Anda di halaman 1dari 32

HUBUNGAN LEUKOSITOSIS DENGAN KOMPLIKASI

PERDARAHAN PADA PASIEN PASCA OPERASI


ADENOTONSILEKTOMI DI RSUD KOTA SEMARANG
TAHUN 2015

PENELITIAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas pada Bagian Ilmu THT RSUD Kota Semarang

Pembimbing : dr. Djoko Prasetyo Adinugroho, Sp.THT

Disusun oleh :
Hengki
Cherry Valencia
Jennefer
Qanita Afla Afnia
William

KEPANITERAAN KLINIK ILMU THT-KL


RSUD KOTA SEMARANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
JAKARTA, JANUARI 2016

LEMBAR PENGESAHAN
Nama

: Hengki
Cherry Valencia
Jennefer
Qanita Afla Afnia
William

Fakultas

: Kedokteran Umum

Universitas

: Universitas Tarumanagara Jakarta

Tingkat

: Program Pendidikan Profesi Dokter

Bidang Pendidikan

: Ilmu Penyakit THT

Periode Kepaniteraan Klinik

: 18 Januari 2015 13 Februari 2016

Judul Penelitian

: Hubungan
Leukositosis
dengan
komplikasi
perdarahan
pada
pasien
pasca
operasi
adenotonsilektomi di RSUD kota Semarang tahun
2015

Diajukan

: Februari 2016

Pembimbing

: dr. Djoko Prasetyo Adi, Sp.THT

Telah Diperiksa dan Disahkan Tanggal


Mengetahui:
Ketua SMF Ilmu Penyakit THT dan

Pembimbing

Pembimbing

dr. Bambang A. Soe, Sp.THT

dr. Djoko Prasetyo Adinugroho,

Sp.THT
2

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada TuhanYang Maha Esa sehingga
penelitian dengan judul Hubungan Leukositosis dengan Komplikasi Perdarahan
pada Pasien Pasca Operasi Adenotonsilektomi di RSUD Kota Semarang dapat
selesai dengan baik dan tepat pada waktunya.
Penelitian ini disusun dalam rangka memenuhi syarat Kepaniteraan Klinik
Bagian Ilmu THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara di Rumah Sakit
Umum Daerah Kota Semarang periode 18 Januari 2015 13 Februari 2016.
Dalam kesempatan ini penulis ucapkan terima kasih banyak atas bantuan
dan kerjasama sehingga penelitian ini dapat diselesaikan, kepada :
1. Ibu Susi Herawati, selaku Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota
Semarang yang telah memberikan kesempatan pada penulis untuk
menimba ilmu kepaniteraan klinik ilmu penyakit THT di RSUD Kota
Semarang.
2. dr. Djoko Prasetyo Adinugroho, Sp. THT, selaku pembimbing penulis
dalam menyelesaikan penelitian ini yang telah meluangkan waktunya
dan banyak memberikan saran yang sangat membantu dalam
penyelesaian penelitian ini
3. dr. Bambang A. Soe, Sp. THT, selaku Ketua SMF Ilmu THT RSUD
Kota Semarang dan pembimbing kepaniteraan klinik bagian ilmu THT
RSUD Kota Semarang.
4. Rekan sejawat koas dari Universitas Trisakti yang telah banyak
membantu penulis dalam mengumpulkan data responden penelitian ini
Penulis menyadari masih banyak kekurangan karena kemampuan dan
pengalaman penulis yang masih terbatas. Oleh karena itu, penulis mohon maaf
yang sebesar-besarnya apabila masih banyak kesalahan dalam penelitian ini.
Akhir kata, semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.

DAFTAR ISI
Lembar Judul......................................................................................................... 1
Lembar pengesahan.................................................................................................2
Kata Pengantar.........................................................................................................3
Daftar Isi..................................................................................................................4
Bab I Pendahuluan...................................................................................................5
Bab II Tinjauan Pustaka...........................................................................................8
Kerangka konsep ..21
Bab III Metodologi Penelitian ...........................................................22
Bab IV Hasil Penelitian..........................................................................................26
Bab VI Pembahasan............................................................................................. 28
Bab VII Kesimpulan dan Saran..............................................................................31
Bab VIII Daftar Pustaka.........................................................................................32
Lampiran 1.............................................................................................................33

