Anda di halaman 1dari 45

LAPORAN TUTORIAL

BLOK KURATIF DAN REHABILITATIF III


Perawatan Compromised Medic pada Anak

Oleh :
KELOMPOK TUTORIAL 8
Tutor :
drg. Rudi Budi R., M.Kes., Sp.KGA

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat, taufik dan
hidayahnya sehingga penyusunan laporan tutorial Perawatan Compromised Medic pada
Anak ini dapat terselesaikan dengan baik. Laporan tutorial ini merupakan syarat untuk
memenuhi tugas yang diberikan pada Blok Kuratif dan Rehabilitatif III.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. drg. Rudi Budi R., M.Kes., Sp.KGA selaku tutor pembimbing dalam kelompok
tutorial III yang telah banyak memberikan dukungan, bimbingan dan pengarahan
dalam menyelesaikan tutorial.
2. Para dosen pemateri Blok Kuratif dan Rehabilitatif III yang telah memberikan
ilmu.
3. Teman-teman kelompok tutorial 3 dan semua pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan laporan ini.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat di kemudian hari, khususnya dalam bidang
kedokteran gigi di kalangan Universitas Jember.

Jember, Februari 2014

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL............................................................................................ 1
KATA PENGANTAR.......................................................................................... 3
DAFTAR ISI........................................................................................................ 4
Skenario........................................................................................................... 5
Clarifying Unfamiliar terms............................................................................ 5
Menetapkan Permasalahan.............................................................................. 4
Brainstorming.................................................................................................. 5
Mapping........................................................................................................... 14
Learning Onjective.......................................................................................... 15
Reporting/generalization................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 42

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keadaan sistemik pasien sebelum dilakukan perawatan gigi sangat penting untuk
diperhatikan. Sebelum melakukan suatu perawatan gigi pada pasien, sebagai dokter gigi
hendaknya memperhatikan keadaan kondisi tubuh pasien sebelum datang maupun pada
saat datang dengan menganamnesa contohnya untuk mengetahui penyakit yang pernah
dialami atau yang sedang dialami pasien. Dengan anamnesa, dokter gigi bisa waspada dan
hati hati saat perawatan gigi pasien serta dapat memikirkan tindakan yang cepat dan
tepat bila kemungkinan terburuk yang terjadi disaat pertengahan perawatan gigi pasien.
Untuk itu dokter gigi harus mengetahui dan memahami segala macam penyakit serta
tindakan dokter gigi dari tiap tiap penyakit yang ada.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa tujuan dari perawatan compromised medic?
2. Apa saja macam-macam penyakit sistemik yang tergolong compromised medic dan
bagaimana penatalaksanaannya di kedokteran gigi?
1.3 Tujuan
1. Mampu mengetahui dan menjelaskan tujuan dari perawatan compromised medic.
2. Mampu mengetahui dan menjelaskan macam-macam penyakit sistemik yang
tergolong compromised medic dan bagaimana penatalaksanaannya di kedokteran gigi
1.4 Skenario
Seorang anak laki-laki umur 10 tahun, datang ke RSGM Unej dengan keluhan gigi
belakang bawah kiri sakit sejak 2 bulan yang lalu, sehingga pasien tidak dapat mengunyah
pada gigi yang sakit. Pada gusinya seringkali muncul benjolan dan keluar nanahnya. Hasil
pemeriksaan intra oral terlihat gigi 36 mengalami karies yang besar, perforasi atap pulpa
dan tes vitalitas negatif. Dokter mendiagnosa gigi 36 tersebut nekrosis pulpa. Gambaran
Rontgen foto tampak terjadi perforasi bifurkasi dan apek gigi masih terbuka. Pada
anamnesa diketahui pasien mempunyai riwayat pada pendarahannya, maka dilakukan
konsul karena pasien memerlukan tindakan compromised medic supaya perawatan pada
keluhan giginya dapat dilakukan dengan baik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Compromised medis

Compromised medis adalah seseorang dengan kondisi medis ataupun perawatan medis
yang rentan terhadap infeksi maupun komplikasi serius (Marsh & Martin, 1999). Pasien
compromised medic adalah seseorang yang mengidap satu ataupun lebih penyakit dan sedang
menjalani satu atau lebih medikasi sebagai perawatan penyakitnya tersebut (Ganda, 2008).
Aspek khusus yang perlu diperhatikan adalah efek obat anestesi terhadap kondisi tersebut,
potesi interaksi obat, serta kegawatdaruratan medis (Coulthard, et al., 2003).
2.2 Macam-macam Penyakit sistemik yang termasuk Compromised Medis
A. Diabetes Mellitus
Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang
disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan
insulin baik absolut maupun relative.
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh
kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia.
Terkadang pula gambaran klinisnya tidak jelas, asimptomatik dan diabetes baru
ditemukan pada saat pemeriksaan penyaring atau pemeriksaan untuk penyakit lain. Dapat
pula gejala diabetes mellitusnya lebih nyata dan timbul mendadak serta dramatis sekali
(Noer,Sjaifoellah,dkk.1996).

Klasifikasi
Berdasarkan klasifikasi dari WHO (1985) dibagi beberapa type yaitu :
1. Diabetes mellitus type 1, Insulin Dependen diabetes mellitus (IDDM) yang dahulu
dikenal dengan nama Juvenil Onset diabetes (JOD), klien tergantung pada pemberian
insulin untuk mencegah terjadinya ketoasidosis dan mempertahankan hidup. Biasanya
pada anak-anak atau usia muda dapat disebabkan karena keturunan.
2. Diabetes mellitus tipe 2, Diabetes tipe 2 adalah dimana hormon insulin dalam tubuh
tidak dapat berfungsi dengan semestinya, dikenal dengan istilah Non-Insulin
Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Hal ini dikarenakan berbagai kemungkinan
seperti kecacatan dalam produksi insulin, resistensi terhadap insulin atau
berkurangnya sensitifitas (respon) sell dan jaringan tubuh terhadap insulin yang
ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah.
3. Diabetes mellitus type lain, biasanya diabetes tipe ini dikarrenakan beberapa sebab
seperti kelainan pankreas, kelainan hormonal, diabetes karena obat/zat kimia, kelainan

reseptor insulin, kelainan genetik dan lain-lain. Obat-obat yang dapat menyebabkan
huperglikemia antara lain : Furasemid, thyasida diuretic glukortikoid, dilanting dan
asam hidotinik
4. Diabetes Gestasional (diabetes kehamilan) intoleransi glukosa selama kehamilan,
tidak dikelompokkan kedalam NIDDM pada pertengahan kehamilan meningkat
sekresi hormon pertumbuhan dan hormon chorionik somatomamotropin (HCS).
Hormon ini meningkat untuk mensuplai asam amino dan glukosa ke fetus.

Gejala Diabetes Mellitus


Tiga serangkai gejala klasik diabetes meliitus (kencing manis) adalah:
1. polyuria (sering kencing)
2. polydipsia (rasa haus/dahaga)
3. polyphagia (rasa lapar meningkat)
Gejala lain yang juga sering terjadi adalah:
1. Mudah lelah/capek
2. Rasa mengantuk
3. Kaki terasa gatal-gatal
4. Kami gampang kesemutan
5. Mata agak rabun
6. Luka susah sembuh
7. Berat badan turun
B. Hepatitis
Hepatitis virus merupakan penyakit sistemik yang terutama mengenai hati.
Kebanyakan kasus hepatitis virus akut pada anak dan orang dewasa disebabkan oleh salah
satu dari antigen berikut : virus hepatitis A, agen penyebab hepatitis virus tipe A (hepatitis
infeksius); virus hepatitis B, penyebab hepatitis virus B (hepatitis serum); virus hepatitis C,
agen penyebab hepatitis C (penyebab sering hepatitis pascatransfusi); atau virus hepatitis E,
agen hepatitis yang ditularkan secara enterik. Virus lain yang menjadi penyebab hepatitis
yang tidak dapat dimasukkan ke dalam golongan agen yang teslah diketahui dan penyakit
yang terkait dinyatakan sebagai hepatitis non A-E. Dan ada juga hepatitis F dan hepatitis G.
Virus lain yang telah diketahui sifatnya dapat menyebabkan hepatitis sporadik, seperti virus
demam kuning, sitomegalovirus, virus Epstein-Barr, virus herpes simpleks, virus rubela dan
enterovirus. Virus hepatitis menyebabkan peradangan akut, memberikan gejala klinis
penyakit berupa demam, gejala gastrointestinal seperti mual dan muntah serta ikterus.

Virus
Famili

Genus
Virion
Selubu

Hepatitis A
Picornaviridae

Hepatitis B
Hepadnaviridae

Hepatitis C Hepatitis D
Flaviviridae Tidak

Hepatovirus

Orthohepadnavir Hepacivirus

Ikosahedral
Tidak ada

us
Sferis
Ada

Sferis
Ada

Hepatitis E
Tidak

digolongka

digolongkan

n
Deltavirus

Seperti

Sferis
Ada

hepatitis E
Ikosahedral
Tidak ada

ng
( Brooks, 2007 : 476 )
C. Asma
Penyakit Asma (Asthma) adalah suatu penyakit kronik (menahun) yang menyerang
saluran pernafasan (bronchiale) pada paru dimana terdapat peradangan (inflamasi) dinding
rongga bronchiale sehingga mengakibatkan penyempitan saluran nafas yang akhirnya
seseorang mengalami sesak nafas. Penyakit Asma paling banyak ditemukan di negara maju,
terutama yang tingkat polusi udaranya tinggi baik dari asap kendaraan maupun debu padang
pasir.
D. Tuberkulosis
Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi kronis yang sudah sangat lama dikenal
pada manusia, misalnya dia dihubungkan dengan tempat tinggal di daerah urban, lingkungan
padat penduduk, di buktikan dengan penemuan kerusakan tulang vertebra torak yang khas
pada penderita TB dari kerangka yang digali di Heidelberg dari kuburan zaman neolitikum,
begitu juga penemuan yang berasal dari mumi dan ukiran dinding pyramid di mesir kuno
pada tahun 2000-4000 SM. Hipokrates telah memperkenalkan terminology phthisis yang
diangkat dari bahasa yunani yang menggambarkan tampilan TB paru ini. (Zulkifli amin,
2006)
Penyebab Tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberculosis, sejenis kuman berbentuk
batang dengan panjang 1-4/um dan tebal 0,3-0,6/um. Secara epidemologi Mycobacterium
tuberculosis complex dapat di golongkan menjadi: 1.Mycobacterium tuberculosae, 2. Varian
asia, 3. Varian african I, 4. Varian african II, 5. M. Bovis. (Zulkifli amin, 2006)
Sebagian besar dinding kuman terdiri atas asam lemak(lipid), kemudian peptidoglikan
dan arabinomanna. Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam (asam
alkohol) sehingga disebut bakteri tahan asam dan ia juga lebih tahan terhadap gangguan fisis
dan kimia. Kuman dapat hidup dalam udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat

bertahan berthun-tahun dalam lemari es). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat
dormant. Dari sifat dormant

ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadi penyakit

tuberkulosis yang aktiv kembali. (Zulkifli amin, 2006)


Gejala Klinis
a. Demam. Menyerupai demam influenza yang kambuhan
b. Batuk/ batuk berdarah. Batuk yang terjadi merupakan suatu respon untuk
mengeluarkan bahan-bahan peradangan. Batuk terjadi akibat iritasi pada bronkus.
Sifat batuk dimulai dari batuk non-produktif hingga munculnya peradangan yang
menjadi batuk produktif dengan sputum. Saat keadaan yang lanjut batuk darah dapat
terjadi karena terbentuknya kavitas, kavitas yang terjadi akan merobek pembuluh
darah.
c. Sesak napas. Akan ditemukan saat infiltrasi pada setengah dari paru.
d. Nyeri dada. Gejala ini jarang ditemukan tapi dapat terjadi saat infiltrasi telah
mencapai pleura dan terjadi pleuritis. Hal ini menyebabkan kedua pleura terjadi
gesekan saat mengembang.
e. Malaise. Penyakit tuberkulosis bersifat radang yang menahun. Gejala malaise yang
ditemukan dapat berupa anoreksia, badan yang makin kurus, sakit kepala, nyeri otot,
berkeringat saat malam.
(Zulkifli amin, 2006)

E. Infark Miokard
Infark miokard bukanlah merupakan permasalahan yang tak lazim. Dalam sebuah
studi prospektif, 1,3% pasien berusia > 30 tahun dan 10% pasien berusia > 40 tahun yang
menjalani pembedahan non-kardiak memiliki riwayat infark miokard sebelumnya. Proporsi
penting populasi gigi berakibat memiliki infark. Penting untuk bisa mengenali gejala cedera
miokard yang sedang berlangsung dan untuk menentukan riwayat masa lalu tentang cedera
miokard. Disini terutama membahas tentang resiko terapi gigi pada pasien dengan infark
miokard sebelumnya.
Definisi
Infark miokard adalah akibat dari cedera iskemik berkepanjangan pada jantung. Alasan
yang paling sering bagi seseorang yang terkena infark miokard adalah penyakit arteri koroner
progresif sekunder akibat aterosklerosis.

Gejala
Pasien biasanya mendapat nyeri dada berat pada area substernal atau prekordial kiri.
Nyeri bisa menjalar ke lengan kiri atau ke rahang dan bisa berhubungan dengan nafas
pendek, palpitasi, mual atau muntah. Nyeri biasanya mirip dengan angina namun lebih
panjang dan lama.
Komplikasi
Komplikasinya termasuk artimia dan gagal jantung kongestif. Komplikasi bergantung
pada sejauh mana infark miokard. Pasien dengan infark kecil biasanya sembuh dengan
morbiditas minimal. Pasien dengan area cedera luas lebih mungkin menderita gagal jantung
dan aritmia yang membahayakan-jiwa.

F. Hemofilia
Hemofilia berasal dari bahasa Yunani Kuno, yang terdiri dari dua kata yaitu haima
yang berarti darah dan philia yang berarti cinta atau kasih sayang. Hemofilia adalah suatu
penyakit yang diturunkan, yang artinya diturunkan dari ibu kepada anaknya pada saat anak
tersebut dilahirkan.
Darah pada seorang penderita hemofilia tidak dapat membeku dengan sendirinya
secara normal. Proses pembekuan darah pada seorang penderita hemofilia tidak secepat dan
sebanyak orang lain yang normal. Ia akan lebih banyak membutuhkan waktu untuk proses
pembekuan darahnya.
Penderita hemofilia kebanyakan mengalami gangguan perdarahan di bawah kulit;
seperti luka memar jika sedikit mengalami benturan, atau luka memar timbul dengan
sendirinya jika penderita telah melakukan aktifitas yang berat; pembengkakan pada
persendian, seperti lulut, pergelangan kaki atau siku tangan. Penderitaan para penderita
hemofilia dapat membahayakan jiwanya jika perdarahan terjadi pada bagian organ tubuh
yang vital seperti perdarahan pada otak.
Hemofilia terbagi atas dua jenis, yaitu :
- Hemofilia A; yang dikenal juga dengan nama :
- Hemofilia Klasik; karena jenis hemofilia ini adalah yang paling banyak kekurangan
faktor pembekuan pada darah.

- Hemofilia kekurangan Factor VIII; terjadi karena kekurangan faktor 8 (Factor VIII)
protein pada darah yang menyebabkan masalah pada proses pembekuan darah.
- Hemofilia B; yang dikenal juga dengan nama :
- Christmas Disease; karena di temukan untuk pertama kalinya pada seorang bernama
Steven Christmas asal Kanada
- Hemofilia kekurangan Factor IX; terjadi karena kekurangan faktor 9 (Factor IX) protein
pada darah yang menyebabkan masalah pada proses pembekuan darah.
Hemofilia A atau B adalah suatu penyakit yang jarang ditemukan. Hemofilia A terjadi
sekurang - kurangnya 1 di antara 10.000 orang. Hemofilia B lebih jarang ditemukan, yaitu 1
di antara 50.000 orang.
Hemofilia tidak mengenal ras, perbedaan warna kulit atau suku bangsa.Hemofilia
paling banyak di derita hanya pada pria. Wanita akan benar-benar mengalami hemofilia jika
ayahnya adalah seorang hemofilia dan ibunya adalah pemabawa sifat (carrier). Dan ini
sangat jarang terjadi. (Lihat penurunan Hemofilia). Sebagai penyakit yang di turunkan, orang
akan terkena hemofilia sejak ia dilahirkan, akan tetapi pada kenyataannya hemofilia selalu
terditeksi di tahun pertama kelahirannya.
Tingkatan Hemofilia
Hemofilia A dan B dapat di golongkan dalam 3 tingkatan, yaitu :
Klasifikasi
Berat
Sedang
Ringan

Kadar Faktor VII dan Faktor IX di dalam


darah
Kurang dari 1% dari jumlah normalnya
1% - 5% dari jumlah normalnya
5% - 30% dari jumlah normalnya

Penderita hemofilia parah/berat yang hanya memiliki kadar faktor VIII atau faktor IX
kurang dari 1% dari jumlah normal di dalam darahnya, dapat mengalami beberapa kali
perdarahan dalam sebulan. Kadang - kadang perdarahan terjadi begitu saja tanpa sebab yang
jelas.Penderita hemofilia sedang lebih jarang mengalami perdarahan dibandingkan hemofilia
berat. Perdarahan kadang terjadi akibat aktivitas tubuh yang terlalu berat, seperti olah raga
yang berlebihan. Penderita hemofilia ringan lebih jarang mengalami perdarahan. Mereka
mengalami masalah perdarahan hanya dalam situasi tertentu, seperti operasi, cabut gigi atau

mangalami luka yang serius. Wanita hemofilia ringan mungkin akan pengalami perdarahan
lebih pada saat mengalami menstruasi.
G. Leukemia
Produksi sel darah yang tidak terkontrol disebabkan oleh mutasi yang bersifat kanker
pada sel mielogen atau sel limfogen. Hal ini menyebabkan leukemia, yang biasanya ditandai
dengan sel darah putih abnormal yang sangat meningkat dalam sirkulasi darah. (Guyton &
Hall, 2007)
Tipe Leukemia
Leukemia dibagi menjadi dua tipe umum : Leukemia Limfosit dan Leukemia
Mielogenosa. Leukemia limfositik disebabkan oleh produksi sel limfoid yang bersifat kanker,
biasanya dimulai di nodus limfe atau jaringan limfositik lain dan menyebar ke daerah tubuh
lainnya. Tipe leukemia yang kedua, leukemia mielogenosa, dimulai dari produksi sel
mielogenosa muda yang bersifat kanker di sumsum tulang dan kemudian menyebar ke
seluruh tubuh, sehingga sel darah putih diproduksi di banyak organ ekstramedular-terutama
di nodus limfe, limpa, dan hati.
Pada leukemia mielogenosa, kadang-kadang proses yang bersifat kanker itu
memproduksi sel yang berdiferensial sebagian, menghasilkan apa yang disebut dengan
leukemia netrofilik, leukemia eosinofilik, leukemia basofilik, atau leukemia monositik.
Namun yang lebih sering terjadi adalah sel leukemia dengan bentuk yang aneh dan tidak
berdiferensiasi serta tidak identik dengan sel darah putih yang normal apapun. Biasanya
semakin sel tidak berdiferensiasi, maka leukemia yang terjadi semakin akut, dan jika tidak
diobati sering menyebabkan kematian dalam waktu beberapa bulan. Pada beberapa sel yang
lebih berdiferensiasi, prosesnya dapat berlangsung kronik, kadang-kadang begitu lambatnya
sampai lebih dari 10 hingga 20 tahun. Sel leukemia, khususnya sel yang sangat tidak
berdiferensiasi, biasanya tidak berfungsi memberikan perlindungan normal terhadap infeksi.
(Guyton & Hall, 2007)
Pengaruh Leukemia Terhadap Tubuh
Efek pertama leukemia adalah pertumbuhan metastatik sel leukemik di tempat yang
abnormal dari tubuh. Sel leukemik dari sumsum tulang dapat berkembang biak sedemikian
hebatnya sehingga dapat menginvasi tulang di sekitarnya, menimbulkan rasa nyeri dan, pada
akhirnya tulang cenderung mudah fraktur.
Hampir semua sel leukemia akan menyebar ke limpa, nadus limfe, hati, dan daerah
pembuluh darah lainnya, tanpa menghiraukan leukemia itu berasal dari sumsum tulang atau

nodus limfe. Efek umum dari leukemia adalah timbulnya infeksi, anemia berat, dan
kecenderungan untuk berdarah karena terjadi trombositopenia (kekurangan trombosit).
Berbagai pengaruh ini terutama diakibatkan oleh penggantian sel normal di sumsum tulang
dan sel limfoid oleh sel leukemik yang tidak berfungsi.
Akhirnya, pengaruh leukemia yang paling penting pada tubuh adalah penggunaan
bahan metabolik yang berlebihan oleh sel kanker yang sedang tumbuh. Jaringan leukemik
memproduksi kembali sel-sel abru dengan begitu cepat, sehingga timbul dengan kebutuhan
makanan yang besar sekali dari cadangan tubuh, khususnya asam amino dan vitamin.
Akibatnya, energi pasien jadi sangat berkurang, dan penggunaan asam amino yang berlebihan
khususnya menyebabkan jaringan protein tubuh yang normal mengalami kemunduran yang
cepat. Jadi, sewaktu jaringan leukemik tumbuh, jaringan lain akan melemah. Setelah
mengalami kelaparan metabolik yang berkepanjangan, hal ini sudah cukup untuk
menyebabkan kematian. (Guyton & Hall, 2007)

H. Anemia
Anemia adalah keadaan berkurangnya jumlah eritrosit atau hemoglobin (protein
pembawa O2) dari nilai normal dalam darah sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya
untuk membawa O2 dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer sehingga pengiriman
O2 ke jaringan menurun. Penyebab anemia :
1. Defisiensi besi
Defisiensi besi adalah penyebab dasar pada 500 juta kasus anemia di
seluruh dunia. Besi dari makanan diabsorbsi di usus halus bagian atas. Besi
ditransportasikan dalam darah oleh transferin dan disimpan dalam bentuk
terikat dengan feritin.
Penyebab defisiensi besi adalah kehilangan darah dari slauran
pencernaan atau saluran urogenital. Kebutuhan besi yang meningka pada
kehamilan dapat menyebabkan defisiensi besi maternal. Defisiensi besi
memiliki gambaran klinis penting yang berkaitan dengan anemia yaitu lelah,
sesak napas, kaki dan pergelangan kaki bengkak, membran mukosa pucat dan
yang lebih sering terjadi defisiensi dalam jaringan (stomatitis angularis,
glositis).
Defisiensi besi dicurigai jika ditemukan anemia mikrositik(sel darah
merah berukuran kecil) dan hipokrom( sel darah merah dengan kadar
hemoglobin berkurang). Kadar besi dan feritin dalam serum rendah dan

kapasitas ikat besi total (transferin)tinggi. Feritin merupakan protein fase akut
yang kadarnya bisa normal atau meningkat pada pasien dengan inflamasi,
keganasan, penyakit hati, walaupun terdapat defisiensi besi. Pemeriksaan yang
yang lebih spesifik untuk memastikan defisiensi besi adalah kadar reseptor
trasferin dalam serum yang meningkat pada defisiensi besi
2. Defisiensi vitamin B12
Penyebab defisiensi vitamin B12 di Inggris paling sering adalah
anemia pernisiosa dan penyebab lainnya antara lain adalah malabsorbsi vit
B12 pada ileum terminal. Dimana anemia jenis ini menyerang usia sekitar 60
tahun. Pada anemia pernisiosa terdapat antibodi antara lain :
Sel parietal lambung, sehingga mengakibatkan gastritis autoimun dan

mengurangi sekresi faktor intrinsik


Faktor intrinsik, sehingga mencegah terjadinya pengikatan vitamin B12
Defisiensi vitamin B12 memilki gambaran klinis seperti gejala anemia

pada umumnya yaitu ikterus ringan, glositis, dan penurunan berat badan.
Anemia pernisiosa merupakan penyakit autoimun dan oleh karena penyakit
autoimun lainnya seperti vitiligo serta gangguan neurologis.
Sebagain besar pasien mengalami anemia makrositik dengan sumsum
tulang megaloblastik (adanya hambatan pematangan prekursor sle darah
merah), trombositopenia sedang/ringan dan leukopenia sering ditemukan.
Pada defisiensi B12 ini ditemukan kadar vitamin B12 seru rendah dan
ditemukan antibodi terhadap faktor intrinsik.

3. Defisiensi folat
Defisiensi folat merupakan penyebab umum anemia makrositik. Folat terdapat dalam
jumlah yang banyak pada sayur berwarna hijau dan diabsorbsi terutama pada usus
halus bagian atas. Defisiensi folat dapat terjadi akibat :
Defisiensi dalam diet
Malabsorbsi, seperti pada penyakit seliaka
Kebutuhan yang meningkat drastis, misalnya pada anemia hemolitik
Kebutuhan yang meningkat, misalnya pada kehamilan
Obat antagonis folat, seperti metotreksat
Adanya anemia makrositik yang disertai rendahnya kadar folat dalam sel darah merah
dan serum menegakkan diagnosis dan sumsung tulang terliat megaloblastik.
Gejala klinis penderita anemia :

1.
2.
3.
4.
5.

