Anda di halaman 1dari 7

Struktur Sel dan Pembelahan Sel pada Manusia

Putri setiawati
102013417
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara, No. 6, Jakarta Barat, 11510, Telp. (021) 5694-2061
putri.2013fk417@civitas.ukrida.ac.id

Pendahuluan
Sel merupakan suatu unit terkecil dari kehidupan dimana sel merupakan bagian yang
tidak terlepas dari kehidupan kita, baik itu manusia, tumbuhan maupun hewan semua pasti
memiliki sel dalam tubuh mereka. Sel-sel ini memiliki peran yang sangat penting dalam tubuh
itu sendiri baik itu sel kulit, otot, sel saraf, sel di ginjal, sel pada sistem imun, sel darah dan
berbagai macam sel lainnya. Meskipun terdiri dari berbagai macam sel dan jenis sel yang
berbeda dalam satu tubuh tetapii pada dasarnya semua sel bekerja pada prinsip yang sama. Sel
merupakan suatu keajaiban evolusi. Mengapa demikian?. Karena sangat menakjubkan. Setiap
manusia pada hakikatnya adalah masyarakat jutaan sel yang mengatur segalanya, dari gerakan,
ingatan, sampai imajinasi. Kita berasal dari satu sel telur yang di buahi. Bahkan, seluruh
kehidupan berasal dari satu sel, jutaan tahun silam. Sel bekerja untuk memahami bagaimana
suatu penyakit itu dapat terjadiharapkn dengan penulisan tinjauan pustaka ini pembaca dapat
mengerti tentang betapa unik dan menariknya sel itu sendiri di dalam kehidupan kita.
Sel
Sel adalah unit dasar kehidupan struktural dan fungsional terkecil dari tubuh. Sebagian
besar reaksi kimia untuk mempertahankan kehidupan berlangsung dalam sel. Sel dan zat
intraseluler membentuk keseluruhan jaringan tubuh. Jumlah sel yaitu ada triliunan sel dalam
tubuh manusia. Sebagai contoh, jumlah total sel darah merah dalam tubuh manusia dengan
ukuran tubuh rata adalah 25 triliun. Bentuk sel, bentuk sel dasar yang terisolasi adalah bulat,
seperti sel darah sel lemak dan sel telur. Bentuk sferikal dasar biasanya berubah karena
spesialisasi sel berdasarkan fungsinya. Contoh, sebuah sel saraf bebentuk seperti bintang dengan
prosesus yang panjang dan sel otot polos berbentuk perti spindel. Penggepengan sel terjadi
karena kontak dengan permukaan. Bentuk permukaan sel terjadi akibat tekanan dari banyak
permukaan.1
Struktur sel
Struktur sel merupakan pendukung bagi proses kehidupan sel. Hasil-hasil penelitian selama
puluhan tahun telah menunjukkan bahwa struktur sel dan transformasi selular di atur secara rapi.
Pengaturan selular tersebut dapat di lakukan karena sel mempunyai dua fungsi utama yaitu: (1)
sebagai piranti kimiawi yang melakukan proses metabolisme, dan (2) sebagai piranti yang

