Anda di halaman 1dari 7

Nama

: Tetriana Widya Nur Indah

Alamat

: Jalan Blora-Cepu KM 5 RT 1 RW III Desa Seso,Jepon

Tempat/Tanggal lahir

: Blora, 6 Maret 1992

Nama sekolah

: Universitas Airlangga

Alamat Sekolah

: Surabaya

Peran Otoda dalam Kapasitas Ketahanan Pangan Sektor Agraris


Pelaksanaan
sentralisasi

ke

otonomi

paradigma

daerah

yang

desentralisasi

dilandasi
tidak

hanya

perubahan

paradigma

memperkuat

otoritas

pemerintah daerah serta menghasilkan kemajuan demokrasi di tingkat lokal, akan


tetapi juga pemberdayaan berkelanjutan baik pemerintah daerah provinsi, maupun
pemerintah daerah kabupaten/kota1. Konsekuensi logis adanya otonomi daerah juga
memberikan keleluasaan bagi tiap-tiap daerah untuk mengembangkan daerahnya
sesuai potensi dan kapasitas yang ada. Bukan dalam artian lepas intervensi dari
pemerintah pusat sama sekali, melainkan mengejawantahkan sebuah kebebasan
berekspresi untuk mengatur sektor strategis serta keperluan daerah sendiri
berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. Indonesia sebagai negara
agraris berupaya menampakkan pesona alam dan komoditas agraria sebagai
sebuah aset besar untuk dikembangkan dalam tataran perekonomian nasional.
Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan
seluruh komponen masyarakat mengelola berbagai sumber daya yang ada dan
membentuk suatu pola kemitraan untuk menciptakan suatu lapangan pekerjaan baru
dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi dalam daerah tersebut 2.
Pembangunan perekonomian melalui jalan otonomi daerah merupakan
sesuatu yang logis karena secara otomastis otorisasi daerah untuk lebih
memperhatikan dan mengurus daerahnya sendiri menjadi lebih leluasa. Namun tak
1 Noor, Isran. 2012. Politik otonomi Daerah untuk penguatan NKRI, Jakarta :
Seven Strategic Studies.
2 Kuncoro, M., 2004. Otonomi dan Pembangunan Daerah : Reformasi
Perencanaan, Strategi, dan Peluang, Jakarta: Erlangga.

dapat dipungkiri masih ada saja ketidaksetujuan masyarakat terkait pemberlakuan


otonomi daerah karena hal ini menyebabkan ketimpangan ekonomi di berbagai
daerah di Indonesia. Menurut Sarjono HW (2006) pada kontek mikro, yang menjadi
penyebab terjadinya ketimpangan pembangunan ekonomi antar daerah pada
umumnya, penyebabnya antara lain:
1.

Keterbatasan informasi pasar dan informasi teknologi untuk

2.

pengembangan produk unggulan.


Belum adanya sikap profesionalisme dan kewirausahaan dari

3.

pelaku pengembangan kawasan di daerah.


Belum optimalnya dukungan kebijakan nasional dan daerah yang

4.

berpihak kepada petani dan pelaku swasta.


Belum berkembangnya infrastruktur kelembagaan

yang

berorientasi pada pengelolaan pengembangan usaha yang


5.

berkelanjutan dalam perekonomian daerah.


Belum
berkembangnya
koordinasi,

sinergitas,

dan

kerjasama,diantara pelaku-pelaku pengembangan kawasan, baik


pemerintah, swasta, lembaga non pemerintah, dan petani, serta
antara pusat, propinsi, dan kabupaten atau kota dalam upaya
6.

peningkatan daya saing kawasan dan produk unggulan.


Masih terbatasnya akses petani dan pelaku usaha kecil terhadap
modal pengembangan usaha, input produksi, dukungan teknologi,
dan jaringan pemasaran dalam upaya pengembangan peluang

7.

usaha dan kerjasama investasi.


