Anda di halaman 1dari 180

Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

FIQIH
MAWARIS
Ahmad Sarwat, Lc

1
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Judul Buku
Fiqih Mawaris

Penulis
Ahmad Sarwat

Penerbit
DU CENTER

Cetakan
Pertama
Kedua
Ketiga
Keempat

3
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Istilah

Agar tidak terjadi selip paham dalam membicarakan hal-hal yang


terkait dengan istilah warisan yang ditranslate ke dalam bahasa
Indonesia, mari kita merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI).
Misalnya kata mewarisi dan mewariskan, orang sering keliru
membedakan keduanya. Menurut KBBI, kata 'mewarisi' adalah
memperoleh warisan. Misalnya kalimat berikut : Amir mewarisi
sebidang tanah milik ayahnya, pak Ali. Artinya, Amir memperoleh
tanah yang ditinggalkan oleh pak Ali.
Sedangkan kata 'mewariskan' artinya adalah memberikan harta
warisan atau meninggalkan sesuatu harta kepada orang lain.
Misalnya kalimat berikut : Pak Ali mewariskan sebidang tanah
kepada anaknya. Maksudnya, pak Ali memberikan harta warisan
kepada anaknya.
Kata 'pewaris' adalah orang yang mewariskan, yaitu orang yang
memberi harta warisan. Contoh dalam kalimat, pak Ali adalah
pewaris dari anak-anaknya. Maksudnya, pak Ali memberi harta
warisan kepada anak-anaknya.
Lawan kata pewaris adalah 'ahli waris', yaitu orang yang berhak
menerima warisan (harta pusaka). Contoh dalam kalimat, Amir
adalah ahli waris dari ayahnya. Maksudnya, Amir menerima harta
warisan dari ayahnya.

me·wa·risi v 1 memperoleh warisan dr: krn anak


satu-satunya, dialah yg akan ~ seluruh harta
kekayaan orang tuanya; 2 ki memperoleh
sesuatu yg ditinggalkan oleh orang tuanya dsb:
ia tidak saja memperoleh harta kekayaan, tetapi
ia juga ~ utang-utang yg ditinggalkan
almarhum;
me·wa·ris·kan v 1 memberikan harta warisan
kpd; meninggalkan sesuatu kpd: gurunya ~ ilmu silat
kepadanya; 2 menjadikan orang lain menjadi waris;
wa·ris·an n sesuatu yg diwariskan, spt harta, nama baik; harta

5
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

ahli waris orang yang berhak menerima warisan (harta pusaka)

6
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Daftar Isi

Urgensi dan Pensyariatan 17


1. Mengapa Kita Belajar Hukum Waris 17
1.1. Ilmu Waris Akan Dicabut 18
1.2. Perintah Khusus Dari Nabi SAW 19
1.3. Sejajar Dengan Belajar Al-Quran 19
1.4. Menghindari Perpecahan Keluarga 20
1.5. Ancaman Akhirat 21
2. Pensyariatan 22
2.1. Dalil Quran 22
2.2. Dalil Sunnah 26
2.3. Dalil Ijma' 27
Pengertian Waris 29
1. Definisi 29
1.1. Bahasa 29
1.2. Pengertian syariah 30
2. Waris, Hibah dan Wasiat 30
2.1. Waktu 31
2.2. Penerima 31
2.3. Nilai 32
2.4. Hukum 32
3. Istilah-istilah dalam ilmu waris 33
3.1. Tarikah 33
3.2. Fardh 33
3.3. Ashhabul Furudh. 33
3.4. Ashabah 34
3.5. Sahm 35
3.6. Nasab 35
3.7. Al-Far'u 35
3.8. Al-Ashl 36
Alokasi Harta 37
1. Menetapkan Kepemilikan Harta 37
2. Pengurusan Jenazah 40

7
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

3. Hutang 41
4. Washiyat 43
Rukun, Syarat dan Sebab Warisan 45
1. Rukun Waris 45
1.1. Al-Muwarits 45
1.2. Al-Warits 45
1.3. Harta Warisan 46
2. Syarat Waris 46
2.1. Meninggalnya Muwarrits 46
2.2. Hidupnya Ahli Waris 49
2.3. Ahli Waris Diketahui 50
3. Sebab-sebab Adanya Hak Waris 50
3.1. Kerabat hakiki 50
3.2. Pernikahan 51
3.3. Al-Wala 51
Gugurnya Warisan 53
1. Hal-hal Yang Menggugurkan Warisan 53
1.1. Pembunuhan 53
1.2. Perbedaan Agama 54
1.3. Budak 56
2. Perbedaan Mahrum dan Mahjub 57
Penghalang Warisan (Al-Hujub) 59
1. Definisi 59
2. Macam-macam al-Hujub 60
3. Ahli Waris yang Tidak Terkena Hujub Hirman 61
4. Ahli Waris yang Dapat Terkena Hujub Hirman 62
Para Ahli Waris 63
1. Anak Laki-laki (‫)ابن‬ 66
1.1. Bagian 66
1.2. Menghijab 67
1.3. Dihijab oleh : 67
2. Anak Perempuan (‫)بنت‬ 67
2.1. Bagian 68

8
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

2.2. Menghijab 69
2.3. Dihijab Oleh : 69
3. Istri (‫)زوجة‬ 70
3.1. Bagian 70
3.2. Menghijab 71
3.3. Dihijab oleh 71
4. Suami 71
4.1. Bagian 72
4.2. Menghijab 72
4.3. Dihijab oleh 72
5. Ayah 73
5.1. Bagian 73
5.2. Menghijab 75
5.3. Dihijab oleh 76
6. Ibu 76
6.1. Bagian 76
6.2. Menghijab 78
6.3. Dihijab oleh 78
7. Kakek (‫)أب أب‬ 79
7.1. Bagian 79
7.2. Menghijab 81
7.3. Dihijab oleh 81
8. Nenek (‫)أم أب‬ 82
8.1. Bagian 82
8.2. Menghijab 82
8.3. Dihijab oleh 82
9. Saudara seayah-ibu (‫)أخ شقيق‬ 82
10. Saudari seayah-ibu 83
11. Saudara seayah 83
12. Saudari seayah 83
13. Keponakan : anak saudara seayah-ibu 83
14. Keponakan : anak saudara seayah 83
15. Paman : saudara ayah seayah-ibu 83
16. Paman : saudara ayah seayah 83
17. Sepupu : anak laki paman seayah-ibu 83

9
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

18. Sepupu : anak laki paman seayah 84


1.2. Ahli Waris Perempuan 86
2. Derajat Ahli Waris 87
2.1. Ashhabul furudh. 87
2.3. Penambahan bagi ashhabul furudh 89
2.4. Mewariskan kepada kerabat. 89
2.5. Tambahan hak waris bagi suami atau istri. 89
2.6. Ashabah karena sebab. 89
2.7. Orang yang diberi wasiat lebih dari sepertiga harta
pewaris. 90
3. Bentuk-bentuk Waris 90
Ashhabul-Furudh 93
1. Definisi Ashhabul Furudh 93
2. Mendapat Setengah (1/2) 94
2.1. Suami 94
2.2. Anak perempuan (kandung) 95
2.3. Cucu perempuan keturunan 95
2.4. Saudara Kandung Perempuan 96
2.5. Saudara perempuan seayah 96
2. Mendapat Seperempat (1/4) 97
2.1. Suami 97
2.2. Istri 97
3. Mendapat Seperdelapan (1/8) 98
4. Mendapat Dua per Tiga (2/3) 99
4.1. Dua anak perempuan (kandung) 99
4.2. Dua orang cucu perempuan 100
4.4. Dua saudara perempuan seayah (atau lebih) 101
5. Mendapat Sepertiga (1/3) 102
5.1. Ibu 102
5.2. Saudara laki-laki dan saudara perempuan 103
Masalah 'Umariyyatan 105
6. Mendapat Seperenam (1/6) 107
6.1. Ayah 108
6.2. Kakek 108
6.3. Ibu 108

10
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

6. 4. Cucu perempuan 109


6. 5. Saudara perempuan 110
6.6. Nenek asli 111
Ahli Waris 'Ashabah 113
1. Pengertian 113
2. Dalil Hak Waris Para 'Ashabah 114
3. Macam-macam 'Ashabah 116
3.1. 'Ashabah bin nafs 117
3.2. 'Ashabah bi Ghairihi dan Hukumnya 122
4. Perbedaan 'Ashabah bil Ghair dengan 'Ashabah ma'al
Ghair 131
Berbagai Keadaan Para Ahli Waris 133
1. Istri 134
1.1. Tidak Menghijab Orang Lain 135
1.2. Tidak Dihijab Oleh Siapa Pun 135
1.3. Cara Mendapat Waris 135
2. Suami 136
2.1. Tidak Menghijab 136
2.2. Tidak Terhijab 136
2.3. Cara Mendapatkan Warisan 137
3. Anak Laki 138
3.1. Menghijab Banyak Orang 138
3.2. Tidah Dihijab oleh Siapa Pun 141
3.3. Cara Mendapat Waris 141
4. Anak Perempuan 141
4.1. Menghijab 141
4.2. Tidak Terhijab Oleh Siapa Pun 142
4.3. Cara Menerima Warisan 142
5. Ayah 144
5.1. Menghijab 144
5.2. Tidak Terhijab Oleh Siapa pun 145
5.3. Cara Mendapatkan Warisan 145
6. Ibu 146
6.1. Menghijab 147

11
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

6.2. Terhijab 147


6.3. Cara Mendapatkan Waris 147
7. Kakek 148
7.1. Menghijab 148
7.2. Terhijab 149
7.3. Cara Mendapatkan Warisan 150
8. Cucu 152
8.1. Menghijab banyak orang 152
Cara Membagi Warisan 157
1. Langkah Pertama 157
1.1. Hutang 157
1.2. Wasiat 157
1.3. Biaya Pengurusan Jenazah 158
2. Langkah Kedua 158
2.1. Memilah 158
2.2. Menghilangkan ahli waris yang terhijab 159
3. Langkah Ketiga 161

12
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Pengantar

Segala puji bagi Allah, Tuhan Yang Maha Agung.


Shalawat serta salam tercurah kepada baginda Nabi
Muhammad SAW, juga kepada para shahabat, pengikut
dan orang-orang yang berada di jalannya hingga akhir
zaman.
Syariat Islam menetapkan aturan waris dengan bentuk
yang sangat teratur dan adil. Di dalamnya ditetapkan hak
kepemilikan harta bagi setiap manusia, baik laki-laki
maupun perempuan dengan cara yang legal. Syariat
Islam juga menetapkan hak pemindahan kepemilikan
seseorang sesudah meninggal dunia kepada ahli
warisnya, dari seluruh kerabat dan nasabnya, tanpa
membedakan antara laki-laki dan perempuan, besar atau
kecil.
Al-Qur'an menjelaskan dan merinci secara detail
hukum-hukum yang berkaitan dengan hak kewarisan
tanpa mengabaikan hak seorang pun. Bagian yang harus
diterima semuanya dijelaskan sesuai kedudukan nasab
terhadap pewaris, apakah dia sebagai anak, ayah, istri,

13
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

suami, kakek, ibu, paman, cucu, atau bahkan hanya


sebatas saudara seayah atau seibu.
Oleh karena itu, Al-Qur'an merupakan acuan utama
hukum dan penentuan pembagian waris, sedangkan
ketetapan tentang kewarisan yang diambil dari hadits
Rasulullah saw. dan ijma' para ulama sangat sedikit.
Dapat dikatakan bahwa dalam hukum dan syariat Islam
sedikit sekali ayat Al-Qur'an yang merinci suatu hukum
secara detail dan rinci, kecuali hukum waris ini. Hal
demikian disebabkan kewarisan merupakan salah satu
bentuk kepemilikan yang legal dan dibenarkan AlIah
SWT. Di samping bahwa harta merupakan tonggak
penegak kehidupan baik bagi individu maupun kelompok
masyarakat.
Buku FIQIH MAWARIS ini hanyalah sebuah catatan
kecil dari ilmu fiqih yang sedemikian luas. Para ulama
pendahulu kita telah menuliskan ilmu ini dalam ribuan
jilid kitab yang menjadi pusaka dan pustaka khazanah
peradaban Islam. Sebuah kekayaan yang tidak pernah
dimiliki oleh agama manapun yang pernah muncul di
muka bumi.
Sayangnya, kebanyakan umat Islam malah tidak dapat
menikmati warisan itu, salah satunya karena kendala
bahasa. Padahal tak satu pun ayat Al-Quran yang turun
dari langit kecuali dalam bahasa Arab, tak secuil pun
huruf keluar dari lidah nabi kita SAW, kecuali dalam
bahasa Arab.
Maka upaya menuliskan kitab fiqih dalam bahasa
Indonesia ini menjadi upaya seadanya untuk
mendekatkan umat ini dengan warisan agamanya. Tentu
saja buku ini juga diupayakan agar masih dilengkapi

14
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

dengan teks berbahasa Arab, agar masih tersisa mana


yang merupakan nash asli dari agama ini.
Buku ini merupakan buku kedelapan dari rangkaian
silsilah pembahasan fiqih. Selain buku ini juga ada buku
lain terkait dengan masalah fiqih seperti fiqih thaharah,
shalat, puasa, zakat, haji, ekonomi atau muamalah, nikah,
waris, hudud dan bab lainnya.
Sedikit berbeda dengan umumnya kitab fiqih, manhaj
yang kami gunakan adalah manhaj muqaranah dan
wasathiyah. Kami tidak memberikan satu pendapat saja,
tapi berupaya memberikan beberapa pendapat bila
memang ada khilaf di antara para ulama tentang hukum-
hukum tertentu, dengan usaha untuk menampilkan juga
hujjah masing-masing. Lalu pilihan biasanya kami
serahkan kepada para pembaca.
Semoga buku ini bisa memberikan manfaat berlipat
karena bukan sekedar dimengerti isinya, tetapi yang lebih
penting dari itu dapat diamalkan sebaik-baiknya ikhlas
karena Allah SWT.

Al-Faqir ilallah

Ahmad Sarwat, Lc

15
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Bab Pertama
Urgensi dan Pensyariatan

1. Mengapa Kita Belajar Hukum Waris


Untuk apa kita mempelajari hukum waris? Bukankah
sudah ada kiyai dan para ulama yang bisa menangani
urusan waris? Bukankah biasanya membagi waris
menjadi tugas dan wewenang Kantor Urusan Agama
(KUA)?
Barangkali pertanyaan seperti itu muncul di benak kita
ketika pertama kali melihat buku ini.
Pertanyaan seperti itu mungkin ada benarnya. Sebab
biasanya urusan pembagian waris memang menjadi
urusan para kiyai dan ulama, setidaknya menjadi 'job' pak

17
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

KUA. Jadi buat apa kita yang tidak punya urusan ini
pakai sok belajar ilmu waris?
Pada bab pertama ini kita akan mempelajari kenapa
kita yang awam ini perlu dan harus belajar ilmu waris.
Ada beberapa sebab dan alasan yang melatarbelakangi
hal itu. Antara lain :
1.1. Ilmu Waris Akan Dicabut
Sebagaimana kita sadari meski bangsa Indonesia ini
mayoritas muslim, namun kita tahu bahwa agama kita
diperangi lewat berbagai macam bentuk penggerogotan
dari dalam. Salah satunya adalah dijejalinya kita dengan
berbagai produk hukum yang bukan hukum Islam, seperti
hukum barat dan hukum adat, lewat berbagai kurikulum
pendidikan yang kita dapat dari sistem pendidikan
nasional, atau dari adat istiadat turun temurun.
Maka lahirlah dari bangsa ini berlapis generasi
muslim yang rajin shalat 5 waktu, fasih membaca Al-
Quran, aktif mengaji kesana-kemari, gemar
menghidupkan amaliyah sunnah, tetapi sama sekali tidak
paham alias merasa asing dengan hukum waris Islam.
Keterasingan mereka atas hukum waris Islam ini
merupakan kehancuran umat Islam yang sudah diprediksi
oleh Rasulullah SAW sejak 14 abad yang lalu.
Rasulullah SAW secara khusus telah memberikan
perintah untuk mempelajari ilmu waris, sebab ilmu waris
itu setengah dari semua cabang ilmu. Lagi pula
Rasulullah SAW mengatakan bahwa ilmu warisan itu
termasuk yang pertama kali akan diangkat dari muka
bumi.

18
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

‫ض‬
َ ‫الف رَِائ‬
َ ‫ َي ا َأَب ا ُهَرْي َرةَ َتعََّل ُم وا‬ ‫اهلل‬
ِ ‫ول‬ ُ ُ‫ال َرس‬ َ ‫ال َق‬
َ ‫ َق‬ ‫ج‬ ِ َ‫األ ْع ر‬
َ ‫َعِن‬
‫ع مِْن ُأَّمِتي‬
ُ ‫سى َوُهَو َأَّوُل مَا ُيْنَز‬ َ ‫العْلِم َوِإَّنهُ ُيْن‬
ِ ‫ف‬ ُ ْ‫َوَعِّلُمْوُه َفِإَّنهُ ِنص‬
Dari A'raj radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW
bersabda,"Wahai Abu Hurairah, pelajarilah ilmu
faraidh dan ajarkanlah. Karena dia setengah dari
ilmu dan dilupakan orang. Dan dia adalah yang
pertama kali akan dicabut dari umatku". (HR. Ibnu
Majah, Ad-Daruquthuny dan Al-Hakim)
1.2. Perintah Khusus Dari Nabi SAW

َ‫ َتعََّل ُم وا القُ رْآن‬ ‫اهلل‬


ِ ‫ول‬ ُ ُ‫ال َق الَ َرس‬ َ ‫ َق‬ ‫ود‬ ٍ ُ‫اهلل ْبِن َمس ْع‬
ِ ‫َعْن َعْب ِد‬
ٌ ‫اس َف ِإِّني ْام رٌُؤ َمقُْب ْو‬
‫ض‬ َ ‫وه َّالن‬
ُ ‫ض َوَعِّل ُم‬
َ ‫الف َرِائ‬
َ ‫اس َوَتَعَّل ُم وا‬
َ ‫وه َّالن‬
ُ ‫َوَعِّل ُم‬
‫يف الفَِرْيضَِة َال‬
ِ ‫ان‬ ِ ‫االْثَن‬
ِ ‫ف‬ َ ‫خَتِل‬
ْ ‫ض َوَتْظ َه ُر الفَِتُن َحَّتى َي‬
ُ ‫العْلَم سَُيْقَب‬
ِ ‫َوِإَّن‬
‫جَدانِ َمْن َيْقضِي ِبَها – رواه احلاكم‬ ِ ‫َي‬
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahuanhu bahwa
Rasulullah SAW bersabda,"Pelajarilah Al-Quran dan
ajarkanlah kepada orang-orang. Dan pelajarilah
ilmu faraidh dan ajarkan kepada orang-orang.
Karena Aku hanya manusia yang akan meninggal.
Dan ilmu waris akan dicabut lalu fitnah menyebar,
sampai-sampai ada dua orang yang berseteru dalam
masalah warisan namun tidak menemukan orang
yang bisa menjawabnya". (HR. Ad-Daruquthuny dan
Al-Hakim)1
1.3. Sejajar Dengan Belajar Al-Quran

1
Al-Mustadrak ala Ash-Shahihaini lil-Hakim, jilid 18 halaman
328

19
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Selain Rasulullah SAW memerintahkan kita belajar


ilmu waris, khalifah Umar bin Al-Khattab
radhiyallahuanhu juga secara khusus memerintahkan
umat Islam mempelajari ilmu waris. Bahkan beliau
menyebutkan kita harus mempelajari ilmu waris
sebagaimana kita belajar Al-Quran Al-Kariem.

‫ض َك َم ا‬
َ ‫ َتَعَّل ُم وا الفَ َرِائ‬:ُ‫ان َيقُ ول‬
َ ‫ َأَّنهُ َك‬ ‫اب‬
ِ ‫اخلَّط‬
َ ‫َعْن ُع َم َر ْبِن‬
. ‫آن‬
َ ْ‫القر‬
ُ ‫َتَتَعَّلُمْوَن‬
Dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu beliau
berkata, "Pelajarilah ilmu faraidh sebagaimana
kalian mempelajari Al-Quran". 2
Perintah ini mengandung pesan bahwa belajar ilmu
waris ini sangat penting bagi umat Islam. Karena
disejajarkan dengan belajar Al-Quran.
1.4. Menghindari Perpecahan Keluarga
Seringkali di antara penyebab perpecahan keluarga
adalah masalah harta waris. Dari banyak kasus yang
terjadi, umumnya berhulu dari kurang pahamnya para
anggota keluarga atas aturan dan ketentuan dalam hukum
waris Islam.
Tidak dipelajarinya lagi ilmu waris oleh generasi
Islam ternyata punya dampak yang sangat besar. Salah
satunya adalah munculnya perpecahan keluarga.
Lantaran ketika orang tua wafat, anak-anak yang tidak
mengenal ilmu waris itu saling berebut harta disebabkan
karena parameter yang mereka gunakan saling berbeda.

20
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Sebagian anak ada yang ingin menerapkan hukum


waris versi adat. Yang lainnya mau versi barat.
Sebagiannya mau pakai hukum Islam.
Seandainya orang tua mereka telah mengjaari dan
mendidik mereka sejak kecil dengan ilmu waris Islam,
niscaya perpecahan keluarga tidak akan terjadi. Sebab
selayaknya anak-anak muslim yang tumbuh dengan
pendidikan Islam, mereka pun dibesarkan dengan ilmu-
ilmu agama yang mengajarkan bagaimana cara membagi
waris sesuai dengan ketentuan Allah SWT.
Dari berbagai kasus perpecahan keluarga tentang
masalah waris, umumnya yang menjadi penyebab utama
adalah awamnya para anggota keluarga dari ilmu hukum
waris Islam.
Jalan keluar untuk menghindari perpecahan keluarga
yang barangkali bukan terjadi hari ini adalah
mempersiapkan anak-anak kita, terutama generasi muda,
dengan bekal ilmu hukum waris. Sehingga sejak awal
merea sudah punya pedoman buat bekal ketika dewasa
nanti.
1.5. Ancaman Akhirat
Selain dua alasan di atas, memang Allah SWT telah
mewajibkan umat Islam untuk membagi warisan sesuai
dengan petunjuk dan ketetapan-Nya. Mereka yang secara
sengaja melanggar dan tidak mengindahkan ketentuan
Allah ini, maka Dia akan memasukkannya ke dalam api
neraka.
Tidak hanya itu, tetapi dengan tambahan bahwa
keberadaan mereka itu kekal abadi selamanya di dalam

21
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

neraka. Bahkan masih ditambahkan lagi dengan jenis


siksaan yang menghinakan.
Ketentuan seperti ini telah Allah cantumkan di dalam
Al-Quran Al-Kariem.
ِ ِ ِ ِ ‫َو َمن َي ْع‬
َ ‫ص اللّ هَ َو َر ُس ولَهُ َو َيَت َع َّد ُح ُد‬
ُ‫ودهُ يُ ْدخ ْل هُ نَ ًارا َخال ًدا ف َيها َولَ ه‬
ٌ ‫اب ُّم ِه‬
‫ني‬ ٌ ‫َع َذ‬
Dan siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya
dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya
Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia
kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang
menghinakan.(QS. An-Nisa' : 13-14)
Di ayat ini Allah SWT telah menyebutkan bahwa
membagi warisan adalah bagian dari hudud, yaitu
sebuah ketetapan yang bila dilanggar akan melahirkan
dosa besar. Bahkan di akhirat nanti akan diancam dengan
siksa api neraka. Tidak seperti pelaku dosa lainnya,
mereka yang tidak membagi warisan sebagaimana yang
telah ditetapkan Allah SWT tidak akan dikeluarkan lagi
dari dalamnya, karena mereka telah dipastikan akan
kekal selamanya di dalam neraka sambil terus menerus
disiksa dengan siksaan yang menghinakan.
Sungguh berat ancaman yang Allah SWT telah
tetapkan buat mereka yang tidak menjalankan hukum
warisan sebagaimana yang telah Allah tetapkan.
Cukuplah ayat ini menjadi peringatan buat mereka yang
masih saja mengabaikan perintah Allah sebagai ancaman.
Jangan sampai siksa itu tertimpa kepada kita semua.
Nauzu billahi min zalik.

22
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

2. Pensyariatan
Ketentuan dan kewajiban membagi waris dalam
syariah Islam ditetapkan berdasarkan kitabullah dan
sunnah Rasulullah SAW, serta ijma' para ulama.
2.1. Dalil Quran
Di dalam Al-Quran ada banyak ayat yang secara detail
menyebutkan tentang pembagian waris menurut hukum
Islam. Khusus di surat An-Nisa' saja ada tiga ayat, yaitu
ayat 11,12 dan 176. Selain itu juga ada di dalam surat Al-
Anfal ayat terakhir, yaitu ayat 75.
a. Ayat waris untuk anak

‫ُنثَينْي ِ فَ ِإن ُك َّن نِ َس اء‬


َ ‫ظ األ‬ِّ ‫وص ي ُك ُم اللّ هُ يِف أ َْوالَ ِد ُك ْم لِل َّذ َك ِر ِمثْ ل َح‬
ِ ‫ي‬
ُ
ُ
ِ
‫ف‬ُ ‫ِّص‬
ْ ‫ت َواح َدةً َفلَ َها الن‬ ْ َ‫َف ْو َق ا ْثنََتنْي ِ َفلَ ُه َّن ثُلُثَا َما َتَر َك َوإِن َكان‬
Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian
pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian
seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua
orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya
perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua
pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak
perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh
separuh harta. (QS. An-Nisa' : 11)
b. Ayat waris untuk orang tua
‫اح ٍد ِّمنهما الس د مِم‬ ِ ‫وألَبوي ِه لِ ُك ِّل و‬
ْ‫س َّا َت َر َك إِن َك ا َن لَ هُ َولَ ٌد فَ ِإن مَّل‬ ُ ُ ُّ َ ُ ْ َ ْ ََ َ
‫ث فَ ِإن َك ا َن لَ هُ إِ ْخ َوةٌ فَأل ُِّم ِه‬ ُ ُ‫الثل‬ُّ ‫يَ ُكن لَّهُ َولَ ٌد َو َو ِرثَ هُ أ ََب َواهُ فَأل ُِّم ِه‬
َ‫وص ي هِبَا أ َْو َديْ ٍن آبَ آ ُؤ ُك ْم َوأَبن ا ُؤ ُك ْم ال‬ ِ ‫الس ُدس ِمن بع ِد و ِص يَّ ٍة ي‬
ُ َ ْ َ ُ ُّ

23
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

‫يض ةً ِّم َن اللّ ِه إِ َّن اللّ هَ َك ا َن َعلِيما‬


َ ‫ب لَ ُك ْم َن ْفع اً فَ ِر‬
ُ ‫تَ ْد ُرو َن أَيُّ ُه ْم أَْق َر‬
‫يما‬ ِ
ً ‫َحك‬
Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-
masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan,
jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang
yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia
diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya
mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu
mempunyai beberapa saudara, maka ibunya
mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian
tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia
buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. (Tentang)
orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak
mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat
(banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan
dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa' : 11)
c. Ayat waris buat suami dan istri

‫اج ُك ْم إِن مَّلْ يَ ُكن هَّلُ َّن َولَ ٌد فَ ِإن َك ا َن هَلُ َّن‬ ِ
ُ ‫ف َما َت َر َك أ َْز َو‬
ُ ‫ص‬ ْ ‫ َولَ ُك ْم ن‬.
‫ني هِبَا أ َْو َديْ ٍن َوهَلُ َّن‬ ِ ٍ ِ ِ ِ ‫مِم‬
َ ‫الربُ ُع َّا َت َر ْك َن من َب ْع د َوص يَّة يُوص‬ ُّ ‫َولَ ٌد َفلَ ُك ُم‬
‫الربُ ُع مِم َّا َتَر ْكتُ ْم إِن مَّلْ يَ ُكن لَّ ُك ْم َولَ ٌد فَِإن َك ا َن لَ ُك ْم َولَ ٌد َفلَ ُه َّن الث ُُّم ُن‬
ُّ
‫وصو َن هِبَا أ َْو َديْ ٍن‬ ٍِ ِ ‫مِم‬
ُ ُ‫َّا َتَر ْكتُم ِّمن َب ْعد َوصيَّة ت‬
Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang
ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak
mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai
anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta
yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang

24
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya.


Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu
tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika
kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh
seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan
sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan)
sesudah dibayar utang-utangmu. (QS. An-Nisa' : 12)
d. Ayat waris Kalalah
Kalalah adalah seorang wafat tanpa meninggalkan
ayah dan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-
laki atau perempuan.

‫اح ٍد‬
ِ ‫َخ أَو أُخت فَلِ ُك ِّل و‬
َ ٌ ْ ْ ٌ ‫ث َكالَلَةً أَو ْام َرأَةٌ َولَهُ أ‬ ُ ‫ور‬ ِ
َ ُ‫َوإن َكا َن َر ُج ٌل ي‬
‫ث ِمن‬ ِ
ِ ُ‫الثل‬
ُّ ‫ك َف ُه ْم ُش َر َكاء يِف‬ َ ‫س فَِإن َك انُ َواْ أَ ْكَث َر ِمن ذَل‬ ُ ‫الس ُد‬
ُّ ‫ِّمْن ُه َما‬
ِ ِ ِ ‫هِب‬ ٍ ِ ِ
‫يم‬ َ ‫وص ى َآ أ َْو َديْ ٍن َغْي َر ُم‬
ٌ ‫ض ٍّآر َوص يَّةً ِّم َن اللّ ه َواللّ هُ َعل‬ َ ُ‫َب ْع د َوص يَّة ي‬
‫يم‬ِ
ٌ ‫َحل‬
Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun
perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak
meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang
saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara
perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing
dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi
jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang,
maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu,
sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau
sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi
mudarat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan
yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar

25
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha


Penyantun (QS. An-Nisa' : 12)
e. Ayat waris Kalalah
Kalalah lainnya adalah seorang meninggal dunia, dan
ia tidak mempunyai anak dan saudara perempuan.

