Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH KOSMETIKA PERAWATAN KULIT

TEKNOLOGI KOSMETIKA

OLEH:
KELOMPOK 6
Bahagia Wiba Cyntia

(1306400894)

Gerardo Laudus

(1306411934)

Jeanetha Inees M

(1306480553)

Metah Putri Mutia

(1306396946)

Nadya Febri Handayani

(1306376856)

Satya Muslimah

(1306377171)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulillah kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunianya sehinga
penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah tentang Kosmetika Perawatan Kulit untuk
memenuhi tugas dari mata kuliah Teknologi Kosmetika pada semester ini. Ungkapan terima
kasih juga tak lupa kami haturkan kepada semua pihak yang telah membantu dalam kelancaran
penyusunan makalah ini, terutama kepada dosen kami, Dra. Juheini M.Si yang telah memberikan
bimbingan dan masukan demi kesempurnaan makalah ini.
Penyusunan makalah bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada pembaca
mengenai jenis-jenis kosmetika perawatan kulit, termasuk didalamnya tentang berbagai produk
dan bahan-bahan yang terkandung pada kosmetika pembersih,pelembab,pelindung, serta pemutih
kulit.
Penulis

menyadari

bahwa

dalam

pembuatan

makalah

ini

masih

terdapat

kekurangan.Untuk itu, besar harapan penulis kepada pembaca agar dapat memberikan saran dan
pendapat yang dapat membangun kearah perbaikan dan kesempurnaan dalam pembuatan
makalah yang lebih baik nantinya.Akhirnya,semoga makalah ini dapat berguna sebagai
tambahan ilmu pengetahuan dan bisa bermanfaat bagi kita semua.

Penulis
Depok, 09 April 2016

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.....................................................................................1
KATA PENGANTAR....................................................................................2
DAFTAR ISI..................................................................................................3
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang.........................................................................................4
1.2. Rumusan Masalah....................................................................................4
1.3. Tujuan Penulisan......................................................................................5
1.4. Metode Penulisan.....................................................................................5
1.5. Sistematika Penulisan...............................................................................5
BAB II ISI
2.1 Kosmetika Pembersih Kulit .....................................................................7
2.2 Kosmetika Pelembab Kulit.......................................................................25
2.3 Kosmetika Pelindung Kulit.......................................................................28
2.4 Kosmetika Pemutih Kulit..........................................................................35
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan..............................................................................................
3.2. Saran.........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kulit merupakan bagian tubuh yang penting. Kulit menjadi agen pelindung pertama
tubuh dari mikroorganisme, kotoran, dan serangan mekanik. Kulit menjadi penghalang fisik bagi
jalan masuk patogen ke dalam tubuh. Lapisan luar sel-sel kulit mati yang keras mengandung
keratin dan sangat sedikit air, sehingga menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Pada kulit,
terdapat kelenjar keringat yang menghasilkan keringat mengandung lisozim. Lisozim ini
merupakan zat kimia yang dapat membunuh bakteri. Beberapa bakteri tidak berbahaya yang
hidup di kulit dapat mencegah pertumbuhan bakteri patogen dengan berkompetisi mendapatkan
nutrien. Dengan mengetahui hal ini, disadari bahwa kulit harus dijaga dan dirawat untuk
kesehatan tubuh itu sendiri.
Selain menjadi pelindung tubuh, kulit juga penting dalam dunia kecantikan. Cantik
seringkali diidentikkan dengan kulit putih, cerah, bersih, dan lentur. Banyak hal yang diupayakan
masyarakat untuk mendapatkan kulit cantik tersebut, mulai dari penggunaan bahan kosmetika
kimia sampai bahan alam yang dapat diperoleh sendiri.
Melihat pentingnya kulit bagi kesehatan dan kecantikan, telah banyak produk-produk
perawatan dan kecantikan kulit yang tersedia. Produk pembersih kulit digunaan untuk
membersihkan kulit dari kotoran dan mikroorganisme. Pelembab menjaga kesehatan kulit agar
tetap elastis dan lembut. Untuk mendapatkan kulit yang putih dan cerah digunakan produk
pemutih kulit dan pelindung tabir surya sebagai pelindung kulit dari sinar matahari. Masingmasing produk perawatan kulit ini akan dibahas lebih rinci dalam makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah


a. apa saja jenis kosmetik yang termasuk ke dalam kosmetika perawatan kulit?
b. apa yang dimaksud dengan kosmetika pembersih kulit beserta bahan aktif dan contoh
produk yang umumnya digunakan?
c. apa yang dimaksud dengan kosmetika pelembab kulit beserta bahan aktif dan contoh
produk yang umumnya digunakan?

d. apa yang dimaksud dengan kosmetika pelindung kulit beserta bahan aktif dan contoh
produk yang umumnya digunakan?
apa yang dimaksud dengan kosmetika pemutih kulit beserta bahan aktif dan contoh produk
yang umumnya digunakan?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan informasi kepada pembaca
mengenai berbagai jenis kosmetik yang termasuk kedalam kosmetika perawatan kulit, bahanbahan aktif yang umumnya digunakan serta berbagai produk kosmetika perawatan kulit yang
beredar dipasaran.

1.4 Metode Penulisan


Metode yang digunakan untuk pembuatan makalah ini adalah metode studi literatur.
Kami mencari segala informasi dari buku-buku, jurnal, dan beberapa web terpercaya untuk
mendapatkan materi yang berhubungan dengan tugas yang diberikan.

1.5 Sistematika Penulisan


Makalah dibuat dengan sistematika berikut :
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Tujuan Penulisan
1.4. Metode Penulisan
1.5. Sistematika Penulisan
BAB II ISI
2.1 Kosmetika Pembersih Kulit
5

2.2 Kosmetika Pelembab Kulit


2.3 Kosmetika Pelindung Kulit
2.4 Kosmetika Pemutih Kulit
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB II
ISI

2.1

Kosmetika Pembersih Kulit

2.1.1. Pendahuluan
Kulit adalah organ terbesar dari tubuh yang membatasi organisme dengan
lingkungannya, memiliki berat yaitu 16% dari berat badan, dengan luas permukaan 1,8
m2. Kulit memiliki fungsi untuk menjaga tubuh dan sel dari kekeringan dengan cara
menjaga kadar air dalam tubuh sehingga kelembaban tetap terjaga. Selain itu, kulit juga
memiliki fungsi melindungi tubuh dari sinar UV dengan adanya pigmen melanin,
meregulasi suhu tubuh dan mencegah stimulus/rangsangan dari luar melalui kemampuan
menetralisirnya. Fungsi dari kulit dan mekanismenya dapat berkurang akibat lingkungan
dan penuaan. Sehingga diperlukan kosmetik perawatan kulit untuk menjaga fungsi dan
mekanisme normal dari kulit. Produk perawatan kulit yang ideal mampu melindungi kulit
dari efek berbahaya akibat kekeringan, radiasi UV dan oksidasi dan mengembalikan
fungsi homeostasis kulit. (Mitsui, 1997)
Jenis dari kosmetika perawatan kulit, diantaranya :

Pembersih kulit/Cleansing Product

Pelembab kulit/Moisturizer

Pelindung kulit (tabir surya)

Pemutih kulit/Whitening Product

2.1.2. Definisi Kosmetika Pembersih Kulit


Kosmetika pembersih kulit adalah kosmetika perawatan kulit yang digunakan
untuk membersihkan kulit dari kotoran. Tujuan utama kosmetika pembersih kulit yaitu
untuk membuat kulit menjadi bersih, bersih dari bahan-bahan yang tidak berguna atau

bahkan berbahaya pada kulit dan tidak memiliki efek pada jaringan kulit, seperti debudebu di udara dan asap kendaraan.
Pada produk pembersih untuk pakaian, dan objek lain harus mampu membersihkan
dan menghilangkan minyak, tapi pada produk pembersih kulit wajah terdapat organisme
alami yang berada disana sehingga kemampuan untuk membersihkan dan menghilangkan
minyak tidak terlalu kuat. Untuk mendapatkan kulit yang sehat, sangatlah penting untuk
memilih pembersih wajah yang tepat dan menggunakannya dengan cara yg tepat
juga.Pada dasarnya ada 4 cara pembersihan kulit, diantaranya yaitu dengan air, dengan
minyak, dengan bahan padat yang menyerap kotoran, dan dengan penggosokan secara
mekanis. Pembersih wajah dibagi menjadi dua jenis, yaitu :

Surfactant-based type : mengandung surfaktan dalam jumlah yang banyak, cara


penggunaannya dengan meletakan diatas telapak tangan, basahi dengan sedikit air untuk
membentuk busa.

Solvent-based type, yang akan bercampur dengan kotoran di wajah kemudian seka atau
bilas dengan air.

Gambar 1. Tipe-tipe Pembersih Kulit (Mitsui,1987)

2.1.3. Pertimbangan Membuat Kosmetika Pembersih Kulit

Ada beberapa pertimbangan yang sangat penting dalam membuat kosmetika


pembersih kulit, yaitu :
1. Objek (permukaan kulit)
Pembersih yang ada dalam kehidupan sehari-hari itu berbeda bahan
pembuatannya berdasarkan tujuan penggunaannya. Bahan pembersih kulit berbeda
dengan bahan pembersih pakaian, peralatan makan dan benda tidak hidup lainnya.
Bahan pembersih kulit biasanya tidak menghilangkan minyak secara berlebihan dari
kulit, karena hal tersebut dapat membuat kulit menjadi kering.
2. Jenis kotoran yang menempel di permukaan kulit
Jenis kotoran yang menempel di permukaan kulit ada banyak jenisnya. Sehingga
pembersih kulit ini dapat ditujukan untuk membersihkan produk metabolism kulit,
seperti sebum, serpihan lapisan tanduk, produk oksidasi sebum dan residu keringat.
Selain itu, faktor dari lingkungan luar, seperti kotoran dan debu di udara,
mikroorganisme, juga produk make up, karena apabila make up tidak dibersihkan,
make up dapat menutupi pori-pori kulit sehingga dapat timbul jerawat.

3. Produk yang digunakan


Ada berbagai macam produk pembersih wajah yang dirancang untuk mengatasi
variasi jenis kulit, sehingga penting untuk memilih pembersih yang tepat bagi wajah
dan menggunakannya dengan cara yang tepat.
4. Metode pembersihan
Perbedaan metode pembersihan oleh kosmetika pembersih kulit terbagi menjadi
dua cara, yaitu didasarkan pada surfaktan yang mengandung surfaktan dalam jumlah
yang banyak, yang pada saat diaplikasikan di telapak tangan, lalu ditambah air, akan
timbul busa. Sedangkan yang didasarkan pada pelarut , langsung diaplikasikan pada
wajah, kemudian akan tercampur dengan kotoran di wajah, dan bilas dengan air.
2.1.4. Bahan utama dari produk pembersih wajah

10

Produk pembersih wajah dengan bahan utama surfaktan memiliki kemampuan


membersihkan yang baik. Selain itu, produk pembersih wajah biasanya juga mengandung
emolien dan humektan untuk mencegah kehilangan sebum terlalu banyak, dan
memberikan rasa lembut dan tidak memberikan efek kaku pada kulit wajah. Memiliki
bentuk berupa krim lembut yang dibubuhkan pada telapak tangan kemudian ditambahkan
air untuk menghasilkan busa.
Pembersih wajah tipe alkali yang memiliki kandungan utama sabun asam lemak
menghasilkan busa yang baik, mudah dicuci dan memberikan rasa ringan pada kulit
wajah setelah penggunaan. Jenis ini dibuat untuk memberikan efek lembut setelah
pembilasan dengan cara meningkatkan jumlah surfaktan non-ionik dan minyak dalam
formulasi. Akan tetapi setelah dibilas, kemungkinan wajah akan terasa licin. Ada juga
jenis pembersih kulit yang mengandung surfaktan jenis asam amino yang bersifat asam
lemak dan iritasi minimum namun kemampuan membentuk busanya lemah.

Gambar 2. Bahan Utama Produk Pembersih Wajah (Mitsui, 1997)

2.1.5. Cara Pembuatan Pembersih Kulit


Secara konvensional kosmetika pencuci muka dibuat dengan cara mencampurkan
fase minyak yang tersolubilisasi ke dalam fase air. Namun, hal ini justru menghasilkan
11

banyak benjolan akibat tidak homogennya pencampuran sehingga membutuhkan waktu


yang lama untukmelarutkannya dan bau yang dihasilkan aneh.Saat ini fase air biasanya
ditambahkan ke fase minyak dan mungkin untuk memformulasi sabun asam lemak (fatty
acid soap) dan menghasilkan bentuk sediaan yang memiliki viskositas tinggi. namun,
pada saat penambahan fase air dibutuhkan pengadukan yg cepat agar bahan dapat
tercampur homogen.

Gambar 3. Formulasi Umum Pembersih Wajah Basis Sabun (Mitsui, 1997)

Cara pembuatan :
Panaskan asam lemak, emolien, humektaan dan preservative bersama hingga
meleleh dan jaga pada suhu 70 C.Larutkan basa dalam air yg terpurifikasi dan
tambahkan pada fase minyak sambal terus diadukJaga suhu tetap di 70 C hingga reaksi
netralisasi selesaiPanaskan surfaktan dan larutkan chelating agent, perfume, dan pewarna
campurkan pada campuran surfaktan-chelating agent De-air, saring dan dinginkan.
Kekerasan dari produk akhir dipengaruhi oleh kondisi pada saat pendinginan sehingga
kondisi optimum harus dipilih.

