Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

5 JENIS TEXT

Untuk memenuhi Salah Satu Tugas Mata Pelajaran Bahasa Inggris

Disusun Oleh:
Yadi
Muzib
Budi
Dean

MT

KATA PENGANTAR

Puji syukur yang ingin penulis ucapkan atas ke hadirat Tuhan Yang Maha
Esa karena berkat rahmat-Nyalah makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan
waktu yang telah ditentukan. Dalam makalah ini, kami membahas mengenai
Pengendalian Sosial, suatu permasalahan yang selalu dialami oleh remaja
Indonesia yang ikut-ikutan dan terpengaruh terhadap budaya luar mulai dari segi
bicara dan pakaian.
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman mengenai
pengendalian sosial Indonesia yang sangat diperlukan dengan harapan bahwa
remaja dapat mengetahui dampak positif dan dampak negatif dari pengendalian
sosial terhadap Indonesia sehingga para remaja Indonesia dapat memahami dan
mengetahui dampak negatif dan positif ini secara bijak. Dalam proses penyusunan
makalah ini, tentunya kami mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi, dan saran.
Kami menyadari bahwa sebagai manusia biasa tidak luput dari kesalahan
dan kekurangan. Maka dari itu, Penulis juga sangat mengaharapkan kritik dan
saran dari teman-teman sehingga kami dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan
dalam penyusunan makalah selanjutnya.

Bantarujeg,
Penulis

Januari 2016

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1

Latar Belakang..........................................................................................1

1.2

Rumusan Masalah.....................................................................................1

1.3

Tujuan........................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN........................................................................................3
2.1

Pengertian Pengendalian Sosial.................................................................3

2.2

Ciri-Ciri Pengendalian Sosial....................................................................4

2.3

Tujuan / Fungsi Pengendalian Sosial........................................................4

2.4

Macam-Macam Pengendalian Sosial........................................................5

2.5

Bentuk - Bentuk Pengendalian Sosial.......................................................7

2.6

Lembaga Pengendalian Sosial...................................................................9

2.7

Sikap Anti Sosial.....................................................................................10

BAB III PENUTUP..............................................................................................17


3.1

Kesimpulan..............................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................18

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengendalian sosial adalah suatu mekanisme untuk mencegah
penyimpangan sosial serta mengajak dan mengarahkan masyarakat untuk
berperilaku dan bersikap sesuai norma dan nilai yang berlaku. Dengan adanya
pengendalian sosial yang baik diharapkan mampu meluruskan anggota
masyarakat yang berperilaku menyimpang/membangkang.
Telah dijelaskan bahwa pengendalian sosial terjadi karena adanya
perilaku yang menyimpang. Jadi, pengendalian sosial sangat berperan penting
bagi kehidupan kita masing-masing. Oleh karena itu, pengendalian sosial pun
memiliki fungsi dan tujuan. Sebagai pelajar ataupun masyarakat publik juga
dapat memahami ciri-ciri pengendalian sosial,macam-macam,bentuk-bentuk,
serta lembaga pengendalian sosial.
Jika tak ada penerapan pengendalian sosial bagi pelajar maupun
masyarakat publik tentunya negara kita cenderung drastis meningkatkan
perilaku yang menyimpang yang bersifat negatif. Dari sisi negatif tersebut
itulah yang akan membuat generasi penerus banga rusak atau tidak stabil
karena perilaku yang menyimpang tersebut. Jadi kita harus memahami
pengendalian sosial.
Karena adanya perilaku yang menyimpang, maka kami harus
memberikan solusi untuk mengontrol sosial teman-teman disini. Untuk lebih
jelasnya akan kami bahas di BAB Pembahasan berikutnya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu pengendalian sosial?
2. Apa ciri-ciri pengendalian sosial?
3. Apa tujuan / fungsi pengendalian sosial?
4. Apa macam-macam pengendalian sosial?
5. Apa bentuk-bentuk pengendalian sosial?
6. Apa lembaga pengendalian sosial?
7. Apa yang dimaksud sikap anti sosial?
1.3 Tujuan
1

Tujuan yang hendak dicapai melalui diskusi ini adalah :