menyimpan kode-kode informasi biologis yang akan di turunkan ke dalam anakannya. Proses
metabolisme akan berlangsung sesuai dengan informasi biologis yang di simppan di dalam sel
yang bersangkutan. Informasi biologis tersebut tersimpan dalam bentuk kode-kode genetik yang
berada dalam bahan genetik, yaitu molekul DNA (deoxyribonucleic acid). Informasi genetik
tersebut harus di salin dan di terjemahkan melalui proses ekspresi genetik yang kompleks
menjadi rangkaian asam-asam amino yang spesifik. Rangkaian asam amino (protein) tersebut
kemudian akan di gunakan di dalam proses metabolisme sel. Dari segi satuan dasar individu,
jasar hidup seluler yang ada di alam dapat di golongkan menjadi jasad bersel tunggal (unicelluler
organism), dan jasad bersel banyak (multicelluer organism). Penggolongan jasad seluler dapat
juga di dasarkan atas struktur dan organisasi sel yaitu jasad prokaryot dan jasad eukaryot.2
1. Sel Prokaryot
Suatu sel prokaryot terdiri atas struktur-struktur utama yaitu: (a). dinding sel, (b).
memberan plasma, (c). ribosom, (d). bahan gnetik. Secara organisasi, sel prokaryot
mempunyai struktur yang lebih sederhana di bandingkan dengan jasad eukaryot. Salah
satu ciri struktural utama yang membedakan dengan jasad uekaryot adalah tidak adanya
membran inti sel (nukleus) sehingga jasad ini di sebut prokaryot. Di samping itu pada sel
prokaryot tidak ada organel khusus, misalnya mitokondria, badan golgi, retikulum
endoplasma, dan lain-lainnya seperti yang ada pada sel eukaryot.2
2. Sel Eukaryot
Sel eukaryot mempunyai struktur dan organisasi yang lebih kompleks di bandingkan
dengan sel prokaryot. Pada eukaryot bahan genetiknya (DNA) berada di dalam suatu
memberan nukleus sehingga eukaryot mempunyai struktur nukleus yang jelas. Membran
nukleus eukaryot terdiri dari atas dua lapis, yaitu membran dalam dan membran luar.
Pada beberapa tempat, kedua lapisan membran nukleus tersebut berfungsi antara bagian
dalam nukleus dengan sitoplasma. Pada eukaryot bahan genetik utamanya umumnya
terdiri atas lebih dari satu kromosom berbentuk linear yang di kemas sedemikian rupa
dengan adanya protein yang di sebut histon. Pada beberapa jasad eukaryot, khususnya
eukaryot tingkat rendah, juga ada bahan genetik ekstrakromosom (plasmid). Beberapa
organel penting yang terdapat di dalam sel eukaryot antara lain adalah: mitokondria
(tempat produksi energi selular), retikulum endoplasma kasar (berperan dalam prose
sekresi protein dan tempat melekatnya ribosom), Retikulum ednoplasma halus ( tempat
detoksifitas senyawa-senyawa tertentu dan sintesis lemak), badan golgi (berperan dalam
sekresi dan sortasi/pemilahan protein), kloroplas (tempat berlangsungnya reaksi
fotosintesis pada tumbuhan), vakuola (tempat penyimpanan air serta produk
metabolisme). Dan organel-organel lain.2
Pembelahan sel
Pembelahan sel, proses pembelahan sel somatik di sebut mitosis. Terjadi selama mitois,
terutama pada tahap profase dalam mitosis, kromosom tersebut nampak dan mudah
mengdentifikasi untuk penggambaran kariotip. Ada bentuk lain pembelah sel dimana sel diploid
(46 kromosom) menjadi haploid (23 kromosom). Proses ini berlangsung pada pembentukan sel
benih yang di sebut meiosis.3

Mitosis yaitu proses pembelahan sel ini terjadi pada kebanyakan sel tubuh. Dalam mitosis
2 sel anak yang secara genetik identik di hasilkan dari satu sel induk tunggal. Sebelum
pembelahan sel, replika DNA telah terjadi sehingga ada DNA jumlah ganda dan kromosom
mengandung dua kromatid saudara identik. Mitosis di bagi menjadi bebrapa tahap. Profase di
tandai oleh pembentukan spiral benang kromosom menjadi kumparan untuk membentuk
kromosom yang dapat di identifikasi secara mikroskopik: membran inti dan nukleuolus
menghilang dan benang mitosis berbentuk kumparan. Pada metafase kromosom memadat dan
nampak jelas sebagai struktur tersendiri. Sentromer kromosom menempel pada pipamikro
kumparan mitosis dan kromosom lurus di tengah sel sepanjang kumparan tersebut. Anafase di
tandai oleh pembelahan kromosom sepanjang sumbu longitudinalmya membentuk 2 kromatid
anakan dan perpindahan sikap kromatid pasangan menuju ujung sel yang berlawanan. Telofase
yang mengakhiri mitosis, di tandai oleh pembentukan kembali membran inti dan nukleolus, dan
duplikasi sentriolus serta pembelahan sitoplasma membentuk 2 sel anakan.3
Meiosis yaitu merupakan bentuk pembelahan sel yang terjadi untuk menghasilka sel
benih atau sel gamet (sel teur dan sel sperma). Proses ini di bagi menjadi dua bagian: meiosis I
dan meiosis II. Replika DNA tejadi sebelum meiosis I, dan sel mulai membelah 2 kali jumlah
DNA sel normal. Pada meiosis I, setiap sel anakan mendapatkan salah satu dari duplikat
kromosom dari tiap pasang. Pada permulaan meiosis II, setiap sel mengandung 23 kromosom
yang masing-masing dengan satu pasang duplikat kromatid. Pada meiosi II, duplikat pasangan
berpisah dan setiap sel anakan berakhir dengan masing-masing 23 kromosom, sehingga akan ada
4 sel anakan, masing-masing haploid (setengan jumlah normal) sel kromosom. Ada pertukaran
antar kromosom (pindah silang segemn kromosom) selama meiosis menimbulkan persekutuan
dan kombinasi baru gen-gen. dua kesalahan pembelahan sel yang sering terjadi saat mriosi
menyebabkan jumlah kromosomm abnormal serta anormali kromosom. Yang pertama adalah
tidak bersambung (nondisfunction), dimana dua kromosom gagal memisahkan dan berpindah
secara bersama-sama menjadi salah satu sel baru, menghasilkan satu sel dengan dua salinan
kromosom dan sel satunya tanpa salinan kromosom. Yang kedua adalah anafase berkurang
(anafase lag), dimana kromatid menghilang karena gagal berpindah secara cukup cepat saat
anafase menjadi tergabung kepada salah satu sel anakan yang baru.3
Transportasi Sel
Pemeliharaan kehidupan sel bergantung pada kesinambungan gerakan materi ke dalam
dan keluar sel. Nutrisi harus masuk, sampah harus keluar, dan ion-ion harus digerakkan ke dua
arah tersebut. Pergerakan menembus membran plasma terjadi melalui mekanisme transpor pasif
dan transpor aktif.
Transpor pasif digunakan dimana molekul yang bergerak melintasi membran plasma
bersama, turun, atau dengan gradien konsentrasinya. Molekul mengalir dari tempat itu pada
konsentrasi yang lebih tinggi ke tempat itu pada konsentrasi yang lebih rendah. Sebaliknya,
dalam transpor aktif, molekul yang bergerak melawan gradien konsentrasinya dalam proses yang
membutuhkan energi.4
Transpor Pasif

