Anda di halaman 1dari 6

Tugas Diskusi Kelompok Bk

FENOMENA BULLY DI SEKOLAH

Dibimbing oleh: Bu Hikmiyati


Kelas VIII A
Disusun oleh:
1. Elin Kartika
2. Farrah Rohmatul U.
3. Shalsya Lintang N.
4. Wahyu Khairunnisa

(08)
(10)
(27)
(30)

SMP N 1 KUTOWINANGUN
TAHUN PELAJARAN 2015/2016

FENOMENA BULLY DI SEKOLAH


1.

Pengertian bullying
Bullying merupakan suatu bentuk perilaku agresif yang diwujudkan dengan
perlakuan secara tidak sopan dan penggunaan kekerasan atau paksaan untuk
mempengaruhi orang lain, yang dilakukan secara berulang atau berpotensi untuk
terulang, dan melibatkan ketidakseimbangan kekuatan dan/atau kekuasaan. Perilaku

ini dapat mencakup pelecehan verbal, kekerasan fisik atau pemaksaan, dan dapat
diarahkan berulangkali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama,
gender, seksualitas, atau kemampuan.
Bentuk Bully terbagi dua, tindakan langsung seperti menyakiti, mengancam,
atau menjelekkan anak lain. Sementara bentuk tidak langsung adalah menghasut,
mendiamkan, atau mengucilkan anak lain. Apapun bentuk Bully yang dilakukan
seorang anak pada anak lain, tujuannya adalah sama, yaitu untuk menekan
korbannya, dan mendapat kepuasan dari perlakuan tersebut. Pelaku puas melihat
ketakutan, kegelisahan, dan bahkan sorot mata permusuhan dari korbannya.
Karakteristik korban Bully adalah mereka yang tidak mampu melawan atau
mempertahankan dirinya dari tindakan Bully. Bully biasanya muncul di usia sekolah.
Pelaku Bully memiliki karakteristik tertentu. Umumnya mereka adalah anak-anak
yang berani, tidak mudah takut, dan memiliki motif dasar tertentu. Motif utama yang
biasanya ditenggarai terdapat pada pelaku Bully adalah adanya agresifitas. Padahal,
ada motif lain yang juga bisa dimiliki pelaku Bully, yaitu rasa rendah diri dan
kecemasan. Bully menjadi bentuk pertahanan diri (defence mechanism) yang
digunakan pelaku untuk menutupi perasaan rendah diri dan kecemasannya tersebut.
Keberhasilan pelaku melakukan tindakan bully bukan tak mungkin berlanjut ke
bentuk kekerasan lainnya, bahkan yang lebih dramatis.
Ada yang menarik dari karakteristik pelaku dan korban Bully. Korban Bully
mungkin memiliki karakteristik yang bukan pemberani, memiliki rasa cemas, rasa
takut, rendah diri, yang kesemuanya itu (masing-masing atau sekaligus) membuat si
anak menjadi korban Bully. Akibat mendapat perlakuan ini, korban pun mungkin
sekali menyimpan dendam atas perlakuan yang ia alami.

2.

Jenis-jenis bullying
a. Bullying fisik
Yaitu jenis bullying yang melibatkan kontak fisik antara pelaku dan korban.
Perilaku yang termasuk, antara lain: memukul, menendang, mencubit, menampar,
membotaki, mengeroyok, meludahi, mendorong, mencekik, melukai
menggunakan benda, memaksa korban melakukan aktivitas fisik tertentu,
menjambak, merusak benda milik korban, dll. Bullying fisik adalah jenis yang
paling tampak dan mudah untuk diidentifikasi dibandingkan bullying jenis
lainnya.
b. Bullying verbal
Melibatkan bahasa verbal yang bertujuan menyakiti hati seseorang. Perilaku yang
termasuk, antara lain: mengejek, mencaci maki, memarahi, meledek, mengancam,
memberi nama julukan yang tidak pantas, memanggil dengan nama bapaknya,
memfitnah, pernyataan seksual yang melecehkan, meneror, dll. Kasus bullying
verbal termasuk jenis bullying yang sering terjadi dalam keseharian namun
seringkali tidak disadari. Dampak dari bullying verbal sering tidak kelihatan tetapi
dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban.
c. Bullying relasi sosial
Adalah jenis bullying bertujuan menolak dan memutus relasi sosial korban dengan
orang lain, meliputi pelemahan harga diri korban secara sistematis melalui

pengabaian, pengucilan atau penghindaran. Contoh bullying sosial antara lain:


menyebarkan rumor, mempermalukan seseorang di depan umum, menghasut
untuk menjauhi seseorang, menertawakan, menghancurkan reputasi seseorang,
menggunakan bahasa tubuh yang merendahkan, mengakhiri hubungan tanpa
alasan, dll.
d. Bullying elektronik
Merupakan merupakan bentuk perilaku bullying yang dilakukan melalui media
elektronik seperti komputer, handphone, internet, website, chatting room, e-mail,
SMS, dll. Perilaku yang termasuk antara lain menggunakan tulisan, gambar dan
video yang bertujuan untuk mengintimidasi, menakuti, dan menyakiti korban.
Contohnya Cyber Bullying yaitu Bullying lewat internet.

