Anda di halaman 1dari 42

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Pembangunan di bidang industri telah memberikan dampak positif
bagi kekuatan ekonomi nasional yang ditandai dengan semakin
berkembangnya berbagai jenis industri dengan beraneka ragam jenis
produk. Keadaan ini memberikan lapangan pekerjaan yang semakin
luas,dan diharapkan dapat meningkatkan kesejateraan para pekerja
khususnya dan masyarakat pada umumnya. Ditinjau dari jenis dan modal
kerja yang digunakan,industri dikelompokan menjadi industri besar
(industri dasar),industri menengah (aneka industri) dan industri kecil
(home industri). Industri kecil dengan teknologi sederhana/tradisional
dengan modal yang relatif terbatas adalah industri yang banyak bergerak
di bidang informal. Pekerja pada kelompok ini merupakan kelompok
pekerja yang tergolong padaunderserved waiking population dan pada
umumnya belum mendapatkan pelayanan kesehatan kerja seperti yang
diharapkan. Kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara
pekerja dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya baik secara fisik
maupun secara psikis. Dalam hal cara/metoda kerja,proses kerja dan
kondisi kerja yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan kerja
masyarakat pekerja di semua lapangan kerja ke tingkat yang setinggitingginya baik fisik,mental maupun kesejateraan sosialnya,serta mencegah
timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja yang diakibatkan
oleh keadaan atau kondisi lingkungan kerjanya.

Salah satu kondisi lingkungan kerja yang dapat menimbulkan


gangguan kesehatan bagi pekerjanya adalah terpaan panas atau paparan
panas yang ekstrim. Karena paparan panas yang ekstrem telah menjadi
permasalahan yang banyak terdapat di lingkungan industri dan dapat
mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan, sehingga berpotensi
menyebabkan kecelakaan kerja dan dapat menurunkan produktivitas kerja.
Tekanan panas merupakan salah satu kondisi kerja dari faktor fisik yang
dalam keadaan tertentu dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Oleh
karena itu lingkungan kerja harus dibuat senyaman mungkin dengan
mengatur dan mengendalikan iklim di tempat kerja yaitu suhu
udara,kelembaban udara dan kecepatan udara, yang bertujuan untuk
meningkatkan produktivitas dan mengurangi tekanan panas. Tekanan
panas mengenai tubuh manusia dapat mengakibatkan berbagai
permasalahan kesehatan hingga kematian. Pada musim panas tahun 1995,
100 penduduk Chicago meninggal karena gelombang panas. Penelitian
lain di Amerika menunjukan terjadi 400 kematian setiap tahun yang
diakibatkan oleh tekanan panas. Di Jepang dari tahun 2001-2003
dilaporkan 483 orang tidak masuk kerja selama lebih dari 4 (empat) hari
karena penyakit akibat panas dan 63 orang diantaranya meninggal.
Kematian tersebut diakibatkan oleh berbagai penyakit yang disebabkan
oleh terpaan panas pada tubuh. Tubuh manusia selalu berusaha
mempertahankan keadaan normal dengan suatu sistem tubuh yang
sempurna sehingga dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang
terjadi diluar tubuh ,tetapi kemampuan untuk menyesuaikan diri tersebut

ada batasnya yaitu bahwa tubuh manusia dapat menyesuaikan dirinya


dengan temperature luar tidak lebih dari 20% untuk kondisi panas dan
35% untuk kondisi dingin dari keadaan tubuh normal.
Lingkungan kerja dengan suhu yang tinggi dapat mengganggu
kesehatan tenaga kerja seperti heat cramps,heat exhaustion,heat stroke dan
miliaria. Heat cramps dialami dalam lingkungan yang suhunya
tinggi,sebagai akibat bertambahnya keringat yang menyebabkan hilangnya
garam natrium (Na) dari tubuh,dan sebagai akibat dari minum banyak air
tapi tidak diberi garam untuk mengganti garam natrium yang hilang. Heat
cramps mengakibatkan kejang otot pada tubuh dan perut yang sakit.
Disamping kejang tersebut terdapat pula gejala yang biasa terjadi pada
heat stress yaitu pingsan, kelemahan dan muntah. Heat exhaustion
biasanya ditandai dengan penderita berkeringat banyak, suhu tubuh normal
atau subnormal,tekanan darah menurun dan denyut nadi bergerak lebih
cepat.
Selain itu panas dapat menyebabkan terjadinya dilatasi pembuluh
darah perifer, sehingga keseimbangan peredaran darah akan terganggu.
Penelitian menunjukan bahwa insiden penyakit yang diakibatkan dari
panas dengan kehilangan hari kerja paling kecil satu hari diestimasikan
sebesar 1.432 kasus. Menurut data kasus yang dianalisa oleh Jensen,
ditemukan industri yang mempunyai kasus dikarenakan sakit akibat panas
per 100.000 pekerja adalah pada area perkebunan (9,16 kasus/ 100.000
pekerja), konstruksi (6,36 kasus/100.000 pekerja), dan tambang (5,01

kasus/ 100.000 pekerja). Dinman et.all, melaporkan incident rate sebesar


6,2 per 100.000 hari kerja dengan studi pada tiga pabrik alumunium.
Pandai besi merupakan industri informal (home industri) pada
umumnya dilaksanakan disekitar rumah dan merupakan industri
keluarga.Industri tersebut merupakan salah satu industri yang mempunyai
resiko iklim kerja yang panas terhadap tenaga kerja,karena dalam proses
produksinya diperlukan suhu pemanasan sampai ribuan derajat celsius.
Usaha pandai besi ini menghasilkan berbagai jenis produk barang berupa
pisau,cangkul,sekop,hamer,sabit parang dan lain-lain. Sebagian peralatan
tersebut dibuat dengan bahan baku utamanya adalah besi baja bekas
ataupun besi baja bulat, aluminium dan kayu.
Proses kerja pada industri pandai besi dilakukan dengan beberapa tahapan
yaitu mulai dari pemotongan besi baja,pembentukan, penyepuhan
baja,penghalusan/penajaman baja, pegelasan besi baja, pengolahan kayu
dan pemelituran. Dalam proses produksi ini khususnya pada proses
pemotongan,pembentukan dan penyepuhan dilakukan dengan cara
memotong dan membakar dengan membutuhkan panas tinggi yang
bersumber dari tungku pembakar dan tungku tempa dengan suhu rata-rata
800 1100 .
Kejang adalah perubahan fungsi otak mendadak dan sementara
sebagai akibat dari aktifitas neuronal yang abnormal dan sebagai
pelepasan listrik serebral yang berlebihan. Aktivitas ini bersifat dapat
parsial atau vokal, berasal dari daerah spesifik korteks serebri, atau umum,
melibatkan kedua hemisfer otak. Manifestasi jenis ini bervariasi,

tergantung bagian otak yang terkena. Penyebab kejang mencakup factorfaktor perinatal, malformasi otak congenital, factor genetic, penyakit
infeksi (ensefalitis, meningitis), penyakit demam, gangguan metabilisme,
trauma, neoplasma, toksin, gangguan sirkulasi, dan penyakit degeneratif
susunan saraf. Kejang disebut idiopatik bila tidak dapat ditemukan
penyebabnya.
1.2

Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami bagaimana asuhan keperawatan gawat
darurat sistem persarafan pada pasien dengan kejang.
2. Tujuan Khusus
Setelah membaca makalah ini diharapkan:
a. Memahami seperti apa asuhan keperawatan gawat darurat sistem

persarafan pada pasien dengan kejang


b. Mampu membuat pengkajian pada pasien dengan kejang
c. Mampu membuat diagnosa pada pasien dengan kejang
d. Mampu membuat perencanaan pada pasien dengan kejang
e. Mampu melaksanakan implementasi pada pasien dengan kejang
f. Mampu menilai evaluasi pada pasien dengan kejang
1.3 Manfaat
1. Untuk mahasiswa: diharapkan makalah ini bisa bermamfaat sebagai bahan
pembanding dalam pembuatan tugas serupa
2. Untuk tenaga kesehatan: makalah ini bisa dijadikan bahan acuan untuk
melakukan tindakan asuhan keperawatan pada kasus yang serupa
3. Untuk instansi: agar tercapainya tingkat kepuasan kerja yang optimal
4. Untuk masyarakat: sebagai bahan informasi untuk menambah pengetahuan
kesehatan.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Kejang
sementara