Pucat
Lesu
Demam
Memar
Adanya keadaan patologi sistemik maupun oral yang tidak terdiagnosa setelah
adanya trauma (kehilangan darah berlebihan)

I. Epilepsi
Epilepsy adalah penyakit otak dimana kelompok-kelompok dari sel-sel syaraf, atau
neuron-neuron, dalam otak adakalanya memberi sinyal secara abnormal. Neuron-neuron
normalnya menghasilkan impuls-impuls electrochemical yang bekerja pada neuron-neuron,
kelenjar-kelenjar, dan otot-otot lain untuk memproduksi pikiran-pikiran, perasaan-perasaan,
dan aksi-asi manusia. Pada epilepsy, pola yang normal dari aktivitas neuron menjadi
terganggu, menyebabkan sensasi-sensasi, emosi-emosi, dan kelakuan-kelakuan yang aneh,
atau adakalanya kekejangan-kekejangan, spasme-spasme otot, dan kehilangan kesadaran.
Sewaktu seizure, neuron-neuron mungkin menembak sebanyak 500 kali per detik, jauh lebih
cepat daripada normal. Pada beberapa orang-orang, ini terjadi hanya adakalanya; untuk yang
lain-lain, ia mungkin terjadi sampai ratusan kali per hari.
Lebih dari 2 juta orang di Amerika -- kira-kira 1 dalam 100 -- telah mengalami seizure
yang tak beralasan atau telah didiagnosa dengan epilepsy. Untuk kira-kira 80 persen dari
mereka yang didiagnosa dengan epilepsy, seizure-seizure dapat dikontrol dengan obat-obat
modern dan teknik-teknik operasi. Bagaimanapun, kira-kira 25 sampai 30 persen dari orangorang dengan epilepsy akan terus menerus mengalami seizure-seizure bahkan dengan
perawatan terbaik yang tersedia. Dokter-dokter menyebut situasi ini epilepsy yang keras
kepala. Mempunyai seizure tidak perlu berarti bahwa seseorang mempunyai epilepsy. Hanya
ketika seseorang telah mempunyai dua atau lebih seizure-seizure ia dipertimbangkan
mempunyai epilepsy.
Epilepsy tidak menular dan tidak disebabkan oleh penyakit mental atau
keterbelakangan mental. Beberapa orang-orang dengan keterbelakangan mental mungkin
mengalami seizure-seizure, namun seizure-seizure tidak perlu berarti orang itu mempunyai
atau akan mengembangkan gangguan mental. Banyak orang-orang dengan epilepsy
mempunyai kecerdasan yang normal atau diatas rata-rata. Orang-orang terkenal yang
diketahui atau didesas-desuskan telah mempunyai epilepsy termasuk penulis Rusia
Dostoyevsky, philosopher Socrates, military general Napoleon, dan penemu dari dinamit,

Alfred Nobel, yang menegakan Nobel Prize. Beberapa pemenang medali Olympic dan atlitatlit lain juga telah mempunyai epilepsy. Seizure-seizure adakalanya menyebabkan kerusakan
otak, terutama jika mereka parah. Bagaimanapun, kebanyakan seizure-seizure kelihatannya
tidak mempunyai efek yang merugikan pada otak. Segala perubahan-perubahan yang terjadi
biasanya lembut/halus, dan ia seringkali tidak jelas apakah perubahan-perubahan ini
disebabkan oleh seizure-seizure sendiri atau oleh persoalan yang mendasarinya yang
menyebabkan seizure-seizure.
Sementara epilepsy sekarang ini tidak dapat disembuhkan, untuk beberapa orangorang ia akhirnya hilang. Satu studi menemukan bahwa anak-anak dengan idiopathic
epilepsy, atau epilepsy dengan sebab yang tidak diketahui, mempunyai 68 sampai 92 persen
kesempatan menjadi bebas seizure pada 20 tahun setelah diagnosis mereka. Keganjilankeganjilan menjadi bebas dari seizure adalah tidak sebaik untuk kaum dewasa atau untuk
anak-anak dengan sindrom-sindrom epilepsy yang parah, namun meskipun demikian adalah
mungkin bahwa seizure-seizure mungkin berkurang atau bahkan berhenti melalui waktu. Ini
lebih mungkin jika epilepsy telah terkontrol dengan baik dengan obat-obat atau jika orang itu
telah mempunyai operasi epilepsy.
Penyebab Epilepsy
Epilepsy adalah penyakit dengan banyak sebab-sebab yang mungkin. Apa saja yang
mengganggu pola normal dari aktivitas neuron -- dari penyakit sampai kerusakan otak sampai
perkembangan otak yang abnormal -- dapat menjurus pada seizure-seizure.
Epilepsy mungkin berkembang karena kelainan pada pejaringan (wiring) otak,
ketidakseimbangan dari kimia-kimia syaraf yang memberikan sinyal yang disebut
neurotransmitters, atau beberapa kombinasi-kombinasi dari faktor-faktor ini. Peneliti-peneliti
percaya bahwa beberapa orang-orang dengan epilepsy mempunyai tingkat yang tingginya
abnormal dari excitatory neurotransmitters yang meningkatkan aktivitas neuron, sementara
yang lain mempunyai tingkat yang rendahnya abnormal dari inhibitory neurotransmitters
yang mengurangi aktivitas neuron dalam otak. Kedua situasi dapat berakibat pada terlalu
banyak aktivitas neuron dan menyebabkan epilepsy. Salah satu dari neurotransmitters yang
paling dipelajari yang memainkan peran pada epilepsy adalah GABA, atau gammaaminobutyric acid, yang adalah inhibitory neurotransmitter. Penelitian pada GABA telah
menjurus pada obat-obat yang merubah jumlah dari neurotransmitter ini dalam otak atau
merubah bagaimana otak merespon padanya. Peneliti-peneliti juga sedang mempelajari
excitatory neurotransmitters seperti glutamate.
J. Hipertensi

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah yang permanen sebagai akibat


meningkatnya tekanan di arteri perifer, dimana komplikasi yang timbul menjadi nyata.
Menurut WHO batas tekanan yang masih dianggap normal adalah 140/90 mmHg dan tekanan
darah sama atau diatas 160/95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi.
Penyebab hipertensi
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 2 jenis :
a. Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak / belum diketahui
penyebabnya (terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh hipertensi).
b. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat dari
adanya penyakit lain.
Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa perubahan pada
jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya
tekanan darah. Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. Pada sekitar 510% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%,
penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB).
Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor pada
kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin
(noradrenalin).
Kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga), stres,
alkohol atau garam dalam makanan; bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang
memiliki kepekaan yang diturunkan. Stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah
untuk sementara waktu, jika stres telah berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali
normal.
Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder:
a. Penyakit Ginjal (Stenosis arteri renalis, Pielonefritis, Glomerulonefritis, Tumor-tumor
ginjal, Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan), Trauma pada ginjal (luka yang
mengenai ginjal), Terapi penyinaran yang mengenai ginjal)

b. Kelainan Hormonal (Hiperaldosteronisme, Sindroma Cushing, Feokromositoma)


c. Obat-obatan

(Pil

KB,

Kortikosteroid,

Siklosporin,

Eritropoietin,

Kokain,

Penyalahgunaan alkohol)
d. Penyebab Lainnya (Koartasio aorta, Preeklamsi pada kehamilan, Porfiria intermiten
akut, Keracunan timbal akut)
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan resiko timbulnya hipertensi:
a.

Usia
Umumnya hipertensi berkembang pada usia antara 35-55 tahun.

b.

Diabetes tipe 2
Diabetes tipe 2 cenderung meningkatkan risiko peningkatan tekanan darah dua
kali lipat, dan hampir 65% individu dengan diabetes menderita hipertensi.

c.

Merokok
Dapat meningkatkan tekanan darah dan juga kecendrungan terkena penyakit
jantung koroner.

d.

Obesitas
Kebanyakan penderita hipertensi disertai dengan obesitas. Tekanan darah
meningkat seiring dengan peningkatan berat badan.

e.

Diet
Makanan dengan kadar garam tinggi dapat meningkatkan tekanan darah seiring
dengan bertambahnya usia.

f.

Keturunan
Beberapa peneliti meyakini bahwa 30-60% kasus hipertensi adalah diturunkan
secara genetis.

Gejala klinis:
a.

Sakit kepala

b.

Perdarahan dari hidung

c.

Pusing

d.

Wajah kemerahan

e.

Kelelahan

K. AIDS
Acquired Immunodeficiency Syndrome yang lebih dikenal dengan singkatannya :
AIDS, adalah sindrom (kumpulan gejala) yang timbul akibat menurunnya sistem kekebalan
tubuh yang didapat. Keadaan ini bukan suatu penyakit, melainkan kumpulan gejala-gejala
penyakit yang disebabkan oleh infeksi berbagai macam mikroorganisme serta timbulnya
keganasan akibat menurunnya daya tahan/kekebalan tubuh penderita (Kurniati,1993).

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Tujuan Perawatan Compromised Medic
Medical Compromised adalah suatu keadaan pasien dengan kelainan fisik atau psikis
sehingga dalam penanganan medis membutuhkan perhatian dan tindakan khusus agar
tindakan yang dilakukan dalam kedokteran gigi tidak merugikan dan membahayakan pasien.
Tujuan dilakukannya Medical Compromised antara lain:
a. Menstabilkan keadaan pasien
b. Mengurangi rasa nyeri dan cemas serta ketidaknyamanan pasien
c. Memberikan perawatan yang sesuai agar dokter gigi dapat lebih berhati-hati dengan
adanya kondisi sistemik pasien
d. Untuk dapat melanjutkan perawatan gigi yang dikeluhkan oleh pasien
e. Mengantisipasi dan mengendalikan situasi saat pemeriksaan dan perawatan
Penyakit dan kelainan yang berhubungan dengan Medical Compromised yang
memiliki peranan penting dalam mempertimbangkan rencana perawatan dalam Kedokteran
Gigi, antara lain : kelainan perdarahan, kelainan ginjal, kelainan pernapasan, kelainan
jantung, kelainan saraf, dan kelainan hormone.

3.2 Macam-macam Penyakit Sistemik yang termasuk Compromised medic dan


Perawatannya
3.2.1

Kompromis Medis pada Penderita Penyakit Diabetes Melitus

Komplikasi oral yang paling telihat pada diabetes baik tipe 1 maupun 2 dapat
diamati pada pasien diabetes tak terkontrol. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa

ketika hiperglikemia terkontrol baik, manifestasi oral minimal dan manifestasi


tersebut bahkan tidak terlihat pada beberapa pasien. Penemuan intraoral antara lain
penyakit periodontal yang prevalensinya lebih parah dan lebih tinggi terlihat
dibandingkan dengan pada pasien non-diabetes, xerostomia, burning mouth
syndrome (BMS), candidiasis, penyembuhan luka yang tertunda dan abnormal,
peningkatan kecenderungan infeksi, penurunan aliran saliva dan pembesaran
glandula saliva.
Beberapa komplikasi ini dapat seara langsung berhubungan dengan peningkatan
cairan yang berkaitan dengan urinasi berlebihan pada pasien diabetes tak terkontrol
sedangkan lainnya, terutama zerostomia, dapat dipengaruhi atau secara langsung
tergantung pada tipe medikasi yang diperoleh pasien.
Xerostomia, yang merupakan konsekuensi menurunnya aliran saliva, dapat
memacu burning mouth syndrome (BMS) dan karies, yang juga memfasilitasi
perkembangan candidiasis. Beberapa penelitian menunjukkan peningkatan prevalensi
karies pada pasien diabetes sedangkan penelitian lain menunjukkan kebalikannya.
Perkembangan karies dapat dipengaruhi oleh kenaikan tingkat glukosa pada sekresi
saliva, terutama pada pasien diabetes tak terkontrol, sedangkan pada pasien yang
terkontrol hal tersebut dapat minimal karena asupan karbohidrat yang rendah.
Secara statistik telah dibuktikan bahwa diabetes merupakan salah satu faktor
predisposisi perkembangan penyakit periodontal. Inflamasi gingiva, meskipun
dengan kadar plak yang rendah, lebih prevalen pada pasien diabetes tak terkontrol
daripada pasien non-diabetes. Penderita diabetes terkontrol mempunyai prevalensi
gingivitis yang sama dengan pasien non- diabetes. Penderita diabetes dewasa muda
dan remaja mempunyai prevalensi inflamasi gingiva hipertrofi yang lebih tinggi dan
penyakit periodontal daripada pasien non-diabetes. Abses periodontal rekuren juga
termasuk penemuan tipikal pasien diabetes.
Manifestasi klinis panyakit periodontal pada pasien dewasa dan dewasa muda
lebih parah daripada yang diamati pada populasi non-diabetes. Penemuan ini telah
didokumentasikan dengan baik pada populasi India Pima yang mempunyai prevalensi
diabetes mellitus tipe 2 paling tinggi diantara kelompok etnis lainnya. Pasien dengan
diabetes mempunyai prevalensu attachment loss dan bone loss paling tinggi
dibandingkan dengan kontrol usia yang sama. Pasien diabetes juga mempunyai
kemungkinan peningkatan kerusakan periodontal dengan subjek berusia 15 34
tahun berisiko dua kali lebih besar mengalami kerusakan periodontal dibandingkan
dengan subjek normal.

