Anda di halaman 1dari 6

I.

1 Buah Pala
Pohon pala mempunyai tinggi 15-20 m, tumbuh di Indonesia dan
di India bagian barat. Minyak pala terdiri dari 90% hidrokarbon.
Komponen terbanyak yang dapat ditemukan dalam buah pala adalah SOH,
, dan pireina. Minyak pala dipakai terutama pada penyedap makanan
dan bahan tambahan dalam bermacam-macam minyak wangi (Wilcox,
1995).
Biji buah pala merupakan biji dari tumbuh-tumbuhan yang kaya
akan trigliserida yaitu asam lemak ester gliserol. Banyak perbedaan yang
mungkin pada trigliserida terjadi, sejak gliserol mempunyai rantai yang
sangat panjang dan sejumlah ikatan rangkap dan saling berhubungan satu
sama lain. Biji buah pala mengandung trigliserida terutama ester gliserol
yaitu asam lemak tunggal dan asam myristic, yang disebut trimiristin.
Trimiristin yang terkandung dalam biji buah pala kering kira-kira 25%30% beratnya (Winarno, 1991).
I.2 Komposisi Biji Buah Pala
Pada prinsipnya komponen dalam biji pala dan fuli terdiri dari
minyak atsiri, minyak lemak, protein, selulosa, pentosan, pati, resin dan
mineral-mineral. biji pala mengandung minyak atsiri sekitar 2-16%
dengan rata-rata pada 10% dan fixed oil (minyak lemak) sekitar 25-40%.,
karbohidrat sekitar 30% dan protein sekitar 6%. Setiap 100 g daging buah
pala mengandung air sekitar 10 g,protein 7 g, lemak 33 g, minyak yang
menguap

(minyak

atsiri)

dengan

komponen

utama

monoterpen

hidrokarbon (61 - 88% seperti alphapinene, beta pinene, sabinene), asam


monoterpenes (5 - 15%), aromatic eter (2-18% seperti myristicin,
elemicin, safrole). Biji pala kaya akan lemak sehingga dapat diekstrak
untuk menghasilkan minyak pala. Daging buah pala kaya akan kalsium,
fosfor, vitamin C dan A, serta sedikit zat besi. Daging buah pala
mengandung 29 komponen volatil (senyawa yang mudah menguap)

dengan 23 komponen telah teridentifikasi dan 6 komponen lain belum


teridentifikasi. Komponen yang paling banyak terkandung dalam minyak
atsiri daging buah pala adalah -pinen (8,7%), -pinen (6,92%), 3-karen
(3,54%), D-limonen (8%), -terpinen (3,69%), 1,3,8-mentatrien (5,43%),
- terpinen (4,9%), -terpineol (11,23%), safrol (2,95%), dan miristisin
(23,37%) (Agoes, 2010).
Komponen minyak biji pala yangmemiliki bioaktivitas diantaranya
camphene, elemicin, eugenol, isoelemicin, isoeugenol, methoxyeugenol
dan elimicin. Sabinene (41.7%), a-pinene (9.4%), -pinene (7.3%),
terpine-4-ol (5.8%), limonene (3.7%), safrole (1.4%) dan myristicin
(2.7%) juga teridentifikasi pada minyak biji pala. Senyawa-senyawa
penting lainnya seperti alkaloid, saponin, anthraquinon, cardiac glikosida,
flavonoid dan phlobatanin juga terdeteksi pada ekstrak fasa cair pala (Idrus
et. al.,2014).
I.3 Taksonomi Buah Pala
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Polycarprcae

Famili

: Myristicaceae

Genus

: Myristica

Spesies

: Myristica fragrans
(Wilcox, 1995)

I.4 Sifat Biji Pala


Sifat dari biji buah pala yaitu (Helmkamp, 1964):
1. Mengandung unsur-unsur psitropik (menimbulkan halusinasi)
2. Mengakibatkan muntah-muntah, kepala pusing, rongga mulut
kering, meningkatkan rasa muntah dan diakhiri dengan
kematian.

3. Memiliki daya bunuh terhadap larva serangga


4. Tidak menimbulkan alergi jika dioleskan pada kulit manusia.
I.5 Trimiristin
Merupakan salah satu senyawa bahan alam golongan lemak yang
ditemukan pada biji buah pala (myristica fragrans). Trimiristin yang
terkandung dalam biji buah pala merupakan lemak yang juga dapat
ditemukan beberapa jenis sayuran yang kaya akan minyak dan lemak
terutama pada biji-bijian. Trimiristin merupakan bentuk kental dan tidak
berwarna serta tidak larut dalam air. Beberapa perbedaan trigliserida
mungkin karena gliserol mempunyai tiga fungsi. Fungsi hidroksil dan juga
mengandung lemak alami yang mempunyai rantai panjang dan sejumlah
ikatan rangkap yang berhubungan satu sama lain. Trimiristin terkandung
sekitar 25% dari berat kering biji buah pala (Wilcox,1995).
Trimiristin adalah suatu bentuk ester dari gliserol dan tidak larut
dalam air serta merupakan bentuk kental yang tidak berwarna yang
terdapat pada biji buah pala (Wilcox,1995).