merupakan

perubahan

fungsi otak

mendadak dan

sebagai mengakibatkan akibat dari aktivitas neuronal

yang abnormal dan pelepasan listrik serebral yang berlebihan.(betz &


Sowden,2002)
Kejang adalah gerakan otot tonik atau klonik yang involuntar yang
merupakan serangan berkala, disebabkan oleh lepasnya muatan listrik neuron

kortikal secara berlebihan. Cedera kepala yang berat, radang otak, radang
selaput otak, gangguan elektrolit dalam darah, kadar gula darah yang terlalu
tinggi, tumor otak, stroke, hipoksia, semuanya dapat menimbulkan kejang.
Spasme kuat dengan kontraksi dan relaksasi otot yang silih berganti, yang
disebabkan oleh penyebab dari otak maupun diluar otak. Merupakan akibat
dari pembebasan listrik yang tidak terkontrol dari sel sel kortek cerebral yang
ditandai dengan serangan tiba tiba, terjadi penurunan kesadaran, aktifitas
motorik atau ganguan sensori.
2.2 Anatomi Otak Dan Fisiologi
1. Anatomi

a. Otak
Gambar : 1

Otak adalah suatu alat tubuh yang sangat penting karena


merupakan pusat komputer dari semua alat tubuh, bagian dari
syaraf sentral yang terletak di dalam rongga tengkorak (Kranium)
yang dibungkus oleh selaput otak yang kuat.
Bagian-bagian otak :
1) Hipotalamus merupakan bagian ujung depan diesenfalon yang
terletak di bawah sulkus hipotalamik dan di depan nucleus
interpundenkuler hipotalamus terbagi dalam berbagai inti dan
daerah inti. Terletak pada anterior dan inferior talamus
berfungsi mengontrol dan mengatur sistem syaraf autonom
juga bekerja dengan hipofisis

untuk mempertahankan

keseimbangan cairan, mempertahankan pengaturan suhu tubuh


melalui peningkatan

vasokontriksi atau vasodilatasi

dan

mempengaruhi sekresi hormonal dengan kelenjar hipofisis,


juga sebagai pusat lapar dan mengontrol berat badan, sebagai

pengatur tidur, tekana n darah, perilaku agresif dan seksual dan


pusat respon emosional.
2) Talamus

berada

ventrikel

dan

penyambung

pada salah satu sisi pada sepertiga


aktivitas primernya

sensasi bau

sebagai

pusat

yang diterima semua

impuls

memori, sensasi dan nyeri melalui bagian ini.


3) Traktus Spinotalamus (serabut -serabut segera menyilang
kesisi yang berlawanan dan masuk ke medulla spinulis dan
naik). Bagian ini bertugas mengirim impuls nyeri dan
temperatur ke talamus dan kortek serebri.
4) Kelenjar

Hipofisis

dianggap sebagai

masker

kelenjar

karena sejumlah hormon- hormon dan fungsinya diatur oleh


kelenjar ini. Hipofisis merupakan bagian otak yang tiga kali
lebih sering timbul tumor pada orang dewasa.
5) Hipotesis Termostatik : mengajukan bahwa suhu tubuh diatas
titik tersebut akan menghambat nafsu makan.
6) Mekanisme

Aferen

empat

hipotesis

utama

tentang

mekanisme aferen yang terlibat dalam pengaturan masukan


makanan telah diajukan, dan keempat hipotesis itu tidak ada
hubunganya satu dengan yang lain.

b. Fisiologi
Hipotalamus mempunyai

fungsi sebagai

pengaturan

suhu

tubuh dan untuk mempertahankan keseimbangan cairan dalam tubuh.


1) Pirogen Endogen
Demam yang ditimbulkan oleh Sitokin mungkin disebabkan
oleh

pelepasan

Penyuntikan

prostaglandin
prostaglandin

lokal

di

kedalam

hipotalamus.
hipotalamus

menyebabkan demam. Selain itu efek antipiretik aspirin


bekerja langsung pada hipotalamus, dan aspirin menghambat
sintesis prostaglandin.

2) Pengaturan Suhu
Dalam tubuh, panas dihasilkan oleh gerakan otot, asimilasi
makanan, dan oleh semua proses vital yang berperan dalam
metabolisme basal. Panas dikeluarkan dari tubuh melalui
radiasi, konduksi (hantaran) dan penguapan air disaluran
nafas dan kulit. Keseimbangan pembentukan pengeluaran
panas menentukan suhu tubuh, karena kecepatan reaksi-reaksi
kimia bervariasi sesuai dengan suhu dank arena sistem enzim
dalam tubuh memiliki rentang suhu normal yang sempit agar
berfungsi optimal, fungsi tubuh normal bergantung pada suhu
yang relatif konstan (Price Sylvia A : 1995)
2.3 Etiologi
Kejang dapat disebabkan oleh berbagai patologis termasuk tumor
otak , truma, bekuan darah pada otak, meningitis, ensefalitis, gangguan
elektrolit dan gejala putus alcohol dan gangguan metabolic, uremia,
overhidrasi, toksik subcutan, sabagian kejang merupakan idiopatik ( tidak
diketahui etiologinya )
2.4 Patofisiologi
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau organ otak
diperlukan suatu energi yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk
metabolisme otak yang terpenting adalah glaukosa. Sifat proses itu adalah
oksidasi dimana oksigen disediakan dengan peraataraan fungsi paru dan
diteruskan ke otak melalui system kardiovaskuler. Jadi sumber energi otak
adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air.
Sel dikelilingi oleh suatu membrane yang terdiri dari permukaan
dalam adalah lipoid dan permukaan luar adalah ionic. Dalam keadaan
normal membrane sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium
(K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium (NA+) dan elektrolit lainnya,
kecuali ion klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron
tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedangkan diluar sel neuron terdapat
keadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam

dan di luar sel, maka terdapat perbedaan yang disebut potensial membrane
dari selneuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membrane ini
diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K-ATPase yang terdapat pada
permukaan sel. Keseimbangan potensial membrane ini dapat dirubah oleh
adanya :
1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler.
2. Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi
atau aliran listrik dari sekitarnya.
3. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau
keturunan.
Pada keadaan demam kenaikan suhu 10C akan mengakibatkan
kenaikan metabolisme basal 10%-15% dan kebutuhan oksigen akan
meningkat 20%. Pada seorang anak berumur

3 tahun sirkulasi otak

mencapai 65% dari seluruh tubu, dibandingkan dengan orang dewasa


yang hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi
perubahan keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu
yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion Natrium melalui
membran tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik.
Lepas muatan ini demikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh
sel maupun ke membran sel tetangganya dengan bantuan bahan yang disebut
neurotransmiter dan terjadilah kejang. Tiap orang mempunyai ambang
kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang
seseorang terhadap kenaikan suhu tertentu.
Kejang yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya
dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang yang berlangsung
lama (lebih dari 15 menit) biasanya

disertai

terjadinya

apnea,

meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet


yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan
oleh metabolisme anaerob, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang
tidak teratur dan suhu tubuh makin meningkat disebabkan meningkatnya
aktivitas otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat

10

Rangkaian

kejadian

diatas

adalah

faktor

penyebab

hingga

terjadinya kerusakan neuron otak selama berlangsungnya kejang lama.


Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan
hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak
yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak (FKUI, 2007).
2.5 Pathway
Paparan suhu lingkungan yang terlalu panas

Evaporasi/Keringat
hipertermi

Mengubah keseimbangan membrane sel neuron Gangguan pemenuhan

cairan
Melepaskan muatan listrik yang besar

Resiko Cidera
Kejang
Dehidrasi

Cemas
Na, O2

Defisit Volume
Kurang Pengetahuan
Cairan
Hipoksia
Terjadi Kerusakan Sel Otak
Gangguan perfusi jaringan
Gerakan mulut dan lidah
tidak terkontrol
Ketidakefektipan bersihan
jalan nafas tidak efektif

Pola nafas tidak efektif


2.6 Klasifikasi

Kejang yang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus


b adan dan tungkai dapat diklasifikasikan

menjadi 3 bagian

yaitu :

kejang, klonik, kejang tonik dan kejang mioklonik.