‫س لَ هُ َولَ ٌد‬ َ َ‫ك قُ ِل اللّ هُ يُ ْفتِي ُك ْم يِف الْ َكالَلَ ِة إِ ِن ْام ُر ٌؤ َهل‬
َ ‫ك لَْي‬ َ َ‫يَ ْس َت ْفتُون‬
‫ف َما َتَر َك‬ ِ
ُ ‫ص‬ْ ‫ت َفلَ َها ن‬
ٌ ‫ُخ‬ْ ‫َولَهُ أ‬
Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah).
Katakanlah: "Allah memberi fatwa kepadamu
tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal
dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai
saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang
perempuan itu seperdua dari harta yang
ditinggalkannya. (QS. An-Nisa' : 176)

‫اب اللّ ِه إِ َّن اللّ هَ بِ ُك ِّل‬


ِ َ‫ض يِف كِت‬ ُ ‫َوأ ُْولُ واْ األ َْر َح ِام َب ْع‬
ٍ ‫ض ُه ْم أ َْوىَل بَِب ْع‬
‫يم‬ ِ ٍ
ٌ ‫َش ْيء َعل‬
Orang-orang yang mempunyai hubungan itu
sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya
(daripada yang kerabat) di dalam kitab Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu. (QS. Al-Anfal : 75)
2.2. Dalil Sunnah
Ada begitu banyak dalil sunnah nabi yang
menunjukkan pensyariatan hukum waris buat umat Islam.
Di antaranya adalah hadits-hadits berikut ini :

26
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

‫ض ِبَأْهِل َه ا َف َم ا‬
َ ‫الف َرِائ‬
َ ‫حقُ وا‬ ِ ‫ول‬
ِ ‫ َأْل‬ ‫اهلل‬ ٍ ‫َع ِن ْابِن َعَّب‬
ُ ‫ قَ َال قَ َال َر ُس‬ ‫اس‬
.‫ألْوَلى َرُجٍل َذَكر‬ََِ ‫َبقَِي َف‬
Dari Ibnu Abbas radiyallahuanhu bahwa Rasulullah
SAW bersabdam"Bagikanlah harta peninggalan
(warisan) kepada yang berhak, dan apa yang tersisa
menjadi hak laki-laki yang paling utama. " (HR
Bukhari)

َ‫الكاِفر‬ ِ ‫ول‬
َ ‫ َال َي ِرثُ ُاملسِْلُم‬ ‫اهلل‬ ُ ‫ قَ َال قَ َال َر ُس‬ ٍ‫َع ْن ُأسََامَة ْبِن َزْي د‬
‫سِلَم‬ْ ‫الكِافرُ ُامل‬
َ ‫َوَال‬
Dari Usamah bin zaid radhiyallahuanhu berkata
bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Seorang muslim
tidak mendapat warisan dari orang kafir dan orang
kafir tidak mendapat warisan dari seorang muslim.
(HR Jamaah kecuali An-Nasai)3

‫ث َأ ْه ُل‬
ُ َ‫ َال َيَت َوار‬ ‫ول اهلل‬
ُ ‫ قَ َال قَ َال َر ُس‬ ‫َع ْن َعْب ِد اهللِ ْبِن َع ْم رو‬
‫ِمَّلَتْيِن َشَّتى‬
Dari Abullah bin Amr radhiyallahuanhu berkata
bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Dua orang yang
berbeda agama tidak saling mewarisi.(HR. Ahmad
Abu Daud dan Ibnu Majah)

‫ج َّدَتْيِن مَِن‬ َّ ‫ قَ َال‬ ‫ت‬


َ ‫ َقض َى ِلْل‬ ‫أن َّالنِبَّي‬ ِ ‫ادَة ْبِن الص َِّام‬
َ ‫َع ْن ُعَب‬
‫س َبْيَنُهَما‬
ِ ‫السُد‬
ُّ ‫ث ِب‬
ِ َ‫ِالْمريا‬

3
Nailul Authar jilid 6 halaman 55

27
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Dari Ubadah bin As-Shamith radhiyallahuanhu


berkata bahwa Rasulullah SAW menetapkan buat dua
orang nenek yaitu 1/6 diantara mereka.(HR. Ahmad
Abu Daud dan Ibnu Majah)

ُ ‫ف َوِالْبَن ِة االِْبِن السُُّد‬


‫س‬ ُ ْ‫الْبَن ِة ِّالنص‬
ِ ‫ ِل‬ ‫ َقضَى َّالنِبُّي‬ ‫ود‬ ٍ ُ‫َع ِن اْبِن َمسْع‬
ِ‫ألْخت‬ ُ ‫َتْكِمَلًة ِلُّلثُلَثْيِن َوَما َبِقَي َفِل‬
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahuanhu berkata bahwa
Rasulullah SAW menetapkan bagi anak tunggal
perempuan setengah bagian, dan buat anak
perempuan dari anak laki seperenam bagian sebagai
penyempurnaan dari 2/3. Dan yang tersisa buat
saudara perempuan .(HR. Jamaah kecuali Muslim
dan Nasai)4
2.3. Dalil Ijma'
Para shahabat, tabiin dan para ulama yang mewarisi
nabi telah berijma' tentang pensyariatan hukum waris ini.

4
Nailul Authar jilid 6 halaman 58

28
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Bab Kedua
Pengertian Waris

1. Definisi

1.1. Bahasa
Al-miirats (‫ )الميراث‬dalam bahasa Arab adalah bentuk
mashdar (infinitif) dari kata (‫ث إِرْ ثًا َو ِمي َْراثًا‬
ُ ‫ث يَ ِر‬
َ ‫ ) َو ِر‬waritsa-
yaritsu-irtsan-miiraatsan. Maknanya menurut bahasa
ialah 'berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang
lain', atau dari suatu kaum kepada kaum lain.
Pengertian menurut bahasa ini tidaklah terbatas hanya
pada hal-hal yang berkaitan dengan harta, tetapi
mencakup harta benda dan non harta benda. Ayat-ayat

29
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Al-Qur'an banyak menegaskan hal ini, demikian pula


sabda Rasulullah saw.. Di antaranya Allah berfirman:

‫ود‬ َ ‫َو َو ِر‬


َ ‫ث ُسلَْي َما ُن َد ُاو‬
"Dan Sulaiman telah mewarisi Daud ..." (an-Naml:
16)
ِ
َ ‫َو ُكنَّا حَنْ ُن الْ َوا ِرث‬
‫ني‬
"... Dan Kami adalah yang mewarisinya." (al-
Qashash: 58)
Selain itu kita dapati dalam hadits Nabi saw.:

َ‫العُلَ َماءُ َْورََثةُ األَنْبِيَاء‬


'Ulama adalah ahli waris para nabi'.
1.2. Pengertian syariah
Sedangkan makna al-miirats menurut istilah yang
dikenal para ulama ialah : berpindahnya hak
kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli
warisnya yang masih hidup, baik yang ditinggalkan
itu berupa harta (uang), tanah, atau apa saja yang
berupa hak milik legal secara syar'i.

2. Waris, Hibah dan Wasiat


Ada tiga istilah yang berbeda namun memiliki
kesamaan dalam beberapa halnya, yaitu waris, hibah dan
wasiat. Ketiganya memiliki kemiripan sehingga kita
seringkali kesulitan saat membedakannya.

30
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Tetapi akan terasa lebih mudah kalau kita buatkan


tabel seperti berikut ini.
WARIS HIBAH WASIAT

Waktu Setelah wafat Sebelum wafat Setelah wafat

Penerima Ahli waris ahli waris & bukan ahli waris


bukan ahli waris
Nilai Sesuai faraidh Bebas Maksimal 1/3

Hukum wajib Sunnah Sunnah

2.1. Waktu
Dari segi wattu, harta waris tidak dibagi-bagi kepada
para ahli warisnya, juga tidak ditentukan berapa besar
masing-masing bagian, kecuali setelah pemiliknya
(muwarrits) meninggal dunia. Dengan kata lain,
pembagian waris dilakukan setelah pemilik harta itu
meninggal dunia. Maka yang membagi waris pastilah
bukan yang memiliki harta itu.
Sedangkan hibah dan washiyat, justru penetapannya
dilakukan saat pemiliknya masih hidup. Bedanya, kalau
hibah harta itu langsung diserahkan saat itu juga, tidak
menunggu sampai pemiliknya meninggal dulu.
Sedangkan washiyat ditentukan oleh pemilik harta pada
saat masih hidup namun perpindahan kepemilikannya
baru terjadi saat dia meninggal dunia.
2.2. Penerima
Yang berhak menerima waris hanyalah orang-orang
yang terdapat di dalam daftar ahli waris dan tidak terkena
hijab hirman. Tentunya juga yang statusnya tidak gugur.

31
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Sedangkan washiyat justru diharamkan bila diberikan


kepada ahli waris. Penerima washiyat harus seorang yang
bukan termasuk penerima harta waris. Karena ahli waris
sudah menerima harta lewat jalur pembagian waris, maka
haram baginya menerima lewat jalur washiat.
Sedangkan pemberian harta lewat hibah, boleh
diterima oleh ahli waris dan bukan ahli waris. Hibah itu
boleh diserahkan kepada siapa saja.
2.3. Nilai
Dari segi nilai, harta yang dibagi waris sudah ada
ketentuan besarannya, yaitu sebagaimana ditetapkan di
dalam ilmu faraidh.
Ada ashabul furudh yang sudah ditetapkan
besarannya, seperti 1/2, 1/3, 1/4, 1/6, 1/8 hingga 2/3. Ada
juga para ahli waris dengan status menerima ashabah,
yaitu menerima warisan berupa sisa harta dari yang telah
diambil oleh para ashabul furudh. Dan ada juga yang
menerima lewat jalur furudh dan ashabah sekaligus.
Sedangkan besaran nilai harta yang boleh diwasiatkan
maksimal hanya 1/3 dari nilai total harta peninggalan.
Walau pun itu merupakan pesan atau wasiat dari
almarhum sebagai pemilik harta, namun ada ketentuan
dari Allah SWT untuk membela kepentingan ahli waris,
sehingga berwasiat lebih dari 1/3 harta merupakan hal
yang diharamkan.
Bahkan apabila terlanjur diwasiatkan lebih dari 1/3,
maka kelebihannya itu harus dibatalkan.
2.4. Hukum

32
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Pembagian waris itu hukumnya wajib dilakuan


sepeninggal muwarrits, karena merupakan salah satu
kewajiban atas harta.
Sedangkan memberikan washiyat hukumnya hanya
sunnah. Demikian juga memberikan harta hibah
hukumnya sunnah.

3. Istilah-istilah dalam ilmu waris


Setiap cabang ilmu memiliki istilah-istilah yang khas,
dimana istilah itu seringkali tidak sama dengan istilah
yang umum. Berikut ini kami uraikan beberapa istilah
yang akan seringkali muncul dalam mata kuliah ini.
3.1. Tarikah
Tarikah, (‫ )تركة‬kadang dibaca tirkah, adalah segala
sesuatu yang ditinggalkan pewaris, baik berupa harta
(uang) atau lainnya. Jadi, pada prinsipnya segala sesuatu
yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dinyatakan
sebagai peninggalan.
Termasuk di dalamnya bersangkutan dengan utang
piutang, baik utang piutang itu berkaitan dengan pokok
hartanya (seperti harta yang berstatus gadai), atau utang
piutang yang berkaitan dengan kewajiban pribadi yang
mesti ditunaikan (misalnya pembayaran kredit atau
mahar yang belum diberikan kepada istrinya).
3.2. Fardh
Fardh (‫ )فرض‬adalah bagian harta yang didapat oleh
seorang ahli waris yang telah ditetapkan langsung oleh
nash Al-Quran, As-Sunnah atau ijma' ulama. Fardh itu
adalah bilangan pecahan berupa 1/2, 1/3. 1/4, 1/6, 1/8 dan

33
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

2/3. Harta yang dibagi waris itu adalah 1 lalu dipecah-


pecah sesuai bilangan fardh.
Misalnya seorang istri yang ditinggal mati suaminya
sudah dipastikan mendapat 1/8 bagian dari harta
suaminya, apabila suaminya punya keturunan. Atau
mendapat 1/4 bagian bila suaminya tidak punya
keturunan.
3.3. Ashhabul Furudh.
Ashabul furudh (‫ )أصحاب الفروض‬sesuai dengan
namanya, berarti adalah orang-orangnya, yaitu orang-
orang yang mendapat waris secara fardh. Mereka adalah
ahli waris yang punya bagian yang pasti dari warisan
yang diterimanya. Contoh ashabul furudh adalah suami,
istri, ibu, ayah dan lainnya.
Besar harta yang diterimanya sudah ditetapkan oleh
nash, tapi tergantung keadaannya. Sebagai contoh,
seorang istri yang ditinggal mati suaminya sudah
dipastikan besar harta yang akan diterimanya, yaitu 1/4
atau 1/8. Seandainya suaminya punya anak, maka istri
mendapat 1/8 dari harta suami. Tapi kalau suami tidak
punya anak, istri menapat 1/4 dari harta suami.
Begitu juga seorang suami yang ditinggal mati
istrinya, sudah dipastikan besar harta yang akan
diterimanya, yaitu 1/2 atau 1/4, tergantung keberadaan
anak dari istri. Seandainya istri punya anak, maka suami
mendapat 1/4 dari harta istri. Tapi kalau istri tidak punya
anak, suami mendapat 1/2 dari harta istri.
Tapi intinya, ashabul furudh adalah para ahli waris
yang sudah punya bagian pecahan tertentu dari harta
muwarristnya.

34
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

3.4. Ashabah
Istilah ashabaha (‫ )عصبة‬berposisi sebagai lawan fardh,
yaitu bagian harta yang diterima oleh ahli waris, yang
besarnya belum diketahui secara pasti. Karena harta itu
hanyalah sisa dari apa yang telah diambil sebelumnya
oleh ahli waris yang menjadi ashhabul-furudh.
Besarnya bisa nol persen hingga seratus persen.
Tergantung seberapa banyak harta yang diambil oleh ahli
waris ashhabul furudh. Kalau jumlah mereka banyak,
maka bagian untuk ashabah menjadi kecil, kalau jumlah
mereka sedikit, biasanya ashahabnya menjadi besar.
Misalnya, seorang anak laki-laki tunggal adalah ahli
waris ashabah dari ayahnya yang meninggal dunia.
Ibunya adalah ahli waris dari ashabul furudh, mendapat
1/8 dari harta suaminya. Sedangkan anak tersebut
mendapat waris sebagai ashabah, atau sisa dari apa yang
sudah diambil ibunya, yaitu 1 – 1/8 = 7/8.
3.5. Sahm
Sahm (‫ )سهم‬adalah istilah untuk menyebut bagian harta
yang diberikan kepada setiap ahli waris yang berasal dari
asal masalah. Atau disebut juga jumlah kepala mereka.
Misalnya,
3.6. Nasab
Nasab (‫ )نسب‬adalah hubungan seseorang secara darah,
baik hubungan ke atasnya seperti ayah kandung, kakek
kandung dan seterusnya. Hubugnan ke atas ini disebut
abuwwah. Bisa juga hubungan seseorang ke arah bawah
(keturunannya) seperti dengan anak kandungnya, atau

35
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

anak dari anaknya (cucu) dan seterusnya. Hubngan ini


disebut bunuwwah.
3.7. Al-Far'u
Istilah (‫ )الفرع‬bila kita temukan di dalam ilmu waris,
maksudnya adalah anak laki-laki atau anak perempuan
dari almarhum yang akan dibagi hartanya. Termasuk juga
anak dari anaknya (cucu) baik laki-laki maupun
perempuan. Bila disebut Al-far'ul-warists maksudnya
adalah anak laki-laki dan anak perempuan, atau ahli
waris anak-anak tersebut ke bawahnya.
3.8. Al-Ashl
Yang dimaksud dengan istilah al-ashl (‫ )األصل‬adalah
ayah kandung dan ibu kandung, juga termasuk ayah
kandung atau ibu kandung dari ayah kandung (kakek).
Dan kakek atau nenek yang merupakan ayah dan ibunya
ayah ini disebut juga al-jaddu ash-shahih.

36
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Bab Ketiga
Alokasi Harta

Bila ada seorang muslim meninggal dunia dan


meninggalkan sejumlah harta, tidak semua harta
peninggalannya langsung dibagi sebagai warisan. Ada
sejumlah pos pengeluaran yang harus ditunaikan terlebih
dahulu. Tentu saja bila pos-pos pengeluaran itu memang
ada. Setelah itu, barulah sisanya dibagi menurut hukum
waris.

1. Menetapkan Kepemilikan Harta


Meski pun bagian ini nyaris tidak kita temukan di
kitab-kitab fiqih klasik, namun pada kenyataannya,
terutama di negeri kita, justru bagian ini paling rumit dari

37
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

semua urusan pembagian warisan. Pertama yang harus


dilakukan adalah memilah dan memilih mana yang
merupakan harta almarhum dan mana yang harta milik
orang lain, tetapi tercampur di dalam harta almarhum.
Mengapa demikian?
Karena ketentuan dalam hukum waris Islam, harta
yang dibagi waris itu harus harta yang 100% dimiliki
oleh almarhum yang meninggal dunia. Padahal kenyataan
yang sering terjadi harta yang ada itu masih menjadi
milik bersama, baik antara suami istri atau pun dengan
pihak lain.
Ada beberapa contoh kasus yang sering terjadi dimana
di dalam harta seseorang masih tercampur hak milik
orang lain, diantaranya :
a. Usaha Bersama Suami Istri
Sepasang suami istri sejak menikah telah membangun
usaha bersama, katakanlah membuka toko. Keduanya
mengeluarkan harta benda dan tenaga untuk memajukan
usaha keluarga itu secara bersama-sama. Bisa dikatakan
harta yang mereka miliki itu menjadi harta berdua.
Ketika keduanya masih hidup, barangkali tidak timbul
persoalan, lantran kedua suami istri.
Tapi akan muncul masalah saat istri meninggal dunia.
Apalagi bila suami kawin lagi. Tentu di dalam harta
berupa usaha toko itu ada hak milik istri sebelumnya.
Suami tentu tidak bisa menguasai begitu saja peninggalan
itu.
Boleh jadi akan muncul masalah dengan anak-anak.
Mereka akan mengatakan bahwa ibu mereka punya hak

38
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

atas harta yang kini menjadi milik ayah dan ibu tiri
mereka.
Dalam hal ini, harus dirunut ke belakang tentang
status kepemilikan usaha keluarga itu. Berapakah besar
yang menjadi milik suami dan berapa yang menjadi
bagian istri, seharusnya ditetapkan terlebih dahulu.
Kalau istri sebagai pemilik atau pemegang saham,
maka berapa besar saham istri harus ditetapkan secara
jelas. Dan kalau istri berstatus sebagai pegawai, gajinya
harus ditetapkan secara jelas juga.
Maka hanya harta yang sudah benar-benar 100% milik
istri saja yang dibagi waris, sedangkan yang milik suami
tentu tidak dibagi waris, karena dia masih hidup.
b. Suami Memberi Hadiah Kepada Istri
Sebuah keluarga pecah gara-gara istri almarhum dan
anak-anaknya diteror oleh adik-adik almarhum sendiri.
Pasalnya, menurut adik-adik almarhum, mereka berhak
mendapat harta warisan berupa kolam pemancingan dari
peninggalan harta kakak mereka, lantaran sang kakak
tidak punya anak laki-laki. Dalam hal ini, kalau
almarhum tidak punya anak laki-laki, sisa warisan jatuh
kepada ashabah yang tidak lain adalah adik-adik
almarhum.
Tapi menurut istri almarhum yang kini sudah
menjanda, kolam pancing ikan yang diributkan itu pada
dasarnya bukan asset harta milik suaminya yang sudah
almarhum. Karena semasa hidupnya, almarhum telah
menghadiahkan kolam pancing itu kepada dirinya
sebagai hadiah ulang tahun.

39
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Hal itu terbukti dari surat tanah yang memang atas


nama istri. Maka harta itu tidak bisa dibagi waris, karena
statusnya bukan milik almarhum.
Maka seberapa benar pernyataan dari masing-masing
pihak, harus ditelusuri terlebih dahulu, baik dengan
menghadirkan saksi-saksi atau pun dengan surat-surat
bukti kepemilikan. Barulah setelah semua jelas, bagi
waris bisa dilakukan.
c. Pinjam atau Beli
Ini kisah nyata. Seorang adik pinjam uang kepada
kakaknya untuk naik haji. Dan sebagai jaminannya,
sepetak sawah digadaikan kepada sang kakak.
Sayangnya sampai sekian puluh tahun kemudian, uang
pinjaman ini tidak dikembalikan. Otomatis sawah sebagai
jaminan pun juga masih di tangan sang kakak.
Ketika kedua kakak beradik ini sudah meninggal, anak
dan cucu mereka bermaksud membagi harta warisan.
Muncul masalah tentang status sawah, karena para ahli
waris meributkan statusnya. Anak keturunan sang adik
mengatakan bahwa sawah itu milik orang tua mereka,
karena orang tua mereka tidak pernah menjual sawah itu
semasa hidupnya, kecuali hanya menjadikannya sebagai
jaminan hutang.
Sedangkan anak keturunan sang kakak mengatakan
bahwa sawah itu sudah menjadi hak orangtua mereka,
lantaran utang belum pernah dikembalikan.
Anak keturunan si adik akhirnya bersedia
mengembalikan hutang orangtua mereka, tetapi nilainya
hanya Rp. 30.000 saja, karena dulu pinjam uangnya
hanya senilai itu saja. Karuan saja keluarga sang kakak

40
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

meradang, karena apa artinya uang segitu di zaman


sekarang ini. Padahal di masa lalu, uang segitu senilai
dengan biaya pergi haji ke tanah suci. Mereka meminta
setidaknya uang itu dikembalikan seharga biaya ONH
sekarang, yaitu sekitar 30-an juta.
Dan masih banyak lagi kasus-kasus di tengah
masyarakat, yang intinya menuntut penyelesaian terlebih
dahulu dalam hal status kepemilikan harta almarhum.

2. Pengurusan Jenazah
Semua keperluan dan pembiayaan pemakaman
pewaris hendaknya menggunakan harta miliknya, dengan
catatan tidak boleh berlebihan. Keperluan-keperluan
pemakaman tersebut menyangkut segala sesuatu yang
dibutuhkan mayit, sejak wafatnya hingga
pemakamannya. Di antaranya, biaya memandikan,
pembelian kain kafan, biaya pemakaman, dan sebagainya
hingga mayit sampai di tempat peristirahatannya yang
terakhir.
Satu hal yang perlu untuk diketahui dalam hal ini ialah
bahwa segala keperluan tersebut akan berbeda-beda
tergantung perbedaan keadaan mayit, baik dari segi
kemampuannya maupun dari jenis kelaminnya.

3. Hutang
Hendaklah utang piutang yang masih ditanggung
pewaris ditunaikan terlebih dahulu. Artinya, seluruh harta
peninggalan pewaris tidak dibenarkan dibagikan kepada
ahli warisnya sebelum utang piutangnya ditunaikan
terlebih dahulu. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah
saw.:

41
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

"Jiwa (ruh) orang mukmin bergantung pada utangnya


hingga ditunaikan."
Maksud hadits ini adalah utang piutang yang
bersangkutan dengan sesama manusia. Adapun jika utang
tersebut berkaitan dengan Allah SWT, seperti belum
membayar zakat, atau belum menunaikan nadzar, atau
belum memenuhi kafarat (denda), maka di kalangan
ulama ada sedikit perbedaan pandangan.
Al-Hanafiyah
Kalangan ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa
ahli warisnya tidaklah diwajibkan untuk menunaikannya.
Sedangkan jumhur ulama berpendapat wajib bagi ahli
warisnya untuk menunaikannya sebelum harta warisan
(harta peninggalan) pewaris dibagikan kepada para ahli
warisnya.
Mereka beralasan bahwa menunaikan hal-hal tersebut
merupakan ibadah, sedangkan kewajiban ibadah gugur
jika seseorang telah meninggal dunia. Padahal, menurut
mereka, pengamalan suatu ibadah harus disertai dengan
niat dan keikhlasan, dan hal itu tidak mungkin dapat
dilakukan oleh orang yang sudah meninggal. Akan tetapi,
meskipun kewajiban tersebut dinyatakan telah gugur bagi
orang yang sudah meninggal, ia tetap akan dikenakan
sanksi kelak pada hari kiamat sebab ia tidak menunaikan
kewajiban ketika masih hidup. Hal ini tentu saja
merupakan keputusan Allah SWT. Pendapat mazhab ini
tentunya bila sebelumnya mayit tidak berwasiat kepada
ahli waris untuk membayarnya. Namun, bila sang mayit
berwasiat, maka wajib bagi ahli waris untuk
menunaikannya.
Jumhur Ulama

42
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Jumhur ulama yang menyatakan bahwa ahli waris


wajib untuk menunaikan utang pewaris terhadap Allah
beralasan bahwa hal tersebut sama saja seperti utang
kepada sesama manusia. Menurut jumhur ulama, hal ini
merupakan amalan yang tidak memerlukan niat karena
bukan termasuk ibadah mahdhah, tetapi termasuk hak
yang menyangkut harta peninggalan pewaris. Karena itu
wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya, baik pewaris
mewasiatkan ataupun tidak.
Asy-syafi'iyah
Menurut pandangan ulama mazhab Syafi'i hal tersebut
wajib ditunaikan sebelum memenuhi hak yang berkaitan
dengan hak sesama hamba.
Al-Malikiyah
Mazhab Maliki berpendapat bahwa hak yang
berhubungan dengan Allah wajib ditunaikan oleh ahli
warisnya sama seperti mereka diwajibkan menunaikan
utang piutang pewaris yang berkaitan dengan hak sesama
hamba. Hanya saja mazhab ini lebih mengutamakan agar
mendahulukan utang yang berkaitan dengan sesama
hamba daripada utang kepada Allah.
Al-Hanabilah
Ulama mazhab Hambali menyamakan antara utang
kepada sesama hamba dengan utang kepada Allah.
Keduanya wajib ditunaikan secara bersamaan sebelum
seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada
setiap ahli waris.

43
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

4. Washiyat
Wajib menunaikan seluruh wasiat pewaris selama
tidak melebihi jumlah sepertiga dari seluruh harta
peninggalannya. Hal ini jika memang wasiat tersebut
diperuntukkan bagi orang yang bukan ahli waris, serta
tidak ada protes dari salah satu atau bahkan seluruh ahli
warisnya. Adapun penunaian wasiat pewaris dilakukan
setelah sebagian harta tersebut diambil untuk membiayai
keperluan pemakamannya, termasuk diambil untuk
membayar utangnya.
Bila ternyata wasiat pewaris melebihi sepertiga dari
jumlah harta yang ditinggalkannya, maka wasiatnya tidak
wajib ditunaikan kecuali dengan kesepakatan semua ahli
warisnya. Hal ini berlandaskan sabda Rasulullah saw.
ketika menjawab pertanyaan Sa'ad bin Abi Waqash r.a.
--pada waktu itu Sa'ad sakit dan berniat menyerahkan
seluruh harta yang dimilikinya ke baitulmal. Rasulullah
saw. bersabda: "... Sepertiga, dan sepertiga itu banyak.
Sesungguhnya bila engkau meninggalkan para ahli
warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada
meninggalkan mereka dalam kemiskinan hingga
meminta-minta kepada orang."
Setelah itu barulah seluruh harta peninggalan pewaris
dibagikan kepada para ahli warisnya sesuai ketetapan Al-
Qur'an, As-Sunnah, dan kesepakatan para ulama (ijma').
Dalam hal ini dimulai dengan memberikan warisan
kepada :
 ashhabul furudh (ahli waris yang telah ditentukan
jumlah bagiannya, misalnya ibu, ayah, istri, suami,
dan lainnya),

44
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

 kemudian kepada para 'ashabah (kerabat mayit yang


berhak menerima sisa harta waris --jika ada-- setelah
ashhabul furudh menerima bagian).

Pada ayat waris, wasiat memang lebih dahulu


disebutkan daripada soal utang piutang. Padahal secara
syar'i, persoalan utang piutang hendaklah terlebih dahulu
diselesaikan, baru kemudian melaksanakan wasiat. Oleh
karena itu, didahulukannya penyebutan wasiat tentu
mengandung hikmah, diantaranya agar ahli waris
menjaga dan benar-benar melaksanakannya. Sebab
wasiat tidak ada yang menuntut hingga kadang-kadang
seseorang enggan menunaikannya. Hal ini tentu saja
berbeda dengan utang piutang. Itulah sebabnya wasiat
lebih didahulukan penyebutannya dalam susunan ayat
tersebut.

45
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Bab Keempat
Rukun, Syarat dan Sebab Warisan

1. Rukun Waris
Untuk terjadinya sebuah pewarisan harta, maka harus
terpenuhi tiga rukun waris. Bila salah satu dari tiga rukun
ini tidak terpenuhi, maka tidak terjadi pewarisan.
Ketiga rukun itu adalah al-muwarrits, al-waarist dan
al-mauruts. Lebih rincinya :
1.1. Al-Muwarits
Al-Muwarrits (‫ )ال ُم َورِّث‬sering diterjemahkan sebagai
pewaris, yaitu orang yang memberikan harta warisan.
Dalam ilmu waris, al-muwarrits adalah orang yang

47
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

meninggal dunia, lalu hartanya dibagi-bagi kepada para


ahli waris.
Harta yang dibagi waris haruslah milik seseorang,
bukan milik instansi atau negara. Sebab instansi atau
negara bukanlah termasuk pewaris.
1.2. Al-Warits
Al-Warits (‫ارث‬ِ ‫ )ال َو‬sering diterjemahkan sebagai ahli
waris, yaitu mereka yang berhak untuk menerima harta
peninggalan, karena adanya ikatan kekerabatan (nasab)
atau ikatan pernikahan, atau lainnya.
1.3. Harta Warisan
Harta warits (‫ )ال َموْ رُوث‬adalah benda atau hak
kepemilikan yang ditinggalkan, baik berupa uang, tanah,
dan sebagainya. Sedangkan harta yang bukan milik
pewaris, tentu saja tidak boleh diwariskan.
Misalnya, harta bersama milik suami istri. Bila suami
meninggal, maka harta itu harus dibagi dua terlebih
dahulu untuk memisahkan mana yang milik suami dan
mana yang milik istri. Barulah harta yang milik suami itu
dibagi waris. Sedangkan harta yang milik istri, tidak
dibagi waris karena bukan termasuk harta warisan.