Difusi adalah perpindahan partikel (molekul, ion, atom) dari area dengan konsentrasi
tinggi ke area dengan konsentrasi rendah. Hal ini disebut menuruni gradien konsentrasi.
Banyak zat yang berdifusi dalam tubuh zat-zat larut lemak, ion-ion kecil, dan gas. Difusi
terjadi cepat pada jarak pendek tetapi sangat lambat jika melalui jarak jauh, hal ini mungkin
menjelaskan mengapa sel berukuran sangat kecil. Difusi berjalan lebih cepat dalam gas daripada
cairan.5
Transpor Aktif
Salah satu contoh penting transport aktif adalah pemompaan natrium dan kalium
melewati membran sel. Transport ini bergantung pada protein karier integral yang dikenal
dengan pompa natrium kalium. Energi yang diperlukan bagi kerja pompa ini, didapatkan dari
pemecahan ATP oleh suatu enzim. Enzim ini dikenal sebagai natrium kalium ATPase. Pompa
natrium kalium memindahkan ion natrium keluar sel dan ion kalium masuk ke dalam sel. Hal ini
menyebabkan peningkatkan konsentrasi natrium di cairan ekstrasel dibandingkan dengan cairan
intrasel dan menyebabkan peningkatan konsentrasi kalium di cairan intrasel dibandingkan
dengan cairan ekstrasel. Pompa natrium kalium mengangkut tiga molekul natrium keluar sel
untuk setiap dua molekul kalium yang diangkut masuk ke dalam sel.5
Karena natrium kalium adalah kation maka pemindahan tiga natrium keluar sel dan hanya
dua kalium ke dalam sel menciptakan suatu gradient listrik di antara kedua sisi membran.
Potensial membran listrik inilah yang memungkinkan sel saraf dan otot berfungsi dan
menimbulkan potensial aksi.6
Kerusakan sel
Kerusakan sel terjadi apabila suatu sel tidak lagi dapat berdaptasi terhadap rangsangan.
Hal ini dapat terjadi bila rangsangan tersebut terlalu lama atau terlalu berat. Sel dapat pulih dari
cedera atau mati bergantung pada sel tersebut dan besar jenis cidera. Hipoksia kekurangan
oksigen), infeksi mikroorganisme, suhu yang berlebihan, trauma fisik, radiasi, dan terpajan oleh
radikal bebas semuanya menyebabkan cidera dan kerusakan sel. Apabila suatu sel mengalami
kerusakan, maka sel tersebut dapat mengalami perubahan ukuran, bentuk sintesis protein,
susunan genetik, sifat transportasinya.
Penyebab dan akibat
Apabila kerusakan berawal di membran kapiler, terjadi pergerakan plasma dan sel darah
merah ke ruang interstiriasial. Hal ini meningkatkan jarak yang harus di tempuh oksigen dan
karbon dioksida untuk berdifusi, sehingga kecepatan pertukaran gas menurun. Cairan yang
menumpuk di ruang interstisial bergerak ke dalam alveolus, mengencerkansurfaktan dan
meningkatkan tegangan permukaan. Energi tekanan yang di perlukan untuk mengembangkan
alveolus menjadi sangat meningkat. Peningkatan tegangan permukaan di tambah ededma dan
pembengkakan ruang interstiasial dapat menyebabkan atelektasis kompresi yang luas, sehingga
daya regang paru berkurang kondisi seperti ini menyebabkan penurunan ventilitas dan hipoksia
yang bermakna. Penyebab kerusakan kapiler paru antara lain adalah septikemia. Pankreatitis,