Hal-hal yang Harus Diperhatikan pada Pasien Diabetes Melitus


1. Pasien diabetes tipe 1 dan 2 terkontrol biasanya dapat menerima semua
tindakan perawatan dental tanpa pencegahan tertentu.
2. Dokter gigi harus mengetahui tipe dan dosis insulin, termasuk medikasi lainnya
yang diminum pasien.
3. Dokter gigi sebaiknya mengetahui apakah pasien mempunyai riwayat serangan.
hipoglikemik dan tanda dan gejala yang menyertai. Kemungkinan serangan
hipoglikemik meningkat jika telah terjadi serangan sebelumnya (lihat tanda dan
gelana hipoglikemia di bawah).
4. Dalam rangka menghindari episode

hipoglikemia

ketika

mendapatkan

perawatan dental, dianjurkan untuk menjadwalkan pasien berdasarkan waktu


aktivitas insulin tertinggi yang bervariasi dari 30 menit hingga 8 jam setelah
injeksi tergantung tipe insulinnya. Dengan demikian, kunjungan tidak haruse
selalu di pagi hari.
5. Pasien harus disarankan untuk tidak mengganti dosis dan waktu administrasi
insulin, serta tidak mengganti dietnya.
6. Disarankan untuk menyediakan jus jeruk di tempat praktik atau bentuk lain
glukosa, yang diberikan pada pasien yang menunjukkan tanda-tanda awal
hipoglikemia. Biasanya, dosis 6 oz semua jus buah atau minuman lain
mengandung karbohidrat dapat membalik gejala hipoglikemi.
7. Jika pasien menerapkan monitoring glukosa darah mandiri, ia dianjurkan untuk
membawa glukometernya sendiri.
8. Tekanan emosi dan fisik meningkatkan jumlah kortisol dan epinefrin yang
disekresikan sehingga menginduksi hiperglikei. Dengan demikian, jika pasien
terlihat gelisah, sedasi pratindakan dapat dipertimbangkan.
9. Jika prosedur jangka panjang, terutama bedah, hendak dilakukan, sebaiknya
berkonsultasi dengan dokter pasien.
10. Konsultasi dengan dokter pasien diwajibkan jika:
11. Pasien mempunyai komplikasi sistemik diabetes seperti penyakit jantung atau
ginjal.
12. Pasien kesulitan untuk mengontrol diabetes atau sedang mengonsumsi dosis
besar insulin.
13. Pasien mempunyai

infeksi

oral

akut

seperti

abses

periapikal

atau

absesperiodontal.
14. Hospitalisasi mungkin diperlukan pada pasien poin 10a atau 10b di atas.
15. Antibiotika sebaiknya diresepkan bagi pasien poin 10 di atas untuk mencegah
infeksi sekunder atau komplikasi infeksi pra-eksis dan untuk mempercepat
penyembuhan luka.

16. Perawatan kasus-kasus parah penyakit periodontal pada pasien diabetes,


bersamaan

dengan

tetrasiklin

sistemik.

prosedur

bedah,

Tetrasiklin

dapat

mungkin

memerlukan

membantu

tidak

penggunaan

hanya

kondisi

periodontal, tetapi juga dapat mengontrol hiperglikemia.


Kegawatdaruratan pada Pasien Diabetes Melitus
Hipoglikemia
1) Jika pasien sadar, bujuklah agar minum-minuman yang mengandung gula. Pilihaan yang
baik adalah sari buah jeruk dengan tambahan gula.
2) Jika pasien dengan cepat kehilangan kesadaran, berikan injeksi glukagon 1 mg IM ini
akan menaikkan guladarah sampai batas normal dalam beberapa menit, dengan
mengaktifkan glikogen hati. Sebaiknya sediakan satu ampul glukagon pada setiap
praktek dokter gigi.
3) Segera setelah pemberian glukagon, mintalah bantuan medis.
Hiperglikemia
1) Hiperglikemia prakoma atau yang sebenarnya tidaklah merupakan keadaan yang sangat
darurat, tidak seperti hipoglikemia. Jika ada keraguan akan bentuk diabetes yang diderita,
berikan glukosa secara oral seperti telah diterangkan di atas, karena tidak akan
menimbulkan gangguan pada diabetes hiperglikemia, namun bisa menyelamatkan pasien
hipoglikemia dari kerusakan yang permanen.
2) Jika infeksi adalah faktor pencetus, pastikan bahwa infeksi ini dirawat dengan baik.
3) Rujuk segera pasien kedokter ahli melalui telepon.

3.2.2

Kompromis Medis pada Penderita Penyakit Hepatitis

Yang menyulitkan adalah apabila penderita mengidap hepatitis b yang gejalanya tidak nyata.
Untuk itu sebaiknya dokter gigi mengikuti patokan tatalaksana umum yang diterapkan pada
setiap pasien yang datang ke klinik. Patokan sebagai berikut :
a. Riwayat perawatan
Yang dimaksud dengan riwayat perawatan adalah semua perawatan kesehatan yang
sudah pernah diperoleh atau yang sedang dilaksanakan. Sejumlah pertanyaan perlu
diutarakan dalam hal ini seperti penyakit yang pernah diderita, pernah menderita hepatitis
atau tidak, apakah ada penyakit lain yang sering kambuh, apakah mengalami penurunan berat
badan drastis dan lain- lainnya. Sayangnya, meski pasien sudah menjawab sejumlah
pertanyaan seringkali tetap saja keadaan penderita tidak diketahui seluruhnya. Keadaan ini

menjadi lebih rumit apabila penderita hanya sebagai pembawa(carrier) atau yang menderita
hepatitis kronis aktif. Pada penderita ini tidak tampak adanya gejala,bahkan tidak merasakan
adanya kelaina, padahal produksi virus tetap berlanjut begitu juga dengan kerusakan hatinya.
b. Memakai bahan atau alat pelindung lengkap serta tindakan perlindungan
1. Sarung tangan
Pemakaian sarung tangan akan melindungi tangan dokter gigi yang sedang luka dari
kemungkinan terkontaminasi darah atau saliva penderita. Selain itu, sarung tangan juga
melindungi tangan dari kemungkinan tertusuk atau teriris. Ada pendapat yang mengatakan
bahwa sarung tangan untuk semua pasien sebab sarung tangan mudah dibersihkan dan
didesinfeksi sesudah dipakai. Tetapi sebetulnya yang paling baik adalah sarung tangan untuk
setiap pasien, sebab bisa saja sesudah merawat seorang pasien sarung tangan itu mengalami
bocor kecil.
2. Pakaian pelindung
Pakaian pelindung dapat dipakai untuk menghindari kontak badan dengan cairan
tubuh. Contoh dari pakaian pelindung seperti pakaian operasi, apron, jas klinik dan jas lab.
Pakaian pelindung ini harus diganti saat terkena saliva atau darah. Pakaian ini juga
selayaknya tidak dipakai diluar area kerja.
3. Masker dan pelindung mata
Pemakaian Masker dan pelindung mata selain melindungi dokter dari percikan darah
atau saliva pasien, juga melindungi pasien dari percikan saliva dokter yang merawatnya.
4. Penutup yang disposable
Yang dimaksud penutup adalah penutup yang menutupi permukaan yang
kemungkinan terkontaminasi seperti pemegang lampu unit, kepala alat roangent. Atau alat
lain yang susah dicuci atau didesinfeksi. Dengan memakai penutup yang disposable ini maka
penutup tersebut dapat dibuang setiap selesai perawatan pasien.
5. Hand piece atau contra angle
Pada pemakaian alat dengan kecepatan tinggi akan menimbulkan bayak percikan
darah atau saliva yang akan beterbangan di udara sehingga menimbulkan kontaminasi. Jika
dapat bekerja dengan rubber dam tentu keadaan ini bisa teratasi.
6. Pencucian tangan
Pencucian tangan ini harus betul- betul bersih sesudah melakukan perawatan pada
penderita. Hal yang sama juga dilakukan sesudah terkontaminasi dan sebelum meninggalkan
ruang praktek.
7. Pembersihan percikan darah

Semua percikan darah yang mengenai dental unit, peralatan gigi dan alat- alat yang
dipakai harus dibersihkan, pembersihan ini mula- mula dapat dilakukan dengan air dan sabun
kemudian dilakukan desinfeksi misalnya dengan larutan hipoklorida.
8. Hati- hati dengan alat tajam dan jarum suntik
Semua alat tajam dan runcing yang kemungkinan bisa melukai tangan harus dipakai
dengan hati- hati
Penyakit kronik seperti hepatitis dapat menyulitkan pencabutan gigi, karena dapat
menghasilkan infeksi jaringan, penyembuhan yang tidak sempurna dan penyakit yang
semakin memburuk.
3.3 Kompromis Medis pada Penderita Penyakit AIDS
Setelah gejala klinis dimulut diketahui, maka perlu diambil upaya pencegahan
penyebaran penyakit ini melalui praktek dokter gigi, sebab ketakutan terkena infeksi AIDS
telah melanda kalangan dokter gigi, pasien maupun perawat gigi. Sampai sekarang upaya
pencegahan kontaminasi atau penularan infeksi HIV pada praktek dokter gigi masih
dilakukan seperti upaya pencegahan infeksi silang lainnya.
Pada dasarnya tindakan pencegahan harus mencakup lima komponen penting yaitu
penjaringan pasien, perlindungan diri, dekontaminasi peralatan, desinfeksi permukaaan
lingkaran kerja dan penanganan limbah kllinik.
Penjaringan Pasien
Dalam hal ini harus disadari bahwa tidak semua pasien dengan penyakit infeksi dapat
terjaring dengan rekam medik sehingga system penjaringan pasien tidak menjamin
sepenuhnya pencegahan penularan penyakit. Konsep Universal precaution pertama kali
dianjurkan oleh Centers For disease Control (CDC) pada tahun 1987 yaitu
mempermalukan semua pasien seolah-olah mereka terinfeksi HIV.
Perlindungan diri
Perlindungan diri meliputi cuci tangan, pemakaian sarung tangan, cadar, kaca mata, dan
mantel kerja. Prosedur cuci tangan dilakukan dengan sabun antiseptik di bawah air
mengalir. Persyaratan yang harus dipenuhi sarung tangan adalah bdasar tidak mengiritasi
tangan, tahan bocor, dan memberikan kepekaan yang tinggi bagi pemakainya. Cadar
berfungsi untuk melindungi mukosa hidung dan kontaminasi percikan saliva dan darah
pada mata karena conjunctiva mata merupakan salah satu port entry sebagian besar
infeksi virus. Sedangkan mantel kerja dianjurkan digunakan sewaktu melayani pasien
yang setiap saat terkancing baik.

