Anda di halaman 1dari 6

LTM 2 PERPINDAHAN KALOR

Nama

: Adlimatul Putri Ilmiyah

NPM

: 1406531851

Jurusan

: Teknik Kimia

Topik Pemicu
Outline

: Resistansi termal dan formulasi kapasitas


: 1. Pengertian dan teori dasar resistansi termal
2. Angka biot dan angka fourier
3. Tahanan termal dan formulasi kapasitas

1. Pengertian dan teori dasar resistansi termal


Resistansi termal atau tahanan termal merupakan kemampuan
suatu bahan untuk menghambat aliran kalor. Resistansi termal,
disimbolkan dengan R, Dan diformulasikan sebagai berikut :
x
R=
(1)
k
Dengan x

merupakan ketebalan suatu lempeng (m), dan k

merupakan konduktifitas termal(W/m.K. adapun beberapa nilai


konduktifitas termal pada beberapa jenis material dapat dilihat pada
tabel dibawah ini :

Tabel 1. Konduktifitas termal pada beberapa jenis material


(sumber: http://www.teknikmesin.org/sifat-fisik-bahan/)

Untuk kondisi keadaan tunak, perpindahan energi netto ke dalam


node itu adalah nol. Sedangkan untuk soal-soal keadaan tak tunak
perpindahan energi netto ke dalam node itu harus nyata sebagai suatu
tambahan energi dalam node itu. Setiap unsur volume mempunyai
tingkah laku sebagai suatu kapasitas-tergabung kecil dan interaksi
semua unsur itu menentukan pula tingkah laku benda padat yang
bersangkutan selama berlangsungnya proses transien.
2. Angka Biot Dan Fourier
Biot dan fourier merupakan parameter yang tak berdimesi.
angka biot ( Bi )=

hs
k

angka fourier (Fo)=

(2)

s2

(3)

3. Tahanan termal dan formulasi kapasitas


Dalam kedua parameter diatas, s menunjukan karakteristik dimensi
benda itu; yaitu setengah tebal untuk plat dan jari-jari untuk silinder
dan bola. Angka Biot merupakan rasio antara besaran konveksi
permukaan dan tahanan konveksi dalam perpindahan kalor.Angka
Fourier membandingkan dimensi karakteristik benda dengan
kedalaman tembus (penetrasi) gelombang suhu pada suatu waktu .
Jika energi dalam node i dapat dinyatakan dengan kalor spesifik
dan suhu, maka laju perubahannya didekati dengan:
p+1

T +T i
E
=c i

(4)

Dimana V ialah unsur volume. Jika kita definisikan dalam kapas


termal sebagai
Ci =i ci V i

(5)

Maka formulasi kapasitas-tahananan umum untuk neraca energi pada


suatu node ialah :
p

p +1

T j +T i
T +T i
=C i + i
Rij

qi +

(6)

Persamaan diatas dikembangkan dengan menggunakan konsep bedamaju untuk menghasilkan suatu hubungan eksplisit untuk setiap
T ip +1 . Sebagaimana pada pembahasan sebelumnya, neraca energi
dapat pula dituliskan dengan menggunakan beda-mundur, yaitu
dengan perpindahan kalor kesetiap node nomor i, dihitung dengan
menggunakan suhu pada tambahan waktu p+1,
p +1
T p+1
T p +1+T ip
j T i
=C i + i
R ij

qi +

(7)

Jika penyelesaian tersebut diselesaika denga teknik iterasi Gaussp +1


Seidel, maka persamaan tersebut dapat diselesaikan untuk T i
dan
dinyatakan sebagai :

C
1
+ i
R ij

( )

qi +
T ip +1=

T pj +1
C
+( i )T ip
Rij

( )

(8)

Persyaratan stabilitas dalam formulasi eksplist dapat diperiksa dengan


p +1
menyelesaikan persamaan(6) untuk mendapatkan T i
:

Tj
Rij
1
R ij

Ci j

qi +
+
Ci
j
T ip+1 =

( )

Nilai
batas

qi

(9)

memengaruhi stabilitas, sehingga kita dapat menentukan

aman

qi =0.

yaitu

Adapun

syarat

stabilitas

minimum

dirumuskan sebagai berikut :


