Anda di halaman 1dari 10

Hipospadia adalah salah satu keabnormalan pada saluran kemih atau uretra dan penis.

Dalam
kondisi normal, lubang uretra terletak di ujung penis untuk mengeluarkan urine. Tetapi pada
pengidap hipospadia, lubang uretra justru berada di bagian bawah penis.
Hipospadia termasuk kelainan bawaan yang umumnya diderita sejak lahir. Kondisi ini dapat
menyebabkan gangguan pada proses buang air kecil serta ereksi.

Penyebab dan Faktor Risiko Hipospadia


Hipospadia adalah kelainan yang terjadi sejak lahir. Sama seperti cacat lahir pada umumnya,
penyebab perkembangan abnormal pada penis ini belum diketahui secara pasti.
Pembentukan penis selama bayi berada dalam rahim tergantung kepada hormon, seperti
testosteron. Para pakar memperkirakan bahwa keabnormalan pada hipospadia kemungkinan
disebabkan oleh keefektifan hormon yang terhambat.
Terdapat beberapa faktor yang diduga dapat memicu hipospadia. Salah satunya adalah
pengaruh keturunan. Hipospadia memang bukan penyakit keturunan, tapi kondisi ini
terkadang dapat terjadi pada bayi yang memiliki anggota keluarga dengan kondisi yang sama.
Di samping keturunan, faktor-faktor pemicu lain diperkirakan juga bisa berdampak kepada
perkembangan janin pada masa kehamilan. Misalnya pengaruh usia ibu yang di atas 40 tahun
saat hamil dan pajanan rokok atau senyawa kimiawi selama kehamilan, terutama pestisida.
ETIOLOGI
Penyebab pasti hipospadia tidak diketahui secara pasti. Beberapa etiologi dari
hipospadia telah dikemukakan, termasuk faktor genetik, endokrin, dan faktor lingkungan. (2)
Faktor genetik..
12 % berpengaruh terhadap kejadian hipospadia bila punya riwayat keluarga yang menderita
hipospadia. 50 % berpengaruh terhadap kejadian hipospadia bila bapaknya menderita
hipospadia.
Faktor etnik dan geografis..
Di Amerika Serikat angka kejadian hipospadia pada kaukasoid lebih tinggi dari pada
orang Afrika, Amerika yaitu 1: 3.
Faktor hormonal

Faktor hormon androgen / estrogen sangat berpengaruh terhadap kejadian hipospadia


karena berpengaruh terhadap proses maskulinisasi masa embrional. Sharpe dan Kebaek
(1993) mengemukakan hipotesis tentang pengaruh estrogen terhadap kejadian hipospadia
bahwa estrogen sangat berperan dalam pembentukan genital eksterna dari laki-laki saat
embrional.
Faktor pencemaran limbah industri.
Limbah industri berperan sebagai Endocrin discrupting chemicals baik bersifat
eksogenik maupun anti androgenik seperti polychlorobiphenyls, dioxin, furan, peptisida
organochlorin, alkilphenol polyethoxsylates dan phtalites.
Sudah diketahui bahwa setelah tingkat indiferen maka perkembangan genital eksterna
laki-laki selanjutnya dipengaruhi oleh estrogen yang dihasilkan testis primitif. Suatu hipotesis
mengemukakan bahwa kekurangan estrogen atau terdapatnya anti androgen akan
mempengaruhi pembentukan genitalia ekterna laki-laki.
Beberapa kemungkinan yang terjadi berkaitan dengan hipospadia, yaitu :

Kegagalan tunas sel-sel ektoderm yang berasal dari ujung glans untuk tumbuh
kedalam massa glans bergabung dengan sel-sel entoderm sepanjang uretra penis. Hal ini
mengakibatkan terjadinya osteum uretra eksternum terletak di glans atau korona glandis di
permukaan ventral.