1. Untuk mengetahui tentang pentingnya pengendalian sosial.
2. Memberikan informasi kepada masyarakat publik terutama teman-teman
mengenai pengendalian sosial.
3. Memberikan pengentahuan mengenai pengendalian sosial.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pengendalian Sosial
Menurut Umum
Pengendalian sosial adalah suatu mekanisme untuk mencegah
penyimpangan sosial serta mengajak dan mengarahkan masyarakat untuk
berperilaku dan bersikap sesuai norma dan nilai yang berlaku. Dengan adanya
pengendalian sosial yang baik diharapkan mampu meluruskan anggota
masyarakat yang berperilaku menyimpang/membangkang.
Menurut Para Ahli
Rober M. Z. Lawang :
Pengendalian sosial adalah semua cara yang dipergunakan suatu
masyarakat untuk mengembalikan si penyimpang pada garis yang normal
atau yang sebenarnya.
Joseph S. Roucek :
Pengendalian sosial adalah segala proses, baik yang direncanakan
maupun tidak direncanakan yang bersifat mendidik, mengajak, atau
bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi kaidah-kaidah dan
nilai-nilai sosial yang berlaku.
Karel J. Veeger :
Pengendalian sosial adalah kelanjutan dari proses sosialisasi dan
berhubungan dengan cara-cara dan metode-metode yang digunakan
untuk mendorong seseorang agar berperilaku selaras dengan kehendak
kelompok atau masyarakat.
Paul B. Horton dan Chester L. Hunt :
Pengendalian sosial adalah segenap cara dan proses yang ditempuh oleh
sekelompok orang atau masyarakat sehingga para anggotanya dapat
bertindak sesuai dengan harapan kelompok atau masyarakat itu sendiri.
Peter L. Berger ;
Pengendalian sosial adalah berbagai cara yang digunakan masyarakat
untuk menertibkan anggotanya yang membangkang.
Bruce J. Cohen :

Pengendalian sosial adalah cara-cara atau metode yang digunakan untuk


mendorong seseorang agar berperilaku selaras dengan kehendak
kelompok atau masyarakat luas.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pengendalian
sosial adalah proses yang digunakan oleh seseorang atau kelompok untuk
memengaruhi, mengajak, bahkan memaksa individu atau masyarakat agar
berperilaku sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat,
sehingga tercipta ketertiban di masyarakat. Pengertian Pengendalian.
2.2 Ciri-Ciri Pengendalian Sosial
1. Suatu cara atau metode atau teknik

tertentu untuk menertibkan

masyarakat atau individu.


2. Bertujuan mencapai keserasian antara stabilitas dengan perubahanperubahan yang terus terjadi di dalam suatu masyarakat.
3. Dapat dilakukan oleh suatu kelompok terhadap kelompok lainnya atau
oleh suatu kelompok terhadap individu dan antara individu dengan
individu lainnya.
4. Dilakukan secara timbal balik meskipun terkadang tidak disadari oleh
kedua belah pihak.
2.3 Tujuan / Fungsi Pengendalian Sosial
1. Untuk menjaga ketertiban sosial.
Apabila nilai-nilai dan norma-norma sosial dijalankan semua
masyarakat, maka ketertiban sosial dalam masyarakat dapat terpelihara.
Salah satu cara menanamkan nilai dan norma sosial adalah melalui
lembaga pendidikan dan keluarga. Melalui lembaga tersebut anak
diarahkan untuk meyakini nilai dan norma sosial.
2. Untuk mencegah terjadinya penyimpangan terhadap nilai-nilai dan
norma-norma sosial di masyarakat.
Dengan adanya pengendalian sosial seseorang atau masyarakat mulai
berfikir (akibatnya) jika akan berperilaku menyimpang.
3. Untuk mengembangkan budaya malu.
Pada dasarnya setiap individu memiliki rasa malu, karena rasa
malu berhubungan dengan harga diri seseorang. Harga diri seseorang akan
turun jika seseorang melakukan kesalahan yang melanggar norma-norma
sosial di dalam masyarakat. Jika seseorang melakukan kesalahan maka

