Anda di halaman 1dari 15

TUGAS BAHASA INDONESIA

MEMBEDAH STRUKTUR CERPEN


Penolong Misterius

Disusun Oleh :
Imam Agung Prabowo
Lintang Cahya Sasmita
Nida Rizky Nabila
Putri Sekar Arum
Raditya Pradana
Virgantara Rizky
XI MIA 9

SMA NEGERI 3 SEMARANG

Penolong Misterius
Kejadian ini kualami ketika aku berusia dua belas tahun dan baru masuk SMP, pada waktu itu aku
sedang mengantarkan makanan kesukaan Nenek ke rumahnya. Ayah, Ibu dan aku pergi meninggalkan
Nenek sedirian di rumah lama kami ketika Ayah mendapatkan promosi kerja dan diberikan rumah dinas di
dekat kantornya. Yang mengejutkan Nenek menolak ikut pindah bersama kami.
Rumah ini menyimpan terlalu banyak kenangan, kata Nenek pada waktu diajak pindah, dan Ayah tidak
berani mendebat lagi walaupun merasa sedih.
Setelah keluargaku terpaksa pindah, aku selalu mengunjungi rumah Nenek tiap akhir pekan
sepulang sekolah, Ibu selalu menyuruhku membawakan makanan kesukaan Nenek ataupun baju baru
untuknya.
Rumah Nenek letaknya agak jauh dari kota, aku masih harus jalan kaki sekitar dua puluh menit
lebih dari jalan raya sebelum sampai di jalan menuju rumahnya. Daerah di sekitar rumah Nenek masih
dikelilingi pohon-pohon tinggi dengan daun-daun lebat, membuat suasana terasa teduh sekaligus
menyeramkan karena cahaya matahari sulit masuk sehingga jalanan disitu terlihat remang-remang. Dulu
aku suka sekali main petak umpet dengan Ayah dan memanfaatkan kegelapan tempat ini untuk
bersembunyi, tapi sekarang tiap kali aku lewat sini aku selalu takut ada ular atau hewan berbahaya lainnya
yang mengintai.
Di tengah jalan menuju rumah Nenek terbentang sebuah jembatan kayu panjang yang sudah reyot,
kayu nya berderak-derak dan bergoyang tiap kali ku lewati. Jembatan itu menjembatani sebuah jurang
kecil yang cukup dalam, waktu aku masih kecil Ayah dan Ibu tidak pernah memperbolehkanku lewat
jembatan ini tanpa ditemani, tapi sekarang aku sudah bisa melewatinya sendirian. Beberapa meter dari
jembatan itu barulah rumah Nenek terlihat, dengan atap nya yang mulai kotor dan tampak rapuh.
Nenek pilek, ya? tanyaku ketika aku sampai di rumah Nenek dan melihat hidung Nenek yang
memerah,
Cuma sedikit. Jangan khawatir, sayang, jawab Nenek, suaranya sengau.