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

PENDAHULUAN
Adenoidektomi adalah prosedur pengambilan kelenjar adenoid yang

merupakan jaringan limfoid yang terletak di belakang hidung.1 Adenoidektomi


lebih sering dilakukan pada anak-anak dibanding dewasa. Pada anak, pembesaran
kelenjar adenoid dapat menyebabkan penyumbatan jalan nafas yang mengganggu
proses bernafas dan pada saat tidur. Pembesaran kelenjar adenoid juga sering
didapatkan pada anak dengan infeksi telinga kronis. Adenoidektomi sering
berhubungan dengan prosedur operasi lain seperti tonsilektomi yang merupakan
prosedur pembedahan eksisi tonsil palatina.2 Pada prakteknya, diabad ke-20 ini,
tonsilektomi biasa dilakukan bersama dengan adenoidektomi, yang disebut
adenotonsilektomi.1
Tonsilektomi merupakan prosedur yang paling sering dilakukan dalam
sejarah operasi dan salah satu prosedur tertua yang masih dilakukan sejak tahun
1000 SM dan frekuensinya menurun drastis sejak munculnya antibiotik.3 Pada
tahun 1985 di Amerika Serikat, insiden prosedur tonsilektomi sebesar 350.000
sampai 400.000 per tahun3 dan pada tahun 2006, lebih dari 530.000 prosedur
operasi tonsilektomi pada anak dilakukan pertahunnya. Pada dekade terakhir,
tonsilektomi tidak hanya dilakukan untuk tonsilitis berulang, namun juga untuk
berbagai kondisi yang lebih luas termasuk kesulitan makan, kegagalan
penambahan berat badan, overbite, tounge thrust, halitosis, mendengkur,
gangguan bicara dan enuresis. American Academy of Otolaryngology-Head and
Neck Surgery telah mengeluarkan rekomendasi resmi yang merupakan
kesepakatan para ahli mengenai indikasi tindakan tonsilektomi. Adenoidektomi
pertama dilakukan pada tahun 1800-an. Sedangkan adenotonsilektomi telah rutin
dilakukan sejak awal tahun 1900-an.4
Setiap tindakan operatif tentu akan memberikan beberapa risiko, termasuk
pada adenoidektomi yang tidak bebas dari morbiditas dan mortalitas.3 Salah satu
5

komplikasi yang sering timbul akibat dari tindakan ini adalah perdarahan, baik
perdarahan primer (kurang dari 24 jam) maupun perdarahan sekunder (antara 24
jam sampai 10 hari).12 Penyebab perdarahan post adenotonsilektomi pun
bervariasi, antara lain karena trauma, jahitan terlepas, gangguan hemodinamik dan
infeksi dengan leukositosis dan lain-lain. Leukositosis yang berhubungan dengan
infeksi merupakan salah satu penyebab tersering dari perdarahan pasca tindakan
adenotonsilektomi. Oleh karena itu, peneliti ingin melakukan penelitian untuk
mengetahui ada atau tidaknya hubungan leukositosis dengan komplikasi
perdarahan pasca tindakan adenotonsilektomi di RSUD Kota Semarang.
1.2

RUMUSAN MASALAH
Perdarahan merupakan komplikasi tersering yang mungkin terjadi pada

pasca tindakan adenotonsilektomi, penyebab dari perdarahan pasca tindakan


adenotonsilektomi pun bervariasi, salah satu yang paling sering adalah faktor
leukositosis yang berhubungan dengan infeksi pada pasien. Dalam beberapa
sumber, leukositosis disebut sebagai salah satu yang berhubungan dengan
perdarahan pasca tindakan adenotonsilektomi. Oleh karena itu, Penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui hubungan leukositosis dengan komplikasi perdarahan
primer dan sekunder yang terjadi pada pasien pasca adenotonsilektomi.

1.3

TUJUAN PENELITIAN
Untuk mengetahui hubungan leukositosis dengan komplikasi perdarahan

pada pasien pasca tindakan adenotonsilektomi di RSUD Kota Semarang


sepanjang tahun 2015.

1.4

MANFAAT PENELITIAN
1.4.1 Bagi ilmu pengetahuan
memberikan

kontribusi

Penelitian
ilmiah

ini

mengenai

diharapkan
adanya

dapat

hubungan
6

leukositosis pada pasien yang mengalami komplikasi perdarahan


pasca tindakan adenotonsilektomi.
1.4.2 Bagi profesi

: Penelitian ini diharapkan dapat menambah

wawasan praktisi tenaga medis.


1.4.3 Bagi masyarakat

: Penelitian ini diharapkan dapat berguna

sebagai informasi kepada masyarakat tentang komplikasi yang


mungkin timbul pasca tindakan operatif adenotonsilektomi, khususnya
perdarahan dan faktor yang diduga menjadi penyebabnya, yaitu
infeksi dengan leukositosis ( Jumlah leukosit > 10.000 ) .

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Definisi
Tonsilektomi adalah operasi pengangkatan satu atau kedua tonsil palatina.

Tonsiloadenoidektomi adalah pengangkatan tonsil palatina dan jaringan limfoid di


nasofaring yang dikenal sebagai adenoid atau tonsil faringeal.1,2,3,5

2.2.

Epidemiologi
Tonsilektomi merupakan prosedur operasi yang praktis dan aman, namun

tidak berarti tonsilektomi merupakan operasi minor karena tetap memerlukan


keterampilan dan ketelitian yang tinggi dari operator dalam pelaksanaannya. Di
AS karena kekhawatiran komplikasi, tonsilektomi digolongkan pada operasi
mayor. Di Indonesia, tonsilektomi digolongkan pada operasi sedang karena durasi
operasi pendek dan teknik tidak sulit.
Pada awal tahun 1960 dan 1970-an, telah dilakukan 1 sampai 2 juta
tonsilektomi, adenoidektomi atau gabungan keduanya setiap tahunnya di Amerika
Serikat. Angka ini menunjukkan penurunan dari waktu ke waktu dimana pada
tahun 1996, diperkirakan 287.000 anak-anak di bawah 15 tahun menjalani
tonsilektomi, dengan atau tanpa adenoidektomi. Dari jumlah ini, 248.000 anak
(86,4%) menjalani tonsiloadenoidektomi dan 39.000 lainnya (13,6%) menjalani
tonsilektomi saja. Tren serupa juga ditemukan di Skotlandia. Sedangkan pada
orang dewasa berusia 16 tahun atau lebih, angka tonsilektomi meningkat dari 72
per 100.000 pada tahun 1990 (2.919 operasi) menjadi 78 per 100.000 pada tahun
1996 (3.200 operasi).1
Di Indonesia, data nasional mengenai jumlah operasi tonsilektomi atau
tonsiloadenoidektomi belum ada. Namun, data yang didapatkan dari RSUPNCM
selama 5 tahun terakhir (1999-2003) menunjukkan kecenderungan penurunan
8