masyarakat akan mencela. Celaan tersebut menyadarkan seseorang untuk


tidak mengulangi pelanggaran terhadap norma. Jika setiap perbuatan
melanggar norma dicela maka budaya malu akan timbul dalam diri
seseorang.
4. Untuk menciptakan dan menegakkan sistem hukum.
Sistem hukum merupakan aturan yang disusun secara resmi dan
disertai sanksi tegas yang harus diterima oleh seseorang yang melakukan
penyimpangan.
Singkatnya,
Pengendalian sosial bertujuan mencapai keserasian antara stabilitas
dengan perubahan-perubahan dalam masyarakat atau bertujuan untuk
mencapai keadaan damai melalui keserasian antara kepastian dengan
keadilan.
2.4 Macam-Macam Pengendalian Sosial
1. Berdasarkan Waktu :
Pengendalian Preventif
Pengendalian sosial preventif adalah pengendalian sosial yang
dilakukan sebelum terjadinya penyimpangan perilaku, misalnya dapat
berbentuk nasihat, anjuran dan lain-lain.
Pengendalian Represif
Pengendalian sosial represif adalah pengendalian sosial yang
dilakukan setelah terjadinya pelanggaran atau penyimpangan perilaku.
Misalnya, dapat berbentuk teguran, peringatan lisan dan tertulis, sanksi
administrasi, denda, dan bahkan hukuman mati.
Pengendalian Kuratif
Pengendalian sosial bersifat kuratif adalah pengendalian sosial
yang dilakukan pada saat terjadi penyimpangan sosial. Contohnya,
seorang guru menegur dan menasihati siswanya karena ketahuan
menyontek pada saat ulangan. Bertujuan untuk memberi penyadaran
kepada perilaku dan memberi efek jera.
2. Berdasarkan Cara

Dilihat dari dimensi cara pelaksanaannya, pengendalian sosial bisa di


bedakan atas pengendalian sosial yang dilaksanakan secara persuarsif dan
pengendalian sosial yang dilakukan secara koersif.
Cara Persuasif
Cara persuasif merupakan upaya pengendalian sosial yang
dilakukan dengan menekankan pada tindakan yang sifatnya mengajak
atau membimbing warga masyarakat agar bersedia bertindak sesuai
dengan norma yang berlaku. Cara persuasif cenderung menekankan pada
upaya penyadaran msyarakat. Contoh, sejumlah artis membagikan bunga
sebagai ajakan untuk mewujudkan perdamaian ; seorang guru Bimbingan
dan Penyuluhan ( BP ) menegur dan menasihati seorang siswa yang
tertangkap basah merokok di sekolah.
Cara Koersif
Cara koersif merupakan upaya pengendalian sosial yang dilakuan
dengan menekankan pada tindakan yang sifatnya memaksa warga
masyarakat agar bersedia bertindak sesuai dengan norma yang berlaku.
Cara koersif cenderung menekankan pada berbagai upaya pemaksaan
masyarakat. Upaya ini semestinya digunakan seminimal mungkin, yaitu
bila upaya persuasif tidak memberikan hasil. Contoh, petugas ketertiban
kota memerintahkan dengan pengeras suara agar semua PKL tidak
berdagang di tempat yang dilarang ( tekanan), namun kemudian petugas
ketetiban kota mengangkut lapak yang digunakan para pedagang kaki
lima yang berdagang di tempat tempat terlarang. Hal itu dilakukan
karena peringatan yang telah diberikan beberapa kali tidak di indahkan.
3. Berdasarkan Sifat
Pengendalian sosial kuratif
Pengendalian sosial kuartif adalah pengendalian sosial dalam
bentuk pembinaan atau penyembuhan terhadap berbagai macam bentuk
perilaku yang menyimpang, misalnya penyembuhan kepada eks pemakai
narkoba.
Pengendalian sosial partisipatif

