Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

PENANAMAN PADI SECARA ORGANIK

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

Disusun Oleh:
Ridwan Kurniawan

Kelas X TKR-C
SMK NEGERI 1 LEMAHSUGIH
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah swt karena


dengan ridha-Nya makalah Penanaman Padi Secara Organik ini dapat
terselesaikan dengan baik dan tepat waktu, Shalawat serta salam penulis haturkan
kepada pahlawan revolusi islam baginda nabi Muhammad SAW, berkat beliau
kami bisa terbawa ke alam yang penuh dengan ilmu dan hikmah.
Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada semua pihak yang
tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Semoga kebaikan semuanya dibalas
oleh Allah SWT.
Selain sebagai tambahan ilmu pengetahuan, makalah ini juga kami susun
guna memenuhi tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Semoga dengan
terselesaikannya makalah ini dapat menjadi manfaat bagi pembaca sekalian.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, maka
kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan guna penyempurnaan
makalah selanjutnya.

Lemahsugih, April 2016


Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1

Latar Belakang..........................................................................................1

1.2

Rumusan Masalah.....................................................................................2

1.3

Tujuan........................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN........................................................................................3
2.1

Pengertian Tanaman Padi..........................................................................3

2.2

Dampak Kemajuan Teknologi Budidadaya Padi.......................................4

2.3

Penanaman Padi Secara Organik...............................................................7

BAB III PENUTUP..............................................................................................14


3.1

Kesimpulan..............................................................................................14

3.2

Saran........................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................15

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Padi tumbuhan yg menghasilkan beras, termasuk jenis Oryza (Oryza
sativa L.) adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban
manusia. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi
juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang
sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Padi diduga berasal dari India atau
Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi
dari daratan Asia sekitar 1500 SM.
Padi adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban.
Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga
digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga ( genus ) yang
sama, yang biasa disebut sebagai padi liar.
Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia,
setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber
karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia.
Ciri Ciri Umum :

Padi tengah diambil dari persemaian untuk ditanam di sawah. Padi


termasuk dalam suku padi-padian atau Poaceae ( Sinonim : Graminae atau

Glumiflorae ). Terna semusim, berakar serabut; batang sangat pendek,


struktur serupa batang terbentuk dari rangkaian pelepah daun yang saling
menopang; daun sempurna dengan pelepah regak, daun berbentuk lanset,
warna hijau muda hingga hijau tua, berurat daun sejajar, tertutupi oleh rambut
yang pendek dan jarang; bunga tersusun majemuk, tipe malai bercabang,
satuan bunga disebut floret, yang terletak pada satu spikelet yang duduk pada
panikula; buah tipe bulir atau kariopsis yang tidak dapat dibedakan mana
buah dan bijinya, bentuk hamper bulat hingga lonjong, ukuran 3 mm hingga
15 mm, tertutup oleh palea dan lemma yang dalam bahasa sehari-hari disebut
sekam, struktur dominan adalah endospremium yang dimakan orang.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah
bagaimana cara budidaya tanaman padi secara organik?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui
cara budidaya tanaman padi secara organik.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tanaman Padi


Padi tumbuhan yg menghasilkan beras, termasuk jenis Oryza (Oryza
sativa L.) adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban
manusia. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi
juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang
sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Padi diduga berasal dari India atau
Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi
dari daratan Asia sekitar 1500 SM.
Padi adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban.
Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga
digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga ( genus ) yang
sama, yang biasa disebut sebagai padi liar.
Pertanian organik sebenarnya bukan hal yang baru, termasuk budidaya
tanaman padi. Sudah sejak dahulu nenek moyang kita membudidayakan padi
tanpa bahan kimia yang saat ini di istilahkan pertanian organik.
Namun, kini beras organik dikatakan sebagai hal baru setelah puluhan
tahun belakangan ini padi hanya dibudidayakan secara non-organik.
Pengaplikasian pestisida dan pupuk kimia secara berlebihan pada
pembudidayaan padi no-organik, maka berasnya pun menganduing residu
pestisida. Padahal residu ini sangat berbahaya bagi kehidupan manusia,
bahkan

pembudidayaan

non-organik

lingkungan.