12

Gambar 4. Proses pembuatan Pembersih Wajah basis sabun (Mitsui, 1997)

Gambar 5. Contoh formulasi umum pembersih wajah basis surfaktan asam amino

Cara pembuatan :
Larutkan humektan dalam air yang terpurifikasi lalu tambahkan N-acylglutamate
sedikit demi sedikit agar tidak terbentuk gumpalan. Tambahkan chelating agent, panaskan
dan aduk hingga larut. Pada wadah lain, panaskan emolien, surfaktan dan preservative
bersama, lelehkan dan tambahkan ke fase air. De-air, filler dan dinginkan. Pada

13

pembersih wajah tipe ini, jika suhu akhir lebih rendah, akan dihasilkan produk yang
stabilitasnya tinggi dan seragam

Gambar 6. Proses pembuatan Pembersih Wajah basis asam amino(Mitsui, 1997)

2.1.6. Klasifikasi Kosmetika Perawatan Kulit


Oleh karena itu, kosmetika perawatan kulit terbagi menjadi 6 klasifikasi, yaitu:
1. Kosmetika pembersih kulit dalam bentuk padatan
Kosmetika pembersih kulit dalam bentuk padatan didasarkan pada mekanisme
penyerapan kotoran ke dalam serpihan-serpihan padat yang terdapat dalam dua bentuk,
yaitu bentuk serpihan/bubuk padat dan bentuk krim. Bentuk krim tersebut merupakan
bubuk padat yang akan terbentuk setelah cairan pelarut menguap pada permukaan kulit.
Bahan yang biasa digunakan yaitu bahan koloidal seperti selulosa atau derivat protein.
Daya pembersih kosmetika bentuk padatan ini juga didasarkan pada bahan-bahan
koloidal tersebut mensuspensi partikel-partikel kotoran.
Kosmetika bentuk padatan ini memiliki daya pembersih yang kuat dan selama
tidak berisi alkali atau abrasive yang kuat, atau kadar disinfektan yang tinggi, serta

14

menimbulkan efek lembut pada kulit sehingga cocok untuk orang yang tidak dapat
mentoleransi sabun.
2. Kosmetika pembersih kulit yang dinamakan rolling creams
Kosmetika pembersih kulit bernama rolling creams ini merupakan sediaan emulsi
minyak dalam air yang sensitif terhadap tekanan, sehingga ketika diusapkan pada kulit
akan membentuk seperti gulungan (rolls) yang lengket. Rolls atau partikel kecil tak
beraturan yang terbentuk ketika krim diaplikasikan di wajah mengandung kotoran yang
diangkat oleh rolling cream. Tujuan dari rolling creams ini yaitu untuk mengangkat
kotoran, minyak, dan sel-sel kulit mati dari permukaan kulit dengan pengelupasan dan
membersihkannya.Bahan aktif dari rolling creams ini biasanya berupa selulosa eter dan
kadang-kadang tepung tapioka atau paraffin wax murni.
3. Kosmetika Pembersih Kulit yang Menipiskan Kulit (scrub cream)
Kosmetika pembersih kulit yang bersifat mengampelas kulit ini berguna untuk
membersihkan kotoran kulit yang tidak bisa dibersihkan dengan kosmetik pembersih lain
seperti sabun, krim pembersih, susu pembersih. Kosmetika ini bertujuan untuk
mengangkat sel-sel mati yang ada di epidermis kulit, karena apabila tidak diangkat akan
menyebabkan kulit menebal, kusam, dan pori-pori mudah tersumbat sehingga
memudahkan timbulnya jerawat. Selain itu, pergantian (regenerasi) sel-sel kulit yang
lama dengan sel kulit yang baru menjadi terhambat.
Mekanisme scrub cream diantaranya yaitu mempercepat keratinisasi kulit,
menghapus

kotoran

dan

unsur

yang

tidak

diinginkan,

menghaluskan

kulit,

mengelupaskan kulit mati, meningkatkan absorpsi dari zat aktif untuk menjaga
kelembutan dan aktivitas metabolisme kulit yang sehat.
Bahan dasar pembuatan scrub cream ini sama dengan bahan dasar krim, namun
dalam scrub cream terdapat butiran-butiran kasar yang bersifat sebagai pengampelas
(abrasiver) agar dapat mengangkat sel-sel kulit mati dari epidermis. Butiran pengampelas
pernah dicoba mulai dari butiran pasir, biji keras tanaman, butiran abrasiver sintetis.
Butiran tidak boleh terlalu kasar karena dapat melukai kulit dan tidak terlalu halus karena
dikhawatirkan tidak dapat bekerja sebagai pengampelas.
15

Berikut contoh formulasi dari scrub cream :


Parafin liquid

10 %

Lanolin anhidrat

9,30 %

Cetyl alcohol

6,70 %

Cera alba

1,60 %

Nipagin

0,15 %

Vaselin album

18 %

SLS

0,70 %

Cara pembuatan scrub ini sama dengan krim biasa yaitu ada fase minyak dan fase air.
1. Pembuatan fase minyak

Campurkan paraffin liquid, lanolin anhidrat, setil alkohol, cera alba dan vaseline
album ke dalam cawan penguap.

Letakkan cawan penguap di atas penangas air hingga suhu 70C.

Diamkan hingga ketiga bahan tersebut meleleh sempurna dan pertahankan suhu.

2. Pembuatan fase air

Campurkan SLS dan nipagin ke dalam air panas dengan suhu 70C

3. Pembuatan basis krim

Campurkan kedua fase yang memiliki suhu yang sama (70C) di dalam homogenizer
hingga terbentuk basis krim

4. Penambahan zat abrasiver

Tambahkan SiO2 ke dalam basis krim yang sudah diturunkan suhunya hingga 50C.
16

Aduk rata di dalam homogenizer.

5. Pengemasan

Diamkan krim yang sudah jadi hingga suhunya menurun (25C)

Masukkan ke dalam wadah yang diinginkan

4. Kosmetika pembersih kulit yang didasarkan pada air (Water-based cleanser)


Air merupakan bahan pembersih yang paling umum digunakan. Hal ini
dikarenakan air memiliki beberapa kelebihan, diantaranya adalah air mudah didapat serta
harganya relative murah, tidak toksik dan sama sekali tidak berbahaya bagi kulit. Namun,
air juga memiliki kekurangannya, yaitu dalam penggunannya air tidak memiliki daya
pembasah yang kuat. Salah satu contoh dari jenis kosmetika ini adalah face lotions yang
biasanya ditambahkan dengan alkohol. Penggunaan alkohol sendiri digunakan pada saat
pembuatannya dengan tujuan :

Mengurangi tegangan permukaan kulit sehingga lebih mudah dibasahi


Memberikan sensasi rasa segar di kulit
Mengurangi minyak kulit
Melarutkan parfum
Menimbulkan efek astringent dan desinfektan

Selain air dan alkohol bahan-bahan lain yang digunakan biasanya :

Garam kalium-alumunium-sulfat, zink fenol sulfat, asam tanat dalam jumlah kecil

sebagai bahan astringent.


Gliserol, glikol, atau sorbitol sebagai emolien yang dapat memberikan efek lembut

pada kulit.
Borax yang dapat menambah daya pembersih, tetapi dapat membuat lotion agak

akalis.
Asam borat dan asam benzoate sebagai antiseptic, tetapi dosisnya harus sangat kecil
agar tidak menimbulkan iritasi.