2. Syarat Waris
Selain rukun, juga ada syarat-syarat yang harus
terpenuhi untuk sebuah pewarisan. Bilamana salah satu
dari syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, maka tidak
terjadi pewarisan. Syarat pewarisan ada tiga:
2.1. Meninggalnya Muwarrits

48
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Ada dua macam meninggal yang dikenal oleh para


ulama ahli fiqih, yaitu meninggal secara hakiki dan
meninggal secara hukum.
a. Meninggal secara hakiki
Meninggal secara hakiki adalah ketika ahli medis
menyatakan bahwa seseorang sudah tidak lagi bernyawa,
dimana unsur kehidupan telah lepas dari jasad seseorang.
b. Meninggal secara hukum
Meninggal secara hukum adalah seseorang yang oleh
hakim ditetapkan telah meninggal dunia, meski jasadnya
tidak ditemukan.
Misalnya, seorang yang hilang di dalam medan
perang, atau hilang saat bencana alam, lalu secara hukum
formal dinyatakan kecil kemungkinannya masih hidup
dan kemudian ditetapkan bahwa yang bersangkutan telah
telah meninggal dunia.
Bagi Waris Sebelum Meninggal
Ada fenomena lucu yang terjadi di tengah masyarakat,
yaitu membagi-bagi harta waris sebelum muwarritsnya
meninggal dunia. Malah, justru si muwarrits itulah yang
membagi-bagi.
Padahal dalam hukum waris Islam, tidak terjadi ahli
waris mendapat harta warisan, manakala seorang
muwarrits belum lagi meninggal dunia.
Seorang tidak mungkin membagi-bagi warisan dari
harta yang dimilikinya sendiri kepada anak-anaknya,
pada saat dia masih hidup segar bugar.
Sebab syarat utama dari masalah warisan adalah
bahwa pemilik harta itu, yaitu al-muwarrist, sudah

49
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

meninggal dunia terlebih dahulu. Jadi memang tidak


mungkin seseorang membagi-bagikan sendiri harta
warisan miliknya kepada keturunannya.
Bila hal tersebut dilakukannya, maka sebenarnya yang
terjadi adalah hibah (pemberian), bukan warisan. Dan
hibah itu sendiri memang tidak ada aturan mainnya. Dan
siapapun pada hakikatnya boleh menghibahkan harta
miliknya kepada siapa saja dengan nilai berapa saja.
Tapi konsekuensinya, harta yang sudah dihibahkan itu
sudah pindah kepemilikan. Bila seseorang telah
menghibahkan harta kepada anaknya, maka pada
hakikatnya dia sudah bukan lagi pemiliknya, sebab harta
itu sudah menjadi milik anaknya sepenuhnya. Bahkan
bila kepemilikan itu ditetapkan dengan surat resmi, si
anak berhak melalukan perubahan surat kepemilikannya.
Misalnya seorang ayah menghibahkan sebidang tanah
berikut rumah kepada anaknya, maka si anak berhak
untuk mengubah surat kepemilikan tanah dan rumah itu
begitu dia menerimanya. Dan konsekuensi lainnya,
berhubung si anak telah menjadi pemilik sepenuhnya
tanah dan rumah itu, dia pun berhak untuk menjualnya
kepada pihak lain. Meski si ayah masih hidup.
Sedangkan bila si ayah masih ingin memiliki sebidang
tanah dan rumah itu selama hidupnya, tapi berpikir untuk
memberikannya dengan jumlah yang dikehendakinya
kepada anaknya setelah kematiannya, maka hal itu
namanya washiyat.
Dalam hukum Islam, seorang ahli waris seperti anak
tidak boleh menerima washiat berupa harta dari ayahnya
(pewaris), sebab Rasulullah SAw bersabda bahwa tidak

50
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

ada washiyat bukan ahli waris. Maka bila hal itu


dilakukan juga, hukumnya haram.
Jadi yang dibenarkan hanya dua kemungkinan, yaitu
harta diberikan ketika ayah masih hidup dan namanya
hibah. Atau diberikan setelah dia meninggal dan
namanya warisan. Dan ketika dibagi secara warisan,
aturan pembagiannya telah baku sesuai dengan nash Al-
Quran dan As-Sunnah. Maskudnya, si ayah yang dalam
hal ini sebagai pemilik harta, tidak lagi berhak membagi-
bagi sendiri harta warisan untuk para ahli warisnya.
Semua harus diserahkan kepada hukum warisan, setelah
dia meninggal dunia.
2.2. Hidupnya Ahli Waris
Hidup yang dimaksud adalah hidup secara hakiki pada
waktu pewaris meninggal dunia.
Ini adalah syarat yang kedua, yaitu orang yang akan
menerima warisan haruslah masih hidup secara hakiki
ketika pewaris meninggal dunia.
Seorang anak yang telah meninggal lebih dulu dari
ayahnya, tidak akan mendapatkan warisan. Meski anak
itu telah punya istri dan anak. Istri dan anak itu tidak
mendapatkan warisan dari mertua atau kakek mereka.
Sebab suami atau ayah mereka meninggal lebih dulu dari
kakek.
Jalan keluar dari masalah ini ada tiga kemungkinan.
Pertama, dengan washiyah wajibah, yaitu si kakek
berwashiyat semenjak masih hidup agar cucu dan
menantunya diberikan bagian harta. Bukan dengan jalan
warisan melainkan dengan cara washiat.

51
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Kedua, bisa juga dengan cara kesepakatan di antara


para ahli waris untuk mengumpulkan harta dan diberikan
kepada saudara ipar atau kemenakan mereka.
Ketiga, dengan cara hibah, yaitu si kakek sejak masih
hidup telah menghibahkan sebagian hartanya kepada
cucunya atau menantunya, sebab dikhawatirkan nanti
pada saat membagi warisan, cucu dan menantunya akan
tidak mendapat apa-apa.
Dan jika ada dua orang atau lebih dari golongan yang
berhak saling mewarisi meninggal dalam satu peristiwa
--atau dalam keadaan yang berlainan tetapi tidak
diketahui mana yang lebih dahulu meninggal-- maka di
antara mereka tidak dapat saling mewarisi harta yang
mereka miliki ketika masih hidup.
Hal seperti ini oleh kalangan fuqaha digambarkan
seperti orang yang sama-sama meninggal dalam suatu
kecelakaan kendaraan, tertimpa puing, atau tenggelam.
Para fuqaha menyatakan, mereka adalah golongan orang
yang tidak dapat saling mewarisi.
2.3. Ahli Waris Diketahui
Seluruh ahli waris diketahui secara pasti, termasuk
jumlah bagian masing-masing, misalnya suami, istri,
kerabat, dan sebagainya, sehingga pembagi mengetahui
dengan pasti jumlah bagian yang harus diberikan kepada
masing-masing ahli waris. Sebab, dalam hukum waris
perbedaan jauh-dekatnya kekerabatan akan membedakan
jumlah yang diterima.
Misalnya, kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa
seseorang adalah saudara sang pewaris. Akan tetapi harus
dinyatakan apakah ia sebagai saudara kandung, saudara

52
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

seayah, atau saudara seibu. Mereka masing-masing


mempunyai hukum bagian, ada yang berhak menerima
warisan karena sebagai ahlul furudh, ada yang karena
'ashabah, ada yang terhalang hingga tidak mendapatkan
warisan (mahjub), serta ada yang tidak terhalang.

3. Sebab-sebab Adanya Hak Waris


Ada tiga sebab yang menjadikan seseorang
mendapatkan hak waris:
3.1. Kerabat hakiki
Yaitu hubungan yang ada ikatan nasab, seperti ayah,
ibu, anak, saudara, paman, dan seterusnya.
Seorang anak yang tidak pernah tinggal dengan
ayahnya seumur hidup tetap berhak atas warisan dari
ayahnya bila sang ayah meninggal dunia.
Demikian juga dengan kasus dimana seorang kakek
yang telah punya anak yang semuanya sudah berkeluarga
semua, lalu menjelang ajal, si kakek menikah lagi dengan
seorang wanita dan mendapatkan anak, maka anak
tersebut berhak mendapat warisan sama besar dengan
anak-anak si kakek lainnya.
3.2. Pernikahan
Yaitu terjadinya akad nikah secara legal (syar'i) antara
seorang laki-laki dan perempuan, sekalipun belum atau
tidak terjadi hubungan intim (bersanggama) antar
keduanya.
Tapi berbeda dengan urusan mahram, yang berhak
mewarisi disini hanyalah suami atau istri saja, sedangkan
mertua, menantu, ipar dan hubungan lain akibat adanya

53
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

pernikahan, tidak menjadi penyebab adanya pewarisan,


meski mertua dan menantu tinggal serumah. Maka
seorang menantu tidak mendapat warisan apa-apa bila
mertuanya meninggal dunia.
Demikian juga sebaliknya, kakak ipar yang meninggal
dunia tidak memberikan wairsan kepada adik iparnya,
meski mereka tinggap serumah. Adapun pernikahan yang
batil atau rusak, tidak bisa menjadi sebab untuk
mendapatkan hak waris. Misalnya pernikahan tanpa wali
dan saksi, maka pernikahan itu batil dan tidak bisa saling
mewarisi antara suami dan istri.
3.3. Al-Wala
Yaitu kekerabatan karena sebab hukum. Disebut juga
wala al-'itqi dan wala an-ni'mah. Yang menjadi penyebab
adalah kenikmatan pembebasan budak yang dilakukan
seseorang. Maka dalam hal ini orang yang
membebaskannya mendapat kenikmatan berupa
kekerabatan (ikatan) yang dinamakan wala al-'itqi.
Orang yang membebaskan budak berarti telah
mengembalikan kebebasan dan jati diri seseorang sebagai
manusia. Karena itu Allah SWT menganugerahkan
kepadanya hak mewarisi terhadap budak yang
dibebaskan, bila budak itu tidak memiliki ahli waris yang
hakiki, baik adanya kekerabatan (nasab) ataupun karena
adanya tali pernikahan.
Namun di zaman sekarang ini, seiring dengan sudah
tidak berlaku lagi sistem perbudakan di tengah peradaban
manusia, sebab yang terakhir ini nyaris tidak lagi terjadi.

54
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Bab Kelima
Gugurnya Warisan

Bersama dengan kajian tentang siapa saja yang berhak


mendapat warisan, ada juga hal-hal yang membuat
seseorang yang seharusnya mendapat warisan, namun
karena satu dan lain hal, haknya menjadi gugur. Sehingga
orang tersebut tidak jadi menerima warisan.

1. Hal-hal Yang Menggugurkan Warisan


Hal-hal yang bisa menggugur hak waris seseorang ada
tiga:
1.1. Pembunuhan

55
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Apabila seorang ahli waris membunuh pewaris


(misalnya seorang anak membunuh ayahnya), maka
gugurlah haknya untuk mendapatkan warisan dari
ayahnya. Si Anak tidak lagi berhak mendapatkan warisan
akibat perbuatannya. Hal ini berdasarkan sabda
Rasulullah saw.:
"Tidaklah seorang pembunuh berhak mewarisi harta
orang yang dibunuhnya. "
Dari pemahaman hadits Nabi tersebut lahirlah
ungkapan yang sangat masyhur di kalangan fuqaha yang
sekaligus dijadikan sebagai kaidah:

‫من تعجل بشيء عوقب حبرمانه‬


Siapa yang menyegerakan agar mendapatkan sesuatu
sebelum waktunya, maka dia tidak mendapatkan
bagiannya.  
Ada perbedaan di kalangan fuqaha tentang penentuan
jenis pembunuhan.
 Mazhab Hanafi menentukan bahwa pembunuhan
yang dapat menggugurkan hak waris adalah semua
jenis pembunuhan yang wajib membayar kafarat.
 Mazhab Maliki berpendapat bahwa hanya
pembunuhan yang disengaja atau yang direncanakan
yang dapat menggugurkan hak waris.
 Mazhab Syafi'i mengatakan bahwa pembunuhan
dengan segala cara dan macamnya tetap menjadi
penggugur hak waris, sekalipun hanya memberikan
kesaksian palsu dalam pelaksanaan hukuman rajam,
atau bahkan hanya membenarkan kesaksian para
saksi lain dalam pelaksanaan qishash atau hukuman
mati pada umumnya.

56
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

 Mazhab Hambali berpendapat bahwa pembunuhan


yang dinyatakan sebagai penggugur hak waris adalah
setiap jenis pembunuhan yang mengharuskan
pelakunya diqishash, membayar diyat, atau
membayar kafarat. Selain itu tidak tergolong sebagai
penggugur hak waris.

1.2. Perbedaan Agama


Seorang muslim tidak dapat mewarisi ataupun
diwarisi oleh orang non muslim, apa pun agamanya.
Maka seorang anak tunggal dan menjadi satu-satunya
ahli waris dari ayahnya, akan gugur haknya dengan
sendiri bila dia tidak beragama Islam.
Dan siapapun yang seharusnya termasuk ahli waris,
tetapi kebetulan dia tidak beragama Islam, tidak berhak
mendapatkan harta warisan dari pewaris yang muslim.
Hal ini telah ditegaskan Rasulullah saw. dalam sabdanya:

" ‫ث امل ْسلِ ُم ال َكافَِر َوالَ ال َكافُِر امل ْسلِ َم‬


ُ ‫الً يَِر‬
ُ ُ
Tidaklah berhak seorang muslim mewarisi orang
kafir, dan tidak pula orang kafir mewarisi muslim."
(Bukhari dan Muslim)
Jumhur ulama berpendapat demikian, termasuk
keempat imam mujtahid, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam
Malik, Imam Asy-syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal.
Namun sebagian ulama yang mengaku bersandar pada
pendapat Mu'adz bin Jabal r.a. yang mengatakan bahwa
seorang muslim boleh mewarisi orang kafir, tetapi tidak
boleh mewariskan kepada orang kafir. Alasan mereka
adalah bahwa Al-islam ya'lu walaayu'la 'alaihi (unggul,
tidak ada yang mengunggulinya).

57
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Sebagian ulama ada yang menambahkan satu hal lagi


sebagai penggugur hak mewarisi, yakni murtad. Orang
yang telah keluar dari Islam dinyatakan sebagai orang
murtad. Dalam hal ini ulama membuat kesepakatan
bahwa murtad termasuk dalam kategori perbedaan
agama, karenanya orang murtad tidak dapat mewarisi
orang Islam.
Sementara itu, di kalangan ulama terjadi perbedaan
pandangan mengenai kerabat orang yang murtad, apakah
dapat mewarisinya ataukah tidak. Maksudnya, bolehkah
seorang muslim mewarisi harta kerabatnya yang telah
murtad?
Menurut mazhab Maliki, Syafi'i, dan Hambali (jumhur
ulama) bahwa seorang muslim tidak berhak mewarisi
harta kerabatnya yang telah murtad. Sebab, menurut
mereka, orang yang murtad berarti telah keluar dari
ajaran Islam sehingga secara otomatis orang tersebut
telah menjadi kafir. Karena itu, seperti ditegaskan
Rasulullah saw. dalam haditsnya, bahwa antara muslim
dan kafir tidaklah dapat saling mewarisi.
Sedangkan menurut mazhab Hanafi, seorang muslim
dapat saja mewarisi harta kerabatnya yang murtad.
Bahkan kalangan ulama mazhab Hanafi sepakat
mengatakan: "Seluruh harta peninggalan orang murtad
diwariskan kepada kerabatnya yang muslim." Pendapat
ini diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abi
Thalib, Ibnu Mas'ud, dan lainnya.
Nampaknya pendapat ulama mazhab Hanafi lebih
rajih (kuat dan tepat) dibanding yang lainnya, karena
harta warisan yang tidak memiliki ahli waris itu harus
diserahkan kepada baitulmal. Padahal pada masa

58
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

sekarang tidak kita temui baitulmal yang dikelola secara


rapi, baik yang bertaraf nasional ataupun internasional.
1.3. Budak
Seseorang yang berstatus sebagai budak tidak
mempunyai hak untuk mewarisi sekalipun dari
saudaranya. Sebab segala sesuatu yang dimiliki budak,
secara langsung menjadi milik tuannya. Baik budak itu
sebagai qinnun (budak murni), mudabbar (budak yang
telah dinyatakan merdeka jika tuannya meninggal), atau
mukatab (budak yang telah menjalankan perjanjian
pembebasan dengan tuannya, dengan persyaratan yang
disepakati kedua belah pihak).
Alhasil, semua jenis budak merupakan penggugur hak
untuk mewarisi dan hak untuk diwarisi disebabkan
mereka tidak mempunyai hak milik.

2. Perbedaan Mahrum dan Mahjub


Ada perbedaan yang sangat halus antara pengertian al-
mahrum dan al-mahjub, yang terkadang membingungkan
sebagian orang yang sedang mempelajari faraid. Karena
itu, ada baiknya juga dijelaskan perbedaan makna antara
kedua istilah tersebut.
Seseorang yang tergolong ke dalam salah satu sebab
dari ketiga hal yang dapat menggugurkan hak warisnya,
seperti membunuh atau berbeda agama, di kalangan
fuqaha dikenal dengan istilah mahrum. Sedangkan
mahjub adalah hilangnya hak waris seorang ahli waris
disebabkan adanya ahli waris yang lebih dekat
kekerabatannya atau lebih kuat kedudukannya.

59
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Sebagai contoh, adanya kakek bersamaan dengan


adanya ayah, atau saudara seayah dengan adanya saudara
kandung. Jika terjadi hal demikian, maka kakek tidak
mendapatkan bagian warisannya dikarenakan adanya ahli
waris yang lebih dekat kekerabatannya dengan pewaris,
yaitu ayah.
Begitu juga halnya dengan saudara seayah, ia tidak
memperoleh bagian disebabkan adanya saudara kandung
pewaris. Maka kakek dan saudara seayah dalam hal ini
disebut dengan istilah mahjub.
Untuk lebih memperjelas gambaran tersebut, saya
sertakan contoh kasus dari keduanya.
Contoh Pertama
Seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan
seorang istri, saudara kandung, dan anak --dalam hal ini,
anak kita misalkan sebagai pembunuh. Maka
pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat bagian
seperempat harta yang ada, karena pewaris dianggap
tidak memiliki anak. Kemudian sisanya, yaitu tiga per
empat harta yang ada, menjadi hak saudara kandung
sebagai 'ashabah
Dalam hal ini anak tidak mendapatkan bagian
disebabkan ia sebagai ahli waris yang mahrum. Kalau
saja anak itu tidak membunuh pewaris, maka bagian istri
seperdelapan, sedangkan saudara kandung tidak
mendapatkan bagian disebabkan sebagai ahli waris yang
mahjub dengan adanya anak pewaris. Jadi, sisa harta
yang ada, yaitu 7/8, menjadi hak sang anak sebagai
'ashabah.
Contoh Kedua

60
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan ayah,


ibu, serta saudara kandung. Maka saudara kandung tidak
mendapatkan warisan dikarenakan ter-mahjub oleh
adanya ahli waris yang lebih dekat dan kuat
dibandingkan mereka, yaitu ayah pewaris.

61
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Bab Keenam
Penghalang Warisan (Al-Hujub)

1. Definisi
Al-hujub dalam bahasa Arab bermakna 'penghalang'.
Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman:

‫َكلَّا إِن َُّه ْم َعن َّرهِّبِ ْم َي ْو َمئِ ٍذ لَّ َم ْح ُجوبُو َن‬


Sekali-kali tidak sesungguhnya mereka pada hari itu
benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka"
(QS. Al-Muthaffifin : 15)

63
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Yang dimaksud oleh ayat ini adalah kaum kuffar yang


benar-benar akan terhalang, tidak dapat melihat Tuhan
mereka di hari kiamat nanti.
Selain itu, dalam bahasa Arab juga kita kenal kata
hajib yang bermakna 'tukang atau penjaga pintu',
disebabkan ia menghalangi orang untuk memasuki
tempat tertentu tanpa izin guna menemui para penguasa
atau pemimpin.
Jadi, bentuk isim fa'il (subjek) untuk kata hajaba
adalah hajib dan bentuk isim maf'ul (objek) ialah mahjub.
Maka makna al-hajib menurut istilah ialah orang yang
menghalangi orang lain untuk mendapatkan warisan, dan
al-mahjub berarti orang yang terhalang mendapatkan
warisan.
Adapun pengertian al-hujub menurut kalangan ulama
faraid adalah menggugurkan hak ahli waris untuk
menerima waris, baik secara keseluruhannya atau
sebagian saja disebabkan adanya orang yang lebih berhak
untuk menerimanya.

2. Macam-macam al-Hujub
Al-hujub terbagi dua, yakni al-hujub bil washfi
(sifat/julukan), dan al-hujub bi asy-syakhshi (karena
orang lain).
Al-hujub bil washfi berarti orang yang terkena hujub
tersebut terhalang dari mendapatkan hak waris secara
keseluruhan, misalnya orang yang membunuh
pewarisnya atau murtad. Hak waris mereka menjadi
gugur atau terhalang.

64
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Sedangkan al-hujub bi asy-syakhshi yaitu gugurnya


hak waris seseorang dikarenakan adanya orang lain yang
lebih berhak untuk menerimanya. Al-hujub bi asy-
syakhshi terbagi dua: hujub hirman dan hujub nuQShan.
Hujub hirman yaitu penghalang yang menggugurkan
seluruh hak waris seseorang.
Misalnya, terhalangnya hak waris seorang kakek
karena adanya ayah, terhalangnya hak waris cucu karena
adanya anak, terhalangnya hak waris saudara seayah
karena adanya saudara kandung, terhalangnya hak waris
seorang nenek karena adanya ibu, dan seterusnya.
Adapun hujub nuqshan (pengurangan hak) yaitu
penghalangan terhadap hak waris seseorang untuk
mendapatkan bagian yang terbanyak. Misalnya,
penghalangan terhadap hak waris ibu yang seharusnya
mendapatkan sepertiga menjadi seperenam disebabkan
pewaris mempunyai keturunan (anak).
Demikian juga seperti penghalangan bagian seorang
suami yang seharusnya mendapatkan setengah menjadi
seperempat, sang istri dari seperempat menjadi
seperdelapan karena pewaris mempunyai anak, dan
seterusnya.
Satu hal yang perlu diketahui di sini, dalam dunia
faraid apabila kata al-hujub disebutkan tanpa diikuti kata
lainnya, maka yang dimaksud adalah hujub hirman. Ini
merupakan hal mutlak dan tidak akan dipakai dalam
pengertian hujub nuQShan.

3. Ahli Waris yang Tidak Terkena Hujub Hirman


Ada sederetan ahli waris yang tidak mungkin terkena
hujub hirman. Mereka terdiri dan enam orang yang akan

65
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

tetap mendapatkan hak waris. Keenam orang tersebut


adalah :
1. Anak kandung laki-laki
2. Anak kandung perempuan
3. Ayah
4. Ibu
5. Suami
6. Istri

Bila orang yang mati meninggalkan salah satu atau


bahkan keenamnya, maka mereka ini pasti mendapat
warisan. Sebab tidak ada penghalang antara mereka
dengan almarhum yang wafat.

4. Ahli Waris yang Dapat Terkena Hujub Hirman


Ada 16 orang yang dapat terkena hujub hirman ada
enam belas, sebelas terdiri dari laki-laki dan lima dari
wanita. Mereka ini mungkin mendapat warisan tapi
mungkin juga terhalang sehingga tidak mendapatkan
warisan.

66
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Bab Ketujuh
Para Ahli Waris

Salah satu kendala terbesar dalam mengerti dan


menghafal siapa saja ahli waris adalah tidak adanya
diagram atau struktur keluarga (family chart).
Apalagi ditambah dengan penyebutan yang relatif
antara satu ahli waris dengan yang lainnya. Seorang ahli
waris bisa saja dia menjadi 'ayah' bagi ahli waris lainnya.
Tapi dalam waktu yang sama, dia adalah 'anak' dari
seseorang. Bahkan dia juga seorang 'kakek', atau 'paman',
'saudara', 'keponakan', 'cucu' bagi seseorang. Dan
begitulah seterusnya.

67
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Relatifitas ini akan menyulitkan kita dalam memahami


duduk masalah. Maka dengan bantuan diagram struktur
keluarga ini, kita akan dimudahkan.
Selain itu istilah-istilah yang kita gunakan dalam
bahasa Indonesia sering tidak baku. Katakanlah sebagai
contoh, akh li ab wa li um (‫)أخ شقيق‬, sering kita
terjemahkan menjadi saudara kandung. Sebagian orang
memahami istilah saudara kandung adalah saudara yang
sama-sama satu kandungan ibu, dimana ayah mereka bisa
saja berbeda. Dan itu adalah saudara seibu (‫)أخ ألم‬.
Untuk itu diagram ini selain berbahasa Indonesia, juga
dilengkapi juga dengan istilah dalam bahasa Arab
aslinya.
Diagram ini juga dilengkapi dengan nomor ahli waris,
yang sepenuhnya merupakan ijtihad penulis sendiri.
Sekedar untuk memastikan identitas seorang ahli waris,
agar tidak tertukar-tukar penyebutannya dengan ahli
waris yang lain. Kira-kira seperti id number kalau dalam
sistem database.
Selain itu, diagram ini juga dilengkapi dengan daftar
orang-orang yang terhijab oleh seorang ahli waris.
Sehingga dengan mudah kita bisa memastikan siapa saja
dari mereka yang terhijab, cukup dengan sekali melihat
bagan.
Terakhir, diagram ini juga dilengkapi dengan bagian-
bagian yang mungkin akan bisa diterima oleh seorang
ahli waris.

nomor id ahli waris

nama ahli waris dalam bahasa arab

68
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

nama ahli waris (terjemah)

orang-orang yang dihijab olehnya


bagian-bagian yang bisa didapat bila
syaratnya terpenuhi
 Kelemahan diagram ini adalah belum tercantumnya
syarat-syarat yang dapat menentukan berapa bagian yang
didapat oleh seorang ahli waris.

69
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

70
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

1. Anak Laki-laki (‫)ابن‬


Kita urutkan pada nomor satu dalam daftar struktur
keluarga adalah anak laki-laki. Mengingat kedudukan
anak laki-laki sangat berpengaruh kepada nasib ahli waris
yang lain. Untuk seterusnya agar memudahkan, kita
tinggal menggunakan nomor urut satu sebagai id buat
anak laki-laki.
1.1. Bagian
 Asabah (sisa harta) bila ada ahli waris lain yang telah
mengambil bagian masing-masing, dengan ketentuan
anak laki-laki mendapat 2 kali bagian anak
perempuan.
Seorang anak laki-laki mendapat warisan dengan cara
ashabah, yaitu sisa harta yang sebelumnya diambil oleh
ahli waris lain. Karena mendapat sisa, maka besarannya
tidak pasti, tergantung seberapa besar sisa yang ada.
Contoh yang sederhana adalah seorang laki-laki wafat
meninggalkan ahli waris : anak laki-laki dan istri. Maka
hak anak laki-laki adalah sisa harta yang telah diambil
terlebih dahulu oleh istri. Istri adalah ashabul furudh
yang jatahnya sudah ditetapkan.
Dalam hal ini istri mendapat 1/8. Berarti sisanya
adalah 7/8 bagian. Maka bagian yang didapat oleh anak
laki-laki adalah 7/8.
Apabila almarhum juga meninggalkan anak
perempuan, maka anak perempuan juga mendapat sisa
seperti anak laki-laki, dimana jumlah sisa itu dibagi rata
kepada anak perempuan, dengan ketentuan bahwa anak
perempuan hanya mendapat setengah dari apa yang
didapat anak laki-laki. Atau dengan kata lain, yang

71
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

diterima anak laki-laki 2 kali lipat lebih besar dari anak


perempuan.
Contoh, anak laki-laki ada 2 orang dan anak
perempuan ada 3 orang. Pembagiannya adalah tiap anak
laki-laki mendapat 2/8 bagian dari sisa itu dan tiap anak
perempuan mendapat 1/8. Sehingga jumlahnya menjadi
2/8 + 2/8 + 1/8 + 1/8 + 1/8 = 7/8.
1.2. Menghijab
Ahli Waris id
 saudara seayah-ibu 9
 saudari seayah-ibu 10
 saudara seayah 11
 saudari seayah 12
 keponakan : anak saudara 13
seayah-ibu 14
 keponakan : anak saudara seayah 15
 paman : saudara ayah seayah-ibu 16
 paman : saudara ayah seayah 17
 sepupu : anak laki paman 18
seayah-ibu 19
 sepupu : anak laki paman seayah 20
 cucu : anak laki dari anak laki 22
 cucu : anak wanita dari anak laki
 saudara & saudari seibu
1.3. Dihijab oleh :
Sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya bahwa
anak laki-laki tidak dihijab oleh siapa pun. Karena
posisinya yang langsung berhubungan dengan muwarrits.
***

72
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

2. Anak Perempuan (‫)بنت‬


Anak perempuan yang dimaksud adalah anak
perempuan dari muwarrits yang telah meninggal dunia.
Kita letakkan pada nomor urut dua, karena posisinya
yang sangat dekat dengan muwarrits, serta bersisian
dengan anak lak-laki yang berada pada nomor urut satu.
2.1. Bagian
 1/2 = menjadi satu-satunya anak almarhum
 2/3 = dua orang atau lebih dan almarhum tak ada anak
laki
 ashabah = almarhum punya anak lak-laki dengan
ketentuan bagiannya 1/2 dari bagian anak laki-laki
Anak perempuan bisa punya tiga kemungkinan dalam
menerima waris dari orang tuanya.
Pertama, dia mendapat 1/2 atau separuh dari semua
harta warisan. Syaratnya, dia menjadi anak tunggal dari
muwarritsnya. Artinya, dia tidak punya saudara satu pun
baik saudara laki-laki atau pun saudara perempuan.
ِ
‫ف‬
ُ ‫ِّص‬ ْ َ‫َوإِن َكان‬
ْ ‫ت َواح َد ًة َفلَ َها الن‬
Dan apabila ia (anak perempuan) hanya seorang, maka
ia mendapat separuh harta warisan yang ada..(QS. An-
Nisa : 11)

Kedua, dia mendapat 2/3 dari semua harta. Syaratnya,


dia tidak sendirian. Dia punya saudara perempuan
sehingga minimal mereka berdua. Dan mereka semua
akan mendapat jatah total (bukan masing-masing) 2/3

73
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

bagian, selama semuanya perempuan dan tidak ada


saudara laki-laki satu pun.

‫فَِإن ُك َّن نِ َساء َف ْو َق ا ْثنََتنْي ِ َفلَ ُه َّن ثُلُثَا َما َتَر َك‬
Dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari
dua, maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang
ditinggalkan ..." (QS. An-Nisa': 11)
Ketiga, kalau dia punya saudara laki-laki, dia bersama
anak laki-laki akan mendapat ashabah atau sisa. Harta
sisa itu dibagi rata dengan semua saudara atau saudarinya
dengan ketentuan dia mendapat 1/2 dari jatah yang
diterima saudara laki-lakinya.
ِ ‫ُنثَينْي‬
َ ‫ظ األ‬ َّ ِ‫وصي ُكم اللّهُ يِف أ َْوالَ ِد ُكم ل‬
ِّ ‫لذ َك ِر ِمثْل َح‬ ِ ‫ي‬
ُ
ُ ْ ُ
Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian
pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian
seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua
orang anak perempuan. (QS. An-Nisa : 11)
2.2. Menghijab
 cucu : anak wanita dari anak laki 20
 saudara & saudari seibu 22
Ada 2 orang yang
dihijab oleh anak
perempuan. Pertama,
saudara atau saudari
seibu tidak seayah.
Kedua, cucu
perempu-an
almarhum, dengan
syarat jumlah anak

74
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

perempuan itu dua orang atau lebih dan tidak ada cucu
laki-laki yang menjadikan cucu perempuan sebagai
ashabah bersamanya.
2.3. Dihijab Oleh :
Seorang anak perempuan tidak pernah dihijab oleh
siapa pun, karena tidak ada penghalang antara dirinya
dengan muwarritsnya, yaitu ayah kandungnya sendiri.
***

3. Istri (‫)زوجة‬
Seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya,
maka dia menjadi ahli waris, berhak menerima sebagian
harta yang sebelumnya milik suaminya.
Sedangkan harta yang dimiliki bersama antara suami
istri, tidak dibagi waris begitu saja, namun dipisahkan
terlebih dahulu. Yang menjadi bagian istri, tentu tidak
dibagi waris. Yang dibagi waris hanya yang menjadi
bagian suami.
3.1. Bagian
Seorang istri punya dua kemungkinan dalam
menerima bagian, yaitu 1/4 atau 1/8 sebagaimana
disebutkan di dalam ayat 11 surat A-Nisa'.
Pertama, bila suami yang meninggal itu tidak punya
fara' waris5, maka hak istri adalah 1/4 bagian dari harta
peninggalan almarhum suaminya.
5
Diantara fara' waris antara lain : anak laki-laki, anak
perempuan, juga anak laki-laki atau anak perempuan dari anak laki-
laki (cucu). Sedangkan anak laki atau anak perempuan dari anak
perempuan, meski termasuk cucu juga, namun kedudukannya bukan
termasuk fara' waris, karena cucu dari anak perempuan tidak
termasuk dalam daftar ahli waris penerima warisan.

75
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

‫الربُ ُع مِم َّا َتَر ْكتُ ْم إِن مَّلْ يَ ُكن لَّ ُك ْم َولَ ٌد‬
ُّ ‫َوهَلُ َّن‬
"Dan mereka mendapat 1/4 dari apa yang kamu
tinggalkan bila kamu tidak mempunyai anak (QS. An-
Nisa': 12)
Kedua, kalau suami punya fara' waris, artinya dia
punya keturunan yang mendapatkan warisan, maka
bagian istri adalah adalah 1/8 dari harta peninggalan
suami.