itupun

mengancam

kelestarian

Ditinjau dari perhitungan ekonomis, pertanian non-organik makin


tidak dapat di pertanggungjawabkan karena harga sarana produksi pertanian
sudah makin mahal. Akibatnya hasil akhir berupa keuntungan petani pun
semakin kecil atau bahkan merugi.
Kesadaran akan pentingnya kesehatan dan kelestarian lingkungan
sudah mendorong masayarakat pertanian untuk kembali kesistem pertanian
organik, karena produk yang diharapkan bebas residu pestisida dan pupuk
kimia. Selain ramah lingkungan, biaya untuk pertanian organikpun sangat
rendah karena pupuk dan pestisida yang digunakan berasal dari alam sekitar
petani. Bila dibeli harganya pun relative murah.
Walaupun banyak keuntungan membudidayakan padi secara organik,
masih banyak petani yang tidak tahu caranya, maka melalui tulisan ini
kiranya dapat menjadi bahan informasi kepada petani agar terwujud budidaya
padi secara organik.
2.2 Dampak Kemajuan Teknologi Budidadaya Padi
Akibat kemajuan teknologi dalam budidaya tanaman padi, ternyata
terdapat bencana yang dapat merugikan lingkungan hidup dan kesehatan
manusia. Dalam pemuliaan tanaman padi kemajuan bioteknologi sangat
diandalkan dengan lahirnya tanaman hibrida. Untuk pemupukan, muncul
pupuk-pupuk buatan pabrik (pupuk kimia) yang dapat memenuhi kebutuhan
hara tanaman secara lengkap dan cepat. Sementara untuk pemberantasan
hama dan penyakit, ditemukan pestisida kimia yang efektif.
1. Dampak Benih Unggul
Pada awalnya manusia hanya menyeleksi atau memilih tanaman
yang

bersifat

unggul

untuk

dibudidayakan.

Namun,

dalam

perkembangannya manusia pun mulai menyilangkan satu tanaman dengan

tanaman lainnya untuk mendapatkan tanaman tertentu dengan sifat-sifat


yang memenuhi keinginannya.
Dampak paling mengkhawatirkan dari kemajuan teknologi
permuliaan tanaman adalah ancaman terhadap keanekaragaman hayati.
Dengan

hanya

menanam

dan

mengembangkan

varietas-varietas

menguntungkan secara ekonomis maka banyak jenis tanaman akan


tersingkir dan akhirnya punah.
2. Dampak Pupuk Kimia
Penggunaan pupuk kimia diketahui mempunyai efek merusak
tanah, Struktur tanah yang secara alami remah, setelah mendapat
perlakuan dengan pupuk kimia secara terus menerus akhirnya menjadi
sangat keras. Petani sering mengeluh karena tanahnya menjadi liatnya.
3. Dampak Pestisida Kimia
Akibat pelaksanaan intensifikasi pertanian yang memusatkan
perhatian pada satu jenis tanaman diareal yang sangat luas dapat
menimbulkan keadaan eksplosit dengan bertambahnya populasi jenis
serangga tertentu.
Pertanian dengan satu jenis tanaman sangat menguntungkan
ditinjau dari prinsip keimbangan alami, namun hanya untuk kemudahan
dan keuntungannya. Bila hama merusak padi, pengendalian dengan
pestisida.
Di Indonesia mulai muncul dampak pestisida tahun 1970-an. Tahun
1995 di Brebes Jawa Tengah terhadap petani penghasil bawang merah
yang mengakibatkan menderita kebutaan dan stroke. Kemudian dampak
negative penggunaan pestisida di Kabupaten Tanah Karo Sumatera Utara.
Dari data rumah Sakit Paru-Paru di kabupatenm tersebut diperoleh bahwa

90 % pasiennya merupakan petani yang setiap harinya akrab dengan


pestisida.
4. Keuntungan Budidaya Padi Secara Organik
Adapun keuntungan menanam padi secara organik adalah :
a. Ramah terhadap lingkungan
b. Biaya rendah
c. Pupuk dan pestisida dari alam sekitar
d. Rasa nasi empuk dan pulen
e. Warnanya dan daya simpan lebih baik
f. Nasi bias bertahan 24 jam, sedang beras biasa 12 jam
g. Nilai ekonomi cukup baik