Nenek menyuruh ku duduk di kursi kayu besar di ruang tengah, lalu dengan cepat membuatkan dua
gelas teh hangat.
Rumah Nenek tidak terlalu besar dan seluruhnya terbuat dari kayu, sekarang cat putihnya mulai
mengelupas dan di sana-sini terlihat bubuk rayap.
Aku bawa kue donat kesukaan Nenek, kataku sambil mengacungkan wadah makanan yang dari tadi ku
bawa-bawa,
Nenek tersenyum lembut lalu duduk di kursi kayu sebelah ku sambil menyerahkan segelas teh hangat ke
tanganku.
Ayo kita makan sama-sama donatnya sambil ngobrol, katanya, bagaimana kabar Ayah dan Ibumu,
Lala?
Baik, Nek. Ayah dan Ibu mau datang kesini minggu depan,
Oh, ya? Nenek kangen sekali sama mereka. Ayahmu pasti sibuk sekali,
Ya, sudah beberapa hari ini Ayah pulang malam, jawabku.
Nenek tersenyum kecil sambil mengangguk maklum.
Nek, kenapa Nenek tidak ikut pindah saja ke rumah kami?
Sudah Nenek bilang, Nenek tidak mau meninggalkan rumah ini. Terlalu banyak kenangan,
Nenek masih kangen Kakek, ya? tanyaku menyebutkan Kakek yang sudah lama meninggal bahkan
sebelum aku lahir,
Bukan hanya Kakekmu, Lala jawab Nenek lirih, tapi juga Bibimu,
Bibi? tanya ku kebingungan.
Nenek tidak langsung menjawab pertanyaan ku dan malah menggigit donat kesukaan nya, mengunyah nya
pelan-pelan.
Memang Ayahmu belum pernah cerita, Lala? tanya Nenek,
Tidak tahu, mungkin aku sudah lupa, jawab ku cepat.
Bibimu yang bernama Maria,
Ah, iya aku pernah dengar! seru ku, merasa ingatanku sedikit terbuka, apa yang terjadi pada Bibi,
kenapa aku belum pernah bertemu dengannya?
Dia meninggal, Lala. Waktu berusia dua puluh tahun, mata Nenek terlihat sedikit sendu, dia wanita
yang sangat cantik, tapi umurnya pendek. Dia meninggal terjatuh dari jembatan gantung di depan sana,
Aku menelan tehku agak terburu-buru dan terbatuk, tiba-tiba bulu kudukku merinding membayangkan ada
orang yang pernah jatuh dari jembatan kayu itu. yang aku tahu di bawah sana ada banyak batu-batu

runcing berukuran besar, selebihnya aku tidak tahu.


Waktu itu Kakek masih hidup? tanyaku.
Nenek mengangguk pelan, matanya dengan segera berkaca-kaca.
Setelah itu aku berusaha mati-matian mengalihkan arah pembicaraan kami dari topik tentang Kakek dan
Bibiku, karena Nenek kelihatannya hampir menangis mengingat kepergian dua orang tersayangnya
tersebut. Kami beralih membicarakan tentang sekolah dan teman-temanku yang menyenangkan, juga
tentang kucing peliharaanku di rumah yang baru melahirkan.
Lala, sepertinya sudah mau turun hujan, kata Nenek tiba-tiba,
Aku menengok kearah jendela dan benar saja awan hitam sudah bergulung-gulung di langit.
Lebih baik aku pulang sekarang, Nek! seruku mendadak panik melihat jam dinding yang juga sudah
menunjukan pukul lima sore.
Kenapa kau tidak sekalian menginap saja disini hari ini, Lala? tanya Nenek dengan wajah khawatir,
Tidak bisa, Nek. Aku banyak PR!
Dengan itupun aku mencium kedua pipi Nenek dan berlari keluar rumah.
Air hujan sudah turun dengan deras ketika aku sudah berlari setengah jalan dari rumah Nenek, aku
menyesal tidak membawa payung dari rumah. Tiba-tiba saja angin besar bertiup menggoyangkan pohonpohon di sekitarku, aku menggigil mendekap tubuhku yang basah kuyup. Aku mendadak sadar kalau ini
bukan hujan biasa, ini hujan angin. Aku berlari sekuat tenaga, pohon-pohon rindang tidak berhasil jadi
tempatku berteduh. Aku gemetar ketakutan ketika sampai di jembatan gantung yang kini bergoyanggoyang ditiup angin, mataku melotot berusaha memperjelas pandanganku yang kabur karena hujan.
Apa sebaiknya aku lewat? pikirku dalam hati dengan kalut.
Entah aku mendapat keberanian dari mana, aku mulai menjejakkan langkah pertama ke jembatan
tersebut. Tubuhku agak limbung, kucengkeram salah satu sisi jembatan kuat-kuat. Aku berjalan selangkah
demi selangkah meniti jembatan kayu yang terus bergoyang. Tiba-tiba saja angin yang bertiup terasa
semakin kuat, jembatan bergoyang semakin kencang. Kepalaku pusing, aku tidak berani bergerak lagi
ketika kusadari aku sudah berada di tengah-tengah jembatan.
Bagaimana ini erangku bingung, aku menoleh kesana-kemari tapi yang kulihat hanya kabut,
Tolooong aku menjerit pelan, berharap ada yang mendengarku,
tolooong