Pengendalian sosial partisipatif adalah pengendalian sosial yang


dilakukan

dengan

mengikutsertakan

pelaku

untuk

melakukan

penyembuhan atau perbaikan perilaku. Misalnya kepada mantan pencuri


yang ditugaskan menjadi aparat keamanan.
2.5 Bentuk - Bentuk Pengendalian Sosial
Banyak sekali bentuk-bentuk pengendalian sosial yang dilakukan oleh
masyarakat untuk mencegah terjadinya perilaku menyimpang.
Gosip
Gosip sering juga diistilahkan dengan desas-desus. Gosip
merupakan memperbincangkan perilaku negatif yang dilakukan oleh
seseorang tanpa didukung oleh fakta yang jelas. Gosip tidak dapat
diketahui secara terbuka, terlebih-lebih oleh orang yang merupakan objek
gosip. Namun demikian gosip dapat menyebar dari mulut ke mulut
sehingga hampir seluruh anggota masyarakat tahu dan terlibat dalam
gosip. Misalnya gosip tentang perselingkuhan yang dilakukan oleh Si A
dengan Si B. gosip seperti ini dalam waktu singkat akan segera
menyebar. Warga masyarakat yang telah mendengar gosip tertentu akan
terpengaruh dan bersikap sinis kepada orang yang digosipkan. Karena
sifatnya yang laten, biasanya orang sangat menjaga agar tidak menjadi
objek gosip.
Teguran
Teguran biasanya dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang
terhadap seseorang atau sekelompok orang yang dianggap melanggar
etika dan/atau mengganggu kenyamanan warga masyarakat. Teguran
merupakan kritik sosial yang dilakukan secara langsung dan terbuka
sehingga yang bersangkutan segera menyadari kekeliruan yang telah
diperbuat. Di dalam tradisi masyarakat kita teguran merupakan suatu hal
yang tidak aneh lagi. Misalnya teguran terhadap sekelompok pemuda
yang begadang sampai larut malam sambil membuat kegaduhan yang
mengganggu ketentraman warga yang sedang tidur, teguran yang
dilakukan oleh guru kepada pelajar yang sering meninggalkan pelajaran,
dan lain sebagainya.

Sanksi/Hukuman
Pada dasarnya sanksi atau hukuman merupakan imbalan yang
bersifat negatif yang diberikan kepada seseorang atau sekelompok orang
yang dianggap telah melakukan perilaku menyimpang. Misalnya
pemecatan yang dilakukan terhadap polisi yang terbukti telah
mengkonsumsi dan mengedarkan narkoba, dan lain sebagainya. Adapun
manfaat dari sanksi atau hukuman antara lain adalah: (1) untuk
menyadarkan seseorang atau sekelompok orang terhadap penyimpangan
yang telah dilakukan sehingga tidak akan mengulanginya lagi, dan (2)
sebagai peringatan kepada warga masyarakat lain agar tidak melakukan
penyimpangan.
Pendidikan
Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh seseorang
atau sekelompok orang untuk mempengaruhi seseorang atau sekelompok
orang agar mencapai taraf kedewasaan. Melalui pendidikanlah seseorang
mengetahui, memahami, dan sekaligus mempraktekkan sistem nilai dan
sistem norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat.
Agama
Agama mengajarkan kepada seluruh umat manusia untuk menjaga
hubungan baik antara manusia dengan sesama manusia, antara manusia
dengan makhluk lain, dan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Hubungan yang baik dapat dibina dengan cara menjalankan segala
perintah Tuhan dan sekaligus menjauhi segala larangan-Nya. Melalui
agama ditanamkan keyakinan bahwa melaksanakan perintah Tuhan
merupakan perbuatan baik yang akan mendatangkan pahala. Sebaliknya,
melanggar larangan Tuhan merupakan perbuatan dosa yang akan
mendatangkan siksa. Dengan keyakinan seperti ini, maka agama
memegang peranan yang sangat penting dalam mengontrol perilaku
kehidupan manusia.
2.6 Lembaga Pengendalian Sosial
Jenis-jenis lembaga pengendalian sosial ada 6 macam yang sangat
mendasar yaitu sebagai berikut:
a. Lembaga Kepolisian
8