jumlah operasi tonsilektomi. Fenomena ini juga terlihat pada jumlah operasi
tonsiloadenoidektomi dengan puncak kenaikan pada tahun kedua (275 kasus) dan
terus menurun sampai tahun 2003 (152 kasus). Sedangkan data dari rumah sakit
Fatmawati dalam 3 tahun terakhir (2002-2004) menunjukkan kecenderungan
kenaikan

jumlah

operasi

tonsilektomi

dan

penurunan

jumlah

operasi

tonsiloadenoidektomi.1

2.3.

Embriologi dan Anatomi Tonsil


2.3.1. Embriologi
Pada permulaan pertumbuhan tonsil, terjadi invaginasi kantong
brakial ke II ke dinding faring akibat pertumbuhan faring ke lateral.
Selanjutnya terbentuk fosa tonsil pada bagian dorsal kantong tersebut, yang
kemudian ditutupi epitel. Bagian yang mengalami invaginasi akan membagi
lagi dalam beberapa bagian, sehingga terjadi kripta. Kripta tumbuh pada
bulan ke 3 hingga ke 6 kehidupan janin, berasal dari epitel permukaan. Pada
bulan ke 3 tumbuh limfosit di dekat epitel tersebut dan terjadi nodul pada
bulan ke 6, yang akhirnya terbentuk jaringan ikat limfoid. Kapsul dan
jaringan ikat lain tumbuh pada bulan ke 5 dan berasal dari mesenkim,
dengan demikian terbentuklah massa jaringan tonsil.1
2.3.2. Anatomi 1, 6, 7
Cincin waldeyer merupakan jaringan limfoid yang mengelilingi
faring. Bagian terpentingnya adalah tonsil palatina dan tonsil faringeal
(adenoid). Unsur yang lain adalah tonsil lingual, gugus limfoid lateral faring
dan kelenjar-kelenjar limfoid yang tersebar dalam fosa Rosenmuller, di
bawah mukosa dinding posterior faring dan dekat orifisium tuba eustachius.
a.

Tonsil Palatina
Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di

dalam fosa tonsil pada kedua sudut orofaring, dan dibatasi oleh pilar anterior
(otot palatoglosus) dan pilar posterior (otot palatofaringeus). Tonsil
berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil mempunyai
9

10-30 kriptus yang meluas ke dalam jaringan tonsil. Tonsil tidak selalu
mengisi seluruh fosa tonsilaris, daerah yang kosong diatasnya dikenal
sebagai fosa supratonsilar. Tonsil terletak di lateral orofaring. Dibatasi oleh:
-

Lateral m. konstriktor faring superior

Anterior m. Palatoglosus

Posterior m. Palatofaringeus

Superior palatum mole

Inferior tonsil lingual

Gambar 1. Cavum oral

Secara mikroskopik tonsil terdiri atas 3 komponen yaitu jaringan


ikat, folikel germinativum (merupakan sel limfoid) dan jaringan interfolikel
(terdiri dari jaringan linfoid). Tedapat klasifikasi ukuran tonsil palatine,
yaitu :

10

Gambar 2. Hubungan ukuran tonsil dan besarnya obstruksi pernapasanan


yang terjadi
Ukuran ini berkaitan dengan ada atau tidaknya tanda-tanda obstruksi
pernapasan. Tonsil +1 biasanya diikuti dengan tanda obstruksi pernapasan
25%, tonsil + 225-50%, tonsil +3 50-75%, dan tonsil + 4 dengan tanda
obstruksi > 75%.1
b.

Fosa Tonsil
Fosa tonsil atau sinus tonsil dibatasi oleh otot-otot orofaring, yaitu

batas anterior adalah otot palatoglosus, batas lateral atau dinding luarnya
adalah otot konstriktor faring superior. Pilar anterior mempunyai bentuk
seperti kipas pada rongga mulut, mulai dari palatum mole dan berakhir di
sisi lateral lidah. Pilar posterior adalah otot vertikal yang ke atas mencapai
palatum mole, tuba eustachius dan dasar tengkorak dan ke arah bawah
meluas hingga dinding lateral esofagus, sehingga pada tonsilektomi harus
hati-hati agar pilar posterior tidak terluka. Pilar anterior dan pilar posterior
bersatu di bagian atas pada palatum mole, ke arah bawah terpisah dan masuk
ke jaringan di pangkal lidah dan dinding lateral faring.

11

c.

Kapsul Tonsil
Bagian permukaan lateral tonsil ditutupi oleh suatu membran

jaringan ikat, yang disebut kapsul. Walaupun para pakar anatomi


menyangkal adanya kapsul ini, tetapi para klinisi menyatakan bahwa kapsul
adalah jaringan ikat putih yang menutupi 4/5 bagian tonsil.
d.

