Anda di halaman 1dari 5

LTM 3

Diagnosis dan Pemeriksaan HIV-AIDS


Oleh Ghany Hendra Wijaya, 0806451385
Pendahuluan
Salah satu gejala imunodefisiensi yang paling menonjol dan yang membawa penderita ke dokter
adalah infeksi berulang atau berkelanjutan yang tidak dapat diatasi dengan terapi yang adekuat. 1 Oleh
karena itu, untuk memastikan diagnosis secara lebih akurat dan efektif diperlukan suatu pemeriksaan
menyeluruh berupa anamnesis, pemeriksaan fisik, dan algoritme pemeriksaan laboratorium pada
penderita imunodefisiensi mencakup uji saring maupun rencana rinci untuk mempelajari kelainan
neutrofil, fungsi limfosit B, limfosit T, dan komplemen, serta tes serologi.
Anamnesis
Anamnesis dalam diagnosis HIV-AIDS dilakukan terkait faktor risiko epidemiologis infeksi HIV
seperti perilaku berganti-ganti pasangan dalam hubungan seksual, kontak seks per anal, pengguna
narkotika intravena, terutama bila pemakaian jarum secara bersama tanpa sterilisasi yang memadai,
riwayat menerima transfusi darah berulang tanpa tes penapisan, riwayat perlukaan kulit, tato, tindik,
atau sirkumsisi dengan alat yang tidak disterilisasi.2
Gejala Klinis
Diagnosis infeksi HIV-AIDS dapat ditegakkan berdasarkan klasifikasi klinis WHO dan atau CDC. Di
Indonesia diagnosis AIDS ditegakkan bila menunjukkan tes HIV positif dan sekurang-kurangnya
didapatkan 2 gejala mayor dan satu gejala minor. 2

Tabel 1. Gejala Klinis HIV-AIDS2


Uji saring
Kelompok uji saring termasuk : hitung leukosit, trombosit, dan hitung jenis leukosit dengan
memperhatikan morfologi eritrosit dan leukosit, serta biakan kuman. 1 Kuman piogenik biasanya
menunjukkan kelainan fagosit, komplemen, dan limfosit B, sedangkan virus atau jamur umumnya
menunjukkan kelainan imunitas seluler (limfosit T). Pada penemuan jumlah neutrofil kurang dari 1800/

mikroliter atau jumlah limfosit absolut kurang dari 1500/mikroliter menimbulkan dugaaan ke arah
imunodefisiensi selular dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Akan tetapi, bila uji saring di atas tidak menunjukkan kelainan, pemeriksaan dilanjutkan dengan
uji imunitas humoral, yaitu pengukuran kadar imunoglobulin (IgG, IgA, IgM, IgE), titer isohemaglutinin
serta kadar komplemen terutama C3 dan C4, serta uji hemolitik. Penurunan kadar imunoglobulin
merupakan parameter kelainan sel B, sedangkan peningkatan kadar IgE menunjukkan sindrom hiperIgE. Penurunan kadar dan fungsi komplemen berarti hipokomplementemia yang mungkin juga
disebabkan ko-eksistensi penyakit autoimun di samping imunodefisiensi. Kelainan sel B dapat juga
diamati di tingkat selular, dan pengujiannya dilakukan pada pemeriksaan lanjutan.
Kadar normal pemeriksaan darah perifer :3
1. Hemoglobin (13 16 gr/dL)
6. Basofil (0-1%)
2. Hematokrit (40-48 %)
7. Eosinofil (1-3%)
3. Eritrosit (4,5-5,5 x 106/mikroliter)
8. Neutrofil (52-76%)
4.Trombosit (150-400 x 103/mikroliter)
9. Limfosit (20-40%)
5.Leukosit (5-10 x 103/mikroliter)
10.Monosit (2-8%)
Kadar imunoglobulin normal:4 IgA (78-367 mg/dL), IgG (583-1761 mg/dL), IgM (53-335 mg/dL); kadar
CD4 normal (500-1600 sel/mikroliter), CD8(375-1100 sel/mikroliter); kadar komplemen C3 (64-166
mg/dL), C4 (15-45 mg/dL).

