Anda di halaman 1dari 10

Tugas Bahasa Indonesia

Makalah Jual Beli Dalam Islam

Disusun Oleh : Ismi Ramadanti


Kelas : IX-G

SMP NEGERI 8 CIMAHI


Tahun Ajaran 2015-2016

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, Dzat yang menegakkan langit, membentangkan
bumi, dan mengurusi seluruh makhluk. Dzat yang mengutus rasulullah saw.
Sebagai pembawa petunjuk dan menjelaskan syariat agama kepada setiap
mukallaf secara jelas dan terang.
Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad saw. hamba dan utusan nya yang
tercinta, sosok yang paling utama diantara seluruh makhluk. Beliau dimuliakan
dengan Al-Quran yang merupakan mukjizat serta sunnah yang menjadi
pembimbing bagi umat manusia. Rahmat dan keselamatan Allah semoga selalu
dilimpahkan kepada seluruh nabi dan rasul, kepada keluarga, dan para shalihan.
Terima kasih kami ucapkan kepada bapak pembimbing yang telah
membimbing serta mengajarkan kami, dan mendukung kami sehingga
terselesaikan makalah yang berjudul Jual Beli, Riba dan Laba dan juga terima
kasih yang sebesar besarnya kami ucapkan kepada semua pihak yang telah
membantu kami sehingga terselesaikan makalah ini.
Seperti kata pepatah Tiada gading yang tak retak, demikian pula dengan
makalah ini, tentu masih banyak kekurangan. kami menyadari bahwa dalam
penulisan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekhilafan, maka
dengan hal itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak
sehingga ke depan dapat menjadi koreksi untuk kemajuan dan lebih baik demi
penyempurnaan makalah ini.

Cimahi, 24 Maret 2016

DAFTAR ISI
KATAPENGANTAR............................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................................ ii
BAB I
PENDAHULUAN........................................................................ 1
1.
Latar Belakang................................................................................ 1
2.
Rumusan Masalah................................................................... ....... 1
3.
Tujuan Penulisan..................................................................... ....... 1
BABII
LANDASAN TEORI.................................................................. 2
1.
Jual Beli.................................................................................. 2
a.
Pengertrian Jual Beli................................................................ 2
b.
Rukun (Unsur) dan Syarat Jual Beli.......................................... 2
c.
Dasar Hukum Jual Beli..............................................................2
d.
Hukum Jual Beli................................................................ ...... 3
e.
Macam-Maam Jual Beli ................................................. ....... 3
f.
Manfaat dan Hikmah Jual Beli..................................................3
BABIII
PEMBAHASAN..................................................................................... 4
BAB IV PENUTUP....................................................................................... 5
Kesimpulan................................................................................................. 5
Saran........................................................................................................... 5
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 5

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk sosial, yakni tidak dapat hidup sendiri dan selalu
membutuhkan orang lain dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya.
Terutama dalam hal muamalah, seperti jual beli, baik dalam urusan diri sendiri
maupun untuk kemaslahatan umum. Namun sering kali dalam kehidupan seharihari banyak kita temui kecurangan-kecurangan dalam urusan muamalah ini dan
merugikan masyarakat. Untuk menjawab segala problema tersebut, agama
memberikan peraturan dan pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kita yang
telah diatur sedemikian rupa dan termaktub dalam Al-Quran dan hadits, dan
tentunya untuk kita pelajari dengan sebaik-baiknya pula agar hubungan antar
manusia berjalan dengan lancar dan teratur.
Jual beli adalah kegiatan tukar menukar barang dengan cara tertentu yang setiap
hari pasti dilakukan namun kadang kala kita tidak mengetahui apakah caranya
sudah memenuhi syara ataukah belum. Kita perlu mengetahui bagaimana cara
berjual beli menurut syariat..
Oleh karena itu, dalam makalah ini, sengaja kami bahas mengenai jual beli,
karena sangat kental dengan kehidupan masyarakat. Disini pula akan banyak
dibahas mulai dari tata cara jual beli yang benar sampai hal-hal yang
diharamkan atau dilarang, tujuannya untuk mempermudah praktek muamalah
kita dalam kehidupan sehari-hari dan supaya kita tidak mudah untuk terjerat
dalam lingkaran kecurangan yang sangat meresahkan dan merugikan
masyarakat.
B.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang dibahas antara lain:
Apa pengertian, hukum, rukun dan syarat jual beli?
Apa saja macam-macam jual beli?
Apa saja hikmah yang terkandung dalam jual beli?
Apa hukum khiyar dalam jual beli, macam-macam khiyar?
Apa saja hikmah khiyar?
C.
Tujuan Penelitian
a.
Mengetahui bagaimana cara bermuammalah yang benar,yang diaajarkan
oleh agama Islam.
b.
Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan kita tentang Muammalah
dalam Islam.
c.
Menyelesaikan tugas mata kuliah yang telah diberikan oleh Dosen.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Al-Ustadz Dzulqarnain Bin Muhammad Sanusi
Kredit dalam pengertian bahasa Indonesia adalah cara penjualan barang dengan
pembayaran tidak secara tunai (pembayaran ditangguhkan atau diangsur).
Taqsith secara bahasa adalah membagi sesuatu menjadi bagian-bagian tertentu
dan terpisah. Adapun secara istilah, ada beberapa definisi di kalangan para
penulis tentang penjualan secara kredit yaitu:
Jual beli secara taqsith adalah menjual sesuatu dengan pembayaran yang
ditangguhkan, diserahkan dengan pembagian-pembagian tertentu pada waktu

yang telah ditetapkan dengan jumlah keseluruhannya yang lebih banyak dari
harga kontan
2.2 Bambang Sunggono
Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan-tagihan yang dapat disamakan
dengan itu berdasarkan persetujuan pinjam meminjam antara bank dengan
pihak lain, dalam hal ini pihak peminjam berkewajiban melunasi hutangnya
setelah jangka waktu yang telah ditetapkan bersama (Arief Setiawan 2006:22).
2.3 MJ. Levi
kredit adalah menyerahkan suka rela sejumlah uang untuk digunkan secara
bebas oleh si penerima kredit dan berhak menggunakan pinjaman itu untuk
keuntungannya dengan berkewajiban mengembalikan pinjaman itu dikemudian
hari (Arief Setiawan 2006:22).
2.4 Ahmad Sabiq
Jual beli kredit adalah menjual sesuatu dengan pembayaran tertunda, dengan
cara memberikan cicilan dalam jumlah-jumlah tertentu dalam beberapa waktu
secara tertentu, lebih mahal dari harga kontan atau mungkin bisa dikatakn
bahwa jual beli kredit adalah pembayaran secara tertunda dan dalam bentuk
cicilan dalam waktu-waktu yang ditentukan

BAB III
Pembahasan
A.

Pengertian jual beli

Jual beli menurut bahasa artinya menukar sesuatu dengan sesuatu,


sedang menurut syara artinya menukar harta dengan harta menurut cara-cara
tertentu (aqad)[1].
Jual beli secara lughawi adalah saling menukar. Jual beli dalam bahasa Arab
dikenal dengan istilah al-bay. Secara terminology jual beli adalah suatu
transaksi yang dilakukan oleh pihak penjual dengan pihak pembeli terhadap
sesuatu barang dengan harga yang disepakatinya.
Menurut syariat islam
jual beli adalah pertukaran harta atas dasar saling merelakan atau memindahkan
hak milik dengan ganti yang dapat dibenarkan.
Jual-beli atau bayu adalah suatu kegiatan tukar-menukar barang dengan barang
yang lain dengan cara tertentu baik dilakukan dengan menggunakan akad
maupun tidak menggunakan akad[2]. Intinya, antara penjual dan pembeli telah
mengetahui masing-masing bahwa transaksi jual-beli telah berlangsung dengan
sempurna.