Plika Triangularis
Diantara pangkal lidah dan bagian anterior kutub bawah tonsil

terdapat plika triangularis yang merupakan suatu struktur normal yang telah
ada sejak masa embrio. Serabut ini dapat menjadi penyebab kesukaran saat
pengangkatan tonsil dengan jerat. Komplikasi yang sering terjadi adalah
terdapatnya sisa tonsil atau terpotongnya pangkal lidah.
e.

Pendarahan
Tonsil mendapat pendarahan dari cabang-cabang A. karotis eksterna,

yaitu 1) A. maksilaris eksterna (A. fasialis) dengan cabangnya A. tonsilaris


dan A. palatina asenden; 2) A. maksilaris interna dengan cabangnya A.
palatina desenden; 3) A. lingualis dengan cabangnya A. lingualis dorsal; 4)
A. faringeal asenden. Kutub bawah tonsil bagian anterior diperdarahi oleh
A. lingualis dorsal dan bagian posterior oleh A. palatina asenden, diantara
kedua daerah tersebut diperdarahi oleh A. tonsilaris. Kutub atas tonsil
diperdarahi oleh A. faringeal asenden dan A. palatina desenden. Vena-vena
dari tonsil membentuk pleksus yang bergabung dengan pleksus dari faring.
Aliran balik melalui pleksus vena di sekitar kapsul tonsil, vena lidah dan
pleksus faringeal.

12

Gambar 3. Pembuluh darah yang memperdarahi tonsil palatina


f.

Aliran getah bening


Aliran getah bening dari daerah tonsil akan menuju rangkaian getah

bening servikal profunda (deep jugular node) bagian superior di bawah M.


Sternokleidomastoideus, selanjutnya ke kelenjar toraks dan akhirnya menuju
duktus torasikus. Tonsil hanya mempunyai pembuluh getah bening eferan
sedangkan pembuluh getah bening aferen tidak ada.
g.

Persarafan
Tonsil bagian atas mendapat sensasi dari serabut saraf ke V melalui

ganglion sfenopalatina dan bagian bawah dari saraf glosofaringeus.


h.

Imunologi Tonsil
Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit,

0,1-0,2% dari keseluruhan limfosit tubuh pada orang dewasa. Proporsi


limfosit B dan T pada tonsil adalah 50%:50%, sedangkan di darah 5575%:15-30%. Pada tonsil terdapat sistim imun kompleks yang terdiri atas sel
M (sel membran), makrofag, sel dendrit dan APCs (antigen presenting cells)
yang berperan dalam proses transportasi antigen ke sel limfosit sehingga
terjadi sintesis imunoglobulin spesifik. Juga terdapat sel limfosit B, limfosit
T, sel plasma dan sel pembawa IgG.

13

Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk


diferensiasi dan proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi. Tonsil
mempunyai 2 fungsi utama yaitu 1) menangkap dan mengumpulkan bahan
asing dengan efektif; 2) sebagai organ utama produksi antibodi dan
sensitisasi sel limfosit T dengan antigen spesifik.
2.3.3. Tonsil Faringeal (Adenoid)
Adenoid merupakan masa limfoid yang berlobus dan terdiri dari
jaringan limfoid yang sama dengan yang terdapat pada tonsil. Lobus atau
segmen tersebut tersusun teratur seperti suatu segmen terpisah dari sebuah
ceruk dengan celah atau kantong diantaranya. Lobus ini tersusun
mengelilingi daerah yang lebih rendah di bagian tengah, dikenal sebagai
bursa faringeus. Adenoid tidak mempunyai kriptus. Adenoid terletak di
dinding belakang nasofaring. Jaringan adenoid di nasofaring terutama
ditemukan pada dinding atas dan posterior, walaupun dapat meluas ke fosa
Rosenmuller dan orifisium tuba eustachius. Ukuran adenoid bervariasi pada
masing-masing anak. Pada umumnya adenoid akan mencapai ukuran
maksimal antara usia 3-7 tahun kemudian akan mengalami regresi.

2.4.

Indikasi Tonsilektomi
Indikasi tonsilektomi dulu dan sekarang tidak berbeda, namun terdapat

perbedaan prioritas relatif dalam menentukan indikasi tonsilektomi pada saat ini.
Dulu tonsilektomi diindikasikan untuk terapi tonsilitis kronik dan berulang. Saat
ini, indikasi yang lebih utama adalah obstruksi saluran napas dan hipertrofi tonsil.
Untuk keadaan emergency seperti adanya obstruksi saluran napas, indikasi
tonsilektomi sudah tidak diperdebatkan lagi (indikasi absolut). Namun, indikasi
relatif tonsilektomi pada keadaan non emergency dan perlunya batasan usia pada
keadaan ini masih menjadi perdebatan. Sebuah kepustakaan menyebutkan bahwa
usia tidak menentukan boleh tidaknya dilakukan tonsilektomi.1

14

1.

