
ini mirip dengan komponen selular selama infeksi, peningkatan ini dapat menutupi proses infeksi
kecuali jika jumlah sel darah putih lebih tinggi dari jumlah fisiologis.
TABLE 27-3
Nilai Hematologi Pascapartum
Nilai Darah

Nilai Normal Pascapartum

Hemoglobin
Hematokrit
Leukosit

10,0-11,4 g/dL
32%-36%
14.000-30.000/mm2

Penyimpangan dari Nilai yang


Diharapkan
<10,0 g/dL
<30%
>30.000 mm3

Identifikasi Faktor Risiko


Pengkajian keperawatan memberikan informasi tentang kemungkinan faktor-faktor resiko yang dapat
berkembang menjadi komplikasi. Yang paling banyak adalah infeksi dan hemoragi. Data tentang
kejadian yang terjadi selama kehamilan, persalinan, dan pelahiran dapat mewaspadakan perawat
terhadap klien yang berisiko mengalami komplikasi pascapartum. Multipara cenderung mengalami
pendarahan pascapartum yang lebih hebat. Resiko hemoragi meningkat pada kasus disertai uterus
yang berlebihan pada saat kehamilan akibat kehamilan multiple, hidramion, atau bayi besar
(makrosomia). Laperasi serviks, vagina, dan perineum merupakan predisposisi hemoragi dan infeksi
pada wanita. Persalinan lama menyebabkan kelelahan ibu dan dehidrasi membuat ibu berisiko
mengalami infeksi (lihat tabel 27-4).

Kehamilan resiko tinggi menandakan bahwa klien mungkin berisiko tinggi mengalami
komplikasi pascapartum. Kondisi seperti anemia, nutrisi yang kurang optimal, penyalagunaan zat, dan
penyakit yang telah ada (diabetes, hipertensi akibat kehamilan, penyakit jantung, penyakit sistem
perkemihan dan ginjal) dihubungkan dengan berbagai masalah pascapartum.
Pengkajian Psikososial
Pengkajian faktor emosional, perilaku, dan sosial pada masa pascapartum memungkinkan perawat
mengidentifikasi kebutuhan ibu dan keluarga terhadap dukungan, penyuluhan, dan bimbingan
antisipasi, respons mereka terhadap pengalaman kehamilan dan persalinan dan perawatan
pascapartum; dan faktorTABEL 27-4
Faktor Resiko Pascapartum
Faktor Resiko
Distensi uterus yang berlebihan

komplikasi
Hemoragi

Data Pengkajian

Persalinan lama

Infeksi, dehidrasi

Demam, nadi tinggi

Laserasi atau episiotomi

Hemoragi

Pendarahan berlebihan, tekanan


darah rendah, nadi tinggi
Demam,nadi tinggi, kemerahan,
edema
Pembengkakan, nyeri ekimosis,
massa gelap
Demam,nadi tinggi, subinvolusi
Nyeri pada salah satu betis,
pembengkakan,
kemerahan,
tanda homan positif
Tidak
dapat
berkemih,
berkemih
sedikit-sedikit,
distensi kandung kemih
Lokia berwarna merah segar,
tekanan darah rendah, nadi
tinggi
Puting merah, luka, payudara
panas, merah, dan nyeri tekan

Infeksi
Hematoma
Pecah ketuban dini kala dua
persalinan lama

Infeksi(endometritis)
tromboflebitis

Bagian plasenta tertinggal

Gangguan
trigonal)

Menyusui

Hemoragi tertunda

berkemih

(edema

Infeksi(mastitis)

Adaptasi dengan Tugas Menjadi Orang Tua dan Merawat


Sejumlah perilaku maternal menandakan respons adaftif terhadap bayi baru lahir dan tanggung jawab
merawat (lihat Bab 26). Ibu baru yang relatif belum memiliki pengalaman mungkin menghadapi
beberapa kesulitan dalam pemberian perawatan. Dengan latihan, kemampuan dan harga diri mereka
meningkat, yang mendukung respons emosional yang positif terhadap bayi baru lahir.
Orang tua dengan tekanan kehidupan yang signifikan, kesulitan sosioekonomi, masalah
kesehatan, dan komplikasi akibat kehamilan mungkin tidak dapat beradaptasi menjadi orang tua
selektif mereka yang tanpa tekanan tersebut. Perilaku yang maladaptif terjadi ketika orang tua
berespons tidak efektif atau tidak tepat terhadap kebutuhan bayi baru lahir mereka. Orang tua yang