2.3 Penanaman Padi Secara Organik


Bertanam padi secara organik pada dasarnya tidak berbeda dengan
bertanam padi pada pelaksanaan intensifikasi yang dilakukan petani.
Perbedaannya hanya pada pemilihan varietas, penggunaan pupuk dan
pestisida.
1. Pemilihan Varietas
Pertanian organik biasanya diawali dengan pemilihan benih
tanaman non-hibrida. Selain untuk mempertahankan keanekaragaman
hayati, bibit non-hibrida sendiri secara teknis memang memungkinkan
untuk ditanam secara organik.
Varietas padi yang cocok ditanam secara organic hanya jenis atau
varietas alami. Padi yang dapat ditanami antara laian adalah Rojolele,
Mentik, Pandan dan Lestari. Di Indonesia padi Rejolele merupakan padi
berkualitas terbaik untuk dikonsumsi sehingga harganya pun palaing
mahal (Rp. 20.000 Rp 25.000/kg).
2. Penyiapan Lahan
Penyiapan lahan pada dasarnya adalah pengolahan tanah sawah
hingga siap untuk ditanami. Prinsip pengolahan tanah adalah pemecahan
bongkahan-bongkahan tanah sawah sedemikian rupa hingga menjadi
lunak dan sangat halus. Selain kehalusan tanah, ketersediaan air yang
cukup harus diperhatikan. Bila air dalam areal penanaman cukup banyak
maka akan makin banyak unsure hara dalam kaloid yang dapat larut.
Keadaan ini akan berakibat makin banyak unsure hara yang dapat
diserap akar tanaman.
3. Penanaman
Bila lahan sudah siap ditanami dan bibit dipesemaian sudah
memenuhi syarat, maka penanaman dapat segera dilakukan. Syarat bibit
yang baik untuk dipindahkan kelahan penanaman adalah tinggi sekitar 25

cm, memiliki 5-6 helai daun, batang bawah besar dan keras, bebas dari
hama penyakit, serta jenisnya seragam.
Jarak tanam dilahanpun mempengaruhi

tinggi

rendahnya

produktivitas padi. Penentuan jarak tanam sendiri dipengaruhi oleh dua


faktor, yaitu sifat varietas dan kesuburan tanah. Bila varietasnya memiliki
sifat merumpun tinggi maka jarak tanamnya harus lebih lebar dari padi
yang memiliki sifat merumpun rendah. Sementara bila tanah sawah lebih
subur, jarak tanam harus lebih lebar dibanding tanah kurang subur. Jarak
tanam yang paling banyak digunakan petani adalah 25 x 25 cm dan 30 x
30 cm.
4. Pemupukan
a. Pupuk Dasar
Pupuk organik yang digunakan berupa pupuk kandang atau
kompos matang sebanyak 5 ton/ha. Pemberian dilakukan saat
membajak sawah kedua dengan cara disebar merata keseluruh
permukaan sawah. Pemberian pupuk bokashi lebih hemat dibanding
pupuk kandang atau kompos, cukup 1,5 2 ton/ha
b. Pemupukan Susulan
- Susulan Pertama saat tanaman sekitar 15 hari. Pupuk yang
diberikan berupa pupuk kandang sebanyak 1 ton/ha atau 0,5 ton/ha
-

kompos fermentasi. Pem,berian ditabur disela-sela tanaman padi.


Susulan Kedua pada saat tanaman berumur 25 60 hari dengan
frekuensi seminggu sekali. Pupuk yang diberikan berupa pupuk
organic cair buatan sendiri yang kandungan N-nya tinggi. Dosis
sebanyak 1 liter pupuk yang dilarutkan dalam 17 liter air. Cara
pemberian dengan disemprot pada daun tanaman.

Susulan Ketiga dilakukan saat tanaman memasuki fase generatif


atau pembentukan buah, yaitu setelah tanaman berumur 60 hari.
Pupuk yang digunakan mengandung unsure P dan K tinggi. Dosis
2-3 sendok makan pupuk P yang dicampur dalam 15 liter atau satu

tangki kecil pupuk.


Pupuk disemprot ketanaman dengan frekwensi seminggu sekali.
Pemberian pupuk tersebut dapat dihentikan bila sebagian besar

bulir padi sudah tampak menguning.


5. Penyiangan.
Penyiangan dilakukan dengan cara pencabutan gulma. Gulma
yang sudah dicabut dapat dibuang keluar areal sawah atau dipendam
dalam lumpur sawah sedalam-dalamnya. Dalam satu musim tanam,
dilakukan tiga kali penyiangan. Penyiangan pertama dilakukan saat
tanaman berumur sekitar 3 minggu, kedua umur 35 hari dan ketiga umur
55 hari.
6. Pengairan
Meskipun secara umum air yang tergenang dibutuhkan padi
sawah, namun ada saatnya sawah harus dikeringkan agar pertumbuhan
dan produktivitas tanaman menjadi baik. Itulah sebabnya pemasukan dan
pengeluaran air harus dilakukan
a. Penggenangan air
Agar produktivitas dan pertumbuhan tanaman menjadi baik,
penggenangan bukan dilakukan secara sembarangan. Ketinggian air
genangan perlu disesuaikan dengan fase perrtumbuhan tanaman.
- Awal pertumbuhan, petakan sawah harus digenangi air setinggi 2
5 cm dari permukaan tanah selama 15 hari atau saat tanaman
mulai membentuk anakan.