bisa (racun), dan uremia. Pneumonia, inhalasia asap, trauma, dan tenggelam juga dapat merusak
membran kapiler paru.6

Adaptasi sel
Adapasi terjadi jika stresor fisiologik atau patologik menimbulkan suatu keadaan baru
yang mengubah sel tetapi sel tersebut tetap dapat mempertahankan viabilitasnya dalam
menghadapi stimulus eksogen tersebut.7
Perubahan ini meliputi: Hiperplasia (peningkatan jumlah sel), Hipertrofi (peningkatan massa
sel), atrofi (penurunan masa sel), metaplasia (perubahan suatu jenis sel matur menjadi sel lain).
1. Hiperplasia yaitu permbesaran masa jaringan di sebabkan oleh bertambahnya sel-sel yang
menyusunnya. Apakah yang terjadi itu hiperplasia atau hiertrofi tergantung kemampuan
regenerasi sel-sel yang menyusunnya. Hiperplasia fisiologis terjadi pada pubertas dan
kehamilan. Hiperplasia komponensatorik terjadi pada organ yang sanggup memulihkan
jaringan yang hilang (mis, hati). Hiperplasia patologis yang tejadi pada organ dengan selsel yang dapat beregenerasi, yang di rangsang abnormal (mis, troid dan paratiroid)
hiperplasia di akibatkan oleh stimulus yang tidak di ketahui dan hampir selalu berhenti
setelahstimulus di hilangkan. Reproduksi yang terkontdol ini adalah gambaran penting
yang membedakan hiperplasia dan neoplasia. Terdapat hubungan yang eray antara
hiperplasia ptologis tertentu dan keganasan (malignasi).8
2. Hipertrofi menunjukkan adanya pembesaran masing-masing sel, yang berkaitan
membesarnya massa jaringan seluruhnya, tanpa menambah jumlah selnya. Biasanya
terjadi sebagai respon organ tertentu terhadap peningkatan kerja jaringan tersebut. Contoh
hipertrofi fisiologis adalah membesarnya otot-otot akibat latihan. Hipertrofi juga dapat di
sebabkan oleh kebutuhan fungsi yang meningkat seperti hipertendi sistematik, dimana
miokard harus memompa dengan tekanan yang lebih besar dan ukuran sel otot miokard
meningkat.8
3. Atrofi menunjukkan adanya penciutan ukuran se akibat kurang aktif, terputusnya saraf
pemasok, pengurangan pasokan darahm kekurangan nutrisim atau hilangnya rangsangan
hormonal. Secara fisiologis terjadi akibat proses penuaan pada banyak tempat. Contoh
atrofi fisiologis terlihat pada timus pada masa remaja dan uterus sesudah menopause.8
4. Metaplasia adalah perunahan yang reversible, yaitu satu jenis sel di ganti oleh jenis sel
lain. Biasanya terdapa pada bronkitis menahun pada perokok: epite bertingkat silimdris
bersila bersel goblet di ganti oleh epitel berlapis gepeng, yang lebih than terhadap asap
rokok. Metaplasia sering merupakan awaldari proses keganasan.8
Reaksi sel
Leukosit yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh terdiri atas fagosit dan limfosit.
Fagosit merupakan sel yang akan menghancurkan benda asing yang masuk ke dalam tubuh
dengan cara menelannya (fagositosis). Fagosit terdiri dari atas neutrofil dan makrofag.
Neutrofil terdapat di dalam darah, sedangkan makrofag mampu memasuki ke dalam jaringtan
ataupun rongga tubuh. Limfosit terdiri atas dua jenis yaitu limfosit B dan limfosit T.