I.6 Sifat Trimiristin


Trimiristin mempunyai beberapa sifat (Wilcox,1995):
a. Bentuk Kristal : serbuk putih
b. Berat Molekul : 728,18 g/mol
c. Densitas : 0,88 g/cm3 pada suhu 300C
d. Titik lebur 58,50C
e. Kelarutan : -

tidak larut dalam air


Sangat larut dalam alkohol dan eter

I.7 Isolasi Trimiristin


Trimiristin merupakan ester yang larut dalam alkohol, eter,
kloroform, dan benzena. Kadar masing-masing komponen (Wilcox,1995):

: 74,73 %

: 11,99 %

: 12,27 %
Isolasi trimiristin (ester) dan miristat (turunan fenil propanon) yang

merupakan dua produk utama dari buah pala dilakukan dengan ekstraksi
kloroform. Senyawa ini dipisahkan dengan memisahkan residu dan
filtratnya. Trimiristin padat dicampur dengan alkali, menghasilkan asam
miristat. Miristat dimurnikan dengan kromatografi kolom dan destilasi
bertingkat. Isolasi trimiristin dari biji buah pala yang paling baik adalah
dengan cara ekstraksi eter dengan alat refluks dan residunya dihabiskan
dengan aseton. Selain itu senyawa trimiristin tidak banyak bercampur
dengan ester lain yang sejenis (Wilcox,1995).
I.8 Karakterisasi minyak atsiri pada biji pala
a. Penentuan sifat fisika
Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI No. 06-2388, tahun 2006), sifat fisika
minyak pala meliputi warna, berat jenis, indeks bias, putaran optik, kelarutan
dalam alkohol, dan sisa penguapan. Penentuan berat jenis dilakukan
menggunakan metode piknometer, indeks bias dengan refractometer, putaran
optik dengan polarimeter, kelarutan dengan pelarut etanol 90%, sisa penguapan
dengan cara pemanasan pada suhu 105C, penimbangan dengan gravimetri, dan
penentuan warna dilakukan secara visual (Idrus et. al.,2014).
b. Identifikasi komponen kimia minyak pala
Identifikasi komponen kimia dalam minyak pala dilakukan dengan metode
kromatografi gas dengan teknik pengayaan (peak-enrichment) dan menggunakan
senyawa standar otentik (ISO No.3215, 2002). Kondisi operasi instrumen
kromatografi gas sebagai berikut: kolom kapiler dengan panjang 30 m dan
diameter internal 0,25 mm, phasa stationer polietilen glycol dengan ketebalan film
0,25 m, temperatur kolom terprogram dari 70-250C dengan kenaikan
2C/menit, temperatur injektor dan detektor masing-masing 250C, gas

pendorong adalah nitrogen dengan kecepatan alir 1 ml/menit, detektor


menggunakan jenis ionisasi nyala, dan volume sampel 0,3 l dan split ratio 1/100
(Idrus et. al.,2014).
c. Isolasi dan Pemurnian Trimiristin
Masukkan 40 gram minyak pala kedalam labu alas bulat 250 ml yang dilengkapi
dengan kondensor refluks dan tambahkan 100 ml eter. Campuran direfluks dengan
menggunakan penangas air. Saring campuran yang telah didinginkan dengan
penyaring biasa. Pisahkan dan dapatkan kembali ester dengan destilasi
menggunakan penangas air. Larutkan larutan hasil isolasi kedalam 50 ml aseton
dengan cara memanaskannya dengan pemanas air. Tuangkan larutan panas ini ke
dalam erlenmeyer 250 ml dan didinginkan. Kristalisasi akan berjalan lambat, oleh
karena itu biarkan campuran pada suhu kamar +/- 1jam. Kemudian dinginkan
campuran dalam air es dalam 30 menit. Trimiristin yang dihasilkan dianalisis
menggunakan metode kromatografi gas (Idrus et. al.,2014).

II.

Daftar Pustaka

Agoes, H.A. 2010 . Tanaman Obat Indonesia Buku 2. Jakarta: Penerbit Salemba
Medika
Freiser, Louis F. 1957. Experiment in Organic Chemistry, 3nd edition. Boston:
D.C. Health and Company.
Gibson, Charles. 1956. Essential Principles of Organic Chemistry. London :
Cambridge of The University Press.
Helmkamp. 1964. Selected Experiments in Organic Chemistry. London :
Cambridge of The University Press.

Idrus., Syarifusin,M., Kaimudin, R.F Torry dan R. Biantoro. 2014. Isolasi


Trimiristin

Minyak

Pala

serta

Pemanfaatnannya

sebagai

Bahan

Aktif

Sabun. Jurnal Riset Industri. 8 (1): 23-31.


Wilcox, C.F. 1995. Experimental Organic Chemistry, 2nd Edition. New Jersey:
Prentice Hall
Winarno, F.G. 1995. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka