Anda di halaman 1dari 9

MANAJEMEN KEUANGAN

LAPORAN KEUANGAN

Oleh :
Nama

: Luh Kadek Githa Bella

Nim

: 1306305046

No. Absen

: 11

Program Reguler Jurusan Akuntansi


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana
2016/2017

1. Laporan Keuangan Pokok


Pada umumnya laporan keuangan yang disusun oleh suatu perusahaan meliputi: neraca,
perhitungan rugi laba, laporan perubahan posisi keuangan dan catatan atas laporan keuangan.
Neraca adalah suatu ikhtisar yang menggambarkan posisi harta, utang, dan modal.
Perhitungan rugi laba adalah ikhtisar yang memuat rincian pendapatan dan biaya dalam
angka perhitungan laba atau rugi untuk suatu periode tertentu. Agar mengetahui
perkembangan perusahaan, maka dibuatlah laporan keuangan komparatif untuk dua tahun
terakhir.
Pos-pos neraca dibagi menjadi 3 bagian, yaitu aktiva, utang, dan modal. Pasiva pada
neraca menunjukkan sumber-sumber dana dan aktiva neraca menunjukkan alokasi dananya.
Aktiva terdiri dari aktiva lancar, investasi, aktiva tetap, dan aktiva lain-lain. Untuk kewajiban
terdiri dari kewajiban lancer, kewajiban jangka panjang, kewajiban lain-lain. Untuk modal
terdiri dari modal saham, agio saham, dan laba yang ditahan. Penyajian komponen neraca
lazimnya aktiva diklasifikasi menurut likuiditasnya, kewajiban menurut urutan jatuh tempo,
dan modal menurut sifat kekekalannya.
Penyajian rugi laba memuat unsur-unsur pendapatan dan beban dalam bentuk urutan
kebawah serta dipisahkan antara hasil dari bidang usaha lain serta pos luar biasa. Rugi laba
memiliki komponen, yaitu penjualan, harga pokok penjualan, laba bruto, beban usaha,
pendapatan dan beban lain-lain, laba sebelum pajak penghasilan, pajak penghasilan, dan laba
bersih.
2. Analisis Persentase Per Komponen
Analisis common size atau disebut analisis persentase perkomponen adalah laporan
keuangan dalam bentuk persentase masing-masing pos neraca terhadap jumlahnya dan
msing-masing pos rugi laba terhadap jumlah penjualan. Analisis ini merupakan metode
analisis laporan keuangan yang disusun secara vertical untuk mengetahui persentase investasi
pada masing-masing pos aktiva terhadap total aktiva, pos-pos biaya terhadap pasivanya, serta
pos-pos rugi laba terhadap total penjualan netonya. Melalui analisis ini akan dapat diperoleh
suatu dasar atau ukuran umum yang dapat digunakan sebagai pembanding.
Persentase investasi adalah berapa persen investasi yang tertanam pada masing-masing
aktiva tersebut dengan membandingkan antara masing-masing aktiva terhadap jumlah aktiva.
Pada sisi pasiva neraca menggambarkan mengenai struktur permodalan perusahaan dengan
persentase jumlah hutang terhadap jumlah pasiva dan jumlah modal sendiri terhadap pasiva.

Dilihat dari laporan rugi laba, pendapat atau penjualan diserap pos biaya dengan
membandingkan antara masing-masing pos biaya terhadap jumlah penjualan.
PT IMASINDO
Neraca Perbandingan Commonsize
31 Desember 2008 dan 2009
2008
2009
RP.000.00 RP.000.00
0
0
AKTIVA
kas
piutang
dagang
perseidaan
persekot biaya
jumlah
aktiva lancar
tanah
bangunan
aktiva tetap
lainnya
Cad. Prny.
aktiva
jumlah aktiva
tetap
jumlah
aktiva
hutang dan
modal :
hutang dagang
hutang wesel
hutang gaji
jumlah
hutang lancar
hutang
jk.panjang
modal saham
laba ditahan
jumlah
modal
jml. Hutang
dan modal

% SUB
TOTAL

% TOTAL

2008

2009

2008

2009

130
210
20

164
235
25

36
58
5

38
55
6

23
37
4

26
38
4

363

425

100

100

15
147

15
109

7
72

8
57

3
26

2
18

63

90

31

47

11

15

(22)

(24)

(10)

(12)

(5)

(4)

203

190

100

100

566

619

100

100

167
35
81

210
70
60

59
12
29

62
21
17

30
6
14

34
11
10

283

340

100

100

10
50
223

10
50
219

4
18
78

2
19
79

2
9
39

2
8
35

283

279

100

100

566

619

100

100

PT IMASINDO
Laporan Laba Rugi Perbandingan Commonsize
31 Desember 2008 dan 2009

Penjualan Neto
Harga pokok
Penjualan
laba Kotor
Biaya operasi ;
Biaya
Penjualan
Biaya
Administrasi
Laba Operasi
Biaya lain lain
Laba bersih
sebelum pajak
pajak
Laba bersih
setelah pajak

2008
Rp.000.0
00
700

2009
Rp.000.0
00
898

566
134

persentase per
komponen
100

100

638
260

81
19

71
29

40

127

14

22
72
5

68
65
11

10
1

7
1

67
20

54
16

9
2,9

6
1,6

47

38

6,1

4,4

Dilihat dari laporan diatas, dari aspek likuiditas menunjukkan kemampuan perusahaan
membayar kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar yang dimilikinya. Semakin
dominan pos-pos aktiva lancar yang tingkat likuiditasnya rendah seperti persediaan,
menunjukkan bahwa likuiditas perusahaan kurang baik. Kemudian, dilihat dari aspek
solvabilitas menunjukkan kemapuan perusahaan membayar seluruh kewajiban dengan modal
sendiri yang dimilikinya. Dari perhitungan, jumlah modal sendiri berkurang, jumlah utang
bertambah, dan peranan utang lebih besar daripada modal sendiri. Hal ini menunjukkan
perusahaan semakin besar menggunakan dana pinjaman dan tingkat solvabilitas semakin
menurun dengan margin of safety bagi kreditur semakin menurun. Dilihat dari aspek
efisiensi, umumnya dikaitkan antara biaya dengan pendapatan. Dilihat dari laporan, adanya
peningkatan efisiensi dalam biaya produksi dimana laba kotor mengalami peningkatan, biaya
operasi mengalami peningkatan, dan harga pokok penjualan menurun. Dengan demikian,
dibagian kantor nampaknya bekerja kurang efisien. Terakhir, dilihat dari rentabilitas
menunjukkan perusahaan memperoleh laba. Menurut laporan, persentase laba bersih sesudah
pajak menurun karena kenaikan biaya operasi yang cukup besar.

3. Analisis Indeks
Analisis indeks/trend adalah salah satu metode analisis laporan keuangan untuk
mengetahui kecenderungan atau tedensi keadaan keuangan suatu perusahaan apakah naik,
turun atau tetap untuk tiga periode atau lebih dengan menggunakan angka indeks 100. Angka
indeks 100 adalah untuk tahun dasar. Tahun dasar tidak selamanya tahun awal melainkan
yang representative.
Cara penyusunan dengan indeks meliputi menentukan tahun dasar yaitu tahun yang
dianggap representative pada periode tahun yang dianalisis. Kemudian, menentukan angka
indeks 100 pada tahun dasar untuk masing-masing pos dalam tahun dasar. Lalu, pos-pos yang
dianalisis dibandingkan dengan pos yang sama dalam laporan keuangan tahun dasar. Terakhir,
perhitungan rasio trend/kecenderungan pada umumnya tidak semua pos-pos neraca dan
laporan rugi laba dari beberapa periode tersebut dihitung karena perhitungan rasio membuat
hubungan informasi dengan pos-pos lainnya.
Trend merupakan data yang belum menjadi informasi dan ia akan menjadi informasi bila
dikaitkan dengan aktiva yang beroperasi/produktif yang merupakan perbandingan antara
jumlah penjualan terhadap jumlah aktiva yang beroperasi. Rasio ini hanya mengukur
hubungan penjualan bersih dengan aktiva yang digunakan dan tidak memberikan informasi
mengenai laba yang diperoleh, penjualan untuk satu periode dimana rasio untuk tahun
pertama rendah, dan uncontrollable factors yaitu factor diluar kemampuan perusahaan khusus
untuk tingkat penjualan. Untuk menghidari kelemahan tersebut, perlu ukuran tingkat
perputaran aktiva dari perhitungan aktiva produktif, bukan dari jumlah aktiva. Biasanya,
kecendrungan naiknya piutang dagang, menyebabkan turunnya penjualan karena adanya
overinvestment dalam piutang atau tidak efektifnya para penagih utang. Selain
overinvestment pada piutang, hal ini juga terjadi pada persediaan dimana banyak modal kerja
yang tertanam dalam persediaan.
Tingkat perputaran aktiva yang tinggi menunjukkan manajemen efektif dengan
diperolehnya return on investment atau kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari
seluruh dana yang diinvestasikan. Naiknya penjualan dikaitkan dengan naiknya biaya operasi
yang lebih rendah sehingga menggambar naiknya laba operasi. Didalam menggunakan
analisis indeks, sebaiknya menghubungkan antara angka-angka dalam persen dan nilai
rupiah.