1. Kejang Tonik
Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan
berat

badan rendah dengan masa kehamilan kurang dari 34

minggu dan bayi dengan komplikasi prenatal berat. Bentuk klinis


kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau
pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang

11

menyerupai deserebrasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah


dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik yang menyerupai
deserebrasi harus di bedakan dengan sikap epistotonus yang
disebabkan oleh rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau
kernikterus
2. Kejang Klonik
Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan
berat

badan rendah dengan masa kehamilan kurang dari 34

minggu dan bayi dengan komplikasi prenatal berat. Bentuk klinis


kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau
pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang
menyerupai deserebrasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah
dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik yang menyerupai
deserebrasi harus di bedakan dengan sikap epistotonus yang
disebabkan oleh rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau
kernikterus
3. Kejang Mioklonik
Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan
fleksi

lengan

atau keempat anggota gerak yang berulang dan

terjadinya cepat. Gerakan tersebut menyerupai reflek moro. Kejang


ini merupakan pertanda kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan
hebat. Gambaran EEG pada kejang mioklonik pada bayi tidak
spesifik.(Lumbang Tebing, 1997)
2.7 Manifestasi Klinik
1. Kejang parsial ( fokal, lokal )
a. Kejang parsial sederhana :

Kesadaran tidak terganggu, dapat mencakup satu atau lebih hal


berikut ini :
1) Tanda tanda motoris, kedutan pada wajah, atau salah satu
sisi Tanda atau gejala otonomik: muntah, berkeringat, muka
merah, dilatasi pupil.

12

2) Gejala somatosensoris atau sensoris khusus : mendengar


musik, merasa seakan ajtuh dari udara, parestesia.
3) Gejala psikis : dejavu, rasa takut, visi panoramik.
4) Kejang tubuh; umumnya gerakan setipa kejang sama.
b. Parsial kompleks

1) Terdapat

gangguan kesadaran,

walaupun

pada

awalnya

sebagai kejang parsial


2) simpleks
3) Dapat mencakup otomatisme atau gerakan otomatik :
mengecap-ngecapkan bibir,mengunyah, gerakan menongkel
yang berulang-ulang pada tangan

dan gerakan tangan

lainnya.
4) Dapat tanpa otomatisme : tatapan terpaku
2. Kejang umum ( konvulsi atau non konvulsi )

a. Kejang absens
1) Gangguan kewaspadaan dan responsivitas
2) Ditandai dengan tatapan terpaku yang umumnya berlangsung
kurang dari 15 detik
3) Awitan dan akhiran cepat, setelah itu kempali waspada dan
konsentrasi penuh

b. Kejang mioklonik
1) Kedutan kedutan involunter pada otot atau sekelompok
otot yang terjadi secara mendadak.
2) Sering terlihat pada orang sehat selaam tidur tetapi bila
patologik berupa kedutan keduatn sinkron dari bahu, leher,
lengan atas dan kaki.
3) Umumnya berlangsung kurang dari 5 detik dan terjadi dalam
kelompok
4) Kehilangan kesadaran hanya sesaat.
c. Kejang tonik klonik

13

1) Diawali dengan kehilangan kesadaran dan saat tonik,


kaku umum pada otot ekstremitas, batang tubuh dan wajah
yang berlangsung kurang dari 1 menit
2) Dapat disertai hilangnya kontrol usus dan kandung kemih
3) Saat tonik diikuti klonik pada ekstrenitas atas dan bawah.
4) Letargi, konvulsi, dan tidur dalam fase postictal
d. Kejang atonik
1) Hilngnya

tonus

menyebabkan

secara

kelopak

mendadak

sehingga

dapat

mata turun, kepala menunduk,atau

jatuh ke tanah.
2) Singkat dan terjadi tanpa peringatan.
2.8 Komplikasi
2.9 Penyakit-penyakit yang Menyebabkan Kejang
Penyakit-penyakit yang menyebabkan kejang dapat dikelompokkan
secara sederhana menjadi penyebab kejang epileptik dan penyebab kejang
non-epileptik. Penyakit epilepsi akan dibahas tersendiri sementara kelompok
non-epileptik terbagi lagi menjadi penyakit sistemik, tumor, trauma, infeksi,
dan serebrovaskuler.
1. Sistemik
Metabolik : Hiponatremia, Hipernatremia,
a. Hiponatremia
Hiponatremia terjadi bila :
1) Jumlah asupan cairan melebihi kemampuan ekskresi,
2) Ketidakmampuan menekan sekresi ADH (mis : pada
kehilangan cairan melalui saluran cerna atau gagal jantung
atau sirosis hati atau pada SIADH = Syndrom of
Inappropriate ADH-secretion). Hiponatremia dengan gejala
berat (mis : penurunan kesadaran dan kejang) yang terjadi
akibat adanya edema sel otak karena air dari ektrasel masuk
ke intrasel yang osmolalitas-nya lebih tinggi digolongkan
sebagai hiponatremia akut (hiponatremia simptomatik).
Sebaliknya bila gejalanya hanya ringan saja (mis : lemas
dan mengantuk) maka ini masuk dalam kategori kronik
(hiponatremia asimptomatik).
14

3) Langkah pertama dalam penatalaksanaan hiponatremia

adalah mencari sebab terjadinya hiponatremia melalui


anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang.
Langkah selanjutnya adalah pengobatan yang tepat sasaran
dengan koreksi Na berdasarkan kategori hiponatremia-nya.
b. Hipernatremia
Hipernatremia terjadi bila kekurangan air tidak diatasi
dengan baik misalnya pada orang dengan usia lanjut atau penderita
diabetes insipidus. Oleh karena air keluar maka volume otak
mengecil dan menimbulkan robekan pada vena menyebabkan
perdarahan lokal dan subarakhnoid.
Setelah etiologi ditetapkan, maka langkah penatalaksanaan
berikutnya ialah mencoba menurunkan kadar Na dalam plasma ke
arah normal. Pada diabetes insipidus, sasaran pengobatan adalah
mengurangi volume urin. Bila penyebabnya adalah asupan Na
berlebihan maka pemberian Na dihentikan.
2. Tumor
Gangguan kesadaran akibat tekanan
meninggi.

Selain

menempati

ruang,

tumor

intrakranial

yang

intrakranial

juga

menimbulkan perdarahan setempat. Penimbunan katabolit di sekitar


jaringan tumor menyebabkan jaringan otak bereaksi dengan
menimbulkan edema yang juga bisa diakibatkan penekanan pada vena
sehingga terjadi stasis. Sumbatan oleh tumor terhadap likuor sehingga
terjadi penimbunan juga meningkatkan tekanan intrakranial.
3. Trauma
Kejang dapat terjadi setelah cedera kepala dan harus segera
diatasi karena akan menyebabkan hipoksia otak dan kenaikan tekanan
intrakranial serta memperberat edem otak. Mula-mula berikan
diazepam 10 mg intravena perlahan-lahan dan dapat diulangi sampai 3
kali bila masih kejang. Bila tidak berhasil dapat diberikan fenitoin 15
mg/kgBB secara intravena perlahan-lahan dengan kecepatan tidak
melebihi 50 mg/menit.
4. Infeksi
Infeksi pada susunan saraf dapat berupa meningitis atau abses
dalam bentuk empiema epidural, subdural, atau abses otak. Klasifikasi

15

lain membahas menurut jenis kuman yang mencakup sekaligus


diagnosa kausal
a. Infeksi viral
b. Infeksi bakterial
c. Infeksi spiroketal
d. Infeksi fungal
e. Infeksi protozoal
f. Infeksi metazoal
5. Serebrovaskuler
Stroke mengacu

kepada

semua

gangguan

neurologik

mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran


darah melalui sistem suplai arteri otak. Istilah stroke biasanya
digunakan secara spesifik untuk menjelaskan infark serebrum. CVA
(Cerebralvascular accident) dan serangan otak sering digunakan secara
sinonim untuk stroke. Konvulsi umum atau fokal dapat bangkit baik
pada stroke hemoragik maupun strok non-hemoragik.
Stroke sebagai diagnosis klinis untuk gambaran manifestasi
lesi vaskuler serebral dapat dibagi dalam :
a. Transient ischemic attack,
b. Stroke in evolution,
c. Completed stroke, yang bisa dibagi menjadi tipe hemoragik
dan tipe non
d. hemoragik
2.10 Uji Laboratorium dan Diagnostik
1. Elektroensefalogram (EEG) : dipakai untuk membantu menetapkan
jenis dan fokus dari kejang.
2. Pemindaian CT : menggunakan kajian sinar X yang lebih sensitif dri
biasanya untuk mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan.
3. Magneti resonance imaging (MRI) : menghasilkan bayangan dengan
menggunakan lapanganmagnetik dan gelombang radio, berguna untuk
memperlihatkan daerah daerah otak yang itdak jelas terliht bila
menggunakan pemindaian CT
4. Pemindaian positron emission tomography (PET) : untuk mengevaluasi
kejang yang membandel dan membantu menetapkan lokasi lesi,
perubahan metabolik atau alirann darah dalam otak
5. Uji laboratorium
a. Pungsi lumbal : menganalisis cairan serebrovaskuler

16

b. Hitung darah lengkap : mengevaluasi trombosit dan hematokrit c.