Indikasi Absolut (AAO)


a. Pembengkakan tonsil yang menyebabkan obstruksi saluran napas,
disfagia berat, gangguan tidur dan komplikasi kardiopulmoner
b. Abses peritonsil yang tidak membaik dengan pengobatan medis dan
drainase
c. Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam
d. Tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan patologi
anatomi

2. Indikasi Relatif (AAO)


a. Terjadi 3 episode atau lebih infeksi tonsil per tahun dengan terapi
antibiotik adekuat
b. Halitosis akibat tonsilitis kronik yang tidak membaik dengan pemberian
terapi medis
c. Tonsilitis kronik atau berulang pada karier streptokokus yang tidak
membaik dengan pemberian antibiotik -laktamase resisten

Pada keadaan tertentu seperti pada abses peritonsilar (Quinsy), tonsilektomi


dapat dilaksanakan bersamaan dengan insisi abses.
Saat mempertimbangkan tonsilektomi untuk pasien dewasa harus
dibedakan apakah mereka mutlak memerlukan operasi tersebut atau hanya sebagai
kandidat. Dugaan keganasan dan obstruksi saluran nafas merupakan indikasi
absolut untuk tonsilektomi. Tetapi hanya sedikit tonsilektomi pada dewasa yang
dilakukan atas indikasi tersebut, kebanyakan karena infeksi kronik. Akan tetapi
semua bentuk tonsilitis kronik tidak sama, gejala dapat sangat sederhana seperti
halitosis, debris kriptus dari tonsil (cryptic tonsillitis) dan pada keadaan yang
lebih berat dapat timbul gejala seperti nyeri telinga dan nyeri atau rasa tidak enak
di tenggorok yang menetap. Indikasi tonsilektomi mungkin dapat berdasarkan
terdapat dan beratnya satu atau lebih dari gejala tersebut dan pasien seperti ini
harus dipertimbangkan sebagai kandidat untuk tonsilektomi karena gejala tersebut
dapat mempengaruhi kualitas hidup walaupun tidak mengancam nyawa.
15

2.5.

Kontraindikasi
Terdapat beberapa keadaan yang disebutkan sebagai kontraindikasi,

namun bila sebelumnya dapat diatasi, operasi dapat dilaksanakan dengan tetap
memperhitungkan imbang manfaat dan risiko. Keadaan tersebut adalah:1,3
1. Gangguan perdarahan
2. Risiko anestesi yang besar atau penyakit berat
3. Anemia
4. Infeksi akut yang berat

2.6.

Teknik Operasi Tonsilektomi


Terdapat beberapa teknik operasi tonsilektomi. Pemelihan teknik operasi

tersebut difokuskan pada mortalitas seperti nyeri, perdarahan peri dan paska
operasi, durasi operasi, serta kemampuan dan pengalaman ahli bedah, dan juga
ketersedian teknologi yang mendukung. Di Indonesia teknik terbanyak yang
dilakukan adalah teknik Gullotine dan diseksi1
1.

Cara Guillotine
Diperkenalkan pertama kali oleh Philip Physick (1828) dari Philadelphia,

sedangkan cara yang masih digunakan sampai sekarang adalah modifikasi Sluder.
Di negara-negara maju cara ini sudah jarang digunakan dan di Indonesia cara ini
hanya digunakan pada anak-anak dalam anestesi umum. Teknik :
a.

Posisi pasien telentang dalam anestesi umum. Operator di sisi kanan


berhadapan dengan pasien.

b.

Setelah relaksasi sempurna otot faring dan mulut, mulut difiksasi dengan
pembuka mulut. Lidah ditekan dengan spatula.

c.

Untuk tonsil kanan, alat guillotine dimasukkan ke dalam mulut melalui


sudut kiri.

d.

Ujung alat diletakkan diantara tonsil dan pilar posterior, kemudian kutub
bawah tonsil dimasukkan ke dalam Iubang guillotine. Dengan jari telunjuk
tangan kiri pilar anterior ditekan sehingga seluruh jaringan tonsil masuk ke
dalam Iubang guillotine.
16

e.

Picu alat ditekan, pisau akan menutup lubang hingga tonsil terjepit.

f.

Setelah diyakini seluruh tonsil masuk dan terjepit dalam lubang guillotine,
dengan bantuan jari, tonsil dilepaskan dari jaringan sekitarnya dan
diangkat keluar. Perdarahan dirawat.

2.

Cara diseksi
Cara ini diperkenalkan pertama kali oleh Waugh (1909). Cara ini

digunakan pada pembedahan tonsil orang dewasa, baik dalam anestesi umum
maupun lokal. Teknik :
a.

Bila menggunakan anestesi umum, posisi pasien terlentang dengan kepala


sedikit ekstensi. Posisi operator di proksimal pasien.

b.

Dipasang alat pembuka mulut Boyle-Davis gag.

c.

Tonsil dijepit dengan cunam tonsil dan ditarik ke medial

d.

Dengan menggunakan respatorium/enukleator tonsil, tonsil dilepaskan dari


fosanya secara tumpul sampai kutub bawah dan selanjutnya dengan
menggunakan jerat tonsil, tonsil diangkat. Perdarahan dirawat.

3.

Cryogenic tonsilectomy
Tindakan pembedahan tonsil dapat menggunakan caracryosurgery yaitu

proses pendinginan jaringan tubuh sehingga terjadi nekrosis. Bahan pendingin


yang dipakai adalah freon dan cairan nitrogen.1

4.

Teknik elektrokauter
Teknik ini memakai metode membakar seluruh jaringan tonsil disertai

kauterisasi untuk mengontrol perdarahan. Pada bedah listrik transfer energi berupa
radiasi elektromagnetik untuk menghasilkan efek pada jaringan. Frekuensi radio
yang digunakan dalam spektrum elektromagnetik berkisar pada 0,1 hingga 4Mhz.
Pada teknik ini elektroda tidak menjadi panas, panas dalam jaringan terbentuk

17

karena adanya aliran baru yang dibuat dari teknik ini. Teknik ini menggunakan
listrik 2 arah (AC) dan pasien termasuk dalam jalur listrik (electrical pathway).
Teknik bedah listrik yang paling paling umum adalah monopolar blade,
monopolar suction, bipolar dan prosedur dengan bantuan mikroskop. Tenaga
listrik dipasang pada kisaran 10 sampai 40 W untuk memotong, menyatukan atau
untuk koagulasi.