17

Parfum dengan pemberian yang sedikit karena baunya mudah terpancar dalam
alkohol. Biasanya dilarutkan dalam mg karbonat atau bahan pelarut (tween 20 atau

turkey red oil)


Pewarna untuk membedakan face lotion dengan air biasa. (Tranggono, Latifah &
Djajadisastra. (Ed), 2007)

5. Kosmetika pembersih kulit yang didasarkan pada surfaktan


Surfaktan merupakan bahan-bahan yang memperbaiki daya pembersih air dengan cara
memperbesar daya pembasah kulit dan mencegah partikel-partikel kotoran melekat pada kulit
dengan cara mengemulsinya, melarutkannya, dan mendispersikannya.Penambahan surfaktan
ke dalam air akan menghasilkanpembersih yang lebih baik dan lebih kuat daya
pembersihnya.Dalam pemilihan surfaktan harus diperhatikan agar tidak menimbulkan efek
yang tidak diinginkan pada kulit. Bahan-bahan yang bersifat sebagai surfaktan, antara lain :
a. Sabun
Sabun merupakan produk campuran garam natrium dengan asam stearat, palmitat, dan
oleat yang berisi sedikit komponen asam miristat dan laurat.Surfaktan yang berguna
untuk membersihkan kulit biasanya didominasi oleh sabun. Hal ini dikarenakan sabun
memiliki beberapa keunggulan, seperti : memiliki daya pembersih yang kuat, kurang
berbahaya bagi kulit dibandingkan surfaktan yang lain, harganya murah dan mudah
didapat. Akan tetapi, sabun juga dapat menimbulkan iritasi dan alergi pada kulit akibat
efek dari sejumlah daya kerjanya.Daya kerja sabun yang dapat menyebabkan iritasi,

diantaranya :
Alkalisasi : Hidroksil bebas [OH-] selalu ada di dalam larutan sabun yang menyebabkan
larutan sabun bersifat alkalis dengan pH 9,5-10,8 jauh di atas pH fisiologis kulit 4,5-6,5

jika pH ini digunakan pada kulit hal ini akan menyebabkan kulit kering dan pecah-pecah.
Pembengkakan keratin kulit, hal ini diakibatkan adanya perbedaan pH yang jauh dari
isoeletrik keratin kulit (pH 5) sehingga terjadi penyerapan larutan surfaktan oleh keratin
kulit. Penyerapan surfaktan ini dapat menyebabkan lapisan stratum korneum melunak

dan bahan asing seperti bakteri memasukinya.


Penggunaan surfaktan dalam sediaan kosmetik untuk kulit dapat menyebabkan
pengurangan minyak kulit. Jika minyak yang berkurang terlalu banyak, dapat
menyebabkan kulit kering dan iritasi.

18

Absorbsi sabun oleh keratin kulit : Dapat menghalangi masuknya bahan yang diperlukan

kulit, seperti pelembab kulit, sehingga kulit menjadi kering dan pecah-pecah
Iritasi oleh molekul asam atau ion-ion, pada sabun berisi C12 lebih mudah menimbulkan
iritasi daripada sabun berisi C14. Adanya bahan asam oleat menyebabkan sediaan lebih

iritatif daripada asam stearate.


Pengendapan sabun kalsium : Penggunaan sabun ini dapat menyebabkan pembentukan
endapan berlendir di permukaan kulit.

b. Produk-produk kondensasi protein-asam lemak


Produk ini dihasilkan dengan cara mengondensasikan klorida asam lemak dan produk
degradasi protein dan merupakan produk yang disisipi rantai polipeptida di antara rantai
alkil dan gugus ujung kutub.Contoh produk komersial: Maypons&Hostapons. Produk ini
memiliki susunan rumus, seperti berikut :

Bagian hidrofilik dari molekul tersebut diperkuat oleh kelompok amida yang terkumpul
sehingga bukan hanya garam natrium yang larut dalam air, tetapi juga kalsium dan
magnesium, karenanya produk ini efisien di dalam air sadah. Efek pembasahnya lemah,
tetapi kemampuan mengemulsi dan mendispersinya baik. Daya pengurangan minyak
pada kulit lebih kuat daripada sabun, tapi masih dapat ditoleransi oleh pasien yang
kulitnya sensitif terhadap sabun biasa.
c. Produk-produk kondensasi asam lemak
Walaupun senyawa ini disiapkan dari asam lemak atau kloridanya, tapi sifatnya berbeda
dari sabun. Gugus karboksil diblokir dan gugus asam sulfonik mrupakan gugus ujung,
dengan rumus berikut:

Sediaan jenis ini memiliki efek pembasah, efek deterjen, dan sifat pendispersi yang
sangat baik. Kelebihan dari produk yang mengandung asam lemak terkondednsasi ini
yaitu tidak menyebabkan kulit menjadi alkalis, karena larutan dalam air dari kondensat

19

asam lemak bereaksi netral. Tetapi, produk ini juga masih memiliki kekurangan karena
dapat menyebabkan dehidrasi epidermis jika pembilasannya kurang bersih.
d. Sulfonated oils (turkey red oils)
Bila castor oil ditambah denganasam sulfat pekat akan menghasilkan trigliserida yang
terhidrolisis dan terjadinya reaksi esterifikasi antara asam sulfat dan kelompok hidroksil
asam risinoleat.Hasilnya adalah bahan dengan rumus kimia, sebagai berikut :

Turkey red oilsdigunakan sebagai pembersih karena memiliki sifat sifat surfaktan,
antara lain :
pembasah dan pendispersi yang baik
memiliki daya pengemulsi yang cukup,
daya pembersih yang cukup,
mempunyai daya membusa yang lemah.
Turkey red oilsdigunakan dalam kosmetik pembersih kulit bagi kulit yang sensitif
terhadap sabun dengan hasil yang cukup memuaskan.
e. Surfaktan anionik
Yang termasuk dalam kelompok ini adalah garam kalsium dan magnesium dari asam kuat
yang larut dalam air sehingga tidak akan terjadi presipitasi bahkan di dalam air sadah
sekalipun.

Kelebihan surfaktan anionik dibanding sabun adalah karena bahan ini

kebanyakan efektif dalam air sadah maupun lingkungan yang banyak mengandung
garam, sehingga proses alkilasi tidak terjadi karena larutannya dalam air memiliki reaksi
netral.Dalam penggunaannya yang normal, bahan ini hanya menimbulkan efek dehidrasi
dan bukan pembengkakan, pada lapisan tanduk kulit.

20

f. Jenis surfaktan lain (surfaktan kationik, amfoterik dan nonionic)


Surfaktan kationik sama sekali tidak cocok untuk pembersih kulit, karena larutannya
diserap dengan kuat dalam air oleh protein kulit sehingga tidak efektif dalam proses
pembersihan.
Surfaktan amfoterikbiasanya digunakan dalam shampoo, tetapi belum dalam
kosmetik pembersih kulit karena harganya yang tinggi.
Surfaktan nonioniksecara teoritis cocok untuk pembersih kulit karena tidak
keras.Namun belum bisa bersaing dengan sabun karena harganya yang tinggi.
(Tranggono, Latifah &Djajadisastra. (Ed), 2007)

6. Kosmetika pembersih kulit yang didasarkan pada minyak


Pembersih kulit ini memiliki beberapa keuntungan, diantaranya adalah efektif
membersikan kotoran yang tidak larut air tapi larut minyak (make-up), resiko kulit kering
dan pecah-pecah berkurang, dan memiliki daya pembersih yang lebih besar. Namun, jenis
pembersih ini juga memiliki kekurangan, yaitu : bahannya lebih mahal, jika bahan tidak
berkualitas tinggi dapat meng-iritasi, air yang tertinggal di permukaan kulit sulit menguap,
dan untuk jenis kotoran yang larut air akan sukar untuk dibersihkan. Pembersih kulit dengan
basis minyak ini memili beberapa bentuk dan jenis, diantaranya :
a. Liquefying cleansing cream