Panel elektrolit
c. Skrining toksik dari serum dan urin
d. GDA
e. Kadar kalsium darah
f. Kadar natrium darah
g. Kadar magnesium darah

2.11

Tekanan Panas

2.1.11

Pengertian
Tekanan panas merupakan kumpulan dari faktor lingkungan dan
aktivitas fisik yang dapat meningkatkan jumlah panas di dalam tubuh.
(Alpaugh, 1979) Faktor -faktor lingkungan meliputi temperatur udara,
perpindahan panas radiasi, pergerakan udara, dan tekanan parsial uap air
(kelembaban). Aktivitas fisik yang mempunyai kontribusi terhadap total
tekanan panas adalah aktivitas yang menyebabkan terjadinya peningkatan
panas metabolik dalam tubuh sesuai dengan intensitas pekerjaan.
Terjadinya tekanan panas adalah melalui kombinasi dari beberapa faktor
(lingkungan, pekerjaan dan pakaian) dan cenderung untuk meningkatkan
suhu inti tubuh, detak jantung/denyut nadi, dan keringat. (Bernard, 2002)
Sedangkan menurut pengertian yang dikeluarkan oleh OSHA, tekanan
panas adalah ketika terdapat suatu pekerjaan yang berhubungan dengan
temperatur udara yang tinggi, radiasi dari sumber panas, kelembaban
udara yang tinggi, pajanan langsung dengan benda yang mengeluarkan

17

panas, atau aktifitas fisik secara terus menerus yang mempunyai potensi
tinggi untuk menimbulkan tekanan panas.
Dari definisi tersebut, maka dapat di simpulkan bahwa tekanan panas
merupakan kombinasi antara pajanan panas yang ditimbulkan oleh
lingkungan dan panas yang dihasilkan dari aktifitas fisik manusia atau
disebut juga dengan panas metabolik. Pajanan panas dipengaruhi oleh
suhu udara kering, kelembaban, suhu basah, suhu global dan pergerakan
udara atau angin. Tekanan panas yang dirasakan oleh seseorang juga
dipengaruhi oleh factor-faktor lain diluar faktor pekerjaan seperti proses
penyesuaian diri, tingkat kebugaran, jenis pakaian yang digunakan,
konsumsi air, konsumsi alcohol, obat-obatan, dan lain-lain.
2.2.11 Proses Perpindahan /Pertukaran Panas
Di daerah tropis masalah pemaparan panas menjadi faktor penting
yang harus diperhatikan.Disamping cuaca kerja,sebetulnya tubuh sendiri
ketika melakukan aktivitas juga mengeluarkan panas. Keseimbangan
antara panas tubuh dan lingkungan diperlukan supaya metabolisme tubuh
dapat berjalan lancar. Pertama-tama panas dipindahkan dari organ yang
memproduksi panas ke kulit,melalui sirkulasi darah,kemudian panas
mengalami pertukaran dari tubuh ke lingkungan.
Proses pertukaran panas atau perpindaham panas antara tubuh dan
lingkungan terjadi melalui beberapa mekanisme diantaranya:
a. Konduksi
Konduksi merupakan proses perpindahan panas melalui kontak
secara langsung. Proses perpindahan panas secara konduksi akan terjadi

18

jika terdapat perbedaan panas antara bagian atau objek yang saling kontak.
Proses konduksi akan berbeda pada setiap jenis material. Logam biasanya
merupakan konduktor (pengkonduksi) yang baik. Benda padat biasanya
merupakan penghantar panas yang lebih baik jika dibandingkan dengan
cairan. Media gas merupakan penghantar panas (konduktor) yang paling
buruk.

b. Konveksi
Konveksi adalah suatu proses di mana terjadi perpindahan panas
yang terjadi karena adanya pergerakan atau perpindahan uap air oleh udara
atau angin yang melewati sumber panas. Tingkat panas akibat konveksi
dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain :
1) Jenis uap yang melewati sumber panas (uap air lebih baik daripada gas)
2) Permukaan sumber panas
3) Posisi dari permukaan sumber
4) Kecepatan pergerakan udara
5) Suhu relatif sumber dan udara. Panas yang pindah melalui konveksi
adalah melalui pergerakan udara (angina). Konveksi itu sendiri dapat
menyebabkan terjadinya pergerakan udara. Udara yang berada dekat
sumber panas akan menjadi panas, memuai dan akan menjadi ringan.
Udara yang ringan akan bergerak menjauhi sumber panas dan secara
otomatis udara yang dingin akan mengalir ke arah sumber panas. Udara
panas yang mengalir dari sumber ke lingkungan sekitarnya akan

19

menyebabkan terjadinya peningkatan temperatur di lingkungan sekitar.


Jika suhu udara antara lingkungan ddan sumber sama, maka tidak akan
terjadi perpindahan panas. Metode konveksi merupakan metode yang
umum dalam proses perpindahan panas di lingkungan.
c. Radiasi
Radiasi berbeda dengan konduksi dan konveksi, dimana panas
yang berpindah dari suatu objek ke objek lain tidak memerlukan adanya
kontak fisik maupun pergerakan udara. Energi panas berpindah dari
sumber

ke

lingkungan

sekitarnya

dalam

bentuk

gelombang

elektromagnetik atau radiasi infra merah. Suatu contoh panas radiasi


adalah panas yang dipancarkan oleh matahari ke bumi. Umumnya panjang
gelombang panas radiasi tidak termasuk golongan gelombang yang tidak
terlihat. Diketahui adanya radiasi panas adalah dengan mengamati objek
yang terkena panas radiasi yang berubah menjadi panas. Tingkat
peprindahan panas melalui radiasi dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu :
1) Perbedaan suhu absolute antara suatu objek dengan lingkungan di
sekitarnya.
2) Jika suhu objek dan lingkungan di sekelilinganya sama, maka tidak
akan ada perpindahan panas melalui radiasi.
3) Relative emissivity antara objek dengan lingkungan sekelilinganya.
Emissivity adalah rasio energi radiasi yang terpancar dari suatu
permukaan dibandingkan dengan energi radiasi yang dipancarkan oleh
objek yang hitam sempurna pada temperatur yang sama.
d. Evaporasi
Proses penguapan uap air dari kulit (keringat) dari permukaan kulit
menunjukan adanya proses pelepasan panas dari tubuh. Kapasitas

20

evaporasi maksimum dan pelepasan panas dari tubuh dipengaruhi oleh


beberapa hal yaitu : 1) Perbedaan temperatur kulit dengan temperatur
udara ambien. 2) Kecepatan aliran udara. 3) Tekanan uap air pada kulit. 4)
Tekanan uap air pada udara ambien. Tubuh dalam keadaan normal
mempunyai suhu antara 36 - 38 (berbeda untuk setiap orang). Pada
suhu tubuh <35 dikategorikan hypothermia. Pada suhu tubuh 40
dikategorikan hyperthermia dan ketika suhu tubuh mencapai 42 dapat
mematikan.
Respon fisiologi dan adaptasi pada saat bekerja terhadap panas terjadi
melalui tiga efek berikut :
a. Elevasi kecepatan metabolisme untuk mengkontrol kehilangan panas
bila terpapar dingin.
b. Penyesuaian vasomotor baik secara vasodilatasi kulit ataupun
vasokontraksi pada kondisi dingin.
c. Pengeluaran keringat pada kondisi panas.
2.3.11 Respon Tubuh Terhadap Tekanan Panas
Bekerja dalam lingkungan panas akan mempercepat denyut
jantung. Denyut jantung ini dapat digunakan untuk mengukur tekanan
panas,karena pergerakan pertambahan darah,menyebabkan permukaan
kulit memerah. Kecepatan maksimum denyut jantung adalah 100-120 per
menit. Pada kecepatan ini orang dewasa dapat bertahan dalam beberapa
menit. Respon panas berbeda-beda untuk setiap individu,hal ini terkait
dengan beberapa faktor sebagai berikut:
a. Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah suatu proses adaptasi fisiologis yang

21

ditandai dengan pengeluaran keringat yang meningkat, penurunan


denyut nadi, dan suhu tubuh sebagai akibat pembentukan keringat.
Aklimatisasi terhadap suhu tinggi merupakan hasil penyesuaian diri
seseorang terhadap lingkungannya. Untuk aklimatisasi terhadap panas
ditandai dengan penurunan frekuensi denyut nadi dan suhu tubuh
sebagai akibat pembentukan keringat. Aklimatisasi ini ditujukan
kepada suatu pekerjaan dan suhu tinggi untuk beberapa waktu
misalnya 2 jam. Mengingat pembentukan keringat tergantung pada
kenaikan suhu tubuh. Aklimatisasi panas biasanya tercapai sesudah 2
minggu. Dengan bekerja dalam suhu tinggi saja belum dapat
menghasilkan

aklimatisasi

yang

sempurna.