Polisi merupakan aparat keamanan dan ketertiban masyarakat yang


ada dalam hal ini bertugas pelindung terhadap ketertiban masyarakat.
b. Lembaga Kejaksaan
Lembaga kejaksaan pada hakikatnya merupakan lembaga formal
yang bertugas sebagai penuntut umum yaitu pihak yang melakukan
peuntutan terhadap mereka-mereka yang melakukan pelanggaran hukum
berdasarkan tertib hukum yang berlaku.
c. Lembaga Pengadilan
Lembaga Pengadilan pada hakikatnya juga merupakan lembaga
pengadilan sosial formal yang bertugas untuk memeriksa kembali hasil
penyidikan dan BAP dari kepolisian serta menindaklanjuti tuntutan dari
kejaksaan terhadap kasus pelanggaran itu sendiri.
d. Lembaga KPK
KPK merupakan lembaga yang dibentuk untuk memberantas para
korupsi di tanah air.
e. Lembaga Adat
Penyimpangan perilaku diselesaikan berdasarkan aturan hukum
adat yang berlaku di bawah penyelanggaran tokoh-tokoh adat setempat.
f. Tokoh-Tokoh Masyarakat
Tokoh-tokoh masyarakat ini merupakan panutan sekaligus
pengendali yang dipatuhi oleh warga masyarakat yang lain. Usaha warga
masyarakat untuk memberikan opini dan penekanan terhadap pihak-pihak
yang dianggap melanggar ketentuan perundang yang berlaku baik yang
disampaikan secara langsung maupun tidak langsung disebut kontrol
sosial.
2.7 Sikap Anti Sosial
1. Pengertian Sikap Antisosial adalah sikap dan perilaku yang tidak
mempertimbangkan penilaian dan keberadaan orang lain ataupun
masyarakat secara umum di sekitarnya. Seseorang yang antisosial
menunjukkan sikap tidak bertanggung jawab serta kurangnya penyesalan
mengenai kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan. Orang yang
kepribadian

antisosial

secara

persisten

melakukan

pelanggaran-

pelanggaran terhadap hak-hak orang lain dan sering melanggar norma.

Mereka mengabaikan norma dan konvensi sosial, impulsif, serta gagal


dalam membina hubungan interpersonal dan pekerjaan. Suatu tindakan
antisosial termasuk dalam tindakan sosial berorientasi di keberadaan orang
lain atau mempunyai makna subjektif bagi orang-orang yang melakukannya.
Tindakan-tindakan antisosial biasanya mendantangkan kerugian bagi
masyarakat luas sebab pada dasarnya si pelaku tidak menyukai keteraturan
sosial (social order) yang diinginkan oleh sebagian besarr anggota
masyarakat lainnya.
2. Ciri-Ciri Sikap Antisosial
Sikap antisosial dapat dengan mudah diketahui dengan melihat ciri-ciri
tanda dari sikap anti sosial antara lain sebagai berikut...
Terdapat ketidaksesuaian antara sikap seseorang dengan norma yang

terdapat dalam masyarakat


Adanya seseorang atau sekelompok orang yang beruasah dalam

melakukan perlawan terhadap orang yang berlaku di masyarakat.


Keadaan psikologi seseorang yang berlawanan dengan apa yang

terjadi
Ketidakmampuan seseorang dalam menjalankan norma yang di

masyarakat.
3. Bentuk-Bentuk Sikap Antisosial
Sikap antisosial dikelompokkan dalam beberapa macam antara lain
sebagai berikut:
1. Bentuk-Bentuk Sikap Antisosial Berdasarkan Penyebabnya
a. Sikap antisosial yang muncul karena penyimpangan (devisiasi)
individual
Penyimpangan individul bersumber dari faktor-faktor yang
terdapat diri seseorang, seperti pembawaan, penyakit, kecelakaan
yang dialami seseorang, atau karena terdapat pengaruh sosial
budaya yang sifatnya unik terhadap individu. Adapun bentukbentuk sikap antisosial antara lain sebagia berikut...
- Pembandel, yaitu orang yang tidak mau tunduk pada
peringatan orang-orang yang memiliki kewenangan di
-

lingkungan tersebut.
Pelanggar, ialah orang-orang yang melanggar norma-norma
umum atau masyarakat yang berlaku

10

Pembangkang, adalah orang yang tidak tunduk pada nasihat-

nasihat orang yang terdapat dilingkungan tersebut.


Penjahat, adalah orang-orang yang mengabaikan normanorma umum atau masyarakat yang berbuat sekehendak hati
yang mengakibatkan kerugian-kerugian harta atau jiwa yang
terdapat dilingkungannya ataupun yang berada di luar
lingkungannya

sehingga

para

anggota

masyarakat

meningkatkan kewaspadaan dan selalu bersiap-siap untuk


menghadapinya.
b. Sikap antisosial yang muncul karena penyimpangan situsional
Penyimpanan situasional adalah fungsi pengaruh kekuatankekuatan situasi yang berada di luar individu atau dalam situasi
ketika individu merupakan bagian yang tidak terpisahkan di
dalamnya. Situasi sosial adalah keadaan yang berhubungan
dengan tingkah laku seseorang dimana tekanan, pembatasan, dan
rangsangan yang datang dari orang atau kelompok di luar diri
orang itu relatif lebih dinamis daripada faktor-faktor internal yang
dapat

menimbulkan

respons

mengenai

hal-hal

tersebut.

