Anda di halaman 1dari 2

Institut Teknologi Bandung

ITB | News
Pengolahan Biomassa Mikroalga Sebagai Langkah Awal Indonesia Mandiri Energi
adhit
Senin, 25 - Mei - 2015, 11:11:29

BANDUNG, itb.ac.id - Harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia yang meroket karena jumlah
permintaan tinggi tidak sebanding dengan persediaan yang terbatas menyebabkan bangsa ini berada dalam
fase krisis energi. Badai krisis energi yang menerpa Indonesia menuntut anak bangsa untuk menemukan
solusi efektif bagi permasalahan ini. Berangkat dari urgensi inilah Prof. Dr. Zeily Nurachman, dosen Program
Studi Kimia ITB, terdorong untuk mengembangkan mikroalga sebagai sumber energi alternatif. Biodiesel
Mikroalga Alternatif Solar Fosil
Produksi minyak dari alga yang mencapai delapan puluh ribu liter/hektar kultur/tahun merupakan jumlah yang
lebih tinggi dari produksi minyak sawit. Minyak alga diolah menjadi biodiesel. Teknologi pembuatan biodiesel
mikroalga sebenarnya relatif mudah. Kultur alga hanya perlu ditanam dalam media cair dalam botol
berukuran sedang yang dialiri udara dan disinari. Selanjutnya, alga diekstrak dengan pelarut jika masih
dalam skala laboraturium, namun ekstraksi dilakukan secara mekanik oleh mesin atau dipanaskan hingga
minyaknya keluar untuk produksi skala besar. Minyak tersebut kemudian diubah menjadi biodiesel siap pakai
melalui reaksi transesterifikasi.
Layaknya industri hulu perminyakan yang memerlukan infrastruktur untuk mengambil minyak dari dalam
bumi, pembiakkan mikroalga untuk kebutuhan biodiesel juga memerlukan infrastruktur dan lahan.
Kementrian Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia memberi dukungan terhadap penelitian
biodiesel alga melalui pemberian rig-rig bekas untuk digunakan sebagai tempat penyimpanan kultur. Lokasi
pengembangan mikroalga ditargetkan seluas dua juta hektar laut Indonesia dengan penempatan infrastuktur
di pulau-pulau terluar Indonesia. "Lima ratus liter biodiesel per hari bisa untuk membangkitkan listrik satu
pulau kecil. Jika ada listrik di sana produktivitas akan jalan dan memudahkan akses pemerintah untuk
menjangkau seluruh penjuru Indonesia," terang Zeily. "Total laut Indonesia enam ratus juta hektar, dipakai
dua juta hektar, kapal masih bisa lewat kok," tambahnya ringan.

Konsep Energi Zero Waste dari Mikroalga


Tidak seperti industri pada umumnya yang membuang limbah, limbah sampingan hasil olahan mikroalga
berupa pigmen dan cangkang alga diolah untuk menghasilkan produk lain bernilai jual tinggi dengan manfaat
berbeda. Limbah berupa pigmen yang merupakan zat warna alga yang mengandung beta-karoten dan
klorofil untuk fotosintesis, yakni proses penangkapan sinar matahari untuk mengubah karbondioksida dan air
menjadi makanan dan energi bagi tanaman, dapat digunakan sebagai pemeka sel surya. Zat beta-karoten

1/2

yang ditempelkan pada sel surya terbukti menghasilkan arus listrik di permukaan sel tersebut sehingga dapat
digunakan sebagai antena penangkap energi foton pada sel surya. Bangunan yang jendela-jendelanya
dilapisi dengan beta-karoten hasil olahan limbah alga bisa difungsikan sebagai power house.
Selain beta-karoten, zat klorofil juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi karena bisa diolah menjadi bahan
kosmetik ataupun klorofil kemasan untuk dijual secara komersial. Klorofil A murni misalnya, mempunyai nilai
jual mencapai tujuh puluh juta per miligramnya. Klorofil A digunakan untuk Photo Dynamic Therapy (PDT),
yakni pengobatan kanker dengan menginjeksikan klorofil ke penderita kanker. Tubuh penderita kemudian
disinari sehingga oksigen di sekitar berubah menjadi oksigen radikal yang akan membunuh sel kanker.
Limbah lain berupa cangkang alga jenis Navicula Sp. dapat digunakan sebagai bahan nanobiosilika dan
nanomaterial untuk katalis berbasis ziolit.
Besarnya potensi pasar untuk olahan limbah alga merupakan suatu peluang industri tambahan selain
pengolahan bahan bakar biodiesel mikroalga. "Jika produksi dilakukan dalam skala besar, volume limbah
banyak, serta produksi minyak dan limbah berjalan, kita dapat menjual produk murah yang dibutuhkan
banyak orang yang otomatis membuka industri dan lapangan kerja baru," ungkap Zeily.

Indonesia Mandiri Energi dan Ekonomi Bukan Mimpi Kosong


Kecenderungan Indonesia untuk bergantung dengan asing berdampak pada lemahnya kontrol terhadap
beberapa aspek vital negara seperti manajemen sumber daya dan ekonomi. Padahal jika melihat dari
sumber daya alam Indonesia yang berlimpah, secara teoritis Indonesia harusnya mampu untuk bersaing
dengan negara-negara maju. Alasan klasik seperti minimnya modal untuk memulai suatu industri bukan
berarti tanah air dijual ke asing.
Diakui Zeily, proses inisiasi pengembangan mikroalga ini butuh dana besar dan tidak menutup kemungkinan
butuh investor asing. Namun beliau menggarisbawahi bahwa perusahaan nasional tetap pemain utama dan
pemegang kontrol penuh atas industri ini kedepannya. Oleh karena itu, dukungan pemerintah maupun
masyarakat diperlukan. Jika konsisten dalam operasionalnya, bukan tidak mungkin dalam kurun waktu lima
belas tahun ke depan Indonesia mampu mandiri energi bahkan menjadi eksportir global. "Jangan dilihat
cuma dari botol kecil saat ini, tapi lihat prospek mendatangnya," tutup Zeily optimis.

Dokumentasi: narasumber
Oleh: Fatimah Larassaty Putri Pratami - ITB Journalist Apprentice 2015

Copyright 2008 Institut Teknologi Bandung

2/2