Dekontaminasi Peralatan
Dekontaminasi adalah suatu istilah umum yang meliputi segala metode pembersihan,
desenfeksi

dan

sterilisasi

yang

bertujuan

untuk

menghilangkan

pencemaran

mikroorganisme yang melekat pada peralatan medis sedemikian rupa sehingga tidak
berbahaya. Metode dekontaminasi yang utama adalah penguapan dibawah tekana
(autklav), pemanasan kering (oven udara panas), air mendidih dan desinfektan kimia
dengan menggunakan hipoklorit atau glutaraldehid 2%.
Desinfeksi permukaan lingkungan kerja
Setiap permukaan yang dijamah oleh tangan operator harus disterilkan (misalnya
instrumen) atau desinfeksi (misalnya meja kerja, kaca pengaduk, tombol-tombol atau
pegangan laci dan lampu). Meja kerja, tombol-tombol, selang as[pirator, tabung, botol
material dan pegangan lampu unit harus diulas dengan klorheksidin 0,5% dalam alcohol
atau hipoklorit 1000 bagian perjuta (bpj) dari klorida yang tersedia, dalam setiap sesi atau
setiap pergantian pasien. Piston harus dicuci dan debris dari pelastik penyaring
dibersihkan setiap selesai satu pasien. Selang aspirator sebaiknya memakai yang sekali
pakai. Bila ada noda darah, cairan tubuh atau nanah, permukaan harus didesinfeksidengan
larutan hipoklorit yang mengandung 10.000 bjp dari klorida yang tersedia dan kemudian
dibersihkan dengan lap sekali pakai. Larutan harus dibiarkan pada permukaan yang akan
dibersihkan minimal selama tiga menit, kemudian larutan tersebut dilap, serta permukaan
permukaan tersebut dibilas dan dikeringkan.
Posisi operator tertentu didalam melakukan tindakan perawatan gigi, juga mempunyai
rwesiko kontaminasi dari mulut pasien ke operator. Penelitian di Universitas Bologna,
Itali membuktikan bahwa resiko terbesar bagi operator bila ia bekerja pada posisi kanan
penderita diposisi jam 9.
Penanganan limbah klinik
Yang dimaksud dengan limbah klinik adlah semua bahan yang menular atau
kemungkinan besar menular atau zat-zat yang berbahaya yang berasal dari lingkungan
kedokteran dan kedokteran gigi. Sampah ini dikumpulkan untuk dibakar, atau ditanam
untuk jenis tertentiu. Limbah klinik seperti jarum dikumpulkan di dalam wadah plastik
berwarna kuninguntuk dibakar dan jenis limbah tertentu dikumpulkan untuk ditanam.
Sebaiknya jarum suntik disposible setelah dipakai langsung dibuang dalam wadah tanpa
memasang kembali penutup jarum, hal ini untuk menghindari tertusuknya tangan oleh
jarum tersebut. Limbah darah, adalah yang paling potensial mengandung HIV, maka bila
ada limbah darah misalnya kapas dengan darah, ekstraksi jaringan atau gigi jatuh ke lantai
ambillah limbah tersebut dengan mengggunakan sarung tangan, dibersihkan dengan lap
atau tissue kertas kemudian lap atau tissuedan daerah tumpahan dituangkan larutan

hipoklorit 10.000 bpj. Setelah 10 menit atau lebih, bilas tempat tersebut dengan lap lain,
dan lap serta tissue dapat dibuang sesuai dengan tempatnya.
Prosedur perawatan yang berakibat terjadinya pendarahan adalah pencabutan gigi,
pembedahan, perawatan periodontal, pembersihan karang gigi dan lain-lain. Pada dasarnya,
instrumen yang menembus jaringan lunak atau yang akan menyebabkan pendarahan atau
kontak dengan selaput lendir yang utuh seperti jarum suntik, jarum endodontik, tang ekstaksi
merupakan instrumen yang tergolong beresiko tinggi.
Penularan tidak hanya dari pasien ke dokter gigi, namun juga dapat dari dokter gigi ke
pasien. Untuk itulah, seorang dokter gigi harus senantiasa waspada dan berhati-hati dalam
merawat pasien, agar dokter gigi dan pasien bisa aman dari penularan. Sampai sekarang
upaya pencegahan kontaminasi atau penularan infeksi HIV pada praktek dokter gigi masih
dilakukan seperti upaya pencegahan infeksi silang lainnya. Pada dasarnya tindakan
pencegahan harus mencakup lima komponen penting yaitu; penjaringan pasien, perlindungan
diri, dekontaminasi peralatan, desinfeksi permukaaan lingkaran kerja dan penanganan limbah
kllinik.
3.2.3 Kompromis Medis pada Penderita Penyakit Asma
Asma adalah penyakit inflamasi kronik saluran napas dengan sejumlah sel dan elemen
sel yang berperan. Inflamasi kronik hipereaktivitas saluran napas meningkat episodik
berulang : sesak napas, mengi, dada terasa berat dan batuk terutama pada malam atau
dinihari. Gejala episodik tersebut berhubungan dengan obstruksi saluran napas yang difus
dengan derajat bervariasi dan bersifat reversibel baik secara spontan atau dengan pengobatan.
Strategi penatalaksanaan:
Pendidikan penderita
Identifikasi dan menghindari faktor pencetus
Obat-obatan untuk mengontrol asma
Penentuan klasifikasi asma
Penatalaksanaan eksaserbasi akut yang adekuat
Pemantauan dan pengobatan asma jangka panjang
Latihan fisik atau kebugaran jasmani
Hal-hal yang Harus Diperhatikan pada Pasien Asma
1) Posisikan pasien harus tenang dan rileks
2) Mempersiapkan bronkodilator pada penderita asma bronchial
3) Pada asma kardial dihindarkan penambahan vasokonstriktor

Kegawatdaruratan pada Pasien Asma


1) Mempersiapkan IDT (Inhaler Dosis Terukur) aerosol
-

IDT dikocok, tutup dibuka


Inhaler dipegang tegak, ekspirasi pelan-pelan
Inhaler di antara bibir yang rapat, inspirasi pelan-pelan, kanester ditekan tarik napas
dalam-dalam
Tahan napas sampai 10 detik atau hitung 10x

2) Naikkan dosis inhaler 2 kali lipat saat kambuh


Menempatkan pasien dalam posisi senyaman mungkin dengan menegakkan tubuh pasien
dengan tangan terlentang.
3.2.4

Kompromis Medis pada Penderita Penyakit TBC


Tuberkulosis adalah penyakit granulomatosa kronis menular yang disebabkan oleh basil

Mycobacterium tuberkulosa tipe humanus (jarang tipe M. Bovinus). Penyakit ini biasanya
mengenai paru, tetapi mungkin menyerang samua organ atau jaringan di tubuh. Biasanya di
bagian tengah granuloma tuberkular mengalami nekrosis perkijuan.
Pemeriksaan
1. Pemeriksaan Fisis
Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin ditemukan
konjungtiva mata dan kulit yang pucat karena anemia,suhu demam (subfebris), badan
kurus atau berat badan menurun.
Pada pemeriksaan fisis pasien sering tidak menunjukan suatu kelainan pun terutama
pada kasus kasus dini atau sudah terinfiltrasi secara asimptotik. Demikian juga bila
sarang penyakit terletak di dalam, akan sulit menemukan kelainan pada pemeriksaan fisis,
karena hantaran getaran/ suara yang lebih dari 4cm ke dalam paru sulit dinilai secara
palpasi, perkusi dan auskultasi.
Pada tuberkulosis paru yang lebih lanjut dengan fibrosis yang luas ditemukan atrofi
dan retraksi otot-otot interkostal.
2. Pemeriksaan RO
Gambaran radiologi paru-paru normal dan paru-paru terserang TBC

Gambar

paru-paru

normal

Gambar paru-paru

terserang TBC, terbentuk

sarang akibat proses

fibrosis pada paru-paru

Awal penyakit saat lesi berupa sarang-sarang pneumonia, radiologinya berupa bercakbercak seperti awan dan dengan batas-batas yang tidak tegas. Bila lesi sudah diliputi
jaringan ikat maka bayangan terlihat berupa bulatan dengan batas yang tegas disebut
TUBERKULOMA.
Pada kavitas bayangannya berupa cincin yang mula-mula berdinding tipis. Lama-lama
dinding terlihat sklerotik dan terlihat menebal.
Bila terjadi fibrosis terlihat bayangan yang bergaris-garis
Pada kalsifikasi bayangannyan tampak bercak-bercak padat
Pada atelektasis (fibrosis yang luas) terjadi penciutan pada sbagian atau satu lobus
maupun pada satu bagian paru.
Biasanya foto yang digunakan memakai foto lateral, obliq, top lordotik, tomografi, foto
dengan proyeksi densitas keras.
Gambaran radiologis lain yang menyertai TBC paru adalah penebalan pleura (pleuritis),
massa cairan di bagian bawah paru (efusi pleura/empiema), bayangan hitam radiolusen di
pinggir paru/ pleura (pneumotoraks)
3. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan ini kurang mendapat perhatian, karena hasilnya kadang kadang
meragukan, hasilnya tidak sensitif dan juga tidak spesifik. Pada saat tuberkulosis baru mulai

(aktif) akan didapatkan jumlah leukosit yang sedikit mininggi dengan hitung jenis pergeseran
ke kiri. Jumlah limfosit masih di bawah normal. Laju endap darah meningkat. Bila penyakit
mulai sembuh, jumlah leukosit kembali normal dan jumlah limfosit masih tinggi. Laju endap
darah mulai turun ke arah normal lagi.
Hasil pemeriksaan darah lain didapatkan juga :
Anemia ringan dengan gambaran normokrom dan normositer
Gama globulin meningkat
Kadar natrium darah menurun
Pemeriksaan tersebut di atas nilainya juga tidak spesifik.
Sputum
Pemeriksaan sputum adalah penting karena dengan ditemukannya kuman BTA,
diagnosis tuberkulosis sudah dapat dipastikan. Di samping itu pemeriksaan sputum juga dapat
memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang diberikan. Pemeriksaan ini mudah dan
murah sehingga dapat dilaksanakan di lapangan (puskesmas). Tetapi kadang kadang tidak
mudah untuk mendapatkan sputum, terutama pasien yang tidak batuk atau batuk yang non
produktif.
Kriteria sputum BTA positif adalah bila sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang
kuman BTA pada satu sediaan. Dengan kata lain diperlukan 5.000 kuman dalam 1 mL
sputum.
Untuk pewarnaan sediaan dianjurkan memakai cara Tan Thiam Hok yang merupakan
modifikasi gabungan cara pulasan Kinoyun dan Gabbet.
Cara pemeriksaan sediaan sputum yang dilakukan adalah :

Pemeriksaan sediaan langsung dengan mikroskop biasa


Pemeriksaan sediaan langsung dengan mikroskop fluoresens (pewarnaan khusus)
Pemeriksaan dengan biakan (kultur)
Pemeriksaan terhadap resistensi obat
Tes Tuberkulin
Pemeriksaan ini masih banyak dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis
tuberkulosis terutama pada anak-anak (balita). Biasanya dipakai tes Mantoux yakni dengan
menyuntikkan 0,1 cc tuberkulin P.P.D (Purified Protein Derivative) intra kutan berkekuatan 5
T.U. (intermediate strength).
Tes tuberkulin hanya menyatakan apakah seseorang individu sedang atau pernah
mengalami infeksi M. Tuberculosae, M. Bovis, vaksinasi BCG dan Mycobacteria patogen
lainnya. Dasar tes tuberkulin ini adalah reaksi alergi tipe lambat.
Setelah 48 72 jam tuberkulin disuntikkan akan timbul reaksi berupa indurasi
kemerahan yang terdiri dari infiltrat limfosit yakni reaksi persenyawaan antara antibodi

seluler dan antigen tuberkulin. Banyak sedikitnya reaksi persenyawaan antibodi selular dan
antigen tuberkulin amat dipengaruhi antibodi humoral, makin besar pengaruh antibodi
humoral, makin kecil indurasi yang ditimbulkan.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, hasil tes mantoux ini dibagi dalam :
1. Indurasi 0-5 mm (diameternya) : Mantoux negatif = golongan no sensitivy. Disini
peran antibodi humoral paling menonjol.
2. Indurasi 6-9 mm : hasil meragukan = golongan low grade sensivity. Disini peran
antibodi humoral masih menonjol.
3. Indurasi 10-15 mm : Mantoux positif = golongan normal sensivity. Disini peran
kedua antibodi seimbang.
4. Indurasi lebih dari 15 mm : Mantoux positif kuat = golongan

hypersensitivity.

Disini peran antibodi selular paling menonjol.


