Anda di halaman 1dari 5

SEPOTONG DONAT UNTUK RAHMAT

Senja menganjak, semilir angin sang bayu tuk bertahan di kehidupan


kampung

kardus.

Terdengar

suara

nan kecil

itu

bergelut

dengan

tangisnya, ya sebuah paku yang menancap di kaki kecil Rahmat.


Makanya abang kan sudah bilang kemarin, jangan kemana-mana
duduk saja di rumah. Belajar menulis huruf-huruf yang ada di buku. Adek
ndak mau sih!, papar Amin sambil membersihkan luka yang ada di kaki
adik tersayangnya. Tangisnya semakin menjadi jadi.
Rahmat hanya ingin mencari makan bang. Jawab Rahmad dengan
isakannya.
Kamu mau mencari makan? Itu bukan tugas kamu mat, itu tugas
abang. Biarkan abang yang mencari sesuap dua suap nasi untuk kita!
Tapi bang ..
Sudah! dunia di luar sana sangat kejam untuk kau telusuri mat,
belum saatnya.
Malam menjemput, suara kakak beradik itu masih bercakap hingga
terdengar jeritan dari si Rahmat yang kesakitan kerena paku yang di tarik
sang abangnya dari kaki Rahmat.
Pagi, sang surya mulai naik tatkala tepat setelah sholat subuh di
istana kardus itu Amin berpesan dengan adik tersayangnya, Mat, abang
mencari makan dulu ya kamu jangan sekali-kali keluar rumah lagi. Tetap
disini, abang pergi dulu ya. Si kecil yang berumur enam tahun itu
menganggukkan

kepala.

Bersamaan

dengan

anggukan

itu

Amin

mengambil tas kesayangannya yang terus di gendong setiap mencari


seteguk air. Ya, keranjang pemulung itulah kegiatan alias pekerjaan Amin,
anak berusia sebelas tahun itu. Dia bekerja layaknya kepala keluarga.
Bukan layaknya, tapi memang sebagai kepala keluarga yang mencari
nafkah. Memungut satu demi satu sampah yang mungkin bisa untuk
ditukarkan dengan pundi-pundi rupiah.
Langkah Amin terus menyusuri gunung-gunung sampah di sepanjang
jalan kota metropolitan. Hingga senja menyapa, sampah botol-botol

plastik itu ditukar dengan beberapa rupiah untuk ditukar dengan


sebungkus nasi kucingan dan seplastik bungkus es teh.
Ramai senja kini telah berganti sunyi, dendangan klasik dari
pengamen jalan di gang bawah jembatan menuju istana kardusnya. Tibatiba ..
He! Anak ingusan! Ajari tuh adikmu yang kurang ahli dalam mencuri
bikin malu orang saja. Bentak preman jembatan yang biasa mencopet di
terminal.
Tanpa mempedulikan suara itu, Amin bergegas mengajak kakinya tuk
cepat kembali melihat keadaan adiknya.
Setibanya di rumah.
Rahmat .. Rahmat .. ! terengah-engah.
Kau.. belum selesai menanyakan kabar. Amin sudah mampu
menjawab sendiri tentang keadaanya adiknya, si Rahmat.
Selangkah demi selangkah, Amin mendekat pada Rahmat, dengan
mata yang terus berpusat pada Rahmat tanpa sedikitpun berkedip.
Raganya mulai lemah, melihat adiknya terkapar tak berdaya.
Makanlah..! lirih suara abangnya.
Rahmat mulai bangkit sedikit demi sedikit dari tempatnya merebah
sembari menyuapi Rahmat. Amin mulai berkata-kata.
Kamu keluar rumah lagi?
Iya bang ..
Terus kenapa dengan wajahmu? Luka tanganmu? Kakimu?
Maafkan Rahmat bang, tidak mendengarkan kata-kata abang.
Rahmat dikeroyok warga.
Ya Allah mat ! kok bisa?! kamu mencuri? atau apa? Tanya abang
Rahmat penuh keingin tahuan.
Sa .. saya hendak mengambil donat bang.. Jawab Rahmat dengan
rasa takut.
Astagfirullah .. Rahmat .. menghela nafas panjang.
Ta .. tapi belum ngambil bang .. tapi Rahmat sudah dipukulin
pembeli di toko roti itu. Lanjut Rahmat .
Hening sejenak bersama linangan air mata Rahmat.