‫وص و َن هِبَا‬ ٍِ ِ ‫مِم‬


ُ ُ‫فَِإن َكا َن لَ ُك ْم َولَ ٌد َفلَ ُه َّن الث ُُّم ُن َّا َتَر ْكتُم ِّمن َب ْع د َوص يَّة ت‬
‫أ َْو َديْ ٍن‬
"... Jika kamu mempunyai anak, maka para istri
memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu
tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat
atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu ..." (QS.
An-Nisa': 12)
3.2. Menghijab
Kedudukan seorang istri tidak menghijab siapa pun
dari ahli waris suami. Keberadaannya hanya sekedar
mengurangi harta saja, tetapi tidak membuat seseorang
menjadi kehilangan haknya.
3.3. Dihijab oleh
Karena hubungan langsung antara istri dan suami,
maka tidak ada seorang pun yang bisa menjadi
penghalang antara mereka. Dengan demikian, istri tidak
dihijab oleh siapa pun.
***

76
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

4. Suami
Seorang laki-laki yang ditinggal mati oleh istrinya,
maka dia menjadi ahli waris, berhak menerima sebagian
harta yang sebelumnya milik istrinya.
Sedangkan harta yang dimiliki bersama antara suami
istri, tidak dibagi waris begitu saja, namun dipisahkan
terlebih dahulu. Yang menjadi bagian suami, tentu tidak
dibagi waris. Yang dibagi waris hanya yang menjadi
bagian istri.
4.1. Bagian
Seorang suami punya dua kemungkinan bagian, yaitu
1/2 atau 1/4 sebagaimana disebutkan di dalam ayat 11
surat A-Nisa'.
Pertama, bila istri yang meninggal itu tidak punya
fara' waris, maka hak suami 1/2 bagian dari harta
peninggalan almarhumah istrinya.

‫اج ُك ْم إِن مَّلْ يَ ُكن هَّلُ َّن َولَ ٌد‬ ِ


ُ ‫ف َما َتَر َك أ َْز َو‬
ُ ‫ص‬
ْ ‫َولَ ُك ْم ن‬
"... dan bagi kalian (para suami) mendapat separuh
dari harta yang ditinggalkan istri-istri kalian, bila
mereka (para istri) tidak mempunyai anak ..." (QS.
An-Nisa': 12)
Kedua, kalau istri punya fara' waris, artinya dia punya
keturunan yang mendapatkan warisan, maka bagian
suami adalah adalah 1/4 dari harta peninggalan istri.

‫الربُ ُع مِم َّا َتَر ْك َن‬


ُّ ‫فَِإن َكا َن هَلُ َّن َولَ ٌد َفلَ ُك ُم‬
"... Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu
mendapat seperempat dari harta yang
ditinggalkannya (QS. An-Nisa': 12)

77
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

4.2. Menghijab
Kedudukan seorang suami tidak menghijab siapa pun
dari ahli waris istri. Keberadaannya hanya sekedar
mengurangi harta saja, tetapi tidak membuat seseorang
menjadi kehilangan haknya.
4.3. Dihijab oleh
Karena hubungan langsung antara istri dan suami,
maka tidak ada seorang pun yang bisa menjadi
penghalang antara mereka. Dengan demikian, suami
tidak dihijab oleh siapa pun.
***

5. Ayah
Seorang ayah yang ditinggal mati oleh anaknya, baik
anak itu laki-laki atau perempuan, termasuk orang yang
berhak mendapatkan warisan. Tentu saja syaratnya
adalah ayah masih hidup saat sang anak meninggal dunia.
Kalau ayah sudah meninggal dunia terlebih dahulu, tidak
menjadi ahli waris.
5.1. Bagian
Seorang ayah punya tiga macam kemungkinan dalam
menerima hak warisnya.

 1/6 = almarhum punya fara' waris laki-laki


 1/6 + sisa = almarhum punya fara' waris wanita, tidak
punya fara' waris laki-laki
 Ashabah = almarhum tidak punya fara' waris

Pertama, dia menerima 1/6 bagian dari harta anaknya


yang meninggal. Syaratnya, almarhum anaknya itu punya

78
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

fara' waris laki-laki. Misalnya anak laki-laki atau cucu


laki-laki dari anak laki-laki.

‫س مِم َّا َتَر َك إِن َكا َن لَهُ َولَ ٌد‬ ُّ ‫اح ٍد ِّمْن ُه َما‬
ُ ‫الس ُد‬
ِ ‫وألَبوي ِه لِ ُك ِّل و‬
َ ْ ََ َ
Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-
masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan,
jika yang meninggal itu mempunyai anak ..." (QS.
An-Nisa': 11)
Kedua, dia menerima 1/6 dan ditambah lagi dengan
sisa harta yang ada. Hal itu terjadi manakala almarhum
yaitu anaknya yang meninggal itu punya fara' waris
perempuan6 dan tidak punya fara' waris laki-laki.
Bahwa sisanya itu menjadi hak ayah, karena dalam
hal ini ayah menjadi ahli waris laki-laki yang lebih utama
atau lebih dekat kedudukannya kepada almarhum
dibandingkan dengan ahli waris lainnya. Rasulullah
SAW bersabda :

‫ض ِبَأْهِل َه ا َف َم ا‬
َ ‫الف َرِائ‬
َ ‫حقُ وا‬ ِ ‫ول‬
ِ ‫ َأْل‬ ‫اهلل‬ ٍ ‫َع ِن ْابِن َعَّب‬
ُ ‫ قَ َال قَ َال َر ُس‬ ‫اس‬
.‫ألْوَلى َرُجٍل َذَكر‬ََِ ‫َبقَِي َف‬
"Bagikanlah harta peninggalan (warisan) kepada
yang berhak, dan apa yang tersisa menjadi hak laki-
laki yang paling utama. " (HR Bukhari)
Contohnya, seseorang wafat meninggalkan anak
perempuan dan seorang ayah. Anak perempuan mendapat
1/2 bagian, sedangkan ayah mendapatkan 1/6
sebagaimana disebut dalam dalil berikut :
6
Fara' waris perempuan adalah anak perempuan dan cucu
perempuan dari anak laki-laki. Fara' waris laki adalah anak laki-laki
dan cucu laki-laki dari anak laki-laki.

79
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

‫س مِم َّا َتَر َك إِن َكا َن لَهُ َولَ ٌد‬ ُّ ‫اح ٍد ِّمْن ُه َما‬
ُ ‫الس ُد‬
ِ ‫وألَبوي ِه لِ ُك ِّل و‬
َ ْ ََ َ
Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-
masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan,
jika yang meninggal itu mempunyai anak ..." (QS.
An-Nisa': 11)
Harta yang telah diambil ayah dan anak perempuan
itu tentu masih bersisa. Siapakah yang berhak atas harta
ini?
Jawabnya adalah ayah.
Mengapa?
Karena ayah dalam hal ini menjadi ahli waris yang
merupakan ashabah juga. Meski pun pada dasarnya ada
lagi ahli waris lain yang juga berhak menjadi ashabah,
namun ayah telah menghijab mereka dan mengambil hak
asabah itu untuk dirinya, dengan dasar dalil di atas.
Ketiga, ayah mendapat seluruh harta dengan cara
ashabah, setelah ashabul furudh mengambil bagiannya.
Syaratnya, almarhum tidak punya fara' waris, baik laki-
laki atau pun perempuan.

‫ث‬ ُّ ‫فَِإن مَّلْ يَ ُكن لَّهُ َولَ ٌد َو َو ِرثَهُ أ ََب َواهُ فَأل ُِّم ِه‬
ُ ُ‫الثل‬
Bila dia tidak punya anak, maka ayah ibunya
mewarisi hartanya dimana bagian ibu adalah
sepertiga." (QS. An-Nisa': 11)
Di ayat ini tidak tertera kalimat yang secara langsung
menyebutkan bahwa ayah mendapat sisanya. Hanya
disebutkan bahwa ayah dan ibu itu menerima warisan
dari anak mereka bersama-sama. Dan yang menjadi
bagian buat ibu adalah 1/3. Logikanya, kalau bagian itu

80
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

ibu sudah disebutkan maka bagian ayah pasti diketahui,


yaitu sisanya.
Contohnya, seseorang wafat meninggalkan hanya
seorang istri dan seorang ayah. Maka istri adalah ahli
waris dari kalangan ashabul furud, jatahnya adalah 1/4
bagian, karena almarhum tidak punya fara' waris. Sisanya
yang 3/4 bagian menjadi hak ayah sebagai ashabah bi
nafsihi.
5.2. Menghijab
Ayah termasuk orang yang cukup banyak menghijab
ahli waris yang lain, selain anak laki-laki. Ada 12 ahli
waris yang dihijab dan tidak mendapatkan harta warisan,
karena keberadaan ayah dari almarhum.
Mereka yang terhijab oleh ayah adalah :
 kakek : ayahnya ayah 7
 Nenek : ibunya ayah 8
 saudara seayah-ibu 9
 saudari seayah-ibu 10
 saudara seayah 11
 saudari seayah 12
 keponakan : anak saudara seayah-ibu 13
 keponakan : anak saudara seayah 14
 paman : saudara ayah seayah-ibu 15
 paman : saudara ayah seayah 16
 sepupu : anak laki paman seayah-ibu 17
 sepupu : anak laki paman seayah 18
5.3. Dihijab oleh
Seorang ayah tidak terhijab oleh siapa pun dari para
ahli waris yang lain. Karena hubungan ayah dengan
anaknya yang menjadi muwarrits adalah hubungan
langsung.

81
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

***

6. Ibu
Ibu adalah orang yang juga dekat dengan anaknya
yang meninggal dunia. Bila saat meninggalnya, ibu
masih ada, sudah dipastikan ibu mendapat warisan.
6.1. Bagian
Seorang ibu punya tiga macam kemungkinan dalam
menerima hak warisnya.
 1/6 = almarhum punya fara' waris
 1/3 = almarhum tidak punya fara' waris
 1/3 dari sisa = bila almarhum punya fara' waris (hanya
dalam kasus umariyatain)

Pertama, ibu mendapat 1/6 dari harta almarhum


anaknya yang wafat, bila anaknya itu punya fara' waris.

‫س مِم َّا َتَر َك إِن َكا َن لَهُ َولَ ٌد‬ ُّ ‫اح ٍد ِّمْن ُه َما‬
ُ ‫الس ُد‬
ِ ‫وألَبوي ِه لِ ُك ِّل و‬
َ ْ ََ َ
Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-
masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan,
jika yang meninggal itu mempunyai anak ..." (QS.
An-Nisa': 11)
Kedua, seorang ibu mendapat 1/3 dari harta
peninggalan almarhum anaknya, bila anaknya tidak
punya fara' waris.

‫ث‬ ُّ ‫فَِإن مَّلْ يَ ُكن لَّهُ َولَ ٌد َو َو ِرثَهُ أ ََب َواهُ فَأل ُِّم ِه‬
ُ ُ‫الثل‬
Bila dia tidak punya anak, maka ayah ibunya
mewarisi hartanya dimana bagian ibu adalah
sepertiga." (QS. An-Nisa': 11)

82
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Ketiga, ibu mendapatkan 1/3 dari sisa harta yang


sudah diambil oleh para ashabul furudh, namun haknya
yang 1/3 tidak berlaku.
Pembagian ini hanya terjadi bila seseorang wafat
dengan meninggalkan hanya 3 orang ahli waris, yaitu
suami/istri, ayah dan ibu. Kasus ini terjadi di zaman
khalifah Umar bin al-Khattab dan dikenal dengan istilah
kasus Umariyatain.7
6.2. Menghijab
Seorang ibu menghijab 2 orang ahli waris lainnya,
yaitu nenek dari pihak ibu dan nenek dari pihak ayah.

7
Istilah kasus Umariyatain adalah dua kasus yang ditetapkan
oleh Umar bin al-Khattab radhiyallahuanhu. Kasus pertama
melibatkan 3 orang ahli waris, yaitu suami, ayah dan ibu. Kasus
kedua melibatkan 3 orang juga yaitu istri, ayah dan ibu.
Dalam hal ini ada perbedaan pendapat dalam menafsirkan
firman Allah pada kata : ‫وورثه أبواه‬.
Menurut Khalifah Umar dan kebanyakan para shahabat nabi
serta didukung oleh jumhur ulama, kata itu punya makna bahwa
ayah dan ibu menerima warisan dari sisa warisan yang diambil oleh
suami atau istri secara fardh. Ayah dan ibu tidak menerima waris
secara fardh (1/3) dari asal harta.
Sebaliknya, menurut Ibnu Abbas radhiyallahuanhu, ibu
mendapat 1/3 dari asal harta sebagaimana disebutkan dalam ayat ini.
Sisanya, menjadi hak ayah. Dalam pandangan Khalifah Umar, kalau
demikian, tidak ada arti kata tersebut.
Maka dalam kasus ini, suami yang ditinggal mati istrinya tanpa
fara' waris mendapat 1/2 harta. Sisanya, yaitu 1/2 menjadi hak ayah
dan ibu berdua secara ashabah, dengan ketentuan ibu mendapat 1/3
dari jatah mereka berdua dan ayah mendapat sisanya yaitu 2/3.
Kasus Perama
Ahli WarisBagianIstri1/41/4Ibu3/41/4Ayah2/4Kasus Kedua
Ahli WarisBagianSuami1/23/6Ibu1/21/6Ayah2/6

83
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Atau dengan kata lain, dia menghijab ibunya sendiri (21)


dan ibu dari suaminya (8).
6.3. Dihijab oleh
Seorang wanita yang ditinggal mati oleh anaknya,
maka posisinya tidak akan terhijab oleh siapa pun.
Karena mereka punya hubungan langsung tanpa diselingi
oleh orang lain.

***

7. Kakek (‫)أب أب‬


Yang dimaksud dengan kakek disini adalah ayahnya
ayah. Seorang kakek yang ditinggal mati oleh cucunya,
baik cucu itu laki-laki atau perempuan, termasuk orang
yang berhak mendapatkan warisan.
Syaratnya adalah ayah anak itu sudah meninggal
dunia saat si cucu meninggal dunia. Kalau ayah anak itu
masih hidup, maka kakek (ayahnya ayah) terhijab,
sehingga kita tidak bicara tentang warisan buat kakek.
Semua hitungan untuk warisan buat kakek, selalu
dalam kondisi bahwa ayah almarhum sudah meninggal
terlebih dahulu.
7.1. Bagian
Seorang kakek punya tiga macam kemungkinan
dalam menerima hak warisnya.

 1/6 = almarhum punya fara' waris laki-laki


 1/6 + sisa = almarhum punya fara' waris wanita, tidak
punya fara' waris laki-laki
 Ashabah = almarhum tidak punya fara' waris

84
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Pertama, dia menerima 1/6 bagian dari harta anaknya


yang meninggal. Syaratnya, almarhum cucunyanya itu
punya fara' waris laki-laki. Misalnya anak laki-laki atau
cucu laki-laki dari anak laki-laki.

‫س مِم َّا َتَر َك إِن َكا َن لَهُ َولَ ٌد‬ ُّ ‫اح ٍد ِّمْن ُه َما‬
ُ ‫الس ُد‬
ِ ‫وألَبوي ِه لِ ُك ِّل و‬
َ ْ ََ َ
Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-
masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan,
jika yang meninggal itu mempunyai anak ..." (QS.
An-Nisa': 11)
Kedua, dia menerima 1/6 dan ditambah lagi dengan
sisa harta yang ada. Hal itu terjadi manakala almarhum
yaitu cucunya yang meninggal itu punya fara' waris
perempuan8 dan tidak punya fara' waris laki-laki.
Bahwa sisanya itu menjadi hak kakek, karena dalam
hal ini kakek sebagai gantinya ayah menjadi ahli waris
laki-laki yang lebih utama atau lebih dekat kedudukannya
kepada almarhum dibandingkan dengan ahli waris
lainnya. Rasulullah SAW bersabda :

‫ض ِبَأْهِل َه ا َف َم ا‬
َ ‫الف َرِائ‬
َ ‫حقُ وا‬ ِ ‫ول‬
ِ ‫ َأْل‬ ‫اهلل‬ ٍ ‫َع ِن ْابِن َعَّب‬
ُ ‫ قَ َال قَ َال َر ُس‬ ‫اس‬
.‫ألْوَلى َرُجٍل َذَكر‬ََِ ‫َبقَِي َف‬
"Bagikanlah harta peninggalan (warisan) kepada
yang berhak, dan apa yang tersisa menjadi hak laki-
laki yang paling utama. " (HR Bukhari)
Contohnya, seseorang wafat meninggalkan anak
perempuan dan seorang kakek, yaitu ayahnya ayah. Anak
8
Fara' waris perempuan adalah anak perempuan dan cucu
perempuan dari anak laki-laki. Fara' waris laki adalah anak laki-laki
dan cucu laki-laki dari anak laki-laki.

85
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

perempuan mendapat 1/2 bagian, sedangkan ayahnya


ayah mendapatkan 1/6 sebagaimana disebut dalam dalil
berikut :

‫س مِم َّا َتَر َك إِن َكا َن لَهُ َولَ ٌد‬ ُّ ‫اح ٍد ِّمْن ُه َما‬
ُ ‫الس ُد‬
ِ ‫وألَبوي ِه لِ ُك ِّل و‬
َ ْ ََ َ
Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-
masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan,
jika yang meninggal itu mempunyai anak ..." (QS.
An-Nisa': 11)
Ketiga, kakek sebagai ayahnya ayah mendapat
seluruh harta dengan cara ashabah, setelah ashabul
furudh mengambil bagiannya. Syaratnya, almarhum tidak
punya fara' waris, baik laki-laki atau pun perempuan.

‫ث‬ ُّ ‫فَِإن مَّلْ يَ ُكن لَّهُ َولَ ٌد َو َو ِرثَهُ أ ََب َواهُ فَأل ُِّم ِه‬
ُ ُ‫الثل‬
Bila dia tidak punya anak, maka ayah ibunya
mewarisi hartanya dimana bagian ibu adalah
sepertiga." (QS. An-Nisa': 11)
Contohnya, seseorang wafat meninggalkan hanya
seorang istri dan seorang kakek (ayahnya ayah). Maka
istri adalah ahli waris dari kalangan ashabul furud,
jatahnya adalah 1/4 bagian, karena almarhum tidak punya
fara' waris. Sisanya yang 3/4 bagian menjadi hak kakek
sebagai ganti dari ayah yang sudah meninggal terlebih
dahulu.
7.2. Menghijab
Kakek (ayahnya ayah) termasuk orang yang cukup
banyak menghijab ahli waris yang lain, selain anak laki-
laki. Ada 10 ahli waris yang dihijab dan tidak

86
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

mendapatkan harta warisan, karena keberadaan ayah dari


almarhum.
Mereka yang terhijab oleh ayah adalah :
 saudara seayah-ibu 9
 saudari seayah-ibu 10
 saudara seayah 11
 saudari seayah 12
 keponakan : anak saudara seayah-ibu 13
 keponakan : anak saudara seayah 14
 paman : saudara ayah seayah-ibu 15
 paman : saudara ayah seayah 16
 sepupu : anak laki paman seayah-ibu 17
 sepupu : anak laki paman seayah 18
 saudara/i yang hanya seibu (rajih) 22
7.3. Dihijab oleh
Seorang kakek tidak terhijab oleh siapa pun dari para
ahli waris yang lain, kecuali oleh ayah, yang dalam hal
ini tidak lain adalah anaknya sendiri.
***

8. Nenek (‫)أم أب‬


Yang dimaksud dengan nenek disini adalah ibu dari
ayahnya almarhum.
8.1. Bagian
Dalam hal ini nenek hanya punya satu kemungkinan
dalam mendapat bagian warisnya, yaitu 1/6. Syaratnya,
almarhum tidak punya ibu dan ayah.
8.2. Menghijab
Nenek tidak menghijab siapa pun

87
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

8.3. Dihijab oleh


Nenek dihijab oleh 2 orang yaitu ayah.
 ayah 5
 ibu 6
***

9. Saudara seayah-ibu (‫)أخ شقيق‬


Saudara disini bisa saja lebih tua (kakak) atau bisa
saja lebih muda (adik). Yang penting, hubungan antara
dirinya dengan almarhum adalah bahwa mereka punya
ayah dan ibu yang sama. Kita menghindari penggunaan
istilah saudara sekandung, karena konotasinya bisa
keliru. Lebih pastinya kita gunakan istilah saudara seayah
dan seibu.
9.1. Bagian
Saudara seayah seibu mendapat waris dari almarhum
dengan cara ashabah, yaitu sisa harta waris yang
sebelumnya dibagikan terlebih dahulu kepada ahli waris
secara fardh. Dengan syarat, kedudukannya tidak terhijab
oleh orang-orang yang menghijabnya. Dalam hal ini
almarhum tidak meninggalkan anak, cucu, ayah atau
kakek. Saat itulah saudara seayah seibu baru mendapat
jatah warisan.
Contoh, seseorang wafat meninggalkan ahli waris
hanya : istri dan saudara laki-laki seayah seibu. Maka
pembagiannya warisannya adalah istri mendapat 1/4 dan
saudara mendapatkan sisanya, yaitu 3/4 bagian.
Apabila saudara laki-laki juga punya saudara
perempuan yang sama-sama seayah dan seibu, maka
bagian yang diterimanya harus 2 kali lipat lebih besar.

88
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Contoh, seseorang wafat meninggalkan istri, saudara


laki-laki dan saudara wanita. Maka pembagian
warisannya adalah istri mendapat 1/4, sisanya yang 3/4
itu dibagi dua dengan saudarinya, saudara mendapatkan
2/4 dan saudarinya mendapat 1/4.
9.2. Menghijab
 saudara seayah 11
 saudari seayah 12
 keponakan : anak saudara seayah-ibu 13
 keponakan : anak saudara seayah 14
 paman : saudara ayah seayah-ibu 15
 paman : saudara ayah seayah 16
 sepupu : anak laki paman seayah-ibu 17
 sepupu : anak laki paman seayah 18
9.3. Dihijab Oleh :
 Anak laki-laki 1
 Ayah 5
 Ayahnya ayah (kakek) 7
 Cucu laki-laki 19
***

10. Saudari seayah-ibu


Saudari seayah dan seibu juga termasuk yang
mendapat warisan, asalkan posisinya tidak terhijab.
10.1. Bagian
 1/2 = almarhum tidak
punya fara' waris (1-2-19-20) tidak
punya ashlul waris laki-laki (5-7) tidak
punya saudara laki-laki seayah seibu (9) tidak
punya saudari seayah seibu (10)

89
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

 2/3 = almarhum tidak


punya fara' waris (1-2-19-20) tidak
punya ashlul waris laki-laki (5-7) tidak
punya saudara laki-laki seayah seibu (9)
punya saudari seayah seibu (10)
 Ashabah = almarhum
tidak punya fara' waris (1-2-19-20)
tidak punya ashlul waris laki-laki (5-7)
punya saudara laki-laki seayah seibu (9)

Saudari seayah seibu dengan almarhum bisa


mendapatkan warisan dengan tiga kemungkinan.
Pertama, dia mendapat 1/2 bagian dari seluruh harta
milik almarhum.
Contoh : seseorang wafat dalam keadaan tidak punya
anak, cucu, ayah, kakek, dan saudara laki-laki. Yang dia
punya hanya seorang saudari perempuan seayah seibu.
Maka saudarinya itu mendapat 1/2 dari semua harta
warisan almarhum.
Kedua, dia mendapat 2/3 bagian dari seluruh harta
milik almarhum.
Contoh : seseorang wafat dalam keadaan tidak punya
anak, cucu, ayah, kakek, dan saudara laki-laki. Yang dia
punya hanya 2 orang saudari perempuan seayah seibu.
Maka kedua saudaranya itu total mendapat 2/3 dari
semua harta warisan almarhum saudaranya. 2/3 bagian
itu kemudian dibagi 2 lagi secara sama besar.
Ketiga, dia mendapat waris secara ashabah dari
seluruh harta milik almarhum.
Contoh : seseorang wafat dalam keadaan tidak punya
anak, cucu, ayah atau kakek. Yang dia punya seorang
saudara laki-laki seayah seibu. Maka mereka berdua
mendapat warisan secara ashabah, dengan perbandingan

90
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

bahwa saudara laki-lakinya itu mendapat 2/3 bagian dan


dirinya mendapat 1/3 bagian.
***

11. Saudara seayah (‫)أخ ألب‬


Saudara disini bisa saja lebih tua (kakak) atau bisa
saja lebih muda (adik). Yang penting, hubungan saudara
ini dengan almarhum bahwa mereka punya ayah yang
sama tapi ibu mereka berbeda. Atau dalam bahasa lebih
sederhana, hubungan antara almarhum dengan dirinya
adalah saudara tiri.
11.1. Bagian
Saudara seayah mendapat waris dari almarhum
dengan cara ashabah, yaitu sisa harta waris yang
sebelumnya dibagikan terlebih dahulu kepada ahli waris
secara fardh.
Dengan syarat, kedudukannya tidak terhijab oleh
orang-orang yang menghijabnya. Artinya, almarhum
tidak meninggalkan anak, cucu, ayah atau kakek,
termasuk almarhum tidak punya saudara/i yang seayah
dan seibu. Saat itulah saudara seayah baru kebagian jatah
warisan.
Contoh, seseorang wafat meninggalkan ahli waris
hanya : istri dan saudara laki-laki seayah. Maka
pembagiannya warisannya adalah istri mendapat 1/4 dan
saudara seayah mendapat sisanya, yaitu 3/4 bagian.
Apabila saudara laki-laki seayah itu juga punya
saudara perempuan yang juga seayah, maka bagian yang
diterimanya harus 2 kali lipat lebih besar dari saudari
perempuannya itu.

91
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Contoh, seseorang wafat meninggalkan istri, saudara


laki-laki dan saudara wanita seayah. Maka pembagian
warisannya adalah istri mendapat 1/4, sisanya yang 3/4
itu dibagi dua dengan saudarinya, saudara laki-laki
mendapatkan 2/4 dan saudari perempuannya mendapat
1/4.
11.2. Menghijab
 keponakan : anak saudara seayah-ibu 13
 keponakan : anak saudara seayah 14
 paman : saudara ayah seayah-ibu 15
 paman : saudara ayah seayah 16
 sepupu : anak laki paman seayah-ibu 17
 sepupu : anak laki paman seayah 18
11.3. Dihijab Oleh :
 Anak laki-laki 1
 Ayah 5
 Ayahnya ayah (kakek) 7
 Saudara laki-laki seayah seibu 9
 Saudara perempuan seayah seibu * 10
 Cucu laki-laki 19
***

12. Saudari seayah (‫)أخت ألب‬


Yang dimaksud dengan saudari perempuan seayah
bahwa dirinya punya ayah yang sama dengan almarhum,
tapi ibu mereka berbeda. Dengan mudah juga bisa kita
sebut saudari perempuan tiri. Saudari tiri juga termasuk
yang mendapat warisan, asalkan posisinya tidak terhijab.
10.1. Bagian
 1/2 = almarhum tidak

92
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

punya fara' waris (1-2-19-20) tidak


punya ashlul waris laki-laki (5-7) tidak
punya saudara laki-laki seayah seibu (9) tidak
punya saudari seayah seibu (10)
 2/3 = almarhum tidak
punya fara' waris (1-2-19-20) tidak
punya ashlul waris laki-laki (5-7) tidak
punya saudara laki-laki seayah seibu (9)
punya saudari seayah seibu (10)
 Ashabah = almarhum
tidak punya fara' waris (1-2-19-20)
tidak punya ashlul waris laki-laki (5-7)
punya saudara laki-laki seayah seibu (9)

Saudari seayah seibu dengan almarhum bisa


mendapatkan warisan dengan tiga kemungkinan.
Pertama, dia mendapat 1/2 bagian dari seluruh harta
milik almarhum.
Contoh : seseorang wafat dalam keadaan tidak punya
anak, cucu, ayah atau kakek, saudara laki-laki. Yang dia
punya hanya seorang saudari perempuan seayah seibu.
Maka dia mendapat 1/2 dari semua harta warisan
almarhum saudaranya.
Kedua, dia mendapat 2/3 bagian dari seluruh harta
milik almarhum.
Contoh : seseorang wafat dalam keadaan tidak punya
anak, cucu, ayah atau kakek, saudara laki-laki. Yang dia
punya hanya 2 orang saudari perempuan seayah seibu.
Maka kedua saudaranya itu total mendapat 2/3 dari
semua harta warisan almarhum saudaranya. 2/3 bagian
itu kemudian dibagi 2 lagi secara sama besar.
Ketiga, dia mendapat waris secara ashabah dari
seluruh harta milik almarhum.

93
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Contoh : seseorang wafat dalam keadaan tidak punya


anak, cucu, ayah atau kakek. Yang dia punya seorang
saudara laki-laki seayah seibu. Maka mereka berdua
mendapat warisan secara ashabah, dengan perbandingan
bahwa saudara laki-lakinya itu mendapat 2/3 bagian dan
dirinya mendapat 1/3 bagian.

13. Keponakan : anak saudara seayah-ibu

14. Keponakan : anak saudara seayah

15. Paman : saudara ayah seayah-ibu

16. Paman : saudara ayah seayah

17. Sepupu : anak laki paman seayah-ibu

18. Sepupu : anak laki paman seayah

Ahli Waris & Bagiannya Penghijaban (Hirman)

94
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Menghijab
 saudara seayah-ibu 9
 saudari seayah-ibu 10
11
 saudara seayah
12
 saudari seayah 13
‫ابن‬  keponakan : anak saudara 14
Anak Laki-laki seayah-ibu 15
 keponakan : anak saudara 16
 Asabah (sisa harta) bila seayah 17
ada ahli waris lain yang  paman : saudara ayah seayah- 18
telah mengambil bagian ibu 19
20
masing-masing  paman : saudara ayah seayah
22
 2 kali bagian anak  sepupu : anak laki paman
perempuan bila almarhum seayah-ibu
memiliki 1 anak  sepupu : anak laki paman
perempuan atau lebih seayah
 cucu : anak laki dari anak laki
 cucu : anak wanita dari anak
laki
 saudara & saudari seibu
Dihijab oleh : -
‫بنت‬  cucu : anak wanita dari anak 20
laki 22
Anak Perempuan
 1/2 = menjadi satu-  saudara & saudari seibu
satunya anak almarhum Dihijab oleh : -
 2/3 = dua orang atau lebih
dan almarhum tak ada
anak laki
 ashabah (sisa harta) =
almarhum punya anak lak-
laki
‫زوجة‬ Menghijab : -
Istri Dihijab oleh : -
 1/4 = almarhum tidak
punya anak
 1/8 = almarhum punya
anak
‫زوج‬ Menghijab : -
Suami Dihijab oleh : -
 1/2 = almarhumah tidak
punya anak
 1/4 = almarhumah punya
anak

95
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Menghijab
 kakek : ayahnya ayah 7
 Nenek : ibunya ayah
 saudara seayah-ibu
8
 saudari seayah-ibu
‫أب‬  saudara seayah
9
10
Ayah  saudari seayah 11
 1/6 = almarhum punya  keponakan : anak saudara 12
anak dst seayah-ibu 13
 1/6 + sisa = almarhum  keponakan : anak saudara 14
punya anak wanita tidak seayah 15
ada anak laki dan ada sisa  paman : saudara ayah seayah- 16
 Ashabah = almarhum tidak 17
ibu 18
punya anak laki dan  paman : saudara ayah seayah 1
wanita serta masih tersisa  sepupu : anak laki paman
seayah-ibu
 sepupu : anak laki paman
seayah
Dihijab oleh : anak laki-laki
Menghijab
‫أم‬  Nenek : Ibunya ibu 21
Ibu Dihijab oleh : -
 1/6 = almarhum punya
fara' waris (anak
laki/wanita dst)
 1/3 = almarhum tidak
punya fara' waris (anak
laki/wanita dst)
 1/3 dari sisa = bila
almarhum punya fara'
waris (anak laki/wanita
dst)
Menghijab
‫جد‬
ّ
 saudara seayah-ibu 9
Kakek  saudari seayah-ibu 10
(ayahnya ayah) 11
 saudara seayah
12
 saudari seayah 13
 keponakan : anak saudara 14
seayah-ibu 15
 keponakan : anak saudara 16
seayah 17
 paman : saudara ayah seayah- 18
ibu 22
 paman : saudara ayah seayah
5

96
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

 sepupu : anak laki paman


seayah-ibu
 sepupu : anak laki paman
seayah
 saudara & saudari seibu
Dihijab oleh : -
 ayah
Menghijab : -
ّ ‫جدة‬ Dihijab oleh : -
 ayah 5
Nenek
(Ibunya ayah)

1.2. Ahli Waris Perempuan


1. anak perempuan [‫]بنت‬
2. ibu [‫]أم‬
3. anak perempuan (dari keturunan anak laki-laki) [
‫]بنت ابن‬
4. nenek (ibu dari ibu) [‫]أم األم‬
5. nenek (ibu dari) [‫]أم األب‬
6. saudari kandung perempuan [‫]أخت شقيقة‬
7. saudari perempuan seayah [‫]أخت ألب‬
8. saudari perempuan seibu [‫]أخت ألم‬
9. istri [‫]زوجة‬
10. perempuan yang memerdekakan budak [‫]معتقة‬

Cucu perempuan yang dimaksud di atas mencakup


pula cicit dan seterusnya, yang penting perempuan dari
keturunan anak laki-laki. Demikian pula yang dimaksud

97
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

dengan nenek --baik ibu dari ibu maupun ibu dari bapak--
dan seterusnya.