Tabel 2. Uji saring1


Pemeriksaan lanjutan
Bila hasil pengujian humoral normal, pertimbangkan kelainan pada sel T dengan melakukan uji
imunitas selular.1 Perlu diingat juga bahwa uji kuantitatif saja seringkali tidak menunjukkan korelasi
dengan fungsi sel. Uji imunitas selular kualitatif yang sering dilakukan adalah uji kulit dan uji fungsi
limfosit, misalnya uji stimulasi limfosit dengan rangsangan mitogen (transformasi blast) atau pengujian
migration inhibitory factor. Jumlah sel T dapat dihitung dengan berbagai cara diantaranya dengan
mendeteksi petanda spesifik pada permukaan sel menggunakan antibodi monoklonal dengan prinsip
imunofluoresensi. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan mikroskop fluoresensi atau alat
yang lebih canggih yang dapat memilah-milah setiap populasi dan subpopulasi limfosit secara otomatis
berdasarkan penanda permukaannya (CD) yaitu dengan flowcytometer atau fluorescence activated cell
sorter (FACS). Pada penderita defisiensi sel T dapat dijumpai hasil uji kulit negatif, jumlah sel T rendah
atau hasil uji stimulasi negatif.
Untuk menguji limfosit B di tingkat selular dapat digunakan prinsip yang sama, misalnya aktivasi
dengan mitogen atau antigen, dan mengukur kadar antibodi yang diproduksi. Pada uji biosintesis ini
yang diuji adalah kemampuan sel B yang telah distimulasi dan menjadi sel plasma, untuk mensintesis
atau mensekresi imunoglobulin. Hal ini dilakukan dengan mengukur kadar imunoglobulin yang
disekresikan dengan cara radioimunoassay, atau mempelajari imunoglobulin intra-sitoplasmik yang

diwarnakan dengan anti-imunoglobulin berlabel fluoresin di bawah mikroskop UV atau dengan


flowcytometer.
Penilaian fungsi fagositosis dapat dilakukan bertahap sesuai dengan fase proses fagositosis,
seperti diuraikan sebelumnya, tetapi yang paling mudah adalah uji nitroblue tetrazolium (NBT). Uji NBT
menguji kemampuan neutrofil untuk mereduksi NBT menjadi formazan yang berwarna biru. Hal ini
menggambarkan kemampuan neutrofil untuk membentuk hidrogen peroksida dan superoksida, dengan
demikian menggambarkan kemampuan membunuh kuman intraselular. Hasil uji NBT abnormal antara
lain dijumpai pada chronic granulomatous disease (CGD).
Penilaian fungsi limfosit maupun fagosit umumnya merupakan uji biologik dan pada bermacammacam kelainan intrinsik cara ini umumnya hanya dapat mendeteksi gangguan dengan kelainan fungsi
yang lengkap, karena pada kelainan fungsi yang parsial, hasil pengujian ini sulit ditafsirkan. Namun,
bila dilengkapi dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang cermat, hasil pengujian di atas dapat
digunakan untuk menunjang diagnosis secara lebih akurat dan efisien.

Pemeriksaan Serologi
Dalam menegakkan diagnosis HIV-AIDS diperlukan tes serologi berupa Enzyme linked
immunosorbent assay (ELISA) dan kemudian dilakukan tes konfirmasi dengan menggunakan Western
blot (WB). Selain itu dapat juga dilakukan metode polymerase chain reaction, bila pada beberapa tes
serologi tidak konklusif. 5

Diagram 1. Algoritma serologi


HIV-AIDS

ELISA
Merupakan metode skrining yang
paling

sering

digunakan.

Metode

ini

digunakan untuk mendeteksi antigen atau antibodi spesifik tertentu. 5 Paling sering digunakan untuk
mendeteksi antibodi spesifik tertentu. Prinsip dan langkah kerja:
1. Larutan antigen + buffer spesifik ditaruh pada masing-masing lubang dari microplate (wadah
ELISA).
2. Kemudian ditambahkan serum antibodi yang akan dicek pada masing-masing lubang dari
3.

microplate tersebut.
Bila cocok, maka akan terbentuk kompleks antigen-antibodi, yang dapat dideteksi dengan
menambahkan lagi antibodi + enzim yang dapat berikatan dengan kompleks antigen-antibodi

tersebut.
4. Setelah itu ditambahkan substrat ke dalamnya, apabila terjadi katalisis oleh enzim maka
ditandai dengan adanya perubahan warna pada microplate.