Beberapa menit berlalu, aku mulai merasa tubuhku semakin berat karena hujan. Kilat terus menyambar
membuat jantungku hampir copot dibuatnya.
Heeey, ada orang disana? tiba-tiba aku mendengar suara orang bertanya keras, Halooo?
Iya, aku disini!! jerit ku panik
Aku berusaha mencari sumber suara itu, lalu aku melihat seseorang berbadan ramping berjalan terseokseok menghampiriku. Aku merasa lega luar biasa. Dia seorang wanita tinggi mengenakan rok terusan
berwarna putih tulang, rambutnya panjang bergelombang. Wanita itu kelihatan susah payah menghampiri
ku.
Tolooong, aku mengerang,
Tenang, tenang kata wanita itu setelah cukup dekat denganku, pegang tanganku,
Kami pun berpegangan, tapi angin yang berhembus bertambah kencang. Aku memeluk wanita itu kencang
dan erat, sepertinya sekarang wanita itu juga tidak berani melangkah karena permukaan jembatan sangat
licin. Tiba-tiba aku sadar ini bukan hujan angin biasa, ini badai. Jembatan tempat kami berdiri terus saja
bergoyang.
Bagaimana kita sampai ke seberang? tanyaku. Wanita itu tidak menjawab, ekspresi mukanya ketakutan
setengah mati.
Tenang, ya, tenang hanya itu yang dikatakannya dengan suara gemetar, rok terusannya berkibar-kibar
menutupi wajahku.
Beberapa menit kemudian samar-samar dari seberang aku melihat dua orang petugas polisi
menghampiri jembatan. Mereka sepertinya sedang berpatroli memastikan tidak ada orang yang terjebak di
jembatan ini dan langsung berlari panik begitu melihat ada dua orang perempuan sedang berpelukan di
tengah-tengahnya.
Tahan disana! jerit salah seorang polisi, dia pun melangkah sedikit demi sedikit ke jembatan,
Berjalan ke arahku perlahan-lahan! perintahnya,
Aku merasakan wanita di sebelahku melepaskan pelukannya, kamu duluan jalan pelan-pelan, katanya,
Dengan memberanikan diri aku berjalan beberapa langkah ke depan, wanita di belakangku
mengikuti sambil mencengkeram kedua bahuku erat. Polisi di depanku juga terus berjalan pelan sambil
merentangkan tangannya untuk meraihku.
Ya, bagus. Jangan berhenti! jerit teman polisi itu jauh di seberang. Aku mendengus, siapa juga yang mau
berhenti!?