2. Derajat Ahli Waris


Antara ahli waris yang satu dan lainnya ternyata
mempunyai perbedaan derajat dan urutan. Tidak
sebagaimana yang sering disalah-mengerti oleh
kebanyakan orang untuk membagi rata setiap ahli waris
dengan jumlah yang sama besar. Syariat Islam telah
menetapkan bahwa masing-masing ahli waris itu
memiliki derajat yang berbeda-beda, tergantung posisi
hubungan mereka dengan almarhum.
Lebih jauh tentang derajat masing-masing ahli waris,
berikut ini kami jelaskan :
2.1. Ashhabul furudh.
Golongan inilah yang pertama diberi bagian harta
warisan. Mereka adalah orang-orang yang telah
ditentukan bagiannya dalam Al-Qur'an, As-Sunnah, dan
ijma'.
Ada diantara mereka yang mendapat :
 1/2 dari total harta yang diwariskan (misalnya suami
yang ditinggal mati istrinya dimana istrinya tidak
punya anak),
 ada yang mendapat 1/3 (ibu almarhum bila almarhum
tidak punya anak laki-laki),
 1/4 (istri yang ditingal mati suaminya dimana
suaminya tidak punya anak),
 1/6 (ayah atau ibu),
 1/8 (istri yang ditinggal mati suaminya namun suami
itu punya anak)

98
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

 juga ada yang mendapat 2/3.

Ketika membagi warisan, para ashhabul furudh inilah


yang pertama kali diberikan bagian.

2.2. Ashabat Nasabiyah.

Setelah ashhabul furudh diberikan bagiannya sesuai


dengan besar yang telah ditentukan oleh nash-nash
syariah, kemudian giliran para ashabat nasabiyah
menerima bagian. Ashabat nasabiyah yaitu setiap kerabat
(nasab) pewaris yang menerima sisa harta warisan yang
telah dibagikan sebelumnya kepada para ashhabul
furudh.
Misalnya, seorang meninggal dan memiliki 2 ahli
waris. Yang pertama merupakan ashhabul furudh yang
besar bagiannya 1/4 (misalnya suami yang ditinggal mati
istrinya dimana istri punya anak), sedangkan yang kedua
merupakan ahli waris yang menjadi 'ashabah (anak laki-
laki istri yang meninggal), maka harta itu dibagi dua
untuk ashhabul furudh 1/4 sedangkan untuk ashabah 3/4
atau sisanya.
Seandainya ashhabul furudhnya ada beberapa orang,
misalnya ada ada ibu (1/6), ayah (1/6), istri (1/8), maka
ketiga orang tersebut diberikan terlebih dahulu haknya,
sehingga hitungannya menjadi

1 - (1/6 + 1/6 + 1/8) = sisa untuk ashabah


1 - (4/24 + 4/24 + 3/24) = sisa untuk ashabah
1 - 11/24 = 13/24.

99
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Maka ashabah akan mendapat sisanya yaitu 13/24


bagian dari total harta yang diwariskan. Dalam contoh di
atas, yang menjadi ashabah adalah anak laki-laki
almarhum.
Seandainya ternyata tidak ada ahli waris yang berupa
ashhabul furudh, misalnya seseorang meninggal dunia
tanpa meninggalkan ayah, ibu, istri, kecuali hanya anak
laki-laki seorang saja, maka ia berhak mengambil seluruh
harta peninggalan ayahnya. Dan bila tidak ada anak laki-
laki, maka yang menjadi ahli waris adalah cucu dari anak
laki-laki pewaris, saudara kandung pewaris, paman
kandung, dan seterusnya.
2.3. Penambahan bagi ashhabul furudh
Sesuai bagian (kecuali suami istri).
2.4. Mewariskan kepada kerabat.
Yang dimaksud kerabat di sini ialah kerabat pewaris
yang masih memiliki kaitan rahim --tidak termasuk
ashhabul furudh juga 'ashabah. Misalnya, paman (saudara
ibu), bibi (saudara ibu), bibi (saudara ayah), cucu laki-
laki dari anak perempuan, dan cucu perempuan dari anak
perempuan.
Maka, bila ahli waris tidak mempunyai kerabat
sebagai ashhabul furudh, tidak pula 'ashabah, para
kerabat yang masih mempunyai ikatan rahim dengannya
berhak untuk mendapatkan warisan.
2.5. Tambahan hak waris bagi suami atau istri.
Bila pewaris tidak mempunyai ahli waris yang
termasuk ashhabul furudh dan 'ashabah, juga tidak ada

100
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

kerabat yang memiliki ikatan rahim, maka harta warisan


tersebut seluruhnya menjadi milik suami atau istri.
Misalnya, seorang suami meninggal tanpa memiliki
kerabat yang berhak untuk mewarisinya, maka istri
mendapatkan bagian seperempat dari harta warisan yang
ditinggalkannya, sedangkan sisanya merupakan
tambahan hak warisnya.
Dengan demikian, istri memiliki seluruh harta
peninggalan suaminya. Begitu juga sebaliknya suami
terhadap harta peninggalan istri yang meninggal.
2.6. Ashabah karena sebab.
Yang dimaksud para 'ashabah karena sebab ialah
orang-orang yang memerdekakan budak (baik budak
laki-laki maupun perempuan). Misalnya, seorang bekas
budak meninggal dan mempunyai harta warisan, maka
orang yang pernah memerdekakannya termasuk salah
satu ahli warisnya, dan sebagai 'ashabah. Tetapi pada
masa kini sudah tidak ada lagi.
2.7. Orang yang diberi wasiat lebih dari sepertiga
harta pewaris.
Yang dimaksud di sini ialah orang lain, artinya bukan
salah seorang dan ahli waris. Misalnya, seseorang
meninggal dan mempunyai sepuluh anak. Sebelum
meninggal ia terlebih dahulu memberi wasiat kepada
semua atau sebagian anaknya agar memberikan sejumlah
hartanya kepada seseorang yang bukan termasuk salah
satu ahli warisnya.
Bahkan mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat
boleh memberikan seluruh harta pewaris bila memang
wasiatnya demikian.

101
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

2.8. Baitulmal (kas negara).

Apabila seseorang yang meninggal tidak mempunyai


ahli waris ataupun kerabat --seperti yang saya jelaskan--
maka seluruh harta peninggalannya diserahkan kepada
baitulmal untuk kemaslahatan umum.

3. Bentuk-bentuk Waris
1. Hak waris secara fardh (yang telah ditentukan
bagiannya).
2. Hak waris secara 'ashabah (kedekatan kekerabatan dari
pihak ayah).
3. Hak waris secara tambahan.
4. Hak waris secara pertalian rahim.
Pada bagian berikutnya butir-butir tersebut akan kami
jelaskan secara detail.

***

102
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Bab Kedekapan
Ashhabul-Furudh

1. Definisi Ashhabul Furudh


Ashabul furudh adalah para ahli waris yang nilai
haknya telah ditetapkan secara langsung dan
mendapatkan harta waris terlebih dahulu, sebelum para
ashabah.
Jumlah bagian yang telah ditentukan Al-Qur'an ada
enam macam, yaitu :
 setengah (1/2)
 seperempat (1/4)
 seperdelapan (1/8)
 dua per tiga (2/3)

103
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

 sepertiga (1/3)
 seperenam (1/6).
Kini mari kita kenali pembagiannya secara rinci, siapa
saja ahli waris yang
termasuk ashhabul
furudh dengan bagian
yang berhak ia terima.

2. Mendapat Setengah
(1/2)
Ashhabul furudh yang
berhak mendapatkan
separuh atau sebesar 50% dari total harta yang
diwariskan dari harta waris peninggalan pewaris ada
lima, satu dari golongan laki-laki dan empat lainnya
perempuan. Kelima ashhabul furudh tersebut ialah
 suami
 anak perempuan
 cucu perempuan keturunan anak laki-laki
 saudara kandung perempuan
 saudara perempuan seayah.
Rinciannya seperti berikut:
2.1. Suami
Suami yang ditinggal mati oleh istrinya berhak untuk
mendapatkan separuh (1/2) harta warisan milik istrinya
atau 50 %, dengan syarat apabila istri sebagai pewaris
tidak mempunyai keturunan, baik anak laki-laki maupun
anak perempuan, baik anak keturunan itu dari suami
tersebut ataupun dari suami sebelumnya. Dalilnya adalah
firman Allah:

104
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

‫اج ُك ْم إِن مَّلْ يَ ُكن هَّلُ َّن َولَ ٌد‬ ِ


ُ ‫ف َما َتَر َك أ َْز َو‬
ُ ‫ص‬
ْ ‫َولَ ُك ْم ن‬
"... dan bagi kalian (para suami) mendapat separuh
dari harta yang ditinggalkan istri-istri kalian, bila
mereka (para istri) tidak mempunyai anak ..." (QS.
An-Nisa': 12)
2.2. Anak perempuan (kandung)
Anak perempuan (kandung) mendapat bagian separuh
harta atau sebesar 50 % dari total harta peninggalan
pewaris. Dengan syarat anak perempuan tersebut tidak
mempunyai saudara atau maksudnya dia anak tunggal.
Dalilnya adalah firman Allah:
ِ
‫ف‬
ُ ‫ِّص‬ ْ َ‫َوإِن َكان‬
ْ ‫ت َواح َدةً َفلَ َها الن‬
Dan apabila ia (anak perempuan) hanya seorang, maka
ia mendapat separuh harta warisan yang ada..(QS. An-
Nisa : 11)

Bila kedua persyaratan tersebut tidak ada, maka anak


perempuan pewaris tidak mendapat bagian setengah
2.3. Cucu perempuan keturunan
Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan
mendapat bagian separuh
Cucu perempuan ini juga termasuk yang mendapatkan
1/2 (50%) dari total harta yang diwariskan dengan tiga
syarat:
 Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki (yakni
cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki).

105
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

 Apabila hanya seorang (yakni cucu perempuan dari


keturunan anak laki-laki tersebut sebagai cucu
tunggal).
 Apabila pewaris tidak mempunyai anak perempuan
ataupun anak laki-laki.
Dalilnya sama saja dengan dalil bagian anak
perempuan (sama dengan nomor 2). Sebab cucu
perempuan dari keturunan anak laki-laki sama
kedudukannya dengan anak kandung perempuan bila
anak kandung perempuan tidak ada.
Maka firman-Nya "yushikumullahu fi auladikum",
mencakup anak dan anak laki-laki dari keturunan anak,
dan hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama.
2.4. Saudara Kandung Perempuan
Saudara kandung perempuan akan mendapat bagian
separuh harta warisan dengan tiga syarat:
 Ia tidak mempunyai saudara kandung laki-laki.
 Ia hanya seorang diri (tidak mempunyai saudara
perempuan).
 Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakek, dan tidak
pula mempunyai keturunan, baik keturunan laki-laki
ataupun keturunan perempuan.
Dalilnya adalah firman Allah berikut:

ُ‫س لَهُ َولَ ٌد َولَه‬ َ َ‫ك قُ ِل اللّهُ يُ ْفتِي ُك ْم يِف الْ َكالَلَِة إِ ِن ْامُر ٌؤ َهل‬
َ ‫ك لَْي‬ َ َ‫ْسَت ْفتُون‬
‫ف َما َتَر َك‬ ِ
ُ ‫ص‬ ْ ‫ت َفلَ َها ن‬
ٌ ‫ُخ‬ ْ‫أ‬
"Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah).
Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang
kalalah (yaituj: jika seorang meninggal dunia, dan ia
tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara

106
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan


itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya ...'"
(QS. An-Nisa': 176)  
2.5. Saudara perempuan seayah
Saudara perempuan seayah akan mendapat bagian
separuh dari harta warisan peninggalan pewaris, dengan
empat syarat:
 Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki.
 Apabila ia hanya seorang diri.
 Pewaris tidak mempunyai saudara kandung
perempuan.
 Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakak, dan tidak
pula anak, baik anak laki-laki maupun perempuan.
Dalilnya sama dengan
Butir 4 (an-Nisa': 176), dan
hal ini telah menjadi
kesepakatan ulama.

2. Mendapat Seperempat
(1/4)

Adapun kerabat pewaris yang berhak mendapat


seperempat (1/4) dari harta peninggalannya hanya ada
dua, yaitu suami dan istri. Rinciannya sebagai berikut:

2.1. Suami
Seorang suami berhak mendapat bagian seperempat
(1/4) dari harta peninggalan istrinya dengan satu syarat,
yaitu bila sang istri mempunyai anak atau cucu laki-laki
dari keturunan anak laki-lakinya, baik anak atau cucu

107
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

tersebut dari darah dagingnya ataupun dari suami lain


(sebelumnya). Hal ini berdasarkan firman Allah berikut:

‫الربُ ُع مِم َّا َتَر ْك َن‬


ُّ ‫فَِإن َكا َن هَلُ َّن َولَ ٌد َفلَ ُك ُم‬
"... Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu
mendapat seperempat dari harta yang
ditinggalkannya (QS. An-Nisa': 12)
2.2. Istri
Seorang istri akan mendapat bagian seperempat (1/4)
dari harta peninggalan suaminya dengan satu syarat,
yaitu apabila suami tidak mempunyai anak/cucu, baik
anak tersebut lahir dari rahimnya ataupun dari rahim istri
lainnya. Ketentuan ini berdasarkan firman Allah berikut:
"... Para istri memperoleh seperempat harta yang
kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak ..."
(an-Nisa': 12)
Ada satu hal yang patut diketahui oleh kita
--khususnya para penuntut ilmu-- tentang bagian istri.
Yang dimaksud dengan "istri mendapat seperempat"
adalah bagi seluruh istri yang dinikahi seorang suami
yang meninggal tersebut. Dengan kata lain, sekalipun
seorang suami meninggalkan istri lebih dari satu, maka
mereka tetap mendapat seperempat harta peninggalan
suami mereka.
Hal ini berdasarkan firman Allah di atas, yaitu dengan
digunakannya kata lahunna (dalam bentuk jamak) yang
bermakna 'mereka perempuan'. Jadi, baik suami
meninggalkan seorang istri ataupun empat orang istri,
bagian mereka tetap seperempat dari harta peninggalan.

108
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

3. Mendapat Seperdelapan (1/8)


Dari sederetan ashhabul
furudh yang berhak
memperoleh bagian
seperdelapan (1/8) yaitu istri.
Istri, baik seorang maupun
lebih akan mendapatkan
seperdelapan dari harta
peninggalan suaminya, bila
suami mempunyai anak atau
cucu, baik anak tersebut lahir dari rahimnya atau dari
rahim istri yang lain. Dalilnya adalah firman Allah SWT:

‫وص و َن هِبَا‬ ٍِ ِ ‫مِم‬


ُ ُ‫فَِإن َكا َن لَ ُك ْم َولَ ٌد َفلَ ُه َّن الث ُُّم ُن َّا َتَر ْكتُم ِّمن َب ْع د َوص يَّة ت‬
‫أ َْو َديْ ٍن‬
"... Jika kamu mempunyai anak, maka para istri
memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu
tinggalkan sesudah dipenuh, wasiat yang kamu buat
atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu ..." (QS.
An-Nisa': 12)

4. Mendapat Dua per Tiga (2/3)


Ahli waris yang
berhak mendapat
bagian dua per tiga
(2/3) dari harta

109
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

peninggalan pewaris ada empat, dan semuanya terdiri


dari wanita:
4.1. Dua anak perempuan (kandung)
Dua anak perempuan (kandung) atau lebih itu tidak
mempunyai saudara laki-laki, yakni anak laki-laki dari
pewaris. Dalilnya firman Allah berikut:

‫فَِإن ُك َّن نِ َساء َف ْو َق ا ْثنََتنْي ِ َفلَ ُه َّن ثُلُثَا َما َتَر َك‬
Dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari
dua, maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang
ditinggalkan ..." (QS. An-Nisa': 11)
Ada satu hal penting yang mesti kita ketahui agar
tidak tersesat dalam memahami hukum yang ada dalam
Kitabullah. Makna "fauqa itsnataini" bukanlah 'anak
perempuan lebih dari dua', melainkan 'dua anak
perempuan atau lebih', hal ini merupakan kesepakatan
para ulama.
Mereka bersandar pada hadits Rasulullah saw. yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang
mengisahkan vonis Rasulullah terhadap pengaduan istri
Sa'ad bin ar-Rabi' r.a. --sebagaimana diungkapkan dalam
bab sebelum ini.
Hadits tersebut sangat jelas dan tegas menunjukkan
bahwa makna ayat itsnataini adalah 'dua anak perempuan
atau lebih'. Jadi, orang yang berpendapat bahwa maksud
ayat tersebut adalah "anak perempuan lebih dari dua"
jelas tidak benar dan menyalahi ijma' para ulama.
4.2. Dua orang cucu perempuan

110
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Dua orang cucu perempuan dari keturunan anak laki-


laki, akan mendapat 2/3 dengan persyaratan sebagai
berikut:
 Pewaris tidak mempunyai anak kandung, baik laki-
laki atau perempuan.
 Pewaris tidak mempunyai dua orang anak kandung
perempuan.
 Dua cucu putri tersebut tidak mempunyai saudara
laki-laki.
4. 3. . Dua saudara kandung perempuan
Dua saudara kandung perempuan (atau lebih)
mendapatkan 2/3 dengan persyaratan sebagai berikut:
 Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki
maupun perempuan), juga tidak mempunyai ayah
atau kakek.
 Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) itu
tidak mempunyai saudara laki-laki sebagai 'ashabah.
 Pewaris tidak mempunyai anak perempuan, atau cucu
perempuan dari keturunan anak laki-laki. Dalilnya
adalah firman Allah:
"... tetapi jika saudara perempuan itu dua orang,
maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang
ditinggalkan oleh yang meninggal ..." (an-Nisa': 176)
4.4. Dua saudara perempuan seayah (atau lebih)

Dia mendapat bagian dua per tiga dengan syarat sebagai


berikut:

 Bila pewaris tidak mempunyai anak, ayah, atau


kakek.

111
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

 Kedua saudara perempuan seayah itu tidak


mempunyai saudara laki-laki seayah.
 Pewaris tidak mempunyai anak perempuan atau cucu
perempuan dari keturunan anak laki-laki, atau
saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan).
Persyaratan yang harus dipenuhi bagi dua saudara
perempuan seayah untuk mendapatkan bagian dua per
tiga hampir sama dengan persyaratan dua saudara
kandung perempuan, hanya di sini (saudara seayah)
ditambah dengan keharusan adanya saudara kandung
(baik laki-laki maupun perempuan). Dan dalilnya sama,
yaitu ijma' para ulama bahwa ayat "... tetapi jika saudara
perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua per
tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal ..."
(an-Nisa': 176) mencakup saudara kandung perempuan
dan saudara perempuan seayah. Sedangkan saudara
perempuan seibu tidaklah termasuk dalam pengertian
ayat tersebut. Wallahu
a'lam.

5. Mendapat Sepertiga
(1/3)

Adapun ashhabul
furudh yang berhak
mendapatkan warisan sepertiga bagian hanya dua, yaitu
ibu dan dua saudara (baik laki-laki ataupun perempuan)
yang seibu.

5.1. Ibu
Seorang ibu berhak mendapatkan bagian sepertiga
dengan syarat:

112
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

 Pewaris tidak mempunyai anak atau cucu laki-laki


dari keturunan anak laki-laki.
 Pewaris tidak mempunyai dua orang saudara atau
lebih (laki-laki maupun perempuan), baik saudara itu
sekandung atau seayah ataupun seibu. Dalilnya
adalah firman Allah:

‫ث‬ ُّ ‫فَِإن مَّلْ يَ ُكن لَّهُ َولَ ٌد َو َو ِرثَهُ أ ََب َواهُ فَأل ُِّم ِه‬
ُ ُ‫الثل‬
dan jika orang yang meninggal tidak mempunyai
anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka
ibunya mendapat sepertiga..." (QS. An-Nisa': 11)

Juga firman-Nya:

‫س‬ ُّ ‫فَِإن َكا َن لَهُ إِ ْخ َوةٌ فَأل ُِّم ِه‬


ُ ‫الس ُد‬
Jika yang meninggal itu mempunyai beberapa
saudara, maka ibunya mendapat seperenam..." (QS.
An-Nisa': 11) 

Catatan:

Lafazh ikhwatun bila digunakan dalam faraid (ilmu


tentang waris) tidak berarti harus bermakna 'tiga atau
lebih', sebagaimana makna yang masyhur dalam bahasa
Arab --sebagai bentuk jamak. Namun, lafazh ini
bermakna 'dua atau lebih'.
Sebab dalam bahasa bentuk jamak terkadang
digunakan dengan makna 'dua orang'. Misalnya dalam
istilah shalat jamaah, yang berarti sah dilakukan hanya
oleh dua orang, satu sebagai imam dan satu lagi sebagai
makmum.

113
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Dalil lain yang menunjukkan kebenaran hal ini adalah


firman Allah berikut:
ِ
‫ت ُقلُوبُ ُك َما‬ َ ‫إن َتتُوبَا إِىَل اللَّه َف َق ْد‬
ْ َ‫صغ‬
Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka
sesungguhnya hati kamu berdua telah condong
(untuk menerima kebaikan)(QS. At-Tahrim: 4)

5.2. Saudara laki-laki dan saudara perempuan


Saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu, dua
orang atau lebih, akan mendapat bagian sepertiga dengan
syarat sebagai berikut:
 Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki
ataupun perempuan), juga tidak mempunyai ayah
atau kakak.
 Jumlah saudara yang seibu itu dua orang atau lebih.

Adapun dalilnya adalah firman Allah:

‫اح ٍد‬
ِ ‫َخ أَو أُخت فَلِ ُك ِّل و‬
َ ٌ ْ ْ ٌ ‫ث َكالَلَةً أَو ْام َرأَةٌ َولَهُ أ‬ ُ ‫ور‬ ِ
َ ُ‫َوإن َكا َن َر ُج ٌل ي‬
ِ
‫ث‬ِ ُ‫الثل‬ َ ‫س فَِإن َكانُ َواْ أَ ْكَثَر ِمن ذَل‬
ُّ ‫ك َف ُه ْم ُشَر َكاء يِف‬ ُ ‫الس ُد‬
ُّ ‫ِّمْن ُه َما‬
"... Jika seseorang mati baik laki-laki maupun
perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak
meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang
saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara
perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing
dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi
jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang,

114
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu ..."


(QS. An-Nisa': 12)  

Catatan

Yang dimaksud dengan kalimat "walahu akhun au


ukhtun" dalam ayat tersebut adalah 'saudara seibu'. Sebab
Allah SWT telah menjelaskan hukum yang berkaitan
dengan saudara laki-laki dan saudara perempuan
sekandung dalam akhir surat an-Nisa'. Juga menjelaskan
hukum yang berkaitan dengan bagian saudara laki-laki
dan perempuan seayah dalam ayat yang sama. Karena itu
seluruh ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan
"walahu akhun au ukhtun" dalam ayat itu adalah saudara
laki-laki dan saudara perempuan seibu.
Selain itu, ada hal lain yang perlu kita tekankan di sini
yakni tentang firman "fahum syurakaa 'u fits tsulutsi"
(mereka bersekutu dalam yang sepertiga). Kata bersekutu
menunjukkan kebersamaan. Yakni, mereka harus
membagi sama di antara saudara laki-laki dan perempuan
seibu tanpa membedakan bahwa laki-laki harus
memperoleh bagian yang lebih besar daripada
perempuan. Kesimpulannya, bagian saudara laki-laki dan
perempuan seibu bila telah memenuhi syarat-syarat di
atas ialah sepertiga, dan pembagiannya sama rata baik
yang laki-laki maupun perempuan. Pembagian mereka
berbeda dengan bagian para saudara laki-laki/perempuan
kandung dan seayah, yang dalam hal ini bagian saudara
laki-laki dua kali lipat bagian saudara perempuan.
Masalah 'Umariyyatan
Pada asalnya, seorang ibu akan mendapat bagian
sepertiga dari seluruh harta peninggalan pewaris bila ia

115
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

mewarisi secara bersamaan dengan bapak berdasarkan


pemahaman bagian ayat (artinya) "jika orang yang
meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh
ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga".
Akan tetapi, berkaitan dengan ini ada dua istilah yang
muncul dan dikenal di kalangan fuqaha, yakni
'umariyyatan dan al-gharawaini. Disebut 'umariyyatan
sebab kedua hal ini dilakukan oleh Umar bin Khathab
dan disepakati oleh jumhur sahabat ridhwanullah
'alaihim. Sedangkan al-gharawaini bermakna 'dua bintang
cemerlang', karena kedua istilah ini sangat masyhur.
Dalam kasus ini, ibu hanya diberi sepertiga bagian dari
sisa harta warisan yang ada, setelah sebelumnya
dikurangi bagian suami atau istri. Agar lebih jelas, saya
sertakan contohnya.
Contoh Pertama
Seorang istri wafat dan meninggalkan suami, ibu, dan
ayah. Suami mendapat bagian setengah (1/2) dari seluruh
harta warisan yang ada. Ibu mendapat sepertiga (1/3) dari
sisa setelah diambil bagian suami. Kemudian ayah
mendapat seluruh sisa yang ada. Untuk lebih jelas lagi
saya berikan tabelnya:

Pokok masalahnya dari 6

Keteranga Jumlah Bagian Nila


n i
Suami 1/2 3
Ibu 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian 1
suami
Ayah Seluruh sisa peninggalan sebagai 2
'ashabah

116
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Dalam contoh kasus ini ibu mendapatkan bagian


sepertiga dari sisa setelah diambil bagian suami pewaris,
sebab bila ia memperoleh sepertiga dari seluruh harta
yang ada maka ia akan mendapat bagian dua kali lipat
bagian ayah. Hal ini tentunya bertentangan dengan
kaidah dasar faraid yang telah ditegaskan dalam Al-
Qur'an dalam bagian ayat "lidzdzakari mitslu hazhzhil
untsayain". Karenanya untuk tetap menegakkan kaidah
dasar tersebut, ibu mendapat bagian sepertiga dari harta
warisan setelah diambil hak suami pewaris. Dengan
demikian, hak ayah menjadi dua kali lipat dari bagian
yang diterima ibu.
Contoh Kedua
Seorang suami meninggal dunia dan ia meninggalkan
istri, ibu, dan ayah. Istri mendapat bagian seperempat
(1/4) dari seluruh harta peninggalan suaminya, sedangkan
ibu mendapat bagian tiga per empat dari sisa setelah
diambil hak istri. Sedangkan bagian ayah adalah sisa
harta yang ada sebagai 'ashabah.

Pokok masalahnya dari 4

Keteranga Jumlah Bagian Nila


n i
Isteri 1/4 1
Ibu 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian 1
isteri
Ayah Mendapat bagian seluruh sisa 2
peninggalan yang ada sebagai 'ashabah
Dari kedua contoh tersebut tampak oleh kita bahwa
pada hakikatnya bagian ibu pada tabel pertama adalah
seperenam (1/6), sedangkan pada tabel kedua adalah
seperempat (1/4). Adapun penyebutannya dengan istilah

117
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri


adalah karena menyesuaikan adab qur'ani.
Masalah 'umariyyatan ini pernah terjadi pada masa
sahabat, tepatnya masa Umar bin Khathab r.a.. Dalam
masalah ini terdapat dua pendapat yang terkenal.
Pendapat pertama dintarakan oleh Zaid bin Tsabit r.a.
yang kemudian diambil oleh jumhur ulama serta
dikokohkan oleh Umar bin Khathab dengan menyatakan
bahwa bagian ibu adalah sepertiga dari sisa setelah
diambil hak suami atau istri.
Sedangkan pendapat yang kedua diutarakan oleh Ibnu
Abbas r.a.. Menurutnya, ibu tetap mendapat bagian
sepertiga (1/3) dari seluruh harta yang ditinggalkan suami
atau istri (anaknya). Bahkan Ibnu Abbas menyanggah
pendapat Zaid bin Tsabit: "Apakah memang ada di dalam
Al-Qur'an istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak
suami atau istri?" Zaid menanggapinya dengan
mengatakan: "Di dalam Kitabullah juga tidak disebutkan
bahwa bagian ibu sepertiga dari seluruh harta
peninggalan yang ada bila ibu bersama-sama mewarisi
dengan salah satu suami atau istri. Sebab yang disebutkan
di dalam Al-Qur'an hanya "wawaritsahu abawahu".
Jadi, menurut hemat saya, apa yang dipahami Zaid
dan dipilih oleh jumhur ulama serta ditetapkan oleh
Umar bin Khathab itulah pendapat yang sahih. Wallahu
a'lam.

***

118
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

6. Mendapat
Seperenam (1/6)
Adapun asbhabul
furudh yang berhak mendapat bagian seperenam (1/6)
ada tujuh orang. Mereka adalah :
1. ayah
2. kakek asli (bapak dari ayah)
3. ibu
4. cucu perempuan keturunan anak laki-laki
5. saudara perempuan seayah
6. nenek asli
7. saudara laki-laki dan perempuan seibu.

6.1. Ayah
Seorang ayah akan mendapat bagian seperenam (1/6)
bila pewaris mempunyai anak, baik anak laki-laki atau
anak perempuan.
Dalilnya firman Allah

‫س مِم َّا َتَر َك إِن َكا َن لَهُ َولَ ٌد‬ ُّ ‫اح ٍد ِّمْن ُه َما‬
ُ ‫الس ُد‬
ِ ‫وألَبوي ِه لِ ُك ِّل و‬
َ ْ ََ َ
Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-
masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan,
jika yang meninggal itu mempunyai anak ..." (QS.
An-Nisa': 11)
6.2. Kakek
Seorang kakek (bapak dari ayah) akan mendapat
bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak
laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki dari
keturunan anak, dengan syarat ayah pewaris tidak ada.