(WHO,

1969)

mengemukakan adanya perbedaan kecil aklimatisasi antara laki-laki


dan perempuan. Perempuan tidak dapat beraklimatisasi dengan baik
seperti laki-laki. Hal ini dikarenakan mereka mempunyai kapasitas
kardiovaskuler yang lebih kecil.
b. Umur
Daya tahan seseorang terhadap panas akan menurun pada umur yang
lebih tua. Orang yang lebih tua akan lebih lambat mengeluarkan
keringatnya dibandingkan dengan orang yang lebih muda. Orang yang
lebih tua memerlukan waktu yang lama untuk mengembalikan suhu
tubuh menjadi normal setelah terpapar panas. Suatu studi menemukan
bahwa 70% dari seluruh penderita (Heat Stroke) adalah mereka yang
berusia lebih dari 60 tahun. Denyut nadi maksimal dari kapasitas kerja

22

yang

maksimal

berangsur-angsur

menurun

sesuai

dengan

bertambahnya umur.
c. Suku bangsa atau etnis
Pada etnis tertentu respon panas berbeda dengan etnis lain,misalnya
antara etnis Arab dan etnis Eropa.Tetapi perbedaan respon panas pada
kedua etnis tersebut lebih merupakan perbedaan diet (pola makan). d.
Ukuran Tubuh Adanya perbedaan ukuran tubuh akan mempengaruhi
reaksi fisiologis tubuh terhadap panas. Laki-laki dengan ukuran tubuh
yang lebih kecil dapat mengalami tingkatan tekanan panas yang relatif
lebih besar. Hal ini dikarenakan mereka mempunyai kapasitas kerja
maksimal yang lebih kecil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pekerja yang berat badannya kurang dari 50 kg selain mempunyai
maximal oxygen intake yang rendah tetapi juga toleran terhadap panas
daripada mereka yang mempunyai berat badan rata-rata
d. Gizi
Beberapa zat gizi akan hilang karena adanya tekanan panas.Misalnya
pekerjaan berat yang memerlukan kalori lebih dari 500 kcal akan
berpotensi kehilangan zinc dari tubuh pekerja,hal ini mengganggu
pertumbuhan,perkembangan dan kesehatan. Pekerjaan di ruang panas
minimal dibutuhkan asupan vitamin C 250 mg/hr pada pekerja yang
bersangkutan. Seseorang yang status gizinya jelek akan menunjukkan
respon yang berlebihan terhadap tekanan panas, hal ini disebabkan
karena sistem kardiovaskuler yang tidak stabil.
2.4.11 Pengaruh pemaparan panas terhadap kesehatan

23

Penilaian hubungan cuaca kerja dengan efek-efek terhadap


perorangan atau kelompok tenaga kerja,perlu di perhatikan seluruh factor
yang meliputi lingkungan,factor manusiawi dan pekerjaan,seperti terlihat
pada tabel 2.2 berikut ini :

Factor
Lingkungan

Faktor manusia

Pekerjaan

Suhu
Kelembaban
Angin

Usia

Kompleksnya tugas

Jenis kelamin
Kesegaran jasmani
Ukuran tubuh
Kesehatan
Aklimatisasi

Lamanya tugas

Radiasi Panas
Sinar matahari
Debu Aerosol
Gas Fume
Tekanan
barometris
Pakaian

Gizi Motivasi
Pendidikan
Kemampuan fisik
Kemampuan
mental
Kemampuan
emosi
Kemantapan
emosi

Beban fisik
Beban mental
Beban sendiri
Ketrampilan disyaratkan

Sifat-sifat
kebangsaan

Tekanan/terpaan

panas

yang

mengenai

tubuh

manusia

dapat

mengakibatkan berbagai permasalahan kesehatan hingga kematian.


Kematian tersebut diakibatkan oleh berbagai penyakit yang diakibatkan
oleh terpaan panas pada tubuh. Berbagai penyakit tersebut meliputi:

24

a. Heat rash merupakan gejala awal dari yang berpotensi menimbulkan


penyakit akibat tekanan panas. Penyakit ini berkaitan dengan panas,
kondisi lembab dimana keringat tidak mampu menguap dari kulit dan
pakaian. Penyakit ini mungkin terjadi pada sebgaian kecil area kulit
atau bagian tubuh. Meskipun telah diobati pada area yang sakit
produksi keringat tidak akan kembali normal untuk 4 sampai 6
minggu.
b. Heat syncope adalah ganggunan induksi panas yang lebih serius. Ciri
dari gangguan ini adalah pening dan pingsan akibat berada dalam
lingkungan panas pada waktu yang cukup lama.
c. Heat cramps Gejala dari penyakit in adalah rasa nyeri dan kejang pada
kaki,tangan dan abdomen dan banyak mengeluarkan keringat. Hal ini
disebabkan karena ketidakseimbangan cairan dan garam natrium
selama melakukan kerja fisik yang berat dalam lingkungan yang panas.
d. Heat Exhaustion (Heat perforation) Diakibatkan oleh berkurangnya
cairan tubuh atau volume darah. Kondisi ini terjadi jika jumlah air
yang dikeluarkan seperti keringat melebihi dari air yang diminum
selama terkena panas. Gejalanya adalah keringat sangat banyak, kulit
pucat, lemah, pening,mual,pernapasan pendek dan cepat,pusing, dan
dapat pingsan,suhu tubuhnya antara 37C-40C. Biasanya terjadi oleh
karena cuaca yang sangat panas,terutama mereka yang belum
beraklimatisasi terhadap udara panas.

25

e. Heat Stroke adalah penyakit gangguan panas yang mengancam nyawa


yang terkait dengan pekerjaan pada kondisi sangat panas dan lembab.
Penyakit ini dapat menyebabkan koma dan kematian. Gejala dari
penyakit ini adalah detak jantung cepat, suhu tubuh tinggi 40o C atau
lebih, panas, kulit kering dan tampak kebiruan atau kemerahan, Tidak
ada keringat di tubuh korban, pening, menggigil, muak, pusing,
kebingungan mental dan pingsan.
f. Miliaria adalah gangguan umum dari kelenjar keringat eccrine yang
sering terjadi dalam kondisi hawa panas yang tinggi. Miliaria
disebabkan oleh penyumbatan saluran keringat, yang menyebabkan
kebocoran eccrine keringat ke dalam epidermis atau dermis.
Klasifikasi Miliaria ada 3 jenis menurut tingkat di mana terjadinya
penyumbatan saluran keringat yaitu:
1) Miliaria Crystallina adalah obstruksi duktus yang paling dangkal,
terjadi di stratum corneum. Gejala klinis: bentuk ini menghasilkan
papul kecil, rapuh, jelas vesikula.
2) Miliaria rubra adalah penyumbatan di dalam epidermis. Gejala
klinis: sangat gatal, dan papula erythematous.
3) Miliaria profunda adalah obstruksi duktus terjadi pada dermalepidermal junction. Retensi keringat ke papiler dermis dan
menghasilkan papula asimtomatik papula berwarna.

26

g.

Multiorgan-dysfunction

syndrome

Continuum

adalah

rangkaian

sindrom/gangguan yang terjadi pada lebih dari satu/ sebagian anggota


tubuh akibat heat stroke, trauma dan lainnya.
Penyakit lain yang biasa timbul adalah penyakit jantung, tekanan darah
tinggi, gangguan ginjal dan gangguan psikiatri. Penyakit akibat terpaan
panas ini diakibatkan karena naik/turunnya suhu tubuh. Suhu normal
tubuh berkisar anatara 37-38oC (99 100oF) (7). Perubahan suhu inti
tubuh naik/turun 2 oC dapat mengakibatkan gangguan pada tubuh.(8)
Berikut ini adalah temperatur normal tubuh manusia dari berbagai usia

Umur

Core Body temperatur (oF/oC)

0-3 month

99.4 oF / 37.40 oC

3-6 month.