Akhirnya aku berhasil menyentuh tangan polisi itu, polisi itu langsung menarik tubuhku cepat. Saat
itulah aku merasakan cengkeraman wanita di belakangku terlepas, aku berbalik kaget dan kulihat wanita
itu tergelincir.
Aaaaaaaa!!! wanita itu menjerit, aku menjerit ngeri bersamaan dengan jeritan nya.
Polisi yang menolongku langsung menarikku ke dalam pelukannya.
Tenang, nak. Sudah aman, katanya.
Wanita itu! Wanita itu tergelincir!! jeritku terbata-bata, jantung ku rasanya ikut tergelincir bersama
dengan wanita itu.
Tenang, nak. Sudah aman, kata si polisi sekali lagi. Aku memukul dadanya keras-keras,
Wanita tadi, wanita di belakang ku jatuh! Cepat tolong dia!
Ya, ya kami akan menolongnya. Sekarang beritahu kami alamat rumahmu, biarkan kami mengantarmu
pulang,
Tidak mau! Lihat dulu wanita itu!
Ya, ya, kami mengerti,
Kedua polisi itu terus memaksaku sampai aku mau menyebutkan alamatku, sementara aku terus
menyuruh mereka menolong wanita itu. Karena rumahku terlalu jauh, cepat-cepat aku memberi tahu
mereka arah rumah Nenek. Akhirnya dengan mobil polisi mereka mengantarku ke rumah Nenek lewat jalur
yang jauh memutari jembatan. Sepanjang jalan aku meraung menyesal mengingat wajah wanita itu yang
terbeliak ngeri ketika terjatuh dari jembatan, dia pasti menyesal sudah menolongku.
Sudah Nenek bilang kau jangan pulang, kata Nenek saat aku dan kedua polisi yang sudah
menolongku sampai ke rumahnya.
Nenek melingkarkan handuk ke sekeliling tubuhku yang basah, aku terlalu shock dan ketakutan untuk
bicara. Dua polisi yang sekarang duduk di ruang tamu kelihatan gelisah.
Terimakasih sudah menolong Lala, kata Nenek pada mereka,
Ya, jawab salah seorang dari polisi itu, tapi Lala bilang dia bersama orang lain, seorang wanita. Kami
tidak melihatnya,
Aku mengerutkan kedua alisku,
Dia jatuh begitu kalian menarikku dari jembatan, kataku sambil sesenggukan, sekarang dia tidak akan
selamat,
Polisi yang menarik tanganku menghembuskan nafas prihatin,

Kalau memang ada orang yang jatuh dari sana, kami harus tahu ciri-cirinya, gumamnya.
Sambil menekan isak tangisku aku berusaha menjabarkan ciri-ciri wanita itu pada kedua polisi tersebut.
Rambutnya yang panjang bergelombang, alisnya yang tebal, matanya yang besar, baju rok terusan putih
tulangnya. Tiba-tiba Nenek berjalan cepat ke belakang rumah dengan wajah khawatir
Lala panggil Nenek setelah kembali dengan langkah terburu-buru, apa wanita ini yang kau
lihat?
Aku berbalik dan langsung menegang ketika kulihat Nenek memegang foto berpigura indah dengan wajah
wanita yang jatuh tadi tersenyum di dalamnya.
Nenek, kenapa kau bisa punya foto nya? tanyaku,
Lala. Ini foto almarhumah Bibimu, Maria jawab Nenek lirih.

Membedah Cerpen Penolong Misterius

Tema
Seorang gadis yang ditolong oleh sesosok wanita yang belum dia kenal dan ternyata adalah bibinya yang
telah meninggal.

Tenden
Untuk memberikan cerita misteri kepada pembaca mengenai jembatan angker yang konon katanya
disebabkan karena dulu ada seorang wanita yang meninggal karena terpeleset di jembatan itu.

Amanat

Memberitahu kita bahwa Tuhan Maha Penolong


Mengingatkan bahwa semua makhluk akan tiada
Mengingatkan bahwa semua makhluk akan kembali padaNya

Memperingatkan umtuk selalu berhati-hati disegala kondisi


Mengingatkan kita untuk selalu mematuhi perintah dan nasehat orang tua

Tokoh Utama
Lala

Tokoh Sampingan
Nenek, Wanita di jembatan, Polisi

Watak/penokohan
Lala

: rasa ingin tahunya tinggi, pemberani, ingat akan pertolongan orang lain, labil
(protagonist)

Nenek

: bijaksana, suka memberi nasehat, penyayang (protagonist)

Wanita di jembatan

: suka menolong, misterius, baik hati (protagonist)

Polisi

: suka menolong dan membantu menyelesaikan masalah, baik hati (protagonist)

Latar

Tempat: rumah nenek, jembatan

Waktu

: pagi, siang, sore dan saat badai terjadi

Suasana

: hangat, haru, mencekam

Majas
Personifikasi
1. Rumah ini menyimpan terlalu banyak kenangan, kata Nenek pada waktu diajak pindah, dan Ayah
2.
3.
4.
5.

tidak berani mendebat lagi walaupun merasa sedih.