Penyimpangan situasional dapat selalu kembali jika situasinya


berulang. Mengenai kejadian tersebut, menjadi penyimpangan
kumulatif. Macam-macam bentuk sikap antisosial adalah sebagai
berikut:
- Degradasi moral atau demoralisasi karena kata-kata keras dan
radikal yang kelaur di mulut para pekerja yang di PHK secara
-

sepihak oleh perusahaan tempat mereka bekerja.


Tingkah laku kasar pada golongan remaja
Tekanan batin yang dialami oleh perempuan-perempuan yang

mengalami monopause
Penyimpangan seksual

menunda-nunda perkawinan
Homoseksual yang terjadi untuk narapidana di lembaga

yang

terjadi

karena

seseorang

permasyarakatan.
c. Sikap antisosial yang muncul karena penyimpangan biologis

11

Penyimpangan biologi adalah faktor pembatas yang tidak


memungkinkan terjadinya dalam memberikan persepsi atau
menimbulkan respons-respons tertentu. Gangguan terjadi jika
individu tidak melakukan suatu peranan sosial tertentu yang
sangat perlu. Pembatasan terhadap gangguan-gangguan ini
sifatnya transbudaya (menyeluruh di seluruh dunia). Terdapat
macam-macam bentuk diferensiasi yang dapat menghasilkan
penyimpangan biologis adalah sebagai berikut:
- Ciri-ciri ras, misalnya tinggi badan, roman muka, dan bentuk
-

badan
Ciri-ciri karena gangguan fisik, misalnya kehilangan anggota

tubuh dan gangguan sensorik


Ciri-ciri biologis yang aneh, cacat karena luka dan cacat yang

terjadi karena bawaan lahir.


Tidak berfungsinya tubuh secara baik dan tidak bisa

dikendalikan lagi, misalnya epilepsi dan tremor.


d. Sikap antisosial yang bersifat sosiokultural
Beberapa bentuk sikap dari antisosial dengan

sifat

sosiokultural adalah sebagai berikut:


- Primordialisme, adalah suatu sikap atau pandangan yang
menunjukkan sikap yang berpegang teguh kepada hal-hal yang
sejak semula melekat pada diri individu, misalnya suku
bangsa, agama, ras, ataupun asal usul kedaerahan oleh
seseorang

dalam

kelompoknya,

kemudian

meluar

dan

berkembang. Primordialisme muncul karena adanya sesuatu


yang dianggap istimewa oleh individu dalam suatu kelompok
dan keinginan untuk mempertahankan keutuhan suatu
kelompok.

Selain

dari

itu,

primordialisme

berkaitan

disebabkan dengan nilai-nilai mengenai keyakinan, misalnya


-

keagamaan dan pandangan hidup.


Etnosentrims atau fanatisme suku bangsa, ialah suatu sikap
yang

menilai

kebudayaan

masyarkat

lain

dengan

menggunakan ukuran-ukuran yang berlaku di masyarakatnya


sendiri.
12

Sekularisme, yaitu sikap yang lebih mengedepankan hal-hal


yang sifatnya nonagamawi, misalnya teknologi dan ilmu
pengetahuan.

Orang

yang

seperti

ini

cenderung

mengedepankan kebenaran duniawi.


Hedonisme, adalah suatu sikap manusia yang didasarkan pada
diri mengenai pola kehidupan yang serbamewah, glamor, dan
menemparkan kesenangan materiil di atas segalanya. Tindakan
yang baik menurut hedonisme adalah tindakan yang
menghasilkan kenikmatan. Orang yang mempunyai sifat
seperti ini biasanya kurang peduli mengenai keadaan di

sekitarnya karena yang diburu adalah kesenangan pribadi.


Fanatisme, ialah suatu sikap yang mencintai atau menyukai
mengenai

suatu

hal

secara

berlebihan.