Pembentukan anakan, ketinggian air perlu ditingkatkan dan


dipertahankan antara 3 5 cm, hingga tanaman terlihat bunting.
Bila ketinggian air lebih dari 5 cm, pembentukan anakan atau
tunas akan terhambat. Sebaliknya, bila ketinggian airnya kurang

dari 3 cm, gulma akan mudah tumbuh.


Masa bunting, air dibutuhkan dalam jumlah cukup banyak.
Ketinggian air sekitar 10 cm. Kekurangan air pada fase ini harus
dihindari karena dapat berakibat matinya primordia. Kalau
primordia tidak mati, bakal butir gabah akan kekurangan makanan

sehingga banyak terbentuk butir gabah hampa.


Pembungaan, ketinggian air dipertahankan antara 5 10 cm.
Kebutuhan air pada fase ini cukup banyak. Namun bila mulai
tampak keluar bunga maka sawah perlu dikeringkan selama 4 7
hari. Ini dilakukan agar pembungaan terjadi atau berlangsung
secara serentak. Pada saat bunga muncul serentak, air segera
dimasukan kembali agar makanan dan air dapat terserap sebanyak-

banyaknya oleh akar tanaman. Ketinggian air tetap 5 10 cm.


b. Pengeringan Sawah.
Pengeringan tidak dilakukan pada semua fase pertumbuhan
tanaman, tetapi hanya pada fase sebelum bunting dan fase pemasakan
biji.
Tujuan utama pengeringan sawah adalah untuk memperbaiki
aerasi tanah, memacu pertumbuhan anakan, meningkatkan suhu dalam
tanah, meningkatkan perombakan bahan organic oleh jasad renik,
mencegah terjadinya busuk akar, serta mengurangi populasi berbagai

10

hama. Selain itu, untuk fase-fase tertentu, tujuan pengeringannya


berbeda sehingga perlu diulakukan secara tepat pada fase trersebut.
Cara pengeluaran air adalah dengan membuka saluran
pembuangan dipinggir lahan sehingga air keluar melalui alur yang
sudah dibuat ditengah-tengah lahan.
- Menjelang bunting, bertujuan untuk menghentikan pembentukan
anakan atau tunas karena pada saat ini tanaman mulai memasuki
fase pertumbuhan generatif. Lama pengeringan lahan 4 5 hari.
Keadaan seperti ini akan merangsang pertumbuhan generatif
-

sehingga tanaman akan berbunga serentak.


Pemasakan biji, adalah untuk menyeragamkan

biji

dan

mempercepat pemasakan biji. Patokan pengeringan adalah saat


seluruh bulir padi mulai menguning. Pengeringan jangan
dilakukan sebelum semua bulir tampak menguning karena dapat
berakibat malai padi menjadi kosong. Pengeringan ini dilakukan
hingga saat padi dipanen.
7. Pemberantasan Hama dan Penyakit
Pemberantasan hama dan penyakit padi organik perlu dilakukan
secara terpadu antara budidaya, biologi, fisik (perangkap atau umpan),
dan kimia (pestisida organik)
8. Panen
Panen merupakan saat yang ditunggu-tunggu setiap petani. Pada
dasarnya panen dan penanganan lepas panen (pasca panen) padi yang
ditanam secara organic tidak berbeda padi yang ditanam secara
konvensional.
Secara umum padi dikatakan sudah siap panen bila butir gabah
yang menguning sudah mencapai sekitar 80 % dan tangkainya sudah

11

menunduk. Tangkai padi menunduk karena sarat dengan butir gabah


bernas. Untuk lebih memastikan padi sudah siap panen adalah dengan
cara menekan butir gabah. Bila butirannya sudah keras berisi maka saat
itu paling tepat untuk dipanen.

12

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bertanam padi secara organik pada dasarnya tidak berbeda dengan
bertanam padi pada pelaksanaan intensifikasi yang dilakukan petani.
Perbedaannya hanya pada pemilihan varietas, penggunaan pupuk dan
pestisida.
3.2 Saran
Buat para pembaca saya sarankan penanaman padi secara organik
lebih mudah karena bahan yang mudah didapatkan dan harganya pun lebih
terjangkau dan untuk pemupukannya pun bisa membuatnya sendiri.

13

DAFTAR PUSTAKA

https://ktnakampar.wordpress.com/2011/10/22/budidaya-padi-secara-organik/
http://akhmad113.mywapblog.com/cara-budidaya-tanaman-padi-denganpupuk.xhtml
http://alamtani.com/budidaya-padi-organik-metode-sri.html
http://duniaplant.blogspot.co.id/2014/09/definisi-dan-pengertian-padi-padian.html

14

Anda mungkin juga menyukai