99.5 oF / 37.5 oC

0,5- 1 year

99.7 oF / 37.6 oC

1 3 year

99.0 oF / 37.2 oC

3 5 year

98.6 oF / 37.0 oC

5 9 year

98.3 oF / 36.8 oC

9 13 year

98.0 oF / 36.6 oC

> 13 year

97.8 99.1 oF / 36.5 37.2 oC

Pengaturan suhu tubuh secara eksternal ada 7 faktor yang harus dikontrol
yaitu: suhu udara, kelembapan, kecepatan udara, pakaian, aktivitas fisik,
radiasi panas dari berbagai sumber panas dan lamanya waktu terpaan
panas. Berikut adalah keadaan manusia pada berbagai variasi suhu tubuh:
1. Kondisi panas

27

a. 37C (98.6F) Suhu tubuh normal (36-37.5C /96.8-99.5F)


b. 38C (100.4F) berkeringat,, sangat tidak nyaman, sedikit lapar
c. 39C (102.2F) berkeringat, kulit merah dan basah, napas dan jantung
bedenyut kencang, kelelahan, merangsang kambuhnya epilepsi
d. 40C (104F) -Pingsang, dehidrasi, lemahn, sakitkepala, muntah, pening
dan berkeringat
e. 41C (105.8F) Keadaan gawat. Pingsan, pening, bingung sakit kepala,
halusinasi, , napas sesak, mengantuk mata kabur, , jantung berdebar
f. 42C (107.6F) pucat kulit memerah dan basah, koma, mata gelap,
muntah dan terjadi gangguan hebat. tekanan darah menjadi tinggi/rendah
dan detak jantung cepat.
g. 43C (109.4F) Umumnya meninggal, kerusakan otak, gangguan dan
goncangan hebat terus menerus, fungsi pernapasan kolaps.
h. 44C (111.2F) Hampir dipastikan meninggal namun ada beberapa
pasien yang mampu bertahan hingg diatas 46C (114.8F).
2. Kondisi Dingin
a. 37C (98.6F) Suhu tubuh normal (36-37.5C /96.8-99.5F)
b. 36C (96.8F) Menggigil ringan hingga sedang

28

c. 35C (95.0F) (Hipotermia suhu kurang dari 35C (95.0F) menggigil


keras, kulit menjadi biru/keabuan,jantung menjadi berdegup.
d. 34C (93.2F) Menggigil yang sangat keras, jari kaku, kebiruan dan
bingung.terjadi perubahan perilaku
e. 33C (91.4F) Bingung sedang hingga parah, mengantuk, depresi,
berhenti menggigil, denyut jantung lemah, napas pendek dan tidak mampu
merespon rangsangan.
f. 32C (89.6F) (kondisi gawat halusinasi, gangguan hebat, sangat
bingung, tidur yang dalam dan menuju koma, detak jantung rendah, tidak
menggigil.
g. 31C (87.8F) Comatose, tidak sadar, tidak memiliki reflex, jantung
sangat lambat terjadi gangguan irama jantung yang serius.
h. 28C (82.4F) Jantung berhenti berdetak pasien menuju kematian.
i. 24C -26C (75.2-78.8F) atau kurang Terjadi kematian namun beberapa
pasien ada yang mampu bertahan hidup hingga dibawah 24-26C (75.278.8F).
Terpaan panas pada tubuh pertama kali diterima oleh lapisan kulit pada
tubuh. Sehingga efek terbesar proses terpaan panas terjadi pada kulit.
Jika kulit diterpa panas pada suhu tertentu dalam waktu tertentu maka
selain akan berakibat pada terjadinya heat strain pada tubuh juga
matinya/kerusakan sel-sel tubuh. Dengan matinya sel-sel tubuh maka

29

akan menyebabkan terjadinya gangguan pada panca indera manusia,


regerasi sel terhambat dan akhirnya terjadi proses penuaan lebih cepat
seiring kurang optimalnya fungsi organ tubuh.

BAB 3
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
1. Pengkajian umum
Kondisi umum Klien nampak sakit berat
2. Penggolongan Triage
Kasus ini adalah emergensi karena dapat mengancam jiwa dan
akan mati tanpa tindakan dalam 0 menit. Untuk itu maka kejang
termasuk dalam P1 (Urgent)
3. Pengkajian kesadaran
Pada kasus kejang demam kesadaranya adalah antara Unrespon
sebab klien tidak sadar terhadap penyakitnya. Pengkajian kesadaran
dengan metode AVPU meliputi :
a. Alert (A) : Klien tidak berespon terhadap lingkungan
sekelilingx
b. Respon Verbal (V) : Klien tidak berespon terhadap pertanyaan
perawat
c. Respon Nyeri (P) : Klien tidak berespon terhadap respon nyeri.
d. Tidak berespon (U) : Klien tidak berespon terhadap stimulus
verbal dan nyeri ketika dicubit dan ditepuk wajahnya.
4. Pengkajian Primer
a. Airway :
Masalah: Ketidak efektipan bersihan jalan nafas tidak efektif b/d
gerakan mulut dan lidah tidak terkontrol.
Jalan nafas tidak efektif karena pada kasus kejang demam Inpulsinpuls radang dihantarkan ke hipotalamus yang merupakan pusat

30

pengatur suhu tubuh

Hipotalamus menginterpretasikan impuls

menjadi demam Demam yang terlalu tinggi merangsang kerja syaraf


jaringan otak secara berlebihan , sehingga jaringan otak tidak dapat
lagi mengkoordinasi persyarafan-persyarafan pada anggota gerak
tubuh. wajah yang membiru, lengan dan kakinya tesentak-sentak tak
terkendali selama beberapa waktu. Gejala ini hanya berlangsung
beberapa

detik,

tetapi

akibat

yang

ditimbulkannya

dapat

membahayakan keselamatan anak balita. Akibat langsung yang


timbul apabila terjadi kejang demam adalah gerakan mulut dan lidah
tidak terkontrol. Lidah dapat seketika tergigit, dan atau berbalik arah
lalu menyumbat saluran pernapasan.
Tindakan yang dilakukan :
1) Semua pakaian ketat dibuka
2) Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi
lambung
3) Usahakan agar jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan
oksigen
4) Pengisapan lendir harus dilakukan secara teratur dan
diberikan oksigen.
Evaluasi :
1) Inefektifan jalan nafas tidak terjadi
2) Jalan nafas bersih dari sumbatan
3) RR dalam batas normal
4) Suara nafas vesikuler
b. Breathing :
Masalah:

Pola

napas

tidak

efektif

berhubungan

dengan

penyumbatan jalan nafas.


Pola nafas tidak efektif karena pada kejang yang berlangsung lama
misalnya lebih 15 menit biasanya disertai apnea, Na meningkat,
kebutuhan O2 dan energi meningkat untuk kontraksi otot skeletal
yang akhirnya terjadi hipoxia dan menimbulkan terjadinya asidosis.
Tindakan yang dilakukan :

31

1) Mengatasi kejang secepat mungkin


Diberikan antikonvulsan secara intravena jika klien masih
dalam keadaan kejang, ditunggu selama 15 menit, bila masih
terdapat kejang diulangi suntikan kedua dengan dosis yang
sama juga secara intravena. Setelah 15 menit suntikan ke 2
masih kejang diberikan suntikan ke 3 dengan dosis yang
sama tetapi melalui intramuskuler, diharapkan kejang akan
berhenti. Bila

belum

juga

berhenti

dapat

diberikan

fenobarbital atau paraldehid 4 % secara intravena.


2) Usahakan agar jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan
oksigen
Evaluasi :
1) RR dalam batas normal
2) Tidak terjadi asfiksia
3) Tidak terjadi hipoxia
c. Circulation :
Masalah: Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan tidak
efektif pertukaran O2 dan C02 dalam darah.
Karena gangguan peredaran darah mengakibatkan hipoksia sehingga
meningkatkan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang
mengakibatkan kerusakan sel neuron otak. Kerusakan pada daerah
medial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang
berlangsung lama dapat menjadi matang dikemudian hari sehingga
terjadi serangan epilepsi spontan, karena itu kejang demam yang
berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis diotak
hingga terjadi epilepsi
Tindakan yang dilakukan :
1) Mengatasi kejang secepat mungkin
Diberikan antikonvulsan secara intravena jika klien masih
dalam keadaan kejang, ditunggu selama 15 menit, bila masih
terdapat kejang diulangi suntikan kedua dengan dosis yang
sama juga secara intravena. Setelah 15 menit suntikan ke 2

32

masih kejang diberikan suntikan ke 3 dengan dosis yang


sama tetapi melalui intramuskuler, diharapkan kejang akan
berhenti. Bila

belum

juga

berhenti

dapat

diberikan

fenobarbital atau paraldehid 4 % secara intravena.