B. Rukun dan syarat jual beli


Jual beli mempunyai rukun dan syarat yang harus dipenuhi, sehingga
jual beli itu dpat dikatakan sah oleh syara.Dalam menentukan rukun jual beli
terdapat perbedaan pendapat ulama Hanafiyah dengan jumhur ulama. Rukun
jual beli menurut ulama Hanafiyah hanya satu, yaitu ijab qabul, ijab adalah
ungkapan membeli dari pembeli, dan qabul adalah ungkapan menjual dari
penjual. Menurut mereka, yang menjadi rukun dalam jual beli itu hanyalah
kerelaan (ridha) kedua belah pihak untuk melakukan transaksi jual beli.Akan
tetapi, karena unsur kerelaan itu merupakan unsur hati yang sulit untuk diindra
sehingga tidak kelihatan, maka diperlukan indikasi yang menunjukkan kerelaan

itu dari kedua belah pihak. Indikasi yang menunjukkan kerelaan kedua belah
pihak yang melakukan transaksi jual beli menurut mereka boleh tergambar
dalam ijab dan qabul, atau melalui cara saling memberikan barang dan harga
barang.[5]
Akan tetapi jumhur ulama menyatakan bahwa rukun jual beli itu ada
empat, yaitu :
1.
Ada orang yang berakad (penjual dan pembeli).
2.
Ada sighat (lafal ijab qabul).
3.
Ada barang yang dibeli (maqud alaih)
4.
Ada nilai tukar pengganti barang.
Menurut ulama Hanafiyah, orang yang berakad, barang yang dibeli, dan nilai
tukar barang termasuk kedalam syarat-syarat jual beli, bukan rukun jual beli.
Adapun syarat-syarat jual beli sesuai dengan rukun jual beli yang dikemukakan
jumhur ulama diatas sebagai berikut :
a) Syarat-syarat orang yang berakad
Para ulama fiqh sepakat bahwa orang yang melakukan akad jual beli itu harus
memenuhi syarat, yaitu :
1)
Berakal sehat, oleh sebab itu seorang penjual dan pembeli harus memiliki
akal yang sehat agar dapat meakukan transaksi jual beli dengan keadaan sadar.
Jual beli yang dilakukan anak kecil yang belum berakal dan orang gila, hukumnya
tidak sah.
2)
Atas dasar suka sama suka, yaitu kehendak sendiri dan tidak dipaksa pihak
manapun.
3)
Yang melakukan akad itu adalah orang yang berbeda, maksudnya seorang
tidak dapat bertindak dalam waktu yang bersamaan sebagai penjual sekaligus
sebagai pembeli.
b) Syarat yang terkait dalam ijab qabul
1)
Orang yang mengucapkannya telah baligh dan berakal.
2)
Qabul sesuai dengan ijab. Apabila antara ijab dan qabul tidak sesuai maka
jual beli tidak sah.
3)
Ijab dan qabul dilakukan dalam satu majelis. Maksudnya kedua belah pihak
yang melakukan jual beli hadir dan membicarakan topic yang sama.[6]
c) Syarat-syarat barang yang diperjualbelikan
Syarat-syarat yang terkait dengan barang yang diperjualbelikan sebagai berikut :
1)
Suci, dalam islam tidak sah melakukan transaksi jual beli barang najis,
seperti bangkai, babi, anjing, dan sebagainya.
2)
Barang yang diperjualbelikan merupakan milik sendiri atau diberi kuasa
orang lain yang memilikinya.
3)
Barang yang diperjualbelikan ada manfaatnya. Contoh barang yang tidak
bermanfaat adalah lalat, nyamauk, dan sebagainya. Barang-barang seperti ini
tidak sah diperjualbelikan. Akan tetapi, jika dikemudian hari barang ini
bermanfaat akibat perkembangan tekhnologi atau yang lainnya, maka barangbarang itu sah diperjualbelikan.
4)
Barang yang diperjualbelikan jelas dan dapat dikuasai.
5)
Barang yang diperjualbelikan dapat diketahui kadarnya, jenisnya, sifat, dan
harganya.
6)
Boleh diserahkan saat akad berlangsung .[7]
d) Syarat-syarat nilai tukar (harga barang)