Limfosit T dan limfosit B masing-masing berespons terhadap imunitas dimediasi sel dan
imunitas di mediasi antibodi. Sebagai respons terhadap antigen, limfosit mengasilkan sel T
yang dapat mengakat dan memakan benda asing dan sel B yang menghasilkan molekul
protein spesifik, yang di sebut antibody, yang juga dapat meningkatkan oksigen. Dengan
mengikat antigen, antigen menjadi tidak aktif dan menghasilkan kpmpleks imun yang
selanjutnya di makan oleh eosinofil.Tiga tipe limfosit T yang di hasilkan: sel T-killer, yang
aktif memakan benda asing, sel T helper yang membantu menghasilkan antibodi, dan sel T
memori berespons memberi invasi antigen. Sel memori B dan sel memori T adalah dasar
imuntas.9
Pembahasan kasus
Dapat diperoleh bahwa Sel merupakan unit terkecil dari kehidupan dimana sel
merupakan bagian yang tidak terlepas dari kehidupan kita, baik itu manusia, tumbuhan
maupun hewan semua pasti memiliki sel di dalam tubuh mereka. Berdasarkan kasus skenario
F yaitu seorang laki-laki berusia 40 tahun yang bekerja di tambang batubara selama 20 tahun,
yang mulai merasa sesak nafas selama 1 bulan terakhir. Dokter mendapatkan: pada waktu di
suruh mengambil nafas, dadanya tidak berkembang dengan baik (pergerakan dada terbatas).
Telah di jelaskan tadi pada kerusakan sel dan adaptasi sel, yang dimana kerusakan sel terjadi
apabila suatu sel yang tidak lagi mampu beradaptasi terhadap rangsangan. Hal ini dapat
terjadi bila rangsangan tersebut terlalu lama atau berat. Pada kasus yang kita bahas laki-laki
tersebut sudah bekerja selama 20 tahun di tambang batubara. Bisa saja orang tersebut
menderita penyakit paru-paru yang di sebabkan karena menghidup debu batubara dalam
jangka panjang. Dimana leukosit (sistem kekebalan tubuh) yang terdiri atas fagosit yaitu
merupakan sel yang akan menghancurkan benda asing yang masuk ke dalam tubuh dengan
cara menelannya sudah kualahan dalam menangani rangsangan dari benda asing yang masuk.
Sehingga pernafasan orang tersebut terganggu.
Penutup
Sel adalah unit kehidupan strukural dan fungsional terkecil dari tubuh. Pada dasarnya,
unit terkecil yang menyusun tubuh manusia adalah sel. Di dalam tubuh manusia terdapat
miliaran sel dengan jumlah yang diatur oleh pembelahan sel dan kematian sel. Melaui proses
pembelahan sel inilah, tubuh akan mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan.
Misalnya saja, bertambah tinggi, kuku dan rambut bertambah panjang, mencapai kematangan
fungsi organisme, dsb. Bukan hanya itu, pembelahan sel juga memiliki peran dalam
memperbaiki jaringan-jaringan yang rusak.
Menurut sifat dan letak terjadinya pembelahan, pembelahan sel dibagi menjadi dua, yaitu
mitosis dan meiosis. Mitosis dapat diartikan sebagai pembelahan normal sel tubuh (sel
somatis) untuk membentuk sel anakan yang masing-masing mempunyai komplemen
kromosom yang sama dengan sel orangtua. Jika sel induk yang membelah mengandung
kromosom diploid (2n), sel anakan yang dihasilkan dari pembelahan tersebut juga diploid
(2n). Sementara itu meiosis adalah pembelahan sel yang terjad dalam pembentukan sel-sel

kelamin (sel telur dan sperma). Berbeda dengan mitosis, jumlah kromosom sel hasil
pembelahan adalah setengah dari sel induknya (n = haploid).

Daftar pustaka
1. Sloane E. Anatomi dan fisiologi. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC. 2004. h. 34.
2. Yuwono T. Biologi molekular. Jakarta: Penerbit erlangga. 2008. h. 8-10.
3. Arvin BK. Ilmu kesehatan anak. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC. Edisi 15. 2000.
h. 391.
4. Priastini R, Hartono B, Hudyono J. Buku ajar biologi blok 3 dan 4 dasar biologi sel.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Ukrida. 2010. h. 99.
5. James J, Baker C, Swain H. Prinsip-prinsip sains. Jakarta: Penerbit Erlangga. 2008. h. 27.
6. Corwin EJ. Buku saku patofisiologi. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC. 2009. h.
553.
7. Cotran. Robbins. Buku saku dasar patologis penyakit. Jakarta: Penerbit buku kedokteran
EGC. 2009. h. 4.
8. Tambayong R. Patofisiologi. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC. 2000. h. 5-7.
9. Wasten R. anatomi dan patologi. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC. 2002. h. 410.

Anda mungkin juga menyukai