Kegagalan bersatunya lipatan genital untuk menutupi alur uretra uretral groove
kedalam uretra penis yang mengakibatkan osteum uretra eksternum terletak di batang penis.
Begitu pula kegagalan bumbung genital bersatu dengan sempurna mengakibatkan osteum
uretra ekternum bermuara di penoskrotal atau perineal.
Dari kegagalan perkembangan penis tersebut akan terjadi 5 macam letak osteum uretra
eksternum yaitu di : 1. Glans, 2. Koronal glandis, 3. Korpus penis, 4. Penos skrotal, 5.
Perineal. (1,2,3)

KLASIFIKASI
Klasifikasi hipospadia menurut Barcat (1973) berdasarkan letak ostium uretra eksterna
maka hipospadia dibagi 5 type yaitu :
Anterior ( 60-70 %)

Hipospadia tipe gland

Hipospadia tipe coronal

Midle

(10-15%)

Hipospadia tipe penil

Posterior (20%)

Hipospadia tipe
penoscrotal
Hipospadia tipe perineal

o
( 3,6)

Gambar 3
( Dikutip dari kepustakaan no.3 )

DIAGNOSIS
Diagnosis hipospadia telah dibuat dengan menggunakan ultrasonografi janin
pralahir, diagnosis biasanya dibuat atas pemeriksaan bayi baru lahir. Hipospadia juga dapat
didiagnosis dengan melihat tanda atau gejala yang khas, yaitu :

Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian ventral
menyerupai meatus uretra ekternus.

Preputium tidak ada di bagian ventral, menumpuk di bagian dorsal.

Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yasng mengelilingi meatus dan membentang
ke distal sampai basis glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar.

Gambar 4
( Dikutip dari kepustakaan no 3)

Kulit penis di bagian ventral, distal dari meatus sangat tipis.

Tunika dartos, fasia buch dan korpus spongiosum tidak ada.

Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada basis dan glans penis.

Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok.

Sering disertai undescended testis.

Kadang disertai kelainan konginetal pada ginjal. (6)

PENATALAKSANAAN
Tujuan repair hipospadia yaitu untuk memperbaiki kelainan anatomi baik bentuk
penis yang bengkok karena pengaruh adanya chordae maupun letak osteum uretra eksterna
sehingga ada 2 hal pokok dalam repair hipospadia yaitu:

Chordectomi , merelease chordae sehingga penis bisa lurus kedepan saat ereksi.
Chordectomi komplit dilakukan untuk mengerahkan korpora kavernosum dan
memperpanjang uretra serta membawa lubang uretra ke ujung glans.

Urethroplasty , membuat osteum urethra externa diujung gland penis sehingga


pancaran urin dan semen bisa lurus ke depan. (3,6,7)
Apabila chordectomi dan urethroplasty dilakukan dalam satu waktu operasi yang

sama disebut satu tahap, bila dilakukan dalam waktu berbeda disebut dua tahap
Ada 4 hal yang harus dipertimbangkan dalam merencanakan repair hipospadia agar tujuan
operasi bisa tercapai yaitu usia, tipe hipospadia dan besarnya penis dan ada tidaknya chorde.
Usia ideal untuk repair hipospadia yaitu usia 6 bulan sampai usia belum sekolah karena
mempertimbangkan faktor psikologis anak terhadap tindakan operasi dan kelainannya itu
sendiri, sehingga tahapan repair hipospadia sudah tercapai sebelum anak sekolah. (3)
Ada 3 tipe rekonstruksi sebagai berikut : Sedangkan tipe hipospadia dan besar penis
sangat berpengaruh terhadap tahapan dan tehnik operasi hal ini berpengaruh terhadap
keberhasilan operasi. Semakin kecil penis dan semakin ke proksimal tipe hipospadia semakin
sukar tehnik dan keberhasilan operasinya. (3)
Ada banyak variasi teknik, yang populer adalah tunneling sidiq- chaula, TriersschDuplay, Dennis Brown, Cecil culp. Methode Duplay untuk repair hipospadia tipe penil. Kulit
penil digunakan untuk membuat urethroplastinya atau bisa juga digunakan kulit scrotum.
Thiersche dan Duplay melakukan suatu perbaikan dua tahap dimana tahap pertama
memotong lapisan yang menyebabkan chordee dan meluruskan penis. Beberapa bulan
selanjutnya uretra dibentuk dengan melakukan pemotongan memanjang ke bawah pada
permukaan ventral dari penis untuk membentuk sebuah uretra. Kelemahan operasi ini bahwa
tekhnik tersebut tidak memperluas uretra menuju ujung glans. Cecil memperkenalkan tekhnik
perbaikan hipospadia tiga tahap dimana pada tahap ke 2 penis dilekatkan pada skrotum.
Baru pada tahap ke 3 dilakukan pemisahan penis dan skrotum. (3,6)

Tekhnik reparasi yang paling populer dilakukan oleh dokter bedah plastik adalah
tekhnik modifikasi operasi Thiersch Duplay. Kelebihan jaringan preputium ditransfer dari
dorsum penis ke permukaan ventral. Byar, 1951 memodifikasi operasi ini dengan membelah
preputium pada garis tengah dan membawa flap preputium ini ke arah distal permukaan
ventral penis. Hal demikian memberikan kelebihan jaringan untuk rekontroksi uretra lebih
lanjut. Setelah interval sedikitnya 6 bulan, suatu strip sentral dari kulit dipasangkan pada
permukaan ventral penis, dan tube strip dari kulit ditarik sejauh mungkin kearah distal. Byar
bisa menutupi uretra baru dengan mempertemukan tepi kulit lateral di garis tengah dengan
penutupan yang berlapis lapis. (3,6)
KOMPLIKASI
Komplikasi yang timbul paska repair hipospadia sangat dipengaruhi oleh banyak
faktor antara lain faktor usia pasien, tipe hipospadia, tahapan operasi, ketelitian teknik
operasi, serta perawatan paska repair hipospadia. Macam komplikasi yang terjadi yaitu :

Perdarahan
Infeksi
Fistel urethrokutan
Striktur urethra, stenosis urethra
Divertikel urethra.

Komplikasi paling sering dari reparasi hipospodia adalah fistula, divertikulum, penyempitan
uretral dan stenosis meatus (Ombresanne, 1913 ). Penyebab paling sering dari fistula adalah
nekrosis dari flap yang disebabkan oleh terkumpulnya darah dibawah flap. Fistula itu dapat
dibiarkan sembuh spontan dengan reparasi sekunder 6 bulan sesudahnya. Untuk itu keteter
harus dipakai selama 2 minggu setelah fistulanya sembuh, dengan harapan tepi-tepinya akan
menyatu kembali, sedangkan kegunaannya untuk terus diversi lebih lama dari dua minggu.
Penyempitan uretra adalah suatu masalah. Bila penyempitan ini padat, maka dilatasi dari
uretra akan efektif. Pada penyempitan yang hebat, operasi sekunder diperlukan. Urethrotomy
internal akan memadai untuk penyempitan yang pendek. Sedang untuk penyempitan yang
panjang uretra itu harus dibuka disepanjang daerah penyempitan dan ketebalan penuh dari
graft kulit yang dipakai untuk menyusun kembali ukuran uretra Suatu keteter bisa
dipergunakan untuk mendukung skin graft.

Kriptorkismus
II.2.1.Definisi

Kriptorkismus adalah suatu keadaan di mana setelah usia satu sampai dua tahun,satu
atau kedua testis tidak berada di dalam kantong skrotum, tetapi berada di tempat sepanjang
jalur desensus testis yang normal.
Penyebab pasti kriptorkismus belum jelas. Beberapa hal yang berhubungan adalah:
a.

Abnormalitas gubernakulum testis

Penurunan testis dipandu oleh gubernakulum. Massa gubernakulum yang besar akan
mendilatasi jalan testis, kontraksi, involusi, dan traksi serta fiksasi pada skrotum akan
menempatkan testis dalam kantong skrotum. Ketika tesis telah berada di kantong skrotum
gubernakulum akan diresorbsi (Backhouse, 1966) Bila struktur ini tidak terbentuk atau
terbentuk abnormal akan menyebabkan maldesensus testis.
b.

Defek intrinsik testis

Maldesensus dapat disebabkan disgenesis gonadal dimana kelainan ini membuat testis tidak
sensitif terhadap hormon gonadotropin. Teori ini merupakan penjelasan terbaik pada kasus
kriptorkismus unilateral. Juga untuk menerangkan mengapa pada pasien dengan
kriptorkismus bilateral menjadi steril ketika diberikan terapi definitif pada umur yang
optimum. Banyak kasus kriptorkismus yang secara histologis normal saat lahir, tetapi
testisnya menjadi atrofi / disgenesis pada akhir usia 1 tahun dan jumlah sel germinalnya
sangat berkurang pada akhir usia 2 tahun.
c.