21

Pembersih jenis ini diperkenalkan pertama kali tahun 1920-an. Dibuat dari
campuran sederhana dari minyak dan wax. Dan,merupakan sediaan yang bebas air.
Sediaan ini didesain agar segera mencair atau meleleh ketika menyentuh kulit. Sehingga
rheologi yang diharapkan dari sediaan jenis ini adalah aliran tiksotropi. Viskositas dari
sediaan ini juga merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan, viskositas
yang diharapkan adalah viskositas rendah sehingga memudahkan pembersihan setelah
pemakaian. Formulasi utamanya mengandung mineral oil sebagai pembersih dan basis
lemak seperti parafin, petrolatum, ceresin, danspermaseti. Terkadang ditambahkan
lanolin, cetyl alkohol, atau bahan pengemulsi W/O lainnya, yang akan meningkatkan
permeabilitas terhadap air serta memperbesar afinitas krim terhadap kulit. Serta
mencegah terjadinya lapisan minyak di muara saluran folikel rambut atau pori-pori kulit.
Bahan

De Navarre

Keithler

62 %

40 %

Emolient/solvent

15 %

41.5 %

Ceresine

Fase minyak

18 %

12 %

Spermaceti

Sebagai basa

5%

Mineral oil
Petrolatum

Stearic acid

Fungsi
Fase
minyak/emolient

Sebagai asam lemak

6%
bermartabat tinggi
Tabel 1. Contoh formulasi sediaan Liquefying cleansing cream

b. Pembersih kulit tipe emulsi O/W


Emulsi tipe O/W sering dipasarkan dengan nama face milk atau beauty milk,
dipakai baik sebagai preparat pembersih. Sebagai pembersih biasanya, dalam formulasi
digunakan mineral oil atau isopropil palmitat. Emulsi tipe O/W umumnya digunakan
sebagai pembersih make-up. Contoh formulasi :

Bahan

Konsentrasi(%)

Paraffin Oil

5,0
22

Isopropil Myristate

20,0

Peanut Oil

7,0

Stearil Alkohol

1,0

Asam Stearat

3,0

Trietanolamin lauril sulfat

2,0

Air

62,0

c. Pemebersih kulit tipe emulsi O/W


Air yang terkandung menghasilkan konsistensi yang lebih lembut dan
meningkatkan efektivitas sediaan dalam membersihkan kotoran yang larut di dalam air.
Selain itu penguapan air yang terjadi saat krim diaplikasikan ke kulit memberikan rasa
sejuk pada kulit. Krim ini hanya mengandung sedikit bahan pengemulsi. Adanya
komponen hidrofilik dalam sediaan mengurangi degreasing effect yang tidak enak.
(Tranggono, Latifah & Djajadisastra. (Ed), 2007)

23

d. Pembersih kulit tipe emulsi ganda (cold creams)


Krim ini memberikan sensasi rasa dingin pada kulit pada saat penggunaan. Mulai
dibuat pada awal abad ke dua puluh, sebagai base digunakan minyak mineral yg
menggantikan minyak yang berasal dari tanaman karena tidak stabil. Natrium borat yang
ditambahkan akan bereaksi dengan asam lemak bebas (Lignoceric dan asam orotic)
menghasilkan emulsi beeswax-natrium borat. Semakin sedikit na-borat yang digunakan
akan dihasilkan krim dengan tekstur yang lebih baik. Biasanya jumlah beeswax yg
digunakan 5-15%. Pada cold cream, jumlah beeswax yang sudah dinetralisasi oleh naborat 5-16%. Semakin sedikit jumlah beeswax yang digunakan (jika perlu ditambahkan
dengan wax lain untuk meningkatkan viskositas) akan menghasilkan krim yang lebih
lembut. Clay dapat digunakan sebagai alternative wax untuk meningkatkan
kekentalan/ketebalan fase minyak (formula 18.3).

Campuran beeswax/na-borat dapat digunakan baik untuk emulsi tipe o/w maupun
w/o tana penambahan agen pengemulsi. Faktor yang mempengaruhi tipe emulsinya
adalah perbandingan antar minyak dan air, persentase beeswax tersaponifikasi, dan bahan
lain (yg akan mempengaruhi HLB) dan suhu.Dalam proses pembuatan kemungkinan
akan terjadi infers fasa, yaitu pada saat emulsi O/W diterapkan pd kulit. Inversi fasa
terjadi ada saat fase air menguapkan agen pengemulsi nonionic yg digunakan pada emulsi
24

beeswax-na borat untuk memperbaiki kelembutan dan stabilitas, agen pengemulsi yg


sering digunakan adalah ester sorbitan. (Harry & Rieger, 2000)
2.2

Kosmetika Pelembab Kulit


Tujuan dari penggunaan pelembab ialah memperoleh kulit yang elastis dan lembut.

Dahulu, peneliti mengganggap bahwa komponen lemaklah yang berperan melembutkan kulit.
Namun, pada tahun 1950an, Irving Blank dalam penelitiannya menemukan bahwa pembuat sifat
plastis yang sebenarnya adalah air. Kini, konsep melembapkan kulit yang penting adalah hidrasi.
Jika kadar air di kulit tidak terjaga, kulit akan menjadi kaku, kasar, bersisik, dan
berkeriput. Namun, sampai saat ini, tidak ada patokan pasti mengenai seberapa kulit dikatakan
kering. Kulit kering menjadi pandangan subjektif menurut masing-masing individu. Kadar air
dalam keratinosit pada kulit menurun dari stratum basal (sekitar 70%) ke lapisan atas berikutnya,
stratum granulosum (sekitar 65%), berkurang drastis pada stratum corneum bagian bawah
(sekitar 35%), sampai 15-20% pada stratum corneum terluar.
Kadar air pada kulit bervariasi antarbagian tubuh. Telapak tangan memiliki tingkat
kelembapan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan dahi kemudian punggung atau perut,
dan lengan. Terlihatnya kulit keriput pada orang tua menunjukkan bahwa kulit muda memiliki
tingkat hidrasi atau kelembapan lebih baik dari pada kulit tua.
Dehidrasi kulit disebabkan oleh beberapa faktor:

Tingkat kelembapan udara yang rendah


Kelembapan udara yang rendah mempercepat penguapan air dari kulit karena
perbedaan kadar air yang tinggi antara kulit dan atmosfer yang mempercepat
perpindahan air dari kulit ke atmosfer.

Udara dingin
Pada kondisi udara dingin, kelembaban udara menurun drastis. Penurunan ini
disebabkan karena uap air mengembun menjadi air pada udara yang dingin,
sehingga uap air di udara sedikit.

Paparan sinar matahari

25

Sinar matahari dapat merusak barrier penahan air di kulit. Rusaknya barrier ini
akan meningkatkan jumlah air yang menguap dari kulit setiap waktunya.