Ah, iya aku pernah dengar! seru ku, merasa ingatanku sedikit terbuka.
Tiba-tiba saja angin besar bertiup menggoyangkan pohon-pohon di sekitarku
Aku berlari sekuat tenaga, pohon-pohon rindang tidak berhasil jadi tempatku berteduh.
Aku menengok kearah jendela dan benar saja awan hitam sudah bergulung-gulung di langit.

Hiperbola

1. Setelah itu aku berusaha mati-matian mengalihkan arah pembicaraan kami dari topik tentang Kakek
dan Bibiku, karena Nenek kelihatannya hampir menangis mengingat kepergian dua orang
tersayangnya tersebut.
2. Kilat terus menyambar membuat jantungku hampir copot dibuatnya.
3. Sepanjang jalan aku meraung menyesal mengingat wajah wanita itu yang terbeliak ngeri ketika
terjatuh dari jembatan, dia pasti menyesal sudah menolongku.
Paradoks
1. Dia wanita yang sangat cantik, tapi umurnya pendek.
Tautologi
1. Aku memeluk wanita itu kencang dan erat, sepertinya sekarang wanita itu juga tidak berani
melangkah karena permukaan jembatan sangat licin.
Unsur

Unsur Ekonomi : ayah Aku yang pulang malam karena bekerja.


Unsur Politik : seorang polisi yang berpatroli menjalankan tugasnya.
Unsur Adat
: ibu Aku membawakan makanan untuk mertuanya.
Unsur Sosial
: tokoh Aku sayang terhadap neneknya yang sudah tua.
Unsur Moral
: Wanita di jembatan menolong tokoh Aku yang terjebak di jembatan.

Point of view

: orang pertama pemeran utama tidak serba tahu

Abstraksi
Kejadian ini ku alami ketika aku berusia dua belas tahun dan baru masuk SMP, pada waktu itu aku
sedang mengantarkan makanan kesukaan Nenek ke rumahnya. Ayah, Ibu dan aku pergi meninggalkan
Nenek sedirian di rumah lama kami ketika Ayah mendapatkan promosi kerja dan diberikan rumah dinas di
dekat kantornya. Yang mengejutkan Nenek menolak ikut pindah bersama kami.
Rumah ini menyimpan terlalu banyak kenangan, kata Nenek pada waktu diajak pindah, dan Ayah tidak
berani mendebat lagi walaupun merasa sedih.

Setelah keluargaku terpaksa pindah, aku selalu mengunjungi rumah Nenek tiap akhir pekan
sepulang sekolah, Ibu selalu menyuruhku membawakan makanan kesukaan Nenek ataupun baju baru
untuknya.
Rumah Nenek letaknya agak jauh dari kota, aku masih harus jalan kaki sekitar dua puluh menit
lebih dari jalan raya sebelum sampai di jalan menuju rumahnya. Daerah di sekitar rumah Nenek masih
dikelilingi pohon-pohon tinggi dengan daun-daun lebat, membuat suasana terasa teduh sekaligus
menyeramkan karena cahaya matahari sulit masuk sehingga jalanan disitu terlihat remang-remang. Dulu
aku suka sekali main petak umpet dengan Ayah dan memanfaatkan kegelapan tempat ini untuk
bersembunyi, tapi sekarang tiap kali aku lewat sini aku selalu takut ada ular atau hewan berbahaya lainnya
yang mengintai.