Mereka

tidak

memedulikan apapun yang dipandang lebih baik daripada hal


yang disenangi tersebut. Fanatisme yang berlebihan sangat
berbahaya karena dapat berujung pada perpecahan atau
konflik. Seperti fanatisme terhadap suatu ideologi atau arti
-

idola.
Diskriminasi, adalah sikap yang membeda-bedakan secara
sengaja

golongan-golongan

kepentingan-kepentingan

yang

tertentu.

berkaitan
Dalam

mengenai

diskriminasi,

golongan tertentu diperlakukan secara berbeda dengan


golongan-golongan lain. Pembedaan itu dapat didasarkan pada
suku bangsa, agama, mayoritas, atau bahkan minoritas dalam
masyarakat. Seperti, diskriminasi ras yang sebelumnya pernah
terdapat di Afrika Selatan dimana seluruh warga ras kulit putih
menduduki lapisan lebih tinggi dibandingkan ras kulit hitam.
2. Bentuk-Bentuk Sikap Antisosial Berdasarkan Sifatnya
a. Tindakan antisosial yang dilakukan secara sengaja
Tindakan antisosial yang dilakukan secara sengaja adalah
tindakan yang dilakukan secara sadar oleh pelaku, akan tetapi
tidak

mempertimbangkan

13

penilaian

orang

lain

terhadap

tindakannya tersebut. Seperti vandalisme atau aksi corat-coret


tembok rumah orang lain.
b. Tindakan antisosial karena tidak peduli
Tindakan antisosial karena tidak peduli adalah tindakan
karena

ketidakpedulian

si

pelaku

mengenai

keberadaan

masyarakat disekitarnya. Seperti membuang sampah di sebmarang


tempat atau mengebut ketika berkendara di jalan raya.
- Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Sikap Antisosial/Sebab
-

Terjadinya Sikap Antisosial


Terdapat norma dan nilai sosial yang tidak sesuai atau sejalan
mengenai

keinginan

masyarakat

sehingga

dapat

terjadi

kesenjangan budaya, baik pola pikir masyarakat.


Adanya ideologi yang dipaksakan untuk masuk ke dalam
lingkungan masyarakat.

Hal

tersebut

dapat menimbulkan

guncangan budaya bagi masyarakat yang belum siap untuk


-

menerima ideologi baru tersebut.


Masyarakat kurang siap untuk menerima perubahan dalam
tatanan masyarkat. Hal tersebut dapat terjadi karena terdapat
perubahan sosial yang menuntuk seluruh komponen agar berubah
mengikuti tatanan yang baru. Dalam perubahan, terdapat
komponen yang siap, namun ada juga yang sebaliknya yang justru
bersikap antisosial karena sepakat dengan perubahan yang terjadi.

Seperti perusakan fasilitas umum.


Ketidakmampuan seseorang untuk memahami atau menerima
mengenai bentuk-bentuk perbedaan sosial dalam masyarakat
sehingga akan mengakibatkan kecemburuan sosial. Perbedaanperbedaan dimaknai sebagai suatu permasalahan yang dapat

mengancam stabiltas masyarakat yang sudah tertata.


Pemimpin yang kurang sigap dan tanggal mengenai fenomena
sosial dalam masyarakat serta tidak mampu mengartikan
keinginan masyarakat secara keseluruhan.

14

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Setelah kami merangkum hasil diskusi, perlu kita ketahui bahwa
pengendalian sosial itu memang berperan penting bagi penerus bangsa agar
negara kita dapat menjadi negara maju. Dan kita juga telah memahami apa itu
pengendalian sosial baik itu menurut para ahli maupun secara umum, ciri-ciri
pengendalian sosial, tujuan / fungsi pengendalian sosial, macam-macam
pengendalian sosial, bentuk bentuk pengendalian sosial serta lembaga
pengendalian sosial.

15

DAFTAR PUSTAKA

Kamanto,Sunarto 2000. Pengantar Sosiologi.Jakarta:.Lembaga penerbit Fakultas


Ekonomi Universitas Indonesia
Sudarmi, Sri. 2009. Sosiologi 1 Kelas X SMA/ MA. Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional.
Narwoko J.Dwi,Bagong Suyanto.2011.Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
http://belajarpsikologi.com/pengendalian-sosial/
http://id.wikipedia.org/wiki/Pengendalian_sosial

16