Manifestasi rongga mulut
a. Lidah:
Lesi sekunder
Ulcer TBC berupa fisur yang dalam
Bentuk: abses granuloma, plak, dan fissure
Lesi biasanya sakit, kuning keabu-abuan, keras, dan berbatas tegas
b. Mukosa mulut:
Lesi ulseratif, dimulai dengan vesikel transparan/ nodul yang disebabkan nekrosis

dengan perkejuan yang pecah jadi ulser


Tanda spesifik ulser TBC: tidak teratur, kasar, indurasi sering dasar granular

kekuningan
Ulser di sekeliling mukosa mengalami inflamasi dan edema
c. Gingiva
Berasal dari infeksi primer kemudian menjadi lesi granulasi yang banyak
TBC gingivitis biasanya tampak difus, hiperemi, nodular/proliferasi dari papila
mukosa gingival
Penatalaksanaan Di Praktek Kedokteran Gigi
Penatalaksanaan dapat dimanifestasikan sebagai tindakan proteksi dokter gigi
terhadap dirinya sendiri dan pasien lain terhadap proses penularan. Proteksi terhadap diri
sendiri dengan cara menggunakan handscoon dan menggunakan masker. Untuk memproteksi
pasien lain dari penularan bakteri ini, setelah pemakaian alat-alat harus disterilisasi secara
sempurna.
3.2.5

Kompromis Medis pada Penderita Penyakit Infark Miokard

Penyakit jantung mempunyai hubungan penting dengan praktek kedokteran gigi


karena banyak alasan, termasuk resiko bahwa pengobatan oral bisa mengakibatkan
endokarditis bakterialis, penjalaran nyeri insufisiensi koroner ke wajah bagian bawah dan
mandibulum, dan bahaya anestesi umum dan anestesi lokal dengan adrenalin pada pasien
demikian. Infark miokardium adalah penyebab kedaruratan utama pada pembedahan gigi dan
pengenalan awal oleh ahli bedah mulut mungkin bisa menyelamatkan jiwa seseorang.
Gejala Klinis Infark Miokard
Kebanyakan pasien dengan infark miokard akut mencari pengobatan karena rasa sakit didada.
Namun demikian ,gambaran klinis bisa bervariasi dari pasien yang datang untuk melakukan
pemeriksaan rutin, sampai pada pasien yang merasa nyeri di substernal yang hebat dan secara
cepat berkembang menjadi syok dan eadem pulmonal, dan ada pula pasien yang baru saja
tampak sehat lalu tiba-tiba meninggal.
Serangan infark miokard biasanya akut, dengan rasa sakit seperti angina,tetapi tidak seperti
angina yang biasa, maka disini terdapat rasa penekanan yang luar biasa pada dada atau
perasaan akan datangnya kematian. Bila pasien sebelumnya pernah mendapat serangan
angina ,maka ia tabu bahwa sesuatu yang berbeda dari serangan angina sebelumnya sedang
berlangsung. Juga, kebalikan dengan angina yang biasa, infark miokard akut terjadi sewaktu
pasien dalam keadaan istirahat ,sering pada jam-jam awal dipagi hari. Nitrogliserin tidaklah
mengurangkan rasa sakitnya yang bisa kemudian menghilang berkurang dan bisa pula
bertahan berjam-jam malahan berhari-hari. Nausea dan vomitus merupakan penyerta rasa
sakit tsb dan bisa hebat, terlebih-lebih apabila diberikan martin untuk rasa sakitnya.
Rasa sakitnya adalah diffus dan bersifat mencekam, mencekik, mencengkeram atau membor.
Paling nyata didaerah subternal, dari mana ia menyebar kedua lengan, kerongkongan atau
dagu, atau abdomen sebelah atas (sehingga ia mirip dengan kolik cholelithiasis, cholesistitis
akut ulkus peptikum akut atau pancreatitis akut).
Terdapat laporan adanya infark miokard tanpa rasa sakit. Namun hila pasien-pasien ini
ditanya secara cermat, mereka biasanya menerangkan adanya gangguan pencernaan atau rasa
benjol didada yang samar-samar yang hanya sedikit menimbulkan rasa tidak enak/senang.
Sekali-sekali pasien akan mengalami rasa napas yang pendek (seperti orang yang kelelahan)
dan bukanya tekanan pada substernal.Sekali-sekali bisa pula terjadi cekukan/singultus akibat
irritasi diapragma oleh infark dinding inferior. pasien biasanya tetap sadar ,tetapi bisa gelisah,
cemas atau bingung. Syncope adalah jarang, ketidak sadaran akibat iskemi serebral, sebab
cardiac output yang berkurang bisa sekali-sekali terjadi.Bila pasien-pasien ditanyai secara
cermat, mereka sering menyatakan bahwa untuk masa yang bervariasi sebelum serangan dari
hari 1 hingga 2 minggu ) ,rasa sakit anginanya menjadi lebih parah serta tidak bereaksi baik

tidak terhadap pemberian nitrogliserin atau mereka mulai merasa distres/rasa tidak enak
substernal yang tersamar atau gangguan pencernaan (gejala -gejala permulaan /ancaman
/pertanda). Bila serangan-serangan angina menghebat ini bisa merupakan petunjuk bahwa ada
angina yang tidak stabil (unstable angina) dan bahwasanya dibutuhkan pengobatan yang lebih
agresif.
Bila diperiksa, pasien sering memperlihatkan wajah pucat bagai abu dengan berkeringat ,
kulit yang dingin .walaupun bila tanda-tanda klinis dari syok tidak dijumpai.
Nadi biasanya cepat, kecuali bila ada blok/hambatan AV yang komplit atau inkomplit. Dalam
beberapa jam, kondisi klinis pasien mulai membaik, tetapi demam sering berkembang. Suhu
meninggi untuk beberapa hari, sampai 102 derajat Fahrenheid atau lebih tinggi, dan
kemudian perlahan-lahan turun ,kembali normal pada akhir dari minggu pertama.
Hal-hal yang Harus Diperhatikan pada Pasien Infark Miokard
Dalam 6 bulan pertama
Karena tingginya resiko rekurensi infark miokard dan aritmia pada pasien ini, pekerjaan
dokter gigi harus dibatasi pada perawatan paliatif saja. Pengobatan gigi emergensi harus
dibebaskan terkontrol, lingkungan dipantau. Penggunaan vasokonstriktor pada anestesi
lokal relatif dikontraindikasikan.
Dalam periode 6-12 bulan
Prosedur bedah sederhana dan non-bedah harus dilaksanankan dengan penggunaan
bijaksana anestesi lokal. Lidocaine 2% dengan lidokain 1:100.000, dan mepivacaine 2%
dengan levonordefrin 1:20.000, harus dibatasi sampai 2 Carpule untuk masing-masing
pekerjaan.

Prosedur

elektif

kompleks,

restoratif

dan

bedah,

masih

relatif

dikontraindikasikan.
Periode > 1 tahun yang lalu
Penting untuk diingat bahwa pasien-pasien ini masih memiliki penyakit arteri koroner
yang penting meskipun mereka stabil sepanjang tahun sebelumnya. Mereka mampu,
walaupun, lebih siap mentolerir prosedur pembedahan non-gigi dibandingkan pasienpasien dengan infark miokard yang lebih baru terjadi. Jika pasien memiliki komplikasi
infark miokard dengan gejala sisa seperti aritmia dan gagal jantung kongestif, perencanaan
gigi harus diubah pada kenyataannya. Sebagai contoh pembuatan gigi palsu parsial yang
mudah dilepas akan lebih disukai dibandingkan protese tanam periodontal kompleks. Lagi,
pembatasan vasokonstriktor hingga 2 Carpule anestesi lokal konvensional dengan
epinefrin

1:100.000

atau

levonordefrin

1:20.000

direkomendasikan.
Kegawatdaruratan pada Pasien Infark Miokard

atau

yang

sebanding

masih

1) Evaluasi gigi harus termasuk daftar riwayat lengkap seluruh tanggal infark miokard
yang dialami pasien.
2) Anamnesa juga harus mendata komplikasi setelah infark miokard. Riwayat nyeri dada
substernal juga harus menjadikan dokter gigi waspada terhadap kemungkinan angina.
Dispnoe, ortopnea, dispnoe nokturnal paroksismal, dan edema perifer bisa
mengindikasikan gagal jantung kongestif. Palpitasi atau sinkop harusnya mengesankan
kemungkinan aritmia atau kelainan kondiksi.
3) Terkadang dibutuhkan diskusi singkat dengan dokter pribadi pasien, untuk
mendefinisikan

status

medis

pasien.

Pemeriksaan

fisik

terbaru,

EKG,

dan

roentgenogram dada semuanya sumber informasi yang penting dimiliki sebelum terapi
gigi awal. Abnormalitas apapun harus dialamatkan dengan tepat.
4) Pasien yang mengalami infark miokard akut tanpa komplikasi bisa mentolerir prosedurprosedur (tipe I sampai IV) durasi singkat setiap saat mengikuti kejadian. Prosedur yang
menimbulkan tekanan lebih baik ditunda sampai 6 bulan setelah infark. Konsultasi
dengan dokter disarankan.
5) Tampaknya tidak terdapat kontraindikasi pada penggunaan epinefrin dalam konsentrasi
1:100.000 pada anestesi lokal pada pasien-pasien ini. Namun, protokol untuk
meminimalkan penggunaan vasokonstriktor harus dilaksanakan. Komunikasi yang baik
antara pasien-dokter gigi, mengurangi stres, dan pemantauan adalah penting untuk
manajemen tepat pada pasien paska infark.

3.2.6

Kompromis Medis pada Penderita Congenital Heart Disease


Kelainan jantung pada anak yang umumnya terjadi adalah penyakit jantung bawaan

atau Congenital Heart Diseases /CHD. Congenital Heart Diseases adalah kelainan
jantung bawaan yang terjadi pada anak dan merupakan salah satu jenis medically
compromised patient yang sering datang ke praktek dokter gigi. Salah satu peran dari
dokter gigi anak mengkoordinir penanganan anak dengan medically compromised.
Sering digunakan istilah medically compromised untuk mengingatkan klinisi bahwa
anak-anak ini mempunyai kondisi medis juga dapat mempengaruhi perawatan dental atau
dapat juga disertai dengan tanda dental/ oral yang spesifik. Berdasarkan manifestasi
klinis, CHD terdiri dari 2 tipe yaitu tipe sianosis dan asianosis. Tipe sianosis seperti
pulmonary stenosis, tetralogy of fallot (TOF). Manifestasi klinis tipe sianosis;sianosis
sistemik, clubbing finger, dyspnea dan heart murmur. Adapun prognosisnya tergantung
dari berat ringannya malformasi. Pada tipe sianosis aliran adalah right to leftt shunt.

Tidak ada tanda oral spesifik pada pasien dengan CHD, manifestasi klinis tergantung dari
anomaly struktur yang diderita. Manifestasi oral dari CHD adalah sianosis gusi dan
stomatitis, glositis, defek email terutama pada gigi sulung, meningkatnya risiko karies
dan penyakit periodontal.
a. sianosis pada gingival

b. Sianosis Bibir pada pasien CHD

c. Clubbing finger

Hal-Hal yang Perlu Di Perhatikan Selama Perawatan Dental


1. Pencegahan endokarditis bakterialis di rumah.
Pertimbangan penting dalam merencanakan perawatan gigi adalah mencegah penyakit
gigi dan mulut. Pasien dengan CHD termasuk ke dalam kelompok yang berisiko terkena

karies terutama pada periode gigi sulung. Drg harus membuatintruksi home care yang
baik pada orang tua dan pasien agar memelihara kesehatan gigi dan mulutnya dengan
baik karena bakteriaemia dapat terjadi/ diperberat oleh kebersihan mulut yang buruk.
Demikian juga pada pemakaian dental floss dan alat bantu kebersihan gigi harus hati-hati
karena pemakaian dental floss, semprot air bertekanan tinggi dapat berisiko bakteriemia.
2. Prosedur preventif.
Yang penting dalam perawatan anak dengan CHD adalah pencegahan penyakit gigi
dan mulut yang meliputi pemberian fluor baik sistemik ataupun lokal, penutupan fisur
yang dalam, yang dilanjutkan dengan melibatkan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut
di rumah (home care). Prosedur ini dapat mencegah terjadinya endokarditis bakterialis.
3. Pencegahan Endokarditis bakterialis pada perawatan dental.
Pencegahan Endokarditis bakterialis meliputi pemberian profilaksis antibiotic pada
prosedur dental yang dapat mengakibatkan perdarahan mukosa, gusi/pulpa seperti
ekstraksi, perawatan pulpa. Sebaiknya perawatan gigi invasiv seperti ekstraksi,
perawatan endodontic dihindari karena dapat menyebabkan bakteriaemia bila tidak
dilakukan dengan hati-hati. Bila diperlukan sekali perawatan ekstraksi ataupun
perawatan endodontic maka harus dilakukan pemberian profilaksis antibiotik dan pasien
sebaiknya kumur dengan mouth wash.
4. Mouth Preparation.
Mouth preparation penting dilakukan apabila akan dilakukan pembedahan pada anak
dengan CHD.
-

Penanganan Dental Pasien Dengan Kelainan Jantung


Penanganan pasien dengan kelainan jantung harus dilakukan secara interdisciplinary
approach dengan dokter spesialis jantung anak/cardiologist anak dan spesialis lainnya
seperti anastesi. Pemeriksaan dan konsultasi yang harus dilakukan adalah :
1. Riwayat medis meliputi riwayat kesehatan lampau dan saat sekarang, obat-obatan
yang dikonsumsi, riwayat opname.
2. Pemeriksaan oral dengan terapi komprehensif.
3. Profilaksis antibiotik. Hal ini dilakukan bila defek belum menutup dan pasien akan
dilakukan perawatan saluran akar gigi, ekstraksi dengan pendekatan konvensional. Hal
ini dapat dilakukan bila defek sudah ditutup atau menutup spontan, dengan sebelumnya
selalu berkonsultasi dengan cardiologist anak. Amoxicillin merupakan drug of choice
antibiotic untuk profilaksis antibiotic dalam pencegahan endokarditis bakterialis.

