Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

MASA DISINTREGASI TAHUN 1000


1250

Dibuat Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas


Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam

Disusun Oleh:
Kelompok 2
1.
2.
3.
4.
5.

Eli
Wita Yulyanti
Iik
Titin
Nur

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM


STAI-PUI MAJALENGKA
TAHUN 2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan taufiq, hidayah,
rahmat dan karunianya serta kelapangan berpikir dan waktu, sehingga saya dapat
menyusun dan menyelesaikan makalah dengan judul Masa Disintregrasi Tahun
100 1250 M. Makalah ini disusun sebagai tugas yang diberikan
oleh guru pembimbing mata kuliah "Sejarah Peradaban Islam".
Kemudian saya juga menyadari bahwa materi dan teknik yang saya
sampaikan dalam makalah ini masih memiliki beberapa kekurangan. Oleh karena
itu kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan agar makalah ini menjadi
lebih baik. Atas kritik dan sarannya saya mengucapkan terimakasih.
Akhir kata pengantar saya mengucapkan terima kasih karena telah
berkenan membaca makalah ini. Semoga memberikan manfaat kepada kita
semua.

Talaga,

Penyusun

Oktober 2015

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1

Latar Belakang..........................................................................................1

1.2

Rumusan Masalah.....................................................................................1

1.3

Tujuan........................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN........................................................................................3
2.1

Dinasti-Dinasti yang Memerdekakan Diri dari Baghdad..........................3

2.2

Perebutan Kekuasaan di Pusat Pemerintahan............................................5

2.3

Perang Salib...............................................................................................7

2.4

Sebab Sebab Kemunduran Pemerintahan Bani Abbas...........................8

BAB III PENUTUP..............................................................................................13


3.1

Kesimpulan..............................................................................................13

3.2

Saran........................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................14

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Nama Abbasyiah menunjukkan nenek moyang dari Abbas, Ali bin Abi
tholib dan Muhammad. Hal ini menunjukkan kedekatan pertalian keluarga
antara bani Abbas dengan nabi. Itulah sebabnya kedua keturunan itu samasama mengklaim bahwa jabatan khalifah harus berada di tangan mereka.
Sebagaimana dijelaskan pada bab terdahulu, hanya pada periode pertama
pemerintahan bani Abbas mencapai masa keemasannya.
Perkembangan kebudayaan dan peradaban serta kemajuan besar yang
dicapai dinasti Abbasyiah pada periode pertama telah mendorong para
penguasa untuk hidup mewah, bahkan cenderung mencolok. Kehidupan
mewah khalifah ini ditiru oleh para hartawan dan anak-anak pejabat, ditambah
dengan kelemahan khalifah dan faktor lain menyebabkan roda pemerintahan
terbelengu dan rakyat menjadi miskin. Kondisi ini memberi peluang kepada
tentara professional asal Turki yang semula diangkat oleh khalifah Al
mutashim untuk mengambil kendali pemerintahan.
Setelah tentara Turki itu lemah dengan sendirinya, didaerah-daerah
muncul tokoh-tokoh kuat, yang kemudian memerdekakan diri dari kekuasaan
pusat, mendirikan dinasti-dinasti kecil, inilah permulaaan masa disintegrasi
dalam sejarah politik Islam.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka timbul beberapa masalah yang akan
kami bahas dalam makalah ini yaitu :
1. Bagaimana Dinasti-dinasti yang memerdekakan diri dari Baghdad?
2. Bagaimana Perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan?
3. Bagaimana terjadinya Perang salib?
4. Apa Sebab-sebab kemunduran pemerintahan bani Abbas?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui Dinasti-dinasti yang memerdekakan diri dari Baghdad
2. Mengetahui penyebab terjadinya Perebutan kekuasaan di
pemerintahan
3. Mengetahui apa itu Perang Salib

pusat

4. Mengetahui sebab-sebab kemunduran pemerintahan bani Abbas

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Dinasti-Dinasti yang Memerdekakan Diri dari Baghdad
Disintegrasi dalam bidang politik sebenarnya sudah mulai terjadi di
akhir zaman bani Umayyah. Akan terlihat perbedaan antara pemerintahan
bani Umayyah dengan pemerinatahan bani Abbas. Wilayah kekuasaan bani
Umayyah, mulai dari awal berdirinya sampai masa keruntuhanya, sejajar
dengan batas wilayah kekuasaan Islam. Ada kemungkinan bahwa para
khalifah Abbasiah sudah cukup puas dengan pengakuan nominal dari
propinsi-propinsi tertentu. Dengan pembiayaan upeti. Alasanya, pertama
mungkin para khalifah tidak cukup kuat untuk membuat mereka tunduk
kepadanya, kedua, penguasa bani Abbas lebih menitik beratkan pembinaan
peradaban

dan

kebudayaan

dari

pada

politik

dan

ekspansi.

Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pada pembinaan


peradaban dan kebudayaan Islam dari pada persoalan politik itu, propinsipropinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa bani
Abbas, dengan berbagai cara diantaranya pemberontakan yang dilakukan oleh
pemimpin lokal dan mereka berhasil memperoleh kemerdekaan penuh, seperti
daulah Umayyah di Spanyol dan Idrisiyah di Maroko. Seseorang yang
ditunjuk menjadi gubernur oleh kholifah, kedudukanya semakin bertambah
kuat, seperti daulah Aghlabiyah di Tunisia dan Thahiriyah di Khiurasan.
Kecuali bani Umayyah di Spanyol dan Idrisiyah di Maroko, propinsi-propinsi
itu pada mulanya patuh membayar upeti selama mereka menyaksikan
Baghdad stabil dan khalifah mampu mengatasi pergolakan yang muncul.
Namun, saat wibawa khalifah sudah memudar mereka melepaskan diri dari
Baghdad. Mereka tidak hanya menggerogogoti kekuasaan, bahkan diantara
mereka ada yang berusaha mengusai kholifah itu sendiri.
Menurut Watt, sebenarnya keruntuhan kekuasaan bani Abbas mulai
terlihat sejak awal abad kesembilan. Fenomena ini mungkin bersamaan
dengan datangnya pemimpin-pimimpin yang memiliki kekuasaan militer di
propinsi-propinsi tertentu yang membuat mereka benar-benar independen.
3

Dinasti dinasti yang lahir dan melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad
pada masa khalifah Abbasyiah, diantaranya adalah :
1. Yang berbangsa Persia :
a. Thahiriyah di Khurasan (205-259 H/820-872 M)
b. Shafariyah di Fars (254-290 H/868-901 M)
c. Samaniyah di Transoxania (261-289 H/873-998 M)
d. Sajiyyah di Azerbeijan (266-318 H/878-930 M)
e. Buwaihiyah bahkan menguasai Baghdad (320-447 H / 932-1055 M)
2. Yang berbangsa Turki
a. Thuluniyah di Mesir (254-292 H/837-903 M)
b. Ikhsyidiyahdi Turkistan (320-560 H/932-1163 M)
c. Ghazanawiyah di Afganistan (351-585 H/962-1189 M)
d. Dinasti Seljuk dan cabang-cabangnya
Seljuk besar atau Seljuk agung (429-522 H/1037-1127M)
Seljuk Kirman di Kirman (433-583 H/1040-1187M)
Selhuk Syiria atau Syam di Syiria (487-511 H/1094-1117M)
Seljuk Irak di Irak dan Kurdistan (511-590 H/1117-1194M)
Seljuk Rum atau Asia kecil di Asia kecil (470-700 H/1077-1299M)
3. Yang berbangsa Kurdi
a. Al Barzuqani (348-406 H/959-1015 M)
b. Abu Ali ((380-489 H/990-1095 M)
c. Ayubiyah (564- 648 H/1167-1250 M)
4. Yang berbangsa Arab
a. Idrisiyah di maroko (172-375 H/788-985 M)
b. Aghlabiyah di Tunisia (184-289 H/800-900 M)
c. Dulafiyah di Kurdistan (210-285 H/825-898 M)
5. Yang mengaku dirinya sebagai kholifah
a. Umawiyah di spanyol
b. Fathimiyah di mesir
2.2 Perebutan Kekuasaan di Pusat Pemerintahan
Faktor lain yang menyebabkan peran politik bani Abbas menurun
adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. Hal ini sebenarnya juga
terjadi pada pemerintahan-pemerintahan Islam sebelumnya. Nabi Muhammad
memang tidak menentukan bagaiman acara penggantian pemimpin setelah
ditinggalkanya. Beliau menyerahkan masalah ini kepada kaum muslimin
sejalan dengan jiwa kerakyatan yangberkembang dikalangan masyarakat Arab
dan ajaran demokrasi dalam Islam. Setelah nabi wafat, terjadi pertentangan
pendapat diantara kaum muhajirin dan anshar dibalai kota bani Saidah di
madinah. Akan tetapi, karena pemahaman keagaamaan mereka yang baik,