Nilai tukar barang yang dijull (untuk zaman sekarang adalah uang) tukar ini para
ulama fiqh membedakan al-tsaman dengan al-sir.Menurut mereka, al-tsaman
adalah harga pasar yang berlaku di tengah-tengah masyarakat secara actual,
sedangkan al-sir adalah modal barang yang seharusnya diterima para pedagang
sebelum dijual ke konsumen (pemakai).Dengan demikian, harga barang itu ada
dua, yaitu harga antar pedagang dan harga antar pedagang dan konsumen
(harga dipasar).
Syarat-syarat nilai tukar (harga barang) yaitu :
1)
Harga yang disepakati kedua belah pihak harus jelas jumlahnya.
2)
Boleh diserahkan pada waktu akad, sekalipun secara hukumseperti
pembayaran dengan cek dan kartu kredit. Apabila harga barang itu dibayar
kemudian (berutang) maka pembayarannya harus jelas.
3)
Apabila jual beli itu dilakukan dengan saling mempertukarkan barang maka
barang yang dijadikan nilai tukar bukan barang yang diharamkan oleh syara,
seperti babi, dan khamar, karena kedua jenis benda ini tidak bernilai menurut
syara.

C. Dasar hukum jual beli


Jual beli sebagai sarana tolong menolong antara sesama umat manusia
mempunyai landasan yang kuat dalam al-quran dan sunah Rasulullah saw.
Terdapat beberapa ayat al-quran dan sunah Rasulullah saw, yang berbicara
tentang jual beli, antara lain :
A. Al-Quran
1.
Allah berfirman Surah Al-Baqarah ayat 275 Allah menghalalkan jual beli
dan mengharamkan riba
2.
Allah berfirman Surah Al-Baqarah ayat 198 Tidak ada dosa bagimu untuk
mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu
3.
Allah berfirmanSurah An-Nisa ayat 29 kecuali dengan jalan perniagaan
yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu
B. Sunah Rasulullah saw
1.
Hadist yang diriwayatkan oleh Rifaah ibn Rafi : Rasulullah saw, ditanya
salah seorang sahabat mengenai pekerjaan apa yang paling baik. Rasulullah
sawa, menjawab usaha tangan manusia sendiri dan setiap jual beli yang
diberkati (H.R Al-Bazzar dan Al-Hakim).
Artinya jual beli yang jujur, tanpa diiringi kecurangan-kecurangan mendapat
berkah dari Allah SWT.
2.
Hadist dari al-Baihaqi, ibn majah dan ibn hibban, Rasulullah menyatakan :
Jual beli itu didasarkan atas suka sama suka
3.
Hadist yang diriwayatkan al-Tirmizi, Rasulullah bersabda : Pedagang
yang jujur dan terpercaya sejajar (tempatnya disurga) dengan para
nabi,shadiqqin, dan syuhada.

D. Hukum jual beli


Dari kandungan ayat-ayat Al-quran dan sabda-sabda Rasul di atas, para
ulama fiqh mengatakan bahwa hukum asal dari jual beli yaitu mubah
(boleh).Akan tetapi, pada situasi-situasi tertentu.Menurut Imam al-Syathibi (w.
790 h), pakar fiqh Maliki, hukumnya boleh berubah menjadi wajib.Imam alSyathibi memberi contoh ketika terjadi praktik ihtikar (penimbunan barang
sehingga stok hilang dari pasar dan harga melonjak naik).Apabila seorang
melakukan ihtikar dan mengakibatkan melonjaknya harga barang yang ditimbun

dan disimpan itu, maka menurutnya, pihak pemerintah boleh memaksa


pedagang untuk menjual barangnya itu sesuai dengan harga sebelum terjadinya
pelonjakan harga.Dalam hal ini menurutnya, pedagang itu wajib menjual
barangnya sesuai dengan ketentuan pemerintah. Hal ini sama prinsipnya dengan
al-Syathibi bahwa yang mubah itu apabila ditinggalkan secara total , maka
hukumnya boleh menjadi wajib. Apabila sekelompok pedagang besar melakukan
boikot tidak mau menjual beras lagi, pihak pemerintah boleh memaksa mereka
untuk berdagang beras dan pedagang ini wajib melaksanakannya .demikian
pula, pada kondisi-kondisi lainnya.