Dilihat dari beberapa kasus, apabila didalam menganalisis trend/indeks ini tidak
mengikutsertakan angka-angka absolutnya, maka akan memberikan interpretasi yang kurang
tepat. Kemudian, antara kenaikan uang muka biaya yang persenannya lebih besar
dibandingkan nilai persediaan, tetap kenaikan persediaan walaupun kecil harus mendapatkan
perhatian lebih besar daripada kenaikan persekot biaya. Lalu, persentase kecenderungan akan
lebih bermanfaat dan menghasilkan interpretasi yang mendekati kebenaran apabila prinsipprinsip akuntansi harus konsisten pada periode bersangkutan dan selama periode yang
dianalisis tidak terjadi perubahan tingkat harga atau nilai uang.

PT. PRADNYANA
Neraca Perbandingan
Dengan Persen Kecenderungan
Per 31 Desember 2005-2009
POS POS
aktiva lancar
Kas
piutang dagang
Perseidaan
persekot biaya
jumlah aktiva
lancar
Tanah
Bangunan
aktiva tetap
lainnya

% Kecenderungan th dasar
2005=100%

Desember 31(Rp. 000.000)


200
5
2006 2007 2008 2009 2006 2007 2008 2009
6
3
1.5
2.5
500
50
25
42
8
48
50
65
82
95 104 135 171 198
117.
90 92.5
105
5
145 103
117 131 161
5
7.5
10 12.5
15 150 200 250 300
181. 214.
149
153
5
5
256 103 122 144 172
7.5
7.5
7.5
7.5
7.5 100 100 100 100
71
78 73.5 54.5 50.5
110 104
77
71
32.5

35.5

31.5

45

45

Cad. Prny. aktiva

(9)

(11)

jumlah aktiva
hutang dan
modal :
hutang dagang
hutang wesel
hutang gaji
jumlah hutang
lancar
hutang jk.panjang

251

(11)
263.
5

(12)
309.
5

44
5
20

57
7.5
24

105
35
30

69
5

88.5
5

jumlah hutang
modal saham
laba ditahan

74
25
152

93.4
25
145

83.5
17.5
40.5
141.
5
5
146.
5
25
111.

283

(13)

109
(117
)

97
(122
)

138
(133
)

138
(144
)

346

105

113

123

138

130
150
120

190
350
203

239 314
700 1000
150 183

170
5

138
50
36.5
224.
5
5

128
100

205
100

246
100

325
100

175
25
109.

229
25
91.5

126
100
95

198
100
73

237
100
72

310
100
60

177
jml. Hutang dan
modal

251

170
263.
5

5
136.
5

5
134. 116.
5
5
309.
283
5
346
PT PRADNYANA

96

77

76

66

105

113

123

138

% Kecenderungan th
dasar 2005=100%
200 200 200 200
6
7
8
9

Dari

Laporan Laba Rugi Perbandingan


Dengan Persen Kecenderungan
31 Desember 2005-2009

laporan

POS POS

dilihat
aspek

Penjualan
Neto
Harga
pokok
Penjualan

Desember 31(Rp. 000.000)


200 200 200 200 200
5
6
7
8
9
474.
547.
524
5 350 449
5
406

375.
5

283

319

368
179.
130
5
63. 100.
5
5

91

67

86

104

92

70

79

91

57

110

152

34

107

169

37

113

178

35

109

172

126

114

89

167

367

500

laba Kotor
118
99
67
84
Biaya
59.
Penjualan
5
52
20
87
Biaya
Administras
i
30
20
11 34 53.5
67
Biaya
89.
97.
Operasi
5
72
31
5 154
8
Laba
28.
32.
Operasi
5
27
36
5 25.5
95
Biaya lainlain (bunga) 1.5
2 2.5 5.5 7.5 133
laba bersih
sebelum
33.
pajak
27
25
5
27
18
93
likuiditas, dari kenaikan persentase kecenderungan dapat kita

diatas,
dari

124 100
67
lihat bahwa kenaikan utang

lancar jauh lebih besar daripada kenaikan aktiva lancar dan trend likuiditas cenderung
menurun. Kemudian, dilihat dari aspek solvabilitas, jumlah utang masing-masing naik dan
penurunan modal sendiri dimana ada kecenderungan perubahan semakin besar dibelanjai
dana pinjaman. Hal ini menunjukkan kecenderungan solvabilitas perusahaan menurun. Lalu,
dilihat dari aspek rentabilitas, trend laba menunjukkan penurunan dan jumlah aktiva
mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan kecenderungan rentabilitas perusahaan
semakin menurun. Terakhir, dilihat dari aspek aktivitas usaha, trend penjualan neto
mengalami penurunan dan trend piutang dagang mengalami peningkatan. Hal ini

menunjukkan bagian penagihan bekerja kurang efektif. Apabila trend penjualan menurun,
maka trend piutang dagang selayaknya menurun. Jadi, ada kemungkinan bagian pembelian
atau pemasaran atau produksi bekerja kurang efisien.

REFERENSI
Wiagustini Ni Luh Putu. 2010. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Cetakan Pertama, Edisi
Bahasa Indonesia. Denpasar: Udayana University Press.