Orientasi
Di tengah jalan menuju rumah Nenek terbentang sebuah jembatan kayu panjang yang sudah reyot,
kayu nya berderak-derak dan bergoyang tiap kali ku lewati. Jembatan itu menjembatani sebuah jurang
kecil yang cukup dalam, waktu aku masih kecil Ayah dan Ibu tidak pernah memperbolehkanku lewat
jembatan ini tanpa ditemani, tapi sekarang aku sudah bisa melewatinya sendirian. Beberapa meter dari
jembatan itu barulah rumah Nenek terlihat, dengan atap nya yang mulai kotor dan tampak rapuh.
Nenek menyuruh ku duduk di kursi kayu besar di ruang tengah, lalu dengan cepat membuatkan dua
gelas teh hangat. Rumah Nenek tidak terlalu besar dan seluruhnya terbuat dari kayu, sekarang cat putihnya
mulai mengelupas dan di sana-sini terlihat bubuk rayap. Nenek tersenyum lembut lalu duduk di kursi kayu
sebelah ku sambil menyerahkan segelas teh hangat ke tanganku.
Ayo kita makan sama-sama donatnya sambil ngobrol, katanya, bagaimana kabar Ayah dan Ibumu,
Lala?
Baik, Nek. Ayah dan Ibu mau datang kesini minggu depan,
Oh, ya? Nenek kangen sekali sama mereka. Ayahmu pasti sibuk sekali,
Ya, sudah beberapa hari ini Ayah pulang malam, jawabku.
Nenek tersenyum kecil sambil mengangguk maklum.
Nek, kenapa Nenek tidak ikut pindah saja ke rumah kami?

Sudah Nenek bilang, Nenek tidak mau meninggalkan rumah ini. Terlalu banyak kenangan,
Nenek masih kangen Kakek, ya? tanyaku menyebutkan Kakek yang sudah lama meninggal bahkan
sebelum aku lahir,
Bukan hanya Kakekmu, Lala jawab Nenek lirih, tapi juga Bibimu,
Bibi? tanya ku kebingungan.
Nenek tidak langsung menjawab pertanyaan ku dan malah menggigit donat kesukaan nya, mengunyah nya
pelan-pelan.
Memang Ayahmu belum pernah cerita, Lala? tanya Nenek,
Tidak tahu, mungkin aku sudah lupa, jawab ku cepat.
Bibimu yang bernama Maria,
Ah, iya aku pernah dengar! seru ku, merasa ingatanku sedikit terbuka, apa yang terjadi pada Bibi,
kenapa aku belum pernah bertemu dengannya?
Dia meninggal, Lala. Waktu berusia dua puluh tahun, mata Nenek terlihat sedikit sendu, dia wanita
yang sangat cantik, tapi umurnya pendek. Dia meninggal terjatuh dari jembatan gantung di depan sana,
Aku menelan tehku agak terburu-buru dan terbatuk, tiba-tiba bulu kudukku merinding membayangkan ada
orang yang pernah jatuh dari jembatan kayu itu. yang aku tahu di bawah sana ada banyak batu-batu
runcing berukuran besar, selebihnya aku tidak tahu.
Waktu itu Kakek masih hidup? tanyaku.
Nenek mengangguk pelan, matanya dengan segera berkaca-kaca.
Setelah itu aku berusaha mati-matian mengalihkan arah pembicaraan kami dari topik tentang Kakek dan
Bibiku, karena Nenek kelihatannya hampir menangis mengingat kepergian dua orang tersayangnya
tersebut. Kami beralih membicarakan tentang sekolah dan teman-temanku yang menyenangkan, juga
tentang kucing peliharaanku di rumah yang baru melahirkan.
Lala, sepertinya sudah mau turun hujan, kata Nenek tiba-tiba,
Aku menengok kearah jendela dan benar saja awan hitam sudah bergulung-gulung di langit.
Lebih baik aku pulang sekarang, Nek! seruku mendadak panik melihat jam dinding yang juga sudah
menunjukan pukul lima sore.
Kenapa kau tidak sekalian menginap saja disini hari ini, Lala? tanya Nenek dengan wajah khawatir,
Tidak bisa, Nek. Aku banyak PR!
Dengan itupun aku mencium kedua pipi Nenek dan berlari keluar rumah.