Gambar 1. Mikrotiter pada ELISA6


Western Blot
Western blot merupakan uji yang memanfaatkan reaksi antigen-antibodi yang spesifik pada
pasien yang terinfeksi HIV. Infeksi HIV menginduksi respon antibodi yang spesifik pada pasien. Dengan
memanfaatkan respon yang spesifik tersebut, uji ini dapat mengkonfirmasi infeksi HIV.
Antigen dapat dipisahkan berdasarkan berat molekulnya. Antibodi kemudian akan bereaksi
terhadap antigen yang sesuai dan membentuk gambaran pita yang khas. Ciri khas dari uji Western blot
negatif adalah tidak adanya antibodi spesifik yang terbentuk terhadap antigen HIV, sementara itu
terbentuknya antibodi terhadap komponen antigen pol, env, dan gag dari HIG merupakan penanda
positif definit dari HIV.

Gambar 2 dan 3.
Western Blot

Determinasi RNA HIV


Determinasi RNA HIV yang paling sering digunakan adalah PT-PCR dan bDNA. RT-PCR
memanfaatkan spesimen RNA dari plasma dan membentuk cDNA menggunakan reverse transcriptase.
cDNA kemudian akan diamplifikasi dan diamplifikasi kemudian dicirikan dengan menggunakan teknik
PCR standard. Pemeriksaan bDNA melibatkan penggunaan sistem penangkapan fase solid asam
nukleat, dan kemudian amplifikasi sinyal melalui hibridiasi asam nukleat untuk mendeteksi RNA HIV
dalam jumlah yang sangat kecil.

Hal

Gambar 6. PCR HIV-AIDS5


yang
perlu
diperhatikan
dalam

melakukan tes

terhadap antibodi HIV ini yaitu adanya

masa jendela.

Masa

tubuh

terinfeksi HIV sampai mulai timbulnya

jendela

adalah

waktu

sejak

antibodi yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan. Antibodi mulai terbentuk pada 4-8 minggu setelah
infeksi. Jadi, jika pada masa ini hasil tes HIV pada seseorang yang sebenarnya sudah terinfeksi HIV
dapat memberikan hasil yang negatif. Untuk itu jika kecurigaan akan adanya risiko terinfeksi cukup
tinggi, perlu dilakukan pemeriksaan ulangan 3 bulan kemudian. 7
Kesimpulan berdasarkan pemicu:
Pada pemicu didapatkan pasien mempunyai riwayat faktor risiko yang mendukung yaitu mantan
pemakai narkoba suntik, pada pemeriksaan fisik juga ditemukan gejala dan tanda infeksi oportunistik
berupa diare, sakit tenggorokan, dan sariawan. Oleh karena itu selanjutnya perlu dilakukan
pemeriksaan darah perifer lengkap beserta hitung jenis lengkap kemudian diikuti dengan pemeriksaan
serologi HIV berupa ELISA dan Western Blot atau PCR untuk memastikan diagnosis. Selain itu juga
diperlukan pemeriksaan untuk menentukan status imun secara lebih spesifik (hitung jumlah CD4),
evaluasi terhadap infeksi sekunder sehingga dapat ditetapkan stadium penyakit, prognosis serta
strategi pelaksanaan.
Daftar Pustaka:
1. Kresno SB. Pemeriksaan laboratorium pada imunodefisiensi. In; Imunologi:Diagnosis dan
prosedur laboratorium. Jakarta:Balai Penerbit FKUI;2001;253-5
2. Nasronuddin. Diagnosis infeksi HIV dan AIDS. In: HIV & AIDS Pendekatan Biologi Molekuler,
Klinis, dan Sosial. Surabaya:Airlangga Press;
3. Laboratorium Departemen Patologi Klinik FKUI/RSCM. Lembar pemeriksaan patologi klinik.
Jakarta:FKUI/RSCM;2010
4. Nicoll D. Pocket guide to diagnostic test. San Fransisco:The McGraw-Hill Companies;2004
5. Fauci AS, Lane HC. Human immunodeficienccy virus disease: AIDS and related disorder. In: Fauci
AS, Braunwald E, Kasper DL, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, et al. Harrisons principle of
internal medicine. 17th ed. USA: McGraw Hill, 2008. p 1689-1694.
6. AIDS Education. Picture of microtiter. Diunduh dari http:www.aids.org ; 7 April 2011
7. Djoerban Z. HIV/AIDS di Indonesia. In: Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid III.Edisi 5.
Jakarta:Interna Publishing;2010;2864-5