belum mengembangkan rasa kompetensi diri dan merasa memiliki kemampuan mengontrol diri yang
rendah dalam hidup mereka sering mengalami kesulitan untuk menjadi orang tua (Turner et al.,1985).
Ayah dapat juga menunjukkan respons adaptif atau maladaptif terhadap masa menjadi orang
tua. Banyak perilaku yang sama dapat dikaji untuk menentukan tingkat adaptasi ayah. Pengaruh
praktik budaya yang berbeda pada peran ibu dan ayah harus dipertimbangkan (lihat kontak 27-1)
Variasi Budaya
Etnik dan kepercayaan serta praktik budaya mempengaruhi perilaku orang tua selama masa
pascapartum ( lihat Bab 4). Model penyakit sebagai akibat ketidakseimbangan tubuh, merupakan
model yang umum digunakan dalam budaya nonbarat. Keseimbangan dapat dipersepsikan sebagai
aliran energi, panas dan dingin, atau yin dan yang (prinsip feminim-reseptif dan maskulin-aktif).
Wanita pascapartum dipersepsikan berada dalam keadaan tidak seimbang dan rentan terkena penyakit
kecuali jika ia melakukan praktik khusus yang biasanya terkait dengan istirahat dan menyepi,
menghindari dingin, dan diet (lihat kotak 27-1; Bernstein et al., 1982; DAvanzo, 1992; Monrroy,
1983; Pillsbury, 1982)
Beberapa budaya mungkin membatasi peran ayah dalam pengalaman kelahiran anak dan pascapartum
atau menentukan jenis aktivitas khusus menjadi orang tua. Menerapkan harapan dan metode barat
pada pengkajian perilaku orang tua tidak tepat pada budaya ini.
Infeksi salauran kemih
Kejadian infeksi saluran kemih pada masa nifas relatif tinggi dan hal ini dihubungkan dengan hipotoni
kandung kemih akibat trauma kandung kemih saat persalinan, pemeriksaan dlam yang sering,
kontaminasi kuman dari parineum, atau katerisasi yang sering.
Sistitis biasanya memberikan gejala berupa nyeri berkemih (disuria), sering berkemih, dan tidak dapat
ditahan. Demam biasanya jarang terjadi. Adanya retensi urine pasca persalinan umumnya merupakan
tanda adanya infeksi.
Pielonefritis memberikan gejala yang lebih berat, demam, menggigil, serta perasaan mual dan
muntah. Selain disuria, dapat juga terjadi piuria dan hematuria.
Pengobatan
Antibiotik yang terpilih meliputi golongan nitrofurantoin, sulfonamid, trimetropin, sulfametoksasol,
atau sefalosporin. Banyak penelitian yang melaporkan resistensi mikrobial terhadap golongan
penisilin.
Pielonefritis membutuhkan penangan yang lebih awal, pemberian dosis awal antibiotik yang tinggi
melalui intravena, misalnya sefalosporin 3-6gr/hari dengan atau tanpa aminoglikosida. Sebaiknya
dilakukan kultur urine.
Tanda dan gejala
Selain pembesaran berat, prekursor tanda dan gejala mastitis biasanya tidak ada sebelum akhir
minggu pertama pascapartum. Setelah masa itu, wanita mungkin mengalami gejala-gejala berikut ini.
1. Nyeri ringan pada salah satu lobus payudara, yang diperberat jika bayi menyusui.
2. Gejala seperti itu: nyeri otot, sakit kepala, keletihan.

Mastitis hampir selalu terbatas pada satu payudara. Tanda dan gejala aktual mastitis meliputi hal-hal
sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Peningkatan suhu yang cepat dari (39,5-400 C).


Peningkatan kecepatan nadi.
Menggigil.
Malaise umum, sakit kepala.
Nyeri hebat, bengkak, inflamasi, area payudara keras.