1

1
0

C i j Rij

( )

(10)

Jika kita telah merumuskan semua kapasitas dan tahanan node, kita
akan memilih tambahan yang akan digunakn dalam perhitungan.
Untuk menjamin stabilitas, maka nilai

harus dibatasi sebagai

berikut :
Ci

1
Rij

( )

untuk stabilitas

(11)

min

Untuk menghindari nilai galat yang besar , terutama bila nilai tahan
p +1
Ti
termal kecil. Maka kita dapat menyatakan
dalam bentuk
persamaan sebagai berikut :
T pj T ip
Rij
qi + +T ip
j

T ip +1=

(12)

Ci

Contoh soal :
Sebuah batangan baja (k = 50 W/m. oC), diameter 3 mm dan panjang
10 cm, mula-mula berada pada suhu merata 200 oC. Pada titik waktu
nol, batangan itu tiba-tiba di celupkan ke dalam fluida yang

mempunyai h = 50 W/m.oC dan T = 40oC sedang salah satu ujungnya


tetap berada pada 200oC. Tentukan distribusi suhu dalam batangan itu
sesudah 100 detik. Sifat-sifat baja ialah = 7800 kg/m 3 dan c = 0,47
Kj/Kg.oC.
Penyelesaian
Pemilihan tambahan-tambahan untuk batangan ini ditunjukkan oleh
gambar. Luas penampang batangan ialah A = (1,5) 2 = 7,069 mm2.
Unsur volume untuk node 1, 2, dan 3 adalah
V = A x = (7,069)(25) = 176,725 mm3
Node 4 mempunyai V yang nilainya setengah dari angka di atas, atau
88,36 mm3. Sekarang kita dapat mendaftarkan bernagai tahan dan
kapasitas untuk digunakan dalam formula eksplisit. Untuk node 1, 2, 3
kita dapatkan,
m=

Dan

x
0,025
C
=
=70,731
6
kA ( 50 ) ( 7,069 x 10 )
W
m+ =R
R

R =

1
1

=
=84,883
3
W
h (d x ) (50) (3 x 10 )(0,025)

7
C = cV = (7800)(470)( 1,7673 x 10

= 0,6479 J/C

Untuk node 4 kita dapatkan,


m+ =

C=

=2829
R =
=70,731
h x
W
kA
W
R

c V
J
2

=0,3240
R =
=169,77
2
C h ( d x )
W

Untuk menentukan syarat stabilitas dapat kita susun daftar berikut :


Node
1
2
3
4

(1/ Rij
0,04006
0,04006
0,04006
0,2038

Ci
0,6479
0,6479
0,6479
0,3240

Ci
,S
(1/ Rij )

16,173
16,173
16,173
15,897

Jadi, node 4 merupakan node yang paling membatasu, sehingga


didapatkan nilai < 15,9 s. Oleh karena kita ingin mendapatkan
distribusi suhu pada 100 detik, maka kita gunakan

T =10 dengan

melakukan perhitungan sebanyak 10 kali. Perhitungan yang dilakukan


menggunakan persamaan(12), dengan nilai qi = 0. Perhitungan
sebagai berikut:
Tambahan
Suhu node
T1
T2
T3
T4
waktu
0
200
200
200
200
1
170,87
170,87
170,87
169,19
2
153,4
147,04
146,68
145,05
3
141,54
128,86
126,98
125,54
4
133,04
115,04
111,24
109,7
5
126,79
104,48
98,76
96,96
6
122,1
96,36
88,92
86,78
7
118,53
90,09
81,17
78,71
8
115,8
85,23
75,08
72,34
9
113,7
81,45
70,31
67,31
10
112,08
78,51
66,57
63,37
Laju perpindahan kalor pada waktu terakhir yaitu 100s dapat kita
hitung dengan menumlahkan rugi kalor konveksi pada permulaan
batang. Jadi,
q=
i

q=

T iT
Ri

112,08+78,51+66,57(3)(40)
20040
1
1
+
+
+
( 63,3740 )=2,704 W
84,883
169,77 2829
(2)(84,883)

Daftar Pustaka :
Holman, J.P. 1986. Heat Transfer, Sixth Edition. New York : Mc Graw-Hill,
Ltd.