5.

Teknik Radiofrekuensi
Pada teknik ini elektrode radiofrekuensi disisipkan langsung ke jaringan.

Densitas baru di sekitar ujung elektrode cukup tinggi untuk membuka kerusakan
bagian jaringan melalui pembentukan panas. Selama periode 4-6 minggu, daerah
jaringan yang rusak mengecil dan total volume jaringan berkurang.

6.

Teknik Skapel Harmonik


Skalpel harmonik menggunakan teknologi ultrasonik untuk memotong dan

mengkoagulasi jaringan dengan kerusakan jaringan minimal. Teknik ini


menggunakan suhu yang lebih rendah dibandingkan elektrokauter dan laser.
Dengan elektrokauter atau laser, pemotongan dan koagulasi terjadi bila temperatur
sel cukup tinggi untuk tekanan gas dapat memecah sel tersebut (biasanya 1500C4000C), sedangkan dengan skalpel harmonik temperatur disebabkan oleh friksi
jauh lebih rendah (biasanya 500C -1000C). Sistim skalpel harmonik terdiri atas
generator 110 Volt, handpiece dengan kabel penyambung, pisau bedah dan pedal
kaki.
Dan terdapat beberapa teknik operasi tonsilektomi lainnya.

2.7.

Komplikasi
Tonsilektomi merupakan tindakan bedah yang dilakukan dengan anestesi

umum maupun lokal, sehingga komplikasi yang ditimbulkannya merupakan


18

gabungan komplikasi tindakan bedah dan anestesi. Sekitar 1:15.000 pasien yang
menjalani tonsilektomi meninggal baik akibat perdarahan maupun komplikasi
anestesi dalam 5-7 hari setelah operasi.1,2,8
2.7.1. Komplikasi anestesi
Komplikasi terkait anestesi terjadi pada 1:10.000 pasien yang
menjalani tonsilektomi dan adenoidektomi (brookwood ent associates).
Komplikasi ini terkait dengan keadaan status kesehatan pasien. Adapun
komplikasi yang dapat ditemukan berupa:
-

Laringospasme

Gelisah pasca operasi

Mual muntah

Kematian saat induksi pada pasien dengan hipovolemi

Induksi intravena dengan pentotal bisa menyebabkan hippotensi dan


henti jantung

Hipersensitif terhadap obat anestesi

2.7.2. Komplikasi bedah


a.

Perdarahan
Merupakan komplikasi tersering (0,1-8,1% dari jumlah kasus).

Perdarahan dapat terjadi selama operasi, segera sesudah operasi atau di rumah.
Kematian akibat perdarahan terjadi pada 1:35.000 pasien. Sebanyak 1 dari 100
pasien kembali karena masalah perdarahan dan dalam jumlah yang sama
membutuhkan transfusi darah.
Perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama dikenal sebagai early
bleeding, perdarahan primer atau reactionary haemorrage

dengan

kemungkinan penyebabnya adalah hemostasis yang tidak adekuat selama


operasi. Umumnya terjadi dalam 8 jam pertama. Perdarahan primer ini sangat
berbahaya, karena terjadi sewaktu pasien masih dalam pengaruh anestesi dan
refleks batuk belum sempurna. Darah dapat menyumbat jalan napas sehingga
terjadi asfiksia. Perdarahan dapat menyebabkan keadaan hipovolemik bahkan
syok.
19

Perdarahan yang terjadi setelah 24 jam disebut dengan late/delayed


bleeding atau perdarahan sekunder. Umumnya terjadi pada hari ke 5-10
pascabedah. Perdarahan sekunder ini jarang terjadi, hanya sekitar 1%.
Penyebabnya belum dapat diketahui secara pasti, bisa karena infeksi sekunder
pada fosa tonsilar yang menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan
perdarahan dan trauma makanan yang keras.

b.

Nyeri
Nyeri pascaoperasi muncul karena kerusakan mukosa dan serabut saraf

glosofaringeus atau vagal, inflamasi dan spasme otot faringeus yang


menyebabkan iskemia dan siklus nyeri berlanjut sampai otot diliputi kembali
oleh mukosa, biasanya 14-21 hari setelah operasi.
Nyeri tenggorok muncul pada hampir semua pasien pascatonsilektomi.
Penggunaan elektrokauter menimbulkan nyeri lebih berat dibandingkan teknik
cold diseksi dan teknik jerat. Nyeri pascabedah bisa dikontrol dengan
pemberian analgesik. Jika pasien mengalami nyeri saat menelan, maka akan
terdapat kesulitan dalam asupan oral yang meningkatkan risiko terjadinya
dehidrasi. Bila hal ini tidak dapat ditangani di rumah, perawatan di rumah
sakit untuk pemberian cairan intravena dibutuhkan.
c.

Komplikasi lain
Dehidrasi, demam, kesulitan bernapas, gangguan terhadap suara

(1:10.000), aspirasi, otalgia, pembengkakan uvula, insufisiensi velopharingeal,


stenosis faring, lesi di bibir, lidah, gigi dan pneumonia.