Mastitits yang tidak ditangani memiliki hampir 10% resiko terbentuknya abses. Tanda dan gejala
abses meliputi hal-hal berikut ini:
1. Discharge puting susu purulenta
2. Demam remiten (suhu naik turun) disertai menggigil.
3. Pembengkakan payudra dan sangat nyeri, massa besar dan keras dengan area kulit berwarna
berfluktuasi kemerahan dan kebiruan mengindikasikan lokasi abses berisi pus.
Penanganan
Penangan terbaik mastitis adalah dengan pencegahan. Pencegahan dilakukan dengan mencuci tangan
menggunakan sabun antibakteri secra cermat, pencegahan pembesaran dengan menyusul sejak awal
dan sering, posisi bayi yang tepat pada payudara, penyangga payudara yang baik tanpa konstriksi,
membersihkan hanya dengan air dan tanpa agen pengering, observasi bayi setiap hari terhadap adanya
infeksi kilit atau tali pusat, dan menghindari kontak dekat dengan orang yang diketahui menderita
infeksi atau lesi stafilacoccus.
Puting susu yang pecah atau fisura dapat menjadi jalan masuk terjadinya infeksi S.aureus. Pengolesan
beberapa tetes susu diarea puting susu pada akhir menyusui tempat meningkatkan penyembuhan.
Pertimbangkan untuk melakukan kultur air susu jika terjadi fisura dalam persisten, dan profilaksis
dengan antibiotik topikal atau sistemik jika sesuai.
Jika diduga mastitis, intervensi dini dapat mencegah perburukan. Intervensi meliputi beberapa
tindakan higine dan kenyamanan.
Mastitis
Pengertian
Mastitis adalah infeksi payudara. Meskipun dapat terjadi pada setiap wanita, mastitis semata-mata
merupakan komplikasi pada wanita menyusui. Mastitis harus dibedakan dari peningkatan suhu
transien dan nyeri payudara akibat pembesaran awal karena air susu masuk kedalam payudara.
Mastitis terjadi akibat invasi jaringan payudara (misalnya glandular, jaringan ikat, areola, lemak) oleh
mikroorganisme infeksius atau adanya cidera payudara. Organisme yang umum termasuk S.aureus,
streptococci, dan H.parainfluenzae. Cedera payudara mungkin disebabkan memar karena manipulasi
yang kasar, pembesaran payudara, statis ASI dalam duktus, atau pecahnya atau fisura puting susu.
Bakteri dapat berasal dari beberapa sumber, yaitu sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Tangan ibu.
Tangan orang yang merawat ibu atau bayi.
Bayi.
Duktus laktiferus.
Darah sirkulasi.

6. Stress dan keletihan telah dikaitkan dengan mastitis. Hal ini masuk akal karena stress dan
keletihan dapat menyebabkan kebocoran dalam teknik penanganan. Terutama saat mencuci
tangan, atau melewatkan waktu menyusui, yang dapat menyebabkan pembesaran dab statis.
HEMATOMA
Pengertian
Hematoma adalah pembengkakkan jaringan yang berisi darah. Bahaya hematoma adalah kehilangan
sejumlah darah karena hemoragi, anemia, dan infeksi. Hematoma terjadi karena ruptur pembuluh
darah spontan atau akibat trauma. Pada siklus reproduktif, hematoma sering kali terjadi selama proses
melahirkan atau segera setelahnya, seperti hematom vulva, vagina, atau hematoma ligamentum latum
uteri.
Kemungkinan penyebab termasuk sebagai berikut.
1. Pelahiran operatif.
2. Laserasi sobekan pembuluh darah yang tidak dijahit selama injeksi lokal atau pudendus, atau
selama penjahitan episiotomi atau laserasi.
3. Kegagalan hemostasis lengkap sebelum penjahitan laserasi atau apisiotomi.
4. Pembuluh darah diatas aspeks insisi atau laserasi tidak dibendung, atau kegagalan melakukan
jahitan pada titik tersebut.
5. Penanganan kasar pada jaringan vagina kapanpun atau pada uterus selama masase.
Tanda dan gejala
Tromboflebitis superfisial (yang terjadi dekat dengan permukaan) ditandai dengan nyeri tungkai dan
teraba hangat pada daerah yang terkena tromboflebitis. Tromboflebitis vena profunda ditandai dengan
tanda dan gejala sebagai berikut:
1. Kemungkinan meningkat suhu ringan.
2. Takikardi ringan.
3. Awitan tiba-tiba nyeri sangat berat terjadi pada tungkai diperburuk dengan pergerakan atau
saat berdiri.
4. Edema pergelangan kaki, tungkai, dan paha.
5. Tanda homan pasti. Tanda homan diperiksa dengan menempatkan satu tangan dilutut ibu dan
memberikan tekanan ringan untuk menjaga kaki tetap lurus. Jika terdapat nyeri betis saat
dorsifleksi kaki, tanda ini positif.
6. Nyeri saat penekanan betis.
7. Nyeri tekan sepanjang aliran pembuluh darah yang terkena dengan pembuluh darah dapat
teraba.
TROMBOFLEBITIS DAN EMBOLI PARU
Tromboflebitis pascapartum lebih umum terjadi pada wanita penderita varikositis atau yang mungkin
secara genetik rentan terhadap relaksasi dinding vena dan statis vena. Kehamilan menyebabkan statis
vena dengan sifat rileksasi dinding vena akibat efek progesteron dan tekannan vena pada uterus.
Kehamilan juga merupakan status hiperkoagulasi. Kompresi vena selama posisi persalinan atau
pelahiran juga dapat berperan terhadap masalah ini. Tromboflebitis digambarkan sebagai superfisial
atau bergantung pada vena apa yang terkena.
Tanda dan gejala