Penggunaan sabun atau deterjen berlebihan


Sabun atau deterjen merupakan zat kimia yang dapat membersihkan kulit dari
kotoran dan lemak. Penggunaan sabun berlebihan menyebabkan menipisnya
lapisan lemak atau minyak sebagai barrier di kulit sehingga air dalam kulit tidak
dapat ditahan oleh lapisan lemak agar tidak menguap.

Usia
Kulit muda memiliki tingkat hidrasi yang lebih baik dibandingkan kulit tua.

Melembapkan kulit dapat dilakukan dengan penggunaan kosmetik. Terdapat dua cara untuk
meningkatkan kelembapan kulit, yaitu dengan agen oklusi dan dengan humektan.
1. Melembapkan kulit dengan agen oklusif
Agen oklusif memperbaiki kelembapan dengan menahan penguapan air dari kulit
di lapisan paling atas. Agen oklusif yang digunakan merupakan bahan lemak yang tidak
permeabel terhadap air. Emulsifikasi agen oklusif atau kombinasi dengan bahan
higroskopis dapat menurunkan tingkat oklusi suatu agen oklusif.
Beberapa agen oklusif yang sering digunakan sebagai pelembab kulit antara lain (Harrs
Cosmeticology, 2000):

Arakidil behenat

C30-40 alkil dimetikon

Kolesteril oleat

Dimetikon

Glikol stearat

Oktil dodesil stearat

Paraffin

Petrolatum
26

Polietilen

Tripalmitolein
Penggunaan agen oklusif dalam waktu yang lama dapat menyebabkan tingkat

kadar air yang tinggi secara persisten. Hal ini dapat mengganggu proses alami di kulit
seperti menurunkan perbaikan barrier. Pemakaian agen oklusif secara teratur dapat
memperbaiki masalah kulit (gatal, eritrema, kulit berkerak), memperbaiki pelindung
epidermis oleh proses normal fisiologis, mempercepat penyembuhan luka, dan
meningkatkan penetrasi obat.

2. Melembapkan kulit dengan humektan


Humektan merupakan bahan higroskopis yang dapat menyerap air dari atmosfer
atau pun kulit. Humektan dapat menyerap dan melepas air tergantung dari kelembapan
relatif lingkungan sekitarnya.
Plastisasi akibat humektan mulai dipelajari dan dibandingkan terhadap NMF
(Natural Moiturizing Factor). NMF terdapat secara alami di kulit dan dengan adanya
kelembapan dapat menjaga stratum corneum tetap fleksibel.
NMF tersusun atas:

Asam amino

40%

PCA

12%

Laktat

12%

Urea

7%

Na+, Ca2+, K+, Mg2+, PO42-, Cl- 18,5%

NH3, asam urat, glukosamin, kreatin 1,5%

tak teridentifikasi

sekitar 10%

Humektan yang digunakan untuk kosmetik pelembab sebagian besar adalah


polimer hidrofilik. Bobot molekul yang besar menghalangi penetrasi humektan ini ke
dalam epidermis. Polimer hidrofilik ini membentuk lapisan film pada bagian atas stratum
corneum dan memberikan sifat lembut dan licin. Polimer hidrofilik ini antara lain:
27

kolagen, glukosa, glukosamin, gliserin, sorbitol, urea, silitol, PCA, asam laktat, histidin,
madu, dan lain-lain. Humektan hidrofilik tidak boleh mengganggu proses deskuamasi
terkendali enzim. Degradasi desmosom membutuhkan beberapa enzim dan air. Usaha
mengubah kadar air seperti melembapkan stratum corneum dengan humektan harus
mempertimbangkan dampaknya terhadap proses hidrolitik. Beberapa humektan polimer
hidrofilik yang sering digunakan:

Asam alginat (dan garamnya)

Betaglukan

Chitosan (dan garamnya)

Kolagen (dan hidrolisatnya)

Dekstran

Glikosaminoglikan

Asam hyaluronat (dan turunannya)

Kemampuan kulit untuk merespon perubahan kelembapan lingkungan tergantung dari efektivitas
lapisan lemak dan jumlah NMF yang cukup. Jika NMF rendah, humektan eksternal cocok
digunakan sebagai pelembab.

2.3 Kosmetika Pelindung Kulit


Kosmetika pelindung kulit merupakan jenis kosmetika yang dibuat berdasarkan tujuan yaitu
melindungi kulit dari berbagai pengaruh lingkungan yang merugikan kulit. Menurut tujuan
spesifiknya, kosmetik pelindung kulit terbagi menjadi:

Preparat yang melindungi kulit dari bahan-bahan kimia (bahan kimia yang membakar,
larutan detergen, urin yang sudah terurai, dll)

Preparat untuk melindungi kulit dari debu ,kotoran, dan bahan pelumas, dll.

Preparat untuk melindungi kulit dari benda fisik yang membahayakan kulit (sinar UV,
panas)
28

Preparat untuk melindungi kulit dari luka secara mekanis (dalam bentuk kosmetik
pelumas)

Preparat untuk mengusir serangga agar tidak mendekati kulit

Kulit pada dasarnya merupakan organ tubuh yang memiliki mekanisme perlindungan
tersendiri saat terpapar sinar matahari yang sekiranya dapat merusak. Jika kulit terpapar
matahari, akan timbul dua reaksi melanin:
1. Penambahan melanin dengan cepat ke permukan kulit
2. Pembentukan tambahan melanin baru
Jika pembentukan tambahan melanin itu berlebihan dan terus-menerus, noda hitam dalam
kulit dapat terjadi. Selain itu cara perlindungan tubuh umumnya dapat dibedakan menjadi dua
cara, antara lain perlindungan secara fisik dan perlindungan secara kimiawi. Perlindungan secara
fisik dapat dilakukan dengan menggunakan Memakai payung, topi lebar, serta baju panjang saat
keluar rumah atau daerah yang terpapar sinar matahari. Selain itu dapat juga dilakukan dengan
memberikan zat-zat kimiawi yang dapat memberikan perlindungan kulit secara fisik atau sebagai
barrier fisik seperti TiO2, ZnO, kaolin, kalsium karbonat, talcum. Bahan-bahan tersebut memiliki
mekanisme perlindungan kulit dengan memantulkan sinar yang mengenai kulit. Sedangkan pada
perlindungan kulit secara kimiawi dapat dilakukan dengan mengkonsumsi bahan-bahan seperti
Bahan yang menimbulkan dan mempercepat proses penggelapan kulit (tanning), misalnya dioxy
acetone, 8-metoxy psoralen. Bahan seperti ini dapat dikonsumsi 2 jam sebelum beraktivitas di
luar ruangan serta dapat pula digunakan bahan-bahan yang menyerap UV-B tetapi meneruskan
UV-A ke dalam kulit, misalnya Para Amino Benzoic Acid (PABA).
Bentuk Preparat Sediaan
Preparat sediaan untuk kosmetika pelindung kulit dapat dibagi menjadi tiga, antara lain :
a. Preparat anhidrat
Preparat ini Biasanya ditambahkan minyak tumbuhan, dengan campuran 10-15% bubuk
bahan alami murni penolak sinar matahari, misalnya ZnO. Preparat anhidrat memiliki
keuntungan yaitu daya tahannya sangat baik terhadap air, sehingga tidak terganggu oleh
perspirasi dan air kolam renang atau laut.