119
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Jadi, dalam keadaan demikian salah seorang kakek


akan menduduki kedudukan seorang ayah, kecuali dalam
tiga keadaan yang akan saya rinci dalam bab tersendiri.
6.3. Ibu
Ibu akan memperoleh seperenam (1/6) bagian dari
harta yang ditinggalkan pewaris, dengan dua syarat:
 Bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau
perempuan atau cucu laki-laki keturunan anak laki-
laki.
 Bila pewaris mempunyai dua orang saudara atau
lebih, baik saudara laki-laki ataupun perempuan, baik
sekandung, seayah, ataupun seibu. Dalilnya firman
Allah (artinya):

‫س‬ ُّ ‫فَِإن َكا َن لَهُ إِ ْخ َوةٌ فَأل ُِّم ِه‬


ُ ‫الس ُد‬
Jika yang meninggal itu mempunyai beberapa
saudara, maka ibunya mendapat seperenam (QS.
An-Nisa': 11).

6. 4. Cucu perempuan
Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seorang
atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6),
apabila yang meninggal (pewaris) mempunyai satu anak
perempuan. Dalam keadaan demikian, anak perempuan
tersebut mendapat bagian setengah (1/2), dan cucu
perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris
mendapat seperenam (1/6), sebagai pelengkap dua per
tiga (2/3).
Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Imam
Bukhari dalam sahihnya bahwa Abu Musa al-Asy'ari r.a.

120
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

ditanya tentang masalah warisan seseorang yang


meninggalkan seorang anak perempuan, cucu perempuan
dari keturunan anak laki-lakinya, dan saudara
perempuan. Abu Musa kemudian menjawab:
"Bagi anak perempuan mendapat bagian separuh
(1/2), dan yang setengah sisanya menjadi bagian
saudara perempuan."
Merasa kurang puas dengan jawaban Abu Musa, sang
penanya pergi mendatangi Ibnu Mas'ud. Maka Ibnu
Mas'ud berkata: "Aku akan memutuskan seperti apa yang
pernah diputuskan Rasulullah saw., bagi anak perempuan
separuh (1/2) harta peninggalan pewaris, dan bagi cucu
perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat
bagian seperenam (1/6) sebagai pelengkap 2/3, dan
sisanya menjadi bagian saudara perempuan pewaris."
Mendengar jawaban Ibnu Mas'ud, sang penanya
kembali menemui Abu Musa al-Asy'ari dan memberi
tahu permasalahannya. Kemudian Abu Musa berkata:
"Janganlah sekali-kali kalian menanyaiku selama
sang alim ada di tengah-tengah kalian."
Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan
mendapatkan bagian seperenam (1/6) dengan syarat bila
pewaris tidak mempunyai anak laki-laki. Sebab bila ada
anak laki-laki, maka anak tersebut menjadi penggugur
hak sang cucu.
Selain itu, pewaris juga tidak mempunyai anak
perempuan lebih dari satu orang. Sebab jika lebih dari
satu orang, anak-anak perempuan itu berhak mendapat
bagian dua per tiga (2/3), dan sekaligus menjadi

121
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

penggugur (penghalang) hak waris cucu perempuan dari


keturunan anak laki-laki pewaris.
6. 5. Saudara perempuan
Saudara perempuan seayah satu orang atau lebihakan
mendapat bagian seperenam (1/6), apabila pewaris
mempunyai seorang saudara kandung perempuan. Hal ini
hukumnya sama denga keadaan jika cucu perempuan
keturunan anak laki-laki bersamaan dengan adanya anak
perempuan.
Jadi, bila seseorang meninggal dunia dan
meninggalkan saudara perempuan sekandung dan
saudara perempuan seayah atau lebih, maka saudara
perempuan seayah mendapat bagian seperenam (1/6)
sebagai penyempurna dari dua per tiga (2/3). Sebab
ketika saudara perempuan kandung memperoleh setengah
(1/2) bagian, maka tidak ada sisa kecuali seperenam (1/6)
yang memang merupakan hak saudara perempuan
seayah.6. Saudara laki-laki atau perempuan seibu
Dia akan mendapat bagian masing-masing seperenam
(1/6) bila mewarisi sendirian.
Dalilnya adalah firman Allah :

‫اح ٍد‬
ِ ‫َخ أَو أُخت فَلِ ُك ِّل و‬
َ ٌ ْ ْ ٌ ‫ث َكالَلَةً أَو ْام َرأَةٌ َولَهُ أ‬
ُ ‫ور‬ ِ
َ ُ‫َوإن َكا َن َر ُج ٌل ي‬
‫س‬
ُ ‫الس ُد‬
ُّ ‫ِّمْن ُه َما‬
Jika seseorang mati baik laki-laki maupun
perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak
meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang
saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara
perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing

122
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. (QS.


An-Nisa' : 12)
Dan persyaratannya adalah bila pewaris tidak
mempunyai pokok (yakni kakek) dan tidak pula cabang
(yakni anak, baik laki-laki atau perempuan).
6.6. Nenek asli
Nenek asli mendapatkan bagian seperenam (1/6)
ketika pewaris tidak lagi mempunyai ibu. Ketentuan
demikian baik nenek itu hanya satu ataupun lebih (dari
jalur ayah maupun ibu), yang jelas seperenam itu
dibagikan secara rata kepada mereka. Hal ini
berlandaskan pada apa yang telah ditetapkan di dalam
hadits sahih dan ijma' seluruh sahabat.
Ashhabus Sunan meriwayatkan bahwa seorang nenek
datang kepada Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. untuk
menuntut hak warisnya. Abu Bakar menjawab:
"Saya tidak mendapati hakmu dalam Al-Qur'an maka
pulanglah dulu, dan tunggulah hingga aku
menanyakannya kepada para sahabat Rasulullah
saw."
Kemudian al-Mughirah bin Syu'bah mengatakan
kepada Abu Bakar:
"Suatu ketika aku pernah menjumpai Rasulullah saw.
memberikan hak seorang nenek seperenam (1/6)."
Mendengar pernyataan al-Mughirah itu Abu Bakar
kemudian memanggil nenek tadi dan memberinya
seperenam (1/6).

123
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Bab Kesembilan
Ahli Waris 'Ashabah

1. Pengertian
Kata 'ashabab dalam bahasa Arab berarti kerabat
seseorang dari pihak bapak. Disebut demikian,
dikarenakan mereka --yakni kerabat bapak-- menguatkan
dan melindungi.
Dalam kalimat bahasa Arab banyak digunakan kata
'ushbah sebagai ungkapan bagi kelompok yang kuat.
Demikian juga di dalam Al-Qur'an, kata ini sering kali
digunakan, di antaranya dalam firman Allah berikut:
ِ َ‫الذئْب وحَنْن عصبةٌ إِنَّا إِذًا خَّل‬ ِ
‫اسُرو َن‬ َ ْ ُ ُ َ ُ ِّ ُ‫قَالُواْ لَئ ْن أَ َكلَه‬

125
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

"Mereka berkata: 'Jika ia benar-benar dimakan


serigala, sedang kami golongan (yang kuat),
sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-
orang yang merugi.'" (QS. Yusuf: 14)
Maka jika dalam faraid kerabat diistilahkan dengan
'ashabah hal ini disebabkan mereka melindungi dan
menguatkan. Inilah pengertian 'ashabah dari segi bahasa.
Sedangkan pengertian 'ashabah menurut istilah para
fuqaha ialah : ahli waris yang tidak disebutkan
banyaknya bagiannya dengan tegas.
Sebagai contoh, anak laki-laki, cucu laki-laki
keturunan anak laki-laki, saudara kandung laki-laki dan
saudara laki-laki seayah, dan paman (saudara kandung
ayah). Kekerabatan mereka sangat kuat dikarenakan
berasal dari pihak ayah.
Pengertian 'ashabah yang sangat masyhur di kalangan
ulama faraid ialah orang yang menguasai harta waris
karena ia menjadi ahli waris tunggal. Selain itu, ia juga
menerima seluruh sisa harta warisan setelah ashhabul
furudh menerima dan mengambil bagian masing-masing.

2. Dalil Hak Waris Para 'Ashabah


Dalil yang menyatakan bahwa para 'ashabah berhak
mendapatkan waris kita dapati di dalam Al-Qur'an dan
As-Sunnah. Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah :
‫اح ٍد ِّمنهما الس د مِم‬ ِ ‫وألَبوي ِه لِ ُك ِّل و‬
ْ‫س َّا َت َر َك إِن َك ا َن لَ هُ َولَ ٌد فَ ِإن مَّل‬ ُ ُ ُّ َ ُ ْ َ ْ ََ َ
‫ث‬ ُّ ‫يَ ُكن لَّهُ َولَ ٌد َو َو ِرثَهُ أ ََب َواهُ فَأل ُِّم ِه‬
ُ ُ‫الثل‬

126
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-


masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan,
jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang
yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia
diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya
mendapat sepertiga" (an-Nisa': 11).
Dalam ayat ini disebutkan bahwa bagian kedua orang
tua (ibu dan bapak) masing-masing mendapatkan
seperenam (1/6) apabila pewaris mempunyai keturunan.
Tetapi bila pewaris tidak mempunyai anak, maka seluruh
harta peninggalannya menjadi milik kedua orang tua.
Ayat tersebut juga telah menegaskan bahwa bila
pewaris tidak mempunyai anak, maka ibu mendapat
bagian sepertiga (1/3). Namun, ayat tersebut tidak
menjelaskan berapa bagian ayah.
Dari sini dapat kita pahami bahwa sisa setelah diambil
bagian ibu, dua per tiganya (2/3) menjadi hak ayah.
Dengan demikian, penerimaan ayah disebabkan ia
sebagai 'ashabah.
Dalil Al-Qur'an yang lainnya ialah :

‫ف َما َتَر َك َو ُه َو يَِرثُ َهآ‬ ِ َ َ‫إِ ِن ْامُر ٌؤ َهل‬


ُ ‫ص‬
ْ ‫ت َفلَ َها ن‬
ٌ ‫ُخ‬
ْ ‫س لَهُ َولَ ٌد َولَهُ أ‬
َ ‫ك لَْي‬
‫إِن مَّلْ يَ ُكن هَّلَا َولَ ٌد‬
Jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak
mempunyai anak dan mempunyai saudara
perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan
itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan
saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh
harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai
anak. (QS. An-Nisa': 176).

127
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Pada ayat ini tidak disebutkan bagian saudara


kandung. Namun, yang disebutkan justru saudara
kandung akan menguasai (mendapatkan bagian) seluruh
harta peninggalan yang ada bila ternyata pewaris tidak
mempunyai keturunan.
Kemudian, makna kalimat "wahuwa yaritsuha"
memberi isyarat bahwa seluruh harta peninggalan
menjadi haknya. Inilah makna 'ashabah.
Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah apa yang
disabdakan Rasulullah saw.:

‫ض ِبَأْهِل َه ا َف َم ا‬
َ ‫الف َرِائ‬
َ ‫حقُ وا‬ ِ ‫ول‬
ِ ‫ َأْل‬ ‫اهلل‬ ٍ ‫َع ِن ْابِن َعَّب‬
ُ ‫ قَ َال قَ َال َر ُس‬ ‫اس‬
.‫ألْوَلى َرُجٍل َذَكر‬ََِ ‫َبقَِي َف‬
"Bagikanlah harta peninggalan (warisan) kepada
yang berhak, dan apa yang tersisa menjadi hak laki-
laki yang paling utama. " (HR Bukhari)
Hadits ini menunjukkan perintah Rasulullah saw. agar
memberikan hak waris kepada ahlinya. Maka jika masih
tersisa, hendaklah diberikan kepada orang laki-laki yang
paling utama dari 'ashabah.
Ada satu keistimewaan dalam hadits ini menyangkut
kata yang digunakan Rasulullah dengan menyebut
"dzakar" setelah kata "rajul", sedangkan kata "rajul" jelas
menunjukkan makna seorang laki-laki.
Hal ini dimaksudkan untuk menghindari salah paham,
jangan sampai menafsirkan kata ini hanya untuk orang
dewasa dan cukup umur. Sebab, bayi laki-laki pun
berhak mendapatkan warisan sebagai 'ashabah dan
menguasai seluruh harta warisan yang ada jika dia

128
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

sendirian. Inilah rahasia makna sabda Rasulullah saw.


dalam hal penggunaan kata "dzakar".

3. Macam-macam 'Ashabah
'Ashabah terbagi dua yaitu: 'ashabah nasabiyah
(karena nasab) dan 'ashabah sababiyah (karena sebab).
Jenis 'ashabah yang kedua ini disebabkan memerdekakan
budak. Oleh sebab
itu, Catatan seorang
tuan Dalam dunia faraid, apabila (pemilik
budak) lafazh 'ashabah disebutkan tanpa dapat
diikuti kata lainnya (tanpa
menjadi ahli waris
dibarengi bil ghair atau ma'al
bekas ghair), maka yang dimaksud budak yang
adalah 'ashabah bin nafs.
dimerdekakannya apabila budak tersebut tidak
mempunyai keturunan.
Sedangkan 'ashabah nasabiyah terbagi tiga yaitu:
 'ashabah bin nafs (nasabnya tidak tercampur unsur
wanita),
 'ashabah bil ghair (menjadi 'ashabah karena yang
lain)
 'ashabah ma'al ghair (menjadi 'ashabah bersama-sama
dengan yang lain).
3.1. 'Ashabah bin nafs

'Ashabah bin nafs, yaitu laki-laki yang nasabnya kepada


pewaris tidak tercampuri kaum wanita, mempunyai
empat arah, yaitu:

129
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

1. Arah anak, mencakup seluruh laki-laki keturunan anak


laki-laki mulai cucu, cicit, dan seterusnya.

2. Arah bapak, mencakup ayah, kakek, dan seterusnya,


yang pasti hanya dari pihak laki-laki, misalnya ayah dari
bapak, ayah dari kakak, dan seterusnya.

3. Arah saudara laki-laki, mencakup saudara kandung


laki-laki, saudara laki-laki seayah, anak laki-laki
keturunan saudara kandung laki-laki, anak laki-laki
keturunan saudara laki-laki seayah, dan seterusnya. Arah
ini hanya terbatas pada saudara kandung laki-laki dan
yang seayah, termasuk keturunan mereka, namun hanya
yang laki-laki. Adapun saudara laki-laki yang seibu tidak
termasuk 'ashabah disebabkan mereka termasuk ashhabul
furudh.

4. Arah paman, mencakup paman (saudara laki-laki ayah)


kandung maupun yang seayah, termasuk keturunan
mereka, dan seterusnya.

Keempat arah 'ashabah bin nafs tersebut kekuatannya


sesuai urutan di atas. Arah anak lebih didahulukan (lebih
kuat) daripada arah ayah, dan arah ayah lebih kuat
daripada arah saudara.
Hukum 'Ashabah bin nafs
Telah saya jelaskan bahwa 'ashabah bi nafsihi
mempunyai empat arah, dan derajat kekuatan hak
warisnya sesuai urutannya. Bila salah satunya secara
tunggal (sendirian) menjadi ahli waris seorang yang
meninggal dunia, maka ia berhak mengambil seluruh
warisan yang ada. Namun bila ternyata pewaris

130
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh, maka


sebagai 'ashabah mendapat sisa harta setelah dibagikan
kepada ashhabul furudh. Dan bila setelah dibagikan
kepada ashhabul furudh ternyata tidak ada sisanya, maka
para 'ashabah pun tidak mendapat bagian. Sebagai misal,
seorang istri wafat dan meninggalkan suami, saudara
kandung perempuan, saudara laki-laki seayah.
Sang suami mendapat bagian setengah (1/2), saudara
perempuan mendapat bagian setengah (1/2). Saudara
seayah tidak mendapat bagian disebabkan ashhabul
furudh telah menghabiskannya.
Adapun bila para 'ashabah bin nafs lebih dari satu
orang, maka cara pentarjihannya (pengunggulannya)
sebagai berikut:

Pertama: Pertarjihan dari Segi Arah

Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris


terdapat beberapa 'ashabah bin nafsih, maka
pengunggulannya dilihat dari segi arah. Arah anak lebih
didahulukan dibandingkan yang lain. Anak akan
mengambil seluruh harta peninggalan yang ada, atau
akan menerima sisa harta waris setelah dibagikan kepada
ashhabul furudh bagian masing-masing.
Apabila anak tidak ada, maka cucu laki-laki dari
keturunan anak laki-laki dan seterusnya. Sebab cucu akan
menduduki posisi anak bila anak tidak ada. Misalnya,
seseorang wafat dan meninggalkan anak laki-laki, ayah,
dan saudara kandung. Dalam keadaan demikian, yang
menjadi 'ashabah adalah anak laki-laki. Sebab arah anak
lebih didahulukan daripada arah yang lain. Sedangkan

131
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

ayah termasuk ashhabul furudh dikarenakan mewarisi


bersama-sama dengan anak laki-laki.
Sementara itu, saudara kandung laki-laki tidak
mendapatkan waris dikarenakan arahnya lebih jauh.
Pengecualiannya, bila antara saudara kandung laki-laki
maupun saudara laki-laki seayah berhadapan dengan
kakak. Rinciannya, insya Allah akan saya paparkan pada
bab tersendiri.

Kedua: Pentarjihan secara Derajat

Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris


terdapat beberapa orang 'ashabah bi nafsihi, kemudian
mereka pun dalam satu arah, maka pentarjihannya
dengan melihat derajat mereka, siapakah di antara
mereka yang paling dekat derajatnya kepada pewaris.
Sebagai misal, seseorang wafat dan meninggalkan
anak serta cucu keturunan anak laki-laki. Dalam hal ini
hak warisnya secara 'ashabah diberikan kepada anak,
sedangkan cucu tidak mendapatkan bagian apa pun.
Sebab, anak lebih dekat kepada pewaris dibandingkan
cucu laki-laki.
Contoh lain, bila seseorang wafat dan meninggalkan
saudara laki-laki seayah dan anak dari saudara kandung,
maka saudara seayahlah yang mendapat warisan. Sebab
ia lebih dekat kedudukannya dari pada anak saudara
kandung. Keadaan seperti ini disebut pentarjihan menurut
derajat kedekatannya dengan pewaris.

Ketiga: Pentarjihan Menurut Kuatnya Kekerabatan

132
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Bila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat


banyak 'ashabah bi nafsihi yang sama dalam arah dan
derajatnya, maka pentarjihannya dengan melihat
manakah di antara mereka yang paling kuat
kekerabatannya dengan pewaris.
Sebagai contoh, saudara kandung lebih kuat daripada
seayah, paman kandung lebih kuat daripada paman
seayah, anak dari saudara kandung lebih kuat daripada
anak dari saudara seayah, dan seterusnya.

Catatan

Perlu untuk digarisbawahi dalam hal pentarjihan dari


segi kuatnya kekerabatan di sini, bahwa kaidah tersebut
hanya dipakai untuk selain dua arah, yakni arah anak dan
arah bapak.
Artinya, pentarjihan menurut kuatnya kekerabatan
hanya digunakan untuk arah saudara dan arah paman.
Mengapa Anak Lebih Didahulukan daripada Bapak?
Satu pertanyaan yang sangat wajar dan mesti
diketahui jawaban serta hikmah di dalamnya. Sebab,
keduanya memiliki posisi sederajat dari segi kedekatan
nasab pada seseorang, ayah sebagai pokok dan anak
merupakan cabang. Berdasarkan posisi ini sebaiknya
garis anak tidak didahulukan daripada garis ayah.
Namun demikian, ada dua landasan mengapa garis
anak lebih didahulukan. Landasan pertama berupa dalil
Al-Qur'an, sedangkan yang kedua berupa dalil aqli.
Firman Allah :

‫س مِم َّا َتَر َك إِن َكا َن لَهُ َولَ ٌد‬ ُّ ‫اح ٍد ِّمْن ُه َما‬
ُ ‫الس ُد‬
ِ ‫وألَبوي ِه لِ ُك ِّل و‬
َ ْ ََ َ
133
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-


masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan,
jika yang meninggal itu mempunyai anak." (QS. An-
Nisa: 11).
Dalam ayat tersebut Allah SWT menjadikan ayah
sebagai ashhabul furudh bila pewaris mempunyai anak,
sedangkan bagian anak tidak disebutkan.
Dengan demikian, jelaslah bahwa anak akan
mendapatkan seluruh sisa harta peninggalan pewaris,
setelah masing-masing dari ashhabul furudh telah
mendapatkan bagiannya. Hal ini sekaligus menunjukkan
bahwa garis anak lebih didahulukan daripada garis
bapak.
Sedangkan secara aqli, manusia pada umumnya
merasa khawatir terhadap anak (keturunannya), baik
dalam hal keselamatannya maupun kehidupan masa
depannya. Oleh sebab itu, orang tua berusaha bekerja
keras untuk memperoleh harta dan berhemat dalam
membelanjakannya, semuanya demi kesejahteraan
keturunannya.
Bahkan, tidak sedikit orang tua yang bersikap bakhil,
sangat kikir dalam membelanjakan hartanya, demi
kepentingan masa depan anaknya. Maka sangat tepat apa
yang disabdakan Rasulullah saw. dalam sebuah haditsnya
"al-waladu mabkhalah majbanah" (anak dapat membuat
seseorang berlaku bakhil dan pengecut).
Makna hadits tersebut sangat jelas bahwa orang tua
menjadi kikir --bahkan pengecut-- karena sangat
khawatir terhadap masa depan anaknya. Karena itu
mereka tidak segan-segan menimbun harta dan kekayaan
demi menyenangkan keturunan pada masa mendatang.

134
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Tidak sedikit orang tua yang menjadi pengecut hanya


disebabkan menjaga kemaslahatan keturunannya pada
hari depannya.
Dengan demikian, mereka takut berhadapan dengan
musuh atau siapa pun yang mengganggu kemudahan
jalan rezekinya. Inilah alasan bahwa hati seseorang
cenderung lebih dekat kepada anaknya dibandingkan
kepada ayahnya. Wallahu a'lam.

Catatan

Satu hal yang mesti kita ketahui bahwa 'ashabah bi


nafsihi harus dari kalangan laki-laki, sedangkan dari
kalangan wanita hanyalah wanita pemerdeka budak. Jika
demikian berarti wanita tersebut sebagai 'ashabah bi
nafsihi, bila budak yang dibebaskannya tidak mempunyai
keturunan (kerabat).
3.2. 'Ashabah bi Ghairihi dan Hukumnya
'Ashabah bi ghairihi hanya terbatas pada empat orang
ahli waris yang kesemuanya wanita:
1. Anak perempuan, akan menjadi 'ashabah bila
bersamaan dengan saudara laki-lakinya (yakni anak laki-
laki).
2. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan
menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara laki-
lakinya, atau anak laki-laki pamannya (yakni cucu laki-
laki keturunan anak laki-laki), baik sederajat dengannya
atau bahkan lebih di bawahnya.
3. Saudara kandung perempuan akan menjadi 'ashabah
bila bersama saudara kandung laki-laki.

135
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

4. Saudara perempuan seayah akan menjadi 'ashabah


bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya, dan
pembagiannya, bagian laki-laki dua kali lipat bagian
perempuan.
Syarat-syarat 'Ashabah bi Ghairihi

'Ashabah bi Ghairihi tidak akan terwujud kecuali dengan


beberapa persyaratan berikut:

Pertama: haruslah wanita yang tergolong ashhabul


furudh. Bila wanita tersebut bukan dari ashhabul furudh,
maka tidak akan menjadi 'ashabah bi ghairih. Sebagai
contoh, anak perempuan dari saudara laki-laki tidak
dapat menjadi 'ashabah bi ghairih dengan adanya saudara
kandung laki-laki dalam deretan ahli waris. Sebab dalam
keadaan demikian, anak perempuan saudara laki-laki
bukanlah termasuk ashhabul furudh.
Kedua: laki-laki yang menjadi 'ashabah (penguat)
harus yang sederajat. Misalnya, anak laki-laki tidak dapat
menjadi pen-ta'shih (penguat) cucu perempuan,
dikarenakan anak laki-laki tidak sederajat dengan cucu
perempuan, bahkan ia berfungsi sebagai pen-tahjib
(penghalang) hak waris cucu. Begitu juga anak laki-laki
keturunan saudara laki-laki, tidaklah dapat menguatkan
saudara kandung perempuan disebabkan tidak sederajat.
Ketiga: laki-laki yang menjadi penguat harus sama
kuat dengan ahli waris perempuan shahibul fardh.
Misalnya, saudara laki-laki seayah tidak dapat men-
ta'shih saudara kandung perempuan. Sebab saudara
kandung perempuan lebih kuat kekerabatannya daripada
saudara laki-laki seayah.

136
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Catatan

Setiap perempuan ahli waris berhak mendapat bagian


setengah (1/2) jika sendirian, ia berhak mendapatkan
bagian dua per tiga (2/3) bila menerima bersama saudara
perempuannya, dan akan menjadi 'ashabah bila
mempunyai saudara laki-laki.
Kaidah ini hanya berlaku bagi keempat ahli waris dari
kalangan wanita yang saya sebutkan (yakni anak
perempuan, cucu perempuan keturunan anak laki-laki,
saudara kandung perempuan, dan saudara perempuan
seayah).
Dalil Hak Waris 'Ashabah bi Ghairihi
Dalil bagi hak waris para 'ashabah bi ghairih adalah
firman Allah (artinya):
Bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua
orang anak perempuan" (QS. An-Nisa': 11)
Dan juga berlandaskan dalil :
dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara
laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang
saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang
saudara perempuan" (QS. An-Nisa': 176)
Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan
"ikhwatan" dalam ayat tersebut adalah saudara laki-laki
dan saudara kandung perempuan dan yang seayah.
Mereka berpendapat bahwa kata ikhwatan tidak
mencakup saudara laki-laki atau perempuan yang seibu,
disebabkan hak waris mereka berdasarkan fardh
(termasuk ashhabul furudh) bukan sebagai 'ashabah.

137
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Selain itu, hak waris mereka pun antara laki-laki dan


perempuan-- sama rata, berdasarkan ayat :
"maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu"
(QS. An-Nisa': 12).
Sebab Penamaan 'Ashabah bi Ghairihi
Adapun sebab penamaan 'ashabah bi ghairihi adalah
karena hak 'ashabah keempat wanita itu bukanlah karena
kedekatan kekerabatan mereka dengan pewaris, akan
tetapi karena adanya 'ashabah lain ('ashabah bi nafsihi),
seperti saudara kandung laki-laki ataupun saudara laki-
laki seayah mereka.
Bila para 'ashabah bi nafsihi itu tidak ada, maka
keempat wanita tersebut mendapat hak warisnya secara
fardh.
3.3.'Ashabah ma'al Ghair
'Ashabah ma'al Ghair ini khusus bagi para saudara
kandung perempuan maupun saudara perempuan seayah
apabila mewarisi bersamaan dengan anak perempuan
yang tidak mempunyai saudara laki-laki. Jadi, saudara
kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah
bila berbarengan dengan anak perempuan --atau cucu
perempuan keturunan anak laki-laki dan seterusnya--
akan menjadi 'ashabah. Jenis 'ashabah ini di kalangan
ulama dikenal dengan istilah 'ashabah ma'al ghair.
Satu hal yang perlu diketahui dalam masalah ini,
seperti yang ditegaskan dalam kitab Hasyiyatul Bajuri
(hlm. 108): "Adapun saudara perempuan (kandung dan
seayah) menjadi 'ashabah jika berbarengan dengan anak
perempuan adalah agar bagian saudara perempuan
terkena pengurangan, sedangkan bagian anak perempuan
tidak terkena pengurangan. Sebab bila kita berikan hak

138
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

waris saudara perempuan secara fardh, maka akan


naiklah pokok pembagiannya dan hak bagian anak
perempuan akan berkurang. Kemudian, di segi lain
tidaklah mungkin hak saudara perempuan itu digugurkan,
karena itu dijadikanlah saudara kandung perempuan dan
saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah agar terkena
pengurangan."
Dalil 'Ashabah ma'al Ghair
Yang menjadi landasan bagi hak waris 'ashabah ma'al
ghair adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam
Bukhari dan lainnya, bahwa Abu Musa al-Asy'ari ditanya
tentang hak waris anak perempuan, cucu perempuan
keturunan anak laki-laki, dan saudara perempuan
(sekandung atau seayah). Abu Musa menjawab: "Bagian
anak perempuan separuh, dan bagian saudara perempuan
separuh."
Penanya itu lalu pergi menanyakannya kepada Ibnu
Mas'ud r.a., dan dijawab: "Aku akan memvonis seperti
apa yang diajarkan Rasulullah saw., bagian anak
perempuan setengah (1/2) dan bagian cucu perempuan
keturunan anak laki-laki seperenam (1/6) sebagai
penyempurna dua per tiga (2/3), sedangkan sisanya
menjadi hak saudara perempuan kandung atau seayah."
Penanya itu pun kembali kepada Abu Musa al-Asy'ari
dan menceritakan apa yang telah diputuskan Ibnu
Mas'ud. Lalu Abu Musa berkata: "Janganlah kalian
menanyakannya kepadaku selama sang alim (Ibnu
Mas'ud) berada bersama kalian."
Dari penjelasan Ibnu Mas'ud dapat disimpulkan bahwa
hak saudara perempuan bila mewarisi bersama-sama
dengan anak perempuan mengambil sisa harta pembagian

139
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

yang ada. Hal ini berarti saudara kandung perempuan


atau saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al
ghair.

Catatan

Sangat penting untuk diketahui bersama bahwa bila


seorang saudara kandung perempuan menjadi 'ashabah
ma'al ghair, maka ia menjadi seperti saudara kandung
laki-laki sehingga dapat menghalangi hak waris saudara
seayah, baik yang laki-laki maupun yang perempuan.
Selain itu, dapat pula menggugurkan hak waris yang di
bawah mereka, seperti anak keturunan saudara
(keponakan), paman kandung ataupun yang seayah.
Begitu juga saudara perempuan seayah, apabila
menjadi 'ashabah ma'al ghair ketika mewarisi bersama
anak perempuan pewaris, maka kekuatannya sama seperti
saudara laki-laki seayah hingga menjadi penggugur
keturunan saudaranya dan seterusnya.

Untuk lebih menjelaskan masalah tersebut saya sertakan


contoh seperti berikut:

Contoh Pertama

Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan anak


perempuan, saudara perempuan, dan saudara laki-laki
seayah, maka pembagiannya adalah sebagai berikut:

Pokok masalahnya dari 2

Keterangan Jumlah Nilai


Bagian

140
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Anak perempuan 1/2 1


Saudara kandung perempuan 'ashabah ma'al 1/2 1
ghair
Saudara laki-laki seayah gugur 0

Keterangan

Bagian anak perempuan adalah setengah secara fardh,


dan sisanya merupakan bagian saudara kandung
perempuan disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair,
yang kekuatannya seperti saudara kandung laki-laki.
Sedangkan saudara laki-laki seayah terhalang karena
saudara kandung perempuan menjadi 'ashabah.

Contoh Kedua

Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan


suami, cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki,
dua orang saudara kandung perempuan, dan saudara laki-
laki seayah. Maka pembagiannya seperti dalam tabel
berikut:

Pokok masalahnya dari 4

Keterangan Jumlah Bagian Nilai


Suami 1/4 1
Cucu perempuan 1/2 2
Saudara kandung 'ashabah ma'al 1
perempuan ghair
Saudara laki-laki seayah mahjub 0

Keterangan

141
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Suami memperoleh seperempat bagian karena pewaris


mempunyai cabang ahli warisnya. Sedangkan cucu
perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian
setengah secara fardh, kemudian sisanya yaitu
seperempat-- menjadi hak dua saudara kandung
perempuan pewaris sebagai 'ashabah ma'al ghair.
Sedangkan bagian saudara laki-laki seayah gugur karena
adanya dua saudara kandung.