semangat musyawarah, ukhuwah yang tinggi, perbedaan itu dapat


diselesaikan. dan Abu Bakar terpilih menjadi khalifah.
Pertumpahan darah pertama dalam Islam karena perebutan kekuasaan
terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin abi thalib. Ali terbunuh oleh bekas
pengikutnya sendiri.
Pemberontakan-pemberontakan yang muncul pada masa Ali ini
bertujuan untuk menjatuhkanya dari kursi khalifah dan diganti oleh pemimpin
pemberontak itu. Hal ini sama juga terjadi pada masa kekhalifahan bani
Umayyah di Damaskus. Seperti pemberontakan Husein bin Ali, syiah yang
dipimpin oleh Ali Muchtar.
Pada pemerintahan bani Abbas, perebutan kekuasaan seperti itu juga
terjadi, terutama di awal berdirinya. Ditangan tentara Turkilah khalifah
bagaikan boneka yang tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan merekalah yang
memilih dan menjatuhkan khalifah sesuai dengan keinginan politik mereka.
Setelah kekuasaan berada di tanagn orang-orang Turki pada periode kedua,
pada periode ketiga (334 H/945 M-447 H/1055 M), Daulah Abbasyiah berada
dibawah kekuasaan bani Buwaih.
Kelahiran bani Buwaih berawal dari tiga orang putra Abu Syuja
Buwaih, pencari ikan yang tinggal di daerah Dailam, yaitu Ali, Hasan dan
Ahmad. Untuk keluar dari kemiskinan, tiga bersaudara ini memasuki dinas
militer yang ketika itu dipandang banyak mendatangkan rizki. Keadaan
khalifah lebih buruk dari pada masa sebelumnya, terutama karena bani
Buwaih adalah penganut aliran Syiah, sementara bani Abbas adalah Sunni.
Selama masa kekuasaan bani Buwaih sering terjadi kerusuhan antara
kelompok Ahlus sunnah dan Syiah, pemberontakan tentara tersebut.
Setelah Baghdad dikuasai, bani Buwaih memindahkan markaz kekuasaan dari
Syiraz ke Baghdad. Mereka membangun gedung tersendiri di tengah kota
bernama Dar Al Mamlakah. Tetapi, kendali politik berada di Syiraz, tempat
Ali bin Buwaih (saudara tertua) bertahta. Para pegnguasa bani Buwaih
mencurahkan perhatian secara langsung dan sungguh-sungguh terhadap
pengembangan ilmu pengetahuan dan kesusteraan.
Kekuasaan politik bani Buwaih tidak lama bertahan. Setelah generasi
pertama, tiga saudara tersebut. Kekuasaan menjadi ajang pertikaian di antara