29

b. Preparat emulsi
Preparat ini menyediakan keuntungan yaitu memiliki penampakan yang menarik,
konsistensinya menyenangkan sehingga memudahkan pemakaian.
c. Preparat tanpa lemak
Ciri dari preparat ini adalah tidak berlemak, tidak lengket, sehingga lebih menyenangkan
untuk dipakai. Namun kekurangan dari preparat ini adalah preparat ini mudah larut dalam
air. Preparat ini dibagi berdasarkan tinggi-rendahnya kandungan alcohol, yaitu ethyl
alcohol atau isopropyl alcohol yang terutama digunakan dalam aerosol.

Preparat yang Melindungi Kulit dari Kelukaan secara Mekanis


1. Preparat Pelumas dan Massage Kulit
Merupakan jenis preparat yang mampu mengurangi pembengkakan di kulit akibat
beberapa kondisi abnormal sehingga menyebabkan kulit menjadi lecet. Seperti pasien
yang harus banyak terlentang di tempat tidur, pada paha penunggang kuda, dan kondisi
lain yang karena tekanan dan gesekan terus menerus.
Contoh Formulasi
Kandungan

Lower

Keithler

Rotheman

Mineral oil

90

75

n
20

Petrolatum

60

Ethyl stearate

Isopropyl palmitate

21,9

Isopropyl myristate
Lanolin, liquid

3
3

Cethylalcohol

Hexachlorophene
air

0,1
-

2. Body Powder dan Baby Powder


Produk ini memiliki komponen utama berupa talcum yang lembut dan netral serta harus
benar-benar bersifat steril agar bebas dari spora tetanus. Mg stearat umumnya ditambahkan
ke dalam formulasi dengan tujuan aga powder lebih melekat pada kulit. Penambahan kaolin
dapat berfungsi untuk membuat koloid lebih absortif, sedangkan penambahan Ca karbonat
pada formulasi bertujuan untuk mencerahkan powder, namun perlu diperhatikan terkait
reaksi alkalis yang dapat timbul karenanya. Sehingga konsentrasi yang dapat dipakai adalah
berkisar dari 20-40%.
30

Preparat untuk melindungi kulit dari benda fisik yang membahayakan kulit
(Sinar UV dan panas)
Contoh produk yang umumnya dikenal dari jenis preparat ini adalah Sunscreen Agent atau

tabir surya. Sediaan tabir surya adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud
membaurkan atau menyerap secara emisi gelombang ultraviolet dan inframerah, sehingga dapat
mencegah terjadinya gangguan kulit karena cahaya mahatari (Ditjen POM, 1985). Zat aktif yang
berpotensi sebagai agen tabir surya dapat digolongkan menjadi 2, yaitu agen tabir surya organik
dan anorganik. Organic sunscreen dalam kondisi stabil, akan memancarkan energi sebagai
radiasi hangat atau flouresen, sedangkan radiasi UV diabsorbsi. Contoh dari bahan organik ini
adalah PABA, kamfer, salisilat, benzofenon. Sedangkan Anorganic sunscreen merupakan agen
tabir surya yang dapat menyebarkan radiasi UV. Dalam ukuran mikron (10-100nm) partikel
dapat juga menyerap radiasi UV. Syarat dari agen tabir surya jenis ini adalah inert, tidak dapat
menginduksi alergi, serta segera bekerja setelah diaplikasikan. Contoh zat aktif yang umumnya
digunakan adalah PABA dan titanium dioksida.

Klasifikasi Tabir Surya


Tabir surya berdasarkan mekanisme kerja zat aktifnya terbagi menjadi 3 yaitu :
1. Zat pencegah sunburn
Zat ini dapat menyerap 95 % radiasi UV dengan panjang gelombang 290 320 nm.
2. Suntanning agent
Zat ini dapat menyerap paling sedikit 85 % radiasi UV panjang gelombang 290 320 nm,
tetapi meneruskan cahaya UV panjang gelombang > 320 nm. Menghasilkan cahaya
coklat sementara dan menghasilkan erythema tanpa nyeri.
3. Opaque sunblock agents
Zat ini dapat memberikan perlindungan maksimal dalam bentuk physical barrier.
Contohnya : TiO2 dan ZnO.

Sun Protection Factor (SPF)


SPF dapat didefinisikan sebagai ukuran kemampuan dari tabir surya untuk melindungi kulit

terhadap eritema, terutama ukuran perlindungan UV B. Nomor SPF didefinisikan sebagai berapa
lama kita bisa tinggal di bawah sinar matahari sebelum kulit kita terbakar. Jika biasanya kita
31

memerlukan waktu 20 menit di bawah sinar matahari sebelum kulit terbakar, produk dengan SPF
15 akan membiarkan kita 15 kali lebih lama di bawah matahari: 20 menit x 15 (SPF) = 300 menit
(5 jam). American Academy of Dermatology merekomendasikan setiap orang memakai produk
dengan SPF minimal 15.
Rumus Menghitung persentase penyerapan sinar UV berdasarkan nilai SPF :

Contoh perhitungan: hitunglah absorbansi UV pada SPF 50 !

Pada dasarnya jika tabir surya digunakan secara benar, maka tabir surya yang mengandung
SPF 15 akan menahan 93 persen sengatan UVB, SPF 30 menahan 97 persen sengatan UVB dan
SPF 50 menahan 98 persen sengatan UVB. Pada penggunaannya, produk tabir surya dengan SPF
tinggi bukan berarti lebih baik dari tabir surya dengan SPF rendah jika salah mengaplikasikannya
ke seluruh tubuh. Takaran yang pas untuk tabir surya adalah satu ons untuk seluruh tubuh dan
sedikit saja untuk wajah. Penggunaan tabir surya juga harus dilakukan berulang meski nilai SPF
yang terkandung tinggi.

4 Kategori Tabir Surya berdasarkan SPF


Kategori
Low protection (rendah)

SPF
6 to 14

Medium protection

15 to 29 (i.e. SPF 15, 20 and 25)

High protection (tinggi)

30 to 50 (i.e. SPF 30 and 50)

Very high protection (sangat tinggi

50 +

Contoh Formulasi Sunscreen

32

(i.e. SPF 6 and 10)

(i.e. SPF 50+)

BB Cream dan CC Cream


BB Cream, yang merupakan singkatan dari Blemish Balm Cream, adalah bentuk ringan dari

foundation dengan perpaduan antara pelembab, SPF, antioksidan dan formula lain yang berguna
untuk perawatan kecantikan kulit wajah. Perbedaan antara foundation dan BB Cream dapat
dilihat pada tabel berikut :

Perbedaan

Foundation

BB Cream

Fungsi

Sebagai alas bedak, menutup noda pada wajah,

Menutup noda, sebagai pelembab wajah dan

seperti bintik wajah, noda hitam, warna kulit wajah

meregenerasi

yang tidak rata, sampai bekas jerawat.

memperbaiki sel kulit yang rusak

Kandungan

UV protection, Jojoba oil, Avocadi oil dan vitamin

UV

Bahan

A serta vitamin E.

meregenerasi kulit, seperti Mineral Tourmaline,

kulit

Protection,

Vitamen

Mositurizer

baru

bahan

sebagai

karena

alami

yang

antioksidan,

untuk melembabkan

mampu

dapat

Squalane
wajah

dan

kandungan ekstrak bahan alami seperti Aloe,


Cinamon

atau

Hazel,

ditambah

menghambat penuaan (anti aging).