3.

Contoh bullying di sekolah


a) Menyisihkan seseorang dari pergaulan
b) Menyebarkan gosip, membuat julukan yang bersifat ejekan
c) Mengerjai seseorang untuk mempermalukannya

4.

Dampak perilaku bullying


Pelaku
1) Bullying yang terjadi pada tingkat SD dapat menjadi penyebab perilaku
kekerasan pada jenjang pendidikan berikutnya.
2) Pelaku cenderung berperilaku agresif dan terlibat dalam gank serta aktivitas
kenakalan lainnya.
3) Pelaku retan terlibat dalam kasus kriminal menginjak usia remaja.
Korban
1) Memiliki masalah emosi, akademik, dan perilaku jangka panjang.
2) Cenderung memiliki harga diri yang rendah, lebih merasa tertekan, suka
menyendiri, cemas, dan tidak aman.
3) Bullying menimbulkan berbagai masalah yang berhubungan dengan sekolah
seperti tidak suka terhadap sekolah, membolos, dan drop out.
4) Depresi
5) Pemalu dan penyendiri
6) Merosotnya prestasi akademik
7) Merasa terisolasi dalam pergaulan
8) Terpikir atau bahkan mencoba bunuh diri

Saksi
1) Mengalami perasaan yang tidak menyenangkan dan mengalami tekanan
psikologis yang berat.
2) Merasa terancam dan ketakutan akan menjadi korban selanjutnya.

3) Dapat mengalami prestasi yang rendah di kelas karena perhatian masih


terfokus pada bagaimana cara menghindari menjadi target bullying dari pada
tugas akademik.

5.

Cara mengatasi/mencegah bullying


a) Solusi bagi orang tua/ wali korban bullying
1. Satukan Persepsi dengan Istri/Suami. Sangat penting bagi suami-istri untuk satu
suara dalam menangani permasalahan yang dihadapi anak-anak di sekolah.
Karena kalau tidak, anak akan bingung, dan justru akan semakin tertekan.
Kesamaan persepsi yang dimaksud meliputi beberapa aspek, misalnya: apakah
orang tua perlu ikut campur, apakah perlu datang ke sekolah, apakah perlu
menemui orang tua pelaku intimidasi, termasuk apakah perlu lapor ke polisi.
2. Pelajari dan Kenali Karakter Anak Kita. Perlu kita sadari, bahwa satu satu
penyebab terjadinya bullying adalah karena ada anak yang memang punya
karakter yang mudah dijadikan korban. Saya sudah sampaikan tadi, salah satunya
adalah sikap cepat merasa bersalah, atau penakut, yang dimiliki anak saya.
Dengan mengenali karakter anak kita, kita akan bisa mengantisipasi berbagai
potensi intimidasi yang menimpa anak kita, atau setidaknya lebih cepat
menemukan solusi
3. Jalin Komunikasi dengan Anak. Tujuannya adalah anak akan merasa cukup
nyaman (meskipun tentu saja tetap ada rasa tidak nyaman) bercerita kepada kita
sebagai orang tuanya ketika mengalami intimidasi di sekolah.
4. Jangan terlalu cepat ikut campur. Idealnya, masalah antar anak-anak bisa
diselesaikan sendiri oleh mereka, termasuk di dalamnya kasus-kasus bullying.
Oleh karena itu, prioritas pertama memupuk keberanian dan rasa percaya diri pada
anak-anak kita (yang menjadi korban intimidasi). 6. Bicaralah dengan Orang yang
Tepat. Jika sudah memutuskan untuk ikut campur dalam menyelesaikan masalah,
pertimbangkan masak-masak apakah akan langsung berbicara dengan pelaku
intimidasi, orang tuanya, atau gurunya.
5. Jangan ajari anak lari dari masalah. Anak-anak kadang merespon intimidasi yang
dialaminya di sekolah dengan minta pindah sekolah. Kalau dituruti, itu sama saja
dengan lari dari masalah. Jadi, sebisa mungkin jangan dituruti. Kalau ada masalah
di sekolah, masalah itu yang mesti diselesaikan, bukan dengan lari ke sekolah
lain. Jangan lupa, bahwa kasus-kasus bullying itu terjadi hampir di semua sekolah.
6. Jangan Larut dalam Emosi. Ada yang bilang, orang emosi selalu kalah. Jadi,
usahakan semaksimal mungkin untuk tidak larut dalam emosi, baik dalam bentuk
menangisi anak kita (yang menjadi korban) maupun melabrak teman anak kita
atau orang tuanya. Semua langkah yang kita ambil harus terkendali oleh akal
sehat. Karena kalau tidak, masalah bisa melebar ke mana-mana. Dan kalau
masalahnya sudah selesai, atau dianggap selesai, jangan diungkit-ungkit terus.