20

Kerangka Konsep

21

BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Desain penelitian
Penelitian ini bersifat analitik cross-sectional. Karena, informasi
yang dibutuhkan dikumpulkan pada waktu yang bersamaan.

3.2

Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian dilakukan pada tanggal 19 Januari 2016 30 Januari
2016 dengan lokasi penelitian di RSUD Semarang.

3.3

Populasi dan Sampel Penelitian

3.3.1

Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah pasien yang berkunjung ke
poli THT RSUD Semarang.

3.3.2

Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang melakukan operasi
adenotonsilektomi di RSUD Semarang.

3.4

Perkiraan Besar Sampel


Dalam penelitian ini sampel yang diambil ialah sebanyak 71 pasien
pasca operasi adenotonsilektomi yang tercatat di Rumah Sakit Umum
Daerah Kota Semarang sejak Januari 2015 hingga Desember 2015 yang
memenuhi kriteria restriksi yang telah ditetapkan

3.5

Kriteria Inklusi dan Eksklusi

3.5.1

Kriteria Inklusi:
Pasien pasca operasi adenotonsilektomi yang tercatat di Rumah
Sakit Umum Daerah Kota Semarang sejak Januari 2015 hingga Desember
2015 dengan catatan medik lengkap sesuai data yang dibutuhkan.
22

3.5.2

Kriteria Eksklusi

Pasien berusia diatas 18 tahun

Pasien pasca operasi adenotonsilektomi yang tidak datang kontrol ke


poliklinik

Pasien pasca operasi adenotonsilektomi yang tidak dilakukan follow up


pasca operasi

3.6

Cara Kerja Penelitian


Pemilihan sampel dilakukan dengan cara consecutive sampling.
Pasien yang dilakukan adenotonsilektomi dipilih sebagai responden,
kemudian dikelompokkan menjadi pasien yang mengalami perdarahan
post adenotonsilektomi dengan leukositosis dan tidak leukositosis. Data
diambil dari rekam medis pasien dalam setahun terakhir.

3.7

3.8

Variabel Penelitian
Variable bebas

: leukositosis

Variable tergantung

: perdarahan post adenotonsilektomi

Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian ini adalah rekam medis pasien dalam
setahun terakhir.

3.9

Definisi Operasional
1.

Leukositosis
Definisi

: meningkatnya jumlah sel darah putih, > 10.000 /uL

Cara ukur

: rekam medis

Alat ukur

: hasil laboratorium

Hasil ukur

: 1. Ya
2. Tidak

Skala ukur

: data kategorik skala nominal


23

2.

Perdarahan post adenotonsilektomi


Definisi

: Perdarahan yang terjadi pada 24 jam pertama


Setelah tindakan operasi (primer) ataupun lebih
dari 24 jam 10 hari setelah dilakukan tindakan
operasi (sekunder) pengambilan tonsil dan adenoid

Cara ukur

: rekam medis

Alat ukur

: hasil follow up

Hasil ukur

: 1. Ya
2. Tidak

Skala ukur

3.10

: data kategorik skala nominal

Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara
mengumpulkan rekam medis pasien yang melakukan adenotonsilektomi di
RSUD Semarang.

3.11

Analisis Data
Pengolahan data penelitian ini menggunakan data bivariat.

24

3.12

Alur Penelitian

Gambar 3.1 Alur Penelitian

25

BAB 4
HASIL PENELITIAN

Dari hasil penelitian hubungan antara perdarahan pasca adenotonsilektomi dengan infeksi
yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Semarang, didapatkan total responden 71 orang.
Responden yang mengalami perdarahan pasca adenotonsilektomi sebanyak 9 orang (12,7%),
dimana 2 orang (2,8%) mengalami leukositosis, dan sebanyak 7 orang (9,9%) orang tidak
mengalami leukositosis. Responden yang tidak mengalami perdarahan sebanyak 62 orang
(87,3%), dimana 11 orang (15,5%) mengalami leukositosis, dan 51 orang (71,8%) tidak
mengalami leukositosis.
Tabel 4.1 Hasil penelitian terhadap 71 responden yang mengalami perdarahan pasca
adenotonsilektomi dan leukositosis
Perdarahan * Leukositosis Crosstabulation
Leukositosis

Total

Ya

Tidak

Count

% of Total

2,8%

9,9%

12,7%

Count

11

51

62

% of Total

15,5% 71,8%

87,3%

Count

13

71

% of Total

18,3% 81,7%

Ya
Perdarahan
Tidak
58

Total
100,0%

Berdasarkan uji statistik Pearson Chi Square, didapatkan hubungan tidak bermakna
antara perdarahan pasca adenotonsilektomi dengan leukositosis (p value = 0,745) dimana
secara epidemiologi didapatkan bahwa pasien leukositosis memiliki risiko 0,93 kali (RP =
0,93) lebih tinggi untuk mengalami kejadian perdarahan pasca adenotonsilektomi
dibandingkan dengan pasien dengan tidak leukositosis.