Warna

Memiliki pilihan warna yang sangat beragam.

Pilihan warna lebih terbatas

Mulai dari warna yang ringan sampai warna yang


gelap, menyesuaikan dengan warna bedak yang
akan digunakan.
Tekstur

Lebih kental

Lebih ringan dari foundation

33

zat

untuk

Cara

Sebelum menggunakan foundation, pada wajah

BB cream dapat langsung digunakan tanpa dialasi

Penggunaan

terlebih dulu digunakan pelembab atau moisturizer.

dulu

Diratakan dengan jari dan dibiarkan beberapa menit

digunakan secara merata pada wajah, baru

agar pelembab dapat meresap ke dalam jaringan

digunakan bedak di atasnya.

dengan

moisture.

Setelah

BB

cream

kulit. Setelah itu digunakan foundation secara rata


pada wajah.
Baru digunakan bedak dengan cara sedikit ditekan
agar menempel lebih sempurna pada kulit.

Sedangkan CC Cream sejatinya merupakan bentuk penyempurnaan dari BB Cream. CC


berarti Colour Control, Colour Correcting atau Complexion Care, karena kandungan dari CC
Cream yang mampu menyamarkan noda kemerahan pada kulit wajah. Selain berfungsi sebagai
alas bedak, CC cream juga digunakan untuk perawatan kulit sama halnya dengan BB Cream.
Akan tetapi, CC Cream memiliki persentase bahan aktif perawatan kulit wajah yang lebih
banyak daripada BB Cream. CC cream mengandung kira-kira 70% bahan aktif untuk merawat
kulit dan 30% foundation (alas bedak). Dengan komposisi seperti di atas, maka CC cream
menjanjikan dapat menutrisi, mencerahkan,

serta memperbaiki tekstur dan kesehatan kulit,

mengandung tabir surya yang SPFnya lebih tinggi dan juga waterproof.

Perbedaan Kegunaan BB Cream & CC Cream

34

BB Cream dan CC Cream tidak di sarankan untuk orang yang memerlukan perawatan
kulit intensif, seperti perawatan jerawat ataupun flek hitam. BB cream dan CC cream ini
lebih bersifat perawatan kulit tambahan untuk orang yang ingin menggunakan perawatan
kulit sehari-hari.Sebelum membeli produk BB Cream atau CC Cream, sebaiknya Anda
mengetahui jenis kulit dan kebutuhan kulit anda terlebih dahulu, mengingat kedua cream ini
memiliki kegunaan dan formula yang berbeda.
2.4 Kosmetika Pemutih Kulit
Bahan Aktif Pemutih Kulit
1. Senyawa merkuri dan bismut.
Merkuri merupakan bahan aktif pemutih pertama yang dianggap paling efektif
pada masa lalu,karena kemampuannya dalam pengelupasan epidermis kulit. Namun,
karena toksi, merkuri tidak diizinkan kembali untuk digunakan dalam kosmetika kulit.
Hal tersebut dikarenakan dalam penggunaan lama, akan terjadi penumpukan pada organ
tubuh. Efek yang akan terjadi yaitu perubahan warna kulit yang akhirnya dapat
menyebabkan bintik bintik hitam pada kulit, alergi, iritasi kulit, serta pada pemakaian
dengan dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan permanent pada susunan saraf otak,
ginjal, dan gangguan perkembangan janin bahkan paparan jangka pendek dalam dosis
tinggi dapat menyebabkan muntah-muntah, diare dan kerusakan ginjal, serta merupakan
zat karsinogenik (menyebabkan kanker) pada manusia. Karena mercury sudah dilarang,
saat ini banyak produk pemutih yang mengandung bismuth yang juga toksik.
2. Hydroquinon
35

Bahan aktif yang dapat mengendalikan produksi pigmen yang tidak merata,
tepatnya mengurangi atau menghambat pembentukan melanin kulit, populer digunakan
dalam sediaan kosmetika pemutih. Diijinkan dalam kosmetika hanya maksimum 2%. Jika
kadar dalam kosmetika tinggi, akan terjadi efek toksik. Efek toksik terjadi karena
berkompetisi dengan tirosin sebagai substrat untuk tirosinase (enzim yang berperan
dalam pembentukan melanin), sehingga tirosinase mengoksidasi hidrokinon dan
menghasilkan benzokinon yang toksik terhadap melanosit. Dalam konsentrasi lebih
tinggi, hidroquinon dapat menyebabkan kulit merah dan mudah terbakar. Kelemahan dari
bahan ini akan memberikan efek mudah kembali hitam (rebound fenomena) dengan
adanya paparan matahari
3. Asam Retinoat
Asam retinoat yang berfungsi dalam pengelupasan sel-sel kulit yaitu menghilangkan noda
hitam, mencerahkan kulit dan menghaluskannya. Efek samping : Untuk kulit sensitif,
kulit menjadi gatal, memerah dan terasa panas serta pemakaian berlebihan pada wanita
hamil dapat menyebabkan cacat pada janin di kandungannya
(BADAN POM, 2008)
Bahan Aktif Pemutih Kulit Aman
1. Ascorbic Acid (Vit. C ) dan Derivat
Termasuk bahan yang aman . Merupakan suatu antioksidan kuat,dapat menekan reaksi
oksidasi dalam sintesa melanin. Selain itu, berperan dalam menstimulant pembentukan
jaringan kolagen kulit. Dengan pertimbangan kestabilan bahan maka, bentuk Magnesium
Ascorbyl Phosphate lebih banyak dipakai dalam sediaan kosmetika
2. Arbutin
Arbutin berasal dari ekstrak tanaman bearberry, yang dulu sering digunakan oleh bangsa
jepang. Jika dibandingkan dengan hidroquinon, maka daya pemutih arbutin tidak sekuat
hidroquinon. Selain bearberry, arbutin juga ditemukan pada tanaman gandum dan kulit
buah pear. Bekerja menghambat aktifitas tyrosinase ,melalui persaingan dengan DOPA
pada rangkaian pembentukan melanin.Tidak menimbulkan efek toxic
3. Ekstrak Licorice
Bahan ini bekerja dengan menghambat enzim tirosinase sehingga mengurangi
terbentuknya melanin
4. Ekstrak Camomile
Bahan ini bekerja dengan menghambat melanogenesis karena pengaruh UV matahari.
5. Ekstrak Mulberry
36

Ekstrak Mulberry merupakan ekstrak yang diperoleh dari akar paper mulberry. Ekstrak
ini mengandung oxyresveratrol sebagai komponen bahan aktif. Ekstrak mulberry bekerja
menghambat aktifitas tirosinase.
6. Ekstrak Teh Hijau
Ekstrak teh hijau diperoleh dari ekstrak Theae sinensis. Bekerja menghambat pelepasan
melanosom dari melanosit ke keratinosit dan mengurangi aktifitas tirosinase.
Contoh Formulasi Whitening Cream

37