Jadikan pelajaran, dan lupakan saja Masih banyak persoalan lain yang
menunggu.
b) Penanganan yang bisa dilakukan oleh guru
1. Usahakan mendapat kejelasan mengenai apa yang terjadi. Tekankan bahwa
kejadian tersebut bukan kesalahannya.
2. Bantu anak mengatasi ketidaknyamanan yang ia rasakan, jelaskan apa yang
terjadi dan mengapa hal itu terjadi. Pastikan anda menerangkan dalam bahasa
sederhana dan mudah dimengerti anak. JANGAN PERNAH MENYALAHKAN
ANAK atas tindakan bullying yang ia alami.
3. Mintalah bantuan pihak ketiga (guru atau ahli profesional) untuk membantu
mengembalikan anak ke kondisi normal, jika dirasakan perlu. Untuk itu bukalah
mata dan hati Anda sebagai orang tua. Jangan tabu untuk mendengarkan
masukan pihak lain.
4. Amati perilaku dan emosi anak anda, bahkan ketika kejadian bully yang ia alami
sudah lama berlalu (ingat bahwa biasanya korban menyimpan dendam dan
potensial menjadi pelaku di kemudian waktu). Bekerja samalah dengan pihak
sekolah (guru). Mintalah mereka membantu dan mengamati bila ada perubahan
emosi atau fisik anak anda. Waspadai perbedaan ekspresi agresi yang berbeda
yang ditunjukkan anak anda di rumah dan di sekolah (ada atau tidak ada orang
tua / guru / pengasuh).
5. Binalah kedekatan dengan teman-teman anak anda. Cermati cerita mereka
tentang anak anda. Waspadai perubahan atau perilaku yang tidak biasa.
6. Minta bantuan pihak ke tiga (guru atau ahli profesional) untuk menangani
pelaku.
c) Pencegahan bagi anak yang menjadi korban bullying
1. Bekali anak dengan kemampuan untuk membela dirinya sendiri, terutama ketika
tidak ada orang dewasa/ guru/ orang tua yang berada di dekatnya. Ini berguna
untuk pertahanan diri anak dalam segala situasi mengancam atau berbahaya, tidak
saja dalam kasus bullying. Pertahanan diri ini dapat berbentuk fisik dan psikis.
- Pertahanan diri Fisik : bela diri, berenang, kemampuan motorik yang baik
(bersepeda, berlari), kesehatan yang prima.
- Pertahanan diri Psikis : rasa percaya diri, berani, berakal sehat, kemampuan
analisa sederhana, kemampuan melihat situasi (sederhana), kemampuan
menyelesaikan masalah.
2. Bekali anak dengan kemampuan menghadapi beragam situasi tidak menyenangkan
yang mungkin ia alami dalam kehidupannya. Untuk itu, selain kemampuan
mempertahankan diri secara psikis seperti yang dijelaskan di no. 1a. Maka yang

diperlukan adalah kemampuan anak untuk bertoleransi terhadap beragam kejadian.


Sesekali membiarkan (namun tetap mendampingi) anak merasakan kekecewaan,
akan melatih toleransi dirinya.
3. Walau anak sudah diajarkan untuk mempertahankan diri dan dibekali kemampuan
agar tidak menjadi korban tindak kekerasan, tetap beritahukan anak kemana ia
dapat melaporkan atau meminta pertolongan atas tindakan kekerasan yang ia alami
(bukan saja bullying). Terutama tindakan yang tidak dapat ia tangani atau tindakan
yang terus berlangsung walau sudah diupayakan untuk tidak terulang.
4. Upayakan anak mempunyai kemampuan sosialisasi yang baik dengan sebaya atau
dengan orang yang lebih tua. Dengan banyak berteman, diharapkan anak tidak
terpilih menjadi korban bullying karena :
a. Kemungkinan ia sendiri berteman dengan pelaku, tanpa sadar bahwa
temannya pelaku bullying pada teman lainnya.
b. Kemungkinan pelaku enggan memilih anak sebagai korban karena si
anak memiliki banyak teman yang mungkin sekali akan membela si anak.
c. Sosialisasi yang baik dengan orang yang lebih tua, guru atau pengasuh
atau lainnya, akan memudahkan anak ketika ia mengadukan tindakan
kekerasan yang ia alami.

d)
1.

Penanganan buat anak yang menjadi pelaku Bullying:


Segera ajak anak bicara mengenai apa yang ia lakukan. Jelaskan bahwa
tindakannya merugikan diri dan orang lain. Upayakan bantuan dari tenaga ahlinya
agar masalah tertangani dengan baik dan selesai dengan tuntas.

2.

Cari penyebab anak melakukan hal tersebut. Penyebab menjadi penentu


penanganan. Anak yang menjadi pelaku karena rasa rendah diri tentu akan
ditangani secara berbeda dengan pelaku yang disebabkan oleh dendam karena
pernah menjadi korban.Demikian juga bila pelaku disebabkan oleh agresifitasnya
yang berbeda.

3.
6.

Posisikan diri untuk menolong anak dan bukan menghakimi anak.

Apakah anda pernah dibully?


Saya tidak tau