anak-anak mereka. Masing-masing merasa paling berhak atas kekuasaan


pusat.
Faktor-faktor yang membawa kemunduran dan kehancuran bani
Buwaih yaitu:
1. Faktor internal
Perebutan kekuasaan di kalangan keturunan Pertentangan dalam
tubuh militer
2. Faktor eksternal
Semakin gencarnya serangan-serangan Bizantium ke dunia Islam.
Semakin banyaknya dinasti-dinasti kecil yang membebaskan diri dari
kekuasaan Baghdad. Dinasti Seljuk berhasil merebut keuasaan dari bani
Buwaih. Jatuhnya kekuasaan bani Buwaih ketangan Seljuk bermula dari
perebutan kekuasaan di dalam negeri. Dinasti Seljuk berasal dari beberapa
kabilah kecil rumpun suku Ghuz di wilayah Turkistan. Setelah Seljuk
meninggal, kepemimpinana di lanjutkan oleh anaknya, Israil. Namun
Israil dan Mikail, penggantinya ditangkap oleh penguasa Ghaznawiyah.
Kepemimpinan selanjutnya dipegang oleh Thugrul bek.
Posisi dan kedudukan khalifah lebih baik setelah dinasti Seljuk
berkuasa. Kewibawaan dalam bidang agama di kembalikan setelah
beberapa lama dirampas orang-orang Syiah. Bukan hanya pembangunana
mental spiritual, dalam pembangunan fisik pun dinasti Seljuk banyak
meninggalkan jasa. Seperti masjid, jembatan, irigasi, jalan raya.
Setelah Maliksyah dan perdana menteri Nizham Al Mulk wafat
Seljuk besar mulai mengalami masa kemunduran di bidang politik.
Perebutan kekuasaan dianatar anggota keluarga, setiap propinsi berusaha
melepaskan diir dari pusat, konflik-konflik da peperangan antar anggota
keluarga.
2.3 Perang Salib
Peristiwa penting dalam generasi ekspansi yang dilakukan oleh Alp
Arselan adalah peristiwa Manzikart, tahun 464 H ( 1071 M). Tentara Alp
Arselan yang hanya berkekuatan 15.000 orang prajurit, berhasil mengalahkan
Romawi yang berjumlah 200.000 orang. Peristiwa besar ini menanamkan
benih permusuhan dan kebencian terhadap umat Islam, yang kemudian

mencetuskan perang salib. Pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II berseru


kepada umat Kristen di Eropa supaya melakukan perang suci. Perng ini
kemudian dikenal dengan nama perang salib. Yang terjadi dalam 3 periode.
1. Periode pertama (1095-1477 M)
Perang salib ini semula digerakkan oleh seorang pedeta Peter dari
Perancis. Kemudian didukung oleh Paus di Vatikan, oleh raja vatikan di
Eropa dan oleh kepala orthodox yang berkedudukan di Konstantinopel.
Pada tanggal 26 nopember 1095 Paus Urbanus II mengadakan pidato
menggema di seluiruh Eropa, di segala Negara Kristen, mempersiapkan
tentara yang lengkap bersenjata untuk pergi berperang merebut Palestina.
Ketika tentara salib menduduki palestina terjadilah pembunuhan
massal dan penyembelihan secara besar-besaran. Kepala, tangan dan
kaki manusia yang mati terbunuh berserakan di sepanjang jalan di kota
suci itu. Pada tahun 521 H/1127 M muncul seorang pahlawan Islam
termasyhur Imaduddin Zanki, gubernur dari Mousul dapat mengalahakan
tentara salib di kota Aleppo dan Humah. Kemenangan itu merupakan
yang pertama kali yang disusul dengan kemenangan selanjutnya sehingga
tentara salib merasakan pahitnya kekalahan.
2. Periode kedua (1147-1179 M)
Dengan adanya kekalahan ini, tentara salib mengirim utusan kepada
paus meminta bantuan. Kemudian datanglah serbuan kedua yang
diupimpin oelh raja Luois VII dari Perancis, Kaisar Kourad dari Jerman
dan putra Roger dari Sisilia.
Menyambut angkatan kedua salibiah, muncullah pahlawa Nuruddin
Zanki, putra Imamuddin Sanki. Kemahiranya tidak kalah dengan ayahnya,
bahkan dimana-mana dapat dikalahkan. Walaupun dia telah mencapai
kemenagnan besar dia tidak mabuk kemenangan lalu melupakan
perjuanagn selanjutnya.
3. Periode ketiga (1189-1192 M)
Mulai-mula datang raja Australia dan Jerman bernama Frederik
membawa sebnayak 200.000 kemudian pada tahun 1190 datang lagi
tentara Eropa dengan pimpinan Richard hati singa sehingga tentara
salibiyah ini sangat kuat dan dapat merebut kota Akka.peristiwa ini sangat