Komplikasi
Air hujan sudah turun dengan deras ketika aku sudah berlari setengah jalan dari rumah Nenek, aku
menyesal tidak membawa payung dari rumah. Tiba-tiba saja angin besar bertiup menggoyangkan pohonpohon di sekitarku, aku menggigil mendekap tubuhku yang basah kuyup. Aku mendadak sadar kalau ini
bukan hujan biasa, ini hujan angin. Aku berlari sekuat tenaga, pohon-pohon rindang tidak berhasil jadi
tempatku berteduh. Aku gemetar ketakutan ketika sampai di jembatan gantung yang kini bergoyanggoyang ditiup angin, mataku melotot berusaha memperjelas pandanganku yang kabur karena hujan.
Apa sebaiknya aku lewat? pikirku dalam hati dengan kalut.
Entah aku mendapat keberanian dari mana, aku mulai menjejakkan langkah pertama ke jembatan tersebut.
Tubuhku agak limbung, kucengkeram salah satu sisi jembatan kuat-kuat. Aku berjalan selangkah demi
selangkah meniti jembatan kayu yang terus bergoyang. Tiba-tiba saja angin yang bertiup terasa semakin
kuat, jembatan bergoyang semakin kencang. Kepalaku pusing, aku tidak berani bergerak lagi ketika
kusadari aku sudah berada di tengah-tengah jembatan.
Bagaimana ini erangku bingung, aku menoleh kesana-kemari tapi yang kulihat hanya kabut,
Tolooong aku menjerit pelan, berharap ada yang mendengarku,
Beberapa menit berlalu, aku mulai merasa tubuhku semakin berat karena hujan.
Iya, aku disini!! jerit ku panik
Aku berusaha mencari sumber suara itu, lalu aku melihat seseorang berbadan ramping berjalan terseokseok menghampiriku. Aku merasa lega luar biasa. Dia seorang wanita tinggi mengenakan rok terusan
berwarna putih tulang, rambutnya panjang bergelombang. Wanita itu kelihatan susah payah menghampiri
ku.
Tenang, tenang kata wanita itu setelah cukup dekat denganku, pegang tanganku,
Kami pun berpegangan, tapi angin yang berhembus bertambah kencang. Aku memeluk wanita itu erat-erat,
sepertinya sekarang wanita itu juga tidak berani melangkah karena permukaan jembatan sangat licin. Tibatiba aku sadar ini bukan hujan angin biasa, ini badai. Jembatan tempat kami berdiri terus saja bergoyang.

Evaluasi
Bagaimana kita sampai ke seberang? tanyaku. Wanita itu tidak menjawab, ekspresi mukanya
ketakutan setengah mati.
Tenang, ya, tenang hanya itu yang dikatakannya dengan suara gemetar, rok terusannya berkibar-kibar
menutupi wajahku.
berbalik kaget dan kulihat wanita itu tergelincir.
Aaaaaaaa!!! wanita itu menjerit, aku menjerit ngeri bersamaan dengan jeritan nya.
Polisi yang menolongku langsung menarikku ke dalam pelukannya.
Tenang, nak. Sudah aman, katanya.
Wanita itu! Wanita itu tergelincir!! jeritku terbata-bata, jantung ku rasanya ikut tergelincir bersama
dengan wanita itu.
Beberapa menit kemudian samar-samar dari seberang aku melihat dua orang petugas polisi
menghampiri jembatan. Mereka sepertinya sedang berpatroli memastikan tidak ada orang yang terjebak di
jembatan ini dan langsung berlari panik begitu melihat ada dua orang perempuan sedang berpelukan di
tengah-tengahnya.
Tahan disana! jerit salah seorang polisi, dia pun melangkah sedikit demi sedikit ke jembatan,
Berjalan ke arahku perlahan-lahan! perintahnya,
Aku merasakan wanita di sebelahku melepaskan pelukannya, kamu duluan jalan pelan-pelan, katanya,
Dengan memberanikan diri aku berjalan beberapa langkah ke depan, wanita di belakangku
mengikuti sambil mencengkeram kedua bahuku erat. Polisi di depanku juga terus berjalan pelan sambil
merentangkan tangannya untuk meraihku.
Ya, bagus. Jangan berhenti! jerit teman polisi itu jauh di seberang. Aku mendengus, siapa juga yang mau
berhenti!?
Akhirnya aku berhasil menyentuh tangan polisi itu, polisi itu langsung menarik tubuhku cepat. Saat
itulah aku merasakan cengkeraman wanita di belakangku terlepas, aku berbalik kaget dan kulihat wanita
itu tergelincir.