2) Pengobatan penunjang saat serangan kejang adalah :
a) Semua pakaian ketat dibuka
b) Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah
aspirasi isi lambung
c) Usahakan agar jalan napas bebasuntuk menjamin

kebutuhan oksigen
d) Pengisapan lendir harus dilakukan secara teratur dan
diberikan oksigen
Evaluasi :
1) Tidak terjadi gangguan peredaran darah
2) Tidak terjadi hipoxia
3) Tidak terjadi kejang
4) RR dalam batas normal
5. Pengkajian sekunder

S (sign and symptom) : Perubahan tonus otot, leher terasa kaku,


sakit kepala.

A (allergies) : Kaji apakah klien mempunyai riwayat alergi

M (Medication) : Kaji riwayat pengobatan klien.

P (Pentinant past medical histori) :Kaji Riwayat dahulu klien.

L (Last oral intake solid liquid) : kaji makanan dan minuma


terakhir sebelum kejang

E (Event leading to injuri ilmes): kaji kejadian sebelum kejang

a. TTV
Tekanan darah

: Menurun

Suhu

: tinggi di atas 39 C

Respirasi

: Meningkat/menurun

Nadi

: Meningkat

33

b. Pengkajian Bio-Psikososial menurut Marlyn E. Doengoes yaitu


meliputi:
1) Aktivitas/istirahat
Gejala

:keletihan, kelemahan umum

Tindakan

: catat laporan mual atau muntah, kaji tanda-tanda


vital

2) Sirkulasi
Gejala

:peningkatan nadi dan sianosis

Tindakan

: Berikan tambahan oksigen/ventilasi manual sesuai


kebutuhan

3) Integritas ego
Gejala

: stressor eksternal/internal yang berhubungan


dengan keadaan dan penanganan

Tindakan

: diskusikan perasan pasien mengenai diagnostic,


persepsi

diri

terhadap

penanganan

yang

dilakukannya. Anjurkan untuk mengungkapkan


perasaanannya
4) Eliminasi
Gejala

:inkontensia episodik

Tindakan

: pantau masukan dan haluaran

5) Makanan/cairan
Gejala

:sensitivitas terhadap makanan, mual/muntah

Tindakan

: catat laporan mual atau muntah

6) Neurosensori
Gejala

:riwayat sakit kepala, aktivitas kejang berulang,

pingsan, pusing.
Tindakan

: Tinggikan ekstremitas bawah

7) Nyeri/kenyamanan
Gejala

:sakit kepala

Tindakan

: Tinggikan ekstremitas bawah

8) Pernapasan
Gejala

:gigi mengatup, sianosis, pernapasan menurun/cepat

34

Tindakan

:masukan spatel lidah/jalan napas buatan atau


gulungan benda lunak sesuai indikasi.

9) Keamanan
Gejala

:riwayat terjatuh, fraktur

Tindakan

:kaji kekuatan tonus otot secara menyeluruh

10) Interaksi sosial


Gejala

:masalah yang berhubungan dengan interpersonal


dalam keluarga atau lingkungan keluarganya

Tindakan

:jelaskan kembali mengenai patofisiologi penyakit


dan perlunya pengobatan/ penanganan dalam
jangka waktu sesuai indikasi.

11) Penyuluhan/pembelajaran
Gejala

:ada riwayat kejang pada keluarga

Tindakan

:Berikan penjelasan kepada keluarga tentang riwayat


penyakitnya

c. Analisa Data
No
Data Fokus
1 Ds:Do: Suhu tubuh,
wajah
tampak
kebiruan, lengan dan
kakinya
tesentaksentak tak terkendali,
lidah tergigit

Ds:Do: Hipoksia, RR,


penggunaan otot nafas
bantu.

35

Etiologi
Kejang

Terjadi kerusakan sel


otak

Gerakan mulut dan lidah


tidak terkontrol

Ketidakefektipan
bersihan jalan nafas
Kejang

Terjadi kerusakan sel


otak

Gerakan mulut dan lidah


tidak terkontrol

Ketidakefektipan
bersihan jalan nafas

Pola nafas tidak efektif

Masalah
Ketidakefektifan
bersihan jalan
nafas

Pola nafas tidak


efektif

Ds:Do: RR, Hipoksia,


badan terlihat kaku,
suhu tubuh.

Na, O2 (tdk terpenuhi)

Hipoksia

Gangguan perfusi
jaringan

Ds:Do: pasien tampak


berkeringat,
pasien
tampak lemah dan
kepanasan.Suhu tubuh
meningkat.
Ds: Do:
bibir
pasien
tampak kering, pasien
tampak lemah, pasien
tampak berkeringat.
Suhu: 38C, Denyut
nadi, Tekanan darah
Ds: Do: pasien tampak
tidak tenang dan
meronta-ronta, GCS:
12

Paparan panas yang


sering dan lama

Hipertermi

6.

Suhu tubuh

Gangguan pemenuhan
cairan

Dehidrasi
Kejang

Kesadaran menurun

Resiko injuri

Gangguan perfusi
jaringan

Hipertermi

Devisit volume
cairan

Resiko injuri

3.2 Diagnosa
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
1. Ketidak efektipan bersihan jalan nafas tidak efektif b/d gerakan
mulut dan lidah tidak terkontrol
2. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan penyumbatan jalan
nafas
3. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan tidak efektif
pertukaran O2 dan C02 dalam darah
4. Hipertermi berhubungan dengan paparan panas yang sering dan
lama
5. Devisit volume cairan berhubungan dengan output berlebihan
(dehidrasi)
6. Risiko terjadi kerusakan sel otak berhubungan dengan kejang
7. Resiko tinggi injuri berhubungan dengan kejang

36

3.3 Intervensi
Dx 1 : Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan
gerakan mulut dan lidah tidak terkontrol
Tujuan : Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 15 menit diharapkan
Jalan napas klien lancar/normal.
Kriteria hasil :
1. Menunjukkan batuk yang efektif.
2. Tidak ada lagi penumpukan sekret di sal. pernapasan.
3. Klien nyaman.
Intervensi
Rasional
1 Letakkan klien pada posisi Meningkatkan aliran (drainase) secret,
miring,
permukaan
datar, mencegah lidah jatuh sehingga
miringkan
kepala
selama menyumbat jalan napas
serangan kejang
2 lepaskan pakaian pada daerah Untuk memfasilitasi usaha bernapas
leher, dada, dan abdomen
3

Masukkan spatel lidah/ jalan Mencegah tergigitnya lidah dan


napas buatan atau gulungan memfasilitasi
saat
melakukan
benda lunak sesuai indikasi
penghisapan lender. Jalan napas
buatan mungkin diindikasikan setelah
meredanya aktivitas kejang jika pasien
tersebut tidak sadar dan tidak dapat
mempertahankan posisi lidah yang
aman

Dx2 : Pola napas tidak efektif berhubungan dengan penyumbatan jalan


nafas
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan 2 x 60 menit diharapkan pola nafas
klien efektif
Kriteria Hasil : Mempertahankan pola pernapasan efektif dengan jalan napas
paten.
Intervensi
Rasional
1. Anjurkan
klien
untuk 1. Menurunkan resiko aspirasi atau
mengosongkan mulut dari
masuknya benda asing ke faring
benda/zat tertentu/gigi palsu
atau alat lainnya jika fase aura
terjadi dan untuk menghindari
rahang mengatup jika kejang
terjadi tanpa ditandai gejala
awal
2. Meningkatkan aliran (drainase)
2. Letakkan klien pada posisi
secret, mencegah lidah jatuh
miring,
permukaan
datar,
sehingga menyumbat jalan napas
37

miringkan
kepala
selama
serangan kejang
3. Tanggalkan
pakaian
pada
daerah leher, dada, dan
abdomen
4. Masukkan spatel lidah/ jalan
napas buatan atau gulungan
benda lunak sesuai indikasi

5. Berikan tambahan oksigen/


ventilasi
manual
sesuai
kebutuhan pada fase posiktal
6. Siapkan/bantu
melakukan
intubasi jika ada indikasi

3. Untuk
bernapas

memfasilitasi

usaha

4. Mencegah tergigitnya lidah dan


memfasilitasi
saat
melakukan
penghisapan lender. Jalan napas
buatan mungkin diindikasikan
setelah meredanya aktivitas kejang
jika pasien tersebut tidak sadar dan
tidak dapat mempertahankan posisi
lidah yang aman
5. Dapat
menurunkan
hipoksia
serebral sebagai akibat dari
sirkulasi yang menurun atau
oksigen sekunder terhadap spasme
vaskuler selama serangan kejang

6. Munculnya
apneu
yang
berkepanjangan pada fase posiktal
membutuhkan

Dx3 : Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan tidak efektif


pertukaran O2 dan C02 dalam darah
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan 2 x 60 menit diharapkan perfusi jaringan
lebih efektif
Kriteria Hasil : akral tidak dingin, tidak terjadi sianosis pada jaringan perifer.
Intervensi
Rasional
1. Atur posisi kepala dan leher 1. Untuk mempertahankan ABC dan
untuk mendukung airway (jaw
mencegah terjadi obstruksi jalan
thrust). Jangan memutar atau
napas
menarik leher ke belakang
(hiperekstensi),
mempertimbangkan pemasangan
intubasi nasofaring.
2. Atur suhu ruangan
2. Untuk menurunkan keparahan
dari poikilothermy.
3. Tinggikan ekstremitas bawah
3. Meningkatkan aliran balik vena
ke jantung.
4. Gunakan
servikal
collar, 4. Stabilisasi tulang servikal
imobilisasi
lateral
kepala,
meletakkan papan di bawah
tulang belakang.

38

Dx4 : Hipertermi berhubungan dengan paparan panas yang sering dan


lama
Tujuan :setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 menit diharapkan
hipertermi tidak terjadi
Kriteria Hasil : suhu tubuh normal (360c 370c), klien bebas dari
demam (Efendi,1995)
Interverensi
Rasional
Beri kompres dingin
Dapat membantu mengurangi peningkatan suhu
tubuh
Beri dan anjurkan
banyak minum

klien Semakin banyak minum akan dapat antu


menurunkan suhu tubuh

anjurkan klien istirahat


dengan tirah

Istirahat yang baik akan dapat sedikit


membantu penyembuhan

Anjurkan
klien untuk
memakai pakaian
tipis dan menyerap keringat
Ciptakan suasana yang
nyaman (atur ventilasi)

Pakaian yang tipis akan memudahkan sirkulasi


dalam dan luar tubuh
Suhu ruangan harus
diubah untuk
mempertahankan suhu mendekati normal

Dx5 : Devisit volume cairan berhubungan dengan output berlebihan


(dehidrasi )
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4 menit diharapkan
devisit voleme cairan tidak terjadi
Hasil
Kriteria
: menunjukkan keseimbangan cairan, tanda-tanda vital dalam batas
normal
Interverensi
Rasional

kaji perubahan tanda- tanda vital

peningkatan suhu atau memanjangnya


demam meningkatnya laju metabolic dan
kehilangan cairan melalui evaporasi

kaji turgor kelembapan membrane Indikator langsung keadekuatan voleme


mukosa ( bibir dan lidah )
cairan meskipun membran mukosa
mulut mungkin kering karena napas
mulut dan oksigen tambahan.
catat laporan
muntah

mual

atau

pantau masukan dan haluaran

adanya gejala ini menurunkan masukan


oral
memberikan
informasi
tentang
keadekuatan
volume
cairan dan
kebutuhan pengganti

39

tekankan cairan sedikitnya 2500 pemenuhan kebutuhan dasar cairan,


ml/hari
atau sesuai kondisi menurunkan risiko dehidrasi
individual.

Dx6 : Risiko terjadi kerusakan sel otak berhubungan dengan kejang


(Ngastiyah, 1997, hal:236)
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan s el a ma 5 me n i t
d ih ar ap ka n tidak terjadi kerusakan sel otak, tidak terjadi
komplikasi
Kriteria hasil: Tidak ada tanda-tanda kejang, peredaran darah lancar, suplai
oksigen
lancar, tidak ada tanda-tanda apnue. Rasional
Intervensi
Bila terjadi kejang, tidurkan pasien Diharapkan sistem pernpasan tidak
ditempat yang
rata,
terjadi gangguan ataupun sumbatan
miringkan kepala
Pasang sudip lidah

Agar lidah tidak tergigit atau lidah


menutup jalan napas

Longgarkan pakaian yang mengikat Proses inspirasi dan ekspirasi


dapat maksimal
dan
dapat
memberikan rasa nyaman pada pasien
Isap lendir sesuai indikasi

Melonggarkan
pernapasan
mencegah terjadinya aspirasi

Berikan oksigen

Diharapkan
kebutuhan

dan

dapat memenuhi
oksigen diseluruh jaringan

Kolaborasi
dengan dokter untuk Diharapkan dapat mempercepat
pemberian obat anti kejang
proses penyembuhan dan juga dengan
memantau efek samping secara
dini
jika timbul efek samping

Dx7 : Risiko injuri berhubungan dengan kejang (suriadi,2001,hal:52)


Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5 menit diharapkan
resiko injuri tidak terjadi
Kriteria hasil : Faktor penyebab diketahui, mempertahankan aturan
pengobatan, meningkatkan keamanan lingkungan
Intervensi
Rasional
Hindarkan klien dari benda-benda Tindakan ini dapat membantu
yang membahayakan
menurunkan injuri
Gunakan alat pengaman

dapat melindungi klien dari bahaya


injuri

40

Bila terjadi kejang, pasang sudip Agar lidah tidak tergigit atau lidah
Lidah
menutup jalan napas.
Kolaborasi pemberian obat anti
kejang

Diharapkan dapat mempercepat proses


penyembuhan dan juga dengan
memantau efek samping secara dini
jika timbul efek samping

3.4 Implementasi
Sesuai dengan intervensi
3.5 EVALUASI
1.
2.
3.

Melihat dan menilai kemampuan klien dalam mencapai tujuan


Menentukan apakah tujuan keperawatan telah tercapai atau belum
Mengkaji ulang penyebab jika tujuan asuhan keperawatan belum
tercapai

BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kejang adalah gerakan otot tonik atau klonik yang involuntar yang
merupakan serangan berkala, disebabkan oleh lepasnya muatan listrik neuron
kortikal secara berlebihan. Kejang tidak secara otomatis berarti epilepsi.
Dengan demikian perlu ditarik garis pemisah yang tegas : manakah kejang
epilepsi dan mana pula kejang yang bukan epilepsi. Tetanus, histeri, dan

41

kejang demam bukanlah epilepsi walaupun ketiganya menunjukkan kejang


seluruh tubuh. Cedera kepala yang berat, radang otak, radang selaput otak,
gangguan elektrolit dalam darah, kadar gula darah yang terlalu tinggi, tumor
otak, stroke, hipoksia, semuanya dapat menimbulkan kejang. Kecuali tetanus,
histeri, hal-hal yang tadi, kelak di kemudian hari dapat menimbulkan epilepsi.
Kejang dapat disebabkan oleh berbagai patologis termasuk tumor
otak, truma, bekuan darah pada otak, meningitis, ensefalitis, gangguan
elektrolit

dan

gejala

putus

alcohol

dan

gangguan

metabolic,

uremia,overhidrasi,toksik subcutan,sabagian kejang merupakan idiopatuk


(tidak diketahui etiologinya).
4.2 Saran
Setelah membaca makalah ini diharapkan:
1. Untuk mahasiswa: diharapkan makalah ini bisa bermamfaat sebagai
2.

bahan pembanding dalam pembuatan tugas serupa


Untuk tenaga kesehatan: makalah ini bisa dijadikan bahan acuan untuk

3.
4.

melakukan tindakan asuhan keperawatan pada kasus yang serupa


Untuk instansi: agar tercapainya tingkat kepuasan kerja yang optimal
Untuk masyarakat: sebagai bahan informasiuntuk menambah
pengetahuan kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA
Mardjono, Mahar, Prof. Neurologi Klinis Dasar. Dian Rakyat. Jakarta: 2006
Budiman, Gregory. Basic Neuroanatomical Pathways. Second Edition. FKUI.
Jakarta: 2009.
Dewanto, George, dkk. Panduan Praktis Diangnosis dan Tata Laksana Penyakit
Saraf. EGC. Jakarta: 2009.
Muttaqin, Arif. Asuhan keperawatan klien dengan gangguan system
persarafan.Salemba Medika. Jakarta: 2008

42