Rahmat, dengerin abang! Walaupun kita berumah kardus dan


sehelai kain perca. Tapi kita tidak boleh berniatan mengambil barang
orang lain yang bukan hak kita. Semahal apapun harga barang atau
makanan itu bilang ke abang. Abang pasti akan berusaha membelikannya
untukmu Rahmat. Papar Amin dengan menatap mata Rahmat.
Maafkan Rahmat bang.. pinta Rahmat dengan lembut disertai
linangan air mata dipipi yang kini memar akibat pukulan tangan-tangan
keji.
Sudah jangan ulangi lagi. Abang janji, abang akan membelikan atau
apalah caranya agar bisa memberimu donat. Abang janji, abang tidak
akan pulang sebelum mendapatkan donat tersebut.
Benarkah?senyum Rahmat mulai melebar bergelut harapan mereka
yang mungkin sulit tuk mereka dapatkan.
Embun mulai menetes, seperti biasa langkah-langkah mungil itu
mulai berpijak di bumi negeri kardus menuju gunung-gunung sampah di
negeri keramaian. Empat hari ini, ya genap empat hari ini Amin tidak
makan tanpa sedikitpun pula perutnya diisi makanan kecil. Hanya
beberapa teguk saja sejak tiga hari lalu.
Siang telah menyapa namun baru beberapa botol plastik yang ia
dapatkan. Keringat dingin kini berteman dengannya, bibir merahnya kini
tiba-tiba memucat, langkahnya semakin berat, sedangkan plastik-palstik
ataupun kardus-kardus yang biasanya ia tukar dengan logam-logam tak
ada layaknya hari-hari lalu.
Ayo min, kamu harus kuat. Masih kurang banyak botol-botol yang
harus kau dapat untuk mendapatkan sepotong donat. Hati abang dari
simungil yang tanpa ayah dan tanpa ibu itu mulai berkata-kata tuk
semangatkan langkahnya.
Hari hampir petang, namun pendapatan yang dihasilkan Amin malah
justru sangat berkurang dari hari-hari biasanya. Sedangkan untuk
membeli donat mendapatkan bungkusnya saja mungkin tak cukup.
Hari telah berganti petang langkah Amin terhenti. Wajah pucatnya
kian bertambah. Namun dia tak peduli pada dirinya. Rahmat dan Rahmat

itu yang kini terus hantui otaknya hanya dengan seribu rupiah bisa
mendapatkan apa ?
Tidak! Aku tidak boleh berhenti begini saja. Janjiku pada Rahmat
akan pulang membawa donat untuknya. Berfikir sejenak. Tapi dengan
apa? Seribu untuk membeli teh saja tidak cukup, apa aku pulang saja
besok sampai aku mendapat uang cukup untuk membeli donat? terdiam.
Tidak, Rahmat pasti sangat lapar. Aku harus mencari barang-barang
bekas lagi untuk Rahmat.
Langkahnya terhenti si setiap tong-tong sampah diseberang jalan
kota. Memilah dan memilah, itulah yang terus dilakukannya. Hingga suatu
tempat ia terhenti karena melihat sebuah kardus donat. Ia mulai
mendekat dan ia mulai membuka kardus yang terkena panas dan hujan
itu. Donat?! Masih ada satu potong untuk Rahmat! wajahnya mulai
berseri tidak lama, Amin bergegas mengambil donat beserta kardus donat
itu untuk dibawanya pulang untuk adiknya.
Sesampainya di kampong kardus. Amin berteriak memanggil nama
Rahmat. Namun terdengar suara memanggil namanya.
Min, aku turut berduka cita. Merangkul Amin. Amin bingung dan
beprasangka buruk menimpa adiknya. Ada apa paman? Maksud paman
apa? ya meskipun berat memberita tahu pada Amin. Tapi orang yang
disebut Amin dengan paman itu mulai berkata-kata. Rahmat, Rahmat
terbakar bersama kardus-kardus dan botol-botol yang ada di rumahmu
min. Dia bersama dua korban lainnya telah dimakamkan penduduk. Maaf
tidak menunggu kepulanganmu dulu.
Terdiam. Begitupun dengan Amin yang tadinya merasa senang hati
kini tinggal keheningan yang menemaninya. Tak karuan. Kini kegundahan
berkecamuk di hatinya, semua seakan tak mungkin. Langkahnya menuju
ke rumah yang kini jadi abu, hanya ditemani oleh angin malam. Bintang
pun tak temani malamnya kini, ditambah suara tangisan tetangganya
yang menangisi kepergian anaknya membuat hatinya semakin tak tentu
arah. Terduduk menatap abu rumahnya dengan membuka kardus berisi
sepotong donat yang bertabur jamur putih sembari memakannya hinga
habis.

Di depan bayang rumah ini dengan disaksikan donat pesananmu,


aku utarakan isi hatiku. Dibalik kerinduan ini membentang kerinduan dan
berjuta kerinduan tak hanya malam ini suatu saat nanti aku pasti sering
merindukan masa-masa itu. Tatkala kita tertawa bersama, menangis
karena rindu ayah dan ibu yang telah diatas sana. Kini aku rindukan
celotehmu yang sering menggelikan perutku. Aku juga rindu menangis
bersamamu, tatkala ingat bayang ayah yang sering menggendongmu.
Teringat tawa ibu yang terus ajariku menulis dan membaca. Ya walau
tanpa sekolah tanpa ijazah. Tersenyum.Kini semua tinggal bayangbayang semu. Biarlah. Semoga kau, ayah, dan ibu tenang di alam sana
dan aku sebatang kara.
Siti Chusnianingsih