E. Macam-macam jual beli


Jual beli dapat ditinjau dari berbragai segi, yaitu:
a.
Ditinjau dari segi bendanya dapat dibedakan menjadi:
1)
Jual beli benda yang kelihatan, yaitu jual beli yang pada waktu akad,
barangnya ada di hadapan penjual dan pembeli.
2)
Jual beli salam, atau bisa juga disebut dengan pesanan. Dalam jual beli ini
harus disebutkan sifat-sifat barang dan harga harus dipegang ditempat akad
berlangsung.
3)
Jual beli benda yang tidak ada, Jual beli seperti ini tidak diperbolehkan
dalam agama Islam.
b.
Ditinjau dari segi pelaku atau subjek jual beli:
1)
Dengan lisan, akad yang dilakukan dengan lisan atau perkataan. Bagi
orang bisu dapat diganti dengan isyarat.
2)
Dengan perantara, misalnya dengan tulisan atau surat menyurat. Jual beli
ini dilakukan oleh penjual dan pembeli, tidak dalam satu majlis akad, dan ini
dibolehkan menurut syara.
3)
Jual beli dengan perbuatan, yaitu mengambil dan memberikan barang
tanpa ijab kabul. Misalnya seseorang mengambil mie instan yang sudah
bertuliskan label harganya. Menurut sebagian ulama syafiiyah hal ini dilarang
karena ijab kabul adalah rukun dan syarat jual beli, namun sebagian syafiiyah
lainnya seperti Imam Nawawi membolehkannya.
c.
Dinjau dari segi hukumnya
Jual beli dinyatakan sah atau tidak sah bergantung pada pemenuhan syarat dan
rukun jual beli yang telah dijelaskan di atas. Dari sudut pandang ini, jumhur
ulama membaginya menjadi dua, yaitu:
1) Shahih, yaitu jual beli yang memenuhi syarat dan rukunnya.
2) Ghairu Shahih, yaitu jual beli yang tidak memenuhi salah satu syarat dan
rukunnya.
Sedangkan fuqaha atau ulama Hanafiyah membedakan jual beli menjadi tiga,
yaitu:
1) Shahih, yaitu jual beli yang memenuhi syarat dan rukunnya
2) Bathil, adalah jual beli yang tidak memenuhi rukun dan syarat jual beli, dan
ini tidak diperkenankan oleh syara. Misalnya:
a.
Jual beli atas barang yang tidak ada ( bai al-madum ), seperti jual beli
janin di dalam perut ibu dan jual beli buah yang tidak tampak.
b.
Jual beli barang yang zatnya haram dan najis, seperti babi, bangkai dan
khamar.
c.
Jual beli bersyarat, yaitu jual beli yang ijab kabulnya dikaitkan dengan
syarat-syarat tertentu yang tidak ada kaitannya dengan jual beli.

d.
Jual beli yang menimbulkan kemudharatan, seperti jual beli patung, salib
atau buku-buku bacaan porno.
e.
Segala bentuk jual beli yang mengakibatkan penganiayaan hukumnya
haram, seperti menjual anak binatang yang masih bergantung pada induknya.[9]
3) Fasid yaitu jual beli yang secara prinsip tidak bertentangan dengan syara
namun terdapat sifat-sifat tertentu yang menghalangi keabsahannya. Misalnya :
a)
jual beli barang yang wujudnya ada, namun tidak dihadirkan ketika
berlangsungnya akad.
b)
Jual beli dengan menghadang dagangan di luar kota atau pasar, yaitu
menguasai barang sebelum sampai ke pasar agar dapat membelinya dengan
harga murah
c)
Membeli barang dengan memborong untuk ditimbun, kemudian akan dijual
ketika harga naik karena kelangkaan barang tersebut.
d)
Jual beli barang rampasan atau curian.
e)
Menawar barang yang sedang ditawar orang lain.