Contoh Ketiga

Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan dua orang


anak perempuan, saudara perempuan seayah, dan anak
laki-laki saudara laki-laki (kemenakan). Pembagiannya
seperti berikut:

Pokok masalahnya dari 3

Keterangan Jumlah Bagian Nilai


Dua anak perempuan 2/3 2
Saudara perempuan 'ashabah ma'al 1
seayah ghair
Anak saudara laki-laki mahjub 0

Keterangan

Dua orang anak perempuan mendapatkan dua per tiga


dan sisanya untuk saudara perempuan seayah disebabkan
ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. Sedangkan anak saudara
laki-laki ter-mahjub oleh saudara perempuan seayah.

Contoh Keempat

142
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang


anak perempuan, cucu perempuan keturunan anak laki-
laki, seorang ibu, saudara perempuan seayah, dan paman
kandung (saudara dari ayah kandung). Maka
pembagiannya seperti berikut:

Pokok masalahnya dari 6

Keterangan Jumlah Bagian Nilai


Anak perempuan 1/2 3
Cucu perempuan 1/6 1
Ibu 1/6 1
Saudara perempuan 'ashabah ma'al 1
seayah ghair

Keterangan

Anak perempuan mendapat bagian setengah sebagai


fardh, cucu perempuan keturunan anak laki-laki
mendapat seperenam bagian sebagai penyempurna dua
per tiga, dan ibu mendapatkan seperenam. Sedangkan
sisanya untuk saudara perempuan seayah sebagai
'ashabah ma'al ghair, karena kekuatannya seperti saudara
laki-laki seayah sehingga ia menggugurkan paman
kandung. Begitulah seterusnya.

Catatan

Saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu tidak


berhak menjadi ahli waris bila pewaris mempunyai anak
perempuan. Bahkan anak perempuan pewaris menjadi
penggugur hak saudara (laki-laki/perempuan) seibu
sehingga tidak dapat menjadi 'ashabah.

143
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

4. Perbedaan 'Ashabah bil Ghair dengan 'Ashabah


ma'al Ghair

Dari uraian sebelumnya dapat kita ketahui bahwa


'ashabah bil ghair adalah setiap wanita ahli waris yang
termasuk ashhabul furudh, dan akan menjadi 'ashabah
bila berbarengan dengan saudara laki-lakinya. Misalnya,
anak perempuan menjadi 'ashabah bila bersama saudara
laki-lakinya (yakni anak laki-laki pewaris). Saudara
kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah
menjadi 'ashabah bil ghair dengan adanya saudara
kandung laki-laki ataupun saudara laki-laki seayah.
Dalam hal ini bagi yang laki-laki mendapat dua kali lipat
bagian perempuan.

Adapun 'ashabah ma'al ghair adalah para saudara


kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah
bila berbarengan dengan anak perempuan, dan dalam hal
ini mereka mendapatkan bagian sisa seluruh harta
peninggalan sesudah ashhabul furudh mengambil bagian
masing-masing. Tampak semakin jelas perbedaan antara
dua macam 'ashabah itu, pada 'ashabah bil ghair selalu
ada sosok 'ashabah bi nafsih, seperti anak laki-laki, cucu
laki-laki keturunan anak laki-laki, saudara kandung laki-
laki dan saudara laki-laki seayah. Sedangkan dalam
'ashabah ma'al ghair tidak terdapat sosok 'ashabah bi
nafsih.

Jadi, secara ringkas, pada 'ashabah bil ghair para 'ashabah


bi nafsih menggandeng kaum wanita ashhabul furudh
menjadi 'ashabah dan menggugurkan hak fardh-nya.

144
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Sedangkan 'ashabah ma'al ghair tidaklah demikian.


Seorang saudara perempuan sekandung atau seayah tidak
menerima bagian seperti bagian anak perempuan atau
cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Akan
tetapi, anak perempuan atau cucu perempuan keturunan
anak laki-laki mendapat bagian secara fardh, kemudian
saudara perempuan sekandung atau seayah mendapatkan
sisanya. Inilah perbedaan keduanya.

Dapatkah Seseorang Mewarisi dari Dua Arah?

Kita mungkin sering mendengar pertanyaan seperti itu,


dan tentu saja hal ini memerlukan jawaban. Maka dapat
ditegaskan bahwa seseorang bisa saja mendapatkan
warisan dari dua arah yang berlainan, misalnya ia sebagai
ashhabul furudh dan juga sebagai 'ashabah, atau satu dari
arah fardh dan yang kedua dari arah karena rahim. Agar
persoalan ini lebih jelas, saya sertakan contoh:

Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang


nenek, saudara laki-laki seibu, dan seorang suami, yang
juga merupakan anak paman kandung pewaris. Maka
pembagiannya sebagai berikut: Untuk nenek seperenam
(1/6), saudara laki-laki seibu seperenam (1/6), suami
setengah (1/2) sebagai fardh-nya, dan sisanya untuk
suami sebagai 'ashabah karena ia anak paman kandung.

Contoh lain: seorang suami meninggal dunia dan


meninggalkan dua anak perempuan, bibi (saudara ibu)
yang salah satunya menjadi istrinya. Maka pembagiannya
seperti berikut: sang istri mendapat bagian seperempat
sebagai fardh-nya karena adanya ikatan perkawinan, dan

145
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

hak lainnya ialah ikut mendapat bagian sisa yang ada


karena ikatan rahim.

***

146
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Bab Kesepuluh
Berbagai Keadaan Para Ahli Waris

Sudah kita ketahui bersama bahwa terkadang seorang


ahli waris mendapat bagian yang lumayan besar, namun
kadang mendapat bagian yang kecil, atau boleh jadi
malah tidak mendapat sama sekali akibat terhijab atau
terhalang oleh adanya ahli waris lainnya.
Dalam pertemuan kali ini, kita akan bahas lebih dalam
lagi satu persatu keadaan-keadaan yang berbeda bagi
seorang ahli waris. Tanpa menguasai bab ini, sulit bagi
kita untuk bisa membagi warisan dengan benar. Bahkan
boleh dikatakan, materi ini merupakan intisari semua
kajian tentang pembagian warisan. Untuk memudahkan,
mari kita lihat kembali bagan para ahli waris berikut ini.

147
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Kita akan mulai tidak berdasarkan urutan laki atau


perempuan, melainkan menurut yang umumnya terjadi di
tengah masyarakat. Sehingga lebih mendekatkan kita
kepada kenyataan yang sesungguhnya.

1. Istri
Kita mulai dari istri karena beberapa alasan. Pertama,
setiap ada kematian seseorang, biasanya istri adalah
orang yang paling penting untuk disebutkan. Istri boleh

148
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

jadi adalah orang yang paling bersedih atas kematian


suaminya, sebab istri biasanya adalah belahan jiwa yang
telah menemani suami sepanjang perjalanan hidup.
Ada beberapa hal yang terkait dengan keadaan istri
yang ditinggal mati oleh suaminya terkait dengan
masalah warisan :
1.1. Tidak Menghijab Orang Lain
Seorang istri ketika ditinggal mati suaminya, tidak
pernah menghijab (hirman) oleh siapa pun. Kedudukan
seorang istri tidak akan membuat ahli waris lain menjadi
kehilangan haknya atau berkurang. Tidak seperti anak
laki-laki almarhum yang akan menghijab banyak orang
1.2. Tidak Dihijab Oleh Siapa Pun
Seorang istri tidak pernah dihijab oleh siapa pun.
Karena kedudukannya yang langsung berhubungan
dengan suaminya sebagai pewaris.
1.3. Cara Mendapat Waris
Allah SWT telah mentapkan hak waris seorang istri di
dalam Al-Quran :

‫الربُ ُع مِم َّا َت َر ْكتُ ْم إِن مَّلْ يَ ُكن لَّ ُك ْم َولَ ٌد فَِإن َك ا َن لَ ُك ْم َولَ ٌد َفلَ ُه َّن‬
ُّ ‫َوهَلُ َّن‬
‫وصو َن هِبَا أ َْو َديْ ٍن‬ ٍِ ِ ‫مِم‬
ُ ُ‫الث ُُّم ُن َّا َتَر ْكتُم ِّمن َب ْعد َوصيَّة ت‬
Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu
tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika
kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh
seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan
sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan)
sesudah dibayar utang-utangmu (QS. An-Nisa : 12)

149
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

 Istri mendapat 1/4 bagian dari total harta yang


diwariskan atau setara dengan 25%, dengan syarat
bahwa suaminya tidak punya fara' waris. Maksudnya
adalah suaminya tidak punya anak baik laki atau
perempuan, atau tidak punya cucu baik laki atau
perempuan, atau keturunannya lagi bila memang ada.
 Istri mendapat 1/8  bagian dari total harta yang
diwariskan atau setara dengan 25%, yaitu bila
suaminya punya fara' waris.
Bila jumlah istri lebih dari satu, misalnya 2 orang atau
3 orang atau malah 4 orang, maka semuanya hanya
mendapat 1/4 atau 1/8 dan dibagi rata. Tidak dibedakan
apakah istri itu sudah punya anak atau belum, juga tidak
dibedakan apakah istri itu sudah lebih lama menikahnya
atau baru saja dinikahi. Dan bukan masing-masing
mendapat 1/4 atau 1/8.
 Istri yang mendapat warisan dari suaminya terbatas
pada istri yang ketika suaminya meninggal, statusnya
masih istri yang sah atau meski sudah ditalak, namun
masih dalam masa 'iddah.
Sedangkan bila ketika suaminya wafat, statusnya
sudah bukan istri karena sudah dicerai misalnya, maka
tidak mendapatkan hak apa-apa. Mengapa? Karena
sesungguhnya dirinya bukan lagi menjadi istri almarhum
saat suaminya wafat. Mantan istri tidak pernah berhak
atas warisan suaminya.

2. Suami
Suami adalah laki-laki yang menikah dengan
almarhum dan masih berstatus sebagai suami ketika
almarhumah istrinya wafat.

150
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

2.1. Tidak Menghijab


Seorang suami yang ditinggal mati istrinya, posisinya
tidak akan menghijab siapa pun dari para ahli waris
istrinya.
2.2. Tidak Terhijab
Demikian juga sebagai suami, tidak akan terhijab oleh
siapa pun dalam arti hijab hirman (yang mengharamkan
dari menerima warisan). Kecuali bila disebut hijab dalam
kasus seorang suami akan berkurang bagiannya lantaran
almarhumah istrinya punya fara' waris seperti anak atau
cucu. Hijab ini disebut dengan hijab nuQShan.
2.3. Cara Mendapatkan Warisan
Seorang suami adalah termasuk bagain dari ashabul
furudh. Besar bagian yang diterimanya sudah ditetapkan
dan tidak bergantung kepada sisa dari orang lain. Allah
SWT sudah menetapkan hak warisan buat suami yaitu
dalam firman-Nya :

‫اج ُك ْم إِن مَّلْ يَ ُكن هَّلُ َّن َولَ ٌد فَ ِإن َك ا َن هَلُ َّن‬ ِ
ُ ‫ف َما َت َر َك أ َْز َو‬ُ ‫ص‬ ْ ‫َولَ ُك ْم ن‬
‫ني هِبَا أ َْو َديْ ٍن‬ ِ ٍِ ِ ِ ‫مِم‬
َ ‫الربُ ُع َّا َتَر ْك َن من َب ْعد َوصيَّة يُوص‬ ُّ ‫َولَ ٌد َفلَ ُك ُم‬
Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang
ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak
mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai
anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta
yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang
mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya.
(QS. An-Nisa :12)
Maka ada dua kemungkinan bagi suami untuk
mendapatkan harta warisan dari almarhumah istrinya :

151
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

 Mendapat 1/2 (50%) atau separuh dari total harta


yang dimiliki istri, apabila istri tidak punya fara'
waris. Seperti anak laki, anak perempuan, atau cucu
laki atau perempuan dari anak laki-laki.
 Mendapat 1/4 (25%) dari total harta yang dimiliki
istri, apabila istri tidak punya fara' waris seperti yang
disebut di atas.

3. Anak Laki
Anak laki-laki punya kedudukan yang sangat
istimewa dalam masalah warisan dari orang tuanya.
Sebab keberadaannya mengakibatkan bahwa para ahli
waris lain jadi termahjub.
3.1. Menghijab Banyak Orang
Karena begitu banyaknya orang-orang yang terhijab
oleh anak laki-laki, dimana jumlahnya sampai 13 orang,
maka untuk memudahkan mengingat siapa saja yang
terhijab, kita bagi berdasarkan kelompok. Kita sebut saja
kelompok saudara, kelompok keponakan, kelompok
paman, kelompok sepupu dan kelompok cucu.

a. 6 Orang Kelompok Saudara (kakak atau adik)

Ada 6 saudara yang akan kehilangan haknya, baik


kakak maupun adik, mendapatkan warisan, bila
almarhum punya anak laki-laki. Mereka adalah :
 Saudara laki-laki seayah dan seibu dengan almarhum :
akh syaqiq (‫)أخ شقيق‬
 Saudari perempuan seayah dan seibu dengan almarhum
: ukht syaqiqah (‫)أخت شقيقة‬

152
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

 Saudara laki-laki seayah tapi tidak seibu dengan


almarhum : akh li ab (‫)أخ ألب‬
 Saudari perempuan seayah tapi tidak seibu dengan
almarhum : ukht li ab (‫)أخت ألب‬
Jalur saudara mereka adalah saudara seayah seibu atau
hanya seayah. Sedangkan yang dari jalur saudara seibu
saja tapi tidak seayah adalah :
Saudara laki-laki dan perempuan yang seibu tidak 
)‫ أخت ألم‬/ ‫(أخ‬ seayah dengan almarhum : akh li um
b. 2 Orang Keponakan
Keponakan adalah anak dari saudara, tapi yang
termasuk ke dalam ahli waris hanyalah anak laki-laki dari
saudara laki-laki. Keponakan yang dari jalur saudara
perempuan, tidak termasuk ahli waris. Demikian juga
keponakan perempuan, meski anak dari saudara laki-laki,
tidak termasuk ahli waris.
 Anak laki-laki dari saudara laki-laki, dimana saudara
laki-laki itu seayah dan seibu dengan almarhum.
Disebut juga (‫)ابن أخ شقيق‬
 Anak laki-laki dari saudara laki-laki, dimana saudara
laki-laki itu hanya seayah dengan almarhum, tapi tidak
seibu. Disebut juga (‫)ابن أخ ألب‬
Sedangkan anak dari saudara perempuan almarhum,
baik yang seayah seibu atau pun yang seayah saja,
keduanya bukan termasuk ahli waris.

c. 2 Orang Paman

 Yang dimaksud dengan paman disini adalah saudara


laki-laki ayah, bukan saudara laki-laki ibu. Saudara laki-
laki ibu bukan termasuk ahli waris. Saudara laki-laki
ayah termasuk ahli waris, namun posisinya terhijab bila

153
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

almarhum punya anak laki-laki. Ada dua jenis paman


dalam hal ini, yaitu :
 Saudara laki-laki ayah alamrhum yang hubungan
mereka adalah seayah dan seibu. Kalau dipandang dari
anak laki-laki almarhum, dia adalah saudara laki-laki
kakek. Disebut juga dengan (‫)عم شقيق‬
 Saudara laki-laki ayah alamrhum yang hubungan
mereka adalah seayah saja tapi tidak seibu. Sama
dengan di atas, kalau dipandang dari anak laki-laki
almarhum, dia adalah saudara laki-laki kakek. Disebut
juga dengan (‫)عم ألب‬

d. 2 Orang Sepupu

Yang dimaksud dengan sepupu disini adalah anak-


anak paman yang disebutkan di atas. Mereka anak laki-
laki dari saudara laki-lakinya ayah yang almarhum. Dan
juga ada dua jenis, yaitu :
 Anak laki-laki paman yang mana paman itu dengan
ayah almarhum saudara seayah dan seibu. Disebut juga
(‫)ابن عم شقيق‬
 Anak laki-laki paman yang mana paman itu dengan
ayah almarhum saudara seayah tapi tidak seibu.
Disebut juga (‫)ابن عم ألب‬

e. 2 Orang Cucu

Cucu yang mendapat warisan adalah anak dari anak


laki-laki. Sedangkan anak dari anak perempuan bukan
termasuk ahli waris. Keberadaan cucu akan terhijab
apabila almarhum punya anak laki-laki. Baik anak laki-

154
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

laki itu ayah dari cucu itu, atau pun sebagai paman dari
cucu itu.
Anak laki-laki sebagai paman bisa diilustrasikan
sebagai berikut :
Seseorang, sebut saja namanya Abdullah yang punya
harta cukup banyak. Beliau punya dua orang anak laki-
laki, katakan saja Ahmad dan Hasan yang sudah
berkeluarga. Ahmad sudah punya anak dan Hasan juga
sudah punya anak. Namun Ahmad kemudian wafat
meninggalkan anak-anaknya.
Beberapa saat kemudian, Abdullah wafat. Dalam hal
ini almarhum Abdullah wafat meninggalkan anak laki-
laki yaitu Hasan dan juga cucu yaitu anak-anak Ahmad
dan anak-anak Hasan. Keberadaan anak laki-laki
menghijab cucu, baik cucu itu anak dari Ahmad maupun
anak dari Hasan. Sehingga para cucu itu tidak
mendapatkan warisan.
Yang kasihan adalah anak-anak Ahmad, sebab mereka
tidak dapat warisan dari kakek mereka, lantaran mereka
punya paman yaitu Hasan sebagai anak laki-laki dari
almarhum. Kalau anak-anak Hasan, meski mereka tidak
mendapat warisan, tetapi orang tua mereka yaitu Hasan
sudah dapat warisan.
Dalam kasus ini, di beberapa negara Islam diterapkan
washiyat wajibah, agar anak-anak Ahmad bisa tetap
mendapatkan harta, meski bukan lewat warisan tapi lewat
washiyat dari kakek mereka.
3.2. Tidah Dihijab oleh Siapa Pun
Anak laki-laki almarhum tidak akan dihijab oleh siapa
pun juga. Sebab dia termasuk ahli waris yang punya

155
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

hubungan langsung dengan almarhum, seperti juga


dengan ayah almarhum, ibu almarhum, atau istri
almarhum, yang mana mereka semua pasti tidak akan
dihijab oleh siapa pun.
3.3. Cara Mendapat Waris
Anak laki-laki almarhum baik sendiri, dua orang atau
lebih mendapat warisan dari ayahnya dengan cara
ashabah. Yaitu sisa harta yang telah sebelumnya
diberikan kepada para ashabul furudh. Sehingga anak
laki-laki punya kesempatan mendapat harta warisan lebih
banyak, atau sebaliknya bisa juga mendapat lebih sedikit.
Semua tergantung dari seberapa banyak jumlah yang
diambil oleh para ashabul furudh.

4. Anak Perempuan

4.1. Menghijab
Anak perempuan almarhum menghijab beberapa
orang, antara lain :
 Cucu almarhum yang perempuan, yaitu anak
perempuan dari saudara laki-lakinya yang sudah
wafat sebelumnya. Apabila jumlah anak perempuan
dua orang atau lebih dan mereka tidak punya saudara
laki-laki. Artinya, almarhum hanya meninggalkan
anak-anak perempuan saja yang bukan anak tunggal.
Minimal jumlahnya 2 orang. Sedangkan cucu yang
laki-laki tidak terhijab oleh keberadaannya.
Sedangkan cucu almarhum yang merupakan anaknya
sendiri, memang bukan termasuk ahli waris.
 Saudara almarhum yang seibu tapi tidak seayah,
baik saudara itu laki-laki maupun perempuan.

156
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

4.2. Tidak Terhijab Oleh Siapa Pun


Posisi anak perempuan sama saja dengan anak laki-
laki, dimana mereka tidak akan terhijab oleh siapa pun,
karena punya hubungan langsung dengan almarhum.
4.3. Cara Menerima Warisan
Allah SWT telah menjelaskan di dalam Al-quran
tentang pembagian warisan untuk anak perempuan.

‫ُنثَينْي ِ فَ ِإن ُك َّن نِ َس اء‬


َ ‫ظ األ‬ ِّ ‫وص ي ُك ُم اللّ هُ يِف أ َْوالَ ِد ُك ْم لِل َّذ َك ِر ِمثْ ل َح‬
ِ ‫ي‬
ُ
ُ
ِ
‫ف‬ُ ‫ِّص‬
ْ ‫ت َواح َد ًة َفلَ َها الن‬ ْ َ‫َف ْو َق ا ْثنََتنْي ِ َفلَ ُه َّن ثُلُثَا َما َتَر َك َوإِن َكان‬
Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian
pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian
seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua
orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya
perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua
pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak
perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh
separuh harta.(QS. An-Nisa : 11)

Ada tiga kemungkinan bagi anak perempuan

  Bila anak perempuan itu anak tunggal, tidak


punya saudara baik laki-laki maupun perempuan,
maka dia akan menerima warisan secara fardh yang
besarnya 1/2 bagian dari seluruh total harta warisan.
Atau sebesar 50% dari semua harta almarhum
ayahnya.
 Bila anak perempuan itu dua orang atau lebih
sementara mereka tidak punya satu pun saudara laki-
laki, artinya almarhum ayah mereka tidak punya anak

157
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

laki-laki, kecuali hanya mereka, maka mereka akan


mewarisi dengan cara fardh yaitu sebesar 2/3 bagian
dari seluruh harta yang ditinggalkan almarhum.
Maksud dari 2/3 itu adalah nilai totalnya, bukan
masing-masing mendapat 2/3. Kalau jumlah mereka
ada 2 orang, maka 2/3 itu dibagi dua, kalau mereka
ada 3 orang, maka 2/3 itu dibagi tiga dan begitu
seterusnya.
 Bila anak perempuan baik satu orang saja atau
lebih memiliki saudara laki-laki, maka mereka
mewarisi harta ayah dengan cara ashabah bersama-
sama dengan anak laki-laki. Untuk itu yang
diterima tiap anak perempuan separuh dari yang
diterima anak laki-laki. Atau dengan kata lain, tiap
anak laki almarhum akan menerima harta yang
besarnya dua kali lipat dari yang diterima anak
perempuan. Sebagai contoh bila seseorang wafat
meninggalkan satu anak laki dan dua anak
perempuan, maka harta itu dibagi 4 bagian sama
besar. Dua bagian untuk anak laki-laki, satu bagian
untuk anak  perempuan pertama dan satu bagian
untuk anak perempuan kedua.
Sebenarnya kasus yang paling sering terjadi dalam
masalah waris sebatas hanya pada mereka ini saja, yaitu
untuk istri dan anak-anak saja. Baik anak laki-laki atau
anak perempuan. Sedangkan para ahli waris selebihnya
biasanya sudah tidak ada (wafat) atau terhijab oleh
adanya anak laki-laki)
Sebenarnya sangat jarang sekali terjadi dimana
seorang wafat namun ayahnya masih hidup. Kalau pun
ada orang yang meninggal masih muda dan ayahnya
masih hidup, biasanya mereka belum mapan dan tidak
punya harta yang besar, sehingga perlu dibagi waris.

158
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Namun bukan berarti hal ini tidak pernah ada sama


sekali. Berapa banyak orang yang mati muda, tapi
lumayan kaya, sementara kedua orang tuanya masih
hidup. Kedua orang tua ini tentu termasuk ahli waris
almarhum, dimana mereka punya hak tertentu atas harta
yang ditinggalkan oleh anak mereka.

5. Ayah
Seorang ayah yang ditinggal meninggal oleh anaknya,
baik anak itu laki-laki atau perempuan, punya hak atas
harta anaknya. Demikian juga dalam hal menghijab,
seorang ayah bisa menghijab beberapa orang.
5.1. Menghijab
Bila almarhum meninggal dan ayahnya masih hidup,
maka ayah ini akan menghijab beberapa orang, yaitu :
a. Orang tua ayah
 Kakek almarhum, yaitu ayahnya sendiri. (‫)أب أب‬
 Nenek almarhum, yaitu ibunya sendiri (‫)أم أب‬
b. Saudara almarhum dengan beberapa jenis
variasinya
 Saudara laki-laki almarhum yang seayah dan seibu (
‫)أخ شقيق‬
 Saudara perempuan almarhum yang seayah dan
seibu (‫)أخت شقيقة‬
 Saudara laki-laki almarhum yang seayah saja tapi
tidak seibu (‫)أخ ألب‬
 Saudara perempuan almarhum yang seayah saja tapi
tidak seibu (‫)أخت ألب‬
 Saudara laki-laki almarhum yang seibu saja tapi
tidak seayah (‫)أخ ألم‬

159
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

 Saudara perempuan almarhum yang seibu saja tapi


tidak seayah (‫)أخت ألم‬
c. Paman
 Saudara laki-laki ayah yang hubungannya seayah
dan seibu dengan ayah. (‫)عم شقيق‬
 Saudara laki-laki ayah yang hubungannya seayah
saja tapi tidak seibu dengan ayah. (‫)عم ألب‬
d. Keponakan
 Anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah yang
hubungannya seayah dan seibu dengan ayah. ( ‫ابن عم‬
‫)شقيق‬
 Anak laki-laki dari Saudara laki-laki ayah yang
hubungannya seayah saja tapi tidak seibu dengan
ayah. (‫)ابن عم ألب‬
5.2. Tidak Terhijab Oleh Siapa pun
Ayah alamrhum karena posisinya yang langsung,
maka dia tidak terhijab oleh adanya siapa pun.
5.3. Cara Mendapatkan Warisan
Allah SWT telah memberikan penjelasana di dalam
Al-Quran tentang pembagian warisan untuk ayah :

‫س مِم َّا َتَر َك إِن َكا َن لَهُ َولَ ٌد‬ ُّ ‫اح ٍد ِّمْن ُه َما‬
ُ ‫الس ُد‬
ِ ‫وألَبوي ِه لِ ُك ِّل و‬
َ ْ ََ َ
...Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-
masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan,
jika yang meninggal itu mempunyai anak...(QS. An-
Nisa' : 11)
Ayah almarhum akan mendapatkan warisan dari
anaknya yang wafat dengan salah satu dari tiga bentuk :

160
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

 Apabila almarhum ketika wafat punya anak laki-


laki, atau punya cucu laki-laki, maka dia akan
mendapat bagian 1/6 dari total harta yang diwariskan.
 Apabila almarhum tidak punya anak laki-laki tapi
hanya anak perepmuan atau cucu perempuan dari
anak laki, maka dia akan mendapat dengan dua cara.
Pertama, dia mendapat warisan secara fardh, yaitu
1/6. Kedua, dia juga mendapat ashabah (sisa dari para
ashabul fardh).
 Apabila almarhum tidak punya anak laki-laki dan
juga tidak punya anak perempuan, maka dia akan
mewarisi harta anaknya dengan cara ashabah bi
nafsihi. Tentu saja setelah harta itu dikurangi atau
diambil oleh ashabul furudh bila ada.

 6. Ibu
Yang dimaksud dengan ibu dalam hal ini adalah
wanita yang melahirkan almarhum. Seorang ibu yang
kematian anaknya, akan mendapatkan warisan serta akan
menghijab, namun tidak akan terhijab oleh siapa pun.
Allah SWT telah menetapkan masalah ibu dalam Al-
Quran bersama dengan ayah :
‫اح ٍد ِّمنهما الس د مِم‬ ِ ‫وألَبوي ِه لِ ُك ِّل و‬
ْ‫س َّا َت َر َك إِن َك ا َن لَ هُ َولَ ٌد فَ ِإن مَّل‬ ُ ُ ُّ َ ُ ْ َ ْ ََ َ
‫ث‬ ُّ ‫يَ ُكن لَّهُ َولَ ٌد َو َو ِرثَهُ أ ََب َواهُ فَأل ُِّم ِه‬
ُ ُ‫الثل‬
...Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-
masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan,
jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang
yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia
diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya
mendapat sepertiga...(QS. An-Nisa' : 11)

161
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

6.1. Menghijab
Seorang ibu yang kematian anaknya akan menghijab
ayahnya sendiri, atau dengan kata lain bahwa
kakek/nenek almarhum dari pihak ibu akan terhijab.
6.2. Terhijab
Seorang ibu yang kematian anaknya tidak akan
terhijab oleh siapa pun. Kecuali yang diistilahkan dengan
hijab nuQShan, dimana seharusnya mendapat 1/3
menjadi 1/6.
6.3. Cara Mendapatkan Waris
 Mendapat 1/6 dari total harta almarhum, apabila
almarhum anaknya wafat dengan meninggalkan fara'
waris, baik anak laki-laki, anak perempuan, cucu laki
atau perempuan lewat jalur anak laki.
 Mendapat 1/3 dari total harta almarhum, apabila
almarhum anaknya wafat tanpa menginggalkan fara'
waris seperti di atas, atau tidak punya saudara atau
saudari.
 Mendapat 1/3  (tsulutsul baqi) dari dari sisa
harta setelah sebelumnya diambil oleh ashabul
furudh, bukan 1/3 dari total harta warisan. Yaitu
apabila ahli waris almarhum hanya tiga orang saja :
istri, ayah dan ibu. Atau apabila ahli waris hanya
terbatas pada suami, ayah dan ibu. Masalah ini
disebut juga dengan masalah Umariyatain, karena
merupakan dua kasus yang diputuskan oleh Umar bin
al-Khattab ra. Atau disebut juga dengan masalah
Gharrawain.
Khusus dalam masalah yang ketiga, ada dua kasus
yang mungkin terjadi :

162
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Pertama, almarhum yang meninggal laki-laki dan


hanya punya tiga ahli waris yaitu istri, ayah dan ibu.
Maka dalam hal ini istri mendapat 1/4 karena almarhum
tidak punya fara' waris, ibu mendapat 1/3 dari sisanya
yaitu 1/3 dari 3/4 = 3/12 atau sama dengan 1/4, dan ayah
mendapat sisanya yaitu 2/4 atau 1/2 dari total harta yang
diwariskan.
Kedua, yang meninggal perempuan dan almarhum
hanya punya tiga ahli waris yaitu suami, ibu dan ayah.
Maka dalam hal ini suami mendapat 1/2 bagian karena
almarhumah tidak punya fara' waris, ibu mendapat 1/3
dari sisanya. Sisanya adalah 1/2, sehingga bagian ibu
adalah 1/3 x 1/2 = 1/6. Dan sisa paling akhir menjadi hak
ayah yang mewarisi secara ashabah, yang besarnya
adalah 1 - ( 1/2 + 1/6  ) = 1 - (3/6 + 1/6) = 1 - 4/6 = 2/6.
Atau sama dengan 1/3 bagian dari total harta yang
diwariskan.

7. Kakek
Kakek yang dimaksud disini adalah ayahnya
ayah. Disebut juga dengan Al-Jaddu Ash-Shahih.
Sedangkan kakek yang merupakan ayah dari ibu disebut
Al-Jaddu Ghairu Shaih.
7.1. Menghijab
Ayahnya ayah bila ada dan masih hidup akan
menghijab beberapa orang, seperti : saudara, keponakan,
paman dan sepupu. Rincinnya adalah sebagai berikut :
a. Saudara Almarhum
 Saudara laki-laki almarhum yang seayah dan seibu.