Keterbatasan jaringan prasarana dan sarana fisik dan ekonomi di
daerah dalam mendukung pengembangan kawasan dan produk

8.

unggulan daerah.
Belum optimalnya pemanfaatan kerangka kerjasama antar daerah
untuk mendukung peningkatan daya saing kawasan dan produk
unggulan

Sementara pada aspek makro, Dumairy (1996), menyatakan bahwa terdapat


dua

faktor

dapat

digunakan

untuk

menerangkan

mengapa

ketimpangan

pembangunan dan hasil-hasilnya dapat terjadi. Faktor pertama adalah karena


ketidaksetaraan anugerah awal (initial endownment) diantara pelaku-pelaku
ekonomi. Sedangkan faktor kedua karena strategi pembangunan yang tidak tepat
dan cenderung berorientasi pada pertumbuhan (growth). Ketimpangan yang terjadi

seyogyanya dapat diatasi dengan adanya transfer teknologi secara merata,


kerjasama antar daerah, dan keterbukaan akses secara adil.
Menurut Laporan Kinerja Kementerian Pertanian tahun 2011, GDP Indonesia
dari sektor pertanian adalah sebesar 11,88 persen dengan serapan tenaga kerja
sebesar 33,51 persen. Potensi yang sangat tinggi tersebut dibuktikan oleh banyak
hal, diantaranya adalah profil tanah di Indonesia yang sebagian besar cocok untuk
kegiatan pertanian terpadu, keadaan iklim tropis yang membuat puluhan ribu jenis
vegetasi dapat bertahan hidup, sumber daya manusia Indonesia yang berlimpah dan
potensi-potensi lainnya yang tidak dimiliki oleh negara lain. Namun kenyataan yang
terjadi beberapa waktu terakhir ini adalah mengenai maraknya konversi lahan
pertanian menjadi non pertanian dengan pembangunan beragam real estate dan
lahan industri sehingga menjadikan keadaan pertanian Indonesia mengalami
degradasi yang cukup tinggi. Data Badan Pertanahan Nasional menyatakan selama
kurun waktu 30 tahun terakhir Indonesia sudah kehilangan sekitar 30 juta lahan
pertanian akibat konversi menjadi pemukiman atau lahan non pertanian.
Berbagai sentuhan modifikasi sistem ekonomi telah berusaha diadopsi oleh
negara ini termasuk sistem ekonomi berbasis masyarakat yang tertuang dalam
pembangunan konsep Korten yang menghendaki adanya partisipasi penuh
masyarakat dalam tiap pembangunan di daerah. Pembangunan sektor agraria
merupakan suatu solusi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia yang mayoritas
bergelut dalam sektor ini. Namun lagi-lagi pembangunan agraria seperti apa yang
hendak diterapkan? Hal ini masih menjadi kontemplasi panjang mengingat selama
ini kemajuan dibidang agraria tak sebagus ekspektasi masyarakat dan hasilnyapun
tak setangguh negara-negara agraris lain di Asia Tenggara.
Reformasi agraria sebagai bagian tak terpisahkan dari strategi pembangunan
ekonomi dan politik yang berorientasi pada perubahan struktur penguasaan,
penggunaan dan pemanfaatan sumberdaya agraria sejak lebih dari satu dasawarsa
lalu merupakan komitmen konstitusional dengan disahkannya Ketetapan MPR No.
IX/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Suberdaya Alam dan juga
sudah menjadi kebijakan Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Jelas sekali, pasal 6 TAP MPR tersebut memberi amanat dan tugas kepada DPR RI
serta Presiden RI untuk segera mengatur lebih lanjut pelaksanaan Pembaruan

Agraria dan Pengelolaan Sumberdaya Alam, serta mencabut, mengubah dan/atau


mengganti undang-undang dan peraturan pelaksanaannya yang tidak sejalan
dengan ketetapan ini. Isi klausul tegas, peninjauan kembali semua peraturan
perundang-undangan yang menyimpang dari UUD 1945 serta Undang-undang
Pokok Agraria. Konsideran TAP MPR di atas seyogyanya tetap menjadi panduan
bagi penyusunan policy, dan regulasi agraria meliputi :

Sumber daya agraria dan sumber daya alam harus dikelola dan dimanfaatkan
secara optimal bagi generasi sekarang dan generasi mendatang dalam

rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur;


Adanya persoalan kemiskinan, ketimpangan dan ketidakadilan sosial ekonomi

rakyat serta kerusakan sumber daya alam;


Pengelolaan sumber daya agaria dan sumber daya alam selama ini telah

menimbulkan

penurunan

kualitas

lingkungan,

penguasaan,

pemilikan,

penggunaan

dan

ketimpangan

struktur

pemanfaatannya

serta

menimbulkan berbagai konflik;


Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengelolaan sumber
daya agraria dan sumber daya alam saling tumpang tindih dan bertentangan;

serta
Pengelolaan sumber daya agraria dan sumber daya alam yang adil,
berkelanjutan, dan ramah lingkungan

harus dilakukan

dengan

cara

terkoordinasi, terpadu dan menampung dinamika, aspirasi dan peran serta


masyarakat, serta menyelesaikan konflik3.
Lalu, bagaimanakah peran otoda dalam mengcovered segala kebutuhan
ekspresi masyarakat daerah untuk memenuhi hajat kesejahteraannya dibidang
agraria? Hal ini tentu menjadi bahasan yang menarik terkait keseriusan pemerintah
dalam meningkatkan sektor potensial ini. Belajar dari New Zealand yang sangat
maksimal dalam memanfaatkan lahan dan potensi para petani dan peternak
menimbulkan ketertarikan untuk mengadopsi ide yang sama untuk memfokuskan
pemerintah pada intensifikasi pertanian yang benar-benar serius dan bukan hanya
program jangka pendek yang selama ini diterapkan. Hal ini tentu saja guna
mengembangkan potensi alam yang ada baik yang sifatnya alamiah maupun
kapasitas sumber daya manusia yang memadai. Iklim subtropis yang dimiliki
3 Ibid (Noor, Israan : 2012)

Indonesia mempunyai kondisi geografis yang mirip dengan Selandia Baru (New
Zealand). Selandia Baru merupakan negara maju dengan kontribusi hasil pertanian,
perternakan dan perkebunan sebesar 4,8% dari total Produk Domestik Bruto per
kapita (CIA World Factbook 2012). Jika diteliti lebih lanjut persentase tersebut
terlihat kecil, namun yang mengagumkan, jika dilihat dari persentase komoditi
ekspor, produk-produk hasil pertanian, perikanan, perkebunan merupakan kekuatan
utama dalam mendatangkan devisa. Hampir 50% komoditas ekspor Selandia Baru
berasal dari industri pertanian yang diekspor ke negara-negara tetangga seperti
Australia, Amerika, China, Jepang dan Inggris.
Tabel 1. Perbandingan Antara Indonesia dan Selandia Baru 4

Selain reformasi agraria, kita juga harus cermat mengamati fenomena impor
Indonesia yang agaknya masih carut-marut hingga kini. Selain fenomena
ketimpangan antar daerah terkait eksekusi otonomi daerah, persoalan lain yang
muncul adalah perkara tingginya ketergantungan kita pada impor negara lain, baik
dalam urusan hegemoni teknologi yang tak terkendali, tingginya permintaan barang
industri jadi, alat-alat rumah tangga, bahkan bahan-bahan pokok seperti beras dan
bawang. Menurut teori dependensia, ketergantungan yang termaktum dalam
pembagian tugas secara internasional menyebabkan keterbelakangan negaranegara pertanian. Negara agraria seperti Indonesia bertugas sebagai pemasok
bahan mentah dan negara indutri berperan sebagai pengolah bahan mentah
4 Wijaya A. 2009. Belajar dari Kesuksesan Negara Selandia Baru. [Terhubung
Berkala]. http://bangkittani.com/pertanian-internasional/belajar-dari-kesuksesannegara-selandia-baru/

tersebut dengan sentuhan teknologi sehingga harga jual dan nilai barangpun relatif
tinggi. Kemudian muncul banyak pertanyaan mengenai kerja sama antar negara
sesuai kemampuan komparatifnya akankah menguntungkan bagi tiap negara yang
terlibat termasuk Indonesia? Hal ini tentu tidak hanya terkait urusan kebutuhan,
namun juga gaya hidup konsumtif warga negara Indonesia sendiri. Namun peran
pemerintah dalam pembatasan pasokan impor guna melatih kemandirian bangsa
juga perlu dilakukan untuk mencegah adanya inflasi dan instabilisasi jika ada hal-hal
terkait kemandhegan pasokan impor terjadi.
Kasus kenaikan harga bawang putih, bawang merah dan cabai beberapa
waktu yang lalu merupakan kontemplasi penting bagi pemerintah pusat maupun
daerah untuk mengatur kembali sistem impor dan sistem pertanian lokal. Hal ini
tentu untuk menekan timbulnya inflasi secara terus menerus mengingat inflasi pada
bulan Maret 2013 ini merupakan yang tertinggi dari inflasi bulan Maret sebelumnya
selama lima tahun berturut-turut. Dengan perhatian penuh kepada kemajuan sektor
pertanian, perkebunan dan peternakan bukan tidak mungkin akan memperkuat
ketahanan pangan agraris dan membentuk kemandirian bagi bangsa Indonesia
dalam mencukupi berbagai kebutuhan pokoknya. Terlebih jika hal itu diatur dalam
tatanan peraturan pemerintah pusat dan implementasinya diserahkan sepenuhnya
kepada pemerintah daerah. Bukan mustahil sebuah negara mapan bernuansa
agraris bernama Indonesia menjadi negara yang disegani karena kepiawaian
pengaturan tata kelola perekonomian sektor agrarisnya.
Visi-misi kedepan terkait upaya pembangunan sektor Agraria sangat mungkin
untuk dilakukan mengingat ketersediaan sumber daya baik itu lahan dan sumber
daya manusia amat sangat mumpuni. Tinggal kemauan pemerintah saja untuk
menjadi katalisator dan penggerak masyarakat Indonesia agar lebih visioner
memandang potensi dan peluang yang ada. Pemberian strategi pembangunan
daerah tidak hanya dilakukan semata-mata dengan pemberian dana cair kepada
masyarakat, namun akan lebih efektif jika dana alokasi pembangunan dilakukan
dengan mendukung infrastruktur pendukung akses kegiatan pertanian masyarakat
pedesan untuk menjamin keterbukaan aksesibilitas dan membuka keterisolasian
suatu daerah. Selain itu, pemetaan yang jelas mengenai target-target apa saja yang
hendak dicapai bangsa Indonesia dalam komoditas ekspor agraris serta berbagai

macam transformasi teknologi dan sistem pertanian juga perlu diperhatikan dalam
upaya intensifikasi pertanian ini.

Daftar Pustaka :
Kuncoro, M., 2004. Otonomi dan Pembangunan Daerah : Reformasi Perencanaan,
Strategi, dan Peluang, Jakarta: Erlangga.
Noor, Isran., 2012. Politik otonomi Daerah untuk penguatan NKRI, Jakarta : Seven
Strategic Studies.
Suryanto, Joko., 2006. Analisa Kebijakan Pengembangan Ekonomi Daerah
Kabupaten Gunung Kidul, Jakarta : Pusat Penelitian Ekonomi LIPI.
Wijaya

A.

2009.

Belajar

dari

Kesuksesan

Negara

Selandia

Baru.

http://bangkittani.com/pertanian-internasional/belajar-dari-kesuksesannegara-selandia-baru/
http://beranda.miti.or.id/