Tanda-tanda umum hematoma adalah nyeri ekstrim diluar proporsi ketidaknyamanan dan nyeri yang
diperkirakan. Tanda dan gejala lain hematoma vulva atau vagina adalah sebagai berikut.
1. Penekanan parineum, vagina, uretra, kandung kemih, atau rektum dan nyeri hebat.
2. Pembengkakan yang tegang dan berdenyut.
3. Perubahan warna jaringan kebiruan atau biru kehitaman.
Hematoma vulva adalah yang paling jelas, dan hematoma vagina umumnya dapat diidentifikasi jika
dilakukan inspeksi vagina dan serviks secara cermat. Hematoma ukuran kecil dan sedang mungkin
dapat secara spontan diabsorpsi. Jka hematoma terus membesar dan bukan menjadi stabil, bidan harus
memberitahukan dokter konsultan untuk evaluasi dan perawatan lebih lanjut, yang dapat meliputi
pemantaun pendarahan secara terus-menerus dengan melakukan pemeriksaan laboratorium
hematokrit, insisi untuk mengevaluasi darah dan pembekuan darah, serta penutupan rongga, dan
perlunya intervensi pembedahan lain, penggantian darah, atau antibiotik. Bidan terus menerapkan
penatalaksanaan terhadap aspek lain perjalanan pascapartum dan penyesuaian ibu.
Tanda dan gejala hematoma ligamentum latum uteri meliputi sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Nyeri uteri lateral sensitif terhadap palpasi.


Penyebaran nyeri ke panggul.
Pembengkakakan yang sangat nyeri diidentifikasi pada pemeriksaan rektum tinggi.
Penonjolan jaringan tepat diatas pintu atas panggul, menyebar kearah lateral (ini adalah ujung
ligamentum latum uteri yang membengkak).
5. Distensi abdomen.
Jika diduga terjadi hematoma ligamentum latum uteri, penting untuk mengonsultasikannya dengan
dokter.
Penapisan disfungsi tiroid pada kasus depresi dapat memberikan terapi yang lebih baik bagi beberapa
wanita. Kerja skala besar beck dengan depresi pascapartum menghasilkan Postpartum Depression
Predictors Inventory/PDPI, yang meliputi 13 indikator.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

Depresi prenatal.
Stress merawat anak.
Stress kehidupan.
Dukungan sosial.
Ansietas prenatal.
Kepuasan perkawinan.
Riwayat depresi sebelumnya.
Tempramen bayi.
Maternity blues.
Harga diri.
Status sosioekonomi.
Status perkawinan.
Kehamilan tidak diinginkan/tidak direncanakan.

Pencegahan melalui identifikasi resiko selama periode prenatal dan juga intervensi sejak dini
termasuk tindak lanjut pertelepon atau kunjungan kekantor pada fase pascapartum awal berdasarkan
indikator resiko adalah kunci untuk memperpendek siklus depresi pascapartum. Program terbaru
individualisasi dan peningkatan perawatan memperpanjang perawatan pascapartum diluar pengkajian
pemulihan fisik secara murni dari saat melahirkan anak.

Salah satu peran bidan adalah identifikasi, mendukung wanita dan gejala ringan, dan rujukan pada
ahli terapi suportif atau psikiater untuk wanita dengan gejala depresi yang signifikan.
DEPRESI PASCAPARTUM
Identifikasi depresi pascapartum adalah tanggung jawab bidan dan ahli klinis lain yang menemui ibu
sepanjang tahun pascapartum pertama. Seperti halnya pada proses penyakit lain, yang mungkin segan
untuk dibicarakan oleh wanita, mendengar aktif dan penerimaan terhadap penjelasan wanita mengenai
pengalamannya adalah kunci untuk menggali kekuatan dan kekhawatirannya. Pada pernyataannya,
sebanyak setengah dari semua wanita yang mengalami depresi pascapartum tidak mencari bantuan
atau tidak didiagnosis dengan penyakit umum ini. Salah satu perkiraan angka depresi pascapartum
menunjukan 12% depresi mayor, dengan tambahan 19% wanita mengalami gejala depresi minor.
Berbeda dengan baby blues, yang ringan dan sementara, depresi pascapartum sejati dapat terjadi pada
setiap titik dalam bulan pertama pascapartum dan mempunyai andil dalam karakteristik diagnostik
depresi mayor atau minor. Pada kondisi terparah spektrum gangguan alam perasaan pascapartum,
psikosis pascapartum yang jarang terjadi dikarakteristikan dengan perilaku bunuh diri atau menyakiti
bayi, dan perubahan proses berpikir, selain gejala yang berkaitan dengan depresi.
Depresi pascapartum juga harus dibedakan dengan tiroiditid pascapartum, yang insedensinya 5-7%.
Fase diroktosik diikuti dengan hipotiroidisme. Keletihan dan depresi dikaitkan dengan kedua fase
tersebut. Meskipun tiroiditis umumnya dianggap sementara, terdapat hubungan dengan terjadinya
hipotiroidisme klinis permanen dikemudian hari.