163
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

 Saudara perempuan almarhum yang seayah dan


seibu
 Saudara laki-laki almarhum yang seayah saja tapi
tidak seibu.
 Saudara perempuan almarhum yang seayah saja tapi
tidak seibu
 Saudara laki-laki almarhum yang seibu saja saja tapi
tidak seayah
 Saudara perempuan almarhum yang seibu saja tapi
tidak seayah
b. Keponakan Almarhum
 Anak laki-laki dari saudara laki-laki almarhum yang
seayah dan seibu
 Anak laki-laki dari saudara laki-laki almarhum yang
seayah saja tapi tidak seibu
c. Paman Almarhum
 Saudara laki-laki ayah yang hubungannya seayah
dan seibu
 Saudara laki-laki ayah yang hubungannya seayah
saja tapi tidak seibu
d. Sepupu Almarhum
 Anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah yang
hubungannya seayah dan seibu
 Anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah yang
hubungannya seayah saja tapi tidak seibu
7.2. Terhijab
Ayah Almarhum : Kakek almarhum tidak akan
mendapat warisan alias terhijab apabila ayah
almarhum masih ada. Sebab antara almarhum dengan
kakek masih melewati satu orang yaitu ayah. Selama

164
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

ayah masih ada, maka kakek tidak akan menerima


warisan.
7.3. Cara Mendapatkan Warisan
Dalam kenyataannya hal ini sangat jarang terjadi,
yaitu seorang meninggal dunia dan kakeknya yang
menjadi ahli warisnya. Yang biasanya terjadi, seorang
kakek meninggal dunia lalu cucunya yang menjadi ahli
warisnya.
Tapi meski hal ini jarang terjadi, tetap saja mungkin
terjadi. Untuk itu sebagai antisipasi bila ternyata kejadian
ini menjadi kenyataan, kita sudah tahu jawabannya.
Intinya, posisi kakek itu pengganti dari ayah
almarhum, bila sang ayah meninggal dunia. Maka cara
pembagian warisan untuk kakek sama dengan pembagian
warisan untuk ayah, dengan syarat ayah almarhum telah
meninggal dunia. Maka sebagai ganti dari ayah, kakek
akan mendapatkan warisan sebagaimana ayah.
Kakek almarhum akan mendapatkan warisan dari
cucunya yang wafat dengan salah satu dari tiga bentuk :
a. Mendapat seluruh harta warisan
Apabila kakek menjadi ahli waris almarhum satu-
satunya yang tersisa. Artinya, almarhum tidak memiliki
siapa-siapa yang menjadi ahli waris kecuali hanya
kakeknya saja seorang diri.
b. Mendapat 1/6
Kakek akan menerima waris sebesar 1/6 apabila
terpenuhi syarat berikut :
 Apabila almarhum ketika wafat tidak punya ayah.

165
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

 Almarhum punya fara' waris laki-laki, yaitu anak


laki-laki, atau cucu laki-laki dan seterusnya.
c. Mendapat Sisa Harta
Kakek akan menerima sisa harta bila syarat-syarat
berikut terpenuhi :
 ada ahli waris yang mengambil bagian mereka
secara fardh.
 almarhum ketika wafat tidak punya Ayah.
 almarhum ketika wafat tidak punya fara' waris
laki maupun perempuan, yaitu anak laki atau
perempuan, cucu laki atau perempuan dan
seterusnya.
Sebagai contoh, almarhum wafat meninggalkan istri
dan ibu, tanpa punya keturunan. Maka istri mendapat 1/4
dan ibu mendapat 1/3. Dan kakek mendapat sisanya yaitu
sebesar 5/12.
1 – (1/4+1/3) =
12/12 - (3/12+4/12) =
12/12 – 7/12 =
5/12

d. Mendapat 1/6 dan sisa


Kakek mendapat 1/6 ditambah sisa dari harta yang
telah dibagi kepada ahli waris lain, apabila syarat berikut
terpenuhi :
 ada ahli waris yang mengambil bagian mereka
secara fardh.
 almarhum ketika wafat tidak punya Ayah.
 almarhum ketika wafat punya fara' waris
perempuan saja dan tidak fara' waris laki-laki.
Misalnya, anak perempuan atau cucu perempuan
dan seterusnya.

166
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Sebagai contoh, almarhum wafat meninggalkan istri


dan ibu, tapi punya anak perempuan. Maka istri
mendapat 1/8, ibu mendapat 1/6, anak perempuan
mendapat 1/2, dan kakek mendapat 1/6. Karena masih
ada sisa, maka sisanya itu juga menjadi hak kakek selain
yang 1/6 tadi. Sisanya adalah 1/24 dengan hitungan
sebagai berikut :
1 – (1/8 + 1/6 + 1/2 + 1/6) =
24/24 - (3/24 + 4/24 + 12/24 + 4/24) =
24/24 – 23/24 =
1/24
Maka kakek mendapat 1/6 sebagai fardh, lalu
ditambah 1/24 sebagai sisa (ashabah), sehingga
jumlahnya adalah 5/24.
1/6 + 1/24 = 4/24 + 1/24 = 5/24

8. Cucu
Yang dimaksud dengan cucu disini adalah anak dari
anak laki-laki, baik cucu itu laki-laki maupun perempuan.
8.1. Menghijab banyak orang

a. Saudara almarhum (kakak atau adik)

Ada 6 jenis saudara baik kakak maupun adik yang


kehilangan haknya mendapatkan warisan lantaran
almarhum punya cucu laki-laki. Mereka adalah :
 Saudara (kakak atau adik) almarhum, laki-laki,
seayah serta seibu dengan almarhum. Disebut juga
dengan Akh Syaqiq (‫)أخ شقيق‬

167
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

 Saudari (kakak atau adik) almarhum, perempuan,


seayah dan seibu dengan almarhum. Disebut juga
dengan Ukhtu Syaqiqah (‫)أخت شقيقة‬
 Saudara (kakak atau adik) almarhum, laki-laki,
seayah tapi tidak seibu dengan almarhum. Disebut
juga dengan Akh li Ab (‫)أخ ألب‬
 Saudari (kakak atau adik) almarhum,
perempuan, seayah tapi tidak seibu dengan
almarhum. Disebut juga dengan Ukhti li Ab (‫)أخت لأب‬
 Saudara (kakak atau adik) almarhum, laki-laki,
seayah serta seibu dengan almarhum. Disebut juga
dengan Akh li Ummi (‫)أخ ألم‬
 Saudara (kakak atau adik) almarhum, laki-laki,
seayah serta seibu dengan almarhum. Disebut juga
dengan Ukhtu li Ummi (‫)أخت ألم‬

b. Keponakan dari jalur saudara laki-laki

Termasuk yang dihijab oleh adanya anak laki-laki


almarhum adalah keponakan almarhum, yaitu anak laki-
laki dari saudara laki-laki alamrhum. Ada dua jenis
keponakan dalam hal ini, yaitu :
 Anak laki-laki dari saudara laki-laki, dimana
saudara laki-laki itu seayah dan seibu dengan
almarhum. Disebut juga (‫)ابن أخ شقيق‬
 Anak laki-laki dari saudara laki-laki, dimana
saudara laki-laki itu hanya seayah dengan almarhum,
tapi tidak seibu. Disebut juga (‫)ابن أخ ألب‬
Sedangkan anak dari saudara perempuan almarhum,
baik yang seayah seibu atau pun yang seayah saja,
keduanya bukan termasuk ahli waris.

168
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

c. Paman

 Yang dimaksud dengan paman disini adalah saudara


laki-laki ayah, bukan saudara laki-laki ibu. Saudara laki-
laki ibu bukan termasuk ahli waris, sedangkan saudara
laki-laki ayah termasuk ahli waris, namun posisinya
terhijab bila almarhum punya anak laki-laki. Ada dua
jenis paman dalam hal ini, yaitu :
 Saudara laki-laki ayah alamrhum yang hubungan
mereka adalah seayah dan seibu. Kalau dipandang
dari anak laki-laki almarhum, dia adalah saudara laki-
laki kakek. Disebut juga dengan (‫)عم شقيق‬
 Saudara laki-laki ayah alamrhum yang hubungan
mereka adalah seayah saja tapi tidak seibu. Sama
dengan di atas, kalau dipandang dari anak laki-laki
almarhum, dia adalah saudara laki-laki kakek.
Disebut juga dengan (‫)عم ألب‬

d. Sepupu

Yang dimaksud dengan sepupu disini adalah anak-


anak paman yang disebutkan di atas. Yaitu anak laki-laki
dari saudara laki-lakinya ayah yang almarhum. Dan juga
ada dua jenis, yaitu :
 Anak laki-laki paman yang mana paman itu
dengan ayah almarhum saudara seayah dan seibu.
Disebut juga (‫)ابن عم شقيق‬
 Anak laki-laki paman yang mana paman itu
dengan ayah almarhum saudara seayah tapi
tidak seibu. Disebut juga (‫)ابن عم ألب‬

Dihijab

169
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Cucu laki-laki tidak pernah dihijab oleh siapa pun kecuali


hanya satu orang saja, yaitu anak laki-laki dari
almarhum. Anak laki-laki yg menghijab cucu laki-laki itu
bisa jadi ayah si cucu mapun pamannya.

170
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Bab Kesebelas
Cara Membagi Warisan

1. Langkah Pertama
Langkah paling awal adalah mengeluarkan terlebih
dahulu segala hal yang tekait dari harta almarhum yang
meninggal. Diantaranya :
1.1. Hutang 
Semua hutang almarhum/almarhumah harus
dikeluarkan terlebih dahulu dari harta yang dimilikinya.
Kecuali bila orang yang memberi hutang itu menyatakan
kerelaannya atas hutang-hutang itu.
1.2. Wasiat 

171
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Bila almarhum/almarhumah pernah berwasiat atas


harta yang dimilikinya, maka sebelum warisan dibagikan,
wasiat itu harus dikeluarkan terlebih dahulu. Dengan
syarat jumlahnya tidak boleh melebihi dari 1/3 dari total
hartanya. Bila telah melebihi, maka hukumnya tidak
boleh karena yang 2/3 itu adalah milik ahli waris.
1.3. Biaya Pengurusan Jenazah
Semua biaya untuk pengurusan jenazah, bahkan mulai
dari biaya rumah sakit bila ada, hingga biaya
memandikan, mengkafani, menguburkan dan lainnya,
bisa diambilkan dari harta almarhum/almarhumah.
Dari langkah ini akan segera bisa didapat nilai
nominal harta almarhum/almarhumah. Tentu harta itu
bukan hanya uang, tetapi bisa berbentuk rumah, tanah,
kendaraan atau apapun.
Namun untuk memudahkan penghitungan, biasanya
dilakukan penaksiran atas semua asset beliau dalam
besaran nominal. Meski benda-benda itu tidak harus
langsung dijual kepada pihak lain.

2. Langkah Kedua
Langkah kedua adalah mengumpulkan semua daftar
ahli waris dan memilahnya. Pengumpulan daftar ahli
waris ini untuk memisahkan siapa saja yang berhak atas
warisan dan siapa saja yang tidak mendapat hak. Paling
tidak ada dua pemilahan.
2.1. Memilah
Pada langkah ini tugas kita berikutnya adalah memilah
antara ahli waris yang sesungguhnya dengan yang bukan
ahli waris. Boleh jadi dalam persangkaan orang, ada

172
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

individu yang dianggap sebagai keluarga dan seolah dia


mendapat warisan, tetapi ternyata secara daftar awal pun
sudah bukan termasuk ahli waris.
Misalnya, anak tiri, ayah diri, mantan istri, mantan
suami, anak angkat, ayah atau ibu angkat dan lainnya,
mereka semua sesungguhnya tidak pernah terdaftar
sebagai ahli waris.
Anak tiri meski sudah diperlakukan sebagai anak
sendiri, tapi secara hukum syariah tidak pernah
mendapatkan harta lewat warisan. Namun bila lewat
jalan lain masih dimungkginkan. Misalnya lewat hibah
dari almarhum sebelum wafat, atau lewat wasiat.
Demikian juga istri yang sudah dicerai suami dan telah
habis masa iddahnya, bila sang suami wafat, maka
mantan istri itu sudah bukan lagi ahli waris.
Contoh :
Seseorang wafat meninggalkan seorang mantan istri
yang telah diceraikan sebulan yang lalu, seorang istri
yang masih sah dan seorang istri yang telah
diceraikannya secara 2 tahun lalu. Siapakah diantara
mereka yang dapat warisan ?
Jawaban :
Yang mendapat warisan adalah istri yang telah
diceraikan sebulan yang lalu dan istri yang masih sah.
Sedangkan istri yang telah diceraikan 2 tahun
sebelumnya, tidak mendapat warisan. Karena
hubungannya dengan mantan istri itu sudah bukan istri
lagi. Sedangkan yang baru diceraikan 1 bulan yang lalu
mendapatkan warisan, lantaran masa iddahnya belum
berakhir. Sebagaimana diketahui bahwa masa iddah

173
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

seorang wanita yang diceraikan suaminya adalah 3 kali


masa suci dari haidh.
2.2. Menghilangkan ahli waris yang terhijab
Meski seseorang termasuk daftar ahli waris, namun
belum tentu dalam sebuah pembagian warisan dia pasti
mendapat warisan. Sebab bisa jadi hubungannya dengan
almarhum/almarhumah terhijab. Sehingga dia tidak boleh
menerima warisan akibat adanya hijab.
 Prinsipnya, bila hubungan seorang ahli waris dengan
almarhum masih melewati ahli waris lainnya, maka bila
ahli waris yang yang ada diantara keduanya masih ada,
maka ahli waris yang berada pada lapis keduanya tidak
akan mendapat warisan.
Kenyataannya, hanya ada 6 orang yang tidak mungkin
terhalangi, bahkan untuk memudahkan mengingatnya,
kita susun saja menjadi anak, orang tua dan pasangan.
Dengan rincian yaitu :
anak baik laki atau perempuan
orang tua yaitu ayah dan ibu
pasangan yaitu suami atau istri
Selain keenam orang di atas, mungkin terhalang dan
mungkin tidak.
Contoh 1 : Seorang wafat dengan meninggalkan ayah
kandung dan paman yang merupakan saudara ayah.
Hubungan almarhum dengan pamannya diselingi dengan
adanya ayah, maka paman tidak mendapat warisan bila
ayah masih ada. Namun bila ayah tidak ada,
paman mendapatkan warisan.  Posisi paman dalam hal ini
sama dengan posisi kakek, seandainya ayah tidak ada

174
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

sedangkan kakek masih ada, maka kakek mendapatkan


warisan dari cucunya.
Contoh 2 : Saudara kandung laki-laki akan terhalang
oleh adanya ayah dan keturunan laki-laki (anak, cucu,
cicit, dan seterusnya).
Contoh 3 : Saudara laki-laki seayah akan terhalang
dengan adanya saudara kandung laki-laki, juga terhalang
oleh saudara kandung perempuan yang menjadi 'ashabah
ma'al Ghair, dan terhalang dengan adanya ayah serta
keturunan laki-laki (anak, cucu, cicit, dan seterusnya).
Contoh 4 : Saudara laki-laki dan perempuan yang
seibu akan terhalangi oleh pokok (ayah, kakek, dan
seterusnya) dan juga oleh cabang (anak, cucu, cicit, dan
seterusnya) baik anak laki-laki maupun anak perempuan.
Hasil atas langkah kedua ini adalah daftar orang-orang
yang pasti mendapat warisan, baik sebagai ashabul
furudh ataupun sebagai ashahabah.
Contoh
Seseorang wafat dan meninggalkan ayah, ibu, paman,
kakek, bibi, saudara laki-laki, saudara perempuan dan
anak laki-laki. Siapa diantara mereka yang mendapat
warisan dan siapakah yang terhijab?
Jawab :
Pada awalnya semua memang termasuk ahli waris,
namun ada beberapa mereka yang termahjub karena
keberadaan ahli waris lainnya. Yang memahjub anak
laki-laki yang menghijab paman, keponakan, saudara
laki-laki dan saudara perempuan. Kakek terhijab oleh

175
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

adanya ayah. Sehingga yang menerima warisan hanyalah


anak laki-laki, ayah, ibu saja.

3. Langkah Ketiga
Langkah ketiga adalah menentukan pokok masalah.
Persoalan pokok masalah ini di kalangan ulama faraid
dikenal dengan istilah at-ta'shil, yang berarti usaha untuk
mengetahui pokok masalah.
Untuk apa kita mengetahui pokok masalah? Apa
gunanya? Apa tujuannya?
Sebenarnya urusan ini hanya sekedar untuk
menemukan nilai yang didapat oleh para ahli waris. Hal
itu disebabkan Al-Quran dan As-sunnah menyebutkan
bilangan pecahan untuk menetapkan bagian yang didapat
oleh para ahli waris. Bilangan pecahan itu adalah
setengah (1/2), sepertiga (1/3), seperempat (1/4),
seperenam (1/6), seperdelapan (1/8) dan duapertiga (2/3).
Seandainya dalil-dalil itu menggunakan besaran
prosentase, mungkin kita tidak perlu bicara tentang
ashlul-masalah ini. Misalnya dalam kasus seorang laki-
laki wafaat meninggalkan seorang seorang istri dan ayah.
Isstri mendapat bagian 1/8 dan ayah 1/6, maka agak sulit
buat kita untuk menghitung langsung 1/8 + 1/6.
Tapi kalau angka 1/8 dan 1/6 itu disebutkan dengan
besaran prosentase, maka lebih mudah untuk
menjumlahkannya. 1/8 sebenarnya sama dengan 12,5 %
dan 1/6 sama dengan 16,66 %. Jadi jumlah keduanya
adalah 12,5% + 16,66 % = 29,16 %.
Sedangkan menjumlahkan 1/8 dengan 1/6, perlu
sedikit teknik untuk mendapatkan hasilnya. Dengan

176
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

metode hitungan sederana sebenarnya mudah saja bagi


kita untuk menjumlahkan beberapa bilangan pecahan,
dimana "penyebutnya " tidak sama. Dalam bilangan
pecahan kita mengenal dua istilah, yaitu pembilang dan
penyebut. Dimana kedua bilangan itu ditulis dengan
dipisahkan menggunakan garis miring. Pembilang adalah
angka sebelum garis miring dan penyebut dalam bilangan
setelah garis miring.
Contoh, bilangan setengah itu ditulis [1/2], maka
bilangan 1 adalah pembilang dan bilangan 2 adalah
penyebut. Demikian juga dengan [2/3], maka bilangan 2
adalah pembilang dan bilangan 3 adalah penyebut.
Secara sederhana, kita bisa menjumlahkan bilangan
pecahan dengan cara menjumlahkan pembilangnya saja
tanpa menjumlahkan penyebutnya, asalkan penyebutnya
sama. Misalnya 1/2 + 1/2 = 2/2. Atau 2/4 + 1/4 + 1/4 =
4/4.
Namun akan sedikit bermasalah ketika kita harus
menjumlahkan beberapa bilangan pecahan yang berbeda
penyebutnya. Misalnya, 1/8 + 1/6. Berapakah
jumlahnya ?.
Untuk menjumlahkannya, kita terpaksa harus
menyamakan dulu penyebutnya. Caranya dengan
mengganti masing-masing penyebut dengan sebuah
bilangan terkecil yang habis dibagi oleh masing-masing
penyebut. Kalau kita pilih bilangan 16, memang 16 itu
bisa habis dibagi 8, tapi tidak bisa dibagi 6, jadi angka 16
tidak cocok.
Demikian juga bila kita pilih bilangan 12, memang 12
itu bisa habis dibagi 6, tapi tidak bisa dibagi 8.
Pilihannya adalah 24, sebab 24 itu bisa habis dibagi 8 dan

177
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

6. Jadi kita sama dulu penyebut masing-masing menjadi


angka 12. Lalu pembilangnya kita sesuaikan agar
nilainya tetap sama.
Caranya dengan mengalikan pembilang dengan hasil
bagi penyebut yang telah disamakan dengan penyebut
asalnya. Lalu masing-masing pembilang yang telah
disesuaikan dijumlahkan, sedangkan penyebutnya tidak
perlu dijumlahkan.
  Maka bilangan 1/8 itu kita ubah penyebutnya menjadi
24. Lalu kita membagi 24 dengan 8, hasilnya adalah 3.
Lalu kita kalikan 3 dengan pembilangnya yaitu 1.
Hasilnya adalah 3. Maka 1/8 sama dengan 3/24.
 Bilangan 1/6 itu kita ubah penyebutnya menjadi 24
juga. Lalu kita membagi 24 dengan 6, hasilnya adalah
4. Lalu kita kalikan 4 dengan pembilangnya yaitu 1.
Hasilnya adalah 4. Maka 1/6 sama dengan 4/24.
Jadi hasil akhir penjumlahan itu adalah 3/24 + 4/24 =
7/24. Kalau kita perhatikan, sebenarnya 7/24 ini sama
besarnya dengan 29,16 %.

Metode Yang Digunakan Dalam Kitab Klasik

Tapi yang berkembang di masa lalu bukan dengan


prosentase, juga bukan dengan penyamaan pembilang
dan penyebut, melainkan dengan metode pencarian
ashlul-masalah. Dalam hal ini, yang perlu diketahui
adalah bagaimana dapat memperoleh angka pembagian
hak setiap ahli waris tanpa melalui pemecahan yang
rumit. Karena itu, para ulama ilmu faraid tidak mau
menerima kecuali angka-angka yang jelas dan benar
(maksudnya tanpa menyertakan angka-angka pecahan).

178
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

Untuk mengetahui pokok masalah, terlebih dahulu


perlu kita ketahui siapa-siapa ahli warisnya. Artinya, kita
harus mengetahui apakah ahli waris yang ada semuanya
hanya termasuk 'ashabah, atau semuanya hanya dari
ashhabul furudh, atau gabungan antara 'ashabah dengan
ashhabul furudh.
Apabila seluruh ahli waris yang ada semuanya dari
'ashabah, maka pokok masalahnya dihitung per kepala
--jika semuanya hanya dari laki-laki. Misalnya, seseorang
wafat dan meninggalkan lima orang anak laki-laki, maka
pokok masalahnya dari lima. Atau seseorang wafat
meninggalkan sepuluh saudara kandung laki-laki, maka
pokok masalahnya dari sepuluh.
Bila ternyata ahli waris yang ada terdiri dari anak laki-
laki dan perempuan, maka satu anak laki-laki kita hitung
dua kepala (hitungan), dan satu wanita satu kepala. Hal
ini diambil dari kaidah qur'aniyah: bagian anak laki-laki
dua kali bagian anak perempuan. Pokok masalahnya juga
dihitung dari jumlah per kepala.
Misalnya, seseorang wafat dan hanya meninggalkan
lima orang anak, dua laki-laki dan tiga perempuan. Maka
pokok masalahnya berarti tujuh (7). Contoh lain, bila
mayit meninggalkan lima anak perempuan dan tiga anak
laki-laki, maka pokok masalahnya sebelas, dan demikian
seterusnya.
Kemudian, jika ternyata ahli waris yang ada semuanya
dari ashhabul furudh yang sama, berarti itulah pokok
masalahnya. Misalnya, seseorang wafat dan
meninggalkan seorang suami dan saudara kandung
perempuan. Maka pokok masalahnya dari dua (2). Sebab,
bagian suami setengah (1/2) dan bagian saudara kandung

179
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

perempuan juga setengah (1/2). Secara umum dapat


dikatakan bahwa bila ahli waris semuanya sama
--misalnya masing-masing berhak mendapat seperenam
(1/6)-- maka pokok masalahnya dari enam (6). Bila
semuanya berhak sepertiga (1/3), maka pokok
masalahnya dari tiga (3). Bila semuanya seperempat (1/4)
atau seperdelapan (1/8), maka pokok masalahnya dari
empat atau delapan, begitu seterusnya.
Sedangkan jika para ahli waris yang ditinggalkan
pewaris terdiri dari banyak bagian --yakni tidak dari satu
jenis, misalnya ada yang berhak setengah, seperenam,
dan sebagainya-- kita harus mengalikan dan mencampur
antara beberapa kedudukan, yakni antara :
 angka-angka yang mutamatsilah (sama)
 angka-angka yang mutadaakhilah (saling berpadu)
 angka-angka yang mutabaayinah (saling berbeda).
Untuk memperjelas masalah ini, baiklah kita simak
kaidah yang telah diterapkan oleh para ulama ilmu faraid.
Kaidah ini sangat mudah sekaligus mempermudah kita
untuk memahami pokok masalah ketika ahli waris terdiri
dari berbagai sahib fardh yang mempunyai bagian
berbeda-beda.
Para ulama faraid membagi kaidah tersebut menjadi
dua bagian:
Pertama: bagian setengah (1/2), seperempat (1/4),
dan seperdelapan (1/8).
Kedua: bagian dua per tiga (2/3), sepertiga (1/3), dan
seperenam (1/6).
Apabila para ashhabul furudh hanya terdiri dari bagian
yang pertama saja (yakni 1/2, 1/4, 1/8), berarti pokok

180
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

masalahnya dari angka yang paling besar. Misalnya, bila


dalam suatu keadaan, ahli warisnya dari sahib fardh
setengah (1/2) dan seperempat (1/4), maka pokok
masalahnya dari empat (4).
Misal lain, bila dalam suatu keadaan ahli warisnya
terdiri dari para sahib fardh setengah (1/2), seperempat
(1/4), dan seperdelapan (1/8) --atau hanya seperempat
dengan seperdelapan-- maka pokok masalahnya dari
delapan (8). Begitu juga bila dalam suatu keadaan ahli
warisnya terdiri dari sahib fardh sepertiga (1/3) dengan
seperenam (1/6) atau dua per tiga (2/3) dengan
seperenam (1/6), maka pokok masalahnya dari enam (6).
Sebab angka tiga merupakan bagian dari angka enam.
Maka dalam hal ini hendaklah diambil angka penyebut
yang terbesar.
Akan tetapi, jika dalam suatu keadaan ahli warisnya
bercampur antara sahib fardh kelompok pertama (1/2,
1/4, dan 1/8) dengan kelompok kedua (2/3, 1/3, dan 1/6)
diperlukan kaidah yang lain untuk mengetahui pokok
masalahnya. Kaidah yang dimaksud seperti tersebut di
bawah ini:
1. Apabila dalam suatu keadaan, sahib fardh setengah
(1/2) --yang merupakan kelompok pertama--
bercampur dengan salah satu dari kelompok kedua,
atau semuanya, maka pokok masalahnya dari enam
(6).
2. Apabila dalam suatu keadaan, sahib fardh seperempat
(1/4) yang merupakan kelompok pertama--
bercampur dengan seluruh kelompok kedua atau
salah satunya, maka pokok masalahnya dari dua belas
(12).

181
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

3.  Apabila dalam suatu keadaan, sahib fardh


seperdelapan (1/8) yang merupakan kelompok
pertama-- bercampur dengan seluruh kelompok
kedua, atau salah satunya, maka pokok masalahnya
dari dua puluh empat (24).

Untuk lebih memperjelas kaidah tersebut, mari kita


buat beberapa contoh.

Contoh : Kasus Pertama

Misalnya, seseorang wafat dan meninggalkan suami,


saudara laki-laki seibu, ibu, dan paman kandung. Maka
pembagiannya sebagai berikut:
 suami mendapat setengah (1/2)
 saudara laki-laki seibu seperenam (1/6)
 ibu sepertiga (1/3)
sedangkan paman sebagai 'ashabah, ia akan mendapat
sisa yang ada setelah ashhabul furudh menerima bagian
masing-masing. Bila tidak tersisa, maka ia tidak berhak
menerima harta waris.
Dari contoh tersebut tampak ada campuran antara
kelompok pertama (yakni 1/2) dengan sepertiga (1/3) dan
seperenam (1/6), yang merupakan kelompok kedua.
Berdasarkan kaidah yang ada, pokok masalah pada
contoh tersebut adalah enam (6).

Lihat diagram:

Pokok masalah dari enam (6)


Suami setengah (1/2) 3/6 3
Saudara laki-laki seibu seperenam 1/6 1

182
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

(1/6)
Ibu sepertiga (1/3) 2/6 2
Paman kandung, sebagai 'ashabah 0

Dalam contoh ini, kebetulan harta habis dibagi untuk


semua ashhabul furudh tanpa sisa, dengan demikian
maka paman tidak mendapat apa-apa alias nol, lantaran
statusnya hanya sebagai ahli waris ashabah. Namun
dalam seandainya salah satu dari ashhabul furudh di atas
tidak ada, misalnya tidak ada saudara laki-laki yang
jatahnya (1/6), maka sisa itu menjadi milik paman
sebagai ashabah.

Contoh : Kasus Kedua

Seseorang wafat dan meninggalkan istri, ibu, dua


orang saudara laki-laki seibu, dan seorang saudara laki-
laki kandung. Maka pembagiannya seperti berikut:
 bagian istri seperempat (1/4)
 ibu seperenam (1/6)
 dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3)
 dan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah.
 Pada contoh ini tampak ada campuran antara bagian
seperempat (1/4) --yang termasuk kelompok pertama--
dengan seperenam (1/6) dan sepertiga (1/3). Maka
berdasarkan kaidah, pokok masalahnya dari dua belas
(12). Angka tersebut merupakan hasil perkalian antara
empat (yang merupakan bagian istri) dengan tiga
(sebagai bagian kedua saudara laki-laki seibu). Tabelnya
tampak berikut ini:

183
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat,Lc

Pokok masalah dari dua belas (12)


Istri seperempat (1/4)) 3/12 3
Ibu seperenam (1/6) 2/12 2
Dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) 4/12 4
Saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah
3/12 3
(sisanya)

Dalam contoh kasus kali ini, saudara kandung laki-laki


sebagai ashabah beruntung, karena masih ada sisa dari
para ashhabul furudh, sehingga dia mendapatkan sisanya
yang masih lumayan besar, yaitu 3/12 dari total harta
atau 1/4 bagian atau 25% dari seluruh harta yang dibagi
waris.

Contoh : Kasus Ketiga

Seseorang kakek wafat dan meninggalkan istri, anak


perempuan, cucu perempuan keturunan anak laki-laki,
ibu, dan saudara kandung laki-laki. Maka pembagiannya
sebagai berikut:
 istri mendapat seperdelapan (1/8)
 anak perempuan setengah (1/2)
 cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat
seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga
(2/3)
 bagian ibu seperenam (1/6)
 Sedangkan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah,
karenanya ia mendapat sisa harta waris bila ternyata
masih tersisa.
 Pada contoh ini tampak ada percampuran antara
seperdelapan (1/8) sebagai kelompok pertama dengan

184
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

seperenam (1/6) sebagai kelompok kedua. Maka


berdasarkan kaidah yang ada, pokok masalah pada
contoh ini dari dua pulah empat (24). Berikut ini
tabelnya:
Pokok masalah dari 24
Bagian istri seperdelapan (1/8) 3/24 3
Bagian anak perempuan setengah (1/2) 12/24 12
Cucu perempuan dari anak laki-laki
4/24 4
seperenam (1/6)
Bagian ibu seperenam (1/6) 4/24 4
Saudara kandung laki-laki, sebagai 'ashabah
1/24 1
(sisa)

Angka dua puluh empat (24) yang dijadikan sebagai


pokok masalah timbul sebagai hasil perkalian antara
setengah dari enam (yakni 3) dengan delapan (6 : 2 x 8 =
24). Atau setengah dari delapan (yakni empat) kali enam
(6), (8 : 2 x 6 = 24). Hal seperti ini disebabkan setengah
dari dua angka tersebut (yakni enam dan delapan) ada
selisih, karenanya kita ambil setengah dari salah satu
angka tadi, kemudian kita kalikan dengan angka yang
lain dengan sempurna. Begitulah seterusnya.

185
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

187