4. Pada kasus rampan karies dengan kasus kelainan jantung berat (TOF) maka harus
dilakukan koordinasi perawatan dengan dokter spesialis lain yang terkait (cardiolog
anak, anesthetist, dokter gigi anak ) dan perawatan dental dilakukan dengan pendekatan
farmakologi taitu di bawah anestesi umum, karena perawatan dapat selesei dalam satu
sesi. Dalam hal ini dirujuk ke bagian Special Care Dentistry dan dirawat secara
interdisiplin. Selalu berkonsultasi dengan dokter jantung yang merawat, harus diingat
bahwa tipe sianosis merupakan kelompok yang berisiko saat akan dilakukan anestesi
umum.
5. Rencana perawatan pada pasien dengan kelainan jantung dibawah anestesi umum
adalah: premedikasi, profilaksis antibiotic, anesthesia, dan pertimbangan bedah.
6. CHD tipe sianosis tertentu berisiko untuk mengalami hipoksia, polisitemia,
koagulasi intravascular, disfungsi hati, oleh karena itu harus hati-hati agar meminimalisir
bahaya.
7. Merupakan kontra indikasi prosedur dental elektif pada pasien gangguan jantung
tertentu seperti infark myocardial, aritmia yang tidak terkontrol, dan congesti heart
failure .
8. Perawatan dental dapat dilakukan baik dengan pendekatan konvensional/non
farmakologi maupun dengan pendekatan farmakologi tergantung berat ringannya kasus.

3.2.7

Kompromis Medis pada Penderita Penyakit Epilepsi


Epilepsi merupakan salah satu penyakit saraf yang sering dijumpai, terdapat pada

semua bangsa, segala usia dimana laki-laki sedikit lebih banyak dari wanita. Insiden tertinggi
terdapat pada golongan usia dini yang akan menurun pada gabungan usia dewasa muda
sampai setengah tua, kemudian meningkat lagi pada usia lanjut.
Epilepsi merupakan gangguan susunan saraf pusat (SSP) yang dicirikan oleh
terjadinya bangkitan (seizure, fit, attact, spell) yang bersifat spontan (unprovoked) dan
berkala.Bangkitan dapat diartikan sebagai modifikasi fungsi otak yang bersifat mendadak dan
sepintas, yang berasal dari sekolompok besar sel-sel otak, bersifat singkron dan berirama.
Bangkitnya epilepsi terjadi apabila proses eksitasi didalam otak lebih dominan dari pada
proses inhibisi.
Metode Pemeriksaan
1. Pungsi Lumbar

Pungsi lumbar adalah pemeriksaan cairan serebrospinal (cairan yang ada di


otak dan kanal tulang belakang) untuk meneliti kecurigaan meningitis.Pemeriksaan
ini dilakukan setelah kejang demam pertama pada bayi.
a. Memiliki tanda peradangan selaput otak (contoh : kaku leher)
b. Mengalami complex partial seizure
c. Kunjungan ke dokter dalam 48 jam sebelumnya (sudah sakit dalam 48 jam
sebelumnya)
d. Kejang saat tiba di IGD (instalasi gawat darurat)
e. Keadaan post-ictal (pasca kejang) yang berkelanjutan. Mengantuk hingga
sekitar 1 jam setelah kejang demam adalah normal.
f. Kejang pertama setelah usia 3 tahun
Pada anak dengan usia>18 bulan, pungsi lumbar dilakukan jika tampak tanda
peradangan selaput otak, atau ada riwayat yang menimbulkan kecurigaan infeksi
sistem saraf pusat. Pada anak dengan kejang demam yang telah menerima terapi
antibiotik sebelumnya, gejala meningitis dapat tertutupi, karena itu pada kasus
seperti itu pungsi lumbar sangat dianjurkan untuk dilakukan.
2. EEG (electroencephalogram)
EEG adalah pemeriksaan gelombang otak untuk meneliti ketidaknormalan
gelombang.Pemeriksaan ini tidak dianjurkan untuk dilakukan pada kejang demam
yang baru terjadi sekali tanpa adanya defisit (kelainan) neurologis. Tidak ada
penelitian yang menunjukkan bahwa EEG yang dilakukan saat kejang demam atau
segera setelahnya atau sebulan setelahnya dapat memprediksi akan timbulnya kejang
tanpa demam di masa yang akan datang. Walaupun dapat diperoleh gambaran
gelombang yang abnormal setelah kejang demam, gambaran tersebut tidak bersifat
prediktif terhadap risiko berulangnya kejang demam atau risiko epilepsi.
3. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan seperti pemeriksaan darah rutin, kadar elektrolit, kalsium,
fosfor, magnesium, atau gula darah tidak rutin dilakukan pada kejang demam
pertama. Pemeriksaan laboratorium harus ditujukan untuk mencari sumber demam,
bukan sekedar sebagai pemeriksaan rutin.
4. Neuroimaging
Yang termasuk dalam pemeriksaan neuroimaging antara lain adalah CT-scan
dan MRI kepala. Pemeriksaan ini tidak dianjurkan pada kejang demam yang baru
terjadi untuk pertama kalinya.
a. CT Scan, untuk mendeteksi lesi pada otak, fokal abnormal, serebrovaskuler
abnormal, gangguan degeneratif serebral

b. Magnetik resonance imaging (MRI)


c. Kimia darah: hipoglikemia, meningkatnya BUN, kadar alkohol darah.
5. Pemeriksaan fisik
Inspeksi

: membran mukosa, konjungtiva, ekimosis, epitaksis, perdarahan pada

Palpasi
Perkusi
Auskultasi

gusi, purpura, memar, pembengkakan.


: pembesaran hepar dan limpha, nyeri tekan pada abdomen.
: perkusi pada bagian thorak dan abdomen.
: bunyi jantung, suara napas, bising usus.

6. Pemeriksaan psikologis dan psikiatris


Tidak jarang anak yang menderita epilepsi mempunyai tingkat kecerdasan
yang rendah (retardasi mental), gangguan tingkah laku (bihaviour disorders),
gangguan emosi, hiperaktif.Hal ini harus mendapat perhatian yang wajar, agar anak
dapat berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuannya.Hubungan antara
penderita dengan orang tuanya juga perlu mendapat perhatian, yaitu apakah
tyerdapat proteksi berlebihan, rejeksi atau overanxiety.Bila perlu dapat diminta
bantuan dari psikolog atau psikiater.
Penatalaksanaan Epilepsi untuk Pasien Anak-anak
1. Penanganan saat kejang. Menghentikan kejang : Diazepam dosis awal 0,3 0,5
mg/kgBB/dosis

IV

(Suntikan

Intra

Vena)

(perlahan-lahan)

atau

0,4-

0,6mg/KgBB/dosis REKTAL SUPPOSITORIA. Bila kejang belum dapat teratasi


dapat diulang dengan dosis yang sama 20 menit kemudian.
a. Turunkan demam :
Anti Piretika : Paracetamol 10 mg/KgBB/dosis PO (Per Oral / lewat mulut)
diberikan 3-4 kali sehari.
Kompres ; suhu >39 C dengan air hangat, suhu > 38 C dengan air biasa.
b. Pengobatan penyebab : antibiotika diberikan sesuai indikasi dengan penyakit
dasarnya.
c. Penanganan sportif lainnya meliputi : bebaskan jalan nafas, pemberian oksigen,
memberikan keseimbangan air dan elektrolit, pertimbangkan keseimbangan
tekanan darah.
2. Pencegahan Kejang. Pencegahan berkala (intermiten) untuk kejang demam sederhana
dengan Diazepam 0,3 mg/KgBB/dosis PO (Per Oral / lewat mulut) dan anti piretika
pada saat anak menderita penyakit yang disertai demam.
- Pencegahan kontinu untuk kejang demam komplikata dengan Asam vaproat
15-40 mg/KgBB/dosis PO (per oral / lewat mulut) dibagi dalam 2-3 dosis.

3.2.8 Kompromis Medis pada Penderita Penyakit Hipertensi


Gejala Klinis Hipertensi
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun secara
tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan
darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala,
perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik
pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal.
Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut:
sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak nafas, gelisah, pandangan menjadi kabur yang
terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal.
Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma
karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif, yang
memerlukan penanganan segera.
Hal-hal yang Harus Diperhatikan dan penatalaksanaan kegawatdaruratan pada
Pasien Hipertensi
1) Peranan dokter gigi
Sebagai seorang dokter gigi, kita haruslah lebih berhati hati dengan pasien jenis ini,oleh
karena pasien ini cenderung mempunyai pendarahan yang berlebihan bila dilakukan
pencabutan gigi misalnya. Pasien yang menkonsumsi obat hipertensi nampaknya
mempunyai kepekaan yang lebih terhadap epinefrin yang terkandung dalam larutan
anestesia, dan nampaknya pasien ini juga membutuhkan bantuan untuk berdiri dari supine
posisi di dental chair.
2) efek samping obat hipertensi
Beberapa obat obatan juga menyebabkan dry mouth ( mulut kering ). Hal ini tidak
menguntungkan karena saliva atau air liur berfungsi sebagai pembilas makanan,
menetralkan asam dari bakteri, dan melumasi mulut. Bila saliva ini berkurang makan hal ini
memicu terjadinya cavities ( lubang gigi ), gum disease ( penyakit gusi ) dan iritasi pada
mulut. Dan juga kemungkinan penderita akan kesulitan untuk memakai denturenya karena
support dari saliva ini yang tidak memadai.
Beberapa obat hipertensi dapat mengakibatkan mulut kering atau mengganggu indera
pengecap. Golongan kalsium antagonis, kadang dapat menyebabkan gusi membengkak dan
menebal, hingga sulit mengunyah. Pada beberapa kasus, gingivektomi mungkin diperlukan.
Perlu diperhatikan juga pada prosedur gigi yang membutuhkan anestesi, terutama jika obat

anestesi mengandung epinefrin. Penggunaan epinefrin pada beberapa pasien hipertensi


dapat menyebabkan perubahan kardiovaskular, angina, serangan jantung, dan aritmia.
Pengobatan pada pasien hipertensi biasanya digunakan lebih dari satu macam
golongan obat, misalnya: golongan obat anti hipertensi (mis: captopril) dan golongan obat
diuretik.
Resiko-resiko yang dapat terjadi pada pencabutan gigi penderita hipertensi, antara lain :
Resiko akibat Anestesi lokal pada penderita hipertensi. Larutan anestesi lokal
yang sering dipakai untuk pencabutan gigi adalah lidokain yang dicampur dengan
adrenalin dengan dosis 1:80.000 dalam setiap cc larutan. Konsentrasi adrenalin
tersebut dapat dikatakan relatif rendah, bila dibandingkan dengan jumlah adrenalin
endogen yang dihasilkan oleh tubuh saat terjadi stres atau timbul rasa nyeri akibat
tindakan invasif. Tetapi bila terjadi injeksi intravaskular maka akan menimbulkan efek
yang berbahaya karena dosis adrenalin tersebut menjadi relatif tinggi. Masuknya
adrenalin ke dalam pembuluh darah bisa menimbulkan: takikardi, stroke volume
meningkat, sehingga tekanan darah menjadi tinggi. Resiko yang lain adalah terjadinya
ischemia otot jantung yang menyebabkan angina pectoris, bila berat bisa berakibat
fatal yaitu infark myocardium. Adrenalin masih dapat digunakan pada penderita
dengan hipertensi asal kandungannya tidak lebih atau sama dengan 1:200.000. Dapat
juga digunakan obat anestesi lokal yang lain, yaitu Mepivacaine 3% karena dengan
konsentrasi tersebut mepivacaine mempunyai efek vasokonstriksi ringan, sehingga
tidak perlu diberikan campuran vasokonstriktor.