meyedihakan hati kaum muslimin. Apalagi mendengar bahwa Richard ini


sangat kejam, membunuh sebanyak 300 orang tawanan Islam.
Pada tahun 1219 M, mereka berhasil menduduki Dimyat. Raja Mesir
dari dinasti Ayyubiyah waktu itu Al Malik Al Kamil, membuat perjanjian
dengan Frederik. Isinya antara lain Frederik bersedia melepaskan Dimyat,
sementara Al Malik Al Kamil melepaskan Palestina, Frederik menjamin
keamanan kaum disana dan Fredirik tidak mengirim bantuan kepada
Kristen di Syiria.
2.4 Sebab Sebab Kemunduran Pemerintahan Bani Abbas
Sebagai mana terlihat dalam periodesasi khilafah Abbasyiah , masa
kemunduran dimuilai sejak periode kedua, namun demikian faktor-faktor
penyebab kemunduran itu tidak datang secara tiba-tiba. Benih-benihnya
sudah terlihat pada periode pertama, hanya khalifah pada periode itu sangat
kuat, benih-benih itu tidak sempat berkembang. Dalam sejarah kekuasaan
Abbas terlihat bahwa apabila khalifah kuat, para menteri cenderung berperan
sebagai kepala pegawai sipil. Tetapi jika kholifah lemah, mereka akan
berkuasa mengatur roda pemerintahan
Disamping kelemahan kholifah, banyak faktor lain yang menyebabkan
khilafah Abbasyiah hancur. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Luasnya wilayah yang harus di kendalikan
Ini sama sekali bukanya tidak dapat diatasi, tetapi salah satu
persyaratan untuk mempersatukan wilayah yang sangat luas harus ada
suatu tingkat saling percaya yang tinggi di kalangan penguasa-penguasa
utama dan pelakasana pemerintah,. Penghukuman mati, sering setelah
disiksa, adalah perlakuan biasa terhadap para wazir yang di berhentikan,
pemenjaraan dan penyitaan harta adalah praktek normal.
Dalam keadaan seperti itu hampir bisa dipastikan bahwa setiap orang
pasti akan mencari keuntungan bagi dirinya dengan merugikan orang lain,
dan akibatnya adalah makin sulit bagi khalifah untuk memperoleh orangorang yang akan di tunjuk sebagai gubernur propinsi yang bisa dipercaya.
2. Meningkatnya ketergantungan pada tentara bayaran.
Hal ini berhubungan dengan perkembangan-perkembangan dalam
tekhnologi militer. Pemakaian tentara bayaran juga berarti bahwa makin

banyak uang di keluarkan makin kuat tentara yang dimiliki. Demikianlah


untuk mempertahankan posisinya kholifah memerlukan kekuatan militer
yang cukup untuk menanggunlangi beberapa gubernur pembangkang pada
saat yang sama, tetapi beban keuangan ini makin lama makin sulit diatasi.
3. Keuangan
Begitu kekuatan militer merosot, khalifah tidak sanggup
mengirimkan pajak ke Baghdad dan penghasilan menurun dan ini bisa
berarti ada pemberontakan oleh tentara atau kekuatan militernya
berkurang sehgingga berkurang pula kemampuan nya mengumpulkan
pajak. Karena tidak ada bank yang dimintai pinjaman uang oleh kholifah,
maka jalan satu-satunya dalam kedaruratan keuangan ini ialah
menerapkan denda yang besar, atau penyitaan begitu saja, dari orangorang kaya yang bagaimanapun sebagaian besar kekayaanya mungkin di
dapat secara tidak sah.
Berbagai hal lain juga disebutkan yang memperparah kesuliatan
keuangan. Tentara di beri tanah bukanya uang, dan ini mengurangi jumlah
yang harus dibayar keperbendaharaan Negara. Untuk menghindari
penyitaan orang-orang memberikan harta berdasar waqaf dan ini bisa di
berikan kepada keluarganya sendiri
4. Persaingan antar bangsa.
Khilafah Abbasyiah didirikan oleh bani Abbas yang bersekutu
dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatar belakangi oleh persamaan
nasib yaitu sama-sama ditindas pada masa bani Umayyah.
Ada sebab-sebab dinasti Abbas memilih orang- orang Persia dari
pada orang Arab. Pertama, sulit, bagi orang-orang arab untuk melupakan
bani Umayyah. Kedua, orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya
ushabiyah kesukuan.
Meskipun demikian, orang-orang Persia itu merasa puas. Mereka
menginginkan dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula.
Sementara bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir ditubuh
mereka adalah (ras )istimewa dan mereaka menganggap rendah bangsa
non Arab di dunia Islam.
Setelah Al Mutawakkil, seoratng khalifah yang lemah naik tahta,
dominasi tentara Turki tak terbendung lagi sejak saat itu kekuasaan bani
9