26

Menghitung rasio prevalens :

= proporsi (prevalens) subjek yang mempunyai faktor risiko yang mengalami efek
= proporsi (prevalens) subjek tanpa faktor risiko yang mengalami efek

Maka:

Tabel

4.2

Hubungan

antara

Leukositosis

dengan

Kejadian

perdarahan

pasca

adenotonsilektomi di Rumah Sakit Umum Daerah Semarang

Tidak

Parameter

Perdarahan

Leukositosis

11

13

Tidak Leukositosis

51

58

Total

62

71

RP
Prevalens)
P value

(Rasio

Perdarahan

Total

0,93
0,745

27

BAB 5
PEMBAHASAN

5.1

Uraian temuan penelitian


Proporsi pasien dengan leukositosis yang mengalami perdarahan post ATE lebih
sedikit bila dibandingkan dengan pasien yang tidak leukositosis dan dari uji statistik tidak
bermakna. Hasil uji statistik yang tidak bermakna kemungkinan karena tidak
diketahuinya riwayat penyakit dahulu pasien, riwayat penyakit keluarga, obat-obatan.
Adanya variabel lain mungkin dapat berpengaruh terhadap kekerapan terjadinya
perdarahan post ATE.
Penelitian Sanchez Carrion dkk pada tahun 2005 yang dilakukan pada 100 pasien
pediatri dengan adenotonsilektomi mengatakan bahwa 14 orang (14%) mengalami
perdarahan antara 30 detik sampai dengan 20 menit pasca operasi. Dari penelitian ini
dikatakan tidak terdapat hubungan bermakna (p > 0,05) antara perdarahan dengan
bakteremia.
Hal ini bertentangan penelitian Yelken dkk pada tahun 2011 pada 78 sampel usia
7-14 tahun yang mengalami bakteremia selama operasi ditemukan kejadian perdarahan
yang lebih banyak pada 16 orang (20.5%) Penelitian ini mengatakan ada hubungan
bermakna (p < 0,05) antara perdarahan dan bakteremia.

5.2

Kekurangan penelitian
1.

Bias seleksi

Dapat terjadi, karena pengambilan sampel yang tidak dilakukan secara random.
2.

Bias perancu :
Dapat terjadi dari faktor-faktor risiko lain yang tidak diteliti efeknya. Seperti
riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit orang tua, obat-obatan yg dikonsumsi,
lama operasi.

3.

Peluang (chance):
Menghitung nilai dan dengan menggunakan table 2x2 hasil penelitian dan
table distibusi Z.
28

P1 = 0,02

P2 = 0,09

P = 0,5

Q1 = 0,98

Q2 = 0,91

Q = 0,5

N = 71 n1 = n2 = 35.5

Nilai pada = 20%

(dari table distribusi Z)

Nilai pada = 5%
29

(dari table distribusi Z)

Dari hasil perhitungan chance, didapatkan > 5% (pada = 20%) dan >
20% (pada = 5%), maka kemungkinan didapatkannya hasil penelitian ini secara
kebetulan tidak dapat disingkirkan, karena dengan 71 sampel, didapatkan
kesalahan tipe I () = 136% (pada = 20%) dan kesalahan tipe II () = 91% (pada
= 5%).

30

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian mengenai Hubungan infeksi dalam hal ini leukositosis dengan

komplikasi perdarahan pada 71 sampel pasien pasca operasi adenotonsilektomi di RSUD Kota
Semarang, maka dapat disimpulkan :
Tidak ada hubungan yang bermakna antara leukositosis dan komplikasi perdarahan pada pasien
pasca adenotonsilektomi dilihat dari jumlah pasien yang mengalami leukositosis tidak signifikan
hanya dengan presentase sebesar 18,3% dan sisanya tidak ditemukan leukositosis pada pasien
yang mengalami komplikasi perdarahan primer maupun sekunder yang ditunjang dengan semua
hasil laboratorium.

7.2

SARAN
Diharapkan dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai leukositosis dan hubungan

lain yang diduga menjadi penyebab dari komplikasi perdarahan pada pasien pasca operasi
adenotonsilektomi di RSUD Kota Semarang dengan menggunakan sampel yang lebih besar,
mengikutsertakan variabel yang lebih banyak, serta mempertimbangkan metode operasi
adenotonsilektomi yang digunakan.

31

DAFTAR PUSTAKA

1. Kornbult A, Korrnbult AD. Tonsillectomy and Adenoidectomy. In : Paparella MM, Shumrick


editors. Otolaryngology head and neck. 2nd ed. Philadelphia, WB Saunders Co. 1980 : 2283
301.
2. Jackson and Jackson. Disease of the nose, throat and ear. 2nd ed. WB Saunders Co.
Philadelphia, 1959 : 244 6.
3. Mawson S. Scott-Browns. Disease of the ear, nose, and throat. 5th ed. London : Butterworth,
1987 : 103 45.
4. Aritomoyo D. Insiden tonsilitis akut dan kronik pada klinik THT RSUP Dr. Kariadi
Semarang. Kumpulan naskah ilmiah KONAS VI Perhati, Medan, 1980 : 249 55.
5. Ahmad A, Rifki N. Infeksi fokal di bidang THT. Otorhinolaryngologica Indonesiana, 1988;
XIX : 77 85.
6. Walsh RM, et al. Post Tonsillectomy bacteraemia in children. The journal of laryngology and
Otology, 1997; 111: 950 52.
7. Wake M, Glassop P. Guillotine and dissection tonsillectomy compared. The journal of
laryngology and Otology, 1989; 103: 488 81.
8. Blomgren K, Quarnberg YH, Valtonen HJ. A prospective study on pros and cons of
electrodissection tonsillectomy. Laryngoscope, 2001; 111 : 478 82.

32