F.

Manfaat dan Hikmah Jual Beli

1)
Manfaat jual beli :
Manfaat jual beli banyak sekali, antara lain :
a)
Jual beli dapat menata struktur kehidupan ekonomi masyarakat yang
menghargai hak milik orang lain.
b)
Penjual dan pembeli dapat memenuhi kebutuhannya atas dasar kerelaan
atau suka sama suka.
c)
Masing-masing pihak merasa puas. Penjual melepas barang dagangannya
dengan ikhls dan menerima uang, sedangkan pembeli memberikan uang dan
menerima barang dagangan dengan puas pula. Dengan demikian, jual beli juga
mampu mendorong untuk saling bantu antara keduanya dalam kebutuhan
sehari-hari.
d)
Dapat menjauhkan diri dari memakan atau memiliki barang yang haram.
e)
Penjual dan pembeli mendapat rahmat dari Allah swt.
f)
Menumbuhkan ketentraman dan kebahagiaan.
2)
Hikmah jual beli
Hikmah jual beli dalam garis besarnya sebagai berikut :
Allah swt mensyariatkan jual beli sebagai pemberian keluangan dan
keleluasaan kepada hamba-hamba-Nya, karena semua manusia secara pribadi
mempunyai kebutuhan berupa sandang, pangan, dan papan.Kebutuhan seperti
ini tak pernah putus selama manusia masih hidup. Tak seorang pun dapat
memenuhi hajat hidupnya sendiri, karena itu manusia di tuntut berhubungan
satu sama lainnya. Dalam hubungan ini, taka da satu hal pun yang lebih
sempurna daripada saling tukar, dimana seorang memberikan apa yang ia miliki
untuk kemudian ia memperoleh sesuatu yang berguna dari orang lain sesuai
dengan kebutuhannya masing-masing.

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa jual beli itu
diperbolehkan dalam Islam.Hal ini dikarenakan jual beli adalah sarana manusia
dalam mencukupi kebutuhan mereka, dan menjalin silaturahmi antara
mereka.Namun demikian, tidak semua jual beli diperbolehkan.Ada juga jual beli
yang dilarang karena tidak memenuhi rukun atau syarat jual beli yang sudah
disyariatkan. Rukun jual beli adalah adanya akad (ijab kabul), subjek akad dan
objek akad yang kesemuanya mempunyai syarat-syarat yang harus dipenuhi,
dan itu semua telah dijelaskan di atas.Walaupun banyak perbedaan pendapat
dari kalangan ulama dalam menentukan rukun dan syarat jual beli, namun pada
intinya terdapat kesamaan, yang berbeda hanyalah perumusannya saja, tetapi
inti dari rukun dan syaratnya hampir sama.
Saran
Jual beli merupakan kegiatan yang sering dilakukan oleh setiap manusia,
namun pada zaman sekarang manusia tidak menghiraukan hukum islam. Oleh
karena itu, sering terjadi penipuan dimana-mana. Untuk menjaga perdamaian
dan ketertiban sebaiknya kita berhati-hati dalam bertransaksi dan alangkah
baiknya menerapkan hukum islam dalam interaksinya.
Allah SWT telah berfirman bahwasannya Allah memperbolehkan jual beli
dan mengharamkan riba.Maka dari itu, jauhilah riba dan jangan sampai kita
melakukun riba. Karena sesungguhnya riba dapat merugikan orang lain.

DAFTAR PUSTAKA
NasrunHaroen, 2007, fiqhMuamalah, Jakarta : Gaya Media Pratama.
SuhendiHendi, 1997, FiqhMuamalah,Jakarta : PT. Raja GrafindoPersada.
Drs. GhufronIhsan. MA, 2008, FiqhMuamalat, Jakarta :Prenada Media Grup.