Abbas sebenarnya sudah berakhir. Kekuasaan berada di tangan orangorang Turki. Posisi ini kemudian di rebut oleh bani Buwaih, bangsa
Persia, pada periode ketiga, dan selnajutnya beralih pada dinasti Seljuk.
5. Kemerosotan ekonomi
Setelah khilafah memasuki periode kemunduran. Pendapatan Negara
menurun. Sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Menurunya
pendapatan karena makin menyempitnya wilayah kekuasaan, banyak
terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat, di peringanya
pajak, sedangkan banyak dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri
dan tidak mau membayar upeti. Sedangkan pengeluaran membengkak
antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah semakin mewah,
jenis pengeluaran makin beragam dan para pejabat melakukan korupsi.
6. Konflik keberagamaan
Konflik yang dilatar belakangi agama tak terbatas pada konflik
anatara muslim dan zindiq atau Ahlussunnah dengan Syiah saja. Tetapi
juga antara aliran dalam Islam. Mutazilah yang cenderung rasional
dituduh sebagai pembuat bidah oleh golongan salaf. Perselisihan antar
dua golongan ini di pertajam oleh Al Mamun, dengan menjadikan
Mutazilah sebagai madzhab resmi Negara dan melakukan mihnah.
Pada masa Al Mutawakkil (847-861) aliran Mutazilah di batalkan
sebagai aliran Negara dan golongan salaf kembali naik daun. Tidak
toleranya pengikut Hambali (salaf) terhadap Mutazilah yang rasional
telah menyempitkan horizon intelektual.
7. Ancaman dari luar
Adapun faktor eksternal yang menyebabkan khilafah Abbasyiah
lemah dan akhirnya hancur. Pertama, perang salib yang berlangsung
beberapa gelombang atau periode yang menelan banyak korban. Kedua,
serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam. Pengaruh salib
juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol, Hulago Khar, panglima
tentara Mongol sangat membenci Islam karena ia banyak di pengaruhi
oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian.
8. Pertentangan internal keluarga
Didalam
pemerintahan
terjadi
konflik

keluarga

yang

berkepanjangan. Ribuan orang terbunuh akibat peristiwa Al Mansur

10

melawan Abdullah bin Ali pamanya sendiri dan Al Masum Al Mutasim


melawan Abbas bin Al Mamun. Konflik ini meyebabkan keretakan
psikologis yang dalam dan menghilangkan solidaritas keluarga, sehingga
mengundang campur tangan dari luar.
9. Kehilangan kendali dan munculnya daulah-daulah kecil
Faktor kepribadian sangat menentukan pula keberhasilan seorang
pemimpin.

Kelemahan

pribadi

diantara

kholifah

Abbasyiah

mengakibatkan kehancuran system khilafah. Terutama karena terbuai


kehidupan mewah, perdana menteri seenaknya menentukan kebijakan
para khalifah . mereka menggunakan kekuatan dari luar untuk
mempertahankan pemerintahanya seperti orang Turki, Seljuk, dan
Buwaihi-khawarizmi,

kekuatan

kehancuran.

11

dari

luar

lebih

mengakibatkan

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Disintegrasi dalam bidang politik sbeenartnya sudah mulai terjadi di
akhir zaman Umayyah, namun menurut Watt, sebenarnya keruntuhan
kekuasaan bani Abbas mulai terlihat sejak awal abad kesembilan. Faktorfaktor penting yang menyebabkan kemunduran bani Abbas pada periode ini,
sehingga banyak daerah yang memerdekakan diri adalah :
1. Luas wilayah kekuasaan Daulah Abbasyiah sementara komunikasi pusat
dengan daerah sulit dilakukan, tingkat saling percaya di kalangan para
penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah
2. Dengan profesionalisme angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah
kepeda mereka sangat tinggi
3. Keuangan Negara sangat sulit karena biaya yang di keluarkan untuk
tentara bayaran sangat besar.
3.2 Saran
Demikianlah makalah yang dapat kami sampaikan dan tentunya kami
pemakalah sebagai manusia biasa yang tak kan luput dari yang namanya
kesalahan maka saran konstruktif maupun kritik sangat kami harapkan untuk
perbaikan makalah yang akan datang.

12

DAFTAR PUSTAKA
https://blog.djarumbeasiswaplus.org/soikhurojib/?p=172
https://google.com/

13