3.2.9

Kompromis Medis pada Penderita Penyakit Kelainan Darah


Metode pemeriksaan yang sebaiknya dilakukan oleh dokter gigi saat mengidentifikasi

pasien dengan kelainan perdara han adalah membuat riwayat pen yakit secara lengkap,
pemeriksaan fisik, skrining laboratoris, dan observasi terjadinya perdarahan yang luas setelah
tindakan pembedahan.
Riwayat penyakit pasien harus dibuat selengkap mungkin. Pertanyaan-pertanyaan
hendaknya disusun

secara

berurutan dimulai dari

pengalaman-pengalaman pasien

terdahulu. Beberapa

penyakit

gangguan

perdarahan

dapat

diturunkan,

sehingga

pertanyaan juga perlu diarahkan ke anggota keluarga yang lain. Pengelompokan


pertanyaan dilak ukan sesuai dengan jenis-jenis penyakit gangguan perdar ahan yang
mungkin dapat terjadi. Adapun pertanyaan tersebut meliputi: apakah ada anggota
keluarga yang mengalami gangguan perdarahan, apakah pernah mengalami perdarahan
yang cukup lama setelah dilakukan tindakan pembedahan seperti operasi dan cabut gigi,
apakah pernah terjadi perdarahan yang cukup lama setelah mengalami t rauma, apakah
sedang meminum obat-obatan untuk pencegahan gangguan koagulasi atau sakit kronis,
riwayat pen yakit terdahulu, dan apakah pernah mengalami perdarahan spontan.
Deteksi Pasien dengan Riwayat Perdarahan
1. Riwayat Penyakit Lengkap
a. Riwayat keluarga yang memiliki gangguan perdarahan
b. Gangguan perdarahan setelah dilakukan operasi dan pencabutan gigi
c. Gangguan perdarahan setelah mengalami trauma
d. Konsumsi obat-obatan yang menimbulkan masala h perdarahan seper ti
aspirin, antikoagulan, pemakaian antibiotika jangka panjang, dan obat-obat herbal
e. Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan gangguan perdarahan seperti
leukemia, penyakit liver, hemofilia, penyakit jantung bawaan, penyakit ginjal
f. Perdarahan spontan dari hidung, mulut, telinga, dan lain-lain
2. Pemeriksaan Fisik
a. Jaundice dan pallor
b. Spider angiomas
c. Ecchymosis
d. Ptechiae
e. Oral ulcers
f. Hyperplastic gingival tissues
g. Hemarthrosis
3. Skrining laboratoris
a. PT
b. aPTT
c. TT
d. PFA-100
e. Jumlah Platelet
4. Tindakan pembedahan yang pernah dialami sehingga menimbulkan gangguan perdarahan.
Skrining laboratoris perlu dilakukan terutama pemeriksaan PT, aPTT, TT, PFA100 dan platelet count. Jenis peme riksaan yang dilakukan disesuaikan dengan
pengelompokan gangguan perdarahan. Beberapa macam penyakit hematologi antara lain
adalah sebagai berikut:

A. Kompromis Medis pada Penderita Penyakit Hemofilia

Gejala Klinis Hemofili


Dalam anamnesa biasanya akan di dapatkan riwayat adanya salah seorang anggota keluarga
laki-laki yang menderita penyakit yang sama yaitu adanya perdarahan abnormal. Beratnya
perdarahn bervariawsia akan tetapi biasanya beratnya perdarahan itu sama dalam satu
keluarga. Sering perdarahan akibat sirkulasi adalah manifestasi pertama pada seseorang
menderita hemofili. Oleh karena perdarahan dimulai sejak kecil sehingga haemarhtros
( sebagai akibat jatuh pada saat kelenjar berjalan yang menyebabkan perdarahan sendi
merupakan gejala yang paling sering dijumpai dari penderita hemofili ini.
Penatalaksanaan dental harus ditujukan pada pencegahan. Higiene oral yang baik
membantu menurunkan perdarahan gusi. Tidak pernah ada laporan perdarahan bermakna
akibat sikat gigi atau flossing yang baik.

Periodonsia
Profilaksis oral biasanya dapat dilakukan tanpa penggantian faktor. Perdarahan yang

disebabkan oleh scalling utrasonik supragingival atau profilaksis rubber cup dapat
dikendalikand engan trombosit. Tetapi scalling yang dapat menyebabkan perdarahan serius
pada pasien yang tidak mendapat penggantian faktor pembekuan.
Terapi periodontal, termasuk pembedahan, tidak dikontraindikasikan. Pembedahan
papila harus dilakukan hanya jika manfaat terapetik yang diharapkan melebihi kemungkinan
penyulit pascaoperatif yang parah. Tidak diperlukan penggantian faktor untuk probbing dan
scalling supragingiva yang berhati-hati. Penggantian faktor diperlukan sebelum scalling
dalam, kuretase, dan pembedahan.

Endodonsia
Pada pasien dengan hemofilia, perawatan endodontik lebih baik dibandingkan

ekstraksi. Kami tidak mengetahui adanya gangguan sistemik yang meniadakan perawatan
endodontik.
Pada semua kasus dengan resiko, perawatan endodontik, terutama instrumentasi
saluran akar, harus dilakukan setelah pemberian premedikasi antibiotika, sbb : 2 g penicillin
V satu jam sebelum operasi dan 1 g enam jam setelah operasi ; atau erythromicyn satu jam

sebelum operasi dan 500 mg 6 jam setelah operasi sebagai anjuran dari American Heart
Association.

Bedah Mulut
Pemberian anestesi lokal adalah permasalahan utama dalam terapi dental. Hematoma

diseksi, obstruksi saluran pernafasan, dan kematian adalah penyulit yang diketahui dari blok
anestesia pada pasien hemofilia. Injeksi tidak boleh diberikan kecuali pasien memiliki kadar
faktor dalam plasma lebih dari 50%. Faktor plasma tambahan dieprlukan jika darah
teraspirasi, jika terbentuk hematoma, atau terjadi gejala perdarahan lain seperti nyeri didaerah
injeksi. Pada hemofilia parah, terapi penggantian harus dilakukan terlebih dahulu sebelum
teknik anestetik. Anestesi lokal dapat dilakukan dengan injeksi infiltrasi atau perisemental
dengan semprit injeksi interligamentum. Injeksi intramuskular juga dikontraindikasiakn
karena kemungkinan pembentukan hematoma.
Sebagian besar terapi restoratif dapat dilakukan tanpa penggantian faktor. Rubber dam
harus digunakan untuk melindungi jaringan oral dari laserasi yang tidak disengaja. Wedge
harus dipasang sebelum preparasi interproksimal untuk melindungi dan meretraksi papila.
Terapi endodontik lebih disukai ketimbang ekstraksi. Perdarahan pulpa mudah
dikendalikan dengan cara yang konvensional. Over instrumentasi dan overfilling harus
dihindari

3.2.10 Kompromis Medis pada Penderita Penyakit Anemia


Gejala Klinis Anemia
1) Keletihan
2) Mudah lelah bila berolahraga
3) Sulit konsentrasi, atau mudah lupa
4) Warna kulit dan bagian putih kornea mata tampak kekuning-kuningan
5) Nyeri tulang
Hal-hal yang Harus Diperhatikan pada Pasien Anemia
a. Pada compromised medis ini hal hal yang perlu diperhatikan adalah gejala
tampak pada pasien sewaktu datang ke tempat praktek dokter
penderita anemia ini terdapat cirri khusus yaitu
dengan letih lemah dan lesu serta pada
serta adanya kandida.

wajah

yang

gigi

klinis yang
diantaranya

terlihat

pucat,

pada
disertai

rongga mulut pasien terlihat mukosa yang pucat

Kekambuhan yang sewaktu waktu terjadi pada penderita anemia pada saat
perawatan gigi yaitu apabila terjadi pingsan,mual dan muntah

melakukan

karena

pada

penderita anemia ini kurangnya nafsu makan sehingga proses pengkosongan

lambung

sangat cepat.
Apabila terjadi demam tinggi pada saat ditengah tengah perawatan.
Terjadi pendarahan apabila melakukan tindakan bedah.
Konsultasi kepada ahli hematologi anak untuk mengatur persiapan transfusi darah
Perawatan dilakukan tak lama setelah transfusi darah dan beri antibiotik profilaksis
Meminimalkan stress agar oksigenasi jaringan adekuat
Lokal anestesi tidak di kontraindikasikan, tetapi penggunaan prilocaine tidak disarankan
karena dapat membentuk methaemoglobin

Kegawatdaruratan pada Pasien Anemia


a. Apabila terjadi pingsan maka gunakan prinsip P,A,B,C,D yaitu
breathing, corective definitife, sebisa mungkin

position,

airway

dan

menjaga jalan nafas dan meletakkan

pasien senyaman mungkin.


b. Apabila pasien mengalami letih lemah dan lesu sebaiknya dihentikan

perawatan

diberi minum yang hangat seperti teh hangat dll.


c. Meminimalkan tindakan bedah karena apabila terjadi pendarahan maka

kondisi

dan
pasien

akan semakin buruk.


d. Sediakan makan makanan yang bernutrisi tinggi sebagai asupan terhadap pasien
anemia,misalnya: susu,roti dll.

3.2.11 Kompromis Medis pada Penderita Penyakit Leukemia


Leukemia adalah suatu kejadian dimana produksi sel darah putih yag berlebihan dan
merupakan gangguan pembentukan sel darah putih yang terjadi di sumsum tulang. Sel-sel
tersebut tidak berkembang secara normal dan sebagian besar merupakan sel yang masih muda
atau belum matang yang tidak jelas fungsinya.
Pada pasien leukemia, terjadi pembentukan sel darah putih yang abnormal dan tidak
berfungsi seperti sel darah putih yang normal. Sel leukemia yang tedapat dalam sumsum
tulang akan terus membelah dan semakin mendesak sel normal, sehingga produksi sel darah
normal akan mengalami penurunan. Sebagian besar leukemia dijumpai pada umur 50-60
tahun, tetapi pada anak-anak yang terbanyak terjadi ketika umur 2-4 tahun.
Diagnosis
Penyakit leukemia ini merupakan penyakit sistemik yang ditangani oleh dokter umum
spesialistik, tetapi tidak menutup kemungkinan bagi dokter gigi yang menemukan lebih dini

dari penderita. Karena manifestasi oral pada penyakit ini cukup mencolok, sehingga pada
dokter gigi dapat dengan mudah dan awal mencurigai penyakit ini pada pasien. Selanjutnya
dokter akan melakukan pemeriksaan darah. Jika hitung sel darah menunjukkan adanya tandatanda leukemia, pemeriksaan dilanjutkan dengan memeriksa sumsum tulang dengan biopsi.
Pemeriksaan sumsum tulang ini sangat berguna karena dapat diperiksa langsung pada tempat
sel darah putih itu dibuat. Jika perlu akan dilakukan pemeriksaan analisis sitogenetik untuk
mengetahui apakah ada mutasi pada sel-sel tersebut yang menandai adanya leukemia. Dari
pemeriksaan darah, ditemukan kadar sel darah putih yang meningkat atau berkurang dan
adanya sel leukemia. Saat ini terdapat 2 jenis pengambilan sampel dari sumsum tulang, yaitu
aspirasi sumsum tulang dan biopsi sumsum tulang.
Manajemen Dental pada penderita Leukemia
Manajemen yang diberikan merupakan Causatif dan Suportif, dikarenakan untuk
menghilangkan secara permanen manifestasi oral yaitu dengan memperbaiki keadaan umum
terlebih dahulu. Pencabutan atau ekstraksi gigi tidak dianjurkan atau dihindari karena
ditakutkan terjadi resiko infeksi berat, perdarahan, dan anemia. Bila terpaksa dilakukan
ekstraksi, dpat dibantu dengan transfusi darah dan pemberian antibiotik. Berikut ini
merupakan beberapa hal yang dapat dilakukan dokter gigi terhadap penderita leukemia :

DHE (Dental Health Education)


Yaitu memberitahukan kepada pasien untuk selalu menjaga kesehatan gigi dan
mulutnya agar tidak menjadi fokal infeksi yang berhubungan dengan penyakit yang
diderita. Seperti pemilihan sikat gigi dan cara menyikat gigi yang benar, waktu dan

frekuensi menyikat gigi yang tepat, serta penggunaan sikat lidah.


Pemberian obat kumur
Penggunaan obat kumur dengan kandungan chlorhexidine 0,2%, dapat mengendalikan

infeksi pada pembengkakan gingiva


Terapi antibiotik spesifik
Terapi ini diperlukan untuk

ulserasi

yang

terjadi

pada

mukosa.

DAFTAR PUSTAKA
Ganda KM. 2008. Dentists Guide to Medical Conditions and Complications. Ames: WileyBlackwell
Anton R. Pencegahan transmisi HIV dalam klinik perawatan gigi. Program Studi Ilmu
Kesehatan Masyarakat 1994.
Rose, F. Louise; Kaye, Donald. 1996. Buku Ajar Penyakit Dalam Untuk Kedokteran Gigi
Jilid 1 Edisi Dua. Jakarta : Binarupa Aksara
Widmer, R. ; Cameron, C. Angus. 2013. Handbook of Pediatric Dentistry 4th edition.
Australia : Mosby Elsevier.
Marsh P,MV Martin. 1999. Oral Microbiology, 4th edition. London: Wright.
Coulthard P, K Horner, P Sloan, and E Theaker. 2003. Master Dentistry, Vol 1. Edinburgh:
Churchill Livingstone
Pedersen, Gordon W. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut (Oral Surgery) alih bahasa,
Purwanto, Basoeseno; editor, Lilian Yuwono. Jakarta: EGC
Grossman, dkk. 1995. Ilmu Endodontik Dalam Praktek. Jakarta : EGC.
Rose, Louis F. & Donald Kaye. 1997. Buku Ajar Penyakit Dalam untuk Kedokteran Gigi.
Little, J. W., Falace, D. A., Miller, C. S., Rhodus, N. L. Dental management of the
medically compromised patient. 7th ed. Canada: Mosby Elsevier; 2008 p. 396-432.
Lockhart, P. B., Gibson, J., Pond, S. H., and Leitch, J. Dental management.
Moreno, G. G., Soriano, A. C., Arana, C., Scully, C. Hereditary blood coagulation