Resolusi
Aaaaaaaa!!! wanita itu menjerit, aku menjerit ngeri bersamaan dengan jeritan nya.
Polisi yang menolongku langsung menarikku ke dalam pelukannya.
Tenang, nak. Sudah aman, katanya.
Wanita itu! Wanita itu tergelincir!! jeritku terbata-bata, jantung ku rasanya ikut tergelincir bersama
dengan wanita itu.
Tenang, nak. Sudah aman, kata si polisi sekali lagi. Aku memukul dadanya keras-keras,
Wanita tadi, wanita di belakang ku jatuh! Cepat tolong dia!
Ya, ya kami akan menolongnya. Sekarang beritahu kami alamat rumahmu, biarkan kami mengantarmu
pulang,
Tidak mau! Lihat dulu wanita itu!
Ya, ya, kami mengerti,
Kedua polisi itu terus memaksaku sampai aku mau menyebutkan alamatku, sementara aku terus
menyuruh mereka menolong wanita itu. Karena rumahku terlalu jauh, cepat-cepat aku memberi tahu
mereka arah rumah Nenek. Akhirnya dengan mobil polisi mereka mengantarku ke rumah Nenek lewat jalur
yang jauh memutari jembatan. Sepanjang jalan aku meraung menyesal mengingat wajah wanita itu yang
terbeliak ngeri ketika terjatuh dari jembatan, dia pasti menyesal sudah menolongku.
Sudah Nenek bilang kau jangan pulang, kata Nenek saat aku dan kedua polisi yang sudah menolongku
sampai ke rumahnya.
Nenek melingkarkan handuk ke sekeliling tubuhku yang basah, aku terlalu shock dan ketakutan untuk
bicara.
Koda
Dua polisi yang sekarang duduk di ruang tamu kelihatan gelisah.
Terimakasih sudah menolong Lala, kata Nenek pada mereka,
Ya, jawab salah seorang dari polisi itu, tapi Lala bilang dia bersama orang lain, seorang wanita. Kami
tidak melihatnya,
Aku mengerutkan kedua alisku,
Dia jatuh begitu kalian menarikku dari jembatan, kataku sambil sesenggukan, sekarang dia tidak akan

selamat,
Polisi yang menarik tanganku menghembuskan nafas prihatin,
Kalau memang ada orang yang jatuh dari sana, kami harus tahu ciri-cirinya, gumamnya.
Sambil menekan isak tangisku aku berusaha menjabarkan ciri-ciri wanita itu pada kedua polisi tersebut.
Rambutnya yang panjang bergelombang, alisnya yang tebal, matanya yang besar, baju rok terusan putih
tulangnya. Tiba-tiba Nenek berjalan cepat ke belakang rumah dengan wajah khawatir
Lala panggil Nenek setelah kembali dengan langkah terburu-buru, apa wanita ini yang kau
lihat?
Aku berbalik dan langsung menegang ketika kulihat Nenek memegang foto berpigura indah dengan wajah
wanita yang jatuh tadi tersenyum di dalamnya.
Nenek, kenapa kau bisa punya foto nya? tanyaku,
Lala. Ini foto almarhumah Bibimu, Maria jawab Nenek lirih.