Defisiensi stimulasi hormonal / endokrin

Hormon gonadotropin maternal yang inadequat menyebabkan desensus inkomplet. Hal ini
memperjelas kasus kriptorkismus bilateral pada bayi prematur ketika perkembangan
gonadotropin maternal tetap dalam kadar rendah sampai 2 minggu terakhir kehamilan. Tetapi
teori ini sulit diterapkan pada kriptorkismus unilateral. Tingginya kriptorkismus pada
prematur diduga terjadi karena tidak adequatnya HCG menstimulasi pelepasan testosteron
masa fetus akibat dari imaturnya sel Leydig dan imaturnya aksis hipothalamus-hipofisistestis. Dilaporkan suatu percobaan menunjukkan desensus testis tidak terjadi pada mamalia
yang hipofisenya telah diangkat .
Gambaran klinis
Pasien biasanya dibawa berobat ke dokter karena orang tuanya tidak menjumpai testis di
kantong skrotum, sedangkan pasien dewasa mengeluh karena infertilitas yaitu belum
mempunyai anak setelah kawin beberapa tahun. Kadang-kadang merasa ada benjolan di perut
bagian bawah yang disebabkan testis maldesensus mengalami trauma, mengalami torsio, atau
berubah menjadi tumor testis.

Inspeksi pada regio skrotum terlihat hipoplasia kulit skrotum karena tidak pernah ditempati
oleh testis. Pada palpasi, testis tidak teraba di kantung skrotum melainkan berada di inguinal
atau di tempat lain. Pada saat melakukan palpasi untuk mencari keberadaan testis, jari tangan
pemeriksa harus dalam keadaan hangat.
Jika kedua buah testis tidak diketahui tempatnya, harus dibedakan dengan anorkismus
bilateral (tidak mempunyai testis). Untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan hormonal antara
lain hormon testosteron, kemudian dilakukan uji dengan pemberian hormon hCG (human
chorionic gonadotropin).
Uji hCG untuk mengetahui keberadaan testis :
Periksa kadar testosteron awal Injeksi hCG 2000U/hari selama 4 hari
Apabila pada hari ke V: Kadar meningkat 10 kali lebih tinggi daripada kadar
semula Testis memang ada
Keberadaan testis sering kali sulit untuk ditentukan, apalagi testis yang letaknya
intraabdominal dan pada pasien yang gemuk. Untuk itu diperlukan bantuan beberapa sarana
penunjang, di antaranya adalah flebografi selektif atau diagnostik laparoskopi.
Pemakaian ultrasonografi untuk mencari letak testis sering kali tidak banyak manfaatnya
sehingga jarang dikerjakan. Pemeriksaan flebografi selektif adalah usaha untuk mencari
keberadaan testis secara tidak langsung, yaitu dengan mencari keberadaan pleksus
Pampiniformis. Jika tidak didapatkan pleksus pampiniformis kemungkinan testis memang
tidak pernah ada.
Melalui laparoskopi dicari keberadaan testis mulai dari dari fossa renalis hingga anulus
inguinalis internus, dan tentunya laparoskopi ini lebih dianjurkan daripada melakukan
eksplorasi melalui pembedahan terbuka
Tindakan
Pada prinsipnya testis yang tidak berada di skrotum harus diturunkan ke tempatnya, baik
dengan cara medikamentosa maupun pembedahan. Dengan asumsi bahwa jika dibiarkan,
testis tidak dapat turun sendiri setelah usia 1 tahun sedangkan setelah usia 2 tahun terjadi
kerusakan testis yang cukup bermakna, maka saat yang tepat untuk melakukan terapi adalah
pada usia 1 tahun.

Medikamentosa
Pemberian hormonal pada kriptorkismus banyak memberikan hasil terutama pada kelainan
bilateral, sedangkan pada kelainan unilateral hasilnya masih belum memuaskan. Obat yang
sering dipergunakan adalah hormon hCG yang disemprotkan intranasal.
Operasi
Tujuan operasi pada kriptorkismus adalah: (1) mempertahankan fertilitas, (2) mencegah
timbulnya degenerasi maligna, (3) mencegah kemungkinan terjadinya torsio testis, (4)
melakukan koreksi hernia, dan (5) secara psikologis mencegah terjadinya rasa rendah diri
karena tidak mempunyai testis.
Operasi yang dikerjakan adalah orkidopeksi yaitu meletakkan testis ke dalam skrotum dengan
melakukan fiksasi pada kantong sub dartos.